BAB I

32
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring berjalannya waktu, proses penuaan memang tidak bisa dihindarkan. Keinginan semua orang adalah bagaimana agar tetap tegar dalam menjalani hari tua yang berkualitas dan penuh makna. Hal ini dapat dipertimbangkan mengingat usia harapan hidup penduduk yang semakin meningkat. Menjadi tua adalah suatu proses naturnal dan kadang-kadang tidak tampak mencolok. Penuaan akan terjadi pada semua sistem tubuh manusia dan tidak semua sistem akan mengalami kemunduran pada waktu yang sama. Meskipun proses menjadi tua merupakan gambaran yang universal, tidak seorangpun mengetahui dengan pasti penyebab penuaan atau mengapa manusia menjadi tua pada saat usia yang berbeda-beda. Banyaknya orang usia lanjut mempunyai akibat terahdap berbagai bidang selain medis misalny sosial ekonomis pilitik dan agama. Usia tua berbeda beda ukuranya di berbagai negara mulai dari usia 57,60,62,65, dan 70 atau dasawarsa 60-70 tahun Sekarang ada berpuluh-puluh juta orang tua dan makin banyak keluarga 4 generasi orang-orang tua 1

description

a

Transcript of BAB I

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangSeiring berjalannya waktu, proses penuaan memang tidak bisa dihindarkan. Keinginan semua orang adalah bagaimana agar tetap tegar dalam menjalani hari tua yang berkualitas dan penuh makna. Hal ini dapat dipertimbangkan mengingat usia harapan hidup penduduk yang semakin meningkat. Menjadi tua adalah suatu proses naturnal dan kadang-kadang tidak tampak mencolok. Penuaan akan terjadi pada semua sistem tubuh manusia dan tidak semua sistem akan mengalami kemunduran pada waktu yang sama. Meskipun proses menjadi tua merupakan gambaran yang universal, tidak seorangpun mengetahui dengan pasti penyebab penuaan atau mengapa manusia menjadi tua pada saat usia yang berbeda-beda.Banyaknya orang usia lanjut mempunyai akibat terahdap berbagai bidang selain medis misalny sosial ekonomis pilitik dan agama. Usia tua berbeda beda ukuranya di berbagai negara mulai dari usia 57,60,62,65, dan 70 atau dasawarsa 60-70 tahun Sekarang ada berpuluh-puluh juta orang tua dan makin banyak keluarga 4 generasi orang-orang tua menderita bnayak penyakit sekaligus sedangkan tiap-tiap penyakit melibatkan berbagai organ dan sistem. Dibawah 29 tahun biasanya orang menderita satu pennyakit, antara 30-49 tahun 2-3 penyakit, diatas 50 tahun 46 penyakit dan diatas 70 tahun 69 penyakit. Sebaliknya unimorbilitas dikalangan usia lanjut hanya 5,8 % padahal di kalangan muda 47 % (Hardywinoto, 2005). Ada beberapa kompleks kejadian yang perlu diperhatikan oleh orang tua yaitu kardiovaskuler, respiratory, cerebrovaskuler, neuroendokrin, muskuloskeletal, neoplastis seperti mamma, prostat, uterus, paru-paru, urogenetal, psikosomatis, imunologi.

Menua bukanlah suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan dengan berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia dengan penurunan kualitas hidup sehingga status lansia dalam kondisi sehat atau sakit.

B. Rumusan Masalah1. Bagaimana fenomena demografi di Indonesia?2. Bagaimana fenomena bio-psico-sosio-spiritual dan penyakit lansia di Indonesia?3. Apa saja penyakit yang sering dialami lansia?4. Apa saja masalah kesehatan yang terjadi pada lansia?5. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia?6. Bagaimana Program Pemerintah dalam Meningkatkan Kesehatan Lansia?

C. Tujuan Penulisan1. Untuk mengetahui fenomena demografi 2. Untuk mengetahui fenomena bio-psico-sosio-spiritual dan karakteristik penyakit lansia3. Untuk mengetahui penyakit pada lansia4. Untuk mengetahui masalah kesehatan gerontik5. Untuk mengetahui Upaya Pelayanan Kesehatan terhadap Lansia6. Untuk mengetahui Program Pemerintah dalam Meningkatkan Kesehatan Lansia

BAB IIISI

A. Fenomena Demografi Secara demografi berdasarkan sensus penduduk tahun 1971, jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas sebesar 5,3 juta (4,5%) dari jumlah penduduk di Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1980, jumlah ini meningkat menjadi 11,3 juta (6,4%). Pada tahun 2000 diperkirakan meningkat sekitar 15,3 juta (7,4%) dari jumlah penduduk, dan pada tahun 2005 jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 18,3 juta (8,5%). Dan pada tahun 2005-2010, jumlah lanjut usia akan sama dengan jumlah balita, yang sekitar 19,3 juta (9,0%) dari jumlah penduduk. Bahkan pada tahun 2020-2025, Indonesia akan menduduki peringkat negara dan struktur dan jumlah penduduk lanjut usia setelah RRC (Republik Rakyat China), India, Amerika Serikat dengan umur harapan hidup diatas 70 tahun. Dan menurut Biro Pusat Statistik, pada tahun 2005 di Indonesia terdapat 18.238.107 penduduk lansia. Jumlah ini akan meningkat hingga 33 juta orang lansia 12% dari total penduduk (Wahjudi, 2008).

Perkembangan lanjut usia di IndonesiaTAHUNUMUR HARAPAN HIDUPJUMLAH USILA (JUTA)

198052,27,998 (5,45%)

199059,811.277 (6,29%)

200064,514,440 (7,18%)

201070,623,993 (9,77%)

20147228,823 (11,34%)

Sumber : BPS

B. Fenomena Bio-Psico-Sosio-Spiritual Lansia Menurut Maryam dkk (2011) fenomena Bio-psico-sosio-spiritual lansia yaitu1. Penurunan fisika. Sel : Jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun dan cairan intra seluler menurun.b. Kardiovaskuler: Kantup Jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa darah menurun (menurunnya kontraksi dan volume), elastisitas pembuluh darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat.c. Respirasi : Otot-otot pernafasan kekuatannya menurun dan kaku, elastisitas paru menurun, kapasitas residu meningkat sehingga menarik nafas lebih berat, alveoli melebar dan jumlahnnya menurun, kemampuan batuk menurun, serta terjadi penyempitan pada bronkus.d. Persyarafan : Saraf panca indera mengecil, sehingga fungsinya menurun serta lambat dalam merespon dan waktu bereaksi khususnya yang berhubungan dengan stres. Berkurang atau hilangnya lapisan myalin akson, sehingga menyebabkan berkurangnya respon motorik dan reflek.e. Muskuloskeletal : Cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis), bungkuk (kifosis), persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot), kram, tremor, tendon mengerut, dan mengalami sklerosis.f. Gastrointestinal : Esofagus melebar, asam lambung menurun, lapar menurun, peristaltik menurun sehiingga daya absorpsi juga menurun. Ukuran lambung mengecil serta fungsi organ aksesori menurun sehingga menyebabkan berkurangnya produksi hormon dan enzim pencernaan.g. Genitourinaria : Ginjal mengecil, aliran darah ke ginjal menurun, penyaringan glomerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan mengonsentrasi urine ikut menurun.h. Vesika urinaria : Otot-otot melemah, kapasitas menurun, dan retensi urin. Prostat hipertrofi pada 70% lansia.i. Vagina : Selaput lendir mengering dan sekresi menurun.j. Pendengaran : Membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan.k. Penglihatan : respon terhadap sinar menurun, adaptesi terhadap gelap menurun, akomodasi menurun, lapang pandang menurun, dan katarak.l. Endokrin : Produksi hormon menurunm. Kulit : Keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Rambut dalam hidung dan telinga menebal. Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun, rambut memutis (uban), kelenjar keringat menurun, kuku keras dan rapuh, serta kuku kaki tumbuh berlebihan seperti tanduk.2. Perubahan PsikologisPerubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory, frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan keinginan, depresi, dan kecemasan. Dalam psikologi perkembangan, lansia dan perubahan dialaminya akibat proses penuaan.Masalah-masalah umum yang sering dialami oleh lansia:a. Keadaan fisik lemah dan tak berdaya, sehingga bergantung pada orang lain.b. Status ekonominya sangat terancam, sehingga cukup beralasan untuk melaksanakan berbagai perubahan besar dalam pola hidupnya.c. Menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status ekonomi dan kondisi fisik.d. Mencari teman baru untuk menggantikan suami atau istri yang telah meninggal atau pergi jauh dan atau cacat.e. Mengembangkan kegiatan baru untuk mengisi waktu luang yang semakin bertambah.f. Belajar untuk memperlakukan anak yang sudah besar sebagai orang dewasa.g. Mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat yang secara khusus direncanakan untuk orang dewasa.h. Mulai merasakan kebahagiaan dari kegiatan yang sesuai untuk lansia dan memiliki kemauan untuk mengganti kegiatan lama yang berat dengan yang lebih cocok.i. Menjadi sasaran atau dimanfaatkan oleh para penjual obat, buaya darat, dan kriminalitas karena mereka tidak sanggup lagi untuk mempertahankan diri.3. Perubahan Sosiala. Peran: Post power syndrome, single women dan single parent.b. Keluarga : Kesendirian, kehampaan.c. Teman : Ketika lansia lainnya meninggal, maka muncul perasaan kapan akan meninggal atau sadar akan kematian.d. Abuse : Kekerasan berbentuk verbal dan non verbal e. Masalah hukum : Berkaitan dengan perlindungan aset dan kekayaan pribadi yang dikumpulkan sejak masih muda.f. Pensiun: Kalau menjadi PNS akan ada tabungan (dana pensiun). Kalau tidak, anak dan cucu yang akan memberi uang.g. Ekonomi : Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok bagi lansia dan income security.h. Rekreasi : Untuk ketenangan batin.i. Keamanan : Jatuh, terpeleset.j. Transportasi : Kebutuhan akan sistem transportasi yang sesuai dengan lansia.k. Politik : Kesempatan yang sama untuk terlibat dan memberikan masukan dalam sistem politik yang berlaku.l. Pendidikan : Berkaitan dengan pengentasan buta aksara dan kesempatan untuk tetap belajar sesuai dengan hak asasi manusia.m. Panti jompo : Merasa dibuang atau diasingkan.4. Perubahan SpiritualPada lansia agama atau kepercayaan makin terintograsi dalam kehidupannya (Maslow, 1970). Menurut Murray dan Zenter (1987) lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.Faktor yang menyebabkan matur dalam kehidupan agamannya adalah kesadaran bahwa semakin mendekati kematian, ingin mengumpulkan bekal/pahala untuk alam selanjutnya dan menghadapi kematian dengan tenang.Karakteristik Penyakit pada Lansia:1. Penyakit sering multiple,yaitu saling berhubungan satu sama lain.2. Penyakit bersifat degeneratif yang sering menimbulkan kecacatan.3. Gejala sering tidak jelas dan berkembang secara perlahan.4. Sering bersama-sama problem psikologis dan sosial.5. Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut.6. Sering terjadi penyakit iatrogenik.

C. Penyakit Yang Sering Terjadi Pada Lansia Penyakit yang sering terjadi pada lansia antara lain:1. Osteo Artritis (OA)OA adalah peradangan sendi yang terjadi akibat peristiwa mekanik dan biologik yang mengakibatkan penipisan rawan sendi, tidak stabilnya sendi, dan perkapuran. OA merupakan penyebab utama ketidakmandirian pada usia lanjut, yang dipertinggi risikonya karena trauma, penggunaan sendi berulang dan obesitas.2. OsteoporosisOsteoporosis merupakan salah satu bentuk gangguan tulang dimana masa atau kepadatan tulang berkurang. Terdapat dua jenis osteoporosis, tipe I merujuk pada percepatan kehilangan tulang selama dua dekade pertama setelah menopause, sedangkan tipe II adalah hilangnya masa tulang pada usia lanjut karena terganggunya produksi vitamin D.3. HipertensiHipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi dari 90mmHg, yang terjadi karena menurunnya elastisitas arteri pada proses menua. Bila tidak ditangani, hipertensi dapat memicu terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah (arteriosclerosis), serangan/gagal jantung, dan gagal ginjal.4. Diabetes MellitusSekitar 50% dari lansia memiliki gangguan intoleransi glukosa dimana gula darah masih tetap normal meskipun dalam kondisi puasa. Kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes melitus, dimana kadar gula darah sewaktu diatas atau sama dengan 200 mg/dl dan kadar glukosa darah saat puasa di atas 126 mg/dl. Obesitas, pola makan yang buruk, kurang olah raga dan usia lanjut mempertinggi risiko DM. Sebagai ilustrasi, sekitar 20% dari lansia berusia 75 tahun menderita DM. Beberapa gejalanya adalah sering haus dan lapar, banyak berkemih, mudah lelah, berat badan terus berkurang, gatal-gatal, mati rasa, dan luka yang lambat sembuh.5. DimensiaMerupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan kehilangan fungsi intelektual dan daya ingat secara perlahan-lahan, sehingga mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari. Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi pada usia lanjut. Adanya riwayat keluarga, usia lanjut, penyakit vaskular/pembuluh darah (hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi), trauma kepala merupakan faktor risiko terjadinya demensia. Demensia juga kerap terjadi pada wanita dan individu dengan pendidikan rendah.6. Penyakit jantung koronerPenyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah menuju jantung terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri dada, sesak napas, pingsan, hingga kebingungan.7. KankerKanker merupakan sebuah keadaan dimana struktur dan fungsi sebuah sel mengalami perubahan bahkan sampai merusak sel-sel lainnya yang masih sehat. Sel yang berubah ini mengalami mutasi karena suatu sebab sehingga ia tidak bisa lagi menjalankan fungsi normalnya. Biasanya perubahan sel ini mengalami beberapa tahapan, mulai dari yang ringan sampai berubah sama sekali dari keadaan awal (kanker). Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua setelah penyakit jantung. Faktor resiko yang paling utama adalah usia. Dua pertiga kasus kanker terjadi di atas usia 65 tahun. Mulai usia 40 tahun resiko untuk timbul kanker meningkat.D. Masalah Kesehatan GerontikMenurut Mubarak dkk (2009), terdapat beberapa tren dan isu pada lansia, di antaranya :1. Masalah kehidupan sexualAdanya anggapan bahwa semua ketertarikan seks pada lansia telah hilang adalah mitos atau kesalahpahaman. Pada kenyataannya hubungan seksual pada suami isri yang sudah menikah dapat berlanjut sampai bertahun-tahun. Bahkan aktivitas ini dapat dilakukan pada saat klien sakit atau mengalami ketidakmampuan dengan cara berimajinasi atau menyesuaikan diri dengan pasangan masing-masing. Hal ini dapat menjadi tanda bahwa maturitas dan kemesraan antara kedua pasangan sepenuhnya normal. Ketertarikan terhadap hubungan intim dapat terulang antara pasangan dalam membentuk ikatan fisik dan emosional secara mendalam selama masih mampu melaksanakan.2. Perubahan perilakuPada lansia sering dijumpai terjadinya perubahan perilaku diantaranya: daya ingat menurun, pelupa, sering menarik diri, ada kecendrungan penurunan merawat diri, timbulnya kecemasan karena dirinya sudah tidak menarik lagi, lansia sering menyebabkan sensitivitas emosional seseorang yang akhinya menjadi sumber banyak masalah.3. Pembatasan fisikSemakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama dibidang kemampuan fisik yang dapat mengakibatkan penurunan pada peranan peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya ganggun di dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantunan yang memerlukan bantuan orang lain.4. Kesehatan mentalSelain mengalami kemunduran fisik lansia juga mengalami kemunduran mental. Semakin lanjut seseorang, kesibukan soialnya akan semakin berkurang dan dapat mengakibatkan berkurangnya intregrasi dengan lingkungannya.Masalah kesehatan gerontik lainnya yaitu:1. Palliative care.Pemberian obat pada lansia bersifat palliative care adalah obat tersebut ditunjukan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh lansia. Fenomena poli fermasi dapat menimbulkan masalah, yaitu adanya interaksi obat dan efek samping obat. Sebagai contoh klien dengan gagal jantung dan edema mungkin diobatai dengan dioksin dan diuretika. Diuretik berfungsi untu mengurangi volume darah dan salah satu efek sampingnya yaitu keracunan digosin. Klien yang sama mungkin mengalami depresi sehingga diobati dengan antidepresan. Dan efek samping inilah yang menyebaban ketidaknyaman lansia.2. Pengunaan ObatMedikasi pada lansia memerlukan perhatian yang khusus dan merupakan persoalan yang sering kali muncul dimasyarakat atau rumah sakit. Persoalan utama dan terapi obat pada lansia adalah terjadinya perubahan fisiologi pada lansia akibat efek obat yang luas, termasuk efek samping obat tersebut (Watson, 1992). Dampak praktis dengan adanya perubahan usia ini adalah bahwa obat dengan dosis yang lebih kecil cenderung diberikan untuk lansia. Namun hal ini tetap bermasalah karena lansia sering kali menderita bermacam-macam penyakit untuk diobati sehingga mereka membutuhkan beberapa jenis obat. Persoalan yang dialami lansia dalam pengobatan adalah :a. Bingungb. Lemah ingatanc. Penglihatan berkurangd. Tidak bias memegange. Kurang memahami pentingnya program tersebut untuk dipatuhi dan dijalankan

E. Upaya Pelayanan Kesehatan terhadap LansiaSecara umum pelayanan kesehatan pada lansia dapat dibagi menjadi 2, yakni; 1. Pelayanan kesehatan lansia berbasis rumah sakit (Hospital Based Geriatric Service) 2. Pelayanan kesehatan lansia di masyarakat (Community Based Geriatric Service). Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lima upaya kesehatan, yaitu promotif, prevention, diagnosa dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan, serta pemulihan.1. PromotifUpaya promotif merupakan tindakan secara langsung dan tidak langsung untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mencegah penyakit. Merupakan proses advokasi kesehatan untuk meningkatkan dukungan klien, tenaga profesional dan masyarakat terhadap praktek kesehatan yang positif menjadi norma-norma sosial.Upaya promotif dapat berupa kegiatan penyuluhan tentang: a. Kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri. b. Makanan dengan menu yang mengandungi gizi seimbang. c. Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan lansia agar tetap merasa sehat dan segar. d. Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. e. Membina ketrampilan agar dapat mengembangkan kegemaran sesuai dengan kemampuan. f. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat.2. Preventif Upaya preventif bukanlah menghindari atau pencegahan proses menjadi tua, melainkan menghindarkan sejauh mungkin penyakit-penyakit yang dapat timbul dan mengusahakan agar fungsi tubuh selama mungkin dapat dipertahankan. Preventif mencakup pencegahan primer, sekunder dan tersier. a. Pencegahan primer, ditujukan kepada lansia yang sehat, mempunyai risiko akan tetapi belum menderita penyakit. Contohnya program imunisasi, konseling, dukungan nutrisi, exercise, keamanan di dalam dan sekitar rumah, menejemen stres.b. Pencegahan sekunder meliputi pemeriksaan terhadap penderita tanpa gejala yang mengidap faktor risiko. Upaya ini dilakukan sejak awal penyakit hingga awal timbulnya gejala atau keluhan. Jenis pelayanan pencegahan sekunder: kontrol hipertensi, deteksi dan pengobatan kanker, skrining : pemeriksaan rektal, mamogram, papsmear, gigi, mulut.c. Pencegahan tersier dilakukan sesudah gejala penyakit dan cacat. Jenis pelayanan mencegah berkembangnya gejala dengan memfasilisasi rehabilitasi, medukung usaha untuk mempertahankan kemampuan anggota badan yang masih berfungsi.3. Diagnosa dini dan pengobatanDilaksanakan oleh lansia, keluarga, petugas professional, dan petugas panti. Pengobatan dijalankan terhadap gangguan sistem, mengurangi gejala yang terjadi dan mengatasi manifestasi klinik. Kegiatan dilaksanakan di tingkat keluarga, fasilitas pelayanan tingkat dasar, dan fasilitas pelayanan rujukan tingkat I dan tingkat II4. Pembatasan kecacatanKecacatan adalah kesulitan dalam mengfungsikan kerangka, otot dan system saraf. Pengolongan kecacatan dapat berupa kecacatan sementara (dapat dikorelasi), kecacatan mental (tak bisa dipulihkan, akan tetapi dapat disupsitusikan dengan alat), kecacatan progresif (tak bisa pulih dan tak bias disubstitusikan atau di ganti). Tahap ini untuk membatasi cacat atau penyakit yang sudah terlanjur menyerang atau menjangkiti seseorang. Langkah-langkah yang dilakukan adalah pemeriksaan (assesment), identifikasi masalah (problem identification), perencanaan (planning), pelaksanaan (implementation), dan penilaian (evaluation). Contohnya kontrol ke rumah sakit, dokter mengunjungi pasien untuk menanyakan atau memeriksa keadaan pasien pasca pengobatan.5. PemulihanUpaya mengembalikan fungsi organ yang telah menurun. Upaya rehabilitasi dapat berupa kegiatan antara lain: a. Memberikan informasi, pengetahuan dan pelayanan tentang penggunaan bebagai alat bantu misalnya kaca mata, alat bantu dengar dan lain-lain agar lansia tetap b. dapat membirakan karya dan tetap merasa berguna sesuai kebutuhan dan kemampuan. c. Mengembalikan keprcayaan pada diri sendiri dan memperkuat mental penderita. d. Pembinaan usia lanjut dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi, aktifkan didalam maupun diluar rumah. e. Nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita. f. Perawatan fisioterapi. (Surbakti E, 1995)

F. Program Pemerintah dalam Meningkatkan Kesehatan LansiaProgram kesehatan masyarakat yang ada di puskesmas sasarannya adalah yang didalamnya ada keluarga lansia. Perkembangan jumlah keluarga yang terus menerus meningkat dan banyaknya keluarga yang berisiko tentunya menurut perawat memberikan pelayanan pada keluarga secara professional. Tuntutan ini tentunya membangun Indonesia Sehat 2010 yang salah satu strateginya adalah Jaminan Pemeliharan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Dengan strategi ini diharapkan lansia mendapatkan yang baik dan perhatian yang selayaknyaKewajiban pemerintah tersebut tertuang jelas di dalam Undang-Undang No.13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia. Pada pasal 5, dituliskan delapan hak para lansia yang harus dipenuhi pemerintah berkaitan dengan kesejahteraan sosialnya. Diantaranya mendapatkan perlindungan social, bantuan social dan pelayanan kesehatan.Sebagai wujud nyata pelayanan sosial dan kesehatan pada kelompok usia lanjut ini, pemerintah telah mencanangkan pelayanan pada lansia melalui beberapa jenjang. Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat adalah Posyandu lansia, pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit.1. Posyandu LansiaPosyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.a. Sasaran posyandu lansiaMenurut Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan I Kebijaksanaan Program (Depkes RI, 2000), sasaran pelaksanaan pembinaan kelompok usia lanjut dibagi menjadi dua antara lain:1) Sasaran langsung: Pra usia lanjut (pra senilis) 45-59 thn Usia lanjut 60-69 thn Usia lanjut risiko tinggi: usia lebih dari 70 thn atau usia lanjut berumur 60 thn atau lebih dengan masalah kesehatan2) Sasaran tidak langsung: Keluarga dimana usia lanjut berada Masyarakat di lingkungan usia lanjut Organisasi sosial yg peduli Petugas kesehatanb. Bentuk pelayanan posyandu lansia Pelayanan Kesehatan di Posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan Kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi.Jenis Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada usia lanjut di Posyandu Lansia seperti: 1) Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari (activity of daily living) meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.2) Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional dengan menggunakan pedoman metode 2 (dua ) menit.3) Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).4) Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit.5) Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat6) Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus)7) Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal.8) Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir 1 hingga 7 dan9) PenyuluhanKegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat yaitu:1) Pemberian Makanan Tambahan (PMT) penyuluhan sebagai contoh menu makanan dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lansia serta menggunakan bahan makanan yang berasal dari daerah tersebut;2) Kegiatan olahraga antara lain senam lansia, gerak jalan santai dan lain sebagainya untuk meningkatkan kebugaran (Depkes RI, 2003).2. Posbindu Posbindu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan kebutuhan masyarakat itu sendiri, khususnya penduduk usia lanjut. Posbindu kependekan dari Pos Pembinaan Terpadu, program ini berbeda dengan Posyandu, karena Posbindu dikhususkan untuk pembinaan para orang tua baik yang akan memasuki masa lansia maupun yang sudah memasuki lansia (Depkes, 2007).Tujuan diadakannya Posbindu adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan. Jadi dengan adanya Posbindu diharapkan adanya kesadaran dari usia lanjut untuk membina kesehatannya serta meningkatkan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam mengatasi kesehatan usia lanjut. Fungsi dan tugas pokok Posbindu yaitu membina lansia supaya tetap bisa beraktivitas, namun sesuai kondisi usianya agar tetap sehat, produktif dan mandiri selama mungkin serta melakukan upaya rujukan bagi yang membutuhkan (Depkes, 2007).Tujuan pokok dari pelayanan Posbindu adalah :a. Memperlambat angka kematian kelompok masyarakat lansia b. Meningkatkan pelayanan kesehatan kelompok masyarakat lansiac. Meningkatkan kemampuan kelompok masyarakat lansia untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dari kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan hidup sehat.d. Pendekatan dan pemerataan pelayan kesehatan pada kelompok masyarakat lansia dalam usa meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan pada penduduk berdasarkan letak geografise. Meningkatkan pembinaan dan bimbingan peran serta kelompok masyarakat lansia dalam rangka alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakatJenis pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada usia lanjut dikelompok sebagai berikut:a. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari (activity of daily living) melipui kegiatan dasar dalam kehidupan seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainyab. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional dengan menggunakan pedoman 2 menitc. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik Indeks Masa Tubuh (IMT)d. Pengukuran tekanan darah dengan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama 1 menitb. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan Talquist atau Sahlia. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus)b. Pemeriksaan adanya protein dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjalc. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainand. Penyuluhan bisa dilakukan di dalam maupun di luar kelompok dalam rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi oleh individu dan atau kelompok usia lanjute. Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi anggota kelompok usia lanjut yang tidak datang, dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan masyarakat (public health nursing).f. Pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penyuluhan contoh menu makanan dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi usia lanjut serta menggunakan bahan makanan yang berasal dari daerah tersebutg. Kegiatan olah raga seperti senam lansia, gerak jalan santai dan lain sebagainya untuk meningkatkan kebugaran

BAB IIIPENUTUP

A. KesimpulanJumlah penduduk lansia di Indonesia tiap tahun makin bertambah. Setiap lansia mengalami berbagai perubahan diantaranya fenomena penurunan fisik lansia terjadi pada berbagai organ. Perubahan psikologis yang sering dialami lansia yaitu kesepian,takut menghadapi kematian, perubahan keinginan, depresi. Sedangkan perubahan sosial pada lansia terjadi pada peran, keluarga, teman, ekonomi, dll. Untuk aspek spiritual lansia semakin matur dan diintregasikan dalam kehidupannyaKarakteristik penyakit lansiayaitu penyakit multiple yang berhubungan, penyakit bersifat degeneratif, gejala sering tidak jelas. Penyakit yang sering diderita lansia diantaranya hipetrtensi, kurang gizi atau obesitas , katarak, rheumatik.Masalah kesehatan yang terjadi pada lansia meliputi masalah kehidupan sexual, perubahan prilaku, pembatasan fisik, kesehatan mental, palliative care, pengunaan obat. Sedangkan untuk upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lima upaya kesehatan, yaitu promotif, prevention, diagnosa dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan, serta pemulihan.Program pemerintah dalam meningkatkan kesehatan lansia terdapat beberapa jenjang. Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat adalah Posyandu lansia, pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit.

B. Saran1.Semoga makalah ini dapat bermamfaat bagi yang pembaca, terutama mahasiswa keperawatan2.Semoga dapat menjadi bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa keperawatan20