Cerpen Amril Taufik

download Cerpen Amril Taufik

of 22

  • date post

    08-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    599
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of Cerpen Amril Taufik

Badai Dalam KarungOtot-ototnya menegang kencang pada dua ruas bahunya yang kukuh dan berkeringat. Dadanya yang telanjang, legam berkilat diterpa sinar mentari siang yang ganas. Luthfi, demikian nama lelaki itu, seperti pasrah dan menyerah pada nasib. Ia tak bisa menggugat apa pun atau siapa pun atas apa yang telah dialami sekarang. Sebagai buruh harian lepas pada kontraktor pembangunan gedung pusat perbelajaan, yang tak memiliki kekuasaan apa-apa, dia tak dapat menolak keputusan PHK dari atasannya. "Proyek pembangunan gedung kita ini ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kami kehabisan dana. Akibat krisis moneter yang berkepanjangan, harga-harga bahan bangunan melonjak naik tak terkira. Budget yang tersedia tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan itu. Maaf, Bapak-Bapak, kami terpaksa memberhentikan Anda semua dari pekerjaan ini," kata Ir. Umar, site manager proyek tersebut di depan seluruh buruh harian pagi tadi dengan suara serak. "Bagi kami, ini merupakan keputusan terbaik, meski dari lubuk hati yang paling dalam kami tidak tega melakukan. Sekali lagi, saya atas nama pribadi dan direksi mohon maaf. Hari ini adalah hari kerja Bapak-Bapak yang terakhir kali. Semoga di waktu mendatang, Bapak-Bapak cepat memperoleh pekerjaan lagi. Sekian, " katanya mengakhiri penjelasan. Kalimat-kalimat Ir. Umar tadi seperti tergiang-ngiang kembali di telinga Luthfi. Mendengung, Bagai memecah gendang telinganya. Harga dirinya runtuh. Ia lalu tertunduk lesu pada sebongkah beton sembari memandang rekan-rekannya yang sudah mulai berkemas pulang. Hari ini mereka hanya bekerja setengah hari. Terlihat olehnya ekspresi wajah seragam; pucat dan kuyu. Tanpa semangat hidup. "Kamu belum pulang, Luthfi?" sapa Eko, rekan sekerjanya. Luthfi menggeleng pelan. Tanpa kata-kata. Eko mengangguk maklum dan melanjutkan langkahnya. Luthfi menggigit bibir. Ia teringat Agung dan Rina, anak dan istrinya dirumah. Mereka menggantungkan harapan dan masa depan mereka pada Luthfi, tamatan SMP yang hanya bisa mengaduk semen dan mengangkat batu. Ia tidak tahu dengan apa harus melanjutkan hidup untuk besok dan seterusnya. Agung, anak semata wayangnya yang baru berusia dua tahun serta sorot mata teduh Rina istrinya yang dengan sabar serta telaten mendampingi dia dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Luthfi menunduk, menekuri tanah proyek yang berdebu. "Luthfi, sudahlah, tak usah kamu sesali. Kita semua mengalami hal sama denganmu. Besok kita cari lagi pekerjaan di proyek yang lain. Ayo, kita pulang," tegur Firman, mandor kepala, membuyarkan lamunannya. Luthfi mengangkat wajah. Dia tatap wajah Firman, ada raut kedamaian di sana. "Luthfi," sapa Firman lagi, lembut. "Saya juga pernah mengalami hal sama. Saya putus asa, tidak tahu harus ke mana dan berbuat apa. Tapi saya segera sadar. Tuhan Maha Adil, selalu mendengar dan membantu hamba-Nya yang mau berusaha. Saya selalu menanamkan keyakinan itu." Luthfi mengangguk. "Terima kasih, Pak Firman," jawabnya lirih. Firman tersenyum tulus kemudian menepuk pundak Luthfi untuk beranjak dari tempat itu. Angin berhembus kencang, pohon-pohon meliuk dan debu-debu gersang beterbangan, berputar tak teratur lalu menghilang. *** Saat hendak mengungkapkan kenyataan pahit itu pada istrinya, Luthfi merasa menjadi seorang pecundang yang kalah telak. Sepanjang jalan, ia berusaha memilih kalimat-kalimat terbaik untuk diucapkan kepada Rina, supaya ia tak terlalu 'terpukul'. Tetapi ia tak bisa. Istrinya yang mengenalCERPEN : Amril Taufiq Gobel

1

watak dan perangainya, secara intuitif mendapat firasat sesaat wajahnya muncul dari pintu depan. Ekpresinya adalah ungkapan yang paling jujur. Belum sempat berkata apa-apa istrinya menghambur ke arah dia. Memeluknya erat-erat. Mengalirkan kehangatan dan pengertian wanita yang dia cintai. "Kamu tidak usah bilang apa-apa, Mas. Rina sudah tahu apa yang terjadi. Mas Luthfi jangan sedih. Tuhan akan selalu menolong kita. Rina senantiasa mendampingi Mas dalam situasi sesulit dan seburuk apa pun. Selalu, Mas. Selalu...," kata Rina terbata-bata. Air matanya berlinang. Luthfi merasakan butir-butir air hangat itu jatuh di bahunya. Luthfi mempererat pelukannya. Ia terharu dan kagum pada kesetiaan yang mendalam dari Rina. "Saya tidak tahu dengan apa saya mesti menafkahi kamu dan Agung setelah saya di-PHK. Saya seperti terjatuh ke jurang yang amat dalam," ujar Luthfi pelan. Dadanya terasa sesak. Ada beban berat menghimpit di sana . "Mas, berjanjilah. Jangan putus asa. Jangan patah semangat. Saya tak rela jika Mas Luthfi jadi kehilangan harapan dengan kejadian ini. Saya tahu, apa yang Mas Luthfi alami sangat mengguncangkan hati. Tapi, Mas Luthfi jangan sampai merasa ini adalah akhir dari segala-galanya. Kesempatan bekerja tetap masih ada, selama kita berusaha dan berdoa. Tolong, Mas Luthfi pahami, ini demi saya istrimu dan Agung buah hati kita," tutur Rina seraya menatap mata Luthfi dengan sorot tajam menghunjam. Luthfi tersenyum dan mengangguk. Ia membelai rambut istrinya dengan lembut. "Rina, saya tak keliru memilihmu sebagai pendampingku sehidup semati. Saya tidak akan mengecewakanmu. Saya akan tetap berjuang. Demi kamu dan Agung serta kehormatan keluarga kita. Saya berjanji Rina, saya berjanji," kata Luthfi mantap. Diraihnya tubuh istrinya. Dipeluk eraterat. Ada sebentuk kesejukan terbit di situ. Di luar jangkrik mengerik. Sampai jauh. *** Akhirnya Luthfi mendapat pekerjaan sebagai buruh harian pengangkut beras di salah satu gudang logistik, selang dua bulan setelah menganggur dari pekerjaan proyek konstruksi. Ia berusaha menikmati pekerjaannya. Meski penghasilannya saat ini jauh lebih kecil dari tempat kerjanya dulu, Luthfi menabahkan hati. Ia percaya, rezeki dari pekerjaan ini bagi dia tetap merupakan suatu kebanggaan tersendiri, karena memberikan nafkah yang halal bagi keluarganya. Istrinya pun tetap memberi dukungan moral yang tinggi. Tugas Luthfi tiap hari dari pukul 08.00 sampai 17.00 adalah mengangkut karung-karung beras dari gudang ke atas truk-truk distribusi untuk disalurkan ke tempat yang membutuhkan. Dengan postur tubuh yang tinggi kekar, bukan masalah bagi dia untuk membawa sekarung beras yang maksimal beratnya 80 kilogram. Ia bekerja sama dengan buruh harian lain, yaitu Yudi, Heri dan Bambang. Hari demi hari berlalu, tanpa terasa ia telah bekerja di tempat itu selama tiga bulan. Memasuki bukan keempat, Lithfi merasa ada yang kurang beres. Sore hari menjelang pulang, tanpa sengaja ia mendengar percakapan Hamzah, kepala gudang, dengan Syarif, kepala Satpam. Ia menguping pembicaraan dari balik partisi yang menghubungkan ruang staf dan gudang ketika melintasi ruang itu dari arah toilet. "Agus, malam ini putauw-putauw itu kamu masukkan di karung yang sudah aku tandai. Jangan beritahu siapa-siapa. Kalau butuh bantuan, kamu panggil saja anak buahmu, Si Joko. Aku percaya sama dia. Beri dia honor secukupnya. Jangan panggil orang lain. Yang penting, ini jangan sampai bocor ke siapa pun juga. Ingat, ini bisnis besar. Kalau berhasil, kamu pasti dapat honor gede. Lumayan besar dibanding gajimu di sini. Bos John sudah menunggu kiriman ini besok melalui truk jam sepuluh pagi. Tidak boleh telat dan gagal! Kamu mengerti, kan?!" Demikian suara berat Hamzah memerintah Syarif. Syarif tidak segera menjawab, ia hanya mendehem. Hamzah tampaknya tahu isyarat itu. "Oh... soal uang mukanya. Nih, limapuluh ribu rupiah dulu. Sisanya nanti saya berikan setelah tugasmu selesai. Ingat Syarif, jangan kecewakan saya. Juga Bos John. Oke?" ancam Hamzah. "Beres, Bos. Percayakan saja sama Syarif!" sahut Syarif. Suaranya terdengar riang. KemudianCERPEN : Amril Taufiq Gobel

2

terdengar langkah-langkah menjauh. Luthfi merapatkan tubuh ke dinding, dan berjalan mengendap kembali ke arah toilet. Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat dari kejauhan tubuh Hamzah masuk ke dalam mobil Toyota Kijangnya. Luthfi menelan ludah. Sebentuk kegalauan bergejolak di hatinya. Ia tak menyangka bisnis kotor juga terjadi dalam lingkungan kerjanya. Tidak tanggung-tanggung, bisnis obat terlarang! Seketika bulu kuduknya meremang. Ia merasa takut. Entah pada apa. Ia lalu teringat wasiat ayahnya menjelang wafat untuk tetap memelihara dan menjaga nilai-nilai kejujuran dan keadilan serta gigih membela kebenaran. Watak luhur jago silat kampung dan kearifan petani penggarap, memang menjadi warisan utama dari ayahnya. Luthfi memegang teguh prinsip-prinsip itu secara konsisten. Kini ia dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit. Melaporkan kejadian ini pada polisi dengan resiko terburuk terkena PHK, atau membiarkan proses ini berlangsung terus dengan resiko mengingkari hati nurani dan amanat ayah tercintanya. Bagi Luthfi keduanya adalah pilihan yang sama sulit. Ia bimbang. "Luthfi, kamu belum pulang?" tegur Syarif, sang kepala Satpam menyentak lamunannya. Luthfi gelagapan dan berusaha menemukan jawaban terbaik. "Ini... baru mau siap-siap pulang, Pak!" jawabnya gugup, seraya meraih tas pundaknya, lalu bergegas pergi. Syarif hanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian berbalik kembali ke kantor. Luthfi mempercepat langkahnya. Bergegas. Napasnya terdemgar memburu. Batinnya merucah oleh khawatir, entah pada siapa. Langit kelam, dan awan hitam menggumpal bagai jelaga. Petir pun menggelegar. Hujan akan segera turun. *** "Mas Luthfi yakin dengan apa yang Mas dengar tadi?" tanya Rina, istrinya, saat Luthfi menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Luthfi tidak segera menjawab. Ia lalu mengambil sepotong singkong rebus di atas piring. Dikunyahnya pelan. Dan Istrinya mengamati dengan sabar saat Luthfi menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. "Begitulah kejadiannya, Rina. Saya benar-benar yakin dengan apa yang saya alami. Saya kaget dan hampir tidak percaya setelah mendengar kenyataan itu," sahut Luthfi. Suaranya terdengar cemas. "Lantas, menurut Mas Luthfi, apa yang sebaiknya Mas lakukan?" tanya Rina lagi. "Melaporkannya ke polisi!" tegas Luthfi yakin. Ditatapnya lekat-lekat wajah istrinya. Rina menghela napas pa