Makalah cerpen

38
BAB I PENDAHULUAN Dalam pendahuluan ini akan penulis sajikan mengenai (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan pembuatan makalah, dan (4) manfaat pembuatan makalah. 1.1 Latar Belakang Masalah Menulis adalah suatu kegiatan menuangkan ide atau pemikiran yang berbentuk pesan ke dalam media tulis. Menuls praktis menurut KBBI adalaah menulis mudah atau senang melakukannya dengan menentukan objek dan langsung menuangkan ide. Menulis juga banyak ragamnya. Dalam hal ini penulis akan membahas mengenai karangan fiksi. Karangan fiksi merupakan karangan yang berupa cerita rekaan atau kisah nyata yang dibungkus dengan imajinasi pengarangnya. Jika dilihat dari bahasa yang digunakan, karangan fiksi ini menggunakan bahasa konotatif dan bahasa yang komunikatif dan pragmatis. Komunikatif yang dimaksud, baik dengan pembacanya maupun dengan situasi yang diungkapkan di dalam karangan tersebut. Jika dilihat dari tujuannya, karangan fiksi ini bersifat menghiburdan menceritakan suatu peristiwa atau kisah untuk memperluas pengalaman pembaca baik lahir maupun batin, bahkan lebih jauh dalam karangan fiksi biasanya terdapat tendensi nilai-nilai yang ingin diterapkan kepada pembaaca. Cerpen menurut KBBI adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen diceritakan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian, peristiwa yang mengharukan, atau menyenangkan dan mengandung pesan yang tak mudah dilupakan.

Transcript of Makalah cerpen

Page 1: Makalah cerpen

BAB I

PENDAHULUAN

            Dalam pendahuluan ini akan penulis sajikan mengenai (1) latar belakang masalah, (2)

rumusan masalah, (3) tujuan pembuatan makalah, dan (4) manfaat pembuatan makalah.

1.1  Latar Belakang Masalah

Menulis adalah suatu kegiatan menuangkan ide atau pemikiran yang berbentuk pesan

ke dalam media tulis. Menuls praktis menurut KBBI adalaah menulis mudah atau senang

melakukannya dengan menentukan objek dan langsung menuangkan ide. Menulis juga

banyak ragamnya. Dalam hal ini penulis akan membahas mengenai karangan fiksi.

             Karangan fiksi merupakan karangan yang berupa cerita rekaan atau kisah nyata yang

dibungkus dengan imajinasi pengarangnya. Jika dilihat dari bahasa yang digunakan, karangan

fiksi ini menggunakan bahasa konotatif dan bahasa yang komunikatif dan pragmatis.

Komunikatif yang dimaksud, baik dengan pembacanya maupun dengan situasi yang

diungkapkan di dalam karangan tersebut. Jika dilihat dari tujuannya, karangan fiksi ini

bersifat menghiburdan menceritakan suatu peristiwa atau kisah untuk memperluas

pengalaman pembaca baik lahir maupun batin, bahkan lebih jauh dalam karangan fiksi

biasanya terdapat tendensi nilai-nilai yang ingin diterapkan kepada pembaaca.

Cerpen menurut KBBI adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen

diceritakan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian, peristiwa yang mengharukan,

atau menyenangkan dan mengandung pesan yang tak mudah dilupakan.

Kisah yang diungkapkan dalam cerpen bisa bertolak pada realita atau rekaan yang

dibungkus oleh imajinasi, atau juga kisah imajinasi yang dihubungkan dengan realita.

Dengan itu dapat dipahami oleh pembaca dan pembacapun memperoleh hiburan batin atau

pengalaman batin dalam menikmati nilai sastra yang terdapat di dalamnya. Sedangkan suatu

cerita dapat diperoleh melalui sesuatu yang dipikirkan, yang disaksikan, atau yang dialami

oleh pengarang sendiri dan kemudian direka-reka menjadi suatu karya yang bernilai.

Cerpen juga merupakan karya sastra. Dalam hal ini akan di kaji oleh penulis

mengenai menulis teknis atau praktis cerpen.

Sebagai generasi masa depan, kita sebagai generasi muda haruslah giat melakukan

kegiatan menulis. Supaya kegiatan menulis tidak hilang dimakan zaman yang semakin

modern ini yang penuh dengan ilmu-ilmu baru, yang bisa mengecoh anak-anak bangsa

terhadap masa depan bangsanya. Selain dari itu kita juga ikut mengembangkan dan

melestarikan budaya menulis agar tetap ada dan bisa menuangkan segala ide dan pemikiran

dalam sebuah media tulis.   

Page 2: Makalah cerpen

1.2  Rumusan Masalah

            Setiap melakukan suatu kajian atau penelitian, haruslah membuat perumusan masalah,

supaya tidak terjadi kerancuan dan penyimpangan pada pembahasan yang akan dilakuakan.

Pada luasnya masalah, penulis membatasi masalah yang akan dikaji, agar lebih mudah

dipahami dan cakupannya lebih jelas.

Dalam hal ini penulis merumuskan masalah adalah guna untuk mengetahui hal-hal

apa saja yang akan dibahas dalam isi atau pembahasan makalah. Oleh karena itu, rumusan

masalah yang dibuat penulis adalah sebagai berikut:

1.2.1         Apa yang dimaksud dengan cerpen?

1.2.2         Bagaimana sejarah cerpen?

1.2.3         Apa ciri-ciri cerpen?

1.2.4         Unsur-unsur yang ada dalam cerpen?

1.2.5         Apa tujuan menulis cerpen?

1.2.6         Apa manfaat menulis cerpen?

1.2.7         Pembagian Cerpen?

1.2.8         Cara atau langkah-langkah menulis cerpen?

1.3  Tujuan Penulisan makalah

Tujuan dibuatnya makalah ini adalaah untuk mendeskripsikan dan mengkaji

mengenai Menulis Teknis atau Menulis Praktis Cerpen. Serta untuk mengetahui apa saja

yang akan dibahas dalam makalah mengenai Menulis Teknis atau Menulis Prakltis Cerpen.

1.4  Manfaat Penulisan Makalah

Makalah ini memiliki manfaat yang dapat memberikan cara atau teknik yang lebih

dipahami oleh pembaca dalam mempelajari makalah yang disajikan oleh penulis. Adapun

manfaat tersebut ialah:

a.       Manfaat teoretis

Manfaat teoretis ialah merupakan saalah satu cara dalam mempertahankan khasanah

dalam mempertahankan suatu bangsa. Dengan adanya makalah ini, setidaknya dapat

membantu pmebelajaran mengenai menulis cerpen.

b.      Manfaat praktis

Dengan adanya manfaat praktis, makalah ini dapat memberikan informasi mengenai

Menulis Teknis atau Menulis Praktis Cerpen.

c.       Manfaat edukatif

Page 3: Makalah cerpen

Dalam makalah ini dapat dijadikan modal dalam memberikan informasi kepada pembaca

sebagai pembelajaran mengenai Menulis Teknis atau Menulis Praktis Cerpen. Serta pembaca

dapat mengambil dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dalam lingkungan

dan sekolah.

BAB II

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan membahas mengenai (2.1) pengertian cerpen?, (2.2) Bagaimana

sejarah cerpen? (2.3) Apa ciri-ciri cerpen? (2.4) Unsur-unsur yang ada dalam cerpen? (2.5)

Pembagian Cerpen (2.6) Apa tujuan pengarang menulis cerpen? (2.7)  Manfaat menulis

cerpen (2.8) Cara atau Langkah-langkah menulis cerpen?

2.1 Pengertian Cerpen

Cerita pendek merupakan satu karya sastra yang sering kita jumpai di berbagai media

massa. Namun demikian apa sebenarnya dan bagaimana ciri-ciri cerita pendek itu, banyak

yang masih memahaminya. Kita juga harus mengetahui apa itu cerpen, supaya kita bisa

memahami dan mengamalkan penulisan cerpen dalam kehidupan kita sehari-hari.

            Menurut Suroto (1989:18), cerpen ialah suatu karangan prosa yang berisi cerita

sebuah peristiwa kehidupan manusia pelaku/tokoh dalam cerita tersebut. Dalam karangan

tersebut dapat pula peristiwa lain tetapi peristiwa tersebut tidak dikembangkan sehingga

kehadirannya hanya sekedar sebagai pendukung peristiwa pokok agar cerita tampak wajar.

Ini berarti cerita hanya dikonsentrasikan pada satu peristiwa yang menjadi pokok cerita.

Page 4: Makalah cerpen

            Dari pendapat Suroto di atas, penulis dapat memberi ulasan mengenai pendapatnya

tersebut, bahwa cerpen adalah karangan prosa yang berisi sebuah cerita kehidupan manusia,

dan manusia itulah yang menjadi pelaku atau tokohnya. Dalam cerpen, terdapat satu peristiwa

saja. Namun biasanya ada peristiwa lain yang akan menjadi pendukung dari peristiwa

pokoknya, sehingga peristiwa-peristiwa lain tersebut tidak dikembangkan atau diceritakan

secara mendalam. Jadi, hanya satu peristiwa yang penjadi pokok suatu cerita.

            Tidak jauh berbeda dengan pengertian tersebut, berikut ada pengertian lain menurut

ahli mengenai pengertian cerpen.

Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan

Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut, cerita artinya tuturan yang

membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang

dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada

satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika ( 1988 : 165 ).

Dari pengertian cerpen menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia di atas, penulis dapar

mengulas pengertian tersebut yaitu, cerpen merupakan tuturan yang memaparkan bagaimana

terjadinya suatu peristiwa, yang memiliki kurang dari sepuluh ribu kata dan memberikan

sebuah kesan tunggal di dalamnya yang memusat dalam satu orang tokoh saja.

Tidak jauh berbeda pula dengan pengertian tersebut, dapat dibandingkan menurut

pendapat ahli lain mengenai pengertian cerpen, yaitu sebagai berikut.

            Menurut Nursito (2000:112), mengatakan cerpen ialah cerita yang hanya

menceritakan satu peristiwa dari seluruh kehidupan pelakunya pendek. Cerita pendek

merupakan cerita yang pendek, namun tidak setiap cerita yang pendek digolongkan ke dalam

cerpen.

            Dari pendapat Nursito di atas, tidak jauh berbeda dengan pendapat menurut Suroto

yang mengatakan bahwa cerpen adalah cerita yang menceritakan satu peristiwa dari

seluruh  kehidupan pelakunya yang pendek. Cerita itu pula tidak menceritakan banyak

peristiwa, meskipun kehidupan pelakunya memiliki banyak peristiwa penting. Karena cerita

pendek ini hanya menceritakan satu peristiwa kehidupan sang pelaku. Namun, menurut

Nursito tidak setiap cerita yang pendek dapat digolongkan ke dalam cerpen. Hal itu

dikarenakan tidak semua cerita yang pendek menceritakan sebuah peristiwa seorang tokoh.

Melainkan dapat berupa sebuah cerita curahan, prosa, dll.

            Dari pendapat Nursito di atas, berikut ada pendapat lain mengenai pengertian cerpen,

yaitu menurut Surana.

Page 5: Makalah cerpen

            Menurut Surana (2001:68), cerita pendek menceritakan pokok persoalan yang sama

dengan roman, yaitu perikehidupan manusia. Hanya dalam cerpen tidak terdapat uraian yang

panjang lebar. Yang diceritakan adalah sejumput dari kehidupan yang menimbulkan

pertikaian yang harus diselesaikan.

            Dari pendapat Surana di atas, tidak jauh berbeda pula dengan pendapat-pendapat ahli

lainnya, yaitu cerpen adalah menceritakan pokok persoalan, yang meurutnya sama dengan

roman yang sama-sama menceritakan kehidupan manusia. Hanya saja, Surana mengatakan

bahwa dalam cerpen tidak terdapat uraian-uraian yang panjang seperti halnya dalam roman

yang bercerita panjang lebar tentang tokoh dalam cerita. Cerpen ini hanya menceritakan

sejumput atau sebuah kehidupan pelaku yang menimbulkan pertikaian dan pertikaian tersebut

harus diselesaikan.

            Dai pendapat di atas, dapat dibandingkan pengertian cerpen menurut ahli lain, yaitu

pengertian menurut Lailasari dan Nurlaila.

            Menurut Lailasari dan Nurlaila (2006:62), cerita pendek adalah suatu karangan

pendek yang berbentuk karangan naratif atau cerita prosa yang mengisahkan kehidupan

manusia yang penuh perselisihan, mengharukan, atau menggembirakan, dan mengandung

kesan yang sulit dilupakan.

            Dari pendapat ahli di atas, penulis dapat mengulas pendapatnya mengenai cerpen.

Cerpen dalam pendapatnya ialah karangan pendek yang berbentuk karangan naratif atau

cerita prosa yang mengisahkan kehidupan manusia yang penuh perselisihan, memberikan

cerita yang mengharukan, atau cerita yang menggembirakan, dan bagi pembaca akan

menimbulkan kesan-kesan yang sulit dilupakan. Setelah pembaca membaca cerpen, maka

akan menyisakan kesan yang akan selalu diingat, sebagai pembelajaran dan pengalaman

dalam hidupnya.

            Dari penjelasan pengertian cerpen di atas, dapat kita lihat pengertian menurut

pendapat ahli lain mengenai cerpen, sebagai berikut.

            Menurut H.B Jassin dalam Suroto (1989:18), sebuah cerita yang memakan seratus

halaman tentu bukan sebuah cerpen. Ukuran yang digunakan dalam sebuah cerpen adalah

kesingkatan dan kepadatannya. Dengan kata lain, apa yang hendak disampaikan pengarang

lewat cerpennya benar-benar terasa.

            Dari pendapat di atas, penulis dapat mengulas pendapatnya mengenai cerpen, yaitu

cerpen tidak memiliki halaman seratus atau lebih. Jika pada cerita terdapat halaman seratus

atau lebih, maka tidak termasuk cerpen. Melainkan ukuran cerpen yang digunakan ialah

Page 6: Makalah cerpen

kesingkatan dan kepadatannya. Sehingga tidak bertele-tele dalam penyampaian cerita, dan

kesan yang akan didapat oleh pembaca akan lebih terasa dan mudah dipahami.

            Dapat kita bandingkan dengan pendapat ahli lain mengenai pengertian cerpen, yaitu

sebagai berikut.

Cerpen menurut http://bayu-xp.blogspot.com/2012/03/pengertian-dan-ciri-ciri-

cerpen.html Kepanjangan cerpen adalah cerita pendek. Cerpen adalah suatu cerita naratif

fiktif yang dikarang oleh sseorang. Cerpen bisa terinspirasi dari kisah nyata, atau bahkan

hanya bayangan pengarang atau fiksi. Atau mungkin hanya alur imajinasi dari pengarangnya.

Dari pengertian cerpen di atas, penulis dapat mengulas pendapat tersebut bahwa

cerpen adalah cerita naratif yang dikarang oleh seseorang yang terinspirasi dari kisah nyata

atau khayalan dari pengarangnya.

Tidak jauh berbeda pula dari pendapat ahli di atas dengan pendapat ahli berikut ini:

            Menurut Kosasi, dkk (2004:431), cerpen adalah karangan yang berbentuk prosa.

Dalam cerpen diceritakan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian, peristiwa yang

mengharukan, atau menyenangkan dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan.

            Dari pendapat ahli di atas, hampir sama dengan pendapat menurut Lailasari dan

Nurlaila. Yang menurutnya cerpen merupakan karangan yang berbentuk prosa, yang

menceritakan sepenggal atau sekelumit kehidupan tokoh yang mengandung pertikaian,

peristiwa yang mengharukan, peristiwa yang menyenangkan dan kesan-kesan yang

terkandung tidak mudah dilupakan oleh pembaca.

            Dari pendapat Kosasi di atas, tidak jauh berbeda dengan pengertian cerpen menurut

ahli di bawah ini.

            Menurut Susanto dalam Tarigan (1984 : 176), cerita pendek adalah cerita yang

panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat

dan lengkap pada dirinya sendiri.

            Dari pendapat di atas, penulis dapat menjelaskan bahwa cerpen adalah sebuah cerita

yang panjangnya memiliki lima ribu kata dan kira-kira 17 halaman dalam menceritakan kisah

tersebut, dengan menggunakan kertas kuarto berspasi rangkap.

            Dapat kita lihat pengertian cerpen di bawah ini sebagai pengetahuan mengenai cerpen.

Sementara itu, Sumardjo dan Saini (1997 : 37) mengatakan bahwa cerita pendek

adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi

tetapi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).

            Dari pendapat ahli di atas, penulis dapat mengulas pendapat Sumardjo dan Saini

mengenai pengertian cerpen, yaitu cerpen merupakan cerita atau parasi, yang bukan

Page 7: Makalah cerpen

merupakan analisis argumentatif. Tetapi cerpen merupakan cerita fiktif yang tidak benar-

benar ada dan terjadi, namun bisa terjadi di mana saja dan cerita itu sangat pendek.

            Setelah kita mengetahui pengertian cerpen menurut ahli di atas, tidak ada salah jika

kita membuat kesimpulan dari pengertian-pengertian tersebut guna untuk menambah

pengetahuan kita.

            Jadi, dari beberapa pendapat ahli di atas penulis dapat menyimpulkan pengertian dari

cerpen. Para ahli telah mengemukakan pendapatnya masing-masing mengenai pengertian

cerpen. Dengan hal itu pula, penulis memiliki kesimpulan tersendiri dari pengertian cerpen

tersebut, yaitu cerpen merupakan suatu karangan pendek, yang pada dasarnya hanya memiliki

satu peristiwa, pertikaian serta penyelesaiannya. Dalam cerpen juga hanya menceritakan satu

orang tokoh saja, yaitu yang dinamaakan dengan tokoh utama.

2.2 Sejarah Cerpen

Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan yang menghasilkan kisah-kisah

terkenal, misalnya Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam

bentuk puisi yang berirama, dan irama yang berfungsi sebagai alat untuk mendorong orang

utnuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada

naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan

kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.

Cerita-cerita pendek modern sebagai genrenya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh

awal dari kumpulan cerita pendek termasuk dongeng-dongeng Grimm Bersaudara (1824-

1826), Evenings on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai Gogol, Tales of the

Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya

Nathaniel Hawthome.

            Penerbitan cerpen di Malaysia sebagaimana yang dikatakan oleh Othman Puteh lebih

banyak terdapat dalam surat kabar dan majalah. Oleh karena itu, wajarlah jika dikatakan

sebagai sastra kesuratkabaran bahwa majalah dan surat kabar punya andilbesar dalam

mempublikasikan cerpenhal itu tidak terlepas dari peranan yang dimainkan sastrawan Asas

50.

            Peta cerpen Malaysia tahun 1950-an ditandai dengan miskinnya penerbitan antologi

cerpen. Safian Husain, dkk, mencatat bahwa antolopgi cerpen yang terbit pada dasawarsa itu

berjumlah sembilan buah. Tujuh di antaranya terbit selepas 1955. Jadi, sebelum tahun 1955

antologi cerpen hanya terbit dua buku, itupun berisi cerpen-cerpen hasil lombayaitu cerpen

pemenang Peraduan Pengarang cerita yang diselenggarakan Jabatan Pelajaran persekutuan

masalah Melayu pada 1953 dan 1951. Kesemarakan  cerpen Malaysia masa itu justru terjadi

Page 8: Makalah cerpen

diberbagai majalah dan surat kabar. Keadaan itou tak dapat dilepaskan dari turadisi yang

melatarbelakangi penulisan cerpen. Otman Puiteh mengatakan “Cerpen-cerpen melayu

selepas perang Dunia II masih tetap dan terus populer hingga saat ini sebagai sastera

persuratkabaran”.

            Tahap-tahap perkembangan itu mulai diperkenalkan pada tahun 1920, dan tumbuh

dengan pesat hingga tahun 1941. Agak tercatat perkembangannya sewaktu perkembangan

fasis Jepang di Semenangjung Tanah Melayu dari tahun 1942-1945. Kembali berkembang

setelah perang Dunia II pada tahun 1949 dan dari tahun 1950 hingga ke pertengahan tahun

1955 mulai mendapat defenisi bentuk yang agak jelas dan konkrit. Cerpen juga digemari dan

dimantapkan pada tahun-tahun sebelum dan sesudah kemerdekaan malaysia 1955-1959.

2.3 Ciri-ciri Cerpen

            Menurut Surana (2001:45), ciri-ciri cerpen ialah sebagai berikut:

1.      Pada umumnya cerita itu pendek

2.      Yang ditampilkan dalam cerpen hanya hal-hal yang penting benar dan berarti

3.      Isinya singkat lagi padat

4.      Menggambarkan tokoh cerita menghadapi suatu pertikaian (konflik) dan untuk

menyelesaikannya

5.      Sanggup meninggalkan suatu kesan dalam hati pembaca

Dari ciri-ciri yang sebutkan oleh Surana di atas, penulis dapat mengulas pendapatnya

mengenai ciri-ciri cerpen bahwa cerpen pada umumnya memiliki cerita yang pendek yaitu

cerita yang tidak bertele-tele atau cerita yang terlalu banyak penjabaran yang tidak penting

untuk dituliskan. Cerpen menampilkan hal-hal yag sangat penting dan ada artinya, tidak

terbuat dari kalimat-kalimat yang tidak menimbulkan kesan pada pembaca. Isi dari cerpen

pun singkat dan paadat. Dalam cerpen hanya menggambarkan tokoh cerita yang menghaadapi

peristiwa pertikaian dan di sanalah tokoh berusaha menyelesaikan pertikaiannya. Cerpen juga

mampu meninggalkan kesan yang mendalam pada hati pembacanya.

Tidak jauh berbeda halnya dengan ciri-ciri cerpen menurut tokoh dibawah ini.

Ciri-ciri cerpen menurut Lubis (dalam Tarigan, 1985:177), diantaranya adalah sebagai

berikut:

1.      Cerita pendek harus berisi interpretasip pengarang tentang konsepsinya mengenai

kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung

2.      Dalam sebuah cerpen, seorang insiden harus menguasai jalan cerita

3.      Cerpen harus memiliki seorang yang harus menjadi pelaku atau tokoh utama

4.      Cerpen harus mempunyai satu efek atauu kesan yang menarik

Page 9: Makalah cerpen

Dari pendapat Lubis di atas, tidak terdapat perbedaan yang mendalam terhadap

pendapat Suroto. Dengan hal ini penulis dapat mengulas pendapat Lubis mengenai ciri-ciri

cerpen bahwa dalam sebuah cerpen harus berisi interpretasi tentang konsepsinya mengenai

kehidupan cecara langsung atau tidak langsung. Di sini pengarang dapat menuliskan

pengalamannya menjadi sebuag cerpen, baik yang pernah ia lihat, yang ia alami, dan yang ia

angankan atau khayalkan. Dalam sebuah cerpen pengarang juga harus menguasai jalan cerita.

Karena jika tidak, maka karya yang ia ciptakan kuranglah baik dan tidak tersusun sesuai

dengan alurnya. Cerpen juga harus memiliki tokoh untuk pelaku utamanya, yang akan

menjadi orang akan selalu diceritakan dalam cerita, serta cerpen harus memiliki kesan pada

pembacanya.

Hampir sama dengan pendapat ahli di atas, dapat dibandingkan mengenai ciri-ciri

cerpen di bawah ini.

Menurut pendapat Sumarjo dan Saini (1997 : 36) ciri-ciri cerpen adalah sebagai

berikut.

·         Ceritanya pendek ;

·         Bersifat rekaan (fiction) ;

·         Bersifat naratif ; dan

·         Memiliki kesan tunggal.

Dari pendapat ahli di atas, dijelaskan bahwa siri-ciri cerita pendek ialah memiliki

cerita yang pendek, memiliki sifat rekaan atau tidak benar-benar ada, memiliki sifat naratif

dan memiliki kesan yang tunggal.

Tidak jauh berbeda dengan pendapat ahli di bawah ini. Hanya saja menurut Morris

lebih di paparkan.

Menurut Morris dalam Tarigan (1985 : 177), ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai

berikut.

1.       Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu, dan intensif (brevity, unity, and

intensity).

2. Unsur-unsur cerita pendeknya adalah adegan, toko, dan gerak (scena, character, and

action).

3. Bahasa cerita pendek harus tajam, sugestif, dan menarik perhatian (incicive,

suggestive, and alert).

Dari ciri-ciri cerpen menurut Morris di atas, penulis dapat mengulas mengenai ciri-ciri

cerpen yaitu, pada cerpen memiliki cerita yang singkat, padu atau berkesinambungan, dan

intensif atau secara terus-menerus. Pada cerpen memiliki sebuah adegan, tokoh dan gerak

Page 10: Makalah cerpen

dari pada sebuah ceritanya tersebut. Dalam cerpen juga memiliki bahasa yang tajam dan

menarik perhatian para pembacanya. Hingga pembaca tertarik membaca hingga selesai.

Jadi, dari beberapa pendapaat ahli di atas, penulis dapat menyimpulkan ciri-ciri

cerpen yaitu:

1.      Pada cerpen terdapat cerita yang benar-benar pendek

2.      Hal-hal yang disampaikan pengarang singkat dan padat.

3.      Terdapat tokoh yang menjadi pelaku utama

4.      Mampu menciptakan kesan yang mendalam bagi pembaca

2.4 Unsur-unsur dalam Cerpen

Cerita fiksi seperti cerpen dan novel dapat kita analisis dengan dua segi, yaitu unsur

yang meleklat paada tubuh karya sastra itu sendiri (unsur intrinsik) dan unsur yang ada di luar

tubuh sastra itu sendiri (unsur ekstrinsik).

Unsur insur intrinsik sebuah cerita fiksi mencakup tema, latar, cara bercerita, alur,

penokohan, suasana, dan gaya bahasa. Sedangkan unsur ekstrinsik yaitu nilai-nilai yang

terdapat dalam cerita itu sendiri.

2.4.1        Unsur intrinsik cerpen

2.4.1.1 Tema

Pengertisn tema menuruthttp://duniabaca.com/pengertian-menulis-menurut-para-

ahli.html ialah permasalahan sebuah cerita yang terus menerus dibicarakan sepanjang cerita.

Seorang pengarang tidak menyebutkan apa yang menjadi tema dalam cerita, tapi hal itu dapat

kita ketahui setelah membaca cerita itu secara keseluruan. Dengaan kata lain, tema sebuah

cerita biasanya merupakan sesuatu yang tersirat bukan tersurat, yaitu tema dalam cerpen tidak

dituliskan namun hanya tersirat oleh pengarang dan kemusia dipahami oleh pembaca setelah

membaca cerita tersebut.

            Dari pernyataan di atas, penulis dapat mengulas pernyataan tersebut yang membahas

tentang tema, yaitu tem merupakan sebuah cerita yang dibicarakan secara terus menerus.

Namun dalam tema tidak tidak dituliskan secara langsung apa yang menjadi tema pada

cerpen tersebut, melainkan tema hanya dapat diketahui setelah pembaca membaca secara

keseluruhan isi ceritanya.

            Tidak jauh berbeda dengan pendapat menurut ahli lain seperti berikut.

Tema adalah gagasan pertama atau pikiran pokok. Tema suatu karya imajinatif

merupakan sebuah pikiran yang akan ditemui oleh setiap pembaca karya sastra tersebut.

Tema juga biasanya merupakan komentar mengenai kehidupan atau orang-orang (H.G.

Tarigan, 1982:160).

Page 11: Makalah cerpen

Dari pernyataan Tarigan di atas, penulis dapat mengulas mengenai pernyataan tentang

tema, yaitu tema merupakan sebuah karya imajinatif yang akan ditemui oleh pembaca dalam

membaca karya sastra, yang biasanya berupa komentar mengenai suatu kehidupan atau orang

yang menjadi tokohnya.

Sedikit berbeda dengan pendapat menurut ahli sebagai berikut.

Menurut Sumardjo dan Saini K.M (1991:57), dalam cerpen yang berhasil, tema justru

tersamar dalam seluruh elemen. Pengarang memakai dialog para tokohnya, jalan pikirannya,

perasaan, kejadian, setting cerita utnuk mempertegas atau menyamarkan isi temanya.

Pengarang biasanya menyatakan tema secara senbunyi-sembunyi dalam suatu potongan

dialogtokohnya atau dalam suatu adegan cerita.

Dari pernyatan ahli di atas, penulis dapat mengulas pendapat tersebut bahwa, tema

dalam cerpen sengaja untuk disamarkan. Pengarang dapat menjelaskan tema hanya melalui

dialog tokohnya, jalan pikirannya, perasaan, kejadian, setting cerita untuk mempertegas atau

menyamarkan isi temanya.

Jadi, dari beberapa pendapat mengenai tema penulis dapat membuat kesimpulan

mengenai tema, yaitu tema merupakan suatu yang menjadi ide pokok dalam suatu cerita.

Namun, tema tidak dituliskan secara jelas dan terang-terangan, melainkan tema hanya bisa

diketahui setelah pembaca membaca keseluruhan isi ceritanya.

2.4.1.2  Latar/setting

Latar atau setting adalah tempat dan waktu serta keadaan yang menimbulkan suatu

peristiwa dalam sebuah cerita. Sebuah cerita itu harus jelas di mana berlangsungnya dan

kapan peristiwa itu terjadi. Guna untuk memperjelas jalan cerita.

1.      Latar Tempat.

Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan

mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.

2.      Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan "kapan" terjadinya peristiwa-peristiwa yang

diceritakan.

3.      Latar suasana

Latar  suasana adalah salah satu unsur intrinsik yang berkaitan dengan keadaan psikologis

yang timbul dengan sendirinya bersamaan dengan jalan cerita. Suatu cerita menjadi menarik

karena berlangsung dalam suasana tertentu.

Page 12: Makalah cerpen

Dari pernyataan di atas, penulis dapat mengulas, bahwa latar atau setting meupakan

tempat dan waktu serta keadaan yang ada dalam sebuah cerita. Dengan adanya latar atau

setting akan mempermudah pembaca memahami cerita tersebut.

Sedangkan latar atau setting menurut pendapat ahli lain adalah sebagai berikut.

Saat membicarakan latar, perlu diketahui bahwa latar dapat dibedakan atas dua bagian,

latar sosial dan latar fisik. Latar sosial dapat dinyatakan meliputi penggambaran, cara hidup,

bahsa, dll yang melatari peristiwa-peristiwa tersebut.dan latar fisik merupakan ltempat di

dalam wujud fisiknya, sperti bangunan daerah dan sebagainya (Hudson dalam Sudjiman,

1991:44).

Dari pendapat di atas dapat diulas, bahwa latar hanya dibedakan menjaadi dua macam

yaitu latar sosial dan latar fisik. Dalam di dalam kedua letar tersebut terbagi lagi menjadi

beberapa latar. Di antaranya meliputi penggambaran, cara hidup, dll.

2.4.1.3  Alut atau plot

Alpur atau plot adalah susunan peristiwa-peristiwa yang telah membentuk sebuah

cerita. Alur cerita sangatlah penting bagi sebuah cerpen dan merupakan sebuah kerangka

karangan. Secara sederhana plot terdiri atas tiga tahap yaitu thap perkenalan, tahap pertikaian

dan tahap penyelesaian.

Menurut O. Setiawan Djuharie dan Suherli (2005:64), alur yang terdapaat dalam

cerpen atau fiksi ialah sebagai berikut:

·         Alur maju

Alur maju adalah jalan cerita yang mengungkapkan peristiwa dari awal hungga akhir

secara berurutan.

·         Alur mundur

Alur mundur adalah jalan cerita dari bagian akhir peristiwa kebagian awalnya.

·         Alur keras

Alur keras adalah jalan cerita pada akhir dari akhir bagian peristiwa mengejutkan

pembacanya atau melenceng dari tebakan pembaca.

·         Alur lembut

Alur lembut adalah alur cerita yang pada begian akhirnya mengecoh pembaca secara

perlahan.

·         Alut terbuka

Alur terbuka adalah jalan cerita yang menuntut pembaca ultnuk memngembangkan

atau meneruskan cerita berikutnya.

Page 13: Makalah cerpen

·         Alur tertutup

Alur tertutup adalah jalan cerita yang tidak menuntut pembaca untuk tidak

melanjutkan dalam cerita yang dikisahkan oleh pengarang.

Dari pendapat pakar mengenai macam-macam alur di atar, penulis dapat mngulas

pendapatnya mengenai hal tersebut, bahwa alur yang ada dalam cerpen atau cerita fiksi ialah

ada enam macam, yaitu alur maju, alur mundur, alur keras, alur lembut, alur terbuka, dan alur

tertutup. Namun yang lebih terkenal dan lebih dipakai oleh kebanyakan orang, tentang alur

ini hanya dua bentuk alur yaitu alur maju dan alur mundur. Juga tidak sedikit pula ada yang

mengatakan selain dua bentuk tersebut, yang ketiganya adalah alur campuran atau alur yang

di dalamnya terdapat dua bentuk yaitu alur maju dan alur mundur.

Alur dalm cerpen meliputi hal-hal berikut:

v  Pengantar:  bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal

cerita.

v  Penampilan masalah: bagian yang menceritakan maslah yang dihadapi pelaku cerita.

v  Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah

memuncak.

v  Ketegangan menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan

kekhawatiran mulai hilang.

v  Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.

Dari alur dalam cerpen di atas, dapat diulas bahwa dalam alur meliputi adanya pengantar atau

perkenalan para tkoh yang ada dalam cerita, mulai munculnya suatu masalah yang dihadapi

oleh pelaku dalam cerita, puncak dari masalah yang ada dalam cerita, dan adanya ketegangan

atau permasalahan yang mulai menurun serta adanya penyelesaian dalam permasalah yang di

alami oleh pelaku.

2.4.1.4  Sudut pandang

Sudut pandang terdiri dari dua macam yaitu:

1.      Sudut pandang orang pertama yaitu pengarang memakai istilah aku dan saya dalam

bercerita.

2.      Sudut pandang orag ketiga, yaitu pengarang biasanya menggunakan istilah dia atau

memakai nama orang. Dalam hal ini pengarang seolah-olah menjadi dalang dalam ceritanya.

Dari kedua sudut pandang di atas, dapat diulas bahwa sudut pandang yang dipakai dalam

membuat karangan cerpen atau karya fiksi itu memakai sudut pandang orang pertama, yang

Page 14: Makalah cerpen

biasanya tampak seperti pengarang menjadikan pembaca sebagai tokoh yang ada di dalam

ceritanya, dan sudut pandang orang ketiga, dan pada sudut pandang tersebut tampak pula

pengarang sedang menceritakan seseorang kepada pembaca.

Tidak jauh berbeda dengan pendapat ahli berikut yang mengemukakan mengenai sudut

pandang.

Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya dalam cerita. Sudut pandang

dalam karya fiksi mempersoalkan siapa-siapa yang menceritakan atau dari posisi mana

peristiwa itu dilihat (Nurgiyanto, 1995:249).

Dari pendapat menurut Nurgiyanto di atas, dapat penulis ulas, bahwa sudut pandang

merupakan suatu cara pengrang menempatkan dirinya dalam suatu cerita, yang juga

merupakan karya fiksi yang membahas maslah siapa yang menceritakan peristiwa tersebut.

2.4.1.5  Penokohan dan karakteristik

Penokohan menurut Djuharie (2005:65), ialah para pelaku yang terlibat di dalam cerita.

Penokohan berhasil jika tokoh-tokoh yang diketengahkan jelas dan tidak menyulitkan

pembaca untuk mengingat karena terlalu banyak yang ditonjolkan. Selain jelas penokohan

juga harus menarik bagi pembaca.

Dari pengertian penokohan yang paparkan oleh Djuharie di atas, penulis dapat mengulas,

bahwa penokohan ialah semua pelaku yang ada di dalam cerita. Dalam pembentukan tokoh,

haruslah jelas dan tidak menyulitkan pembaca dalam memahami ceritanya. Maksudnya,

dalam pemaparan tokoh haruslah jelas, tokoh utama akan sering dibicarakan atau dipaparkan

bagaimana kehidupan dan pertikaian yang di alaminya. Namun, jika tokoh lain hanya disebut

atau diceritakan hanya sekilas, tidak terus-terusan seperti tokoh utama, yang dibicarakan dari

awal cerita hingga berakhirnya cerita.

 Menurut Wiyatmi (2009:30) tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam sebuah cerita

fiksi.

Menurut Wiyatmi di atas, tokoh adalah pelaku yang memainkan suatu peran dalam

sebuah cerita fiksi. Sedikit berbeda halnya dengan pendapat ahli di bawah ini.

Aminudin (2009:79) berpendapat bahwa tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa

dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diulas bahwa tokoh adalah individu rekaan pengarang

yang bersifat fiktif yang mengemban peristiwa dalam cerita. Sehubungan dengan hal itu,

Page 15: Makalah cerpen

dalam menulis cerita pendek tokoh merupakan unsur yang penting karena tanpa adanya tokoh

tidak akan terjalin sebuah cerita.

Jadi, penulis dapat menyimpulkan bahwa tokoh atau penokohan adalah individuyang

merupakan rekaan pengarang yang bersifat fiktif atau tidak dijamin ada dan keberadaannya

Jenis-jenis tokoh dalamhttp://abdurrosyid.wordpress.com/2009/07/29adalah sebagai berikut:

a.       Tokoh protagonis : mendukung cerita

b.      Tokoh antagonis : penentang cerita

c.       Tokoh tritagonis : tokoh pembantu, baik protagonis/antagonis

Dari jenis-jenis tokoh di atas, dapat diulas bahwa dalam penokohan suatu cerita pendek

terdapat tokoh ptotagonis sebagai tokoh utama atau tokoh putih, tokoh antagonis sebagai

tokoh penentang atau sering disebut dengan tokoh hitam, dan ada pula tokoh tritagonis

sebagai tokoh pembantu dari tokoh hitam atau tokoh putih.

Pada dasarnya sifat tokoh ada dua macam; sifat lahir (rupa, bentuk) dan sifat batin (watak,

karakter). Dan sifat tokoh ini bisa diungkapkan dengan berbagai cara, diantaranya melalui:

a.       Tindakan, ucapan dan pikirannya

b.      Tempat tokoh tersebut berada

c.       Benda-benda di sekitar tokoh

d.      Kesan tokoh lain terhadap dirinya

e.       Deskripsi langsung secara naratif oleh pengarang

Cara pengarang menampilkan perwatakan tokoh

dalamhttp://abdurrosyid.wordpress.com/2009/07/29adalah sebagai berikut:

1.      ciri-ciri fisik tokoh

2.      Percakapan antarpelaku

3.      Lingkungan sosial

4.      Gambar tempat tinggal tokoh

5.      Pemaparan sifat tokoh

Dari hal-hal di atas, dapat diulas mengenai car pengarang menampilkan perwatakan

tokoh, yaitu pengarang memaparkan ciri-ciri fisik tokoh, atau dengan percakapan yang

dilakukan oleh tokoh, atau juga dalam lingkungan sosial. Serta pengarang juga dapat

menjelaskan melalui pemaparan gambaran tempat tinggal tokoh dan langsung pada sifat

tokohnya.

Page 16: Makalah cerpen

Karakteristik menurut Djuharie (2005:65), ialah watak atau sikap setiap tokoh di

dalam karangan tersebut. Perwatakan ini dapat diungkapkan secara eksplisit oleh pengarang

melalui pendeskripsian setiap tokohnya, namun dapat juga diungkapkan secara implisit,

melalui sikap tokoh-tokohnya terhadap suatu konsep atau pandangan yang terdapat dalam

suatu cerita. Sikap tokohnya ditampil’kan dalam dialog-dialog atau melaui tindakannya.

Dari pemaparan pakar di atas, dapat penulis ulas, bahwa karakteristik ialah sikap atau

tingkah laku setiap tokoh yang terlibat di dalam cerita dan biasanya dinamakan sebagai

perwatakan tokoh. Dalam perwatakan ini, pengarang dapat menguraikan watak tokoh dengan

cara implisit atau eksplisit. Implisit yaitu pengarang tidak memaparkan watak tokoh secara

jelas atau secara langsung, melainkan dengan cara yang tersimpul dan halus. Sedangkan

eksplisit yaitu pengarang memaparkan watak tokohnya secara langsung, tegas dan tidak

berbelit-belit.

Ada dua macam cara untuk memperkenalkan tokoh dan karakteristik tokoh dalam

fiksi, yaitu sebagai berikut:

a)      Secara analitik (langsung)

 Pengarang langsung memaparkan tentang watak atau karakter tokoh, pengarang

menyebutkan bahwa seorang tokoh keras hati, keras kepala, penyayang, dan sebagainya.

b)      Secara dramatik (tidak langsung)

Penggambaran perwatakan yang tidak diceritakan langsung, tetapi disampaikan

melalui; pilihan nama tokoh, penggambaran fisik atau postur tubuh, cara berpakaian, tingkah

laku tokoh, keadaan lingkungannya, dialog tokohdengan dirinya atau dengan tokoh lainnya,

dan pola pikir saat menghadapi masalah.

Ditinjau dari cara dan hasil penggambarannya, ada empat macam perwatakan, yaitu

sebagai berikut:

§  Perwatakan statis, yaitu pelukisan watak sang tokoh tetap tidak berubah-ubah dari awal sampai

akhir cerita.

§  Perwatakan dinamis, yaitu watak snag tokoh berubah atau berkembang dari waktu ke waktu

dan dari tempat ke tempat sesuai dengan situasi yang dimasukinya.

§  Perwatakan datar, yaitu watak sang tokoh disoroti hanya dari satu unsure atau satu dimensi

saja.

§  Perwatakan bulat, yaitu watak sang tokoh dilukiskan dari segala aspek dan meliputi semua

dimensi, yaitu dimensi fisiologis, psikologis, dan sosial seperti yang terdapat pada tokoh

nyata dalam hidup sehari-hari.

Page 17: Makalah cerpen

Keempat perwatakan di atas, dapat diulas bahwa macam-maca perwatakan itu terdiri

dari empat macam, yaitu perwatakan yang statis, dinamis, dan bulat.

2.4.1.6  Gaya bahasa

Gaya bahasa menciptakan suatu nada atau suasana persuasif serta merumuskan dialog

yang mampu memperlihatkan hubungan dan interaksi antara sesama tokoh. Gaya bahasa

yang cermat dapat menciptakan suasana yang berterus terang atau satiris, simpatik,

menjengkelkan atau emosional. Bahasa dapat menciptakan suasana yang tepat bagi adegan

seram, adegan cinta, adegan peperangan dan lain-lain. Bahasanya segar, komunikatif, mudah

dipahami atau tidak berbelit-belit.

Seorang pengarang biasaya mempunyai gaya bahasa yang khas sehingga

menghasilkan karyakarya yang khas pula. Artinya, bagaimana cara seorang pengarang

memilih tema, persoalan dan menceritakanya dalam sebuah cerpen (Sudjiman dan Saini,

1991:92)

Dari pendapat ahli di atas dapat diulan, bahwa gaya bahasa merupakan cara

pengarang memaparkan suatu tema dalam cerita, yang dapat menghasilkan karya yang khas.

                         2.4.2 Unsur ekstrinsik cerpen

Unsur ekstrinsik cerpen merupakan unsur yang melatarbelakangi diluar cerita

misalnya yaitu yang berhubungan dengan Unsur-Unsur Kehidupan. Misalnya Unsur Sosial,

dimana unsur sosial melatar belakangi cerita tersebut dimana dapat dikaitkan dengan

kehidupan sehari-hari misalnya kerjasama. Unsur-unsur tersebut bisa anda tuliskan setelah

anda membaca cerita tersebut. Tidak hanya unsur sosial tetapi ada juga unsur agama, atau

yang melatar belakangi kehidupan pengarang sehingga ia ceritakan lewat sebuah tulisan.

Unsur ekstrinsik Cerpen adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi

secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur

ekstrinsik meliputi:

Nilai-nilai ekstrinsik dalam cerita yaitu  (agama, budaya, sosial, moral)

2.4.2.1  Nilai Agama

Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan aturan/ajaran yang

bersumber dari agama tertentu.

Sastra pada umumnya bertalian dengan religiusitas manusia dan humanisme. Manusia

alam dan religiusitas membentuk sistem kehidupan. Dalam teori klasik, alamlah yang

Page 18: Makalah cerpen

memberikan inspirasi menggerakkan hati dan tangan manusia dalam penciptaan sesuatu

seperti halnya menciptakan suatu karya yang bisa disebut karya sastra (Jarkasi, 2002:1).

Dari pengertian di atas dapat penulis ulas, bahwa nilai religius itu tidak pernah

terlepas dari manusia dan masyarakat yang membentuk seuatu kehidupan. Juga yang berisi

inspirasi menggerakkan hati dan tangan manusia utnuk menciptakan sesuatu jalan yang lebih

baik.

2.4.2.2  Nilai Moral

 Nilai moral yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan akhlak/perangai atau

etika. Nilai moral dalam cerita bisa jadi nilai moral yang baik, bisa pula nilai moral yang

buruk/jelek.

Wujud moral dalam karya fiksi dapat berupa hal-hal berikut:

1. hubungan manusia dengan dirinya sendiri;

2. hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial.

3. hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya;

4. hubungan manusia dengan Tuhannya.

                   

Pesan moral yang sampai kepada pembaca dapat ditafsirkan berbeda- beda oleh

pembaca. Hal ini berhubungan dengan cara pembaca mengapresiasi isi cerita. Pesan moral

tersebut dapat berupa cinta kasih, persahabatan, kesetiakawanan sosial, sampai rasa takjub

kepada Tuhan. Untuk melatih Anda mengenal unsur moral dalam cerita fiksi,

2.4.2.3  Nilai Budaya

Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan kebiasaan/tradisi/adat-istiadat

yang berlaku pada suatu daerah.

Dari pengertian di atas, penulis dapat mengulas bahwa nilai budaya itu merupakan

nilai kebiasaan, tradisi atau adat istiadat yang ada dalam suatu masyarakat.

2.4.2.4  Nilai Sosial

Nilai sosial yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antara individu

dalam masyarakat. Latar belakang kehidupan pengarang dan situasi sosial ketika cerita itu

diciptakan.

Dari pengertian di atas, penulis dapat mengulas bahwa nilai sosial adalah nilai-nilai

yang berhubungan dalam kehidupan bermasyarakat atau sebuah latar belakang pengarang

ketika cerita itu diciptakan.

2.5 Pembagian Cerpen

Page 19: Makalah cerpen

2.5.1 Pembagian cerpen menurut jumlah kata

Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dipatok sebagai karya sastra berbentuk prosa

fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata.  Berdasarkan jumlah katanya,

cerpen dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yakni. 

1.      Cerpen mini (flash), cerpen dengan jumlah kata antara 750-1.000 buah.

2.      Cerpen yang ideal, cerpen dengan jumlah kata antara 3.000-4000 buah.

3.      Cerpen panjang, cerpen yang jumlah katanya mencapai angka 10.000 buah. Cerpen. Jenis

ini banyak ditulis oleh cerpenis Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Eropa pada kurun

waktu 1940-1960 (Pranoto, 2007:13-14).

2.5.2  Cerpen Menurut Teknik Mengarangnya    

      1. Cerpen sempurna (well made short-story).

Cerpen yang terfokus pada satu tema dengan plot yang sangat jelas, dan ending yang

mudah dipahami. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat konvensional dan berdasar pada

realitas (fakta). Cerpen jenis ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami isinya. Pembaca

awam bisa membacanya dalam tempo kurang dari satu jam.

                         

2.      Cerpen tak utuh (slice of life short-story).

Cerpen yang tidak terfokus pada satu tema (temanya terpencar-pencar), plot (alurnya)

tidak terstruktur, dan kadang-kadang dibuat mengambang oleh cerpenisnya. Cerpen jenis ini

pada umumnya bersifat kontemporer, dan ditulis berdasarkan ide-ide atau gagasan-gagasan

yang orisinal, sehingga lajim disebut sebagai cerpen ide (cerpen gagasan). Cerpen jenis ini

sulit sekali dipahami oleh para pembaca awam sastra, harus dibaca berulang kali baru dapat

dipahami sebagaimana mestinya. Para pembaca awam sastra menyebutnya cerpen kental atau

cerpen berat.

2.5.3 Cerpen Menurut Tahap Penulisannya

Tahap penulisan cerpen menurut Sumardjo (2001:70), adalah sebagai berikut.

1.      Tahap persiapan

2.      Tahap inskubasi

3.      Tahap inspirasi

4.      Tahap penulisan   

Dari pendapat ahli di atas, penulis dapat mengulas bahwa dalam tahap penulisan cerpen

seorang harus mematuhi tahap-tahap yang telah disediakan yaitu persiapan, tahap inkubasi,

Page 20: Makalah cerpen

tahap enspirasi dan selanjutnya tahap penulisan. Dilakuknnya tahapan-tahapan ini supaya

pengarang mudah dalam melakukan penulisan.

2.6 Tujuan Menulis Cerpen

                        Tujuan menulis cerpen menurut seorang ahli adalah sebagai berikut:

Ø  Memberikan informasi

Ø  Mencerahkan jiwa

Ø  Ekspresi diri

Ø  Mengedepankan idealisme

Ø  Mengemukakan opini

Ø  Menghibur

Dari tujuan menulis cerpen di atas, dapat penulis ulas bahwa tujuan menulis cerpen

adalah untuk memberikan iformasi kepada pembaca, mencerahkan jiwa pengarang dan

pembacanya, mengekspresikan diri pengarang, mengedepankan idealisme pengarang,

mengemukakan opini, dan menghibur pengarang atau menghibut pembaca.

2.7  Manfaat Menulis Cerpen

Beberapa manfaat menulis cerpen secara umum yaitu sebagai berikut:

1.      Melatih kita berani mengekspresikan diri melalui kata-kata tanpa harus ada partner bicara

secara langsung.

2.      Menuntun kita memasuki dunia seni yang menjanjikan keindahan yang melebihi logika dan

kata.

3.      Memampukan kita †�saying one thing and meaning another thingâ€, dapat menyampaikan�

makna ganda yakni yang tersurat dan tersirat.

Manfaat menulis cerpen menurut Yunus (2002:4) dalam Nugroho (2009), adalah

sebagai berikut:

1.      Meningkatkan kecerdasan

2.      Meningkatkan daya inisiatif dan kreatif

3.      Menumbuhkan keberanian

4.      Mendorong kemauan

Dari manfaat menulis di atas, penulis dapat mengulas bahwa manfaat dari menulis adalah

untuk meningkatkan kecerdasan, meningkatkan kemampuan dalam berkarya, menumbuhkan

Page 21: Makalah cerpen

kebernian untuk mengeluarkan ekspresi dirinya, dan juga dapat mendorong kemauan

seseorang utnuk melakuan penulisan.

Lain halnya dengan pendapat ahli di bawah ini yang menyatakan bahwa manfaat menulis

cerpen yaitu,

Nuryatin (2008), dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX/HISKI

dalamhttp://clubbing.kapanlagi.com/threads/116410  mengatakan bahwa keterampilan

menulis karya sastra akan dapat dijadikan bekal Life Skill bagi para siswa yang pada

gilirannya dapat dijadikan sebagai satu mata pencaharian.

Dari pernyataan di atas, penulis dapat mengulas bahwa manfaat menulis cerpen dalam

pandangan Nuryatin adalah untuk mengembangkan kemampuan para siswa dalam berkarya,

dan suatu saat dengan karya tulisnya itu dapat menjadikan sebuah mata pencaharian.

Jadi, dari beberapa pendapat mengenai manfaat menulis cerpen, penulis dapat

menyimpulkan manfaat penulisan cerpen itu ialah sebagai berikut:

a.       Menambah wawasan

b.      Menambah daya kreatifitas

c.       Menambah keberanian dalam mengekspresikan ide

d.      Mendorong kemauan berkarya

2.8  Cara atau Langkah-langkah Membuat Cerpen

            Berikut ini adalah tahap-tahap penulisan cerpen:

1.      Menentukan tema cerpen.

Tema merupakan permasalahan dasar yang menjadi pusat perhatian dan akan

diuraikan agar menjadi jelas. Tema sangat berkaitan dengan amanat/ pesan/ tujuan yang

hendak disampaikan kepada diri pembaca.

2.      Mengumpulkan data-data.

 Mencari keterangan, informasi, dokumen yang terkait dengan peristiwa/ pengalaman

yang menjadi sumber inspirasi cerita.

3.       Menentukan garis besar alur atau plot cerita.

Secara bersamaan dengan tahap ini, menciptakan tokoh dan menentukan latar cerita.

4.      Menetapkan titik pusat kisahan atau sudut pandang pengarang.

5.      Mengembangkan garis besar cerita menjadi cerita utuh.

6.      Memeriksa ejaan, diksi, dan unsur-unsur kebahsaan lain serta memperbaikinya jika terdapat

kekeliruan.

Page 22: Makalah cerpen

Dari uraian mengenai tahap-tahap menulis cerpen di atas dapat diulas bahwa, menulis

cerpen dapat dilakukan dengan yang bertahap-tahap tautu dengan menentukan temanya

dahulu, kemudian mencari data serta membuat garis besar alur atau plot cerita, menetapkan

sudut pandang yang akan dipakai dalam cerita, mengembangkan garis besar cerita yang telah

tersusun, serta menyusun diksi dan kebahasaan yang dipakai dalam cerita.

Tidak jauh beda halnya dengan cara atau langkah-langkah lain dalam membuat cerpen

dari pernyataan di bawah ini.

Cara lain dalam menulis cerpen adalah sebagai berikut:

                                                                       i.      Menentukan judul yang menarik 

                                                                     ii.      Keaslian ide

                                                                   iii.      Materi yang kuat

                                                                   iv.      Opini yang oke

                                                                     v.      Karakterisasi

                                                                   vi.      Narasi

                                                                 vii.      Ending yang menawan

                                                               viii.      Mematuhi EYD

                                                                   ix.      Ikuti aturan

            Dari hal-hal di atas, dapat diulas bahwa cara membuat cerpen adalah harus memenuhi

ketentuan yang ada, yaitu menentukan judul terlebih dahulu, ide yang dituangkan merupakan

ide kita sendiri,memiliki materi yang kuat untuk mendukung jalannya ceriya, terdapat opini,

perwatakan, membuat ending yang baik dan menarik sehingga pembaca tidak cepat lupa

terhadap yang telah dituliskn oleh pengarang. Dala membuat cerpen juga harus menuruti dan

mematuhi EYD yang berlaku.

Sedikit berbeda dengan pendapat ahli berikut yang memaparkan mengenai cara atau langkah-

langkah menulis cerpen.

Menurut http://www.google.co.id/search?qlangkah-langkah dalam menulis cerpen adalah

sebagai berikut:

1.      Mencari ide atau gagasan atau inspirasi.

2.      Membuat kerangka karangan

3.      Menulis karangan

4.      Mengoreksi

5.      Mngirim ke media masa

        Jadi, dari kedua langkah-langkah membuat cerpen di atas, penulis dapat menyimpulkan

bahwa dalam membuat cerpen adalah sebagai beriikut:

Page 23: Makalah cerpen

1.      Menentukan tema

2.      Membuat satu peristiwa penting

3.      Menentukan tokoh dan karakter tokoh

4.      Membuat ending yang baik

5.      Tidak terlepas dari aturan EYD

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

            Dalam bab ini akan di sajikan mengenai simpulan dan saran penulis bagi pembaca,

yaitu: (1) Simpulan, (2) Saran.

3.1 Simpulan

            Cerpen atau Cerita Pendek sering sekali kita temukan diberbagai media massa bahkan

dipelajaran sekolah, bener nggak sobat terpopuler? Walaupun sudah sering sekali mendengar

kata Cerpen atau Cerita Pendek namun ternyata masih banyak juga yang belum terlalu

memahami apa itu Pengertian Cerpen dan apa saja ciri-ciri cerpen. Oleh karena itu, kali ini

ayo kita sama-sama membahas tentang Pengertian Cerpen dan ciri-ciri cerpen serta tidak lupa

Unsur Intrinsik Cerpen dan Unsur Ekstrinsik  Cerpen.

Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah salah satu

bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya

dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novel. Karena singkatnya, cerita-

cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik

sastra,   seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insightsecara lebih luas dibandingkan dengan

fiksi yang lebih panjang.  Sedangkan Menurut Sumardjo dan Saini Cerpen atau cerita pendek

adalah cerita atau parasi  fiktif yang dibuat relatif singkat atau pendek.

3.2 Saran

            Berdasarkan simpulan di atas, ada beberapa saran antara lain:

1.      Penulis berharap para pembaca tidak hanya membaca makalah ini dengan iseng-iseng,

tetapi pembaca mau mempelajari isi dari makalan ini untuk pengetahuan atau penngamalan di

dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pendidikan.

Page 24: Makalah cerpen

2.      Pembaca diharapkan untuk dapat mengambil kebaikan-kebaikan yang terdapat dalam

makalah ini, serta bisa mengamalkannya dalam kehidupan.

3.      Pembaca juga diharapkan untuk dapat memberikan pengarahan apabila dalam makalah ini

masih terdapat kekurangn atau kesalahan, guna untuk memberikan motifasi kepada penulis

untuk lebih baik lagi dalam menyusun malakah.

DAFTAR PUSTAKA

Djuri, O. Setawan. 2005. Panduan Membuat Karya Tulis. Bandung: Yrama Widya.

Adul, J. S. 1985. Bahasa Indonesia Baku. Jakarta: PT Gramedia.

Nafiah, A. Hadi. 1981. Anda Ingin Jadi Pengarang. Surabaya: Usaha Nasional.

Tarigan, Djago. 1981. Membina Keterampilan Menulis Paragraf. Bandung: Angasa.

http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/07/29/unsur-unsur-intrinsik-dalam-prosa/

http://www.moondancefilmfestival.com/

http://duniabaca.com/pengertian-menulis-menurut-para-ahli.html

http://www.google.co.id/search?q=manfaat+menulis+cerpen&ie=utf-8&oe=utf-  8&aq=t&rls

=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

http://www.google.co.id/search?q=nilai+moral+dalam+cerpen&ie=utf-8&oe=utf-

8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a