Bmsp5 Case1 Part1 Ready

Click here to load reader

download Bmsp5 Case1 Part1 Ready

of 119

  • date post

    23-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    101
  • download

    7

Embed Size (px)

description

farmakologi

Transcript of Bmsp5 Case1 Part1 Ready

1

BAB IPendahuluan

1.1Imunologi DasarImunologi: ilmu yg mempelajari tentang sistem imun / kekebalan tubuh.Pengenalan, memori, serta kespesifikan terhadap benda asing merupakan inti imunologi. Konsep dasarRespon Imun: Reaksi terhadap sesuatu yang asing.Pemicunya disebut denganAntigen,yaituSubstansi yg mampu merangsang respon imun, berupa bahan infeksiosa biasanya berbentuk protein atau karbohidrat, atau lemak.Antigen akan berkontak dgn sel tertentu, memacu serangkaian kejadian yang mengakibatkan destruksi, degradasi atau eliminasi.Respon imun:1. Respon imunnon spesifik.Terdiri atas : Fagositosis, Reaksi peradangan2. Respon imunspesifik,terdapat2 komponen : Respon imunhumoral,berupa globulin-gama tertentu / imunoglobulin. Diperankanlimfosit B. Respon imunselular,menyebabkan reaksi hipersensitif tipe lambat. Diperankanlimfosit TImunitas Humoral Diperankan limfosit B yang dapat berdeferensiasi menjadi sel plasma 80-90 % dalam sumsum tulang, 10-20 % dari limfosit darah tepi. Mensintesis imunoglobulin Ada 5 imunoglobulin : dari yang terbanyak & peranannya :1. Ig G:aktivasi komplemen,antibodi heterotropik2. Ig A:antibodi sekretorik3. Ig M:aktivasi komplemen4. Ig D:reseptor permukaan limfosit5. Ig E: antibodi reagin, pemusnah parasit.Antibodi berperan pada 4 tipe reaksi imun :Reaksi tipe I:reaksi anafilaksis. Alergen + Ig E + sel Basofilpelepasan mediator ( histamin, serotonin dll) Contoh klinis : urtikariaReaksi tipe II :reaksi sitotoksis Antigen + Ig G / Ig M+ aktivasi komplemenlisis dan fagositosis virus, bakteri dll Contoh klinis : pemfigoid.Reaksi tipe III:reaksi kompleks imun. Antigen + Antibodi + Komplemen Tidak mudah dimusnahkan sistem fagositbereaksi dgn pembuluh darah atau jaringan lainkerusakan jaringan. Contoh klinis : vaskulitis nekrotikans.Reaksi tipe IV Imunitas Selular Diperankan sel T dgn limfokin-nya. Sel T 80-90 % jumlah limfosit darah tepi dan 90 % jumlah limfosit timus. Limfokin: zat yang dikeluarkan sel T yang mampu merangsang dan mempengaruhi reaksi peradangan selular. Contoh : MIF ( Makrophage Inhibitory Factor), MAF ( Activating), faktor kemotaktik makrofag, dll. Antigen spesifik + limfosit T + limfokinreaksi hipersensitivitas lambat(Reaksi tipe IV). Contoh klinis : Dermatitis Kontak AlergikAbses Apikalis Kronis (Apikal Supuratif Kronis) Definisi. Suatu abses apikalis kronis adalah infeksi tulang alveolar periradular yang berjalan lama dan bertingkat rendah. Sumber infeksi terdapat di dalam saluran akar. Penyebab. Abses apikalis kronis adalah suatu sekuela alami matinya pulpa dengan perluasan proses infektif sebelah periapikal, atau dapat juga disebabkan oleh abses akut yang sebelumnya sudah ada. Gejala-gejala. Gigi dengan abses apikalis kronis umumnya adalah asimtomatik ; kadang-kadang abses macam itu hanya dapat dideteksi pada waktu pemeriksaan radiografik rutin atau karena adanya fistula. Fistula bisanya mencegah eksaserbasi atau pembengkakan dengan mengadakan drainase lesi periradikularyang terus-menerus. Suatu radiograf yang diambil setelah insersi kerucut guta-perca ke dalam fistula sering menunjukkan gigi yang bersangkutan dengan melacak fistula pada asalnya. Kadang-kadang fistula berjarak beberapa gigi dari penyebabnya.

Apabila dijumpai suatu kavitas terbuka pada gigi, drainase dapat terjadi melalui saluran akar. Apabila tidak ada fistula, debris selular dan bakteri difagositosis oleh makrofag, dan cairan diabsorbsi melalui pembuluh darah dan limfa. Perawatan. Perawatan terdiri dari pengambilan infeksi pada saluran akar. Begitu bagian akhir ini diselesaikan dan saluran akar diisi, perbaikan jaringan periradikular umumnya terhenti. Bila daerah rarefaksi kecil, perawatannya sama dengan perawatan gigi dengan pulpa nekrotik. Sebetulnya, suatu abses kronis dapat terlihat sebagai perluasan periapikal suatu infeksi yang berasal dari pulpa nekrotik. Perbedaan terletak dalam tingkatannya saja.

1.2Abses Apikalis Kronis (Apikal Supuratif Kronis)Definisi. Suatu abses apikalis kronis adalah infeksi tulang alveolar periradular yang berjalan lama dan bertingkat rendah. Sumber infeksi terdapat di dalam saluran akar.Penyebab. Abses apikalis kronis adalah suatu sekuela alami matinya pulpa dengan perluasan proses infektif sebelah periapikal, atau dapat juga disebabkan oleh abses akut yang sebelumnya sudah ada.Gejala-gejala. Gigi dengan abses apikalis kronis umumnya adalah asimtomatik ; kadang-kadang abses macam itu hanya dapat dideteksi pada waktu pemeriksaan radiografik rutin atau karena adanya fistula. Fistula bisanya mencegah eksaserbasi atau pembengkakan dengan mengadakan drainase lesi periradikularyang terus-menerus. Suatu radiograf yang diambil setelah insersi kerucut guta-perca ke dalam fistula sering menunjukkan gigi yang bersangkutan dengan melacak fistula pada asalnya. Kadang-kadang fistula berjarak beberapa gigi dari penyebabnya.

Apabila dijumpai suatu kavitas terbuka pada gigi, drainase dapat terjadi melalui saluran akar. Apabila tidak ada fistula, debris selular dan bakteri difagositosis oleh makrofag, dan cairan diabsorbsi melalui pembuluh darah dan limfa.Perawatan. Perawatan terdiri dari pengambilan infeksi pada saluran akar. Begitu bagian akhir ini diselesaikan dan saluran akar diisi, perbaikan jaringan periradikular umumnya terhenti. Bila daerah rarefaksi kecil, perawatannya sama dengan perawatan gigi dengan pulpa nekrotik. Sebetulnya, suatu abses kronis dapat terlihat sebagai perluasan periapikal suatu infeksi yang berasal dari pulpa nekrotik. Perbedaan terletak dalam tingkatannya saja.

BAB IIANTIBIOTIKA

Antibiotik menurut Vuillemin(1889) adalah sebagai senyawa aktif yang dihasilkan MO hidup untuk memusnahkan MO lain untuk memperjuangkan kelangsungan hidupnya. Menurut Turpin dan Velu(1957) antibiotik adalah semua senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme hidup atau yang diperoleh melalui sintesis yang memiliki indeks khemoterapi tinggi yang manifestasi aktivitasnya terjadi pada dosis yang sangat rendah secara spesifik melalui inhibisi proses penting pada virus, MO atau bernagai organisme bersel majemuk. Pada awalnya antibiotik diperoleh secara alamiah, kemajuan ilmu dan teknologi memungkinkan semisintesis dan sintesis. Misalnya struktur dasar penisilin adalah6-aminopenisilinat (6-APA). Definisi tersebut menempatkan antibiotik sebagai obat khemoterapi.Senyawa antibiotik juga dapat berkhasiat sebagai antivirus (Rifampisin), antiparasit (Paromomisin), anti jamur (Griseofulvin, amfoterisin B).Penyalahgunaan A.B secara luas mengandung resiko seperti, menimbulkan efek samping dan reaksi toksik, hipersensitivitas dapat diinduksi, sehingga memungkinkan terjadi berbagai reaksi ringan atau gawat pada pemakaian berulang AB tersebut, flora normal usus sering dimodifikasi sehingga meningkatkan kemungkinan untuk terjadi superinfeksi, mutan mikroba yang resisten sering terseleksi dari populasi bakteri dan merupakan ancaman bahaya individual atau epidemiologic. Status fisiopatologi pasien seringkali menuntut perhatian khusus pada disain terapi dengan antibiotic, faktor lingkungan seperti diet, terapi lain yang dilaksanakan sejajar ataupun bersama-sama dengan terapi antibiotik merupakan hal-hal yang perlu diperhitungkan pengaruhnya terhadap terapi antibiotik.Faktor yang perlu diperhatikan untuk menunjang tercapainya sasaran penggunaan antibiotikadalah aktivitas antimikroba, efektivitas dan efisiensi proses farmakokinetik, toksisitas antibiotic, reaksi karena modifikasi flora alamiah tuan rumah, penggunaan kombinasi antibiotic dan pola penanganan infeksi.Pemilihan rute pemberian AB harus memperhatikan faktor-faktor seperti konsentrasi obat dalam darah, lokasi infeksi, kegawatan infeksi, jika infeksi yang mengancam nyawa ; Lebih baik AB diberikan secara parenteral dari pada peroral, dan bila absorpsi melalui intra muscular (i.m) meragukan lebih baik pemberian intravena (i.v).2.1ANTIBIOTIK -LAKTAMKarena aktivitasnya yang broad spectrum (aktivitas luas) dan relative sedikit beracun, antibiotic -lactam tetap menjadi antibiotic yang banyak dipergunakan di dunia. Penicillin dan cephalosporin sering digunakan untuk infeksi yang serius, seperti infeksi nosokomial.2.1.1 PenicillinMerupakan istilah umum untuk kelompok antibiotic yang merupakan bagian dari cincin -lactam. Inti penicillin adalah asam 6-aminopenisilanat. Penicillin ini diperoleh dari Penicillium chrysogenum.2.1.1.1 KlasifikasiPenicillin merupakan cyclic dipeptida yang mengandung 2 asam amino (D-valin, L-lysin). Pada tahun 1958, sintesis struktur dasar penicillin (6-aminopenicillanic acid) dimanipulasi dengan penambahan rantai tambahan yang berbeda ke -lactam dan cincin thiazolidine. Mineral yang berbeda (natrium, kalium, procaine, benzathine) juga diberikan untuk kebutuhan farmakokinetik.Penicillin yang stabil terhadap asam resisten terhadap gangguan asam lambung, yang berarti dapat digunakan sebagai obat oral. Contohnya penicillin V, amoxicillin, dan cloxacillin.a. Penicillin alami1). Penicillin G (benzylpenicillin) efektif untuk infeksi yang disebabkan oleh gram negative dan gram positif coccus, gram positif basil, dan spirochetes. Penicillin G rentan tehadap hidrolisis -lactamase, memiliki spectrum yang sempit, dan tidak stabil terhadap asam lambung.2). Penicillin V (fenoksimetil penicillin) memiliki spectrum yang mirip dengan penicillin G, tetapi tidak digunakan untuk pengobatan bacteremia karena konsentrasi letal minimumnya yang tinggi (MLC, jumlah minimum obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan infeksi). Penicillin V stabil terhadap asam. Lebih sering digunakan untuk pengobatan infeksi oral karena efektif dalam melawan organisme anaerob.b. Antistaphilococcal penicillin (penicillin resisten -lactamase)Methicillin, nafcillin, oxacillin, cloxacillin, dan dicloxacillin merupakan contoh golongan ini, dengan spectrum yang sempit. Methicillin sudah jarang digunakan karena tingkat keracunannya.Bakteri meningkatkan resistensinya terhadap penicillin dengan memperluas enzim -lactamase ya