3 Model Pbm Ppkn

of 55/55
Model-Model Pembelajaran dan Implimentasi dalam Pembelajaran PPKn Sebagai guru kita dapat merencanakan berbagai program pembelajaran seperti program individual di dalam kelas, agar setiap anak belajar sendiri-sendiri dalam jangka waktu tertentu. Namun, kita juga dapat merencanakan pengalaman belajar dengan kelas yang bersaing sehingga anak-anak membentuk diri seolah-olah berlomba mengendarai mobil, yang akhirnya menjadi pemenang. Atau kita juga dapat merencanakan program kerja sama (kooperatif yang mengharapkan siswa bekerja bersama, dan keberhasilannya tergantung pada anggota tim. Berikut akan dibahas 4 model belajar yang dapat membantu kita dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yaitu belajar kolaboratif, belajar kuantum dan belajar kooperatif serta belajar tematik.Di samping itu juga akan dibahas tentang rumpun model mengajar,model teoritik pembelajaran PPKn, karakteristik, pembelajaran PPKn yang berorentasi pada nilai dan yang berorientasi pada pendidikan nilai moral pancasila, I. Model-mode BeIajar 1. BELAJAR KOLABORATIF (COLLABORATIF LEARNING) 1) Hakikat Belajar Kolaboratif Belajar kolaboratif bukan sekedar bekerja sama antarsiswa dalam suatu kelompok biasa, tetapi suatu kegiatan belajar dikatakan kolaboratif apabila dua orang atau lebih bekerja bersama, memecahkan masalah bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Dua unsur yang penting dalam belajar kolaboratif adalah (1) adanya tujuan yang sama, dan (2) 1
  • date post

    13-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    45
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of 3 Model Pbm Ppkn

Model-Model Pembelajaran dan Implimentasi dalam Pembelajaran PPKnSebagai guru kita dapat merencanakan berbagai program pembelajaran seperti program individual di dalam kelas, agar setiap anak belajar sendiri-sendiri dalam jangka waktu tertentu. Namun, kita juga dapat merencanakan pengalaman belajar dengan kelas yang bersaing sehingga anak-anak membentuk diri seolah-olah berlomba mengendarai mobil, yang akhirnya menjadi pemenang. Atau kita juga dapat merencanakan program kerja sama (kooperatif yang mengharapkan siswa bekerja bersama, dan keberhasilannya tergantung pada anggota tim. Berikut akan dibahas 4 model belajar yang dapat membantu kita dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yaitu belajar kolaboratif, belajar kuantum dan belajar kooperatif serta belajar tematik.Di samping itu juga akan dibahas tentang rumpun model mengajar,model teoritik pembelajaran PPKn, karakteristik, pembelajaran PPKn yang berorentasi pada nilai dan yang berorientasi pada pendidikan nilai moral pancasila,

I. Model-mode BeIajar1. BELAJAR KOLABORATIF (COLLABORATIF LEARNING)

1) Hakikat Belajar Kolaboratif Belajar kolaboratif bukan sekedar bekerja sama antarsiswa dalam suatu kelompok biasa, tetapi suatu kegiatan belajar dikatakan kolaboratif apabila dua orang atau lebih bekerja bersama, memecahkan masalah bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Dua unsur yang penting dalam belajar kolaboratif adalah (1) adanya tujuan yang sama, dan (2) ketergantungany ang positif. Pertama, dalam mencapai tujuan tertentu, siswa bekerja sama dengan teman untuk menentukan strategi pemecahan masalah yang ditugaskan oleh guru. Dua orang siswa atau sekelompok kecil siswa berdiskusi untuk mencari jalan keluar, menetapkan keputusan bersama. Diskusi para pebelajar menimbulkan perasaan bahwa persoalan yang sedang didiskusikan bersama adalah milik bersama. Setiap orang mengemukakan ide dan saling menanggapi, yang pada akhirnya dapat mengembangkan pengetahuan bersama maupun pengetahuan masing-masingin dividu. Kedua, ketergantungan yang positif, maksudnya adalah setiap anggota kelompok hanya dapat berhasil mencapai tujuan apabila seluruh anggota bekerja sama. Dengan demikian, dalam belajar kolaboratif, ketergantungan individu sangat tinggi. Ketergantungan individu dapat dibantu dengan sejumlah cara, antara lain berikut ini.

1

Beri peran khusus setiap anggota kelompok untuk memainkan peran Sebagai pengamat, pengklarifikasi, perekam, dan pendorong. Dengan cara ini setiap individu mempunyai tugas khusus untuk melakukan sesuatu dan kontribusi tiap orang yang diperlukan untuk melengkapi keberhasilan tugas.Pecahlah tugas menjadi sub-sub tugas yang diperlukan untuk melengkapi keberhasilan tugas. Setiap anggota diberi suatu sub tugas. Hasilnya kemudian diputuskan bersama oleh semuaa nggotak kelompok.

Dalam menerapkan belajar kolaboratif ini, Anda harus memperhatikan prinsipprinsip belajar sebagai berikut: Mengajarkan keterampilan kerja sama, mempraktikkan, dan balikan diberikan dalam hal seberapa baik keterampilan-keterampilan digunakan. Kegiatan kelas ditingkatkan untuk melaksanakan kelompok yang kohesif. Individu-individu diberi tanggung jawab untuk kegiatan belajar dan perilaku masing-masing. Strategi-strategi yang berkaitan dengan ketiga prinsip tersebut tidak eksklusif, namun dilaksanakan dengan cara siklus, misalnya menunjukkan keterampilan kooperatif sekaligus melaksanakan kekohesifan dan tanggung jawab. 2) Manfaat Belajar Kolaboratif Meningkatkan pengetahuan anggota kelompok karena interaksi dalam kelompok merupakan faktor berpengaruh terhadap penguasaan konsep. Pebelajar belajar memecahkan masalah bersama dalam kelompok. Memupuk rasa kebersamaan antarsiswa, setiap individu tidak dapat lepas dari kelompoknya, mereka perlu mengenali sifat, pendapat yang berbeda dan mampu mengelolanya. Selain itu hakikat manusia sebagai makhluk sosial mereka tidak dapat menyendiri melainkan memerlukan orang lain dalam hidupnya. Meningkatkan keberanian memunculkan ide atau pendapat untuk pemecahan bersama setiap individu diarahkan untuk mengajarkan atau memberi tahu kepada teman kelompoknya jika mengetahui dan menguasai permasalahan. Memupuk rasa tanggung jawab individu dalam mencapai suatu tujuan bersama dalam bekerja tidak terjadi tumpang tindih atau perbedaan pendapat yang prinsip. Setiap anggota melihat dirinya sebagai milik kelompok yang merasa memiliki tanggung jawab karena kebersamaan dalam belajar menyebabkan mereka juga sangat memperhatikan kelompok.

2. BELAJAR KUANTUM (QUANTUM LEARNING) 1. Hakikat Belajar Kuantum Model belajar ini muncul untuk menanggulangi masalah yang paling sukar di sekolah, yaitu "kebosanan". Istilah Kuantum secara harfiah berarti kualitas sesuatu", mekanis (yang berkenaan dengan gerak). Kuantum mekanis merupakan suatu studi2

tentang gerakan-gerakan partikel-partikel subatomik (Shelton, 1999). Quantum learning merupakan seperangkat metode dan falsafah belajar. De Porter & Hernacki (1999) mendefinisikan quantum learning sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya, sedangkan Agus Nggermanto ( 2002) mengatakan bahwa quantum learning menjelaskan bagaimana cara belajar efektif sehingga mendapat hasil yang sama dengan kecepatan cahaya. Metode membaca kuantum adalah sebagian quantum mencapai kecepatan cahaya. Quantum learning berakar dari upaya Lozanov dengan eksperimennya tentang suggestopedia. Pinsipnya adalah bahwa sugesti dapat mempengruhi hasil belajar dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif atau negative. Beberapa teknik yang digunakanu untuk memberikan sugesti positif adalah sebagai berikut: 1. Mendudukan siswa secara nyaman. 2. Memasang music latar di dalam kelas. 3. Meningkatkan partisipasi individu. 4. Menggunakan poster untuk memberikan kesan besar sambil menunjukkan informasi.5. Menyediakan guru-guru yang terlatih dalam seni pembelajaran sugesti.

Seorang guru yang menerapkan pembelajaran kuantum diibaratkan mengorkestrasi belajar" dengan meriah dan segala nuansa. Maksudnya Mengubah bermacam-macam interaksi yang ada di dalam kelas dan disekitar momen belajar (De Porter, Reardon, Nouric, 2000). Dengan pembelajaran kuantum, guru menciptakan kegiatan belajar yang bergairah dan menyenangkan. Seperti seorang konduktor simfoni yang piawai, menghasilkan sajian yang terbaik dari setiap musisi, setiap instrumen, dan bahkan dari ruang konser. Pembelajaran kuantum mengedepankan unsur-unsur kebebasan, santai, menakjubkan, menyenangkan, dan menggairahkan. Indikator keberhasilal pembelajaran kuantum adalah siswa sejahtera. Siswa dikatakan sejahtera kalau aktivitas belajarnya menyenangkan dan menggairahkan. 2. Prinsip-prinsip Utama Pembelajaran Kuantum 1. Segalanya berbicara, segala sesuatu lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari kertas yang dibagikan sampai rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar. 2. Segalanya bertujuan, semua yang terjadi dalam penggubahan mempunyai tujuan, yaitu para siswa mengembangkan kecakapan dalam mata pelajaran. 3. Berangkat dari pengalaman, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah rnengalami informasi sebelum memperoleh label untuk sesuatu yang dipelajari. 4. Hargai setiap usaha, belajar mengandung risiko, belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan, saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan dirinya. Pemberian pengakuan tersebut harus kuat dan konkret. Seperti kata "bagus, baik, hebat, dan memuaskan" sudah lazim digunakan oleh guru, tetapi kurang jelas apanya yang bagus, baik atau memuaskan, akan lebih konkret apabila disebutkan bagian mana yang bagus, misalnnya paragraf yang kamu tulis bagus sekali, jawabanmu tepat sekali, gambarmu sesuai dengan kenyataan, dan exelent.3

Dengan demrkian, anak menjadi tahu bagian mana yang mendapat penghargaan. 5. Rayakan setiap keberhasilan perayaan memberikan unpan balik tentang kemajuan belajar dan meningkatkan asosiasi emosi yang positif. Sebagai guru, kita layak menanamkan bibit kesuksesan dan selalu menghubungkan belajar dengan perayaan karena perayaan membangun keinginan untuk sukses. Bentuk perayaan dapat berupa: tepuk tangan, berteriak hore 3 kali, jentikkan jari, poster umum, catatan pribadi, persekongkolan, kejutan, pengakuan kekuatan pujian kepada teman sebangku. 3. Manfaat Belajar Kuantum a. Suasana kelas menyenangkan sehingga siswa bergairah belajar. b. Siswa dapat memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya sebagai pendorong belajar. c. Siswa belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing. d. Apa pun yang dilakukan oleh siswa sepatutnya di hargai.

3). BELAJAR KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING)1. Hakikat Belajar Kooperatif Apabila di atas Anda telah mempelajar bielajar kolaboratif maka di sini Anda akan melihat perbedaannya dengan belajar kooperatif. Kooperatif berarti bekerja bersama untuk menyelesaikan suatu tujuan. Dalam kegiatan kooperatif, seseorang mencari hasil yang menguntungkan bagi dirinya dan menguntungkan pula bagi seluruh anggota kelompok. Belajar kooperatif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil sehingga siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan kegiatan belajarnya sendiri dan juga anggota yang lain. Idenya sangat sederhana. Anggota kelas diorganisasikan kedalam kelompok-kelompok kecil setelah menerima pembelajaran dari guru. Kemudian, para siswa itu mengerjakan tugas sampai semua anggota kelompok berhasil memahaminya. Usaha-usaha kooperatif menghasilkan partisipan yang berusaha saling menguntungkan. Jadi, semua anggota kelompok tambahan dari usaha-usaha satu sama lain (Anda berhasil menguntungkan saya dan keberhasiln saya meguntungkan Anda), pengakuan bahwa semua anggota kelompok berbagi nasib bersama, pengenalan bahwa kinerja seseorang selain disebabkan oleh dirinya sendiri, juga saling membantu dengan teman-temannya. Kata kooperatif digunakan apabila memacu pada anak-anak yang Bersikap manis, bersedia berbagi bahan-bahan yang dimiliki. Ini merupakan perilaku social yang tepat dalam suatu lingkungan tertentu, tetapi tidak berarti bahwa anak-anak perlu ambil bagian dalam kegiatan belajar kooperatif. Belajar kooperatif bukan harmonisasi, dan sering melibatkan konflik intelektual. Kegiatan kooperatif dapat dikatakan eksis apabila dua orang atau lebih bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.4

2. Prinsip Utama Belajar Kooperatif 1. Kesamaan tujuan Lebih sama tujuan anak-anak dalam kelompok, kegiatan belajar lebih kooperatif. Pada suatu saat anak-anak mungkin tampak bekerja kooperatif apabila bertanya tentang ejaan suatu kata atau berbagi pensil saat menggambar. Mungkin anak-anak tersebut memiliki tujuan sendiri yang terpisah dalam kasus ini. Jika suatu kelas bekerja sama dalam suatu permainan, tujuan kelompok adalah menghasilkan suatu permainan yang menyebabkan anak-anak lain senang atau mengapresiasi kelompok itu. Namun, tujuan tiap anak mungkin tidak sama. Seorang anak mungkin ingin menyenangkan gurunya, yang lain ingin menarik perhatian kelas lain, yang lain betul-betul menganggap sebagai suatu kesempatan untuk mengerjakan tugas sebaik-baiknya. Namun, makin sama tujuan makin kooperatif. 2. Ketergantungan Positif Prinsip kedua dari belajar kooperatif adalah ketergantungan positif. Beberapa orang direkrut sebagai anggota kelompok karena kegiatan hanya dapat berhasil jika anggota dapat bekerja sama. Ketergantungan antara individu-individu dapat dilakukan berbagai cara sebagai berikut. 1) Beri anggota kelompok peranan khusus untuk membentuk pengamal peningkat, penjelas atau perekam. Dengan cara ini tiap individu memiliki tugas khusus dan kontribusi tiap orang diperlukan untuk melengkapi keberhasilan tugas. 2) Pecahlah tugas rnenjadi sub-sub tugas yang diperlukan untuk melengkapi keberhasilan tugas. Setiap anggota kelompok diberi sub tugas. Input diperlukan oleh seluruh anggota kelompok. 3) Nilailah kelompok sebagai satu kesatuan yang terdiri dari individuindividu.Anak-anak dapat bekerja berpasangan dengan penilaian tiap pasangan dengan penilaian tiap pasangan. 4) Struktur tujuan kooperatif dan kompetitif dapat dikoordinasikan dengan menggunakan kelompok belajar kooperatif, menghindari pertentangan satu sama lain. 5) Ciptakan situasi fantasi yang menjadikan kelompok bekerja bersama untuk membangun kekuatan imaginatif, dengan aturan yang ditetapkan oleh situasi. Misalnya, "kamu di suatu pulau dan harus mencipakan rumah, petani dan masyarakat yang mencukupi diri sendiri". Perbedaan antara belajar kooperatif dengan belajar kelompok dapat dilihat pada tabel berikut. Belajar Kooperatif Memiliki beragam model Memilii struktur, jumlah serta Belajar Kelompok Hanya memiliki satu moel, yaitu beberapa siswa tergabung dalam satu kelompok teknik Memiliki satu cara, yaitu menyelesaikan5

tertentu Mengaktifkan semua angota kelompok untuk berperan serta dalam menyelesai tugas tertentu Belajar kooperatif menggalang potensi sosialisasi di antara angotanya 3. Manfaat Belajar Kooperatlf

tugas tertentu bersama-sama Menimbulkan gejala ketergantungan antar angota kelompok Sangat tergantung dari niat baik setiap anggota kelompok

1. Meningkatkan hasil belajar 2. Meningkatkan hubungan antar kelompok, belajar kooperatif member kesempatan kepada setiap siswa untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan teman satu tim untuk mencerna materi pelajaran. 3. Meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar, belajar kooperatif darap membina sifat kebersamaan, peduli satu sama lain dan tenggang rasa, serta mempunyai rasa andil terhadap keberhasilan tim. 4. menumbuhkan realisasi kebutuhan pebelajar untuk belajar berpikir, belajar kooperatif dapat diterapkan untuk berbagai materi ajar, seperti pemahaman yang rumit, pelaksanaan kajian proyek, serta latihan memecahkan masalah. 5. Memadukan dan menerapkan pengengetahuan dan ketrampilan. 6. Meningkatkan perilaku dan kehadiran di kelas. 7. Relatif murah karena tidak memerlukan biaya khusus untuk menerapkannya. 4. Keterbatasan Pembelajaran Kooperatif 1. Memerlukan waktu yang cukup bagi setiap siswa untuk bekerja dalam tim. 2. Memerlukan latihan agar siswa terbiaa belajar dalam tim. 3. Model belajar kooperatif yang diterapkan harus sesuai dengan Pembahasan materi ajar, materi ajar harus dipilih sebaik-baiknyaa agar sesuai dengan misi belajar kooperatif. 4. Memerlukan format penilaian belajar yang berbeda. 5. Guru memerlukan kemampuan khusus untuk mengkaji berbagai teknik pelaksanaan belajar kooperatif.

4). BELAJAR TEMATIK1. Hakikat Belajar Tematik Belajar tematik didefinisikan sebagai suatu kegiatan belajar yang dirancang sekitar ide pokok (tema), melibatkan beberapa bidang studi (mata pelajaran) yang berkaitan dengan tema. Pendekatan ini dilakukan oleh guru dalam usahanya untuk menciptakan konteks dalam berbagai jenis pengembangan yang terjadi sehingga apa yang dipelajari atau dibahas disajikan secara utuh dan menyeluruh, bukan bagian-bagian dari satu konsep yang utuh.Pappas (1995) mengatakan bahwa pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang digunakan guru untuk mendorong partisipasi aktif pebelajar dalam6

kegiatan-kegiatan yang difokuskan pada suatu topic yang disukai pebelajar dan dipilih untuk belajar. 2. Prinsip Belajar Tematik Belajar tematik menggunakan tema sentral dalam kegiatan belajar yang berlangsung. Semua kegiatan belajar dipusatkan sekitar tema tersebut. Meinbach( 1995) mengatakan bahwa pembelajaran tematik mengombinasikan struktur, urutan, strategi, yang diorganisasikan dengan baik. Kegiatan-kegiatan, bacaan, dan bahan-bahan digunakan untuk mengembangkan konsep-konsep tertentu. Para ahli mengasumsikan bahwa belajar tematik merupakan suatu cara untuk mencapai keterpaduan kurikulum. Meinbach( 1995) mengatakan dalam pembelajaran bahasa, unit tematik merupakan suatu epitome( kerangka isi) pembelajaran bahasa secara keseluruhan (membaca, menulis, menyimak, dan berbicara). Pappas( 1995) mengatakan bahwa belajar tematik mencerminkan pola-pola berpikir, tujuan, dan konsep-konsep umum bidang ilmu. 3. Karakteristik Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik memiliki karakteristik yang khas dengan pembelajaran lainnya. Kegiatan belajarnya lebih banyak dilakukan melalui pengalaman langsung atau hands on experiences. Secara rinci Barbara Rohde dan Kostelnik, et.al. (1991) mengemukakan karakteristik pembelajaran tersebut sebagai berikut: 1. Tematik memberikan pengalaman langsung dengan objek-objek yang riil bagi pebelajar untuk menilai dan memanipulasinya. 2. Tematik menciptakan kegiatan di mana anak menggunakan semua pemikirannya. 3. Membangun kegiatan sekitar minat-minat umum pebelajar. 4. Membantu pebelajar mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru yang didasarkan pada apa yang telah mereka ketahui dan kerjakan. 5. Menyediakan kegiatan dan kebiasaan yang menghubungkan semua aspek perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan fisik. 6. Mengakomodasi kebutuhan pebelajar untuk bergerak dan melakukan kegiatan fisik , interaksi social, kemandirian, dan harga diri yang positif. 7. Memberikan kesempatan menggunakan bermain untuk menerjemahkan pengalaman kedalam pengertian. 8. Menghargai perbedaan individu, latar belakang budaya, dan pengalaman di keluarga yang dibawa pebelajar kekelasnya. 9. Menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga pebelajar. 4. Perlunya Pembelajaran Tematik, Khususnya di SD 1. Pada dasarnya siswa SD kelas awal memahami suatu konsep secara utuh, global/tematis, makin meningkat kecerdasannya makin rinci dan spesifik pemahamannya terhadap konsep tertentu.7

2. Siswa SD kelas awal mengembangkan kecerdasannya secara komprehensif, semua unsur kecerdasannya ingin dikembangkan sehingga muncul konsep pentingnya multiple intellegents dikembangkan. 3. Kenyataan hidup sehari-hari menampilkan fakta yang utuh dan tematis. 4. Ada konteksnya. 5. Guru SD adalah guru kelas, akan lebih mudah mengajar satu konsep secara utuh, akan sulit mengajar sub-sub konsep secara terpisah-pisah. 5. Manfaat Belajar Tematik Dalam belajar tematik, ada perubahan peranan guru ari seseorang pemimpin dan penyedia kebiajkan serta pengetahuan fasilitator, pebimbing, penantang, pemberi saran dan organisator. Pembelajaran tematik menghadapkan pebelajar pada arena yang realistic, medorong pebelajar memanfaatkan suatu konteks dan literature yang luas. Pembelajaran ini juga membantu pebelajar melihat hubungan yang diantara ide-ide dan konsep-konsep. Dengan demikian, akan meningkatkan pemahaman pebelajar terhadap apa yang dipelajari. Disamping itu belajar tematik juga memberikan kesempatan yang nyata kepada pebelajar untuk membentuk latar belakang informasi sendiri dalam rangka membangun pengetahuan baru. Pembelajaran tematis selain memperhatikan kompetensi dan bahan ajar juga perlu memperhatikan logika, estetika, etika, dan kinestetika serta life skills (personal skills, social skills, academic skills, thinking skills, vocational skills).

I. Rumpun Model Mengajar1. RUMPUN MODEL SOSIALJoice & weil (2000) mengatakan bahwa model-model sosial dirancang untuk menilai keberhasilan dan tujuan akademik, termasuk studi tentang nilai-nilai sosial, kebijakan publik, memecahkan masalah. Dalam berbagai rumpun model mengajar, rumpun model sosial dipaparkan pertama karena pengembangan sosial pebelajar sangat penting pada semua kegiatan pembelajaran. Apabila pebelajar bekerja sama yang menimbulkan energy kolektif, disebut sinergi. Model mengajar sosial diciptakan untuk membentuk masyarakat belajar. Kegiatan terpenting dalam pengelolaan kelas sebenarnya merupakan pengembangan hubungan kooperatif di dalam kelas. 1. Partner dalam Belajar Sekarang ini banyak dikembangkan belajar kooperatif (seperti telah dibahas pada Kegiatan Belajar 1 merupakan kemajuan besar dalam pengembangan strategi mengajar yang membantu pebelajar bekerja secara efektif. Prosedur belajar kooperatif bertujuan membantu pebelajar belajar lintas bidang studi dalam suatu kurikulum, mengembangkan rasa percaya diri, keterampilan sosial dan solidaritas, serla tujuan belajar akademik untuk memperoleh informasi dan keterampilan melalui inkuiri dari suatu disiplin akademik.8

2. Investigasi Kelompok Investigasi kelompok menekankan pada rencana pengaturan kelas umum atau konvensional. Rencana tersebut meliputi pendalaman materi yang terpadu secara kelompok, diskusi, serta perencanaan proyek. Model ini merupakan bentuk sederhana dari belajar kooperatif. Pada hakikatnya investigasi kelompok ini dapat digunakan untuk semua bidang studi, dengan anak-anak dari berbagai umur, bahkan sebagai model sosial untuk seluruh sekolah. Model ini dirancang untuk membimbing mendefinisikan masalah, menggali berbagai pandangan tentang masalah tersebut. Studi bersama untuk memperoleh informasi, ide, dan keterampilan-keterampilan, yang secara simultan mengembangkan kompetensi sosial pebelajar. Guru mengorganisasikan proses kelompok dan mendisiplinkannya, membantu pebelajar mengorganisasikan informasi. 3. Bermain Peran Dengan bermain peran, guru mengajak pebelajar untuk memahami pengertian perilaku sosial, peranannya dalam interaksi sosial, dan cara-cara memecahkan masalahmasalah sosial, dengan cara-cara yang lebih efektif. Secara khusus, bermain peran membantu pebelajar mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi tentang isu-isu sosial, mengembangkan empati terhadap orang lain dan berusahau ntuk meningkatkan keterampilan social pebelajar. 4. Inkuiri Yurisprudensi Dengan model ini pebelajar belajar berpikir tentang kebijakan-kebijakan sosial. Studi tentangi su-isu sosial di masyarakat suatu negara, di tingkat nasional maupun intemasional dapat dipersiapkan bagi para pebelajar. Model Yurisprudensi diirancang untuk tujuan tersebut. Pebelajar mempelajari kasus-kasus yang melibatkan masalahmasalah sosial dalam suatu wilayah yang dikaitkan dengan kebijakan publik. Pebelajar diajak mengidentifikasi msalah-masalah kebijakan publik, juga disediakan pilihan-pilihan untuk pemecahannya. 5. Kepribadian dan Gaya Belajar Dalam model ini dikemukakan adanya gaya belajar pebelajar dan guru yakin bahwa semua itu dapat berkembang. Perkembangan dapat terjadi secara optimal, apabila lingkungan menyediakan cara kerja konseptual yang diperlukan untuk kebutuhan konseptual seseorang. Apabila kondisi ingkungan tidak optimal maka beberapa bentuk pemahaman pertumbuhan diasumsikan terjadi. Dengan kata lain, individu itu lebih kompleks maka liingkungan perlu disesuaikan dengan pebelajar, agar dapat tumbuh secara konseptual. 6. Inkuiri Sosial Model ini dirancang dengan maksud khusus, yaitu mengajarkan Informasi, konsepkonsep, cara berpikir, dan studi tentang nilai-nilai social dengan member tugas-tugas yang menggabungkan aspek kognitif dan sosial. Pengetahuan ini dapat digunakan guru sehingga dapat meningkatkan kemampuan pebelajar dengan cara mengajarkan cara belajar kooperatif.

9

2. RUMPUN MODEL PEMROSESAN INFORMASIModel pemrosesan informasi menekankan pada cara meningkatkan pembawaan seseorang memahami dunia dengan memperoleh dan mengorganisasikan data, memahami masalah dan mencari pemecahannya, serta mengembangkan konsepkonsep dan bahasa untuk menyampaikannya. Beberapa model memberikan informasi konsep-konsep kepada pebelajar, di antaranya menekan pada bentuk-bentuk konsep dan pengujian hipotesis, sedangkan yang lain membangkitkan cara berpikir kreatif. Hanya sedikit yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan intelektual umum. Banyak model pemrosesan informasi yang berguna untuk mempelajari kemampuan diri maupun masyarakat untuk menilai tujuan pendidikan pribadi maupun sosial. 1. Berpikir Induktif Model ini memaparkan cara belajar pebelajar untuk mendapatkan dan mengorganisasikan informasi, serta menciptakan dan menguji hipotesis yang mendeskripsikan hubungan di antara serangkaian data. Model ini dapat digunakan untuk berbagai jenis kurikulum secara luas dan dengan pebelajar semua umur, misalnya studi tentang masyarakat, bangsa, dan sejarah, yang memerlukan belajar konsep. Pengorganisasian informasi sangat penting dalam kurikulum, yang mengajarkan berpikir induktif dan merupakan model yang sangat penting untuk belajar dan mengajarkan berbagai bidang studi. 2. Pencapaian Konsep Model ini memberikan cara yang efektif untuk penyajian informasi yang terorganisasi dan topic-topik yang berskala luas kepada pebelajar pada setiap tahap perkembangan. Model ini ditempatkan di sini karena memberikan cara penyajian dan klarifikasi konsep-konsep serta pebelajar terlatih agar menjadi lebih efektif dalam pengembangan konsep. 3. Inkuiri Ilmiah Pebelajar dibawa ke proses ilmiah dan dibantu mengumpulkan dan menganalisis data, mengecek hipotesis dan teori, serta mencerminkan hakikat pembentukan pengetahuan. 4. Latihan Inkuiri Model ini memberikan rancangan untuk mengajar pebelajar menghubungkan alas an sebab akibat dan menjadi lebih baik serta tepat dalam mengajukan pertanyaan, membentuk konsep dan hipotesis, serta mengujinya. 5. Mnemonik

10

Mnemonik merupakan suatu strategi untuk mengingat dan mengasimilasi informasi. Guru dapat menggunakan mnemonik untuk membimbing penyajian materi. Di sini guru mengajar dengan suatu cara sehingga pebelajar dapat dengan mudah menyerap informasi. Guru dapat menyajikan alat-alat yang dapat digunakan untuk meningkatkan belajar individual maupun kooperatif tentang informasi dan konsep-konsep. Model ini juga dapat terapkan untuk berbagai bidang studi dalam kurikulum, dengan pebelajar berbagai umur dan karakteristik. 6. Sinektik Model ini dirancang untuk membantu pebelajar memecahkan masalah dan menulis kegiatan-kegiatan, serta menambahkan pandangan-pandangan baru pada topik-topik dari suatu bidang ilmu yang luas. Di dalam kelas, model ini diperkenalkan kepada pebelajar dengan serangkaian workshop sampai pebelajar dapat menerapkan prosedur-prosedur secara individual maupun kelompok kooperatif. Meskipun dirancang sebagai stimulus langsung untuk berpikir kreatif, model sinektik memiliki dampak pengiring untuk menampilkan kerja kolaboratif dan belajar keterampilan. 7. Pengorganisasi Awal (Advance Organizer) Model ini dirancang untuk memberikan struktur kognitif kepada pebelajar untuk memahami materi melalui kuliah, membaca, dan media yang lain. Model ini dapat diterapkan hamper di semua materi dan untuk pebelajar berbagai umur. Model ini juga dapat dengan mudah dikombinasikan dengan model-model yang lain. Misalnya, ketika penyajian, dikombinasikan dengan kegiatan induktif. 8. Penyesuaian dengan Pebelajar Model ini bertolak dari studi Kohlberg yang digunakan untuk membantu kita menyesuaikan pembelajaran pada suatu tahap kematangan pebelajar secara individual dan merancang cara meningkatkan perkembangan pebelajar. Model ini dikembangkan dengan asumsi bahwa pebelajar yang belajar dengan strategi intelektual yang lebih kompleks akan meningkatkan kemampuan mencapai informasi dan konsep. Dengan menyajikan suatu program" keterampilan berpikir", membantu pebelajar mempelajari informasi dan konsep-konsep, kemampuan untuk menganalisis informasi dan hipotesis, kemampuan dan mensintesis ide-ide baru, serta memecahkan masalah-masalah. 3. RUMPUN MODEL PERSONAL Model belajar personal dimulai dari pandangan tentang harga diri individu. Seseorang berusaha memperoleh pendidikan sehingga berusaha memahami diri sendiri dengan lebih baik, bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri, dan belajar mencapai pengembangan yang baru dengan lebih kuat, lebih sensitif, dan lebih kreatif dalam meraih kehidupan yang berkualitas tinggi.

11

1. Pengajaran non-direktif Dikembangkan dari teori konseling, model ini menekankan kerja sama antara pebelajar dengan guru. Guru berusaha membantu pebelajar memahami bagaimana memainkan peran utama dalam pencapaian pendidikannya. Contohnya", dalam rangka menjelaskan tujuan dan berpartisipasi dalam pengembangan". Pada kesempatan untuk mencapai tujuan tersebut, guru menyediakan informasi tentang seberapa jauh kemajuan yang dicapai dan membantu pebelajar memecahkan masalah. Guru nondirektif secara aktif membangun kerja sama dengan menyediakan bantuan yang diperlukan oleh pebelajar untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Model ini digunakan dengan beberapa cara. Pertama, digunakan sebagai model dasar untuk melaksanakan seluruh program pendidikan. Kedua, digunakan kombinasi dengan model lain untuk meyakinkan bahwa kontak dilakukan dengan pebelajar. Ketiga, digunakan ketika pebelajar merencanakan proyek belajar mandiri maupun kooperatif. Keempat, digunakan secara periodik ketika memberikan konseling kepada pebelajar, memukan jalan keluar tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan pebelajar, untuk dipahaminya. 2. Peningkatan Harga Diri Karya Abraham Maslow digunakan untuk membimbing suatu program alam hal rasa harga diri dan kemampuan aktualisasi diri. Guru menggali prinsip-prinsip yang dapat membimbing kegiatan-kegiatan kerja sama dengan pebelajar untuk meyakinkan dan memberikan gambaran tentang pribadi si pelajar sebaik mungkin. 4. RUMPUN SISTEM PERILAKU Dasar teoretik model ini sering disebut teori belajar sosial, modifikasi perilaku, terapi perilaku, dan cybernetic. Manusia memiliki system komunikasi koreksi diri yang memodifikasi perilaku dalam merespons informasi tentang seberapa jauh keberhasilan tugas-tugas yang dikehendaki. contohnya, bayangkan manusia yang memanjat suatu tangga rumah yang belum dikenal dan dalam suasana gelap. Langkah pertama sementara adalah melangkahkan tapak kaki. Jika langkah terlampau cepat, kemungkinan terpeleset di tempat kosong, dan jatuh. Jika terlampau lambat, kaki terantuk anak tangga. Secara bertahap, perilaku disesuaikan dengan balikan sampai ada kemajuan dalam meniti anak tangga dengan aman. 1. Belajar Tuntas dan Pembelajaran Terprogram Aplikasi teori sistem perilaku untuk tujuan akademik tampak dalam bentuk yang disebut belajar tuntas (mastery learning). Pertama, materi yang di pelajari dipecah menjadi unit-unit dari yang sederhana sampai ke kompleks. Materi-materi yang disajikan kepada pebelajar umumnya dikerjakan secara individual, melalui media yang sesuai (bacaan, tape, kegiatan-kegiatan). Pebelajar mengerjakan bagian demi bagian dengan cara maju berkelanjutan. Setelah suatu unit selesai dipelajari, pebelajar diberi tes untuk mengetahui keberhasilan belajar. Jika tidak dapat menyelesaikan unit12

tersebut, pebelajar dapat mengulanginya atau mempelajari unit yang setara sampai keberhasilannya dicapainya. 2. Pembelajaran langsung Dari studi tentang perbedaan antara guru mengajar yang lebih efektif dan yang kurang efektif, serta dari teori belajar sosial, suatu paradigma untuk pembelajaran secara langsung disusun. Pernyataan tujuan pembelajaran disampaikan secara langsung kepada siswa, serangkaian kegiatan yang jelas berkaitan dengan tujuan, monitoring yang cermat dari kemajuan-kemajuan belajar, balikan tentang hasil belajar, serta taktik-taktik untuk penilaian yang lebih efektif, dikaitkan dengan serangkaian panduan untuk memperoleh kegiatan belajar. 3. Belajar melalui Simulasi: Latihan dan Latihan Mandiri Dua jenis latihan pendekatan dikembangkan dari teori prilaku kelompok cybernetic, Salah satu di antaranya adalah model teori-ke-praktik dan yang lain adalah simulasi. Pendekatan yang pertama, menggabungkan informasi tentang keterampilan dengan demonstrasi, praktik, balikan, dan latihan, sampai suatu keterampilan dicapai. Contohnya, apabila tujuan keterampilan menghitung maka dijelaskan dan didemonstrasikan, praktik diberikan dengan balikan korektif, dan pebelajar diminta untuk menerapkannya dengan pelatihan dari teman sebaya atau instruktur. Simulasi dibentuk dari deskripsi situasi riil kehidupan lingkungan yang lebih kecil diciptakan untuk situasi pembelajaran. Terkadang cara membawakan dielaborasi. Contohnya, simulasi hubungan intemasional. Pebelajar ikut dalam suatu kegiatan untuk menilai hasil akhir suatu simulasi. Dengan mengenal rumpun model mengajar dan jenis jenisnya, Anda diharapkan dapat menerapkan model tertentu yang sesuai dengan bidang studi serta peran peserta didik yang anda hadapi.

II. HAKIKAT DAN MODEL TEORITIK PEMBELAJARAN PKNKegiatan ini akan membahas tentang hakikat dan model teoritik, pembelajaran PKn, seperti Anda telah pahami bahwa PKn sebagai mata pelajaran memiliki keunikan tersendiri, yang memunculkan PKn dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan demokrasi, pendidikan Moral, pendidikan Pancasila, Hal ini akan menentukan pemaknaan dan perancangan tentang Pembelaiaran PKn, karena keunikan inilah yang akan menentukan pemilihan teori-teori pembelajaran yang tepat bahkan membangun teori pembelajaran yang tepat untuk PKn. Selain itu akan menentukan rancang model pembelajaran PKn yang memiliki perbedaan secara khusus dengan pembelajaran mata pelajaran lainnya. Perlu Anda ketahui bahwa terdapat sejumlah faktor yang menentukan hakikat dan model pembelajaran, antara lain dasar filosofis dari PKn yang biasanya tercermin dari tujuan mata pelajaran PKn, yang kemudian akan menentukan pemaknaan meteri pembelajaran, pemaknaan tentang peran siswa dan guru dalam PKn dan sumber pembelajaran yang tersedia termasuk pilihan metode dan teknik pembelajaran serta13

media yang digunakan. Perlu Anda analisis secara mendalam tentang tujuan fungsi dan kompetensi, sebab ketiga komponen ini akan memberikan rujukan untuk memberi makna tentang hakikat teori dan model pembelajaran. Namun demikian, perlu diingat bahwa yang paling utama adalah rumusan tujuan, karena dari tujuan akan tercermin secara konseptual hakikat atau makna pembelajaran. Untuk itu, perhatikanlah rumusan tujuan seperti dikutip berikut ini; Tujuan mata pelajaran Kewarganegaraan adalah untuk memberikan kompetensikompetensi sebagai berikut: 1. bererpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan 2. berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat berbangsa, bernegara 3. berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya 4. berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi( Standar Kompetensi Kewarganegaraan SMA/Aliyah Tahun 2003). Jika Anda menganalisis tujuan tersebut maka akan mempertegas pemahaman terhadap hakikat pembelajaran PKn, yaitu sebagai wahana pengembangan berpikir kritis, artinya pembelajaran dimaknai sebagai proses pengembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik, menghindari pembelajaran PKn hanya sebatas hafalan. Berpikir kritis lebih menekankan kepada aspek evaluasi dan sintesis untuk memahami arti, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang penyebab, bukti dan teori tertentu (Gerhard, l97I). Sedangkan berpikir kreatif dikemukakannya sebagai proses berpikir yang menekankan pada kualifikasi terhadap sifat yang unik dan transformasi dari analogi dan induksi logis sehingga dapat membentuk ide baru (Costa, 1985). Selanjutnya pelajari jenis berpikir kritis imajinatif, berpikir bebas berikut ini Berpikir kritis, yaitu cara berpikir disiplin dan dikendalikan oleh kesadaran. Cara berpikir ini mengikuti alur logika dan rambu-rambu pemikiran yang sesuai dengan fakta atau teori yang diketahui berpikir ini mencerminkan pikiran yang terlatih. Selama dalan pendidikan, para ilmuwan dilatih untuk berpikir dan bekerja secara sistemati. Berpikir imajinatif, yaitu alur bebas yang tidak dikendalikan secara sadar dan sering kali bersifat subjektif. Tipe berpikir ini terutama digunakan oleh anak-anak, akan tetapi kadang-kadang juga oleh orang dewasa yang terdidik. Misalnya ketika sedang melamun atau berkhayal. Berpikir imajinatif disebut juga alur asosiatif karena membiarkan pikiran mengembara mengikuti asosiasi, hubungan, keterkaitan antara hal yang satu dengan yang lain, kesamaan, analogi, dan bahkan juga dalam bermimpi. Menciptakan bayangan atau imajinasi dalam berpikir juga merupakan bagian dari cara berpikir ini. Berpikir bebas, Kurang disiplin dibandingkan dengan berpikir imajinatif, tetapi cara berpikir ini kadang-kadang dapat menjadi dasar brainstorming, sebagai terobosan untuk mencari pandangan baru terhadap subjek. Kadang-kadang informasi yang tidak relevan dan ide-ide liar dapat muncul dan memasuki alur berpikir. Selanjutnya Anda dapat menganalisis dan menyimpulkan bahwa tujuan PKn lebih menekankan kepada14

partisipasi warga negara dengan demikian dapat dimaknai pembelajaran PKn adalah proses pengembangan keterampilan warga negara (civic skill) dan inilal yang merupakan salah satu makna/hakikat pembelajaran dari PKn. Kemudian Demokratis menunjukkan bahwa pembelajaran PKn harus dimaknai sebagai pengembangan nilainilai dan keterampilan berdemokrasi yang sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia. Memiliki makna bahwa pembelajaran PKn harus memihak terhadap pengembangan demokrasi, dalam kerangka kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. Selanjutnya berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain" memberikan makna bahwa pembelajaran PKn harus memberikan kesempatan untuk berkembangnya hubungan antara bangsa yang sering dikenal dengan world understanding. Pembelajaran PKN harus mengembangkan pemahaman tentang masalah-masalah global yang berkaitan erat dengan tujuan PKn pada setiap jenjang persekolahan. Untuk dapat lebih jelasnya secara konseptual hakikat dari teori dan model pembelajaran PKn silakan lihat kembali rumusan fungsi PKn yang dirumuskan dalam, dokumen Standar Kompetensi Kewarganegaraan SMlA Madrasah Aliah Tahun 2003 yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional tahun 2003 sebagai berikut; Fungsi PKn adalah mata pelajaran Kewarganegaraan berfungsi sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan Negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945, (Standar Kompetensi Kewarganegaraan SMA/Aliyah Tahun 2003). Selanjutnya untuk memperjelas makna dan hakikat teori dan model pembelajaran PKn, Anda perlu menganalisis Standar kompetensi PKn antara lain dirumuskan sebagai berikut; Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kewarganegaraan SMA dan MA kelas X. Kemampuan membiasakan untuk mencari, menyerap, menyampaikan, dan menggunakan informasi tentang hakikat bangsa dan negara; nilai dan norma (agama, kesusilaan, kesopanan dan hukum) penegakan Hak Azasi Manusia (HAM) dan implikasinya masyarakat politik; prinsip-prinsip demokrasi; dan hubungan dasar negara dan konstitusi. Jika Anda analisis Standar kompetensi di atas, maka tampak jelas pembelajaran dan model pembelajaran yang mesti dirancang untuk PKn yaitu proses pembelajaran yang mampu memberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembangnya Standar kompetensi yaitu sejumlah kemampuan yang harus dimiliki setelah proses pembelajaran di dilakukan oleh peserta didik. Antara kompetensi berkaitan dengan penguasaan informasi dan pemilikan sistem nilai yang kokoh tentang hakikat bangsa dan Negara; nilai dan norma (agama, kesusilaan, kesopanan dan hukum): penegakan Keterampilan warga negara (civics skills) (HAM) dan implikasinya masyarakat politik: prinsip prinsip demokrasi: dan hubungan dasar Negara dan konstitusi. Untuk lebih memperoleh pemaknaan yang lebih jelas silakan selanjutnya Anda menganalisis pendekatan pembelajaran sebagai rujukan yang lebih khusus untuk memaknai tentang teori dan model pembelajaran PKn. Silakan Anda analisis rumusan seperti dikutip berikut ini; Pendekatan Pembelajaran PKn: Pembelajaran dalam mata peiajaran Kewarganegaraan merupakan proses dan upaya dengan menggunakan pendekatan belajar kontekstual untuk mengembangkan dan

15

meningkatkan kecerdasan, keterampilan, dan karakter warga negara Indonesia Pendekatan Belajar kontekstual dapat diwujudkan antara lain dengan metode: 1. Kooperatif, 2. Penemuan, 3. Inkuiri, 4. Interaktif, 5. Ekspldratif, 6. Berpikir kritis, dan 7. Pemecahan masalah Metode-metode pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan secara bervariasi di dalam atau di luar kelas dengan memperhatikan ketersediaan sumber-sumber belajar. Guru dengan persetujuan Kepala Sekolah selain dapat membawa siswa menemui tokoh masyarakat dan pejabat setempat ke sekolah untuk memberikan informasi yang relevan dengan materi yang dibahas dalam kegiatan pembelajaran Praktek pembelajaran Belajar Kewarganegaraan. Praktek Belajar Kewarganegaraan (PBK) adalah suatu inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik untuk mahami teori kewarganegaraan melalui pengalaman belajar praktek empirik. Dengan adanya praktek, siswa diberikan latihan untuk belajar secara kontekstual. PBK untuk kelas VII, VIII, IX dilakukan dengan: 1. mengidentifikasim asalah, 2. mengumpulkan dan mengevaluasi informasi, 3. menguji dan mengevaluasi pemecahan masalah, 4. memilih dan mengembangkan alternatif pemecahan masalah yang direkomendasi-kan, 5. mengembangkan rencana tindakan, dan6. mengevaluasi pelaksanaan tindakan.

PBK untuk kelas X,XI,XII, SMA dan MA dilaksanakan dengan mengaplikasikan metodemetode ilmiah (the application of the scientific methods ) seperti metode pemecahan, masalah (problem solving method) dan metode inkuiri (inquiry method).

1. PENDEKATAN PEMBELAJARAN PKNSetelah menganalisis rumusan pendekatan pembelajaran maka Anda memberikan pengertian bahwa pembelajaran dalam mata pelajaran Kewarganegaraan merupakan proses dan upaya dengan menggunakan pendekatan belajar kontekstual untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan, keterampilan, dan karaliter warga negara Indonesia. Sedangkan jenis pendekatan yang direkomendasikan adalah Pendekatan Belajar Kontekstual, yaitu sebuah pendekatan yang menekankan keterkaitan antara suasana pembelajaran dengan kondisi lingkungan masyarakat baik dalam materi maupun proses pembelajaran serta kebutuhan dan kemampuan peserta didik untuk memiliki kompetensi. Kemudian metode yang dianjurkan untuk dijadikan rujukan untuk mengembangkan pendekatan kontekstual itu dalam PKN adalah antara lain dengan metode: 1. kooperatif, 2. penemuan,16

3. 4. 5. 6.

7. Pemecahan masalah.

inkuiri. interaktif. eksploratif, berpikir kritis, dan

Selanjutnya dijelaskan daiam pedoman Standar Kompetensi (Depdiknas 2003) bahwa metode-metode pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan secara bervariasi di dalam atau di luar kelas dengan memperhatikan ketersediaan sumber-sumber belajar. Guru dengan persetujuan Kepala Sekolah selain dapat membawa siswa menemui tokoh masyarakat dan pejabat setempat ke sekolah untuk memberikan informasi yang relevan dengan materi yang dibahas dalam kegiatan pembelajaran.

2. PRAKTIK PEMBELAJARAN KEWARGANEGARAANSalah satu model pembelajaran PKn yang dikembangkan antara lain yang disebut dengan Praktek Belajar Kewarganegaraan (PBK) adalah suatu inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik untuk memahami teori kewarganegaraan melalui pengalaman belajar praktek empirik. Perhatikanlah model latihan berikut ini; Siswa diberikan latihan untuk belajar secara kontekstual. PBK untuk kelas VII, VIII, IX dilakukan dengan: 1. mengidentifikasimasalah, 2. mengumpulkan dan mengevaluasi informasi, 3. menguji dan mengevaluasi pemecahan masalah, 4. memilih dan mengembangkan alternatif pemecahan masalah yang direkomendasi-kan, 5. mengembangkan rencana tindakan, dan6. mengevaluasi pelaksanaan tindakan.

PBK untuk kelas X, XI, XII, SMA dan MA dilaksanakan dengan mengaplikasikan metode-metode ilmiah (the application of the scientific methods), seperti metode pemecahan masalah (problem solving method), dan metode inkuiri (inquiry method). Metode lain yang sangat efektif untuk PKn adalah metode pemecahan masalah, dari mulai yang sederhana dalam bentuk tanya jawab, sampai dengan model pembelajaran portofolio, yang intinya adalah pengembangan kemampuan memecahkan masalah. Proses pembelajaran seperti ini adalah pmbelajaran yang berbasis masalah (Problem based learning). Dengan demikian diawali dengan mengorganisasikan materi menjadi pengorganisasi materi dalam bentuk masalah. Masalah dapat dipilih dan dirumuskan oleh guru, akan tetapi yang lebih efektif di lihat dari prinsip belajar siswa aktif, maka sangat dianjurkan bahwa "masalah" diidentifikasi dan diorganisasikan dalam bentuk masalah yang menantang pikiran dan kegiatan untuk melakukan serangkaian kegiatan untuk memecahkan masalah. Selanjutnya untuk memahami secara konseptual silakan Anda mempelajari langkah-langkah pemecahan masalah yaitu sebagai beriku: 1. rumuskan masalah 2. membuat kerangka untuk pemecahan masalah 3. menentukan sumber data 4. mencari data17

5. menaksir kelayakan data 6. menilai dan memasukkan data ke dalam kerangka 7. meringkas dan melakukan verifikasi data 8. mengamati hubungan antra data 9. menafsirkan data 10. menyimpulkan hasil penafsiran dan11.mengomunikasikan hasil pemecahan masalah

Langkah-langkah metode inquiri sebagai berikut; 1. membuat fokus untuk inkuiri 2. menyajikan masalah 3. merumuskan kemungkinan penyelesaian 4. mengumpulkan data 5. menilai penyelesaian yang diajukan dan6. merumuskan kesimPulan

Hasil akhir dari Praktek belajar kewarganegaraan adalah portofolio, portofolio adalah hasil belajar yang berupa rencana dan tindakan nyata yang ditayangkan oleh setiap individu atau kelompok dan dinilai secara penodik melalui suatu kompetisi interaktif argumentative pada tingkat kelas, sekolah daerah setempat dan nasional. Peserta didik kemudian diberikan sertifikat keberhasilan dalam mengikuti kegiatan praktek tersebut.

III. KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN PKnKegiatan berikut ini akan mempelajari tentang karakteristik model pembelajaran PKn, pada kegiatan terdahulu sudah dikaji tentang hakikat dan model teoritik pembelajaran PKn. Sedangkan karakteristik model pembelajaran dapat dianalisis dari peran guru dan peran peserta didik. Kegiatan ini akan menitik beratkan kepada model pembelajaran yang terlibat di dalamnya dua subyek yaitu guru dan siswa sebagai peserta didik. Untuk sampai kepada kajian ini maka silakan Anda ikuti uraian tentang masalah guru terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan masalah peran dan kegiatan siswa sebagai peserta didik. Pertanyaan yang kerap muncul dalam kaitannya dengan pembelajaran PKn adalah bagaimana peran guru dan siswa dalam pembelajaran PKn , dan bagaimana karakteristik guru PKN dengan asumsi bahwa setiap bidang studi secara profesional akan menuntut persyaratan yang unik terkait dengan jati diri bidang studi. Hal ini sangat penting karena paradigma masih kuat bahwa pembaharuan pendidikan akan sangat tergantung pada unsur guru sebagai ujung tombak pengembangan kurikulum terdepan. Penelitian selama ini menunjukkan bahwa guru sangat memegang sentral dalarn proses pembelajaran. Begitu pula dalam pengembangan dan implementasi kurikulum. Asumsi bahwa guru penentu kualitas pendidikan kiranya sulit dibantah bahwa dalam PKN dirasakan kebenarannya (Suwarma:1996). Perdebatan yang kerap muncul tentang profil guru PKn, (A. Sanusi 1997) merumuskan profil Lulusan Program Pendidik. Guru diharapkan memiliki karakteristik sebagai berikut. 1. Mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupannya sebagai warga negara Indonesia, pendidik guru sekolah dasar

18

atau pengelola pendidikan yang profesional atau pengembang pendidikan dasar/pendidikan guru sekolah dasar. 2. Mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 3. Bersikap terbuka dan tanggap terhadap dampak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin laju terhadap kehidupan dalam masyarakat. 4. Tanggap terhadap permasalahan serta kebutuhan masyarakat akan layanan pendidikan pada urnumnya, dan pendidikan dasar pada khususnya. 5. Mampu mengembangkan dan meningkatkan pendidikan dasar sesuai dengan tuntutan perubahan dalam masyarakat yang merupakan dampak perkembangan ilmu dan teknologi. 6. Memiliki pengertian yang sahih mengenai kcnsep-konsep serta kaidah-kaidah ilmiah yang mendasr, khususnya yang berkaitan dengan terapan serta pengembagnan layanan ahlinya. 7. Mampu berpikir ilmiah serta mengartikulasikan proses dan hasilnya baik kepada sejawat maupun kepada masyarakat dalam arti luas. Menguasai sarana ilmiah yang diperlukan untuk penerapan dan pengembangan ilmunya. 8. Memiliki pengertian yang sahih mengenai substansi ilmiah bidang keahliannya. 9. Mampu menata dan mempresentasikan substansi ilmiah bidang keahliannya berdasarkan prinsip-prinsip pedagogik untuk mencapai kadar ketecernaan yang tinggi dalam pembelajaran. 10. Mampu memanfaatkan temuan-temuan penelitian yang relevan serta sumbersumber lingkungan untuk pengembangan pendidikan dasar dan pendidikan guru sekolah dasar. 11. Memiliki dorongan kuat untuk secara terus menerus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang relevan. 12. memiliki wawasan kependidikan yang tepat sebagai acuan dasar dalam menyikapi serta melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. 13. Mampu memahami serta menghargai kehidupan emosional dan akadenik siswa Sekolah Dasar beserta implikasinya terhadap proses pendidikan dan pembelajaran. 14. Mampu merancang, mengimplementasikan dan menilai proses serta hasil program pembelajaran, khususnya terapannya baik di SD maupun di sekolah lanjutan. 15. Mampu memanfaatkan hasil penilaian program pembelajaran untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan mutu program pembelajaran berikutnya melalui refleksi profesional.

16.Mammpu memecahkan permasalahan pendidikan dasar dan pendidikan guru sekolah dasar melalui penelitian (A. Sanusi, 1997), beberapa catatan dasar untuk pengembangan program studi pendidikan IPS. Profil kemampuan lulusan diatas, jika dianalisis dapat disimpulkan bahwa terdapat substansi epistemologis yang relevan dengan tunututan peningkatan mutu pembelajaran PKn yang selama ini terungkap pada penelitian dan pengkajian. Antaralain gambaran umum bahwa orientasi guru menjadi kuat terhadap proses pemberian materi pelajaran. Tujuan mengembangkan

19

kemampuan berpikir dan bersikap sebagai bekal menjadi warga Negara yang baik tidak banyak diperhatikan (Suwarma:1991).

Beberapa penelitian mengungkapkan secara umum kelemahan guru PKn dianalisis atas tuntutan dan upaya memperkuat mutu proses pembelajaran antara lain sebagai berikut: 1. Guru PKn tidak bertindak sebagai fasilitator akan tetapi lebih banyak bertindak dan berposisi sebagai satu-satunya sumber belajar. 2. Guru PKn lebih banyak cenderung tampil sebagai pendidik yang dapat mengembangkan secara terintegrasi dimensi intelektual, emosional, dan sosial. 3. Guru PKn cenderung bertindak sebagai pemberi bahan pembelajaran dan belum bertindak pembelajar. 4. Guru PKn belum dapat melakukan pengelolaan kelas secara optimal, tetapi lebih banyak bertindak sebagaip penyaji informasi dari buku. 5. Guru PKn belum berkiprah secara langsung terencana membentuk kemampuan berpikir dan system nilai peserta didik. 6. Guru PKn lebih banyak bertindak sebagai pengajar sehingga belum banyak bertindak sebagai panutan.7. Guru PKn belum secara optimal memberikan kemudahan bagi para peserta didik dan perlu bertindak sebagai motivator dalam belajar.

Berangkat dari kondisi, seperti tersebut di atas kiranya perlu adanya transformasi sikap dan kinerja yang perlu dilakukan dalam kaitannya dengan peningkatan mutu sekaligus membangun karakteristik model pembelajaran PKn, yaitu sebagai berikut : 1. Guru sebagai fasilitator untuk terjadinya proses pembelajaran yang oleh siswa melalui pengembangan potensi berpikir dan nilai. 2. Guru sebagai pendidik yang memiliki kepekaan dan kemampuan untuk mengembangkan potensi intelektual, emosional dan social peserta didik. 3. Guru PKn memiliki kemampuan untuk menciptakan situasi pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar. 4. Guru PKn memiliki kemampuan dalam pengelolaan kelas untuk terjadinya proses belajar yang kuat. 5. Guru PKn mampu bertindak sebagai iimuwan pendidik yang dapat mengembangkan semangat berpikir ilmiah pembelajaran peserta didik. 6. Guru PKn sebagai panutan terutama dalam pengembangan nilai-nilai.7. Guru PKn sebagair motivator sehingga tumbuh semangat ingin belajar.

Pertanyaan yang sering muncull dalam kaitannya dengan siswa dalam pembelajaran adalah adalah bagaimana peran siswa dalam belajar. Hal ini ada kaitannya dengan makna belajar itu sendiri. Penelitian secafa umum mengungkapkan bahwa kelemahan PKN selama ini terletak pada proses belajar. Proses belajar masih lemah dan terperangkap kepada proses menghafal hanya menyentuh pengembangan kognitif tingkat rendah. Proses belajar belum mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Suwarna:1990), Ary S. (1997). Persoalannya adalah bagaimana peningkatan kualitas peran siswa sebagai peserta didik dalam belajar ? Partisipasi belajar siswa dalam belajar masih rendah, mereka belum diperankan sebagai pembelajar yang secara mandiri melakukan kegiatan belajar. Lebih dari itu belajar belum diartikan sebagai pengembangan potensi berpikir, posisi penerima masih banyak dilakukan oleh siswa. Begitu pula siswa belum dilibatkan secara optimal dalam20

pembentukan konsep berdasarkan potensi intelektual dan emosional dirinya sendiri. Konsep siswa belum dijadikan basis pembelajaran IPS/PKn. Stenhouse( 1984; Hopkins, 1985:1993; Elliott, 1993) nampaknya lebih melihat faktor guru sebagai sentralitas faktor emansipasi proses pendidikan ini. Artinya, bila sasaran akhir proses pendidikan adalah kemandirian siswa, maka perubahan harus dimulai dari kinerja profesional guru. Proses pendidikan harus merupakan a non authoritarian context di dalam situasi mana setiap siswa dapat mencipta makna-makna bagi dirinya sendiri (the creation of individual meaning), dan memposisikan guru dalam peran sebagai liberating forces person. Dalam konteks emansipasi pendidikan ini, peran guru adalah mengidentifikasi tentang berbagai perspektif belajar siswa, dan mengitegrasikannya di dalam pembelajaran yang diselenggarakan. Untuk melakukan peran tersebut, seorang guru harus memiliki pengetahuan tentang diri anak, ekspektasi dan pengalaman anak sebelumnya dan mengembangkannya secara optimal selama pembelajaran. Baik bagi pencitaan kondisi dan kesiapan diri mereka untuk belajar , maupun agar bahan dan tugas-tugas belajar yang diberikan memiliki makna, dipandang penting, serta relevan dengan apa yang telah mereka ketahui atau alami sebelumnya. Kompetensi guru ini dalam terminasi Hoyle (Stenhouse, 1984:143) dinamakan the restricted profesional yang atribut-atribut kualitatif yang minimal harus dimiliki oleh seorang guru sebagai prasyarat kelayakan profesi. Sejalan dengan itu, Hyde & Bizar (dalam Purba 1991: 193) mengemukakan tujuh prinsip pembelajaran Pendidikan IPS/PKn yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam mengembangkan pembeiajaran yaitu: 1. Menyadari bahwa skema kognitif, salah konsep atau teori-teori yang naf yang dimiliki siswa senantiasa akan dibawanya ke dalam kelas. 2. Lebih memperhatikan pada adanya sudut pandang yang berbeda beda dari setiap siswa. 3. Membantu siswa mengeksplorasi, menggenerate, memantapkan, mengelaborasi, dan merefleksi ide-ide konsep siswa. 4. Merancang pembelajaran yang bersifat inkuiri sistematik yang dapat mengaitkan atau menjembatani kesenjangan yang terjadi antara konsep siswa dengan konsep yang diharapkan oleh kurikulum. 5. Memedomani siswa dengan berbagai konsep-konsep arahan, atau mendorong siswa agar berhasil mencapai pengertian baru atau dalam merestrukturisasi skema konsepnya. 6. Melakukan tukar pikiran dan proses-proses meta kognitif, sehingga siswa dapat melakukan refleksi terhadap proses yang terjadi, titik kunci keputusan yang diambil, atau bagaimana mereka mendapatkan kemantapan pengertian terhadap topik-topik tertentu.7. Mengelaborasi skema mereka dengan membantunya melihat kaitan antara apa yang telah mereka ketahui dengan bidang-bidang kajian antara apa yang telah mereka ketahui dengan bidang-bidang kajian dan permasalahan yang terdapat di dalam Pendidikan.

Implikasi ketujuh prinsip ini terhadap peran guru, menurut Bell (1993:35-37), menuntut tampilnya guru dalam peran-peran sebagai facilitator of learning, resources person, natve fellow investigator, dan challengger of ideas (Biddulph & Osborne); sebagai motivator, diagnostician, guide, innovator, experimenter, dan researcher (Osborne &Freyberg; Posner,et.al; Osborne, Bell & Gilbert; Cosgrove & Osborne);21

sebagai researcher, responder. Assesing student' s thinking, managing learning, dan sebagai learner (bell in press). Dari berbagai peran guru di atas, Bell (1993:37), menyimpulkan bahwa peran utama guru adalah sebagai pow'er for dan power with . Peran guru sebagi power with terjadi manakala guru mampu bekerja secara berdampingan dengan siswa (works alongside the student) atas dasar prinsip kesederajatan dalam belajar bersama (equals learning together). Sementara sebagai power for terjadi manakala guru bekerja untuk kepentingan siswanya ( working for the student), memfasilitasi proses belajar siswa, memberikan bimbingan intensif, mengarahkan dan mendukung siswa bagi tercapainya tujuan belajar. Perbedaan antara peran power for dengan power with tetrletak pada aktivitas kontrol. Artinya bila pada power for kontrol terletak pada tujuan yang hendak dicapai, sedangkan pada power with konttol terletak pada kebersamaan guru dan murid dalam beraktivitas. Sementara itu Zevin (1992), mengemukakan tiga peran guru dalam pembelajaran adalah ; Pertama, peran ditaktif (ditactic roles), yang menempatkan sentralitas perannya sebagai sumber pengetahuan. Kedua, peran reflektif (reflective roles), yang menempatkan senffalitas perannya sebagai pengembang konsep siswa. Ketiga, peran affective (affective roles), yang menempatkan sentralitas perannya sebagai pengembang keterampilan siswa mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam berbagai isu, nilai, kepercayaan yang sering kali bersifat kontroversial. Analisis tentang bagaimana karakteristik model pembelajaran PKn. Penelitian menemukan sejumlah konseptual yang, meliputi aspek pendekatan, metode, kegiatan pembelajaran siswa, peran dan posisi guru, media dan evaluasi pendidikan dan lingkungan sosial budaya yang mempengaruhi terhadap lingkungan dan suasana pembelajaran dalam PKn. Secara teoritik model pembelajaran PKn dapat Anda memaknainya dengan mempelajari model berikut ini; Model Relective Inquiry. Ada beberapa cara berpikir yang dikemukakan oleh ahli psikologi. Bevridge (1980) mengemukakan klasifikasi berpikir sebagai berikut:

1.

Model Reflective Inquiry

Inti dari pengorganisasian yang berpusat pada berpikir reflektif ialah pengembangan kemampuan mengambil keputusan atau decision making skill. Kemampuan ini secara esensial berfungsi saling melengkapi dengan kemampuan memecahkan masalah atau problem solving skills yang dikembangkan dalam pengajaran ilmu social yang berorientasi pada karakter ilmu sosial' Kedua kemampuan ini perlu dikembangkan dalam pengajaran ilmu sosial dalam rangka mencapai tujuan terbentuknya pribadi siswa yang baik dalam pengertian seorang aktor sosial yang mampu berpikir dan bertindak secara rasional. Oleh karena itu, pengajaran ilmu sosial seyogyanya membantu para siswa untuk menguasai kemampuan-kemampuan inquiry, valuing, and decision making skills (Banks, 1977 :28).

2.

Model Berpikir lnduktif atau Inductive Thinking

Model berpikir induktif dirancang dan dikembangkan oleh Hilda Taba (1966) dengan tujuan untuk mendorong para pelajar menemukan dan mengorganisasikan22

informasi, menciptakan nama suatu konsep, dan menunjukkan terampil dalam melakukan pengetahuan. Model ini menjajaki berbagai cara yang dapat menjadi-kan para pelajar lebih terampil dalam menyikapi dan mengorganisasikan informasi, dan dalam melakukan pengetesan hipotesis yang melukiskan hubungan antardata. Model ini telah dimanfaatkan secara meluas dalam berbagai bidang studi dalam kurikulum berbagai tingkatan pendidikan. Model latihan penelitian atau Inquiry Training. Model ini dirancang untuk melibatkan para pelajar dalam proses penalaran mengenai hubungan sebab akibat dan menjadikan mereka lebih fasih dan cermat dalam mengajukan pertanyaan, membangun konsep, dan merumuskan dan mengetes hipotesis. Pengembang model ini ialah Richard Suchman (1962). Walaupun pada mulanya model ini digunakan dalam bidang ilmu ilmu alam, lebih jauh telah diterapkan dalam pengajaran ilmu social dan dalam program latihan yang berisikan materi yang berdirnensi personal dan sosial. Model ini sangat tepat untuk diadaptasi dalam PKn. Model Penelitian Sosial atau Social Scienre Inquiry. Model ini dikembangkan atas dasar kerangka konseptual yang sama dengan model penelitian ilmiah yang diterapkan dalam bidang ilmu-ilmu alamiah dan model penelitian sosial dalam bidang ilmu-ilmu social. Massialas dan Cox (1966) telah menyajikan model umum. Model yang lebih spesifik dikembangkan dengan menggunakan metode- metode keilmuan Antropologi. Sejarah, Geografi, Psikologi Sosial dan Sosiologi. Model ini telah dimanfaatkan pada tingkat sekolah dan perguruan tinggi. Walaupun model sosial ini dirancang secara khusus untuk memanfaatkan proses sosial, dapat juga digunakan untuk mencapai tujuan akademis, seperti latihan berpikir dan pembangunan konsep. Model Yurisprudensial, misalnya, merupakan model yang melibatkan proses intelektuai yang relatif lebih rumit. Dasar dari model ini ialah proses kesepakatan sosial atau social negotiation. Model ini inenuntut para pelajar untuk menguji dirinya sendiri, perilaku kelompok, dan proses sosial yang lebih besar. (Udin Saripudin, 1989: 90-110). Model ini tepat untuk diadaptasikan dalam PKnr terutamam dalam mengembangkan kterampilan social warga Negara. Selanjutnya pelajari pembelajaran Berorientasi rada Proses lnquiri, bahwa para pakar pendidikan telah banyak melakukan kajian untuk mengembangkan berbagai model mengajar sesuai dengan latar belakang sosial budaya pendidikannya. Pada akhir-akhir ini pengembangannya lebih banyak diorientasikan bagi kepentingan pengembangan kemampuan berpikir subjek didik, begitu pula dalam pendidikan afektif pengembangan nilai menjadi arahan penemuan dan pengembangan model belajar mengajar. Berkembangnya gagasan konseptual sebagai pendekatan bagi pengembangan proses belajar mengajar atas latar sosial budaya peserta didik diperlukan berbagai kajian dengan mempertimbangkan kehidupan social buadaya masyarakat kita. Bany K Beyer (1979) dari Canregie Mellon University menulis sebuah buku berjudul Teaching Thinking in Social Studies Using Inquiry in the Classroom. Tahap-tahap Model di mana pelaksanaanin inquiri sosial dilakukan melalui tahapan: orientasi, hipotesis, definisi, eksplorasi, pembuktian, dan generalisasi. Silakan Anda pelajari secara seksama tahapan berikut ini; Tahap Orientasi pada tahap orientasi ini siswa mengambil dan menetapkan suatu masalah sosial yang akan dijadikan pokok pembahasan kelas guru memberikan bantuan dengan menciptakan suasana untuk menemukan dan23

merumuskan masalah. Masalah sosial dapat diambil dari masalah kehidupan masyarakat yang sedang hangat banyak dibicarakan, dari mulai lingkungan terdekat siswa hingga m eluas dalam masyarakat. Seperti suasana perselisihan yang terjadi dalam kelas atau sekolah, dari masalah yang ada dalam bahan bacaan atau dari sumber-sumber lain. Masalah yang dijadikan pokok bahasan harus betul-betul mengandung persoalan yang memerlukan pemecahan dan mengundang seluruh siswa untuk mengadakan pembuktian empirik, sehingga memperoleh jawaban atau pemecahannya. Dengan bantuan guru masalah tersebut kemudian dirumuskan dan dikembangkan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan dan diadakan pembatasan ruang lingkup masalah yang lebih khusus sehingga para siswa dalam mengadakan pembuktiannya lebih terarah. Perumusan dan pembatasan masalah ini merupakan langkah awal ( starting point) dalam inquiri. Tahap hipotesis, berdasarkan masalah yang telah dirumuskan dan ditetapkan sebagai pokok bahasan, maka selanjutnya menetapkan dan merumuskan hipotesis yang dinyatakan secara jelas. Dari satu masalah, kemungkinan hipotesis yang dirumuskan lebih dari satu. Yang dimaksud hipotesis adalah jawaban sementara sebagai alternative pemecahan masalah. Fungsi perumusan hipotesis untuk memberikan arahan atau acuan dalam usaha penemuan pemecahan masalah melalui pengujian terhadap unsur-unsur yang ada dalam masalah, dan melihat sejauh mana hubungan masalah dengan pemecahan yang akan ditentukan. Oleh karena itu kemungkinan akan ditemukan pula lebih dari satu cara pemecahannya. Hipotesis yang telah dirumuskan harus memiliki syarat-syarat yaitu: (1) validitasnya, yaitu kecepatan hipotesis sebagai suatu kejelasan atau acuan pengujian selanjutnya. (2) kompatibilitasnya yaitu kesesuaian hipotesis dengan generalisi dan pengalaman siswa maupun guru yang telah diperoleh sebelumnya. (3) memiliki relevansi dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi agar dapat dilakukan pembuktian. Hipotesis harus dapat diuji berdasarkan data empiris. Untuk menguji apakah hipotesis memenuhi syaratsyarat tersebut, para siswa tedebih dahulu harus mengadakan pemahaman bersama tentang istilah-istilah yang ada dalam hipotesis. Tahap definisi. pada tahap ini para siswa mengadakan pembahasan tentang pengertian istilahistilah yang ada dalam hipotesis, sehingga semua siswa memiliki pengertianya yang sama, dan mereka dapat saling membicarakan masalah pokok bahasan mereka. Oleh karenanya, setiap kata dan kalimat yang digunakan dalam perumusan masalah harus didasarkan pada pengalaman yang dapat diuji secara nyata. Tahap Eksplorasi pada tahap ini siswa melakukan eksplorasi diawali dengan melakukan pengujian hipotesis apakah benar hipotesis tersebut dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah, dengan berpikir deduksi yang menghubungkan antara hipotesanya dengan mengaujkan sejumlah asumsiasumsi, selanujtnya hipotesa setelah diuji berdasarkan nalar logika diuji dengan data. Apabila memiliki kebenaran maka dijadikan dasar untuk membuat kesimpulan, seperti hipotesa tersebut; apabila tidak benar atau

24

tidak tepat maka kesimpulan dirumuskan sebaliknya dari kebenaran hipotesa tersebut. Tahap Pembuktian setiap siswa melakukan pengumpulan data melalui wawancara, observasi atau angket (apabila memungkinkan). Subjek yang akan diwawancarai harus ditentukan dulu bersama dengan bantuan guru. Demikian pula data apa yang akan dikumpulkan harus sudah jelas sesuai dengan tujuan pembuktian hipotesis. Setelah data terkumpul, diadakan analisis data dan dihubungkan dengan hipotesisnya. Demikianlah suatu hipotesisnya diuji secara empiric apakah hipotesis itu diterima atau tidak. Tahap generalisasi pada tahap akhir dari proses mengajar dengan inquiri sosiai adalah rnengadakan generalisasi, yaitu menyusun pernyataan yang benarbenar terbaik dalam pemecahan masalah. Generalisasi hendaknya disusun secara sederhana agar para siswa dapat memahaminya dengan jelas. Apabila terdapat dua hipotesis atau lebih menunjukkan hasil pembuktian yang sama-sama dapat diterima, maka hipotesis-hipotesis itu harus dipertahankan bersama, dan dengan alternatifnya apakah menguntungkan atau tidak harus diidentifikasi secermat mungkin. 3. Model Inquiri Sosial

Dalam pelaksanaan model mengajar dengan inquiri sosial, para siswa diatur dalam bentuk struktur sosial yang sederhana. Mereka akan membentuk sosial yang berubah atau bergerak dari tiap tahap ke tahap berikutnya: Norma-norma dalam inquiri diusahakan agar tercipta diskusi secara bebas dan terbuka, serta memiliki rasa tanggung jawab untuk berusaha mengadakan penemuan sendiri. Model inquiri sosial dapat di adaptasi dalam pernbelajaran PKn khususnya untuk mengembangkan kompetensi prilaku sosial warga Negara dan lebih tepat untuk memperkuat mutu pembelajaran dalam kegiatan praktek Belajar Kewarganegaraan.

IV. Model Pembelajaran PKn yang Berorientasi Pada Pendidikan NilaiPada kegiatan ini kita akan mempelajari tentang bagaimana gambaran model pembelajaran PKn yang berorientasi Pendidikan Nilai dan Moral Pancasila. Perlu kita pahami bahwa salah satu ciri dan sekaligus pendekatan Pkn adalah sebagai pendidikan Nilai dan Moral lebih khusus lagi pendidikan Nilai dan Moral Pancasila. Oleh karena itu, dalam perkembangan Kurikulum pernah disebut sebagai Pendidikan Moral Pancasila. Pendidikan nilai dan pendidikan moral, dua istilah yang sering digunakan secara bergantian atau bersamaan untuk memberikan penegasan terhadap makna pendidikan Pendidikan nilai adalah program dan proses pendidikan yang lebih menekankan kepada pengembangan aspek afektif dari pada aspek kognitif, di mana lingkup pendidikan ini menyangkut pembinaan sistem nilai dari peserta didik. Dikembangkannya pendidikan nilai ini antara lain karena sering kali pendidikan kognitif tidak secara sadar disiapkan dan dilaksanakan untuk mengembangkan sistem nilai ini sehingga sering terjadi hasil pendidikan hanya akan pengetahuan akan tetapi sangat rendah dalam penghayatan nilai-nilai dari sesuatu yang dipelajarinya. Kondisi ini25

mengakibatkan peserta didik dalam PKn tidak memiliki kompetensi untuk dapat melaksanakan suatu pilihan nilai sebagai dasar untuk berprilaku warga negara. Ada baiknya sebelum kita melanjutkan bahasan ini, terlebih dahulu kita pelajari secara umum tentang pengertian dari sistem nilai sebagai berikut: Sistem merupakan satu keseluruhan yang terdiri dari beberapa unsuryang berhubungan merupakan satu kesatuan. Satu keseluruhan yang bagian-bagiannya mempunyai keterkaitan. Tiap-tiap bagian merupakan tatanan yang teratur memiliki fungsi dan peran serta tujuan tertentu. Perlu kita ingat bahwa sesuatu dapat dijadikan sistem harus memiliki kriteria atau ciriciri: pertama bahwa sistem: harus merupakan suatu kesatuan, kedua merupakan merupakan tata yang konsisten dan koheren tidak bertentangan satu sama lainnya, ketiga terdapat saling berkait yang fungsional antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, keempat membangun suatu pola mekanisme yang kokoh dalam mencapai tujuan bersama. Berdasarkan pengertian umum tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa system nilai adalah seperangkat nilai-nilai yang dianggap benar, untuk dijadikan dasar menetapkan kebenaran kebaikan tentang sesuatu hal, sistem nilai sebagai bagian dari kebudayan didukung dan dikembangkan serta ditaati dan digunakan oleh para pendukung nilai tersebut. Perlu kita ketahui bahwa nilai meliputi rujukan untuk menyatakan sesuatu itu baik, buruk, bagus' jelek' pantas' tidak pantas, wajar tidak wajar, sopan atau kurang ajar. Sesuatu itu berguna atau mubazir. seharusnya dilakukan atau seharusnya ditinggalkan. Proses penilaian nilai adalah bagaimana nilai-nilai ini ditanamkan Kepada seseorang oleh lingkungan masyarakatnya untuk membangun cara memandang dan sikap hidup. Perlu kita ketahui bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam lingkungan itu, tidak saling bertentangan, terdapat keterkaitan antara bagian yang satu dengan yang lain serta ada kerja sama antara bagian-bagian nilai dalam lingkungan itu secara serasi dan seimbang. Sehingga nilai-nilai yang terdapat dalam lingkungan itu merupakan suatu sistem nilai. Perlu Anda pahami bahwa dalam masyarakat berkembang dan tumbuh suatu system nilai yang mendapat penghormatan penataan serta pemeliharaan dari anggota masyarakat. Sistem nilai ini yang menjadi kekuatan sehingga kehidupan sosial sesuai dapat tumbuh dan berkembang dengan membangun masyarakat yang tertib. Sistem nilai ini yang menjadi sumber, bagi penetapan nilai-nilai dalam berbagaia aspek kehidupan dimasyarakat, nilai-nilai tersebut disebut nilai luhur, nilal nilai luhur bangsa yaitu suatu nilai-nilai yang secara cultural dihormati dan ditaat isebagai nilai yang memiliki kedudukan tinggi sebagai sumber nilai dalam masyarakat tersebut. Sadar atau tidak sadar, manusia dalam kehidupannya hidup dalam dua dunia, yang pertama, apa yang dinamatan dunia fakta dan kedua dunia nilai, baik dunia fakta maupun dunia nilai manusia dituntut untuk melakukan perbuatan-perbuatan, supaya terpenuhi kebutuhan hidupnya. Baiklah selanjutnya kita pelajari lebih lanjut tentang beberapa pengertian tentang nilai tersebut, perlu kita pahami bahwa di dalam masyarakat manusia sebagai pelaku kehidupan ini selalu ada dalam dua dimensi, yaitu dimensi empirik realitas yang faktual; dimensi kedua adalah tataran nilai baik dalam dunia, fakta maupun dunia nilai manusia dunia untuk melakukan sesuatu perbuatan dan tindakan. Dalam hal ini perlu Anda sadari bahwa setiap perbuatan manusia yang dapat diamati itu dibaliknya ada nilai yang26

dianut oleh si pelaku itu, jika nilai-nilai itu dihormati dan dijadikan secara konsisten, koheren dalam berbagai aspek kehidupannya maka nilai tersebut dapat dijadikan suatu sistem nilai. Dari contoh ini apabila terdapat suatu nilai yang dianggap luhur suatu bangsa dan secara koheren didukung dan digunakan sebagai rujukan dalam perbuatan dan bertindak dari bangsa itu maka nilai tersebut menjadi sistem nilai luhur bangsa tersebut. Perlu kita ketahui bahwa nilai bukan saja dijadikan rujukan untuk berisikan dan berbuat dalam masyarakat, akan tetapi dijadikan pula sebagai ukuran benar tidaknya suatu fenomena perbuatan dalam masyarakat itu sendiri. Apabila ada suatu fenomena sosiai yang bertentangan dengan system nilai yang dianut oleh masyarakat tersebut maka perbuatan tersebut dinyatakan bertentangan dengan sistem nilai dan akan memperoleh penolakan dari masyarakat tersebut. Dengan dernikian Anda akan menyadari bahwa tugas masyarakat mengembalikan kelainan tersebut pada tatanan nilai yang berlaku. Dengan demikian, perbuatan yang dipandang tepat dan benar dalam masyarakat yang berbasis pada kekokohan sistem nilai tersebut. Yang menjadi kajian utama dalam penilaian nilai adalah bagaimana nilai-nilai luhur budaya bangsa yang sudah menjadi sistem nilai tersebut didukung oleh generasi pendukung berikutnya sehingga sistem tersebut berkemban memiliki tingkat kekokohan yang tinggi. Perlu kita ketahui bahwa pengertian nilai menurut bahasa dapat diketahui berasal dari bahasa Yunani: valere yang artinya kuat atau baik; dalam bahasa Inggris dinamakan value. Dalam kamus umum bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta dikatakan, bahwa nilai mempunyai arti: mutu, kadar, angka, kepandaian; sifat-sifat halhal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Yang dimaksud dengan nilai ialah sesuatu sifat yang menyenangkan (pleasant), memuaskan (satisfying), menarik (interesting), berguna (useful), menguntungkan (profitable). Pengertian lain adalah, bahwa nilai: standar menuntut tingkah laku dalam menentukan apa yang indah, eilsien dan berharga atau tidaknya sesuatu itu, demikian dikatakan oleh Jeck R. Fraenkel. sedangkan menurut Milton Rokeah, nilai adalah suatu kepercayaan atau keyakinan (belief) yang bersumber pada sistem nilai. Seseorang mengenai apa yang patut atau tidak patut dilakukan oleh seseorang atau mengenai apa yang berharga atau tidak berharga. Kiranya pengertian-pengertian tersebut dapat dipakai sebagai pegangan apakah yang dimaksud dengan nilai itu, selanjutnya Anda dapat menyimpulkan bahwanilai itu merupakan kekuatan yang sangat penting bagi manusia dalam menjalani kehidupan ini. Dengan demikian manusia akan kehilangan kekuatannya untuk dapat hidup dalam pergaulan sosial apabila ia tidak memiliki sistem nilai yang kokok. Berdasarkan ,pemikiran tersebut, pengertian penilaian nilai tidak terlepas dengan pendidikan nilai yaitu bagaimana nilai-nilai luhur tersebut dapat ditransformasikan sehingga menjadi sistem nilai yang tumbuh dalam setiap individu warga masyarakat. Perlu kita ketahui mengapa nilai-nilai luhur itu perlu dipelihara dan diwariskan pada generasinya dalam suatu masyarakat, antara lain untuk memelihara kekokohan dari masyarakat itu sendiri. Hancunrya suatu masyarakat, disebabkan oleh melemahnya sistem nilai atau akan menjajadi kacau dan hancur apabila sistem nilai dari masyarakat itu tidak memiliki kekuatan lagi. Setelah kitaa memahami tentang pengertian nilai serta fungsinya dalam kehidupan sosial, baiklah Anda lanjutkan dengan menganalisis tentang pertimbangan faktual dan pertimbangan nilai. Perlu Anda ketahui bahwa manusia selalu dihadapkan27

kepada kenyataan dalam masyarakat untuk melakukan pertimbangan dan klarifikasi mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang salah dan mana yang benar. Di samping itu pula perlu melakukan pertimbangan tersebut dalam tataran nilai. Sebagai, contoh suatu ketika Anda dihadapkan kepada sesuatu masalah sehingga perlu melakulan pertimbangan-pertimbangan fakta yang berkenaan dengan masalah tersebut (judgments of fact). Dalam waktu yang bersamaan Anda juga dituntut untuk melakukan mengadakan pertimbangan-pertimbangan nilai (judgments value). Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini, waktu Anda pergi ke Toko, melihat barang yang dijual Anda tertarik pada suatu barang tertentu maka memunculkan nilai untuk membelinya, dalam hal ini secara factual Anda sudah melakukan pertimbangan dan memastikan barang tersebut bagus, baik untuk dimiliki. Namun demikian setelah Anda lebih jauh melakukan pertimbangan mana yang lebih baik membeli barang tersebut atau membeleli barang lain yang kegunaannya dan manfaatnya lebih tinggi bagi keluarga Anda, pada tahap ini Anda melakukan pertimbangan nilai, akhirnya Anda memutuskan tidak membeli barang yang bagus dan menarik tersebut. Pada diri Anda muncul kesadaran untuk tidak melakukan sesuatu didasarkan atas pertimbangan nilai. Perlu kita perhatikan pula perbedaan kedua pertimbangan itu, Lewis White Beck menulis: yang pertama ialah pertimbangan-pertimbangan mengenai fakta. Pertimbangan-pertimbangan tersebut dilaporkan mengenai apa yang dianggap sebagai halnya, tanpa menyatakan sesuatu persetujuan tentangnya. Orang berwenang hampir dapat bersepakat mengenenai pertimbangan-pertimbangan fakta. Pertimbanganpertimbangan fakta ialah pertimbangan-pertimbangan yang bilamana secara ilmiah diperiksa sering dapat dilakukan atau dibuktikan (terjemahan Lewis White Beck, 1952, hal. 187). Berbeda dengan pertimbangan-pertimbangan fakta ialah apa yang dinamakan perertimbangan-pertimbangan nilai (judgments of value), dikatakan oleh Beck sebagai berirut: yang kedua adalah pertimbangan-pertimbangan nilai. Peertimbangan nilai menyatakan suatu penghargaan baik setuju maupun menentang. Perlu Anda menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari senantiasa manusia dihadapkan kepada dua dimensi pertimbangan tersebut untuk dapat menetapkan yang mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak baik untuh dilakukan atau harus dihindari. Sering perbuatan menjadi tidak berguna dan tidak member manfaaf besar karena kesalahan dalam melakukan pilihan, jika hal ini terjadi maka kurang memiliki kemampuan untuk melakukan pertimbangan nilai .Lebiha jauh perilaku social menyimak yang sering terjadi dalam masyarakat karena tidak didasarkan atas kematangan dalam pertimbangan nilai. Sekali lagi dalam konteks inilah pendidikan nilai sangat diperlukan sehingga memberikan kekokohan dan kemampuan setiap individu dan masyarakat untuk dapat melakukan pertimbangan nilai secara matang. Selanjutnya kita pelajari kesimpulan bahwa dengan cara membanding kedua macam pertimbangan di atas, ternyata pertimbangan fakta yang kokoh akan kecil sekali kemungkinannya untuk menimnbulkan perbedaan-perbedaan pendapat. Kalau seandainya ada perselisihan pendapat, penyelesaiannya dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap fakta emperik tersebut, dalam arti secara keilmuan mudah diatasi, jika Anda berbeda pendapat dengan jarak Anda dapat ukur. jika berbeda pendapat dengan berat Anda dapat menimbangnya dan lain sebagainya. Akan tetapi dalam pertimbangan nilai yang baru berbeda dengan orang lain dapat diatasi dengan28

adanya kesepakatan, dan untuk melakukan ini perlu memperhatikan pertimbangan dari setiap orang sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih kokoh sehingga dapat memberikan masukkan untuk pengembangan akan pertimbangan nilai lebih dalam. Inilah yang disebut adanya kesepakatan dalam menetapkan pilihan dan melakukan sesuatu. Perlu Anda sadari bahwa tidak ada kesepakatan di antara mereka maka akan dihadapkan pada kesulitan dan pertentangan dalam masyarakat. Dalam kondisi seperti ini peranan dari nilai-nilai luhur bangsa diperlukan untuk memberikan kekokohan bagi terjadinya berbagai kesepakatan dan menghindari disintegrasi pada bangsa tersebut. Baiklah kita pelajari lebih lanjut tentang nilai ini, yaitu tentang bagaimana kedudukan dan sifat dari nilai tersebut, seperti yang kita ketahui bahwa nilai itu ada dan abstrak sifatnya, nilai dapat dirasakan keberadaan dan kegunaannya, akan tetapi nilai dapat menjauh dari diri seseorang ata sebaliknya nilai berada pada diri seorang. Dengan demikian sistem nilai perlu diwariskan sehingga ia tetap dimiliki oleh setiap warga masyarakat yang bersangkutan. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan sehubungan dengan kedudukan dan fungsionalisasi nilai dalam pengambilan keputusan antara lain sejauh mana nilai tersebut dijadikan rujukan untuk melakukan pertimbangan nilai dalam menetapkan suatu pilihan dan posisi seseorang untuk bersikap dan bertindak ? Setidaknya Anda perlu memahami pemikiran antara teori subjektivisme dan objektivisme berikut dikutip pendapat R.B.Perry seorang tokoh subjektivisme dalam bukunya General Theory of Value, yang dikutip oleh Harold Titus dalam Living Issues in Philosofhi, menyatakan sebagaimana tertulis di bawah ini. Sesuatu objek apa saja objek itu, memperoleh nilai bilamana sesuatu kepentingan, apapun kepentingan itu, diambil di dalamnya, seperti sesuatu hal apapun menjadi sesuatu sasaran bilamana siapa pun menuju kepadanya. Kita tidak menginginkan dan mengejar suatu benda sebab kita berpikir benda itu tidak baik, kita berpikir benda itu baik sebab kita menginginkan dan mengejarnya (terjemahan R.B Perry, dalam Harold Titus, 1953: 334). Pendidikan nilai menyentuh bagian sisi yang paling dalam dari diri manusia (internal side). Oleh karena itu, tidak sepenuhnya dapat dilihat dari dimensi pengetahuan seseorang, dan prilaku lahiriahnya. Akan tetapi perlu mencermati dibalik perilaku tersebut, yaitu sistem nilai yang dimiliki seseorang. Tentu saja sistem nilai ini kadarnya memiliki perbedaan pada setiap orang dan sifat rentan terhadap perubahan, misalnya sesuatu yang dianggap baik dalam situasi tertentu, nilai berubah pada situasi lain atau pada tempat. Perubahan tersebut bisa terjadi tanpa dapat diduga tidak seperti pada dimensi kognitif atau psikomotor. Oleh karena itu, memerlukan pembinaan. 'David Prall berpendirian hampir sama. Yang menyatakan bahwa tidak ada nilai yang terpisah dari sesuatu penghargaan tentangnya. Nilai-nilai muncul dari reaksi langsung dan tidak dapat diterangkan dari dorongan vital dan dari bagian irasional dari sifat dasar kita. Sementara itu Anda perlu ketahui pendapat Dawitt Parker dalam buku yang sama (hal 334) dikemukakan bahwar: nilainilai seluruhnya kepunyaan dunia batin, dunia dari budi, kepuasan dan keinginan adalah nilai yang senyatanya, benda yang membantu adalah suatu alat. Yang perlu diperhatikan sekali pendapatnya yang menyatakan bahwa "suatu nilai selalu suatu pengalaman tidak pernah suatu benda atau objek". Benda-benda mungkin dapat dinilai, tetapi mereka bukan nilai-nilai. Kita memproyeksikan nilai ke dalam dunia luar,

29

menyifatkannya pada bend-benda diinginkannya. Selanjutnya silakan Anda bandingkan dengan pendapat aliran objektivisme yang berpendirian kebalikannya. Pelajari kutipan dari buku yang sama karangan Harold Titus, 1953 hlm 334 berikut ini Nilai-nilai adalah objektif, hal ini pada umumnya disetujui oleh berbagai sistem filsafat dari Plato, Aristoteles, Idealisme abad pertengahan, Neo-Thomisme dan juga Realisme modern maupun Idealisme modem. Sebagai contoh dikemukakan konsepsi Plato. Menurut Plato dunia konsep, dunia universal, dunia ide dan nilai merupakan dunia senyatanya yang tetap. Demikian pula ahli-ahli pikir abad pertengahan, terutama filsafat Katolik Romawi, pada umumnya berpendirian bahwa kebenaran, kebaikan dan keindahan adalah nyata secara ontologis. Tuhan merupakan dasar dan sumber nilai-nilai. Status ontologis nilai adalah lebih utama dari pada pemahaman psikilogis. Pengalaman manusia hanyalah merupakan bagian saja dari bidang kehidupan dan malahan saling bertentangan. Penganut Realisme modern seperti. E.G. Spoulding menyatakan, bahwa: nilai-nilai adalah subsistem dari pada eksistensi dalam ruang dan waktu. Karena subsistem nilai-nilai bebas dari keinginan manusia. Setelah kita mempelajari tentang pengertian nilai serta kedudukan dan sifat dari nilai dalam kaitannya dengan perlunya penilaian atau transformasi melalui pendidikan nilai. Selanjutnya untuk lebih memahami tentang nilai tersebut. Pelajari penggolongan nilai-nilai. Dari buku yang berjudul Moral Values, Walter G. Everett menggolongkan nilai-nilai manusiawi delapan golongan ( Titus, 1953-339-340) sebagai berikut: Nilai-nilai ekonomis (economic values). Nilai-nilai ini ditunjukkan dengan harga pasar dan meliputi juga semua benda-benda yang dapat dibeli. Nilai-nilai ekonomi ini merupakan nilai instrumental, yaitu dipakai sebagai sarana untuk memperoleh nilai-nilai lain. Nilai-nilai kejasmanian (bodily values). Nilai-nilai ini meliputi hal-hal yang bersangkutan dengan pemeliharaan kesehatan, efisiensi dan keindahan dari kehidupan jasmani. Nilai-nilai rekreasi (values of recreation). Nilai-nilai ini meliputi nilai-nilai permainan dan waktu senggang sejauh nilai-nilai tersebut memberikan sumbangan untuk memperkaya kehidupan. Nilai-nilai perserikatan (values of association). Ini meliputi berbagai bentuk perserikatan manusia, dari persahabatan, kehidupan keluarga sampai dengan hubungan tingkat internasional. Nilai-nilai ini dapat disebut nilai-nilai sosial (social values). Nilai-nilai watak (character values). Nilai-nilai ini meliputi seluruh rentangan dari kesalahan pribadi dan sosial termasuk keadilan, kesediaan menolong, kontrol diri dan kesukaan pada kebenaran. Nilai-nilai estetis (aesthetic values), misalnya nilai-nilai keindahan yang dapat ditemukan di dalam alam dan karya-karya seni. Nilai-nilai intelektual (intellectual values), yang meliputi nilai-nilai pengetahuan dan pencarian kebenaran Nilai-nilai intelektual (intellectual values). Nilai agama (religius values), meliputi pemujaan pengabdian dan keterikatan pada apa yang seseorang percaya merupakan nilai-nilai yang tertinggi.30

Perlu kita ketahui bahwa istilah nilai dikenal dengan kata value atau valere yang artinya baik atau kuat atau berharga. Pengertian berharga adalah memiliki manfaat bagi dirinya maupun lingkungannya, dengan demikian perbuatannya akan selalu memberikan kebaikan bagi kehidupan sebagai warga Negara. Implikasi dari pertimbangan teoritik tersebut maka dapat memperkuat pandangan bahwa pendidikan nilai dan moral sangat penting, dan merupakan misi untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Lebih penting bagi pencapaian tujuan pendidikan Kewarganegaraan. Khusus kaitannya dengan strategi pembelajaran kini telah dikembangkan berbagai model pembelajaran nilai dan moral. Dikembangkan atas dasar keunikan dan tujuan dari pendidikan nilai, yang menyentuh aspek afektif, yang perlu dilakoni dan pembiasaan dari para pelajar. Dengan demikian dapat dibedakan proses pembelajaran PKn yang berorientasi pada nilai dengan pembelajaran mata pelajaran lainnya yang lebih menekankan kepada pengetahuan. Hal ini akan nampak dalam pemilihan materi pembelajaran, pemilihan metode dan media serta peran peserta didik dan guru termasuk sistem evaluasinya. Secara khusus ahli pendidikan nilai dari Barat Elizhabeth W.F menyatakan bahwa pembelajaran pendidikan nilai perlu adanya pembinaan keseimbangan antara perbuatan dengan ucapan. Antara idealisme dengan kenyataan, keseimbangan antara pribadi dengan kepentingan umum. Sedangkan pendapat lain mengemukakan bahwa esensi dari pendidikan nilai adalah untuk memperkuat daya harmonisasi dalam berbagai aspek kepentingan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh dalam pembelajaran PKn antara kepentingan pribadi dan umum, antara kepentingan Negara dan warga negara (Suwarma AM, 2000). Hal ini akan Anda pelajari pada kegiatan berikut pada modul ini. Khusus mengenai bagaimana gambaran konseptual model pembelajaran PKn yang berorientasi pendidikan nilai. Kriterianya dapat dikembangkan sebagai berikut: Pembelajaran yang memungkinkan siswa mengembangkan kegiatan berpikir kritisnya untuk memahami nilai-nilai yang meliputi, sumber nilai, kebenaran nilai, dan kegunaan nilai tersebut bagi dirinya dan orang lain. Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterlibatan emosionalnya sehingga memungkinkan munculnya potensi kesadaran siswa untuk memiliki dan menjadikan sebagai sistem nilai pribadinya. Memungkinkan siswa untuk selalu memperbarui dan memperkuat system nilai yang dimilikinya dengan memberikan kepada model pembelajaran klarisipikasi nilai (value cIarification technique). Menggunakan berbagai media stimulasi untuk memungkinkan adanya kemampuan berpikir kritis dan penempatan posisi dalam proses pemilikan sistem nilai. Menggunakan evaluasi yang lebih menekankan pada proses pembelajaran dengan mengobservasi keterlibatan dalam pembelajaran.

31

V. Model Pembejajaran PKn yang Berorientasi pada Pendidikan Moral PancasilaPada kegiatan materi di atas kita telah memahami gambaran tentang bagaimana secara konsep perlunya pembelajaran PKn dikembangkan sebagai model pembelajaran pendidikan nilai. Sedangkan pada kegiatan ini akan mempelajari bagaimana secara konseptual pembelajaran PKn dikembangkan sebagai model pembelajaran pendidikan moral Pancasila. Untuk itu pelajari uraian beriku ini, ini, sudah barang tentu kita perlu memahami terlebih dulu apa dimaksud dengan moral ? Dan apakah yang dimaksud dengan moral P