Bab 3 Fasilitas Dan Sistem Produksi Pt Ispat Indo

of 25/25
17 Jurusan Teknik Mesin FTI – ITN praktek kerja nyata – PT ISPATINDO BAB III FASILITAS PRODUKSI PT ISPAT INDO 3.1 Bahan Baku 3.1.1 Bahan Baku Utama Bahan baku utama dalam proses pembuatan billet adalah berasal dari: a. Scrap besi sebagai row material sebesar 60% Scrap mempunyai bermacam macam jenis dan asalnya. Scrap tersebut berasal dari besi besi tua yang didapat di logistic. Scrap tersebut tersedia baik dari import maupun local. Import biasanya berasal dari Australia, USA, Rusia, dan Ukraina. Kualitas scrap yang baik harus dipilih sebaik mungkin. Pemilihan scrap tersebut tergantung dari jenis produk yang akan dibuat berdasarkan pesanan dari konsumen, baik jumlahnya maupun jenisnya. Jenis jenis scrap yang digunakan di PT ISPAT INDO adalah sebagai berikut. 1. Skull yaitu bahan yang berasal dari cairan yang sudah membeku dan menempel pada ladle. 2. Super USA yaitu bahan baku yang diimport dari USA 3. Super Australian yaitu bahan baku berupa scrap yang berasal dari Australia 4. Super Hongkong yaitu bahan baku yang berasal dari Hongkong 5. Super local yaitu yang berasal dari Indonesia 6. Mix, yaitu scrap yang berasal dari bermacam macam scrap ringan dan tidak begitu baik kualitasnya. 7. Bundle machine press, yaitu yang berasal dari bahan baku proses yaitu bundle machine press local, bundle machine press import, dan bundle machine press ispat. 8. Turning SPL yaitu geram geram sisa proses pembubutan 9. Turning ORD yaitu dari geram geram bubut yang halus dan tidak berkarat.
  • date post

    22-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    203
  • download

    40

Embed Size (px)

description

laporan pkn pt ispat indoinstitut teknologi nasional malang

Transcript of Bab 3 Fasilitas Dan Sistem Produksi Pt Ispat Indo

  • 17

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    BAB III

    FASILITAS PRODUKSI PT ISPAT INDO

    3.1 Bahan Baku

    3.1.1 Bahan Baku Utama

    Bahan baku utama dalam proses pembuatan billet adalah berasal dari:

    a. Scrap besi sebagai row material sebesar 60%

    Scrap mempunyai bermacam macam jenis dan asalnya. Scrap

    tersebut berasal dari besi besi tua yang didapat di logistic. Scrap tersebut

    tersedia baik dari import maupun local. Import biasanya berasal dari

    Australia, USA, Rusia, dan Ukraina. Kualitas scrap yang baik harus

    dipilih sebaik mungkin. Pemilihan scrap tersebut tergantung dari jenis

    produk yang akan dibuat berdasarkan pesanan dari konsumen, baik

    jumlahnya maupun jenisnya. Jenis jenis scrap yang digunakan di PT

    ISPAT INDO adalah sebagai berikut.

    1. Skull yaitu bahan yang berasal dari cairan yang sudah membeku

    dan menempel pada ladle.

    2. Super USA yaitu bahan baku yang diimport dari USA

    3. Super Australian yaitu bahan baku berupa scrap yang berasal dari

    Australia

    4. Super Hongkong yaitu bahan baku yang berasal dari Hongkong

    5. Super local yaitu yang berasal dari Indonesia

    6. Mix, yaitu scrap yang berasal dari bermacam macam scrap ringan

    dan tidak begitu baik kualitasnya.

    7. Bundle machine press, yaitu yang berasal dari bahan baku proses

    yaitu bundle machine press local, bundle machine press import, dan

    bundle machine press ispat.

    8. Turning SPL yaitu geram geram sisa proses pembubutan

    9. Turning ORD yaitu dari geram geram bubut yang halus dan tidak

    berkarat.

  • 18

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    10. Premium, grade ini ada dua jenis yaitu kelas premium super dengan

    ukuran diatas 10 mm (bisanya baru) dan premium standart dengan

    ukuran diatas 10 mm dan memiliki panjang lebih dari 75 mm.

    11. Cast iron > 50 kg dan < 50 kg bisanya dari blok mobil

    12. Big size, biasanya dari blok kapal

    13. BMP SPL

    14. BMP ORD

    b. Bahan campuran sponge iron sebesar 30% disebut firgin material. Jenis

    ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu sponge iron dan pig iron.

    3.1.2 Bahan Baku Penunjang

    Selain bahan baku utama, PT ISPATINDO juga menggunakan bahan

    penunjang diantaranya.

    1. Lime

    a. Batu kapur atau batu tahor.

    b. Dolomit yang mengandung CaO, MgO yang dalam bahan

    tambang bumi. Dalam peleburan batu kapur dan dolomit akan

    mencair bersama dengan unsur unsur yang tidak diperlukan

    akan membentuk slag dimana lime ini juga berfungsi sebagai

    pelapis refractory sehingga life cycle pemakain refractory lebih

    lama.

    2. Cocas

    Cocas merupakan batubara yang dihasikan dari proses pembakaran

    untuk memproses suatu hasil produksi yang tidak sempurna dengan

    hasil penyulingan gas dan air yang tertinggal hanya zat arang dan

    abu. Cocas digunakan sebagai proses reduksi oksidasi besi sehingga

    didaerah lebur terjadi reduksi langsung.

    3. Oksigen

    Oksigen digunakan sebagai pengganti dari energy listrik yang

    berfungsi untuk mempercepat proses terjadinya panas pada saat

    peleburan dilakukan.

  • 19

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    4. Feromanganis (FeMn)

    Feromanganis digunakan sebagai pengikat belerang dan berupa

    alloy.

    3.1.3 Bahan Baku Lainnya

    a. Ferrosilicon (FeSi)

    b. Silicon mangan (SiMn)

    c. Prefill

    d. Temperature tip electricity

    e. Gunning

    3.2 Mesin dan Peralatan

    3.2.1 Struktur Peralatan Pada Steel Melting Shop (SMS) Area

    Area SMS terbagi menjadi 3 unit yaitu

    a. Unit melting pada EAF ( Electrical Arching Furnace)

    b. Unit refining dan penentuan grade pada LRF ( Ladle Refining Furnace)

    c. Unit casting pada CCM (Continuous Casting Machine)

    3.2.1.1 Struktur Peralatan Pada EAF Unit

    a. Furnace

    Furnace adalah tempat untuk melebur bahan scrap dan unsur paduan

    paduan tertentu. Furnace yang digunakan di PT ISPATINDO adalah

    jenis dapur elektrik dengan diameter luar dapur 5.8 meter dan tinggi

    3.85. Dinding furnace terdiri dari lapisan yaitu lapisan terluar baja

    karbon 9, batu bata MgO 79%, batu bata MgO 77 % ( bagian tengah),

    batu bata karbon resin manganesia (bagian dalam). Kapasitas furnace

    yang dimiliki PT ISPATINDO adalah 80 ton dalam sekali peleburan.

    Dalam satu kali shift kerja dapat dilakukan lebih kurang 7 9 kali

    proses peleburan, sehingga jika pabrik beroperasi selama 24 jam

    dengan dibagi 3 shift kerja maka proses peleburan akan berlangsung 21

    27 kali peleburan dengan kapasitas perhari 1680 2160 ton per hari.

  • 20

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Pada furnace dilengkapi dengan atap sebagi tempat pemasangan dan

    dudukan elektroda furnace. Atap furnace memiliki diameter luar 5.8

    meter dengan tinggi atap bervarias, pada satu sisi atap mempunyai

    tinggi 0,5 meter dan sisi lainnya mempunyai tinggi 1 meter. Atap

    mempunyai tiga lubang ditengah untuk memasukkan elektroda,

    diameter lubang ini sebesar 0. 65 meter.

    b. Elektroda

    Elektroda berbentuk cylinder dengan diameter yang digunakan

    sebesar 24 inch dan panjang 24 inch. PT. ISPATINDO menggunakan

    elektroda ini pada proses peleburan di EAF. Suhu peleburan pada saat

    elektroda dihidupkan mencapai 1600 1650 derajat Celcius. Dengan

    suhu setinggi ini bahan scrap dan unsur paduan yang ada didalam

    furnace akan melebur. Pemakain elektroda ini dapat digunakan selama

    kurang lebih 20 kali proses atau 2.5 kali shift kerja.

    Gambar 3.1 Electric Arc Furnace

  • 21

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    3.2.1.2 Struktur peralatan pada LRF

    1. Ladle car

    PT ISPATINDO

    mempunyai 2 ladle car.

    Satu ladle car untuk

    mengangkut keluar

    melting scrap dari furnace

    sedangkan ladle car yang

    kedua untuk memasukkan

    melting scrap pada unit

    LRF yang akan

    mengalami proses

    lanjutan. Tipa ladle car

    memiliki kapasitas angkut

    140 ton.

    2. Hook crane

    Fungsi hook crane untuk memindahkan peralatan dari satu proses

    ke proses lainnya, seperti memindahkan ladle dari unit LRF ke unit

    CCM, yang memiliki kapasitas angkut 140 ton.

    3. Eletroda

    Seperti pada unit EAF, pada unit LRF dibutuhkan tiga elektroda

    untuk meningkatkan suhu liquid metal, karena dari furnace suhu

    cairan telah menurun dari 1610 derajat menjadi 1550 derajat

    celcius. Hal ini dikarenakan jarak dari furnace ke unit LRF sejarak

    15m dan kondisi ladle yang terbuka. Spesifikasi elektroda unit LRF

    lebih kecil dibandingkan elektroda pada unit EAF

    a. Panjang elektroda : 14 x 72

    b. Berat elektroda : 30 kg/batang

    c. Berat ujung : 11.29 kg

    d. Total berat : 320 kg

    Gambar 3.2 Ladle Refining Furnace

  • 22

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    4. Atap

    Peralatan ini adalah tempat untuk memasukkan atau mengeluarkan

    elektroda dari ladle. Atap juga berfungsi untuk menutup bagian atas

    furnace sehingga meningkatkan suhu dalam ladle sampai temperature

    yang diinginkan. Alat ini dilengkapi dengan dua dust collector untuk

    menghindari polusi udara.

    3.2.1.3 Struktur peralatan pada unit CCM

    a. Ladle

    Ladle berbentuk seperti ember dengan diameter atas 2.5 meter.

    Diameter bawah 2 meter, tinggi 3 meter dan memiliki kapasitas

    maksimal sekitar 90 ton. Berfungsi sebagai tempat liquid metal dari

    LRF kemudian dituangkan ke tundish.

    b. Tundish

    Tempat cairan dituangkan dari ladle. Tundish berbentuk seperti

    perahu dengan volume 4,68 m3 atau 7 9 ton. Bagian dalam tundish

    dilapisi dengan gamex atau sindiform (MgO) atau AL2O3. Tundish

    mempunyai nozzle dibagian bawah. Terdapat 4 nozzle. Tiap nozzle

    dapat berdiameter sama atau berbeda. Biasanya diameter nozlle

    berkisar antara 15 mm sampai dengan 19 mm.

    Gambar 3.3 Proses pada Continous Casting Machine

  • 23

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    c. Mould tube

    Mould tube adalah alat untu mencetak cairan. Pada mould tube ini

    terjadi perubahan fase dari fase cair menjadi fase solid atau padat.

    Mould tube dilengkapi aliran minyak. Fungsi aliran minyak ini adalah

    untuk melapisi permukaan bagian dalam dari mould tube, karena factor

    gesekan tinggi. Molud tube mempunyai jaket pendingin. Perubahan

    fase bergantung pada kapasitas pendinginan. Dimana kapasistas

    pendinginan ini mempunyai pembentukan sel pada proses solidfikasi.

    Pada saat liquid metal masuk pertama kali di mould tube ditahan

    dengan alat yang disebut dummy bar. Fungsi dummy bar ini adalah

    untuk menahan liquid metal yang memenuhi mould tube sampai

    dengan 80 % dari tinggi mould tube, kemudian dummy bar perlahan-

    lahan turun karena desakan liquid turun karena desakan liquid dan

    desakan liquid dan gerakan dari mould tube. Mould tube beroperasi

    dengan cara bergoyang dan bergetar dengan frekuensi 130 kali/menit.

    Getaran ini bertujuan untuk menurunkan billet padat dan panas dari

    mould tube. Untuk sekali proses peleburan daihasilkan sebanyak 53

    billet.

    d. Ring zone

    Alat ini adalah pendingin untuk billet dan berada tepat dibawah

    mould tube. Tiap ring zone mempunyai spray sebanyak 32 buah dengan

    daya alir 4 m3 /jam dan tekanan yang dihasilkan sebesar 4.5 kg/cm3.

    Billet yang melewati ring zone didinginkan dengan air yang

    disemprotkan melalui spray pada ring zone pertama diikiuti zone

    kedua, dan terakhir zone ke tiga. Zone ini disebut dengan apron.

    e. Rolling equipment

    Rolling equipment adalah alat untuk menarik billet dari mould tube.

    Fungsi lainnya untuk transportasi billet dari peralatan casting menuju

    billet area. Perputaran billet tergantung pada kecepatan casting.

    f. Billet shear

  • 24

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Billet shear berfungsi untuk memotong billet sesuai dengan panjang

    yang diinginkan sebagai contoh 99.2 m, 8.2 m, dan 5.9 m. pemotongan

    digerakkan dengan tenaga hidrolik dan pemotong dapat memutar billet

    setelah pemotongan. Pemotongan dilengkapi dengan pendinginan.

    g. Billet area

    Area billet adalah tempat billet diletakkan, dimana billet mengalami

    proses pendinginan secara alami yaitu pada temperature ruangan 2

    derajat celcius. Disini billet dijadikan sebagai persediaan bahan baku

    proses rolling dan juga bisa langsung dipasarkan sebagai barang

    setengah jadi.

    3.2.2 Struktur peralatan pada rolling mill area

    Pada rooling mill are terdapat dua line produksi yaitu line A dan line B.

    kedua line ini sama sama memiliki rolling mill equipment namun untuk line

    A teknologi rolling yang digunakan lebih canggih dan full automatis

    diabandingkan dengan line B. line B sendiri adalah rolling mill teknologi

    kuno dimana pengoperasiannya masih manual. Untuk line A mesin mesin

    produksinya merupakan hasil manufaktur dari DANIELIE & C, S.p.A metal

    manufacturing Italy. Struktur rolling mill area di PT ISPATINDO adalah

    sebagai berikut.

    3.2.2.1 Billet Reheating Furnace Area

    Billet sebelum melewati proses rolling harus diletakkan telebih dahulu

    dengan cara dipanasi. Alat yang digunakan untuk memanaskan dahulukan

    billet dinamakan BRF unit (Billet Reheating Furnace) sebelum masuk

    kedalam rolling mill.

  • 25

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Billet reheating furnace area terdiri dari :

    1. Charging bed

    Charging bed adalah tempat atau rak billet sebelum dipanasdahulukan

    (reheating) pada unit billet reheating furnace (BRF). Charging bed dapat

    menampung kurang lebih 30 buah billet. Bergerak dengan gerakan

    eksentrik dan digerakkan dengan satu motor penggerak. Pada charging

    bed terdapat sensor yang berguna untuk medeteksi posisi billet.

    2. Charging billet pusher

    Charging billet pusher adalah peralatan untuk mendorong billet

    masuk ke billet reheating furnace (BRF), dengan menggunakan gerakan

    sistem dorong dua silinder.

    Gambar 3.4 Billet Reheating Furnace

    Gambar 3.4 Charging bed

  • 26

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    3. Charging positioner

    Charging positioner adalah alat untuk mengatur posisi atau

    meluruskan salah satu ujung billet yang menonjol keluar, agar billet

    yang masuk ke BRF sejajar satu dengan yang lainnya.

    4. Billet reheating furnace ( BRF)

    Billet reheating furnace adalah tempat untuk memasukkan billet dan

    dapat menampung 82 buah billet dengan panjang billet 9.2 meter.

    Pemasangan berasal dari burner yang berjumlah 36 burner yang terbagi

    atas 12 burner pada shocking zone, 12 burner pada heating zone, dan 12

    burner pada preheating zone. Bahan bakar yang digunakan pada BRF

    berupa residu yang dibantu dengan hembusan udara untuk mempercepat

    pemanasan sehingga temperature yang diinginkan melalui burner dan

    blower. Billet membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam 40 menit dengan

    cycle time 105 detik untuk bergerak dalam BRF. Gerakan mentransfer

    billet secara hidrolik dengan system walking heart yang digerakkan

    dengan daya kw dan kuat arus ampere.

    Spesifikasi billet reheating furnace (BRF)

    Designed : Stein Heurty

    Type : Walking Hearth

    Capacity : 78 ton/hours

    Number of zone : 3 zone

    Dischargeing temperature : 1200 oC (max)

    Fuel : natural; pressure : 6 bar; pipe size 6 inch;

    consumption : 0,265 kcal/kg

    Model of charging : Charging Pusher (auto)

    Model of discharging : Kick Off ( auto)

    Spesifikasi combustion system BRF

    Number of burner : 36 burner

    Capacity of burner

    Preheating 12 burners @ 95.6 Nm3/hours

  • 27

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Heating 12 burners @ 95.6 Nm3/hours

    Soaking 12 burners @ 43.3 Nm3/hours

    Number of combustions air blowers and their capacity : 2

    unit ( 1 run, 1 stand by) @ 200 KW

    Automation

    PLC / DCS used

    Automatic model

    HMI system with win cc software

    Siemens simatic 7

    5. Kick off device

    Digerakkan oleh 2 motor penggerak dengan daya 18.5 KW dan kuat

    arus 33.5 ampere. Equipment ini digunakan untuk mengambil billet dan

    walking hearth. Kick off device berjumlah tiga buah yang bergerak

    secara pneumatic, dan gerakannya sama dengan charging billet pusher.

    6. Discharge roll table

    Roll yang berfungsi untuk mengeluarkan billet dari BRF. Discharge

    roll table mempunyai rollyang berjumlah 17 roll. Sistem pendinginan

    menggunakan sistem indirect rolling water.

    3.2.2.2 Mill equipment area

    Peralatan mill equipment area diantaranya.

    1. Descaler

    Gambar 3.5 Kick off device

  • 28

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Peralatan untuk mengurangi timbunan kerak carbon pada permukaan

    billet dengan air yang disemprotkan. Pada descaler terdapat 8 buah

    nosel untuk menyemprotkan air dengan tekana 80 -90 bar. Pompa yang

    digunakan untuk memompa air berdaya 110 KW, arus 191 ampere,

    dengan putaran motor 1485 rpm, sedangkan daya motor yang

    digunakan untuk menggerakkan roll berdaya 45 KW dengan arus motor

    77 ampere.

    2. Roller table BRF

    Roller table brf adalah tempat mentransfer billet ke stand 1A, roll

    table digerakkan oleh 6 motor dengan daya 1,1 KW, arus 2,9 ampere

    dan tegangan 41,5 volt. Pada roll table terdapat stopper yang berguna

    untuk memindahkan billet ke hot out bila terjadi masalah / problem

    pada equipment setelah roler table BRF. Roller table digerakkan

    dengan sistem hidrolik.

    3. Pinch roll

    Pada line A terdapat 2 pinch roll. Pertama terletak sebelum stand 1A

    yang berfungsi untuk memperlambat kecepatan billet sedangkan yang

    kedua terletak sebelum turn forming head (TFH) yang berfungsi

    menahan billet.

    Gambar 3.6 Pinch roll

  • 29

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Gambar 3.7 Stand rolling dan cellar

    4. Stand

    Terdapat 18 ESS stand

    (cantilever stand) yang

    berfungsi mereduksi billet

    dengan dimensi sesuai

    groove dari roll. Satu stand

    terdapat 2 roll, roll tersusun

    secara horizontal dan vertical

    , groove roll berbentuk box,

    oval dan round.

    Bentuk bentuk ini digunakan untuk merubah bentuk billet yang semula

    persegi (bujur sangkar) menjadi silinder (round). Proses perubahan

    bentuk ini dilakukan mulai dari roughing stand ( 1A-2A-1-2-3-4),

    intermediate stand (5 s/d 17), dan terakhir finishing stand/ block mill (

    17 s/d 26). Diameter akhir yang dicapai diantaranya 4.0, 5,5 mm, 6,0

    mm dan 6,5 mm tau sesuai dengan permintaan yang masuk ke PT

    ISPATINDO. Pada stand kecepatan maksimal yang dapat dicapai oleh

    billet yang direduksi adalah sebesar 100 m/detik.

    Stand rolling mill dibagi ke dalam tiga bagian yaitu.

    A. Roughing mill

    Spesifikasi dari roughing mill adalah sebagai berikut.

    Machine : Rolling block with cantilevere mounted

    rolls

    Manufacture : DANIELIE & C, S.p.A

    Type :

    ESS 650 V/H ( mill stand 1A & 2A)

    ESS 650 V/H ( mill stand 1, 2, 3, & 4)

  • 30

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Rolling rings :

    Material : Nodular acicular cast iron

    Roll length : 370 mm & 315 mm

    Diameter max min : 685 580 mm &

    550 485 mm

    Lubricant system : Cellar 1 with circulating oil system

    Motor perstand :

    Power 350 KW

    Speed : 1250 rpm

    B. Intermediate mill

    Machine : Rolling block with cantilevere mounted

    rolls

    Manufacture : DANIELIE & C, S.p.A

    Type :

    ESS 430 V/H ( mill stand 5 & 6)

    ESS 380 V/H ( mill stand 7, 8, 9 &

    10)

    Rolling rings :

    Material : Nodular acicular cast iron

    Roll length : 225 mm & 200 mm

    Diameter max min : 430 385

    mm & 395 345 mm

    Lubricant system : Cellar 2 with circulating oil system

    Motor perstand :

    Power 350 KW

    Speed : 1250 rpm

    C. Prefinishing mill

    Machine : rolling block with cantilevere mounted

    rolls

    Manufacture : DANIELIE & C, S.p.A

  • 31

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Type :

    ESS 380 V/H ( mill stand 11 & 12)

    ESS 330 V/H ( mill stand 13 & 14)

    ESS 280 V/H ( mill stand 15 & 16)

    Rolling rings :

    Material : tungsten carbide /

    cemented carbide

    Roll length : 200, 60 & 45 mm

    Diameter max min : 395 345

    mm; 345 - 295 mm & 292 252 mm

    Lubricant system : Cellar 3 with circulating oil system

    Motor perstand :

    Power 350 KW

    Speed : 1250 rpm

    5. Vertical looper

    Vertical looper berfungsi untuk mengatur besarnya tension (

    tegangan tarik) pada billet yang berada pada stand. Jika tegangan yang

    berada pada stand didepan billet lebih tinggi daripada tension yang ada

    pada stand dibelakang billet maka akan terjadi cobbel yaitu keluarnya

    rollan billet dari groove roller. Namun jika tensionyang ada dibelakang

    billet lebih besar dari ada yang didepan billet maka rollan billet akan

    putus pada saat proses rolling mill. Vertical looper yang terpasang

    sejumlah 4 unit pada mill equipment.

    6. Shear

    Shear berguna untuk memotong material pada kedua ujungnya,

    dikarenakan pada kedua ujung ini telah terjadi penurunan kualitas

    material. Penurunan kualitas material ini terjadi pada ujung bagian

    depan dan ujung bagian belakang, pada ujung bagian depan biasanya

    bentuk hasil rolling kurang begitu baik karena ujung depan merupakan

    bagian yang pertama kali masuk roller mill sehingga pada bagian ini

  • 32

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Gambar 3.8 Shear stand

    struktur deformasi material kurang merata. Sedangkan pada bagian

    belakang, bentuk ujung akan sedikit lebih pipih sebagai akibat sisa

    tegangan yang menjalar pada hasil rolling billet.

    Shear ini juga berfungsi memotong habis rolling billet jika terjadi

    cobbel, sehingga dapat dilakukan maintenance dan tidak mengganggu

    proses produksi. Proses pemotongan oleh shear dilakukan secara

    otomatis dengan sensor foto cell, foto cell akan mensensor kedua ujung

    rolling billet sengan sensor cahaya.

    Shear pada mill equipment berjumlah 3 unit dengan spesifikasi sebagai

    berikut.

    a. Shear 1

    Manufacture : DANIELIE & C. S.p.A

    Machine : Flying crank shear CVB-06

    Type : CVSB

    Function : Pemotongan head dan tail rolled bar dan

    pemotongan darurat rolled bar saat terjadi

    cobble

    Dimension : 2800 mm x 4700 mm x 3000 mm

    Weight : 14000 kg

    Performance :

  • 33

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Maximum cutting diameter : rolls 80

    mm, squares 50 mm

    Minimum temperature of rolled bar :

    800 oC

    Maximum material cold tensile stress :

    80 kg/mm2

    Driving unit :

    DC electric motor : 600 V

    Power : 352 KW

    Base speed : 390 rpm

    b. Shear 2

    Manufacture : DANIELIE & C. S.p.A

    Machine : Flying crank shear CVB-06

    Type : CVSB

    Function : Pemotongan head dan tail rolled bar dan

    pemotongan darurat rolled bar saat terjadi

    cobble

    Dimension : 2800 mm x 4700 mm x 3000 mm

    Weight : 14000 kg

    Performance :

    Maximum cutting diameter : rolls 80

    mm, squares 50 mm

    Minimum temperature of rolled bar :

    800 oC

    Maximum material cold tensile stress :

    80 kg/mm2

    Driving unit :

    DC electric motor : 600 V

    Power : 352 Kw

    Base speed : 390 rpm

  • 34

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    c. Shear 5

    Manufacture : DANIELIE & C. S.p.A

    Machine : Chopping flying shear

    Type : CVR-012-0450

    Function : Pemotongan head dan tail rolled bar dan

    pemotongan crops. Selain itu juga berfungsi mengalihkan

    rolled bar dari rolling line dan pemotongan rolled bar saat

    keadaan darurat

    Dimension : 1250 mm x 800 mm x 1595 mm

    Weight : 14000 kg

    Performance :

    Maximum shearing force : 12 tons

    Rolling speed : 9.7 - 16 m/sec

    Bar section : diameter 12.5 22 mm

    Blade unit :

    Blade holder center distance : 450 mm

    Blades : quatity = 1 + 1, table = 80 mm,

    gap = 0,1 mm+ gear blackslash, crossing

    = 1mm, tightening torque = 59,5 Nm for

    each screw

    Gear reduction ratio : 1 : 1

    Driving unit :

    AC electric motor : 400 V

    Power : 15 KW

    Base speed : 750 rpm with inverter

    Torsion : 190 Nm

    Coupling type : Gear coupling

  • 35

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Gambar 3.9 water cooling box (kanan) dan block mill area (kiri)

    7. Block mill area

    Block mill area adalah block rolling dari stand 17 s/d 26 yang

    merupakan stand finishing mill. Spesifikasi dari block mill yang

    dimiliki oleh pt ispat indo adalah sebagai berikut

    a. Kapasitas

    Produksi berdiameter 5,5 mm sampai dengan 20 mm dan

    kecepatan maksimum rolling billet yang masuk memcapai

    100 m/detik.

    b. Module shaft boxes

    Block mill mempunyai 10 buah metode antara lain:

    a. Mill-200 mempunyai 4 module dengan roll ring

    berdiameter 200 mm, yaitu:

    - Stand 17 dan stand 19, pada posisi shaft horizontal.

    - Stand 18 dan stand 20, pada posisi shaft vertikal

    b. Mill 160 mempunyai 6 module dengan roll ring

    berdiameter 160 mm, yaitu:

    - Stand 21, stand 23, dan stand 25 pada posisi shaft

    horizontal

    - Stand 22, stand 24 dn stand 26 pada posisi shaft

    vertikal

    c. Total ukuran blok mill

    - Panjang : 10,62 meter

  • 36

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    - Lebar : 3,30 meter

    - Tinggi dengan cover tertutup : 3,10 meter

    - Tinggi dengan cover terbuka : 4,60 meter

    d. Rolling mill BGV-200 (stand 17 20 )

    - Diameter maximum : 215.94 mm

    - Diameter minimum : 192 mm

    - Panjang : 83 mm

    - Jarak center maximum : 216 mm

    - Jarak center minimum : 192 mm

    e. Rolling mill BGV-160 (stand 21-26 )

    - Diameter maximum : 166 mm

    - Diameter minimum : 149.5 mm

    - Panjang meja : 62 mm

    - Jarak center maximum : 169.96 mm

    - Jaraj center minimum : 149.08 mm

    f. Electric motor

    - Power : 2000 kw

    - Rotor speed : 0 900 1200 rpm

    - Rotor voltage : 700 volt

    8. Water Cooling Box

    Water Cooling Box merupakan alat yang digunakan untuk

    membantu mendinginkan bar setelah melalui proses rolling pada

    block mill area. Terdapat 2 Water cooling box untuk

    mendinginkan bar.

    9. Turn forming head

    Turn forming head berfungsi untuk membentuk wire rod yang

    memanjang menjadi coil of wire (gulungan kawat berbentuk

    spiral). Cara kerja alat ini adalah dengan memutar wire rod yang

    telah keluar dari block mill kemudian wire rod ini akan masuk

  • 37

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Gambar 3.10 Turn forming head

    ke dalam pipa spiral yang ada didalam mesin yang akan

    membentuk gulungan gulungan kawat.

    3.2.2.3 Collection area

    Collecton area terdiri dari

    1. Colling conveyor

    Colling conveyor berfungsi untuk mentransfer coil kawat baja dari

    turn forming head (TFH) ke filler dan juga untuk menurunkan

    temperature coil kawat baja dengan menggunakan hembusan angin dari

    blower atau pada suhu ruangan. Jumlah blower colling conveyor

    sebanyak 23 buah dengan daya 35 KW, tegangan 415 volt, dan kuat

    arus 71 ampere. Pada colling conveyor terdapat roll dan hood. Hood

    adalah penutup colling conveyor yang digunakan untuk mengatur

    temperature coil kawat baja agar diperoleh struktur mikro yang

    diinginkan. Untuk menutup dan membuka hood yang diperlukan motor

    dengan daya 22 KW, tegangan 415 volt dan kuat arus 50 ampere. Roll

    pada colling conveyor berjumlah 456 unit yang digerakkan oleh 19

    motor.

  • 38

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Gambar 3.11 Colling conveyor

    Spesifikasi cooling conveyor :

    Manufacture : DANIELIE & C. S.p.A

    Machine : Turn cooling conveyor

    Type : TAP 109

    Duty : Mengatur udara pendinginan wire rod

    pada akhir proses rolling

    Mode :

    Rapidly cooled : High carbon steel biasanya diproses

    dengan cara ini untuk mengeleminasi udara atau

    mematenkan timbal (Pb) pada wire rod.

    Slower cooled : Low medium carbon steel bisanya

    menggunakan proses ini untuk meningkatkan sifat

    deformasi dingin

    Total length : Approx. 107,8 meter

    Conveyor rollers : diameter 122 mm, roller center

    distance = 254 mm, speed = 0,05 2,0 m/sec, montion

    transmission : chains type ISO 20-A, control gearmotors :

    no.19 13 KW max 255 rpm 440 V/DC.

    Motor driven fans : Quantity = 23, intake air temperature

    = approx.. 20 C, motor power = 45/15 KW 1000/1500 rpm,

    415 50 Hz.

  • 39

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Gambar 3.13 Trestle dan tilting table

    Gambar 3.12 Easy down fork

    Hood rives motor : Quantity = 30, motor power = 2.2 KW

    9000 rpm, 415 50 Hz.

    2. Easy down fork

    Easy down truck berfungsi untuk menerima gulungan coil kawat

    baja dari colling conveyor, easy down fork bergerak secara vertical

    dan horizontal.

    3. Trestle dan tilitng table

    Tilting table berfungsi untuk menerima dan mentransfer gulungan

    coil kawat baja dari coil conveyor ke hook. Trestle berfungsi untuk

    menampung coil kawat baja dari easy down fork sampai ke hook

    conveyor

  • 40

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    Gambar 3.15 Compacting

    Gambar 3.14 Compacting

    4. Discharge truck

    Discharge truck berfungsi untuk mentrasfer coil kawat baja

    dengan cara mengangkut dari trustle ke hook conveyor dengan

    menggunakan 1 motor yang bekerja secara hidrolik.

    5. Hook conveyor

    Hook conveyor berfungsi untuk menerima coil kawat baja dari

    discharge truck ke compacting untuk diikat. Jumlah hook sebanyak

    36 unit yang pergerakkannya melalui sebuah rel rel yang telah

    dibuat sedemikian rupa dari easy down fork sampai dengan storage

    transfer mengelilingi finishing area.

    6. Compacting

    Compacting berfungsi untuk mengikat gulungan coil kawat baja

    agar menjadi lebih rapat dan rapi dengan 4 ikatan kawat baja. Alat

    ini bekerja dengan sistem hidrolik.

  • 41

    Jurusan Teknik Mesin FTI ITN

    praktek kerja nyata PT ISPATINDO

    7. Storage transfer

    Storage transfer berfungsi untuk mengambil gulungan coil kawat

    baja yang sudah terikat dari hook transfer dan mempersiapkannya

    untuk diambil oleh forklift untuk diletakkan di storage area.