repository.uinjkt.ac.idrepository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/45857/1/HASAN...

Click here to load reader

  • date post

    11-Aug-2019
  • Category

    Documents

  • view

    230
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of repository.uinjkt.ac.idrepository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/45857/1/HASAN...

  • PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN PERKARA CERAI GUGAT

    DI PENGADILAN AGAMA JAYAPURA (PAPUA) DAN PENGADILAN

    AGAMA SITUBONDO (JAWA TIMUR) TAHUN 2016

    Tesis

    Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

    Memperoleh Gelar Magister Hukum (M.H.)

    Oleh:

    Hasan Abdul Rahman Asso

    Nim: 21150435000010

    PROGRAM STUDI MAGISTER HUKUM KELUARGA

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    J A K A R T A

    1440 H/2019 M

  • v

    ABSTRAK

    Hasan Abdul Rahman Asso. Nim: 21150435000010 PERTIMBANGAN

    HAKIM DALAM PUTUSAN PERKARA CERAI GUGAT DI PENGADILAN

    AGAMA JAYAPURA (PAPUA) DAN PENGADILAN AGAMA SITUBONDO

    (JAWA TIMUR) TAHUN 2016. Program Studi Magister Hukum Keluarga

    Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1440 H/2019 M. Tesis ini

    terdiri dari xvi halaman + 141 halaman + 7 halaman lampiran.

    Tesis ini bertujuan untuk mengenalisis pertimbangan hakim dalam

    memutuskan perkara cerai gugat di Pengadilan Agama Jayapura (Papua) dan

    Pengadilan Agama Situbondo (Jawa Timur) Tahun 2016.

    Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat deskriptif kualitatif,

    dengan didukung data primer dan sekunder. Data primer dalam penelitian ini yaitu

    wawancara dengan para hakim serta dokumen putusan cerai gugat di Pengadilan

    Agama Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo. Adapun data sekunder dalam

    penelitian ini berupa penelusuran referensi di perpustakaan. Adapun proses

    pengumpulan data adalah mengedit, mengklasifikasi, mereduksi dan menyajikan

    data untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan hukum

    normatif, filosofis, dan sosiologis.

    Tesis ini menyimpulkan bahwa, Pertama, Pengadilan Agama Jayapura

    maupun Pengadilan Agama Situbondo dalam memutuskan perkara sama-masa

    menggunakan pertimbangan normatif, filosofis dan sosiologis. Namun,

    Pengadilan Agama Jayapura maupun Pengadilan Agama Situbondo sama-sama

    belum menggunakan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang

    Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Undang-undang Nomor 23

    Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Kedua, tidak ada perbedaan yang

    signifikan antara pertimbangan hakim Pengadilan Agama Jayapura dan

    Pengadilan Agama Situbondo dalam memutus perkara cerai gugat.

    Kata Kunci : Pertimbangan Hakim, Cerai Gugat, Pengadilan Agama

    Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo.

    Dosen Pembimbing : Dr. Khamami Zada, S.H., M.A., MDC.

    Referensi : 1972 - 2017

  • vi

    ABSTRACT

    Hasan Abdul Rahman Asso. Student ID: 21150435000010. Consideration of

    judges ini the Decision of Divorced Cases in the Jayapura (Papua) Religious and

    the Situbondo (Jawa Timur) Religious Caurt ini 2016. Magister Program of

    Family Law, Faculty of Shariah IN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1440 H/2019 M.

    This thesis consists of 127 pages + 7 pages of attachments.

    Thes thesis entitled “Consideration of judges in the Decision of Divorced

    Cases in the Jayapura Religious Court and the Situbondo Religious Counrt in

    2016” aims to analyze judges’ consideration in decidingdivorce cases ini the

    Jayapura Religious Court end the Situbondo Religious Court in 2016.

    This research was field research in the form of qualitative descriptive taking

    places in the two location; Religious Courts in Jayapura Papua and Situbondo East

    Java. The Data were collected firstly through field observation, then continued by

    conducting interviews with the judges of the Religious Courts in Jayapura and

    Situbondo. Other data were collected through reference searches in the library and

    the researcher’s personal literature. The process of collecting data involving

    editing,classifying,reducing and presenting data which to the were analyzed by

    using legal normative,philosophical, and sociological approaches.

    This thesis concluded that, first, in deciding cases, both the Jayapura

    Religious Court and the Situbondo Religious Court were using normative,

    philosophical, and sociological considerations. However, both Jayapura Religious

    Court and the Situbondo Religious Court have not used Law Number 23 of 2004

    concerning Elimination of Domestic Violence and Law Number 23 of 2002

    concerning Child Protection. Second, there is no significant difference between

    the considerations of judges in Jayapura Religious Court and Situbondo Religious

    Court in deciding divorce cases.

    Keywords : Consideration of judges, Divorce Cases in Jayapura RC

    and Situbondo RC

    Supervisor : Dr. Khamami Zada, S.H., M.A., MDC.

    Reference : 1972 - 2017

  • vii

    02032053222202

    0202

    000202020017

    0202

    05 0220 05

    0220

  • viii

    02100207

  • viii

    KATA PENGANTAR

    Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam yaitu Allah yang

    selalu memberi petunjuk kepada setiap mahluk-Nya, yang atas anugrah dan

    nikmat-Nya kita semua masih dalam lindungan-Nya. Sholawat serta salam

    semoga selalu tercurah dan terlimpah kepangkuan Nabi kita Muhammad SAW,

    keluarga, sahabat dan para pengikutnya.

    Penulisan tesis ini dimaksudkan untuk melengkapi sekaligus untuk

    memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar magister pada konsentrasi

    Hukum Keluarga (Al-Ahwalusyahsiyya) pada Pasca Sarjana Fakultas Syari’ah

    Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Judul yang diangkat

    oleh penulis dalam tesis ini adalah“Pertimbangan Hakim Dalam Putusan Perkara

    Cerai Gugat di Pengadilan Agama Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo

    Tahun 2016”. Dengan Alasan untuk memperbandingan persamaan dan perbedaan

    Majelis Hakim dalam pengambilan dasar hukum dalam pertimbangan putusan

    cerai gugat di Kantor Pengadilan Agama Jayapura dan kantor Pengadilan Agama

    Situbondo serta untuk memperbandingan faktor-faktor perceraian dikalangan

    masyarakat Jayapura dan Situbondo.

    Dan dalam penulisan tesis ini penulis banyak memperoleh dukungan,

    dorongan, bimbingan dan saran serta masukan dari berbagai pihak. Oleh karena

    itu sepatutnya penulis sampaikan banyak terimakasih kepada yang terhotmat:

    1. Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis, Lc., M.A., selaku Rektor Universitas

    Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.A., selaku Dekan Fakultas Syariah

    dan Hukum Syarif Hidayatullah Jakarta.

    3. Dr. Syahrul Adam, M.Ag. dan Dr. Nahrowi, S.H., M.H., selaku Ketua dan

    Sekretaris Program Studi Magister Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan

    Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    4. Dr. Khamami Zada, SH, MA, MDC. Atas bimbingan, petunjuk dan saran-

    sarannya yang diberikan baik selama bimbingan penulis tesis ini berlangsung,

    juga selama dalam studi.

  • ix

    5. Seluruh guru besar dan dosen Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas

    Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan

    bimbingan dan ilmunya selama masa studi berlangsung, Prof. Dr. Drs.

    Muhammad Amin Suma, S.H., M.A., M.M., Prof. Dr. Atho Mudzhar, MSPD.,

    Prof. Dr. Khuzaemah T. Yanggo, M.A., Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah. S.H.,

    Prof. . Dr. Masykuri Abdillah, M.A., Prof. Dr. Zaituna Subhan, Prof. Dr. M.

    Arskal Salim GP, M.Ag., Dr. Ahmad Tholabi, S.H., M.A.,Dr. Khamami Zada,

    SH, MA, MDC.,Dr. Yayan Sopyan, S.H., M.Ag, Dr. H. Syahrul Adam,

    M.Ag., M.H., Dr. Nahrowi, S.H., M.H., Dr. Hj. Isnawati Rais, M.A., Dr. JM.

    Muslimin, M.A., Dr. H. Nurul Irfan, Dr. Hj. Mesraini, Dr. Kama Rusydiana.,

    Dr. Fuad Tohari, serta para dosen lainnya yang telah memberikan wawasan

    dan ilmu dalam proses studi sampai selesai.

    6. Kepada Ibunda yang tercinta, Mimieke Wetapo, yang selama ini memberikan

    dukungan, dorongan, dalam bentuk doa maupun materi yang mana penulis

    tidak bisa balas kebaikannya kecuali hanya doa.

    7. Kepada ayahanda bapak H. Hisiluok Asso, yang selama ini memeberikan

    dukungan, dorongan, dalam bentuk doa maupun materi yang mana penulis

    tidak bisa balas kebaikannya kecuali hanya doa.

    8. H. Muhammad Yudi Kotouky, yang selama ini banyak membatu dalam

    bentuk moril maupun materi, semoga kebaikan bapak selalu dibalas oleh Allah

    SWT, berseta stafnya.

    9. Habib Dito, yang selama ini banyak membantu baik moril maupun materi,

    semoga kebaikan bapak selalu dibalas oleh Allah SWT.

    10. Ponto Yelipele, yang selama ini tidak bosan-bosannya memberikan arahan dan

    bantuan kepada penulis selama menulis tesis maupun selama masa studi,

    semoga kebaikan bapak selalu dibalas oleh Allah SWT.

    11. Istriku yang tercinta, yang selalu menemani penulis dalam penulisan tesis ini,

    semoga kebaikannya diterima oleh Allah SWT, dan menjadi istri yang

    sholehah dalam setiap langkahnya.

  • x

    12. Semua jajaran Pengadilan Agama di Jayapura dan Pengadilan Agama

    Situbondo yang telah banyak memberikan masukan dan mempermudah dalam

    pengambilan data dalam penulisan tesis ini.

    13. Serta kepada semua pihak yang tidak sempat disebutkan satu persatu, mereka

    yang sebenarnya patut secara langsung mendapatkan ucapan terimakasi dari

    penulis.

    Akhirnya, dengan segala kemantapan hati, semoga apa yang telah penulis

    lakukan benar-benar menjadi rahmat bagi penulis juga bagi siapapun demi

    kebaikan.

    Jakarta, 14 Mei 2019

    Penulis

  • xi

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

    PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................ ii

    PENGESAHAN HASIL UJIAN ................................................................... iii

    LEMBARAN PERNYATAAN ..................................................................... iv

    ABSTRAK ...................................................................................................... v

    KATA PENGANTAR .................................................................................... viii

    DAFTAR ISI ................................................................................................... xi

    PEDOMAN TRANSLITERASI ................................................................... xiv

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah 1

    B. Identifikasi Masalah 4

    C. Perumusan dan Pembatasan Masalah 5

    1. Perumusan Masalah 5

    2. Pembatasan Masalah 5

    D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 6

    1. Tujuan Penelitian 6

    2. Manfaat Penelitian 7

    E. Studi Review Terdahulu 7

    F. Metode Penelitian 10

    G. Sistematika Penulisan 14

    BAB II CERAI GUGAT DALAM PERSPEKTIF

    FIKIH DAN PERUNDANG-UNDANGAN

    A. Cerai Gugat (khulu’) dalam Perspektif Fikih

    1. Pengertian Cerai Gugat (Khulu’) 16

    2. Dasar Hukum Khuluk (khulu’) 20

    3. Rukun Khuluk (khulu’) 23

    4. Syarat-Syarat Khuluk 25

    5. Alasan dan Penyebab Terjadinya Khuluk (khulu’) 28

  • xii

    6. Akibat Khuluk (khulu’) 31

    7. Hikmah Khuluk (khulu’) 33

    B. Cerai Gugat dalam Perspektif Perundang-undangan

    1. Pengertian Cerai Gugat 34

    2. Akibat Hukum Cerai Gugat 35

    3. Tata Cara Mengajukan Cerai Gugat 37

    C. Kedudukan dan Wewenang Pengadilan Agama dalam

    Perceraian

    1. Kedudukan Peradilan Agama 40

    2. Dasar Yuridis Peradilan Agama 41

    3. Kewenangan Peradilan Agama 43

    BAB III PUTUSAN HAKIM DALAM PERKARA CERAI

    GUGAT DI PENGADILAN AGAMA JAYAPURA

    A. Profil Pengadilan Agama Jayapura 48

    B. Putusan Cerai Gugat di Pengadilan Agama Jayapura 51

    BAB IV PUTUSAN HAKIM DALAM PERKARA CERAI

    GUGAT DI PENGADILAN AGAMA SITUBONDO

    A. Profil Pengadilan Agama Situbondo 66

    B. Putusan Cerai Gugat di Pengadilan Agama Situbondo 69

    BAB: V PERTIMBANGAN DAN PERBANDINGAN

    PUTUSAN CERAI GUGAT DI PENGADILAN

    AGAMA JAYAPURA DAN PENGADILAN

    AGAMA SITUBONDO

    A. Pertimbangan Hakim dalam Putusan Cerai Gugat

    di Pengadilan Agama Jayapura 81

    1. Pertimbangan Normatif Hukum 82

    2. Pertimbangan Sosiologis Hukum 87

    3. Pertimbangan Filosofis Hukum 91

  • xiii

    B. Pertimbangan Hakim Dalam Putusan Cerai Gugat di Pengadilan Agama Situbondo 98

    1. Pertimbangan Normatif Hukum 98

    2. Pertimbangan Sosiologis Hukum 103

    C. Persamaan dan Perbedaan Putusan Cerai Gugat

    di Pengadilan Agama Jayapura dan Situbondo 106

    BAB VI PENUTUP

    A. Kesimpulan 131

    B. Saran 132

    DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 114

    LAMPIRAN:

    1. Surat Penunjukan Pembimbing Tesis

    2. Surat Permohonnan Wawancara Pengadilan Agama Jayapura

    3. Surat Permohonan Wawancara Pengadilan Agama Situbondo

    4. Hasil wawancara Pengadilan Agama Jayapura

    5. Hasil wawancara Pengadilan Agama Situbondo

    6. Surat Balasan dari Pengadilan Agama Jayapura

    7. Surat Balasan dari Pengadilan Agama Situbondo

  • xiv

    PEDOMAN TRANSLITERASI

    A. Padana Aksara

    Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara latin:

    B. Vokal

    Dalam bahasa Arab vokal sama seperti dalam bahasa Indonesia

    memiliki vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk

    vokal tunggal atau monoftong, ketentuan alih aksaranya adalah sebagai berikut:

    Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

    ا Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan

    ب b be

    ت st te

    ث ṡ es (dengan titik diatas)

    ج j je

    ح ẖ ha (dengan garis dibawah)

    خ kh ka dan ha

    د d de

    ذ dz de dan zet

    ر r er

    ز z zet

    س s es

    ش sy es dan ye

    ص ṣ es (dengan garis dibawah)

    ض ḏ de (dengan garis dibawah)

    ط ṯ te (dengan garis dibawah)

    ظ ẕ zet (dengan garis dibawah)

    ع ʻ Koma terbalik diatas hadap kanan

    غ gh ge dan ha

    ف f ef

    ق q ki

    ك k ka

    ل l el

    م m em

    ن n en

    و w we

    ه h ha

    ء ʼ apostrif

    ى y ye

  • xv

    Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

    َ A Fathah

    ِ I Kasrah

    ُ U Dammah

    Adapun untuk vokal rangkkap atau diftong, ketentuan alih aksaranya

    adalah sebagai berikut:

    C. Vokal Panjang

    Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab

    dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:

    D. Kata sandang

    Kata sandang , yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf ( ال)

    , dialihaksarakan menjadi huruf “I” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah maupun

    huruf qamariyyah. Misalnya:

    al-ijtihâd= اإلجتهاد

    al-rukhsah bukan ar-rukhsah =الرخصة

    E. Tasydîd (Syaddah)

    Dalal alih aksara, syaddah atau tasydîd dilambangkan dengan huruf, yaitu

    dengan mengandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal ini

    tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata

    sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya:

    .al-syuf’ah, tidak ditulis asy-syuf’ah = الشفعة

    Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

    ي ai a dan i

    au و a dan u

    Harakat dan Huruf Huruf dan Tanda Nama

    ىَا â a dengan topi diatas

    ىِي î i dengan topi diatas

    ىُو û u dengan topi diats

  • xvi

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan

    Undang-Undang dasar 1945 bertujuan mewujudkan tata kehidupan bangsa yang

    aman, tertip dan tentram. Untuk mewujudkan tata kehidupan tersebut diperlukan

    adanya upayah untuk menegakan keadilan, kebenaran dan ketertiban yang

    dilakukan oleh kekuasaan kehakiman.1 Suatu putusan Pengadilan dianggap baik

    apabila memberi rasa keadilan kepada pihak-pihak yang berperkara, untuk

    mendapatkan putusan yang baik maka harus ditangani oleh hakim yang

    profesional dan berjiwa progresif agar dalam menerapkan pertimbangan hukum

    dapat mengikuti perkembangan zaman. Dengan demikian putusan hakim bukan

    hanya memiliki nilai yuridis (kepastian hukum), tetapi juga harus memiliki nilai

    sosiologis (kemanfaatan) dan nilai filosofis (keadilan).

    Oleh sebab itu pengambilan keputusan sangat diperlukan oleh hakim atas

    sengketa yang diperiksa dan diadilinya. Hakim harus dapat mengolah dan

    memproses data-data yang diperoleh selama proses persidangan, baik dari bukti

    surat, saksi, persangkaan, pengakuan maupun sumpah yang terungkap dalam

    persidangan (lihat Pasal 164 HIR).2 Sehingga keputusan yang akan dijatuhkan

    dapat didasari oleh rasa tanggung jawab, keadilan, kebijaksanaan, profesionalisme

    dan bersifat obyektif. Putusan adalah produk dari pemeriksaan perkara yang

    dilakukan oleh hakim. Berdasarkan Pasal 178 HIR/189 RBG, setelah pemeriksaan

    selesai, maka hakim karena jabatannya harus melakukan musyawarah untuk

    mengambil putusan yang akan dijatuhkan. Pemeriksaan dianggap telah selesai

    apabila telah melalui tahap jawaban dari Tergugat, replik dari Penggugat, duplik

    dari Tergugat, pembuktian dan kesimpulan yang diajukan oleh para pihak.

    Dalam memutus perkara yang terpenting adalah kesimpulan hukum atas

    fakta yang terungkap dipersidangan. Untuk itu hakim harus menggali nilai-nilai,

    1 H. A. Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, (Yokyakarta:

    Pustaka Pelajar), 2003, hal. 8. 2 Nya Retnowulan Sutantio, Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata Dalam

    Teori dan Peraktek, (Bandung: Cet kesatu, 1979), hal. 61.

  • 2

    mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam

    masyarakat.3 Sumber hukum yang dapat diterapkan oleh hakim dapat berupa

    peraturan perundang-undangan berikut peraturan pelaksanaannya, hukum tidak

    tertulis (hukum adat), putusan desa, yurisprudensi, ilmu pengetahuan maupun

    doktrin atau ajaran para ahli.4 Oleh sebab itu, sesuai dengan tema di atas dalam

    tesis ini akan membahas “Pertimbangan hakim Dalam Putusan Perkara cerai

    gugat di Pengadilan Agama Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo Tahun

    2016” yang mana putusannya akan ditetapkan oleh para hakim.

    Karena penelitian ini dilakukan di dua (2) daerah yang berbeda, maka perlu

    dicantumkan beberapa alasan dan faktor-faktor penyabab terjadinya cerai gugat di

    Pengadilan Agama Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo. Faktor-faktor

    penyebab terjadinya cerai gugat di wilayah Jayapura. Menurut hakim Pengadilan

    Agama Jayapura dan sekaligus merangkap humas, Ismail Sunethm S.Ag. M.H,

    Penyebab utama perceraian adalah karena kurangnya tangung jawab ekonomi dari

    suami sehingga istri meminta gugat cerai. Dijelaskan memang tahun lalu kasus

    perceraian didominasi cerai gugat atau perkara yang diajukan oleh istri yang

    menggugat suaminya.5 Alasannya dalam rumah tangga sudah tidak harmonis lagi

    karena dipicu dengan adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Suami

    sering minum-minuman keras, tidak bisa menafkahi istri, dan hal lainnya seperti

    adanya pihak ketiga atau perselingkuhan. Menurutnya, yang banyak cerai saat ini

    masyarakat perantauan dari luar Papua yang mencari nafkah di Jayapura, dan di

    Jayapura hasil yang didapat suami kurang maksimal, sehingga istri tidak merasa

    puas dengan penghasilan suami.6

    Beberapa data carai gugat kantor Pengadilan Agama Jayapura, yakni

    perkara tahun 2016 akan disebutkan dibawah ini:

    3 Lihat Pasal 5 UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

    4 R. Soeparmono, Hukum Acara Perdata dan Yurisprudensi, (Bandung, Mandar Maju,

    2005), hal. 146. 5 Wawancara dengan Humas, Ismail Sunethm S.Ag. M.H, di Pengadilan Agama Jayapura,

    (Fia Telepon), 12- Maret- 2017. 6 Wawancara Dengan Pegawai Pengadilan Agama Jayapura (Fia Telepon), 12- Maret-

    2017.

  • 3

    TABEL 1

    DATA KASUS CERAI GUGAT DI PENGADILAN AGAMA JAYAPURA

    TAHUN 2016.7

    No Tahun 2016 Jumlah %

    1 DiKabulkan 197 82,08

    2 Dicabut 28 11,66

    3 Ditolak 2 0,83

    4 Digugurkan 6 2,5

    5 Tidak diterima 1 0,41

    6 Coret dari register 6 2,5

    Jumlah Keseluruhan 240 Perkara 99,98

    Faktor-fakto penyebab terjadianya cerai gugat di wilayah kabupaten

    Situbondo. Berdasarkan data penelitian, diantara faktor-faktor terjadinya percerain

    di Situbondo adalah krisis akhlak, cemburu, kawin paksa, ekonomi, tidak ada

    tangung jawab, penganiayaan, ganguan pihak ketiga, tidak adanya keharmonisan

    dalam rumah tangga suami istri. Sesuai data tahun 2016 Pengadilan Agama

    Situbondo, sebagaimana akan disebutkan dibawahl ini:

    TABEL 2

    KASUS CERAI GUGAT DI PENGADILAN AGAMA SITUBONDO

    TAHUN 20168

    No Tahun 2016 Jumlah %

    1 DiKabulkan 497 90,85

    2 Dicabut 32 5,85

    3 Ditolak 7 1,27

    4 Digugurkan 5 0,91

    5 Tidak diterima 4 0,73

    6 Coret dari register 2 0,36

    Jumlah Keseluruhan 547 Perkara

    7 Dokumen Pengadilan Agama Jayapura, Tentang Kasus Cerai Gugat di Provinsi

    Pengadilan Agama Jayapura Tahun 2016 8 Dokumen Pengadilan Agama Jayapura, Tentang Kasus Cerai Gugat di Provinsi

    Pengadilan Agama Jayapura Tahun 2016

  • 4

    Perceraian memang sebuah tindakan hukum yang dibenarkan oleh Agama

    dalam keadaan darurat, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW,

    bahwa perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah SWT adalah talaq.9 Dalam

    kalimat lain disebutkan:

    َئب َأْبَغُض ِاَلْيِه ِمَن الَطاَلِقَشْي الّلُه بُاِّحاَلَم

    Artinya: “Tidak ada sesuatu yang dihalalkan Allah, tetapi dibencinya selain dari

    pada talaq”. (HR. Abu Dawud ra).10

    B. Identifikasi Masalah

    Dari uraian latar belakang tersebut, timbul beberapa permasalahn pokok

    yang dapat diinvestasikan sebagai berikut:

    1. Bagaimana perkembangan Hukum Acara Peradilan Agama mengenai dasar

    pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara cerai gugat di Pengadilan

    Agama Jayapura (Papua) dan Pengadilan Agama Situbondo (Jawa Timur)?

    2. Apa yang melatar belakangi perceraian (gugat cerai) di Pengadilan Agama

    Situbondo dan Pengadilan Agama Jayapura ( Papua)?

    3. Bagaimana peran hakim dalam menyikapi perkara gugat cerai di Pengadilan

    Agama Situbondo (Jawa Timur) dan Pengadilan Agama Jayapura (Papua)?

    4. Untuk mengetahui tingkat perceraian di Provinsi Jayapura (Papua) dan

    Kabupaten Situbondo?

    5. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dasar hukum yang digunakan

    hakim dalam memutusakan perkara gugat cerai di Pengadilan Agama Jayapura

    (Papua) dan Pengadilan Agama Situbondo (Jawa Timur)?

    9 Sabiq Sayyid, Fikih Sunnah , Alih Bahasa: Drs. Muhammad Thalib, (PT. Alma’arif,

    Bandung, 1997), hal. 12. 10

    Sabiq Sayyid, Fikih Sunnah , Alih Bahasa: Drs. Muhammad Thalib, (PT. Alma’arif,

    Bandung, 1997), hal. 13.

  • 5

    C. Perumusan dan Pembatasan Masalah

    1. Perumusan Masalah

    Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan dalam latar belakang, maka dapat

    dirumuskan bagaimana persamaan dan perbedaan pertimbangan hakim dalam

    putusan cerai gugat di Pengadilan Agama Jayapura dan Pengadilan Agama

    Situbondo Tahun 2016. Berdasarkan ini penulis merumuskan pertanyaan

    penelitian sebagai berikut:

    1. Bagaimana pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara cerai gugat di

    Pengadilan Agama Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo?

    2. Bagaimana persamaan dan perbedaan pertimbangan hakim di Pengdilan

    Agama Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo?

    2. Pembatasan Masalah

    Agar Penelitian ini lebih akurat dan terarah sehingga tidak menimbulkan

    masalah baru dan pelebaran secara meluas maka perlu memberikan batasan pada

    masalah putusan hakim terhadap perkara cerai gugat di Pengadilan Agama

    Jayapura dengan Pengadilan Agama Situbondo tahun 2016, di mana putusan

    perbulannya akan diambil dua (2) kasus cerai gugat.

    D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

    Adapun tujuan penelitian ini adalah:

    Untuk mengetahui bagaimana pertimbangan hakim dalam memutuskan

    perkara cerai gugat di Pengadilan Agama Situbondo (Jawa Timur) dan Pengadilan

    Aagama Jayapura (Papua) dari Perspektif normaif hukum, filosofis hukum,

    sosiologis hukum.

    Adapun manfaat dari Penelitian ini adalah:

    1. Manfaat Teoritis

  • 6

    a. Bagi perkembangan Hukum Acara Peradilan Agama mengenai dasar

    pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan perceraian di Pengadilan

    Agama Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo.

    b. Menambah referensi dan literatur kepustakaan di bidang Hukum Perdata

    khususnya Hukum Perkawinan dan Hukum Acara Peradilan Agama.

    c. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai acuan terhadap penelitian sejenis.

    2. Manfaat Praktis

    a. Manfaat penelitian ini bagi Pengadilan Agama Jayapura dan Pengadilan

    Agama Situbondo terhadap penelitian ini diharapkan para hakim mampu

    mengembangkan dasar hukum normatif, filosofis hukum, sosiologis

    hukum, terhadap perceraian terutama dalam perkara cerai gugat dan dan

    dalam penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan dan revrensi serta

    bahan koreksi dalam pembelajaran dan pengembangan ilmu keperdataan,

    hususnya mengenai cerai gugat.

    Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para praktisi

    Peradilan yang terlibat langsung dalam proses pelaksanaannya, yaitu para hakim

    khususnya di kota Jayapura (Papua) dan kabupaten Situbondo (Jawa Timur).

    E. Studi Terdahulu

    Begitu banyak Buku, Tesis, Skripsi dan Disertasi yang membahas

    permasalahan tentang putusan hakim terhadap perkara perceraian, maka penulis

    ingin melakukan review studi pustaka atau tinjauan kepustakaan untuk

    membandingkan Tesis yang dibuat oleh penulis dengan Tesis, Disertasi, Buku,

    yang sudah ada antaranya adalah:

    Abd. Rasyid Wasyim dalam Tesisnya “Perkawinan dan perceraian yang

    marak terjadi di kota Semarang dan sekitarnya”. Penelitian ini menjelaskan sejauh

    mana Peranan BP4 kota madya Semarang dalam mengendalikan dan menekan

    angka perceraian, faktor, faktor apa yang mempengaruhi peran BP4 dalam

    mengendalikan perceraian. Peranan BP4 Kota Madya Daerah Tingkat II

    Semarang dalam mengendalikan Perceraian dari tahun ketahun nampak ada

  • 7

    kemajuan, walupun masih dapat dikategorikan belum maksimal. Dan belum

    maksimalnya Peranan BP4 Kota Madya Daerah Tingkat II Semarang dalam

    mengendalikan perceraian karena pengaruh beberapa hambatan yang dihadapinya

    hal ini meliputi antara lain: Dana yang masih sangat terbatas jumlahnya. BP4

    belum ditangini secara maksimal oleh pengurus, karena merupakan tugas

    sampingan dari tugas pokoknya dan belum ditopang dengan dana serta porsinil

    yang memadai dan perundang-undangan yang mengikat. Keterbatasan konsultan

    yang dimiliki baik kuwalitas maupun kuantitasnya, adanya perundang-undangan

    yang memungkinkan para klien untuk dapat langsung ke Pengadilan Agama

    dalam menyelesaikan masalahnya.11

    Perbedaannya dengan penelitian ini adalah

    lebih menekankan pada pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara cerai

    gugat di Pengadilan Agama Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo dalam

    menggunakan dasar normatif hukum, filosofis hukum, sosiologis hukum serta

    perbedaan dan persaman pertimbangan hukumnya.

    Tutur Chundori dalam Tesisnya “studi tentang masalah perceraian di

    purwokerto, yakni prosedur atau alasan Perceraian, sebab-sebab alasan perceraian

    serta akibat terjadinya perceraian terhadap keluarga”. Penelitian ini menjelaskan

    adanya kasus perceraian menunjukan ketidak sesuaian kedua suami istri hidup

    bersama berumah tangga dan biasanya perceraian itu merupakan tahap akhir dari

    serangkaian pertengkaran atau perselisihan yang terjadi. Umumnya pada

    permulaan sebabnya sederhana, akan tetapi semakin lama makin komplek dan

    penyebab timbulnya persoalan lain, sehingga perceraian tidak dapat dihindari.

    Dengan demikian perceraian bagi mereka merupakan jalan keluarnya dari

    perselisihan-perselisihan itu.12

    Berbeda dengan Tutur Chundori, penelitian ini

    lebih menekankan pada pertimbangan hakim dalam perkara cerai gugat dalam

    11

    Abd. Rasyid Wasyim, Peranan Bp4 Sebagai Lembaga Penyuluhan dan Konsultasi

    Hukum Islam Dalam Mengendalikan Perceraian di Kota Madya Semarang, ( Jakarta: Universitas

    IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta Bekerja Sama Dengan Universitas Indonesia Jakarta, 1997 ),

    hal. 173-174. 12

    Tutur Chundori, Studi Tentang Kasus Perceraian di Purwokerto, (Jakarta: Pasca Sarjana

    UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta bekerja sama dengan Universitas Indonesi Jakarta,1990) hal.

    160-161.

  • 8

    perspektif normatif hukum dan filosofis hukum di Pengadilan Agama Jayapura

    dan Pengadilan Agama Situbondo.

    Hotnidah Nasution dalam Tesisnya yang membahas tentang “Pernikahan

    Dini Dan Perceraian (Studi Kasus di Pengadilan Agama Jakarta Selatan)”.

    Diantara kesimpulan tesis ini diterangkan bahwah: batasan usia dalam pernikahan

    dini sangat variatif, ada yang berpendapat bahwa pernikahan dini adalah

    pernikahan yang dilakukan dibawah usia 15 tahun, sebagian berpendapat dibawah

    usia 17/18 tahun, yang lain berpendapat dibawah usia 20 tahun, sebagian pendapat

    pernikahan yang dikakukan dibawah usia 24 tahun, namun jika dikaitkan dengan

    UUP maka yang termasuk pernikahan dini adalah pernikahan dibawah umur yaitu

    pernikahan yang dilakukan pasangan dibawah umur 19 tahun bagi pria dan

    dibawah umur 16 tahun bagi istri. Faktor-faktor penyebab terjadinya perceraian

    itu beragam yaitu karena poligami tidak sehat, krisis akhlak, cemburu, kawin

    paksa, tidak ada tanggung jawab ekonomi, kawin dibawa umur, penganiayaan,

    cacat biologi, politis, dihukum, ganguan pihak ketiga, dan tidak ada

    keharmonisan.13

    Berbeda dengan penelitian ini lebih menekankan pada

    pertimbangan hakim dalam putusan perkara cerai gugat di Pengadilan Agama

    Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo tidak hanya menggunakan sosiologis

    hukum tetapi juga menggunakan normatif hukum dan filosofis hukum.

    Naufal dalam Tesisnya membahas tentang “Problematika Merantau,

    Perceraian Dan Upaya Mengatasinya (Studi Kasus Di Pengadilan Agama Pulau

    Bawean Gresik Jawa Timur Tahun 2002-2003”. Dalam penelitian ini diterangkan

    bahwa merantau merupakan tradisi masyarakat Bawean, terutama dalam karangka

    sosiologis, yakni untuk tujuan mencari mata pencaharian dalam rangka memenuhi

    kebutuhan hidup keluarga, baik kebutuhan makan, pendidikan, kesehatan, maupun

    perumahan, dengan demikian merantau tidak hanya sebuah tradisi, melainkan

    sudah merupak tuntutan, terutama jika memperhatikan minimnya sumber daya

    lokal yang dapat dimanfaatkan untuk dapat mempertahankan hidup.

    13

    Hotnida Nasution, Pernikahan Dini dan Perceraian (Studi Kasus di Pengadilan Agama

    Jakarta Selatan) Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2005, hlm. 144-149.

  • 9

    Dari aspek ekonomi, merantau banyak membawah peringatan taraf hidup

    keluarga yang konstruktif. Sebab dengan merantau suami dapat memberikan

    nafkah bagi istri dan anak-anaknnya. Sekalipun tujuan merantau tidak terlepas

    dari keinginan mempertahankan kelangsungan rumah tangga dan keluarga, namun

    ironisnya tradisi dan tuntutan hidup merantau ini justru sering dipandang sebagai

    salah satu pemicu utama terjadinnya perceraian. Banyak kasus gugat perceraian

    terjadi karena alasan-alasan yang dihubungkan dengan aktifitas merantau ini.

    Aktifitas merantau yang memunculkan ekses perceraian ini adalah merantau yang

    tidak dilibatkan pasangan suami istri, dalam arti hanya salah satu saja yang

    merantau, sebentara yang lain ditinggalkan dikampung halamannya. Berbagai

    proses sosiologis dan psikologis terjadi dalam keadaan suami dan istri hidup

    terpisa karena salah satunya merantau. Fakto-faktor inilah yang kemudian

    seringkali memberatkan, sehingga berbagai ketidak puasan muncul pada puncak

    ketidak puasan, mereka akhirnya menuntut cerai ke Pengadilan dalam hal ini

    Pengadilan Agama Bawean.14

    Penelitian ini lebih menekankan pada pertimbangan

    hakim terhadap putusan perkara cerai gugat di Pengadilan Agama Jayapura dan

    Pengadilan Agama Situbondo dalam perspektif normatif hukum dan filosofis

    hukum serta perbedaan dan persaman dalam menggunakan dasar hukumnya.

    F. Metode Penelitian

    Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode yang

    bersifat kualitatif dan perbandingan hukum (comparative approach).15

    Kedua

    metode tersebut merupakan metode yang sangat tepat digunaka dalan penelitian

    ini. Adapun ciri dari metode kualitatif adalah data yang disajikan berupa

    gambaran kata-kata, pendapat, ungkapan, gagasan, norma atau aturan-aturan dari

    fenomena yang diteliti. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi, wawancara

    dan sumber data lain yang terkait dengan putusan hakim terhadap cerai gugat

    dipengadilan Agama Situbondo dan Jayapura. Sedangkan metode yang bersifat

    14

    Naufal, Problematika Merantau, Perceraian Dan Upaya Mengatasinya (Studi Kasus di

    Pengadilam Agama Pulau Bawean Gersik Jawa Timur 2002-2003. ) 2005, hal. 197-198. 15

    Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2005), Ed. I, Cet. 4, hal.

    132.

  • 10

    komparatif adalah metode yang akan dipakai untuk menganalisis dan

    membandingkan suatu permasalahan yang akan diteliti, yaitu dengan

    membandingkan putusan hakim terhadap cerai gugat di Pengadilan Agama

    Situbondo dan Pengadilan Agama Jayapura Tahun 2016 dari perspektif normatif

    hukum, filosofis hukum, sosiologis hukum.

    Untuk memperjelas penelitian ini, maka ada dua bentuk metode penelitian

    yang akan diuraikan sebagai berikut:

    1. Teknik Pengumpulan Data

    Mengapa penelitian ini harus dilakukan didua daerah yang sangat berbeda

    kultur sosial dan budayahnya? Karena peneliti tertarik pada struktur sosial di 2

    (dua) daerah tesebut, yakni Provinsi Jayapura dan Kabupaten Situbondo.

    Misalnya dari perspektif Agama di Provinsi Jayapura, bilah dilihat dari agama

    yang paling banyak dianut oleh sebagian besar penduduk Provinsi Jayapura

    memeluk Agama Kristen, yang berikutnya adalah Agama Katolik, Agama Islam,

    Agama Hindu, Agama Budha dan yang terakhir Agama khong Hu Chu. Agama

    kristen menjadi mayoritas di Provinsi Jayapura dan dihampir semua kabupaten

    dan kota, sedangkan Katolik hanya beberapa daerah saja, dan Agama Islam

    populasi terbesar di Kota Jayapura yang didominasi oleh transmigran. Didaerah

    yang bermayoritaskan Agama selain Islam dan rendahnya tingkat pendidikan serta

    sering terjadi perceraian antara suami istri didaerah ini. Sedangkan dikabupaten

    Situbondo hampir 90 % adalah masyarakatnya beragama Islam, namun di daerah

    ini sering terjadi perceraian antara suami istri baik cerai gugat maupun cerai tolak

    karena, moral yang tidak baik, sering meninggalkan kewajiban dan terus menerus

    berselisi dari ganguan pihak ketiga, tidak adanya keharmonisan dalam rumah

    tangga yang menyebabkan perceraian antara suami istri. Dan akses untuk

    melakukan penelitian di dua (2) daerah tersebut lebih mudah bagi peneliti karena

    komunikasi dengan masyarakat dan para penjabat Pengadilan Agama setempat

    sangat bagus.

    2. Perbedaan dan Persamaan Antara Situbondo dan Jayapura

  • 11

    a. Situbondo

    Situbondo adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur dengan pusat

    pemerintahan dan kota Situbondo. Kabupaten ini terletak di daerah pesisir utara

    pulau Jawa, dikawasan tapal kuda dan dikelilingi oleh perkebunan tebu,

    tembakau, hutan lindung baluran dan lokasi usaha perkebunan. Dengan letaknya

    yang strategis, ditengah jalur transportasi darat Jawa-Bali kegiatan

    perekonomiannya tampak aktif. Situbondo mempunyai pelabuhan panarukan yang

    terkenal sebagai ujung timur dari jalan raya Pos Anyer-Panarukan di pulau Jawa

    yang di bangun oleh Daendels pra era kolonial belanda.

    Mayoritas masyarakat kota Situbondo dan sekitarnya adalah terdiri dari

    petani dan nelayan, tapi ada yang menarik dari kota yang disapa kota santri ini,

    kenapa disapa kota santri? Karena hampir 90% masyarakatnya mayoritas

    pemeluk agama Islam dan didaerah ini banyak pesantren, masjid serta hampir

    setiap rumah terdapat tempat ibadah yakni musholah. Walaupun masyarakat

    Situbondo terdiri dari petani dan nelayan tapi, mereka memiliki kesadaran tinggi

    terhadap Pendidikan dan mempelajari ilmu agama. Oleh sebab itu, putra putri

    mereka banyak yang di Pesantrenkan diberbagai pelosok Pesanren yang ada di

    kabupaten Situbondo.

    b. Jayapura

    Jayapura adalah ibu kota Provinsi Papua. Kota ini merupakan ibu kota

    Provinsi yang terletak paling timur di Indonesia. Kota ini terletak di teluk

    Jayapura. Jayapura didirikan oleh Kapten Infanteri F.J.P Sachses dari kerajaan

    Belanda pada tanggal 7 maret tahun 1910. Dari tahun 1910 sampai tahun 1962,

    kota ini dikenal sebagai Hollandia dan merupakan ibu kota distrik dengan nama

    yang sama ditimur laut pulau Papua dibagian barat. Kota ini sampai disebut kota

    baru dan Sukarnopura. Pada tahun 1964 sebelum memangku nama yang sekarang

    pada tahun 1968. Arti literal dari Jayapura, sebagaimana kota Jaipur di Rajasthan,

    adalah “kota kemenengan” (bahasa sanskerta: jaya yang berarti “kemenangan

    dan Pura berarti Kota”.

  • 12

    Kota Jayapura terdapat sejumlah daratan dan pantai, dan juga terdapat

    daerah perbukitan dan gunung-gunung, di mana terdapat 40% diantaranya tidak

    layak huni karena merupakan daratan perbukitan yang terjal dengan tingkat

    kemiringan 40 derajat, berawa-rawa dengan hutan lindung. Sedangkan

    perekonomian di kota Jayapura termasuk berkembang. Kota Jayapura yang terus

    berkembang pesat dan menjadi kota terpenting ditanah papua, karena kondisi

    perekonomian di kota Jayapura sangat menjanjikan. Dan aktivitas perdagangan

    warga Jayapura di pasar tradisional yang pada umumnya banyak bertumpu pada

    komoditas pertanian, perkebunan, dan perikanan untuk pokok sehari-hari. Bila

    dilihat dari besaran Agama yang paling banyak di anut di Provinsi Jayapura

    adalah pemeluk Agama Kristen, yang berikutnya adalah Agama Katolik, Agama

    Islam, Agama Budha dan yang terakhir Agama Khong Hu Chu. Agama Kristen

    menjadi mayoritas hampir semua kabupaten dan kota, sedangkan Katolik hanya

    dibeberapa daerah saja. Agama Islam dengan populasi terbesar ada dikota

    Jayapura.

    Berdasarkan uraian di atas, maka untuk mengetahui dasar pertimbangan

    hakim dalam menjatuhkan putusan cerai gugat maka, peneliti tertarik untuk

    mengadakan penelitian dengan judul: “Pertimbangan Hakim Dalam Putusan

    Perkara Cerai Gugat di Pengadilan Agama Jayapura dan Pengadilan Agama

    Situbondo 2016”.

    Oleh karena jenis penelitian ini adalah penelitian perbandingan hukum

    (comparative approach),16

    . Maka langkah awal dalam penelitian ini adalah

    mengumpulkan sumber data dan teknik pengumpulan data. Sumber data dalam

    penelitian perbandingan hukum ini diantaranya yaitu membandingkan peraturan

    perundang-undangan kompilasi hukum Islam (KHI) dan undang-undang cerai

    gugat, membandingkan putusan-putusan Peradilan Agama tentang cerai gugat,

    mengumpulkan data-data kepustakaan yang berkaitan dengan cerai gugat.

    Penelitian ini juga diperoleh dari hasil observasi atau indepth interview, yaitu

    16

    Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2005), Ed. I, Cet. 4, hal.

    132.

  • 13

    wawancara dengan para pihak yang memiliki pengetahuan memadai terhadap

    objek penelitian. Oleh karena itu sumber data dalam penelitian ini dapat

    dibedakan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang

    penulis peroleh langsung dari sumbernya, sedangkan sekunder adalah hasil tulisan

    yang telah di sistematisir oleh orang lain.

    Kategori dari data primer adalah bahan hukum yang bersifat (autoritatif),

    artinya yang mempunyai otoritas, dan sumber utamanya diambil dari objek

    penelitian, hal ini berarti bahwa pada waktu awal penelitian dimulai, data masih

    belum ada, dan data tersebut baru ada setelah penelitian berlangsung. Data-data

    ini diperoleh dari Pengadilan Agama Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo.

    Adapun yang termasuk dalam kategori sumber data sekunder adalah berupa

    semua aplikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi.

    Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, dan komentara-kementar atas

    putusan pengadilan. Dan juga berupa kumpulan perundang-undangan cerai gugat,

    literatur hukum yang berkaitan dengan hukum perceraian (cerai gugat).

    Teknik pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan cara wawancara

    tak terstruktur (open-ended) dan pertanyaan bersifat lebih terbuka, sehingga

    responden dapat secara bebas menjawab pertanyaan yang diajukan guna

    mendapatkan informasi yang sedalam-dalamnya. Adapun yang dianggap

    berkompeten untuk menjadi responden dalam penelitian ini di antaranya adalah

    hakim Pengadilan Agama Jayapura Ismail Dr. Nurul Huda, S.H., M.H. dan hakim

    Pengadilan Agama Situbondo Drs Usman Ismail Kilihu, S.H., M.H.

    3. Teknik Analisis Data

    Adapun metode analisis data adalah dengan menggunakan metode analisis

    isi (content analysis), dan komparatif, yakni menganalisis putusan-putusan hakim

    Pengadilan Agama tentang cerai gugat di Pengadilan Agama Jayapura dan

    Pengadilan Agama Situbondo Tahun 2016, serta dilihat dari perspektif, normatif

    hukum, filosofis hukum dan sosiologis hukum.

  • 14

    D. Sistematika Penulisan

    Secara keseluruhan persoalan yang akan dibahas dalam tesis ini

    penulis sajikan dalam 6 Bab, yaitu:

    Bab I : Pendahuluan

    Pada bab ini akan di jelaskan pendahuluan, yang memuat,

    pendahuluan, latar belakang masalah, identifikasi masalah,

    perumusan dan pembatasan masalah, rumusan masalah,

    pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, studi

    terdahulu, metode penelitian, pengumpulan data, metode analisis

    data, sistematika penulisan.

    Bab II : Cerai Gugat Dalam Perspektif Fikih dan Perundang-

    Undangan

    Pada bab ini akan dibahas tentang pengertian cerai gugat dalam

    perspektif fiqih, dasarhukum gugat cerai atau khuluk, rukun

    khuluk, alasan dan penyebab terjadinya khluk, beberapa alasan

    dimana istri dapat menuntut cerai melalui otoritas (wewenang)

    hakim, akibat khuluk, humah khuluk, gugat cerai dalam perspektif

    perundang-undangan kedudukan dan wewenang Pengadilan Agama

    dalam perceraian, dasar yuridis Pengadilan Agama, kewenangan

    Pengadilan Agama.

    BAB III : Putusan Hakim Dalam Perkara Cerai Gugat di Pengadilan

    Agama Jayapura (Papua)

    Pada bab ini akan dibahas tentang profil Pengadilan Agama

    Jayapura, struktur organisasi dan struktur kepala Pengadilan

    Agama dari tahun ketahun sampai tahun 2016, gambaran putusan

    cerai gugat Pengadilan Agama Jayapura.

    Bab IV : Putusan Hakim Dalam Perkara Gugat Cerai di Pengadilan

    Agama Situbondo

  • 15

    Pada bab ini akan dibahas tentang profil Pengadilan Agama

    Situbondo, struktur ketua Pengadilan Agama Situbondo dari tahun

    ketahun sampai tahun 2016, gambaran putusan gugat cerai

    Pengadilan Agama Situbondo.

    Bab V : Pertimbanngan dan Perbandinngan Putusan Cerai Gugat di

    Pengadilan Agama Jayapura (Papua) dan Pengadilan Agama

    Situbondo (Situbondo)

    Pada bab ini akan dibahas tentang pertimbangan hakim dalam

    dalam putusan perkerkara cerai gugat di Pengadilan Agama

    Jayapura dan Pengadilan Agama Situbondo dalam perspektif

    normatif hukum, filosofis hukum, sosiologis hukum, persamaan

    dan perbedaan putusan cerai gugat di Pengadilan Agama Jayapura

    dan Pengadilan Agama Situbondo.

    Bab VI : Penutup

    Pada bab ini sebagai Penutup tesis ini, akan dibahas tentang

    kesimpulan dan saran penulis berdasarkan penelitian yang telah

    dilakukan.

  • 16

    BAB II

    CERAI GUGAT DALAM PERSPEKTIF FIKIH

    DAN PERUNDANG-UNDANGAN

    A. Cerai Gugat (khulu’) dalam Perspektif Fikih

    1. Pengertian Cerai Gugat (Khulu’)

    Perceraian berdasarkan inisiatif istri dan dilakukan melalui proses

    peradilan dalam kitab-kitab fikih diistilahkan dengan khuluk (khulu‟).

    Khuluk disebut juga dengan istilah talak tebus, yaitu perceraian yang

    diusulkan oleh istri kepada suami, serta istri sanggup membayar ganti rugi

    atau tebusan kepada suami yang akan mengkhuluknya itu.

    Dalam hukum Islam seorang istri meskipun tidak memiliki hak

    talak untuk menceraikan suaminya, tetapi ia bisa menebus dirinya kepada

    suaminya dengan nilai tebusan yang disepakati sehingga suami bersedia

    mengucapkan thalak kepadanya yang dalam hal ini disebut dengan khuluk

    (khulu‟) (talak tebus).1

    Khuluk menurut bahasa berarti berpisahnya istri atas dasar harta

    yang diambil dari pakaian, karena wanita itu pakaian pria. Menurut ilmu

    fiqih khuluk adalah berpisahnya suami dengan istrinya dengan ganti yang

    diperolehnya.2

    Khuluk juga disebut fidya atau tebusan, karena istri meminta cerai

    kepada suaminya dengan membayar sejumlah tebusan istri kepada

    suaminya agar suami mau menceraikannya.3

    Secara etimologi kata khuluk khuluk diambil dari kata “Khala‟a”

    yang berarti (mencopot atau meninggalkan), maksudnya ialah suami

    menceraikan istri dengan suatu pembayaran yang dilakukan istri atas

    kehendak dan permintaan istri. Kata khuluk tersebut diistilahkan dengan

    1 Aris Bintania, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,

    2012), hal. 141. 2 Ibrahim Muhammad al-Jamal, Fiqhul Mar‟atil Muslimah, Penerjemah Zaid Husein al-

    Hamid, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), hal. 87. 3 Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, Alih Bahasa oleh Moh. Tholib, (Bandung: PT. A l-Ma‟arif,

    1994), hal. 61.

  • 17

    kata “khal‟a ats-Tsauba” yang berarti meninggalkan atau melepaskan

    pakaian dari badan (pakaian yang dipakai). Kata yang “dipakai” diartikan

    dengan “meninggalkan istri”, karena istri adalah pakaian dari suami dan

    suami adalah pakaian dari pada istri.4 Sebagaimana firman Allah SWT

    dalam QS. Al-Baqara (2): 187:

    Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur

    dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun

    adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak

    dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan

    memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah

    apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga

    terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian

    sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah

    kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam mesjid. Itulah

    larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah

    menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.5

    Sedangkan khuluk (khulu‟) menurut terminologi ilmu fiqih, khuluk

    (khulu‟) berarti menghilangkan atau membuka buhul akad nikah dengan

    kesediaan istri membayar „iwadh (ganti rugi) kepada pemilik akad nikah itu

    4 As-Sho‟ani, Subulus Salam, Penerjemah, Abu Bakar Muhammad, (Surabaya: Al- Ikhlas,

    1995), Jilid 3, hal. 598. Lihat juga, A. Rahman I. Doi, Penjelasan Lengkap Hukum- Hukum Allah

    (Syari‟ah), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 251, Bahwa: Secara etimologi kata

    Khulu‟ diambil dari kata “Khala‟a” yang berarti (mencopot atau menanggalkan), maksudnya ialah

    suami menceraikan istri dengan suatu pembayaran yang dilakukan istri atas kehendak dan

    permintaan istri. Kata khulu‟ tersebut dengan kata “khal‟a ats-Tsauba” yang berarti menanggalkan

    atau melepaskan pakaian dari badan (pakaian yang dipakai). Kata yang “dipakai” diartikan dengan

    “menanggalkan istri”, karena istri adalah pakaian dari suami dan suami adalah pakaian dari pada

    istri. 5Depertemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara

    Penerjemahan al-qur‟an), 1983, hal. 29.

  • 18

    (suami) dengan menggunakan perkataan (cerai gugat) atau khuluk.

    iwadhnya berupa pengembalian mahar oleh istri kepada suami atau

    sejumlah barang, uang atau sesuatu yang dipandang mempunyai suatu nilai

    yang kesemuanya itu telah disepakati oleh keduanya yaitu suami istri.6

    Definisi lain menyebutkan bahwa khuluk (khulu‟) adalah suatu

    perceraian dimana seorang istri membayar sejumlah uang sebagai

    penganti„iwadh (ganti rugi) kepada suaminya. Keuntungan khuluk ini tidak

    tergantung adanya ongkos atau biaya, dan ini masih tergantung kepada

    kesediaan suami apakah ia mau untuk menerima „iwadh atau tidak. Karena

    tanpa persetujuannya tidak akan terjadi khuluk.7

    Dalam Islam khuluk dapat dilakukan apabila ada sebab yang

    menghendakinya, seperti suami buruk akhlaknya atau suami mengganggu

    istri dan tidak menunaikan haknya atau istri takut jauh dari Allah SWT

    dalam bergaul dengan suami, jika tidak ada sebab yang mendorongnya,

    maka khuluk dilarang.8

    Dalam kedudukan suami sebagai pemimpin atau kepala rumah

    tangga ia tidak boleh berbuat semena-mena terhadap istrinya. Karena dalam

    pergaulan hidup berumah tangga, istri boleh menuntut pembatalan akad

    nikah dengan jalan khuluk, jika dia khawatir akan kekejamannya dan

    apabila suami tidak maumemberi nafkah atau tidak mampu memberi nafkah,

    sedangkan istri tidak rela, atau suami berbuat serong, pemabuk dan

    sebagainya.9 Firman Allah QS. An-Nisa‟ (4) 128:

    6 Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan

    Bintang,1974), Cet 3 hal. 181. 7 Daniel S Lev, Peradilan Agama Di Indonesia, (Jakarta: PT, Intermasa, 1986), hal. 210.

    8 Selamet Abidin dan Aminuddin, Fiqh Munakahat, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), hal.

    86. 9 Huzaemah T. yanggo, Hukum Keluarga dalam Islam, (Jakarta: Yamiba, 2013), hal. 33-

    34.

  • 19

    Artinya: “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak

    acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan

    perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi

    mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu

    bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz

    dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah maha mengetahui

    apa yang kamu kerjakan”.10

    Terdapat pula beberapa perbedaan tentang defenisi khuluk (khulu‟)

    yang di kemukakan oleh para ulama:

    a. Menurut pendapat mazhab Hanafi, khuluk (khulu‟) itu melepaskan

    ikatan perkawinan yang tergantung kepada permintaan istri dengan lafaz

    khuluk (khulu‟) atau yang semakna dengannya. “ akibat akad ini baru

    berlaku apabila mendapat persetujuan istri dan mengisyaratkan adanya

    ganti rugi bagi pihak suami”.

    b. Mazhab Syafi‟i khuluk (khulu‟) didefenisikan dengan perceraian antara

    suami istridengan ganti rugi, baik dengan lafaz thalak maupun dengan

    menggunakan lafaz khuluk (khulu‟).

    c. Mazhab Maliki khuluk (khulu‟) ialah mendefenisikan khuluk (khulu‟)

    dengan istilah “Thalak dengan ganti rugi”, baik datangnya dari istri

    maupun dari wali dan orang lain artinya aspek ganti rugi sangat

    menentukan akad ini disamping lafaz khuluk (khulu‟) itu sendiri

    menghendaki terjadinya perpisahan antara suami dan istri dengan

    adanya ganti rugi tersebut, menurut pendapat ini apabila yang digunakan

    adalah lafaz thalak, maka harus disebutkan ganti ruginya. Tetapi apabila

    yang digunakan lafadz khuluk (khulu‟)maka tidak perlu disebutkan ganti

    rugi, karena lafadz khuluk (khulu‟) sudah mengandung pengertian ganti

    rugi.

    10

    Depertemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, (Jakarta: Yayasan

    Penyelenggara Penerjemahan Al-Qur‟an. 1983), hal. 100.

  • 20

    d. Mazhab Hambali mendefenisikannya dengan “tindakan suami

    menceraikan istrinya dengan ganti rugi yang diambil dari istri atau orang

    lain dengan menggunakan lafas khusus.

    Dari defenisi yang dipaparkan diatas kiranya sudah sangat jelas,

    dengan demikian penulis dapat mengambil kesimpulan dari beberapa yang

    telah penulis sebutkan diatas bahwa, khuluk (khulu‟)merupakan perceraian

    yang dilakukan oleh suami terhadap istrinya atas dasar kehendak istri

    dengan catatan pihak istri sanggup membayar ganti rugi (iwadh) kepada

    pihak suami, yang dilakukan atas dasar adanya kesepakatan dan

    persetujuan antara kedua belah pihak dengan menggunakan perkataan

    talak (talaq) atau khuluk (khulu) dari suaminya”. Sedangkan iwadhnya

    adalah segala sesuatu yang mempunyai nilai yang dapat dijadikan sebagai

    uang.11

    2. Dasar Hukum Khuluk (Khulu’)

    Membina kelangsungan hidup berumah tangga, kehidupan suami

    istri akan berlangsung dengan baik, aman, dan damai dan diliputi oleh rasa

    saling cinta mencintai, kasih sayang, apabila masing-masing pihak

    menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka sebagai mana

    yang telah digariskan oleh agama. Dan apabila salah seorang dari suami

    atau istri atau kedua-duanyab tidak melaksanakan hak-hak dan kewajiban-

    kewajiban mereka, maka akan tampak akses-akses negatif yang akan

    menimbulkan kesalahfahaman, perselisihan, pertengkaran, dan kebencian

    yang berlarut-larut diantara mereka sehingga hal ini akan memicu

    terjadinya perceraian.

    Dalam hal pihak istri yang tidak melaksaanakan kewajiban-

    kewajibannya maka suami dengan hak yang dipunyainya dapat mentalak

    istrinya, apabila ia berpendapat bahwa ia tidak sanggup untuk

    melangsungkan dan melanjutkan perkawinan dengan istrinya itu.

    Kemudian sebaliknya apabila yang tidak sanggup itu adalah pihak istri,

    11 Wahbah az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu , ( Jakarta: Gema Insani, 2011), Jilid 9, hal

    418-419

  • 21

    maka untuk melepaskan diri dari tindakan-tindakan kekejaman suami yang

    tidak disenanginya dan sudah tidak dapat di tolelir lagi tindakan itu, istri

    diperbolehkan dan diperkenankan oleh agama untuk meminta khuluk dari

    suaminya, yaitu istri menyatakan kepada suami bahwa ia bersedia

    membayar sejumlah uang atau barang kepada suaminya („iwadh) asalkan

    suami berkehendak untuk mengabulkan perceraiannya.12

    Sebagaimana

    firman Allah SWT dalam Qs. Al-Baqarah (2): 229:

    Artinya: “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi

    dengan cara yang maruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak

    halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan

    kepada mereka, kecuali jika keduanya khawatir tidak dapat menjalankan

    hukum-hukum Allah, jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri)

    tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas

    keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus

    dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya.

    Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-

    orang yang zolim,”.13

    Dasar hukum yang menjadi landasan khuluk yang lain dan menjadi

    alasan ulama ialah sabda Rasulullah SAW:

    12

    Wahbah az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu , (Jakarta: Gema Insani, 2011), Jilid 9, hal

    418-419

    13

    Depertemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, (Jakarta: Yayasan

    Penyelenggara Penerjemahan al-qur‟an), 1983, hal. 55.

  • 22

    Artinya: “Dari Ibnu Abbas r.a. Sesungguhnya istri Tsabit bin Qais datang

    menghadap Nabi SAW, seraya berkata: Ya Rasulullah, Tsabit bin Qais itu

    tidak ada yang saya cela Akhlaknya dan Agamanya. Akan tetapi, saya

    tidak mau kufur (pertengkaran) didalam Islam. Lalu Rasulullah SAW

    bersabda: Apakah kamu mau mengembalikan kebunnya (yang dahulu

    diberikan sebagai mas kawin) ? dia menjawab: “Ya”, lalu Rasulullah

    SAW bersabda: terimalah kebun itu dan thalak istrimu satu kali. (HR. Al-

    Bukhari).15

    Berdasarkan dasar hukum tersebut di atas disunahkan seorang

    suami untuk mengabulkan permintaan istrinya. Tuntutan khuluk (khulu‟)

    tersebut diajukan istri karena ia merasa tidak akan terpenuhi dan tercapai

    kebahagaiaan dan kedamaian untuk menjalin hidup rumah tangganya

    seperti sediakala yang terjadi diantara mereka sebagaimana yang

    diungkapkan oleh istri Tsabit bin Qais dalam riwayat tersebut. Yakni saya

    tidak mencela Agama dan Akhlaknya, tetapi saya khawatir akan muncul

    suatu sikap yang tidak baik dari saya disebabkan karena pergaulannya

    yang kurang baik diantara mereka. Dan saya takut jika perkawinan ini

    tetap kami langsungkan membuat saya terjerumus dalam suatu perbuatan

    yang mengakibatkan saya menjadi kufur, serta melakukan sesuatu yang

    bertentangan dengan ajaran agama Islam seperti nusyus (pembangkangan

    terhadap suami), kebencian kepada suami dan lain sebagainya.16

    Pembayaran ganti rugi itu merupakan kesepakatan diantara suami

    istri. Istri boleh mengembalikan semua atau sebagian dari maskawin yang

    14

    Abdul Azim bin Badawi, al-wajiiz Fiqh sunnah walkitabil aziiz, 2009, hal. 383. 15

    Lihat, Terjemah Nailul Authar, Jili 5. Perkataan “Istri Tsabit bin Qais” itu, menurut

    riwayat ibnu Abbas dan Rubayyi, namanya Jamilah dan Menurut Riwayat Abuz Zubair namanya

    Zainab. Tetapi riwayat pertamalah yang lebih sah;

    adapun menurut riwayat ibnu Abbas, bahwa ia adalah anak perempuan Salul, sedang

    menurut riwayat Bukhari ia anak perempuan ada yang mengatakan bahwa dia itu saudara

    perempuan Abdullah sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ibnul Atsir dan juga diikuti oleh

    Imam Nawawi dan keduanya menegaskan, bahwa orang yang mengatakan dia itu anak perempuan

    Abdullah adalah hanya persangkaan saja. Dan perkataan “terima kebun itu” Ibnu Hajar berkata

    didalam Fat-Hul Bari: perintah itu bersifat anjuran dan ishlah bukan perinta wajib. Dan hadist ini

    menunjukan, bahwa sesungguhnya suami boleh mengambil „Iwadh dari istri apabilah istri tidak

    menyukai kelangsungan hidup rumah tangganya dengan dia, hal. 2350-2351. 16

    As-Sho‟ani, Subulus Salam, penerjemah, Abu Bakar Muhammad, (Surabaya: Al-Ikhlas,

    1995), hal 601.

  • 23

    telah diterima, tetapi tidak lebih dari maskawin itu. Seandainya kelebihan

    itu telah dibayar atau dia mungkin membuat kesepakatan lain yang

    menguntungkan pihak suami, seperti merawat anak mereka selam

    menyusui dua tahun, atau memelihara anak selama masa yang ditentukan,

    maka ia merupakan tanggungannya sendiri setelah anak itu diberhentikan

    menyusunya.17

    3. Rukun Khuluk (Khulu’)

    Di dalam khuluk itu terdapat beberapa unsur yang merupakan

    rukun yang menjadi karakteristik dari khuluk itu dan didalam setiap rukun

    terdapat beberapa syarat yang hampir keseluruhannya menjadi

    pembicaraan dikalangan ulama.18

    a. Suami

    Suami yang menceraikan istrinya dalam bentuk khuluk

    sebagaimana yang berlaku dalam thalak adalah seorang yang

    ucapannya telah dapat diperhitungkan secara syara‟ yaitu aqil baligh

    dan bertindak atas kehendaknya sendiri dan dengan kesengajaan.19

    Syarat-syarat dari suami yang sah khuluk-nya menurut seluruh

    mazhab, kecuali Hanbali sepakat bahwa baligh dan berakal merupakan

    syarat dan wajib dipenuhi oleh laki-laki yang melakukan khulu‟.

    Mazhab Hanbali menyatakan bahwa khuluk itu sah apabila dilakukan

    oleh orang yang mumayyiz (telah mengerti sekalipun belum baligh).

    b. Istri

    Khuluk baru sah apabilayang diceraikan itu dalam status istri

    bukan calon istri atau bekas istri yang telah dicerai ba‟in atau istri yang

    telah di thalak raj‟i yang sudah masa iddahnya.Jumhur ulama sepakat

    bahwa wanita yang dapat menguasai dirinya atau cakap maka boleh

    17

    Abdurrahman Al-Jaziri, Kitabul Fiqhu „Ala al-Mazahibu al-Arba‟ah, (Mesir: al-

    Maktabah at-Tijariyatul Qubra), hal 253. 18

    Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fiqih Munakahat dan

    Undang-undang Perkawinan, (Jakarta: Pustaka Grafika, 2006), hal. 234. 19

    Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006),

    hlm. 235.

  • 24

    melakukan khuluk (khulu‟) bagi wanita yang bodoh (safihah) walinya

    yang akan mengadakan khulu‟nya. Sedangkan seorang hamba tidak

    boleh mengadakan khuluk (khulu‟) untuk dirinya kecuali dengan izin

    tuannya.20

    c. Sighat atau Pernyataan Khuluk (Khulu‟)

    Pernyataan khuluk sama dengan pernyataan akad nikah, yaitu

    terjadi dari ijab dan kabul. Pernyataan boleh berbentuk ucapan, tulisan

    dan isyarat. Jika ada persetujuan antara yang menebus dengan pihak

    suami yang ditebus thalaknya. Sighat atau kata-kata khulu‟. Lafaz

    khuluk itu terbagi dua yaitu sharih dan kinayah. Kuluk yang sharih itu

    sendiri terdapat tiga lafaz yaitu:

    1) Aku mengkhuluk mu (thalak‟tuki)

    2) Tebusan (mufadah)

    3) Memutuskan Pernikahan (fasakhtu nikahati), karena itulah yang

    menjadi hakikat dari khuluk itusendiri.21

    Selain itu didalam pendapat yang lebih shahih disebutkan bahwa

    jika kata-kata khulu‟ dan mufadah (tebusan) itu dikaitkan dengan harta,

    maka kedua kata-kata itu termasuk lafaz thalak yang shahih.Khuluk

    (khulu‟) juga dapat dilakukan dengan mneggunakan lafaz kiasan

    (kinayah) misalnya “Saya lepas dan menjauhlah engkau dari

    sisiku”.Jika tidak dikaitkan kepada harta maka katakata itu adalah

    kinayah bagi thalak, sebagaimana dalam kitab al-Raudhah.22

    Hanafi mengatakan khuluk (khulu‟) boleh dilakukan dengan

    menggunakan redaksi jual beli, misalnya suami mengatakan kepada

    istrinya, “saya beli itu” atau suami mengatakan kepada istrinya, belilah

    20

    Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Terj. M. A. Abdurrahman dan A. Haris Abdullah,

    (Semarang: as-Syifa, 1990), hal. 55-56. 21

    Hasan Ayyub, Fiqih Keluarga, Penerjemah M.Abdul Ghoffar, Judul asli “Fiqih al-

    Ushrah al Muslimah”, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2003), hal. 319. 22

    Ahmad Fuad Said, Perceraian Menurut Hukum Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Usna, 1994),

    hal. 105.

  • 25

    thalak (untukmu) dengan harga sekian, “lalu si istri mengatakan

    “baik”, saya terima tawaranmu.23

    d. Tebusan (Iwadh)

    Uang tebusan atau iwadh adalah bagian yang urgen dan inti dari

    khuluk (khulu‟), karena tanpa adanya iwadh maka khuluk tidak akan

    terjadi. Sehingga mayoritas ulama menempatkan iwadh tersebut rukun

    yang tidak boleh ditinggalkan.24

    Khuluk tidak sah apabila tebusannya

    berupa benda seperti khamar, babi, bangkai dan darah karena benda-

    benda tersebut tidak mempunyai nilai menurut pandangan syari‟at

    Islam.25

    Yang boleh dijadikan adalah benda yang tidak najis zatnya,

    manfaat, halal, bernilai atau jasa yang dibenarkan oleg agama. Tebusan

    (iwadh) merupakan bagian yang urgen dan inti dari khuluk, karena

    tanpa adanya ganti rugi (iwadh) maka khuluk tidak akan terjadi.

    4. Syarat-Syarat Khuluk (Khulu’)

    Untuk menenpuh suatu upaya hukum, subjek hukum dalam hal ini

    istri, harus benar-benar mengerti dan menguasai tentang materi hukum

    yang diperkarakan.Sebelum menempuh upaya hukum, maka istri harus

    mengetahui syarat-syarat khuluk (khulu‟) tersebut.Disamping istri,

    suamipun harus mengetahuinya sehingga dapat menempuh upaya hukum

    khulu‟ tersebut.

    Adapun syarat-syarat khuluk (khulu‟) adalah sebagai berikut:

    a. Kerelaan dan persetujuan

    Para fuqaha‟ telah sepakat, bahwa khuluk (khulu‟) dapat

    dilakukan berdasarkan kerelaan dan persetujuan dari suami istri asal

    kerelaan dan persetujuan itu tidak berakibat kerugian dipihak yang lain

    (istri).Apabila suami tidak mengabulkan permintaan khuluk (khulu‟)

    23

    Muhammad Jawal Muqhniyah, Fiqh Lima Mazhab (Ja‟fari, Maliki, Hanafi, Syafi‟I,

    Hambali), terjemahan. Masykur AB dkk, cet-1, (Jakarta: Lentera, 2002), hlm. 463. 24

    Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fiqih Munakahat dan

    Undang Undang Perkawinan, (Jakarta: Pustaka Grafika, 2006), hal. 235. 25

    Abdurrahman al-Jaziri, Kitabul Fiqhu „Ala al-Mazahibu al-Arba‟ah, (Mesir: al-Maktabah

    at-Tijariyatul Qubra, tt), hal. 406.

  • 26

    istrinya, sedang pihak istri tetap merasa dirugikan haknya sebagai

    seorang istri, maka dapat mengajukan gugatan untuk meminta cerai

    kepada pengadilan.Hakim hendaknya memberikan keputusan

    perceraian antara suami istri itu, apabila ada alat-alat bukti, alasan-

    alasan yang dapat dijadikan dasar gugatan oleh pihak istri.26

    b. Istri yang dapat di khuluk (khulu‟)

    Fuqaha sepakat bahwa istri yang dikhuluk (khulu‟) ialah istri

    yang mukallaf dan telah terikat dengan akad nikah yang sah dengan

    suaminya.Adapun istri yang cakap boleh mengadakan khulukuntuk

    dirinya, sedangkan bagi hamba perempuan tidak boleh mengadakan

    khuluk untuk dirinya kecuali dengan minta izin kepada

    tuannya.Disepakati pula istri yang safihah (bodoh) adalah bersama

    walinya, yakni bagi fuqaha‟ yang menetapkan adanya pengampunan

    atasnya.27

    c. Uang Tebusan (Iwadh)

    Uang tebusan atau (iwadh) adalah bagian yang urgen dan inti

    dari khuluk (khulu‟), karena tanpa adanya iwadh maka khuluk (khulu‟)

    tidak akan terjadi, sehingga mayoritas ulama menempatkan iwadh

    tersebut sebagai rukun yang tak boleh ketinggalan.28

    Tebusan (Iwadh)

    merupakan ciri khas dari perbuatan hukum khuluk (khulu‟). Selama

    iwadh belum diberikan oleh pihak istri kepada suami, maka selama itu

    pula perceraiannya belum terjadi.Setelah iwadh diserahkan oleh pihak

    istri kepada suami barulah terjadi perceraian. Mengenai hal ini Imam

    Malik, Syafi‟i dan golongan fuqaha‟ berpendapat bahwa seorang istri

    boleh melakukan khuluk (khulu‟)dengan memberikan hartanya yang

    lebih dari mahar yang pernah diterimanya saat pelaksanaan akad nikah

    26

    Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum Islam tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang,

    1974, hlm. 185. 27

    Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Terj. M.A. Abdurrahman dan A.Haris Abdullah,

    (Semarang: as-Syifa, 1990), hlm. 489. 28

    Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Terj. M.A. Abdurrahman dan A.Haris Abdullah,

    (Semarang: as-Syifa, 1990), hlm. 489.

  • 27

    dari suaminya, jika kedurhakaan (nusyuz) datang dari pihaknya, atau

    memberikan yang sebanding dengan mahar atau lebih sedikit.29

    d. Waktu menjatuhkan khuluk (khulu‟)

    Fuqaha‟ telah sepakat bahwa khuluk (khulu‟) boleh dijatuhkan

    pada masa haid, nifas dan pada masa suci yang belum dicampuri atau

    yang telah dicampur.30

    Dengan demikian khuluk dapat dijatuhkan

    kapan saja dan dimana saja. Rasulullah tidak menetapkan waktu

    khusus sehubungan dengan khuluk istri Tsabit bin Qais. Rasulullah

    juga tidak bertanya dan membicarakan keadaan istrinya, maka dari itu

    khuluk pada waktu suci dan haid diperbolehkan.

    e. Syarat bagi wanita yang menjatuhkan khuluk (khulu‟)

    Para ulama mazhab sepakat istri yang mengajukan khuluk

    (khulu‟) kepada suaminya itu wajib sudah baliq dan berakal sehat.

    Mereka juga sepakat bahwa, bahwa istri yang safih (idiot) tidak boleh

    mengajukan khuluk tampa izin walinya, dan mereka berbeda pendapat

    tentang keabsahan khulu‟-nya manakala di izinkan oleh walinya.31

    f. Syarat-syarat bagi suami yang melakukan khuluk (khulu‟)

    Seluruh Mazhab, kecuali Imam Hambali, sepakat bahwa baliq

    dan berakal merupakan syarat yang wajib dipenuhi oleh laki-laki atau

    suami yang melakukan khuluk. Sedangkan Hambali mengatakan:

    29

    Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fiqih Munakahat dan

    Undang Undang Perkawinan, (Jakarta: Pustaka Grafika, 2006), hal. 235. 30

    Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan

    Bintang,1974), cet 3, hal. 172. 31

    Iabid, Muhammad Jawal Muqhniyah, Fiqih Limah Mazhab. Hanafi mengatakan: apabilah

    walinya itu melaksanakan pembayaran tebusan tersebut dengan harta miliknya, salahlah khulu‟

    tesebut, tapi bila tidak, maka menurut salah satu dari dua riwayat yang lebih kuat, penebusan itu

    batal dan talak jatuh atas istrinya. Imamiyah dan Maliki mengatakan: berdasarkan izin dari wali

    untuk membayar tebusan khulu‟, maka salahlah khulu‟ tersebut, sepanjang tebusan itu diambilkan

    dari hartanya sendiri dan bukan harta walinya. Syafi‟i dan Hambali mengatakan: khulu‟ yang

    diajukan oleh wanita safih sama sekali tidak sah baik dengan atau tampa izin walinya, dan Syafi‟i

    hanya memberikan satu pengecualian, yaitu manakala walinya khawatir bahwa suaminya akan

    menguasai harta istrinya yang safih itu. Sebentara itu Syai‟i mengatakan: Tidak terjadi khulu‟ dan

    tidak pula jatuh thalak kecuali suami berniat untuk menjatuhkan thalak ketika ia melakukan

    khulu‟, atau khulu‟-nya diucapkan dengan redaksi talak. Hal. 460-461.

  • 28

    Khuluk (khulu‟) sebagaimana halnya dengan thalak, dianggap sah bila

    dilakukan oleh orang yang mumayyizz (telah mengerti sekalipun

    belum baliq). Seterusnya khuluk juga dinyatakan sah bilah dilakukan

    dalam keadaan marah sepanjang kemarahan tersebut tidak sampai

    menghilangkan maksud Khuluk tersebut. Mereka juga sepakat tentang

    keabsahan khulukyang dilakukan oleh orang idiot (safih), tetapi uang

    (harta) tebusan harus diserahkan kepada walinya, dan tidak boleh

    diserhkan kepadanya.32

    5. Alasan dan Penyebab Terjadinya Khuluk (Khulu’)

    Allah SWT telah menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan

    perempuan yang banyak, masing-masing mempunyai persamaan dan

    perbedaan, maka perpaduan antara kedua jenis ini akan merupakan suatu

    kesatuan yang harmonis dan ideal dalam melanjutkan keturunan dan

    membentuk keluarga yangsakinah mawaddah dan warahmah.

    Akan tetapi didalam menjalankan dan melaksanan roda kehidupan

    berumah tangga antara suami dan istri ada kemungkinan terjadi kesalah

    fahaman antara mereka berdua yang menyebabkan hubungan mereka

    tanpak retak dan kurang harmonis. Ini disebakan salah seorang atau

    keduanya tidak melaksanakan hak-hak dan kewajibannya, tidak saling

    percaya mempercayai dan lain sebagainya. Seringkali terjadi kasus-kasus

    penyiksaan dan perlakuan semenamena terhadap istri dikalangan kita

    dimana perceraian tidak diperkenankan. Padahal betapa hati-hatinya

    hukum Islam mengatur soal perceraian, kiranya tidak akan salah jika harus

    mengatakan, bahwa tiada suatu agama atau peraturan manusia manapun

    yang dapat menyamainya.

    Walaupun demikian kenyataannya pahit menunjukkan, bahwa

    hubunga suami istri tidak selamanya dapat dipelihara secara harmonis.

    Cemburu yang berlebih-lebihan tidak jarang menjadi sumber melapetaka

    dari timbulnya macam-macam salah faham dan menyebabkan keluarnya

    32 Muhammad Jawal Muqhniyah, Fiqh Lima Mazhab (Ja‟fari, Maliki, Hanafi, Syafi‟I,

    Hambali), terjemahan. Masykur AB dkk, cet-1, (Jakarta: Lentera, 2002), hlm. 462.

  • 29

    sifat-sifat kebengisan yang terpendam dalam hati setiap manusia dalam

    berbagai bentuknya. Dengan demikian perceraian itu dianggap sebagai

    suatu bencana.33

    Al-qur‟an lebih jauh telah menjelaskan bahwa seorang

    istri berhak menuntut khuluk (Khulu‟), seandainya merasa khawatir atas

    kekejaman suaminya ini berdasarkan firman Allah QS. An-Nisa‟ (4):128:

    Artinya: “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak

    acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan

    perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi

    mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu

    bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz

    dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah maha mengetahui

    apa yang kamu kerjakan”.

    Dengan demikian bila istri merasa khawatir terhadap sikap

    suaminya yang tidak menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap istrinya.

    Maka hendaknya istri dapat mengambil sikap dari sikap nusyus perbuatan

    suaminya itu seperti halnya tidak melaksanakan kewajiban-kewajinannya

    terhadap istrinya sebagaimana mestinya, tidak memberi nafkah, tidak

    menggauli istri dengan semestinya, berkurang rasa cinta dan kasih

    sayangnya dan bersikap kasar terhadap dirinya. Maka istri dapat

    melepaskan diri dari ikatan perkawinan itu dengan menyerahkan kembali

    seluruh atau sebagain dari harta kekayaan yang dulu ia diterima dari

    suaminya yang harus dibayar oleh istri sebagai „Iwadh (ganti rugi) kepada

    suaminya.34

    Kemudian suami harus memberinya Khuluk kepada

    istrinya,bila mereka telah melakukan hal ini, maka terjadilah perceraian

    yang tidak dapat diubah lagi.

    33

    Bencana yang dimaksud disini adalah bencana yang dapat dibayangkan dari suatu

    perceraian yang menyangkut kehidupan kedua belah pihak dan terutama yang menyangkut

    kehidupan anak-anak mereka, maka dapat pula dibayangkan betapa rasa tersiksanya perasaan

    seoarng istri yang kedamaian kehidupan rumah tangganya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. 34

    A. Rahman I. Doi, Penjelasan Lengkap Hukum-Hukum Allah (Syari‟ah), (Jakarta: PT.

    Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 296.

  • 30

    Perlu dicatat bahwa khuluk hanya dapat diminta dalam keadaan

    yang sangat luar biasa. Ia tidak dapat diperkenankan dengan alasan-alasan

    yang lemah, oleh sebab itu khuluk hanya dapat diperkenankan dan

    diperbolehkan jika ada alasan alasan yang kuat dan benar.35

    Ada beberapa

    alasan dimana istri dapat menuntut cerai melalui otoritas (wewenang)

    hakim. Alasan-alasan perceraian mungkin akan diberikan oleh hakim

    karena beberapa hal:

    a. Perlakuan yang menyakitkan yang terjadi secara terus menerus

    terhadap istri.

    b. Kewajiban-kewajiban dalam ikatannya dengan hubungan perkawinan

    tidak terpenuhi.

    c. Sakit ingatan (kejiwaan).

    d. Pindah tempat tinggal tanpa sepengetahuan (provinsi) istri

    e. Dan sebab-sebab lain yang menuntut pendapat hakim dapat dibenarkan

    untuk bercerai.36

    Ada juga alasan di Perbolehkan dan yang dilarang melakukan

    khuluk (khulu‟) antara antara lain:

    a. Alasan diperbolehkan khuluk (khulu‟)

    1) Suami Murtad

    2) Suami berbuat kekufuran atau kemusyrikan kepada Allah dengan

    berbagai macam dan bentuknya dan telah disampaikan nasehat

    kepadanya agar bertaubat darinya tapi tidak mendengar dan

    menerima.

    3) Suami melarang dan menghalangi istri untuk melaksanakan

    kewajibankewajiban agama, seperti kewajiban shalat lima waktu,

    kewajiban zakat, memakai hijab syar‟i, menuntut ilmu syar‟i yang

    hukumnya fardhu „ain.

    35

    Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Alih Bahasa oleh Moh. Tholib, (Bandung: PT. A l-Ma‟arif.

    1994), jilid VIII, hlm. 101. 36

    A. Rahman I. Doi, Penjelasan Lengkap Hukum-Hukum Allah (Syari‟ah), (Jakarta: PT.

    Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 255.

  • 31

    4) Suami berakidah dan bermanhaj sesat dan menyesatkan dari agama

    Allah yang lurus dan haq.

    5) Suami bersikap kasar, keras dan berakhlak buruk.

    6) Suami tidak mampu memberi nafkah wajib bagi istri.

    7) Istri merasa benci dan sudah tidak nyaman hidup bersama

    suaminya, bukan karena agama dan akhlaknya, tapi karena

    khawatir tidak bisa memenuhi haknya.

    b. Alasan khuluk (khulu‟) dilarang

    1) Dari sisi suami. Apabila suami menyusahkan istri dan memutus

    hubungan komunikasi dengannya atau dengan sengaja tidak

    memberikanhak-haknya dan sejenisnya agar sang istri membayar

    tebusan kepadanyadengan jalan gugatan cerai.

    2) Dari sisi istri. Apabila seorang istri meminta cerai padahal

    hubungan rumah tangganya baik dan tidak terjadi perselisihan

    maupun pertengkaran serta tidak ada alasan lain yang syar‟i.37

    Dalam masalah ini ulama fiqh, juga ikut mengomentari bahwa

    penyebab terjadinya khuluk (khulu‟) antara lain adalah munculnya

    sikap suami yang meremehkan istri dengan enggan melayani istri

    hingga senantiasa membawa pertengkaran. Serta adanya rasa ketidak

    senangan istri terhadap suami juga merupakan alasan yang cukup

    untuk meminta khuluk (khulu‟), karena jika ketidak senangan itu

    semakin berlarut-larut maka akan menambah masalah yang semakin

    banyak dala kehidupan rumah tangganya. Dalam keadaan seperti inilah

    Islam memberikan solusi atau jalan keluar bagi rumah tangga tersebut

    dengan menempuh jalan khuluk.

    6. Akibat Khuluk (khulu’)

    Dalam hal akibat khuluk (khulu‟) terdapat persoalan apakah

    perempuan yang menerima khuluk dapat diikuti dengan thalak atau tidak.

    Imam Malik berpendapat bahwa khuluk itu tidak dapat diikuti dengan

    37

    Slamet Abidin, Fiqih Munakahat, Cet.ke-2, (Bandung: CV.Pustaka Setia, 1999).

  • 32

    talak, kecuali jika pembicaraannya bersambung. Sedangkan imam Hanafi

    mengatakan bahwa khuluk dapat diikuti dengan talak tampa memisahkan

    antara penentuan waktunya, yaitu dilakukan dengan segera atau tidak.38

    Perbedaan pendapat ini terjadi karena golongan pertama

    berpendapat bahwa ia termasuk hukum talak, sedangkan Imam Abu

    Hanifa berpendapat ia termasuk hukum nikah. Oleh karena itu, ia tidak

    membolehkan seorang menikahi perempuan yang saudara perempuannya

    masih dalam iddah dari talak ba‟in.

    Fuqaha yang mengatakan bahwa ia termasuk hukum dalam

    pernikahan, mereka berpendapat bahwa khuluk tersebut dapat diikuti

    dengan talak. Sedangkan fuqaha yang tidak berpendapat demikian,

    mengatakan bahwa khuluk tersebut tidak dapat diikuti dengan talak.39

    Persoalan lain adalah, jumhur fuqaha telah sepakat bahwa suami yang

    menjatuhkan khuluk tidak dapat merujuk mantan istrinya pada masa idah,

    kecuali pendapat yang diriwayatkan dari sa‟id bin al-Musayyab dan Ibnu

    Syihab, keduanya mengatakan bahwa apabilah suami mengenbalikan

    tebusan yang diambil dari istrinya, maka ia dapat mempersaksikan

    rujukannya itu.40

    Para fuqaha perselisi pendapat tentang idah wanita yang di

    khulukapabilah terjadi persengketaan antara suami dengan istri berkenaan

    dengan kadar bilangan harta yang dipakai untuk terjadinya khuluk

    (khulu‟). Imam Malik berpendapat bahwa yang dijadikan pegangan adalah

    kata-kata suami jika tidak ada saksi. Sedangkan Imam Syafi‟i berpendapat

    bahwa kedua suami istri saling bersumpah, dan atas istri dikenakan sebesar

    mahat mitsil. Beliau mempersamakan antara dua orang yang jual beli.

    38

    Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat (Kajian Fiqih Nikah Lengkap), (Jakarta: Pt

    Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 315. 39

    Ibid, 2008, hal. 316. 40

    Lihat, Ibnu Rusyd, Al-Faqih Abul Wahid Muhammad bin Ahcmad bin Muhammad ibnu

    Rusyd, Bidayatul Nujtahid Wanihayatul Muqtasid (Analisis Fiqih Para Mujtahid), Jilid 2,

    (Jakarta: Pustaka Amani, 2007), hal. 560.

  • 33

    Adapun Imam Malik memandang istri sebagai pihak tergugat dan suami

    sebagai pihak penggugat.41

    7. Hikmah Khuluk (Khulu’)

    Hikmah yang terkandung didalamnya sebagaimana yang telah

    disebutkan adalah untuk menolak bahaya, yaitu apabilah perpecahan suami

    istri telah memuncak dan dihawatirkan keduanya tidak dapat keduanya

    menjaga sayarat-syarat dalam kehidupan sebagai suami istri, maka khuluk

    dengan cara-cara yang ditetapkan oleh Allah SWT, merupakan penolakan

    terjadinya permusuhan dan untuk menegakan hukum-hukum Allah.42

    Oleh

    karena itu, Allah SWT, berfirman QS. Al-Baqarah (2): 229:

    Artinya: “...jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat

    menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya

    tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah

    hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa

    yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang

    zolim,”.43

    Adapun beberapa hikmah yang dapat kita petik adalah:

    a. Menyelesaikan istri dari belenggu suami yang tidak baik khuluk

    (khulu‟) terjadi karena istri membenci suaminya yang memiliki akhlak

    tidak baik. Apabila rumah tangga mereka dilanjutkan maka istriakan

    menderita. Maka untuk lepas dari suami, Allah memberi jalan

    keluaryaitu dengan khuluk (khulu‟).

    b. Menghindari dari bahaya(mudharat) atau ancaman rumah tangga yang

    tidak baik.Pada masa jahiliyah, wanita tidak mempunyai hak sama

    41

    Ibid, 2008, hal. 317. 42

    Abdul Rahman Ghazali, Fiqh Munakahat, (t.t: Kencana Prenada Media Group, 2003),

    hal. 227. 43

    Al-Qur‟an, Al-Baqara Juz dua (2), ayat 229. Departemen Agama Republik Indonesia,

    hal. 229.

  • 34

    sekali bahkanbayi perempuan yang lahir dikubur hidup-hidup

    disebabkan merekamenganggap itu sebagai aib. Dengan datangnya

    Islam, semua hal itudirubah wanita mempunyai kedudukan yang

    terhormat memberikanperlindungan yang besar pada wanita. Apalagi

    bila suami berlaku aniayaterhadap istri maka hal itu mengakibatkan

    istri boleh mengajukan khuluk (khulu‟).

    c. Penyelesaian yang baik dengan mengembalikan lagi harta suami

    yangpernah diberikan pada istri.44

    Selain dua hikmah diatas yang

    terpenting dari khuluk (khulu‟) adalah ia merupakan solusi terbaik

    terhadap perselisihan yang terjadi didalam rumah tangga yaitu dengan

    mengembalikan lagi harta suami yang pernah diberikan pada istri.

    B. Cerai Gugat Dalam Perspektif PerUndang-undangan

    1. Pengertian Cerai Gugat

    Untuk memperoleh gambaran tentang cerai gugat, maka perlu

    dijelaskan terlebih dahulu mengenai perceraian. Perceraian adalah

    berakhirnya hubungan perkawinan antara seorang laki-laki dengan seorang

    perempuan yang selama ini hidup sebagai suami istri. Perceraian dibagi

    menjadi dua macam yaitu cerai talak dan cerai gugat. Dalam penulisan

    tesis ini penulis hanya membatasi pada masalah cerai gugat. Cerai gugat

    berarti, putus hubungan sebagai istri.45

    Sedangkan gugat (gugatan) berarti

    suatu cara untuk menuntut hak melalui putusan Pengadilan.46

    Menu