Tesis bagus

of 297 /297
Bab 1 P E N D A H U L U A N Latar Belakang Masalah Sepanjang sejarah umat manusia masalah akhlak selalu menjadi pokok persoalan. Karena pada dasarnya, pembicaraan tentang akhlak selalu berhubungan dengan persoalan perilaku manusia dan menjadi permasalahan utama manusia terutama dalam rangka pembentukan peradaban. Perilaku manusia secara langsung ataupun tidak langsung masib menjadi tolok ukur untuk mengetahui perbuatan atau sikap mereka. Wajar kiranya persoalan akhlak selalu dikaitkan dengan persoalan sosial masyarakat, karena akhlak menjadi simbol bagi peradaban suatu bangsa. Fakta sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang diabadikan dalam al-Qur’an seperti kaum ‘Ad, Samud, Madyan dan Saba’ maupun yang terdapat dalam buku-buku sejarah menunjukkan bahwa “suatu bangsa yang kokoh akan runtuh apabila akhlaknya rusak” (Suwito 1995, hlm. 1). Dalam 1

description

Tesis ini menjelaskan tentang suatu keadaan yang harus di buktikan

Transcript of Tesis bagus

Page 1: Tesis bagus

Bab 1

P E N D A H U L U A N

Latar Belakang Masalah

Sepanjang sejarah umat manusia masalah akhlak selalu menjadi pokok persoalan.

Karena pada dasarnya, pembicaraan tentang akhlak selalu berhubungan dengan persoalan

perilaku manusia dan menjadi permasalahan utama manusia terutama dalam rangka

pembentukan peradaban. Perilaku manusia secara langsung ataupun tidak langsung masib

menjadi tolok ukur untuk mengetahui perbuatan atau sikap mereka. Wajar kiranya

persoalan akhlak selalu dikaitkan dengan persoalan sosial masyarakat, karena

akhlak menjadi simbol bagi peradaban suatu bangsa.

Fakta sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang diabadikan dalam al-

Qur’an seperti kaum ‘Ad, Samud, Madyan dan Saba’ maupun yang terdapat dalam buku-

buku sejarah menunjukkan bahwa “suatu bangsa yang kokoh akan runtuh apabila

akhlaknya rusak” (Suwito 1995, hlm. 1). Dalam sejarah dunia mencatat misalnya pada

masa kaum ‘Ad, Madyan dan Saba’ dicatat oleh al-Qur’an sebagai kaum yang memiliki

kualitas akhlak yang rendah. Al-Qur’an senantiasa merujuk kaum ini untuk

menunjukkan rendahnya kualitas akhlak manusia di beberapa bagian dekade

sejarah. Pada dekade selanjutnya, akumulasi simbol kebobrokan akhlak adalah kaum

Fir’aun dan Namrud yang hidup pada masa nabi Musa dan Ibrahim. Simbol selanjutnya

yang disebut oleh al-Qur’an adalah Abu Jahal dan kaumnya yang hidup pada masa

Nabi Muhammad Saw. Pada awal abad ke-20 yakni setelah Perang Dunia I simbol itu

1

Page 2: Tesis bagus

dialamatkan kepada Mustafa Kemal Attatruk (Ihsan Kasim 2003, hlm. 42). Dalam konteks

dunia Barat simbol-simbol lain itu bisa dialamatkan kepada Sigmud Freud, Nietzsche,

Lenin, Kalr Marx, dan Hitler. Bahkan tatanan yang lebih serius adalah kerusakan yang

ditimbulkan oleh negara Adi Daya seperti Amerika Serikat, Inggris atau Perancis.

Pengaruh meraka berada pada tataran pemikiran yang secara langsung ataupun

tidak langsung dalam merusak akidah, yang berarti dapat merusak akhlak manusia

dalam bertuhan. Mereka yang menjadi simbol ini memiliki peranan penting dalam bidang

pemikiran dan kelompok-kelompok sosial. Sehingga, muncul tokoh-tokoh yang dapat

mempengaruhi secara halus merasuk ke dalam alam pemikiran para pemikir-pemikir

muslim. Pengaruh tersebut sangat penting dalam membangun “persepsi” manusia dalam

memahami sesuatu. Misalnya Sigmud Freud “menyebut ide-ide agama tentang Tuhan dan

alam gaib sebagai ilusi karena konsep-konsep tersebut muncul dari keinginan manusia

(human wishes) dan bukan dari realitas” (Lihat Erich 1950, hlm.12).

Sebenarnya Allah Swt menciptakan manusia hanyalah bertujuan supaya manusia

itu beribadah kepada-Nya semata, yakni menjadi manusia pengabdi (Al-Dzariat : 56).

Titik tekan pengabdian adalah akhlak Islam yang sangat menekankan kepada

penganut-penganutnya untuk berakhlak mulia. Dalam hadis disebutkan “inama bu’istu li

utammima markim al-akhlak” (Sesungguhnya Aku diutus di muka bumi ini untuk

menyempurnakan akhlak). Penjelasan hadis ini berart inya bahwa diutusnya

Nabi Muhammad Saw sebagai rasul untuk menyampaikan risalah Allah sejak

awal abad ke-7 Masehi secara tegas adalah tugas pokoknya sebagai penyempurna

akhlak manusia.

Akhlak dalam Islam bertitik tolak dari pengabdian seorang kepada Allah

Swt dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw yang menjadi teladan pribadi

2

Page 3: Tesis bagus

terbaik. Semua sifat dari perilaku, pikir dan sikap yang bertentangan dengan

akhlak Nabi Muhammad Saw dianggap tidak berakhlak. Siti Aisyah r.a bila ditanya

tentang akhlak Nabi Muhammad Saw beliau berkata : “Akhlak Rasulullah itu adalah al-

Qur’an”. Allah Swt berfirman : “Wa innaka la’ala khuluq ‘azhim" (“Sesungguhnya

engkau (wahai Muhammad) mempunyai akhlak yang paling mulia”) (QS. al-Qalam : 4).

Karena itu, ia patut dijadikan contoh “ laqad kana lakum fi rasulullah uswatun

hasanah...” (“Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu surf tauladan yang baik

bagimu...”) (QS al-Ahzab : 21).

Bukti-bukti kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Saw di atas adalah nyata. Bahkan

menurut seorang non muslim Michael H. Hart dalam bukunya berjudul The 1000 a ranking

of the Most influential Persons in History memberikan pengakuan bahwa “Nabi

Muhammad Saw memperoleh pengakuan sebagai tokoh urutan pertama yang paling

berpengaruh dalam sejarah” (Suwito 1995, hlm. 3). Kebesaran Nabi Muhammad

harus diakui disebabkan oleh ketinggian dan kemuliaan akhlak yang dimilikinya.

Karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan pendidikan akhlak Islam pun

pada hakekatnya diarahkan kepada terciptanya manusia yang berakhlak agung dan mulia

seperti Nabi Muhammad Saw. Namun setiap orang memiliki pemahaman dan cara berbeda

untuk mencapai akhlak agung dan mulia sebagaimana yang dimiliki Nabi Muhammad

tersebut.

Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad dalam sejarah membuktikan bahwa umat

Islam dalam binaan Nabi Muhammad Saw pernah mengalami masa keemasan yang

mencapai 1300 tahun lamanya. Masa keemasan ini adalah masa periode Madinah yakni

pada masa Nabi Muhammad sendiri sampai wafatnya. Masa ini yang paling monumental

adalah dirumuskannya “Piagam Madinah” yang memuat perjanjian antara golongan-

3

Page 4: Tesis bagus

golongan Muhajirin, Ansar dan Yahudi serta sekutunya yang mengandung prinsip-prinsip

atau peraturan-peraturan penting yang menjamin hak-hak mereka dan menetapkan

kewajiban-kewajiban mereka sebagai dasar bagi kehidupan mereka bersama dalam

kehidupan sosial politik (Suyuthi 1993, hlm. 22). Kenyataan dalam sejarah bahwa pada

periode ini benar-benar tercipta sebuah peradaban gemilang.

Pasca wafatnya Nabi Muhammad tahap selanjutnya melahirkan 4 (empat)

khalifah yang benar – khulqfaurrasyiddin – Abu Bakar As Sidhiq, Umar bin Khathab,

Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang merupakan sebuah tahap revitalisasi

ajaran dan penguatan akidah serta meneruskan proses yang dilakukan oleh Nabi

Muhammad Saw. Integritas para sahabat penerus Nabi ini sangat diakui dalam berbagai

perspektif. Seperti ditegaskan oleh C.E.Bosworth bahwa “Periode empat khalifah

dipandang sebagai zaman emas, suatu zaman ketika kebijakan-kebijakan Islam yang

murni berkembang pesat, dan karena itulah gelar ‘yang mendapatkan bimbingan di jalan

lurus’ diberikan kepada mereka” (C.E. Bosworth 1993, h1m. 24).

Tahapan selanjutnya adalah masa klasik yang pesat perkembangan terjadi periode

650-1250 M, masa ini oleh para ahli sejarah disebut masa klasik dalam

sejarah perkembangan Islam. Umat Islam pada periode ini disebut “super power” yang

berkuasa di sebagian besar negara-negara di tiga benua : Asia, Afrika dan Eropa. Wilayah

kekuasaanya mencapai Spanyol di sebelah Barat dan India di sebelah Timur, daerah-daerah

itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabiah, Irak, sebagian Asia

kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan

Kirgis di Asia tenggara (Murodi dkk 1995, h1m. 33).

Masa ini merupakan masa kemajuan pertama yang dimulai dari tahun (550-

1000 M, dan sekaligus mengalami masa disintegrasi kekuatan Islam yang terjadi sejak

4

Page 5: Tesis bagus

tahun 1000-1250 M. Zaman keemasan Islam terjadi dalam berbagai aspeknya yakni masa

kekuasaan Dinasti Abbasiyah lahir 750 M- 1250 M. Pada kedua periode ini

menghasilkan para ahli bidang ilmu yang sangat berpengaruh antara lain : Washil ibn

Atha’, Zunnun al-Mishri, Abu Yazid al Busthami, Ibn Miskawaih, Ibn Bajjah, Ibnu Tufail,

Ibnu Rusyd, Imam Al Ghazali, Imam Malik, Abu Hanifah, Imam Syafii, Ibn Hanbal, al

Asyari, al Kindi, al Razi, al Farabi, al Maturidi dan Ibn Sina. Tokoh-tokoh ini menjadi

simpul sejarah dunia Islam yang secara komprehensif bergerak dalam bidang dakwah Islam

dan kehidupan nyata secara totalitas. Tokoh-tokoh ini benar-benar signifikan terutama

membangun keseimbangan antara rasionalitas dan spritualitas. Tokoh-tokoh ini selain

kuat dalam bidang pemikiran, juga kuat di bidang rasa, sehingga tidak dapat diragukan

lagi bahwa mereka juga tergolong orang yang memiliki akhlak yang tinggi.

Namun sesudah masa ini, umat Islam dilanda perpecahan dan kejumudan

membawa kemunduran. Kondisi ini disebabkan selain daerah-daerah yang tadinya

berada ditangan umat Islam menjadi jajahan Barat, pada masa ini tidak banyak

diketemukan lagi tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti masa sebelumnya yang memiliki

akhlak tinggi.

Walau setelah masa ini, sempat memunculkan ide-ide kebangkitan dan tokoh-

tokoh pembaharu yang membawa persatuan umat pada masa tiga Dinasti Besar (Disnati

Turki Usmani, Safawi dan Mughol), namun pada awal abad ke-19 kekuasaan,

wibawa dan kemakmuran tiga dinasti Islam tersebut berangsur menurun dan mundur.

Beriringan dengan itu, banyak wilayah dunia Islam seperti benua Afrika, Timur Tengah dan

India muncul pemikir-pemikir pembaharuan seperti Jamaluddin Afghani, Muhammad

Abduh, Hasan al Bana dan Bediuzzaman Said Nursi1. Memang kebangkitan itu begitu

1 Demi konsistensi dalam penulisan penelitian ini peneliti selanjutnya menggunakan kata “Said Nursi” yang merujuk kepada Bediuzzaman Said Nursi (1887-1960) sepanjang pembahasan penelitian ini, namun untuk tempat khusus dalam judul besar atau pada sub judul maka masih akan digunakan kata tersebut.

5

Page 6: Tesis bagus

sulit dicapai karena sampai sekarang diakui langsung atau tidak langsung, mereka yang

berusaha keluar dari dominasi Barat masih menemui kesulitan yang sangat mendalam

(Bandingkan uraian Harun, 1990, hlm. 12-14). Disamping gagasan pembaharuan, para

tokoh ini secara konsisten menjelaskan mengenai “hari akhir” dan penguatan akidah

islamiah. 2

Salah seorang tokoh yang konsisten terhadap permasalahan umat di atas adalah Said

Nursi dari Turki salah satu tokoh penting pada akhir abad ke-19. Said Nursi hadir untuk

menjadikan umat ini beriman dan berakhlak mulia dan kembali berjaya sebagaimana

jayanya umat Islam dahulu dan dapat mengamalkan agama sebagaimana para sahabat,

Imam Malik mengatakan: "Tidak akan pernah menjadi baik umat pada kurun (abad)

terakhir ini kecuali dengan cara perbaikan pada kurun umat yang terdahulu, yakni cara yang

dibuat oleh Rasulullah SAW yang diteruskan oleh para sahabat" (Hasan 2004, hlm.735).

Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah pada abadku

(sahabat) kemudian setelahnya (tabi'in) kemudian setelahnya (tabi'ut tabi'in)" (HR. Bukhari,

Muslim). Ahmad dan Al-Makki (1998, hlm. 38) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan

masa sahabat adalah kurang lebih 120 tahun setelah bi'tsah atau wafatnya sahabat terakhir

yaitu Abi Thufan ra. Kemudian orang-orang setelahnya, yaitu masa setelah sahabat adalah

tabi'in masanya sekitar 70-80 tahun. Kemudian orang-orang setelah tabi'in adalah pengikut

tabi'in, masanya sekitar 50-220 tahun.

Said Nursi muncul sebagai pembaharu yang ingin mengadakan perbaikan untuk

“menyelamatkan iman dan Islam”. Said Nursi memiliki karakter pemikiran yang

memihak kepada keimanan, pemahaman al-Qur’an, hari akhir dan integralitas

2 Sebenarnya kesadaran akan kelemahan dan ketinggalan kaum muslimin dari bangsa-bangsa Eropa dalam berbagai bidang kehidupan ini, telah timbul mulai abad ke 11 H / 17 M dengan kekalahan-kekalahan tersebut mendorong raja-raja dan pemuka-pemuka kerajaan untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahan mereka dan rahasia keunggulan lawan.

6

Page 7: Tesis bagus

keilmuan. Said Nursi adalah sosok pemberani dan gigih memperjuangkan umat Islam di

Turki pada masa akhir kerajaan Turki Usmani yang mencetuskan gagasan pembelaan

terhadap agama dan kehidupan sosial-kemasyarakatan. Said Nursi merupakan salah satu

orang besar yang berani menghadapi dan menyelamatkan umat manusia dari berbagai

peristiwa berdarah dan penyimpangan terhadap fitrah manusia. Said Nursi juga

menghalangi manusia agar tidak terjatuh ke dalam atmosfir kehancuran dalam kebudayaan

mereka (Ihsan Kasim 2003, hlm. v). Said Nursi adalah salah satu tokoh yang mampu

bertahan dari berbagai upaya Barat “menghancurkan” umat Islam dan akhlak umat. Bahkan

sampai muncul Republik Turki, ia tetap konsisten berjuang menentang sekuleriasasi di

Turki hingga menghasilkan sebuah karya “Risale-i Nur” yakni tulisan setebal

6000 halaman yang memuat pemikiran-pemikiran tentang esensi keimanan dan

nilai-nilai akhlak di abad ini. Said Nursi menginginkan adanya pembaharuan di

Turki pada bidang pendidikan dan moralitas umat, yang waktu itu sudah mulai dirusak oleh

Mustafa Kemal Attaruk (Wawancara Fatih, 2005). Karena itu, Said Nursi tampil dengan

model sufi modern yang memadukan antara rasionalitas dan spritualitas, dalam konteks ini

dapat dikatakan sebagai rangkaian proses pendidikan akhlak.

Said Nursi dalam berbagai tekanan tersebut tidak kenal menyerah dengan tantangan

dan penderitaan yang dialaminya dari penjara ke penjara, berbagai musuh menghadang.

Walaupun otoritas negara yang kuat dan mekanisme pendidikan Islam yang ada di Turki

saat itu dipengaruhi oleh sekulerisme yang disosialisasikan oleh Mustafa Kemal

Atatruk, tapi Said Nursi tetap melakukan usaha menumbuhsuburkan ajaran Islam dan

perbaikan dalam bidang pendidikan Islam, terutama upaya membumikan nilai-nilai akhlak

di Turki.

7

Page 8: Tesis bagus

Media Said Nursi dalam berdakwah adalah Risale-i Nur dan mengelola pengajian-

pengajian. Sebab bagi Said Nursi meminjam istilah Syafii Anwar penyebaran Risale-i Nur

merupakan “realisasi menyeluruh bagi para pemikir dan praktisi pendidikan yang

handal yang mampu membentuk manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam amal,

serta anggun dalam moral dan kebijakan” (Syafii 1995, hlm. 153-154). Karenanya, Said

Nursi berkeyakinan bahwa penyebaran Risale-i Nur merupakan realisasi menyeluruh bagi

umat manusia dalam rangka membentuk kepribadian manusia yang seimbang

rasionalitas, spritualitas dan kaya akan amal.

Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa periode kemunduran menyebabkan

para pemikir untuk tampil mencarikan pemecahannya secara mendalam. Namun pada

akhirnya, diagnosa awal dapat dikatakan bahwa penyakit umat terlalu kompleks dan

beragam. Pada kondisi ini tampillah Said Nursi yang menjawab seluruh permasalahan

umat. Pendidikan merupakan kunci utama untuk menjawab tantangan dan kebutuhan

masyarakat yang ada saat ini, khususnya pendidikan akhlak yang merupakan inti dari

proses pendidikan.

Dalam kerangka pembinaan generasi muda Said Nursi merealisasikan ide

pendidikan akhlak melalui Dershane yang dilakukan oleh Nur Jamaah3. Perkumpulan ini

memuat beberapa garis besar kegiatan sebagai berikut :

1. Mengkaji konsep interaksi kemodernan dan relegius;2. Berniat menegakkan kembali keruntuhan kerajaan Usmani dengan kembali

kepada tradisi keilmuwan yang integralistik;3. Mengadakan kegiatan conversation (perbincangan), dan reading

(membaca) tulisan Risale-i Nur;3 Istilah Nur Jamaah dalam bahasa Turki sering digunakan dalam istilah yang berbeda seperti : “Nur

Telebesi” atau Nur Teleba”, Nurculuk atau Thalabun-Nur yang menunjukkan pengikut Said Nursi yang berada di Turki, secara khusus, namun Nur Jamaah ini sudah menyebar hampir ke beberapa negara. Jika istilah di atas diartikan dalam bahasa Indonesianya “Murid Nur”. Penulis menggunakan istilah Nur Jamaah atas pertimbangan bahwa istilah ini mudah dipahami dalam bahasa Indonesia. Sedangkan yang dimaksud dengan istilah dershane atau "The Nurcu Movement", "Halaqah" dalam bahasa Turki berasal dari kata “ders” yang artinya belajar sedangkan “hane” dalam bahasa Turki menunjukkan “tempat”, maka dershane dapat diartikan “tempat belajar” yang di kenal di Turki.

8

Page 9: Tesis bagus

4. Menyebarluaskan ajaran Risale-i Nur kepada masyarakat;5. Mendirikan asrama yang menjadi pusat pendidikan. (Hakan, ilmi com.).

Secara garis besar kutipan di atas, kegiatan ini memiliki relevansi terhadap

pengembangan pendidikan akhlak generasi muda yang menjadi perhatian utama

dalam penelitian ini. Harus diakui bahwa pendidikan akhlak sebagai salah satu inti

dari proses pendidikan dan bagi kemajuan suatu bangsa, maka pembaharuan di

bidang pendidikan mutlak untuk diadakan karena maju mundurnya suatu negara diukur

dari pendidikan dan out putnya.

Berdasarkan pemahaman di atas, maka kami mencoba mempelajari

pemikiran Said Nursi yang hidup abad ke-20 yang juga dipandang sebagai pendidik bagi

generasi penerus yakni Said Nursi. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui

pemikirannya dalam bidang akhlak, khususnya yang berkaitan dengan prinsip-prinsip

pendidikan akhlak untuk menyongsong kebangkitan Islam di era persaingan global saat

ini3. Dan juga bertujuan untuk mengetahui beberapa alternatif yang ditawarkan

dalam membangun kerangka pemikiran pendidikan akhlak dan implementasinya yang

menjadi “obat penawar” bagi penyakit yang diderita oleh umat Islam sampai saat ini.

Dalam kajian ini muncul pertanyaan mendasar yakni apakah ada prinsip-prinsip

pendidikan akhlak generasi muda menurut Bediuzzaman Said Nursi ?. Peneliti berasumsi

bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi ada,

walau harus diakui bahwa pemikirannya tersebut tidak dirumuskan secara sistematis

yang dapat dilihat dan dianalisis dari kitab tafsirnya Risale-i Nur. Untuk memperkuat

asumsi ini, maka dirumuskan 5 (lima) faktor yang melatarbelakanginya yakni :

3 Menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa berpikir atau pertimbangan secara mendalam. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai karakter. Menurutnya keadaan ini ada dua jenis. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini cendikiawan klasik sering berbeda. pendapat. Sebagian berpendapat bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional). Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa berpikir (rasional).

9

Page 10: Tesis bagus

Pertama, faktor personal. Sebuah karya tidak akan terlepas dari penulisnya.

Baik dalam alur pikir maupun sikap sehari-harinya. Maka sesuai dengan kajian

mengenai pendidikan akhlak, diasumsikan bahwa ditulisnya Risale-i Nur tidak terlepas

dari pengalaman pribadi penulisnya dan pergulatan pemikirannya. Secara personal

menurut peneliti dalam Risale-i Nur tak terlepas dari nilai-nilai akhlak yang akan

ditegaskan dalam defenisi operasional. Berdasarkan kategori dalam aliran pendidikan

akhlak yakni pendidikan akhlak rasional dan mistik, diasumsikan bahwa penulisnya

senantiasa mempraktekkan akhlak mulia dan juga diasumsikan beliau menerapkan

kedua konsep tersebut sekaligus yakni rasional dan mistik. Secara rasional dapat

dipahami kedalaman ilmu penulisnya ketika peneliti membaca Risale-i Nur secara.

teliti. Secara mistik ilmu yang didapat tidak sekedar dengan akal tapi dengan intuisi yang

dalam epistimologi Islam dan Aristotelian merupakan bagian dari metode ilmiah

(Lihat Mulyadhi 2003, hlm.63). Maka dapat dikatakan berdasarkan faktor personal

bahwa Risale-i Nur ditulis karena Said Nusri adalah seorang moralis dan rasionalis.

Kedua, faktor tekstual. Pada penelitian pertama dapat dijelaskan bahwa keunikan

Risale-i Nur terlelak pada : a) Faktor bahasa, bahasa yang digunakan adalah bahasa Turki

yang dipengaruhi oleh kondisi kenegaraan, yang berubah secara drastis, ketika

“kekhalifahan Turki Usmani” dinyatakan runtuh. Secara keseluruhan bahasa yang

digunakan adalah bahasa Turki Modern Mustafa Kemal Attatruk, tapi patut dijelaskan

keunikan bahasa dalam Risala-i Nur melibatkan banyak bahasa. Selain bahasa

Turki, bahasa dalam Risala-i Nur di antaranya, bahasa Persia, Prancis, Jerman, Inggris,

Kurdi, Arab dan khususnya bahasa Ottoman (bahasa pada masa Turki Usmani). b)

Faktor mantik atau analogi4. Mantik disini bisa diartikan secara filosofis dan hikmah. 4 Mantik dikatakan sebagai ilmu adalah ilmu logika yakni rumusan-rumusan atau patokan-

patokan agar orang mendapatkan petunjuk di dalam ia berpikir, supaya selamat dari kesalahan-kesalahan dan terhindar pengertiannya dari kekeliruan. Ilmu mantiq ialah undang-undang yang menjaga hati dari

10

Page 11: Tesis bagus

Dalam Risale-i Nur banyak terdapat kata-kata dan kalimat-kalimat mantik yang

memiliki banyak penafsiran, sehingga peneliti harus memiliki pemahaman

terhadap bahasa mantik. c) Faktor sistematika penulisan. Penulisan Risala-i Nur

ada sebagian dimulai dengan bismihi subhanahu wan inminsyain illah yusabbihu

bihamdihi kalimat yang mengawali bab dalam Risala-i Nur dan mengakhirinya dengan

subhanaka laa ilma lana illa maa alamtana innaka antal alimul hakim, dan

terkadang paling akhir ditulikan al-Baqi Huwalbaqi. Hal ini mengindikasikan

kesucian diri penulisnya dan paham ketuhanan yang dalam. Di samping itu, sistematika

penulisan yang sangat mengandung makna terhadap realitas sejarah umat manusia.

Ketiga, faktor ideologis5 ditulisnya Risale-i Nur adalah untuk melawan

ideologi modernisme yang digusung oleh Barat yang membawa umat manusia kepada

materialis, sekuleris, liberalis, komunis bahkan ateis. Faktor ideologis inilah yang

mendorong Said Nursi menulis Risela-i Nur. Jalan yang ditempuh adalah “kembali ke al-

kekeliruan dalam berpikir. Menurut M. Taib Thahir Abd. Muin Ilmu mantik dapat pula dinamakan ilmu logika. (Dja’far Amir, Ilmu Mantiq. Ramadhani, Solo, 1980, hlm. 1-2).

5 Imam Cahyono mengutip pendapat Frans Magnis Suseno ideologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. (Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, 1991, hlm 230).

11

Page 12: Tesis bagus

Qur’an dan as-Sunah” tapi tidak seperti aliran wahabi6 ataupun pan islamisme yang

didengungkan oleh Jamaluddin al-Afgani7.

Keempat, faktor politis, ditulisnya Risale-i Nur adalah dalam konteks

masyarakat Turki yang Islam untuk menentang pemerintahan sekuler yang dibentuk oleh

Inggris yakni sebuah revolusi politik dari sistem kekhalifahan diubah menjadi sistem

demokrasi republik yang menerapkan hukum-hukum Prancis, Inggris dan khususnya

banyak mengadopsi hukum-hukum sekuler Swiss. Dampaknya adalah secara sosial-

kultural terjadi revolusi sosial besar-besar di Turki. Jalan yang ditempuh Said Nursi

adalah “menjauhi politik” (Said Nursi 2003b, hlm. 71).

Kelima, faktor sosial-kultural, munculnya Risale-i Nur untuk

menyelamatkan masyarakat Turki yang muslim dengan menentang revolusi sosial yang

berasal dari revolusi politik oleh Mustafa Kemal Attaruk. Revolusi sosial itu sangat tampak

misalnya : memberikan keluasan posisi perempuan di antara laki-laki (fenimisme, yang

mengadopsi kebebasan di Barat), modernisasi cara berpakaian khususnya perempuan,

melarang penggunaan peci, pelarangan jubah, pelarangan sorban (sarek), pelarangan azan

(harus dengan bahasa Turki), penutupan madrasah, pelarangan jilbab, penggunaan

6 Pendiri Wahhabi yaitu Muhammad ibn Abdul Wahhab untuk memurnikan ajaran agama Islam, yang pada saat itu telah tercemar dan direkayasa oleh umat Islam dengan memasukkan unsur-unsur mistis dan tata cara ibadah yang telah menyimpang dari ajaran Islam murni sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Harun Nasution, Abdul Wahhab mengecam kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan orang-orang suci dan saleh (wali-wali sufi) dan hal-hal yang berkaitan dengan itu, dia mengecam taklid kepada pendapat ulama dan menyeru umat agar menyelaraskan nalar dan hati nurani dengan al-Qur’an dan sunnah bukan kepada penafsiran-penafsiran tradisional. Dia bertekad menghilangkan semua ketakhayulan dan mengembalikannya kepada kemurnian salaf, dan untuk itu ia menentang ulama-ulama yang telah mapan. Ia membuka pintu ijtihad yang telah dinyatakan tertutup oleh ulama-ulama terdahulu. (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan), Bulan Bintang, Jakarta, 1990, hlm.23-26).

7 Jamaluddin al-Afgani adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam Islam yang tempat tinggal dan aktivitasnya berpindah dari satu negara Islam ke negara Islam lain. Jamaluddin al-Afgani lahir di Afganistan pada tahun 1897. Pemikiran pembaharuan berdasarkan atas kenyakinan bahwa “ Islam adalah yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaan”. Kalau kelihatan ada pertentangan antara ajaran-ajaran Islam dengan kondisi yang dibawa perubahan zaman dan perubahan kondisi, penyesuaian dapat diperoleh dengan mengadakan interpretasi baru tentang ajaran-ajaran Islam seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an dan hadits, maka untuk interpretasi itu diperlukan ijtihad dan pintu ijtihad baginya terbuka.

12

Page 13: Tesis bagus

nickname (lakap atau gelar), mengadaptasi kalender internasional (kalender Masehi)

dan mengadopsi hukum-hukum sekuler. Tidak ketinggalan juga perubahan bahasa

Arab ke bahasa Turki. Bahkan yang paling tragis adalah “pembantaian 100 ribuan ulama

dan alimin”. Jalan yang ditempuh Said Nursi adalah mempertahankan prinsip-prisip dasar

ajaran Islam dari trend materialistik dan ateistik.

Kelima alasan di atas inilah yang menjadi dasar penelitian ini, yakni pembicaraan

mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda Said Nursi dalam

membentuk manusia yang mulia, berakhlak mulia. Persoalan ini akan terkait secara

langsung dengan persoalan politik dan sosial-kultur Said Nursi dalam membentuk

pandangan dasar yang menjadi gagasan dasar atau ideologi menjelma menjadi

doktrin-doktrin dari Risale-i Nur. Pembahasan ini juga berupaya menjelaskan relevansinya

dengan pembinaan akhlak generasi muda yang dapat diterapkan secara, teoritik dan praktek

di masa sekarang dan masa depan.

Adapun di antara alasan pentingnya pemikiran Said Nursi di bidang

pendidikan akhlak dapat diungkapkan beberapa pertimbangan sebagai berikut : Pertama,

Risale-i Nur karya Said Nursi merupakan tafsir al-Qur'an yang secara konsisten

membicarakan penguatan iman dan al-Qur’an dengan jalan ikhlas, takwa dan sedekah.

Karya ini juga membahas secara mendalam mengenai akhlak Rasulullah dalam berbagai

tulisannya Risale-i Nur yang berorientasi kepada perubahan pola pikir dan laku untuk

memahami dan mengimani secara mendalam tanda-tanda hari kiamat dan keberadaan hari

kiamat.

Kedua, masalah etika secara khusus dibahas pada Simposium Internasional di

Turki yang ke-6 tahun 2002 yang dikoordinir oleh The Istanbul Foundation for

Sciance and Culture. Di samping itu dalam sepanjang pelaksanaan Simposium dan

13

Page 14: Tesis bagus

diskusi panel oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture ini selalu

menyertakan tema etika. Satu buku kumpulan Simposium Internasional yang ke-6

mendorong perlunya membahas mengenai akhlak dan juga tulisan Faris Kaya yang

mengungkapkan mengenai etika dalam Risalei-Nur. Etika yang dimaksud oleh Faris

Kaya mengungkapkan bahwa akhlak dalam sejarah dunia memang sangat penting. (Faris,

2004, hlm. 8-10).

Ketiga, diasumsikan bahwa pemikiran akhlak Said Nursi memberikan

peranan signifikan dalam aktivitas kehidupannya. Pemikiran semacam ini merupakan hasil

refleksi dan pemahaman terhadap suatu teologi yang mendalam mengenai Asma Allah dan

sifat-sifat-Nya yang membentuk kerangka pikir dan sikap perilaku. Diyakini bahwa Said

Nursi adalah sosok pemikir sekaligus sufi yang memadukan konteks teologi,

tasawuf dan akhlak dalam realitas kehidupan. Paham ini diilhami kemutlakan

Tuhan dalam diri manusia dengan catatan bahwa akal memiliki peran penting dalam

refleksi untuk menyempurnakan keyakinan dari refleksi hati. Artinya paham yang dianut

Said Nursi berdekatan dengan upaya ma’rifatullah dalam perspektif yang luas.

Sementara itu dapat diasumsikan bahwa teologi Said Nursi adalah rasional-spritual.

Maka, dalam konteks pendidikan akhlak selalu memadukan akal dan hati untuk

melakukan pendekatan ajaran Islam secara universal.

Keempat, perkembangan ilmu dan teknologi. Yang tidak dapat dilepaskan dari

perkembangan zaman saat ini adalah perkembangan ilmu, teknologi, komunikasi

dan informasi. Kebutuhan-kebutuhan ini yang menyebabkan dunia semakin global.

Selain berdampak positif juga berdampak negatif. Di antara dampak negatif globalisasi

ini antara lain adalah semakin banyaknya alternatif bagi ukuran akhlak manusia yang

cenderung bermuatan materialistik dan intelektualistik semata. Akibatnya, hal-hal

14

Page 15: Tesis bagus

yang bersifat spritualistik cenderung diabaikan. Dengan demikian, kemampuan

memilih berbagai alternatif secara kritis melalui pemahaman, teologi rasional dan spritual

semakin dinilai penting dan mendesak.

Kelima, tanda-tanda akhir zaman, pentingnya pengkajian ini juga disebabkan

titik nadir masyarakat global berdasarkan paham keagamaan menunjukkan tanda-tanda

akhir zaman. Dalam konteks itulah sebagai makhluk beragama harus mewaspadai

itu dan berupaya mengantisipasi dan merubah pola pandangan hidup. Karena persoalan

“krisis moral” merupakan entry point dari munculnya pembaharu (mujadid) untuk

menyelamatkan umat dari “melupakan” Tuhan.

Berdasarkan pertimbangan beberapa pemikiran dan urgensi penelitian di atas

maka dapat diambil pemahaman bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak menurut

Said Nursi layak untuk dibahas, dikaji dan diungkap.

Rumusan Masalah

Sesuai latar belakang masalah sebagaimana di atas, maka masalah penelitian ini

dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

1. Apa prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Bediuzzaman Said

Nursi?

2. Bagaimana relevansi prinsip-prinsip pendidikan akhlak menurut Bediuzzaman Said

Nursi dengan pembinaan akhlak generasi muda ?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

15

Page 16: Tesis bagus

1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip pendidikan akhlak menurut Bediuzzaman

Said Nursi.

2. Untuk mengetahui relevansi prinsip-prinsip pendidikan akhlak Bediuzzaman Said

Nursi dengan pembinaan generasi muda.

Kegunaan Penelitian

Setidaknya ada 2 (dua) kegunaan dari penelitian ini yaitu secara teoritis dan praktis. Secara

teoritis, untuk memberikan informasi kepada peneliti tokoh Said Nursi lanjutan

dalam mengkaji dan mengetahui tentang konsep pendidikan akhlak yang pernah

dihasilkan oleh Said Nursi sebagai tokoh filosof sufi modern yakni sebagai upaya

pengungkapan khazanah intelektual muslim abad ke-20an yang dapat dijadikan

inspirasi dan motivasi bagi munculnya kejayaan Islam kembali.

Kemudian dalam kaitannya dengan ilmu pendidikan akhlak upaya penelitian

ini akan bermanfaat untuk memberikan motivasi bagi diadakannya pembahasan-

pembahasan lebih lanjut tentang akhlak Islam secara filosofis untuk menemukan teori baru

di bidang pendidikan akhlak. Penelitian ini juga berguna sebagai salah satu bahan

pemikiran untuk mengantisipasi bentuk pendidikan akhlak yang terintegrasi dalam semua

disiplin bidang pendidikan.

Secara praktis, dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, maka ilmu

pendidikan akhlak dapat memberikan manfaat untuk memberikan motivasi bagi pembahas-

pembahas lanjutan yang berfungsi untuk memberikan informasi kepada masyarakat,

mahasiswa, pelajar dan lain sebagainya, terkhusus bagi masyarakat luas yang ingin

mengetahui tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi.

16

Page 17: Tesis bagus

Penelitian ini dapat pula dijadikan sebagai salah satu bahan pemikiran untuk mengantisipasi

bentuk pendidikan akhlak yang terintegrasi dalam semua bidang ilmu dan pendidikan.

Definisi Operasional

Guna mencapai pemahaman arah dari penelitian ini, maka ada beberapa istilah yang perlu

diuraikan sebagai defenisi operasional di antaranya :

Istilah “Prinsip-prinsip” berasal dari bahasa Inggris principle secara leksikal

berarti : 1) Dasar kebenaran; hukum-hukum sebab akibat; 2) tuntunan peraturan untuk

tingkah laku moral (Hornby 1974, hlm. 664). Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata itu

berarti “dasar, asas (kebenaran yang menjadi dasar berpikir, bertindak dan sebagainya)”

(Departemen P dan K 1991, hlm. 788). Secara filosofis kata itu mengandung arti

kebenaran-kebenaran yang fundamental dari suatu kandungan doktrin atau dasar apa saja

yang berkaitan dengan tingkah laku manusia (Hasting t.th., 336). Pengulangan istilah

prinsip dalam judul yaitu prinsip-prinsip dalam bahasa Inggris principles (dalam bentuk

jamak) mengandung arti ada beberapa dasar, asas adalah jamak dari prinsip. Prinsip adalah

suatu komitmen yang mendalam terhadap sesuatu yang diyakini kebenarannya.

Istilah “Pendidikan Akhlak” terdiri dari 2 (dua) kata yaitu pendidikan dan

akhlak. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda, namun istilah pendidikan

akhlak menunjukkan adanya proses pembentukan seorang manusia agar memiliki

akhlak. Untuk memahami istilah ini, maka perlu memahami terlebih dahulu kata

“Pendidikan”.

17

Page 18: Tesis bagus

Dalam bahasa Arab istilah pendidikan digunakan untuk berbagai pengertian,

antara lain tarbiyah, tahzib, ta’lim, ta'dib, siyasat, mawa’izh, 'ada ta'awwud dan tadrib.

Sedangkan untuk istilah tarbiyah, tahzib dan ta'dib sering diartikan pendidikan. Ta'lim

diartikan pengajaran, siyasat diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan.

Muwa'izh diartikan pengajaran atau peringan. 'Ada ta'awwud diartikan pembiasaan

dan tadrib diartikan pelatihan.

Di antara mereka yang menjadikan istilah-istilah di atas untuk tujuan

pendidikan yakni Ibn Miskawaih dalam tahzibul akhlak, Ibn Sina memberi judul salah

satu bukunya kitab al siyasat, Ibn al-Jazzar al-Qairawani membuat judul salah satu

bukunya berjudul siyasat al-shibyan wa tadribuhum, dan Burhan al-Islam al-Zarnuji

memberikan judul salah satu karyanya Ta'lim al-Mula'allim tharik at-ta'alum. Pada

dasarnya para ahli tidak mempersoalkan penggunaan istilah ini.

Al-Attas mendefinisikan pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke

dalam diri manusia. Suatu proses “penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk

menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” mengacu pada metode dan sistem

untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap “sesuatu”

mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri manusia” mengacu pada penerima

proses dan kandungan itu (Al Attas 1994, hlm. 35).

Istilah yang dikemukakan di atas mengandung tiga unsur dasar yang membentuk

pendidikan, yaitu proses, kandungan, dan penerima. Tetapi semuanya itu belum lagi suatu

definisi, karena unsur-unsur tersebut masih begitu saja dibiarkan tidak jelas. Lagi pula cara

merumuskan kalimat yang dimaksudkan untuk dikembangkan menjadi suatu definisi

sebagaimana di atas, memberikan kesan bahwa yang ditonjolkan adalah prosesnya (Al

18

Page 19: Tesis bagus

Attas 1994, hlm. 36). Jadi dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang secara

bertahap ditanamkan ke dalam manusia.

Sedangkan kata “akhlak” dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan

akhlak, moral, etika, watak, budi pekerti, tingkah laku, perangai dan kesusilaan. Akhlak

jamak dari khuluq yang berarti adat kebiasaan (al-'adat), perangi, tabi'at (at-jiyyat),

watak (at-thab ), adab atau sopan santun (al-muru’at), dan agama (al-din). Istilah-istilah

akhlak juga sering disetarakan dengan istilah etika. Sedangkan kata yang dekat dengan

etika adalah moral.

Jadi dapat dipahami bahwa akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan

suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Sering pula yang

dimaksud akhlak adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa

perbuatan baik dan buruk.

Dengan demikian yang dimaksud dengan istilah “Pendidikan Akhlak” dalam

penelitian ini adalah “suatu proses menuju arah tertentu yang dikehendaki sesuai

dengan landasan akhlak yang mengarahkan pada terciptanya perilaku lahir dan batin

manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang (seperti Nabi) dalam arti terhadap

dirinya maupun terhadap luar dirinya”.

Istilah "Generasi Muda" secara etimologi berasal dari dua kata, yaitu generasi dan

muda. Kata "generasi" berarti angkatan atau turunan (Dep P dan K 1999, hlm. 309); dan

kata "muda" yang berarti belum lama ada (Dep P dan K 1999, hlm. 667). Generasi muda

berarti angkatan atau turunan yang belum lama hidup. Dalam pengertian pertama ini

nampaknya belum begitu jelas apa esensi generasi muda yang dimaksud dalam pembahasan

ini.

19

Page 20: Tesis bagus

Kata generasi muda tidak cukup diartikan berdasarkan ilmu kebahasaan

(etimologi) saja, tetapi perlu dilihat arti secara terminologi (istilah). Menurut Suraiya,

generasi muda adalah bagian suatu generasi yang sedang menjalani giliran mengelola

kehidupan masyaranat dan kenegaraan (Suraiya 1985, hlm. 2). Suryono Sukanto

mengartikan generasi muda adalah sekelompok orang muda yang lahir dalam jangka waktu

tertentu (Suryono 1993, hlm. 201). Selanjutnya Hartini dan Kartasapoetra menamakan

generasi muda sebagai angkatan kaum muda (Hartini dan Kartasapoetra 1992, hlm. 166).

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat

disimpulkan, bahwa generasi muda adalah kelompok, golongan, angkatan, kaum muda

yang hidup dalam jangka waktu tertentu, di mana mereka memiliki tugas untuk

melanjutkan pembangunan bangsanya sebagaimana tugas-tugas para angkatan yang hidup

sebelum mereka.

Dari beberapa defenisi operasional di atas dapat ditarik kesimpulan

bahwa pengertian judul tesis ini adalah “Suatu komitmen yang mendalam mengenai

kehidupan menuju arah terciptanya perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti

Nabi) bagi generasi muda menurut pemahaman Bediuzzaman Said Nursi".

Tinjauan Pustaka

Berdasarkan kajian dan pemeriksaan kepustakaan yang ada tentang Said Nursi, diakui

bahwa ada beberapa peneliti yang telah menulis dan mengkaji sebagian pemikiran

Said Nursi, khususnya dalam berbagai aspek. Dalam bentuk kajian tesis terdapat sekitar 8

negara yang membahas mengenai Said Nursi.11 Terkait penelitian ini peneliti akan

meninjau beberapa pustaka sebagai berikut :

11 Untuk lebih jelasnya mengenai karya akademik yang memuat asal negara, nama penulis, judul karya, asal perguruan tinggi, tempat dan tahun dapat dilihat di CD Bediuzzaman Said Nursi Risale-i Nur, Nesil Foudantion, Istanbul, Turki.

20

Page 21: Tesis bagus

1. Kaj ian "Model-model Pendidikan Bediuzzaman " oleh Hali t Er tugrul

(1994) , te lah memperkenalkan karya tentang Bediuzzaman Said Nursi berjudul ;

“Egitimde Bediuzzaman Modeli”. Dalam karya berbahasa Turki ini, Ertugrul

membuat suatu kesimpulan, bahwa Said Nursi meliliki model tersendiri dalam

pendidikan Islam, yaitu penekanan terhadap aspek akidah, menggunakan

metode pengulangan, pendalaman, dan pemahaman. Keutamaan model

pendidikan Said Nursi adalah terletak pada kemampuan ia menggunakan

argumentasi rasional untuk menunjukkan hakikat kebenaran.

2. Tulisan karya Adem Tatli , 1992 dalam sebuah makalah yang berjudul

: “Badiuzzanian Education Method”. Makalah ini dipersentasikan pada seminar

Simposium ke II tentang Bediuzzaman Said Nursi pada 27-29 September

1992 di Istambul. Suatu catatan penting dari makalah ini memuat tentang 13

tawaran Said Nursi untuk dijadikan basis epistemologis penegakkan sistem

pengajaran.

3. Sementara Sakir Gozutok (2000, hal. 404-412), dalam makalahmya yang berjudul;

“The Risale-i Nur in The Context of Educational Principles and Methods”,

menemukan beberapa metode pendidikan yang dipakai Said Nursi dalam Risale-i

Nur, yaitu The Direct Lecturing Method, The Question and Answer Method, The

Active Learning Method, dan Observational Method (External Observation and

Inward Observation).

Walaupun dua karya tersebut cukup signifikan untuk melengkapi data

penulisan tesis ini, namun sisi kelemahannya mungkin terletak pada titik tekan Said Nursi

dalam membentuk berkepribadian berakhlak mulia tidak dilakukan oleh para peugkaji-

pengkaji Said Nursi secara detail, baik dalam kegiatan pendidikan informal, maupun dalam

21

Page 22: Tesis bagus

bentuk formal. Ertugrul dan Tatli masih dalam tataran umum mengkaji pola

pendidikan dihubungkan dengan basis penegakan sistem pengajaran, meliputi

landasan filosofis, kurikulum, guru, metode, siswa, pengelolaan kelas, dan

aktifitas pergerakan siswa. Sedangkan pada tahap konseptualisasi nilai-nilai

akhlak, realisasi nilai-nilai tersebut belum dilakukan secara maksimal, atau

pengkajian tentang akhlak belum dilakukan secara mendalam.

Pemetaan kajian di atas, dimaksudkan ingin melihat penelitian-penelitian

yang sudah dilakukan untuk mendukung dan diharapkan menjelaskan posisi penulis dalam

mengambil fokus kajian penulis. Semua kajian di atas, jika diteliti secara langsung atau

tidak langsung menyinggung persoalan keimanan, akhlak dan ibadah yang menjadi

fokus dari kajian penulis dalam membangun prinsip-prinsip pendidikan akhlak secara

teologis.

Dari beberapa literatur dan tulisan mengenai pemikiran Said Nursi di atas, dapat

penulis tegaskan bahwa sejauh pengamatan kami pembahasan tentang prinsip-prinsip

pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi belum ada. Karena itu, penelitian

kepustakaan yang akan kami lakukan ini adalah suatu usaha untuk mengkaji secara

mendalam mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi tersebut.

Penelitian dan karya ilmiyah yang dikemukakan diatas tidak sama dengan

penelitian yang akan penulis lakukan. Perbedaan penelitian dan karya ilmiyah tersebut

dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah pada materi pembahasannya.

Penelitian sebelumnya pada umumnya membahas masalah mosel-model pendidikan,

metodologi pendidikan, dan prinsip metode pendidikan, sedangkan penelitian yang akan

penulis lakukan adalah mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi.

22

Page 23: Tesis bagus

Kerangka Teori

Dalam rangka memperjelas arah dari penelitian ini, khususnya yang berkaitan dengan

“prinsip-prinsip pendidikan akhlak”, jika dikaji secara teoritis, maka dalam penelitian ini

secara spesifik peneliti mengemukakan teori-teori yang berhubungan dengan pendidikan

akhlak sebagai berikut :

“Teori pendidikan akhlak” secara teoritis pendidikan akhlak pada dasarnya

bertitik tolak dari urgensi akhlak dalam kehidupan. Tokoh yang menganggap pentingnya

pendidikan akhlak adalah Oemar Bakry, menurutnya “ilmu akhlak akan menjadikan

seseorang lebih sadar lagi dalam tindak tanduknya. Mengerti dan memaklumi dengan

sempurna faedah berlaku baik dan bahaya berbuat salah” (Bakry 1993, hlm. 13-14).

Mempelajari akhlak setidaknya dapat menjadikan orang baik. Kemudian dapat berjuang

di jalan Allah demi agama, bangsa dan negara. Berbudi pekerti yang mulia dan

terhindar dari sifat-sifat tercela dan berbahaya.

Tokoh lain yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah

Syed Muhammad Nauquib al-Attas dengan menggunakan kata adab atau ta'dib.

Al-Attas mengatakan bahwa kebenaran metafisis sentralitas Tuhan sebagai Realitas

Tertinggi sepenuhnya selaras dengan tujuan dan makna adab dan pendidikan sebagai

ta'dib. Al-Attas menganggap bahwa proses pendidikan sebagai penanaman adab ke

dalam diri, sebuah proses yang tidak dapat diperoleh melalui suatu metode khusus.

(Lihat Wan Daud 2003, hlm. 77-79).

Selain itu, menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu keadaan jiwa.

Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa berpikir atau pertimbangan secara

mendalam. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai karekter. Menurutnya keadaan ini ada

dua jenis. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui kebiasaan dan

23

Page 24: Tesis bagus

latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini cendikiawan klasik sering berbeda pendapat.

Sebagian berpendapat bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional).

Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa berpikir (rasional).

Berdasarkan kedua jenis karakter dan kedua pendapat di atas Ibn

Miskawaih menegaskan bahwa akhlak yang alamiah dan sudah menjadi watak dapat

berubah cepat atau lambat melalui disiplin serta nasehat-nasehat mulia. Karena

menurutnya pendapat pertama menyebabkan tidak berlakunya fakultas nalar,

tertolaknya segala bentuk norma dan bimbingan, kecenderungan orang kepada kekejaman

dan kelalaian serta banyak remaja dan anak-anak berkembang liar tanpa nasehat dan

pendidikan. Ini tentu saja sangat negatif (Ibn Miskawaih 1997, him. 56-57). Berdasarkan

inilah Ibn Miskawaih menganggap perlu adanya pembinaan jiwa secara intentif dengan

daya-daya akal. Pembinaan inilah yang dapat dikatakan sebagai (tahzih al-Akhlaq)

pendidikan akhlak.

Menurut Suwito yang mengutip pendapat M. Amin Abdullah bahwa

kalau dibandingkan dengan mahzab pemikiran di bidang pendidikan akhlak maka secara

umum pendidikan akhlak dapat dibagi dua, pendidikan akhlak mistik dan pendidikan

akhlak rasional. Pembedaan pendidikan akhlak kepada mistik dan rasional

bukannya tidak memiliki konsekuensi. Sebagaimana dalam teologi rasional,

akhlak rasional dapat membawa konsekuensi bagi pertumbuhan kreatifitas dan inisiatif,

sedangkan akhlak mistik kurung mendorong manusia untuk dinamis (Suwito 1995,

hlm.10).

Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional yang

memberi lebih kuat kepada pendidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan

pendidikan akhlak mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa

24

Page 25: Tesis bagus

pada diri manusia. Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan.

Konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan kuat bagi terciptanya

manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang diperoleh dari pendidikan akhlak mistik

kurang memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, pendidikan akhlak tidak masuk dalam kategori institusi sebagaimana

di atas, karena hakekat pendidikan akhlak adalah inti semua jenis pendidikan.

Pendidikan akhlak mengarah pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia

sehingga menjadi manusia yang seimbang dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap

luar dirinya. Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik dalam

pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga melainkan

terintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran atau lembaga.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa pendidikan akhlak dalam

penelitian ini ditinjau melalui 2 (dua) aliran, yakni rasional dan mistik

(Abdullah 1997, hlm. 125). Akhlak termasuk unsur immaterial, yakni unsur rasio dan rasa.

Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional yang memberi

lebih kuat kepada pendidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak

mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa pada diri manusia.

Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan terhadap perlaku manusia.

Karena itu, maka konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional

memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang

diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan dorongan kuat bagi

terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, dalam kajian penelitian ini justru keduanya dipadukan untuk

melengkapi satu dengan yang lainnya. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa

25

Page 26: Tesis bagus

pendapat Amin Abdullah menjadi landasan kajian ini dalam memadukan aspek-aspek

akhlak dalam diri manusia.

Metodologi Penelitian

Untuk memperoleh data yang diperlukan, mengolah dan menganalisis data, maka langkah-

langkah yang perlu dijelaskan terkait dengan hal-hal teknis dalam metodologi penelitian ini,

sebagai berikut :

Jenis Penelitian

Penelitian ini dari segi objeknya adalah penelitian pustaka (library research) dan penelitian

lapangan (field research). Disebut penelitian pustaka karena objeknya adalah pemikiran

yang tertuang dalam bahan-bahan pustaka berupa buku-buku, arsip-arsip, dokumen-

dolumen, jurnal dan majalah ilmiah. Disebut penelitian lapangan karena objeknya adalah

pengamatan secara langsung aktivitas keagamaan generasi muda Turki yang mengarah

kepada model kajian generasi muda.

Penelitian ini dari segi objek dan tujuannya adalah deskriptif kualitatif. Disebut

deskriptif karena tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendiskripsikan

pemikiran-pemikiran yang terdapat di dalam buku-buku dan dokumen-dokumen,

menjelaskan dan menggambarkan hasil penelitian yang dilakukan pada objek tertentu

secara jelas dan sistematis. Disebut kualitatif adalah karena di dalam penjelasan dan uraian-

uraiannya tidak menggunakan angka statistik tetapi dengan fakta dan argumentasi.

Sumber Data

26

Page 27: Tesis bagus

Sumber data pada penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Adapun data

primer adalah data yang langsung dari sumber pertamanya, yaitu pengkajian kitab

Risale-i Nur sejumlah lebih kurang 6000 halaman. Penelitian ini mengambil sumber

asli yakni dalam bahasa Turki dan Arab. Adapun sumber pemikiran Said Nursi

yang dijadikan rujukan adalah 2 (dua) karya dari kumpulan Risale-i Nur. Kedua karya

tersebut :

a. “Lemaalar” (kumpulan cahaya) memuat sebanyak 33 kumpulan cahaya. Berisi

ajakan untuk merasakan tetesan cahaya Ilahi yang memantul di setiap aspek

kehidupan baik yang profan maupun yang sakral, lahir maupun bathin dan

menerangkan bahwa ada hikmah dibalik peristiwa, entah itu anugerah atau

bencana yang mana hikmah tersebut akan menyempurnakan kehidupan (spiritual)

manusia. (Said Nursi, 2003a). Buku ini mengandung 33 cahaya, membahas

peristiwa yang menimpa para Nabi Allah SWT, mengenai kemukjizatan

Rasulullah, keutamaan munajat (doa), tentang kabar ghaib dari ayat al-Quran,

minhaj as-Sunnah, ma'rifat terhadap Allah dan Rasulullah, pembahasan tentang

akhlak, dan lain-lainnya.

b. “Mektubat” (kumpulan surat-surat) merupakan kumpulan surat-surat 1928-

1932 memuat jawaban dan penjelasannya seputar isu-isu penting dalam, Islam

tentang isu-isu teologis, dan kehidupan spiritual yang mana dijelaskan dengan

penjelasan yang sangat argumentatif dengan dalil yang menguatkan (Said Nursi,

2003b). Buku ini memuat tentang tingkat kehidupan, rahmat dalam kematian dan

kemalangan, Asma Allah SWT, mukjizat Rasulullah SAW, makna mimpi,

hikmah penciptaan setan, mengapa harus ada mukjizat dan lain sebagainya.

27

Page 28: Tesis bagus

Penyajian buku ini menjawab dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dengan

dalil naqli dan argumentasi serta pendekatan analogi yang aktual dan relevan.

Kedua kitab di atas adalah bagian dan koleksi Risale-i Nur merupakan tafsir

al-Qur’an yang ditulis oleh Said Nursi dalam bahasa Turki dan Arab. Fokusnya kedua

kitab ini, walau nanti juga akan diikuti dengan 12 kitab lainnya dalam pembahasan

kajian penelitian ini.

Di samping Risale-i Nur, sebagai sumber sekunder digunakan sebagai pendukung

ayat-ayat Al-Qur’an dalam kajian ini, dan bila dipandang perlu dilakukan penafsiran untuk

mendukung analisa dan pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu, yang dapat dijadikan

sumber sekunder adalah tulisan-tulisan yang membicarakannya tentang pendidikan

akhlak. Adapun yang dapat digunakan sebagai sumber sekundernya berupa buku,

majalah, koran, enseklopedia, monograf, jurnal ilmiah, makalah-makalah hasil

simposium Internasional dan seminar Internasional hasil-hasil penelitian dan

media elektronik (program komputer, CD-ROM atau internet) yang berhubungan

dengan penelitian ini sebagai data pendukung fokus penelitian ini.

Teknik Penulisan

Teknis penulisan tesis ini berpedoman pada buku tuntutan PPS IAIN Raden Fatah

Palembang yang ditulis oleh M. Sirozi dan kawan-kawan (Edisi Revisi)

Pedoman Penulisan Tesis, Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 2005.

Setelah data selesai dikumpulkan dengan lengkap, selanjutnya data tersebut

dianalisa. Analisa merupakan tahap yang penting dan menentukan, karena dalam tahap

ini data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil dalam

menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan-

28

Page 29: Tesis bagus

persoalan dalam penelitian. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

analisa kualitatif Dalam penelitian ini data yang sudah dikumpulkan diolah untuk

diklasifikasikan sesuai dengan jenis datanya. Apakah data-data tersebut termasuk

sumber primer atau sumber sekunder.

Adapun teknis penulisan tesis ini melalui langkah-langkah yang ditempuh dalam

pengumpulan datanya dimulai dengan proses pengumpulan kitab-kitab dan buku-buku yang

berkaitan dengan Risale-i Nur dalam konteks pendidikan akhlak. Setelah data-

data terkumpul maka data diteliti untuk mencari fakta yang relevan mengenai pendidikan

akhlak menurut Said Nursi. Selanjutnya membaca data-data tersebut sebagai langkah

identifikasi konsep-konsep dasar dari pemikiran pendidikan akhlak Said Nursi.

Data kemudian dikelola secara mendalam, pengelolaan analisa ini

dimaksudkan untuk menganalisa secara mendalam pemikiran-pemikiran Said Nursi

tentang konsep pendidikan akhlak, menganalisa apa-apa saja pemikiran Said Nursi.

Kemudian pemikiran Said Nursi yang dijadikan objek direkonstruksi secara sistematis dan

objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, verifikasi, serta menganalisa bukti-

bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.

Sebagaimana dalam disebutkan bahwa data primer penelitian ini adalah Risale-i

Nur orisinil adalah bahasa Turki dan Arab, maka perlu dijelaskan secara teknis

penganalisaan bahan-bahan dilakukan dengan cara komperasi bahasa yakni digunakan

kombinasi Risale-i Nur yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Arab dan

Inggris, – yang dalam penelitian ini diposisikan data sekunder – hal ini

dimaksudkan untuk mempermudah verifikasl dan menarik konklusi.

Keterbatasan Penelitian

29

Page 30: Tesis bagus

Sebagal kajian pustaka penelitian ini tetap memiliki keterbatasan yang patut disampaikan di

sini, keterbatasan penelitian ini ada faktor bahasa dari segi teks Risale-i Nur, karena

Risalei Nur orisinil adalah bahasa Turki. Sehingga pembahasan penelitian ini

digunakan kombinasi Risale-i Nur sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Arab

dan Inggris. Faktor Tebalnya Risale-i Nur, faktor ini juga menyebabkan kesulitan

dalam penelitian ini karena jumlah halaman mencapai 6000 halaman yang terdiri

dari 14 jilid. Untuk itu, penelitian ini hanya menggunakan sebagian dari Risale-i Nur

yakni 2 kitab saja. Hal ini juga disebabkan faktor keterbatasan waktu studi,

keterbatasan waktu studi ini lebih disebabkan adanya keinginan mengkaji risalah

nur ini dari bahasa aslinya, yakni bahasa Turki. Namun, waktu satu tahun yang

digunakan tidaklah mencukupi. Karena 6 bulan pertama digunakan untuk belajar bahasa

Turki dan 6 bulan mulai merancang penelitian dan penulisan, situasi itu pun tidaklah

dapat dilakukan secara optimal, karena banyak waktu yang digunakan untuk mengikuti

berbagai kegiatan yang diprogramkan oleh The IstanbuFoundation for Sciance and

Culture. Keterbatasan penelitian ini perlu dijelaskan untuk menghindari faktor-faktor

yang mungkin mengancam objektivitas atau validitas penelitian dan generalisasinya.

Sistematika Penulisan

Dalam pembahasan tesis ini terdiri dari beberapa bab, dari tiap-tiap bab juga terdiri dari

beberapa kerangka-kerangka pembahasan, maka untuk mengetahui masing-masing bab

tersebut adalah sebagai berikut :

Bab Pertama, bab ini merupakan bab pendahuluan, yang terdiri dari Latar

belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Defenisi

Operasional, Tinjauan Pustaka, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian, dan

Sistematika Penulisan.

30

Page 31: Tesis bagus

Bab Kedua, bab ini membahas mengenai pendidikan akhlak dan pembinaan

generasi muda. Adapun kajiannya tentang pendidikan akhlak mencakup ; pengertian dan

tujuan, ruang lingkup, dan signifikansinya. Sedangkan kajian pembinaan generasi muda

mencakup ; pengertian dan batasan, karakteristik, dinamika kehidupan, dan kedudukan

akhlak dalam kehidupan generasi muda.

Bab Ketiga, bab ini membahas mengenai biografi singkat Said Nursi.

Kajiannya meliputi masa kecil dan pendidikan Said Nursi mencakup ; latar belakang

keluarga dan riwayat pendidikan, selanjutan kegiatan keagamaan, kegiatan politik dan

terakhir diuraikan tentang karya tulis Said Nursi.

Bab Keempat, bab ini membahas mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak

mencakup ; menguatkan keimanan, berpegang teguh pada al-Qur'an, memahami

hakekat penciptaan manusia, memahami alam semesta, memahami asma' al-husna,

mengetahui tanda-tanda hari kiamat, meyakini hari kiamat, meneladani Nabi

Muhammad Saw., dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Bagian selanjutnya

difokuskan bahasan pada prinsip-prinsip pendidikan akhlak dengan pembinaan

generasi muda yang mencakup ; relevansi dengan akidah, pandangan hidup, tujuan

hidup, ibadah, tingkah laku, situasi kejiwaan, lingkungan, dan tahapan perkembangan

kepribadian generasi muda.

Bab Kelima, membahas penutupan berisikan kesimpulan, saran-saran, implikasi

dan rekomendasi.

Bab 2TINJAUAN TEORITIS

PENDIDIKAN AKHLAK DAN GENERASI MUDA

31

Page 32: Tesis bagus

Kajian ini dibagi menjadi 2 (dua) fokus yaitu mengenai pendidikan akhlak dan pembinaan

generasi muda yang memiliki cakupan yang luas, jika ditinjau dari berbagai perspektif

kajian. Namun pada kajian tentang pendidikan akhlak mencakup ; pengertian dan tujuan,

ruang lingkup, dan signifikansinya. Sedangkan kajian pembinaan generasi muda

mencakup ; pengertian dan batasan, karakteristik, dinamika kehidupan, dan kedudukan

akhlak dalam kehidupan generasi muda.

Pengertian dan Tujuan Pendidikan Akhlak

Pengertian Pendidikan Akhlak

Dalam bahasa Arab istilah pendidikan digunakan untuk berbagai

pengertian, antara lain tarbiyah, tahzib, ta’lim, ta'dib, siyasat,

mawa’izh, 'ada ta'awwud dan tadrib. Sedangkan untuk istilah tarbiyah,

tahzib dan ta'dib sering diartikan pendidikan. Ta'lim diartikan pengajaran, siyasat

diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa'izh diartikan pengajaran

atau peringan. 'Ada ta'awwud diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan pelatihan.

Di antara mereka yang menjadikan istilah-istilah di atas

untuk tujuan pendidikan yakni Ibn Miskawaih dalam bukunya

berjudul tahzibul akhlak, Ibn Sina memberi judul salah satu bukunya

kitab al siyasat, Ibn al-Jazzar al-Qairawani membuat judul salah satu

bukunya berjudul siyasat al-shibyan wa tadribuhum, dan Burhan al-

Islam al-Zarnuji memberikan judul salah satu karyanya Ta'lim al-

Mula'allim tharik at-ta'alum. Walau terjadi berbagai perbedaan, namun

32

Page 33: Tesis bagus

para ahli tidak mempersoalkan penggunaan istilah di atas. Karena, pada

dasarnya semua pandangan yang berbeda itu bertemu dalam suatu kesimpulan awal,

bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk

menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih baik.

Memang secara fakta bahwa istilah “pendidikan” telah menempati banyak

tempat dan didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai pakar, yang banyak

dipengaruhi pandangan dunia masing-masing. Para pakar sependapat bahwa Pendidikan

lebih daripada sekedar pengajaran. Kalau pengajaran dapat dikatakan

sebagai "suatu proses transfer ilmu belaka", namun pendidikan

merupakan "transformasi nilai dan pembentukan kepribadian

dengan segala aspek yang dicakupnya". Dengan demikian,

pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan "tukang-tukang"

atau para spesialis yang terkurung dalam ruang spesialisasinya yang

sempit, karena itu, perhatian dan minatnya lebih bersifat teknis.

Artinya, perbedaan pendidikan dengan pengajaran terletak pada

“penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran clan kepribadian anak didik di

samping transfer ilmu dan keahlian” (Azra 2000, hlm. 3-4).

Mengambil makna dari pandangan Azra di atas, artinya

pendidikan secara umum memuat sebuah usaha dan cara-cara yang

dipersiapkan oleh pelaku pendidikan (Baca ; guru, pendidik) dengan

persiapan yang matang dan penekanan-penekanan menuju ke arah

proses transformasi nilai dan pembentukan kepribadian yang

sesungguhnya tidak mudah dilaksanakan.

33

Page 34: Tesis bagus

Jika kita melihat sejarah, “pendidikan” secara istilah, seperti yang lazim dipahami

sekarang belum dikenal pada zaman Nabi. Tetapi usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh

Nabi dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran,

memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptakan

lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim itu, telah

mencakup arti pendidikan dalam pengertian sekarang. Orang Arab Mekkah yang tadinya

menyembah berhala, musyrik, kafir, kasar dan sombong maka dengan usaha dan kegiatan

Nabi mengislamkan mereka, lalu tingkah laku mereka berubah menjadi menyembah Allah

Tuhan Yang Maha Esa, mukmin, muslim, lemah lembut dan hormat pada orang lain.

Dari kegigihan usaha Rasulullah SAW tersebut, mereka telah berkepribadian

muslim sebagaimana yang dicita-citakan oleh ajaran Islam dengan itu berarti Nabi telah

mendidik, membentuk kepribadian yaitu kepribadian muslim dan sekaligus berarti bahwa

Nabi Muhammad SAW adalah seorang pendidik yang berhasil. Sehingga jelaslah kegigihan

tersebut mencerminkan upaya menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia

(Arifin 1993, hlm. ix), yaitu potensi untuk selalu cenderung kepada kebaikan dan ridha

Allah SWT sebagai jalan yang dapat membahagiakan kehidupan mereka di dunia dan

akhirat.

Al-Attas mendefinisikan pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke

dalam diri manusia. Suatu proses “penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk

menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” mengacu pada metode dan sistem

untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap “sesuatu”

mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri manusia” mengacu pada penerima

proses dan kandungan itu (Al-Attas 1994, hlm. 35).

34

Page 35: Tesis bagus

Istilah yang dikemukakan di atas mengandung tiga unsur dasar yang membentuk

pendidikan, yaitu proses, kandungan, dan penerima. Tetapi semuanya itu belum lagi suatu

definisi, karena unsur-unsur tersebut masih begitu saja dibiarkan tidak jelas. Lagi pula cara

merumuskan kalimat yang dimaksudkan untuk dikembangkan menjadi suatu definisi

sebagaimana di atas, memberikan kesan bahwa yang ditonjolkan adalah prosesnya (Al-

Attas 1994, hlm. 35-36). Jadi dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang

secara bertahap ditanamkan ke dalam manusia.

Sedangkan kata "Akhlak" dalam bahasa Indonesia dapat

diartikan dengan akhlak, moral, etika, watak, budi pekerti, tingkah

laku, perangai dan kesusilaan. Akhlak jamak dari khuluq yang berarti

adat kebiasaan (al-'adat), perangi, tabi'at (at-jiyyat), watak (at-thab),

adab atau sopan santun (al-muru’at), dan agama (al-din). Istilah-istilah

akhlak juga sering disetarakan dengan istilah etika. Sedangkan kata

yang dekat dengan etika adalah moral.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti

atau kelakuan. Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan

tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam

al-Qur’an. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang

tercantum dalam al-Qur’an surat al-Qalam ayat: 4. Ayat tersebut dinilai sebagai

konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul: "Sesungguhnya engkau

[Muhammad] berada di atas budi pekerti yang agung" (QS. Al-Qalam [68]: 4). Kata

akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi SAW, dan salah satunya yang paling

populer adalah : “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR.

Bukhari dan Muslim).

35

Page 36: Tesis bagus

Bertitik tolak dari pengertian bahasa di atas, yakni akhlak sebagai kelakuan, kita

selanjutnya dapat berkata bahwa akhlak atau kelakuan manusia sangat beragam, dan bahwa

firman Allah berikut ini dapat menjadi salah satu argumen keanekaragaman tersebut, dalam

al-Qur'an : “Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti amat beragam” (QS. Al-Lail

[92]: 4). Keanekaragaman tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain nilai

kelakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk, serta dari objeknya, yakni kepada siapa

kelakuan itu ditujukan.

Sedangkan kata etika berasal dari bahasa Yunani Kuno. Kata

Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti, tempat

tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat,

akhlak, watak, perasaan, sikap, dan cara berpikir. Dalam bentuk

jamak (ta etha) artinya adat kebiasaan (Bertens, 2004, him. 4). Kata

yang dekat dengan etika adalah moral. Kata moral berasal dari bahasa

Latin mos dan jamaknya mores yang berarti kebiasaan atau adat. Jadi

menurut Bertens kata "etika" sama dengan etimologi "moral", karena

keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaaan. Hanya

bedanya "etika" dari bahasa Yunani dan "moral" dari bahasa Latin.

Dalam bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia kata etika dan moral

sangat berdekatan dengan istilah akhlak dari bahasa Arab.

Terkait masalah istilah dalam bahasa Indonesia dikenal istilah "etika dan

etiket”. Etika disini berati moral. Etiket berarti sopan santun. Etiket juga berarti secarik

kertas yang ditempelkan pada botol atau kemasan barang. Jika dari asal usulnya, kedua

istilah ini tidak ada hubungannya. Etika dalam bahasa Inggris adalah ethics sedangkan

etika adalah etiquette. Kedua istilah ini memiki persamaan dan perbedaan. Dari segi

36

Page 37: Tesis bagus

persamaan. Pertama, sama-sama menyangkut perilaku manusia. Kedua, sama-sama

mengatur perilaku manusia secara normatif.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata Etika

dijelaskan dengan membedakan tiga arti 1) Ilmu tentang yang baik dan

apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), 2)

Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; 3) Nilai

mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau

masyarakat.

Menurut para ahli masa lalu (al-qudama). Akhlak adalah

kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara

spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Sering pula yang

dimaksud akhlak adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan

jiwa berupa perbuatan baik dan buruk.

Akhlak disebut juga ilmu tingkah laku atau perangai ('ilm al-suluk), atau tahzib al-

akhlaq (falsafat akhlak) atau al hikmah al-amaliyat atau al hikmat al khuluqiyyat. Yang

dimaksud dengan ilmu tersebut adalah pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan dan cara

memperolehnya, agar jiwa bersih dan pengetahuan tentang kehinaan-kehinaan jiwa untuk

mensucikannya.

Sedangkan menurut Imam al-Ghazali berpendapat bahwa “Akhlak adalah suatu

sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang

gampang dilakukan tanpa melalui maksud untuk memikirkan lebih lama” (Mahyuddin

1996, hlm. 4). Sedangkan Asmaran cenderung melihat akhlak merupakan bawahan sejak

lahir yang tertanam di dalam jiwa manusia. Asmaran (1994), mendefinisikan "akhlak itu

adalah sifat-sifat yang dibawah manusia sejak lahir, yang tertanam di dalam jiwanya dan

37

Page 38: Tesis bagus

selalu ada pada dirinya. Sifat itu dapat dilihat dari perbuatannya. Perbuatannya yang baik

disebut akhlak mulia, dan perbuatan yang buruk disebut akhlak yang buruk atau tercela.

Baik atau buruknya suatu akhlak tergantung pda pembinaannya" (Asmaran 1994, hlm.1).

Ditinjau dari segi sifatnya, akhlak terbagi dua macam, yakni akhlak yang baik,

disebut akhlaqul mahmudah; dan akhlak yang tercela, disebut akhlaqul mazmumah

(Barmawie 2001, hlm.22). Kemudian dilihat dari segi sasarannya, akhlak kepada sesama

manusia dan akhlak kepada lingkungan. Akhlaqul mahmudah juga terbagi lagi beberapa

macam, diantaranya adalah:

1. Al-Amanah, artinya jujur2. Al-Afwu, artinya pema’af3. Al-khusu’, artinya menghormati tamu4. Al-Hilmu, artinya tidak melakukan maksiat5. Al-Adli, artinya bersifat adil6. Al-Hifafah, artinya memelihara kesucian7. Al-Hifafah, artinya memelihara kesucian8. Ar-Rahman, artinya bersifat belas kasih9. At-Ta’awun, artinya suka menolong (Barmawie 2001, hlm.23).

Dari pengertian di atas, pada hakikatnya akhlak menurut al-Ghazali harus

mencakup dua syarat, yaitu: Pertama, Perbuatan itu harus konstan yaitu dilakukan

berulang kali (kontinu) dalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan

yang meresap dalam jiwa. Kedua, Perbuatan yang konstan itu harus tumbuh dengan

mudah sebagai wujud refleksi dari jiwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran yaitu bukan

karena adanya tekanan-tekanan atau paksaan dan pengaruh dari orang lain.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa akhlak merupakan suatu

cerminan atau tolak ukur terhadap setiap sikap, tindakan, cara berbicara atau pola tingkah

laku seseorang itu baik atau buruk, baik yang berhubungan dengan diri sendiri, terhadap

sesama manusia, akhlak terhadap Allah Swt, maupun terhadap lingkungan sekitarnya. Jadi

38

Page 39: Tesis bagus

akhlak merupakan fondasi atau dasar yang utama dalam pembentukan pribadi manusia

yang seutuhnya, agar setiap umat Islam mempunyai budi pekerti yang baik (berakhlak

mulia), bertingkah laku dan berperangai yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

Berdasarkan penjelasan di atas dalam penelitian ini arti kata

akhlak bisa disamakan dengan kata etika, moral dan etiket. Namun

hanya kata akhlak dan etika yang mempunyai maksud sama ketika

menyangkut perilaku lahir dan batin manusia. Karena, itu dalam

penelitian ini, akhlak yang dimaksud adalah "pengetahuan menyangkut

perilaku lahir dan batin manusia".

Penjelasan di atas menggiring pemahaman bahwa istilah

pendidikan akhlak dimaksud dalam penelitian ini adalah "suatu

kegiatan pendidikan yang disengaja untuk perilaku lahir dan batin

manusia menuju arah tertentu yang dikehendaki".

Tujuan Pendidikan Akhlak

Berbicara masalah tujuan pendidikan akhlak sama dengan berbicara tentang pembentukan

akhlak, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan

pendidikan adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengatakan

bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam (al-

Abrasyi 1974, hlm. 15). Demikian pula Ahmad D Marimba berpendapat bahwa tujuan

utama pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap Muslim, yaitu untuk

menjadi hamba Allah yakni hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan

memeluk Islam (Marimba 1980, hlm.48-49).

39

Page 40: Tesis bagus

Akan tetapi, sebelum kita lanjutkan tentang tujuan pendidikan akhlak ada masalah

yang perlu kita jawab terlebih dahulu dengan seksama, yaitu apakah akhlak itu dapat

dibentuk atau tidak?. Menurut sebagian ahli mengatakan bahwa akhlak itu tidak perlu

dibentuk karena akhlak adalah instinct (Gharizah) yang dibawa manusia sejak lahir

(Mansyur 1961, hlm. 91). Bagi golongan ini bahwa masalah akhlak adalah pembawaan dari

manusia sendiri, dan dapat juga berupa kata hati atau intuisi yang selalu cenderung kepada

kebenaran. Dengan pandangan seperti ini, maka akhlak akan tumbuh dengan sendirinya,

walaupun tanpa dibentuk atau diusahakan. Kelompok ini lebih lanjut menduga bahwa

akhlak adalah gambaran bathin sebagaimana terpantul dalam perbuatan lahir. Perbuatan

lahir ini tidak akan sanggup mengubah perbuatan bathin. Orang yang bakatnya pendek

tidak dapat dengan sendirinya meninggikan dirinya, demikian pula sebaliknya (Al Ghazali

t.t., hlm. 54).

Selanjutnya ada pula pendapat yang mengatakan bahwa akhlak adalah hasil dari

pendidikan, latihan, pembinaan, dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh (Al Ghazali

t.t., hlm. 90). Kelompok yang mendukung pendapat yang kedua ini umumnya datang dari

ulama-ulama Islam yang cenderung kepada akhlak. Ibnu Maskawaih, Ibnu Sina, al-Ghazali

dan lain-lain termasuk pada kelompok yang mengatakan bahwa akhlak adalah hasil usaha

(muktasabah).

Imam al-Ghazali misalnya mengatakan bahwa: “Seandainya akhlak itu tidak dapat

menerima perubahan, maka batallah fungsi wasiat, nasihat dan pendidikan. Dan tidak ada

pula fungsinya hadits nabi yang mengatakan “perbaikilah akhlak kamu sekalian” (Al

Ghazali t.t., hlm. 54). Pada kenyataannya di lapangan usaha-usaha pembinaan akhlak

melalui berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam metode terus

dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang peril dibina dan pembinaan ini

40

Page 41: Tesis bagus

ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia,

taat kepada Allah dan Rasul-NYa, hormat kepada ibu bapak, saying kepada makhluk Tuhan

dan seterusnya.

Akan tetapi keadaan sebaliknya juga menyatakan bahwa anak-anak yang tidak

dibina akhlaknya atau dibiarkan tanpa bimbingan, arahan, dan pendidikan, terntaya menjadi

anak-anak yang nakal, mengganggu masyarakat, melakukan berbagai perbuatan tercela, dan

seterusnya. Ini semua menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina agar akhlak

generasi penerus kedepan menjadi lebih baik dan terhindar dari perbuatan yang tidak

diinginkan.

Keadaan pembinaan ini semakin terasa diperlukan terutama pada saat dimana

semakin banyak tantangan dan godaan sebagai sebagai dampak dari kemajuan teknologi.

Saat ini misalnya orang akan dengan mudah berkomunikasi dengan apapun yang ada di

dunia ini, baik itu berupa yang baik atau pun yang buruk, karena adanya alat

telekomunikasi. Peristiwa yang baik atau yang buruk dengan mudah dapat dilihat melalui

pesawat televis, internet, faximile, dan seterusnya. Film, buku-buku, tempat-tempat hiburan

yang menyuguhkan adegan maksiat jujga banyak. Demikian pula dengan obat-obat

terlarang, minuman keras, dan pola hidup materialistic dan hedonistik semakin menggejola.

Semua itu jelas membutuhkan pembinaan akhlak (Nata 2002).

Jadi untuk membina agar anak mempunyai sifat-sifat terpuji, tidaklah mungkin

dengan penjelasan pengertian saja, akan tetapi memerlukan membiasakannya melakukan

perbuatan yang baik, dan diharakan nantinya dia mempunyai sifat-sifat tersebut dan

menjauhi sifat-sifat tercela. Kebiasaan latihan itulah yang membuat ia cenderung kepada

melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk.

41

Page 42: Tesis bagus

Pembinaan moral, pembentukan sikap dan pribadi pada umumnya terjadi melalui

pengalaman sejak kecil. Pendidik atau Pembina pertama adalah orang tua, kemudian guru.

Semua pengalaman yang dilalui anak sewaktu kecilnya, akan merupakan unsur

pentingdalam pribadinya. Sikap anak terhadap agamanya dibentuk pertama kali oleh orang

tuanya, kemudian disempurnakan atau diperbaiki oleh guru di sekolah.

Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti sembahyang, doa,

membaca al-quran, sembahyang berjamaah di sekolah, masjid atau langgar, harus

dibiasakan sejak kecil, sehingga akan tumbuh rasa senang melakukanibadah tersebut.

Latihan keagamaan, yang menyangkut akhlak dan ibadah sosial atau hubungan dengan

sesama manusia sesuai dengan ajaran agama jauh lebih penting daripada hanya sekedar

kata-kata.

Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak pada

khususnya dan pendidikan pada umumnya, ada 3 (tiga) aliran yang sangat popular, yaitu

aliran nativisme, aliran empirisme, dan aliran konvergensi (Abudin Nata, 2002). Menurut

aliran nativisme bahwa factor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri

seseorang adalah factor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa

kecenderungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut akan menjadi

baik.

Aliran nativisme ini nampaknya begitu yakin terhadap potensi batin yang ada dalam

diri manusia dan aliran ini erat kaitannya dengan aliran intuisme dalam penentuan baik dan

buruk sebagaimana telah diuraikan di atas. Aliran ini tampak kurang menghargai atau

kurang memperhitungkan peran pembinaan dan pendidikan.

Selanjutnya menurut aliran empirisme bahwa factor yang paling berpengaruh

terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor dari luar, yaitu lingkungan social

42

Page 43: Tesis bagus

termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan. Jika pembinaan dan pendidikan yang

diberikan kepada anak itu baik, maka baiklah anak itu. Demikian juga sebaliknya. Aliran

ini tampak lebih percaya kepada peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan

pengajaran.

Sementara aliran konvergensi berpendapat bahwa pembentukan akhlak dipengaruhi

oleh faktor internal, yaitu factor pembawaan anak dan factor dari luar yaitu pendidikan dan

pembinaan yang dibuat secara khusus, atau melalui berbagai metode (Arifin 1991, hlm. 13).

Aliran ketiga ini sesuai dengan ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah dalam al-

quran yang berbunyi: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan

tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan

hati agar kamu bersyukur”. Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa manusia memiliki

potensi untuk dididik, yaitu penglihatan, pendengaran, dan hati sanubari. Potensi tersebut

harus disyukuri dengan cara mengisinya dengan ajaran dan pendidikan. Hal ini juga sesuai

dengan yang dilakukan oleh Luqmanul Hakim terhadap anak-anaknya, sebagaimana

tersebut dalam firman Allah yang berbunyi:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anak-anaknya di waktu ia memberika pelajaran kepadanya. `hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya: ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaKU dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-KUlah kembalimu (QS : Luqman :13-14).

Ayat tersebut selain menggambarkan tentang pelaksanaan pendidikan yang

dilakukan Lukman Hakim, juga berisi materi pelajaran yang utama diantaranya adalah

pendidikan tauhid atau keimanan, karena keimananlah yang menjadi salah satu dasar yang

kokoh bagi pembentukan akhlak.

43

Page 44: Tesis bagus

Kesesuaian teori konvergensi di atas, juga sejalan dengan hadits Nabi yang

berbunyi: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan membawa fitrah (rasa ketuhanan dan

kecenderungan kepada kebenaran), maka kedua orang tuanyalah yang membentuk anak itu

menjadi yahudi, nasrani atau majusi” (HR. Bukhari)

Dari ayat dan hadits tersebut di atas jelas sekali bahwa pelaksanaan utama dalam

pendidikan adalah kedua orang tua. Itulah sebabnya orang tua terutaman ibu mendapat

gelar sebagai madrasah, yakni tempat berlangsung kegiatan pendidikan.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa faktor yang paling

dominan terhadap pembentukan akhlak anak didik adalah faktor internal dan faktor

eksternal. Faktor internal yaitu potensi fisik, intelektual dan hati (rohaniah) yang dibawa

anak dari sejak lahir, sementara faktor eksternal yang dalam hal ini adalah dipengaruhi

kedua orang tua, guru di sekolah, tokoh-tokoh masyarakat. Melalui kerja sama yang baik

antara 3 lembaga pendidikan tersebut, maka aspek kognitif (pengetahuan), apektif

(penghayatan), dan psikomotorik (pengalaman) ajaran yang diajarkan akan terbentuk pada

diri anak.

Dari berbagai penjelasan di atas, pada dasarnya tujuan pendidikan akhlak sejalan

dengan tujuan pendidikan seperti yang disinggung dalam al-Qur’an yaitu membina manusia

baik secara pribadi kelompok agar mampu menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah

maupun sebagai hamba Allah. Tugas khalifah sendiri harus memenuhi empat sisi yang

saling berkaitan yaitu pemberi tugas (Allah), penerima tugas (manusia), tempat atau

lingkungan di mana manusia berada, dan materi-materi penugasan yang harus mereka

laksanakan. Dan keempat hal ini saling berkaitan, itulah sebabnya sering terjadi perbedaan

dan tujuan pendidikan antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya, karena mereka

44

Page 45: Tesis bagus

harus memperhatikan faktor lingkungan di mana manusia itu berada (Mahmudah, tt., hlm.

56).

Berdasarkan penjelasan di atas, wajar kiranya Omar Muhammad al-Toumy al-

Syaibany menyatakan bahwa dasar pendidikan Islam identik dengan dasar tujuan Islam.

Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu al-Qur’an dan Hadits, pemikiran yang

serupa juga dianut oleh para pemikir pendidikan Islam, atas dasar pemikiran tersebut maka

para ahli pendidikan dan pemuka pendidikan Muslim mengembangkan pemikiran

mengenai pendidikan Islam dengan merujuk kedua sumber utama ini (Jalaluddin 2001,

hlm. 8).

Secara teoritis pendidikan akhlak pada dasarnya bertitik tolak dari urgensi akhlak

dalam kehidupan. Tokoh yang menganggap pentingnya pendidikan

akhlak adalah Oemar Bakry, menurutnya “ilmu akhlak akan menjadikan

seseorang lebih sadar lagi dalam tindak tanduknya. Mengerti dan

memaklumi dengan sempurna faedah berlaku baik dan bahaya berbuat

salah" (Bakry 1993, hlm. 13-14). Mempelajari akhlak setidaknya dapat

menjadikan orang baik. Kemudian dapat berjuang di jalan Allah

demi agama, bangsa dan negara. Berbudi pekerti yang mulia dan

terhindar dari sifat-sifat tercela dan berbahaya.

Tokoh lain yang menganggap pentingnya pendidikan

akhlak adalah Syed Muhammad Nauquib al-Attas dengan

menggunakan kata adab atau ta'dib. Al-Attas mengatakan bahwa

kebenaran metafisis sentralitas Tuhan sebagai Realitas Tertinggi

sepenuhnya selaras dengan tujuan dan makna adab dan pendidikan

sebagai ta'dib. Al-Attas menganggap bahwa proses pendidikan

45

Page 46: Tesis bagus

sebagai penanaman adab ke dalam diri, sebuah proses yang tidak

dapat diperoleh melalui suatu metode khusus. (Lihat Wan Daud

2003, hlm. 77-79). Penjelasan al-Attas ini menggambarkan bahwa

potensi akhlak berada pada Realitas Tertinggi yang merupakan titik

sentral dalam kehidupan manusia.

Berdasarkan kepentingan akhlak dalam kehidupan manusia

itulah, maka mengatakan Ibn Miskawaih bahwa tujuan pendidikan

akhlak adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong

secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan atau bernilai

baik (Badawi 1963, hlm. 478). , sehingga mencapai kesempurnaan

dan memperoleh sa'adat (kebahagiaan sejati/kebahagiaan yang

sempurna). Pendapatan ini beralasan bahwa kebaikan itu

merupakan tujuan setiap orang, factor anugerah Allah yang dapat

mencapai kebaikan, disamping adanya kesungguhan berusaha dan

berkelakuan baik (Miskawaih 1982, hlm. 41-45). Seperti yang

disimpulkan oleh Suwito bahwa tujuan pendidikan akhlak menurut

pemikiran Ibn Miskawaih adalah terciptanya manusia berperilaku

ketuhanan. Perilaku seperti ini muncul dari akal ketuhanan yang

ada dalam diri manusia secara spontan (Suwito 1992, hlm. 157).

Rumusan tujuan pendidikan akhlak seperti ini hakekatnya dapat dilakukan melalui

membangun motivasi pribadi dan orang lain untuk mencontoh akhlak Nabi. Artinya,

bahwa berbagai aktivitas kehidupannya selalu melakukan sesuatu dengan mengikuti

akhlak nabi, baik dalam rangka pembentukan sebagai seorang pribadi maupun terhadap

orang lain. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah

46

Page 47: Tesis bagus

terciptanya manusia yang beriman perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi)

berdasarkan pemahaman Bediuzzaman Said Nursi".

Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak

Pembicaraan tentang pendidikan akhlak harus diakui banyak sekali persoalan yang

akan muncul ketika masalah ini diangkat dan dikaji. Karena memang banyak hal

yang dapat mempengaruhi proses pendidikan akhlak. Diantaranya adalah menyangkut

jumlah dan nama sumber karya tulis mengenai pendidikan akhlak.

Prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi akan sangat berbeda

jika ditinjau dari sudut pandang situasi sosial pada saat Risale-i Nur

ditulis. Juga akan sangat berbeda kalau konsep itu berdasarkan

kontekstualisasi pemahaman nilai-nilai keimanan atau ketauhidan

yang menjadi filosofi dalam membentuk karekteristik insan manusia

secara intergratif, universal dan kekinian.

Kemudian perbedaan juga akan muncul bila pendidikan akhlak

ditinjau dari segi pelaksanaannya, seperti efektifitas pendidikan akhlak

yang dilakukan dengan pendekatan monolitik (diajarkan sebagai suatu

bidang studi tersendiri) dengan pendekatan integratif (terintegrasi

dengan bidang studi) pada lembaga pendidikan. Jika pendekatan

integratif, maka masih ada pertanyaan yakni bidang studi

manakah yang sesuai dengan pengintegrasian?. Di samping itu,

yang dapat berpengaruh pada konsep pendidikan akhlak adalah cara

mengevaluasi pendidikan akhlak, dari kurikulumnya, alat dan atau

media yang digunakan. Faktor lain seperti lingkungan, jenis

47

Page 48: Tesis bagus

kelamin, tingkat kecerdasan anak didik, teologi pendidik, dan

sebagainya, dapat pula berpengaruh terhadap hasil penelusuran

konsep seseorang mengenai pendidikan akhlak.

Beberapa identifikasi di atas merupakan berbagai persoalan

yang akan muncul dalam dinamika pemikiran mengenai prinsip-

prinsip pendidikan akhlak. Dalam penelitian ini selain tujuan teknis yang

diarahkan menjawab persoalan pokok maka dirumuskan tujuan pendidikan akhlak menurut

pandangan Said Nursi yang dapat dipahami dari Risale-i Nur bahwa tujuan pendidikan

akhlak diarahkan terciptanya manusia yang beriman perilaku lahir dan batin yang

seimbang (seperti Nabi) berdasarkan pemahaman Bediuzzaman Said Nursi.

Maka dapat dipahami bahwa pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik yang

harus menjadi mata pelajaran atau lembaga, melainkan terintegrasi ke dalam berbagai mata

pelajaran atau lembaga. Akhlak dalam dasar-dasar pendidikan selalu berawal dari

upaya prinsip menguatkan iman dan mengkokohkan akidah secara integratif yang

pembahasannya akan mempengaruhi terbentuknya doktin-doktrin akhlak secara

aplikatif.

Selain itu, menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu

keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa

berpikir atau pertimbangan secara mendalam. Keadaan seperti ini

dapat disebut sebagai karekter. Menurutnya keadaan ini ada dua jenis.

Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui

kebiasaan dan latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini

cendikiawan klasik sering berbeda pendapat. Sebagian berpendapat

bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional).

48

Page 49: Tesis bagus

Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa

berpikir (rasional).

Berdasarkan kedua jenis karakter dan kedua pendapat di

atas Ibn Miskawaih menegaskan bahwa akhlak yang alamiah dan

sudah menjadi watak dapat berubah cepat atau lambat melalui

disiplin serta nasehat-nasehat mulia. Karena menurutnya pendapat

pertama menyebabkan tidak berlakunya fakultas nalar, tertolaknya

segala bentuk norma dan bimbingan, kecenderungan orang kepada

kekejaman dan kelalaian serta banyak remaja dan anak-anak

berkembang liar tanpa nasehat dan pendidikan. Ini tentu saja sangat

negatif (Ibn Miskawaih 1997, hlm. 56-57). Berdasarkan inilah Ibn

Miskawaih menganggap perlu adanya pembinaan jiwa secara intentif dengan daya-

daya akal. Pembinaan inilah yang dapat dikatakan sebagai (tahzih al-Akhlaq) pendidikan

akhlak.

Menurut Suwito yang mengutip pendapat M. Amin

Abdullah bahwa kalau dibandingkan dengan mahzab pemikiran di

bidang pendidikan akhlak maka secara umum pendidikan akhlak

dapat dibagi dua, pendidikan akhlak mistik dan pendidikan akhlak

rasional. Pembedaan pendidikan akhlak kepada mistik dan

rasional bukannya tidak memiliki konsekuensi. Sebagaimana

dalam teologi rasional, akhlak rasional dapat membawa

konsekuensi bagi pertumbuhan kreatifitas dan inisiatif, sedangkan

akhlak mistik kurung mendorong manusia untuk dinamis (Suwito 1995,

hlm.10).

49

Page 50: Tesis bagus

Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak

rasional yang memberi lebih kuat kepada pendidikan daya pikir

(rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak mistik memberikan

porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa pada diri manusia.

Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan.

Konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan

kuat bagi terciptanya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang

diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan

dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, pendidikan akhlak tidak masuk dalam kategori

institusi sebagaimana di atas, karena hakekat pendidikan akhlak

adalah inti semua jenis pendidikan. Jadi pada dasarnya ruang

lingkup Pendidikan akhlak yang dimaksud pada penelitian ini

yaitu ; mengarah pada terciptanya perilaku lahir dan batin

manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang dalam arti

terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya.

Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan

monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata

pelajaran atau lembaga melainkan terintegrasi ke dalam berbagai

mata pelajaran atau lembaga.

Signifikansi Pendidikan Akhlak

50

Page 51: Tesis bagus

Adapun di antara alasan pentingnya pemikiran Said Nursi di bidang

pendidikan akhlak dapat diungkapkan beberapa pertimbangan sebagai

berikut :

Pertama, Risale-i Nur karya Said Nursi merupakan tafsir a]-

Qur'an yang secara konsisten membicarakan penguatan iman dan

al-Qur'an dengan jalan ikhlas, takwa dan sedekah. Karya ini juga

membahas secara mendalam mengenai akhlak Rasulullah dalam

berbagai tulisannya Risale-i Nur yang berorientasi kepada

perubahan pola pikir dan laku untuk memahami dan mengimani

secara mendalam tanda-tanda hari kiamat dan keberadaan hari kiamat.

Kedua, masalah etika secara khusus dibahas pads Simpusium

Internasional di Turki yang ke-6 tahun 2002 yang dikoordinir oleh

The Istanbul Foundation for Sciance and Culture. Di samping itu

dalam sepanjang pelaksanaan Simposium dan diskusi panel oleh The

Istanbul Foundation for Sciance and Culture ini selalu menyertakan

tema etika. Satu buku kumpulan Simposium Internasional yang ke-6

mendorong perlunya membahas mengenai akhlak dan juga tulisan

Faris Kaya yang mengungkapkan mengenai etika dalam Risalei-Nur. Etika

yang dimaksud oleh Faris Kaya mengungkapkan bahwa akhlak dalam sejarah dunia

memang sangat penting. (Faris, 2004, him. 8-10).

Ketiga, diasumsikan bahwa pemikiran akhlak Said Nursi

memberikan peranan signifikan dalam aktivitas kehidupannya.

Pemikiran semacam ini merupakan hasil refleksi dan pemahaman

terhadap suatu teologi yang mendalam mengenai Asma Allah dan sifat-

51

Page 52: Tesis bagus

sifat-Nya yang membentuk kerangka pikir dan sikap perilaku. Diyakini

bahwa Said Nursi adalah sosok pemikir sekaligus sufi yang

memadukan konteks teologi dan realitas kehidupan. Paham ini

diilhami kemutlakan Tuhan dalam diri manusia dengan catatan

bahwa akal memiliki peran penting dalam refleksi untuk

menyempurnakan keyakinan dari refleksi hati. Artinya paham yang

dianut Said Nursi berdekatan dengan upaya ma'rifatullah dalam

perspektif yang luas. Sementara itu dapat diasumsikan bahwa

teologi Said Nursi adalah rasional-spritual. Maka, dalam konteks

pendidikan akhlak selalu memadukan akal dan hati untuk melakukan

pendekatan ajaran Islam secara universal.

Keempat, perkembangan ilmu dan teknologi. Yang tidak dapat

dilepaskan dari perkembangan zaman saat ini adalah perkembangan

ilmu, teknologi, komunikasi dan informasi. Kebutuhan-kebutuhan

ini yang menyebabkan dunia semakin global. Selain berdampak

positif juga berdampak negatif. Di antara dampak negatif globalisasi

ini antara lain adalah semakin banyaknya alternatif bagi ukuran

akhlak manusia yang cenderung bermuatan materialistik dan

intelektualistik semata. Akibatnya, hal-hal yang bersifat

spritualistik cenderung diabaikan. Dengan demikian, kemampuan

memilih berbagai alternatif secara kritis melalui pemahaman, teologi

rasional dan spritual semakin dinilai penting dan mendesak.

Kelima, tanda-tanda akhir zaman, pentingnya pengkajian ini juga disebabkan

titik nadir masyarakat global berdasarkan paham keagamaan menunjukkan tanda-tanda

52

Page 53: Tesis bagus

akhir zaman. Dalam konteks itulah sebagai makhluk beragama harus mewaspadai

itu dan berupaya mengantisipasi dan merubah pola pandangan hidup. Karena persoalan

"krisis moral" merupakan entry point dari munculnya pembaharu (mujadid) untuk

menyelamatkan umat dari "melupakan" Tuhan.

Pendidikan Akhlak Generasi Muda

Pengertian Generasi Muda

Generasi muda secara etimologi berasal dari dua kata, yaitu generasi yang berarti angkatan

atau turunan (Dep P dan K 1999, hlm.309); dan muda yang berarti belum lama ada (Dep P

dan K 1999, hlm.667). Generasi muda berarti angkatan atau turunan yang belum lama

hidup. Dalam pengertian pertama ini nampaknya belum begitu jelas apa esensi generasi

muda yang dimaksud dalam pembahasan ini.

Kata generasi muda tidak cukup diartikan berdasarkan ilmu kebahasaan

(etimologi) saja, tetapi perlu dilihat arti secara terminologi (istilah). Menurut Suraiya,

generasi muda adalah bagian suatu generasi yang sedang menjalani giliran mengelola

kehidupan masyaranat dan kenegaraan (Suraiya 1985, hlm. 2). Suryono Sukanto

mengartikan generasi muda adalah sekelompok orang muda yang lahir dalam jangka waktu

tertentu (Suryono 1993, hlm. 201). Selanjutnya Hartini dan Kartasapoetra menamakan

generasi muda sebagai angkatan kaum muda (Hartini dan Kartasapoetra 1992, hlm. 166).

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat

disimpulkan, bahwa generasi muda adalah kelompok, golongan, angkatan, kaum muda

yang hidup dalam jangka waktu tertentu, di mana mereka memiliki tugas untuk

melanjutkan pembangunan bangsanya sebagaimana tugas-tugas para angkatan yang hidup

53

Page 54: Tesis bagus

sebelum mereka. Dapat dipahami pula bahwa generasi muda sesungguhnya menjadi

tumpuhan harapan masyarakat dalam merealisasikan idiologi dan tujuan pembangunan,

baik material, maupun spiritual.

Batasan Generasi Muda

Walaupun beberapa pakar sering berselisih pendapat mengenai perbedaan tentang batasan

usia generasi muda, namun hal itu tidak perlu dijadikan hambatan kita untuk memahami

aspek usia generasi muda, apalagi jika usia itu relatif dan tidak menjadi ukuran baku bagi

generasi muda; produktif atau tidak. Di masyarakat sering kita lihat orang muda yang

berusia antara 15-30 tahun yang seharusnya giat bekerja tetapi hidup bermalas-malasan,

tetapi orang tua yang umurnya di atas 50 tahun masih aktif bekerja. Ini berarti umur tidak

menjadi jaminan mutlak bagi suatu generasi, giat bekerja atau tidak.

Di antara sekian banyak pakar, di sini hanya dikemukakan tiga pendapat mengenai

batasan usia generasi muda, yaitu:

1. Menurut Suraiya, usia generasi muda ialah berkisar dar dari 0–30 tahun (Suraiya

1985, hlm. 5). Generasi muda identik dengan kaum muda.

2. Menurut Ruslan Abdul Gani, usia generasi muda (kaum muda) berkisar antara 15-

25 tahun (Ghufron 1986, hlm. 13).

3. Menurut Sujanto generasi muda, dapat dibatasi usia antara 23,0-45,0 (pria) dan

17,0-40,0 (wanita) (Sujanto 1996, hlm. 160).

Dari ketiga pengertian di atas nampaknya memiliki perbedaan, yaitu: Pengertian

pertama nampaknya memasukkan golongan anak-anak sebagai generasi muda. Hal ini jika

didasarkan kepada potensi kemanusiaannya tentu beralasan, tetapi pada realitanya anak-

anak belum sepenuhnya dapat bertanggung jawab terhadap kemajuan pembangunan. Hanya

54

Page 55: Tesis bagus

orang yang lebih tua dari mereka yang mampu mengemban tugas tersebut. Pengertian

kedua nampaknya membatasi usia generasi muda rendah (hanya sampai usia 25 tahun),

pada hal kenyataannya banyak organisasi pemuda yang dimotori oleh angkatan usia rata-

rata 45 tahun ke atas. Pengertian ketiga menjelaskan bahwa generasi muda sebagian terdiri

dari kelompok orang dewasa yang berumur 17-40 tahun.

Dari tiga pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa usia generasi muda tidak bisa

ditentukan dalam batas yang mutlak. Artinya usia generasi muda relatif dan dapat ditinjau

secara berlainan sesuai dengan sudut pandang kita melihatnya. Jadi, dari tiga pengertian di

atas dapat disimpulkan bahwa usia generasi muda dapat dibatasi antara 15-40 tahun. Dalam

penelitian ini generasi muda dibatasi umur 15-40 tahun, mengingat di usia tersebut

kehidupan generasi muda dalam kondisi stabil.

Karakteristik Generasi Muda

Karakteristik diartikan sebagai ciri-ciri khusus (Dep P dan K 1999, hlm. 445). Ciri atau

indikator berfungsi untuk menjelaskan secara detil tentang makna sesuatu. Sebagaimana

telah kita pahami bahwa generasi muda adalah angkatan kaum muda yang hidup dalam

masa tertentu, artinya generasi muda itu sangat luas cakupan maknanya dan tentu memiliki

karakteristik tertentu yang perlu dijelaskan agar kita bener-benar memahami siapa generasi

muda sesungguhnya.

Untuk menjelaskan generasi muda secara lengkap perlu dilihat dari berbagai aspek,

seperti aspek fisikal, psikis, soaial, intelektual, emosional, dan moralnya. Mengingat

penjelasan tersebut begitu luas, di sini akan dijelaskan karakteristik generasi muda secara

globalnya saja, berdasarkan pendapat fakar, yaitu:

1. Berdasarkan pendapat Andi Mappiare, salah satu ciri dari generasi muda pada masa

awalnya (memasuki usia remaja) adalah meraka sedang mengalami masa pubertas

55

Page 56: Tesis bagus

yaitu perubahan yang cepat secara fisik (organ-organ tubuhnya) dan perubahan

sikap serta sifat ke arah kedewasaan (Sudarsono 1993, hlm. 12-13).

2. Menurut Agus Sujanto, masa pemuda adalah masa ujian, penuh tantangan, dan masa

bergelora yang harus diselami. Pada masa ini pemuda dapat menentukan masa

tuanya dan kedewasaannya untuk banyak berkarya (Sujanto 1996, hlm. 161-162).

3. Menurut Sudarsono, suatu ciri kehidupan generasi muda pada masa awalnya

mengalami ketidakstabilan perasaan dan emosi, terutama dalam bersikap dan

menentukan masa depan mereka. Berikutnya dalam proses menuju kedewasaan

mereka dapat mengatasi masalahnya dengan baik (Sudarsono 1993, hlm. 15).

4. Menurut Kartini Kartono, secara kejiwaan pemuda memiliki ciri-ciri khas, yaitu:

belajar berdiri sendiri dalam suasana kebebasan, berusaha melepaskan ikatan-ikatan

afektif lama dengan orang tua dan objek-objek cintanya, berusaha membangun

hubungan perasaan/afektif yang baru, dan menemukan indentifikasi dengan obyek-

obyek baru yang dianggap lebih bernilai atau lebih berarti daripada obyek yang

lama. Generasi muda yang terdiri dari golongan orang dewasa yang lazimnya ia

telah mencapai umur 21 tahun, dianggap sanggup berdiri sendiri, dan bisa

bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas hidupnya (Kartono 1990,

hlm.33 dan hlm.184).

5. Berdasarkan Halem Lubis, dkk., generasi muda memiliki ciri-ciri yaitu di samping

mengalami keadaan yang tidak menentu di masa remaja, memasuki usia dewasa ia

sudah dapat bertanggung jawab dalam segala tindakan dan perbuatannya (Halem

2001, hlm. 149-150).

Berdasarkan ciri psikologis di atas dapat disimpulkan, bahwa generasi muda

mempunyai karakteristik yang meliputi banyak hal, yaitu pada masa remaja generasi muda

56

Page 57: Tesis bagus

akan mengalami perkembangan fisik dan kejiwaan menuju kedewasaan seperti

perkembangan tubuh, pemikiran, dan emosional. Pada karakter ini generasi muda perlu

berhati-hati dalam menyikapi masa perubahan yang terjadi agar mereka dapat berkembang

secara wajar dan terarah sesuai dengan tujuannya. Di samping itu generasi muda di masa

dewasanya memiliki beban psikologis dan tanggung jawab dalam segala perilaku dan

perbuatan mereka. Generasi muda akan selalu berusaha mandiri dalam mengatasi semua

kebutuhan hidupnya.

Melihat karakteristik generasi muda di atas, secara psikologis beban yang diemban

generasi muda tidak lain untuk memberdayakan potensi diri mereka dan masyarakat,

walaupun usaha itu dalam pelaksanaannya belum berhasil, ciri-ciri yang demikian harus

melekat dalam diri generasi muda, mereka harus mampu mengenal dan memahami hakikat

dan kedudukan generasi muda sebagai wujud dari mengenal diri dan peran-perannya dalam

kehidupan keluarga, bermasyarakat, dan beragama.

Pada karakteristik psikologis ini sesungguhnya genaerasi muda perlu memahami

bahwa kematangan pikiran, pola sikap, dan tindakan semata-mata dikembangkan

kemaslahatan ummat, yaitu suatu tugas yang diparduhkan oleh agama, sebagai pengabdian

diri kepada Allah, dengan iktikad pengabdian yang telah dijelaskan dalam firman-Nya:

“Tidak aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka mengabdi kepadaKu”.

(Alqur’an, 51 : 56).

Dari ayat di atas juga dapat disimpulkan, bahwa generasi muda yang tergolong

kelompok manusia yang beriman diharapkan memiliki ciri mutlak yang ditentukan oleh

Allah, yaitu memiliki naluri sebagai hamba (pengabdi) kepada Allah dan mampu

menjalankan perintah-perintah-Nya dalam kehidupan pribadinya, keluarga, masyarakat,

negara, dan agama.

57

Page 58: Tesis bagus

Dinamika Kehidupan Generasi Muda

Globalisasi saat ini benar-benar menjadi tanpa batas, lintas suku, budaya, bangsa dan

agama. Peradaban global memberikan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Tantangan

itu, tidak hanya timbul dalam kaitannya dengan pengembangan potensi dan aktualisasi diri

sumberdaya manusia, dan bukan pula hanya sebagai pendukung globalisasi, tetapi juga

sebagai pengendali arus globalisasi yang secara gencar mempengaruhi, bahkan terkadang

merusak sendi-sendi kehidupan kita. Namun, globalisasi bukanlah momok dan tak perlu

kita takuti, karena globalisasi merupakan kenyataan dunia kekinian. Tantangan masa depan,

perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, komunikasi dan juga seni telah

memberikan warna baru terhadap pembentukan generasi muda. Kondisi ini memang sangat

memprihatinkan, dan menuntut perhatian bersama, khususnya bagi bangsa Indonesia

berbagai aspek kehidupan.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sisi negatif yang merupakan dampak dari

kemajuan teknologi dan komunikasi, seperti dari media elektronika, informatika, dan media

cetak, telah membuat kehidupan generasi muda menjadi kasus yang sering

dipermasalahkan dan banyak mengundang perhatian, misalnya pemerkosaan, penggunaan

obat-obat terlarang, dan sebagainya. Dari kehadiran kemajuan ilmu dan teknologi itu cukup

banyak membuat generasi muda berhasil untuk meniti jejak karir dan mampu memberikan

yang terbaik untuk masyarakat, bangsa, dan agamanya. Namun kita menyadari karena

banyak sekali produk-produk tersebut berasal dari Barat, maka pengaruh budaya mereka

menjadi lebih dominan dan hampir dapat dikatakan merusak budaya secara Islam.

Harapan kita sesungguhnya generasi muda dapat mengambil yang baik-baik dan

meniggalkan yang buruknya. Namun tidak menutup kemungkinan hal sebaliknya, seperti

58

Page 59: Tesis bagus

lebih banyak generasi muda yang tertarik dengan gaya serta cara yang kurang baik. Maka

itu perlu dibatasi tontonan atau bacaan yang bernada kekejaman atau pun kekerasan,

apalagi tontonan atau bacaan itu disebarkan diseluruh wilayah, tak perduli di kota mau pun

di desa-desa, karenanya hampir seluruh remaja Indonesia banyak yang terpengaruh.

Didalam kehidupan sekarang ini, baik di kota maupun di desa banyak kita jumpai

berbagai permasalahan yang dilakukan oleh generasi muda. Permasalahan ini timbul

dikarenakan kurangnya nilai-nilai agama di kalangan kehidupan generasi muda, sehingga

seringkali meresahkan lingkungan masyarakat sekitarnya. Generasi muda sekarang ini telah

merosot moralnya, sehingga mereka seringkali melakukan perbuatan yang dapat

mengganggu ketenangan masyarakat. Gejala-gejala semacam ini mulai timbul akibat dari

perubahan arus informasi dan arus globalisasi budaya yang datangnya dari luar yang

diserap oleh generasi muda melalui berbagai media massa. Sebaliknya generasi muda ini

belum punya filter untuk menangkal kedua arus tersebut, sehingga budaya-budaya yang

menyesatkan mudah mempengaruhi jalan hidup mereka.

Pengembangan sumber daya manusia merupakan bagian dari ajaran Islam yang

dari semula telah mengarahkan manusia untuk berupaya meningkatkan kualitas hidupnya

yang dimulai dari perkembangan budaya kecerdasan. Ini berarti bahwa titik tolaknya adalah

pendidikan yang akan mempersiapkan manusia menjadi makhluk individual yang

bertanggungjawab dan makhluk sosial yang mempunyai rasa kebersamaan dalam

mewujudkan kehidupan yang damai, tentram, tertib, maju dan kasih sayang lahir dan batin

yang dapat dinikmati bersama secara merata dalam kehidupan ini.

Kedudukan Akhlak dalam Kehidupan Generasi Muda

59

Page 60: Tesis bagus

Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang sangat

penting, baik secara individu maupun sebagai masyarakat dan bangsa. Sebab jatuh

bangunnya, jaya hancurnya, sejahtera-rusaknya suatu bangsa, masyarakat dan negara

tergantung bagaimana keadaan akhlaknya. Dalam kaitan ini pula, kita melihat bahwa

tidak pernah suatu bangsa yang jatuh karena krisis intelektual, tetapi suatu bangsa jatuh

karena krisis akhlak.

Tolak ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah.

Demikian rumus yang diberikan oleh kebanyakan ulama. Perlu ditambahkan, bahwa apa

yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak

mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya

buruk.

Di sisi lain, Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia memiliki segala sifat

yang terpuji. Al-Qur’an yang suci menegaskan bahwa (Dialah) Allah, tiada Tuhan selain

Dia, Dia mempunyai Sifat-sifat yang terpuji (al-Asma’ Al-Husna (Q.S. Thaha (20): 8).

Rasulullah Saw juga memerintahkan umatnya agar berusaha sekuat kemampuan dan

kapasitasnya sebagai makhluk untuk meneladani Allah Swt dalam semua sifat-sifatnya-

Nya. Untuk mencontoh akhlak Rasulullah tersebut, maka al-Qur’anlah yang menjadi

tuntunan kita, mengingat akhlak Rasulullah adalah al-Quran “…Budi pekerti Nabi SAW,

adalah al-Qur’an…”. Dalam konteks ini, maka prinsip asma’ al-husna semaksimal

mungkin dapat ditanamkan dalam diri manusia.

Penjelasan berikut meliputi pembahasan aplikasi akhlak pada manusia, Allah dan

Alam yang memahami prinsip-prinsip akhlak yang mulia dan terpuji harus dimiliki oleh

setiap muslim. Pertama, Akhlak terhadap Allah SWT (Khaliq). Allah adalah pencipta alam

beserta isinya termasuk manusia, yang diciptakan dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan

60

Page 61: Tesis bagus

berbeda dengan makhluk ciptaan lainnya. Allah berfirman dalam surat At-Tiin ayat 4,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

(Q.S. At-Tiin: 4).

Dengan demikian manusia harus wajib atau wajib beriman, dan bertaqwa serta

tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan Allah Swt yang dijadikan landasan prinsip

ma’rifatullah dengan asma’ al-husna. Prinsip ma’rifatullah harus ditanamkan untuk

menghindari pengingkara terhadap Sang Pencipta. Sementara dengan menyakini asma-

asam Allah dengan akal, maka manusia yang menggunakan akalnya selalu berusaha

sesuai dengan kemampuan guna memperoleh ridha Allah dan selalu berserah diri kepada-

Nya karena segala sesuatu merupakan kehendak Allah. Manusia harus selalu bersyukur atas

segala nikmat yang telah diberikan kepada-Nya serta ikhlas menerima segala keputusan,

dengan selalu berdoa mohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuatnya.

Kedua, akhlak dengan sesama manusia, sebagai makhluk sosial, manusia tidak

dapat hidup sendiri pasti membutuhkaan bantuan orang lain, karena itu manusia harus

berbuat baik dan mempunyai akhlak yang tinggi terhadap sesamanya. Menyakini

kehidupan sosial merupakan bagian dari yang fana, maka menuju kekekalan hidup adalah

prinsip akan adanya hari kiamat. Prinsip eskatologi ini merupakan akhlak yang tinggi

terhadap sesamanya. Akhlak itu antara lain adalah akhlak terhadap teman sebaya, akhlak

terhadap tetangga dan akhlak terhadap guru, terhadap orang tua, dan lainnya baik yang

berhubungan dengan sikap, cara berbicara, perdebatan dan pola hidupnya harus

mencerminkan dan berlandaskan prinsip tauhid ma’rifatullah, menyadari sepenuhnya

asma’ al-husna dan prinsip eskatologis.

Ketiga, akhlak terhadap diri sendiri, prinsip ma’rifatullah dengan cara menyucikan

diri dan berupaya mendekatkan diri kepada Allah menggambarkan bahwa dalam diri

61

Page 62: Tesis bagus

pribadi manusia memiliki hak untuk diperlukan dengan baik, dijaga dan dipelihara, harus

dibersihkan dari segala kotoran baik itu jasmani dan ruhani, yaitu dengan berjalan bersuci

atau dengan bertaubat. Salah satu contoh akhlak terhadap diri pribadi adalah dengan

menghindari perbuatan yang dilarang oleh agama seperti minuman alkohol, memakan

makanan yang diharamkan, terlibat narkoba dan perbuatan tercela lainnya.

Oleh karena itulah, prinsip akhlak terhadap diri sendiri sangatlah penting sekali

bagi manusia, karena semua itu demi kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan

akhirat, yaitu dengan jalan menghindari hal-hal yang dapat merusak jasmani dan rohani,

hidup sederhana dan memperbanyak amal saleh. Dalam proses menumbuh kembangkan

potensi dasar yang dimiliki oleh manusia, untuk mencapai kepribadian yang sempurna dan

utuh hanya mungkin dapat dikembangkan melalui pengaruh lingkungan, khususnya

pendidikan baik pendidikan keluarga dan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat

itu sendiri.

Karena pada dasarnya tujuan atau sasaran dalam pembentukan

kepribadian adalah terciptanya akhlak yang mulia. Sehingga dapat dikatakan bahwa

tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Sesuai dengan sabda

Nabi bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang

paling baik akhlaknya (Jalaluddin dan Usman, 1994).

Keempat, akhlak terhadap alam, keyakinan selain akhlak di atas juga akhlak

terhadap alam atau lingkungan. Lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di

sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa,

sebagaimana dalam al-Quran: Apa saja yang kamu tebang dari pohon (kurma) atau kamu

biarkan tumbuh, berdiri di atas pokoknya, maka itu semua adalah atas izin Allah…(QS.

62

Page 63: Tesis bagus

Al-Hasyr [59]: 5). M. Quraish Syihab menafsirkan ayat tersebut, jangankan terhadap

manusia dan binatang, bahkan mencabut atau menebang pepohonan pun terlarang, kecuali

kalau terpaksa, tetapi itu pun harus seizin Allah SWT, dalam arti harus sejalan dengan

tujuan-tujuan penciptaan dan demi kemaslahatan terbesar (Quraish 1998, 259-270).

Dari penjelasan tersebut di atas jelaslah bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak

Said Nursi merupakan salah satu materi sekaligus tujuan pendidikan Islam yang didasarkan

kepada apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, baik secara teoritis berdasarkan al-Qur’an

maupun secara praktis melalui perilaku kehidupannya sehari-hari. Prinsip-prinsip

pendidikan akhlak ini perlu dipahami dan diaplikasikan secara komprehensif (luas) dan

tidak sebatas berakhlak terhadap Khaliq dan manusia saja, tetapi lebih dari itu, sedapat

mungkin kita mampu berakhlak dengan alam semesta ini.

Bab 3

BIOGRAFI SINGKAT BEDIUZZAMAN SAID NURSI

Sebelum mengkaji mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said

Nursi, maka perlu dikaji terlebih dahulu mengenai tokoh yang

diteliti. Maka dari itu, kajian berikut berfokus pada penjelasan

63

Page 64: Tesis bagus

tentang biografi singkat Said Nursi. Kajiannya meliputi masa kecil

dan pendidikan Said Nursi mencakup ; latar belakang keluarga dan

riwayat pendidikan, selanjutan kegiatan keagamaan, kegiatan politik

dan terakhir diuraikan tentang karya tulis Said Nursi.

Masa Kecil dan Pendidikannya

Menurut Sukanto teori kepribadian manusia disusun setidaknya dalam empat teori

yakni berdasarkan pemikiran spekulatif, tipologis, penyifatan dan aksiologi. (Sukanto

1996, hlm. 37-38).1 Berdasarkan keempat teori ini kajian tentang Said Nursi dalam

pembahasan ini berangkat dari teori pemikiran spekulatif dan aksiologi. Untuk

mencapai pemahaman teori ini dapat ditinjau melalui pendapat M. Arifin melalui

empat asas yakni asas menyeluruh, integrasi (kesatuan), perkembangan dan

pendidikan seumur hidup (M. Arifin 2000, hlm. 51-53).2 Menurutnya berdasarkan

1 Penjelasan keempat teori di atas sebagai berikut : Pertama, teori pemikiran spekulatif disusun ahli filsafat berdasarkan data empirik dan eksperimen yang melahirkan manusia yang beragam sesuai dengan alur spekulatif pemikirannya dalam memahami penciptaan manusia. Kedua, teori tipologis disusun para ahli dengan cara menemukan komponen dasar yang bisa dipahami orangnya. Maka manusia digolongkan dalam tipe-tipe tertentu misalnya, tipe emosional, tipe intelektual dan sebagainya. Ketiga, teori penyifatan disusun dengan cara berusaha memahami dan menggambarkan manusia apa adanya, analisis sifat jasmaniah merupakan aspek pokok dan kepribadian. Misalnya orang gemuk itu peramah, orang jangkung itu pemalu, orang hitam itu setia dan sebagainya. Keempat, teori aksiologi disusun untuk mengangkat kualitas kepribadian manusia dalam suatu sistem nilai dan norma berdasarkan konsep ketuhanan yakni melalui agama. Melalui keyakinan kepada tuhan menurut teori ini manusia dalam dunia absurd dan tidak memahami makna hidup (Lihat Sukanto MM, Ketimpangan-ketimpangan Psikologi dalam Membangun Paradigma Psikologi Islami (Fuad NAsliori, Editor), Penerbit SIPRESS, Yogyakarta, 1996, hlm. 38-39).

2 Penjelasan mengenai keempat asas tersebut sebagai berikut : Pertama, asas menyeluruh yaitu asas yang menempatkan semua jenis manusia ciptaan Allah tersusun dari bagian-bagian bermakna dalam

64

Page 65: Tesis bagus

keempat asas tersebut proses kepribadian manusia dapat terbentuk. Pembentukan

kepribadian sebagai individu menurut Abdullah Nasih Ulwan merupakan tanggung jawab

yang paling menonjol dalam Islam. (Nasih Ulwan 1995, h1m. xxxiii).

Menurut Abdullah Nashih Ulwan manusia sebagai individu berhak

memperoleh pengarahan, pengajaran dan pendidikan baik melalui bapak, ibu,

pendidik, pengajar maupun pekerja sosial. Artinya, proses kepribadian manusia

sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan sejarah hidup seseorang. Proses tersebut

dilalui manusia melalui keluarga, sekolah dan lingkungan (Nasih Ulwan, 1995, hlm.

xxxiii). Berdasarkan pendapat ini dapat dipahami bahwa pengetahuan mengenai tokoh

yang diteliti ini, setidaknya perlu ditinjau dan ketiga aspek tersebut terutama untuk

menjelaskan latar belakang keluarga dan pendidikannya.

Latar Belakang Keluarga

Nama Said Nursi sebenarnya adalah Said, karena ia anak Mirza, maka nama

sebenarnya dapat juga kita sebut sebagai Said bin Mirza. (Zaidin 2001, hlm. 7).

Sedangkan nama Said Nursi, Bediuzzaman Said Nursi, Molla Said (Mulla Said),

suatu keseluruhan. Kedua, asas integrasi (kesatuan) yaitu asas yang memandang bahwa segala yang diciptakan Allah dalam kehidupan alam, semua makhluk ciptaan-Nya senantiasa ada dalam suatu sistem integral antara satu bagian dengan bagian lain saling berhubungan yang bersifat menggerakkan dan saling memperkokoh sebagai satu kesatuan hidup yang bermakna. Ketiga, asas perkembangan yaitu asas yang menetapkan pandangan bahwa Allah dalam menciptakan alam dan isinya melalui tahap demi tahap menuju ke arah kesempurnaan, baik alam makro (alam raya) maupun alam mikro (alam manusia). Keempat, asas pendidikan seumur hidup (long life education) yaitu asas yang berdasarkan pandangan Islam dari Nabi Muhammad Saw “Tuntutlah Ilmu sejak mulai di ayunan sampai liang lahat” (M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner), Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 2000, hlm. 51-53).

65

Page 66: Tesis bagus

Said Masyhur dan Said Kurdi adalah gelar yang sempat tersemat selama masa

kehidupannya yang pada dasarnya merujuk kepada tanah kelahiran, kejeniusan dan garis

keturunannya.3 Said Nursi dilahirkan menjelang fajar musim semi pada tahun 1294 H /

1877 M4 di desa kecil Nurs. Desa Nurs terletak di daerah Khizan di propinsi Bitlis wilayah

Turki Timur.5 Daerah tempat kelahirannya ini terdapat lereng dan lembah gunung

Taurus, daerah danau Van (Vahide 2000, hlm. 3).

3 Said bin Mirza dikenal Said al Said Nursi atau Said Nursi adalah merujuk kepada tempat kelahirannya. Said Nursi diambil dari nama tempat kelahirannya yakni Nurs. Sedangkan untuk gelar Bediuzzaman Said Nursi atau cukup dengan gelar Bediuzzaman diberikan ketika beliau berguru dengan Syeikh Fethullah, hingga beliau mendapatkan ilmu baru yang semakin memantapkan dirinya untuk mengadakan debat, diskusi, dan pengajaran bagi masyarakat bawah di Madrasah Mir Hasan Wali di Muks. Karena kemampuan intelektual yang menakjubkan itu, Said Nursi digelari gurunya Badi’ al-Zaman (keunggulan zaman) atau (keindahan zaman). Kemudian gelar Molla Said atau Mulla Said diberikan pada saat beliau belajar di Madrasah Bayazid dibawah bimbingan Syaikh Muhammad Al Jalah, beliau mempelajari ilmu Al Quran dan Nahwu Sharaf. Belajar dengan disiplin dan sungguh-sungguh sehingga Said Nursi mampu menguasai kitab-kitab utama ketika itu dan mendapat gelar Mulla Said. Sedangkan Said Masyhur diberikan gelar ketika beliau dengan berbagai gelarnya sudah dikenal hampir ke seluruh wilayah Turki, gelar ini diberikan oleh ulama, karena beliau mampu menjawab dalam diskusi ilmiah para ulama yang silih berganti berupaya menyudutkannya dengan berbagai pertanyaan. Terakhir adalah Said Kurdi berasal dari keturuan dan memang beliau adalah keturunan suku Kurdi. (Lihat Omer Faruk Paksu (Ed.), 7. Bediazzaman Senipozyumuna Dogru, Istanbul ilmi ve Kultur Vakfi, Istanbul, 2004, hlm. 5 dan Lihat Zaidin, Ibid, him. 7, hlm. 13-23).

4 Mengenai tahun kelahiran Said Nursi terdapat perbedaan pendapat di kalangan penulis, peneliti, penerjemah dan ilmuwan lain. Penulis yang dipercaya yakni Sukran Vahide menulis 1877 (1294), Mohammad Zaidin bin Mat menulis kelahirannya 1877 (1294) mengikuti Sukran Vahide, sedangkan Ihsan Kasim Salih menulisnya 1876 (1293). Namun berdasarkan sumber yang valid yakni berdasarkan hAsli penelitian Mohammad Zaidin tahun yang disepakati adalah 1294 berdasarkan kalender Rurni yang dipakai secara resmi ketika Turki Usmani. Menurutnya, tahun 1877 (1294) adalah tahun yang banyak dipergunakan oleh para penulis mengenai Said Nursi. (Lihat Zaidin, Ibid, him. 119).

5 Wilayah Timur Turki adalah bagian Turki yang paling mundur, kondisi ini disebabkan keadaan cuacanya yang terlalu sejuk dan bentuk muka buminya yang berbukit-bukit. Namun begitu, bagian ini terkenal dengan keindahan dan ketenangan alamnya. Penduduk di wilayah ini kebanyakan terdiri dari golongan peladang yang sangat menitikberatkan soal pendidikan agama. Bagian Timur Turki terkenal dengan pendidikan bercorak tradisional. (Lihat Zaidin, Ibid, him. 119) dan (Lihat juga Sarwat Saulat, Said Nursi, Internasional Islamic Publisher, Pakistan, 1980, hlm. 3).

66

Page 67: Tesis bagus

Said Nursi dilahirkan dari keluarga petani sederhana dari pasangan

Mirza6 dan Nuriye (Nuriyyah).7 Berdasarkan sumber Sham al-Haq al-Azzim

yang dikutip oleh Mohammad Zaidin bin Mat bahwa kedua orang tuanya dan

nenek moyang Said Nursi berasal dari suku Kurdi dan dari daerah dari Isbartah

(Isparta) (Zaidin 2001, hlm. 7-8) dan mereka memiliki silsilah keturunan Ahl al-

Bayt yakni Nabi Muhammad Saw melalui cucunya Hasan dari Mirza dan Husen dari

Nuriyah.8 (Urkhan 1995, hlm. 8).

Said Nursi merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, yaitu

Durriyyah,9 Khanim,10 Abdullah,11 Said (Said Nursi), Muhammad,12 Abd al Majid13

6 Mirza adalah seorang sufi yang sangat war’ dan diteladani sebagai seorang yang tidak pernah memakan barang haram dan hanya memberi makan anak-anaknya dengan yang halal saja. Mirza berasal dari kawasan Sungai Tigris dan meninggal dunia dalam tahun 1920-an dan dikebumikan di Nurs (lihat Vahide 2000, hlm. 3). Mirza adalah keturunan Hasan Bin Ali Abi Thalib. (Lihat Ali Urkhan Muhammad Ali, Said Nursi al qadr fi hayat ummah, Sharikat al-Nasl li al-Tiba'ah, Istanbul, 1995, hlm. 8)

7 Nuriyyah juga berasal dari keturunan Husain (Lihat Urkhan Muhmmad Ali, Said al-Said Nursi Raj'al al-qadr fi hayal ummah. Sharikat al-Nasl li al-Tiba’ah, Istanbul, 1995, hlm. 8). Nuriyyah adalah seorang wanita yang hanya menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dan berwudhu’ (Lihat Ihsan Kasim 2003, hlm. 8). Nurriyah berasal dari Semenanjung Balkan dan meninggal dunia pada semasa tercetusnya Perang Dunia I, kemudian dikebumikan di Nurs (Lihat Said Nursi, hlm.3).

8 Dijelaskan oleh Urkhan Muhammad Ali bahwa Mirza adalah keturunan Hasan bin Ali dan Nuriyyah keturunan dari Husain bin Ali (Urkhan 1995, hlm. 8) dan (Lihat pula Mohammad Zaidin 2001, hlm. 119). Namun pada dasarnya mengenai silsilah ini tidak didapatkan penjelasan mendetail mengenai silsdah ini, namun menurut keterangan Ihsan Kasim Salih bahwa Said Nursi tidak mau seluruh biografinya diungkapkan walau memang pada dasarnva ia berasal dari Ahl al Bayt (Wawancara penulis dengan Ihsan Kasim Salih di Istanbul Foundationfor Science and Culture, 19 Agustus 2005).

9 Durriyah ialah ibu kepada Ubayd. Beliau meninggal mati lemas dalam sungai Nurs sebelum terjadi Perang Dunia I (Lihat Said Nursi, Ihsan Qasim (Penerjemah), Sirah Zatiyyah, hlm. 36)

10 Khanim adalah seorang wanita alim. Beliau hijrah ke Syam bersama-sama suaminya pada tahun 1919. Di Syam ia menjadi guru selama lima belas tahun. Beliau menunaikan ibadah haji sebanyak 7 (tujuh) kali, Beliau meninggal dunia sewaktu menunaikan ibadah haji pada tahun 1944. (Lihat Al Said Nursi, Al Shu’aat Terjh. Ihsan Kasim al-Salihi, Sharikat al Nasl li al-Tiba’ah, Istanbul, 1993, hlm. 322, Sarwat, hlm. 7).

11 Abdullah meninggal dunia pada tahun 1914. Beliau adalah ayah dari Abdul Rahman, murid dan anak angkat Said Nursi (Lihat Said Nursi, Sirah Zatiyyah, hlm. 34).

12 Meninggal dunia pada tahun 1951 (Said Nursi, Sirah Zatiyyah Ibid. hlm. 36).13 Abdul Majid (1884-1967) adalah yang paling terkenal di antara adik beradik setelah Said Nursi.

Beliau menjadi guru bahasa Arab di sekolah tentara di Diyarbakr. Setelah itu, dilantik menjadi mufti di Urgup

67

Page 68: Tesis bagus

dan Marian14 (Zaidin 2001, hlm. 8). Said Nursi lahir pada masa pemeritahan Sultan

Abdul Hamid II, pada masa akhir dari pemerintahan Daulat Turki Usman. Pada

masa ini musuh secara intensif mencabik-cabik bangsa dan negara Turki untuk

mempercepat kehancurannya, selama tiga puluh tahun Sultan Abdul Hamid II

berkuasa dan memerintah negara Turki dengan segala daya dan upaya yang

dilakukannya untuk memelihara integritas kekuasaan negara yang sangat luas,

namun tidak membuahkan hasil yang maksimal. Karena bahaya asing sudah

mengetahui dan menguasai titik-titik lemah dalam tubuh negara (Ihsan Kasim 1996,

hlm. 3-4).

Said Nursi meninggal tahun 23 Maret 1960. Awalnya sekitar tanggal 18

Maret 1960, Said Nursi sakit yakni demam panas. Setelah beberapa kali tidak

sadarkan diri, Said Nursi kemudian pingsan. Namun setelah sadar, beliau sudah

kelihatan sehat. Setelah menunaikan shalat subuh, beliau memanggil murid-

muridnya sambil menangis, Said Nursi berkata, “Selamat berpisah, aku akan

pergi” (Sukran Vaheda 2000e, hlm. 25). Dalam kondisi sakit beliau yang tidak parah

beliau wafat kira-kira pada pukul 03.00 pagi, 23 Maret 1960, bertepatan dengan tanggal 25

Ramadhan 1379 H.15 Ketika itu, berat bobot tubuhnya hanya 40 kilogram dan beliau hanya

untuk beberapa tahun. Beliau menghabiskan tahun-tahun akhirnya sebagai guru Undang-undang Islam di sekolah Imam Khatib Qunya (konya). Beliau adalah penerjemah karya-karya Said Nursi berjudul al-Mathanawi al-Arabi al Nuri dan Isharat al I’jaz dari bahasa Arab ke bahasa Turki. Lihat Sarwat, Ibid. hlm.7).

14 Marjan adalah anak bungsu dalam keluarga Mirza. (Said Nursi, Sirah zatiyyah, Ibid, hlm. 36).15 Murid Said Nursi yang ikut perjalanan ke Urfah menjelang

meninggalnya Said Nursi adalah Husni Bayram, Bayram Yuksal dan Zubayr Gundulzalp yang membawanya ke Urfah dengan sebuah kereta. Mereka sempat menginap di hotel Ipek Palace dan didesak oleh pemerintah Urfah agar kembali ke Isparta. Untuk memeriksa kesehatan Said Nursi didatangkan seorang dokter yang memberi izin agar Said Nursi tidak boleh dibawa kemana-mana karena suhu badannya meningkat 40°C, sampai keesokan malamnya kira-kira jam 03.00 pagi Said Nursi tidak berucap sepatah kata pun kecuali kelihatan mulutnya yang bergerak-gerak seperti sedang berdo’a. (Said Nursi. Ibid. hlm.

68

Page 69: Tesis bagus

meninggalkan seutas jam tangan, jubah, dan dua puluh lira uang. Berita kematian beliau

disiarkan di dalam halaman harian (koran-majalah) di Istanbul dan Ankara. Beribu-ribu

orang dari berbagai pelosok Turki hadir untuk menziarahi dan mendirikan sholat jenazah

untuknya. Toko-toko dan pasar di Urfah pada hari itu ditutup. Beliau dikebumikan

di perkuburan Ulu Jami’ pada hari kamis, 24 Maret setelah sholat Asliar (Sukran

Vaheda 2005, h1m. 342-343). Akan tetapi, sekitar 12 Juli 1960 kuburan itu

dibongkar oleh pemerintah sekuler (golongan anti Islam) dan jenazah Said Nursi

dipindahkan ke sebuah tempat rahasia di Isparta, sampai saat ini belum diperoleh kejelasan

tempat dikuburkan Said Nursi.16

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Said Nursi dilahirkan dan hidup, di

suasana transisi khalifah di akhir kekhalifahan Turki Usmani. Said Nursi memiliki garis

keturunan seorang ulama terkemuka dari bangsa Kurdi. Berdasarkan keterangan

yang dipaparkan di atas Said Nursi memiliki jalur keturunan sampai ke Imam Ali bin Abi

Thalib dan Nabi Muhammad Saw. Said Nursi dikuburkan di Urfah dan kemudian

jenazahnya tidak diketahui secara jelas tempat penguburannya.

Riwayat Pendidikan

481dan Urkhan, hlm. 287)16 Adik Said Nursi tanggal 12 Juli 1960 dipaksa untuk

menandatangani surat pembongkaran kuburan Said Nursi di Urfah. Kemudian, tentara pemerintah anti Islam memasuki Urfah disaksikan Abdul Madjid kuburan Said Nursi dibongkar dan mayatnya dimasukkan ke keranda dan diterbangkan dengan pesawat terbang ke Isparta. Yang menakjubkan adalah jasad tersebut masih segar, padahal sudah hampir lima bulan mayat itu terkubur. Wajahnya pun kelihatan tersenyum. Sampai saat ini jenazah itu tidak diketahui jelas berada di mana, sebab tidak ada tempat bagi masyarakat Turki untuk menziarahi kuburannya, karena memang tidak pernah dijelaskan. (wawancara Fatih Yazlik, Juli, 2005).

69

Page 70: Tesis bagus

Pendidikan menjadi faktor penting dalam melihat sosok manusia.

Pendidikan dalam konsep ini adalah pendidikan secara menyeluruh,

yakni pendidikan seumur hidup. Dalam hal ini asas perkembangan dan

asas pendidikan seumur hidup yang dikemukan oleh M. Arifin senada

dengan pendapat Lift Anis Ma’shumah yang menyatakan bahwa

pendidikan adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk

mengembangkan potensi diri seseorang yang meliputi tiga aspek

kehidupan, yaitu pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup

(Ma’shumah 2001, hlm. 214). Pendapat ini memiliki makna bahwa

pendidikan adalah serangkaian proses yang membentuk seseorang

secara spritual, emosional dan intelektual yang padu dalam diri.

Pembentukan kepribadian ini tidak pernah terlepas dari peran

keluarga, sekolah dan masyarakat - di era sekarang dikategorikan

sebagai kelembagaan pendidikan sosial - di mana pelembagaan

pendidikan seperti ini terdiri dari pendidikan informal, formal dan

nonformal - pembagian pelembagaan ini bermula peradaban Barat - di

mana maksud dari pelembagaan adalah sebagai suatu upaya

untuk memantapkan landasan nilai pada kegiatan pendidikan

sebagai realisasi tujuan pendidikan maupun keterkaitan ilmu,

sains dan teknologi pada kepentingan dan kebutuhan manusia,

baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dan

keluarga antar bangsa (Faisal 1995, hlm. 19). Berdasarkan

pendapat ini maka, bahasan berikut ini mencakup pendidikan

informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal yang melingkupi

70

Page 71: Tesis bagus

secara menyeluruh dalam satu kesatuan pengalaman hidup Said Nursi.

Melalui proses pendidikan ini diharapkan dapat dipahami sosok Said

Nursi terutama mengenai pandangan hidup, sikap hidup dan

keterampilan hidup yang merupakan sebuah proses integrasi

keilmuan dalam akal, hati dan praktek kehidupannya secara langsung.

1) Pendidikan Informal : Pendidikan Keluarga Pertama dan Utama

Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa

keagamaan (Jalaluddin 2002, hlm. 214). Karenanya, menurut Zakiah Drajat keluarga

sebagai wadah utama pendidikan (Zakiah 1994, hlm. 41). Sebagai pendidikan pertama dan

utama secara kelembagaan dalam pendidikan informal atau pendidikan keluarga orang

tua memegang posisi sangat penting dalam menyampaikan materi atau informasi

pendidikan untuk diterima oleh anak. Materi pendidikan agama menjadi basis semua

kegiatan pendidikan yang ingin diselenggarakan dalam kehidupan keluarga.

Sebagaimana yang dialami oleh Said Nursi, pendidikan agama baginya dan saudara-

saudarinya begitu diperhatikan oleh kedua orang tua mereka, hingga tercipta dalam

keluarga mereka suasana religius.

Pendidikan informal Said Nursi adalah pendidikan keluarganya.

Menurut Wahyu keluarga adalah “suatu kesatuan sosial terkecil

yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki tempat

tinggal dan ditandai oleh kerjasama ekonomi, berkembang, mendidik,

melindungi, merawat dan sebagainya. Dan inti keluarga adalah ayah,

ibu dan anak” (Wahyu 1986, h1m. 57). Syahminan Zaini menyatakan

bahwa keluarga merupakan lapangan pendidikan yang pertama dan

71

Page 72: Tesis bagus

pendidiknya adalah kedua orang tua, di mana orang tua adalah

pendidik kodrati (Syahminan Zaini tt, h1m. 152). Dalam proses ini

orang tua dan kakak Said Nursi berperan dalam pendidikan awal Said

Nursi.

Proses pendidikan keluarga sebagai tanggungjawab

terhadap anak sedikitnya mencakup 3 (tiga) pendidikan yakni

iman, akhlak (moral) dan intelektual (rasio atau akal).17 Selama

delapan tahun, Said Nursi berada dalam didikan orang tuanya sebelum

merantau menuntut ilmu (Zaidin 2001, hlm. 8-9). Waktu delapan tahun merupakan

waktu yang cukup penting bagi sejarah hidup Said Nursi. Karena fondasi iman,

akhlak dan intelektual sudah dirasakannya selama bersama keluarganya. Said

Nursi beruntung memiliki keluarga yang peduli terhadap ni1ai iman, akhlak dan

intelektual. Dalam waktu yang relatif singkat ketiga pendidikan tersebut diperolehan

oleh Said Nursi yang menjadi dasar pribadi, sikap dan intelektualnya.

Pertama, pendidikan iman. Mirza ayahnya adalah seorang sufi yang sangat

wara’ dan diteladani sebagai seorang yang tidak pernah memakan barang haram

dan hanya memberi makan anak-anaknya dengan yang halal saja (Lihat Vahide

2000e, hlm. 3). Sosok Mirza sangat baik untuk diteladani oleh anak-anak mereka,

termasuk Said Nursi. Mirza mengajarkan kepada anak-anaknya tentang agama,

17 Menurut Abdullah Nasih Ulwan kebanyakan para pendidikan berpendapat bahwa tanggung jawab yang terpenting adalah tanggung jawab pendidikan iman, tanggung jawab pendidikan akhlak (moral tanggung jawab pendidikan fisik, tanggung jawab pendidikan intelektual (rasio atau akal), tanggung jawab pendidikan psikhis, tanggung jawab pendidikan sosial dan tanggung jawab pendidikan seksual. (Pendidikan iman adalah mengikat anak dengan dasar-dasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syariah, sejak anak mulai mengerti dan dapat memahami sesuatu. Pendidikan akhlak atau moral adalah pendidikan tentang prinsip moral dan keutamaan sikap serta watak (tabiat) yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa pemula hingga ia menjadi seorang mukallaf, yakni siap mengarungi lautan kehidupan. Pendidikan rasio atau intelektual adalah membentuk pola pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu-ilmu agama, kebudayaan dan peradaban hingga pikiran anak menjadi matang, bermuatan ilmu, kebudayaan dan sebagainya (Abdullah NAslii Ulwan, Jamaluddin Miri (Penerj.) Pendidikan Anak dalam Islam, Penerbit Pustaka Amani, Jakarta, 1995, hlm. 151-281).

72

Page 73: Tesis bagus

berikut permasalahan-permasalahan di seputar pengajaran agama, tentang iman

dan tauhid. (Zaidin 2001, hlm. 8). Masalah keimanan dan tauhid menjadi

persoalan inti yang diajarkan oleh orang tua Said Nursi kepadanya.

Kedua, pendidikan akhlak. Kedua orang tuanya sangat menekankan

kepada pendidikan agama dengan mengedepankan sifat-sifat baik mereka sebagai

panutan atau uswah. (Zaidin 2001, hlm. 8). Pendidikan agama melalui keteladanan

atau uswah benar-benar ditekankan oleh orang tua Said Nursi. Misalnya, Nuriyyah

adalah seorang wanita yang hanya menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dan

berwudhu’ (Ihsan Kasim 2003, hlm. 8). Betapa akhlak untuk memberi makan anak

dalam keadaan baik, suci dan halal. Akhlak seperti ini menjadi teladan dalam perilaku

Said Nursi.

Ketiga. pendidikan intelektual. Pada masa kecilnya Said Nursi telah menunjukkan

perwatakan yang menarik, yakni suka bertanya dan mencoba mencari jawabannya sendiri,

memikirkan persoalan kehidupan, kematian, dan kemasyarakatan. Said Nursi juga sering

menghadiri majelis perbincangan antar ulama di kampungnya (Zaidin 2001, hlm. 8).

Lebih-lebih lagi, majelis perbincangan antara ulama sekampungnya sering diadakan di

rumah ayahnya. Ini sudah tentu sangat besar manfaatnya, terutamanya dalam menyuburkan

sifat analisis, kritis serta minatnya kepada dialog dan perdebatan (Zaidin 2001,

hlm. 8). Kejeniusan Said Nursi kecil ini semakin nyata ketika ia mampu menghafal al

Quran dalam usia 12 tahun.

Pendidikan intelektual didapatkan oleh Said Nursi dalam keluarga dengan

cara belajar kepada kakaknya Abdullah – saudara ke-3 dalam keluarga Said Nursi dan

memiliki ilmu pengetahuan yang banyak – yang setiap waktu libur, terlebih lagi akhir

pekan Said Nursi selalu menerima pelajaran dari kakaknya itu, juga belajar ilmu al-Quran.

73

Page 74: Tesis bagus

Dari pembahasan di atas diketahui bahwa pendidikan informal yang diperoleh

Said Nursi dari masa kecil sampai menuju kematangan berpikir dan bersikap sangat

dipengaruhi oleh keluarga. Terutama iman, akhlak dan intelektualnya sudah menjadi akar

yang kokoh dalam sikap hidupnya. Namun, pendidikan formal juga berperan sangat penting

dalam terbentuknya kepribadian dan akhlaknya.

2) Pendidikan Formal : Pendidikan Madrasah Belajar Ilmu Agama dan Ilmu Umum

Penjelasan di atas mengemukakan bahwa latar belakang keluarga sebagai pendidikan

pertama dan utama sangat mempengaruhi Said Nursi. Said Nursi menyadari perlu menjadi

orang yang berpengetahuan, karenanya ia mulai berusaha keras

mempelajari berbagai macam i1mu-i1mu keislaman tradisional dan

i1mu-ilmu umum yang juga berkaitan dengan sains modern18 di luar

pendidikan keluarga melalui lembaga yang dapat dikatakan sebagai

pendidikan formal atau pendidikan sekolah. Adapun pendidikan

formal yang pernah dialami Said Nursi mencakup :

1) Madrasah Muhammad Amin Afandi Tagh (Ta)

Said Nursi mulai merantau ketika berumur 9 (sembilan) tahun.

Pendidikan yang pertama kali diterima oleh Said Nursi adalah

belajar di kuttab (madrasah) pimpinan Muhammad Amin Afandi di

desa Thag (Ta) pada tahun 1882. Desa Thag (Ta) berada

bersebelahan dengan desa kelahiran Said Nursi. Kegiatan belajar Said

Nursi di desa Thag ini hanya berlangsung sebentar saja, karena

18 Dalam konteks zamannya ilmu tradisional ia belajar dibeberapa tempat, karena tidak ada satu pun institusi pendidikan Islam yang lengkap menyelenggarakan pengajaran tersebut Said Nursi selalu berpindah-pindah untuk menyempurkan pemahamannya (Lihat Zaidin, Ibid, hlm. 15).

74

Page 75: Tesis bagus

aktivitas belajarnya pindah dan dilanjutkan di madrasah desa Birmis

(Ihsan Kasim 2003, h1m. 9-10). Bersamaan dengan itu Said Nursi

belajar dengan kakaknya dan ulama terkenal di desanya, kemudian

memutuskan untak sekolah ke Birmis.

2) Madrasah Muhammad Nur di Birmis

Pada tahun 1883 Said Nursi pergi ke Bitlis dan mendaftarkan diri

di sekolah Syaikh Muhammad Nur. Tetapi ia belajar di sekolah

tersebut hanya sebentar, sebab syaikh tersebut menolak untuk

mengajarnya dengan alasan faktor usia yang belum memadai. (Zaidin

2001, hlm. 10).

3) Madrasah Muhammad Amin Afandi di Arwas Bitlis

Pada tahun 1891 (1308), Said Nursi meminta izin orang tuanya untuk belajar dan pergi ke

Arwas di Bitlis dan berguru dengan Syekh Muhammad Amin Afandin (Rajah 1995, hlm.

33). Di Bitlis Said Nursi pernah tinggal serumah bersama Walikota Bitlis dan beliau

berkesempatan untuk menela’ah sejumlah besar buku ilmiah dan menghapal sebagian dari

padanya. Begitu juga beliau pun berkesempatan menelaah sejumlah besar kitab tentang

ilmu kalam, mantiq (logika), nahwu, tafsir, hadits, dan fiqh. Kemudian lebih dari delapan

puluh kitab induk tentang ilmu-ilmu keislaman berhasil dihapal (Ihsan Kasim 2003, hlm.

10-13).

4) Madrasah Mir Hasan Wali di Muks (Mukus)

75

Page 76: Tesis bagus

Said Nursi merasa tidak puas dengan ilmu yang diperoleh dari tiga orang gurunya tersebut.

Said Nursi melanjutkan belajar di Madrasah Mir Hasan Wali di Muks. Proses ini hanya

berjalan satu bulan setelah itu kemudian ia bersama temannya berangkat menuju salah satu

sekolah di Bayazid, suatu daerah yang termasuk dalam wilayah Agra. (Ihsan Kasim 2003,

hlm. 10-11).

5) Madrasah Muhammad Jalali di Beyazid

Pada tahun 1889, ia bersama seorang temannya berangkat menuju

madrasah di Beyazid, satu daerah di Turki Timur. Di sinilah Said Nursi

mempelajari ilmu-ilmu agama dasar, karena sebelum ia hanya belajar

Nahwu dan Sharaf saja. Beliau belajar dengan segala kesungguhan dan

secara intensif untuk jangka waktu tiga bulan lamanya. Selama itu,

beliau berhasil membaca seluruh buku yang pada umumnya dipelajari

di sekolah-sekolah agama. Dalam waktu relatif singkat sekali beliau

mampu menguasai matematika, ilmu falak, kimia, fisika, geologi,

filsafat, sejarah, geografi, dan lain-lain (Ihsan Kasim 2003, hlm. 8-15).

Di Madrasah Beyazid di bawah bimbingan Syaikh Muhammad

al-Jalali, Said Nursi belajar dengan segala kesungguhan dan

keuletannya secara intensif dalam jangka waktu yang singkat selama

tiga bulan beliau dapat membaca seluruh buku yang umumnya

dipelajari di sekolah-sekolah agama serta ia mendapatkan ijazah dari

Syaikh Muhammad Jalalin (Zaidin 2001, hlm. 11). Pelajaran yang

diambilnya seputar ilmu al-Quran dan Nahwu Sharaf Sebagai apresiasi

76

Page 77: Tesis bagus

dari kerja keras belajarnya, Said Nursi mampu menguasai kitab-kitab

utama ketika itu dan mendapat gelar Mulla Said (Zaidin 2001, hlm. 11).

6) Madrasah Fathullah Afandi di Si’ird

Di bawah bimbingan Syaikh Fathullah Afandi secara intensif Said Nursi mempelajari

kitab Jam'ul Jawami (kitab tentang ushul fiqhi) karya Ibn as-Subki. Dalam waktu yang

cukup singkat ia menghapalnya, sehingga Syaikh Fathullah Afandi menulis catatan

pada sampul kitab tersebut dengan kata-kata : “Laqad Jama'a fii hifzihihi’, jam’al-

jawami, jami’ihi fii jum’atin” (Sungguh seluruh kitab jam’ul Jawami’ telah mampu dihapal

hanya dalam satu minggu) (Ihsan Kasim 2003, hlm. 12).

Selanjutnya, Said Nursi menjelajahi secara terus menerus

kemungkinan masih tersisa ulama, syeikh, atau guru yang handal,

untuk menguras habis keilmuan mereka, seperti Syeikh Fethullah,

hingga beliau mendapatkan ilmu baru yang semakin memantapkan

dirinya untuk mengadakan debat, diskusi, dan pengajaran bagi

masyarakat bawah. Karena kemampuan intelektual yang menakjubkan

itu, Said Nursi digelari gurunya Badi’ al-Zaman (keunggulan zaman).

Ketika berada di sini, Said Nursi telah bertemu dan berdialog

dengan beberapa orang guru dalam bidang ilmu-ilmu modern.

Kelemahan beliau dalam bidang tersebut telah mendorongnya

membaca dan mempelajari buku-buku sains modern yang terdapat

dalam perpustakaan Talur BAslia. Akhirnya dengan inisiatifnya sendiri

dan dalam masa yang singkat beliau telah berhasil menguasai ilmu-ilmu

modern seperti sejarah, geografi, matematika, fisika, kimia, astronomi,

77

Page 78: Tesis bagus

filsafat modern, ilmu hayat dan ilmu bumi. Said Nursi juga pernah

menulis beberapa buku dalam bidang yang berkaitan, misalnya

berkenaan algebra. Malangnya, buku tersebut telah musnah dalam satu

kebakaran besar yang terjadi di Van (Zaidin 2001, hlm. 17).

Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa pendidikan

formal yang diperoleh Said Nursi mengokohkan sebagai orang yang

rasional dan bermoral. Orang yang cerdas secara intelektual juga

spritual. Berwawasan luas dan berakhlak mulia.

3) Pendidikan Non Formal : Lingkungan dan Perolehan Ilham (Ilmu Laduni)

Pendidikan non formal ini adalah proses pendidikan yang berlangsung dalam masyarakat.

Perolehan jenis pendidikan ini berlangsung alami, karena dilakukan di masyarakat dan

di luar pendidikan informal dan formal, atau pendidikan keluarga dan sekolah. Banyak

yang dilakukan oleh Said Nursi yang dapat dikategorikan sebagai proses pendidikan non

formal. Kegiatan perjalanan, diskusi dan debat ilmiah, kehidupan bersama-sama,

orang-orang terdekat dan ulama terkenal. Pendidikan non formal yang dialami oleh

Said Nursi dapat dilihat melalui beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai kegiatan

pendidikan non formal mencakup:

1) Bersama Kakaknya Abdullah dan Fathullah Afandi

Pengalaman Said Nursi bersama kakaknya, hanyalah sebagai contoh mengenai

pendidikan di luar pendidikan resminya. Misalnya dalam perjalanan Said Nursi dari kota

Bitlis menuju kota Syirwan dan belajar dengan kakaknya Abdullah, kemudian ia

melanjutkan penjalanan ke Si’rad untuk belajar pada seorang ulama terkenal yakni

Fathullah Afandi. Ulama ini melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya :

78

Page 79: Tesis bagus

Ada berita engkau telah selesai membaca as-Suyuthi – kitab syarah alfiyah karya Ibnu Malik (pen.) – pada tahun yang lalu, tapi apakah engkau juga telah selesai mempelajari kitab al-Jami’ – kitab nahwu popular (pen.) – pada tahun in i?. Kemudian di jawab : Ya, saya telah membacanya secara keseluruhan. Kemudian Syaikh Fathullah Afandi mulai menyebutkan beberapa permasalahan dan memberikan beberapa pertanyaan dan dijawab semua dengan tepat oleh Said Nursi. Peristiwa ini telah membuat Syaikh Fathullah Afandi geleng kepala dan sangat kagum dan akhirnya ia berkata : Baik…sungguh engkau ini seorang yang dikaruniai kejeniusan yang luar biasa. Namun demikian, biarkan kami untuk mengetahui daya hapalanmu. Apakah engkau bersedia membaca beberapa baris dari kitab ini dua kali lalu menghapalnya ?. Kemudian ia memberikan kitab Maqaamat al-Hariri. Said Nursi pun meraihnya lalu membaca tulisan yang termaktub dalam halaman pertama dan hanya dibaca satu kali saja. Ternyata hanya satu kali saja membaca, beliau mampu menghapalnya. Tentu saja apa yang terjadi membuat Syaikh Fathullah Afandi semakin kagum, sehingga ia berkata lagi : Sungguh perpaduan antara otak jenius yang luar biasa dengan daya hapal yang luar biasa seperti engkau miliki merupakan kejadian yang sangat jarang (Ihsan Kasim 2003, hlm. 10-13).

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa efek dari ketekunan Said Nursi dalam

lingkungan masyarakat beliau diilhami keilmuan yang dalam dan luas.

Semuanya merupakan implikasi dari perjalanan secara menyatu dalam diri Said Nursi baik

dalam pendidikan informal, formal maupun non formal yang dijalani Said Nursi

dalam satu kesatuan diri.

2) Pengalaman Berdiskusi, Berdebat bersama Tokoh Intelektual dan

Ulama

Berkat potensinya yang mampu menyerap berbagai disiplin ilmu dan otaknya yang sangat

jenius, popularitas beliau segera tersebar dan diberi gelar Bediuzzaman (keindahan Zaman)

(Said Nursi Tarihi Hajat 1999e, hlm. 45). Dalam perdebatan ilmiah, Said Nursi dengan

penguasaannya dalam bidang agama dan sains modern menjadi perhatian banyak orang.

3) Motivasi Melalui Mimpi dan Ilham

79

Page 80: Tesis bagus

Bartol dan Martin (1991, hlm. 451) memberikan pengertian motivasi

adalah kekuatan yang menggerakkan perilaku, memberi arah pada

perilaku dan mendasari kecenderungan untuk tetap menunjukkan

perilaku tersebut. Said Nursi memiliki gerakan perilaku melalui mimpi

bahwa dirinya melihat Rasulullah Saw. Peristiwa tersebut selalu diingat

sampai akhir hayatnya. Dalam mimpi tersebut beliau melihat seolah-

olah kiamat telah terjadi dengan segala kejadian yang sangat

mengerikan dan seluruh manusia dihimpun. Ketika itu, perasaan ingin

melihat Rasulullah Saw begitu menggebu-gebu, tapi bagaimana

mungkin hal ini bisa terjadi, di manakah dirinya dapat menjumpai

beliau dalam keadaan berdesakdesakan seperti ini?. Pada waktu dirinya

sedang berpikir demikian dalam keadaan sedang berada di tengah

kerumunan orang banyak, terlintaslah dalam benak pikirannya untuk

pergi ke Shiratal Mustaqim (jembatan menuju Surga). Karena

Rasulullah Saw pun pAsli akan melintasi jembatan tersebut. Dengan

demikian bergegaslah Said Nursi menuju ke sana dan di sana ia

menunggu Rasulullah Saw. Melintasinya, selama dalam penantian ini,

para Nabi melewatinya, lalu tangan mereka dijabat dan dicium.

Kemudian Rasulullah Saw yang dinanti-nanti pun lewat padanya. Ketika

itu dirinya adalah seorang Said Nursi yang masih kecil yang sedang

berada dihadapan beliau sambil menciumi kedua tangannya. Setelah

itu, ia memohon dan beliau agar diberi ilmu lalu Rasulullah Saw

bersabda kepadanya : “Engkau akan diberi ilmu al-Qur’an dengan

syarat engkau tidak boleh meminta-minta kepada siapapun dari

80

Page 81: Tesis bagus

kalangan umatku”. (Ihsan Kasim 2003, hlm. 15-16). Pada fase

berikutnya, atas kehendak Allah Swt menjadikan beliau begitu cepat

menguasai berbagai ilmu keagamaan, termasuk ilmu al-Quran, hadits,

fiqh, dan ilmu lainnya.

4) Kecerdasan Hati atau Intuisi Memperoleh Ilmu Laduni

Salyidain menyatakan bahwa intuisi menurut Iqbal adalah isyq atau

cinta atau kadang-kadang disebut “pengamatan kalbu” yang

memungkinkan kita secara langsung menangkap dan mengamat serta

bertautan dengan kenyataan secara keseluruhan (Salyidain tt, hlm. 102-

103). Artinya, intuisi adalah semacam perasaan yang bergerak di dalam

batin manusia, yang merupakan suatu mata batin yang tajam, tetapi

tidak boleh disamakan dengan sifat kemanusiaan yang utuh.

Perolehan ilmu laduni adalah implikasi proses pendidikan yang

didapatkan oleh Said Nursi langsung melalui Allah melalui ilham illahi.

Pendidikan ini secara intensif diperolehnya ketika ia menulis Risale-i

Nur. Cahaya hati dan keyakinannya yang mendalam kepada Allah

menyebabkan ia mampu menembus alam ghaib, sehingga ia dapat

berdiskusi dan berdialog langsung dengan Nabi Muhammad (Said

Nursi Mektubat 2003b, hlm.275).

Dari pembahasan di atas diketahui bahwa riwayat pendidikan

Said Nursi baik informal, formal maupun pendidikan non formal telah

mempengaruhi pemikiran, perilaku, sikap dan ruhnya dalam segenap

kehidupannya, terutama dalam menyuburkan sifat analisis, kritis serta

81

Page 82: Tesis bagus

senang kepada dialog dan perdebatan. Sistematika proses pendidikan

Said Nursi yang integratif menggambarkan kompetensi Said Nursi

sebagai i1muwan dan ulama dalam kajian keagamaan dan terdapat

praktik antara penguasaan ilmu dan perilaku akhlak mulia. Proses

pendidikan dan kompetensi ini memperkuat bahwa Said Nursi adalah

filosof-sufi.

Kegiatan Keagamaan

Sebenarnya banyak sekali yang dilakukan oleh Said Nursi untuk menyebarkan dakwah

Islam di Turki. Tanda-tanda Said Nursi sebagai tokoh, ulama dan guru bagi seluruh

masyarakat Turki, sudah mulai nampak sejak kecil. Berikut ini dipaparkan beberapa hal

yang berkaitan kegiatan keagamaan Said Nursi.

1. Mengajar Umat Gratis

Pada tahun 1907 M. sampailah Badiuzzaman di ibu kota Istanbul. Di sana beliau tinggal di

khan asy-Syakrizi yang terletak di wilayah Fatih. Tercatat, bahwa hotel ini merupakan

tempat tinggal sejumlah para pemikir dan pujangga, seperti penyair kenamaan yang

bernama Muhammad ‘Akif dan kepala intelejen yang bernama Fatih, juga seorang guru

bahasa kenamaan yang bernama Jalal dan lain-lain.

Selama berada di ibu kota Istanbul beliau telah menggantungkan sebuah papan di

depan pintu kamarnya yang bertuliskan: “Gratis”!!! Di sini akan terjawab setiap pertanyaan

dan setiap problema pasti akan terpecahkan”. Ini merupakan pernyataan asing dan menarik

perhatian yang membuat popularitas Said Nursi semakin luas yang sebelumnya juga sudah

82

Page 83: Tesis bagus

terkenal di ibu kota Istanbul dan membuat orang-orang ingin melihatnya secara langsung

(Salih 2003, hlm. 15-16)

Di ibu kota Istanbul Said Nursi menyampaiikan usulan kepada Sultan Abdul Hamid

agar didirikan sebuah madrasah bernama Madrasah Az-Zahrah yang ilmu agama dan ilmu

sains diajarkan secara bersama di Turki Timur. Usulan ini disampaikan, karena

penduduknya sangat didominasi oleh kebodohan dan kemiskinan, juga sangat dicekam oleh

kediktatoran, sistem keamanan, dan para intel dai kalangan istana Yaldaz. Tetapi usulan ini

hanya membuat orang-orang dekat Sultan yang hakikatnya tidak mencerminkan pemikiran

Sultan membawa beliau ke beberapa dokter untuk diperiksa dan diteliti daya nalar otaknya.

Kemudian para dokter berketetapan untuk menempatkannya di RS Jiwa Topbasyi.

Ketika salah seorang dokter hadir untuk memeriksa daya nalar otak Said Nursi,

kepada dokter ini beliau menyampaikan apa yang terlintas dalam benak sang dokter.

Kejadian I telah mendorongnya mebuat keterangan : “Jika memang terdapat sedikit saja

kegilaan pada Said Nursi, ini artinya bahwa di seluruh muka planet bumi ini tidak seorang

pun ada yang berakal sehat” (Salih 2003, hlm. 17-18).

Kemudian Said Nursi berangkat menuju Salonika dan di sana beliau berkenalan

dengan para tokoh al-Ittihad Wa at-Taaraqqi (Perpaduan dan Kemajuan). Langkah ini

ditempuh, dengan pertimbangan karena dirinya juga sebagai seorang yang menyarakan dan

menyerukan kebebasan dan prinsip musyawarah secara Islami. Di sana ia mendapat

sambutan hangat dari para pemimpin al-Ittihad Wa at-Taraqi. Namun demikian, mereka

tidak berhasil mengajaknya untuk menjadi pengikut mereka. Kasus ini terjadi, karena ia

tetap pada prinsip pemikiran dan kepribadiannya. Kemudian saat dirasakan bahwa sebagian

di antara mereka ada yang goyah pendiriannya dan bersikap memusuhi agama (Islam), ia

83

Page 84: Tesis bagus

pun berkata: “Kalian ternyata memusuhi agama dan berpaling dari syari’at” (Salih 2003,

hlm. 19-20).

2. Menjadi Anggota Darul Hikmah al-Islamiyah

Di ibu kota Istanbul Said Nursi diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyah tanpa

sepengetahuannya sebagai penghargaan baginya (13 Agustus 1918 M). Tercatat bahwa para

anggota Darul Hikmah ini hanya merupakan ulama terkemuka saja. Ketika itu para

anggotanya terdiri dari: Muhammad ‘Akif (penyair kondang), Ismail Hakki (seorang ulama

kenamaan), Hamdi Almalali (mufassir terkenal), Mustafa Shabri (syaikul Islam), Sa’duddin

Pasya, dan lain-lain.

Pada periode ini pemerintah telah menganggarkan gaji untuknya. Tetapi ia hanya

mengambil sekedar untuk memenuhi hajat hidup pokok saja. Sedangkan sisanya

dibelanjakan untuk biaya mencetak sebagian dari karya ilmiahnya yang dihimpun dalam

Rasal an-Nur yang kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada kaum muslimin (Salih

2003, hlm. 34-36).

3.Transformasi Spritual

Perubahan dalam diri Said Nursi adalah ketika dia merasa perubahan dalam dirinya, ketika

Ia berada di lembaga Darul Hikmah al-Islamiyah, ia pernah mengalami transformasi

spiritual sebagai berikut:

Sadar diriku berada di dalam ‘rawa’ aku mencari bantuan, mencari jalan keluar dan panduan. Aku melihat ada berbagai jalan, dan saat ragu jalan mana yang harus ikuti, aku mencari penjelasan pada kitab Futuh al-Gaib, tulisan Syaih Abdul Qadir Jailani. Muncul kalimat berikut di hadapanku: Kamu berada di Darul Hikam

84

Page 85: Tesis bagus

(Rumah Kebijaksanaan); mencari dokter (rohani) yang akan menyembuhkan hatimu. Anehnya, aku memang anggota Darul Hikam (lembaga para ilmuwan tersebut). Aku dianggap sebagai ‘dokter’, seorang pembimbing rohani, yang diharapkan bisa menyembuhkan penyakit-penyakit rohani umat Islam; sementara sayalah yang secara rohani sakit lebih parah daripada yang lain, dan aku harus mengobati diriku sendiri sebagai pasien. Setelah itu, aku membaca kitab Maktubat (Surat-surat) karya Imam Rabbani, dan mempelajarinya dengan niat yang suci. Imam Rabbani juga dengan tandas memberikan nasihatnya dibanyak surat yang lain, ‘Menyatukan arah yang akan engkau tuju,’ yakni ‘ambil satu saja pemimpin atau satu jalan ke arah kebenaran.’ Tetapi, nasihat beliau yang paling penting ini tidak sesuai dengan watak dan perangaiku. Kadang-kadang pikiranku tidak bisa memutuskan mana yang harus diikuti. Karena setiap jalan memiliki daya tarik sendiri-sendiri, maka sulit bagiku untuk menyenangi salah satu jalan dan mengikutinya. Saat aku dalam kebingungan, dengan Kasih Sayang Allah SWT aku menjadi tahu bahwa ujung semua jalan tersebut, sumber dari semua saluran tersebut, ‘matahari yang dikelilingi oleh semua ‘planet’ tersebut, tak lain adalah al-Qur’an yang penuh hikmah, yang bisa menyatukan semua arah (Said Nursi 2003, hlm. 487-488).

Transformasi spiritual inilah yang menjadi penyebab perubahan Said Qadim ke Said Jadid. Pada

masa-masa ini dan ketika Inggris berhasil menduduki Istanbul (16 Maret 1920), Badiuzzaman berhasil

menyelesaikan buku karangannya yang berjudul al-Khuthuwat as-Sitta (Enam Langkah ) yang diterbitkan

secra sembunyi-sembunyi dengan bantuan para murid dan teman-temannya… Buku ini berisi serangan

Badiuzzaman kepada Inggris yang disampaikan dengan nada keras dan berupa klarifikasi tentang berbagai

syubhat yang santer menjadi buah bibir masyarakat luas dengan disertai sejumlah dalil argumetatif. Buku

tersebut juga berisi ajakan kaum muslimin tetap optimis dan memerangi sikap pesimis yang selama ini

tampaknya menguasai masyarakat, serta berisi seruan agar mereka berbakal tekad kuat.

Kegiatan Politik

Secara bersamaan dalam kehidupanya Said Nursi jelas berkaitan erat dengan kegaitan

politik. Kajian berikut akan menjelaskan fokus kepada kegiatan politik yang pernah

dilakukan oleh Said Nursi semasa hidupnya, sebagai berikut :

1. Menentang Inggris

85

Page 86: Tesis bagus

Diantara serentetan rencana jahat yang dilakukan Inggris terhadap Islam melalaui gereja

Anglikan adalah enam pertanyaan yang disampaikan kepada para ulama Islam agar dijawab

dengan enam ratus kata. Kemudian pertanyaan ini oleh para ulama disampaikan kepada

Badiuzzaman dan dijawab: “Sesunguhnya jawaban enam pertanyaan ini tidak harus

denggan enam ratus kata dan tidak pula dengan enam kata…, juga tidak harus dengan satu

kata…,melainkan cukup dengan ludah yang disemburkan kepada muka orang-orang

Inggris terkutuk.” (Salih 2003, hlm. 39-40).

Gerakan anti pendudukan asing di Anatolia mulai beraksi. Syaikhul Islam Abdullah

Afandi pun di bawah tekanan pemerintahan kolonial Inggris mengeluarkan fatwa

menentang gerakan dan para pelaku aksi ini. Tetapi segera fatwa ini dibantah lagi dan

dinyatakan batal oleh fatwa yang dikeluarkan oleh tujuh puluh enam ulama bersama tiga

puluh enam ilmuwan dan sebelas anggota DPR (anggota parlemen).

2. Said Nursi Masa Pergolakan

Said Nursi di zaman pergolakan ini terjadi pada 1908-1912, ketika itu ia berjuang keras

demi untuk menegakkan satu sistem kelembagaan yang berteraskan Syariat Islam.

Memandang pengaruh Said Nursi serta ketokohannya, para pimpinan gerakan ini mencoba

membujuk dan mempengaruhinya menyertai gerakan mereka. Antara mereka yang datang

menemuinya ialah Emanuel Carasso, seorang yang Yahudi berkebangsaan Itali. Tetapi apa

yang berlaku adalah sebaliknya, sehingga dia berkata: “Lelaki ajaib ini hampir-hampir

menyebabkan aku memeluk Islam dengan kata-katanya” (Zaidin 2001, hlm. 32).

86

Page 87: Tesis bagus

Dalam tahun 1908, satu pemberontakan telah meletus Revolusi Turki Muda (The

Young Turk Revolution) yang didalangi oleh Pertubuhan Perpaduan dan Kemajuan telah

berhasil memaksa Sultan mengaktifkan semua kelembagaan. Walaupun Said Nursi

menyokong usaha untuk mengembalikan kelembagaan dalam negara, tetapi Revolusi Turki

Muda tidak disetujuinya. Ini jelas dari sikap Said Nursi yang berpegang kepada prinsip

kesederhanaan (menolak kekerasan) dalam menuntut sesuatu keadilan atau kebaikan.

Lebih-lebih lagi, Pertumbuhan Perpaduan dan Kemajuan yang menjadi penggerak utama ke

arah tercetusnya revolusi tersebut bergerak di atas teras perjuangan yang menyimpang dari

ajaran Islam (Zaidin 2001, hlm. 33).

Said Nursi terus menyampaikan idenya kepada masyarakat tanpa dapat dipengaruhi

oleh mana-mana pihak. Beliau melihat hanya dengan Perlembagaan Islam yang mampu

mengembalikan kekuatan dan kemakmuran dakwah. Ini jelas dari pidato yang

disampaikannya di Salanik selepas pengisytiharan kelembagaan tersebut. Di antara

ucapannya, seperti dikutip Zaidin (2001, hlm. 34): “Berhati-hatilah saudara-saudaraku,

jangan kamu hancurkan kebebasan ini dengan kematian kali kedua dengan tindakan-

tindakan yang bodoh dan pengabaian dalam urusan agama. Sesungguhnya Undang-Undang

Asas yang berfraksikan kepada Undang-Undang Islam (Syariat) adalah malaikat maut yang

akan menyentap semua ruh isme-isme yang merusakkan, akhlak buruk, tipu daya syaetan

dan penyelewengan yang hina.”

Pada 5 Oktober 1908 (9 Ramadan 1326 H), Austria telah mengumumkan

kemasukan Bosnia dan Hersegovina ke dalam negara tersebut. Sebagai tindak balasan,

kerajaan telah menyatakan memboikot semua barang Austria dan gedung-gedung

jualannya. Aktifitas perniagaan dan perdagangan di Istanbul mulai terhambat (Zaidin 2001,

hal. 37). Keadaan ini berimbas juga pada kehidupan hampir dua puluh ribu masyarakat

87

Page 88: Tesis bagus

buruh dari bangsa Kurdi. Akhirnya mereka melancarkan mogok dan tidak lagi mematuhi

arahan ketua-ketua mereka. Suatu hari, kumpulan buruh yang berada di Khan Ashirah

mulai bertindak liar.

Said Nursi yang mendengar berita tersebut terus bergegas ke sana dan memberikan

nasihat kepada mereka. Antara lain kata-katanya ialah:

Musuh kita adalah kejahilan, keperluan dan perselisihan. Kita akan memerangi ketiga-tiga musuh ini dengan senjata kemajuan, pengetahuan dan penyatuan. Oleh itu kita perlu bantu membantu dan berganding bahu dengan orang-orang Turki. Mereka adalah saudara kita,…mereka telah menyadarkan kita dari kealpaan dan mendorong kita dari ke arah ketamadunan. Ya, kita akan bersatu dengan mereka (orang Turki) dan mereka yang berjiran dengan kita kerana permusuhan dan perseteruan adalah kebinasaan. Kita sebenarnya tidak mempunyai waktu untuk bermusuhan (sesama sendiri)… (Said Nursi dalam Zaidin 2001, hlm. 38).

Sungguh luar biasa pengorbanan Said Nursi yang telah berani meredamkan amarah

buruh bangsa Kurdi yang sudah menggunung, karena mereka sudah tidak percaya kerajaan

yang sudah membaikot barang Austria. Said Nursi secara tegas mengatakan musuh kita

bukan orang-orang Turki, tapi musuh kita kejahilan dan perselisihan. Orang Turki adalah

saudara sendiri bukan musuh, karena perseturuan dan permusuhan justeru akan

membinasakan kita sendiri. Akhirnya, mereka semua menyadari bahwa tindakan yang

mereka lakukan dengan mendemo kerajaan kekeliruan yang harus dibenahi.

3. Ikut Perang Dunia I (1918-1923)

Bagian ini akan memaparkan keterlibatan Said Nursi dalam Perang Dunia I menentang

tentara Rusia dan Armenia. Corak perjuangannya yang sederhana (tanpa senjata dan

kekerasan) telah diubah kepada perjuangan bersenjata apabila berhadapan dengan musuh-

musuh luar (bukan Islam).

88

Page 89: Tesis bagus

Said Nursi dan Inggris (1918-1923), fatrah ini menyaksikan bagaimana Said Nursi

menggunakan segala ruang yang ada untuk menyedarkan umat Islam dan membangkitkan

semangat mereka supaya berjihad menentang penjajah:

Pada 5 April 1909, Parti al-Ittihad al-Muhammadi telah ditubuhkan di Istanbul. Ia diasaskan oleh Darwish Wihdati. Pertumbuhan politik Islam ini secara umumnya adalah tindak balas masyarakat Islam yang merasa bimbang dengan perkembangan yang berlaku dalam negara di bawah pemerintahan Parti Perpaduan dan Kemajuan. Mereka menuntut supaya Syariat Islam ditegakkan semula dalam negara. Antara kesan daripada protes mereka terhadap kerajaan ialah berlakunya penutupan kedai minuman keras dan pusat teater. Mereka juga menuntut supaya kerajaan membuat sekatan ke atas Gerakan Kebebasan Wanita (Zaidin 2001, hlm. 32).

Said Nursi yang menyertai pertumbuhan politik ini, turut sama memberi sumbangan

dengan menyampaikan ide-idenya kepada masyarakat melalui akhbar Volkan yang

merupakan lidah rasmi pertumbuhan tersebut. Bahkan Said Nursi sendiri telah berucap

sewaktu pertubuhan ini diasaskan. Di samping Volkan, Said Nursi juga menulis di dalam

akhbar-akhbar lain seperti al-Aqbah, Surbasti, Mizan, al-Misbah dan lain-lain lagi (Zaidin

2001, hal. 38).

Meskipun Said Nursi menyokong Parti al-Ittihad al-Muhammadi, sokongan ini

sedikitpun tidak menyekat beliau dari menyatakan kebenaran, maupun mengkritik mana-

mana pihak yang dilihatnya tidak bertindak sewajarnya. Ini terbukti apabila sebagian

kritikannya juga ditujukan kepada golongan pengarang, termasuklah Darwish Wihdati

sendiri, yang tidak memperlihatkan adab-adab penulisan yang Islamik. Antara kritikannya,

“Sasterawan seharusnya beradab, terutamanya dengan adab-adab Islam supaya (kekuatan)

agama itu dapat menjadi pengawal dalam bidang penulisan.

Dalam tahun 1910, Said Nursi meninggalkan Istanbul dan kembali ke Wan melalui

Batum (Batum). Dalam perjalanan, Said Nursi singgah di Tiflis (Tiflis) untuk melihat

suasana bandaraya tersebut. Untuk itu, Said Nursi pun mendaki Bukit Shaykh Sanan dan

89

Page 90: Tesis bagus

untuk seketika Said Nursi memandang ke arah bumi yang berada di bawah jajahan Rusia.

Seorang pegawai polis Rusia datang menghampirinya. Setelah sampai ke Wan, Said Nursi

mulai menyampaikan kuliah-kuliah agama kepada masyarakat. Himpunan soalan serta

jawaban yang diberikan dalam kuliah itu dimasukkan oleh Said Nursi dalam kitabnya al-

Munazarat. Karangan dalam bahasa Turki ini kemudiannya diterjemahkan kedalam bahasa

Arab judul Rajtat al-awwam. Kitab ini telah dicetak di Istanbul dalam tahun 1913 (Zaidin

2001, hlm. 44-46).

Ketika terjadi pemberontakan besar 31 Maret pada tahun 1909, ia telah coba

mententeramkan keadaan. Pada tahun 1911, Ia pergi ke Damaskus untuk menyampaikan

khutbah di Masjid Umayyah tentang kondisi umat Muslim dan cara mengatasi masalah-

masalahnya. Dalam perang dunia I, Badiuzzaman menjadi pemimpin pasukan sukarelawan

di medan perang Kakasia dan Turki Timur. Dalam pertempuran ini Said Nursi bersama

para muridnya dengan segala daya yang dimiliki turut serta menghadapi tentara Rusia.

Kemudian selama terlibat dalam pertempuran tersebut ia pun berhasil menyusun tafsirnya

yang sangat berharga, Isyarat al-I’jaz Fi Mazhan al-Ijaz, dalam bahasa Arab. Said Nursi

pun tertangkap oleh pasukan tentara Rusia dan dibawa ke salah satu markas tawanan militer

di Qustarma yang terletak di Timur Rusia (Salih 2003, hlm. 25-29).

Setelah 2 tahun Said Nursi pulang ke Istanbul pada tahun 1918. Kemudian Said

Nursi diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah – Lembaga ilmiah milik para

ulama Turki Usmani – tanpa sepengetahuannya sebagai penghargaan baginya. Dalam tesis

Zaidin (2001, hlm. 49) dituliskan pula tentang penugasan Said Nursi untuk memimpin

perang. Ini terjasi pada 1912, dalam minggu-minggu pertama tercetusnya Perang Balkan,

Said Nursi telah dilantik memimpin pasukan Sukarelawan dari selatan anadul (Anatolia).

Said Nursi kemudiannya di saat-saat hampir tercetusnya Perang Dunia I diberi kepercayaan

90

Page 91: Tesis bagus

untuk menganggotai al-Tashkilat al-Makhsusah. Kerajaan telah membuat keputusan untuk

menyebarkan Fatwa Jihad keseluruh dunia Islam. Beliau telah ditugaskan melaksanakan

misi tersebut ke Libya (Afrika Utara). Dengan menaiki kapal selam Jerman, Said Nursi dan

pasukannya berangkat ke sana. Misinya ini adalah untuk menghubungi Sayyid Muhammad

Idris al-Sanusi yang ketika itu sedang berjuang menentang tentara Itali.

4. Menentang Mustafa Kemal Attatruk

Said Nursi berulang kali diundang ke Ankara oleh Mustafa Kamal, sehingga ia berangkat

juga ke sana pada tahun 1922, sebelum Hari Raya Qurban tahun itu, dan kedatangannya ini

telah disambut dengan meriah. Sayangnya beliau tidak betah di Ankara karena melihat

kebanyakan di antara para anggota dewan tidak aktif shalat, sebagaimana perilaku Mustafa

Kamal pun tampak berlawanan dengan Islam suatu hal yang membuat ia sangat sedih.

Dengan demikian, beliau berketetapan utuk mencetak pernyataan pada tanggal 19/1/1923

M. yang membuat sepuluh materi yang dialamatkan kepada para anggota dewan, sebagai

nasihat dan peringatan Islami.

Kemudian pernyataan ini dibagiikan kepada para anggota dewan yang dipimpin

oleh Jenderal Kazhim Qurah Bakar (Panglima Besar Gerakan Kemerdekaan). Buah dari

langkah tersebut telah berhasil menyadarkan kira-kira enam puluh di antara mereka

menjadi orang-orang taat beragama dan aktif menjalankan shalat, sehingga masjid yang ada

di sana tidak mampu menampung jamaah dan akhirnya dipindahkan ke ruangan yang lebih

besar.

Mustafa Kamal rupanya tidak senang dengan pernyataan ini dan oleh karena itu dia

memanggil Said Nursi. Kemudian, terjadilah pembicaraan seru di antara keduanya. Di

antara kata-kata yang disampaikan oleh Mustafa Kamal saat itu:

91

Page 92: Tesis bagus

Sejujurnya, bahwa kami sangat membutuhkan orang seperti Anda. Untuk itu kami sengaja mengundang Anda ke sini agar kami bisa mengambil manfaat dari pendapat-pendapat Anda yang sangat berharga. Tetapi langkah pertama yang Anda sampaikan kepada kami ternyata urusan shalat yang membuat di antara sesama anggota majelis di sini terpecah. Seraya memberi isyarat dengan telunjuknya, Badiuzzaman menjawab pernyataan Mustafa Kamal : Pasya…Pasya… Sesungguhnya hakikat yang paling menonjol sesudah iman adalah shalat. Sesungguhnya orang yang tidak menjalankan shalat adalah pengkhianat, sedangkan kepemimpinan seorang pengkhianaat di mata hukum adalah tidak diterima…..Mendengar jawaban ini Mustafa Kamal berpikir hendak menjauhkannya dari Ankara. Untuk itu, beliau ditawari jabatan sebagai penasihat umum wilayah timur dengan gaji yang menggiurkan. Tetapi Said Nursi menolak tawaran ini (Salih 2003, hlm. 41-43).

Setelah merasakan adanya niat buruk yang dialamatkan kepada Islam dari sejumlah

pihak pemerintah di Ankara, maka Said Nursi pun pergi meninggalkan kota ini. Ia pergi

dari sana dengan hati yang sedih dan membuat dirinya banyak melakukan tahajjud, ibadah,

dan pengaduan kepada Allah atas keadaan yang terjadi menimpa kaum mulimin. Ia pergi

menuju kota Wan dan tinggal di sebuah rumah kumuh yan tidak berpenghuni yang terletak

di gunung Ark. Di sanlah untuk sekian lama waktunya dihabiskan dengan mengasingkan

diri dari keramaian. Di sanalah beliau i’tikaf dan mengheningkan cipta, seolah-olah bahwa

Allah sedang mmpersiapkan dirinya untuk tampil menghadapi tugas berat dan bahaya yang

hendak menghancurkan Islam ( Salih 2003, hlm. 43-45).

5. Perjuangan Menuju Rumayli (Rumelia)Selepas berada di Sham, Said Nursi pergi ke Bayrut (Beirut) dan kemudiannya kembali ke

Istanbul melalui jalan laut pada Jun, 1911. Said Nursi telah dipilih sebagai wakil dari Timur

Turki untuk mengiringi Sultan Rashad dalam satu lawatan ke Rumayli, sebuah kawasan

Eropa di bawah kekuasaan Turki. Rombongan Di-Raja ini berangkat dengan menaiki kapal

perang Barbarossa dan mereka sampai ke Salanik pada 7 Juni 1911. Pada 11 Juni 1911,

rombongan tersebut sampai ke Uskup (Skopje), sebuah bandaraya bersejarah, yang juga

92

Page 93: Tesis bagus

merupakan ibukota Qusuwa (Kosovo). Dalam perjalanan ini, dua orang pengikut Sultan

yang berpendidikan sekolah modern berbual dengan Said Nursi (Zaidin 2001, hlm. 48).

Pada ketika itu, sebuah universitas sedang dibina di Qusuwa. Said Nursi mengambil

kesempatan ini dengan menjelaskan kepada Sultan dan beberapa orang pemimpin Partai

Perpaduan dan Kemajuan tentang betapa perlunya dibina sebuah universitas di Timur

Turki. Rencana tersebut telah disambut baik oleh Sultan. Setelah Qusuwa jatuh ketangan

Rusia dalam Perang Balkan, peruntukan sejumlah 19.000 lira yang disediakan bagi

penubuhan universitas di Timur Turki atas permintaan Said Nursi sendiri. Setelah kembali

ke Wan, Said Nursi terus meletakkan batu pertama pendirian universitas tersebut di Irtamit

(Edremit), berhampiran dengan Tasik Wan (Zaidin 2001, hlm. 48-49). Kendati proyek

terebut tidak membuahkan hasil yang membanggakan disebabkan meletusnya Perang

Dunia I.

Meskipun sepanjang hidupnya dia selalu menentang segala pemberontakan dan

gerakan yang bermaksud memecah ketenteraman dan keteraturan masyarakat, dan selalu

menandaskan bahwa hak-hak setiap orang tidak boleh dilanggar meskipun demi

kepentingan seluruh masyarakat, dia dituduh membangun organisasi-organisasi rahasia

yang bertujuan menghancurkan ketenteraman masyarakat.

Ketika dalam persidangan dia ditanya pendapatnya tentang negara Republik Turki,

dia menjawab : “Biografi saya yang kalian pegang itu membuktikan bahwa saya ini warga

negara republik yang religius bahkan sebelum kalian lahir ke dunia. Dia ditahan selama 11

bulan di penjara sebelum akhirnya diputus tidak bersalah” (Salih 2003, hlm. 66).

Setelah dibebaskan, dia dipaksa tinggal di Kastamonu. Semula dia tinggal di lantai

teratas kantor polisi itu, kemudian dipindahkan ke sebelah rumah tepat dia seberangnya.

Dia menetap di Kastamonu selama tujuh tahun, dan beberapa bagian penting dari Risalah

93

Page 94: Tesis bagus

An-Nur ditulisnya disana. Selama masa ini, baik dia maupun para santrinya (dari

Kastamonu dan daerah-daerah lain) terus-menerus mendapatkan tekanan dari pemerintah.

Tekanan tersebut kian lama kian meningkat, dan berpuncak dengan penangkapan besar-

besaran dan pengadilan serta pemenjaraan di Denizli pada tahun 1943-1944. Dia dituduh

membentuk tariqah Sufi dan mengorganisir masyarakat politis. Meskipun tuduhan itu

akhirnya gugur, tetapi Said Nursi dikurung selama 9 bulan dalam sebuah sel yang kecil

sekali, gelap dan pengap dalam kondisi yang sangat menyedihkan sampai ia dibebaskan

pada tahun 1944:

Setelah dibebaskan, Said Nursi dikirim ke kota Emirdag, Propinsi Afyon agar menetap disana. Pada tahun 1948 sebuah perkara baru dibuka di Pengadilan Pidana Afyon. Pengadilan memvonis dia dengan semena-semena, tetapi vonis tersebut dibatalkan melalui banding, dan Said Nursi besrta murid-muridnya dinyatakan tidak bersalah. Setelah itu dia berpindah-pindah tempat tinggal seperti ke Emirdag, Isparta, Afyon, dan Istanbul. Pada tahun 1953 dia diadili sekali lagi, kali ini dengan tuduhan menerbitkan A Guide for Youth (Petunjuk bagi Para Pemuda), dan kembali dinyatakan tidak bersalah. Pada saat wafatnya di Urfah, 23 Maret 1960, yang mungkin bertepatan dengan Lailatul Qadar, penyelenggara pemakaman menemukan peninggalannya berupa sehelai surban, sepotong pakaian, dan uang dua puluh lira (Salih 2003, hlm. 67).

Said Nursi di depan pengadilan pernah menyampaikan pembelaan yang sangat

terkenal. Berikut ini akan kita kutip sebagian daripadanya:

Bapak-bapak hakim yang terhormat: Saya telah dihadapkan ke persidangan ini dengan tuduhan bahwa saya seorang yang telah menjadikan agama sebagai jalan untuk membuat kekacauan dan merusak keamanan umum. Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk menyampaikan pernyataan kepada Bapak-bapak sekalian:Dampak suatu perbuatan tidak bisa dituduh sebagai faktor penyebab suatu kasus sampai terjadi dan tidak dapat dituduh sebagai biang keladinya. Memang, bisa jadi batang korek api dapat membakar rumah. Tetapi kemungkinan ini tidak berarti sebagai biang segala tindakan kriminal. Aktivitasku yang hanya terfokus menggeluti ilmu-ilmu keislaman hanya dijadikan sarana untuk memperoleh ridha Allah, jauh bumi dari langit untuk dipergunakan selain dari itu. Bapak-bapak telah betanya: Apakah saya termasuk orang-orang yang aktif dalam kegiatan seperti yang dilakukan para pengikut thariqah sufisme? Pertanyaan ini saya jawab: Sesungguhnya era kita sekarang adalah era memelihara iman bukan era mempertahankan thariqah sufisme. Kelak di akhirat pasti akan banyak masuk syurga tanpa melalui thariqah sufisme. Tetapi seorang pun tidak akan ada yang masuk ke sana tanpa iman (Salih 2003, hlm. 67).

94

Page 95: Tesis bagus

Sebagai akhir perjuangannya Said Nursi memberikan peniggalan sejati yang tak

ternilai dari pahlawan Islam dan kemanusiaan ini, yang pada saat meninggalnya hanya

berbobot 40 kilogram, adalah Kumpulan Risale-i Nur setebal 6000 halaman, yang telah

diperkarakan di berbagai persidangan sebanyak sekitar 2000 kali hingga sekarang, dan

prinsip-prinsip mulianya yang merupakan dimensi yang tidak akan bisa dicatat dalam

catatan penyelenggara jenazah (Said Nursi 2003b, hlm. XV-XVI).

Karya Tulis

Sebelum mengenal karya tulis Said Nursi perlu diketahui bahwa

karya tulis Said Nursi banyak sekali, selain Kuliyatul Rasailin

Nur, Said Nursi juga memiliki karya-karya lain.

Risale-i Nur

Rilale-i Nur sekarang lebih dikenal "Kuliyatul Rasailin Nur" adalah

kumpulan kitab tafsir yang ditulis oleh Said Nursi yang diberi nama

"Risale-i Nur". Adapun yang dimaksud Risale-i Nur adalah kumpulan

tulisan Said Nursi berjumlah 14 jilid. Kumpulan tulisan 14 jilid inilah

yang disebut Risale-i Nur. Risale-i Nur adalah karya monumental Said

Nursi yang ditulisnya dengan tulisan tangan bersama muridnya yang

tebalnya berjumlah kurang lebih 6000 halaman, selain itu terdapat pula

karya-karya Said Nursi yang lain yang ditulis pada masa Said Lama dan

Said Ketiga. Berikut ini akan disebutkan bagian Risale-1 Nur karya tulis

Said Nursi selengkapnya adalah :

95

Page 96: Tesis bagus

Tabel 1Kumpulan Tulisan 14 Jilid Risale-i Nur

No. Judul BukuTahun

Perbitan

BahasaYang

Digunakan

Keterangan

1. Sozler 1926-1929 Turki Asli dan Masih Terbit2. Mektubat 1929-1932 Turki Asli dan Masih Terbit3. Lema’alar 1921-1932-

1934Turki Asli dan Masih

Terbit4. Su’alar 1936-1940 Turki Asli dan Masih Terbit5. Isyaratul Ijaz 1916-1918 Turki Asli dan Masih Terbit6. Mesnavi Nuriye 1922-1923 Arab dan

TurkiAsli dan Masih

Terbit7. Barla Lakihasi 1925-1930 Turki Asli dan Masih

Terbit8. Ermidag Lakihasi 1944-1949 Turki Asli dan Masih Terbit9 Kastamonu

Lakihasi1936-19 Turki Asli dan Masih

Terbit10. Tarihce Hayati 1948-1950 Turki Asli dan Masih

Terbit11. Asyari Musa - Turki Asli dan Masih

Terbit12. Iman ve Kufur 1948-1950 Turki Asli dan Masih

Terbit13. Sikke-i Tadikff

Qaibi

1948-1950 Turki Asli dan Masih

Terbit14. Muhakamet 1911 Turki Asli dan Masih

TerbitDemikian keempat belas kitab Risale-i Nur yang merupakan master peice

dari kitab-kitab Risale-i Nur. Di antara kitab-kitab Said Nursi di atas,

ada yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yakni

terdapat 33 Cahaya (al-lama'at) dalam buku Menikmati Takdir Langit,

29 Surat (al Maktubat)dalam buku Menjawab Yang Tak Terjawab,

Menjelaskan Yang Tak Terjelaskan, dan 12 Risalah (ar-Risalah) terdapat

dalam buku Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya (Epitomes of Light).

Secara global isi pokok dalam karya tersebut mengupas tentang aqidah

dan keimanan yang diindikasikan dengan ma’rifat Allah, ma’rifat

96

Page 97: Tesis bagus

Rasulullah, manhaj as-Sunnah; penguatan aspek ibadah, dan akhlak

atau adab-adab Islami dan lain-lain.

Kitab-kitab Lain

Dalam konteks ini, maka keberadaan Risale-Nur merupakan sumber dari pembahasan karya-karya Said Nursi yang ditulisnya menjadi kitab-kitab lain tersebut, adapun kitab-kitab lain yang ditulis oleh Said Nursi diklasifikasi :

Tabel 2Karya-karya Said Nursi

No.

Judul Buku danMakalah

Tahun Bahasa YangDigunakan

Keterangan

1. Talikat (mantik) - Arab Asli dan Masih Terbit2. Kull Icaz (mantik) - Turki Asli dan Masih Terbit3. Isarat - Turki Asli dan Masih Terbit4. Munazarat - Turki Asli dan Masih Terbit5. Divani Harbi- Orfi - Turki Asli dan Masih Terbit6. Sunuhat - Turki Asli dan Masih Terbit7. lserat - Turki Asli dan Masih Terbit8. Sunuat Nubuwuyat - Turki Asli clan Masih Terbit9. Hutbei Saniye - Turki Asli dan Masih Terbit10

.Nutqah min Ma’rifatillahJalla Jalahu

- Turki Asli dan Masih Terbit

11.

Nutuk (Khutbah, pidato)

- Turki 10 bush, Asli dan MasihTerbit12

.Hair Risalasi - Turki Asli dan Masih

Terbit13.

Geclik Rehberi - Turki Asli dan Masih Terbit14

.Konsferan Ankara - Turki Asli dan Masih

Terbit15.

Konsferan Ankara 1950

- Turki Asli dan Masih Terbit16

.Yirni Ucucu Soz - Turki Asli dan Masih

Terbit17.

Otuz Ucu Pencere - Turki Asli dan Masih Terbit18

.Nur Alemini Anahtari

- Turki Asli dan Masih Terbit19

.Uhuwet Risalesi - Turki Asli dan Masih

Terbit20.

Ramazan Iktire Risaleler

- Turki Asli dan Masih Terbit21

.Was Risafeleri - Turki Asli clan Masih

Terbit

97

Page 98: Tesis bagus

22.

Tabiat Risalesi - Turki Asli dan Masih Terbit23

.Haftimlar Rehberi - Turki Asli dan Masih

Terbit24.

Hastalar Risalesi - Turki Asli dan Masih Terbit25

.Sunnet Seniyye Risalesi

- Turki Asli dan Masih Terbit26

.Latief Nukteler - Turki Asli dan Masih

Terbit27.

Zahretin Nur - Turki Asli dan Masih Terbit28

.

Ayat-i Kubra - Turki Asli dan Masih

Terbit29

.

Meyve Risalesi - Turki Asli clan Masih

Terbit30

.

El Huccetuz Zahra - Turki Asli dan Masih

Terbit31

.

Hakekat Nurlar - Turki Asli dan Masih

Terbit32

.

Iman Hakikatleri - Turki Asli dan Masih

Terbit33

.

Miftahul Iman - Turki Asli dan Masih

Terbit34

.

Siracin Nur - Turki Asli dan Masih

Terbit35

.

Tilsinflar Mecmuast - Turki Asli dan Masih

Terbit36

.

Ecnebi Filozoflarm - Turki Asli dan Masih

Terbit37

.

Encebi Filozoflarin Sehadtleri

- Turki Asli dan Masih

Terbit38

.

Adfikar Mecmuasi - Turki Asli dan Masih

Terbit39

.

Nur Gegmesl - Turki Asli dan Masih

Terbit40

.

Tuluit - Turki Asli dan Masih

Terbit41

.

Runifiz - Turki Asli dan Masih

Terbit42

.

Tiryak - Turki Asli dan Masih

Terbit43.

Riale-I Nur Kulliyatindan Fihrist Risalesi

- Turki Asli dan Masih Terbit

Dari pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa dalam sejarah kehidupannya

Said Nursi berdasarkan riwayat pendidikan, aktifitas, kecerdasan dan otoritas keilmuannya

memiliki potensi sebagai seorang filosof sufi. Said Nursi telah menulis karya-karya yang

memberikan sumbangsih positif bagi dunia Islam dalam membangun nilai-nilai akhlak.

Said Nursi percaya bahwa kebahagiaan dan kemakmuran di dalam dunia ini

adalah berdiri di atas ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh peradaban zaman.

Adapun kunci utamanya menurut Said Nursi adalah akidah (keimanan) dan selalu merujuk

98

Page 99: Tesis bagus

pedoman hidup yakni al-Quran. Menguatkan iman dan memperkokoh akidah adalah jalan

hidup di dunia modern.

Risale-i Nur sebagai karya besar abad ke-20 itu adalah otentik dalam konteks isi

kandungannya melalui tinjauan politik dan sosial kultur yang memiliki bidang kajian yang

berbeda-beda jika dibahas.

Bab 4

ANALISIS PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN AKHLAK MENURUT

BEDIUZZAMAN SAID NURSI DAN RELEVANSINYA DENGAN

PEMBINAAN GENERASI MUDA

Pembahasan berikut ini terdiri dari 2 (dua) bagian merupakan analisis dari data

yang diperoleh terutama mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi,

kemudian data tersebut dikomperasikan untuk melihat relevansinya dengan

pembinaan generasi muda. Bagian pertama dibahas mengenai prinsip-prinsip

pendidikan akhlak mencakup ; menguatkan keimanan, berpegang teguh pada al-

Qur'an, memahami hakekat penciptaan manusia, memahami alam semesta,

memahami asma' al-husna, mengetahui tanda-tanda hari kiamat, meyakini hari

kiamat, meneladani Nabi Muhammad Saw., dan menanamkan ikhlas, takwa dan

sedekah. Bagian kedua, fokus bahasan pada prinsip-prinsip pendidikan akhlak

99

Page 100: Tesis bagus

dengan pembinaan generasi muda yang mencakup ; relevansi dengan akidah,

pandangan hidup, tujuan hidup, ibadah, tingkah laku, situasi kejiwaan, lingkungan,

dan tahapan perkembangan kepribadian generasi muda.

Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak Menurut Bediuzzaman Said Nursi

Berdasarkan refleksi dari defenisi operasional judul tesis ini yang dimaksud prinsip-

prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi adalah “Suatu komitmen

yang mendalam mengenai kehidupan menuju arah terciptanya perilaku lahir dan batin

yang seimbang (seperti Nabi) bagi generasi muda menurut pemahaman Bediuzzaman

Said Nursi". Hal ini berarti bahwa Said Nursi memiliki pemahaman tentang

komitmen-komitmen yang mendalam mengenai kehidupan menuju arah yang

diinginkan yaitu berperilaku seperti Nabi, yang sangat bermanfaat bagi generasi muda.

Adapun berdasarkan data yang ada, komitmen dasar yang dalam hal ini disebut

sebagai prinsip hidup atau prinsip pembinaan atau proses pendidikan akhlak yang

dikemukakan oleh Said Nursi dapat dirumuskan menjadi 9 (sembilan) prinsip, sebagai

berikut :

Menguatkan Keimanan

Iman bagi manusia sangat penting. Said Nursi memperhatikan secara

intensif mengenai keimanan ini, sehingga menjadi komitmen mendasar

baginya. "Prinsip menguatkan keimanan" ini benar-benar menjadi dasar

bagi setiap orang. Dengan kata lain, keimanan dapat dipahami sebagai

akidah atau tauhid. Dalam konteks tauhid ini Ismail Raji’ Al-Faruqi

menyatakan bahwa “esensi pengamalan keagamaan dalam Islam adalah

100

Page 101: Tesis bagus

tauhid yaitu pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (La illaha

illa Allah)” (Al Faruqi 1982, hlm. 30). Pendapat ini menguatkan bahwa

sebagian pengalaman hidup adalah pengalaman keagaman. Dimana

pengalaman keagamaan cenderung semakin meningkatkan diri kepada

Sang Maha Kuasa. Dalam konteks ajaran agama Islam, maka keimanan

mendalam meyakini secara penuh adanya Allah Swt, itulah tujuan

ciptaan tertinggi manusia.

Tujuan ciptaan yang paling murni dan fitrah manusia yang paling

tinggi ialah iman kepada Allah. Jika ditinjau dari aspek pengamalan

agama, tawaran-tawaran Said Nursi adalah penguatan keimanan

melalui ruh ketauhidan masuk dalam kehidupan manusia sampai ke

relung batin. Tauhid adalah dasar utama dalam menyatakan keimanan

secara sempurna. Hakekat keimanan secara menyeluruh dapat

dipahami melalui rukun iman.19

Menurut Said Nursi hakekat keimanan terdapat dalam kalimat

La Ilaha Illah yang merupakan mengakui secara totalitas kekuasaan

Allah. Mengenai ini Said Nursi menganggap bahwa “segala sesuatu

selain Allah tidaklah berasal dari sesuatu itu sendiri tetapi berasal dari

Allah Yang Maha Kuasa. Menganggap alam semesta berasal dari alam 19 Rukun iman terdiri dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-

rasul-Nya, hari kiamat, dan qadha dan qadhar. Rukun iman ini adalah akidah atau keimanan yang sudah panjang diperdebatkan. Bagi Ahlussunnah Wal-Jama’ah akidah adalah suatu hal yang asasi sekali dalam kehidupan seorang muslim. Karena akidahlah yang mendasari sikap, tingkah laku dan segala yang dikerjakannya. Bagi Ahlussunnah Wal-Jama’ah sangat mendukung doktrin rukun iman ini. (Syaikh Muhammad Shaleh al-‘Utsaimin, Aqidah Ahulus sunah wal Jama’ah, Yayasan al-Sofwa, Jakarta, 1995, hlm. 7-12). Namur, Said Nursi menekankan bahwa pernyataan tauhid Laa ilaaha Ilaallaahu tidak dipisahkan terhadap pengakuan Muhammaddur Rasulullah (Muhammad Rasul Allah) yang merupakan satu kesatuan tauhid, juga dalam realisasi amaliah kehidupan. Argumentasi Said Nursi menyatakan bahwa “Siapapun yang menyangkal Nabi Muhammad Saw yang merupakan kebanggaan semua makhluk dan kehormatan umat manusia karena mu’jizat-mu’jizatnya dan prestasi-prestasinya pasti tidak mungkin dapat menerima, Nur (cahaya) atau pasti tidak benar-benar mengenali Allah” (Said Nursi 2003b, Op. Cit. h1m. 465-466)

101

Page 102: Tesis bagus

semesta itu sendiri atau kuasa-kuasa material itu adalah suatu

kesalahan. Segala sesuatu mempunyai dua aspek : aspek pertama

mengacu kepada Pencipta sedangkan aspek yang kedua mengacu

kepada ciptaan” (Said Nursi 2003, hlm. 92).

Pada prinsipnya, pernyataan di atas menegaskan bahwa tidak

ada Tuhan selain Allah, alam bukanlah terjadi dengan sendirinya,

demikian pula segala sesuatu bukanlah terjadi tanpa campur tangan

Sang Pengusa. Said Nursi yakin bahwa segala sesuatu itu diciptakan

dalam 2 (dua) tahap, Pencipta dan Ciptaan. Sebagai seorang yang

beriman maka kita harus meyakini bahwa Allah adalah Pencipta dan

diluar Allah itu adalah Ciptaan.

Kalimat tauhid yang dipedomani Said Nursi bukan tanpa

hikmah, justru ungkapan kalimat La Ilaha Illah ini terdapat hikmah

mendalam yaitu Allah menjadikan segala sesuatu yang ada di jagad ini

bagaikan rangkaian kepingan-kepingan bermakna yang memantulkan

keesaan Allah rabb al-‘alamin. Eksistensi dan ketunggalan Tuhan, hari

kiamat, kitab suci, kerasulan takdir Ilahi dan keadilan dalam hidup

manusia, dan posisi serta kewajiban manusia di antara makhluk-

makhluk lainnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa para ateis dan naturalis

mempunyai pendapat yang menyimpang dari manifestasi keesaan Allah

Swt pada alam semesta dan manusia. Keyakinan pada kausalitas para

ateis dan naturalis melahirkan pernyataan-pernyataan seperti : “Alam

itu terwujud oleh sebab, alam terbentuk dengan sendirinya, dan alam

102

Page 103: Tesis bagus

itu terjadi tuntutan alam (Said Nursi 2003a, hlm. 333) dan lain-lain”

telah melahirkan materialisme, naturalisme, komunisme, bahkan

ateisme.

Said Nursi dalam kitab tafsir Risale-i Nur menafsirkan Laa

ilaaha illa Allah dan membongkar mitos kausalitas ini dan menunjukkan

bahwa mereka yang mengikuti keyakinan ini sebenarnya tidak melihat

dunia sebagaimana mestinya, atau bagaimana dunia itu tampak, tetapi

bagaimana dunia itu menurut pikiran mereka. Said Nursi justru melalui

Risale-i Nur menunjukkan hakikat kejadian alam, manusia, dan

peristiwa-peristiwa lainnya yang berada di bawah kendali Zat Yang

Maha Mengendalikan, Zat Yang Berkuasa atas segala sesuatu (Said

Nursi 2003a, hlm. 334).

Penjelasan di atas menegaskan setiap orang yang benar-benar

ingin memahami dunia ciptaan ini sebagaimana mestinya, dan bukan

atas kehendak imajinasinya, pasti akhirnya sampai pada kesimpulan

Laa ilaaha illah Allah. Dia akan melihat keteraturan dan harmoni,

keindahan dan kesimbangan, keadilan dan kemurahan, ketuhanan,

keberlangsungan dan keagungan dan sekaligus dia akan menyadari

bahwa semua atribut tersebut mengarah kepada benda-benda ciptaan

itu melainkan pada realita di mana semua atribut tersebut ada dalam

kesempurnaan dan keabsolutan. Dia akan melihat bahwa dunia ciptaan

ini adalah buku berisikan nama-nama, suatu indeks yang ingin

menceritakan Pemiliknya (Said Nursi 2003c, hlm. xxvii).

103

Page 104: Tesis bagus

Maka dapat diyakini bahwa sebenarnya keimanan menjadi

komitmen dasar dalam berakhlak. Dalam pandangan Islam, akhlak

merupakan cerminan dari apa yang ada dalam jiwa (al-qalb mir-u

al’amal). Akhlak yang baik terdorong dari keimanan seseorang karena

sesungguhnya iman selain diyakini dalam hati, juga harus ditampilkan

dalam perilaku nyata sehari-hari (Ali Anwar Yusuf 2005, hlm.81).

Keyakinan tauhid yang terangkum dalam rukun iman seharusnya

menjiwai dalam kehidupan manusia. Pendapat ini menguatkan bahwa

kunci dari akhlak adalah keimanan.

Adapun tingkat keimanan yang lain adalah kepastian yang

datang dari pengalaman langsung dengan kebenaran-kebenaran

keimanan. Ini tergantung dari keteraturan kita dalam beribadah dan

berpikir. Orang yang telah menguasai tingkatan keimanan ini dapat

menghadapi seluruh dunia ini. Jadi, tugas pertama, terutama dan

terpenting kita adalah mencapai tingkat keimanan ini dan mencoba

dengan kesungguhan demi ridha Allah Yang Maha Kuasa untuk

mengkomunikasikannya dengan orang lain.

Sehingga wajar sekali Said Nursi mengutip pendapat Imam

Rabbani – pemimpin yang berpengaruh dan murshid terkemuka dari

aliran nakshabandiah – mengatakan dalam suratnya, "Aku lebih suka

perkara keimanan diketahui dengan cara yang mudah dimengerti

daripada mencapai ribuan kenikmatan dan pencapaian rohani, ataupun

melakukan keajaiban-keajaiban ". Singkatnya, menguatkan keimanan

berupaya menegaskan bahwa tingkat keimanan yang pokok melalui

104

Page 105: Tesis bagus

pengalaman langsung dan berkomunikasi dengan orang lain untuk

memahami Islam secara integral, baik alam semesta, manusia dan

Tuhan.

Hal ini juga berarti bahwa secara tersirat dan tersurat Said

Nursi meyakinkan kepada seluruh manusia bahwa prinsip "menguatkan

keimanan" harus dilakukan oleh setiap manusia secara keseluruhan di

akhir abad ini secara bertahap dan istiqomah dan keimanan

mengajarkan untuk mengobati penyakit hati nurani.

Berpegang Teguh pada Al-Qur’an

Al-Qur'an berperan sebagai pedoman dan petunjuk menuju kebenaran

Allah Swt. Prinsip berpegang teguh pada al-Qur'an menjadi komitmen

dasar bagi Said Nursi. Berpegang teguh pada al-Qur'an berarti

manusia dituntut untuk mencapai kesempurnaan menuju Allah Swt.

Sedikitnya ada 3 (tiga) pertanyaan untuk memperkuat argument ini :

Apa sebenarnya al-Qur’an ? Mengapa al-Qur’an menjadi pedoman ?

Mengapa al- Qur’an menjadi sangat penting dalam mengenal Allahh ?.

Ketiga pertanyaan ini sangat penting dijawab, karena secara faktual

tanpa ada al-Qur’an maka manusia tidak akan mengenal Allah sebagai

Penciptanya.

Al-Qur’an adalah wahyu Allah atau kalam Allah. Al-Qur’an

merupakan wahyu Allah yang agung dan bacaan mulia serta dapat

dituntut kebenarannya oleh siapa saja, sekalipun akan menghadapi

tantangan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin canggih (Syafi’i

105

Page 106: Tesis bagus

2003, hlm. 53). Menurut Harun Nasution “wahyu berfungsi sebagai

pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan

keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban

manusia terhadap Tuhan” (Harun 2002, hlm. 81). Jadi, al-Qur’an pada

awalnya kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-nabi yang kemudian

disusun menjadi sebuah kitab ketika masa khalifa’urrasyiddin.20

Menurut Said Nursi al-Qur’an berasal dari Pencipta langit

beserta benda-benda langit dan bumi serta seluruh penghuninya. Al-

Qur’an yang membuat kita mengenal Tuhan semua alam (Said Nursi

2003a, hlm. 41-42). Said Nursi menuliskan :

Al-Qur’an adalah terjemahan abadi dari alam semesta, penerjemah

abadi ‘bahasabahasa’ yang menjelaskan tanda-tanda alami dari Allah

dan penafsir buku alam semesta. Al-Qur'an adalah penyingkap

rahasia khazanah Nama-nama Allah yang tersembunyi pada

‘lembaran-lembaran’ langit dan bumi, dan kunci semua kebenaran

yang berada di bawah garis kejadian-kejadian. Al-Qur’an adalah

20 Ketika Abu Bakar memimpin beliau menghadapi orang-orang yang enggan membayar zakat, karena itu beliau menyiapkan pasukan dan mengirimkanya untuk memerangi orang-orang yang murtad. Peperangan itu dikenal dengan perang Yamamah, perang itu terjadi pada tahun 12 Hijriyah. Dalam peperangan tersebut sekitar 70 orang penghafal at-Qur’an gugur. Umar bin Khatab merasa khawatir dengan kondisi ini lalu beliau mengusulkan kepada Abu Bakar untuk membukukan al-Qur’an dalam sebuah Mushaf, semula Abu Bakar merasa ragu-ragu namun akhirnya menerima usulan dari Umar bin Khatab. Abu Bakar memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk segera mengumpulkan al-Qur’an dalam sebuah Mushaf, ciri penulisan al-Qur’an pada masa Abu Bakar seluruh ayat Al-Qur’an dikumpulkan dan ditulis didalam sebuah Mushaf Lalu dilanjutkan penyusunannya oleh Umar bin Khatab menggantikannya. Pada masa Umar mushaf itu diperintahkan untuk disalin ke dalam lembaran (shafiafah) dan tidak menggandakannya, setelah selesai dari penulisannya naskah itu diserahkan kepada Habsah istri Nabi Muhammad Saw yang pandai membaca dan menulis. Pada masa Khalifah Usman bin Affan al-Qur’an disalin ke beberapa naskah dan dibukukuan atas usulan Khuzaifah, kemudian Usman meminta kepada Habsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Untuk melakukan tugas pembukuan ini Usman membentuk tim empat yang terdiri dari : Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-Ash, dan Abdul al-Rahman bin Harits. (Al-Brayary, Pengenalan Sejarah Al-Qur’an. RajaGrafindo persada, Jakarta, 1988, hlm 44)

106

Page 107: Tesis bagus

lidah dunia gaib dalam dunia material yang kasat mata, harta karun

Tutur ilahi yang abadi dan pertolongan yang baka dari Sang Maha

Pengasih. Al-Qur’an adalah landasan rancangan dan matahari bagi

dunia intelektual dan spritual Islam dan peta bagi alam akherat. Al-

Qur’an adalah penjelas, penafsir yang jernih, bukti yang fasih, dan

penerjemah yang lancar dari semua esensi, sifat, nama dan

perbuatan Allah; pendidik dan pelatih dalam dunia manusia dan

merupakan air bagi umat manusia dan pembimbing sejati yang

mengantarkan mereka kepada yang menciptakannya. Selain menjadi

kitab hukum bagi umat manusia, al-Qur’an juga merupakan kitab

kebijaksanaan bagi mereka. Selain menjadi kitab peribadatan dan

penghambaan kepada Allah, al-Qur’an juga berisikan perintah dan

ajakan. Selain menjadi kitab tentang senian, al-Qur'an juga

merupakan kitab perenungan. Al-Qur'an memang sebuah kitab

tunggal, tetapi memuat banyak kitab untuk semua kebutuhan umat

manusia. Ia bagaikan perpustakaan suci berisikan buku-buku dan

risalah-risalah yang berdasarkannya semua aulia, orang-orang

terkemuka, dan semua cendekiawan yang mulia dan suci hati serta

para pemikir dengan beragam pendekatan dan sikapnya mengambil

cara-cara yang khas satu dengan yang lain. Al-Qur'an menyinari

setiap cara ini dan menjawab kebutuhan para pengikut mereka yang

memiliki selera dan temperamen yang berbeda-beda (Said Nursi

2003a, hlm. 42).

107

Page 108: Tesis bagus

Menurut pandangan Said Nursi berdasarkan kutipan di atas,

setidaknya terdapat 6 (enam) pemahaman mengenai al-Qur’an yakni

Sebagai penerjemah, lidah, landasan, penjelas, tunggal dan sinar. Al-

Qur’an sebagal penerjemah bagi kehidupan manusia secara

rnenyeluruh. Sebagai lisan Allah yang selalu berbicara melalui kitab al-

Qur’an. Sebagai landasan dalam menjalani kehidupan. Sebagai

penjelasan bagi umat manusia tentang hakekat kehidupan. Sebagai

sesuatu yang tunggal untuk menjadi petunjuk dan penuntun manusia.

Sebagai sinar hati bagi manusia dalam menjalankan peran-peran

kehidupannya. Keenam pemahaman mengenai al-Qur’an di atas

menegaskan al-Qur’an menjadi pedoman penting bagi kehidupan

manusia, terutama dalam rangka pedoman berakhlak mulia.

Al-Qur’an yang bijaksana, yang membuat kita mengetahui Tuhan

kita, merupakan penerjemah abadi dari Kitab besar Alam Semesta ;

pembuka khasanah nama-nama Allah yang tersembunyi dalam halaman-

halaman bumi dan langit ; kunci kebenaran yang berada dibalik

rangkaian peristiwa ; khasanah karunia dari Yang Maha Pengasih dan

tempat-tempat abadi yang datang dari alam Ghaib dibalik tabir alam

yang kasat mata ini ; matahari alam rohani dan akal budi Islam serta

pondasi dan rancangannya, dan peta alam Akhirat ; penjelas, penafsir

yang jelas, bukti yang terang, penerjemah yang jelas dari esensi.

Sifat-sifat dan tindakan Ilahi, pendidik dan pelatih dunia

manusia serta pembimbing, pemimpin, dan kebijaksanaannya yang

benar. Al-Qur'an adalah kitab kebijaksanaan maupun hukum, dan kitab

108

Page 109: Tesis bagus

do’a dan ibadah, serta kitab perintah dan himbauan, dan kitab seruan

dan ilmu Allah. Al-Qur’an adalah kitab yang berisi kitab-kitab bagi

semua kebutuhan rohani manusia, dan dia seperti perpustakaan suci

yang menawarkan kitab-kitab dari semua wali dan manusia yang sangat

terpercaya dan semua ulama yang suci dan teliti dengan berbagai

tabiat telah memperoleh jalan khas bagi diri mereka masing-masing.

Al-Qur’an juga merupakan pendiri : ia adalah dasar dari agama

yang nyata, dan fondasi dunia Islam. Ia datang untuk mengubah

kehidupan sosial manusia dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan

yang sering diajukan dari kelas-kelas sosial yang berbeda. Kemudian al-

Qur’an berbicara tentang hal-hal penting itu dan kebenaran-kebenaran

yang sulit dipahami, sehingga diperlukan pengulangan di dalam

konteks yang berbeda untuk membuat pikiran dan kalbu manusia

terkesan dalam aspek-aspeknya. Apapun yang terjadi, pengulangan itu

tampak nyata. Senyatanya, kata mempunyai berbagai lapis makna,

manfaat yang banyak, serta banyak aspek dan tingkatan. Di dalam

masingmasing tempat, kata dan ayat tertulis dengan cara yang

berbeda, dalam konteks berbeda, untuk mencapai tujuan, makna, dan

manfaat yang berbeda.

Al-Qur’an menyebutkan masalah kosmologis tertentu dengan

cara yang ringkas dan sulit dipahami. Hal ini tidak bisa menjadi sasaran

kritik, dan bukan suatu kesalahan seperti yang dibayangkan oleh orang-

orang ateis. Sebaliknya, hal ini adalah cahaya kemukjizatan yang lain,

109

Page 110: Tesis bagus

karena al-Qur'an dimaksudkan untuk membimbing manusia (Said Nursi

2003, hlm. 272-273).

Dalam al-Qur’an penuh dengan pengetahuan dan kebenaran

yang mutlak sebagaimana menurut Said Nursi sebagai berikut :

Sesungguhnya, al-Qur'an, alam semesta dan manusia adalah tiga

jenis manipestasi dari satu kebenaran. Al-Qur'an, yang berasal dari

sifat firman Ilahiah, bisa dianggap sebagai alam semesta, yang

berasal dari sifat kuasa dan kehendak Ilahiah, bisa dianggap sebagai

al-Qur'an yang diciptakan. Jadi, dari sudut pandang ini, alam

semesta adalah pasangan dari al-Qur'an, yang tidak akan

bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, sekarang, saat sains

berjaya, dan juga kelak, yang akan menjadi zaman pengetahuan,

keimanan yang sejati harus didasarkan pada argumen dan

penyelidikan, juga pada pemikiran yang terus menerus terhadap

tanda-tanda Allah di alam semesta, pada fenomena, “alam”, sosial,

historis dan psikologis. Keimanan bukanlah sesuatu yang didasarkan

pada taglid yang membuta. Keimanan harus terjadi atas

intelektualitas atau nalar dan kalbu, keimanan menggabungkan

penerimaan dan penegasan nalar dan pengalaman serta penyerahan

kalbu (Said Nursi 2003c, hlm. xx).

Kutipan di atas menjelaskan bahwa keimanan merupakan

keyakinan awal bagi manusia memahami kehidupan. Pandangan yang

menganggap al-Qur’an adalah sebagai sumber segala pengetahuan itu

110

Page 111: Tesis bagus

bukanlah hal yang baru. Imam al-Ghazali misalnya dalam buku Ihya

‘Ulum Al-Din, beliau mengutip kata-kata Ibnu Mas’ud : “Jika modern,

selayaknya dia merenungkan al-Qur’an”. Selanjutnya beliau

menambahkan : “Ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam kaya-kaya

dan sifat-sifat Allah, dan Al-Qur’an adalah penjelas esensi, sifat-sifat,

clan perbuatan-Nya”. (Mahdi 2001, hlm. 137). Keimanan tidak dapat

dipisahkan dari petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalam al-Qur'an.

Melalui al-Qur’an muncul keyakinan atau keimanan secara mendalam

kepada Sang Pencipta yang dengan memahami alam semesta dan

mengerti proses penciptaan manusia adalah upaya untuk meningkatkan

keimanan itu sendiri.

Hal yang paling prinsip bagi Said Nursi dalam berpegang teguh

kepada al-Qur'an, ketika Said Nursi masih menetap di Wan, beliau telah

mendengar satu peristiwa yang telah meninggalkan kesan yang cukup

mendalam pada dirinya; yakni ketika Tahir Basha telah

memberitahukan kepadanya ucapan Gladestone (menteri Tanah Jajahan

Britain) dalam satu perhimpunan resmi kerajaan Britain, sambil

memegang sebuah mushaf al-Qur'an dan berkata ;

Ingiliz meclis-i meb'usani’nda mustenitekal naziri, elinde Kur'an-i

kerim gostererek Soyledigi bir nutukla: "Bu kur'an islamlarin elinde

bulundukca biz onlara hakim olamayiz. Ne yapip yapmaliyiz, bu

kur'ani onlarin elinden kaldirmaliyiz; yahut muslumanlari kur'andan

sogutmaliyiz diye hitabed bulunmus... " (Said Nursi 1999e, hlm. 47).

111

Page 112: Tesis bagus

Maksud perkataan tersebut : "Selagi al-Qur'an ini berada di

tangan orang-orang Islam (menjadi pegangan mereka), selagi itulah,

kita tidak akan mampu mengusai mereka. Oleh karena itu kita perlu

jauhkan al-Qur'an dari mereka". Setelah mendengar berita tersebut

Said Nursi tentu bangkit dan berkata : "Bediuzzaman'in bu havadis

uzerine: kur'anin sonmez ve sondurumez manevi bir gunes hukmunde

oldugunu ben dunyaya ispat edecegim ve gosterecegin! Diye bir niyet

ruhunda uyanir ve bu saikle calisir" (Said Nursi 1999e, hlm. 47-48).

Said Nursi berkata : "Akan aku buktikan kepada, dunia, bahwa al-

Qur'an adalah mentari maknawi yang tidak akan luntur sinarnya dan

tidak akan dapat dipadamkan cahayanya."

Demikian, yang mendasari komitmen Said Nursi dalam

berpegang teguh pada al-Qur'an dan menjaganya dari kejahatan musuh

Islam. Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa dalam konteks

ini berarti al- Qur’an merupakan informasi yang menjelaskan tentang

pentingnya tauhid atau keimanan sebagai rangkaian mengkokohkan

keyakinan. Kemudian, pentingnya al-Qur’an sebagai kalam Allah,

karena menceritakan dan mendeskripsikan secara implisit tentang

proses penciptaan manusia dan proses penciptaan alam semesta, yang

memperkuat pemahaman mengenai manusia, alam dan Tuhan.

Pentingnya, informasi al-Qur’an sebagai dan sumber rujukan bagi

akhlak untuk membentuk pribadi yang berakhlak. Sebab, melalui al-

Qur’an manusia memperoleh petunjuk, jalan, pedoman dan sumber

kehidupan bagi berakhlak mulia.

112

Page 113: Tesis bagus

Sesungguhnya, al-Qur'an, alam semesta dan manusia adalah

tiga, jenis manifestasi dari satu kebenaran. Al-Qur'an, yang berasal dari

firman Tuhan (ilahiah), bisa, dianggap, sebagai alam semesta yang

ditulis atau disusun, sedangkan alam semesta, yang berasal dari sifat

kuasa dan kehendak ilahiyah, bisa, dianggap sebagai al-Qur'an yang

diciptakan. Jadi, dari sudut pandang ini, alam semesta adalah pasangan

dari al-Qur'an, yang tidak akan pernah bertentangan dengan Islam.

Oleh karena itu, sekarang, saat sains berjaya, dan juga, kelak, yang

akan menjadi zaman pengetahuan, keimanan yang sejati harus

didasarkan pada argumen dan penyelidikan, juga pada pemikiran yang

terus-menerus terhadap, tanda-tanda, Allah SWT di alam semesta, pada

fenomena, alam, sosial, historis, dan psikologis (Said Nursi 2003b, hlm.

xiv). Tegasnya, keimanan bukanlah sesuatu yang didasarkan pada

taqlid membuta. Keimanan harus terdiri atas intelektualitas atau nalar

dan kalbu. Keimanan rnenggabungkan penerimaan dan penegasan

nalar dan pengalaman serta penyerahan kalbu.

Pentingnya Memahami Hakekat Penciptaan Manusia

Prinsip pentingnya memahami hakekat penciptaan manusia senantiasa berkaitan

dengan memahami makna hidup dalam konteks ajaran Said Nursi. Karena dengan

prinsip ini manusia mengerti keberadaan dirinya di muka bumi ini. Kehadiran manusia

di muka bumi ini memiliki beragam pertanyaan. Bahkan hampir sepanjang hidupnya

manusia harus belajar keberadaan dirinya (Said Nursi 2004, hlm. 17). Memahami hakekat

penciptaan manusia harus diiringi dengan iman. Iman adalah kunci keyakinan mendalam

113

Page 114: Tesis bagus

terhadap penciptaan manusia dan alam semesta. Keyakinan ini ditimbulkan melalui akal

atau penalaran dan hati nurani yang menyumbangkan peranan penting terhadap pemahaman

manusia. Baik mengenai manusia sebagai mikrokosmos maupun alam sebagai

makrokosmos.

Dalam konteks manusia sebagai mikrokosmos Ibrahim Hamzah

(2001, hlm. 9) menyatakan bahwa “manusia itu terdiri dari atas 2 (dua)

unsur, yaitu tubuh dan ruh jasad)”. Said Nursi secara implisit

menyatakan bahwa manusia tersusun dalam dua unsur pokok yakni

jasad sebagai material dan jiwa sebagai spritual. Intinya, Said Nursi

juga berpendapat bahwa manusia itu memiliki unsur “ruhani dan

jasad”. Pendapat ini sama seperti pendapat Ibn Miskawaih21 bahwa

hakekat manusia memiliki dua unsur yakni jiwa yang diketahui sebagai

wawasan spiritual berasal dari Allah, dan jasad sebagai wawasan

materialnya bermula dari alam materi. (Ibn Miskawaih 1979, hlm. 327).

Pernyataan Said Nursi mengenai manusia terdiri dari 2 (dua) unsur

yakni :

Jiwa yang terobesesi dengan penampilan meratap dengan putus asa

ketika menyaksikan rusaknya sesuatu yang dipuja-puja ketika terjadi

21 Ibn Miskawaih lahir di Rayy dan meninggal di Isfahan. Tahun kelahirannya diperkirakan 320H/932M dan wafat 9 Shafar 421716 Februari 1030. Ibn Miskawaih sepenuhnya hidup pada masa pemerintahan dinasti Buwaih (320-450H/ 1932-1062M) yang para pemukanya berpaham Syi’ah. Ia belajar sejarah dari Abu bakr Ahmad ibn Kamil al-Qadi. Pelajaran filsafat dari Ibn al-Khammar dan kimia dari Abu Thayyib. Ibn Misakwaih juga banyak bergaul dengan para ilmuwan seperti Abu Hayyan al Tauhidi, Yahya ibn Adi dan Ibn Sina. Pekerjaan utamanya adalah bendaharawan, sekretaris, pustakawan, pendidik anak para pemuka dinasti Buwaih. Dan ia juga dikenal sebagai dokter, penyair dan ahli bahasa. Menulis buku dan artikel sebanyak 41 buah. (Lihat antara lain Hasan Tamim, al-Muqaddimah dalam Tahzib al-akhlaq wa Tharir dalam artikelnya yang bejudul Fi al-'aql wa al-Ma'qul, diedit oleh Muhammad Arkoun dalam Arabica XI (1964), hlm. 85-87).

114

Page 115: Tesis bagus

bencana alam, sedangkan ruh yang mencari sebuah cinta abadi juga

meratap dan berkata “Aku tidak menyukai sesuatu yang seperti itu.

Aku tidak menginginkan, aku tidak menghendaki, perpisahan dan

aku tidak dapat menjalaninya”... Apabila kalian menginginkan

kekekalan di dunia fana ini, kekekalan lahir dari kefanaan.

Hancurkan dari dalam diri kalian tanpa harus menghancurkan

jasmani kalian, jiwa yang diperintahkan setan, sehingga kalian dapat

mencapai kekekalan... Bebaskan diri kalian dari moral-moral yang

buruk, yang merupakan dasar pemujaan duniawi, dan wujudkan

penghancuran hal-hal buruk dalam diri. Korbankan harta benda dan

kekayaan kalian di jalan Allah. Lihat akhir suatu wujud, yang

menandai kepunahan. Jalan setapak dari dunia ini menuju kekekalan

melintas melalui kehancuran-diri. (Said Nursi, 2003 hlm. 105) (Said

Nursi, Sozler, 2000a, kata ke-17).

Penyataan di atas memberikan gambaran bahwa Said Nursi

menyakini bahwa manusia itu memiliki unsur jasad dan unsur ruhani,

maka dapat dikatakan bahwa manusia jasad 2 terdiri dari jiwa dan

jad manusia adalah “small creation” atau sebagai “microcosmos”.22

Jasad adalah sebuah alat ruh yang memerintah dan mengendalikan

22 Perlu ditegaskan disini bahwa istilah jiwa akan disamakan dengan istilah ruh, karena jiwa dalam bahasa al-Qur’an adalah ruh. Dalam pembahasan ini tidak diselidiki lebih jauh mengenai penghubung antara ruh dan jasad yang berupa akal menurut istilah lbn Miskawaih dan hayat menurut istilah Harun Nasution. Tapi, dalam pembabasan penulis akan digunakan akal sebagai petunjuk perannya sebagai penggerak otak yang bekerja di pusat kepala.

115

Page 116: Tesis bagus

semua anggota sel dan partikel-partikel kecilnya (Ali 2002, hlm. 188).

Jasad akan berinteraksi dengan ruh karena manusia sebagai bentuk

makhluk ciptaan yang bisa dipahami melalui gerak fisik. Namun,

sebenarnya di dunia ini, ruh dibatasi di dalam “penjara” jasad. Apabila

nafsu dan keinginan duniawi mendominasinya, maka ruh tersebut pasti

tidak berharga dan orang tersebut binasa. Apabila ruh dapat

mengendalikan nafsu melalui iman, ibadah, dan perbuatan baik serta

membebaskan dirinya sendiri dari perbudakan keinginan duniawi, maka

ruh tersebut menjadi murni dan mencapai kesucian dan kemuliaan. Ini

akan membawa kebahagiaan baginya di dalam dua dunia (Ali 2002,

hlm. 193).

Jiwa dan jasad memiliki tingkatan sendiri dalam penciptaannya.

Jiwa atau ruh sebagai penciptaan tertinggi. Sedangkan materi (al-

ajsam) atau jasad penciptaan terendah. Pergerakan jasad manusia

bukanlah jiwa melainkan natur materi itu sendiri. Karena itu, gerak

jasad manusia bukanlah gerak melingkar tetapi berupa gerakan materi.

Namun demikian, pada diri manusia terdapat jiwa yang tertinggi yakni

al-nathiqat (berpikir). Jiwa berpikir ini hakekatnya adalah ruh yang

memanifestasikan pemahaman nama-nama Allah. Jiwa ini – dalam

bahasa al-Qur'an disebut al-ruh – yang ditiupkan oleh Allah Swt ketika

janin sudah ada dalam rahim selama empat bulan.23 Di mana jasad janin

23 Lihat beberapa ayat Al Quran yang menjelaskan persoalan ini misalnya 1) Surat al-Hijr (15) ayat 28-31, 2) Surat al-Sajadat (32) ayat 7-9, 3) Surat Shad (38) ayat 71-74. Adapun sabda, Nabi Muhammad Saw memberikan penjelasan lebih lanjut tentang hal ini antara lain sebagai berikut : (Kamu diciptakan dalan kandungan ibu selama empat puluh hari berupa nuthfah, selama itu pula berupa gumpalan darah, selanjutnya selama itu pula gumpalan daging, kemudian dikirimlah malaikat dan ia hembuskan ruh ke dalamnya ....) Riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat hadis keempat dari kitab .A1-Arbain a1-Nawawiyyat oleh al-Imam al Nawawi (Cirebon, Mathba’at Indonesia, tt, hlm. 16-17).

116

Page 117: Tesis bagus

manusia sudah tumbuh dan berkembang karena natur materinya

sendiri sebelum ar-ruh ditiupkan Allah.

Dalam konteks penjelasan mengenai unsur ruhani Ibn

Miskawaih agaknya memberikan pemahaman dua segi. Pertama, unsur

ruhani yang memang sudah ada pada natur jasad sebagai daya gerak

dan berfungsi bagi tumbuh dan berkembangnya badan, dan kedua,

unsur ruhani yang berasal dari Tuhan yang datang setelah janin

berumur empat bulan dalam kandungan ibu. Pemahaman ini

menegaskan terhadap daya yang ada dalam diri manusia. Sebagaimana

umumnya para filosof menyebutkan ada 3 (tiga) daya jiwa yang ada

dalam diri manusia. Daya-daya tersebut adalah : 1) Daya bernafsu (al-

nafs al bahimiyyat) sebagai daya terendah, 2) Daya berani (al-nafs al

sabu'iyyat) sebagai daya pertengahan, dan 3) Daya berpikir (al-nafs al-

nathiqat) sebagai daya tertinggi.24 Ketiga daya ini merupakan unsur

ruhani manusia yang asal kejadiannya berbeda.

Menurut keterangan Ibn Miskawaih bahwa unsur al-nafs al-

bahimiyyat (daya nafsu) dan al-nafs al-sabu’iyyat (daya berani) berasal

dari unsur materi akan hancur bersama hancurnya badan. Sedangkan

al-nafs nathiqat (daya pikir) tidak akan mengalami kehancuran (Al-

Ghazali 1957, hlm. 287). Sesuai dengan pemahaman ini Said Nursi

24 Ketiga istilah di atas digunakan oleh Ibn Miskawaih Lihat Ibn Miskawaih, Tahzib al-Akhlaq, diedit Hasan Tamim, Bairut, Mansyurat Dar Maktabat al-Hayat, 1398 H, hlm. 62. Sedangkan Al Kindi menggunakan istilah al-quwwat al-syahwaniyyat untuk daya nafsu, al-quwwat al-ghadabiyyat untuk daya berani dan al-quwwat al-nathiqat /al-‘aqilat untuk daya berpikir. Lihat Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, Jakarta, UI Press, 1983 hlm. 9. Sedangkan Ibn Sina menggunakan al-nafs/al-quwwat al-nabatiyat, al-nafs al-quwwat al-hayawaniyat, dan al-nafs al-insaniyyat. Lihat al-Najah, Mesir, Mushthafa al-Babi al-Halabi, 13.57 H, hlm. 158.

117

Page 118: Tesis bagus

mengapresiasi daya-daya itu dalam sifat-sifat mulia manusia yang

menjadi doktrin-doktrin utamanya.

Pertama, unsur jiwa al-nafs al-bahimiyyat (daya nafsu) dalam

diri manusia akan mempengaruhi gerak jiwa dan kecenderungan

manusia untuk melakukan hal-hal yang bersifat sosial dan cenderung

bekerja keras untuk memperoleh sesuatu, yang tentunya tampak serasi

dengan sifat ash-shadaqah (sedekah). Orang yang memiliki

kecenderungan sedekah ini lambat laun akan terbina dan terbentuk

karekteristik jiwa dermawan dan akan menjadi manusia dermawan.

Kedua, unsur jiwa al-nafs al-sabui'iyyat (daya berani) dalam diri

manusia akan mempenganihi gerak jiwa dan kecenderungan manusia

dalam hal-hal bersifat mencapai kondisi jiwa suci dalam pandangan

Alalh dan meningkatkan kinerja dengan ibadah untuk memperoleh

sesuatu, yang tentunya tampak serasi dengan sifat at-taqwa (takwa).

Orang yang memiliki kecenderungan keberanian ini lambat laun akan

terbina dan terbentuk karekteristik jiwa takwa dan akan menjadi

manusia ulil albab.

Ketiga, unsur jiwa al-nafs nathiqat (daya pikir) dalam diri

manusia akan mempengaruhi gerak jiwa kepasrahan terhadap Allah

dan ciptaan-Nya dan kecenderungan manusia dalam hal-hal bersifat

teologis, daya nalar bekerja untuk memadukan keikhlasan dalam hidup.

Orang yang memiliki kecenderungan ikhlas seperti ini lambat laun akan

terbina dan terbentuk karekteristik jiwa ikhlas dan akan menjadi

manusia sufi.

118

Page 119: Tesis bagus

Pentingnya Memahami Alam Semesta

Said Nursi dalam Risale-i Nur mengatakan “mengapa al-Qur’an tidak

membahas alam semesta seperti yang dibahas dalam filsafat dan sains

modern?”. Pertanyaan ini sekaligus menjelaskan kalau Said Nursi

meyakini bahwa alam semesta merupakan manifestasi dari nama-nama

Allah yang harus dijadikan komitmen mendasar dalam membina diri

menuju kesempurnaan menuju Allah.

Said Nursi sangat yakin bahwa penciptaan alam semesta adalah

bukti keesaan, kebesaran asma Allah. Menurutnya ada 3 (tiga)

ungkapan yang mengkhawatirkan bagi kaum beriman : Pertama,

ungkapan terwujud oleh sebab, “karena sebab itulah yang menjadikan

entitas tertentu itu ada”. Kedua, terbentuk dengan sendirinya, sesuatu

terbentuk dengan sendirinya serta mewujudkan dirinya sendiri,

sehingga menjadi seperti apa adanya. Ketiga, tuntutan alam yakni

sesuatu yang bersifat alami. Alamlah yang mewujudkan dan

menentukan keberadaanya (Said Nursi 2003a, hlm. 333).

Ketiga pendapat di atas adalah refleksi dari kesimpulan

pandangan yang selama ini masih bergulat. Dalam menyikapi

pandangan di atas Said Nursi mengatakan “Jika secara tegas terbukti

bahwa tiga jalan yang pertama mustahil, batil dan tidak mungkin, maka

119

Page 120: Tesis bagus

dengan sangat nyata dan gamblang, jalan keempatlah yang benar. Jalan

tersebut adalah jalan menuju keesaan Sang Pencipta yang bersifat pasti

tanpa ada keraguan di dalamnya“. (Said Nursi 2003a, hlm. 334).

Ditegaskan Said Nursi bahwa kekuasaan Sang Pencipta Yang Maha

Kuasa dan Agung itulah yang telah menciptakannya.

Dapat dikatakan jika alam yang menjadi sandaran kaum

naturalis itu memiliki wujud hakiki yang tampak secara lahiriah, maka -

sesungguhnya wujud tersebut hanyalah ciptaan Sang Pencipta, bukan

Pencipta. Ia hanyalah ukiran, bukan si Pengukir. Ia hanyalah kumpulan

hukum, bukan si pembuat hukum. Ia hanyalah syariat fitriah, bukan si

pembuat syariat. Ia hanyalah tirai yang tercipta, bukan si pencipta. Ia

hanyalah objek bukan pelaku. Ia hanyalah kumpulan aturan, bukan Zat

yang berkuasa. Serta ia hanyalah goresan bukan sumber. Ditegaskan

lagi oleh Said Nursi bahwa “alam itu merupakan kumpulan konsep

bukan yang menentukan konsep” (Said Nursi 2003b, hlm. 349).

Jelaslah bahwa alam semesta sebagal makrokosmos “big

creation” adalah bukti kebesaran asma Allah. Pemahaman terhadap

alam ini bagian dalam upaya, meningkatkan untuk pembinaan akhlak.

Ketika kita mengetahui, mengerti dan memahami bahwa Allah sebagai

Pencipta alam, maka ketika melihat alam semesta akan berpengaruh

dalam tingkah laku, sikap dan cara berpikir kita dan mendorong jiwa

untuk beriman secara istiqomah dan totalitas kepada Allah.

Pentingnya Memahami Asma’ al-husna

120

Page 121: Tesis bagus

Prinsip pentingnya memahami asma’ al-husna menjadi komitmen

mendasar bagi Said Nursi karena, di kitab tafsir Risale-i Nur kalau

dicermati secara mendalam dibahas oleh Said Nursi hampir di semua

kitabnya secara terintegrasi. Tapi, secara khusus Said Nursi

menjelaskan asma’ al-husna dalam kitab Lem'alar pada “Cahaya Ketiga

Puluh berjudul Asma’ al-husna”. Kita tahu bahwa dalam, pandangan

ulama asma' al-husna berjumlah 99 nama-nama Allah. Namun, menurut

Said Nursi dalam "Cahaya Ketiga Puluh" menjelaskan bahwa Allah

memiliki al-Ismu al-Azhom (nama-nama Allah yang paling agung).

Al-ismu al-A'zhom tidaklah sama dalam pandangan setiap orang.

Misalnya menurut Imam Ali ra. Ia terdiri 6 (enam) nama, keenam nama

tersebut adalah al-Quddus, al-Adl, al-Hakim, alFard, al-Hai, dan al-

Qayyum. Adapun menurut Abu Hanifah an-Nu’man ra. Ia terdiri atas 2

(dua) nama yakni Hakam dan Adl. Sedangkan menurut Syaikh Abdul

Qadir al-Jilam ia hanya satu yakni : Ya Hayyu. Menurut Imam Rabbani

(Ahmed al-Faruq as-Sirhindi) ra. ia hanya satu yakni alQayyum.

Demikian seterusnya, para ulama besar dan istimewa lainnya mengarah

pada nama Tuhan yang berbeda. Begitu pula Said Nursi menurutnya

asma' al-husna yang dapat dikategorikan sebagai al-ismu al-azhom

dalam Risale-i Nur difokuskan kepada keenam nama tersebut adalah al-

Quddus, al-Adl, al-Hakam, al-Fard, al-Hay dan al-Qayyum.

Said Nursi mengibaratkan bahwa cahaya suci yang berasal dari

perpaduan enam cahaya nama Tuhan sebagaimana, perpaduan tujuh

warna sinar mentari. Said Nursi menyimpulkan bahwa dari balik nama

121

Page 122: Tesis bagus

al-Qayyum memberikan sifat tetap dan permanen. Dapat disaksikan

bahwa manifestasi al-hayy telah menjadikan seluruh makhluk hidup itu

bersinar lewat tampilannya yang cemerlang. Ia telah membuat seluruh

entitas bercahaya lewat cahanyaNya yang berkilau sehingga gemerlap

cahaya kehidupan dapat terlihat pada seluruh makhluk hidup yang ada

(Said Nursi 2003a, hlm. 695).

Kemudian manifestasi agung dari nama al fard dari batik nama

al-hayy. Nama tersebut mencakup seluruh entitas alam berikut ragam

jenis dan bagiannya serta melingkupinya dalam satu kesatuan. Ia

mencetak bagian depan setiap entitas dengan stempel keesaan

sehingga segala sesuatu menginfomasikan manifestasiNya lewat aneka

lisan yang tak terhingga jumlahnya.

Dari balik nama al-Fard terdapat manifestasi nama al-Hakam.

Engkau akan melihat bagaimana nama tersebut mencakup seluruh

entitas dari daerah yang paling luas hingga yang paling kecil, baik yang

global maupun yang parsial – mulai dari bintang hingga atom. Ia

memberikan kepada setiap entitas sebuah tatanan efektif yang layak

untuknya, sebuah keteraturan penuh hikmah yang sesuai dengannya,

serta keselarasan berguna yang tepat baginta. Nama al-Hakam telah

menghiasi seluruh entitas dengan manifetasinya yang cemerlang.

Lalu dari balik manifestasi nama al-Hakam perhatikanlah

manifestasi agung dari nama al-adl. Nama agung al-Adl menguasai

seluruh entitas dalam perbuatan Tuhan yang terus menerus lewat

neracanya yang akurat, ukurannya yang cermat, dan timbangannya

122

Page 123: Tesis bagus

yang adil di mana ia menjadikan seluruh akal tercengang sekaligus

kagum. Seandainya semua bintang kehilangan keseimbangan selama

satu detik saja atau terputus dari manifestasi nama al-Adl niscaya

seluruh bintang yang ada akan bertubrukan dan hal itu tentu saja akan

menyebabkan kiamat.

Dari balik manifestasi nama al-adl, perhatikanlah manifestasi

nama Allah alQuddus yang telah membuat seluruh entitas begitu

bersih, suci, murni, dan indah. Ia telah mengubahnya menjadi semacam

cermin indah bersinar yang layak untuk memperhatikan keindahanNya

yang mutlak serta pantas untuk menampakkan berbagai manifestasi

namanama-Nya yang mulia. Dan uraian ini dapat disimpulkan bahwa

enam nama dan cahaya agung telah meliputi seluruh alam, menutupi

seluruh entitas, serta membungkusnya dengan tirai yang dihiasi dan

diwarnai oleh beragam warna yang paling cemerlang oleh beragam

goresan yang paling indah, serta oleh beragam hiasan yang paling

mengagumkan.

Dari keseluruhan mengenai prinsip asma' al-husna di atas dapat

dipahami bahwa asma' al-husna Said Nursi memiliki kecenderungan

sama dengan ulama masa lalu yang meyakini 99 nama-nama Allah,

namun dari segi metode penerapan pandangan terjadi perbedaan. Said

Nursi cenderung memandang ada 6 (enam) nama-nama Allah yang

dikategorisasikan sebagai asma'ul adzam (Nama yang agung) dan Said

Nursi yakin sifatsifat Allah adalah bentuk manifestasi dari asma' al-

husna. Manifestasi pemahaman asma' al-husna penting dalam

123

Page 124: Tesis bagus

pembentukan manusia yang berakhlak dan asma' al-husna menjadi

landasan diri berkepribadian akhlak mulia.

Pentingnya Mengetahui Tanda-tanda Akhir Zaman

Prinsip pentingnya mengetahui tanda-tanda akhir zaman menjadi

bagian yang mendorong peningkatan keimanan bagi Said Nursi, karena

manusia sekarang sudah memasuki fase penghabisan dari

panjangannya zaman yang sudah lama berlalu. Adapun tanda-tanda

akhir zaman ini banyak sekali, namun pada prinsipnya terdapat

beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai tanda-tanda hari kiamat

yang patut diketahui oleh manusia, yaitu :

1) Munculnya Dajjal dan Sufyan

Salah satu akan tibanya hari kiamat munculnya Dajjal (AntiKristus) dan

Sufyan25. Dajjal atau Anti-Kristus akan muncul dalam dunia non-muslim

dan Sufyan yang akan muncul dalam dunia Muslim. Keduanya adalah

Dajjal dan Sufyan terbesar yang akan muncul di dunia setelah Nabi

Muhammad. Sumber-sumber Islam menyebutkan dari Nabi Muhammad

bahwa lebih dari 30 Dajjal akan muncul sesudah dia, dan yang lebih

penting untuk diperhatikan menurut Nabi Muhammad adalah Dajjal

25 Dajal berasal dari kata dajal artinya tertutup oleh sesuatu, pembohong, penipu. Said Nursi menjelaskan bahwa dajal adalah manusia seperti manusia lain. Dia adalah seorang konspirator, iblis tolol yang melupakan Allah. Dia mendewakan diri sendiri karena kepemimpinannya yang zalim, kemegahan kelaliman yang nyata. Tetapi tren ateisme yang dia tampilkan sangat besar mengacu kepada tren ini. Kebesaran Dajal bukan secara fisik, tapi lebih cenderung kepada kekuatan pengaruh. Surga palsu yang diciptakan Dajal adalah daya pikat peradaban modern (Said Nursi 2003b, hlm. 86). Sedangkan yang dimaksud Sufyan adalah seorang muslim yang memiliki pengetahuan luas dan memiliki kekuasaan.

124

Page 125: Tesis bagus

yang muncul tidak lama sebelum hari kiamat adalah yang paling

berhahaya dan merusak.

Maksudnya adalah cerita-cerita sejenis ini perlu ditekankan,

walaupun pada dasarnya tidak banyak menyebutkan orang-orang

mereka (atau siapa sebenarnya Dajjal), tapi bagi kalangan filosuf,

pemikir dan kaum mistik atau sufitik yang mampu menangkap pertanda

ini. Karena interpretasinya berwujud ideologi, masyarakat dan sistem

yang akan mereka bangun dalam semua aspek kehidupan.

Beberapa isyarat yang ditulis oleh Said Nursi mengenai Dajjal

dan Sufyan sebagai berikut : Pertama, mengenai Sufyan, menurut Said

Nursi bahwa tangan-tangan Sufyan akan mencengkram yang berarti

Sufyan akan menjadi banyak dan membangkitkan pemborosan dan

kekejian. Nabi Muhammad bersabda Seorang yang mengerikan akan

muncul menjelang kiamat dan ketika dia bangun di pagi hari, dia dapati

bahwa di keningnya tertulis kafir. Yang berarti Sufyan akan menjadi

seorang pembelot dan imitasi dari orang kafir dia akan memaksa

manusia untuk berpakaian seperti dunia non-Muslim.26 Sedangkan yang

paling nyata adalah kejadian di Turki ketika Mustafa Kemal Attaruk

yang Muslim menjadi imitasi Inggris yang kafir untuk menciptakan

surga di dunia. Pada kenyataan masyarakat Turki yang Muslim telah

26 Dan ini terdapat beberapa indikasi yang menjadi tanda-tanda, misalnya di Indonesia ada Jaringan Islam Liberal (JIL) silahkan simak tema-tema yang dikembangkan oleh JIL yakni "perempuan menjadi imam", "menolak formalisasi jilbab", "menolak kebangkitan khalifah", "terus-menerus mempersoalkan teks al-Qur'an" dan sebagainya dengan sangat bombastik yang mengarahkan ke dalam kerusakan akidah, akhlak dan syariat, walau belum bisa digeneralisasi secara umum.

125

Page 126: Tesis bagus

kehilangan nilai moral, sampai sekarang semakian marak di Turki pola

kehidupan “liberalisasi seks dan liberalisasi berpikir”.27

Kedua, mengenai Dajjal, Nabi bersabda para diktator yang akan

muncul sebelum menjelang hari kiamat termasuk khususnya Dajjal dan

Sufyan akan mendapatkan surga dan neraka semu. Yang berarti semasa

mereka manusia akan dicekoki dengan kesenangankesenangan dan

kenikmatan duniawi dan perbedaan-perbedaan di antara kelas-kelas

sosial akan meningkat dengan konsekuensi akan terjadi

pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah. Oleh karena itu

tempat-tempat kesenangan dan kenikmatan serta penjara dan tempat-

tempat siksaan yang serupa akan berdiri berdampingan.

Ketiga, Nabi bersabda Menjelang kiamat tidak akan ada seorang

pun yang menyembah Allah dan menyebut Nama-Nya sebagai

manifestasi ibadah. Ini berarti bahwa tempat-tempat di mana Allah

disembah dan Namanya disebut akan ditutup dan jumlah orang-orang

yang taat beribadah akan menurut secara drastis. Sesat menjelang

kehancuran dunia Allah akan mencabut nyawa orang-orang beriman

dan dunia akan dibinasakan di atas kepala orang kafir.

Keempat, Nabi bersabda orang-orang mengerikan tertentu yang

akan muncul sebelum kiamat seperti Dajjal mengklaim bahwa dirinya

Tuhan dan membuat orang-orang sujud di hadapan mereka. Orang-

orang ini akan mendapat kekuatan mereka sebagian besar dari trend

27 Dengan bahasa yang isyarat Said Nursi berpendapat bahwa Mustafa Kemal Attaruk adalah Sufyan. Said Nursi untuk mengkokohkan akidah umat disamping tesisnya yang menyatakan bahwa "pasca runtuhnya kerajaan Turki Ustmani dan ketika terjadi kekacauan global — tepatnya 1920-1940 — adalah awal dari pertanda akhir zaman".

126

Page 127: Tesis bagus

ateistik dan materialistik dan menganggap diri mereka sendiri memiliki

kekuatan Tuhan. Patung-patung mereka akan dibuat manusia akan

dipaksa untuk menunduk di depan mereka sebagai cara pemujaan.28

Kelima, Nabi bersabda kekejaman dan peperangan yang akan

muncul sebelum kiamat akan sangat menyebar luas dan berkuasa

sehingga tidak ada seorang pun dapat mengendalikan tiubuh mereka

untuk melawan mereka. Bahwa kehidupan keji akan menggoda banyak

orang yang akan menurutinya begitu saja, karena memang saat ini

modernisasi yang materilistik-konsumeris telah tidak terkendali. Ini

dikarenakan oleh dimensi-dimensi kekejian dan kesenangan

mengerikan yang akan muncul sebelum hari kiamat atas permintaan

Nabi hampir semua Muslim telah berlindung kepada Allah selama 14

abad dari kekejian yang akan ditimbulkan oleh Dajal.29

Keenam, Nabi bersabda Sufyan akan menjadi seseorang yang

berpengetahuan luas dan memukau banyak ilmuwan. Ini berarti

mekipun tanpa alat kekuasan dan ketergantungan semacam kerajaan,

28 Kejadian ini jelas ketika di Turki Mustafa Kemal Attaruk yang patungnya di mana-mana dibuat dan kepala dipaksa untuk tunduk dibawah tekanan aturan dan militer dan memang nyata di kaji dari sejarah-sejarah kerutuhan Turki Usmani yang disebabkan ambisi Barat menguasai dunia.

29 Pada masa Islam kepercayaan Tuhan masih d1yakini juga ketika terjadi henelisasi ilmu kemudian kristenisasi ilmu kemudian islamisasi ilmu dan yang menghancurkan ketika terjadi westernisasi ilmu yang tidak menyakin adanya Tuhan, di dunia Islam terjadi sekulerisasi ilmu yang sangat hebat, dan akhir-akhir ini kesadaran umat Islam mulai muncul sejak dicetuskannya pan islamisme oleh Jamaluddin Al Afgani menjelang akhir abad ke-19 diteruskan oleh ilmuwan muslim lainnya yang muncul kemudian sebuah fenomena kebangkitan Islam global. Sekarang menurut beberapa ilmu terjadi naturalisasi ilmu yang terjadi tidak hanya di dunia Islam tapi juga Kristen dan Yahudi. Karena fenomena materialisme dan perangkatnya melalaikan manusia. Tapi mengenai yang gaib hanya Allah yang tahu).

127

Page 128: Tesis bagus

suku, kekayaan dan keberanian, Sufyan akan mencapai kekuasaan

karena memiliki kapasitas yang merangsang dan kecerdasan politik.

Dia mengekang pendidikan agama. Sebagian besar karena kenikmatan

hidup, banyak ilmuwan dan pendidik agama mendukung dia dan

rezimnya.30

Untuk kejelasan ilmiahnya bahwa adalah metode ilmiah yang

dirumuskan ilmuwan muslim yang meminjam teori Aristoteles yang

masih memposisikan Tuhan sebagai Pencipta Pertama, dalam konteks

ini pengkajian terhadap ciptaan Tuhan berarti pengakajian terhadap

karya kreatif Tuhan sehingga dengan itu diharapkan seorang ilmuwan

muslim akan bertambah keyakinan dan ketakwaan kepada Allah.

Sedangkan teori yang di Barat telah menimbulkan begitu banyak reaksi

dari kalangan umat Kristen, seperti teori evolusi sebenarnya juga telah

dikembangkan dengan baik oleh para pemikir terkenal seperti Al-

Jahizh, Miskawaih dan khususnya Jalaluddin Ar-Rumi berdampingan

dengan teori-teori kreasionis, sekali lagi sejauh tidak secara langsung

bertabrakan dengan prinsip-prinsip fundamental keyakinan agama.

Namun sangat disayangkan teori-teori mereka secara terus

terang melanggar dan menentang prinsip-prinsip ajaran pokok agama,

seperti terhadap penolakan terhadap eksistensi Tuhan, malaikat, hari

30 Mengenai Sufyan ini dapat dipahami misalnya dapat dilihat di Rusia pengaruh Lenin begitu dahsat. Adam Smith dengan menggusur kapitalisme. Karl Marx dengan komunismenya dan Hitler dengan fasismenya juga mewarnai penyesatan dan melenakan umat manusia. Di Turki misalnya muncul Mustafa Kemal Attaruk yang menjajahkan ide sekulernya berdasarkan "perintah" Inggris. Kenyataan di Turki seluruh madrasah ditutup dan pelarangan menggunaan jilbab. Di Indonesia perdebatan mengenai UU Sisdiknas selalu dengan perbedaan pendapat berdasarkan kepentingan agama yang diciptakan dunia Barat ketika menjajah bangsa Indonesia. Perlu ditegaskan bahwa saat ini adalah akhir zaman.

128

Page 129: Tesis bagus

akhir, kenabian dan sebagainya. Sebenarnya Islam sebagai agama tidak

bisa menoleransinya karena hal itu telah dipandang sebagai

penyimpangan prinsip etos keilmuan Islam yang sejati. Pada prinsipnya

Islam membolehkan pengkajian pada bidang-bidang yang sangat luas

mulai dari fisika, matematika bahkan metafisika. Seharusnya hasil sains

modern dapat diterima sebagai sarana yang baik untuk lebih mengenal

kebesaran Tuhan. Dunia Barat tidak demikian. Newton dan fisikawan

modern misalnya gravitasi dianggap sebagai gaya-gaya yang

independen bersama dengan gaya elektromagnektik, gelombang nuklir

lemah dan kuat, namun oleh pemikir muslim seperti Ibnu Sina dan Al

Farabi gaya alami itu memiliki sumbernya pada entitas-entitas

supernal, seperti akal aktif yang merupakan utusan Tuhan untuk

mengurusi dunia bawah-bulan, termasuk memberikan bentuk pada

benda-benda di bawah bulan atau jiwa benda-benda angkasa lainnya

yang memancar dari Tuhan lewat emanasi. Darwin misalnya

menyatakan evolusi bersifat independen atau otonom seperti seleksi

alam yang dipandang sebagai hukum independen dan

bertanggungjawab pada evolusi organik termasuk penciptaan spesies-

spesies, sebagaimana Perire Laplace yang menyatakan peran Tuhan

sebagai pengatur dan pemelihara alam telah digantikan hukum

mekanik. Dan masih banyak lagi contoh mengenai mungkin Dajal-dajal

yang muncul berupa ilmuwan yang menyesatkan. Sedangkan Sufyan-

sufyan dalam dunia Islam muncul dengan usaha-usaha

mensektilerisasikan baik pemikiran maupun pola hidup, titik tolaknya

129

Page 130: Tesis bagus

ketika terjadi keruntuhan Turki Usmana pada tahun 1920-an diikuti

oleh sekulerisasi oleh Mustafa Kemal Attaruk, dunia Islam bertikai

dalam keluarga besarnya.

Ketujuh, Nabi Bersabda hari pertama Dajjal adalah sama

dengan satu tahun sedangkan hari keduanya sema dengan satu bulan

hari ketiganya sama dengan satu minggu dan hari keempatnya adalah

satu hari. Hadis yang menakjubkan ini berarti bahwa Dajjal akan

muncul di utara dan bergerak menuju selatan. Sebagaimana diketahui

di tempat-tempat di dekat kutub Utara satu tahun terdiri dari satu

siang dan malam, masing-masing berlangsung selama 6 bulan. Semakin

ke selatan terdapat terdapat tempat-tempat di mana satu hari

berlangsung 3 bulan dan satu bulan dan satu minggu secara berturut-

turut. Pengertian lain adalah Dajjal maupun Sufyan akan memiliki 4

periode peraturan, periode pertama, mereka akan menyebabkan

kerusakan besar dalam jangka waktu satu tahun yang normalnya dapat

dilakukan dalam jangka waktu 300 tahun. Kerusakan yang akan mereka

timbulkan dalam jangka waktu pada satu tahun periode kedua mereka

akan sama dengan kerusakan yang dilakukan oleh yang lainnya selama

30 tahun dan pada satu tahun periode ketiga mereka akan membuat 7

tahun kerusakan. Periode keempat mereka akan normal.

Kedelapan, Nabi bersabda Ketika Dajjal muncul setiap orang

akan mendengarnya. Mereka akan memiliki sebuah kendaraan atau

tunggangan yang luar biasa dan mengelilingi dunia dalam 40 hari. Ini

berarti bahwa Dajjal akan muncul ketika komunikasi dan transformasi

130

Page 131: Tesis bagus

berkembang pesat peristiwa yang terjadi di satu belahan dunia akan

terdengar di belahan bumi lain dan berkeliling ke seluruh penjuru

dunia dalam waktu 40 hari adalah hal yang mungkin.

2) Munculnya Messiah atau Mahdi

Mengenai mahdi atau messiah, baik Yahudi maupun Kristen

mengharapkan Messiah datang menjelang hari kiamat dan

menganggap kedatangannya sebagai tanda akhir kernenangan besar

untuk Yahudi dan Kristen. Menurut sumber-sumber Islam yang

terpercaya dia adalah Imam kedua belas dan terakhir dari sederetan

Imam yang di mulai Ali bin Abi Talib, sepupu Nabi dan khalifah

keempat. Mandi lenyap ketika dia berusia 74 tahun dan akan muncul

ketika dunia penuh dengan ketidakadilan untuk menyelamatkan

keadilan. Bersama dengan Messiah, Mahdi akan mempertahankan

prinsip-prinsip Islam dari trend materialistik dan menggugah

kehidupan keagamaan. Dia akan mengahiri kekuasaan Dajjal dan

Sufyan.

Menurut para pemikir dan ilmuwan kontemporer termasuk Said

Nursi, Mandi bukanlah satu orang saja, melainkan sebuah nama

"kebangkitan global". Mandi memiliki tiga periode masing-masing akan

dipresentasikan oleh satu orang dan kelompoknya. Pemimpinya akan

memiliki pengetahuan yang mendalam di bidang ilmu-ilmu agama,

memiliki standar moral tertinggi, mengetahui kondisi sosial, politik dan

ekonomi pada masanya dan memiliki kualitas kepemimpinan yang

memadai. Bersama-sama pengikutnya pemimpin periode pertama akan

131

Page 132: Tesis bagus

mempertahankan prinsip-prinsip Islam dari trend materialistik dan

menunjukkan mereka dalam jalan yang benar. Pada periode kedua

prinsipprinsip Islam yang sudah dibangkitkan akan mencapai pengaruh

penting di beberapa belahan dunia dan kehidupan Islam akan

mengalami sebuah kebangkitan yang signifikan. Periode mengalami

akan rnenghalal kebangkitan kehidupan keagamaan secara global.

Periode ketiga yang berkemungkinan akan mengikuti invansi

Gog dan Magog yang akan menggangu periode kedua. Agama Kristen

menurut sumber Islam yang relevan akan terbebas peminjaman agama-

agama dan filsafat tertentu dan lebih mendekat pada Islam. Mereka

akan berkerjasama untuk menangkis serangan Gog dan Magog dan

membebaskan dunia dari invasi mereka. I1mu pengetahuan akan

mengalami perkembangan puncak. Kota-kota akan dibangun di atas

langit dan akan mudah melakukan perjalanan ke sana. Mungkin

sebagai dampak kemajuan genetika satu buah delima akan cukup

sebanyak 20 orang dan kulit buahnya akan dapat menaungi mereka.

Misi orang Messiah yang ditujukan untuk Yesus Kristus, menurut Nabi

Muhammad, Messiah yang dijanjikan adalah Yesus Kristus. Dia akan

kembali dan kemudian mengikuti dan sepenuhnya mendukung Mahdi.31

c) Mengenai Terbentuknya Padang Mahsar

31 Mungkin cukup di sini penjelasan mengenai ini memang harus melihat fenomena yang terjadi di tengah-tengah kita, termasuk di agama-agama lain yang memiliki sumber yang sama. Saat ini di Jerman, Rusia, Amerika, Inggris, Italia dan Belanda dan beberapa negara maju semangat menuju nilai-nilai kebenaran sudah mulai tampak. Semua ini juga disebabkan kejadian 11 September 2001 dan invasi Amerika ke Irak dan pergulatan dunia yang tak pernah usai seperti di Palestina-Israel, menunjukkan bahwa kendali modernisasi dan globalisasi sulit terkendali. Alamat ini memang bisa ditanggap orang yang berpikir dan berhati. Bukan hanya dengan kepala yang berupaya menentang dahulu baru mencari. Sebab metodologi semacam ini memang berasal dari "nurani Dajjal", seperti slogan "cogito ergo sum" atau "god is dead" dan sebagainya.

132

Page 133: Tesis bagus

Allah berfirman Katakanlah sesungguhnya ilmu tentang hari kiamat itu

hanya pada sisi Allah (67 : 26). Bahwa pergerakan bumi bukanlah tidak

bertujuan. Pergerakan bumi menarik sebuah lingkaran raksasa di luar

keliling bumi dan bumi terus menerus memindahkan semua peristiwa

yang terjadi di atasnya ke kelingkaran luar tersebut. Pada hari

pengadilan, hari kehidupan setiap orang akan ditampilkan kembali.

Menurut ramalan lingkaran raksasa ini akan dipusatkan di

daerah Damaskus, tetapi dalam bentuk yang luas dan disesuaikan

dengan dimensi-dimensi Hari Akhir. Hasil dari semua penstiwa-

peristiwa di bumi terus menerus ditransfer ke dalam daftar atau. tablet-

tablet Padang Mahsyar. Saat ini, Padang tersebut masih berada di balik

"kerudung" Yang Maha Tidak Terlihat. Bagaimana pun juga kita akan

melihatnya pada saat kita telah menjalani bentuk-bentuk spesifik hari

akhir.

Penjelasan mengenai tanda-tanda akan tibanya hari kiamat di

atas memberikan keyakinan yang kokoh terhadap paham keagamaan

dengan keimanan yang sudah ada sebagai dasar beragama. Seiring

dengan itu, hari kiamat menjadi bagian yang terintegrasi dalam diri

Said Nursi dan salah satu cara upaya pembentukan akhlak mulia.

Pentingnya Meyakini Hari Kiamat

Serangkaian upaya pembentukan manusia yang berakhlak mulia,

pemahaman tentang hari kiamat banyak dirujuk sebagai bagian

pembentukan karakter bagi Said Nursi. Para pemikir Islam dulu baik

133

Page 134: Tesis bagus

yang sezaman dengan Said Nursi maupun sebelumnya belum

menafsirkan secara mendalam mengenai ayat-ayat dan hadis-hadis

mengenai hari kiamat.32 Hari kiamat menjadi landasan fundamental

dalam pemikiran Said Nursi. Karena itu, hari kiamat menjadi prinsip

yang dapat mendorong terciptanya akhlak mulia yang menekankan sisi-

sisi kejiwaan manusia.

Penekanan sisi kejiwaan, menurut Said Nursi melalui sifat dan

kemampuan jiwa kita menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk

beribadah kepada Allah Swt. Mengenai kekuatan dan kemampuan kita

untuk tinggal di sini, kita kalah bersaing dengan burung pipit yang

paling lemah. Tetapi dalam hal ilmu, memahami kebutuhan kita, dan

memohon serta beribadah, yang diperlukan untuk kehidupan rohani

dan kehidupan akhirat, kita adalah raja dan komandan dari semua

makhluk hidup. Lanjut Said Nursi:

Hai jiwaku ! Jika engkau menganggap dunia ini adalah tujuan utama

kehidupanmu dan engkau bekerja dan senantiasa bekeda untuk

kepentingan dunia, engkau akan menjadi seperti burung pipit yang

paling lemah. Tetapi jika engkau menganggap akhirat adalah tujuan

akhirmu, dan menganggap dunia ini sebagai ladang tempat

menaburkan benih, sebuah persiapan bagi akhirat, dan bertindak

dengan semestinya, engkau menjadi penguasa agung kerajaan

32 Dalam bahasa al-Qur'annya hari kiamat adalah Qiyamah adalah hari kebangkitan orang-orang mati dan kuburan mereka masing-masing sesudah hancurnya alam semesta, untuk kemudian mereka digiring ke alam mahsyar dan alam barzakh. Ruh mereka dikembalikan ke dalam tubuhnya agar kemudian mereka mempertanggungjawabkan semua amal mereka dikala hidup yang selanjutnya mereka ditentukan oleh Tuhan untuk masuk surga atau neraka. (Hussein Bahreisj, Himpunan Pengetahuan Islam (450 Masalah Agama Islam), Al Ikhlas, Surabaya, 1980, hlm. 165).

134

Page 135: Tesis bagus

binatang, hamba yang memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa,

dan menjadi tamu-Nya yang terhormat dan disayangi di dunia ini.

Engkau bisa memilih salah satu pilihan itu. Jadi mintalah petunjuk

dan keberhasilan dari jalan-Nya dari Yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang (Said Nursi 2003d, hlm. 52).

Kutipan di atas menggambarkan secara tegas bahwa Said Nursi

sangat yakin akan adanya hari kiamat yang dunia ini bukan tujuan

akhir. Perjalanan manusia akan diteruskan ketika hari kiamat tiba dan

membuka ruang-ruang baru bagi manusia yang baru dibangkitkan dari

kubur. Karena itu, Said Nursi sangat menekankan agar manusia

meyakini secara mendalam mengenai hari kiamat.

Sebenarnya Al-Qur'an mengajarkan 4 (empat) tujuan utama yakni

untuk membuka dan membangun pada jiwa dan hati manusia eksistensi

dan keesaan Allah, kenabian, kebangkitan Jasmani dan ketaatan

terhadap Allah dan keadilan. Manifestasinya melalui Asma dan Sifat-

Nya dan keteraturan serta harmoni sempurna yang sangat indah dalam

eksistensi. Al-Qur'an menyebutkan peristiwa-peristiwa bersejarah

tertentu khususnya yang akan terjadi sebelum hari kiamat. Hal ini

memiliki tempat yang penting baik dalam Al-Qur'an maupun al Hadis.

Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang terakhir dan Nabi Muhammad adalah

Nabi terakhir.

Argumen Al-Qur'an mengenai hari kiamat yakni tindakan-

tindakan universal mengacu pada hari kebangkitan, dan untuk

135

Page 136: Tesis bagus

menyentuh hati manusia mengenai kehebatan yang akan dilakukan

Yang Kuasa pada hari akhir dan untuk mempersiapkan jiwa manusia

untuk dapat menerima dan memahaminya, Al-Qur'an menyajikan

kehebatan yang Dia lakukan di sini untuk mempersiapkan kita terhadap

hal itu. Hal ini memberikan contohcontoh tindakan-tindakan besar Allah

di dalam alam semesta yang luas (makro-kosmos) dan kadang kala

menunjukkan pembuangan menyeluruh-Nya terhadap makro-kosmos,

norma-kosmos dan mikro-kosmos, yakni alam semesta, umat manusia

dan atom.

Contohnya ayat al-Qur'an berikut menekankan Kekuasaan Allah

dan menyebutkan sebagai fakta, mengajak kita untuk memiliki

keyakinan tentang pertemuan kita dengan Dia di akhirat : "Allah-lah

Yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang kamu lihat,

kemudian Dia bersemayam di atas 'arsy dan menundukkan matahari

dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah

mengatur urusan makhluk-Nya, menjelaskan tanda-tanda kebesaran-

Nya, supaya kamu meyakini pertemuanmu dengan Tuham-mu (13:2).

"Penciptaan pertama alam semesta dan umat manusia menunjukkan

"penciptaan kedua", Al-Qur'an menyajikan fenomena penciptaan alam

semesta ini yang didefenisikan sebagai penciptaan pertama (56:62),

sedangkan penjelasan tentang kebangkitan yang telah mati

didefenisikan sebagai penciptaan. kedua (53:47), untuk membuktikan

adanya Hari Kebangkitan.

136

Page 137: Tesis bagus

Iman kepada akhirat merupakan dasar kehidupan manusia

sebagai masyarakat maupun sebagai individu. Keimanan ini merupakan

dasar untuk semua kebahagiaan dan kasih sayang, karena setelah iman

kepada Allah, maka iman kepada hari kebangkitan berperan dalam

melindungi sebuah tata sosial yang damai. Apabila kita tidak percaya

bahwa kita akan dipanggil untuk memperhitungkan amal perbuatan

kita, mengapa kita diharuskan menjalani hidup jujur dan benar. Tetapi,

apabila kita berbuat menurut keyakinan bahwa kita harus menjalankan

perhitungan amal perbuatan, kita akan hidup dengan taat dan benar.

Pada suatu kesempatan Said Nursi menulis : "Jangan takut

terhadap kematian. Kematian bukanlah kepunahan abadi, tetapi

hanyalah suatu perubahan dunia, pembebasan dari tugas-tugas

kehidupan duniawi yang berat, dan sebuah tiket menuju dunia abadi

tempat semua jenis keindahan dan rahmat sedang menantimu. Allah

Yang Maha Pemurah yang mengirim kamu ke dunia, dan menjaga kamu

tetap hidup di dalamnya untuk beberapa lama, tidak akan

meninggalkanmu dalam kegelapan ruang kuburmu ke haribaan-Nya

dan menjamin kamu menuju kehidupan abadi yang selalu bahagia. Dia

akan memberimu karunia surga". Hanya kabar baik seperti ini sangat

bermanfaat dan benar-benar dapat menjadi penghibur generasi tua dan

membuat mereka menyongsong kematian dengan senyum.

Keyakinan ini mengingatkan kita semua bahwa kita harus yakin

keberadaan hari kiamat. Kiamat pasti dating. Iman kepada hari kiamat

juga merupakan sumber hiburan bagi mereka yang sedang generasi tua

137

Page 138: Tesis bagus

termasuk mereka yang sakit. Keyakinan secara mendalam akan adanya

hari kiamat seolah merupakan obat dari penyakit yang tidak terobati.

Said Nursi menjadikan hal yang sangat prinsip dalam meyakini hari

kiamat ini.

Meneladani Nabi Muhammad Saw

Prinsip menedalani Nabi Muhammad Saw menjadi komitmen dasar Said Nursi dalam

merealisasikan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai

kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Pada prinsipnya bahwa mengamalkan sunnah-

sunnah Nabi Muhammad Saw dengan sepenuhnya merupakan cerminan dari keseriusan

mentaati perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangannya dengan mengikuti al-Quran

dan keimanan mendalam akan keesaan Allah.

Pada dasarnya, apabila seseorang menyatakan diri sebagai muslim, maka ia harus

mewujudkan keislamannya itu dalam bentuk mengikuti sunnah Nabi tersebut secara

sungguh-sungguh dalam segala aspek kehidupan. Dengan prinsipnya ini, Said Nursi hendak

menegaskan bahwa bila seseorang yang telah berikrar bahwa dirinya adalah pengikut

Muhammad Rasul-Allah Saw, hendaknya ia harus mengikuti cara atau metode dan jalan

hidup yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad Saw bersama para sahabatnya dalam seluruh

aspek kehidupan. Zaidin (1999, hlm. 39-53) menceritakan bahwa Said Nursi adalah seorang

ulama yang banyak mencurahkan perhatiannya pengajian keagamaan dengan sekuat tenaga

telah berusaha menghidupkan kembali suatu usaha yang dulu di bawa oleh Nabi

Muhammad Saw, yaitu suatu model pengajian ia sebut dengan istilah dershane (Tempat

belajar).

138

Page 139: Tesis bagus

Menerapakan atau meneladani Nabi Muhammad Saw menjadi

kekuatan amaliah ibadah secara aplikatif. Praktek amaliah ibadah

dengan cara meneladani nilai-nilai yang telah diterapkan oleh Nabi

Muhammad Saw. Doktrin ini menjadi sangat penting dalam praktek

kehidupan manusia. Mengenai prinsip meneladani Nabi Muhammad ini

Allah berfirman "Katakan, Jika kalian benar-benar mencintai Allah,

ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa

kalian. "Allah Maha pengasih dan Maha Penyayang" (Qs. Al Imran : 31).

Di dalam ayat ini terdapat bentuk simplikasi redaksi yang

mengagumkan. Makna yang begitu banyak dirangkum hanya oleh tiga

kalimat. Adapun penjelasan Said Nursi mengenal ayat, ini adalah :

Jika kalian beriman kepada Allah, pasti kalian mencintai-Nya.

Selama kalian mencintai-Nya, pasti kalian beramal sesuai dengan

apa yang dicintaiNya. Hal itu berarti kalian harus meneladani

pribadi yang Dia cintai. Dan ia bisa terwujud dengan cara kalian

mengikuti pribadi tersebut. Jika kalian mengikutinya, Allah akan

cinta kepada kalian. Tentu saja kalian mencintai Allah agar juga

dicintai oleh-Nya (Said Nursi, 2003, hlm. 114).

Perilaku Nabi Muhammad Saw disebut sunnah. Menurut Islam,

sunnah Nabi adalah sumber hukum kedua setelah Qur'an. Keseharian

dan perilaku Rasulullah, bahkan diakui oleh para sarjana Barat,

merupakan gambaran kesempurnaan utuh seorang manusia. Dan tidak

ada satu pun seorang manusia di muka bumi yang diikuti perilakunya

139

Page 140: Tesis bagus

oleh berjuta-juta orang hingga detik ini dalam sejarah peradaban

manusia. Akhlak Nabi Saw merupakan kesempurnaan akhlak pada diri

seseorang. Allah menegaskan : "Akhlak Nabi adalah al-Qur'an". Pada

ayat lain, Dia berfirman : "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri

tauladan yang baik bagimu" (Qs. al Ahzab : 21). Pada firman Allah yang

lain : "Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan

untuk menjadi rahmat bagi semesta alam". (Qs. al Anbiya' : 107) Semua

itu telah tercatat dalam sejarah Islam yang merupakan ketetapan Allah

Swt. Berapa banyak kalangan salaf (generasi terdahulu) yang

mengagumi dan berusaha menyelaraskan kehidupan mereka dengan

sunnah. Sejak pagi hingga malam hari.

Untuk mencapai kepribadian mulia adalah dengan mengikuti

orang yang dikasihi Allah yakni Nabi Muhammad Saw dan

mengaplikasikan sunnahnya yang suci. Said Nursi mengatakan

sesungguhnya kecintaan kepada Allah harus diikuti dengan sikap

mengikuti Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sebab dalam doktrin ini Said

Nursi mengatakan bahwa "kecintaan kepada Allah baru terwujud

dengan melakukan perbuatan yang diridhoi olehNya. Sementara itu,

ridhonya yang paling utama tampak pada pribadi Muhammad Saw"

(Said Nursi, 2003, hlm. 117).

Penjelasan di atas mendorong pentingnya praktek keteladanan

kepada Nabi Muhammad Saw (Sunnatun Tsaniyah) dalam kehidupan

seseorang untuk membentuk kepribadian yang barakhlak mulia.

140

Page 141: Tesis bagus

Menurut Said Nursi meneladani pribadi beliau yang penuh berkah itu

bisa terwujud dengan 2 (dua) hal :

Pertama, mencintai Allah, mentaati segala perintah-Nya dan

berbuat sesuai dengan ridlio-Nya. Sikap semacam ini mengharuskan

kita mengikuti Nabi Muhammad Saw. Sebab pemimpin yang paling

sempurna dengan teladan yang paling utama dalam urusan tersebut

adalah Nabi Muhammad Saw. Kedua, mencintai pribadi Nabi

Muhammad Saw. Sebab beliau merupakan perantara yang paling

utama agar manusia bisa mendapatkan kebaikan ilahi. Karena itu,

beliau layak dicintai karena Allah ta'ala. (Said Nursi 2003, hlm. 117).

Said Nursi mengatakan secara fitrah ketika kita mengarahkan

perhatian pada sosok yang kita cintai kekasih Allah haruslah berupaya

meneladani dan mencontoh beliau dengan cara mengikuti semua

sunnahnya yang mulia. Dikatakannya pula, mengikuti sunnah rasul

Muhammad Saw merupakan tujuan termulia sekaligus merupakan

tugas terpenting manusia (Said Nursi 2003, hlm. 117-1 18).

Begitu pentingnya masalah mengikuti Sunnah Rasul ini menurut

Said Nursi mengikuti Sunnah Rasul berasal dari 3 (tiga) sumber yaitu

perkataan, perbuatan clan keadaan. Tiga sumber ini juga terbagi lagi

menjadi tiga, yaitu : wajib, sunnah dan ada yang merupakan kebiasaan

beliau. Hal yang wajib tentu saja harus diikuti. Seorang mukmin

diharuskan mengikutinya sebagal konsekuensi dari keimanan yang ada

pada dirinya. Semuanya, tanpa terkecuali, diberi beban untuk,

melaksanakan as-Sunnah yang bersifat wajib tersebut. Orang yang

141

Page 142: Tesis bagus

meninggalkan dan mengabaikan as-Sunah tersebut akan mendapat

siksa dan hukuman. Orang yang bahagia dan beruntung adalah yang

paling inters mengikuti sunnah nabi Muhammad Saw sementara orang

yang tidak mengikuti Sunnah akan benar-benar merugi jika sikap untuk

tidak mengikuti sunnah Nabi. Said Nursi menuliskan bahwa "Tindakan

yang mengikuti sunnah rasul beliau akan mengubah adab dan

kebiasaan menjadi bernilai ibadah". (Said Nursi 2003, hlm. 119).

Oleh karena itu, bagi seorang Muslim, mengikuti sunnah atau

tidak bukanlah suatu "kebebasan memilih". Sebab mengamalkan ajaran

Islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah

kewajiban yang harus ditaati, sebagaimana difirmankan dalam al-

Qur'an : "Dan apa yang Rasul berikan untukmu, maka terimalah ia, dan

apa yang ia larang bagimu, maka juhilah" (Qs. al-Hasyr : 7).

Beliau memiliki akhlak paling mulia, seperti yang dikatakan baik

oleh para wali maupun musuh Islam. Belau merupakan sosok pilihan di

antara seluruh anak manusia selain sebagai pribadi paling dikenal

semua orang. Beliau merupakan pribadi sempurna bahkan teladan dan

pembimbing paling utuh dengan melihat pada ribuan mukjizat yang ada

kesaksian dunia Islam clan kesempurnaan pribadinya yang didukung

oleh hakekat al-Qur'an yang sampai padanya.

Di kalangan umat Islam telah sepakat bahwa sunnah merupakan

kunci untuk memahami pesan-pesan al-Qur'an dan sebagai perangkat

pengurai yang menunjuki dari dalil-dalil yang tersedia di dalamnya. Al-

Qur'an diturunkan hanya memuat prinsip-prinsip dasar dan hukum

142

Page 143: Tesis bagus

Islam secara global sebagai aturan hidup, sedang sunnah mengajarkan

petunjuk pelaksanaannya jadi sunnah sangat diperlukan jika seseorang

hendak mengamalkan secara benar ajaran Islam guna menjadi seorang

Muslim yang hakiki. Hal ini dinyatakan dalam al-Qur'an, "Siapa yang

taat kepada Rasul, maka ia taat kepada Allah" (Qs. al-Nisaa' : 80 ).

Hidup ini sangat singkat dan sarat dengan tipu daya dengan

segala bentuk dan ragamnya yang sulit untuk dirubah. Semuanya baru

akan terasa indah dan bermakna jika kita mengikuti apa yang diajarkan

oleh Nabi. Setiap aktifitas yang diarahkan kepada Allah tidak akan

menjauhkan dari hubungan hidup dengan-Nya, bahkan justru membuat

Allah semakin menyukai dan meridhoinya. Tidak ada karunia

kenikmatan yang lebih besar daripada sehari yang dilalui dalam

ketentraman dan keserasian. Kita coba mengawali aktifitas sehari

dengan mengingat Allah dan Rasul-Nya pada saat bangun pagi,

kemudian menjalam paginya bersama bimbingan Nabi Muhammad

Saw.

Dalam setiap hendak memulai perkerjaan, Rasulullah senantiasa

mengawali perbuatan dengan menyebut nama Allah. Rasulullah

bersabda :"Setiap perbuatan yang tidak diawali dengan menyebut nama

Allah yakni : Bismillahirrahmanirrahim - adalah terputus (dari berkat

Ilahi atau Rahmat-Nya)" (Tafsir Ibnu Katsir).

Selanjutnya, hendaknya perilaku hidup ini kita selaraskan

dengan ajaran al-Qur'an, dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad.

Dengan begitu, hidup yang singkat ini akan terasa sangat bermakna,

143

Page 144: Tesis bagus

penuh hikmah dan indah. Rasa kasih sayang yang Nabi miliki dapat kita

contoh dan teladani. Kecintaan kepada sesama dan semua makhluk

Allah kita pelihara. Pengabdian hidup seperti Nabi untuk kejayaan

Islam kita amalkan. Pengorbanan Nabi untuk kedamaian umat manusia

kita jaga. Kesederhanaan Nabi dalam hidup sehari-hari dapat kita ikuti.

Keikhlasan Nabi dalam beramal dapat kita praktekkan. Maka, dengan

mengikuti Nabi yang mulia karena akhlaknya, kita akan menjadi orang

mulia, baik di mata Allah atau di mata manusia.

Menanamkan Ikhlas, Takwa dan Sedekah

Said Nursi sangat menekankan kepada murid-muridnya untuk

senantiasa ikhlas, takwa dan sedekah. Said Nursi sangat yakin

keikhlasan, ketakwaan dan sedekah dapat membentuk karakter pribadi

manusia. Kajian berikut menjelaskan secara mendalam bahwa ketiga

hal ini menjadi dasar hidup dalam pembentukan manusia ideal dalam

pandangan Said Nursi yang diisyaratkan secara implisit dalam Risale-i

Nur untuk membentuk manusia ideal yang berakhlak mulia.

1) Ikhlas Menjadikan Manusia Filosof-sufi

Ikhlas adalah ciri muslim sejati. Setiap orang harus menjadikan sikap

atau perilaku ikhlas sebagai bagian kepribadian mulia dirinya. Orang

yang terbina keikhlasan dalam diri akan dalam meluluhkan dan

membuat orang lain turut menjadi orang ikhlas. Ikhlas cenderung

kepada amal keteladanan. Misalnya, ikhlas beramal ibadah hanya

karena Allah semata.

144

Page 145: Tesis bagus

Manusia seperti ini umumnya tanggap dalam melihat sesuatu

pada esensinya melalui tafakur yang mendalam. Anjuran membaca

Risale-i Nur adalah aktivitas untuk mencapai manusia sempurna. Dalam

tafakurnya, ia dapat menyentuh kondisi di luar dirinya. Ikhlas diri

dibawa Kekuasaan Allah sehingga menghasilkan daya pikir yang

cemerlang dan hati yang suci. Sampai disini ia akan menjadi manusia

sempurna dan memperoleh kebabagiaan.

Ikhlas kunci kemenangan, ketinggian derajat dan kemuliaan hati.

Menjelma dalam relung-relung kalbu pribadi yang mulia. Dengan cara

beramal ikhlas, berjiwa ikhlas, akan tercipta sebuah tatanan

masyarakat yang kokoh dan maju. Bahkan jika setiap elemen

masyarakat mempunyai rasa ikhlas yang kuatnya melebihi keempat

elemen di atas, akan terbangun peradaban dunia yang maju.

Perilaku ikhlas banyak sekali ditemui seantero dunia ini, karena

mereka mengetahui nilai ikhlas bagi kehidupan mereka akan

mendatangkan kebajikan. Orang yang ikhlas dengan sendirinya akan

bermanfaat bagi lingkungannya. Ia selalu memberi tanpa meminta

balasan. Ia mengulurkan bantuan tanpa diminta. Bahkan, perbuatan

tidak menyenangkan hatinya pun ia balas dengan senyuman dan sapaan

mulia. Hatinya, begitu tenang dan menyenangkan.

Sifat ikhlas inilah yang akan memacu dan memicu lahirnya

generasi unggulan yang siap bersaing di tatanan dunia global. Karena,

hanya pribadi yang ikhlaslah yang sebenarnya paling berhak untuk

145

Page 146: Tesis bagus

mendapatkan tanda jasa dan penghargaan dari masyarakat, tanpa dia

meminta atau mengharapkan.

Ciri-ciri orang ikhlas diisyaratkan dalam Risale-i Nur, sebagai

berikut :

1. Ikhlas beriman2. Ikhlas beribadah3. Ikhlas beramal4. Ikhlas mengingat mati5. Ikhlas mengingat hari kiamat6. Lebih menyukai jiwa mukmin lain daripada jiwanya sendiri7. Tafakur imani8. Tidak merasa benar sendiri9. Bergabung dengan temannya dalam menuju kebenaran yang

ada dihadapannya 10. Berpegang kepada nilai-nilai kejujuran dan pencarian

kebenaran yang ditetapkan oleh para ulama (Said Nursi 2003a,b).

Sarana mencapai keikhlasan menurut Said Nursi ada 2 (dua)

yakni rabithatul maut (selalu mengingat mati) dan merenungi makhluk.

Pertama, selalu mengingat mati, dijelaskan Said Nursi bahwa

“mengingat mati justru menjauhkan manusia dari riya dan menjadikan

orang yang mengingatnya selalu memelihara keikhlasan. Mengingat

mati bisa membersihkan orang tersebut dari nafsu yang

memerintahkan kepadanya kepada keburukan” (Said Nursi, 2003a, hlm.

308).

Dijelaskan Said Nursi bahwa para ahli Sufi dan ahli hakikat

menjadikan rabithatul maut sebagai landasan dalam suluk mereka

sebagaimana ayat-ayat al-Qur’an yang mereka ketahui : “Setiap nafs

146

Page 147: Tesis bagus

(diri) pasti merasakan kematian” (QS. Al-Imran : 185) “Sesesungguhnya

kamu akan mati dan mereka pun akan mati” (QS. Az-Zumar :30).

Dengan mengingat mati mereka tidak akan berpikir akan kekal

abadi sebagai cikal bakal panjang angan-angan. Mereka selalu

membayangkan diri mereka sebagai orang-orang mati. Mengingat mati

memberikan manfaat yang luas. Said Nursi mengutip hadis Nabi

Muhammad Saw, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menolong

segala kenikmatan”.5 Berdasarkan hadis ini, Said Nursi menegaskan

bahwa jalan kita adalah jalan hakikat ilmiah bukan tarekat, sufi, maka

kita tidak perlu seperti mereka yang langsung mengingat mati dengan

bayangan dan hayalan.

Kedua, merenungi makhluk. Untuk dapat sampai kepada ikhlas

adalah memperoleh keyakinan hakiki serta cahaya yang bersumber dari

perenungan terhadap seluruh makhluk. Merenungi proses kehidupan

manusia yang senantiasa mengalami berbagai perubahan. Kebesaran

Allah yang telah menciptakan kehidupan dan manusia ini.

Dari berbagai keterangan di atas dapat dipahami bahwa

manusia ideal dalam Risale- i Nur adalah manusia ikhlas. Manusia

ikhlas inilah yang banyak melahirkan orang-orang suci dalam berbagai

ciri dan karakternya. Namun, karena didominasi jiwa ikhlas maka

perilaku yang selalu muncul adalah rasa syukur. Rasa syukur menjadi

utama bagi mereka yang berhati suci dan ikhlas. Manusia yang

5 Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan yakni maut. Hadis ini diriwayatkan oleb Ahmad dan Tirmidzi yang kemudian dianggapnya sebagai hadis hasan. Hadis ini juga diriwayatkan oleh an -Nasa’i dari Abi Salmah lalu dari Abu Hurairah secara marfu. Menurut Ibn Hibban dan al-Hakim hadis ini sahih.

147

Page 148: Tesis bagus

memiliki jiwa-jiwa ini dapat disebut sebagai manusia filosof-sufi.

Kategori orang semacam inilah yang bisa dikategorikan sebagai

seorang filosof-sufi. Yang memiliki karakter seperti Nabi.

2) Takwa Menjadikan Manusia Ulil Albab

Tingkatan takwa selalu diletakkan sebagai tempat yang mulia. Takwa

adalah memelihara diri dari siksaan Allah Swt dengan mematuhi

perintah dan larangan-Nya, yang tidak cukup diartikan dengan takut

saja (Al-Qur’an Depag RI, 2004, hlm. 3). Namun, dalam pandangan Said

Nursi ketakwaan dibawa orang ikhlas. Karena dominasi jiwa dalam

ketakwaan adalah jiwa berani dan nafsu. Ketakwaan menjadi sangat

penting dalam pembentukan muslim yang hakiki. Manusia ideal vang

diharapkan dari ketakwaan adalah manusia yang memiliki karakteristik

ulil albab.

Ciri-ciri orang takwa diisyaratkan dalam Risale-i Nur :

1. Orang sabar dalam mencari ridha Allah2. Selalu menepati janji Allah dan tidak merusak perjanjian (Qs.

Ar Rad ayat 20) 3. Takut kepada Allah4. Takut kepada hisab Allah5. Mendirikan shalat6. Menafkahkan sebagian harta (Said Nursi 2003b, hlm

Dapat dipahami bahwa manusia ideal selanjutnya menurut Said

Nursi adalah manusia ulil albab (manusia berakal). Manusia ulil albab

memiliki sikap hidup sabar. Kesabaran utamanya adalah dalam mencari

keridhaan Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki

kepada orang lain, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-

148

Page 149: Tesis bagus

terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Mereka inilah

orang yang takwa. Sikap hidup yang takwa dalam jiwanya selalu

dominan sabar. Manusia yang memiliki jiwa-jiwa ini dapat disebut

sebagai manusia ulil albab yang memiliki karakter seperti Nabi.

3) Sedekah Menjadikan Manusia Dermawan

Penciptaan manusia ke muka bumi ini tidak terlepas dari dua hal

penting yakni sebagai pengabdi dan khalifah. Dalam pengabdian dan

khalifah di muka bumi inilah perpaduan selanjutnya dari jiwa berani

dan nafsu melakukan peranannya. Untuk selalu menjalin ukhuwah

Islamiyah. Karena, kedermawanan sangat dekat sekali dengan saling

menolong atas sesama manusia.

Ciri-ciri orang sedekah diisyaratkan dalam Risale-i Nur, yaitu :

1. Menafkahkan sebagian hartanya kepada orang lain2. Senantiasi menjalin tali silaturahmi3. Senantiasa menjalin ukhuwah Islamiyah

Dari berbagai penjelasan di atas dapat dipahami bahwa manusia

ideal selanjutnya Risale-i Nur adalah manusia dermawan. Manusia

dermawan memiliki sikap hidup sedekah. Sedekah adalah dalam

mencari keridhaan Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan

sebagian rezeki kepada orang lain, baik secara sembunyi maupun

terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Mereka

inilah orang yang takwa. Sikap hidup orang yang suka bersedekah

dalam jiwanya selalu dominan jiwa ukhuwah. Manusia yang memiliki

149

Page 150: Tesis bagus

jiwa-jiwa ini dapat disebut sebagai manusia dermawan yang memiliki

karakter sepeti Nabi.

Rangkaian penjelasan dan pembahasan di atas dapat dipahami

bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi yang mengikat

dalam satu kesatuan hidup, termasuk di dalamnya dapat prinsip

pendidikan akhlak bagi generasi muda diketahui meliputi : menguatkan

iman, berpegang teguh pada al-Qur'an, pentingnya memahami hakekat

penciptaan manusia, pentingnya memahami alam semesta, pentingnya

memahami asma' al-husna, pentingnya mengetahui tanda-tanda akhir

zaman, pentingnya meyakini hari kiamat, meneladani nabi Muhammad

Saw dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Prinsip-prinsip ini

saling berkaitan dalam jiwanya dan sifatnya tidak dapat dipisah-

pisahkan. Baik dalam pola pikir, pola sikap dan pola lakunya. Prinsip-

prinsip pendidikan akhlak Said Nursi ini dapat dikatakan sebagai

prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda. Tentu saja, karena

sifatnya filosofis dalam diri manusia, maka prinsip-prinsip ini menjadi

dasar bagi Said Nursi yang sangat relevan dengan kehidupan generasi

muda.

Relevansi Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak dengan Pembinaan Generasi Muda

Setelah dikemukakan mengenai prinsi-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut

pemikiran Said Nursi, berikut ini adalah bagian analisis terhadap prinsip-prinsip tersebut di

atas. Pada bagian ini penulis mencoba untuk menganalisis relevansi prinsip-prinsip

pendidikan akhlak tersebut dengan pembinaan generasi muda secara deskriptif-komperatif

150

Page 151: Tesis bagus

untuk melihat aspek akidah, pandangan hidup, tujuan hidup, ibadah, tingkah laku,

lingkungan dan tahap perkembangan kepribadian generasi muda.

Relevansi dengan Akidah Generasi Muda

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa generasi muda yang dimaksud pada

penelitian ini adalah generasi yang berumur 15-40 tahun yang beragama Islam. Walau

bagaimana pun, secara fakta aspek akidah generasi belum dapat dipastikan. Apakah aspek

keimanan yang mereka pegang benar-benar sesuai dengan hakikat yang diajarkan Islam,

sebab banyak di antara mereka yang dapat disebut “Islam Phobia" atau "Islam KTP”.

Artinya mereka beragama Islam dan mengaku beriman, namun masih ada yang tidak mau

shalat, puasa Ramadhan bahkan zakat masih ditinggalkan. Fenomena seperti ini masih

sangat nampak di tengah-tengah masyarakat.

Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima generasi muda dari masa kanak-

kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai

timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial,

ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.

Hasil penelitian Allport, Gillesphy, dan Young menunjukkan bahwa 85 % generasi

muda Katolik Romawi tetap taat menganut ajaran agamanya dan 40 % generasi muda

Protestan tetap taat terhadap ajaran agamanya (Jalaluddin 2002, hlm. 74). Dari hasil ini

dinyatakan selanjutnya, bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih

banyak berpengaruh bagi para generasi muda untuk tetap taat pada ajaran agamanya.

Sebaliknya agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal

akan mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para generasi muda sehingga

mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa

perkembangan pikiran dan mental generasi muda mempengaruhi sikap keagamaan mereka.

151

Page 152: Tesis bagus

Karena itu, pemahaman dengan menguatkan keimanan harus senantiasa dilakukan untuk

menuju kesempurnaan.

Walau sulit mengukur tingkat keimanan bagi generasi muda, namun kekuatan iman

akan sangat nampak dari tingkah laku dan peribadahan yang dilakukan. Namun, Said Nursi

sangat menekankan keimanan bagi generasi muda. Tujuan ciptaan yang paling

murni dan fitrah manusia yang paling tinggi ialah iman kepada Allah.

Jika ditinjau dari aspek pengamalan agama, tawaran-tawaran Said

Nursi adalah penguatan keimanan melalui ruh ketauhidan masuk dalam

kehidupan manusia sampai ke relung batin. Tauhid adalah dasar utama

dalam menyatakan keimanan secara sempurna. Hakekat keimanan

secara menyeluruh dapat dipahami melalui rukun iman yaitu ; Rukun

iman terdiri dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-

rasul-Nya, hari kiamat, dan qadha dan qadhar.

Menurut Said Nursi hakekat keimanan terdapat dalam kalimat La

Ilaha Illah yang merupakan mengakui secara totalitas kekuasaan Allah

dan untuk membuktikan keimanan mereka dapat dilihat amal dan ibadah mereka sehari-

hari. Artinya, sesungguhnya generasi muda yang beragama Islam tentu tergolong kepada

generasi muda yang beriman, walaupun tidak dapat diketahui secara pasti bagaimana

tingkat keimanan mereka, sebab keimanan tidak bisa dilihat dan menyangkut soal hati.

Keimanan generasi muda jika didasarkan dengan prinsip ajaran Islam adalah tidak cukup

dengan pembenaran hati dan pengakuan dengan kata-kata, tetapi diikuti oleh amal

perbuatan.

Pembentukan nilai keimanan inilah yang diusahakan oleh Nabi Muhammad Saw,

yang selama 13 tahun di kota Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Iman yang tidak pernah

152

Page 153: Tesis bagus

dipisahkan dari pasangannya, yaitu amal shalih (ibadah, mu'amalah, mu'asyarah dan

akhlaq). Berkenaan dengan iman, sebagaimana firman Allah SWT dalam

(QS.Ibrahim/14:24-25) : Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat

perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya

menjulang kelangit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musimdengaseizin

Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka

selalu ingat (Alquran dan Terjemahannya 1990, hlm. 383-384).

Dalam Alquran dan Terjemahannya yang diterbitkan oleh Kerajaan Arab Saudi

dinjelaskan bahwa, yang dimaksud dengan kalimat yang baik adalah kalimat tauhid

(kalimat iman), yaitu segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari

kemunkaran serta berbuat yang baik. Yang dimaksud kalimat tauhid adalah kalimat "Laa

ilaa ha ill-Allah" (Alquran dan Terjemahannya 1990, hlm. 383-384). Buah dari sebatang

pohon yang akarnya kuat adalah perumpamaan terhadap akhlak mulia. Akhlak adalah

sebagai buah atau hasil dari suatu proses pendidikan yang didasari oleh penanaman nilai

keimanan. Keimananlah yang menjadi fondasi dasar terwujudnya akhlaq al-karimah.

Akhlak mulia membentuk generasi yang kuat iman dan menjadi insane saleh sampai

bertemu dengan Allah Swt.

Insan shaleh adalah manusia yang mendekati kesempurnaan. Yang dimaksud

pembentukan insan yang shaleh dan beriman kepada Allah tidaklah aku menciptakan jin

dan manusia kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku (Q.S.51:56) manusia yang penuh

keimanan dan takwa, berhubung dengan Allah memelihara dan menghadap keada-Nya

dalam segala perbuatan yang dikerjakan dan segalah tingkah laku yang dilakukannya,

segala pikiran yang tergores dihatinya dan segala perasaan yang berdetak dijantungnya ia

153

Page 154: Tesis bagus

adalah manusia yang mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad Saw dalam pikiran dan

perbuatannya.

Insan shaleh beriman dengan mendalam bahwa ia adalah khalifah di bumi

(Q.S.2:30). Ia mempunyai risalah ketuhanan yang harus dilaksanakannya, oleh sebab itu

selalu menuju kesempurnaan akhlak yang mulia, sebab Rasulullah SAW. diutus hanya

untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Di antara akhlak insan yang shaleh dalam

Islam adalah harga diri, prikemanusiaan, kesucian, kasih sayang, kecintaan, kekuatan

jasmani dan rohani, menguasai diri, dinamisme dan tanggung jawab. Ia memerintahkan

yang makruf dan melarang yang munkar. Ia juga bersifat benar, jujur ikhlas memiliki rasa

keindahan dan memiliki keseimbangan dan berperilaku seperti Nabi Muhammad Saw.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip keimanan yang

ditanamkan Said Nursi dalam dirinya dan murid-muridnya sangat relevan untuk selalu

direalisasikan oleh generasi muda yang beriman, walaupun tidak diketahui secara tepat

tingkat keimanan generasi muda tersebut. Namun, diyakini bahwa dengan senantiasa

menguatkan keimanan akan tercapai keinginan menjadi insane shaleh.

Relevansi dengan Pandangan Hidup Generasi Muda

Kemunduran dan kelemahan umat Islam dalam bidang ekonomi dan politik, khususnya

ketika berada di bawah kekuasaan kolonial Barat pada abad ke-18, telah merangsang

para elite politik Muslim untuk menyuarakan pentingnya perubahan-perubahan internal

dalam upaya memperkecil jurang pemisah antara umat Islam dan orang-oraug

Barat. Perkembangan dunia modern Barat telah menyumbangkan banyak sekali

landasan yang menjadi dasar pendidikan. Khususnya terjadi perubahan besar dalam

pandangan dan pemahaman keagamaan umat yang semakin lama semakin bingung dan

154

Page 155: Tesis bagus

lemah. (Wan Daud, 2003 hlm. 7). Dalam konteks umat secara luas, generasi muda berada

di tengah-tengah arus perubahan tersebut yang tidak dapat dibantah keberadaan.

Untuk ukuran generasi muda dari 15-40 tahun sudah dalam mengenal apa itu

pandangan hidup. Generasi muda memiliki pandangan hidup yang jauh dari nilai-nilai

keagamaan, bahkan prinsip-prinsip mulia ditinggalkan. Pengaruh arus globalisasi dan

maraknya pandangan dunia yang mampu merubah perilaku generasi muda patut menjadi

perhatian bersama. Pandangan hidup dalam konteks ini adalah pandangan Barat yang

merusak generasi muda muslim. Dalam kajian filsafat di antara pandangan hidup

tersebut adalah sekulerisme, materialisme, komunisme dan ateisme. Said Nursi secara

nyata-nyata menentang semua pandangan dunia yang membawa generasi muda berada di

posisi yang tidak jelas menentukan arah hidup

Pertama, Pandangan Sekulerisme. Dalam berbagai perdebatan

persoalan sekulerisme senantiasa menjadi topik penting dalam diskusi dunia saat ini.

Menurut Mulyadi sekuler adalah lawan dari sakral. Kata sekuler dari bahasa Latin

"sculum" berarti “bersifat duniawi (worldly)” sebagai lawan dari "spiritual" atau

"relegius". Sekuler yakni pandangan yang hanya mementingkan kehidupan duniawi

dan mengabaikan yang ukhrawi dan dari sudut ontologis mementingkan yang bersifat

materiil, mengabaikan yang spiritual. (Mulyadhi 2004, hlm. 120).

Kedua, Materialisme. Pandangan materialisme klasik sampai perkembangan

pengetahuan di abad ke-18 menurut Sadulloh mengutip Power (1982) terdapat

implikasi pendidikan positivisme behaviorisme yang bersumber pada filsafat

materalialisme yang mengarahkan pandangan ini kepada tujuan pendidikan yakni

"perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya, untuk

bertanggung jawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks" (Sadulloh, 2003, hlm. 118).

155

Page 156: Tesis bagus

Pendapat ini berarti bahwa titik tekan pandangan ini berada pada manusia dengan

kapasitas pribadinya yang kompleks yang dapat merubah sikap dan penlaku seseorang.

Ketiga, Komunisme dan Ateisme. Hasil dari pandangan sekulerisme dan

matenalisme berimplikasi kepada pandangan hidup yang mengarah komunisme dan

ateisme. Kata Komunisme secara historis sering digunakan untuk menggambarkan

sistem sistem sosial di mana barang-barang dimiliki secara bersama-sama dan

didistribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan masing-unasing

anggota masyarakat. Produksi dan konsumsi bersama berdasarkan kapasitas ini merupakan

hal pokok dalam mendefinisikan paham komunis, sesuai dengan motto mereka : from

each according to his abilities to each according to his needs (dari setiap orang sesuai

dengan kemampuan, untuk setiap orang sesuai dengan kebutuhan).

Pandangan dasar manusia sebagai makhluk yang berkerja menjiwa

dalam masyarakat komunis (Adelbert Snijders 2004, h1m. 77). Dalam aplikasinya sistem

perekonomian komunis didasarkan atas "sistem perintah", di mana segala sesuatunya

serba dikomandoi. Harus diakui bahwa komunisme adalah bentuk paling ekstrem dari

sosialisme. Begitu juga karena dalam sistem komunisme negara merupakan penguasa

mutlak, perekonomian komunis sering juga, disebut sebagai "sistem ekonomi totaliter"

atau "sistem sosialis ekstrem", menunjuk pada suatu kondisi sosial di mana pemerintah

main paksa dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya, meskipun dipercayakan

pads asosiasi-asosiasi dalam sistem sosial kemasyarakatan yang ada. Sistem ekonomi

totaliter dalam praktiknya berubah menjadi sistem otoriter, dimana sumber- sumber

ekonomi dikuasai oleh segelintir elite yang disebut sebagai polit biro yang terdiri dari

elite-elite penguasa partai komunis. Sampai disini kekuatan komunisme berada pada

asosiasi-asosiasi dan lembaga-lembaga yang dipercaya, namun disini justru letak pangkal

156

Page 157: Tesis bagus

paradoks ekonomi komunisme. Pada titik yang lain masyarakat komunis berubah

menjadi ateis, sehingga hakekat makhluk hidup dimaknai kebebasan yang sebebas-

bebasnya untuk bekerja dan bekerja.

Harus diakui bahwa pandangan sekulerisme ini sangat bertentangan dengan

prinsip Islam yang senantiasa menyeimbangkan antara urusan dunia dan urusan

akherat. Sebagai makhluk duniawi, Said Nursi mengajak generasi muda mengesakan

Allah Swt. Namun sebaliknya pandangan sekuler Barat yang bercorak rasionalistik-

positivistik indrawi menempatkan manusia hanya sebagai makhluk fisik-kimia yang

tidak peduli nilai-nilai spiritual. Pandangan ini menyingkirkan Tuhan sebagai

Pencipta. Seluruh proses alam dipandang “hanya kebetulan, tak ada campur tangan

Tuhan”. Dalam bangunan filsafatnya, Decrates menekankan akal itu sebagai sumber

ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai tujuan akhir. Segala hal yang bersifat

abstrak dan tidak dapat dipikirkan secara logika bukanlah ilmu pengetahuan.

Dari penjelasan di atas dapat diambil pemahaman bahwa yang dijadikan

landasan bagi dunia pendidikan modern adalah filsafat yang mengarahkan

kepada pandangan materialisme. Kecenderungan ini menipakan akibat dari

mengagungkan akal sebagai landasan berpikir.

Dapatlah ditegaskan bahwa keempat aliran pemikiran filsafat dan landasan di atas

yang berkembang menjadi pemikiran ekonomi ini berangkat dari kepentingan (internst) dan

mengabaikan etika, itulah kuncinya. Baik sekulerisme, materialisme, komunisme

maupun ateisme pada titik kebutuhan hakiki manusia sebenarnyalah dapat dikatakan

"gagal" karena tidak mencapai tujuan hakiki perlunya manusia untuk mencapai

kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Kegagalan keempat aliran sebagai

landasan pendidikan dan kehidupan tersebut terbukti dari manusia modem yang mengalami

157

Page 158: Tesis bagus

dilema hidup yang sangat memprihatinkan. Marxisme yang telah mencengkram Uni Sovyet

kemudian hancur berantakan. Bukan hanya teori perjuangan kelasnya yang gagal,

tetapi komunisme yang antiagama itu telah menyebabkan sebagian besar rakyatnya

tidak bahagia.

Sedangkan cita-cita dari pandangan hidup Said Nursi dalam

konteks pendidikan akhlak adalah manusia ideal dalam sebagaimana

Risale-i Nur adalah manusia yang dekat dengan Allah dan berperilaku

seperti Nabi Muhammad. Tentu saja memiliki pandangan hidup yang

jelas yakni mengesakan Allah, melalui asma' al-husna. Asma’ al-Husna yang

terbuka di semesta alam ini adalah bukti nyata kebesaran Allah Swt. Kunci keluar dari

dunia yang semakian materialistik ini adalah dengan cara iman dan mengamati asma Allah

yang terbentang di alam semesta ini, dan lebih khusus lagi menanamkan keimanan

kepada hari akhir. Atau istilah yang sering digunakan Said Nursi adalah “Hizmetul

iman wa al-Quran”, menurutnya sekarang ini adalah akhir zaman dan menyadarkan umat

dari paham duniawi ke ukhrawi.

Prinsip menguatkan keimanan diperlukan bagi generasi muda

untuk melawan pandangan-pandangan hidup yang dapat merusak

akidah generasi muda. Said Nursi meyakinkan generasi muda dengan

mengatakan : "Zat yang menggenggam kendali semua unsur di alam ini

pastilah juga memegang kendali semua unsurnya" (Said Nursi 2003a,

hlm. 635). Generasi muda harus yakin bahwa kendali dalam kehidupan

ini diciptakan Sang Pencipta yaitu Allah Swt dan sekaligus memegang

secara penuh kendali kehidupan ini.

158

Page 159: Tesis bagus

Relevansi dengan Tujuan Hidup Generasi Muda

Salah satu ciri generasi muda adalah perubahan sikap serta sifat mengarah kedewasaan

(Sudarsono 1993, hlm. 12-13). Generasi muda seperti ini mengalami perubahan dalam

berusaha memahami kehidupan, terutama tujuan kehidupan. Jika dikaji dalam konteks

kekinian, maka saat ini adalah masa di mana manusia telah memasuki era global atau

milenium ketiga. Suatu zaman yang ditandai oleh era informasi yang merupakan revolusi

teknologi yang menimbulkan revolusi ekonomi, gaya hidup, pola pikir dan sistem rujukan.

Pengalaman sekarang menunjukkan bahwa arus informasi global hampir seluruhnya tidak

seimbang. Lebih banyak informasi yang datang dari budaya Barat ke dalam budaya Islam

daripada sebaliknya. Keadaan ini menimbulkan dominasi kultural yang tidak seimbang

(Nata 2001, hlm.144-145) dan berdampak buruk bagi nilai-nilai moral dan etika yang

diajarkan dalam Islam. Generasi muda pun sudah ikut-ikutan mengadopsi pola kehidupan

yang datang dari Barat tersebut.

Kehadiran milenium ketiga yang ciri-cirinya disebutkan di atas, pada akhirnya akan

menjadi tantangan yang serius bagi dunia pendidikan khusunya pendidikan akhlak.

Tantangan tersebut antara lain, mampukah pendidikan akhlak menjadi pemeran utamanya

tidak hanya memberikan pengetahuan agama yang hanya memenuhi aspek kognitif belaka,

tetapi juga dalam aspek afektif yang mampu menanamkan nilai-nilai keimanan kedalam

hati peserta didik yang pada akhirnya dalam aspek psikomotorik yang dapat

diaktualisasikan kedalam bentuk amal-amal shalih dan akhlak yang mulia?. Mengapa tidak

mungkin, Nabi Muhammad Saw dalam waktu hanya 23 tahun, atas pertolongan Allah telah

dapat merubah seluruh tatanan kehidupan bangsa Arab Jahiliyah menjadi Bangsa yang

beriman dan berakhlak mulia.

159

Page 160: Tesis bagus

Ternyata di tengah situasi sebagaimana di atas, prinsip pentingnya memahami

hakekat hidup ini sangat berperan bagi generasi yang sedang menuju kedewasaan. Said

Nursi mengarahkan tujuan seorang manusia itu kepada terciptanya manusia yang beriman

dan memahami makna kehidupan yang seimbang. Seirama dengan itu tujuan yang

mendasar dari pendidikan Islam mulai dari turunnya Islam itu sendiri hingga saat ini

bahkan sampai akhir zaman tetap tidak berubah, yakni untuk menjadikan manusia seorang

yang berakhlak mulia. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw pernah bersabda yang

mafhumnya: "Sesungguhnya aku ini diutus hanya untuk menjadikan manusia berakhlak

mulia" (HR. Al-Bazzaar).

Pada saat ini bangsa kita telah mengalami kemerosotan dan kemunduran dalam

segala aspek kehidupan. Untuk meyelesaikan persoalan tersebut adalah upaya bagaimana

untuk menanamkan keimanan dan ketaatan yang sempurna kepada Allah Swt. Upaya untuk

menanamkan hakikat keimanan dan memang teguh al-Qur'an serta memahami hakekat

penciptaan manusia.

Relevansi dengan Ibadah Generasi Muda

Menurut Halem Lubis, dkk., generasi muda memiliki ciri-ciri yaitu di samping mengalami

keadaan yang tidak menentu di masa generasi muda, memasuki usia dewasa ia sudah dapat

bertanggung jawab dalam segala tindakan dan perbuatannya (Halem 2001, hlm. 149-150).

Berdasarkan pendapat ini secara agama orang yang sudah dapat bertanggung jawab dalam

segala tindaknya berarti sudah balig, kebutuhan nilai spiritual juga meningkat.

160

Page 161: Tesis bagus

Menurut Thomas sebagaimana dikutip Jalaluddin dan Ramayulis bahwa kebutuhan

terhadap agama dimungkinkan karena adanya empat kebutuhan manusia, yaitu : adanya

keinginan untuk mendapatkan perlindungan (security), keinginan untuk mendapatkan

pengalam baru, (new experience), keinginan untuk mendapatkan tanggapan (respons) dan

keinginan untuk dikenal (recognation). Melalui pengalaman-pengalaman yang diterimanya

dari lingkungan itu kemudian terbentuklah rasa keagamaan (Jalaluddin dan Ramanulis

1998, hlm. 32-33).

Baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat generasi muda

muslim diharuskan untuk senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah Swt.

Hubungan yang baik menjadi kunci utama bagi pembentukan kepribadian muslim di

tengah-tengah menjalankan ibdah kepada Allah. Nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam

hubungan itu mencakup:

1) Senantiasa beriman kepada Allah;

2) Bertaqwa kepada-Nya;

3) Menyatakan syukur atas segala nikmat Allah;

4) Tak berputus asa dalam mengharap rahmat-Nya;

5) Berdoa kepada Allah, menyucikan diri;

6) Mengagungkan-Nya serta senantiasa mengingat-Nya;

7) Menggantungkan niat atas segala perbuatan kepada-Nya

(Jalaluddin dan Ramanulis 1998, hlm. 187).

Pada intinya ketujuh point di atas ingin menegaskan bahwa sejalan dengan prinsip

keimanan, berpegang teguh pada al-Qur'an, memahami hakekat penciptaan manusia dengan

senantiasa meneladani Nabi Muhammad Saw. Pembentukan kepribadian muslim sebagai

individu, keluarga, masyarakat, maupun masyarakat pada hakikatnya berjalan seiring dan

161

Page 162: Tesis bagus

menuju ke tujuan yang sama. Tujuan utamanya adalah guna merealisasikan diri, baik

sebagai individu maupun sebagai masyarakat untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Relevansi dengan Lingkungan Generasi Muda

Kepribadian secara utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan, khususnya

pendidikan. Adapun sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian ini adalah

kepribadian yang memiliki akhlak mulia. Tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan

tingkat keimanan. Pencapaian tingkat akhlak yang mulia merupakan tujuan pembentukan

kepribadian muslim.

Lebih jauh Robert H. Thouless mengklasifikasikan faktor-faktor yang dapat

membentuk sikap keagamaan menjadi empat faktor utama, yaitu : pengaruh-pengaruh

sosial, berbagai pengalaman, kebutuhan, dan proses pemikiran (Robert 1972, hlm. 43).

Pengaruh sosial atau dapat disebut faktor sosial mencakup semua pengaruh sosial dalam

perkembangan sikap keagamaan di antaranya pendidikan dari orang tua, tradisi-tradisi

sosial, dan tekanan-tekanan lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai

pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan itu.

Faktor pengalaman merupakan suatu faktor yang diakui dapat membantu

tumbuhnya sikap keagamaan, baik pengalaman yang berkaitan dengan tatanan alami atau

moral maupun pengalaman batin emosional. Pengalaman alami atau moral misalnya

mengenai keindahan, keselarasan, dan kebaikan dari faktor alam, dan konflik moral.

Sementara pengalaman emosional berhubungan dengan pengalaman mistik emosional

keagamaan atau faktor afektif.

Ekologi diartikan sebagai lingkungan yakni sebagai segala sesuatu yang ads

di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun bends tak bemyawa. Terkait

162

Page 163: Tesis bagus

dengan lingkungan Islam melarang tegas umat manusia melakukan kerusakan di

bumf, baik kerusakan lingkungan maupun kerusakan diri sendiri (Ali Anwar dkk

2005, h1m. 128). Akan tetapi seperti yang pernah disinggung bahwa pembentukan

kepribadian jugs terkait dengan lingkungan pendidikan, yang berarti tidak dapat

dilakukan secara sendiri tetapi hares bersama atas dasar saling tolong menolong. Karena

itu, kondisi sedemikian ini akan tercipta situasi saling mencintai. Dimana setiap pribadi

merasakan bahwa kesempurnaan diri akan terwujud karena kesempurnaan yang lainnya.

Jika tidak maka tidak tedadl kesempumaan dalam diri seseorang. Setiap individu

menempati posisi sebagai salah sate anggota dari seluruh anggota badan.

Faktor lingkungan ini mencakup tiga aspek penting yang tarot pula mempengaruhi

terbentuknya akhlak mulia. Pertama, aspek hubungan keluarga. Lingkungan

pendidikan Yang biasanya dikenal adalah lingkungan keluarga, sekolah dan

masyarakat. Said Nursi memang tidak secara khusus membicarakan ini, namun pada

prinsipnya aspek ini termasuk dalam prinsipnya dalam membina diri meneladani Nabi

Muhammad.

Kedua, aspek hubungan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial bahwa

manusia di alam ini memerlukan kondisi yang balk dari luar dirinya. Sebaik-baiknya

orang adalah orang yang berbuat baik dari saudara atau anak, kerabat, keturunan, rekanan,

tetangga dan teman. Salah satu tabiat manusia adalah memelihara diri sendiri.

Ketiga, aspek hubungan formal. Hubungan ini sebenarnya memiliki juga

pengaruh yang cukup kuat dalam pembentukan akhlak. Karena diakui atau tidak kondisi

yang berada di masyarakat sangat dipengaruhi kebijakan politik pemerintah, artinya

kondisi yang baik dapat didukung oleh pengambil kebijakan politik negara tersebut.

163

Page 164: Tesis bagus

Artinya bahwa situasi lingkungan akan dapat tercipta bilamana situasi politik pemerintah

mengizinkan.

Tetapi, ketiga aspek uraian di atas setidak dapat memberikan gambaran bahwa

Said Nursi cenderung secara lebih khusus membicarakan lingkungan pendidikan di

dershane. Ini pun dianggap sebagai peninggalan yang bersifat tradisional. Kalau

lingkungan keluarga dibahas tentu perlu pertimbangan ciri khas yang berkaitan

tentang lingkungan tersebut. Keluarga perdesaan dan perkotaan pun sudah berbeda dari

cars dan pola kehidupannya. Keluarga orang kaya dengan orang miskin, keluarga yang

beranggota sedikit dengan yang banyak dan sebagainya.

Kemudian lingkungan sekolah, tidak disebutkan tapi, penjelasan

mengenai hubungan pendidik dan peserta didik sebagai mana di atas setidaknya

telah cukup membenkan gambaran untuk itu. Ungkungan masyarakat dikaji oleh Said

Nursi secara lugs karena proses politik dan lingkungan social semasa penuligan Risale-i Nur

dan berbagai persidangan mendeskripsikan tersendiri dari situasi lingkungan masyarakat.

Secara umum dapat dipahami bahwa lingkungan pendidikan akhlak Said Nursi

sangat luas. Said Nursi tidak membatasi tanggung jawab pendidikan akhlak hanya tanggung

jawab orang tua dan guru. Kondisi lingkungan terdekat sampai kondisi lingkungan yang

paling jauh di dalam strata sosial masyarakat yang menekankan prinsip ketelandanan.

Relevansi dengan Situasi Kejiwaan Generasi Muda

Menurut Kartini Kartono, secara kejiwaan pemuda memiliki ciri-ciri khas, yaitu: belajar

berdiri sendiri dalam suasana kebebasan, berusaha melepaskan ikatan-ikatan afektif lama

dengan orang tua dan objek-objek cintanya, berusaha membangun hubungan

perasaan/afektif yang baru, dan menemukan indentifikasi dengan obyek-obyek baru yang

dianggap lebih bernilai atau lebih berarti daripada obyek yang lama. Generasi muda yang

164

Page 165: Tesis bagus

terdiri dari golongan orang dewasa yang lazimnya ia telah mencapai umur 21 tahun,

dianggap sanggup berdiri sendiri, dan bisa bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas-

tugas hidupnya (Kartono 1990, hlm.33 dan hlm.184).

Bagi Said Nursi pemuda adalah sebagai penerus generasi di masa depan. Menurut

pendapatnya Mahmud Yunus seperti yang dikutip Zainuddin dkk. mengemukakan bahwa :

Tugas yang utama dan terutama yang terpikul atas pundak alim ulama’, guru agama,

dan pemimpin Islam adalah mendidik anak-anak, pemuda-pemuda, putra-putri,

orang-orang dan masyarakat umumnya supaya semuanya itu berakhlak mulia dan

berbudi pekerti yang halus, karena hidup bermasyarakat adalah tolong menolong,

berlaku jujur dan peramah, berlaku adil dalam segala hal, berkasih sayang antara

satu dengan lainnya…(Zainuddin 2001, hlm. 54)

Kutipan menjelaskan bahwa tugas orang tua, guru agama dan masyarakat dan

pendidik lainnya adalah sangat berat karena ditangan merekalah akhlak anak akan dibentuk.

Ajaran Islam selalu membimbing dan mengarahkan umat manusia untuk berakhlak mulia

karena dengan itulah mereka akan hidup selamat di dunia dan di akhirat. Untuk itu sifat

ikhlas, takwa dan sadakah harus terbangun dalam jiwa anak muda. Maka, melalui

pembinaan yang mengetahui tingkat kejiwaan bagi generasi muda perlu dilakukan.

Karenanya, generasi muda harus aktif di dalam pembentukan akhlaknya.

Menurut Sudarsono, suatu ciri kehidupan generasi muda pada masa awalnya

mengalami ketidakstabilan perasaan dan emosi, terutama dalam bersikap dan menentukan

masa depan mereka. Berikutnya dalam proses menuju kedewasaan mereka dapat mengatasi

masalahnya dengan baik (Sudarsono 1993, hlm. 15). Karena itu, prinsip-prinsip pendidikan

akhlak misalnya menguatkan keimanan dan keyakinan terhadap hari kiamat bias merubah

165

Page 166: Tesis bagus

situasi kejiwaan yang tidak stabil dan emosional dalam menentukan jalan hidup dan

mencapai cita-cita hidup.

Prinsip meneladani nabi Muhammada Saw juga bagian integral yang tidak dapat

dipisah-pisah misalnya ; melatih cara makan dan minum yang dapat menyehatkan tubuh,

bukan untuk kenikmatan, tetapi tidak terlalu kenyang dan juga tidak terlalu lapar, agak

lapar justru akan lebih baik. Cara lain bagi generasi muda tidak membiasakan diri makan

dan minum yang memabukkan. Demikian juga dalam hal cara berpakaian juga sangat

penting diperhatikan.

Kemudian, para generasi muda diharapkan tidak sombong dan bermegah-megah

terhadap kawankawannya dengan harus yang dimiliki orang tuanya. Pembicaraan

yang kotor supaya dihindarkan. Suka berkata benar, jujur, dan hormat pada orang lain

juga ditekankan. Gerak tubuh seperti berjalan, berkendaraan, suka berkata benar, dan

lainnya perlu diperhatikan. Diharapkan seorang pemuda dapat menjadi orang yang suci,

walau pada masa muda, tidak hanya suci menjelang ajal.

Said Nursi memberikan perhatian utama kepada situasi kejiwaan generasi

muda dengan nilai-nilai akidah dan iman bertujuan untuk menyiapkan generasi muda

sejak dini ketangguhan mereka untuk memperlemah sumber penyakit jiwa, misalnya

marah, takut mati dan kesedihan. Sehingga, ketika pada masanya para generasi muda itu

sudah benar-benar siap dalam menghadapai kehidupan yang luas ini.

Relevansi dengan Tahapan Perkembangan Kepribadian Generasi Muda

Dalam tahapan ini generasi muda dirumuskan dalam 2 (dua) tahapan yaitu tahap

perkembangan dan tahap pembentukan. Hal ini merujuk dari berbagai perasaan telah

166

Page 167: Tesis bagus

berkembang pada masa muda. Perasaan sosial, etis dan estesis mendorong generasi muda

untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius

akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat kearah hidup yang religius pula. Sebaliknya

bagi muda yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah

didominasi dorongan seksual. Masa muda merupakan masa kematangan seksual. Didorong

oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, muda lebih mudah terperosok ke arah

tindakan seksual negatif.

Pertama, tahap perkembangan sosial. Dalam tahap perkembangan pribadiannya ini

generasi muda tergantung dengan situasi sosialnya. Paham keagamaan generasi muda akan

ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul

konflik antara pertimbangan moral dan material. Generasi muda sangat bingung

menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan

materi, maka para generasi muda lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis. Hasil

penyelidikan Ernest Harms terhadap 1789 generasi muda Amerika antara usia 18 – 29

tahun menunjukkan bahwa 70 % pemikiran generasi muda ditujukan bagi kepentingan:

keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri dan masalah kesenangan pribadi

lainnya. Sedangkan masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,6 %, masalah sosial 5,8

%(Jalaluddin 2002, hlm. 75).

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka dalam perkembangan sosial generasi

mudah untuk tetap berpegang teguh pada al-Qur'an dan berprinsip menguatkan iman serta

meyakini diri akan hari kiamat yang diaplikasikan lewat sikap, tindakan dan perilaku.

Sehingga, perkembangan jiwa dalam konteks sosial tidak berpandangan materialis dan

asosial tapi justru mendapat dorongan yang mulia untuk mengembangkan jiwa-jiwa sosial

dan dapat menjalankan ibadah dengan tenang.

167

Page 168: Tesis bagus

Kedua, tahap perkembangan moral, perkembangan moral para generasi muda

bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga

terlihat pada para generasi muda juga mencakupi : self-directive, taat terhadap agama atau

moral berdasarkan pertimbangan pribadi, Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa

mengadakan kritik, Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan

agama, Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral, dan Deviant,

menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat (Jalaluddin 2002,

hlm. 76).

Dalam tahapan-tahapan perkembangan diri manusia, munculnya rasa keagamaan

dimulai dari sejak lahir. Masa yang rentan dan pertumbuhan yang kuat dalam hal ini hingga

mencapai umur 12 tahun (masa anak-anak). Dalam rentang usia ini keingintahuan anak

terhadap agama sangat tinggi. Pertanyaan tentang Tuhan dan hal-hal yang ghaib sangat

menarik bagi si anak. Penanaman pengetahuan dan pemahaman tentang agama pada masa

ini memegang peranan penting bagi pertumbuhan rasa keagamaannya pada jiwa manusia.

Sebaliknya, kegagalan penanaman rasa keagamaan akan membuat kelabilan jiwa dan

menumbuhkan sikap yang anti agama.

Pada masa generasi muda berkisar antara umu 13-18 tahun, kebiasaannya berpikir

berdasarkan pengalaman-pengalamannya, maka dikhawatirkan pengalaman yang pernah

dialaminya bukan bersumber dari sekolahnya, tetapi justeru berasal dari teman-temannya

yang rusak akhlaknya. Karena itu, pengawasan pendidikannya tidak hanya sebatas ketika

anak berada di sekitarnya, tetapi ia harus tanggap dan teliti terhadap pergaulan anak

didiknya ketika bermain dengan temannya di luar jam pelajaran.

Dan perlu diketahui pada masa ini, generasi muda sudah memiliki kamatangan

seksual yang bisa saja disalahgunakan bila pendidik kurang teliti mengawasinya. Karena

168

Page 169: Tesis bagus

anak tersebut punya cenderungan ingin bebas dari pengawasan pendidiknya. Bahkan lebih

aneh lagi, karena sifat keterbukaannya kepada temannya lebih banyak daripada kepada

pendidiknya. Padahal kalau ia mendapatkan kesulitan, pendidiklah yang lebih dahulu

mengatasinya, bukan orang lain.

Maka perlu mencari cara-cara yang lebih tepat digunakan untuk mendidika anak

tersebut, antara lain:

a) Harus mendidiknya agar selalu tekun menjalankan perintah agamab) Menanamkan kebiasaan yang selalu ingin berbuat baik kepada orang tua, guru,

teman-temannya, dan bahkan terhadap makhluk-makhluk lainnya. c) Selalu mengawasi pergaulan dengan anak yang buruk akhlaknya, dan

mengarahkannya agar bergaul dengan anak yang baikd) Selalu menasehati bila ia hendak keluar rumah dan mengingatkannya agar selalu

berhatihati ketika ia berbuat dan bergaul dengan teman-temannya.e) Selalu menjaganya agar tidak membaca buku-buku porno dan film-film cabul.

Masa dewasa, dimaksudkan adalah umur 19 tahun ke atas, dimana ia sudah

memasuki jenjang pendidikan tinggi. Berarti pada masa ini, anak sudah dapat menghayati

pengalaman-pengalaman hidup yang pernah dialaminya sejak kecil hingga dewasa,

kemudian ia menemukan arti dan nilai-nilai tertentu yang bermanfaat terhadap

pembentukan sikap dan perilaku yang baik baginya.

Sebenarnya mendidik akhlak anak yang sudah dewasa, tidak sulit asalkan jiwanya

sudah terisi nilai-nilai keagamaan dan kesusilaan. Hanya yang sulit jika ia tidak pernah

tersentuh oleh akhlak sejak ia masih kecil sampai terjerumus ke dalam lembah kerusakan

moral.

Cara-cara yang harus dilakukan dalam pendidikan akhlak anak tersebut, antara lain:

a) Pendidik harus memberi keterangan kepadanya tentang tujuan akhlak baik dan kemudhoratan akhlak buruk

b) Harus selalu mengontrol segala tingkah lakunya dan menasehatinya bila ternyata ia melakukan penyelewengan agama atau norma-norma sosial.

c) Pendidik harus mendesak untuk menerapkan pendidikan akhlak (etika) yang pernah di dapatkannya di sekolah maupun di tempat lain.

169

Page 170: Tesis bagus

Perkembangan sikap keagamaan pada manusia dipengaruhi tiga faktor utama, yaitu

faktor hereditas, faktor pembawaan, dan faktor lingkungan (Zakiah 1996, hlm. 35-37)

Pertama, faktor hereditas yang berkaitan erat dengan kedua orang tua (ibu-bapak). Karena

sifat-sifat atau ciri-ciri yang terdapat pada anak dikatakan keturunan jika hal tersebut

diwariskan atau diterima dengan sel benih dari generasi lain (Purwanto, 1997, hlm. 64).

Adapun yang diwariskan orang tua kepada anak berbentuk sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu

pada bentuk fisik, bentuk wajah, gerakan-gerakan tertentu dari bagian tubuh dan juga

sebagian kecil sifat emosi. Keemua diterima anak dari sel benih kedua orang tuanya.

Selanjutnya faktor pembawaan adalah seluruh potensi yang terdapat pada individu

dan pada masa perkembangannya benar-benar dapat diwujudkan (Mudjakir dan Sutrisno

1997, hlm. 92). Potensi tersebut misalnya, kemampuan berjalan, berbicara, dan lain-lain

yang nanti potensi ini memang benar-benar terbukti meskipun tetap tergantung pada

pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Potensi-potensi di atas merupakan

pembawaan bagi setiap anak yang dilahirkan.

Lebih jauh dapat dijelaskan bahwa bagi pendidikan Islam prinsip utama dalam

pengembangan sumber daya manusia, pertama peserta didik harus dihadapi secara totalitas

unsur-unsurnya. Al-Qur’an tidak memisahkan unsur jasmani dan rohani, tetapi pembinaan

jiwa dan pembinaan akal sekaligus tanpa mengabaikan unsur jasmaninya. Karena itu,

seringkali ditemukan uraian-uraian yang disajikan dengan argumentasi logis, disertai

sentuhan-sentuhan kepada kalbu. Kedua memahami nilai-nilai masyarakat sekitar. Kualitas

kreativitas seseorang dalam masyarakat tidak saja tergantung pada hasil pendidikan di

lembaga-lembaga pendidikan tetapi juga oleh nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakatnya

(peradaban, Hasan Langgulung red). Jika nilai-nilai tersebut mendukung pengembangan

170

Page 171: Tesis bagus

sumber daya manusia, maka kualitasnya akan sangat baik demikian juga sebaliknya

(Rohmalina, 2002, hlm.115).

Diharapkan dengan melaksanakan prinsip atau konsep ini, bukan hanya kesucian

jiwa yang diperoleh tetapi juga pengetahuan yang merangsang daya cipta, karena daya ini

dapat lahir dari penyajian materi secara rasional serta rangsangan pertanyaan melalui

diskusi. Dengan demikian peningkatan sumber daya manusia berarti peningkatan

pendidikan dan pengetahuan.

Ketiga, tahap pembentukan kepribadian muslim, dengan menanamkan nilai-nilai

Islam dalam keluarga dilakukan dengan cara melaksanakan pendidikan akhlak di

lingkungan rumah tangga. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:

Memberikan bimbingan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, memelihara anak

dengan kasih saying, memberi tuntunan akhlak kepada keluarga, membiasakan untuk

menghargai peraturan-peraturan dalam rumah tangga, membiasakan untuk memenuhi dan

kewajiban antara sesama kerabat (Rohmalina, 2002, hlm.115)

Jadi yang harus ditanamkan di dalam lingkungan keluarga selaku unsur terkecil dari

masyarakat adalah dasar-dasar aqidah yang benar dan akhlak mulia. Menanamkan dasar-

dasar nilai tersebut dimulai sejak, sehingga ketika dewasa anak menjadi terbiasa.

Baik sebagai individu maupun sebagi ummah, kaum muslimin diharuskan untuk

senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT. Hubungan yang baik menjadi

kunci utama bagi pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah. Nilai-nilai Islam yang

diterapkan dalam hubungan itu mencakup:

a) Senantiasa beriman kepada Allahb) Bertaqwa kepada-Nyaa. Menyatakan syukur atas segala nikmat Allah dan tak berputus asa dalam

mengharap rahmat-Nyab. Berdoa kepada Allah, menyucikan diri, mengagungkan-Nya serta senantiasa

mengingat-Nya.

171

Page 172: Tesis bagus

c. Menggantungkan niat atas segala perbuatan kepada-Nya.Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu, keluarga, masyarakat, mupun

ummah pada hakikatnya berjalan seiring dan menuju ke tujuan yang sama. Tujuan

utamanya adalah guna merealisasikan diri, baik sebagai individu maupun sebagai ummah

untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Pembentukan kepribadian pada dasarnya merupakan upaya untuk mengubah sikap

kearah kecenderungan kepada nilai-nilai keislaman. Perubahan sikap, tentunya tidak terjadi

secara spontan. Semuanya berjalan dalam proses yang panjang dan berkesimanbungan.

Cerminan dari ciri-ciri kepribadian muslim seperti yang dikemukankan tersebut, pada garis

besarnya merupakan unsur-unsur yang terkandung dalam komponen pembentukan akhlak

yang mulia dari sumber ajaran al-Quran. Berakhlak mulia, memuat pengertian mampu

menjalani hubungan yang baik antara hamba dengan Allah (hablumminallah), dan

hubungan baik antara sesama manusia (hablumminannas), maupun denga makhluk Tuhan

(hablimminal `alam). Hubungan baik inilah merupakan dasar utama bagi pembentukan

kepribadian muslim secara individu. Dalam Islam juga mengajarkan faktor genetika

(keturunan) ikut berfungsi dalam pembentukan kepribadian muslim. Menurut Jalaluddin

dan Usman Said bahwa akhlak terhadap Allah meliputi:

1. Mengabdi kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya2. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah Swt3. Berserah diri kepada ketentuan Allah Swt4. Bersyukur hanya kepada Allah Swt5. Ikhlas menerima keputusan Allah Swt6. Penuh harap kepada Allah Swt7. Takut kehilangan rasa patuh kepada Allah Swt8. Takut akan siksa Allah Swt9. Takut akan kehilangan rahmat Allah Swt10. Mohon pertolongan kepada Allah Swt11. Cinta dan penuh harap kepada Allah Swt (Jalaluddin dan Usman 1996, hlm. 61-61).

172

Page 173: Tesis bagus

Selanjutnya Jalaluddin dan Usman Said, menambahkan bahwa akhlak kepada

sesama manusia, secara garis besarnya meliputi sikap yang baik seperti: Menghormati dan

menghargai perasaan kemanusiaan, Memenuhi janji dan pandai berterima kasih, Saling

menghargai, dan menghargai status manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia

(Jalaluddin dan Usman 1996, hlm. 82). Begitu juga akhlak terhadap lingkungan sekitar kita

(alam). Islam mengajarkan kepada setiap muslim untuk menunjukkan sikap yang serasi

terhadap lingkungan sekitar. Sikap tersebut meliputi: (1) Memperlakukan binatang dengan

baik dan (2) Menjaga dan memelihara kelestarian alam (Jalaluddin dan Usman 1996,

hlm.84-85).

Jadi pada dasarnya pembentukan kepribadian muslim merupakan suatu

pembentukan kebiasaan yang baik dan serasi dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Untuk

itu setiap muslim dianjurkan untuk belajar seumur hidup, sejak lahir hingga akhir hayat.

Pembentukan kepribadian melalui pendidikan tanpa henti (long life education), sebagai

suatu rangkaian upaya menuntut ilmu dan nilai-nilai keislaman, sejak dari buayan hingga

ke liang lahat. Pembentukan kepribadian muslim merupakan pembentukan kepribadian

yang utuh, menyeluruh, terarah, dan berimbang.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dengan mudah diidentifikasi

prinsip yang ada yakni ikhlas, takwa dan sedekah. Dan senantiasa

menjalankan sunah Nabi Muhammad dalam rangka membentuk

kepribadian muslim yang diharapkan.

Bab 5 P E N U T U P

173

Page 174: Tesis bagus

Kesimpulan

Dari rangkaian diskusi dan beberapa uraian di atas, maka

penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Dalam konteks pendidikan akhlak Said Nursi adalah salah satu tokoh dalam bidang

akhlak yang konsisten terhadap pembinaan generasi muda. Pendidikan di

keluarga dan masyarakat yang mendorong Said Nursi untuk

aktif mendidik masyarakat dan menyebarkan dakwah Islam.

Media yang digunakan adalah Risale-i Nur yang merupakan

karya monumental Said Nursi. Risale-i Nur telah memberikan

sumbangsih positif bagi dunia Islam dalam membangun nilai-nilai

akhlak.

2. Pendidikan akhlak Said Nursi didasari atas pemahamannya

terhadap al-Qur’an dan ilham dari Allah Swt. Tugas pokok

dari pendidikan akhlak adalah memperkokoh prinsip-prinsip

yang dimiliki oleh manusia untuk mencapai tingkatan

manusia seperti Nabi yang harmonis dan seimbang secara

positif yang melahirkan sikap hidup mulia dengan akhlak

karimah. Hal yang paling prinsip dalam memperkuat

pemahamannya adalah interpretasinya tentang manusia,

alam semesta dan Allah.

3. Untuk mencapai manusia seperti Nabi yang seimbang atau

harmonis Said Nursi dengan interpretasi terhadap manusia,

alam semesta dan Allah melahirkan prinsip-prinsip dalam

pendidikan akhlak menurut pandangan Said Nursi yaitu

174

Page 175: Tesis bagus

menguatkan keimanan, berpegang teguh pada al-Qur'an,

pentingnya memahami hakekat penciptaan manusia, pentingnya

memahami alam semesta, pentingnya memahami asma' al-Husna,

pentingnya mengetahui tanda-tanda hari kiamat, pentingnya

meyakini hari kiamat, meneladani nabi Muhammad Saw, dan

menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah.

4. Prinsip menguatkan iman sangat relevansi bagi sikap akidah

generasi muda. Said Nursi meyakini bahwa iman pokok

dalam menjalani kehidupan. Iman yang dimaksud adalah

iman yang tercukup dalam rukun iman. Dasar keimanan

adalah kalimat kalimat La Ilaha Illah yang merupakan mengakui

secara totalitas kekuasaan Allah. Akidah generasi muda

cenderung tidak didasari keyakinan yang kokoh, karena itu

Said Nursi menekankan agar menguatkan iman.

5. Prinsip berpegang teguh pada al-Qur'an dan prinsip memahami

hakekat penciptaan manusia, terkait dengan generasi muda

cenderung senang pada gagasan-gagasan segar yang memainkan

akal. Padangan berdasarkan akal inilah yang lebih diminati,

sehigga melahirkan pandangan sekulerisme, materialisme,

komunisme dan ateisme yang merusak pemikiran generasi muda.

Said Nursi meyakinkan generasi muda agar sepegang teguh pada

al-Qur'an dan memahami hakekat penciptaan manusia sebagai

pedoman sekaligus pandangan hidup.

175

Page 176: Tesis bagus

6. Mengenai tujuan hidup generasi muda pada masa mudah

cenderung hedonis dan duniawi, suatu tujuan hidup terombang-

ambing tidak jelas arahnya. Untuk itu, mencapai tujuan hidup

Said Nursi agar generasi muda berprinsip menguatkan iman,

berpegang teguh pada al-Qur'an, memahami penciptaan manusia,

memahami alam semesta, memahami asma' al-husnah,

mengetahui tanda-tanda hari kiamat dan meyakini hari kiamat.

Prinsip-prinsip ini sangat menopong terbentuknya manusia yang

bertujuan hidup yang jelas.

7. Prinsip meneladani Nabi Muhammad dan menanamkan ikhlas,

takwa dan sedekah sangat relevan dengan ibadah generasi muda.

Said Nursi menekankan ikhlas karena keikhlasan akan

membimbing manusia menjadi suci dan mulia, dengan ketakwaan

menjadi manusia yang berakal dan tenang, sedangkan dengan

sedekah menjadi manusia yang dermawan dan berjiwa sosial.

Generasi muda harus senantiasa meneladani dan menanamkan

nilai-nilai ikhlas, takwa dan sedekah secara integratif.

8. Dalam konteks situasi kejiwaan generasi muda diharapkan selalu

mampu melakukan perubahan jiwa dengan prinsip keimanan dan

keyakinan terhadap hari kiamat dengan keyakinan dan

pengamalan hidup yang mendalam.

9. Dalam tahapan perkembangan dan lingkungan yang di dalamnya

terdapat generasi muda, maka generasi muda berprinsip

menguatkan keimanan, teguh pada al-Qur'an, memahami hakekat

176

Page 177: Tesis bagus

penciptaan manusia, pentingnya memahami alam semesta,

pentingnya memahami asma' al-Husna, pentingnya mengetahui

tanda-tanda hari kiamat, pentingnya meyakini hari kiamat,

meneladani nabi Muhammad Saw, dan menanamkan ikhlas,

takwa dan sedekah. Said Nursi sangat yakin melalui tahapan

pembentukan akhlak yang akrab dengan lingkungan, maka

kehidupan generasi muda akan menjadi lebih baik lagi.

10. Selanjutnya dapat ditegaskan disini bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said

Nursi sangat bermanfaat sekali bagi generasi muda yang didasarkan kepada apa

yang diajarkan oleh Nabi Muhamamd Saw, baik secara teoritis berdasarkan al-

Qur’an maupun secara praktis melalui perilaku kehidupannya sehari-hari.

Saran-saran

Perlu diketahui bahwa sekarang di Indonesia nama Bediuzzaman Said Nursi sudah mulai

populer menyemarakkan sederetan tokoh pemikir Islam kontemporer lainnya. Hal ini

menunjukkan bahwa bagi kaum akademisi sudah tentu menjadi sebuah khazanah keislaman

yang perlu direspons secara positif melalui kegiatan-kegiatan ilmiah, salah satunya

yakni meneliti aspek-aspek ulama besar Turki ini, berikut pula karya tafsir Risale-i

Nur. Untuk itu, ada beberapa hal dari hasil penelitian ini yang patut untuk dijadikan saran-

saran sebagai berikut :

Pertama, penyajian bahasa dalam Risale-i Nur yang banyak

mengandung analogi yang kadangkala sulit untuk diakses langsung

oleh masyarakat awam. Karenanya, perlu disederhanakan melalui dua

cara, yaitu ringkasan-ringkasan tematik (bentuk tulisan) dalam bahasa

177

Page 178: Tesis bagus

yang lugas dan singkat serta suguhan contoh yang rill sesuai

dengan kodisi masyarakat dan metode diskusi (seperti pola dershane),

namun hendaknya menyentuh kebutuhan masyarakat kelas bawah -

seperti di desa-desa - bukan hanya kelas menengah ke atas saja

(melalui kajian-kajian atau majelis ta'lim). Melihat kajian-kajian

Risale-i Nur selama ini berkutat seputar penguatan akidah (bukan

fiqh dan khilafiyah), maka perbaikan cara mensosialisasikannya

sangat relevan, mencerdaskan dan menambah wawasan

masyarakat.

Kedua, mengadakan kegiatan-kegiatan ilmiah di kampus,

perguruan tinggi, dan di sekolah-sekolah, serta di lembaga.

pendidikan Islam informal lainnya agar dapat memperoleh

pemahaman utuh dari Risale-i Nur tersebut melalui kajian-kajian rutin.

Ketiga, mengembangkan pola pendidikan dershane bagi

peserta didik dan masyarakat umum secara terpadu, sehingga

terwujud suatu kondisi di mana tradisi "pengajaran" dan

"pendidikan" yang integral bisa diterapkan secara nyata.

Implikasi Penelitian

Pada taraf yang lebih operasional, kesimpulan di atas membawa beberapa implikasi ke

luar dari pokok pembahasan penelitian. Dari pembahasan tentang prinsip-prinsip

pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi di atas penulis menemukan

beberapa implikasi positif dan implikasi negatif terutama untuk menjawab relevensi

dengan kebutuhan bagi generasi muda.

178

Page 179: Tesis bagus

1. Pendidikan akhlak yang berfungsi untuk memperkokoh daya-

daya positif yang natural di dalam diri manusia

mengharuskan ada sistem pendidikan akhlak yang

didasarkan pada perkembangan jiwa manusia secara integral.

2. Secara implisit diketemukan semangat penanaman prinsip-prinsip pendidikan

akhlak yang berkiblat kepada satu arah yakni Risale-i Nur dan al-Qur'an.

3. Dari aspek pendidikan akhlak Said Nursi menginginkan

realisasi prinsip-prinsip pendidikan akhlak secara unversal

dalam diri manusia. Semua ini bertujuan berangkat dari

pemahaman pandangan dasar hidupnya tentang ketuhanan

dengan mengokohkan akidah dan menggairahkan ibadah.

4. Ternyata usaha mentransformasikan nilai-nilai dan membina

kepribadian umat Islam ditinjau dari sudut pendidikan

walaupun relatif sukses, namun memerlukan tindak lanjut atau

kontribusi dari berbagai kalangan, khususnya para pencinta

ilmu. Oleh karena itu, karya yang Said Nursi wariskan ini

hendaknya dikembangkan dalam bentuk riset lanjutan

dengan membahas tema-tema lain yang banyak dikandung dalam

Risale-i Nur.

5. Secara rasional mempelajari Risale-i Nur juga berarti mempersiapkan

generasi muda untuk menangkal dalil-dalil yang bertentangan dengan

ajaran Islam. Namun dalam hal modernisasi menghadapi perkembangan dan

kemajuan teknologi hanyalah sebatas penjelasan-penjelasan dan

argumentatif, namun tiada tawaran secara kongkrit dan solusi yang jelas dan

179

Page 180: Tesis bagus

tepat dalam menghadapi dan menangkal tantangan peradaban Barat yang menurut

beliau sudah sesat karena menuruti hanya hawa nafsu belaka dan menurut

beliau peradaban Islam yang ditegakkan atas ajaran al-Qur'an dan al-Hadits

lebih baik dari peradaban Barat.

6. Dalam proses pengajaran Said Nursi dengan menggunakan

metode dershane atau semacam halaqah dengan mempelajari

ilmu-ilmu agama ataupun ilmu-ilmu yang berkaitan dengan

pengetahuan umum, disini kita dapat melihat kekurangan dari

metode pengajaran Said Nursi yang mana tidak adanya adanya

kejelasan dari disiplin ilmu yang diajarkan sesuai dengan

disiplin keilmuwan yang secara khusus diajarkan tersendiri

dan tidak tersusunnya materi pelajaran yang diajarkan kepada

siswanya.

7. Dalam proses pembelajaran aspek yang dikedepankan adalah

bagaimana audiensnya dapat lebih menambah wawasan dan

pemahaman terhadap ajaran agama Islam dan menambah

ketaatan beragama dengan tidak mengabaikan disiplin ilmu

lain, seperti ilmu pengetahuan umum, namun disini terjadi

suatu ketidakjelasan arah pendidikan yang ditawarkan oleh

Sadi Nursi siswanya akan diarahkan kemana ?. Kemudian,

proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh Said Nursi

kalau kita cermati lebih mengutamakan untuk perbaikan diri

dan hubungannya dengan iman dan kesalehan diri, namun tidak

180

Page 181: Tesis bagus

melupakan modernisasi walaupun itu hanya sebatas

pengetahuan yang tidak mendalam.

Sehubungan dengan implikasi di atas, dapat dikatakan bahwa implikasi dari prinsip-prinsip

pendidikan akhlak Said Nursi tidak hanya memberikan kemungkinan kepada para ilmuwan,

guru, pendidik untuk dapat menguasai materi belaka, tetapi memiliki

kemampuan "meneladankan" nilai-nilai positif kepada peserta didik. Disamping itu, baik

ilmuwan, guru atau pendidik memiliki rasa tanggung jawab yang besar dalam

mengembangkan dan mengamalkan ilmu untuk tujuan yang benar dan dengan jalan yang

benar pula.

Rekomendasi

Beberapa implikasi sebagaimana di atas mengisyaratkan adanya upaya upaya

penelitian lebih lanjut. Adapun berdasarkan persoalan akhlak yang penulis

kemukakan, masalah-masalah secara spesifik yang selanjutnya perlu kiranya untuk dikaji

lebih lanjut antara lain :

1. Konsep metafisika Said Nursi sebagai landasan mencapai tujuan hakiki dan

proses pendidikan dan kehidupan.

2. Prinsip-prinsip filosofis dalam pendidikan Islam dan Akhlak dalam

kandungan Risale-i Nur .

3. Konsep pendidikan dershane Said Nursi dalam meningkatkan

akhlak.

4. Strategi pengembangan jiwa, ruh dan emosi menuju akhlak mulia

dalam pandangan Said Nursi.

181

Page 182: Tesis bagus

5. Peranan para orang tua, murid, dan masyarakat dalam interaksi paedagogis

Said Nursi dalam proses pembentukan akhlak mulia

6. Analisis politik kebijakan pendidikan pemerintah Turki terhadap gagasan

Risale-i Nur dalam upaya pembentukan masyarakat madani.

7. Rancangan kurikulum pendidikan Islam dalam proposal Medreset at-Zehra.

8. Dasar-dasar epistemologi penerapan akhlak menurut Said Nursi.

9. Etika belajar-mengajar dalam proses pendidikan Islam dalam

pandangan Said Nursi.

10. Guru yang profesional dalam pandangan Said Nursi.

11. Kriteria murid yang ideal dalam pandangan Said Nursi.

REFERENSI

Abdurrahmansyah 2002. Sintesis Kreatif (Pembahanian

Kurikulum Pendidikan Islam Ismail Raji' al Faruqi). Global Pustaka,

Yogyakarta.

Abu-Rabi, Ibrahim M (Ed) 2003. Islam at the Crossroads On the

Life and Thought of Bediuzzaman Said Nursi, Sunny Press, USA

A]-Attas, Syed Muhammad Naquib 1995. Islam dan Filsafat Sains (diterjemahkan

oleh Saiful Muzani, Mizan, Bandung.

Al-hamid, Muhsin 1999. “Bediuzzaman Said Nursi : The Kalam Scholar of the Modem Age”, dalam Third International Symposium on Bediuzzaman Said Nursi 24-28 th September 1995, Istanbul. Sozler Publication, Turki.

Al-Balali, Abdul Hamid 2003. Madrasah Pendidikan Jiwa. Penerjemah : Atik Fikri

182

Page 183: Tesis bagus

Ilyas, Gema Insani, Jakarta.

Al-Brayary 1988. Pengenalan Sejaruh AI-Our’an. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Al-Ghazali, Abu Hamid 2003. Tahfut al-Falasifah (diterjemahkan oleh Ahmad

Maimun). Islamika, Yogyakarta.

Ali, Urkhan Muhammad 1995. Said Nursi al qadr .fi hayat ummah,

Sharikat al-Nast li al Tiba’ah,Istanbul Turki.

________ 1995. Said al-Nursi Raj 'al al-qadr fi hayat ummah. Sharikat al-Nast li al-Tiba’ah, Istanbul Turki.Al-Khathib, Ibn (Ed) 1398 H. Tahzib al-Akhlak wa Thahhir al-Araq.

Ibn Miskawaih (Penulis), Dar Maktabat al-Hayat, Beirut.

Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Thourny 1979. Falsafah Pendidikan Islam.

Bulan Bintang, Jakarta.

Aly, Siti Taurat, Sundari, Risminawati 1990. Pengatar Etika Islam. Ramadhani, Solo.

Aly, Hery Noer 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Logos Wacana I1mu, Jakarta.

Amin, Khalil Ibn Ibrahim 2005. Keajaiban Penciptaan Makhluk

Sebuah Telaah Ibnul Qayyim. Qisthi Press, Jakarta.

Amir, Dja’far 1980, Ilmu Mantiq, Ramadhani, Solo.

Arifin, Muzayin 1991. Kapita Selekta Pendidikan Islam (Islam dan Umum). Bumi Aksara,

Jakarta.

________, 2000. Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan

Pendekatan Interdisipliner), Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

___________, 1996. 1lmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara, Jakarta.

Azra, Azyumardi 2000. Pendidikan Islam (Tradisi dan Modernisasi

183

Page 184: Tesis bagus

Menuju Milinium Baru). Logos, Jakarta.

Aziz, Muhammad bin Abdul 2001. Sabar (diterjemahkan oleh Aman Abdurrahman).

Al Khudhairi, Jakarta.

Bahreisj, Hussein 1980. Himpunan Pengetahuan Islam (450

Masalah Agama Islam), Al Ikhlas, Surabaya.

Bakhtiar, Laleh 2001. Perjalanan Menuju Tuhan dari Maqam-maqam Hingga Karya Besar Dania Sufi. Nuansa, Bandung.Balitbang Depdiknas 2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan

Nasional (Bahan Sosialisasi). Depdiknas, Jakarta.

Daradjat, Zakiah 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara, Jakarta.

________1996. Metodologi Pengqjaran Agama Islam. Bumi Aksara, Jakarta.

Daud, Wan Mohd Wan 1999. Filsafah dan Praktik Pendidikan Islam

Syed M. Naquib Al-Atlas. Mizan, Bandung.

Departemen Agama RI dan Mesir 1997. AI-Quran dan Tejemahnya. Mushraf

Asyarifah, Madinah Al Munawwarah.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesi. Balai Pustaka, Jakarta.Djajadisastra, Jusuf, dkk. 1986. Psikologi Perkembangan dan

Psikologi Pendidikan. Proyek Pusat Pengembangan Penataran Guru

Tertulis, Bandung.

Djamarah, Syalful Bahri dan Zain, Aswan 1996. Stategi Belajar

Mengajar. Rineka Cipta, Jakarta

184

Page 185: Tesis bagus

Fromm, Erich 1995. Physco-analysis and Religion. Yale University Press, New Haven.

Ertugrul, Halit 1994. kgilimade Bednizz-aman Alfodeli. Yeni Asya

Yayinlari, Istanbul.

Gozutok, Sakir 2002. The Risale-i Nur In The Context of. Educational Principles and Methods (The Paper Presented in The Fifth International Symposium On Badiuzzatnan SaidNursi). Sozler Publication, Istanbul.

Ghulsyani, Mahdi 2001. Sains Menurut Al-Quran (diterjemahkan oleh Agus Efendi), Mizan, Jakarta.Gulen, M. Fethullah 2002. Memadukan Akal dan Kalbu dalam Beriman .

RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Gymnasitiar, Abdullah 2000. Ma’rifatullah (Ilmu Mengenal Allah) . Evy Saifullah

(Ed). MQS Press, Bandung.

Hadi, P. Hardono 1994. Epistemologi Filsafat Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta.

Hasan, M. Ali 2000. Studi Islam: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Hitty, Philip K. 1974. History of the Arabs, The Macmillan Press, London.

Jundi, Anwar 1992. Islam Setelah Komunis (diterjemahkan oleh Ibnu

Muhammad dan Fakhruddin Nursyam), Gema Insam Press, Jakarta.

Jamaludin, Amin Muhammad 2003. Huru-hara Akhir Zaman : Penjelasan Terakhir Untuk Umat Islam (diterjemahkan oleh Abu Adam Aqwam). Kartasura, Solo.Langgulung, Hasan 1992. Asas-Asas Pendidikan Islam. Pustaka Al-Husna, Jakarta.

________, ”Pendidikan Islam dalam Masyarakat Demokrasi”. Conciencia (Jurnal Pendidikan Islam)," Nomor 1 volume III, Juni 2003.Maarif, Ahmad Syafi’i 2000. Krisis dalam Pendidikan Islam, Al-Mawardi Prima, Jakarta.

Mardin, Serif, 1989. Religion and Social Change in Modern Turkey : The Case of Bedfuzzanian Said Nursi, Albany, USA.

Margono 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta.

Marimba, Ahmad D 1976. Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta.

Markban, Ian dan Ibrahim Ozdemir 2005. Globalization Ethics and Islam (The Case od Bediuzzaman Said Nursi). Ashgate Publishing Company, Burlington USA.Mastuhu 1999. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta.

185

Page 186: Tesis bagus

_________2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (The New Mind Set of National Education in the 21 Century), MSI UII dan Safiria Press, Yogyakarta.

Maududi, Abu A’la, Anwar Jundi, 1989. Menembus Cakrawala Islam. (diterjemahkan oleh Su’du Su’ud, Ramadhani, Solo.

Miskawaih, Ibn 1398. Tahzib al-Akhlaq. Hasan Tamirn (Ed), Bairut, Mansyurat

Dar Maktabat al-Hayat.

Murodi dkk. 1995. Sejarah Kebudayaan Islam. CV Toha Putra, Semarang

Muchtar, Aflatun dkk. 2001. Wawasan Al-Quran tentang Keseimbangan dan Pelestarian Alam) dalam Islam Humanis, M. Tuwah dkk (Ed), Moyo Segoro Agung, Jakarta.Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi : Konsep, Karakteristik,

dan Implementasi, PT Remaja Rosda Karya, Jakarta.

Myers, Eugene A. 2003. Zaman Keemasan Islam (Para Imuwan Muslim Pengaruhnya terhadap Dunia Barat). Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta.Nashori, Fuad (Ed) 1996. Membangun Paradigma Psikologi Islami .

SIPRESS, Yogyakarta.

Nasution, S 1983. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ,

Bina Aksara, Jakarta.

Nasution, Harun, 1990. Pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Bulan Bintang, Jakarta.

_________ 2002. Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Universitas

Indonesia Press, Jakarta.

________ 1983. Akal dan Wah.vu dalam Islam. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Nata, Abuddin 1997. Filsalat Pendidikan Islam I. Logos Wacana Ilmu, Ciputat, Jakarta.

________ 2001. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

186

Page 187: Tesis bagus

Nursi, Bediuzzaman Said, 1998. Sirah Zatiyyah (diterjemahkan oleh Ihsan

Kasim Salih). Matba’at Suzlar, Istanbul, Turki.

________ 1999a. Isyarat al-Ijaz, (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim Salih) , Sozler

Nesriyat A.S, Istanbul.

________ 1999b. Matsnawi al-Arabi an-Nuriy, (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim

Salih). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

_________ 1999c. Shiqak al-Islam, (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim Salih). Sozler Nesriyat A.S,Istanbul.________ 1999c. Pembahasan 'Ana' (Aku) dan Zarah, (diterjemahkan oleh Anwar Fakhri Omar, Kuala Terengganu, Percetakan Yavasan Islam Trengganu Sdn Bhd, Malaysia________ 1999d. Bediuzzaman Said Nursi (Tarihce-i Hayat). Sozler Yayinevi, Istanbul.________ 2000a. The Words (On The Nature and Purpose of Man Life, and All Things)

(diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

________ 2000b. The Letters 1928-1932 (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler

Nesriyat A. S, Istanbul.

__________2000c. The Flashes Collection, (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler

Nesriyat A.S, Istanbul.

__________2000d. The Rays Collection. (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

2000e. Bediuzzaman Said Nursi, Penerjemah : Sukran Vahide, Sozler Nesriyat

A.S, Istanbul.

________ 2000f. Thirty-Three Windows; Making Known The Creator. (diterjemahkan oleh

Sukran Vahide). Sozler Publication, Istanbul.

________ 2000g. Persoalan Tauhid dan Tasbih (diterjemahkan oleh Maheram binti

187

Page 188: Tesis bagus

Ahmad). Sozler Publication, Istanbul.

________ 2002a. Man and Universe, (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

________ 2002b. The Shore Hlordv, (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul._________ 2003a. Risalah An-Nur : Said Nursi: Pemikir dan Sufi Besar Abad 20

(Menikmati Takdir Langit : Lama'ar). Murai Kencana, Jakarta.

_________ 2003b. Risalah An-Nur; Said Nursi: Pemikir dan Sufi Besar Abad 20(Menjawab yang Tak Terjawab, Menjelaskan yang Tak Terjelaskan. Murai Kencana, Jakarta_______________, 2003c. Risalah An-Nur; Said Nursi: Pemikir dan Sufi Besar Abad 20 (Sinar

yang Mengungkap Sang Cahaya; Epitomes Of Light). Murai Kencana, Jakarta.

_____________, 2003d. Alegori Kebenaran Ilahi, (diterjemahkan oleh Sugeng

Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

___________ , 2003d. Dimensi Abadi kehidupan (diterjemahkan oleh Sugeng

Hariyanto). PrenadaMedia, Jakarta.

__________, 2003e Dari Balik Lembaran Suci (diterjemahkan oleh Sugeng

Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

__________, 2003g. Episode Metafisis Kehidupan Rasulullah (diterjemahkan oleh

Sugeng Hariyanto). Prenada Media, Jakarta.

2003h. Dari Cermin Kekuasaan Allah (diterjemahkan oleh Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

2003i. Al-Ahad Menikmati Ekstase Spiritual Cinta Ilahi (diterjemahkan oleh

Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

, 2003j. Mi’raj Menembus Konstelasi Langit, (diterjemahkan oleh Sugeng

Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

188

Page 189: Tesis bagus

2003k. Makna Hidup Sesudah Mati: Kebangkilan dan Penghisaban

(diterjemahkan oleh Sugeng Hariyanto dan Fathor Rasyid), Murai Kencana, Jakarta

I 2004a. Mengokohkan Akidah Menggairahkan Ibadah, (diterjemahkan oleh Muhammad Misbah). Robbani Press, Jakarta.

2004b. Iman Kunci Kesempurnaan (diterjemahkan oleh Muhammad Misbah). Robbani Press, Jakarta,Ottal, William R. 1978. the Psychobiclo~U of Mind. New Jersey, Lawrence

Erlbaum Associates.

Rahman, Taha ‘Abdel 2003, The Separation of Human Philosophy .from the Wisdom of the Qura'an in Said Nursi Work's dalam buku Islam at the Crossroad on the Life and thought of Bediuzzaman Said Nursi (Ibrahim Abu Rabi’, Editor), Penerbit Suny Press, Amerika Serikat.Ramadhan, Syamsuddin 2003. Islam Musuh Bagi Sosialisme dan Kapitalisme ,

Wahyu Press, Jakarta.

Rahman, Fazlur 1984. Islam. Pustaka, Bandung.

_________1985. Islam dan Modernitas: Tentang Trancfbrmasi Intelektual. Pustaka,Bandung.

Salih, Ihsan Kasim 2003. Said Nursi Pemikir dan Sufi Besar Abad 20

(Membebaskan Agama dari Dogmatisme dan Sekularisme. Murai Kencana, Jakarta.

_________1999.Badi'al-zaman Said Nursi nazrah 'animah an hayatihi wa atharihi, Matba'at Al Najah al Jadidah, Al Magrib.

Syafiie, Inu Kencana, 1998. Logika, Elika, dan Estetika Islam. Pertja, Jakarta.

Sahrasad, Herdi, 2000. Islam Sosialisme dan Kapitalisme. Madani Press, Jakarta.

Sandra 2005. Metode dan Pendekatan Pendidikan Islam dalam Perspektif Bediuzzaman Said Nursi, Tesis pada Pps IAIN Raden Fatah Palembang.

Sarwat, Saulat, 1980. Said Nursi, Internasional Islamic Publisher, Pakistan.

Suseno, Franz Magnis, 1991. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Kanitsus, Jakarta

Sukanto MM, 1996. Ketimpangan-ketimpangan Psikologi dalam Membangun

189

Page 190: Tesis bagus

Paradigms Psikologi Islami (Fuad Nashori, Editor), Penerbit SIPRESS, Yogyakarta.

Surahmad, Winarno 1990, Pengantar Interaksi Mengajar (Belajar Dasar dan Teknik

Melodologi Mengqjar), Tarsito, Bandung.

Suryabrata, Sumadi 1997. Metodologi Penelitian, Rajawali Pers, Jakarta.

Suwito 1995. "Konsep Pendidikan Akhlak Menurut Ibn Miskawaih". Disertasi Doktor pada Program Pascasarjana (Pps) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.Saulat, Sarwat, 1980. Said Nursi, Internasional Islamic Publisher, Pakistan.

Sunanto, Musyrifah, 2004. Sejarah Islam Klasik (Perkembangan Ilmu

Pengetahuan Islam), Penerbit Prenada Media, Jakarta.

ST. Sunardi, 1999. Nietzsche, LkiS, Yogyakarta.

Tafsir, Ahmad 2003. Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya

_______Tafsir, Ahmad et.al 1995. Epistemologi Ilmu Pendidikan Islam.

Remaja Rosdakarya, Bandung.

Thalib, M. 1996. Metode Pendidikan Islam. Gema Insani Pers, Jakarta.

Tasmara, Toto 1999. Dajal dan Simbol Setan. Gema Insani, Jakarta.

Tatli, Adem 1992. Badiuzzaman Education Methot (The Paper Presented in The Second International Symposium on Bediuzzaman Said Nursi: The Reconstuction of Islamic Thought In The 7Wentieth Century and Bediuzzaman Said Nursi, 27-29 September 2000), Istanbul: Sozler Publication

Tibawi, AL 1979. Islamic Education: Its Traditions and Modernization into the

Arab National Systems, London: WCIB 3PE, Luzac and Company LTD. 45, Great Russell

Street

190

Page 191: Tesis bagus

Ulwan, Abdullah Nasih, 1995. Pendidikan Anak dalam Islam I dan 2. (diterjemahkan oleh Jamaluddin Miri), Pusataka Imam, Jakarta.

Vahide, Sukran 1992. Bediuzzaman Said Nursi. Sozler Publication, Istanbul.

___________ 1998. A Comfeniporary Approach to Understanding The Qur'an: The Example of The Resale-i Nur, International Symposium Bediuzzaman Said Nursi, Sozler Publication, Istanbul:

Waspodo 2002. "Kurikulum Sebagai Sarana Mencerdaskan Kehidupan Bangsa", dalam Makalah yang disajikan dalam Diskusi Panel Kependidikan tanggal 21 Mei 2002 di Palembang.Yatim, Badri 1995. Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Yavuz, M. Hakan. 2003. Islamic Political Identity in Turkey. Oxford University Press,

USA.

Yildiz Ilhan 2002. The Search in The Traditional Period (1924-1950) for a Religious Education Model (The paper presented at the fifth ineniationalsymposium on Bediuzzaman Said Nursi, 24-26 September 2000), Isanbul: Sozler Publication

Yusuf, Ali Anwar, 2005. Afeksi Islam (Menjelajahi Nilai-Rasa Transendental Bersama Al-Qur'an. Kelompok Tafakur Humaniora, Bandung.Yunus, Mahmud 1995. Tema-Tema Pokok Isi Al-Quran, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Yusuf, Tayar dan Syaiful Anwar 1995. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa

Arab, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Zaidin, Mohammad 2001. Bediuzzaman Said Nursi: Sejarah Perjuangan dan Pemikiran, Malaysia, Selangor Darul Ehsan: Malita Jaya Publisher

Zein, Muhammad 1995. Methodologi Pengajaran qjaran Agama, Yogyakarta: AKGroup dan India Buana.

Zuhairini 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Usaha Nasional, Surabaya.

__________1995. Filsqfat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta.

191

Page 192: Tesis bagus

Isim nl/news letter 16/featwes 2001

192

Page 193: Tesis bagus

BIODATA PENULIS

NamaTempat Tgl. Lahir PekerjaanAlamat

HP Kontak

Riwayat Pendidikan

AFRIANTONI Palembang, 03 April 1978Dosen Luar Biasa IAIN Raden Fatah PalembangAn. Sukarela Lrg. Batu Jajar No. 1326 Rt. 21 Rw. 07 KM 7 Kecamatan Sukarami Palembang0813-73508957

1. SD Negeri 612 di Sukarami Palembang tamat tahun 19902. SMP Muhammadiyah 4 Palembang tamat tahun 19933. Pondok Pesantren Wali Songo, Ngabar Ponorogo, Jawa Timur tamat tahun 19974. IAIN Raden Fatah Palembang tamat tahun 2002 dengan judul skripsi "Pemikiran

Imam Zarkasyi Tentang Metodologi Pengajar Bahasa Arab di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Timur"

5. S2 Program Pascasar ana IAIN Raden Fatah Palembang Jurusan 11mu Pendidikan Islam Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam tahun 2003-sekarang

Pengalaman Prestasi Ilmiah

1. Dalam Bidang Resensi Buku

a. Juara 11 Lomba menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999b. Juara. I Lomba Menulis Resensi Buku se-IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000

c. Juara VI Lomba Menulis Resensi Buku se-Indonesia yang disponsori oleh Yayasan Nidaul Fitrah Surabaya, Jawa Timur, tahun 2002

193

Page 194: Tesis bagus

d. Juara I Lomba Resensi Buku se-Kota Palembang, tahun 2002

2. Dalam Bidang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI)

a. Juara Harapan II LKTI "Refomasi Pendidikan Islam" di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999

b. Juara If LKTI "Paradigms Pendidikan Islam" di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000

c. Juara If "Master Plan Kampus Islami" IAIN Raden Fatah Palembang

d. Finalis 10 besar utusan IAIN Raden Fatah Palembang pads Lomba Karya Tulis Amish tingkat Nasional di Hotel Setia Budi Jakarta, tahun 2002

e. Juara I LKTI "Pesantren Masa Depan" oleh Forppes Se-sumatera Selatan, tahun 2004

3. Beasiswa

a. Beasiwa keda tahun 1999Beasiswa prestasi dari Departemen Agama tahun 2000

c. Beasiswa prestasi atas kemenangan meraih juara 11 Lomba menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999.

d. Beasiswa dari .The Istanbul Foundation for Science and Culture selama 1 (sate tahun) di Istanbul, Turk] selama tahun 2005 dalam rangka penelitian tesis.

Pengalaman Organisasi

a. Ketua Umum Senat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (SMJ PBA) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999

b. Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001

c. Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2002

d. Ketua Forum Studi Filsafat Pendidikan Islam (FSFPI) IAIN Raden Fatah Palembang tahun 2001

e. Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang 2004

f Dan lain sebagainya

Karya Tuns Yang Pernah Terbit

194

Page 195: Tesis bagus

a. Buku (Editor/Penulis) :

1. Perjuangan Rakyat Banyuasin dalam Pemekaran Daerah (Aspek Geogrqf1s, Sosial-Politik dan 1 ,konomi), Penerbit Intens, Banyuasin, 2005 (Editor, Afriantoni, S.Pd.I)

2. Paradigms Islam Dinamis dalam Pendidikan Islam, Penerbit Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 2006 (Salah seorang penulis, Afriantoni)

3. Dan lain sebagainya

b. Koran, Tabloid dan Majalah (Opini) :

L Menggugat Ideologi Mahasiswa (Sriwijaya Post, 2002)

2. Degradwd Kewibawaan Guru (Sriwijaya Post, 2002)3. Guru Teladan dan Teladan Guru (Sumatera Ekspres, 2004)4. Reformulasi Mekanisme Rekrutmen Guru (Sumatera Ekspres, 2004)

5. Revolusi Sistematik Pendidikan Rakyat (Reformulasi Paradignia Pendidikan di Desa), (Tabloid Desa, 2004)

6. Urgensi BBG dan Korelasinya dengan Jasa Transportasi, (Majalah Lumbung Edisi 2, 2006)

7. Guru Profesional Guru Serlifikat (Majalah Lumbung Edisi 4, 2006)

8. Urgensi Kongres Desa Sumatera Selatan, (Tabloid Desa, 2007)Dan lain sebagainyaJurnal 11miah

1. Memahanyi Perkenibangan Pendidikan Islam melalui Pendekatan Genealogihistoris (Jumal Conciencia Pascasaijana. IAIN Raden Fatah Palembang, 2004).

2. Rekayasa Budaya Pendidikan Multikultur (Transformasi Mai Islam di Tengah Fenomena Multikultur), (Jumal Conciencia Paseasarjana JAIN Raden Fatah Palembang, December, 2005)

3. Revitalisasi Ekonomi Islam Indonesia (Mengungkap Perdebatan dalani Kesepakatan Ekonomi Islam dan Demokrasi Ekonomi), (Jurnal Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang, Desembar 2005)

M o t t o :

Jalani Hid-tip Jangan Dipikirkan Saja, Semoga Suk-ses Selalu, Ibda'Bi-nafs1ka

195

Page 196: Tesis bagus

BIODATA PENULIS

Nama : AFRIANTONITempat Lahir : PalembangTanggal Lahir : 03 April 1978Pekerjaan : Dosen Luar Biasa IAIN Raden Fatah PalembangAlamat : Jalan Sukarela Lrg. Cek Mid atau Lrg.u Jajar (Samping Dinas Kebersihan dan

Keindahan Kota Palembang) No. 1326 Rt. 21 Rw. 07 KM 7 Kecamatan Sukarami Palembang Sumatera Selatan

HP Kontak : 0813-73508957 Fleksi : 0711- 7766098Tlpn. Rumah : 0711-814975

Riwayat Pendidikan

1. Negeri 612 di Sukarami Palembang tamat tahun 19902. SMP Muhammadiyah 4 Palembang tamat tahun 19933. Pondok Pesantren Wali Songo, Ngabar Ponorogo, Jawa Timur tamat tahun 19974. S1 IAIN Raden Fatah Palembang tamat tahun 2002 dengan judul skripsi “Pemikiran Imam

Zarkasyi Tentang Metodologi Pengajar Bahasa Arab di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Timur”

5. S2 Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang Jurusan Ilmu Pendidikan Islam Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam tamat tahun 2007 dengan judul tesis “Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak Generasi Muda Menurut Bediuzzaman Said Nursi”

Riwayat Pekerjaan

1. Guru Mts Walisongo Ngabar Ponorogo, tahun 19962. Guru SD 47 di 35 Ilir Tangga Buntung Palembang, tahun 19983. Asisten Dosen Prgram Khusus Peningkatan Kemampuan Bahasa Arab IAIN Raden Fatah

Palembang, tahun 1999-20014. Guru PAI SMU Pembina, Lemabang Palembang, tahun 20025. Asisten Dosen Mata Kuliah Bahasa Arab dan Terjamah Fakultas Tarbiyah IAIN Raden

Fatah Palembang, tahun 20036. Dosen Luar Biasa Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Raden

Fatah Palembang, tahun 20047. Guru Privat Bahasa Indonesia Untuk Sebagian Kaum Muda Turki di Turki, tahun 20058. Dosen Luar Biasa Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2005 sampai

sekarang9. Dosen Luar Biasa Mata Kuliah Filsafat Umum Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah

Palembang, tahun 200610. Dosen Luar Biasa Akademi Maritim Bina Bahari Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam,

Palembang, tahun 2006 sampai sekarang11. Dosen Luar Biasa Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Sriwijaya

Inderalaya Sumatera Selatan, tahun 200712. Guru SMA plus Militer Taruna Bangsa Palembang, tahun 2007 sampai sekarang

196

Page 197: Tesis bagus

Pengalaman Prestasi Ilmiah

1. Dalam Bidang Resensi Bukue. Juara II Lomba Menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999f. Juara I Lomba Menulis Resensi Buku se-IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000g. Juara VI Lomba Menulis Resensi Buku se-Indonesia yang disponsori oleh Yayasan Nidaul

Fitrah Surabaya, Jawa Timur, tahun 2002h. Juara I Lomba Resensi Buku se-Kota Palembang, tahun 2002

2. Dalam Bidang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI)f. Juara Harapan II LKTI “Refomasi Pendidikan Islam” di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden

Fatah Palembang, tahun 1999g. Juara II LKTI "Paradigma Pendidikan Islam" di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah

Palembang, tahun 2000h. Juara II "Master Plan Kampus Islami" IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001i. Finalis 10 besar utusan IAIN Raden Fatah Palembang pads Lomba Karya Tulis Amish

tingkat Nasional di Hotel Setia Budi Jakarta, tahun 2002j. Juara I LKTI "Pesantren Masa Depan" oleh Forppes Se-sumatera Selatan, tahun 2004

3. Beasiswab. Beasiwa kerja tahun 1999c. Beasiswa prestasi dari Departemen Agama tahun 2000e. Beasiswa prestasi atas kemenangan meraih juara II Lomba menulis Sinopsi dan

Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999.f. Beasiswa dari The Istanbul Foundation for Science and Culture selama 1 (sate tahun)

di Istanbul, Turki selama tahun 2005 dalam rangka penelitian tesis.

Pengalaman Organisasi

f. Ketua Umum Senat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (SMJ PBA) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999

g. Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001

h. Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2002

i. Ketua Forum Studi Filsafat Pendidikan Islam (FSFPI) IAIN Raden Fatah Palembang tahun 2001

j. Penggagas Center for Strategic and Language Motivation (CSLM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001

k. Bendahara Yayasan Pendidikan Daerah (Yapenda) Sumatera Selatan, tahun 2001l. Sekretaris Eksekutif Institute for Strategic and Information Studies (Intens) Sumatera

Selatan, tahun 2002-2005.m. Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Program Pascasarjana IAIN

Raden Fatah Palembang 2004n. Staf Bidang Pendidikan KAHMI Pengurus Wilayah Sumatera Selatan periode 2006-2010o. Sekretaris Majelis Sinergi Kalam (MASIKA) ICMI Orwil Sumatera Selatan periode 2007-

2010

197

Page 198: Tesis bagus

p. Dan lain sebagainya

Pelatihan Yang Pernah Diikuti

1. Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (Pejurdas) LPM Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, 6, 7, 14, 21 Maret dan 4, 10 April tahun 1999

2. Pelatihan Jurnalistik Tingkat Nasional Universitas Pasudan (Unpas) di Lembang, Bandung, tahun 2000

3. Pelatihan Jurnalistik Islam Nasional (Panjinas) Universitas Indonesia (UI) di Pusat Studi Jepang, Jakarta, tahun 2001.

4. Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Dasar (PKMTD) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1998.

5. Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Menengah (PKMTM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999

6. Pelatihan Training For Trainer Internet Jurnalistik se-kota Palembang, tahun 2000.7. Pelatihan Penelitian Ilmiah (PPI) UKM Studi Ilmiah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun

20008. Pelatihan Kader Penyuluhan Narkoba oleh Dewan Pemuda Sriwijaya (Demusi)

bekerjasama dengan PT. Tambang Batubara Bukit Asam, pada tanggal 18 Januari 20039. Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah Bagi Mahasiswa diselenggarakan oleh Balai Bahasa

Palembang Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional di IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 17-18 Maret 2004

10. Pelatihan Penulisan Fiksi Populer diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional di Palembang pada tanggal 26-31 Juli 2004

11. Dan Lain Sebagainya

Pengalaman Menjadi Pembicara

Tingkat Nasional

1. Persentasi Karya Tulis Ilmiah “Kampus Islami (Fungsionalisasi Masjid Sebagai Pusat Kegiatan Sivitas Akademika), Fasilitator Depertemen Agama RI di Hotel Setia Budi Jakarta, tahun 2001

2. Persentasi Makalah “Otonomisasi Pendidikan” fasilitator BEM IAIN Imam Bonjol dan STAIN Bukit Tinggi Padang dalam Rangka Studi Komperatif BEM IAIN Raden Fatah Palembang di Padang dan Bukit Tinggi, tahun 2001

3. Presentasi Makalah “Konsep Jihad Dalam Persefektif Bediuzzaman Said Nursi” fasilitator STAIN Kerinci, Jambi pada acara Seminar Nasional “Jihad dan Perdamaian Menurut Bediuzzaman Said Nursi, tahun 2006

4. Persentasi Makalah "Kritisisme Nilai Keislaman HMI' pada acara Latihan Kader II HMI Cabang Palembang, di Universitas PGRI, Palembang, tahun 2007.

Tingkal Lokal

1. Pembicara pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar dan Menengah di Lingkungan IAIN Raden Fatah Palembang, dari tahun 2000 sekarang

2. Pembicara pelatihan Kepemimpinan Tingkat Dasar dan Menengah di Lingkungan IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000-2002

3. Pembicara rutin pada Forum Studi Filsafat Pendidikan Islam (FSFPI) IAIN Raden Fatah Palembang, 2000-2003

198

Page 199: Tesis bagus

4. Pembicara rutin pada Kelompok Studi Komunitas Lima (KSKL) IAIN Raden Fatah Palembang, 2000-2003

5. Pembicara pada Lingkar Studi Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, 2000-20036. Instruktur dalam Kegiatan Pelatihan Metodologi Dakwah Mahasiswa IAIN Raden Fatah

Palembang pada tanggal 22-27 Oktober 20017. Instruktur pada Kegiatan Pelatihan Teknik Penulisan Karya Ilmiah (Makalah dan Skripsi)

fakultas Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 13-14 September 20028. Team Instruktur pada Workshop Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) oleh Badan

Penelitian, Pengembangan Pendidikan Islam (BP3I) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang dengan tema : Terbinanya Guru Profesional Sebagai Pelaksana KBK : Upaya Menjadikan Pendidikan yang Mampu Menjawab Tantangan Global” pada tanggal 22-24 Juli 2004

9. Dan Lain Sebagainya

Kegiatan Ilmiah Yang Pernah diikuti

1. Tingkat Internasional

a. Participant in Seminar “The Evolution Deceit” at Taman Budaya Building, Palembang, October 1 st 2002.

b. Peserta International Conference on Modern Islamic Thought : Exploring the Thought of Bediuzzaman Said Nursi of Turkey and His Counterparts in Indonesia, held on January 11-12, 2002 in Academic Center Palembang Indonesia by Postgraduate Program of The State Institute for Islamic Studies (IAIN) Raden Fatah in cooperation with Nesil Foundation, Turkey.

c. Peserta International Symposium Religion, Peace and Globalization : Some Inspiration from Risale-i Nur, held on July, 2004 in BNI 46 Palembang Indonesia by Postgraduate Program of The State Institute for Islamic Studies (IAIN) Raden Fatah in cooperation with Istanbul Foundation for Science and Culrture, Turkey.

d. Participant in Seminar on Islam and Global Challenges : Radicalism, Democracy and Human Right, held on August 23rd, 2004 in Palembang Indonesia by Adab Faculty of the State Institute for Islamic Studies (IAIN) Raden Fatah Palembang in cooperation International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta.

e. Peserta International Nurculuk Community Focus Disscusion in Ankara Turkey, tahun 2005

f. Peserta International Conference on Social on Social Development : Said Nursi's View on Revitalizing Ummah a joint cooperation between The Istanbul Foundation for Science and Culture, Istanbul Turkey and Postgraduate Program of IAIN Raden Intan Bandar Lampung, Balai Keratun, Bandar Lampung, July, 22, 2006

g. Peserta the international Conference and Academic Forum On Sociaety Development on Topic “Bediuzzaman Said Nursi’s View on Modernity” by organizer Institute foe Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS) of UIN Suska Riau and Istanbul Foundation for Science and Culture Turkey, July 24, 2006 Arya Duta Hotel Pekan Baru – Indonesia

h. Peserta dan Panitia International Seminar tentang “Arah Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam dalam Merespon Peluang dan Tantangan Global" di Academic Center IAIN Raden Fatah Palembang, tanggal 10-11 Septermber 2007

2. Tingkat Nasional

a. Seminar Nasional Sehari dengan tema “Potret Demokrasi dan Pemilu di Indonesia Ditinjau dari Berbagai Persepektif” yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas

199

Page 200: Tesis bagus

Tarbiyah IAI Riyadlotul Mujahiddin Ngabar Ponorogo Jawa Timur pada 24 September 1996b. Seminar Nasional dan Temu Alumni Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar

Ponorogo Se-Indonesia oleh Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Walisongo Yogyakarta (IKAWY) di Yogyakarta pada tanggal 21-23 Januari 1995

c. Seminar Nasional tentang “Tinjauan Terhadap Sistem Peraturan Perundang-undangan di Indonesia” kerjasama Sekretariat Jenderal dan Kepeniteraan Mahkamah Konstitusi RI dengan Program Studi Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya Palembang, 9 September 2006

d. Seminar Nasional “Akselerasi Strategis Daerah Membangun Pada Era Otonomi Dearah Mneuju Masyarakat Madani” oleh Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Palembang-Sumatera Selatan, di Ball Room Hotel Swarnadwipa Palembang, 4 September 2006.

e. Seminar Nasional dengan tema “Evaluasi dan Strategi Pelaksanaan Manajemen Otonomi Daerah di Sumatera Selatan” diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Magester Manajemen Universitas Tridinanti Palembang pada tanggal 22 Februari 2003

f. Peserta Seminar Nasional “Universal Jurisdiction dan Perenapannya di Indonesia” oleh Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya bekerjasama dengan Pusat Kajian HAM dan Terorisme Fakultas Hukum Unsri dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Jakarta pada hari Senin, 21 Juni 2004

g. Peserta Seminar Nasional Memperingati Hari Pers Reformasi Nasional dengan tema : ”Partisipasi Publik dengan Pengembangan Media Watch dan Peran dan Fungsi Dewan Pers Mendukung Program Kerja Gubernur Sumsel dalam Lumbung Pangan dan Lumbung Energi Nasional, Pembangunan Rel Kereta dari Inderalaya ke Pelabuhan Tanjung Siapi-Api, Jembatan Musi III, Islamic Center, Pengembangan Tambang Batubara (energi Bahan Bakar masal\k pengganti BBM) yang diselenggarakan DPW Solidaritas Masyarakat Pers, Reformasi Indonesia (SOMPRI) dan Jaringan Rawan Informasi, Lembaga Pengawas Pers, Indonesia “Media Watch” bekerjasama dengan DPW YPBNI Provinsi Sumatera Selatan, pada tanggal 27 Mei 2006 di Hotel Selatan Indah

h. Dan Lain Sebagainya

3. Tingkat Lokal

a. Peserta Seminar “Urgensi Kajian Sejarah Hidup Nabi dan Literatur Keislaman Klasik Bagi Pengembangan Studi Keislaman dan Pengembangan Masyarakat”, diselenggarakan oleh IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 26 Agustus 1997

b. Peserta Temu Ilmiah Arkeologi dan Filologi Bagi Dosen dan Mahasiswa Fakultas Adab IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 7 Agustus 1999

c. Peserta Talk Show meyikapi RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi” oleh Pusat Studi Wanita (PSW) IAIN Raden Fatah Palembang, Rabu, 2 Agustus 2006 di Palembang

d. Peserta Seminar Nokia Certified Training Center di SMIK MDP Palembang, 02 Desember 2006.

e. Peserta Diskusi Panel dengan tema “Sosialisasi Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional”, di Gedung Akademik Center IAIN Raden Fatah Palembang Rabu, 23 Juli 2003.

f. Peserta Seminar Pendidikan “ Cara Mendidik Anak Menjadi Cerdas dan Kreatif”, dalam Rangka Lustrum II STT Musi Palembang tahun 2002, tema : Berubah Untuk Semakin Berkualitas”, 4 Mei 2002

g. Peserta Lokakarya Regional “Konversi IAIN Raden Fatah Palembang Menjadi Universitas Islam Negeri (UIN)”, di Ruang Seminar Hotel Paradis Lt. II Palembang, Kamis, 16 September 2004

h. Peserta Seminar Pendidikan Menjadi Manusia Pembelajar “Belajar dengan Membunuh Sekolah” diselenggarakan oleh STT Musi Palembang bekerjasama dengan Yayasan Xaverius Pusat dan Palembang School of Life dalam rangka peringatan Hari

200

Page 201: Tesis bagus

Pendidikan Nasional tahun 2002 Sabtu, 11 Mei 2002 di Aula STT Musi Palembangi. Peserta Seminar Bahasa dan Sastra dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra Tahun

2004 Balai Bahasa Palembang dengan tema “Peran Keterempilan Berbahasa dalam Dunia Kerja”, pada hari Senin, 11 Oktober 2004 di Hotel Swarnadwipa Palembang

j. Peserta Seminar Sehari dengan tema “Integritas Penegak Hukum di Indonesia” diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, pada tanggal 26 Oktober 2002

k. Diskusi Panel “Reorientasi Pemikiran Pendidikan dan Pengajaran Sebagai Langkah Awal Membangun Sekolah Bermutu” yang diselenggarakan oleh Yayasan Fajar Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 21 Mei 2002 di Hotel Paradis Palembang

l. Seminar Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup dengan tema :Menyikapi hasil-hasil KTT Pembangunan Berkelanjutan melalui Penguatan Keterpaduan Ekonomi, Sosial dan Pelindungan Lingkungan di Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya Bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia pada hari Jum’at, 24 Januari 2003 di Hotel Swarna Dwipa Palembang

m. Dan Lain Sebagainya

4. Kegiatan Bedah Buku

a. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Jalaluddin berjudul “Teologi Pendidikan” oleh Badan Penelitian Pengembangan Pendidikan Islam (BP3I) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang tanggal 21 Mei 2001.

b. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Drs. Muhammad Sirozi, MA Ph.D berjudul Agenda Strategis Pendidikan Islam”, oleh MAPENDA Departemen Agama Sumseldan BP3I Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, 9 Agustus 2004

c. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Jufri Suyuthi Pulungan dengan tema “Menyingkap Sistem Politik dan Bentuk Pemerintahan Islam” oleh Senat Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 24 Oktober 1998

d. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Kms. Muhammad Ari, S.Pd dengan judul buku Masyarakat Tionghoa Palembang (Tinjauan Sejarah Sosial 1823-1945) di gedung Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 25 Novermber 2002

e. Dan Lain Sebagainya

5. Kegiatan Lokakarya, Workshop dan sejenisnya

a. Peserta Semi Lokakarya Pengembangan Fakultas Baru di Lingkungan IAIN Raden Fatah Palembang tema “Menuju Perguruan Tinggi Islam yang Unggul dan Kompetitif di Era Globalisasi” oleh Unit Peningkatan Mutu Akademik (UPMA) IAIN Raden Fatah Palembang, 27-29 Desember 2005

b. Peserta Urun Rembuk Pakar “Prospek dan Peluang Pembukaan Program Studi Ilmu Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang”, sebagai pakar pada tanggal 15 September 2006

c. Peserta Serasehan Forum Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan dengan Tema “Pelestarian Khazanah Budaya untuk Meningkatkan Kesadaran Budaya Daerah” oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang di Hotel Bumi Asih Palembang, 23-24 Agustus 2006

d. Peserta Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Se-Sumatera Bagian selatan dalam Rangka Dies Natalis IX STT Musi Palembang tahun 2001 dengan tema : Industrialisasi Dalam Era Otonomi Daerah”.

e. Peserta Program Development Workshop for Other UIN/IAIN/STAIN : Community Development Follow Up Workshop IAIN Raden Fatah Palembang (720.2.3), di

201

Page 202: Tesis bagus

Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang, 16-19 Juli 2007f. Peserta Nokia Certified Training Center yang diselenggarakan oleh STMIK

MDP Palembang bekerjasama dengan Nokia Certified Training Center dan In Touch pada tanggal 2 Desember 2006

g. Peserta Workshop Perbankan Syariah dalam rangka Milad Forsi ke-4 senin, 17 Juni 2002 di gedung BAAK lantai II.

h. Workshop Rekonstruksi Sains dan Teknologi Islam, Forum Kajian Strategis (Forkais) Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 24 Maret 2007

i. Kongres Desa I Sumatera Selatan, Akselerasi Pemberdayaan Masyarakat Desa Menuju Sumsel Sejahtera, sebagai Sekretaris Stering Committee 25 Mei 2007

j. Dan lain sebagainyaKarya Tulis Yang Pernah Terbit

1. Buku (Editor/Penulis) :a. Perjuangan Rakyat Banyuasin dalam Pemekaran Daerah (Aspek Geogrqf1s, Sosial-

Politik dan Ekonomi) , Penerbit Intens, Banyuasin, 2005 (Editor, Afriantoni, S.Pd.I)

b. Paradigma Islam Dinamis dalam Pendidikan Islam, Penerbit Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 2006 (Salah seorang penulis, Afriantoni)

c. Fiqh Antikorupsi, Penerbit Ganeda, 2006 (Salah seorang penulis, Afriantoni)

d. Dan lain sebagainya

2. Koran, Tabloid dan Majalah (Opini) :1. Menggugat Ideologi Mahasiswa (Sriwijaya Post, 2002)9. Degradwd Kewibawaan Guru (Sriwijaya Post, 2002)10. Guru Teladan dan Teladan Guru (Sumatera Ekspres, 2004)11. Reformulasi Mekanisme Rekrutmen Guru (Sumatera Ekspres, 2004)12. Revolusi Sistematik Pendidikan Rakyat (Reformulasi Paradignia Pendidikan di Desa),

(Tabloid Desa, 2004)13. Urgensi BBG dan Korelasinya dengan Jasa Transportasi, (Majalah Lumbung Edisi 2, 2006)14. Guru Profesional Guru Sertifikat (Majalah Lumbung Edisi 4, 2006)15. Urgensi Kongres Desa Sumatera Selatan, (Tabloid Desa, 2007)16. Dan lain sebagainya

3. Jurnal Ilmiah4. Memahami Perkembangan Pendidikan Islam melalui Pendekatan Genealogi-historis

(Jumal Conciencia Pascasaijana. IAIN Raden Fatah Palembang, 2004).5. Rekayasa Budaya Pendidikan Multikultur (Transformasi Mai Islam di Tengah Fenomena

Multikultur), (Jumal Conciencia Paseasarjana JAIN Raden Fatah Palembang, December, 2005)

6. Revitalisasi Ekonomi Islam Indonesia (Mengungkap Perdebatan dalani Kesepakatan Ekonomi Islam dan Demokrasi Ekonomi), (Jurnal Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang, Desembar 2005)

7. Dekonstruksi Penyakit Kronis Pendidikan Islam, Jurnal Mimbar Akademik Pusat Penelitian, 2007.

Subhanaka Laa ilma lana illa maa alamtana innaka antal alimul hakim

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

202

Page 203: Tesis bagus

M o t t o : Jalani Hidup Jangan Dipikirkan Saja, Semoga Sukses Selalu, Ibda’ Binafsika

Palembang, 17 Apri 2007

Penulis,

A F R I A N T O N I

203