ANALISIS HERMENEUTIKA TEKS PIDATO HAMKA: ISLAM …

of 120/120
ANALISIS HERMENEUTIKA TEKS PIDATO HAMKA: ISLAM SEBAGAI DASAR NEGARASKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwan dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Salah Persyaratan Memeroleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) Oleh: Enny Khurniasari NIM: 108051000002 PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432 H./2013 M.  
  • date post

    25-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of ANALISIS HERMENEUTIKA TEKS PIDATO HAMKA: ISLAM …

‘ISLAM SEBAGAI DASAR NEGARA’
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwan dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi
Salah Persyaratan Memeroleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Oleh:
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
‘ISLAM SEBAGAI DASAR NEGARA’
Untuk Memenuhi Persyaratan Memeroleh
Oleh:
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
HAMKA: ISLAM SEBAGAI DASAR NEGARA”, telah diujikan dalam Sidang
Munaqasah di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 21 Mei 2013. Skripsi ini telah diterima
sebagai salah satu syarat untuk memeroleh gelar sarjana program strata 1 (S.1)
pada bidang Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Ciputat, 21 Mei 2012
NIP: 197009031996031001 NIP: 197108161997032002
Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA Drs. S. Hamdani, MA
NIP: 196212311988031032 NIP: 195503091994031001
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan memeroleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau melakukan hasil penjiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanki yang berlaku Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Menciptakan dasar negara Indonesia amat sulit karena terdiri dari berbagai
macam perbedaan. Para pendiri bangsa ini memiliki perbedaan pemikiran dalam
menetapkan dasar negara. Kelompok pemikiran itu terpecah menjadi nasionalis
muslim dan nasionalis sekuler. Perdebatan pendapat tersebut berpadu pada sidang
Konstituante dari tahun 1956-1959. Dari kelompok Islam Hamka adalah salah
satu pembicara penting dari Masyumi.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah: Apa saja nilai-nilai Islam yang menjadi dasar negara pada
teks pidato Hamka yang berjudul Islam sebagai dasar negara?
Teks pidato Hamka tidak seutuhnya menyebutkan nilai Islam secara jelas
yang dapat dijadikan sebagai dasar negara. Dalam pidatonya lebih banyak
menggunakan analogi, contoh dan simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai
Islam.
kualitatif deskriptif. Sumber data diperoleh melalui dua cara yakni primer, diambil
dari teks naskah pidato Hamka pada sidang Konstituante. Kedua data sekunder
didapatkan dari berbagai sumber literatur yang mendukung.
Adapun metode kualitatif adalah meneliti objek-objek yang tidak dapat
diukur secara eksak atau angka-angka. Penelitiannya bersifat deskriptif berupa
kutipan-kutipan kalimat dan cenderung menggunakan analisis.
Analisis penelitian ini menggunakan teori hermeneutika dari Paul Ricoeur.
Cara kerja hermeneutika ini melalui dua tahap, pertama penjelasan yakni
membedah struktur teks yang disebut dengan semiologi struktural. Tahap kedua
pemahaman yakni memahami teks melalui apropriasi peneliti.
Pidato Hamka mengandung nilai-nilai Islam sebagai dasar negara
adalah:teks pertama manyatakan bahwa nilai keimanan yang berbentuk sikap
nasionalisme merupakan dasar utama yang diungkapkan melalui kalimat Allahu
Akbar; pegertian yang lebih spesifik dari teks pertama tertuang pada teks kedua
yang menyatakan bahwa Islam dan nasionalisme merupakan ideologi; teks ketiga
negara berdasar Islam mengambil hukum dari al-Quran sebagai rujukan utama,
namun non-muslim dan muslim juga dapat menciptakan konsensus untuk mencari
hukum; teks keempat menyatakan bahwa nilai Islam sebagai dasar negara
memberikan garansi kebebasan bagi kaum non-muslim; teks kelima menyatakan
kebebasan melahirkan sistem keadilan.
dijadikan dasar negara oleh Hamka pada pidatonya adalah nilai keimanan,
nasionalisme, hukum al-Quran dan konsensus, kebebasan, dan keadilan.
Kata Kunci: Hermeneutika, Islam, Dasar Negara, Konstintuante, Hamka.
 
KATA PENGANTAR
Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas janji-janji Mu yang
terbukti dan selalu coba penulis buktikan, atas nikmat-nikmat Mu yang tak pernah
Kau syaratkan, atas kesempatan yang Engkau berikan pada manusia untuk
menciptakan peradaban di bumi meski Engkau didebat oleh malaikat-malaikat
Mu. Sembah sujud atas segala kesombongan yang pernah terlintas pada diri
penulis, karya ini tidak sampai secuil ilmu yang penulis dapatkan dari Sang Maha
Berilmu. Alhamdulillah.
Serta kepada kekasih Mu, Muhammad Saw yang tidak pernah mengiba
dengan segala kesulitan yang ia hadapi saat mendakwahkan agama Mu. Rindu
syafaatmu duhai kekasih Sang Pencipta tetap berada pada urat nadi ini.
Setelah berdebat dengan diri sendiri bahwa hakikat mencari ilmu bukanlah
urusan waktu, akhirnya dengan kesabaran itu karya ini menjadi sebuh tongkat
estafet eksistensi ilmu. Meski penulis sadari, karya ini belum mencapai
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis membuka dengan lebar kritik dan saran
para pembaca.
Penulisan karya ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk
itu penulis ucapkan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi sekaligus
pembimbing penulis, Dr. Arif Subhan, MA. Telah berbagi pandangan dan
pemikiran aplikatif dan filosofis meskipun diberikan secara singkat. Pudek
I Drs. Wahidin Saputra, MA, Pudek II Drs. Mahmud Jalal, MA, Pudek III
Drs. Studi Rizal LK, MA.
 
iii
2. Ketua dan Sekretaris Jurusan Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Drs.
Jumroni, M.Si, Ibu Umi Musyarofah, MA.
3. Terima Kasih kepada jajaran dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi, atas kontribusi, memberikan pandangan, motivasi, dan tentu
ilmunya selama ini.
perpustakan Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, perpustakaan Sekolah
Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, perpustakaan Universitas
Budi Luhur, perpustakan Universitas Indonesia, dan perpustakan
Nasional.
5. Kepada orang tua penulis, Bapak H.Bari yang tidak henti menyebutkan
nama penulis disetiap sujudnya. Serta kepada Mamak Misrini yang
diberikan waktu sembilan tahun oleh Tuhan untuk menemani penulis,
semoga Allah mengampuni dosanya. Terima kasih atas pelajaran
kesederhanaan, pelajaran penganalogian dan pelajaran demokrasi.
6. Terima kasih kepada keempat kakak penulis beserta keluarga, yang tak
lain menjadi tempat meletakkan kejenuhan. Menjadi orang-orang terdepan
saat penulis tak mampu memopang ketika kehidupan tidak setuju dengan
idealisme.
7. Kepada sahabat-sahabat KPI A 2008 yang melukis sejarah kehidupan
penulis dengan tinta pemikiran, ideologi, ambisi, mimpi, marah, malu,
takut, tidak percaya diri, pemberani, malas, rajin, pujian, hinaan,
bertanggungjawab, apatis, keteguhan, pemberontakan adalah seperti
tumpukkan dokumen yang menjadi mata kuliah berharga bagi penulis.
 
8. Terima kasih kepada Asia Moslem Charity Foundation telah memberikan
kesempatan penulis untuk belajar tanpa persyaratan materil serta teman-
teman satu tapak perjuangan.
9. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang membantu
yang tidak dapat disebutkan satu persatu, seluruh bantuan dari berbagai
pihak tetap terpatri tanpa tinta.
Ciputat, 20 Mei 2012
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
B. Batasan dan Rumusan Masalah .............................................................. 5
C. Tujuan Penelitian..................................................................................... 6
G. Sistematika Penulisan ............................................................................. 14
A. Komunikasi ........................................................................................... 16
1. Pengertian ........................................................................................ 23
3. Distansi Teks ................................................................................... 26
E. Wacana Pancasila Sebagai Dasar Negara ..................................................... 32
F. Wacana Negara Islam ................................................................................... 33
BAB III GAMBARAN UMUM ............................................................................. 38
A. Biografi Hamka .................................................................................... 38
B. Karya-karya Hamka ............................................................................. 43
C. Sidang Konstintuante ........................................................................... 45
D. Gambaran Umum Pidato Hamka : Islam Sebagai Dasar Negara ....... 47
E. Kronologi Lahirnya Pancasila ............................................................. 51
BAB IV ANALISIS DAN TEMUAN DATA ........................................................ 52
A. Teks Pidato Hamka Sebagai Wacana ................................................... 52
B. Penjelasan dan Pemahaman .................................................................. 52
1. Teks Pertama .................................................................................. 52
1.2. Pemahaman dengan Apropriasi ............................................ 55
2. Teks Kedua ..................................................................................... 60
2.2. Pemahaman dengan Apropriasi ............................................ 62
3. Teks Ketiga ..................................................................................... 65
3.2. Pemahaman dengan Apropriasi ........................................... 66
4. Teks Keempat ................................................................................. 69
4.2. Pemahaman dengan Apropriasi .......................................... 70
5. Teks Kelima .................................................................................... 73
5.2. Pemahaman dengan Apropriasi ............................................ 74
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .......................................................................................... 77
B. Saran .................................................................................................... 78
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 80
Landasan itu dibangun berdasarkan pemikiran, fondasi, jiwa, dan hasrat
mendalam yang lahir melalui proses pemikiran panjang. Kemudian
dipegang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Indonesia
memplokamirkan kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sebagai negara yang
merdeka sudah sepatutnya memiliki landasan guna menyatukan bangsa
yang majemuk dan menunjukkan jati diri bangsa.
Seperti yang kita ketahui, landasan bangsa Indonesia adalah
Pancasila. Setiap 1 Juni diperingati sebagai hari Pancasila, mengenang
pidato Soekarno di depan sidang BPUPKI (Badan Penyidik Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia). 1 Di balik gegap gempita peringatan
tersebut, terselip perhatian peneliti bagaimana proses terbentuknya
Pancasila. Secara empiris Pancasila tidak serta merta lahir secara
“normal”, proses terbentuk dan lahirnya melewati perdebatan cukup
panjang dan keras pada subtansi maupun implementasi.
Setelah Pancasila disepakati pada sidang BPUPKI, isu sensitif
mengenai ideologi negara muncul kembali ketika Soekarno berpidato di
Amuntai pada 27 Januari 1953. Soekarno secara terang-terangan
mempropagandakan Pancasila sebagai ideologi pemersatu dan menentang
1 A.M.W Pranarka, Sejarah Pemikiran Tentang Pancasila (Jakarta: Centre For
Strategic and International Studies, 1985), h. 52.
 
Islam. 2 Akibatnya para tokoh agama gusar dan khawatir mengenai
ideologisasi tersebut.
sidang Konstituante sebagai upaya permusyawarahan pembentukan
undang undang dasar menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara. 3
Babak ini menjadi babak fundamental bagi perjalanan hukum Islam di
Indonesia selanjutnya. Salah satu dari topik pembahasan sidang tersebut
adalah mengenai dasar negara. Pada pembahasan ini menemui banyak
kendala, terjadi perbedaan argumen antar masing-masing kelompok.
Konflik ideologi tersebut terungkap secara jelas, dikotomi yang
paling kentara adalah Nasionalis-Sekuler dengan Nasionalis Muslim. 4
Partai-partai berbasis Islam menawarkan Islam sebagai dasar negara,
sedangkan kelompok nasionalis bersikukuh mempertahankan Pancasila
sebagai dasar negara. Ideologi Barat Modern Sekuler tampak dari
pendapatnya yang menginginkan sosial ekonomi sebagai dasar negara
serta menolak Pancasila maupun Islam sebagai dasar negara. Ideologi
kebangsaan mempertahankan Pancasila. Perpecahan ideologi ini dikenal
dengan Ideologi Tripolar. 5
Percaturan politik ini menimbulkan perdebatan yang tidak dapat
dielakkan. Masing-masing kelompok saling menyerang usulan yang dalam
pandangan mereka tidak cocok untuk dijadikan ideologi negara.
2 As’ad Said Ali, Negara Pancasila: Jalan Kemashlahatan Berbangsa (Jakarta:
Pustaka LP3ES, 2009), h. 169. 3 Ibid,. h. 171.
4 Faisal Ismail, Ideologi Hegemoni dan Otoritas Agama (Yogyakarta: Kreasi
 
sentimen keagamaan, mendominasi perdebatan politik dalam Sidang
Konstituante.
terdepan dalam mengkampanyekan Islam sebagai ideologi bagi negara
Indonesia. Untuk mencapai cita-cita tersebut, golongan ini menginginkan
Islam sebagai dasar negara dan menyerukan penolakan terhadap paham
Komunis. Salah satu tokoh utama yang berpidato mewakili Masyumi pada
sidang Konstituante adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih
dikenal dengan nama Hamka. Beliau berkesempatan menyampaikan
pidatonya yang berisi sebuah tawaran Islam untuk dijadikan sebagai dasar
negara.
berbagai bidang ilmu keislaman mulai dari hadits, akidah, filsafat, fiqh,
tasauf, sastra, kebudayaan Islam, tafsir. Karya monumental beliau adalah
Tafsir Al-Azhar yang sebagian penelitiannya diselesaikan ketika beliau
ditahan pada masa Orde Lama. Secara umum Hamka di samping dikenal
sebagai seorang ulama, pujangga, sejarawan, jurnalis dan sastrawan.
Beliau juga dikenal sebagai organisator, yang memangku jabatan-jabatan
seperti ketua bagian Taman Pustaka, Ketua Tabligh Muhammadiyah,
Majelis Pimpinan Muhammadiyah. Hingga akhirnya dipercaya sebagai
ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1975 hingga 1981. 6
6 Herry Mohammad, dkk., Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20
(Depok: Insani Press, 2006), h. 97.
 
sebagai federasi dari empat organisasi Islam yakni Nahdatul Ulama (NU),
Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam
Indonesia dan Hamka menjadi anggotanya. 7
Pidato Hamka mengandung berbagai macam gaya yang diracik
menjadi sebuah argumen, sindirin, keyakinan, harapan. Gaya bahasa ini
tentu dipengaruhi cara berfikir Hamka, yang dikenal sebagai seorang
ulama besar dan kaya dengan berbagai disiplin ilmu. Retorika pada pidato
adalah salah satu cara guna memengaruhi pemikiran orang lain, dimana
pesan menjadi hal penting. Pesan-pesan dalam pidato Hamka bukan
semata-mata untaian kalimat biasa, keseluruhan pidato tersebut
mengandung sejarah, pantun, dalil, analogi, yang keseluruhannya
mengandung pesan. Namun, pada tiap bait kalimat yang beliau sampaikan
tidak seluruhnya mengandung nilai Islam sebagai dasar negara. Oleh
karena itu peneliti tertarik mencari pesan yang mengandung nilai-nilai
Islam sebagai dasar negara menurut konsep Hamka.
Penelitian ini dimaksudkan mencari nilai yang seperti apa yang
ditawarkan Hamka melalui pidatonya pada saat sidang Konstituante.
Karena berpidato adalah salah satu bentuk komunikasi, penggunaan
bahasa dalam komunikasi merupakan bentuk simbol-simbol yang
7 Ibid,. h. 64.
simbol-simbol tersebut.
mengkreasi dan menstruktur berdasarkan penafsiran subjektif, dalam arti
peneliti berinteraksi langsung dengan teks tanpa pengarang. Interaksi
melalui hermeneutika, yang memberi ruang bagaimana konstruksi pesan
dilakukan. Sehingga bahasa dalam pidato tersebut menjadi kunci utama
dalam pencarian nilai-nilai Islam yang ditawarkan Hamka. Oleh karena itu
penelitian ini berjudul “Analisis Hermeneutika Teks Pidato Hamka:
Islam Sebagai Dasar Negara.”
1. Batasan Masalah
November 1957 di Bandung. Fokus yang akan diteliti adalah nilai-nilai
Islam dalam pidato tersebut dilihat dari perspektif hermeneutika Paul
Ricouer.
dirumuskan dalam pertanyaan mayor dan minor:
1. Apa saja nilai-nilai Islam yang menjadi dasar negara pada teks
pidato Hamka yang berjudul Islam sebagai Dasar Negara?
 
peneliti pada teks pidato Hamka yang berjudul Islam sebagai
Dasar Negara?
Hamka yang berjudul Islam sebagai Dasar Negara?
C. Tujuan Penelitian
untuk mengetahui makna nilai-nilai Islam sebagai dasar negara pada
naskah pidato Hamka Islam Sebagai Dasar Negara pada sidang
Konstituante.
hermeneutika sebagai metode penelitian komunikasi, khususnya
komunikasi pesan. Serta aplikasinya terhadap proses interpretasi dan
pemahaman teks.
negara, serta nilai-nilai Islam yang ditawarkan sebagai dasar negara
yang termaktub pada naskah pidato Hamka.
 
Universitas Indonesia, Perpustakaan ISIP Jakarta, dan Perpustakaan
Universitas Budi Luhur. Berdasarkan penelusuran tersebut peneliti
menemukan beberapa penelitian tentang hermeneutika yang
dipergunakan sebagai metodologi untuk meneliti ideologi.
Penelitian yang berkaitan langsung dengan hermeneutika dan
Pancasila dilakukan oleh Leo Budiman, Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Budi Luhur tahun 2010, dengan judul “Pancasila Menurut
Soekarno (Analisis Hermeneutika Wilhem Dilthey pada Pidato Lahirnya
Pancasila 1 Juni 1945).” Pada penelitian ini mengeksplorasi teks pidato
Soekarno untuk mencari konsep Pancasila melalui teks tersebut memakai
hermeneutika Wilhem Dilthey, memahami teks dengan menggunakan
autobiografi Soekarno. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
konsep Pancasila yang diusung Soekarno merupakan hasil penggalian
terhadap kebudayaan bangsa Indonesia sejak masa kejayaan Sriwijawa
dan Majapahit.
hermeneutika dilakukan oleh Dr. Solatun Ibnu Muhammad Djamil
dalam tesisnya yang berjudul “Islam dan Etika Komunikasi”. Magister
Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran bandung tahun 1999.
 
buku yang berjudul Metode Penelitian Komunikasi. Penelitian ini
mengeksplorasi teks-teks Al-Qur’an menggunakan teknik hermeunitik
dengan fokus penelitian komunikasi antaragama. Hasil dari penelitian ini
menemukan pendekatan etis dalam komunikasi antaragama menurut
sudut pandang Islam tekstual, merupakan suatu pendekatan dengan mana
orang-orang berbeda agama saling berkomunikasi dalam segala urusan
dan menjadikan dasar etikalitas sebagai takaran yang menunjukkan
derajat komunikasi yang etis atau tidak etis.
Komunikasi antaragama etis jika isi pesan yang disampaikannya;
metode penyampaiannya; argumen pendukungnya; cara komunikator
mengekspresikan seluruh sikap personalnya; pengaruh yang ditimbulkan
pada lawan komunikasi yang berbeda agama yaitu ditimbulkannya rasa
simpatik, senang, bersahabat, dan hormat.
Penelitian yang mengaitkan hermeneutika dengan wacana
feminisme dilakukan oleh Fitria Lestari Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Budi Luhur dengan judul “Wacana Feminisme dalam Novel
Ayu Manda (Studi Analisis Hermeneutika).” Metode penelitian ini
menggunakan Hermeneutika dari Paul Ricoeur. Hasil penelitian yang
diperoleh adalah novel ini menggambarkan bagaimana budaya patriarki
telah melahirkan ketidakadilan gender terhadap perempuan, serta posisi
perempuan Bali yang direpresentasikan lewat tokoh utama yakni Ayu
Manda.
Cina-Jawa” skripsi yang ditulis oleh Lisa Andriani Fakultas Ilmu
Komunikasi Budi Luhur tahun 2009. Penelitian ini juga menggunakan
teori representasi Hermeneutika Wilhelm Dilthey, dengan pendekatan
kualitatif dan metode etnografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa Kedai Tiga Nyonya merepresentasikan budaya sesuai dengan
riwayat hidup pemilik kedai. Kedai ini membentuk ruang-ruang sosial
dan simbolik, sebagai sebuah “ruang” yang menjadi refleksi dari
perancang dan masyarakat yang hidup di dalamnya.
Dari beberapa tinjauan penelitian terdahulu berbeda dengan
penelitian ini, menggunakan naskah pidato Hamka yang berjudul Islam
Sebagai Dasar Negara sebagai subjek penelitian. Serta menggunakan
hermeneutika dari Paul Ricoeur sebagai teknik penelitian untuk mencari
nilai-nilai Islam sebagai dasar negara yang terkandung pada naskah
tersebut.
komunikasi yakni paradigma interpretif. Pandangan dasar perspektif
ini bahwa kebenaran itu bukan realitas tunggal, melainkan jamak.
Paradigma ini mewarnai penelitian komunikasi melalui beberapa
prinsip dasar, yakni: “(1) pengalaman subjektif (2) kreasi intersubjektif
 
dalam makna (3) pemahaman sebagai tujuan akhir dalam riset sosial,
dan (4) hubungan antara yang tahu dan yang diketahui” 8
Perlu ditekankan pada prinsip yang ketiga sebagai tujuan akhir dari
penelitian paradigma interpretif adalah pemahaman bukan generalisasi.
Demikian pula dengan penelitian ini terarah di jalan paradigma
interpretif. Teks yang diteliti akan melahirkan makna pemahaman
melalui intersubjektif.
terdahulu dan sumber-sumber literatur yang menunjang penelitian ini. 9
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, yakni metode
yang menyelidiki objek-objek yang tidak dapat diukur secara eksak.
Penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang bersifat
deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Conny R. Semiawan
menyatakan penelitian kualitatif adalah mencari pengertian yang
mendalam tentang suatu gejala, fakta atau realita yang tidak dapat
dipahami bila peneliti menelusuri hanya terbatas pada permukaan
saja. 10
8 Elvinaro Erdianto dan Bambang Q-Anees, Filsafat Komunikasi (Bandung: Simbiosa
Rekatama Media, 2007), h. 137. 9 M. Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 2002), h. 11. 10
Conny R. Semiawan, Metode Penelitian Kualitatif Jenis, Karakteristik dan
Keunggulannya (Jakarta: Raja Grasindo, 2001), h. 1-2.
 
yakni suatu metode untuk menafsirkan simbol-simbol berupa teks atau
sesuatu yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari arti dan
maknanya (dalam hal ini teks yang dimaksud adalah pidato Hamka).
Metode penelitian komunikasi hermeneutika memiliki dua jenis, yaitu
hermeneutika sebagai perangkat memahami teks (text hermeneutics)
dan hermeneutika sebagai perangkat memahami kebudayaan
hermeneutika sosial (social/cultural hermeunitics). Adapun penelitian
ini menggunakan text hermeunitics, teks dipahami sebagai setiap
artefak yang dapat diteliti dan diinterpretasi. 11
Melalui analisis hermeneutika, tentu teks-teks yang menjadi subjek
penelitian bersifat polisemis, yaitu mengandung banyak makna
bergantung pada peneliti dengan latar belakang budayanya. Pada
penelitian ini menggunakan metode hermeneutika Paul Ricoeur untuk
menjelaskan nilai-nilai Islam pada naskah Pidato Hamka Islam
sebagai Dasar Negara.
sebagai berikut:
penelitian hermeneutika, melalui semiologi struktural yang mencoba
membedah struktur-struktur intern teks, tanpa melihat hubungan pada
dunia yang ada diluar teks. Peneliti berusaha menginterpretasikan teks
11
Stephen W. Littejohn dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi (Jakarta: Salemba
Humanika, 2008), h. 193.
maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif sebagai prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kutipan-kutipan
kalimat.
analisis dengan melihat rujukan yang ada diluar teks yang disebut
sebagai makna kontekstual yang didapatkan melalui apropriasi.
Pemahaman sepenuhnya diperantai oleh seluruh prosedur penjelasan
yang mendahului dan mengiringinya. 12
3. Kerangka Pemikiran
Supaya penelitian ini lebih terarah serta mudah dipahami, di bawah
ini merupakan gambaran kerangka pemikiran peneliti:
Diagram 1: Kerangka Pemikiran
Kreasi Wacana, 2006), h. 293.
Teks Pidato Hamka sebagai Wacana
Dunia Internal Teks
Penjelasan 'Semiologi Struktural'
data yang dapat mendukung dan memperkuat hasil penelitian. Peneliti
menggunakan dua macam teknik, yaitu:
1. Data Primer
pada sidang Konstituante tanggal 12 November 1957 di Bandung, dan
telah dibukukan dengan judul Tentang Dasar Negara Republik
Indonesia dalam Sidang Konstituante. 13
2. Data Sekunder
kepustakaan (library research), pengumpulan data melaui sumber-
sumber bacaan dari berbagai literatur seperti teks-teks, buku, artikel,
majalah, yang berkaitan dengan penelitian serta mendukung proses
penelitian ini.
deskriptif yakni data yang dikumpulkan adalah berupa kata, kalimat, atau
teks, dan menggunakan pendekatan kualitatif. Selain itu, semua yang
dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap suatu yang
13
Tentang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Konstituante Jilid III (T.tp, T.pn,
1958), h. 56-79.
data dan pengolahan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan
tersebut.
lingkaran hermeunitik Ricoeur. Penjelasan berarti dekonstektualisasi atau
analisis secara bahasa. Kemudian pada pemahaman atau kontekstualisasi
yang merupakan analisis dengan melihat rujukan yang ada di luar teks.
Pemahaman sepenuhnya diperantai prosedur penjelasan yang mendahului
dan mengiringinya.
verbal yang tersembunyi tentang nilai-nilai Islam sebagai dasar negara
dalam naskah pidato Hamka. Sebelum peneliti melakukan analisis,
pertama yang peneliti lakukan adalah mengorganisasikan data berupa
potongan bait atau paragraf yang mengandung nilai-nilai Islam sebagai
dasar negara menjadi suatu data yang dapat dikelola. Kemudian peneliti
mengumpulkan data sekunder yang menjadi bahan analisis berikutnya
sebagai upaya kontekstualisasi pada tahap analisis pemahaman.
G. Sistematika Penulisan
14
 
hingga lima bab, dengan sistematika terdiri dari:
Bab 1 yaitu Pendahuluan merupakan penjelasan dari latar belakang
permasalahan penelitian skripsi ini. Didalamnya juga dijelaskan batasan
dan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan
pustaka, metodologi penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis
data, dan terakhir sistematika penelitian.
Bab 2 berisi tentang Kajian Teori yang menguraikan tentang
Pengertian Komunikasi, uraian singkat mengenai retorika, Pancasila
sebagai dasar negara, dasar negara berasaskan Islam, penjelasan mengenai
hermeneutika serta perkembangannya, hermeneutika dalam komunikasi,
serta hermeneutika Paul Ricoeur.
gambaran umum pokok penelitian ini yaitu pidato Hamka Islam Sebagai
Dasar Negara, dan yang terakhir adalah gambaran kronologis lahirnya
Pancasila.
Bab 4 Pembahasan dan Analisis Data. Pada bab ini terdiri
membahas analisis lingkaran hermeneutika Paul Ricouer yang terdiri dari
analisis struktural sebagai upaya dari penjelasan, dilanjutkan pada proses
pemahaman melalui apropriasi.
Bab 5 kesimpulan dan saran akan menjadi butir-butir pada bab
kelima sebagai penutup.
berpangkal dari kata Latin communicatio, yang berasal lagi dari kata
communis memiliki arti “sama makna”. Jadi komunikasi adalah proses
pertukaran pesan yang menimbulkan atau memiliki efek sama makna
antara sumber dan penerima begitu pula sebaliknya. 1
Berbeda dengan pemikiran Frank Dance yang dijabarkan oleh
Littlejohn, memilih tidak mendefinisikan komunikasi secara kolektif.
Frank menjadikan tiga poin penting yang membentuk dimensi dasar
komunikasi:
komunikasi bagian ini bersifat luas dan bebas. Sebagai contoh definisi
komunikasi yang umum yakni “...Komunikasi sebagai proses yang
menghubungkan bagian-bagian yang terputus...”. Definisi lain yaitu
“...Komunikasi sebagai sistem, semisal telepon untuk menyampaikan
informasi...” definisi ini bersifat terbatas. 2
Kedua, berkenaan dengan tujuan. Berikut definisi komunikasi
hanya memasukkan pengiriman dan penerimaan pesan dengan maksud
tertentu, “...Situasi-situasi tersebut merupakan sebuah sumber yang
mengirimkan sebuah pesan kepada penerima dengan tujuan tertentu
1 Onong Uchjana, Komunikasi Teori dan Praktek (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007),
h. 9. 2 Stephen W. Littejohn dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi (Jakarta: Salemba
Humanika,2008), h. 4.
proses menyamakan dua atau beberapa hal mengenai kekuasaan
terhadap orang atau beberapa orang...” 3
Ketiga, penilaian normatif yang membedakan definisi
komunikasi. Pada bagian ini definisi yang menyatakan pernyataan
keberhasilan, keefektifan atau ketepatan. Definisi yang tidak
mencantumkan secara lengkap. Sebagai contoh “...Komunikasi
merupakan pertukaran pikiran atau gagasan...” Asumsi definisi ini
komunikasi terjadi apabila pikiran dan gagasan telah tertukarkan.
Selain itu definisi yang tidak menilai tentang hasil adalah:
“...Komunikasi adalah penyampaian informasi...” Asumsinya
informasi tersampaikan tidak penting diterima atau dipahami. 4
2. Unsur-Unsur Komunikasi
pertanyaan berikut ini, maka unsur komunikasi terjawab: Who, Says
What, in Which Channel, To Whom, With What Effect? 5
Paradigma Laswell tersebut menunjukkan bahwa komunikasi
memiliki lima unsur, yakni:
b. Pesan (message)
c. Media (channel)
 
perasaan oleh seseorang kepada orang lain. Pikiran dapat berupa
gagasan, informasi, opini, dan lain-lain. Perasaan dapat berupa
keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan,
kegembiraan, dan lain sebagainya. 6
B. Hermeneutika
1. Pengertian
hermeneuein yang berarti menafsirkan. Benny H. Hoed
mendefinisikan hermeneutika sebagai:
teks. Oleh karena itu, hermeneutika bersifat polisemis karena
cakrawala pemahaman dan latar belakang pembaca berbeda-
beda.” 7
menerjemahkan pesan-pesan dari dewa di Gunung Olympus ke dalam
6 Ibid., h. 11.
7 Benny, H. Hoed, Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya (Depok: Komunitas Bambu,
2011), h. 92.
dimengerti pendengarnya. 8
utamanya tradisi Kristiani. Namun hermeneutika sendiri berasal dari
bahasa Yunani, beberapa abad sebelum menjelma menjadi kata Latin
di dunia Barat pada abad pertengahan. Dalam buku Hermeneutika
Teori Baru Mengenai Interpretasi, Richard Palmer mengemukakan
enam definisi modern hermeneutika:
pemahaman linguistik; (4)Metodologisgeisteswissenschaften
seni, aksi, dan tulisan manusia); (5) Fenomenologi eksistensi
dan eksistensial; (6) Sistem interpretasi baik reloktif maupun
iconoclastic. 9
atau eksegesis Bibel, pelopornya adalah J.C. Dannhauer. Teori ini
merujuk pada prinsip-prinsip interpretasi Bibel, dan hal tersebut
memasuki penggunaan modern sebagai suatu kebutuhan yang muncul
dalam buku-buku yang menginformasikan kaidah-kaidah eksegesis
kitab suci.” 10
bahwa metode interpretasi yang diaplikasikan terhadap Bibel juga
8 Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif (Jakarta: Raja Grafindo, 2003), h. 23.
9 Richard Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Penerjemah Husnur
Hery dan Damanhury Muhammed (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003) cet. ke-1, h. 38. 10
Ibid., h. 39.
oleh perkembangan rasionalisme.” 11
Hermeneutika berubah menjadi teori pemahaman atas dasar linguistik.
Hermeneutika menjadi modal untuk semua interpretasi teks, yang
prinsipnya dapat digunakan berbagai jenis interpretasi teks.
Hermeneutika ini menyatakan bahwa sebuah teks yang dihadapi tidak
sama sekali asing dan tidak sepenuhnya biasa bagi penafsir.
Keasingan suatu teks diatasi dengan membuat rekonstruksi imajinatif
atas situasi dan kondisi pengarang. Hermeneutik ini juga dapat
dikatakan sebagai, sejumlah kaidah dan berupaya membuat
hermeneutika sistematis-koheren, sebagai ilmu yang mendeskripsikan
kondisi-kondisi pemahaman dalam suatu dialog.” 12
Keempat, “hermeneutika geisteswissenshacften yaitu semua
disiplin yang dapat memfokuskan pada pemahaman seni, aksi, dan
tulisan manusia. Hermeneutika difungsikan sebagai interpretasi
ekspresi manusia, apakah itu hukum, sastra, maupun kitab suci yang
membutuhkan tindakan historis. Pelopornya adalah Wilhelm Dilthey
yang mengarahkan hermeneutika sebagai ilmu humaniora.” 13
Kelima, “hermeneutika sebagai fenomenologi eksistensi dan
eksistensial, pada konteks ini mengacu pada ilmu interpretasi teks bagi
geisteswissenschaften, penjelasan pada fenomenologisnya tentang
keberadaan manusia itu sendiri. Hermeneutika ini difungsikan sebagai
11
melalui bahasa.” 14
dengan cara menghilangkan segala misteri yang menyelimuti simbol,
yaitu dengan membuka selubung yang menutupinya. Tokohnya adalah
Paul Ricoeur yang berusaha menarik hermeneutika ke wilayah
penjelasan dan pemahaman teks. Teks sebagai penghubung bahasa
isyarat dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup
hermeneutik karena bahasa oral (ucapan) dapat dipersempit.” 15
Definisi di atas merupakan pergeseran dari hermeneutika klasik ke
hermeneutika modern. Dalam hal ini sama dengan istilah Ricouer
yang menyebutnya “...upaya regional sebagai memaksudkan
hermeneutika yang “baru” ke wilayah tertentu...” Gerakan ini
mengangkat hermeneutika regional kepada hermeneutika universal,
atau disebut dengan de-regionalisasi. 16
Objek kajian hermeneutika adalah teks, hermeneutik tidak
membatasi pada pemaknaan teks tertulis, tapi juga segala sesuatu yang
terekam, baik secara tulisan, elektronik, fotografi, dan lain lain. Teks
merupakan hasil atau produk praktis bahasa. Oleh karena itu,
hubungan antara teks dan bahasa sangat dekat. Sebagai perangkat
interpretasi, tentunya hermeneutik merambah ke beberapa disiplin
14
 
komunikasi.
Mikro menyatakan bahwa:
bagaimana kita memperlakukan fenomena komunikasi. Lebih lanjut
bahwa dengan menggunakam metode hermeneutik, maka fenomena
komunikasi diperlakukan sebagai teks. Sehingga penelitian
komunikasi merupakan fenomena komunikasi yang direncanakan.
Dengan demikian, dengan lensa hermeneutik akan tampak bahwa
proses interpretasi dalam penelitian merupakan kegiatan yang
melibatkan telaah terhadap teks yang lebih luas.” 17
Selain itu ilmuwan komunikasi Littlejohn membagi tradisi-tradisi
komunikasi dan memasukkan hermeneutik menjadi salah satu tradisi
dalam penelitian pesan. 18
Elvinaro dan Bambang mengungkapkan pentingnya hermeneutika dalam
penelitian komunikasi dapat diringkas menjadi beberapa sentral:
Pertama, bahwa hermeneutika muncul sebagai bentuk upaya
mencari tahu lebih dari penjelasan, oleh karena itu “...Hermeneutika
menegaskan pentingnya sebuah pemahaman sebagai sebuah oposisi dari
penjelasan...”. Kedua, peristiwa-peristiwa yang terjadi secara sosial
merupakan objek kajian penelitian “...Hermeneutika menekankan konsep
sentral teks dan berusaha meyakinkan bahwa pelbagai perilaku objek-
objek yang terbentuk dalam kehidupan sosial dapat dimaknai sebagai
17
Cendekia, 2002), h. 156. 18
Lihat Stephen W. Littejohn dan Karen A. Foss dalam bukunya Teori Komunikasi
memasukkan teori hermeneutika dalam ilmu komunikasi.
 
Lebih lanjut Elvinaro juga menjelaskan bagaimana hermeneutika
mewarnai kajian komunikasi dilihat dari segi ontologi, epistimologi, serta
aksiologi:
sebagai ilmu yang dapat menjawab kemampuan hermeneutika dalam
komunikasi. Secara ontologi kebanyakan teoritisi interpretatif
menyoroti gagasan bahwa realitas tidak akan bisa dimengerti tanpa
mempertimbangkan proses sosial dan mental yang terus menerus
membangun realitas tersebut. Implikasi ini mengarah pada segi
epistemologi yang mengajukan dasar epistemologi subjektif. Karena
tidak ada hukum universal yang bisa dijadikan kesimpulan mengenai
dunia sosial. Realitas itu diciptakan melalui pemahaman yang
dicapai dari pandangan pelaku realitas tersebut. Untuk mendapatkan
pemahaman ini, para pakar interpretatif mencoba mengurangi jarak
antara subjek yang meneliti dan objek pengetahuan. Sementara
pada term aksiologi dapat diambil kesimpulan bahwa teorisi
interpretatif menjauhkan diri dari dugaan bahwa realitas sosial dapat
dipisahkan dari nilai-nilai subjek peneliti.” 20
Sederhananya menurut penulis metode hermeneutika
menyanggah asumsi positivistik yang menganggap bahwa peneliti
dapat objektif.
19
Rekatama Media, 2007), h. 131-135. 20
Ibid., h. 138-139.
untuk membongkar lipatan-lipatan dari tingkat makna yang terkandung
dalam lipatan-lipatan teks. Teks sendiri menurut Ricoeur adalah
sebuah wacana yang dibakukan lewat tulisan. Melalui wacana ini teks
bukan susunan tanda bahasa yang membentuk pengertian, tetapi
merupakan sebuah simbol yang memiliki makna dan intensi yang
tersembunyi. 22
asumsi-asumsi dasarnya yang terdiri dari: cakrawala, distansi teks,
dialektika menjelaskan dan memahami. Namun sebelumnya yang perlu
diketahui adalah makna teks menurut Ricouer.
2. Teks dan Cakrawala Teks
Hal yang paling dasar teori hermeneutika Ricouer adalah
pandangannya mengenai teks dan konsep tentang distansi teks. Teks
pada dasarnya bersifat otonom. Otonomi teks ada tiga macam, yaitu
intensi pengarang, situasi kultural dan kondisi pengadaan teks, dan
kepada siapa teks ditujukan. Seperti yang telah disinggung di atas
bahwa teks adalah wacana yang dibakukan lewat tulisan. Apa yang
dibakukan lewat tulisan adalah wacana yang dapat diucapkan. Sebuah
teks baru menjadi teks apabila membubuhkan apa yang dimaksudkan
oleh sebuah wacana ke dalam huruf-huruf tertulis. 23
Wacana adalah sebuah peristiwa yang memiliki makna, peristiwa
artinya wacana yang direalisasikan waktu dan masa kini. Jika tanda
21
Ibid., h. 220. 23
leksikal adalah unit dasar bahasa, maka kalimat adalah unit dasar
wacana. Lalu apa yang dibakukan oleh tulisan adalah bukan ujaran
atau speaking, melainkan yang diujarkan atau maksud dari ujaran
tersebut, dimana yang diujarkan dapat dipahami sebagai intensional
yang membentuk tujuan wacana. 24
Lalu yang membedakan makna tulisan dengan makna ucapan yang
dianggap sebagai teks adalah bahwa ucapan merupakan hubungan
dialogis interlokutor yakni antara komunikator dengan komunikan dan
sebaliknya. Sedangkan tulisan yang dianggap sebagai teks, tidak
menempati posisi dialogis antara penulis dengan pembaca, melainkan
antara teks dengan pembaca. Karena pembaca tidak melakukan dialog
dengan penulis. 25
cakrawala. Setiap orang memiliki cakrawala yang berbeda yang
dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang terbentuk dalam
perjalanan hidupnya. Begitu pula dengan teks yang memiliki
cakrawala sendiri terlepas dari intensi pengarang. Artinya teks
memiliki dunianya sendiri. Argumen Ricouer ini sejalan dengan apa
yang dikatakan oleh Ferdinand de Saussure, bahwa ucapan (parole)
merupakan pengejawantahan dari bahasa (langue). Oleh karena itu apa
24
yang dikatakan teks lebih penting dari pada apa yang ingin
disampaikan oleh pengarangnya.” 26
pengalaman yang telah dialaminya akan menentukan pemaknaan
terhadap sesuatu yang terjadi. Hal ini adalah wujud kesadaran atau
juga dapat disebut sebagai bagian dari cakrawala. Jadi dapat dibedakan
teks memiliki cakrawala sendiri yang menghadirkan dunia historis
teks, dan cakrawala pembaca berisi segala informasi, pengetahuan,
serta prasangka yang dimilikinya. 27
Proses pemahaman hermeneutik
cakrawala pembaca.
pentingnya karakteristik pengalaman yakni komunikasi dan
pengambilan jarak. Ricouer menyatakan pemisahan teks dari situasi
sebagai pembedaan (distanciation). Teks memiliki makna yang
berbeda dari pengarangnya, dengan kata lain pembaca teks dapat
memahaminya meski berada pada situasi yang berbeda. 28
Ricouer
kriteria teks, yaitu:
 
“Ricouer mendefinisikan wacana sebagai peristiwa bahasa.
Bahasa mengutamakan kondisi komunikasi yang memberikan
kode-kode, sementara wacana mempertukarkan semua pesan.
Bahasa diaktualisasikan dalam wacana menjadi suatu sistem
sebagai peristiwa yang memiliki makna.” 29
b. Wacana sebagai karya
komposisinya sendiri serta mentransformasikan wacana dalam
suatu karya.” 30
“Ketika wacana beralih dari ucapan ke tulisan, maka teks
menjadi otonom terlepas dari pembuat teks. Dengan demikian teks
terbuka bagi pembacaan secara luas, tiap-tiap pembacaan berada
pada kondisi sosial dan budaya yang berbeda. Teks harus mampu
keluar dari konteks ketika ia diciptakan sehingga dapat bawa pada
kondisi yang baru.” 31
29
Ibid., h. 182. 31
dengan dunia semu.” 32
“Teks merupakan medium untuk memahami diri,
pemahaman diri seperti apropiasi teks, cara penggunaannya adalah
dengan menghadirkan situasi pembaca. Apropriasi dihubungkan
dengan objektifasi struktural teks, tidak membaca maksud pembuat
karya melainkan maksud yang ingin disampaikan karya itu.” 33
4. Apropriasi
berarti „to appropriate yang berarti mengambil untuk menjadi milik
sendiri. Benny H. Hoed menyatakan bahwa:
“Apropriasi membuat hubungan antara subjek dengan
objek (teks) yang pada awalnya terpisah menjadi tanpa jarak.
Apropriasi juga dapat dikatakan sebagai pemahaman. Jadi untuk
melakukan pemahaman dibutuhkan cakrawala peneliti.
Pemahaman teks harus dipahami dengan pemroduksi teks,
lingkungannya, serta intertekstualitas (mempunyai kaitan secara
sistemis dengan teks yang lain). Makna teks dipahami dalam
konteks dialog antara pembaca dan teks yang dibacanya.” 34
Apropriasi dapat dikatakan mengambil teks menjadi milik kita,
ketika interpretasi apropriasi dilakukan untuk menemukan makna teks,
teks tidak lagi asing dan menjadi familiar. Konsep dialektika antara
apropriasi dan distansi yakni mencoba membuka makna yang
tersembunyi. Interpretasi mengijinkan aktualisasi makna teks yang
32
 
peneliti akan membuka cakrawala (pengetahuan atau kesadaran)
sehingga dapat mengerti dirinya sendiri. 35
5. Penjelasan dan Pemahaman
artinya teks membuka diri dan melepaskan dari intensi pengarang.
Tipe ini dengan menahan atau menunda semua relasi dengan dunia
yang dapat dijelaskan. Karena teks mempunyai dunianya sendiri yang
terlepas dari intensi penulis. Jadi teks diperlakukan sebagai objek tanpa
pengarang, dalam hal ini teks dijelaskan dalam konteks hubungan
internalnya yakni struktur-strukturnya tanpa dipengaruhi oleh
intertekstualitas subjektif. Objektivasi melalui struktur merupakan
upaya menunjukkan hubungan-hubungan intern dalam teks. Dengan
demikian hal ini memungkinkan hal ini menuju penjelasan (eksplanasi)
yang berkenaan dengan teks.” 36
Menjelaskan makna struktur dari teks yakni menghubungkan
ketergantungan yang bersifat internal yang menyusun kebakuan teks,
peneliti diarahkan oleh teks mengikuti alur pikiran menempatkan pada
rute dan menuju arah teks. 37
Penjelasan merupakan analisis struktur
langkah ini menjadi objektif.
35
A. Ghasemi, et al., “Ricouers Theory of Interpretation: A Methode for Understanding
Text (Course Text),” World Aplied Science Journal 15 (2011): h, 1626. 36
Ricoeur, Hermeneutika Sosial, h. 205-206. 37
Ibid., h.218.
menghasilkan cakralawa yang dihadirkan oleh teks, yang berfusi
dengan cakrawala pembaca dalam hal ini berarti peneliti...” 38
Sehingga
pembacanya.
merekonstruksi pesan. Sebaliknya hermeneutika mengembangkan atau
mengkonstruksi pemahaman makna dari teks sesuai dengan konteks
pembacanya. Hermeneutik yang mengkonstruksi pemahaman baru
terlepas dari andil „pemilik teks dapat digambarkan sebagai berikut:
Diagram 2 : Hermeneutika Konstruktif
yakni penjelasan dilakukan dengan membedah teks dari unsur-unsur
internalnya untuk menjaga otonomi teks supaya terlepas dari intensi
pengarang Sehingga teks membuka diri dari kemungkinan-kemungkinan
38
sintesis, digunakan untuk kejadian-kejadian yang berhubungan dengan
keseluruhan penafsiran.” 39
mencari makna dibalik teks, namun mengarahkan perhatiannya kepada
makna objektif dari teks, terlepas dari maksud subjektif si pengarang
ataupun orang lain. Untuk itu menginterpretasikan sebuah teks bukannya
mengatakan suatu relasi subjektifitas pengarang atau subjektifitas
pembaca, melainkan hubungan antara diskursus teks dan diskursus
interpretasi. 40
dan pemahaman sebagai berikut:
Acep Iwan Saidi, “Hermeneutika Sebuah Cara Memahami Teks,” Jurnal Sosioteknologi
Edisi 13 Tahun 7 (April 2008): h. 377.
Teks:
E. Wacana Pancasila Sebagai Dasar Negara
Untuk menggambarkan pluralitas masyarakat dan budaya
Indonesia, para pendiri Republik tahun 1945 telah mengumandangkan
motto nasional, Bhinneka Tunggal Ika, yang diambil dari formulasi
pujangga Empu Tantular, seorang pemikir cemerlang pada zaman kerajaan
Hindu Majapahit. Indonesia juga memiliki Pancasila sebagai dasar
filosofis dan ideologi nasional negara, dan sebagai pandangan hidup
masyarakat Indonesia. Darji menjelaskan Pancasila sebagai berikut:
“Secara harfiah Pancasila berarti lima prinsip yang berasal dari
bahasa Sanskerta; panca yang berarti lima, dan sila berarti prinsip. Istilah
Pancasila telah digunakan oleh Empu Prapanca dalam bukunya yang
sangat terkenal Negarakertagama, dan Empu Tantular dalam bukunya
Sutasaoma. Ketika itu Pancasila berfungsi sebagai lima prinsip bimbingan
etika dari penguasa dan rakyat agar tidak melakukan kekerasan, mencuri,
dendam, berbohong, dan meminum minuman keras.” 41
Kelima prinsip moral tersebut sangat dekat dengan etika
Budhisme, yang isinya:
berjanji untuk tidak membunuh)
berjanji untuk tidak mencuri)
23.
berjanji untuk tidak berbohong)
mabukkan). 42
menjadi:
2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3) Persatuan Indonesia
dalam Permusyawaratan Perwakilan
F. Wacana Negara Islam
mendefinisikan apa itu negara Islam. Hasbi memetakan pengelompokan
tersebut dalam beberapa kelompok. Pertama, pendapat antara apakah ada
atau tidak negara Islam. Maksudnya apakah Islam mengajarkan masalah
42
Faisal Islami, Ideologi Hegemoni dan Otoritas Agama (Yogyakarta: Tiara Wacana
Yogya, 1999), h. 5-6. 43
Ibid., h. 6.
kelompok pertama menyatakan dengan tegas ada, kelompok lain
menyatakan tidak ada, dan pendapat terakhir tidak diajarkan secara tuntas.
Kedua, kelompok ini menyatakan adanya negara Islam, baik itu yang
berpendapat Islam sebagai negara dan agama. Negara Islam itu memang
harus ada walaupun bukan merupakan sebuah perintah dalam Islam, akan
tetapi lebih merupakan keharusan demi menjaga pengembangan atau
pelestarian agama. 44
Islam sebagai “...organisasi yang dibentuk oleh masyarakat muslim dalam
rangka memenuhi keinginan mereka dan tidak untuk kepentingan lain...” 45
Dari definisi tersebut, menurut penulis rumusannya fleksibel tanpa
memberi ketentuan-ketentuan tertentu. Keyakinan pendirian negara
berdasarkan Islam didasarkan atas prinsip-prinsip tertentu menurut Al-
Quran dan Sunnah. Sejalan dengan pemikiran berikut ini:
“Pertama, bahwa seluruh kekuasaan semesta ada pada Allah
karena Ia yang menciptakannya. Maka menurut keimanan orang muslim,
hanya Allah yang harus ditaati. Kedua, bahwa hukum Islam telah
ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Melalui prinsip-prinsip ini
sebagian kelompok kaum muslim memahami bahwa mereka harus
44
M. Hasbi Amiruddin, Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman (Yogyakarta: UII
Press, 2000), h. 81. 45
Ibid., h. 83.
mereka, bukan menciptakan hukum-hukum baru.” 46
Konsep lain tentang negara Islam yakni dari Hamka, yang
memiliki pendapat bahwa negara dan agama adalah dua hal yang tidak
dapat dipisahkan. Beliau banyak menggambarkan konsep negara Islam
mengacu pada sejarah, seperti keberhasilan Nabi Muhammad melalui
agama Islam yang dibawanya dapat mempersatukan masyarakat dalam
kesatuan suku yang terpecah belah. 47
Kendatipun Nabi Muhammad tidak
menjadikan negara sebagai sebuah alat bagi Islam untuk menyebarkan dan
mengembangkan agama.
Shobahussurur, Hamka menjelaskan bahwa Islam meliputi seluruh
kegiatan hidup manusia, Islam bukan hanya membahas masalah ibadah
makhluk kepada Tuhannya, tidak pula membahas antara seorang dengan
masyarakat, Islam bukan pula hanya urusan ulama. Islam meliputi seluruh
aspek kehidupan. 48
negara.
Lebih lanjut menurut Hamka, masyarakat Islam dalam hal ini dapat
juga berarti negara Islam yang memiliki cita-cita tinggi dan memahami
agamanya secara baik. Pemeluk yang taat pada agamanya adalah mereka
yang bercita-cita untuk perjuangan negara, supaya hukum Allah berjalan
46
Mumtaz Ahmad, ed., Masalah-Masalah Teori Politik Islam (Bandung: Mizan, 1996), h.
57. 47
Shobahussurur, “Relasi Islam dan Kekuasaan Perspektif Hamka,” Jurnal Asy-Syirah V
43, no. 1 (2009): h. 3.
 
tidak diatur dengan aturan yang didasarkan pada Tuhan. Selaras dengan
ayat berikut: 49
menjadikan engkau sebagai hakim terhadap perkara yang
mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam
hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka
menerima dengan sepenuhnya” (Q.S an-Nisaa: 65).
Konsep pemerintahan Islam di suatu negara atau wilayah, ialah
menurut bentuk pertumbuhan dan kecerdasan masyarakat itu.
Sebagaimana fungsi diciptakannya manusia sebagai khalifah di bumi,
manusia diberi kebebasan berfikir dan bertanggungjawab. Negara Islam
yang ditawarkan Hamka lebih mengedepankan musyawarah dalam berbagi
macam permasalahan, apapun konsep negara Islam yang paling penting
syura atau musyawarah harus tetap ada.
Ijtihad lain yang lebih luas mengenai negara Islam bukan hanya
sekedar simbol-simbol distinkitif seperti negara Islam atau negara
berasaskan hukum Islam. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana
asas-asas doktrin yang berhubungan dengan masalah kenegaraan
ditransformasikan ke dalam rumusan-rumusan umum atau undang-undang
yang menggambarkan nilai-nilai Islam. Mohammad Natsir berpendapat
suatu negara akan bersifat Islam bukan karena secara formal disebut
49
secara teori maupun praktik. 50
Azyumardi Azra berpendapat tidak ada satupun model negara
Islam yang dapat dijadikan prototipe negara Islam. Menurut Azra negara
Islam pada masa dahulu yang tidak dapat diimplementasikan masa
sekarang karena:
dan empat khalifah, tidak menawarkan rincian yang bisa dijadikan model
penerapannya di era kontemporer. Kedua, praktek kekhalifahan
selanjutnya Ummayah dan Abbasiyah, hanya menyediakan sistem
lembaga politik saja. Terakhir, kegagalan secara penuh negara Islam
mengarah para perumusan cita-cita ideal dan hubungan antara agama dan
negara menjadi subjek beragam interpretasi selama berabad-abad.” 51
50
(Jakarta: Paramadina, 2009), h. 205. 51
Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam; Dari Fundamentalisme, Modernisme,
hingga Posmodernisme (Jakarta: Paramadina, 1996), h. 22.
 
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan
sebutan Hamka, lahir pada tanggal 16 Februari 1908 di Kampung Molek,
Maninjau, Sumatera Barat, dan wafat pada 24 Juli 1981. Hamka
merupakan keturunan tokoh-tokoh ulama di Minangkabau. Kakek Hamka
Syaikh Muhammad Amrullah merupakan penganut tarekat mu’tabarah
naqsabandiyah yang sangat dihormati. Syaikh Muhammad Amrullah
mengikuti jejak ayahnya Tuanku Syaikh Pariaman dan saudaranya Tuanku
Syaikh Gubug Katur. Ayah Hamka Syeikh Abdul Karim bin Amrullah
atau dikenali sebagai Haji Rasul, adalah tokoh pembaharu di Tanah
Minang menolak prakek-praktek ibadah yang dilakukan oleh ayah dan
kakeknya. Garis keturunannya hingga berlanjut pada sebuah nama besar
lainnya, yakni Abdullah Arif salah seorang pahlawan dimasa Perang
Paderi. 1
Riwayat pendidikan formal Hamka sangat rendah, pada usia tujuh
tahun ia memulai pendidikan formal di sekolah desa hingga kelas dua.
Ketika usianya sepuluh tahun, ia belajar di diniyah school dan Tawalib di
Padang Panjang dan Parabek tahun 1916 hingga 1923 merupakan sekolah
yang didirikan ayahnya.
1 Akmal Sjafril, Buya Hamka: Antara Kelurusan Aqidah dan Pluralisme (Depok: Indie
Publishing, 2012), h. 10.
sastra baik novel maupun cerpen. Beberapa novelnya seperti Di Bawah
Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menjadi
salah karya penting dalam sejarah kesastraan Indonesia. Selain itu, beliau
juga aktif di duni ajurnalistik. Sejak tahun 1920-an, Hanka menjadi
wartawan di beberapa media seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang
Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, Hamka menjadi
editor majalah Kemajuan Masyarakat, Al-Mahdi, Pedoman Masyarakat,
dan Gema Islami. 2
pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, politik dari sumber
Islam atau Barat. Dengan kemahiran Bahasa Arabnya yang tinggi, beliau
juga dapat menyelidiki karya ulama serta pujangga besar di Timur Tengah
seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al Manfaluti
dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya
ilmuwan dari Perancis, Inggris, dan Jerman seperti Albert Toynbee, Jean
Paul Satre, Karl Marx, Sigmund Freud. Hamka juga rajin membaca dan
bertukar pikiran dengan tokoh-tokoh di Indonesia seperti HOS
Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Oemar Said, Ki Bagus
Hadi Kusumo, dan Haji Fakhrudin. Disana ia mendapat kursus pergerakan
bertempat di gedung Abdi Dharmo Pakualam Yogyakarta, sambil
mengasah bakatnya sehingga menjadi ahli pidato. 3
2 Ibid., h. 19.
3 “Buya Hamka Sosok Teladan.” Artikel diakses tanggal 02 Juli 2012 pukul 22.27 dari
kemenag.go.id.file/dokumenn/HAMKA/pdf.
pemikiran Hamka, ia menyebutkan bahwa di kota itu, Islam sebagai
sesuatu yang hidup, menawarkan pendirian dan perjuangan yang dinamis. 4
Di Yogyakarta juga, ia lebih banyak menginternalisasikan ilmu-ilmu yang
lebih berorientasi pada memerangi kebodohan, kelatarbelakangan,
kemiskinan, serta bahaya kristenisasi yang mendapat sokongan dari
Belanda. Hal ini berbeda dengan pendidikan selama ia masih di kampung
halaman yang berorientasi pada pembersihan akidah. 5
Meskipun tidak pernah mengecap pendidikan sampai perguruan
tinggi, ia memeroleh gelar Doktor Honoris Causa pada tahun 1955 dari
Universitas Al Azhar Kairo, dan pada tahun 1976 dari Universitas
Kebangsaan Malaysia. 6
Muhammadiyah sebagai ketua atau pengurus, maupun sebagai delegasi
antar negara. Aktivitas organisasi dan dakwah Hamka lebih terlihat setelah
kepulanggannya dari Mekah tahun 1927. Secara umum perannya sebagai
berikut: 1) menjadi guru agama di perkebunan Tebing Tinggi Medan
(1927); 2) menjadi guru agama di Padang Panjang (1929); 3) dilatik
sebagai dosen di Universitas Islam Jakarta dan Universitas
Muhammadiyah Padang Panjang (1957-1958); 4) dilantik sebagai Rektor
Perguruan Tinggi Islam Jakarta dan Profesor Universitas Moestopo
4 Herry Mohammad, dkk., Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20 (Depok: Insani
Press, 2006), h. 101. 5 Ibid,. h. 102.
 
41
Jakarta; 5) dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai
pegawai tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia. 7
Hamka menjadi peserta pertama muktamar Muhammadiyah tahun
1928 dan sejak saat itu ia hampir tidak pernah absen hingga akhir
hayatnya. Hamka memiliki jabatan penting sebagai ketua Taman Pustaka,
kemudian ketua Tabligh Muhammadiyah, hingga ketua Muhammadiyah
cabang Padang Panjang. Menjadi mubaligh di Bengkalis dan Padang
Panjang, Majelis Konsul di Muhammadiyah Sumatera Tengah, Ketua
Majelis Pimpinan Muhammadiyah Daerah Sumatera Barat, hingga terpilih
menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak tahun 1953 hinga
1971. 8
melakukan kunjungan ke manca negara. Pertama Arab Saudi tahun 1950,
kemudian tahun 1952 berkunjung ke Amerika Serikat. Semenjak itulah
Hamka sering mendapat undangan dan menjadi delegasi Negara Indonesia
untuk menghadiri acara-acara internasional keagamaan, khususnya
dibidang politik.
Islam tahun 1925. Hingga tahun 1945 ia membantu perjuangan melawan
kolonial melalui pidato-pidato dan menyertai kegiatan gerilya di hutan
belantara Medan. Kemudian dilantik menjadi ketua Front Pertahanan
Nasional Indonesia (1947). Kemudian menjadi anggota Konstituante
mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah. Konstituante dibubarkan tahun
7 Floriberta Aning, 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia (Yogyakarta: Penerbit Narasi,
 
oleh Soekarno. 9
Soekarno atas tuduhan makar anti Soekarno (GAS: Gerakan Anti
Soekarno). Ia dipenjara di daerah Rawamangun Jakarta, dengan Mr.
Kasman, Ghazali Sahlan, Dalari Umar, dan Yusuf Wibisono. Ketika
dipenjara itu ia meneruskan hasil karya ilmiah terbesarnya Tafsir al-Azhar.
Hamka dibebaskan pada 23 mei 1966. Sebelumnya rekan-rekan Hamka
seperti: Mohammad Natsir, Syafruddin Prawira Negara, Syahrir,
Mohammad Roem, Prawoto, Yunan Nasution dan Isa Anshori pada tahun
1962 karena tuduhan pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia). 10
Pada tahun 1957 ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) terbentuk,
ia terpilih menjadi ketua umum pertama dan juga periode kedua pada
tahun 1980. Namun sebelum berakhir ia mengundurkan diri dari
jabatannya sebagai ketua umum, hal ini dikarenakan bertentangan dengan
pemerintah dalam perayaan Natal bersama. Ia mengeluarkan fatwa MUI
yang mengharamkan umat Islam melakukan perayaan Natal bersama. 11
Ketokohan Hamka dikenal bukan hanya di Indonesia, namun juga
di Timur Tengah dan Malaysia. Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul
Razak pernah mengatakan Hamka bukan hanya milik Indonesia, namun
9 Floriberta Aning, 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia, h. 75.
10 Ibid,. h. 75.
11 “Buya Hamka Sosok Teladan.” Artikel diakses tanggal 02 Juli 2012 pukul 22.27 dari
kemenag.go.id.file/dokumenn/HAMKA/pdf.
sangat banyak, sekitar puluhan karya beliau ciptakan.
2. Karya Karya Hamka
No Judul Kategori Tahun
3 Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi Nonfiksi 1946
4 Agama dan Perempuan Nonfiksi 1939
5 Arkanul Islam Nonfiksi 1932
6 Ayahku Biografi 1950
8 Dari Perbendaharaan Lama Nonfiksi 1963
9 Di Bawah Lindungan Ka'bah Fiksi 1936
10 Di Dalam Lembah Kehidupan Cerpen 1939
11 Di Tepi Sungai Dajlah Fiksi 1950
12 Dibantingkan Ombak Masyarakat Nonfiksi 1946
13 Dijemput Mamaknya Fiksi 1939
14 Doa-doa Rasulullah Nonfiksi 1974
15 Ekspansi Ideologi Nonfiksi 1963
16 Empat Bulan di Amerika Nonfiksi 1953
17 Fakta dan Khayal Tuanku Rao Nonfiksi 1970
18 Falsafah Hidup Nonfiksi 1939
19 Falsafah Ideologi Islam Nonfiksi 1950
20
Islam Nonfiksi 1968
22 Himpunan Khutbah-Khutbah Nonfiksi
25 Keadilan Ilahi Fiksi 1939
26 Keadilan Sosial dalam Islam Nonfiksi 1950
27 Kedudukan Perempuan dalam Islam Nonfiksi 1973
28 Kenangan-kenangan Hidup 1-4 Autobiografi 1908
29 Kepentingan Melakukan Tabligh Nonfiksi 1929
30 Khotibul Ummah Nonfiksi
35 Mandi Cahaya di Tanah Suci Fiksi 1950
36 Margaretta Gauthier Terjemah 1940
37 Mati Mengandung Malu Nonfiksi 1934
38 Menunggu Beduk Berbunyi Fiksi 1949
39 Merantau Ke Deli Fiksi 1940
40 Muhammadiyah di Minangkabau Nonfiksi
41 Muhammadiyah Melalui 3 Zaman Nonfiksi 1946
42 Negara Islam Nonfiksi 1946
43 Pandangan Hidup Muslim Nonfiksi 1960
44 Pedoman Mubaligh Islam Nonfiksi 1937
45 Pelajaran Agama Islam Nonfiksi 1956
46 Pembela Islam Nonfiksi 1929
47
Abad Nonfiksi 1952
 
51 Ringkasan Tarikh Umat Islam Nonfiksi 1929
52 Sayid Jamaluddin Al-Afhany Nonfiksi 1965
53 Sejarah Islam di Sumatera Nonfiksi
54 Sesudah Naskah Renville Nonfiksi 1947
55 Si Sabariah Fiksi 1928
56 Studi Islam Nonfiksi 1973
57 Tafsir Al-Azhar Juz 1-30 Tafsir
58 Tasawuf Modern Nonfiksi 1939
59 Tenggelamnya Kapal Van Der Wick Fiksi 1937
60 Tuan Direktur Fiksi 1939
61 Urat Tunggang Pancasila Nonfiksi
3. Sidang Konstituante
Pada tahun 1955 tidak kurang dari 36 partai mengikuti pemilu yang
dilaksanakan secara dua tahap. Pertama untuk memilih yang berlangsung
pada 29 September 1955 dan untuk memilih anggota Konstituante pada
15 Desember 1955. Tingkat partisipasi pemilu ini sangat tinggi, diikuti
oleh 39 juta rakyat Indonesia. Selanjutnya Majelis Konstituante dibentuk
seperti yang diamanatkan UUDS 1955 bahwa:
Konstituante (Sidang pembuatan Undang-Undang Dasar)
bersama pemerintah selekas-lekasnya menetapkan Undang-
Undang Dasar Republik Indonesia yang akan menggantikan
undang-undang dasar sementara ini. 12
12
Nanang Surahman, “Pancasila Versus Islam: Konflik Tentang Dasar Negara Antara
PKI-Masyumi pada Sidang Konstituante 1956-1959,” (Tesis S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Universitas Indonesia, 2002), h. 110.
 
Dalam pelaksanaan tugasnya Konstituante dipimpin oleh seorang
ketua dengan lima orang wakil ketua. Sejak pelantikan anggota pada 10
November 1956. Hingga sidang berakhir pada 2 Juni 1959, telah
berlangsung tujuh kali sidang pleno dengan urutan sebagai berikut: satu
kali pada 1956, tiga kali pada 1957, dua kali pada 1958, dan satu kali pada
1959. Adapun pembahasan mengenai dasar negara berlangsung pada masa
sidang kedua tahun 1957, dari tanggal 11 November 1957 hingga 6
Desember 1957. Dengan dua kali sesi sidang yang masing-masing
menampilkan 47 orang pembicara pada sidang pertama dan 54 pembicara
pada sidang berikutnya. 13
Dari sekian agenda sidang yang dimiliki Majelis ini, perdebatan
yang paling alot yakni pada permasalahan dasar negara. Total lima ratus
empat belas kursi di Konstituante terbagi menjadi tiga golongan.
Mainstream politik ini pertama pendukung Pancasila terdiri dari PNI
(Partai Nasionalis Indonesia), PKI (Partai Komunis Indonesia), PRN
(Partai Rakyat Nasional), Parkindo (Partai Kristen Indonesia), Partai
Katolik, Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia),
dan beberapa partai kecil lainnya, dengan total suara dua ratus tujuh puluh
tiga. Pendukung Islam Masyumi (Majelis Syuro Indonesia), NU
(Nahdhatul Ulama), PSII (Partai Serikat Islam Indonesia), Perti (Persatuan
Tarbiyah Islamiyah) dan parpol Islam kecil lainnya, dengan total suara
dua ratus tiga puluh. Dan yang terakhir pendukung Sosial-Ekonomi dari
13
Partai Buruh, Murba, dan Acoma (Angkatan Comunis Muda). dengan total
suara sembilan. 14
negara, karena Majelis belum menetapkan dasar negara secara permanen,
sehingga mereka berfikir bahwa hal ini sah adanya. Masyumi menjadi
salah satu partai besar Islam pada sidang pleno ini pembicara utamanya
adalah Natsir dan Hamka.
mengenai falsafah dasar negara ini menjadi perdebatan yang berlarut dan
tidak kunjung usai. Untuk keluar dari kebuntuan tersebut sejumlah partai
politik akhirnya mendesak Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 yang mengakhiri riwayat Majelis Konstituante.
4. Gambaran Umum Pidato Hamka “Islam Sebagai Dasar Negara”
Hamka sebagai salah satu dewan dari Masyumi, menguraikan
pentingnya Islam sebagai Dasar Negara. Bahwa semangat Islam melalui
kalimat “Allahu Akbar”, dapat digunakan sebagai pemicu bagi perjuangan
membebaskan bangsa dari penjajahan. Yang menjiwai terwujudanya
proklamasi kemerdekaan bukan Pancasila, tapi semangat menegakkan
kalimat Allah. Semangat api para pejuang bukanlah Pancasila, karena
14
 
Pancasila belum dikenal saat itu. Melainkan api semangat juang Islam.
Bangsa Indonesia yang notabenenya sembilan puluh persen beragama
Islam menginginkan kemerdekaan dengan semangat Islam.
Mewujudkan cita-cita para pejuang kemerdekaan. Bahwa para
pejuang ingin membebaskan bangsa ini dari penjajahan, dengan cita-cita
terbentuknya negara berdasarkan Islam. Hamka menyebutkan nama-nama
Pahlawan Nasional seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku
Tjik Ditiro, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Sultan Hassanuddin, Sultan
Malaka, Iskandar Muda, Raja Aji, Tjokroaminoto guru Bung Karno.
Semua pahlawan tersebut bercita-cita terwujudnya negara berdasarkan
Islam. Sultan Abdul Hamid Diponegoro yang bergelar Khalifatul
Muslimin dan Amirul Mukminin, secara terang-terangan menentang
Gubernur Jenderal de Kock bahwa beliau akan mendirikan sebuah
kerajaan Islam di Tanah Jawa. Imam Bonjol yang bernama asli Ahmad
Syahab adalah seoarang Ulama Besar dan Pemimpin dalam peperangan di
Bonjol, bercita-cita membentuk masyarakat dan negeri berdasarkan Islam
di tanah Minangkabau. Teuku Cik Ditiro berjuang atas nama Islam.
Hasanuddin dari Makasar berjuang untuk menegakkan kalimatullah.
Semua pejuang itu belum mengenal Pancasila, karena Pancasila
dipopulerkan beberapa tahun terakhir. Maka mendirikan negara Islam
sejalan dengan cita-cita nenek moyang dengan cakupan lebih besar dan
lebih rasional.
Islam telah mengakar dalam kehidupan dan kepribadian bangsa Indonesia
 
sebenarnya dalam hati sanubari bangsa Indonesia. Pancasila tidak
memiliki dasar sejarah di Indonesia, sementara Islam, telah berkembang di
seluruh kepulauan Indonesia sejak 600 tahun lalu. Oleh karenanya
perjuangan menuntut Islam sebagai dasar negara adalah perjuangan yang
mengakar. Perjuangan untuk kesejahteraan bangsa, bukan hanya untuk
partai-partai Islam.
negara adalah sangat berlebihan. Sebab dasar politik pertahanan negara
berdasarkan Islam adalah menjunjung tinggi kesucian nama Tuhan. Bila
negara berdasarkan Islam ini telah terbentuk, maka yang akan
merumuskan dan mengatur undang-undang dasarnya bukanlah partai-
partai Islam saja, tetapi seluruh partai, termasuk PNI, Katolik, Parkindo,
seluruh partai dan golongan yang konsekuen percaya kepada Tuhan. Maka
tidak ada diskriminasi karena semua keputusan dihasilkan melalui
musyawarah. Negara berdasarkan Islam tidak dimaksudkan menjadi
penganut agama lain atau bangsa kelas kedua.
Islam memiliki toleransi tinggi, ayat Al-Quran yang menjadi dasar
politik pertahanan, sama dengan bunyi kawan sefraksi Hamka yang
berbunyi: “Kalau tidaklah ada pertahanan manusia atas manusia, niscaya
akan diruntuhkan oranglah biara, gereja, synagog dan mesjid”. Meski
masjid disebutkan terakhir, bukanlah suatu masalah karena itu
sesungguhnya lambang jiwa. Dasar politik yang menjunjung kesucian
nama Ilahi.
Islam dan Kristen tidak ada persoalan yang musykil dan tidak
bertentangan. Pangkalan tempat berfikir dan satu tujuan seruan jiwa satu.
Asal hati dapat terbuka, segala persoalan dapat diselesaikan. Kekacauan
diantara keduanya telah dibuat Belanda. Menjajah tanah air dan selalu
menyalahgunakan penyiaran agama Kristen untuk menekan Islam, dengan
menanamkan perasaan curiga terhadap umat Islam.
Layaknya negara Mesir yang mayoritas penduduknya Islam
dipimpin oleh presiden muslim, penduduknya dapat dengan leluasa
menjalankan ibadah menurut kepercayaannya seperti kristen Koptik.
Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara dengan tingkat
demokrasinya tinggi juga masih menggunakan sistem agama untuk para
presidennya dengan kepercayaan Protestan tidak boleh Katolik, juga
dengan Perancis yang mengamanatkan kepala negara adalah orang
Katolik.
dari perjuangan hinggga berdarah-darah. Setiap diri manusia mempunyai
iman yang berada pada tiap-tiap hati mereka, sehingga tidak boleh
dinafikan keberadaannya. Karena sesungguhnya negara yang berdasarkan
agama adalah panggilan jiwa itu sendiri.
 
No Tanggal Peristiwa
Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
2 22 Juni 1945 Tercipta kesepakatan antara Panitia
Sembilan dan mendapatkan jalan tengah
mengenai landasan filosofi bangsa yang
disebut dengan Piagam Jakarta.
Kemerdekaan Indonesia.
untuk memilih anggota DPR, pemilu
diikuti 29 Partai dan individu.
5 15 Desember 1955 Pemilihan Umum tahap dua untuk
memilih anggota Konsituante.
berlangsung tujuh kali sidang pleno.
Adapun mengenai dasar negara
terpecah menjadi tiga kubu. Nasionalis
Islam, Nasionalis Sekuler, dan Sosial
Ekonomi berdebat panjang mengenai
membuahkan hasil.
menegaskan kembali ke UUD 1945
15
2008) h.56-58, dan Nanang Surahman, Pancasila Versus Islam: Konflik Tentang Dasar Negara
Antara PKI-Masyumi pada Sidang Konstituante 1956-1959, h. 110-111.
 
Dalam sidang Konstituante Hamka menyampaikan pidato sebagai salah
satu perwakilan kelompok Islam. Pidato sebagai sebuah karya yang
mengandung wacana yang mempertukarkan pesan antara para anggota
sidang. Ketika pidato tersebut disampaikan pada sidang Konstituante oleh
Hamka, lalu dibukukan, maka relasi antara yang diucapkan dan yang
dituliskan telah terlepas. Teks yang dituliskan telah terlepas dari pembuat
teks yakni Hamka, teks tersebut mempunyai dunianya sendiri yang dapat
dibaca secara luas. Hal ini yang disebut makna objektif dari teks.
B. Penjelasan dan Pemahaman
Islam sebagai dasar negara merupakan bentuk kecemasan bahwa Indonesia
akan menjadi negara sekuler. Tindakan yang dilakukan oleh kelompok Islam
adalah meyakinkan kelompok-kelompok lain bahwa Islam menjadi rumusan
yang tepat bagi Indonesia.
mungkin sebagai dasar negara. Hamka meskipun bukan ketua dari Partai
Masyumi, namun memiliki peranan penting dan mempunyai kesempatan
untuk mengajukan konsep tersebut.
analisis dalam penelitian ini. Pertama dengan penjelasan menggunakan
semiologi struktural dan menggambarkan cakrawala teks, kedua
pemahaman dari apropiasi peneliti terdapat penyatuan antara cakrawala
pembaca dan cakrawala teks pidato Hamka. Dengan mengambil potongan-
potongan teks dan menganalisanya dengan menggunakan hermeunitika
dari Paul Ricouer yang telah dijelaskan. Analisisnya adalah sebagai
berikut:
menyebutkan kalimat Allahu Akbar, beberapa teks tersebut adalah:
Bagian pertama: “Tidak ada tempat takut melainkan Allah!
,,Allahu Akbar’’! Hanja Allah Jang Maha Besar, jang lain ketjil
belaka! La-ilaha-illallah, tidak Tuhan tempat menjembah, tempat
takut, tempat memohon, tempat berlindung melainkan Allah!” 1
Bagian Kedua: “Itulah jang kami kenal, djiwa atau jang
mendjiwai proklamasi tanggal 17 Agustus, bukan Pantja Sila.
Sungguh Saudara Ketua. Pantja Sila itu belum pernah dan tidak
pernah, karena keistimewaan hidupnja dijaman Belanda itu
menggentarkan hati dan tidak pernah dikenal, tidak populer dan
belum pernah terdengar! Jang terdengar hanja sorak ,,Allahu
Akbar”. Dan api jang njala didalam dada ini sekarang, Saudara
Ketua, bukanlah Pantja Sila, tetapi ,,Allahu Akbar!” 2
Bagian Ketiga: “Allahu Akbar jang tertulis dalam dada
Saudara itulah sekarang jang kami mohon direalisasikan. Allahu
Akbar, jang didalamnja terkandung segala matjam sila, baik
pantja, atau sapta, atau ika, atau dasa. Allahu Akbar jang
mendjadi pertahanan Saudara ketika saudara pernah menghadapi
bahaya besar! Allahu Akbar yang mendjadi pertahanan Saudara
disaat maut telah melajang-lajang di atas kepala Saudara. Allahu
Akbar jang kepada-Nja putera Saudara jang tertjinta Saudara
1 Tentang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Konstituante, h. 57.
2 Ibid., h.57.
lahir dari perut ibu!” 3
1.1. Penjelasan dengan Semiologi Struktural
Kalimat Allahu Akbar yang dalam bahasa Arab tertulis ( )
dalam bahasa Indonesia berarti Allah Maha Besar. Allah ()
merujuk pada Dzat yang disembah oleh umat muslim, Dzat yang
tidak dapat dilihat atau dirasakan oleh pancaindera manusia.
Sementara „Akbar () dalam tata bahasa Arab termasuk pada
kategori isim tafdhil yang menunjukkan makna superlatif. Jadi kata
Akbar bermakna paling besar. Namun untuk menyatakan keagungan
yang tidak tertandingi kata paling digantikan oleh „maha yang
memiliki posisi lebih tinggi maknanya dari „paling. Jadi Allahu
Akbar diartikan Allah Maha Besar. Penanda Allahu Akbar menjadi
petanda bagi Tuhan umat Islam yang Maha Segalanya.
Pada pidato ini Hamka menyebutkan Allahu Akbar sebanyak
tujuh belas kali. Pada bagian pertama menggambarkan cakrawala
yang lebih luas dari pada teks berikutnya, bahwa Allah yang Maha
Besar tidak ada yang dapat menandingi-Nya. Sebagai hamba yang
kecil, manusia harus patuh dan taat, karena hanya Allah tempat
menyembah, tempat takut, dan tempat memohon.
Pada teks bagian kedua menggambarkan cakrawala kalimat
Allahu Akbar lebih dulu hadir dan dikenal dari pada Pancasila.
Allahu Akbar yang menyala dalam hati membangkitkan semangat
Proklamasi, bukanlah Pancasila. Demikian ini kaitannya dengan
3 Ibid,. h. 58.
yang utuh menggambarkan bahwa kalimat Allahu Akbar pada
hakikatnya terdapat pada setiap hati muslim, tidak melihat apapun
latar belakangnya dan siapa orangnya, kalimat tersebut merupakan
jiwa yang sebenarnya. Sehingga dalam kondisi pertama lahir ke
bumi atau hendak meninggalkan bumi, tetap kalimat Allahu Akbar
yang diteriakkan. Oleh karena itu, bukan Pancasila yang menjadi
hakikat jiwa namun kalimat Allahu Akbar .
1.2. Pemahaman dengan Apropriasi
yang timbul bahwa Allah menjadi “paket yang utuh”. Allahu Akbar
sebagai penanda Allah Maha Besar atas segala sesuatu. Sebagai
petanda bahwa Allah adalah Tuhan yang disembah oleh orang Islam
mempunyai sifat keagungan yang mutlak.
Dalam wacana histori, Allahu Akbar adalah formula untuk
menstimulus semangat juang yang diteriakkan oleh pasukan-pasukan
muslim pada saat menghadapi perang. Baik ketika peperangan
bertujuan melakukan ekspansi atau mempertahankan wilayah
teritorial.
sendiri dalam peristiwa-peristiwa itu menggambarkan semangat
nasionalisme. Ekspresi nasionalisme ini muncul pada periode
 
Khattab. Orang-orang non muslim saat itu tergugah oleh rasa
nasionalisme Arab dan ikut serta dalam perang melawan bangsa
Romawi.
Irak, bangsa Arab menganggapnya sebagai penghinaan terhadap
suku-suku Arab. Salah seorang dari Kristen Arab, Shibli Numani
menceritakan saat sedang berlangsung pertemuan antara orang-orang
muslim, ia berkata “Hari ini bangsa Arab dipermalukan oleh bangsa
non-Arab („ajam). Dalam ekspedisi nasional kita ini, kami ikut
bersama Tuan” 4
dibawah tekanan kolonialisme, bermunculan para anak bangsa yang
„gerah melihat tanahnya dijajah. Banyak perlawanan dari tokoh-
tokoh daerah di Nusantara yang menjadi pejuang untuk mengusir
penjajah dari tanah mereka. Mulai dari wilayah barat Indonesia yang
terkenal dengan tokoh pejuang seperti Cut Nyak Dien dan suaminya
Teuku Umar, Cut Nyak Meutia, Imam Bonjol di Minangkabau,
semakin ke timur bertemu dengan Pangeran Diponegoro, Antasari.
Masa berikutnya seperti Soetomo yang memetik api perjuangan
masyarakat Surabaya yang kemudian diperingati sebagai hari
pahlawan.
 
menghadapi kolonialisme. Kondisi mereka yang secara teknologi
dan kualitas jauh di bawah lawan, sehingga efek simplisitasnya
membawa pada kondisi ketakutan. Namun para pemimpin
perjuangan itu dapat menggugah semangat rakyat dengan cara
menimbulkan kepercayaan diri melalui jargon Allahu Akbar untuk
membangkitkan rasa nasionalisme. Sehingga makna dari Allahu
Akbar adalah nasionalisme untuk menyatukan seluruh kehendak
menjadi satu dengan merujuk pada ketentuan-ketentuan Allah SWT.
Ketika perang di Aceh sekitar abad ke 19 semua orang
berperang dengan alasan atas dasar jihad melawan kafir, meskipun
motivasinya bermacam-macam. Perlawanan pada komunisme berkat
ideologi jihad itu, meskipun ada efek-efek negatif dari ideologi jihad
namun semua luntur dengan ideologi tersebut. Pada tahun-tahun
1945-1949 ideologi jihad ditandai dengan terbentuknya laskar
Hisbullah. 5 Demikian pernyataan Hamka pada pidatonya: “ Maka
menggemalah pekik Allahu Akbar pada Tentara Nasional Indonesia,
Siliwangi dan pada Hizbullah, dan kitapun Alhamdulillah terlepas
dari bahaja.” 6
sebagai jargon yang diteriakkan ketika berperang. Allahu Akbar
tidak sebatas sebagai jargon saja, akan tetapi mengandung
keutuhan hukum Allah yang dapat menyanggah Pancasila yang
5 Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam (Jakarta: Penerbit Mizan, 1997), h. 194.
6 Tentang Dasar Negara Republik Indonesia, h. 58.
 
58
hanya memiliki lima butir sila. Dengan kata lain hukum Allah itu
mempersiapkan tuntunan yang lengkap melebihi Pancasila untuk
dijadikan landasan negara, dengan menekankan melebihi pantja
yang berarti lima, sapta berarti tujuh, ika berarti satu, dan dasa
berarti sepuluh.
Islam adalah Al-din wa Al-Daulah (agama dan negara). 7 Wacana
kebangsaan Islam timbul masa Jamaluddin Al-Afghani dengan
upaya mewujudkan persatuan dikalangan Islam sebagai semangat
perlawanan berbasis kesadaran Islam. 8 Yang akhirnya berdampak
juga ke Indonesia, meskipun wacana ini telah lebih dahulu berada
di Indonesia melalui ideologi jihad yang telah dijelaskan di atas.
Islam bukan hanya urusan agama saja yang mengatur ritual-
ritual ibadah atau hubungan antara manusia dengan Tuhannya,
namun agama juga mengatur hubungan antar manusia, yang di
dalamnya termasuk juga masalah kenegaraan. Islam adalah suatu
agama yang serba lengkap. Oleh karenanya dalam bernegara umat
Islam hendaknya merujuk pada sistem ketetanegaraan Islam. Ini
sama dengan implementasi dari keimanan. Juga sebagai
kepercayaan kepada hukum-hukum Islam yang dianggap
mengatur hubungan ketetanegaraan dengan tujuan cinta tanah air.
Perasaan cinta tanah air diwujudkan melalui rasa
nasionalisme yang diungkapkan melalui Allahu Akbar, peneliti
7 John L. Esposito dan John O.Voll, Demokrasi di Negara-negara Muslim. Penerjemah
 
menjadi pandangan politik Islam. Seorang muslim yang hidup di
dunia sepenuhnya untuk merealisasikan cita-cita menjadi hamba
Allah dengan sepenuhnya baik abadi (akhirat) maupun temporal
(dunia). Berlandaskan kalimat dalam Al-Quran:

mengabdi kepada-Ku” (Q.S: Adz-Dzariyat: 56).
Nasionalisme secara terbuka diterima oleh kelompok politik
Islam yang ingin terlepas dari kolonialisme dan imprealisme
dengan tujuan untuk mencapai tingkat penghambaan yang utuh.
Agama menjadi formula utama sebagai wujud aplikasi perintah
Allah, sementara negara sebagai alat bantunya.
Ini artinya terbentuknya sebuah negara terkait dengan
ketaatan kepada Sang Pencipta. Sebagai muslim yang
mempercayai keberadaan Allah yang memiliki sifat wujud yang
berarti ada. Bentuk nasionalisme atau tindakan posesif itu, adalah
bentuk keimanan yang diimplementasikan dengan optimal
keberbagai segi kehidupan, termasuk menata suatu negara
berdasarkan Islam sebagai wujud loyalitas kepada Allah. Sikap ini
merupakan pengakuan kekuasaan bahwa bumi dan segala
kehidupannya adalah Allah yang mengatur.
 
bagian dari iman pada Allah Swt karena sifat keberadaan-Nya.
Pada bagian ini Hamka menyebutkan tentang lambang-lambang
nasional bangsa Indonesia.
yang didjadikan lambang-lambang Nasional kita sekarang,
sebagai jang memulai perdjalanan ini, Pangeran Diponegoro,
Imam Bondjol, Teuku Tjik Ditiro, Teuku Umar Djohan
Pahlawan, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin Makasar dan
Maulana Hasanuddin Batam, Sultan Chairun dan Babullah di
Ternate, Radja Ali yang tewas di Malaka, Iskandar Muda
Mahkota Alam di Atjeh” 9
Bagian Kedua: “Kami kadang-kadang tersenjum Saudara
Ketua, bagaimana usaha hendak menjelimuti kebenaran dengan
mendustai sedjarah, jang kadang-kadang sangat mentjolok
mata. Misalnja, dalam gambar-gambar Pangeran Diponegoro
naik kuda, pada pelana kuda beliau kelihatan djelas tanda
,,bulan sabit”. Maka ada pelukis Pantja Sila jang sengadja
menghapus ,,bulan sabit” itu dari pelana.” 10
Bagian Ketiga: “Dan baru-baru ini saja melihat pula
lukisan Imam Bondjol, kepunjaan Kementrian Penerangan,
sebagai propagandis Pantja Sila, gambar beliau jang biasa
terkenal ialah ditangannja ada seuntai tasbih, maka di gambar
Kementrian Penerangan itu ditjopot tasbihnja. Itulah Saudara
Ketua, rahasia dari kedangkalan berfikir setjara Pantja Sila.” 11
2.1. Penjelasan dengan Semiologi Struktural
Lambang berarti merujuk pada suatu tanda yang
menyatakan suatu hal yang mengandung maksud tertentu atau
9 Ibid,. h. 59.
10 Ibid,. h. 60.
11 Ibid,. h. 60.
menurutnya kata-kata juga simbol yang merepresentasikan
sesuatu. Lambang berlaku sebagai simbol. Simbol merupakan
suatu tanda yang memiliki makna tertentu. 12
Dalam hal ini lambang nasional adalah sebagai penanda dari
para pahlawan yang disebutkan di atas. Pahlawan-pahlawan tersebut
merupakan penanda dari petanda simbol-simbol Islam. Karena
Pangeran Dipoengoro, Imam Bonjol, Teuku Cik Ditiro, Pangeran
Antasari, Teuku Umar Johan Pahlawan, Sultan Hasanuddin, dan
Maulana Hasanuddin adalah pejuang-pejuang muslim.
Selanjutnya simbol bulan sabit secara murni diartikan dengan
bulan separuh yang biasa muncul pada malam hari. Penanda kata
„bulan dirujukkan pada salah satu satelit atau bisa saja dirujukkan
pada perhitungan tahun. Sedangkan penanda „sabit menunjukkan
sebuah alat pertanian yang berbentuk melengkung. Jika penanda
„bulan sabit maka kata ini menandai satelit bulan yang berbentuk
separuh seperti sabit.
bawa oleh Imam Bonjol. Berbicara mengenai tasbih maka ada dua
hal yang dapat diartikan. Pertama, tasbih memiliki arti mensucikan
nama Allah. Kedua, tasbih merujuk pada benda yang terbuat dari
potongan kayu atau batu atau benda-benda keras yang dikaitkan
12
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (Jakarta: Balai
Pustaka,2007), h. 1066.
memiliki petanda relijiusitas.
Nasional berarti menunjukkan ide atau gagasan yang merujuk pada
objek tertentu, yakni para pahlawan seperti Pangeran Diponegoro,
Imam Bonjol, Teuku Cik Ditiro, Teuku Umar Johan Pahlawan,
Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin dari Makassar, Maulana
Hasanuddin dari Batam, Sultan Khoirun, Raja Ali, dan Iskandar
Muda.
sindiran kepada yang tidak percaya pada sejarah dan dengan sengaja
menutupi kebenaran, mengenai dihapusnya gambar bulan sabit di
lukisan pelana kuda Pangeran Diponegoro.
Sama halnya pada teks bagian ketiga memiliki cakrawala
yang menggambarkan bahwa lukisan Imam Bonjol yang berada di
Kementrian Penerangan tidak seperti seharusnya, lukisan Imam
Bonjol yang biasanya digambarkan memegang seuntai tasbih juga
dihilangkan, karena yang menghapusnya mendukung Pancasila.
2.2. Pemahaman dengan Apropriasi
sebagai pejuang yang berkontribusi banyak dalam sejarah berdirinya
Indonesia, yakni mengusir penjajahan dari bangsa ini. Antara lain
seperti Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Umar Djohan
 
Maulana Hasanuddin, Sultan Chairun, Radja Ali.
Pahlawan Nasional adalah gelar yang disematkan untuk
orang-orang yang berjasa pada suatu negara.Oleh karena itu
penyebutan kata „Pahlawan Nasional dan rentetetan nama yang
disebutkan setelahnya memiliki makna referensial. Nama-nama yang
disebutkan oleh Hamka sebagai Pahlawan Nasional merupakan
pahlawan dari golongan muslim, seperti Teuku Cik Ditiro
merupakan pejuang dari Aceh yang lama belajar agama Islam di
Arab Saudi. Beliau memimpin perang Sabil untuk melawan
penjajahan Belanda. Sultan Hasanuddin Makasar yang notabene-nya
juga beragama Islam. Teuku Umar Johan Pahlawan merupakan
suami dari pejuang Aceh Cut Nyak Dien.
Teks ini mencoba memungut nilai sejarah sebagai referensi
tonggak lepasnya Indonesia dari benalu penjajahan. Pahlawan-
pahlawan tersebut dianggap mewakili Islam yang memberikan
kontribusi besar dalam menentang imprealisme pada bangsa ini.
Karena imprealisme adalah salah satu bentuk dari kezhaliman. Itulah
makna referensial dari penyebutan Pahlawan Nasional dan nama-
nama yang disebutkan pada teks di atas.
Selanjutnya simbol bulan secara struktural dijelaskan sebagai
tanda satelit bulan berbentuk separuh. Dalam konteks ini, bulan sabit
yang terdapat pada lukisan di pelana Pangeran Diponegoro
digambarkan sebagai simbol keislaman. Islam biasa diasosiasikan
 
64
dengan Kabah, bulan sabit dan bintang, atau hal-hal yang relatif
dengan warna hijau. Simbol-simbol ini menandakan sebuah
keyakinan, kepercayaan, keimanan, cara pandang yang kuat terhadap
Islam. Sebagai contoh seperti partai Islam atau institusi-institusi
Islam menggunakan logo yang kurang lebih akan bergambar Kabah,
bulan sabit, atau bernuansa hijau. Semisal juga, di Indonesia Islam
diidentikkan dengan peci, sorban, atau sarung. Meski kadang ada
segi budaya yang memengaruhi, namun Islam sangat dekat dari hal-
hal tersebut.
Pahlawan Nasional dan muslim. Pada dasarnya nenek moyang
Hamka masih berhubungan dengan Imam Bonjo