Big Paper GBE

download Big Paper GBE

of 26

  • date post

    30-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    13
  • download

    0

Embed Size (px)

description

BPR

Transcript of Big Paper GBE

Bab IIIAnalisis Lingkungan Bisnis

3.1Economic Development EnvironmentIsuPerubahan indikator-indikator ekonomi pembangunan digunakan sebagai isu utama. Perubahan yang terjadi pada indikator-indikator ini pada akhirnya akan mengubah lingkungan ekonomi pembangunan yang pada dasarnya menjadi salah satu lingkungan eksternal suatu bisnis yang berpengaruh besar terhadap aktivitas bisnis. Berikut adalah tabel yang menunjukan terjadinya perubahan pada indikator-indikator ekonomi pembangunan yang digunakan dalam analisis mengenai pengaruh perkembangan ekonomi terhadap perusahaan yang bergerak di industri perbankan :Tabel 3.1. Indikator Perkembangan EkonomiNo.VariabelTahunKet.

2011/20122012/2013

1Produk Domestik Bruto per kapitaRp 33.531.354,56Rp 36.508.486,32Naik

2Konsumsi Rumah Tangga (Makanan)51.0850.66Turun

3Konsumsi Rumah Tangga (Non-Makanan)48.9249.34Naik

4Tingkat Pengangguran Terbuka6.145.92Turun

5Persentase Rumah Tangga Status Kepemilikan Rumah Milik Sendiri78,77%80,18%Naik

6Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Melek Huruf 93.25%93.92%Naik

7Persentase Penduduk Miskin11,66%11,37%Turun

8Human Development Index73,2973.81Naik

9Kredit Investasi Perbankan591.073(Miliar Rupiah)794.128(Miliar Rupiah)Naik

10Kredit Modal Kerja1.325.357(Miliar Rupiah)1.593.281(Miliar Rupiah)Naik

Sumber: Data Badan Pusat StatistikPembahasanBerdasarkan indikator moneter yaitu Produk Domestik Bruto per kapita yang mengalami peningkatan, terjadi penurunan pada persentase penduduk miskin yang diikuti dengan penurunan tingkat pengangguran dan peningkatan tingkat pendidikan yang dapat dilihat dari meningkatnya jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang melek huruf. Dengan menurunnya persentase penduduk miskin, dapat mendorong daya beli masyarakat yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Daya beli masyarakat yang semakin tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan pada industri, dalam hal ini adalah industri perbankan. Daya beli masyarakat yang semakin tinggi dan pendidikan yang lebih baik dapat membuat masyarakat menyadari akan pentingnya perbankan sehingga dapat mendorong masyarakat untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dengan cara mengajukan kredit kepada perbankan. Masyarakat dapat mengajukan kredit kepada perbankan seperti yang terlihat pada kredit investasi perbankan dan kredit modal kerja yang mengalami peningkatan. Berdasarkan indikator non-moneter, tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan, sebaliknya persentase rumah tangga dengan status kepemilikan rumah milik sendiri mengalami peningkatan dan diikuti dengan peningkatan jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang melek huruf. Adanya peningkatan pada indikator pendidikan dan indikator perumahan serta penurunan pada tingkat pengangguran terbuka dapat menjadi indikator yang menunjukkan bahwa terjadi perbaikan pada perekonomian yang dapat mengarah pada perkembangan ekonomi di Indonesia.Menurunnya tingkat pengangguran serta meningkatnya kepemilikan rumah milik sendiri dapat menjadi indikator bahwa terjadi peningkatan kemampuan daya beli masyarakat Indonesia. Meningkatnya indikator pendidikan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk di atas umur 15 tahun yang melek huruf dapat berpengaruh terhadap menurunnya tingkat pengangguran. Masyarakat yang sudah melek huruf sekarang mampu untuk mencari pekerjaan sehingga pengangguran mengalami penurunan. Hal ini juga sejalan dengan meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat yang dilihat dari peningkatan konsumsi rumah tangga masyarakat pada non-makanan, sebaliknya konsumsi rumah tangga masyarakat pada makanan mengalami penurunan. Kedua indikator tersebut berbanding terbalik karena pada saat ini kecenderungan masyarakat Indonesia mulai banyak melakukan pemenuhan kebutuhan pada kebutuhan non-makanan seperti sandang dan papan sehingga konsumsi rumah tangga pada makanan cenderung mengalami penurunan. Kondisi tersebut semakin dikuatkan dengan peningkatan Human Development Index atau yang lebih dikenal dengan Indeks Pengembangan Manusia yang dapat menjadi indikator tingkat kesejahteraan manusia dan keberhasilan pembangunan manusia yang dapat mengarah pada perkembangan ekonomi.Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan PerusahaanBerdasarkan analisis di atas, ditemukan adanya peluang bagi PT. BPR Universitas Gadjah Mada untuk dapat mengembangkan usahanya, meningkatkan aktivitas pelayanan jasa kepada para nasabah dikarenakan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan kredit sebagai akibat dari peningkatan daya beli masyarakat, peningkatan konsumsi rumah tangga non-makanan seperti sandang dan papan, dan indikator-indikator lainnya yang mendukung. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Menteri Keuangan Bambang P. S. Brodjonegoro bahwa kebutuhan sekunder telah terjangkau bagi segenap warga Indonesia terutama dalam pemenuhan kebutuhan perumahan namun masih terdapat kesulitan karena terbatasnya akses untuk memperoleh pinjaman baik dari bank maupun lembaga keuangan lainnya[footnoteRef:1]. Ancaman yang dapat timbul adalah terjadinya kredit macet yang diakibatkan oleh debitur yang gagal membayar kredit. Melihat peluang dan ancaman yang terjadi, PT. BPR Universitas Gadjah Mada dalam memberikan kredit kepada calon debitur harus memitigasi risiko yang akan terjadi dengan menjaga tingkat NPL agar tetap di bawah 5%. [1: Situs Resmi Kementrian Keuangan. http://www.kemenkeu.go.id/Berita/menkeu-kenaikan-pendapatan-kapita-tingkatkan-daya-beli-perumahan. Diakses pada tanggal 2 April pukul 19.28 WIB.]

3.2 Regional Economy EnvironmentIsuLingkungan ekonomi regional juga memberikan pengaruh yang besar bagi aktivitas bisnis perusahaan. Perubahan indikator-indikator aktivitas ekonomi di tingkat regional menunjukan adanya perubahan lingkungan ini. Penulis mengambil indikator-indikator terkait pertumbuhan ekonomi di D.I. Yogyakarta, yang menjadi isu utama dalam lingkungan ini. Berikut adalah tabel yang menunjukan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di D.I. Yogyakarta :Tabel 3.2. Indikator Ekonomi Regional Propinsi D.I. YogyakartaNo.VariabelTahunKet.

20112012

1Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar Harga Berlaku57031,75(miliar rupiah)63690,32(miliar rupiah)Naik

2Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar Harga Konstan23308,56(miliar rupiah) 24567,48(miliar rupiah)Naik

4Tingkat Pengangguran Terbuka3,97%3,34%Turun

Sumber: Data Badan Pusat Statistik Diakses 19 Maret 2015 pukul 11.43 WIBPembahasanPeningkatan PDRB di D.I. Yogyakarta membuat pemerintah setempat mampu untuk meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana atau infrastruktur daerahnya. Kondisi infrastruktur suatu daerah menjadi hal penting yang harus dipertimbangkan suatu perusahaan jika akan melakukan investasi di suatu wilayah. Infrastruktur yang membaik akan menarik para investor untuk melakukan investasi di daerah tersebut. Semakin banyak investasi masuk maka kegiatan bisnis akan semakin lancar sehingga struktur biaya suatu perusahaan terkait operasional bisnis di wilayah tersebut akan semakin baik. Kondisi tersebut selanjutnya akan meningkatkan jumlah dan aktivitas industri serta perdagangan.Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan PerusahaanPeluang yang terjadi dengan adanya peningkatan PDRB dan penurunan tingkat pengangguran terbuka bagi PT. BPR Universitas Gadjah Mada adalah dengan semakin banyaknya kegiatan bisnis dapat menjadi peluang bagi bank untuk menyalurkan kredit. Sedangkan, ancaman yang dapat terjadi adalah PT. BPR Universitas Gadjah Mada bersaing dengan bank lain dalam pemberian kredit sehingga kesempatan untuk mendapatkan keuntungan menjadi berkurang. Melihat peluang dan ancaman yang hadir dikarenakan oleh meningkatnya PDRB dan menurunnya tingkat pengangguran terbuka, PT. BPR Universitas Gadjah Mada perlu untuk melakukan inovasi produk dan memberlakukan suku bunga yang kompetitif agar dapat menarik nasabah.

3.3 Monetary and Fiscal Policies EnvironmentIsuPenetapan BI Rate yang dilakukan oleh Bank Indonesia dapat berpengaruh terhadap kegiatan perbankan. Di sisi lain, apabila terjadi perubahan pada pajak pendapatan perorangan juga dapat berpengaruh terhadap kegiatan perbankan.PembahasanBank Indonesia menetapkan BI Rate sebesar 7,5% per April 2015[footnoteRef:2] , hal ini dapat menyebabkan bank dapat menaikkan suku bunga simpanan maupun suku bunga pinjaman. Kenaikan suku bunga simpanan akan mendorong masyarakat untuk menunda kegiatan konsumsi mereka dan beralih untuk menyimpan uang mereka di bank. Untuk menghindari agar margin tidak tertekan, bank perlu untuk menaikkan suku bunga pinjaman, namun dengan menaikkan suku bunga pinjaman akan muncul masalah baru yaitu muncul risiko kredit bermasalah. [2: Situs Resmi Bank Indonesia. http://www.bi.go.id/id/moneter/bi-rate/data/Default.aspx. Diakses pada tanggal 11 Mei 2015 pukul 10.00 WIB.]

Di sisi lain, apabila pemerintah menurunkan pajak pendapatan perorangan maka akan terjadi peningkatan konsumsi masyarakat, hal yang sama berlaku sebaliknya yaitu apabila pemerintah menaikkan pajak pendapatan perorangan maka konsumsi masyarakat akan menurun. Ketika pemerintah menurunkan pajak pendapatan perorangan dan mendorong konsumsi masyarakat, pendapatan yang lebih tinggi meningkatkan permintaan uang yang akan cenderung menaikkan suku bunga. Suku bunga yang tinggi membuat pinjaman menjadi lebih mahal sehingga menurunkan investasi.Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan PerusahaanPeluang yang dapat terjadi dikarenakan oleh penetapan BI Rate dan perubahan pada pajak perorangan adalah masyarakat akan lebih senang untuk menyimpan uangnya di bank karena ada kenaikkan BI Rate. Ancaman yang dapat terjadi adalah apabila terjadi penurunan pada BI Rate maka nasabah akan menarik uangnya keluar. Sedangkan apabila terjadi perubahan pada pajak pendapatan perorangan maka akan berpengaruh terhadap keputusan investasi. Melihat peluang dan ancaman yang hadir, PT. BPR Universitas Gadjah Mada p