HERMENEUTIKA SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM …

of 117/117
ISSN :2356-4164 (cetak) ISSN :2407-4276 (online) JURNAL KOMUNIKASI HUKUM Volume 2 Nomor 1, Pebruari 2016 HERMENEUTIKA SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM YANG PROGRESIF Andika Wahyudi Gani KEBENARAN HUKUM PERSPEKTIF FILSAFAT HUKUM Beniharmoni Harefa PASAL 66 AYAT (1) UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS DAN TINDAK PIDANA KORUPSI Hendry Julian Noor GAGASAN PENERAPAN VICARIOUS LIABILITY DALAM KONSEP KUHP ATAS TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN ANAK I.Gst Ngr Hady Purnama Putera PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA SECARA INDIVIDUAL OLEH DEWAN HAK ASASI MANUSIA PBB SUATU TINJAUAN TERHADAP TAHANAN RUMAH AUNG SAN SUU KYI I Gusti Ayu Apsari Hadi SINKRONISASI PENGATURAN SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KEPADA PERUSAHAAN LAIN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEKERJA OUTSOURCING DI INDONESIA Kadek Agus Sudiarawan PERLINDUNGAN ORANG SIPIL DALAM HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL Levina Yustitianingtyas LEMBAGA NEGARA PEMBENTUK UNDANG-UNDANG Ni Putu Niti Suari Giri RELEVANSI UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1979 TENTANG EKSTRADISI DENGAN PERKEMBANGAN HUKUM EKSTRADISI INTERNASIONAL (STUDI KASUS : PERJANJIAN EKSTRADISI INDONESIA-SINGAPURA) Syarifuddin JKH Volume 2 Nomor 1 Halaman 1-113 Singaraja Pebruari 2016 ISSN : 2356- 4164 2407-4276 JURUSAN ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM DAN ILMU SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA 2016
  • date post

    12-Nov-2021
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of HERMENEUTIKA SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM …

PENGANTAR REDAKSIJURNAL KOMUNIKASI HUKUM
Volume 2 Nomor 1, Pebruari 2016
HERMENEUTIKA SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM YANG PROGRESIF Andika Wahyudi Gani KEBENARAN HUKUM PERSPEKTIF FILSAFAT HUKUM Beniharmoni Harefa PASAL 66 AYAT (1) UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS DAN TINDAK PIDANA KORUPSI
Hendry Julian Noor
GAGASAN PENERAPAN VICARIOUS LIABILITY DALAM KONSEP KUHP ATAS TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN ANAK I.Gst Ngr Hady Purnama Putera PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA SECARA INDIVIDUAL OLEH DEWAN HAK ASASI MANUSIA PBB SUATU TINJAUAN TERHADAP TAHANAN RUMAH AUNG SAN SUU KYI I Gusti Ayu Apsari Hadi
SINKRONISASI PENGATURAN SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KEPADA PERUSAHAAN LAIN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEKERJA OUTSOURCING DI INDONESIA Kadek Agus Sudiarawan PERLINDUNGAN ORANG SIPIL DALAM HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL Levina Yustitianingtyas LEMBAGA NEGARA PEMBENTUK UNDANG-UNDANG Ni Putu Niti Suari Giri RELEVANSI UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1979 TENTANG EKSTRADISI DENGAN PERKEMBANGAN HUKUM EKSTRADISI INTERNASIONAL (STUDI KASUS : PERJANJIAN EKSTRADISI INDONESIA-SINGAPURA) Syarifuddin
JKH Volume 2 Nomor 1 Halaman 1-113
Singaraja Pebruari 2016
ISSN : 2356- 4164 2407-4276
JURUSAN ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM DAN ILMU SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA 2016
Diterbitkan oleh
Universitas Pendidikan Ganesha
Prof. Dr. Sukadi, M.Pd., M.Ed.
Wakil Penanggung Jawab
Ketua Dewan Penyunting
Wakil Ketua Dewan Penyunting
Anggota Dewan Penyunting
Ni Ketut Sari Adnyani, S.Pd., M.Hum.
Penyunting Pelaksana
I Gusti Ayu Apsari Hadi, S.H., M.H.
ALAMAT SEKRETARIAT JURNAL KOMUNIKASI HUKUM
Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha
Jalan Udayana Singaraja (Kampus Tengah Undiksha)
Telp.(0362) 23884 | Fax.(0362) 29884
VOLUME 2, NOMOR 1, Pebruari 2016
DAFTAR ISI
SUSUNAN DEWAN REDAKSI DAFTAR ISI HERMENEUTIKA SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM YANG PROGRESIF Andika Wahyudi Gani 1-10
KEBENARAN HUKUM PERSPEKTIF FILSAFAT HUKUM Beniharmoni Harefa 11-19
PASAL 66 AYAT (1) UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS DAN TINDAK PIDANA KORUPSI Hendry Julian Noor 20-27
GAGASAN PENERAPAN VICARIOUS LIABILITY DALAM KONSEP KUHP ATAS TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN ANAK I.Gst Ngr Hady Purnama Putera 28-34 PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA SECARA INDIVIDUAL OLEH DEWAN HAK ASASI MANUSIA PBB SUATU TINJAUAN TERHADAP TAHANAN RUMAH AUNG SAN SUU KYI I Gusti Ayu Apsari Hadi 35-54
SINKRONISASI PENGATURAN SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KEPADA PERUSAHAAN LAIN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEKERJA OUTSOURCING DI INDONESIA Kadek Agus Sudiarawan 55-69
PERLINDUNGAN ORANG SIPIL DALAM HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL Levina Yustitianingtyas 70-83 LEMBAGA NEGARA PEMBENTUK UNDANG-UNDANG Ni Putu Niti Suari Giri 84-93 RELEVANSI UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1979 TENTANG EKSTRADISI DENGAN PERKEMBANGAN HUKUM EKSTRADISI INTERNASIONAL (STUDI KASUS : PERJANJIAN EKSTRADISI INDONESIA-SINGAPURA) Syarifuddin 94-113 PETUNJUK PENULISAN
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
HERMENEUTIKA SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM YANG PROGRESIF
Andika Wahyudi Gani STIEM Bongaya Makassar
Email: [email protected]
ABSTRAK Kehidupan manusia begitu luas aspeknya sehingga tidak bisa seluruh
kehidupan manusia didefinisikan dalam suatu aturan perundang-undangan dengan tuntas dan jelas. Pembuat undang-undang tidaklah mampu merangkum seluruh kehidupan manusia sehingga pada umumnya yang ditetapkan hanyalah peraturan yang bersifat umum saja, karena undang-undang tersebut hanya mencakup yang bersifat umum saja dan kadangkala tidak jelas dan lengkap maka hakim harus mencari dan menemukan hukumnya (rechtsvinding).
Berangkat dari konsep hukum progresif, penemuan hukum yang progresif, bahwa hukum itu adalah untuk manusia, yang didalamnya termasuk nilai-nilai akan kebenaran dan keadilan yang menjadi titik pembahasan hukum, sehingga faktor etika dan moralitas tidak terlepas dari proses terjadinya penemuan hukum
Menurut tafsir hermeneutika, rumusan suatu aturan hukum tertulis hanyalah simbol yang mengandung makna. Rangkaian kalimat dalam suatu peraturan hanyalah sekedar baju atau cangkang dari makna yang terkandung di dalamnya. Bagi tafsir ini, yang penting dan terutama adalah mencari makna dari rumusan suatu ketentuan perundangan sebagaimana dimaksud pembentuknya dahulu, lalu dipahami secara holistik dalam sistem hukum yang diterapkan dalam suatu kenyataan. Hermeneutika hukum merupakan suatu bentuk penemuan hukum yang lebih holistik dan bersifat progresif yang bersandarkan pada nilai-nilai hukum, kebenaran dan keadilan serta juga nilai etika dan moralitas. Hermeneutika juga merupakan alternatif penemuan hukum yang mampu menciptakan nilai-nilai baru dalam kehidupan masyarakat, atau melakukan rekayasa dalam suatu masyarakat yang sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi serta perkembangan masyarakat
Kata kunci : Hermeneutika, Penemuan Hukum, Hukum Progresif.
ABSTRACT
So broad aspects of human life that all human life can not be defined in a rule of law thoroughly and clearly. The lawmakers are not able to summarize all of human life that are generally set only the rules of a general nature only, because the law only covers a general nature only and is sometimes unclear and incomplete, the judge must seek and find legal (rechtsvinding).
Departing from the legal concept of progressive, progressive discovery of the law, that the law is for humans, which includes the values of truth and justice that is the discussion of the law, so the factor of ethics and morality can not be separated from the process of legal discovery
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 2
According to the interpretation of hermeneutics, the formulation of a rule of written law is just a symbol that implies. A series of sentences in a regulation is merely a dress or shell of the meaning contained therein. For this interpretation, first and foremost, is to find the meaning of a formula of legislative provisions referred constituent first, then be understood holistically within the legal system applied in reality. Hermeneutics of law is a form of legal discovery is more holistic and progressive nature which relied on legal values, truth and justice as well as the ethics and morality. Hermeneutics is also an alternative legal discovery are capable of creating new values in public life, or engineered in a society that is in accordance with the times and technology and the development of society
Keywords: Hermeneutics, Invention Law, Progressive Law.
Pendahuluan
Aspek kehidupan manusia begitu luas sehingga seluruh kehidupan manusia tak bisa didefinisikan dalam suatu aturan perundang-undangan dengan tuntas dan jelas. Pembuat undang-undang tidaklah mampu merangkum seluruh kehidupan manusia sehingga pada umumnya yang ditetapkan hanyalah peraturan yang bersifat umum saja, maka hakim harus mencari dan menemukan hukumnya (rechtsvinding). Dari sinilah kita dapat mengetahui bahwa hukum itu senantiasa harus diketemukan sehingga hukum itu dapat terwujud dalam kenyataan. Tentu tidak hanya sekedar menerapkan peraturan perundang-undangan saja, tetapi perlu juga diperhatikan aspek-aspek lainnya karena hukum itu ada untuk manusia bukan sebaliknya, ini yang dapat dikatakan sebagai hukum yang bersifat progresif, hukum yang senantiasa mengabdi kepada kebutuhan- kebutuhan manusia akan kehidupannya.
Pada dasarnya setiap orang melakukan penemuan hukum. Setiap orang selalu berhubungan dengan orang lain, yang mana setiap orang
akan berusaha menemukan hukumnya untuk diri sendiri, yaitu kewajiban dan wewenang apakah yang dibebaskan oleh hukum padanya. Penemuan hukum yang paling utama dilakukan oleh aparat hukum, baik itu hakim, jaksa dan lain-lain. Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo (1993:9) berpendapat bahwa memahami penemuan hukum yang harus diingat oleh aparat hukum adalah bahwa penemuan hukum bukan semata-mata hanya penerapan peraturan-peraturan hukum terhadap peristiwa konkret, tetapi sekaligus juga penciptaan hukum dan pembentukan hukum.
Pada hakekatnya semua perkara membutuhkan metode penemuan hukum agar aturan hukum baik itu tertulis maupun tidak tertulis dapat diterapkan secara tepat terhadap peristiwa hukum, sehingga dapat terwujud suatu hukum yang diidamkan, yaitu hukum yang mengandung aspek keadilan, kepastian hukum serta kemanfaatan.
Berkenaan dengan penemuan hukum, Eddy O.S. Hiariej (2009: 56) mengutip J.A. Pontier (2008:1) mengemukakan bahwa ada dua unsur penting dalam penemuan hukum.
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 3
pertama, hukum/sumber hukum dan kedua adalah fakta. Pada awalnya, unsur hukum/sumber hukum dalam penemuan hukum adalah undang- undang. Hal ini berkaitan dengan suatu postulat yang dikenal dengan istilah “De wet is onschendbaar” (undang- undang tidak dapat diganggu gugat) yang dalam hukum Belanda tertuang secara explisit dalam Pasal 120 Grondwet. Akan tetapi, dalam perkembangannya, tidak semua hukum ditemukan dalam undang-undang. Oleh karena itu unsur hukum/sumber hukum dalam penemuan hukum tidak hanya meliputi undang-undang semata, tetapi juga meliputi sumber hukum lainnya, yaitu doktrin, yurisprudensi, perjanjian dan kebiasaan.
Dalam menegakkan hukum ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan : kepastian hukum (Rechtssicherheit), kemanfaatan (Zweckmassigkeit) dan keadilan (Gerechtigkeit). Hukum harus dilaksanakan dan ditegakkan. Setiap orang mengharapkan dapat ditetapkannya hukum dalam hal terjadi peristiwa konkrit. Bagaimana hukumnya itulah yang harus berlaku “fiat justitia et pereat mundus” (meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan). Itulah yang diinginkan oleh kepastian hukum. Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Sebaliknya masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau penegakan hukum. Masyarakat sangat berkepentingan bahwa dalam pelaksanaan atau penegakan hukum, keadilan diperhatikan.
Berdasarkan konteks kekinian, munculnya kritik dari masyarakat terhadap putusan hakim menunjukkan kurang puasnya masyarakat terhadap kinerja pengadilan. Hal ini dapat ditemukan dari data empiris hasil jajak pendapat Harian Kompas (Shinta Dewi Rismawati, 2009 : 28) menunjukkan bahwa 72,7 % rakyat belum mendapatkan perlakuan adil, dimana sebanyak 45,3 % responden menilai bahwa putusan hakim didasarkan pertimbangan uang, sebanyak 30,5 % responden menilai karena pertimbangan politik dan hanya 9,3 % responden yang masih percaya putusan pengadilan di Indonesia didasarkan pada pertimbangan hukum.
Keprihatinan terhadap kondisi hukum di Indonesia yang menurut pengamat hukum dari dalam maupun luar negeri, sebagai salah satu sistem hukum yang terburuk di dunia, sehingga hukum di Indonesia memberikan kontribusi yang rendah dalam turut mencerahkan bangsa untuk keluar dari keterpurukan.
Hal ini memicu munculnya gagasan hukum progresif. Menurut pendapat Satjipto Raharjo (2006 : 2) bahwa hukum itu adalah suatu institusi yang bertujuan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang adil, sejahtera. Hal lain yang patut disadari bahwa hukum merupakan suatu produk dalam kehidupan manusia yang bermasyarakat, jadi untuk memahami kehidupan manusia kita juga harus memahami hukumnya.
Tetapi memahami hukum juga tak bisa terlepas dari memahami kenyataan kehidupan manusia sehari-
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 4
hari. Dengan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana cara memahami hukum yang benar tentu akan mengarahkan kita dalam melakukan suatu penemuan hukum yang baik. Untuk itulah hermeneutika hukum berusaha mencari dasar kefilsafatan bagaimana manusia memahami hukumnya melalui interpretasi.
Bernard Arief Sidharta (1999 : 94) mengungkapkan bahwa mula pertama hermeneutika itu dikembangkan adalah sebagai metode atau seni untuk menafsirkan teks. Kemudian lewat karya Scleiermacher dan Wilhelm Dilthey (Hans Georg Gadamer, 1965 : 289) mengembangkan dan menggunakan hermeneutika sebagai metode untuk ilmu - ilmu manusia, khususnya ilmu sejarah. Akhirnya, lewat karya Hegel dan karya Heidegger, Gadamer mengembangkan hermeneutika sebagai landasan kefilsafatan ilmu - ilmu manusia dalam bukunya “Truth and Method” . Dalam buku tersebut, Gadamer menyisishkan paragraph khusus dengan judul “The Exemplary Significance of Legal Hermeneutics” yang intinya berbicara mengenai signifikansi hermeneutika hukum. Kemudian dalam karya Heidegger dan karya Gadamer (B. Arief Sidharta, 1999 : 95-96), hermeneutika sebagai metode dikembangkan menjadi filsafat hermeneutika yang berintikan konsep-konsep kunci berikut: pendidikan (bildung), tradisi (ueberliefrung), prasangka (Vorurteil), pemahaman (verstehen), lingkaran hermeneutika (hermeneutische zirkel), pengalaman (erfahrung), sejarah pengaruh (wirkungsgeschichte), kesadaran sejarah pengaruh (effective
historical conciousness), dan perpaduan cakrawala (fusion of horizons). Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis dapat menarik suatu permasalahan yang akan dikaji dalam tulisan ini, yaitu : 1. Metode penemuan hukum yang
progresif patut disadari sebagai upaya alternatif yang dapat ditempuh oleh para penegak hukum untuk mengantisipasi terjadinya kekosongan hukum dalam sebuah aturan hukum positif demi terwujudnya tujuan hukum. Dengan begitu, bagaimana metode penemuan hukum dalam perspektif hukum progresif?
2. Bagaimana Implementasi metode hermeneutika guna menciptakan penemuan hukum yang progresif?
Pembahasan Metode Penemuan Hukum yang Progresif
Masalah penemuan hukum dalam kaitannya dengan tugas hakim adalah muncul pada saat hakim melakukan pemeriksaan perkara hingga saat menjatuhkan putusan. Hakim dalam menjalankan tugas dan wewenangnya memeriksa, mengadili dan kemudian menjatuhkan putusan harus didasarkan pada hukum yang berlaku dan juga berdasarkan keyakinannya, bukan berdasarkan logika hukum semata. Menurut Bagir Manan (2005 : 209), rumusan undang-undang yang bersifat umum tidak pernah menampung secara pasti setiap peristiwa hukum. Hakimlah yang berperan menghubungkan atau menyambungkan peristiwa hukum
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
yang konkret dengan ketentuan hukum yang abstrak.
Menurut Achmad Ali sebagaimana dikutip oleh Yudha Bhakti Ardhiwisastra (2000 : 19) ada 2 (dua) teori metode penemuan hukum yang dapat dilakukan oleh hakim dalam praktik peradilan, yaitu antara lain : a. Metode Interpretasi Hukum
Interpretasi merupakan penjelasan setiap istilah dari suatu perjanjian apabila terdapat pengertian ganda atau tidak jelas dan para pihak memberikan pengertian yang berbeda terhadap istilah yang sama atau tidak dapat memberikan arti apa pun terhadap istilah tersebut. Tujuan utama interpretasi adalah menjelaskan maksud sebenarnya dari para pihak atau merupakan suatu kewajiban memberikan penjelasan mengenai maksud para pihak seperti dinyatakan dalam kata-kata yang digunakan oleh para pihak dilihat dari keadaan- keadaan yang mengelilinginya. b. Metode Konstruksi Hukum
Salah satu metode yang akan digunakan oleh hakim pada saat ia dihadapkan pada situasi adanya kekosongan hukum (rechts vacuum) atau kekosongan undang-undang (wet vacuum), karena pada prinsipnya hakim tidak boleh menolak perkara untuk diselesaikan dengan dalih hukumnya tidak ada atau belum mengaturnya (asas ius curia novit). Hakim harus terus menggali dan menemukan hukum yang hidup dan berkembang ditengah-tengah masyarakat, karena sebagai penegak hukum dan keadilan, hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Ahmad Rifai (2010 : 4) membagi karakteristik penemuan hukum yang progresif adalah : a. Penemuan hukum yang didasarkan
atas apresiasi hakim sendiri dengan dibimbing oleh pandangannya atau pemikirannya secara mandiri, dengan berpijak pada pandangan bahwa hukum itu ada untuk mengabdi kepada manusia.
b. Penemuan hukum yang bersandarkan pada nilai-nilai hukum, kebenaran dan keadilan, serta juga etika dan moralitas.
c. Penemuan hukum yang mampu menciptakan nilai-nilai baru dalam kehidupan masyarakat, atau melakukan rekayasa dalam suatu masyarakat yang sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi serta keadaan masyarakat.
Secara faktual, tidak dapat ditentukan metode penemuan hukum yang bagaimanakah yang dapat digunakan hakim dalam melakukan penemuan hukum yang sesuai dengan karakteristik penemuan hukum yang progresif, karena dalam setiap perkara atau kasus mempunyai bentuk dan karakteristik yang berlainan atau variatif sifatnya. Sehingga hakim akan menggunakan metode penemuan hukum yang sesuai dengan kasus yang dihadapinya (case by case), apakah itu salah satu metode interpretasi hukum ataukah salah satu dari metode konstruksi hukum atau hanya berupa gabungan dari beberapa metode interpretasi hukum atau konstruksi hukum, ataukah sekaligus dari metode interpretasi hukum dan konstruksi hukum sekaligus. Putusan hakim yang demikian diharapkan dapat mendorong pada perbaikan dalam
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
masyarakat dan membangun harmonisasi sosial dalam pergaulan antar anggota masyarakat serta dapat dipergunakan sebagai sumber pembaharuan hukum. Hermeneutika Hukum sebagai Penemuan Hukum yang Progresif.
Friedrich Schleiermacher (Richard E. Palmer, 2005 : 95) mendefinisikan hermeneutik sebagai seni memahami, sementara Paul Ricoeur (1990 : 43) mendefinisikan, hermeneutik adalah teori operasi pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi teks (hermeneutics is the theory of the operations of understanding in their relation to the interpretation of texts). Penafsiran untuk mencari makna suatu aturan sebagaimana dimaksud oleh pembentuknya dahulu disebut penafsiran hermeneutika. Secara etimologi, hermeneutika berasal dari kata Hermes, nama salah seorang Dewa Yunani yang berarti ‘Pembawa Berita’. Menurut Gadamer, sebagai mana dikutip oleh Ahmad Rifai (2010 : 87) “Legal hermeneutics is then, in reality no special case but is, in contrary fitted to restore the full scope of the hermeneutical problem and so to retrieve the former unity of hermeneutics, in which jurist and theologian meet the student of humanities.” (yang secara bebas dapat diartikan sebagai: “Hermeneutika hukum dalam kenyataannya bukanlah suatu hal yang khusus, tetapi sebaliknya ia hanya merekonstruksikan seluruh problem hermeneutika dan kemudian membentuk kembali kesatuan hermeneutika itu secara utuh, dimana
para ahli hukum dan para teologis bertemu dengan mereka-mereka yang mendalami peri kemanusiaan.”).
Gustav Radbruch termasuk orang yang sangat tidak setuju dengan metode penafsiran hermeneutika. Dalam bukunya “Outline of Legal Philosophy”. Radbruch mengatakan bahwa suatu ketentuan undang- undang harus dicari maknanya sendiri melampaui apa yang dimaksud oleh pembentuknya dahulu dengan menggunakan penafsiran trans empiris (trans-empirical interpretation).
Menurutnya, suatu peraturan harus dimaknai sesuai dengan konteks pemahaman ketika hukum itu akan diterapkan, tidak harus terikat dengan maksud pembentuknya dahulu. Memaknai suatu peraturan perundangan dengan mengacu kepada maksud pembentuk undang-undang dahulu akan menghasilkan kumpulan pandangan dari para pembentuknya yang mungkin memiliki gap (jurang) antara pandangan yang satu dan pandangan lainnya, yang juga belum tentu masih relevan dan sesuai dengan konteks atau situasi yang dihadapi pada saat hukum itu akan diterapkan, sementara hukum memerlukan kepastian makna untuk memberikan suatu kepastian hukum pada suatu kenyataan.
Lebih lanjut Radbruch mengemukakan bahwa sama halnya dengan suatu teka-teki dapat menimbulkan suatu jawaban yang benar sesuai konteks waktu, yang mungkin sama atau sama sekali berbeda dengan jawaban yang dimaksud oleh si pembuat teka-teki tersebut pada saat membuat teka-teki itu, demikian juga halnya undang-
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 7
undang, itu dapat mempunyai makna yang meskipun terlepas dan sama sekali berbeda dengan yang dimaksud oleh pembentuk hukum itu dahulu, akan tetapi dapat diterapkan pada dan sesuai dengan suatu konteks tertentu pada saat tertentu.
Penulis dalam hal ini tidak sependapat dengan Gustav Radbruch. Dengan melepaskan makna suatu ketentuan undang-undang dari apa yang dimaksud oleh dan menjadi tujuan pembentuknya dahulu, maka suatu undang-undang itu akan kehilangan roh atau cita-cita (rechtsidee) dari para pembentuknya dahulu untuk mana mereka membuat ketentuan-ketentuan itu.
Keadaan demikian itu juga akan semakin menjauhkan hukum dari tugasnya semula, ialah untuk mengarahkan para justiabelen atau subjek hukum itu mencapai tujuan yang dimaksud oleh pembuat hukum itu dahulu (law as a tool of social enginering), yaitu tujuan dari negara sebagai pembentuk hukum. Akibat yang lebih jauh lagi dari keadaan itu ialah bahwa hukum tidak lagi mengatur otoritas pelaksana hukum guna mencapai tujuannya, melainkan pelaksana hukumlah yang akan mengatur dan melaksanakan hukum sesuai dengan kepentingan dan/ atau kenyataan yang dihadapinya dari masa ke masa.
Jazim Hamidi (2005 : 2) berpendapat bahwa esensi hermeneutika adalah pemahaman melalui interpretasi. Berdasarkan pandangan bahwa kegiatan dalam kehidupan manusia sangat luas, tidak terhitung jumlah dan jenisnya, sehingga tidak mungkin tercakup
dalam suatu peraturan perundang- undangan dengan tuntas dan jelas, maka dari itu hukum itu harus diketemukan agar terdapat kesesuain dengan kenyataan dan disanalah terjadi proses hermeneutika. Gadamer (Gregory Leyh, 2008 : 1-2) menambahkan bahwa hermeneutika dalam kenyataannya bukanlah merupakan suatu kasus khusus/baru, tetapi sebaliknya, ia hanya merekonstruksi kembali dari seluruh problematika hermeneutika dan kemudian membentuk kembali kesatuan hermeneutika secara utuh, dimana ahli hukum dan teologi bertemu dengan ahli humaniora/ilmu kemanusiaan.
Dalam kenyataan memang pembuat undang-undang hanya menetapkan peraturan yang bersifat umum saja, dan pertimbangan tentang hal-hal konkret diserahkan kepada hakim jadi hakimlah yang mempunyai kebebasan untuk menentukan hukum itu dalam kenyataan di depan persidangan dan dapat memberikan sentuhan human pada hukum dan peraturan perundang-undangan. Dari sana hakim melakukan penemuan hukum, Sudikno Mertokusumo (1993 : 4) juga mengatakan karena undang- undang tidak lengkap hakim harus melakukan penemuan hukum penegakkan dan pelaksanaan hukum sering merupakan penemuan hukum dan tidak sekedar penerapan hukum.
Hermeneutik digunakan tidak hanya berkaitan dengan masalah pengertian dengan arti ganda, tetapi berhubungan dengan seluruh kenyataan bahasa dan dengan suatu teks. Fungsi simbolik dan interpretasi harus diinterpretasikan dalam konteks
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
yang lebih pasti dari teks, sehingga didalam mengguanakan interpretasi harus diketahui proses dari interpretasi yang berkepentingan untuk menghindari distorsi pemahaman dan bertujuan mencari kebenaran (correctenes).
Teks dalam pengertiannya adalah setiap diskursus yang dibakukan dalam tulisan. Suatu teks menempatkan diskursus lewat tulisan. Sebagai diskursus dialektis peristiwa-arti dan dialektika arti referensi berlaku pula pada teks (W. Poespoprodjo, 2004 : 122). Menurut definisi ini, pembakuan lewat tulisan merupakan ciri konstitutif dari teks itu sendiri sehingan dengan demikian apa yang dibakukan oleh tulisan adalah diskursus yang memang dapat diucapkan, dan pembekuan melalui tulisan menempati posisi ucapan. Sebuah teks baru akan menjadi teks ketika langsung membubuhkan apa yang dimaksudkan oleh diskursus ke dalam huruf-huruf tertulis.
Hubungan langsung antara makna dan pernyataan dan tulisan dapat didukung dengan melihat pada pembaca dan hubungan dengan tulisan. Tulisan yang menjadi teks memerlukan pembaca melalui cara yang memungkinkan pembaca untuk langsung memperkenalkan konsep- konsep interpretasi. Teks adalah tempat munculnya seorang pengarang sehingga muncul relasi antara keduanya yang bisa dikatakan bahwa pengarang teks dilembagakan oleh teks.
Penjelasan dan interpretasi akan saling berhadapan dalam tindakan membaca. W. Dilthey (1976 : 248) mengemukakan pendapat mengenai
dualitas antara penjelasan dan interpretasi. Menurut Dilthey pembaca dari suatu teks sebetulnya bukanlah antara penjelasan dan interpretasi melainkan antara penjelasan dan pemahaman karena interpretasi adalah wilayah khusus yang dijadikan dari bagian pemahaman. Selanjutnya Dilthey mengatakan bahwa pemahaman merupakan proses yang membuat individu tahu sesuatu menganai kehidupan mental melalui tanda-tanda yang harus dipahami yang merepresentasikan kehidupan mental itu.
Disinilah dibutuhkan Hermeneutika sebagai metode yang dapat menerangkan makna dari dokumen hukum yang berkaitan dengan konteks sekarang. Hermeneutik berhubungan dengan konsep memahami dan interpretasi.
Simpulan a. Dengan mendasarkan pada
karakteristik penemuan hukum yang progresif tersebut diatas, maka dapat dijelaskan metode penemuan hukum yang progresif adalah sebagai berikut:
1) Metode penemuan hukum yang bersifat visioner dengan melihat permasalahan hukum tersebut untuk kepentingan jangka panjang ke depan dengan melihat case by case.
2) Metode penemuan hukum yang berani dalam melakukan suatu terobosan (rule breaking) dengan melihat dinamika masyarakat, tetapi berpedoman pada hukum, kebenaran, dan keadilan serta memihak dan peka pada nasib dan keadaan bangsa dan negaranya.
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 9
3) Metode penemuan hukum yang dapat membawa kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dan juga dapat membawa bangsa dan negara keluar dari keterpurukan dan ketidakstabilan sosial seperti saat ini.
b. Metode Hermeneutika dapat dikatakan sebagai metode penemuan hukum yang progresif, dengan berbagai alasan sebagai berikut:
1) Hermeneutika hukum dapat dikatakan sebagai suatu metode penemuan hukum. pada dasarnya hermeneutika hukum tidak terpisah dengan metode penemuan hukum lainnya, Hermeneutika hukum hanya merangkum seluruh metode penemuan hukum yang ada dalam kesatuan pemahaman yang lebih holistis dengan bingkai keterkaitan antara teks, konteks, dan kontekstualisasinya.
2) Hermeneutika hukum sesuai dengan karakteristik penemuan hukum yang progresif. Hermeneutika hukum dalam melaksakan perannya selalu berhati-hati karena senantiasa meperhatikan keterkaitan anatara teks, konteks, dan kontekstualisasinya. Dan dalam praktik yang terjadi pada kasus Marbury vs Madison hermeneutika hukum terbukti mampu menciptakan hukum yang lebih progresif
Saran
Sebagaimana yang disebut tentang metode penemuan hukum dalam perspektif hukum progresif,
maka saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah agar putusan hakim sesuai dengan metode penemuan hukum yang progresif yaitu antara lain: a. Putusan hakim tidak hanya
semata-mata bersifat legalistik, yakni hanya sekedar corong undang-undang (la bouche de la loi) meskipun seharusnya hakim selalu harus legalistik karena putusannya tetap berpedoman pada peraturan perundang- undangan yang berlaku.
b. Putusan hakim tidak hanya sekedar memenuhi formalitas hukum atau sekadar memelihara ketertiban saja, tetapi putusan hakim harus berfungsi mendorong perbaikan dalam masyarakat dan membangun harmonisasi sosial dalam pergaulan
c. Putusan hakim yang mempunyai visi pemikiran kedepan (visioner), yang mempunyai keberanian moral untuk melakukan terobosan hukum (rule breaking), dimana dalam hal suatu ketentuan undang- undang yang ada bertentangan dengan kepentingan umum, kepatutan, peradaban, dan kemanusiaan yakni nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, maka hakim bebas dan berwenang melakukan tindakan contra legem, yaitu mengambil putusan yang bertentangan dengan pasal undang-undang yang bersangkutan dengan tujuan untuk mencapai kebenaran dan keadilan.
d. Putusan hakim yang memihak dan peka pada nasib dan keadaan bangsa dan negaranya yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan untuk kemakmuran
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
masyarakat serta membawa bangsa dan negaranya keluar dari keterpurukan dalam segala bidang kehidupan.
Daftar Pustaka Ardhiwisastra, Yudha Bhakti, 2000.
Penafsiran dan Konstruksi Hukum, Alumni, Bandung.
Dilthey, W., 1976. The Development of Hermeneutics in Selected Writings, (terj) H. P. Rickman, Cambridge University Press, Cambridge.
Gadamer, Hans Georg, 1965. Truth and Method terjemahan oleh Ahmad Sahidah, Kebenaran dan Metode, Pengantar Filsafat Hermeneutika, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Hamidi, Jazim, 2005. Hermeneutika Hukum, Teori Penemuan Hukum Baru dengan Interpretasi Teks, UII Press, Yogyakarta.
Hiariej, Eddy O.S., 2009. Asas Legalitas dan Penemuan Hukumdalam Hukum Pidana, Erlangga, Jakarta.
Manan, Bagir, 2005. Suatu Tinjauan terhadap Kekuasaan Kehakiman dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, Mahkamah Agung RI, Jakarta.
Mertokusumo, Sudikno, dan A. Pitlo, 1993. Bab-bab Tentang Penemuan, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Palmer, Richard E., 2005. Hermeneutika Teori Baru Mengenal Interpretasi (terj.) Hermeneutics Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer, cetakan
Kedua, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Poespoprodjo, W., 2004. Hermeneutika, Pustaka Setia, Bandung.
Pontier, J.A., 2008. Penemuan Hukum, Penerjemah B. Arief Sidharta, Jendela Mas Pustaka, Bandung.
Rahardjo, Satjipto, 2006. Hukum Progresif sebagai Dasar Pembangunan Ilmu Hukum Indonesia, sebagaimana terdapat dalam Menggagas Hukum Progresif Indonesia, Pustaka Pelajar.
Ricoeur, Paul, 1990. Hermeneutics and Human Sciences, John B. Thompson (terj. Dan ed.) Cambridge University Press.
Rifai, Ahmad, 2010. Penemuan Hukum oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif, Sinar Grafika, Jakarta.
Rismawati, Shinta Dewi, 2009. Hermeneutika Hukum: Upaya Menangkap Makna Keadilan Dalam Teks (Sebuah Tawaran Alternatif dan Solutif), Jurnal Ilmiah Hukum dan Dinamika Masyarakat, Vol.7 No. 1 Oktober 2009, Semarang: Fakultas Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus.
Sidharta, B. Arief, 1999. Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung.
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
KEBENARAN HUKUM PERSPEKTIF FILSAFAT HUKUM
Beniharmoni Harefa Mahasiswa Pascasarjana FH UGM Yogyakarta
Email : [email protected]
ABSTRAK Memahami kebenaran hukum dari sisi filsafat hukum, harus diawali dengan memahami pengertian dan tujuan hukum itu sendiri. Hukum secara sederhana dapat diartikan sebagai sekumpulan aturan, kaedah yang berasal dari nilai-nilai yang kemudian menjelma menjadi norma. Kehadiran hukum sangat dibutuhkan dalam menciptakan ketertiban di dalam kehidupan sosial manusia tersebut, itulah yang menjadi salah satu tujuan hukum. Dikenal tiga teori dalam menentukan kriteria kebenaran. Teori korespondensi, teori koherensi atau konsistensi, dan teori pragmatis. Kesimpulan, kebenaran hukum perspektif filsafat hukum, kembali kepada paradigma/ teori apa yang digunakan. Keyakinan atau kepercayaan hukum apa yang dianut oleh seseorang akan membawanya kepada jawaban akan kebenaran hukum yang ia percayai. Maka untuk menuntun seseorang kepada kebenaran hukum yang sesungguhnya, dibutuhkan ilmu. Sehingga kebenaran hukum yang dicapai adalah kebenaran yang mutlak/ absolut. Kata Kunci : Kebenaran Hukum, Filsafat Hukum
ABSTRACT
Understanding the legal validity of the philosophy of law, must begin by
understanding the sense and purpose of the law itself. The law can be interpreted
simply as a set of rules, rules derived from the values which are then transformed into
the norm. The presence of the law is needed to establish order in the human social
life, that is the one purpose of the law. Known three theories in determining criterion
of truth. Correspondence theory, the theory of coherence or consistency, and the
pragmatic theory. In conclusion, the truth of the law of legal philosophy perspective,
back to the paradigm / theory of what is used. Confidence or trust what the law
adopted by someone will take him to the answers to the legal truth that he trusted.
Then to lead a person to the truth of the real law, it takes knowledge. So that the
truth of law achieved is the absolute truth / absolute.
Keywords : Truth of Law, Philosophy of Law
Pendahuluan Berbicara tentang kebenaran
sesuatu, tidak terlepas dari pengertian dan fungsi dari sesuatu yang akan dicari kebenarannya itu (Inu K Syafii, 2005:59). Demikian
halnya berbicara tentang kebenaran hukum, maka tidak terlepas dari pengertian dan fungsi dari hukum itu sendiri.
Pengertian hukum menurut Soedikno Mertokusumo adalah
ISSN : 2356-4164
keseluruhan kumpulan peraturan-peraturan atau kaedah- kaedah dalam suatu kehidupan bersama (Sudikno M, 2003:40). Hukum secara umum juga dapat diartikan sebagai keseluruhan peraturan tentang tingkah laku yang berlaku dalam suatu kehidupan bersama, yang dapat dipaksakan pelaksanaannya dengan adanya sanksi.
Montesquieu dalam bukunya The Spirit of Laws, menyampaikan hukum secara umum dapat diartikan sebagai hubungan pasti yang berasal dari sifat dasar segala sesuatu. Dalam pengertian ini berarti bahwa semua wujud memiliki hukumnya (Montesquieu,2007:88).
Tuhan memiliki hukumnya, dunia material memiliki hukumnya, binatang memiliki hukumnya, manusiapun memiliki hukumnya sendiri. Dalam kaitannya dengan yang akan dibahas tentunya pengertian yang disampaikan oleh Montesquieu akan dibatasi dalam pengertian hukum yang dimiliki oleh manusia.
Kendati hingga saat ini belum ada pengertian yang baku akan defenisi hukum yang sempurna, namun hukum secara sederhana dapat diartikan sebagai sekumpulan aturan, kaedah yang berasal dari nilai-nilai yang kemudian menjelma menjadi norma. Nilai-nilai yang terkandung dalam hukum, tentunya sudah sesuai dengan nilai moral dan etika yang ada dan diakui keberadaannya di dalam kehidupan manusia.
Sejauh ini dengan melihat secara singkat pengertian dan penjelasan di atas, sementara disimpulkan bahwa hukum tentunya berasal dari nilai- nilai yang dianggap benar di dalam kehidupan manusia.
Tulisan ini hendak membahas kebenaran hukum, ditinjau dari perspektif filsafat hukum. Maka sebelum mengkaji kebenaran hukum, tentunya harus dipahami apa yang menjadi tujuan hukum.
Tujuan Hukum
Lalu apa tujuan diciptakannya hukum ? Soetandyo Wignjosoebroto mengatakan apabila hukum sudah dikonsepkan sebagai institusi atau gejala sosial yang empiris yang termanifestasi dalam tindakan/ aksi serta interaksi warga masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, maka hukum bertujuan untuk mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat (Soetandyo Wignjosoebroto,2002:116).
Ditegaskan oleh Satjipto Rahardjo bahwa hukum ada untuk manusia, hukum itu tidak ada untuk hukum itu sendiri. Hukum adalah suatu institusi yang bertujuan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang adil, sejahtera dan membuat manusia bahagia (Satjipto Rahardjo,2010:33). Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, seseorang manusia membutuhkan manusia lainnya. Manusia tidak dapat hidup sendiri (manusia makhluk sosial) (Aabied,2012:112).
Kehadiran hukum sangat dibutuhkan dalam menciptakan ketertiban di dalam kehidupan sosial manusia tersebut. Hal ini dimaksud untuk menghindari terjadinya konflik antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Sedikit mengenai konflik, konflik itu muncul, pada saat manusia berinteraksi dengan manusia lainnya di dalam kehidupan bermasyarakat (sosial), Manusia mempunyai kepentingan yang berbeda-beda, maka dalam
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
memenuhi kepentingannya, rentan menimbulkan pertentangan dengan manusia lainnya (conflict of interest) yang berujung pada kehancuran. Oleh sebab itu, diperlukan hukum yang mengatur agar tercipta ketertiban.
Kembali pada tujuan hukum, dalam pembahasan mengenai tujuan hukum, Thomas Aquinas mengemukakan 4 (empat) macam hukum, yaitu lex eterna, lex naturalis, lex divina dan lex humana (Peter Mahmud Marzuki,2010:104). Lex eterna merupakan suatu aturan yang menguasai alam semesta melalui kehendak Allah sesuai dengan kebijaksanaanNya. Semua makhluk berada dalam kerangka tujuan lex eterna dan manusia mempunyai suatu tujuan tertentu karena manusia merupakan makhluk rasional.
Lex naturalis, menurut Thomas Aquinas, tidak terlepas dari partisipasi makhluk rasional dalam lex eterna. Lex naturalis inilah yang akan mengarahkan aktivitas manusia melalui aturan-aturan dasar dalam hidupnya. Masih menurut Thomas Aquinas, lex divina yaitu pedoman- pedoman dari Allah untuk mengarahkan bagaimana seyogianya manusia bertindak. Terakhir, lex humana adalah aturan-aturan yang berasal dari pemerintah atau aturan- aturan yang dibuat oleh manusia.
Aturan-aturan ini dibuat dengan menggunakan kekuatan nalar yang dimiliki oleh manusia. Dari pembagian hukum yang dikemukakan Aquinas, terlihat bahwa tujuan hidup manusia menurut Aquinas, bukan hanya untuk mencapai kebahagiaan duniawi belaka, melainkan untuk mendapatkan kebahagiaan kekal sebagai tujuan bersifat supernatural. Secara sederhana Aquinas hendak
mengatakan bahwa hukum bertujuan untuk mengantarkan manusia kepada kebahagiaan kekal.
Namun apakah sesederhana itu dalam memahami arti dan fungsi hukum itu sendiri. Apakah nantinya pengertian dan fungsi hukum yang telah disampaikan di atas tidak terjebak pada pengertian dan fungsi yang dogmatik semata. Pertanyaan ini yang kemudian akan dijawab secara filosofis oleh filsafat hukum.
Kembali pada apa yang hendak dibahas dalam tulisan ini, yakni kebenaran hukum jika ditinjau dari filsafat hukum. Apa yang dimaksud dengan filsafat hukum ? memang tidak mudah untuk mendefenisikan apa itu filsafat hukum (Dominikus Rato,2011:2). Filsafat Hukum
Theo Huijbers mengatakan bahwa pokok persoalan filsafat hukum bukanlah quid iuris, melainkan quid ius. Sebagai quid iuris hukum berorientasi pada dan sebagai hukum positif yaitu hukum yang berlaku dan sedang berlaku saja. Sedangkan quid ius, hukum berorientasi sebagai sesuatu yang substantif dan esensial, inilah yang kemudian teba telaah filsafat hukum (Theo Huijbers,1995:76).
H.L.A. Hart, berpendapat bahwa filsafat hukum adalah karya pikir bersama antara filsafat moral, filsafat politik, dan bahasa. Sebagai hasil karya filsafat moral, filsafat hukum membahas konsep-konsep hukum tentang rasa bersalah, kesalahan, niat, dan tanggung jawab yang merupakan issue sentral dalam hukum terutama ketika hukum menekankan konsep- konsep di atas dalam pikiran dan perbuatan (H.L.A. Hart,2009).
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Mempelajari filsafat hukum tentunya akan membawa seseorang pada apa yang dimaksud mengenai hukum itu, dengan sebenar-benarnya dan sedalam-dalamnya. Plato dalam tulisannya Andre Ata Ujan, menyampaikan bahwa seorang filsuf (orang yang ahli filsafat), tidak pernah berhenti mencari dan menemukan kebenaran (searching for truth) dan membangun keadilan (to built justice) (Andre Ata Ujan,2009:17-18).
Bahkan kebenaran dan keadilan, hasil pemikiran para filsuf sebelumnya, pun tidak luput dari sikap kritik filsafat mereka, sebab dalam filsafat tidak ada kebenaran yang final. Demikian halnya dengan filsafat hukum, filsafat hukum harus berupaya mencari dan menemukan hakekat hukum secara radikal (sampai ke akar-akarnya), secara sistematis, rasional, dan metodis. Filsafat hukum berupaya untuk menemukan jawaban terdalam dari sebuah objek formalnya, yaitu hukum.
Darji Darmodiharjo dan Shidarta, mengungkapkan bahwa filsafat hukum adalah filsafat tingkah laku dan etika, yang mempelajari hakekat hukum secara filosofis. Hukum dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut dengan hakekat (Darji Darmodiharjo dan Shidarta, 2004:11).
J.J.H. Bruggink dalam bukunya Otje Salman dan Anton F. Susanto, mengatakan bahwa filsafat hukum adalah induk dari semua disiplin yuridik. Karena filsafat hukum membahas masalah-masalah yang paling fundamental yang timbul dalam hukum (Otje Salman dan Anton F. Susanto,2004:64). Ditambahkannya, oleh karena
kefundamentalannya masalah- masalah hukum yang hendak dibahas itu, sehingga oleh manusia tidak terpecahkan. Oleh karena masalahnya melampaui kemampuan berpikir manusia.
Filsafat hukum akan merupakan kegiatan yang tidak pernah berakhir, karena mencoba memberikan jawaban pada pertanyaan- pertanyaan abadi. Pertanyaan itu tentunya adalah pertanyaan yang terhadapnya, hanya dapat diberikan jawaban yang menimbulkan banyak pertanyaan baru.
Maka dalam menjawab pertanyaan bagaimana kebenaran hukum perspektif filsafat hukum ini nantinya, kiranya akan membawa kita pada wilayah yang semakin menimbulkan pertanyaan- pertanyaan baru tentang hukum. Kita semakin tidak akan berhenti dan puas pada jawaban atas pertanyaan kebenaran hukum perspektif filsafat hukum.
Bahkan jawaban akan pertanyaan tentang kebenaran inilah yang kemudian nantinya, akan membawa kita berjalan jauh, menyusuri pengertian mengenai hukum yang sedalam-dalamnya sampai ke akar- akarnya, itulah filsafat. Maka untuk itu pengertian kebenaran juga harus dipahami.
Pengertian Kebenaran
Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Tentang kebenaran ini, Plato pernah berkata: “Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; “Kebenaran itu adalah kenyataan”, tetapi bukanlah kenyataan (das sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (das sein) yang terjadi.
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 15
Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidakbenaran (keburukan). Jadi ada 2 pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak, dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran) (Marwadi, 2013).
Dalam bahasan ini, makna ”kebenaran” dibatasi dalam makna ”kebenaran hukum”. Apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran hukum, mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih sejati lagi dan demikian seterusnya.
Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden,dengan kata lain, keresahan mencari kebenaran hukum berkaitan erat dengan hasrat yang ada dalam diri manusia yang selalu ingin mencari kebenaran yang sesungguhnya. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak berhenti dari kebenaran hukum itu saja, namun terdapat kebenaran diluar jangkauan manusia. Utamanya untuk mencari kebenaran hukum secara filosofis.
Dikenal ada beberapa teori dalam menentukan kriteria kebenaran. Teori korespondensi (yakni persamaan dengan fakta), teori koherensi atau konsistensi, dan teori pragmatis (Harold H Titus,dkk,2007:105). Pertama, teori korespondensi adalah paling diterima secara luas oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality).
Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi dimana pertimbangan itu
berusaha untuk melukiskan, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu (Jujun S. Sumiasumantri,2000).
Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi hukum yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju atau diatur oleh hukum tersebut. Misalnya “jika seorang melakukan pencurian maka orang tersebut akan dihukum, agar menimbulkan efek jera sehingga orang lain tidak melakukan pencurian lagi dan kehidupan menjadi tertib”.
Materi hukum itu adalah benar, sebab sebagaimana kita ketahui bahwa hukum ada dan berfungsi untuk mengatur tingkah laku manusia, agar tidak saling menghacurkan sebagaimana dikemukakan Thomas Hobbes : homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi yang lain). Sehingga dengan adanya hukum tercipta suatu ketertiban dan kedamaian yang menuju pada kesejahteraan manusia itu sendiri.
Sekiranya ada orang lain yang mengatakan bahwa “pencuri itu tidak dapat dihukum, meskipun telah terbukti” maka tentu saja, pernyataan itu adalah tidak benar. Sebab di dalam hukum diatur mengenai apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Pencurian merupakan perbuatan yang tidak boleh dilakukan atau dilarang oleh hukum. Oleh sebab itu, seorang pencuri yang telah terbukti melakukan pencurian harus dihukum agar timbul efek jera dan
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
menciptakan ketertiban di dalam kehidupan masyarakat.
Dalam hal ini maka secara faktual “setiap orang yang bersalah dapat dihukum, dengan berdasarkan pembuktian, guna menciptakan kedamaian dan ketertiban di dalam kehidupan manusia”.
Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan. Kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yang sudah ditetapkan atau diingkari. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah.
Dalam wilayah kebenaran hukum berdasarkan teori korespondensi, kesesuaian putusan hakim dengan kebenaran fakta-fakta hukum sangat diutamakan. Kebenaran legalitas, artinya penerapan hukum hukum terhadap sebuah perkara didasarkan pada fakta-fakta hukum yang terdapat pada peristiwa yang terjadi. Teori kebenaran korespondensi mengutamakan kepastian hukum (asas legalitas).
Teori yang kedua tentang kebenaran adalah teori koherensi. Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan- pernyataan sebelumnya yang dianggap benar, artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika.
Misalnya, bila kita menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “si
Budi adalah seorang manusia dan si Budi pasti akan mati” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.
Kelompok idealis, seperti Plato juga filsuf-filsuf modern seperti Hegel, Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi ini. Dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap- tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan memperolah arti dari keseluruhan tersebut. Meskipun demikian perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual, yakni persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu terhadap teori kebenaran ini.
Dikaitkan dengan kebenaran hukum, teori koherensi diimplementasikan dalam tataran ius constituendum, (ide-ide hukum) yang kesesuaian dengan realitas perilaku masyarakat. Kebenaran hukum yang hendak dipenuhi dalam hal ini adalah aspek keadilan yang diutamakan.
Rasa keadilan untuk setiap orang atau kelompok sangat variatif, oleh sebab itu menggunakan teori ini secara mutlak untuk mengungkapkan kebenaran hukum, rasanya tidak mungkin. Karena apa yang dirasakan adil, belum tentu sesuai dengan kepastian dan kemanfaatan hukum.
Teori yang ketiga, yakni teori pragmatik. Dicetuskan oleh Charles S. Peirce dalam sebuah makalah berjudul “How to Make Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 17
Amerika. Ahli-ahli filsafat ini di antaranya adalah William James, John Dewey, George Hobart Mead, dan C.I. Lewis.
Pragmatisme menantang segala otoritanianisme, intelektualisme dan rasionalisme. Bagi mereka yang menganut pragmatisme, ujian terhadap kebenaran adalah manfaat (utility), kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan. Sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis (Harun Hadiwijono,1990) dalam kehidupan manusia.
Dikaitkan dengan kebenaran hukum, menggunakan teori pragmatis maka kebenaran hukum berhubungan dengan kemanfaatan hukum. Oleh karena itu, dalam perspektif kebenaran pragmatis tidak berorientasi pada sebuah proses atau suatu peristiwa hukum tetapi hasil dari proses atau peristiwa hukum itu. Sesuatu dikatakan benar apabila mempunyai manfaat bagi kehidupan umat manusia. Apa yang dirasakan bermanfaat itulah hukum yang sebenarnya. Lagi-lagi ini tidak bisa digunakan secara mutlak dalam mencari dan mengungkapkan kebenaran hukum. Kebenaran Hukum Persepektif Filsafat Hukum
Kembali pada apa yang sedang dibahas mengenai kebenaran hukum perspektif filsafat hukum, apabila
ketiga teori kebenaran itu dikaitkan dengan kebenaran hukum, maka akan sulit untuk menentukan kriteria kebenaran apa yang digunakan dalam menentukan kebenaran hukum. Para filsuf dengan berbagai alur pemikiran tidak dapat bersatu dalam menentukan kriteria kebenaran apa yang digunakan dalam menentukan kebenaran hukum. Namun paradigma seseoranglah yang menentukan sesuatu itu benar, karena kebenaran itu bersifat subjektif dan tentatif (Dominikus Rato,Op.Cit:12). Kebenaran yang dianut seseorang menuntunnya untuk mencari dan menemukan serta meyakinkan dia tentang sesuatu yang benar itu.
Berbicara mengenai apakah hukum itu benar ada? dari mana datangnya hukum? untuk apa ada hukum? siapa yang berwenang membuat hukum? mengapa orang tunduk pada hukum ? pertanyaan- pertanyaan itu yang akan membawa orang berpikir tentang hukum secara khusus dan mendalam tentang hakekat hukum. Jawaban atas pertanyaan di atas bukan saja membawa orang pada satu pengertian tentang hakekat hukum, melainkan membawa pada berbagai pemikiran, keyakinan atau kepercayaan tentang hal-hal mengenai hukum.
Jawaban atas pertanyaan di atas dapat membawa pada keyakinan, pedoman atau orientasi berpikir tentang hukum. Sehingga kemudian membentuk paradigma, dan paradigma ini menjadi pegangan, pedoman, panduan : berpikir, berkata dan berbuat atau orientasi dasar untuk mengembangkan keyakinan dan kepercayaan tentang hukum.
Lalu, jika kemudian kebenaran hukum dilihat dari pengertian dan
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 18
fungsi hukum itu sendiri, maka dapat disimpulkan. Pertama, apakah benar hukum itu merupakan sekumpulan peraturan-peraturan atau kaedah- kaedah dalam suatu kehidupan bersama, maka benar hukum merupakan kumpulan aturan. Kedua, apakah benar fungsi hukum itu adalah untuk mengatur kehidupan manusia maka jawabannya benar. Kendati memang harus ditegaskan bahwa hukum itu ada untuk manusia bukan manusia ada untuk hukum. Kesimpulan
Menjawab pertanyaan bagaimana kebenaran hukum perspektif filsafat hukum, maka menggunakan ketiga teori kebenaran yang ada, yakni kebenaran koherensi, korespondensi, pragmatis. Jawaban sederhana yang disampaikan oleh penulis, kebenaran hukum persepektif filsafat hukum, tentunya kembali kepada paradigma apa yang digunakan. Keyakinan atau kepercayaan hukum apa yang dianut oleh seseorang akan membawanya kepada jawaban akan kebenaran hukum yang ia percayai.
Kebenaran yang dianut seseorang menuntunnya untuk mencari dan menemukan serta meyakinkan dia tentang sesuatu yang benar itu. Oleh karena itu diperlukan ilmu untuk membawa manusia menuju kebenaran absolut.
Menurut Sudjito, ilmu merupakan institusi pencarian kebenaran. Ilmu bila dikejar terus akan mentok pada keimanan. Antara iman dan ilmu tidak ada pemisah. Ilmu tanpa iman sama dengan omong kosong. Iman merupakan dasar ilmu (Sudjito, 2013). Oleh karena itu, maka untuk menuntun seseorang kepada kebenaran hukum yang sebenarnya diperlukan ilmu, sehingga kebenaran
hukum yang dicapai adalah kebenaran yang mutlak/ absolut.
Daftar Pustaka :
Andre Ata Ujan, Filsafat Hukum, Membangun Hukum Membela Keadilan, Kanisius, Yogyakarta, 2009.
Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat (Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia), Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004.
Dominikus Rato, Filsafat Hukum (Mencari, Menemukan dan Memahami Hukum), LaksBang Justitita, Surabaya, 2011.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat II, Kanisius, Yogyakarta, 1990.
H.L.A.Hart., Hukum, Kebebasan, dan Moralitas, Genta Publising, Yogyakarta, 2009.
Inu Kencana Syafi’i, Filsafat Kehidupan (Prakata),Bumi Aksara, Jakarta 2005.
Jujun S. Sumiasumantri, Filsafat Ilmu,Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2000.
Montesquieu, The Spirit of Laws : Dasar-Dasar Ilmu Hukum dan Ilmu Politik, Nusamedia, Bandung, 2007.
Otje Salman dan Anton F. Susanto, Teori Hukum (Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali), Refika Aditama, Bandung, 2004.
Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Prenada Media Grup, 2010.
Titus, Harold H., dkk., Living Issues in Philosophy, Terj. H. M. Rasyidi,
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Persoalan-Persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta, 2007.
Theo Huijbers, Filsafat Hukum, Kanisius, Yogyakarta, 1995.
Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif : Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Genta Publishing, Yogyakarta, 2010.
Soetandyo Wignjosoebroto, Hukum (Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya), ELSAM, Jakarta, 2002.
Sudjito bin Atmoredjo, Sari Kuliah : Filsafat Ilmu Hukum, Program S3 Ilmu Hukum, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum : Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2003.
Internet : Mawardi, Kebenaran Dalam Perspektif
Filsafat Ilmu. http://mawardiumm.wordpress.c om/2008/06/02/kebenaran- dalam-perspektif-filsafat-ilmu/ diakses pada 06 Oktober 2013.
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 20
PASAL 66 AYAT (1) UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS DAN TINDAK PIDANA KORUPSI
Hendry Julian Noor
ABSTRAK
Penerapan Pasal 66 Ayat (1) hanyalah dilakukan pada ranah pidana, bukan perdata. Jika terkait dengan tindak pidana umum, maka izin dari MPD (kini Majelis Kehormatan Notaris) itu bersifat wajib atau imperatif, jika tidak, maka proses perkara itu seharusnya dapat ditangguhkan dulu sampai ada izin dari MPD, sebagai bentuk perlindungan Jabatan Notaris, terkecuali jika Notaris itu akan diperiksa dalam perkara pidana yang tidak ada hubungannya dengan pembuatan akat Notaris tersebut.
Apabila berhadapan dengan tindak pidana khusus, terutama tindak pidana korupsi, seharusnya Pasal 66 Ayat (1) ini dapat dinegasikan, jadi izin dari MPD, demi kepentingan umum tidak lagi bersifat imperatif, namun dapat saja hanya berupa pemberitahuan kepada MPD karena sifat tindak pidana korupsi yang merupakan suatu extraordinary crime, sehingga diperlukan pula suatu tindakan-tindakan yang ‘tidak biasa’ pula dalam usaha pemberantasannya. Sebagaimana pendapat yang menyatakan bahwa tak ada satupun aturan atau ajaran yang membenarkan profesi tertentu dapat menyembunyikan kejahatan seseorang. Kata kunci : Korupsi, Undang-Undang Jabatan Notaris, Notaris
ABSTRACT
Application of Article 66 Paragraph (1) is only carried out in the areas of criminal, not civil. If related to general crime, then the permission of MPD (now Honorary Council of Notaries) it is mandatory or imperative, if not, then the proceedings it should be deferred used until the permission of MPD, as a form of protection Notary, unless the Notary it will be examined in a criminal case that has nothing to do with the making of the notarial deed.
When dealing with special crimes, particularly corruption, should Article 66 Paragraph (1) can be negated, so the permission of MPD, the public interest no longer is imperative, but it might be only a notification to the MPD because of the nature of corruption offenses is an extraordinary crime, so it is also necessary actions an 'unusual' also in the eradication effort. As it has been argued that no single rule or doctrine that justifies certain professions a person can conceal the crime.
Keywords: Corruption, article 66, paragraph 1, Notary
ISSN : 2356-4164
Pendahuluan Salah satu hal yang selalu
menjadi polemik ketika dibahas mengenai Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN, sebagaimana dimaksud Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris) adalah mengenai penafsiran terhadap Pasal 66 ayat (1) UUJN. Adapun isinya adalah sebagai berikut: “Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan persetujuan majelis kehormatan Notaris Daerah berwenang: a. mengambil fotokopi Minuta Akta
dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam Penyimpanan Notaris; dan
b. memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris.”
Dengan membaca pasal a quo, dapat diterjemahkan bahwa bunyi pasal tersebut ditujukan dalam perkara pidana, bukan perdata. hal ini didasarkan pada: Pertama, mengenai kepentingan pasal tersebut di atas adalah demi kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim (Habib Adjie, 2008). Kalimat ini harus diinterpretasikan secara utuh dalam 1 kalimat, bukan per kata. Kedua, sebagaimana pendapat dari Habib Adjie (jika Notaris berkedudukan sebagai tergugat), bahwa jika seorang Notaris digugat secara perdata, maka izin dari Majelis
Pengawas Daerah (MPD) tidak diperlukan, karena gugatan perdata merupakan hak setiap orang jika merasa ada hak-haknya yang terlanggar oleh suatu Akta Notaris, sebagaimana postulat dasar persona standi in judicio (orang yang mempunyai hak untuk berperkara di pengadilan). Ketiga, dalam ranah perdata (jika Notaris atau akta Notaris menjadi objek pemeriksaan dalam suatu peradilan perkara perdata), akta Notaris yang bersifat sebagai akta otentik merupakan suatu alat bukti yang penuh dan sempurna tanpa perlu alat bukti lain (probatio plena) (John Gilissen dan Frits Gorle, 2007) atau sebagaimana yang diungkapkan oleh Subekti bahwa akta otentik bersifat volledig bewijs, artinya apabila suatu pihak mengajukan suatu akta resmi, hakim harus menerimanya dan menganggap apa yang dituliskan di dalam akta itu, sungguh-sungguh telah terjadi, sehingga hakim tidak boleh memerintahkan penambahan pembuktian lagi (Subekti, 2001).
Teori tersebut di atas jika dihubungkan dengan salah satu asas proporsionalitas atau ketidakberpihakan Notaris kepada salah satu pihak, maka sebaiknya cukup akta Notaris itu saja yang ‘berbicara’ di pengadilan tanpa perlu Notaris hadir (A. Kohar, 1983), karena kehadirannya justru dapat membuat posisi Notaris memberatkan salah satu pihak dalam perkara perdata tersebut. Hal inilah yang lalu dikenal sebagai Hak Ingkar Notaris (sebagaimana terdapat pada Pasal 1909 ayat (3) KUHPerdata dan diatur pula pada Pasal 16 ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 2
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris) (Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar, Cetakan Kedua, Liberty, Yogyakarta ).
Keempat, dengan memperhatikan Pasal 3 juncto Pasal 9 Peraturan Menteri Kehakiman Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : M. 03.HT.03.10 Tahun 2007 Tentang Pengambilan Minuta Akta Dan Pemanggilan Notaris, yang berisi pengambilan terhadap fotokopi minuta akta hanya dimungkinkan jika ada dugaan tindak pidana berkaitan dengan minuta akta dan atau surat-surat yang dilekatkan pada minuta akta atau protokol notaris dalam penyimpanan notaris, ada penyangkalan keabsahan tanda tangan dari paha pihak, dugaan pengurangan atau penambahan dari Minuta Akta atau ada dugaan notaris melakukan pemunduran tanggal akta (antidatum).
Lalu memperhatikan pula pasal 14 ayat (1) Peraturan Menteri a quo, bahwa penyidik, Penuntut Umum, atau Hakim untuk kepentingan proses peradilan dapat memanggil notaris sebagai saksi, tersangka atau terdakwa dengan mengajukan permohonan tertulis kepada MPD, namun sebagaimana ketentuan Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, persetujuan tersebut kini ada pada Majelis Kehormatan Notaris.
Berkaitan dengan ketentuan tersebut, dengan mengutip pendapat Machteld Boot, “every legal norm needs interpretation” (Eddy O.S. Hiariej, 2009,
Asas Legalitas dan Penemuan Hukum Dalam Hukum Pidana, Erlangga, Jakarta
), yang artinya setiap norma hukum membutuhkan interpretasi, dengan menggunakan interpretasi teleologis/sosiologis (Sudikno Mertokusumo, 2007), pada dasarnya pasal ini dimaksudkan untuk melindungi profesi Notaris itu sendiri (Hendry Julian Noor, 2010), hal ini pun juga yang diyakini oleh Habib Adjie, bahwa Pasal 66 ayat (1) ini juga ditujukan agar para Notaris mendapat perlindungan yang proporsional ketika menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris (Hendry Julian Noor, 2010).
Sebagaimana ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, sebelum tanggung jawab “persetujuan” tersebut diserahkan kepada Majelis Kehormatan Notaris berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, tanggung jawab tersebut dipegang oleh Majelis Pengawas Daerah (MPD). Dalam melakukan pemeriksaan, MPD harus objektif dalam melakukan pemeriksaan atau meminta keterangan dari Notaris.
MPD harus menempatkan akta Notaris sebagai objek pemeriksaan, bukan menempatkan diri Notaris sebagai objek pemeriksaan, sehingga yang menjadi fokus atau ukuran pemeriksaan tersebut adalah tata cara atau prosedur dalam pembuatan akta (Hendry Julian Noor, 2010). Dalam prakteknya, pasal a quo diterapkan tidak seragam, ada beberapa kebijakan yang diterapkan oleh MPD, yaitu: pertama, tidak jarang ada MPD yang menolak apapun permintaan penyidik
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 23
untuk memeriksa Notaris yang berkaitan dengan akta yang dibuat atau oleh Notaris yang dipermasalahkan oleh para pihak atau pihak lainnya.
Kedua, ada MPD yang mengabulkan permohonan penyidik untuk memeriksa Notaris. Ketiga, ada juga MPD yang melihat pokok permasalahannya terlebih dahulu, untuk kemudian menjadi pertimbangan apakah permohonan izin pemeriksaan Notaris itu ditolak atau dikabulkan oleh MPD (Habib Adjie ).
Kebijakan yang dilakukan oleh MPD tersebut, berdasarkan pengalaman penulis, terkadang dilakukan dengan mempertimbangkan keberadaan Notaris dalam suatu kasus yang dihadapi. Artinya MPD juga melakukan penilaian terhadap kasus itu, apakah Notaris atau akta Notaris itu memang dibutuhkan secara vital dalam kasus tersebut. Karena terkadang ada penilaian dari MPD penyidik tidak memahami tentang tugas dan wewenang Notaris. Walaupun biasanya Notaris atau akta notaris tetap dibutuhkan untuk dihadirkan dalam suatu peradilan pidana, sebagaimana sifat dari hukum pidana, yaitu mencari kebenaran materiil yang artinya hakim wajib aktif dan menggali segala hal-hal materiil yang dapat menguatkan alat bukti, pertimbangan, keyakinan, serta putusan hakim.
Berdasarkan tugas-tugas yang diemban Notaris dalam aspek formal akta Notaris, setidaknya tugas-tugas itu dapat bersinggungan dengan sanksi- sanksi pidana sebagaimana pada pasal- pasal berikut dalam KUHP: Pasal 263 ayat (1) dan (2), Pasal 264, Pasal 266, Pasal 55 jo. Pasal 263 ayat (1) dan (2),
atau Pasal 264, atau Pasal 266, serta Pasal 56 ayat (1) dan (2) jo. Pasal 263 ayat (1) dan (2), atau Pasal 264, atau Pasal 266. Namun, pemidanaan terhadap Notaris ini dapat saja dilakukan dengan memperhatikan batasan (Habib Adjie) :
Pertama, ada tindakan hukum Notaris dari aspek formal akta yang dilakukan secara sengaja (witten willen / mengetahui dan menghendaki) dan direncanakan, bahwa akta yang dibuat di hadapan Notaris atau oleh Notaris bersama-sama untuk dijadikan dasar melakukan suatu tindak pidana. Kedua, ada tindakan hukum dari Notaris dalam membuat akta di hadapan atau oleh Notaris yang jika diukur dengan parameter UUJN, hal itu tidak sesuai dengan UUJN. Ketiga, tindakan Notaris tersebut tidak sesuai menurut instansi berwenang untuk menilai tindakan suatu Notaris, dalam hal ini Majelis Pengawas Notaris (Habib Adjie), kini hal tersebut dipegang oleh Majelis Kehormatan Notaris.
Saat ini, urgensi kepentingan penyidikan maupun peradilan berkaitan dengan keberadaan Notaris tidak hanya pada tindak pidana umum saja, karena dengan semakin berkembangnya zaman dan teknologi, banyak pula kejahatan yang dilakukan memanfaatkan profesi Notaris untuk menyembunyikan kejahatannya, misalnya menggunakan Notaris untuk melakukan pencucian uang dari hasil melakukan korupsi (misalnya dengan jula-beli saham, mendirikan perseroan, jual beli badan usaha, dan lain-lain) (Hendry Julian Noor ).
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 24
Pasal 66 ayat (1) UUJN vs UU TIPIKOR
Dengan memperhatikan bunyi pasal 66 ayat (1) UUJN, dapat disimpulkan bahwa ketentuan di dalamnya bersifat imperatif atau wajib (Hendry Julian Noor), karena tidak ada klausula eksepsional yang terdapat di dalamnya. Artinya wajib di sini berarti pula baik ketika berhadapan dengan tindak pidana umum maupun dengan tindak pidana khusus. Berkaitan dengan tindak pidana umum, penulis cukup setuju dengan pendapat tersebut, namun penulis tidak sependapat jika ketentuan pasal 66 ayat (1) ini juga diberlakukan secara mutlak pula ketika berhadapan dengan suatu tindak pidana khusus, terutama korupsi, bahkan penulis setuju jika pasal ini dapat disimpangi jika berhadapan dengan tindak pidana korupsi. Mengapa demikian?
Pertama, kiranya hampir semua pihak akan setuju dan sependapat dengan penulis bahwa korupsi merupakan suatu kejahatan yang bersifat sebagai extraordinary crime (kejahatan luar biasa), yang telah merongrong sistem keuangan dan hukum Indonesia sangat lama. Karena sudah tergolong luar biasa, maka sesuai dengan kesepakatan kita dengan dunia internasional (Eddy O.S. Hiariej, 2008) bahwa kejahatan ini harus dilawan dengan cara yang luar biasa (extraordinary) pula.
Kedua, adanya tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi, dengan memperhatikan bunyi pasal 35 ayat (1) (mengenai kewajiban setiap orang memberikan keterangan baik sebagai saksi maupun sebagai ahli) jo. Pasal 22 (mengenai dengan
sengaja tindak memberi keterangan atau memberi keterangan tidak benar) jo. Pasal 36 (kewajiban memberikan kesaksian yang juga berlaku bagi mereka yang karena pekerjaan, harkat dan martabat, atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia) UU Nomor 31 tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi, sebagai konsekuensi hukum dari Pasal 1909 ayat (3) KUHPerdata dan diatur pula pada Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN, bahwa Notaris juga merupakan suatu pekerjaan atau jabatan yang diwajibkan menyimpan rahasia, maka Notaris wajib memberikan kesaksian apabila dibutuhkan dan hal ini mengikuti hukum acara pidana yang berlaku dalam tindak pidana korupsi, artinya dalam hal tersebut, tidak memerlukan izin dari MPD, namun bisa hanya dengan pemberitahuan kepada MPD (Wahyu Kencana Wiguna, 2010), kini hal tersebut digantikan oleh Majelis Kehormatan Notaris.
Pasal 22 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pada intinya bertujuan untuk mempermudah pengungkapan kasus korupsi (Mahrus Ali, 2011). Pada dasarnya di sini ada pertentangan antara UUJN dengan UU Tindak Pidana Korupsi, yang manakah yang diberlakukan? Menurut hemat penulis, berdasarkan asas lex specialis sistematis (Jan Remmelink, 2003) yang merupakan derogat dari asas lex specialis derogat legi generalis, maka yang seharusnya didahulukan adalah UU Tindak Pidana Korupsi. Ada 3 parameter untuk menyatakan suatu aturan tersebut bersifat sebagai aturan yang bersifat khusus, yaitu: 1) aturan materiilnya bersifat khusus atau
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 25
menyimpang dari aturan umunya; 2) aturan formilnya pun bersifat khusus; serta 3) adresat/tujuan aturan tersebut jelas ditujukan kepada siapa (Eddy O.S. Hiariej ).
Dengan memperhatikan kedua UU a quo, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) secara materiil jelas bahwa UU TIPIKOR menyimpang dari ketentuan umum yang ada (KUHP), dan UUJN memang tidak ada ketentuan pidana di dalamnya; 2) secara formil UUJN dan UU TIPIKOR dapat dikatakan sama-sama menyimpang dari ketentuan umum dalam KUHAP. Penyimpangan UU TIPIKOR dari KUHAP sudah jelas dengan adanya Komisi Pemberantasan Korupsi, adanya pengadilan tersendiri (Pengadilan TIPIKOR sebagaimana dimaksud UU Nomor 46 Tahun 2009), dan ke-khusus-an lainnya dari aturan formil UU TIPIKOR, sedangkan UUJN menyimpang karena harus adanya izin dari MPD apabila berkaitan dengan kasus pidana. 3) adresat pada UUJN jelas disebutkan ditujukan bagi jabatan Notaris (sebagaimana asas titulus est lex/judul menentukan isi undang- undang), namun dengan memperhatikan pasal 36 UU TIPIKOR, mengenai kewajiban memberikan kesaksian yang juga berlaku bagi mereka yang karena pekerjaan, harkat dan martabat, atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa sebagai konsekuensi bunyi pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN, maka dapat diinterpretasikan secara teleologis bahwa adresat dari pasal 36 UU TIPIKOR itu juga ditujukan kepada jabatan-jabatan pemegang rahasia, seperti Jabatan Notaris. Dengan memperhatikan secara kumulatif
terhadap ketiga parameter tersebut sebagai syarat penerapan asas lex specialis sistematis, oleh karenanya penulis berpendapat UU TIPIKOR harus lebih didahulukan dari UUJN.
Ketiga, posisi dilematis dari MPD (kini oleh Majelis Kehormatan Notaris). Di satu sisi, MPD (Majelis Kehormatan Notaris) berfungsi sebagai pengawas dan pelindung profesi Notaris apabila diperiksa dalam suatu perkara pidana yang terkait dengan pembuatan aktanya, namun di sisi lain apabila berkaitan dengan korupsi, MPD (Majelis Kehormatan Notaris) dapat dikatakan ‘harus’ memenuhi permintaan pengadilan, penyidik, penuntut umum, maupun hakim. Hal ini dilakukan terkait dengan hal yang dikenal sebagai obstruction of justice yang juga termasuk tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi, sebagaimana tertuang dalam Article 25 UNCAC yang juga diatur oleh Pasal 21 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001, yang berbunyi: “setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka ataupun terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi, dipidana dengan pidana ...”.
Pengertian dari pasal a quo, kata “mencegah” itu bermakna perbuatan atau usaha (secara aktif/nyata) yang dilakukan agar suatu tindak pidana korupsi tidak dilakukan penyidikan, penuntutan dan diadili dipengadilan (perkara belum berjalan). Sedangkan makna “menghalangi” diartikan sebagai perbuatan atau usaha (secara aktif/nyata) yang dilakukan agar suatu
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
tindak pidana korupsi dihalangi atau dipersulit dilakukan penyidikan, penuntutan, dan diadili di pengadilan (proses perkara sudah berjalan). Dan makna “menggagalkan” adalah perbuatan atau usaha (secara aktif/nyata) yang dilakukan agar suatu tindak pidana korupsi yang sudah dilakukan penyidikan, penuntutan, dan diadili di pengadilan menjadi tidak dilaksanakan (proses perkara juga sudah berjalan) (Mahrus Ali ).
Rumusan delik yang tercantum dalam pasal a quo, juga yang terdapat pada pasal 35 ayat (1) jo. Pasal 22 jo. Pasal 36 UU Nomor 31 tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi, jelas bahwa delik pada pasal-pasal a quo merupakan delik omisi, yang selalu merupakan delik formil, yaitu adanya suatu kewajiban untuk melakukan perbuatan positif tertentu. Jadi, terpenuhinya delik ini adalah ketika orang yang diperintahkan menurut undang-undang untuk berbuat sesuatu, namun dia tidak melakukan apa yang seharusnya diperbuat (.E Sahetapy). Dengan kata lain, apabila MPD (Majelis Kehormatan Notaris) ketika berhadapan dengan kasus korupsi tidak memberikan izin yang seharusnya diberikan dalam rangka memeriksa Notaris ataupun akta Notaris, maka hal itu dapat diancam dengan pidana sebagaimana tersebut di atas.
Simpulan
Dari semua hal-hal tersebut di atas, ada beberapa catatan penulis berkaitan dengan Pasal 66 ayat (1) UUJN. Pertama, bahwa terkait penerapan pasal ini, hanyalah
dilakukan pada ranah pidana, bukan perdata. Kedua, jika terkait dengan tindak pidana umum, maka izin dari MPD (kini Majelis Kehormatan Notaris) itu bersifat wajib atau imperatif, jika tidak, maka proses perkara itu seharusnya dapat ditangguhkan dulu sampai ada izin dari MPD (kini Majelis Kehormatan Notaris) sebagai bentuk perlindungan Jabatan Notaris, terkecuali jika Notaris itu akan diperiksa dalam perkara pidana yang tidak ada hubungannya dengan pembuatan akat Notaris tersebut.
Ketiga, apabila berhadapan dengan tindak pidana khusus, terutama tindak pidana korupsi, seharusnya pasal 66 ayat (1) ini dapat dinegasikan, jadi izin dari MPD (kini Majelis Kehormatan Notaris), demi kepentingan umum tidak lagi bersifat imperatif, namun dapat saja hanya berupa pemberitahuan kepada MPD (kini Majelis Kehormatan Notaris), karena sifat tindak pidana korupsi yang merupakan suatu extraordinary crime, sehingga diperlukan pula suatu tindakan-tindakan yang ‘tidak biasa’ pula dalam usaha pemberantasannya. Sebagaimana pendapat dari Yunus Husein, bahwa tak ada satupun aturan atau ajaran yang membenarkan profesi tertentu dapat menyembunyikan kejahatan seseorang (Yunus Husein ). Daftar Pustaka Adjie, Habib “Aktualisasi Jabatan
Notaris Pasca Lima Tahun Berlakunya Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN)”, disampaikan dalam Kuliah Umum Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Adjie, Habib, 2008, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, Cetakan Pertama, PT. Refika Aditama, Bandung.
Ali, Mahrus, 2011, Hukum Pidana Korupsi Di Indonesia, Cetakan Pertama.
Eddy O.S. Hiariej, “Disentralisasi Korupsi : Urgensi Pengadilan TIPIKOR dan KPK Di Daerah”, disampaikan dalam Diskusi Publik Disentralisasi Korupsi : Carut Marut Otonomi Daerah, Kerjasama Pusat Kajian AntiKorupsi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Republik Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 27 september 2008.
Gilissen John, dan Frits Gorle, 2007, Sejarah Hukum: Suatu Pengantar, Cetakan Kedua, PT. Refika Aditama, Bandung.
Hiariej, Eddy O.S. “Grey Area Penegakan Hukum Pidana Antara Tindak Pidana Perbankan Dengan Tindak Pidana Korupsi”, disampaikan dalam Diskusi Terbatas Kegiatan Perbankan Dalam Perspektif Tindak Pidana Korupsi, Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Dan Bank Indonesia, Hotel Santika, Yogyakarta, 30 Oktober 2008
Hiariej, Eddy O.S. 2009, Asas Legalitas dan Penemuan Hukum Dalam
Hukum Pidana, Erlangga, Jakarta.
Husein, Yunus, 2008, Negeri Sang Pencuci Uang, Cetakan Pertama, Pustaka Juanda Tigalima, Jakarta.
Julian Noor, Hendry 2010, Jasa Notaris Sebagai Salah Satu Upaya Dalam Menegakkan Rezim Anti Pencucian Uang (Tesis), Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Kohar, A. 1983, Notaris Dalam Praktek Hukum, Alumni, Bandung.
Mertokusumo, Sudikno, 2007, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Cetakan Kelima, Liberty, Yogyakarta.
Mertokusumo, Sudikno, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar, Cetakan Kedua, Liberty, Yogyakarta.
Remmelink, Jan, 2003, Hukum Pidana : Komentar Atas Pasal-Pasal Terpenting Dari Kitab Undang- Undang Hukum Pidana Belanda Dan Padanannya Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sahetapy, J.E 1995, Hukum Pidana, Liberty, Yogyakarta.
Subekti, 2001, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cetakan Ke-21, PT. Intermasa, Jakarta.
Wiguna, Wahyu Kencana, 2010, Hak Ingkar Notaris Dalam Hukum Pembuktian Pidana Di Indonesia (Tesis), Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 28
GAGASAN PENERAPAN VICARIOUS LIABILITY DALAM KONSEP KUHP ATAS TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN ANAK
I.Gst Ngr Hady Purnama Putera
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Email : [email protected]
ABSTRAK
Pendekatan penegakan hukum pidana Indonesia dewasa ini yang menekankan kepada pelaksanaan restorative justice membuka pintu-pintu baru untuk pembaharuan hukum pidana indonesia, penulis berpandangan bahwa sekat yang selama ini ada antara hukum pidana yang bersifat publik dan hukum perdata yang bersifat prifat bisa menjadi sebuah jembatan jika di manfaatkan secara baik demi pembaharuan hukum pidana tersebut. Tindak pidana yang dilakukan oleh anak yang secara hukum di bawah umur untuk dikatakan cakap secara hukum, sering kali terjadi karena adanya pergeseran konstruksi sosial di masyarakat yang mendorong anak melakukan tindak-tindak pidana tersebut. Permasalahan tindak pidana oleh anak tersebut akan membawa pada pertanyaan bagaimana ia akan mempertanggungjawabkannya, pun hukum pidana sudah memiliki konstruksi penegakan hukum pidana anak dalam sistem hukumnya, penulis masih merasa penegakan hukum pidana anak masih dapat dikembangkan dalam konsep pembaharuan hukum pidana, dan penulis datang dengan sebuah gagasan tentang pertanggungjawaban pengganti atau yang dalam bahasa aslinya dikenal sebagai vicarious liability. Vicarious liability adalah pertanggungjawaban menurut hukum seseorang atas perbuatan salah yang dilakukan oleh orang lain (the legal responsibility of one person for the wrongful acts of another). Secara singkat vicarious liability sering diartikan sebagai “pertanggungjawaban pengganti”. Kata kunci : restorative justice, hukum pidana, vicarious liability
ABSTRACT Nowdays Indonesian Penal System is developed to the restorative justice as the result for the penal system. This consept open the posibility for the regenarate the indonesian penal system. The author think that tha gap between penal and private legal system in indonesia can be a good bridge for this regeneration of the penal system. For a case the outlaw act that commited by the unlawful act children was a problem during the prosecution act. This outlaw act that conducted by the children in many case was caused because of the shifting norm in the society. Indonesian penal system nowdays already have their own ways to prosecute this child in the criminal case that they commited to do, even though the outher still belive that we can regenerate the whole new ways to handle this case, one of thoose ways that the author bring to this paper was vicarious liability. The vicarious liability origyn was taken from the indonesian private law field that the author try to infuse into the penal system during this case. How this whole strange consep can make their own way will be elaborate in this paper. Keywords: restorative justice, criminal law, vicarious liability
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Pendahuluan Perkembangan jaman dan
kemajuan teknologi serta media masa, ditambah tekanan hidup yang semakin tinggi di masyarakat tidak dapat dipungkiri memberi pengaruh negatif pada perkembangan anak di lingkungan khususnya di wilayah perkotaan, faktor eksternal tadi juga ditambah dengan kurangnya perhatian orang tua dalam mengawasi anak-anak. Dalam hal pandangan ini terdapat pendapat yang senada dengan hal tersebut seperti apa yang disampaikan Gatot Supramono
“Penyimpangan tingkah laku atau perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh anak disebabkan oleh berbagai faktor antara lain adanya dampak negatif dari perkembangan pembangunan yang cepat, arus globalisasi di bidang komunikasi dan informasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan gaya dan cara hidup sebagai orang tua, telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku anak. Selain itu anak yang kurang atau tidak memperoleh kasih sayang, asuhan dan bimbingan dan pembinaan dalam pengembangan sikap perilaku penyesuain diri, serta pengawasan dari orang tua, wali atau orang tua asuh akan mudah terseret dalam arus pergaulan masyarakat dan lingkungannya yang kurang sehat dan merugikan perkembangan pribadinya.” (Gatot, 2000).
Masalah lain selain akar masalah mengapa anak kemudian memiliki kecenderungan melakukan tindakan yang mengarah pada pelanggaran hukum menjadi lebih kompleks, ketika anak yang
bermasalah dengan hukum ini dihadapkan pada sidang pengadilan yang akan memfonis perbuatannya benar ataukah salah, layaknya efek domino stigmasi di masyarakat semakin memperparah keterpurukan masa depan dari anak yang sempat bermasalah dengan hukum, meski jika kita berkaca pada padangan tentang penyimpangan prilaku anak sebelumnya di atas, perbuatan atau perilaku menyimpang tersebut tidaklah sepenuhnya kesalahan anak.
Konsep KUHP dalam ranah pembaharuan kemudian datang dengan konsep pertanggungjawaban yang benar-benar tidak dikenal dalam hukum pidana, namun sebelumnya kerap digunakan dalam lapangan hukum perdata, yakni vicarious liability atau pertanggungjawaban pengganti. Penulis mencoba melemparkan sebuah gagasan dalam lapangan pembaharuan hukum pidana indonesia dengan menggunakan konsep yang dikenal baik dalam lapangan hukum perdata indonesia, pertanyaan yang kemudian timbul adalah berkenaan dengan bagainama prinsip pertanggungjawaban pegganti atau vicarious liability pada lapangan hukum pidana yang ditawarkan konsep KUHP akan dapat diterapkan sehingga sesuai dengan prinsip penegakan hukum pidana yang telah digunakan sebagai bagian dari sistem hukum pidana indonesia itu sendiri dan dapatkah konsep vicarious liability dalam konsep KUHP tersebut diaplikasikan dalam perkara tindak pidana anak akan menjadi fokus penulis dalam penulisan ilmiah berikut. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan kali ini adalah jenis
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 30
penelitian hukum normatif karena meneliti asas-asas hukum, selain itu penelitian ini juga mengkaji dan meneliti peraturan-peraturan tertulis (Soerjono Soekanto, 1986). Karena penelitian ini adalah penelitian normatif maka sumber datanya adalah berupa data sekunder yang berupa bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder (Amirudin
dan H.Zainal Asikin, 2003). Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fakta, pendekatan perundang- undangan dan pendekatan konsep. Serta dilakukan pula analisis terhadap bahan-bahan hukum yang didapat dengan cara deskriptif, analisis, dan argumentatif.
Pembahasan Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana Anak
Perlu dipahami sebelumnya, kedudukan anak dalam lingkungan hukum sebagai subyek hukum ditentukan dari sistem hukum terhadap anak sebagai kelompok masyarakat yang berada di dalam status hukum dan tergolong tidak mampu atau di bawah umur. Maksud tidak mampu karena kedudukan akal dan pertumbuhan fisik yang sedang berkembang dalam diri anak yang bersangkutan. Meletakkan anak sebagai subyek hukum yang lahir dari proses sosialisasi berbagai nilai ke dalam peristiwa hukum pidana maupun hukum hubungan kontrak yang berada dalam lingkup hukum perdata menjadi mata rantai yang tidak dapat dipisahkan (Wadong, 2000).
Kemudian tentang tindak pidana anak sendiri tidak secara tegas disebut baik dalam Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang
Pengadilan Anak, dalam rumusan pasal Undang-Undang tersebut hanya dijelaskan tentang anak nakal yang diatur dalam pasal 1 butir 2, yang menyatakan anak nakal adalah:
a. Anak yang melakukan tindak pidana, atau
b. Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan dilarang bagi anak, baik menururt peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
Sementara dalam Undang- Undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak, bahasa yang digunakan adalah anak yang berkonflik dengan hukum sebagaimana diatur dalam pasal 1 butir 2 sebagai berikut : “Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.”
Kedua rumusan pasal dari dua Undang-Undang yang berbeda tadi seperti yang telah penulis paparkan sebelumnya tidak secarategas menyebut apa itu tindak pidana anak, namun demikian dari sisi praktisi hukum, apa itu tindak pidana anak dikemukakan Pula Oleh Komari (Ketua Pengadilan Negeri Yogyakarta
Tahun 2009) sebagai berikut : “Apabila terjadi pelanggaran
hak anak termasuk tindak pidana umum berupa kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan oleh anak maka diklasifikasikan sebagai tindak pidana anak. Oleh karena itu pemakalah berpendapat tindak pidana anak adalah tindak pidana yang dilakukan oleh anak, yang berumur 8 tahun tetapi belum
Volume 2, Nomor 1, Pebruari 2016
ISSN : 2356-4164
Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja| 31
berumur 18 tahun dan belum kawin atau yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan perundang- undangan maupun peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.” (Komari, 2009).
Tinjauan Umum Tentang Vicarious Liability
Vicarious liability adalah pertanggungjawaban menurut hukum seseorang atas perbuatan salah yang dilakukan oleh orang lain (the legal responsibility of one person for the wrongful acts of another). Secara singkat vicarious liability sering diartikan sebagai “pertanggungjawaban pengganti”. Pertanggungjawaban pengganti itu dirumuskan dalam Pasal 35 ayat (3) Konsep yang mengatur :”Dalam hal tertentu, setiap orang dapat dipertanggung jawabkan atas tindak pidana yang dilakukan oleh orang lain, jika ditentukan dalam suatu undang-undang. “
Untuk memahami lebih jauh latar dan alasan dicantumkannya asas vicarious liability ini ke dalam konsep, dapat dilihat pada penjelasannya berikut ini :
Ketentuan ayat ini merupakan pengecualian dari asas tiada pidana tanpa kesalahan. Lahirnya pengecualian ini merupakan penghalusan dan pendalaman asas regulatif dari yuridis moral yaitu dalam hal-hal tertentu tanggung jawab seseorang dipandang patut diperluas sampai kepada tindakan bawahannya yang melakukan pekerjaan atau perbuatan untuknya atau dalam batas-batas perintahnya. Oleh karena itu, meskipun seseorang dalam kenyataannya tidak melakukan
tindak pidana namun dalam rangka pertanggungjawaban pidana ia dipandang mempunyai kesalahan jika perbuatan orang lain yang berada dalam kedudukan yang sedemikian itu merupakan tindak pidana. Sebagai suatu pengecualian, maka ketentuan ini penggunaannya harus dibatasi untuk kejadian kejadian tertentu yang ditentukan secara tegas oleh undang- undang agar tidak