CERPEN ISLAM2

of 68 /68
Shalat Dan Otak Manusia Al Imam Ahmad berkata, "Sesungguhnya kualiti keislaman seseorang adalah tergantung pada kualiti ibadah solatnya. Kecintaan seseorang kepada Islam juga tergantung pada kecintaan dalam mengerjakan solat. Oleh karena itu kenalilah dirimu sendiri wahai hamba Allah! Takutlah kamu jika nanti menghadap Allah Azza Wa Jalla tanpa membawa kualiti keislaman yang baik. Sebab kualitai keislaman dalam hal ini ditentukan oleh kualiti ibadah sholatmu." (Ibn al Qayyim, ash Sholah, hal 42 dan ash Sholah wa hukmu taarikihaa, hal 170-171) Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia),sedangkan ia biasa melalaikan Solatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)". Hadith Riwayat Tabrani. Solat dan Otak Manusia Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia),sedangkan ia biasa melalaikan Solatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)". Hadith RiwayatTabrani. Solat itu menyebabkan Otak Kita Sihat" Maka dirikanlah Solat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah' (Q.S Al Kautsar:2) Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahsia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ??????? Seorang Doktor di Amerika ( Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karana beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Qur'an" Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan

description

cerita islami

Transcript of CERPEN ISLAM2

Page 1: CERPEN ISLAM2

Shalat Dan Otak Manusia

Al Imam Ahmad berkata, "Sesungguhnya kualiti keislaman seseorang adalah tergantung pada kualiti ibadah solatnya. Kecintaan seseorang kepada Islam juga tergantung pada kecintaan dalam mengerjakan solat. Oleh karena itu kenalilah dirimu sendiri wahai hamba Allah! Takutlah kamu jika nanti menghadap Allah Azza Wa Jalla tanpa membawa kualiti keislaman yang baik. Sebab kualitai keislaman dalam hal ini ditentukan oleh kualiti ibadah sholatmu." (Ibn al Qayyim, ash Sholah, hal 42 dan ash Sholah wa hukmu taarikihaa, hal 170-171) Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia),sedangkan ia biasa melalaikan Solatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)". Hadith Riwayat Tabrani. Solat dan Otak Manusia Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia),sedangkan ia biasa melalaikan Solatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)". Hadith RiwayatTabrani. Solat itu menyebabkan Otak Kita Sihat" Maka dirikanlah Solat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah' (Q.S Al Kautsar:2) Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahsia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ??????? Seorang Doktor di Amerika ( Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karana beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Qur'an" Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya. Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini bererti darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian

Page 2: CERPEN ISLAM2

manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena Sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini. Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justeru itu tidak hairanlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan Secara lebih normal. Maka tidak hairanlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat dewasa ini. Sumber : National Geographic 2002 Road to Mecca MARI KITA PERBANYAK SUJUD AGAR OTAK KITA SEHAT & SEGAR SELALU

Saat Durianku BerbuahPenulis:Afri Meldam

Hujan turun dengan derasnya saat aku memandangi pohon durianku yang mulai berbunga. Kumbang-kumbang yang tadinya asyik menghisap sari bunga durian tersebut terpaksa pergi terbang dan hinggap di pokok-pokok daun lontar di samping rumah Pak Bahar, tetanggaku, melihat kehadiranku.

“Kali ini mungkin buah durian kita lebat!†ungkap Ayah padaku �kala itu. Aku hanya mengangguk sambil kembali memperhatikan titik-titik hujan yang jatuh di sela-sela daun si raja buah itu. Durian itu, tepat sekali tumbuhnya di antara pekaranganku dengan pekarangan rumah Pak Bahar. Jadi, ya, seperti milik berdua saja, begitulah kira-kira.

Seperti tahun-tahun sebelumnya apabila musim berbuah kami selalu menjualnya.Ya, lumayanlah buat tambah uang jajan sekolah dan buat bayar uang sekolahku.

“Tahun ini mungkin harga durian naik daripada biasanya, Ben, sebab kata teman-teman Ayah di warung, di desa tetangga, desa Sawah, durian sedang tidak berbuah. Jadi mungkin para petani durian di desa ini akan menaikkan harga,†papar Ayah padaku kembali �sambil meneguk kopi yang disediakan Uni Del.

“Tapi kan belum tentu, Yah. Desa-desa lain juga banyak yang menghasilkan durian, seperti desa Simawik. Seandainya kita menaikkan harga sudah barang tentu para langganan yang datang dari

Page 3: CERPEN ISLAM2

kota itu membeli ke desa Simawik,†bantahku dingin, seperti dinginnya� cuaca saat itu.

Ayah kembali menghirup kopinya.“Ya, tapi kan sebagai desa penghasil durian nomor satu, mereka akan lebih cenderung membeli ke sini daripada ke Simawik. Kan jalannya ke sana tidak bisa dilewati oleh truk-truk besar seeprti yang datang ke sini. Pasti akan menambah ongkos saja. Jika mereka bersikeras mempertahankan untuk menawar harga di sini dan beralih ke Simawik. Upah ongkos ke sini juga mahal. Jadi sama saja,†Ayah �meyakinkan pendapatnya sendiri.

Angin sedang semilirnya ketika aku melihat sebuah mobil Isuzu Panther berhenti di haaman rumah Pak Bahar. Dua orang pria berdasi, yang satu tinggi dan kepala plontos dan yang lain agak kelebihan lemak di tubuhnya turun dari mobil biru metalik itu sambil menenteng map hijau. Pak Bahar keluar dari rumahnya dan menemui mereka diserambi. Percakapan sayup-sayup kudengar menyambut kehadiran kedua lelaki itu karena memang rumahku sangat dekat dengan rumah Pak Bahar, hanya beberapa puluh inci. Barangkali, jika ada orang yang mau mengukurnya.

Aku menjadi terusik saja untuk mendengar percakapan itu. Maka aku pura-pura membaca koran untuk mendengarkan percakapan mereka yang begitu serius kelihatannya. Yang paling mengusikku untuk nguping adalah saat mereka bicara tangan Pak Bahar menunjuk-nunjuk ke batang durianku. Ada sesuatu yang ganjil?

“Berapa bulan lagi, Pak, kira-kira buah durian Bapak matangnya?†� ucap yang tinggi botak terdengar di telingaku. Aku semakin heran.Durian Pak Bahar? Tanyaku dalam hati.

“Kira-kira empat bulanlah. Kan putiknya sudah mulai besar. Jadi sekitar bulan Oktober besok,†sayup-sayup kudengar suara Pak �Bahar yang bass itu. Aku semakin tertarik menyelidiki mereka.“Kalau begitu sebagai uang muka terimalah uang ini. Nanti kalau durian itu sudah tiba masa panennya kami akan datang lagi. Tapi Bapak jangan menekan kontrak lagi dengan pemborong lain, Ok?†�ujar si gemuk sambil menyodorkan sebuah amplop pada Pak Bahar. Dibukanya amplop tersebut lalu menghitung dengan jari-jarinya yang pendek dan gemuk. Ia tampak manggut-manggut. Setuju.***Empat bulan sudah berlalu, berarti sudah empat bulan pula si gemuk dan si tinggi botak itu datang. Putik-putik durian kini menjelma sudah menjadi buah durian yang besar dan hampir matang. Aku kembali duduk di serambi depan sambil baca-baca koran, juga sambil melihat

Page 4: CERPEN ISLAM2

kalau-kalau tamu Pak Bahar itu datang lagi bermobil Panther. Tentunya wajah Pak Bahar akan berseri-seri jika hal itu terjadi.“Ben, belakangan ini Ayah lihat kamu sudah mulai rajin baca koran. Tidak seperti biasanya, pulang sekolah tidur dan sorenya main bola. Ada angin apa gerangan yang bertiup?†ujar Ayah mengangetkanku �dari belakang.

“Ah, nggak hanya ingin cari situasi baru saja. Suntuk,†kilahku. �Sengaja kusembunyikan masalah Pak Bahar yang menekan kontrak menjual semua buah durian. Aku cemas nanti terjadi yang tidak-tidak kalau sampai ayah tahu.

“Ngomong-ngomong durian kita sudah besar, ya, Ben. Sebentar lagi pasti matang. Hanya menunggu hari,†ucap Ayah bersemangat. �Telingaku memerah. Seandainya saja Ayah tahu tentang ulah Pak Bahar yang sudah bertitel haji itu telah menekan kontrak penjualan durian mungkin ia tak berharapan sebesar ini. Tetapi bagaimana lagi, terpaksa aku menuruti tugasku, suma mengangguk, mengiyakan untuk membesarkan hati Ayah.

Aku kembali membalikkan halaman demi halaman koran ibukota yang ada di tanganku saat Ayah beranjak ke belakang. Ketika itulah kulihat kembali Pak Bahar mondar-mandir di depan rumahnya dengan sebatang rokok melekat di mulutnya yang hitam. Ia menoleh padaku dan aku pun menoleh padanya, beradu pandang.

“Nak Ben, kok di rumah saja? Nggak pergi ke lapangan bola? Si Maman sudah dari tadi pergi, siap salat asyar,†ia membuka �pembicaraan denganku, mungkin hanya basa-basi.

“Lagi nggak mood, Pak. Lagian ujian semester kan hampir tiba. Jadi waktu bermain didiskon dululah,†jawabku sekenanya. Sebenarnya �bukan itu yang terjadi pada diriku. Sebenarnya aku sedang menunggu kalau-kalau kolega lelaki itu datang. Itu sebenarnya. Namun kusembunyikan saja dalam-dalam semua itu. “Ada apa, ya, Pak, kok dari tadi Bapak mondar-mandir saja. Sepertinya menunggu sesuatu?†lagakku pura-pura tidak tahu.�

“Memang, Bapak sedang menunggu seorang teman Bapak dari kota. Tadi dia menelpon, katanya sore ini dia datang ke sini.†�

Oh, jadi memang benar dugaanku selama ini bahwa Pak Bahar tanpa berembuk dulu dengan ayahku telah memainkan perannya sendiri, menjual durian dengan sistem penjualan batangan.Tak lama berselang kudengar deru mobil berhenti di depan rumah Pak

Page 5: CERPEN ISLAM2

Bahar. Ia tergesa-gesa melongok kemudian membuka pintu pagar rumahnya yang bercat putih.

“Selamat sore, Pak,†tegur si tinggi botak itu pada Pak Bahar �dengan gaya yang lebih necis daripada empat bulan silam.

“Masuk, Pak, nggak enak di luar. Apalagi hari sudah mulai gelap. Mungkin hujan akan kembali turun sore ini,†Pak Bahar berbasa-basi �sambil melangkah masuk ke dalam rumah bertingkat dua itu. Si botak itu ternyata datang tanpa diiringi oleh si gemuk. Setelah itu tak terdengar lagi percakapan mereka di telingaku. Aku menghela nafas panjang. Titel saja yang haji, tetapi perbuatannya jauh lebih bobrok dibandingkan preman jalanan! Serakah!†makiku dalam hati.�

Petir menggelegar di angkasa bersahutan-sahutan. Angin berhembus kencang. Sudah bisa diduga seperti hari-hari sebelumnya, hujan turun setiap hari membasahi bumi ini.Buummm! Aku tersentak oleh suara dentuman benda yang jatuh. Buru-buru aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Sebuah benda bulat berguling-guling di tengah rintiknya hujan. Durian! Pasti itu durian! Teriakku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku berlari ke belakang rumah, tergopoh-gopoh. Ternyata benar, sebuah durian yang cukup besar bercokol di bawah batang keladi setelah hampir lima menit kucari-cari di mana ia jatuh.***Mungkin itulah kali terakhirnya aku memungut buah durian two in one itu. Selang beberapa hari setelah itu sebuah truk besar sudah terpakir pula di depan rumah Pak Bahar yang haji itu.

Ayah tengah asyik membelah kayu ketika rombongan Pak Bahar tiba di pekarangan belakang-menuju batang durian. Durianku, durian Pak Bahar, dan durian two in one itu. Aku perhatikan saja mereka dari balik tirai jendela kamarku. Kulongokkan pula kepala ke arah Ayah yang mengerut keningnya menyaksikan rombongan Pak Bahar nongkrong di bawah batang durian yang juga telah berjasa melunasi uang sekolahku itu.

“Pak Bahar, tumben main ke belakang,†seru Ayah kudengar �begitu nyaring. Tidak! Jangan sampai Ayah tahu dan berbicara panjang lebar dengan Pak Bahar. Tergesa-gesa aku menyusul ke belakang.“Durian saya sudah mulai matang. Daripada mubazir saja, saya carikan saja memborong dan kebetulan sekarang sudah datang untuk memetik. Jika Pak Syam ingin nanti ambillah ke rumah,†ujar Pak �Bahar datar.

Page 6: CERPEN ISLAM2

“Kurang ajar kau Har!†maki ayahku.�Tak ingin menyaksikan pertengkaran itu berlanjut aku segera melerai. “Jangan, Yah, jangan marah. Biarkanlah Pak Haji itu memuaskan hawa nafsu serakahnya, tamak!†teriakku menengahi.�Tetapi Pak Bahar seperti tidak peduli. Ia balik membantah dengan ucapan kasar.“Bapak yang kurang ajar. Selama ini saya biarkan saja Bapak memungut buahnya padahal durian itu milik kami, Pak. Sah milik kami!†bentaknya lebih keras.�

“Sudah! Sudah! Memalukan!†bentakku menengahi dua gaek yang� mulai panas itu.“Ayah, biarkanlah dia mengambilnya. Mari kita ke dalam saja, tidak ada guna melayani omongan yang mubazir itu,†bujukku seraya �merengkuh bahu Ayah. Pak Bahar tersenyum sinis sambil membuang ludah.“Tak tahu diri. Sudah haji masih juga rakus!†umpat Kak Marni �saat mendengar cerita pertengkaran itu dari mulutku.

Sudah kuduga, asma Ayah kambuh akibat pertengkaran itu. Dengan susah payah kami membopong Ayah ke tempat tidur. “Sudahlah. Yah. Kalau memang durian itu rezeki kita, takkan ke mana, tetapi kalau tidak, meski kita bertempur habis-habisan, takkan kita dapatkan. Allah Maha Tahu segalanya,†bujuk Kak Marni sekali lagi dari sisi Ayah �berbaring, sementara dari belakang rumah terdengar dentuman-dentuman buah durian jatuh dari batangnya. Dari balik tirai kusaksikan Pak Bahar memunguti buah durian yang dijatuhkan oleh seekor beruk yang sengaja disewa untuk itu.Satu minggu berlalu, namun mataku masih melihat truk besar berisi durian parkir di halaman rumah Pak Bahar. Seperti biasanya hujan turun dari langit dengan deras. Aku heran kenapa durian itu masih juga nongkrong di sana, padahal kalau diperam berminggu-mingu seperti itu tidak akan laku lagi di pasaran.Aku memungut dan membuka koran pagi. Namun aku tersentak saat membaca sebuah berita besar di halaman dalam. Jalan yang menghubungkan Sumpur Kuidus dengan Kumanis terputus akibat hujan lebat. Oh?Kayutanam, 29/4/03

MENUNGGU ADZAN

MENUNGGU ADZANPenulis:Sakti Wibowo

Page 7: CERPEN ISLAM2

Aku menggeleng. Karenanya, sapaan lelaki hitam itu tak berlanjut. Lantas, aku kembali berjalan. Sapaan tadi secara eksplisit menanyakan apakah aku akan melakukan sembahyang. Sebagai seorang Falashas, imigran Yahudi dari Ethiopia, aku tahu betul bahwa jika aku mengangguk, maka laki-laki itu akan memberi layanan gratis mengenai sejumlah doa dan brosur petunjuk yang diambil dari Kitab Torah.Aku menggeleng, sekadar untuk menghindari layanan cuma-cuma itu. Sekarang aku hanya ingin berjalan-jalan sembari menunggu adzan (Abu Hasan, teman karib mendiang Shameer, adikku, mengatakan akan menemuiku di depan gerbang Al Aqsha ini saat adzan) sambil merenungi jejak perjalanan yang telah menguras air mata orang-orang Yahudi Ethiopia. Tapi, jika pun tidak demikian, aku bisa memastikan aku akan menjawab dengan gelengan yang sama memberitakan keenggananku untuk sembahyang. (Apakah aku masih Yahudi?). Keengganan yang bersumber dari rasa gamang, atau mungkin keraguan. Aku sedang menunggu adzan….Beginikah rupa tanah yang dijanjikan itu?

Kuat kucoba menepis ragu. Sebab, rasa ini mungkin hanya berasal dari relung luka akibat perlakuan yang tidak manusiawi yang dialami para aliya begitu menginjak tanah impian.Aku masih sangat kecil ketika itu, hanya melihat cakrawala dari dekapan tangan Ibu. Panik wajahnya, dan aku sibuk mengisap air susu. Lantas, kurasakan tangan itu lama-lama kaku, mendekapku dalam dingin udara Sudan yang tak bersahabat pada para pejalan. Ayah membuka dekapan itu dengan air mata meleleh, menyadari si wanita tak lagi mampu membuka pelukan, juga menghela napas sebagai jendela bagi nyawanya. Ia telah mati, bersama ribuan orang yang mati.

Aku tidak membaca selain kesedihan. Bahkan, kata pun tak kupahami apa artinya. Aku masih sangat kecil. Belum genap dua tahun saat Operasi Musa dimulai. (Setelah dewasa, aku baru mengetahui bahwa dengan nama ini proses migrasi Yahudi Ethiopia itu dinamai.) Awal era delapan puluhan. Gelombang besar yang menurut ayahku berjumlah lebih dari 55.000 orang, menempuh perjalanan panjang bertahun-tahun dalam lilitan lapar dan hawa dingin, untuk mencapai Erets Yisrael. Perjalanan itu dilanjutkan dengan Operasi Sulaiman empat tahun kemudian, yang diikuti oleh jumlah aliya yang tak kalah banyaknya.

“Kita adalah orang-orang Yahudi yang sesungguhnya paling tinggi menebus harga menjadi aliya,†papar ayahku yang hingga menutup �usianya beberapa tahun lalu, masih menjadi saksi dari derita paling perih nan menyamai tragedi holokaus. Sejarah kelam itu tercatat nyata pada matanya, juga pada tubuhnya yang didiami berbagai penyakit, bekas perjalanan panjang yang mempersingkat usia. Perjalanan menuju mati.

Page 8: CERPEN ISLAM2

Harga yang mahal. Ibuku, bersama 4.000 orang lainnya meninggal si Amrakuva, kamp transit terbesar di Sudan. Keadaan Falashas saat itu sungguh mengenaskan; minim pakaian dan makanan, diterpa cuaca gurun yang mengerikan di mana siangnya terik membakar, dan malamnya udara dingin menggigit. Semua itu disertai harapan memperoleh penghidupan di tanah Kanaan, dan harkat yang lebih layak hidup di antara sesama saudaranya yang telah mengecap hidup di bumi warisan para anak Israel.Tapi, apakah yang kami dapati, setelah darah dikuras dari orang-orang Ethiopia?

Yahudi Ethiopia adalah orang-orang yang keras memegang tradisi Yudaisme dalam desakan untuk berpindah agama. Mereka memiliki kekuatan yang berlipat dari kulit hitam berikut tubuh kurus tak berdaging akibat deraan kurang pangan yang melanda Afrika masa itu. Tak mengenal takut, gurun telah mereka tantang demi kembali ‘pulang’ pada tanah yang dijanjikan ini. Cinta mereka kepada Yerusalem… melebihi aliran darah dan denyut nadi. Cinta itu tetap berdetak dan mengalir kendati telah banyak yang mati. Walaupun… di negeri warisan ini, mereka memperoleh perlakuan tak manusiawi dan diskriminasi.

“Kalian bangsa primitif,†sembur seorang kawan di sinagog, saat �aku berusia belasan.“Tapi aku Yahudi, sama sepertimu,†cetusku meradang. �Kebanggaan sebagai Yahudi yang paling banyak membayar tebusan aliya—sebagaimana Ayah selalu membanggakannya—membuat ada perasaan terluka telah dipandang sebagai warga kelas dua dari seluruh tatanan masyarakat Yahudi.“Kalian tidak berpendidikan. Kalian hanya memiliki kebanggaan sebagai Yahudi, tanpa memiliki catatan sejarah yang pantas dikenang. Kalian seperti bangsa primitif yang terdampar dalam peradaban modern.†�

Sentimen rasial bisa saja ditutupi oleh pemerintah Israel, namun budaya semacam ini tidak bisa dihilangkan dari orang-orangnya. Aku telah merasakannya sendiri, menyaksikannya menyatu dengan rotasi hidup di Israel. Menghapusnya tak semudah membuat undang-undang yang tertera dalam kodifikasi hukum negara. Nyatanya, diskriminasi rasial masih dirasakan oleh orang-orang Falashas hingga seperempat keberadaannya di negeri ini.

Mereka berpikir bisa menutupi sentimen rasial itu dengan mengirim orang-orang Falashas ke sekolah-sekolah—dan kemudian aku mengetahui bahwa sekolah-sekolah tujuan itu sengaja dipilihkan dari yang tidak bermutu. Lantas, bersumber dari mana gerangan pandangan

Page 9: CERPEN ISLAM2

mata sinis dan meremehkan terhadap orang-orang kulit hitam ini (yang karenanya, Shameer mati) jika bukan dari sikap mental rendah dan ego yang tinggi?

Adikku, Shameer, bunuh diri tahun lalu karena penghinaan menyakitkan di depan teman-teman kuliahnya. Usianya baru menapak dua puluh, terlalu muda untuk mati. Tapi, terus-menerus dipandang sebagai bangsa primitif yang menumpang hidup pada ‘keberadaban’ Yahudi kulit putih begitu meninggalkan rasa tidak nyaman di hatinya. Mereka mengkalim secara sepihak bahwa mereka lebih beradab dari warna kulit yang lain. Hinaan yang menimpa adikku, aku tak tahu pasti seberapa dalamnya. Terakhir kudengar, ia jatuh cinta pada seorang Yahudi Ashkenazi, Yahudi percampuran Eropa dan Amerika. Gadis itu sungguh tidak pernah belajar tentang menghargai perasaan. Ia tak memiliki cara menolak cinta selain dengan mencerca dan menghina habis-habisan. Beberapa bulan sebelumnya, Shameer melamar pekerjaan di sebuah kantor dagang milik Yahudi. Dan, bisa diduga, lamaran itu telah ditolak di depan gerbang; tak ada tempat untuk orang Ethiopia.

Mungkin Shameer lupa mewarisi tekad yang dimiliki orang-orang Falashas. Mungkin ia lupa bahwa Musa pernah terkatung-katung empat puluh tahun lamanya di Gurun Sinai setelah lepas dari pengejaran Fir’aun di Reed Sea—berabad-abad berikutnya, kata ini diterjemahkan secara salah kaprah sebagai Laut Merah. Jika Shameer memahami keterasingan sebagai bagian paling integral dari keimanan Yahudi, seharusnya ia tidak mengambil jalan paling bodoh; menenggak obat pembasmi serangga. (Atau jangan-jangan benar yang dikatakan Abu Hasan, Shameer tidak bunuh diri.)Sedihku… sedih yang entah harus kubahasakan dengan apa.Sebab, menangis tak akan bisa menghidupkan Shameer kembali.***

Telah lama aku meragui kebenaran. Sejak memulai perjalanan….Tapi, bukankah perjalanan dan keterasingan adalah pilar keimanan yang begitu kuat? Musa membimbing bangsa Yahudi menjengkali Sinai dalam keterasingan bertahun-tahun. Sang Mesias Kristiani menempuh perjalanan luka dengan memanggul salib mendaki Golgota. Dan Muhammad (entah kenapa hatiku bergetar menyebutnya) meninggalkan Mekah menuju Yatsrib, kota yang dijanjikan—atau menjanjikan.“Islam berpijak pada ajaran yang realistis, David,†kata Shameer, �beberapa saat sebelum ia kutemukan meregang nyawa.

“Jangan bodoh!†bentakku saat itu, khawatir ia menodai �keagungan Yahweh.

Page 10: CERPEN ISLAM2

“Adakah yang lebih realistis dari kesetaraan dalam mengabdi?†�Kutelusuri makna kata itu. Pada kubah Al Quds yang menggaungkan dengung adzan. Mereka tidak membagi derajat peribadahan dalam kelas-kelas mana pun, karena mereka secara bersama bisa mencapai tempat-tempat tertinggi, pangkat-pangkat yang disematkan sebagai orang shalih. Karena orang-orang mulia mereka tidaklah disyaratkan dari keturunan rasul atau orang-orang tua yang shalih. Tidak pula pada tingkat pendidikan, harta benda, atau strata golongan. Pun adanya dengan warna kulit.

“Apakah kau ingin menjadi muslim?†tanyaku tak suka.�Shameer hanya tertawa. Tawa ampang.“Bukankah Bilal juga berasal dari Ethiopia?†katanya. “Ia �berasal dari negeri kita, David. Dan kau tahu, maqam apa yang telah ia tempati? Bahkan Muhammad meradang saat sahabat dekatnya menghina Bilal dengan sebutan ‘budak hitam’. Muhammad tidak pernah menghina kulit apa pun dari orang-orang yang mengikuti risalahnya. Bahkan, budak hitam sepertinya diizinkan memanjat puncak Ka’bah untuk menyeru shalat. Kakinya menginjak tempat mulia itu, lebih tinggi dari para pewaris rumah suci.†�“Apakah kau ingin menjadi muslim?†ulang tanyaku.�

“Istri Bilal bahkan bukan dari golongan kulit hitam, David. Kau harus tahu itu.†�“Kau terjebak pula dalam pemahaman rasis. Kau terlalu terobsesi dan terprovokasi oleh rasa tertarikmu pada Miriam, gadis Ashkenazi itu.†�

“Kaupikir begitu? Jika ini dibilang pemberontakan, David, pemberontakan atas nama kesetaraan. Kita lebih berhak berbangga sebagai aliya dengan keteguhan yang hanya dimiliki orang-orang Ethiopia pada Operasi Musa dan Sulaiman, daripada para kulit putih yang hanya mengagung-agungkan keistimewaan warna kulit dan ritus masa silam yang berkait dengan sejarah Zion, tanpa adanya bentuk ‘perjuangan habis-habisan’. Seperti suatu isyarat bahwa keimanan mereka belum teruji. Kitalah orang-orang yang telah menempuh ujian, lulus sebagai juara. Tapi, apa yang kita peroleh di ‘negeri kita’ ini? Kita menjadi pengemis di rumah kita sendiri, menjadi budak dari saudara-saudara kita sendiri.†�“Keterasingan adalah ruh dari keimanan.†�

“Tidak. Yang kurasakan adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.†�“Cintamu pada Miriam?†�“Ya, dan kepada semua Yahudi. Kita selalu menganggap mereka sebagai saudara, mencintainya dengan kecintaan yang bersumber

Page 11: CERPEN ISLAM2

pada Musa dan Ibrahim. Tapi, sayang… mereka tak pernah mencintai kita. Karena, kita budak hitam. Walaupun menjadi kulit hitam bukan proses tawar-menawar dengan Tuhan, bukan pula sesuatu yang bisa atau tidak bisa kita usahakan, melainkan sebuah suratan dan kodrat, tapi tetap saja karena itulah kita diperlakukan berbeda.†�

Sepertiku, Shameer berkulit hitam. Dalam perjalanan mencapai Erets Yisrael sepeninggal ibuku, ayahku menikah lagi dengan gadis Ethiopia, sesama aliya. Darinya, dua tahun kemudian, lahirlah Shameer, persis saat Operasi Musa berakhir dengan lebih 10% dari ‘peserta’nya meninggal dalam perjalanan.“Mengapa saat itu pemerintah Israel tidak membantu para aliya yang terkatung-katung di perbatasan Sudan—seperti Musa di Gurun Sinai—dan menghadapi murka alam?†hujat Shameer. “Mereka �seperti membiarkan para aliya berikut konsekuensi perjalanan menantang maut yang mereka pilih sendiri.†�Mengenang luka Operasi Musa seperti menguak luka dalam hatiku.

“Kaupikir, kau percaya alasan saudara-saudara kita atas pertolongan setengah hati mereka saat itu, bahwa pemerintah Israel sedang menghadapi problem dalam negeri seperti inflasi akut pasca-penyerbuan Libanon pada 1982?†�“Bukankah benar karena itu?†�

Shameer tertawa. “Alangkah baik hatinya kau. David sayang, jika kau telah dewasa kala itu, kau akan menyadari bahwa kau tidak akan mendapat perlakuan semacam itu jika kau bukan dari kulit hitam.†�“Diamlah, Shameer! Terimalah keterasingan sebagai bagian dari keimanan.†�

“Apakah kau mengatakan demikian pula untuk para chalayim bodedim?†�Aku tak bisa menjawab hujatan Shameer kali ini. Karena, apa yang ia tanyakan sebenarnya telah lama mengusik hatiku. Chalayim bodedim, prajurit sebatang kara, demikian sebutan bagi orang-orang Yahudi Amerika—berkulit putih—yang melakukan ‘aliya’ ke Israel. Mereka datang bukan untuk menetap. Mereka berdinas sementara, untuk kemudian pulang kembali ke negeri asal mereka. Tapi, mereka selalu menempati tempat-tempat tinggi dan bergengsi dalam struktur Israeli Defence Force (IDF), angkatan bersenjata Israel. Mereka—sebagai warga kelas satu—mendulang perhargaan, gaji dan tunjangan dua kali lipat dari tentara Israel lainnya. Sementara, orang-orang Falashas hanya dipandang sebagai anak bawang. Lebih tepat sebutan sebatangkara itu untuk orang-orang kulit hitam yang berjalan gontai sendiri, dan baru berbinar matanya jika bertemu sesama warna kulit, sebab dari merekalah benar-benar rasa ‘penerimaan’ itu

Page 12: CERPEN ISLAM2

dihadiahkan dengan mewah. Sementara dari sesama Yahudi, mereka hanya mendapat semburan atau pemanis bibir—jika secara kebetulan mereka ‘dianugerahi’ sikap manis.“Chalayim bodedim itu orang asing di sini, Shameer,†jawabku �berapologi, namun sebenarnya bertentangan dengan pikiranku sendiri. “Mereka memiliki motivasi yang besar, sehingga mereka meninggalkan keluarganya, menuju negeri ini tanpa adanya sanak famili.†�“Masih kurang besarkah tekad para Falashas? Dan lagi, kita sebatangkara di sini, David, sama seperti mereka! Jangan hibur aku dengan hiburan kosong semacam ini.†�

“Kita memang terasing,†potongku kembali mengingatkannya �pada pilar suci keimanan yang diajarkan Musa.“Terasing yang seperti apakah? Muhammad pergi ke Yatsrib dan di sana ia tidak dipandang sebagai masyarakat kelas dua. Muslim Yatsrib memeluk mereka dalam persaudaraan dan persamaan harkat.†�“Muhammad lagi! Kau terprovokasi orang-orang muslim.†�Shameer kembali tertawa.***Aku mencintai kota ini….Bukankah cinta itu yang telah membawa puluhan—bahkan ratusan—ribu Yahudi Ethiopia meninggalkan negerinya, memenuhi panggilan suci Torah agar membentuk negara Israel Raya?Aku masih berjalan di sekitar Dinding Ratapan (orang-orang Yahudi menyentuh dinding itu dan banyak yang berusaha mencongkel kerikil kecil dari tempat yang diyakini sebagai bagian yang tersisa dari Kuil Suci, candi Sulaiman) dan sesekali harus menggeleng atas tawaran ‘shalom’ beberapa pemuda kulit hitam dengan meja setinggi pinggang yang dipenuhi buku-buku dan selebaran berisi tulisan Ibrani; rangkaian doa mistis dalam syariat Yahudi.

Apakah saat ini aku masih Yahudi?Mendongakkan sedikit kepalaku, kubah Al Aqsha terpampang megah, menggaungkan adzan di tengah hari terik yang dipadati para peziarah; orang-orang yang datang dengan kerinduan. (Di mana Abu Hasan?)

Aku mencintai negeri ini, bukan saja karena ini negeri yang dijanjikan….Setelah sekian peristiwa kualami, cintaku tak lapuk, tetap menyemai di hati. Kota eksotis yang menautkanku dengan ritus masa lalu, berkelindan dengan aroma sakral keimanan. Kota ini sangat pantas untuk dicintai, bukan saja karena seseorang memilih Yahudi, Kristen, atau Islam sebagai jalan pencerahan.

Page 13: CERPEN ISLAM2

Telah lama aku ragu dengan keimanan (kucoba menepis ragu, berprasangka bahwa rasa ini mungkin hanya berasal teluk kekecewaan akibat perlakuan yang tidak manusiawi). Ragu yang sama saat beberapa tahun lalu, Januari 1996, aku ikut berdemo dengan sebarisan kaum Falashas—menurut berita, jumlahnya tak kurang dari 15.000 orang—melakukan protes di depan kantor perdana menteri, atas perlakuan yang sungguh merendahkan.

Mungkin benar kata Shameer, hanya orang-orang Falashas yang mencinta, namun sama sekali tidak dicintai. Dengan alasan cinta itu berikut semangat kenegaraan yang meluap-luap, secara periodik kaum Falashas menyumbangkan darah di Bank Darah Nasional Israel. Dan, puncak penghinaan itu terasa saat mereka mengetahui darah kaum Falashas itu tidak diperlakukan semestinya, tetapi dibuang diam-diam. Kaum Yahudi kulit putih tak mau menerima donor dari kaum kulit hitam. Pemerintah Israel berusaha merasionalisir tindakannya itu dengan mengatakan bahwa 1% dari komunitas Yahudi Ethiopia diketahui mengidap HIV. Sebuah pembelaan yang tidak berarti karena toh darah yang terinfeksi HIV bisa terlacak, sehingga tak perlu mereka melakukan ‘pembuangan’ secara brutal terhadap darah para Falashas.

Penghinaan yang sangat menyakitkan….Aku mencintai kota ini, tapi tidak orang-orangnya….“Aku telah Islam,†kata Abu Hasan saat kami pertama bertemu. �Dia tinggal berdampingan dengan apartemen tempat Shameer, kuketahui saat ada telepon memintaku cepat-cepat datang ke alamat yang ia sebutkan. Saat-saat di mana kutemukan Shameer sekarat dengan obat pembasmi serangga.Sepertiku dan Shameer, Abu Hasan berkulit hitam. Keluarganya juga aliya, datang ke Israel dalam gelombang Operasi Sulaiman. Dan, sejak menempuh kuliah di Hebrew University, ia memilih Islam sebagai agamanya.

Abu Hasan mengatakan, ia mengetahui sesuatu tentang kematian Shameer. Dan, ia hendak mengatakannya kepadaku hari ini, semoga bisa membantu. Tentu saja ini menerbitkan minatku untuk menyusuri Dinding Ratapan seraya menunggu adzan.

Sesudah ayahku, praktis hanya Shameer keluargaku yang tersisa. Seluruh famili dari pihak ayah maupun ibuku tewas di Amrakuva. Bahkan, wanita yang dinikahi ayahku yang kemudian melahirkan Shameer, juga seorang yang tidak memiliki famili, dan meninggal setelah satu tahun menjanda. Cintaku pada Shameer menyaingi cintaku pada Yerusalem. Untuk itu, aku merasa berhak mengetahui sekecil apa pun informasi tentangnya.

Page 14: CERPEN ISLAM2

“Dia tidak mati bunuh diri. Ada sebuah rekayasa yang dilakukan untuk menghabisinya, dan dikesankan bunuh diri. Aku mengetahuinya belum lama. Itu karena aku juga baru mengerti Shameer ternyata telah masuk Islam. Di sini, telah terjadi beberapa makar untuk menyingkirkan para mahasiswa yang tak lagi bisa dihalangi untuk masuk Islam.†�

Aku tak terkejut. Sejak pertama aku telah menduga. Namun, karena aku telah dihadapkan dengan tembok tebal hitam birokrasi—dan mungkin intelijen—aku memutuskan untuk menerima Shameer bunuh diri.***Sayangnya, kendati akhirnya aku bertemu Abu Hasan, kami tak sempat bercerita apa-apa. Kerusuhan terjadi lagi—bagai makanan sehari-hari—yang melibatkan tentara bersenjata Israel. Helikopter meraung-raung di udara menyerang pemukiman muslim di dekat Al Aqsha. Situasi di Palestina memanas pasca-pembunuhan Syaikh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual Hamas. Penangkapan terhadap para aktivis Hamas berlangsung gila-gilaan, dan korban berjatuhan tidak terbatas pada kalangan aktivis, tetapi juga penduduk sipil yang tak bersalah; yang tak selalu orang-orang Islam, sebagian mereka adalah warga biasa dengan jenis iman yang beragam.

Karena peluru tidak lebih dulu bertanya ‘agamamu apa’ sebelum memutuskan untuk merobek kulit dan memberaikan tulang belulang.Aku terlambat mendengar berita rusuh itu, sehingga yang kutemui hanya sisa-sisa pertempuran berikut ceceran darah dan proyektil peluru. Korban-korban dilarikan ke Rumah Sakit Omar Mochtar, termasuk Abu Hasan. Aku segera mengejar ke sana.

Di pintunya, wajah-wajah resah menyambutku dengan kepala penuh tanya.“Assalamu’alaikum!†seruku. Aku memutuskan memakai �salam ini demi bisa bertemu Abu Hasan. Aku harus mendengar rahasia itu darinya. Karena itu, aku harus mengaku sebagai orang Islam, agar mudah memasuki rumah sakit ini. Rumah sakit ini milik yayasan Islam, dan aku yakin pekerja di dalamnya menyimpan kewaspadaan yang tinggi terhadap orang-orang asing. Sebab, yang kutahu adalah mereka begitu mengenal orang-orang yang seiman dengan mereka. Situasi memanas, dan semua orang berada dalam puncak sensitifitas.

“Abu Hasan,†sebutku pada seorang perawat, yang segera �mengantarku ke bangsal tempat lelaki itu terbaring. ICU. Ia belum bisa diganggu. Sedang dilakukan tranfusi. Seorang pedonor darah terbaring di sebelahnya.

Page 15: CERPEN ISLAM2

Darahku tersirap. Pedonor itu jelas berkulit putih. Dan bukan ia saja yang kulihat. Ada lagi beberapa muslim kulit putih sedang mendonorkan darah, tak peduli yang memerlukannya orang kulit putih atau hitam.

“Assalamu’alaikum, Saudaraku…!†sapa seorang laki-laki, �kulit putih, dengan dahi menghitam bekas sujud. Pakaian yang ia kenakan, sorot wajah serta tanda hitam di dahi itu memudahkanku untuk menyimpulkan bahwa ia seorang Islam.

Aku mengangguk, gagap, dan mencoba menjawab salam itu dengan terbata-bata. “Ada yang bisa saya bantu?†�

“Allahu akbar! Semoga masih sempat. Saudaraku memerlukan darah. Persediaan darah di sini telah habis. Saya membutuhkan darah A, dan saya telah berputar-putar selama satu jam di sini mencari-cari orang yang bersedia mendonorkan darahnya. Perlu tiga orang, dan saya baru memperoleh satu; dua dengan saya. Apakah golongan darah Anda?†�

“A.†�“Subhanallah! Bersediakah Anda mendonorkan darah untuk saudara saya?†�Sejenak terbayang di benakku penghinaan yang menyakitkan itu; darah yang dibuang diam-diam.“Saya? Kulit hitam?†�Denyut itu menguasai jantungku. Berdebar-debar. Tapi, segera kukatupkan mulutku mencegah tanya berlanjut. Sejenak mata itu mencermati, seperti berusaha meyakinkan kalimatku tadi.“Oh… eh… baiklah! Tentu saja saya bersedia. Kapan donor dimulai?†�Wajah itu penuh syukur. “Terima kasih. Perlu menjalani pemeriksaan dulu di laborat. Kita ke sana segera.†�

Entahlah… apa yang kupikirkan sekarang. Apakah aku mulai menimbang-nimbang tentang keimanan? Aku tak tahu. Yang kurasakan hanyalah rasa penerimaan yang begitu mewah. Mungkin benar kata Shameer, tak ada yang lebih realistis dalam kehidupan ini selain kesetaraan. Secara naluriah, manusia membutuhkan persamaan hak, sebuah tuntutan sederhana yang telah begitu purba. Cermin yang kulihat tadi dengan nyata memproyeksikan kebersamaan dan kesetaraan. Tak ada cinta yang perlu merana. Bahkan, seorang kulit hitam leluasa untuk mencintai saudaranya yang berkulit putih. Alangkah….Telah sampaikah aku di tanah yang dijanjikan—atau menjanjikan—itu?

Page 16: CERPEN ISLAM2

Aku mencintaimu, Yerusalem… dengan seluruh napas dan darahku.26 Oktober 2004, 01:00 dinihari

Istiqamah, Pit!

Istiqamah, Pit!Penulis:Yudith Destyana

“Aku ingin seperti Mbak Alya deh…†celetuk Pipit lugas. Aku �menghentikan tarian jemariku di atas key board komputer. Buyar sudah analisaku tentang UU Hak Cipta yang baru demi mendengar ucapannya. Setengah tak mengerti aku menatap gadis enam belas tahun dengan heran.

“Maksudnya?†�Iya…Mbak Alya kan pintar, buktinya bisa kuliah di universitas negeri. Baik, kalem dan yang paling penting…Mbak jago ceramah, bisa membawa orang ke arah kebaikan. Dihormati, dikagumi banyak orang…†jawab Pipit ringan. � Terus terang jawabannya itu membuat hidungku kembang kempis kege eran, tak ayal seulas senyum tipis terlukis di wajahku.

“Wooo…ge er deh!†teriak Pipit melihat senyumanku seraya �melempar bantal ke arahku. Aku tertawa menghindari serbuan bantal itu. Kami berguling-guling di atas tempat tidurku sambil tertawa sampai akhirnya berhenti kelelahan.

“Tapi…serius deh, Mbak. Aku ingin bisa seperti Mbak. Mengajak orang ke arah kebaikan. Sayang, aku nggak bisa ceramah seperti Mbak. Ngisi kajian-kajian juga nggak bisa. Ilmuku kan masih sedikit sekali,†lanjut Pipit lagi sambil menatap mataku lurus-lurus. Aku �tersenyum senang mendengar ucapanya. Pipit yang baru saja berhijrah, maksudnya memakai jilbab, memang sedang senang-senangnya belajar tentang agamanya ini. Istilahnya sedang tinggi sekali ghirah Islamnya. Sehingga wajar sekali kalau ia ingin membagi pengetahuannya kepada orang lain.

“Kamu ingin berdakwah seperti, Mbak?†tanyaku.�Pipit mengangguk kuat-kuat. Di mata jernihnya kutemukan kesungguhan.

“Kamu tahu, dakwah itu tak hanya lewat ceramah atau mengisi kajian-kajian. Ada banyak sekali cara yang bisa kamu pilih untuk berdakwah. Kalau kamu merasa ilmu kamu belum cukup untuk

Page 17: CERPEN ISLAM2

ceramah atau mengisi kajian-kajian, kamu bisa memilih jalur dakwah yang lain sambil terus belajar dan mencari tahu. Yang penting itu semangatnya, Pit. Semangat untuk berdakwah, mengajak orang kepada kebaikan. Mengerti?†jelasku panjang lebar. Pipit �mengernyitkan keningnya seakan berpikir keras untuk mencerna kalimat-kalimatku.

“Gimana caranya, Mbak?†aku sudah menduga pertanyaan ini �akan terlontar dari bibir mungilnya. Dan aku juga sudah menyiapkan jawabannya.

“Kamu bisa menulis dengan baik kan? Mbak tahu kamu jago dan berbakat dalam mengolah kata-kata menjadi sebuah tulisan yang enak dibaca. Buktinya, beberapa karya kamu sudah pernah dimuat di mading sekolah. Coba deh, hal itu kamu jadikan sarana untuk berdakwah. Kamu bisa membuat cerpen atau artikel yang memiliki pesan moral untuk mengajak ke arah kebaikan. Kamu kirim ke majalah-majalah Islami. Kalau dimuat dan dibaca banyak orang itu kan sama juga dengan berdakwah,†usulku lagi. Kulihat ada binar-binar gembira di �mata Pipit. Ia menganggukkan kepalanya.

“Iya, Mbak…wah. Ini baru ide hebat. Kok selama ini aku nggak kepikiran untuk membuat tulisan yang Islami ya?†seru Pipit �bersemangat. Aku tersenyum mendengarnya.

“Habis selama ini kamu hanya membuat roman picisan saja sih, yang isinya nggak jauh dari cinta-cintaan…†godaku yang langsung �disambut pelototan mata bundarnya. Aku tergelak melihatnya.

“Ya sudah, Mbak…sekarang minggir donk, Aku pinjem komputernya dulu. Ada ide yang tiba-tiba lewat, nih…†kata Pipit �seraya menggeser tubuhku dari depan layar komputer. Giliran aku yang kaget melihat tingkah spontannya.

“Eeeh…Mbak masih perlu, mau ngetik paper,†protesku. Namun �Pipit tidak menghiraukan. Terpaksa deh…aku mengalah pada adik semata wayangku itu.***

“Mbak Alya…Mbak…buka pintunya donk!†Pipit mengetuk pintu �kamarku keras-keras. Aku yang baru saja terjaga dari tudur siangku tersentak kaget. Sekali lompat aku sudah membuka pintu dan menemui senyum manisnya di balik pintu.

“Ada apa? Siang-siang begini teriak-teriak. Pulang sekolah itu, ganti baju dulu, cuci kaki, cuci tangan, bukannya teriak-teriak bangunin orang tidur,†omelku kesal. Mataku menelusuri tubuhnya yang masih dibalut �

Page 18: CERPEN ISLAM2

seragam putih abu-abunya. Masih lengkap dengan jilbab dan sepatu. Dasar Pipit…

“Ini, Mbak. Aku mau Mbak baca ini,†kata Pipit tanpa �mempedulikan omelanku. Dengan tergesa ia menyodorkan majalah remaja Islami yang masih kinclong. Majalah itu terbuka tepat pada halaman yang memuat cerpen berjudul Ayo Bangun, Mbak!Aku menggeleng tak mengerti.

“Ini karyaku, Mbak. Lihat…ini namaku. Widya Puspita. Karyaku dimuat, Mbak!†jerit Pipit tidak sabar. Aku terbelalak kaget. Dan tanpa �sadar aku sudah ikut menjerit seperti Pipit. Aku bangga sekali Pipit berhasil. Kami tertawa bersama merayakan keberhasilannya. Ini pertama kalinya tulisan Pipit dimuat di majalah. Hal ini menunjukkan kesungguhannya dalam berkarya dan berdakwah.

“Ngomong-ngomong ceritanya tentang apa, Pit?†tanyaku �penasaran.“Tentang kebiasaan buruk Mbak yang sering tidur siang sampai telat salat asar,†jawab Pipit sambil langsung berlari menghindari �kejaranku. Aku mendelik kesal.

Sejak saat itu Pipit semakin bersemangat menulis. Ada saja yang bisa ia jadikan ide cerita untuk berdakwah. Biasanya kejadian sehari-hari. Aku senang karena Pipit juga semakin rajin membaca buku-buku keagamaan untuk menambah pengetahuannya dalam menulis cerita. Secara tidak langsung ia sudah berdakwah, mengingatkan kita pada hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari untuk diambil hikmah.

Untuk hal mengolah kata-kata Pipit memang jagonya. Aku mengakui hal itu. Karya-karyanya bagus dan memiliki pesan moral yang mudah dicerna. Hampir semua tulisan yang Pipit kirimkan dimuat di majalah. Pipit semakin bersemangat menulis. Apalagi dari honor penulisannya itu Pipit bisa mendapat tambahan uang jajan.

Kadang Pipit berkutat di kamarku memakai komputer hingga tengah malam. Sepertinya hanya menulis dan menulis saja yang ada di kepalanya. Untungnya sekolah sudah mulai libur semester, sehingga tidak mengganggu kegiatan belajarnya. Seperti malam ini, jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun Pipit masih tekun di depan komputerku.

“Sudah, Pit. Sudah malam, besok saja diteruskan lagi ngetiknya,†�kataku menasehatinya. Aku khawatir dengan kesehatannya.

“Ini harus selesai sekarang, Mbak. Besok aku mau memulai menulis cerita baru lagi. Aku kan sedang ngejar honor, kalau aku berhasil

Page 19: CERPEN ISLAM2

membuat tiga cerpen lagi untuk dimuat maka uang tabunganku sudah cukup untuk beli handphone,†jawab Pipit tanpa mengalihkan matanya� dari layar komputer.

Aku terhenyak kaget mendengar jawabannya. Sepertinya ada yang salah di sini. Kulirik Pipit dengan sudut mataku. Kening Pipit tampak berkerut-kerut memikirkan kata-kata yang tepat untuk di tulis. Aku tidak tega mengganggunya sekarang. Lagipula mataku sudah sangat sulit untu diajak kompromi. Karena itu aku memutuskan untuk tidur.

“Kalau sudah jangan lupa matikan komputernya, Pit,†pesanku �sebelum memejamkan mata.***

Sudah sebulan belakangan ini Pipit tidak menyentuh komputerku. Dia juga terlihat lebih banyak diam. Pulang sekolah ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya. Aku juga jarang mengobrol dengannya karena sibuk dengan kegiatan kuliahku. Sudah lama sekali aku tidak mendengar celotehan ributnya.

Sore ini aku menemui Pipit sedang berbaring di kamarnya. Lantunan suara Raihan terdengar mengalun dari tape di sudut kamar. Pipit hanya melirik sebentar saat aku membuka pintu kamarnya. Aku langsung duduk di ranjang Mickey Mousenya. Ia kembali memejamkan mata, pura-pura tidur.

“Ada apa, Pit? Sudah lama Mbak perhatikan kamu nggak pernah pinjem komputer Mbak lagi. Sedang nggak ada ide untuk menulis ya?†pancingku langsung ke pokok permasalahan.�Pipit membuka mata bundarnya kemudian menggeleng pelan.

“Atau kamu sedang sibuk dengan tugas-tugas sekolah?†tebakku �lagi.Pipit kembali menggeleng.

“Terus…†kataku menunggu ceritanya.�“Aku males menulis lagi, Mbak. Beberapa cerpen terakhir yang aku kirim nggak dimuat. Jadi nggak semangat,†akhirnya Pipit angkat �bicara juga. Aku tersenyum kecil.

“Ya…baru segitu saja sudah patah semangat. Katanya mau berdakwah. Harus sabar. Kalau belum dimuat, kamu harus membuat yang lebih bagus lagi, donk. Bukannya patah semangat begini,†ujarku� menasehati. Pipit kembali menggeleng.

“Nggak…ah, Mbak. Nanti saja kalau harga handphone turun lagi.†�

Page 20: CERPEN ISLAM2

“Lho…apa hubungannya menulis cerpen dengan harga handphone?†aku pura-pura tidak mengerti dengan jawaban Pipit.�

“Gara-gara cerpenku nggak dimuat, aku gagal beli handphone, padahal waktu itu harganya sedang murah. Sekarang harga handphone sudah naik lagi,†jelas Pipit hambar. Aku tersenyum lagi. Ini dia �masalahnya. Niat pipit sudah bergeser rupanya. Ini yang harus aku luruskan. Tapi dengan cara yang halus tentunya. Sebersit ide lewat di kepalaku.

“Ya sudah, ikut Mbak mengajar anak-anak TPA, yuk. Daripada kamu di rumah sendirian. Ayo…†ajakku seraya menarik tangannya. �Semula Pipit enggan namun akhirnya aku berhasil menariknya bangun dan memaksanya segera mengenakan jilbab kaosnya serta kemudian mengikutiku ke musala di sebelah rumah.

Selama mengajar anak-anak TPA, Pipit hanya duduk diam di sudut musala. Ia terlihat bosan. Aku membiarkannya. Satu jam kemudian aku sudah selesai mengajar anak-anak tersebut. Seperti biasa, mereka menarik lengan gamisku untuk bercerita.

“Cerita…cerita…†seru mereka beramai-ramai. Aku mengagguk �setuju.“Ya sudah…ayo duduk yang rapi. Mbak mau bercerita. Semua diam ya, jangan berisik,†kataku kepada mereka yang langsung �menghentikan obrolan-obrolan mereka. Semua duduk rapi mengelilingku dan menatapku ingin tahu. Kulihat Pipit duduk mendekat, sepertinya dia juga tertarik dan ingin tahu.

“Zaman dahulu ada seorang pemuda yang sangat taat beribadah. Ia rajin salat, mengaji dan berbuat baik. Hidupnya dihabiskan dengan beribadah kepada Allah. Di sekitar tempat tinggalnya tumbuh sebuah pohon besar yang sering disembah oleh pendduk desanya. Pohon itu dianggap sebagai tuhan…†aku mulai bercerita. Kulayangkan �pandangaku ke arah wajah-wajah polos yang menanti lanjutan ceritaku.

“Pemuda itu tentu sangat marah karena perbuatan menyembah pohon itu adalah perbuatan syirik yaitu menyekutukan Allah. Karena itulah, suatu hari pemuda itu mendatangi pohon dengan membawa sebilah kampak untuk menebang pohon. Ketika tiba di sana pemuda itu bertemu syetan yang menghuni pohon tersebut. Mereka akhirnya bertarung. Pertarungan itu dimenangkan oleh si pemuda…†aku �menghentikan sebentar kalimatku. Kulirik Pipit yang nampak serius mendengarkan kelanjutan ceritaku.

Page 21: CERPEN ISLAM2

“Karena kalah, syetan memohon kepada si pemuda untuk tidak menebang pohon itu. Sebagai imbalannya, syetan akan meletakkan sekeping emas di atas bantal pemuda itu setiap harinya. Setelah berpikir sejenak, si pemuda setuju. Ia tidak jadi menebang pohon itu dan kembali ke rumahnya. Besok paginya syetan menepati janjinya, si pemuda menemukan sekeping uang emas di atas bantalnya. Begitulah setiap hari selalu ada sekeping uang emas untuk si pemuda sehingga dalam waktu singkat ia menjadi seorang yang kaya raya…†�

“Rumahnya besar, ya Mbak? Ada kolam renangnya?†suara-suara� kecil mulai berlompatan dari bibir anak-anak itu. Aku mengangguk mengiyakan. Aku melanjutkan ceritaku.

“Hingga suatu hari, pemuda itu tidak lagi menemukan kepingan emas di atas bantalnya. Ia menjadi sangat marah pada syetan yang telah mengingkari janjinya. Dengan penuh amarah ia mendatangi pohon itu sambil membawa sebilah kampak untuk menebang pohon itu. Setibanya di sana ia dihadang kembali oleh syetan dan diajak bertarung. Kali ini si pemuda itu kalah. Kalian tahu mengapa kali ini ia kalah?†tanyaku kepada mata-mata jernih yang menatapku.�

“Karena si pemuda belum makan…karena syetan minum vitamin…karena syetan berantemnya kroyokan…†berbagai jawaban� tersembur dari anak-anak itu. Semuanya mencoba mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Aku tersenyum geli demi mendengar jawaban lugu mereka.

“Si pemuda kalah karena niatnya yang salah,†jawabku �menghentikan celoteh mereka. Beberapa di antara mereka menatapku bingung.

“Pertarungan yang pertama dimenangkan oleh si pemuda karena ia bertarung dengan niat yang tulus yaitu membela agamanya. Oleh karena itu Allah membantunya dalam pertarungan itu. Sementara pertarungan yang kedua dilakukan oleh pemuda itu semata-mata karena harta. Hal ini yang membuat syetan menang karena pemuda itu bertarung atas nama ketamakannya akan harta benda,†jelasku �diiringi anggukan mengerti mereka. Aku menatap mata bundar milik Pipit tajam. Kulihat ada bilur penyesalan di sana. Syukurlah, sepertinya ia menangkap makna ceritaku.***“Mbak, nyindir aku ya…†tuduh Pipit setelah tiba di rumah. Aku �menggeleng.“Bukan menyindir, Pit. Mbak hanya mengingatkan. Soalnya belakangan ini Mbak merasa niat kamu itu sudah bergeser. Semula kamu ingin menulis dengan niat berdakwah, mengajak orang pada

Page 22: CERPEN ISLAM2

kebaikan. Tapi belakangan ini kamu sudah mulai berorientasi pada materi, kamu terobsesi untuk membeli handphone dengan honor menulismu. Itu yang perlu Mbak luruskan. Niat kamu sudah tidak sama lagi,†jawabku jelas. Aku meraih tangannya dalam genggamanku, �mencoba mengalirkan pengertian itu ke dalam dirinya.

“Jadi tulisanku belakangan ini tidak dimuat karena salah niat ya, Mbak?“Bisa jadi. Segala sesuatu itu kan tergantung niatnya, Pit. Tapi yang jelas, karena kamu menulisnya terburu-buru, dikejar obsesi punya handphone, maka kualitas tulisan kamu juga menurun. Mungkin itu yang membuat tulisan kamu nggak layak muat lagi,†aku mencoba �memberi argumen.

“Memangnya redaksi majalah itu bisa membedakan mana tulisan yang didasari niat dakwah dan mana yang didasari keinginan akan materi?†tanya Pipit bingung, masih tidak puas dengan jawabanku.�

“Walau redaksi majalah itu nggak tahu tapi kan Allah tahu, Pit,†�jawabku cepat dan telak yang kuyakin tak bisa dibantah lagi olehnya. Kepala yang dibalut jilbab biru muda itu tertunduk malu. Perlahan Pipit mengangguk setuju dan akhirnya seulas senyum manis menghias wajah suramnya. Aku lega sekali melihatnya kembali seperti dulu.

“Iya, Mbak. Aku ngaku salah. Mulai sekarang aku akan berusaha meluruskan niat. Nggak mau matre lagi seperti kemarin. Benar-benar menulis untuk dakwah,†seru Pipit berapi-api, kembali bersemangat. �Aku tersenyum senang. Kali ini aku kembali melihat mata yang penuh kesungguhan itu. Aku percaya suatu hari nanti dengan semangatnya itu Pipit akan menjadi seorang pendakwah yang hebat.

“Istiqamah ya, Pit!†bisikku pelan di telinganya. Pipit menatapku �haru dan dengan cepat ia menganggukan kepalanya kuat-kuat. Ah…adikku sayang.Thank for Pipit, I borrow your name.06 Agustus 2003

Ahlan Wa Sahlan

Terima Kasih buat Sobat semuanya yang sudah meluangkan sedikit waktu nya untuk mengunjungi Blog ini.sebenarnya blog ini hadir tidak lebih hanya karena ada nya keinginan pribadi untuk mempunyai satu tempat dimana ana bisa mengisi waktu kosong dengan kegiatan yang bermamfaat. Untuk itu ana berharap, Blog yang sangat sederhana dan jauh dari kesempurnaan ini bisa bermamfaat buat sobat-sobat semua.

Page 23: CERPEN ISLAM2

sekali lagi ana ucapkan selamat datang, Semoga seluruh waktu kita tidak terbuang dengan kesia-sian. amin

Jazakumullah dan Terima Kasih

Kisah Cinta Dari Mesjid Kampus

Oleh : Ayat Al Akrash (0719)

Hudzaifah.org - Tahun 2040

Seorang kakek-kakek duduk di sebuah sekret rohis kampus. Sekret itu berukuran 3x3 meter. Kecil, tapi sangat nyaman. Lantainya dialasi karpet coklat. Ada lemari file, kaca besar di sampingnya. Buku-buku Islam tersusun rapi di hadapan kakek itu duduk. Jendela terbuka lebar. Terdengar kicauan dari burung yang ada di dalam sangkar.

Kerut-kerut di wajahnya sangat kentara. Rambutnya sudah memutih. Ia termenung. Kepalanya tertunduk. Ia tengah memandangi sebuah album foto. Tak jauh darinya, ada setumpuk album foto lainnya. Lama sekali ia memandangi album foto itu.

Seorang mahasiswa berbaju koko, masuk ke sekret dan sebelum duduk di sebelahnya, ia mengucap salam, sambil mengulurkan tangannya, mencium tangan kakek itu dan mencium pipi kiri dan kanan. “Wa’alaikumsalam Wr Wb,” jawab sang kakek. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Kakek itu masih asyik menatapi foto-foto tersebut. Membuka-buka halamannya. “Saya suka melihat foto-foto ini, dan saya tak kan pernah bosan melihatnya,” ujar kakek itu memecah kesunyian. Matanya terlihat sayu dan memendam kerinduan yang mendalam. Mahasiswa itu terlihat tak mengerti, tapi kemudian ia berujar, “Ya, Pak saya pernah melihat foto-foto itu, sepertinya orang-orang di dalam foto itu sangat kompak ya.” Mahasiswa itu mendekat dan ikut melihat foto-foto itu. “Lihatlah ikhwan-ikhwan ini, mereka semua sangat kompak,” kata kakek itu sambil menunjuk sebuah foto dan tiba-tiba wajah kakek itu terlihat sumringah. “Tahukah kamu,… untuk mewujudkan ikhwan-ikhwan yang kompak seperti ini, ada pengorbanan dari para senior-senior kami dahulu dan juga dari teman-teman kami sendiri,” kakek itu menjelaskan. Mahasiswa itu kemudian bertanya “Bapak sendiri yang mana?” “Saya…, yang ini… Bersama teman-teman saya dulu…,” ujar kakek itu sambil menunjuk ke sebuah foto ikhwan yang memakai ikat kepala putih dan slayer biru saat mukhayyam di gunung.

Page 24: CERPEN ISLAM2

Tiba-tiba pintu sekret terbuka dan ada enam orang ikhwan berbaju koko, memasuki sekret sambil tertawa riang dan bercerita panjang lebar. Begitu melihat kakek itu, mereka segera mengucap salam, dan bersalaman.“Acaranya baru dimulai 10 menit lagi, Pak,” ujar seorang ikhwan berbaju biru.“Eh, teman-teman, ini tadi beliau sedang cerita… Ternyata ada foto beliau ketika masih seusia kita, lho” ujar mahasiswa tadi.“Wah, yang bener yah…,” seru seorang dari mereka. Mereka berebutan untuk melihat album foto dan mengelilingi kakek itu. Terlihatlah foto-foto para aktivis kampus angkatan 1996. Ikhwan dan akhwatnya terlihat sangat kompak. Puluhan akhwat berjilbab rapi berdiri di belakang para ikhwan yang duduk berjongkok sambil memegang spanduk acara. Dan banyak lagi foto-foto yang serupa. Meski sudah 46 tahun yang lalu, namun foto-foto itu masih terjaga baik. Ya.., karena kakek itu menyimpannya…

Seorang mahasiswa memasuk sekret dan berkata, “Pak, acaranya sudah dimulai.” Mereka semua lalu keluar bersama-sama menuju tempat acara. Kakek itu berjalan menyusuri sepanjang koridor kampus menuju ruangan seminar. Dengan berjalan lambat-lambat, didampingi para mahasiswa. Sepanjang jalan ia disapa oleh setiap mahasiswa yang berpapasan dengannya. Meski kampus swasta, tetapi terlihat lebih mirip pesantren karena hampir semua mahasiswa dan mahasiswinya berjilbab dan mahasiswanya berbaju koko. Kakek itu hadir sebagai pembicara di sebuah seminar bertema, “Menyikapi Kemenangan Da’wah” yang disambut takbir ribuan peserta ikhwan dan akhwat di kampus itu. Kampus yang telah futuh.

Acara dibuka dengan tilawah dan diawali dengan tampilnya tim nasyid. Ketika tiba saatnya pada materi inti, sang moderator membacakan biodata pembicara. Setelah dipersilahkan untuk menyampaikan materi, kakek itu membukanya dengan basmallah. Ia sempat terdiam sesaat. Dipandanginya aula besar yang berisi ribuan mahasiswa dan mahasiswi. Matanya berkaca-kaca. Ia terkenang akan kenangan masa lalu. Pandangannya nanar.

(Ruangan itu berubah ke tahun 1996)

Di tempat yang sama. Ruangan itu lenggang.Terdengar suara, “Nanti kita mengadakan seminarnya di ruang ini saja, karena sound systemnya di sini bagus,” ujar Bram kepada teman-temannya. Beberapa teman yang berada di dekatnya mengangguk tanda setuju.“Tapi, apa tidak terlalu besar ya, Bram … karena pesertanya dikhawatirkan sedikit,” ujar seorang mahasiswi bernama Laras, yang

Page 25: CERPEN ISLAM2

rambutnya diikat ekor kuda.“Saya pikir, tidak Laras.. Tema seminar kali ini cukup menarik, insya Allah anak-anak mahasiswa baru banyak yang datang, kok.”

Bram bersama tiga temannya berjalan bersama menuju sekret. Di sepanjang jalan menuju kampus, para mahasiswa laki-laki dan perempuan terlihat bercampur baur. Yang mahasiswinya merokok dan mahasiswanya memakai anting. Bahkan ada yang tak malu-malu berpelukan di koridor kampus.

Bram, mahasiswa semester tiga, fakultas ekonomi di sebuah universitas swasta di Jakarta. Rambutnya lurus dibelah tengah, kulitnya sawo matang, postur tubuhnya sedang, badannya tegap, dan jago bela diri Tae Kwon Do. Ia suka memakai celana bahan dan kemeja lengan panjang. Sehingga tampak sekali keikhwanannya. Suaranya yang lembut namun tegas, membuatnya disegani, sehingga ia didaulat menjadi ketua rohis untuk masa periode itu.

Krisis Regenerasi dan Optimisme BramSuatu hari, Bang Didit dan Bram membuat janji untuk bertemu di sekret pada pukul 10.00. Di tengah kesunyian sekret, Didit yang notabene adalah DP (Dewan Pembina) senior rohis angkatan ’94, berkata kepada Bram. “Dek, kondisi angkatan ‘96 seperti ini. Abang sedikit pesimis.” Bram tertunduk. Ia baru saja diangkat menjadi ketua dari organisasi rohis yang kualitas anggotanya, sangat jauh dari harapan, karena mereka masih belum memiliki sikap teguh pendirian dan masih sedikit jiwa berkorbannya untuk dakwah. Pun masih gemar ber-ikhktilat. Namun jauh di lubuk hatinya, Bram tetap optimis, bahwa bila Allah menghendaki, manusia pasti bisa berubah, pasti bisa….

“Di akhwat juga tidak ada, dek….” tambah Bang Didit, ingin menekankan bahwa hanya Bram yang bisa menjadi motor penggerak dalam organisasi rohis itu. Bram berfikir keras. Amanah berat di pundaknya. Iya…, memang kondisi di kampus ini sangatlah berbeda dibanding SMU-nya yang ada di daerah. Dulu di SMU, aktivis bertumpuk dan suasananya sudah sangat islami. Tapi kini, tugas yang akan diembannya sangat berat, yang sampai-sampai para DP pun, sudah di ambang pesimisme. Di lubuk hatinya, Bram memegang teguh janji Allah, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum. Ayat itu selalu menyemangati dirinya untuk tetap optimis berada di jalan ini. Karena hidayah Allah, siapa yang tahu? Teman-teman pasti bisa berubah….

Andre, Aktivis Da’wah Sekolah (ADS)Saat tengah duduk-duduk di depan sekret rohis, Bram melihat seorang mahasiswa yang tampaknya seperti ikhwan, menuju tempat wudhu.

Page 26: CERPEN ISLAM2

Dan instingnya seakan memperkuat hal itu. “Assalaamu’alaikum,” kata Bram.“Wa’alaikumsalam wr wb,” jawab pemuda berjanggut tipis dan tampan itu.“Em…, antum Ikhwan, ya?” tembak Bram to the point.“Saya…… JT,” jawabnya mantap.“O…. Maaf ya, Assalaaamu’alaikum” ujar Bram malu-malu dan segera ngeloyor pergi kembali ke sekret. Saat Bram berbalik beberapa langkah, pemuda itu memanggilnya. “Eh.., akhi… tunggu, maksud saya … JT itu Jamaah Tarbiyah,” ujarnya sambil tersenyum ramah.“Ooo…. Alhamdulillah….,” senyum Bram pun mengembang.

Mahasiswa itu bernama Andre, mahasiswa tingkat II yang ternyata ADS juga di SMU-nya. Bram sangat senang mendengar itu. Bram mengajak Andre untuk berkomitmen di jalan dakwah. Bram menjelaskan kondisi rohis kampus yang memprihatinkan. Andre mahasiswa yang cerdas, perawakannya sedang, rambutnya ikal dan kulitnya putih dengan pipi yang kemerah-merahan. Andre mengangguk, “Maka marilah kita berjanji setia untuk berjuang di jalan-Nya,” ujar Andre menyambut ajakan Bram. Bram tersenyum. Dan mereka berjanji setia untuk senantiasa di jalan Allah. Sejak itu mereka senantiasa selalu bersama dan ikatan cinta diantara mereka sangatlah kuat.

Zaid, Sang JurnalisUsai shalat Zuhur, sebelum jamaah bubar, Bram segera maju ke depan, mengambil mic dan memberi kultum di masjid kampus. Ia memulainya dengan basmalah dan membacakan firman Allah SWT QS. Saba’: 46-50. Dengan semangat yang membara, kata-kata yang lugas dan tegas, lidah yang lancar, ia berkata, “Kepada para pemuda yang merindukan lahirnya kejayaan, kepada umat yang tengah kebingungan di persimpangan jalan. Kepada para pewaris peradaban yang kaya raya, yang telah menggoreskan catatan membanggakan di lembar sejarah umat manusia. Kepada setiap muslim yang yakin akan masa depan dirinya sebagai pemimpin dunia dan peraih kebahagiaan di kampung akhirat… “ Para jamaah yang semula hendak bubar, demi mendengar seruan Bram yang menggetarkan jiwa itu, spontan segera menoleh ke arah Bram dan mereka kembali duduk di tempatnya dikarenakan gaya bicara Bram yang sangat menarik.

Bram melanjutkan, “Wahai pemuda! Kalian tidak lebih lemah dari generasi sebelum kalian, yang dengan perantaraan mereka Allah membuktikan kebenaran manhaj ini. Oleh karenanya, janganlah merasa resah dan jangan merasa lemah. Kita akan menempa diri, sehingga setiap kita menjadi seorang muslim sejati. Kita akan membina rumah tangga-rumah tangga kaum muslimin menuju terbangunnya rumah tangga yang islami. Setelah itu, kita akan menempa bangsa kita

Page 27: CERPEN ISLAM2

menjadi bangsa yang muslim, yang tertegak di dalamnya kehidupan masyarakat yang islami. Kita akan meniti langkah-langkah yang sudah pasti, dari awal hingga akhir perjalanan. Kita akan mencapai sasaran yang digariskan Allah bagi kita, bukan yang kita paksakan untuk diri kita. Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir tidak menyukainya,” seru Bram. “ Kita pun akan mengetahui bahwa sesungguhnya memisahkan agama dari politik itu bukan dari ajaran Islam. Pemisahan itu tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin yang jujur dalam beragama dan paham akan ruh ajarannya. Sesungguhnya agama ini adalah agama, ibadah, dan tanah air, …..”

Andre memperhatikan para jamaah. Dan ada beberapa jamaah yang terlihat sangat antusias dengan seruan Bram. Andre mendekati seorang pemuda. Setelah mengucapkan salam, mereka berkenalan. “Saya Andre.” Pemuda itu membalas senyum Andre dan berkata,“Saya Zaid.”“Zaid, nama yang bagus sekali seperti sahabat yang menjadi sekretaris nabi.“Iya, engkau benar,” jawab Zaid.“Bagaimana menurutmu tentang orang di depan itu?” tanya Andre.“Em.., bagus sekali dan saya tertarik untuk menuliskannya di koran saya,” jawab Zaid.Andre mengerutkan keningnya.“Anda jurnalis?”“Ya, saya jurnalis di koran kampus.”Sesaat Andre baru sadar, bahwa Zaid mengenggam pena dan membawa sebuah note book kecil di tangannya. Setelah mengobrol panjang lebar, Bram berkata,“Emm…Kalau begitu bagaimana kalau engkau mengaji bersama-samaku.”“Mengaji?”“Ya, kita akan mengaji dan mengkaji lebih dalam lagi apa yang dikatakan mahasiswa itu.”“Ya… Tentu.., “ jawab Zaid setelah berpikir beberapa saat.

Mahasiswa BaruOspek untuk menyambut mahasiswa baru angkatan ’97 digelar di kampus tersebut. Pakaian mereka putih dan hitam. Dengan rambut diikat pita tiga, ratusan mahasiswa baru telah berkumpul di lapangan. Suasana sangat ramai. Para aktivis dari BEM dan Himpunan berjaket almamater telah bersiap-siap. Dan para aktivis rohis tengah mempersiapkan tempat shalat untuk shalat Zuhur.

Di bawah panas terik matahari, ratusan Mahasiswa Baru duduk di lapangan dan mendengarkan instruksi dari para senior, tak jarang kata-kata kotor keluar dari mulut mereka. Bram jengah mendengarnya.

Page 28: CERPEN ISLAM2

Sudah mahasiswa tapi intelektualitsnya justru minus, pikirnya.

Semua mahasiswa baru, dikumpulkan di lapangan kampus. “Siapa yang tidak bawa atribut lengkap, cepat maju ke depan dalam hitungan tiga! Kalau tidak, terima sendiri akibatnya!” seru sang senior berjaket almamater biru. Ia mulai menghitung. Beberapa junior maju ke depan. Bram berjaket almamater dan memandangi para mahasiswa baru untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang mahasiswi baru, berjilbab putih. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu…. Itu.. seperti.. seperti…. Sita! Sita sudah berjilbab…? Bram terdiam dan pikirannya melayang dengan kejadian setahun lalu.

Saat itu.. ketika ia masih kelas 3 SMU….

“Saya tidak bisa meneruskan hubungan kita, dek… Kita akhiri sampai di sini saja…..,” ujar Bram pada seorang adik kelas yang tak lain adalah kekasihnya, “Tapi.., kenapa? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja, Bang…” jawab Sita dengan memandang lekat-lekat wajah laki-laki yang sangat dicintainya itu. Air mata Sita sudah tak terbendung lagi. “Maafkan saya, dek… tetapi saya bukanlah Bram yang dulu lagi. Saya sudah memikirkan ini masak-masak, saya ingin berubah…”

Sita dan Bram duduk berdua di pinggir lapangan basket SMU. Mereka saling terdiam beberapa saat dan memandangi pintu gerbang SMU mereka yang sudah mulai sepi. Langit berwarna merah. Rambut lurus Bram tertiup angin yang sepoi-sepoi. Azan maghrib sebentar lagi berkumandang. “Apa yang membuat abang berubah? Padahal dua hari lalu, abang katakan bahwa kita akan selalu bersama, apakah engkau sudah melupakan kata-kata abang sendiri…,” Suara Sita terdengar parau.

Sesungguhnya jauh di lubuk hati Bram, sangatlah berat melepas Sita. Tapi.. ., ada yang jauh lebih ia cintai dari wanita yang berambut sebahu itu… Mengatakan perpisahan inipun sangat sulit baginya. Tapi.. tapi.. ia harus bisa karena ada yang lebih ia harapkan dari Sita, yaitu… ampunan dan rahmat Allah. Ia tak dapat memungkiri bahwa hatinya gelisah luar biasa bila berdekatan dengan Sita, seakan dosa yang terus menggunung tinggi.

Azan Maghrib berkumandang. Bram tersigap, ia bangkit dari duduknya dan berkata, “Sudah azan, saya mau shalat. Shalat yuk.., dek…,” ajak Bram. Sita memandang Bram dengan tatapan penuh keheranan…dan bertanya-tanya dalam hati.. sejak kapan Bram shalat? Bukankah ia sendiri yang sering mengatakan tak suka dengan anak-anak rohis…… “Abang saja yang shalat, Sita nanti aja,” jawab Sita enggan. Bram dan

Page 29: CERPEN ISLAM2

Sita saling berpandangan, lama sekali. Seakan banyak isi hati yang terucapkan lewat tatapan mata mereka. Hati Bram bergemuruh. Qomat berkumandang dari masjid sekolah. Bram menundukkan pandangannya, dan berkata, “Saya shalat…” Ia membawa tas ranselnya dan menuju masjid sekolahnya. Sita tertunduk dan air mata mengalir di pipinya yang kemerah-merahan.

Usai shalat Maghrib, Bram termenung sesaat… Hatinya sedih luar biasa, ia tahu, pasti Sita saat ini sedang menangis. Apakah ia harus menemui Sita lagi dan menenangkannya, seperti yang selama ini ia lakukan. ‘”Aku di sini untukmu.” Kata –kata itulah yang sering ia ucapkan bila Sita bersedih. Tetapi kini.. apakah ia harus menemuinya dan mengatakannya lagi.. Ah.., tidak.. Aku sudah bertekad, aku harus berubah! Harus!. Ya Allah.., istiqomahkanlah aku di jalan-Mu. Bram memanjatkan doa dengan hati bersungguh-sungguh. Tak terasa ia menitikan air mata. Ikatan yang sudah terjalin sejak mereka SMP, harus pupus di tengah jalan. Biarlah… biarlah .. kita menangis saat ini Sita, daripada kita menangis di akhirat nanti. Bram lebih memilih jalan untuk menjauhi apa yang namanya pacaran. Dan ia berkomitmen untuk selalu berada di jalan para nabi ini….

Bram menyenandungkan syair nasyid Izzatul IslamSelamat tinggal wahai dunia duka danselamat datang wahai dunia imanBurung yang patah sayapnya tak akan mati karena lukanyaWahai hatiku yang sedih perangainyaSungguh kesedihan itu teah meninggalkan dirikuKan terbang aku ke dunia cintaKarena Aku muslim yang membumbung dengan imanGelarku adalah muslim dan itu cukup bagikuDibawah naungan agama aku hidupUntuk menebus keislamanku yang nyaris sirna

**

“Assalaamu’alaikum, Bram… Nanti tempat wudhunya gimana?” tanya teman rohisnya, Andre. Kehadiran Andre membuyarkan lamunan Bram, “Oh.. eh.. Wa’alaikumsalam, itu sudah disiapkan, jadi nanti yang mahasiswanya wudhu di dekat gedung K,” jawab Bram mantap. Andre mengangguk dan meninggalkan Bram usai mendapat jawaban itu. Bram beristighfar dan segera kembali mempersiapkan atribut shalat, seperti spanduknya dan lain-lain. Bram bergumam, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum

Bram duduk di masjid usai shalat Zuhur. Ia dan teman-temannya bersiap-siap menyambut mahasiswa baru. Ia memandangi orang-orang

Page 30: CERPEN ISLAM2

yang shalat. Dan dari kejauhan ia melihat seorang mahasiswa baru yang tengah duduk. Bram menghampirinya dan mengucapkan salam. Mahasiswa baru berambut plontos itu menjawab salam sambil tersenyum ramah. “Sudah shalat?” tanya Bram padanya. “Sudah, Bang… lagi nunggu temen, dia belum selesai,” jawabnya sedikit malu-malu. Bram lalu berkenalan lebih jauh dengan mahasiswa yang ternyata benama Andi itu. Bram berkata, “Nanti kapan-kapan kamu main ke sekret rohis aja.” “Ke sekret? Ngapain Bang,” tanya Andi heran. “Ya maen aja, belum penah ke sekret rohis, kan?” Bram kembali mengajak. Dan kali ini Andi mengiyakan dan berjanji akan mengunjungi sekret rohis. Andi berpamitan setelah temannya usai shalat. Mereka berlari menuju kelas.

Bram Bersama Teman-TemanSelama kepengurusannya, Bram melakukan gebrakan-gebrakan da’wah. Dan ia memprioritaskan da’wah di atas segalanya. Totalitas Perjuangan. Ia persembahkan untuk meninggikan kalimatullah. Bram, Andre dan Zaid bekerjasama untuk berda’wah kepada para mahasiswa baru, pun kepada teman-teman mereka sendiri.

Bram mencarikan ustadz agar mereka dapat mengkaji Islam bersama. Ini akan menjadi menthoring pertama dalam organisasi ini. Sejak itu, mereka bertiga mengadakan pertemuan mingguan bersama seorang ustadz.

Saat kuliah, Bram, Andre dan Zaid ada di kelas yang bersebelahan. Mereka dapat dengan mudah berkoordinasi bila ada teman-teman Da’wah Fardiyah. Semuanya mereka rencanakan dengan baik. Hingga akhirnya terekrutlah beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi, untuk semakin mengokohkan barisan da’wah.

Perpustakaan MasjidBram memasuki masjid dan melihat banyak sekali buku-buku Islam yang tak terawat. “Buku-buku adalah sumber ilmu,” ujar Bram ketika mengajak Andre untuk mendata buku-buku tersebut. Jumlah buku Islam itu ada 500 buku. Mereka berdua mencatat nama buku, pengarangnya, dan penerbitnya. Lalu membuat nomor-nomor buku, kemudian menempelkannya di setiap buku. Selama sebulan lebih Bram dan Andre melakukan itu. Bram bersyukur karena ada Andre yang bersedia membantunya. “Kapan nih selesai bukunya, kok ngga’ selesai-selesai,” ujar seorang anggota rohis saat memasuki sekret. Ia hanya membaca beberapa buku, dan kemudian meletakkannya. “Makanya, bantuin dong, biar cepet selesai,” ujar Andre sedikit kesal. Karena Andre tahu, Bram yang paling banyak berperan dalam mengurusi buku-buku itu, dan ia tidak rela bila orang hanya bicara saja tanpa membantu. Bram hanya terdiam mendengar itu. Berapa banyak orang yang sanggup

Page 31: CERPEN ISLAM2

bicara, tetapi sedikit yang mengerjakannya. Dan berapa banyak orang yang mau mengerjakannya, tetapi mau serius dan berkorban untuk melakukannya.

Setelah satu bulan, pendataan buku-buku itu pun selesai. Bram dan Andre meletakkannya di perpustakaan masjid. Mereka segera membuat kartu perpustakaan, sehingga para mahasiswa dapat meminjamnya. Dan dapat beredarlah fikrah kita.

PengorbananBram, Andre dan Zaid terkejut sesaat, tetapi kemudian memberikan selamat kepada Laras, karena ia baru saja berjilbab. Laras tersipu-sipu, dan dari lubuk hatinya, Laras yakin bahwa inilah jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang Dia ridhoi. Dengan jilbab ini, Laras berjanji untuk senantiasa di jalan ini…

Sekret rohis itu dikunjungi oleh mahasiswa dan mahasiswi. Di sekret akhwat, sangatlah ramai oleh canda tawa para mahasiswi, sampai-sampai suara mereka terdengar di sekret ikhwan. Andre kerap kali mengetuk jendela akhwat, agar tidak terlalu berisik. Bila sudah demikian, para akhwat dan mahasiswi yang ada di dalam hanya tersenyum tertahan. Andre hanya geleng-geleng kepala.

Dan di sekret ikhwan pun tak jauh berbeda. Bahkan mereka bermain bola di dalam sekret. Andre hanya geleng-geleng kepala (lagi). Tetapi Bram memang tidak mencegah hal itu dan membiarkannya karena anggota yang baru bergabung tidak bisa dipaksa langsung berubah total.

Di dalam sekret itu, diadakan jadwal kultum harian. Setiap orang mendapat giliran. Laras membuat jadwal di akhwat, dan Andre membuat jadwal di ikhwan. Tilawah dan kajian, juga menjad agenda mingguan.

Kala maghrib menjelang, ketika tak ada seorangpun di lingkungan sekret. Bram masuk ke sekretnya. Dan ia membereskan sekret yang berantakan. Hampir setiap hari ia melakukan itu, karena pengkondisian sekret bagi Bram sangat penting. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Bagaimana mungkin hidayah Allah akan turun bila tempat ini berantakan…, gumam Bram. Untuk saat ini, ia belum bisa meminta teman-temannya untuk melakukan tugas ini, karena banyak yang menolak. Dan Bram memaklumi hal ini. Ia menyapu lantai, merapihkan buku-buku, membuang sampah-sampah, dan memasang mading ataupun menempel tausiah-tausiah di sekret.

Menghadapi Kristenisasi

Page 32: CERPEN ISLAM2

Sita bergabung dengan rohis kampus. Namun Sita yang sekarang, bukanlah Sita yang dulu, karena kini ia telah berjilbab rapi dan ia sudah membuang jauh-jauh kenangannya bersama Bram. ‘Ya Allah, aku ada di sini karena Engkau. Semoga Engkau luruskan niat-niat kami di jalan-Mu,” doa Sita di setiap shalat malamnya.

“Aduh, gimana yah, temen gue ada yang mau keluar dari Islam,” kata Anita, teman sekelas Sita, suatu hari. “Hah? yang bener?” seru Sita. Sewaktu di SMU ia juga pernah menemui kristenisasi di SMU-nya. “Iya, tapi Sita jangan bilang siapa-siapa ya, rahasia,” ujar Anita yang celana jinsnya robek-robek di bagian lututnya. Anita berkata itu dengan mimik serius dan rokok mengepul dari mulutnya. Sita hanya mengangguk-angguk.

Pakai jilbab, mau murtad? Tubuh Sita seakan limbung mendengar itu. Haruskah ia kehilangan lagi saudara muslim lagi. Sewaktu di SMU ia pernah menghadapi hal yang sama, pemurtadan dan saat itu teman SMU-nya murtad karena diiming-imingi harta. Sita segera membuka-buka kembali buku kristologinya. Ia membenahi jilbab putihnya. Argumen-argumen apa yang harus ia sampaikan kepada seseorang yang mau murtad. Ia mencatat semuanya dalam selembar kertas dan esok paginya, ia sudah siap dengan argumennya.

Namun Sita tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia menceritakan hal itu kepada orang yang ia percaya, yang notabene pasti tak mengenal Anita. Hal ini terdengar di telinga Bram, ketua rohis, bahwa ada kristenisasi di kampus.

Saat rapat rohis, Bram berkata, “Kita mendapat laporan dari atas, bahwa di kampus kita terjadi kristenisasi.” Sita tertunduk dalam mendengarnya. “Sebaiknya hal seperti ini tidak disembunyikan, karena bila sampai terjadi pemurtadan, dapat mencoreng wajah da’wah kita di kampus ini,” tambah Bram dengan tegas. Bram masih menunggu ikhwah yang sebenarnya mengetahui hal ini. Sitapun akhirnya angkat bicara, “Ya, sebaiknya kita mencari kristolog untuk membantu akhwat ini, karena kabarnya, dia mendapat ancaman juga dari kekasihnya yang Kristen, akh…” Hm.., Bram akhirnya tahu siapa orangnya.“Ya, sebaiknya begitu…,” jawab Bram.

Para ikhwah mempersiapkan agenda bersama agar mahasiswi tersebut tidak murtad. Lima akhwat, diantaranya Sita dan Laras, melakukan aksi detektif. Mereka ingin mengetahui dahulu wajah sang mahasiswi yang berkudung gaul tersebut. Kejar-kejaran dari belakang. Bersembunyi kala ia menoleh. Sesekali para akhwat tersenyum bersama. Setelah mahasiswi itu berhasil diidentifikasikan, akhirnya Sita menjadi duta untuk melakukan dialog dengannya.

Page 33: CERPEN ISLAM2

Bram terus memantau perkembangannya dari hari ke hari. Dan dari Anita, Sita mengetahui bahwa mahasiswi tersebut membatalkan niatnya untuk berpindah agama akibat bujukan pemuda Kristen tersebut, karena agama adalah yang paling utama. Allahu Akbar! Misi detektif akhwat selesai.

Riska, NamanyaPagi hari. Di ruang kelas. Para mahasiswa tengah menunggu datangnya dosen Pengantar Akuntansi 2. Bram segera masuk ruang kelas. Dan duduk di baris kedua. Ia membuka buku Akuntansinya dan melihat-lihat lembaran buku merah tersebut. Ia tak memperhatikan bahwa sedari tadi ada mahasiswi yang mengamati dirinya. Bram menoleh ke arah kanannya dan melihat mahasiswi manis, bercelana jins, baju jungkis dan berambut keriting tengah menatapnya. Bram segera melemparkan senyumnya. Mahasiswi itu membalas senyumnya. “Kamu anak rohis ya?” tanya mahasiswi itu. “Iya, saya Bram,” jawab Bram memperkenalkan diri. “Riska, “katanya balas memperkenalkan diri. “Saya dari dulu pengen ikut rohis nih, tapi bisa ngga’ ya?” ujar Riska. “O… tentu aja bisa. Kamu maen aja ke sekret rohis,” jawab Bram. Tiba-tiba dosen masuk dan menghentikan obrolan Bram dan Riska. Kuliah berlangsung selama 2 jam.

Usai kuliah, Bram mengajak Riska untuk berkunjung ke sekret rohis. Bram memperkenalkan Riska kepada beberapa akhwat rohis. Di dalam sekret, Riska melihat-lihat sekeliling sekret yang isinya begitu banyak buku-buku Islam.“Sejak kapan kamu pakai jilbab?” tanya Riska pada Sita.“Emm…, kelas 3 SMU, Mbak.”“Wah, baru pakai ya?”“Iya”“Dulu dapat halangan ngga’ dari orangtua?” tanya Riska lagi.“Iya, dulu mintanya susah sekali. Tapi dengan berusaha, akhirnya orang tua mengizinkan,” jawab Sita.Riska mengangguk-anggukkan kepala. Mereka kemudian membicarakan banyak hal, mulai dari keluarga sampai seputar wanita. Riska mengakui bahwa wawasan Islam Sita sangat baik.

Pers KampusZaid, semenjak bergabung dengan rohis, ia menggunakan kemampuan menulisnya untuk meninggikan kalimatullah. Tulisannya menghiasi media cetak kampus. Ia mampu menciptakan tulisan-tulisan yang universal, yang dapat diterima oleh kalangan dosen maupun mahasiswa. Sehingga Al Haq dapat tersampaikan. Dan ia kerap kali meliput kegiatan-kegiatan rohis dan memasukkannya ke koran kampus. Dengan ini, perlahan tapi pasti, terciptalah opini publik yang Islami

Page 34: CERPEN ISLAM2

lingkungan kampus tersebut.

Tidak hanya itu, kemampuannya itu ia teruskan kepada teman-teman dan junior-juniornya. Misinya dalam jangka panjang adalah membentuk pers kampus. Bram pun turut men-support keberadaan pers Islam ini. Hingga terbentuklah satu divisi baru, yaitu Divisi Jurnalis. Yang bertugas mem-blow up kegiatan-kegiatan rohis dan menggalang opini publik.

Bram Membangkitkan Semangat Teman-TemanSekret ikhwan dan akhwat terpisah. Letaknya ada di belakang masjid kampus itu. Para aktivis ini tengah mempersiapkan acara sebagai follow up dari penyambutan mahasiswa baru. Mereka melakukan rapat. Hanya ada 8 orang, yaitu Zaid, Bram, Andre, Andi, Riska, Laras, Sita dan Riska. Tak jarang mereka harus pulang malam untuk melakukan rapat-rapat. Bahkan kuliah bagi mereka adalah nomor dua. Yang utama adalah da’wah. Namun meskipun demikian, mereka semua tetap berprestasi dalam kuliahnya, dengan IPK minimal 3. Karena mereka memiliki motto, “Ikhwah sejati harus ber-IPK minimal 3!”

Bram selalu menjadi motor setiap event-event keislaman di kampus. Ia senantiasa memotivasi teman-temannya untuk tetap istiqomah di jalan ini. Dan di dalam sebuah organisisi, bukannya tanpa masalah, tetapi Bram dan teman-temannya berusaha memiimalisirnya, karena ukhuwah yang utama.

**Roy Bergabung dengan RohisDi kosnya, Bram memandang langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Langit terang oleh cahaya bulan purnama… Lama sekali ia menatap langit… Terbayang di matanya… akhlak para mahasiswa di kampusnya yang merosot. Semua itu berkelebat dahsyat di pikirannya.

Saat itulah, teman satu kosnya yang sedang menonton TV, menekan channel berita Metro TV, “Korban kembali jatuh di Palestina, bom bunuh diri dilakukan oleh Wafa Idris, wanita Palestina yang membawa bom. Tiga orang tentara Israel tewas dan puluhan lainnya luka-luka.” Bram segera berlari menuju TV mendengar berita itu. ketika melihat TV…, Innalillah… sampai seorang wanita yang harus maju untuk berperang, kata Bram. Mata Bram berkaca-kaca menyaksikan suasana di Palestina. Terlihat, Ambulance menolong korban luka-luka orang-orag Israel. “Eh…, kenapa loe..?” tanya Roy, teman satu kosnya. “Roy …, Kamu tahu…., Palestina itu tempat apa?” tanya Bram pada Roy yang tengah menghisap sepuntung rokok. “Palestina kan di Arab sana,” jawabnya cuek. Bram menggeleng, “Di Palestina ada Masjid Al Aqsha, itu adalah kiblat pertama kita dan sekarang diinjak-injak oleh zionis

Page 35: CERPEN ISLAM2

Israel, sudah sejak tahun 1948, sejak perjanjian Balfour,” ujar Bram dengan serius. Roy mengangguk-angguk, terbengong-bengong…”Ooh… begitchu yah..”

Bram terbangun dari tidurnya. Ia termenung sejenak. Dilihatnya, pukul 02.00 dini hari. Ia mengambil air wudhu dan shalat malam. Dalam shalat malamnya, ia membaca surat Al Anfal, lama sekali… Roy yang kamarnya ada di sebelah Bram, tengah sibuk membuat program web site. Di depan internetnya ia meng-up load postnuke dari situs. Jari-jarinya bergerak cepat. Sesekali ia membuka situs porno, dan terkekeh sendiri. Rokok di tangan kirinya dan ada Majalah porno pula di tangan kanannya. Roy keluar dari kamarnya saat mendengar suara orang menangis terisak-isak. Roy keluar dari kamarnya dengan kaos oblong dan rambut yang berdiri dan acak-acakan.

Ia melihat ke dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit. Bram sedang shalat. Kepala Roy tertunduk… Dan ia masuk kembali ke kamarnya. Di dalam kamarnya, ia memandangi majalah pornonya, dan dilemparnya majalah itu ke lantai. Ditutupnya semua situs yang ia browse sedari tadi. Ia mengambil sebuah buku yang sudah berdebu, Al Qur’an. Roy teringat kata-kata Bram…”Di Palestina ad Masjid Al Aqsha, itu tempat qiblat pertama kita…” terngiang-ngiang kata-kata itu. Dan terbayang pula senyum manis Andre saat ia sering mengajaknya untuk shalat ke masjid dan biasanya Roy menolaknya mentah-mentah, tetapi Bram senantiasa bersabar mengajaknya. Dibersihkannya Al Qur’an itu dari debu dengan tangannya. Dibukanya pada surat mana saja… Dan yang terbuka olehnya adalah Surat Ar Rahman “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Roy membacanya.. indah sekali ayat ini….

Bram bangun di pagi hari. Dan bersiap-siap untuk shalat Subuh di masjid. Bram terkejut ketika Roy mengikutinya dari belakang… Dengan malu-malu, Roy berkata, ‘‘Kenapa? Gue mau ke masjid juga, tidak boleh?”“Eh.. boleh.. tentu saja boleh…,: Bram cepat-cepat membuang keterkejutannya itu dan mereka melangkah bersama menuju masjid di dekat kosan mereka.

Usai shalat, Bram membuka buku kecil berwarna hijau. “Itu apa? Gue liat loe sering bawa buku itu,” tanya Roy. ‘‘Ini… Ini namanya Al Ma’tsurat, zikirnya Rasulullah SAW yang dibaca setiap pagi dan petang,” jelas Bram.“Gitu yah? Boleh ngga’ gue baca,” tanya Roy lagi.“Boleh, kita baca bareng-bareng aja ya. Nih…” ujar Bram menyerahkan buku itu.“Loh, terus loe baca pake apa?”

Page 36: CERPEN ISLAM2

“Insya Allah saya sudah hafal…,” kata Bram.“Oooo….” Roy mengangguk-angguk. Mereka membacanya bersama-sama hingga matahari menampakkan cahayanya.

Di dalam kamarnya, Roy memandangi ruangannya yang berantakan seperti kapal pecah. Ia terdiam sesaat dan dengan segera membersihkan dan membereskan kamarnya. Sapu, lap pel, ada di tangannya. Ia mencopot semua poster-poster band kesayangannya. Buku-buku porno ia kumpulkan. Seketika, kamarnya bersih dan mengkilat hingga ke kaca-kaca jendela. Ia keluar dari kamar dan diluar ia menyalakan api… dilemparnya semua buku porno itu ke dalam api. Roy tersenyum penuh kemenangan.

Roy menyisir rapi rambutnya yang lurus dan dibelah tengah. Ia melepas anting yang setia ad di telinga kananya. Ia merapikan janggutnya dan memakai wangi-wangian. Penampilannya menjadi lebih rapi.

SEMINAR AKBAR, KEMENANGANAndre yang notabene adalah Ketua Departemen Syi’ar, menjadi Ketua pula dalam acara seminar yang akan digelar. Ia membentuk struktur panitia. Acara ini tergolong besar, karena akan melibatkan dosen dan mahasiswa. Target pencapaian adalah 500 peserta. Itu berarti peserta akan memenuhi ruang auditorium di kampus tersebut.

Zaid, yang ahli dalam membuat tulisan, membuat sebuah artikel yang sangat bagus akan pentingnya seminar ini. Ia memasukkannya dalam koran kampus yang memang independen, sehingga ia tak mendapatkan halangan yang berarti.

Roy pun memanfaatkan keahliannya dalam dunia maya dengan menjaring massa melalui dunia cyber. Ia menggunakan email, mailis, situs, Yahoo Messenger dan Friendster untuk menyebarkan berita ini. Dan tulisan-tulisan Zaid ia muat dalam setiap pesannya dalam internet.

Bram, yang memiliki karisma dalam dirinya, mengajak para dosen untuk berpartisipasi dalam acara seminar ini. Ia menggunakan cara-cara yang ahsan dan menawan hati.

Sita, Laras dan Riska menjalankan amanahnya mengajak para muslimah untuk hadir dalam seminar. Mereka kerap mempublikasikannya dalam kajian keputrian yang setiap minggunya dihadiri oleh tak kurang dari 50 muslimah, di setiap Jum’at.

Dalam mempersiapkan kegiatan ini, tak jarang, Andre dan teman-temannya harus pulang malam untuk mengadakan rapat-rapat. Dan di

Page 37: CERPEN ISLAM2

siang hari, mereka aktif mencari sponsor demi terselenggaranya kegiatan. Lelah. Inilah yang dirasakan Andre dan jajaran kepanitiaanya.

“Kamu kenapa?” Bram seakan menangkap kegalauan hati saudaranya yang tengah termenung di sekret rohis. Ia memperhatikan bahwa Andre sedikit melemah semangat dakwahnya. Andre hanya terdiam. “Ingat…, disana.. di Pelestina.., saudara-saudara kita tengah berjuang. Apa yang kita lakukan di sini, belumlah seberapa dibandingkan mereka,” ujar Bram sambil menatap dalam kepada Andre. Andre merasa malu, karena Bram mengetahui kegalauan hatinya. Dan ucapan Bram itu seakan menjadi air sejuk di tengah kegersangan hatinya.

Hari H pun akhirnya datang. Andre melakukan briefing kepada panitia, saat pagi hari. Tiket telah terjual habis, bahkan masih ada yang ingin memesan tiket. Dan diperkirakan ruangan akan melebihi kapasitas. “Semoga Allah selalu meluruskan niat-niat kita saat menapaki jalannya. Hadir di sini semata-mata karena Allah,” ujar Andre untuk memotivasi panitia. Seluruh sie melaporkan tugasnya. Cek dan ricek.

Ticketing di depan ruangan seminar telah bersiap-siap. Semua anggota rohis memakai jaket almamater. Mereka bak tentara-tentara Allah yang bersiap-siap di posnya masing-masing. Acara ini mendapat sambutan yang sangat baik dari para dosen, pun mahasiswa. Para mahasiswa berbondong-bondong tertarik untuk mengikuti program menthoring yang diselenggarakan oleh rohis.

Kesolidan Antar DepartemenBram dan Andre telah menyiapkan 20 menthor. Menthoring diadakan untuk mendidik seorang muslim agar akidahnya bersih, akhlaknya solid, ibadahnya benar, pikirannya intelek, tubuhnya kuat, mampu memanfaatkan waktu, dan bermanfaat bagi orang lain. Dari seminar itu, paling tidak, terbentuklah 20 kelompok menthoring, yang masing-masing kelompok, ada 8 orang. Itu berarti ada 160 orang yang terekrut melalui seminar tersebut.

Karena kesolidan Departemen Pengembangan Sumber Daya Muslim (DPSDM) dan Departemen Syi’ar, maka proses rekruitmen dan pembinaan berjalan lancar. Bram, Roy, Zaid dan Andre hanya bisa mengucap hamdalah akan kemenangan ini.

Berbondong-Bondong BerjilbabSita tengah sibuk mendata barang-barang di sekret. Pintu sekret terbuka dan… Sita melihat rok panjang berwarna hitam. Ia mendongak ke atas dan terlihatlah wajah Riska yang sedang tersenyum malu-malu dengan jilbab putihnya. Untuk sesaat Sita terperangah, dan kemudian cepat-cepat tersadar dan memberikan selamat kepadanya. Sita

Page 38: CERPEN ISLAM2

memeluk Riska erat sekali. Alhamdulillah… ujarnya.

Semenjak itu, bagaikan kartu domino. Mahasiswi yang lainpun berjilbab. Selama sebulan, sudah ada 20 orang yang berjilbab. Bahkan sampai muncul istilah ditengah-tengah mereka bahwa ada “Taubat massal.”

Suasana sekret akhwat kian ramai dihiasi canda tawa para akhwat. Tak jarang mereka melakukan aksi smack down, antar mereka. Mereka semua bersama-sama membantu gerak da’wah. Dan Andre senantiasa mengetuk jendela akhwat agar tidak terlalu berisik. Hi..hi..hi… para akhwat bukannya diam, tetapi semakin ramai. Andre hanya geleng-geleng kepala. Dan Bram tersenyum melihat sikap Andre.

Persiapan DaurohRohis mengadakan dauroh (pelatihan) yang merupakan alur terakhir dari organisasi tersebut. Bram, Andre, Zaid dan Roy melakukan survey di daerah Gunung Bunder. Mereka berempat memakai ikat kepala putih dan membawa ransel besar. Persiapan untuk naik gunung.

Mereka telah mempersiapkan dauroh ini selama satu bulan lebih. Waktu, tenaga, pikiran dan juga uang, mereka korbankan demi terselenggaranya kegiatan dauroh tersebut. Jalur-jalur yang akan dilalui peserta, mereka beri tanda. Namun tak terasa, malam telah menjelang. Dan sesuatu yang aneh terjadi, mereka tak bisa menemukan jalan pulang. Padahal seharusnya jalan yang dilalui tidaklah terlalu sulit. Mereka kembali menyusuri jalan. Hawa dingin dan malam yang pekat. Hanya berbekal dua senter.

Pukul 22.00. Mereka kemudian sadar bahwa sedari tadi hanya berputar-putar di satu tempat. Bram berkata, “Sepertinya ini sudah bukan dunia manusia lagi, sebaiknya kita membaca ayat kursi.” Andre, Roy dan Zaid mengiyakan. Dan sepanjang perjalanan, mereka membaca ayat kursi. Dengan doa, zikir dan tawakal, mereka akhirnya dapat turun gunung dengan selamat. Allahu Akbar!

Dauroh ini diikuti oleh 160 orang peserta. Mukhayyam selama 3 hari 2 malam. Tenda-tenda dibangun sendiri oleh peserta. Ikhwan dan akhwat berlomba mendirikan tenda masing-masing. Dauroh ini diisi dengan out bond, ceramah dan aneka games. Mendaki gunung. Dan yel-yel kelompok yang semakin menyemarakkan suasana.

Usai kegiatan, mereka semua berfoto bersama dengan pakaian penuh lumpur. Wajah puluhan ikhwan terlihat sangat gembira, dengan ikat kepala putih dan slayer biru. Para ikhwan berfoto sendiri dan berbaris rapi. Dan puluhan akhwatpun berfoto sendiri di tempat lainnya. Jilbab-

Page 39: CERPEN ISLAM2

jilbab mereka yang rapi, berkibar tertiup angin gunung. Mereka semua terlihat sangat kompak. Andre mengabadikan event itu dengan kameranya.

Bram MenikahBram bercerita pada Andre bahwa ia akan menggenapkan setengah diennya dan Insya Allah dalam waktu dekat. Andre turut bahagia mendengar penuturan saudaranya itu. Namun Bram sendiri belum tahu siapa orangnya, karena ia percaya sepenuhnya kepada pilihan ustadznya. Mendengar itu, Andre percaya bahwa Allah akan memberi yang terbaik untuk Bram.

Seminggu kemudian Bram mendapat sebuah amplop dari ustadznya. Dengan hati berdebar, namun tetap tenang, ia membuka biodata sang akhwat. Bram termangu membaca nama calonnya itu… Sita Anggraini… Ya Rabbi… Sungguh tak akan lari gunung di kejar, gumam Bram.Di tempat lain…, Sita juga menerima amplop dari murabbiyahnya dengan perasaan tenang. Ketika ia membuka dan membaca nama calonnya…. Bram Adhiyaksa…, Sita setengah berbisik menyebut nama itu. Ya Rabbi…Proses ta’aruf (perkenalan) Bram dan Sita berlangsung singkat. Bram datang meminang ke rumah Sita. Pernikahan berlangsung sederhana dan menggunakan hijab yang berupa tanaman-tanaman. Puluhan aktivis rohis datang pada acara yang sangat bersejarah dalam kehidupan manusia itu. Lagu-lagu nasyid diputar saat itu. Bram yang gemar dengan nasyid Izzis dan Shoutul Harakah terpaksa harus menggantinya dengan nasyid yang slow, karena tak mungkin di hari perhikahannya ia memutar nasyid genderang perang.Keluarga Pejuang“Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS. 9:24).

Suatu hari Bram merasa gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada Sita, "Dek…, kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam dakwah. Apa pantas sesudah dakwah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan dakwah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya, tapi kita pun cinta Allah". Bram pergi menerobos segala hambatan dan pulang

Page 40: CERPEN ISLAM2

masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari.

Aksi 12 MeiKepada para mahasiswa yang merindukan kejayaanKepada rakyat yang kebingungan di persimpangan jalanKepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan,Sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusiaWahai kalian yang rindu kemenanganWahai kalian yang turun ke jalanDemi mempersembahkan jiwa dan ragaUntuk negeri tercinta

Rasulullah SAW bersabda, “Allah akan menaungi pemuda yang berani mengatakan yang haq di depan penguasa yang zalim.” Berlandaskan hadits ini, aksi-aksi mahasiswa marak di berbagai daerah di tanah air.

Dan Aksi 12 Mei. Aktivis rohis yang bergabung, berjumlah dua ratus orang lebih. Bram ikut memimpin gerakan mahasiswa untuk merobohkan rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Bram dan aktivis rohis lainnya, mendesain sebuah aksi turun ke jalan, untuk kali yang pertama. Namun tak disangka, aparat bersikap repsesif. Mahasiswa berlari ke dalam kampus menyelamatkan diri dari tembakan aparat. Bram yang berada di depan terkena tembakan peluru di perutnya. Seorang Satgas dari Senat berhasil menariknya ke dalam kampus sebelum sempat dipukuli oleh aparat. Dan yang terjadi selanjutnya mirip dengan perjuangan intifadah rakyat Palestina. Dimana mahasiswa berusaha mempertahankan diri dengan melemparkan batu, botol aqua dan apa saja yang bisa dipungut di jalan kepada aparat yang bersenjata api.

Balasan yang 'sangat amat baik sekali' dari aparat keamanan. Tiap kali terdengar letusan senapan yang keras dan menggetarkan kaca-kaca di Gedung M, massa mahasiswa spontan berteriak 'Allahu Akbar'. Mahasiswa yang tidak kuat menahan emosi berteriak-teriak istighfardan mengutuk perbuatan aparat bermoral binatang. Karena bantuan alat-alat medis yang kurang, korban dibawa ke Gedung I.

Inna Lillahi Wa Ina Lillahi Roji'un, mahasiwa yang sedang berbaring ini sudah tidak bernyawa. “Tidak ada nafasnya!” seru seorang rekan ketika tidak merasakan aliran nafas dari hidungnya. Tidak kuat menahan emosi yang sedang terjadi, beberapa mahasiswa beristighfar menyebut nama Allah Swt, dan lainnya menyerukan untuk mengadakan pembalasan, sebagian lagi berusaha menahan emosi rekannya. "Tidak ada gunanya dilawan", "Jangan ada korban lagi", semuanya mundur, rekan kita sudah ada yang meninggal, Mundur semua!” jerit beberapa

Page 41: CERPEN ISLAM2

rekan mahasiwa. Mahasiswa-mahasiwa yang berada di barisan depan terus melempari petugas dan berteriak-teriak histeris. Kabar kematian rekan mahasiswa tampaknya malah membakar emosi mahasiswa barisan depan tersebut.

Bram MeninggalBram dalam kondisi kritis. Darah mengalir deras. Teman-teman segera membawanya ke rumah sakit. “Bram…. Bram….,” panggil Andre dengan wajah sangat cemas. Bram melihat wajah Andre, semula jelas… namun pandangannya kabur dan semuanya menjadi gelap.

Sudah satu bulan Bram ada di rumah sakit. Banyak aktivis yang menjenguknya. Dan pada minggu ke enam, Bram sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Namun sejak penembakan itu, Bram tak bisa lagi berjalan seperti biasa. Karena pukulan keras di kepalanya dari aparat, membuatnya sering pusing. Pun tembakan di perutnya, meninggalkan luka yang membekas dan terkadang sangat sakit ia rasakan. Namun meskipun demikian, Bram masih mengontrol jalannya aktivitas da’wah di kampus melalui HPnya. Terkadang para ikhwah bertanya tentang apa yang harus mereka lakukan dalam da’wah. Ataupun sekedar ber-sms untuk bertanya tentang Islam. Dan hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi Andre.

Suatu hari, ada rapat mendesak yang membutuhkan kehadiran Bram. Walau sang isteri sudah berusaha mencegahnya, namun Bram tetap bersikeras. Ia dijemput Andre. Dan mereka bersama-sama menuju tempat syuro. Syuro itu berlangsung satu hari penuh.

Pukul 02.00, Bram tiba di depan rumah. Ternyata sang isteri tercinta telah menantinya. Bram duduk di kursi tamu, melepas kepenatan. Sita berjongkok di hadapan Bram dan membukakan kaos kakinya. “Wah…, Mama .. baik sekali,” ujar Bram dengan nada lembut. Sita terdiam. Ia menyunggingkan senyum. Entah mengapa, hari ini perasaan Sita tidak enak. Ia ingin selau berada di dekat suaminya. “Air panasnya sudah siap, Bang…,” Sita mengambilkan handuk. Bram terduduk di kursi sambil memegang agenda syuro. Ia segera membersihkan diri malam itu.

Saat subuh menjelang. Suhu badan Bram sangat tinggi, ia menggigau. Sita panik, tetapi ia tetap berusaha berfikir jernih. Ia segera menghubungi abang kandungnya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Mereka lantas bersama-sama membawa Bram pergi ke rumah sakit.

Semua ikhwah menjenguknya. Sudah seminggu Bram ada di rumah sakit. Sita senantiasa membacakan Al Qur’an di samping Bram. Sakitnya kian memburuk.

Page 42: CERPEN ISLAM2

**

Suatu malam…. Bram memanggil Sita… dan memberi isyarat agar Sita mendekat. Sita segera mendekatkan telinganya di dekat wajah Bram. Ia berwasiat, “Dek… jaga diri baik-baik. Dirikan shalat. Jaga anak kita nanti, didik ia menjadi mujahid di jalan Allah,” ujar Bram. Sita yang kandungannya telah berusia delapan bulan, sudah tak terbendung lagi air matanya. Ia menangis terisak-isak. Demi mendengar isakan tangis Sita, Andre terbangun dari tidurnya dan mendekati Bram. Beberapa ikhwan yang tengah menunggu di luar kamar pasien, juga terbangun. Bram menghadapi sakaratul maut. Sita dan Andre membimbing Bram agar mengucapkan “Laa illaha ilallah…”, namun lidah Bram yang setiap harinya memang tak lepas dari zikir, dapat dengan lancar mengucapkannya. “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un….” Andre mengucapkannya dengan nada tertahan, ketika tubuh Bram sudah lemas dan terbujur kaku.

Semua ikhwan yang menyaksikan hal itu, terdiam. Kepala mereka tertunduk…

Sepeninggal Bram, semua yang dirintisnya membuahkan hasil. Demi mendengar kisah kegigihannya dalam menegakkan Islam, telah membangkitkan militansi puluhan aktivis lainnya. Dan dari puluhan aktivis ini, lahirlah mujahid-mujahid baru. Regenerasi terus berlanjut. Mewariskan nilai-nilai keislaman yang telah Bram tanamkan di dalam diri teman-temannya. Pun bagi Andre, Bram adalah sosok teladan yang selau memberi motivasi kepada dirinya. intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum.

(Tahun 2040)

PenutupKakek itu masih menatap tajam para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di hadapannya. Ia berkata, “Wahai pemuda! Kalian tidak lebih lemah dari generasi sebelum kalian, yang dengan perantaraan mereka Allah membuktikan kebenaran manhaj ini. Oleh karenanya, janganlah merasa resah dan jangan merasa lemah. Kita akan menempa diri, sehingga setiap kita menjadi seorang muslim sejati. Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir tidak menyukainya,” ujarnya.

Kakek itu mengucapkan panjang lebar tentang arti kemenangan da’wah. Dan tibalah saat sesi tanya jawab. Sang moderator berkata, “Ya, telah kita dengarkan tausiah-tausiah dari syeikh kita, Syeikh Andre. Seperti kita ketahui bersama, beliau juga pernah kuliah di kampus ini

Page 43: CERPEN ISLAM2

dan menjadi salah satu pelopor bangkitnya Islam di kampus kita tercinta. Maka jangan sia-siakan kesempatan ini untuk bertanya.” Beberapa orang dengan serentak, berebutan dan mengangkat tangan untuk bertanya.

Usai acara, Andre bersiap-siap shalat berjamaah di masjid kampus bersama-sama dengan para mahasiswa. Ia memandangi perpustakaan yang dulu pernah ia dan Bram susun. Terlintas kembali kenangan itu, saat Bram berkata kepadanya, “Buku- buku adalah sumber ilmu.”

Andre kemudian menjadi imam pada shalat Zuhur itu. Ia membaca surat Muhammad… dengan khusyuk… dan ketika sampai pada ayat intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum., Andre terisak… Ia mengenal betul bahwa ayat inilah yang menjadi gerak juang saudaranya, Bram. Usai mengucap salam, Andre terdiam dan melihat ada Bram, Roy dan Zaid di hadapannya. Bram tersenyum kepadanya dan Andre membalas senyumnya. Andre menatap ke langit-langit masjid dan ia melihat makhluk-makhluk yang tak pernah ia lihat sebelumnya, bukan jin dan bukan pula manusia. Dan beberapa saat kemudian, ia tersungkur di depan mimbar masjid.

Pak Andre!…. Seru jamaah shalat. Mereka berhamburan dan membopong tubuh Andre. Dan mendudukkannya. “Innalillahi wa Inna ilaihi raji’un…,” seru seorang dari mereka ketika tak ada lagi hembusan nafas dari Andre… “Pak Andre belum meninggal, kita bawa beliau ke rumah sakit saja,” ujar yang lainnya.

Mereka segera membawa Andre ke rumah sakit. Dengan raut wajah berduka, dokter mengatakan hal yang sama, “Mohon maaf, Pak Andre… sudah tiada.” Saat itulah semua jamaah tertunduk dan menitikkan air mata, menangisi kepergian sang mujahid.

***

Ribuan jamaah ikhwan berduyun-duyun mengantar kepergian syeikh mereka ke tempat peristirahatan. Langit mendung seakan turut menangisi kepergian mujahid-mujahid Allah di muka bumi. Bram, Zaid, Roy dan Andre.. Makam mereka terletak berdampingan. Mereka bertemu karena Allah, saling mencintai karena Allah. Rasulullah SAW bersabda, "Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada’, tetapi para Nabi dan Syuhada’ iri pada mereka. "Ketika ditanya oleh para sahabat, Rosulullah saw menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah"(HR. Tirmidzi). Mereka telah mengukir

Page 44: CERPEN ISLAM2

sejarah perjuangan yang indah. Sesungguhnya dakwah ini akan terus berlanjut hingga hari kiamat.

Saat semua pengantar Andre telah pulang, ada beberapa pemuda gagah yang masih tertegun di samping makam-makam itu. Salah seorang dari pemuda berkata, “Ayah, kami akan meneruskan perjuanganmu, hingga tak ada lagi fitnah dan agama ini hanya milik Allah…,” ujarnya mantap. (Ayat_Al_akrash

Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika.

Rabu, 22 Februari 2006

Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya.

Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika , ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja.Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghor-matan lantas kembali duduk.

Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini." Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya.Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar.

Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta, "Bagaimana anda

Page 45: CERPEN ISLAM2

tahu bahwa saya seorang mus-lim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.

Sang pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menja-wabnya dengan tepat." Si pemuda tersenyum dan berkata, "Silahkan!"

Sang pendeta pun mulai bertanya,1. satu yang tiada duanya2. dua yang tiada tiganya3. tiga yang tiada empatnya4. empat yang tiada limanya5. lima yang tiada enamnya6. enam yang tiada tujuhnya7. tujuh yang tiada delapannya8. delapan yang tiada sembilannya9. sembilan yang tiada sepuluhnya10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh11. sebelas yang tiada dua belasnya12. dua belas yang tiada tiga belasnya13. tiga belas yang tiada em-pat belasnya14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak

mempunyai ruh!15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa

isinya?16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak

menyukainya?18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa

ayah dan ibu!19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab

dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab

dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap

besar!22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting

mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah.

Page 46: CERPEN ISLAM2

Setelah membaca basmalah ia berkata,1. yang satu tiada duanya ialah Allah SWT.2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT

berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)."(Al-Isra': 12).

3. yang tiga tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.

5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT

menciptakan makhluk.7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah

SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).

8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman,"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).

9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang dan

10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).

11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudaraYusuf

12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).

13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.

14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menying-sing. "(At-Takwir: 18).

15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.

16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf , yakni ketika mereka berkata

Page 47: CERPEN ISLAM2

kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf didekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka," tak ada cercaaan ter-hadap kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang"

17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai." (Luqman: 19).

18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.

19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (AlAnbiya': )

20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).

21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).

22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.

Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"

Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.

Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya

Page 48: CERPEN ISLAM2

dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "

Pendeta tersebut berkata,"Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.

" Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda."

Sang pendeta pun berkata,"Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah."

Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam.Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.

Kaum yang berpikir (termasuk para pendeta) sedianya telah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan akan menjaga manusia dalam kesejahteraan baik di dunia dan di akherat..Apa yang menyebabkan hati-hati para pendeta itu masih tertutup bahkan cenderung mereka sendiri yang menutup rapat jiwanya..

Semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepada mereka yang mau berpikir..amien

Jangan putuskan e mail ini... please forward