wew i.docx

download wew i.docx

of 27

  • date post

    25-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    128
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of wew i.docx

UNIVERSITAS MULAWARMANFAKULTAS TEKNIKPS S1 TEKNIK PERTAMBANGANPROPOSALSKRIPSINama: Rendi SatriaNIM: 0909055025Peminatan: Penirisan Judul Skripsi: Studi Sistem Penirisan Tambang Batubara Pada Pit X Pembimbing 1: Dr. Ir. Harjuni Hasan, M.Si.Pembimbing 2: Agus Winarno, ST.MTDilaksanakan: Semester Ganjil 2013/2014

1. Judul Skripsi

Studi Sistem Penirisan Tambang Batubara Pada Pit X

2. Latar Belakang Masalah

Penirisan merupakan salah satu masalah vital dalam kegiatan penambangan. Penirisan tambang adalah upaya melakukan pengeringan permukaan kerja tambang, sehingga kegiatan operasi penambangan ataupun peralatan tambang tidak terganggu yang efektif dan efisien. Dengan demikian aliran air yang masuk ke dalam suatu bukaan oleh air. Proses ini secara umum bertujuan untuk mengatur aliran air yang berpengaruh terhadap kegiatan penambangan. Untuk mencapai hasil yang optimal dalam kegiatan penambangan maka diperlukan suatu sistem penirisan tambang (pit) tidak akan mengganggu proses penambangan yang sedang dilakukan.

Air yang masuk ke dalam pit umumnya berasal dari air tanah (ground water) dan limpasan air hujan, untuk itu cara penanganan yang biasa dilakukan adalah : menghambat masuknya air dari luar pit dengan cara membuat saluran air dipermukaan dan membuat sumuran di dalam pit untuk mengatasi air yang berasal dari pit itu sendiri kemudian memompanya ke permukaan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji atau mengevaluasi sistem penirisan tambang agar berfungsi secara efektif dan efisien, sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.

3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:1. Mengetahui luas daerah tangkapan air hujan (catchment area) yang direncanakan2. Mengetahui debit limpasan permukaan.3. Mengevaluasi dimensi sumuran (sump), saluran air, dan kolam pengendapan (settling pond) yang digunakan.

4. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang akan di bahas yaitu mengkaji atau mengevaluasi sistem penirisan tambang yang ada agar dapat berfungsi secara efektif dan efisien, sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.

5. Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dari penelitian ini adalah:1. Mengetahui luas catchment area yang digunakan pada pit (bukaan) 2. Konsentrasi perhitungan debit hanya pada aliran air permukaan.3. Penelitian ini akan mengevaluasi dimensi sumuran (sump), saluran air, dan kolam pengendapan (settling pond).4. Penelitian tidak mengkaji masalah ekonomi, akan tetapi lebih bersifat teknis.

6. Landasan Teori

6.1 Curah Hujan

Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh pada satu luas, dinyatakan dalam millimeter (mm). Jadi 1 mm berarti pada luas 1 m2 jumlah air hujan yang jatuh sebanyak 1 liter. Berdasarkan pergerakan udara lembab penyebab hujan, maka hujan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1) Hujan Konvektif. Hujan jenis ini diakibatkan oleh naiknya udara panas ke daerah udara dingin. Udara panas tersebut mengalami pendinginan, terjadi kondensasi. Hujan tipe ini umumnya berjangka waktu pendek, daerah hujannya terbatas, dan intensitas hujannya bervariasi dari hujan sangat ringan sampai hujan sangat deras. Tipe hujan semacam ini sering dijumpai di daerah khatulistiwa.

2) Hujan Orografis. Hujan jenis ini terjadi di daerah pegunungan dan disebabkan oleh naiknya massa udara lembab karena punggung pegunungan. Ciri-ciri hujan ini adalah curah hujan yang relatif kecil tetapi dalam waktu yang lama. Hujan ini nyaris terjadi sepanjang hari. Tipe hujan ini dapat ditemui di daerah Bogor dan wilayah kerja PT Freeport Indonesia di daerah Grasberg.

3) Hujan Siklon. Tipe hujan ini berkaitan dengan front udara. Terjadi karena pertemuan front udara panas dan front udara dingin. Ciri-ciri hujan jenis ini adalah : curah hujannya tinggi, terjadi dalam waktu yang relatif singkat, biasanya disertai dengan badai atau angin siklon.

Air yang jatuh pada daerah penambangan merupakan air yang berasal dari hujan, sehingga besar kecilnya curah hujan yang terjadi didaerah penambangan tersebut akan mempengaruhi banyak sedikitnya air tambang yang harus diatasi dan dikendalikan. Karena curah hujan mempunyai pengaruh yang besar terhadap sistem penyaliran daerah penambangan, maka diperlukan data dan curah hujan yang dapat mewakili untuk menganalisa perilaku curah hujan yang terjadi. Hujan juga dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat dan intensitasnya.

Tabel 6.1 Derajat dan Intensitas hujanDerajat HujanIntensitas Curah HujanKondisi

Hujan Sangat Lemah0,02Tanah agak basah atau dibasahi sedikit

Hujan Lemah0,02-0,05Tanah menjadi basah semuanya

Hujan Normal0,05-0,25Bunyi curah hujan terdengar

Hujan Deras0,25-1,00Air tergenang di seluruh permukaan tanah dan terdengar bunyi dari genangan

Hujan Sangat Deras1,00Hujan seperti ditumpahkan, seluruh drainase meluap

Sumber : Rudi Sayoga, 1999

Tabel 6.2 Keadaan dan Intensitas curah hujan Keadaan Curah HujanCurah Hujan (mm)

1 jam24 jam

Hujan Sangat Ringan100

Sumber : Diklat Perencanaan Tambang, 2001Pengukuran curah hujan di daerah penambangan dilakukan dengan menggunakan alat penakar hujan biasa dan alat penakar hujan otomatis. Alat penakar hujan biasa, pengukuran umumnya dilakukan sekali dalam sehari dan biasanya dilakukan pada pagi hari dengan demikian akan dihasilkan curah hujan harian, sedangkan alat penakar hujan otomatis dimana pencatatan dilakukan secara berkesinambungan sehingga di hasilkan data intensitas huajn yang akurat. Dalam pengukuran alat harus diletakkan di tempat yang terbuka yang bebas dari pengaruh pohon-pohon dan gedung serta sedapat mungkin dihindari tempat dengan angin yang kencang.

Data curah hujan umumnya disajikan dalam data curah hujan harian, bulanan dan tahunan. Analisis data curah hujan sangat bergantung kegunaan hasil analisis, pada umumnya diperlukan data pengukuran jangka panjang karena komponen cuaca dan hidrologi mempunyai sifat periodik :

6.1.1 Periode Ulang Hujan

Curah hujan akan menunjukkan suatu kecenderungan pengulangan. Hal ini terlihat data yang dianalisis mencakup suatu jangka waktu yang panjang (misal 30 tahun). Sehubung dengan hal tersebut dalam analisis curah hujan dikenal istilah periode kemungkinan ulang (return period), yang berarti kemungkinan/probabilitas periode terulangnya suatu tingkat curah hujan tertentu, satuan periode ualng adalah tahun.

Dalam perancangan suatu sistem penyaliran tambang, salah satu kriteria perancangan adalah hujan rencana, yaitu curah hujan dengan periode ulang tertentu atau curah hujan yang memiliki kemungkinan akan terjadi sekali dalam jangka waktu tertentu. Curah hujan rencana merupakan curah hujan jangka pendek yang menunjukkan tingkat derasnya hujan.

Tabel 6.3 Periode ulang hujan rencana LokasiPeriode Ulang Hujan (tahun)

Daerah Terbuka0,5

Sarana Tambang2-5

Lereng Tambang dan Penimbunan5-10

Sumuran Utama10-25

Penyaliran Keliling Tambang25

Sumber : Awang Suwandhi, 2004Pemindahan Aliran Sungai100

6.1.2 Curah Hujan Rencana

Curah hujan rencana adalah curah hujan dengan periode ulang tertentu atau curah hujan yang memiliki kemungkinan akan terjadi sekali dalam suatu jangka waktu tertentu. Salah satu cara pengolahan data curah hujan untuk mendapatkan besar curah hujan rencana adalah dengan menggunakan metode gumbel yang didasarkan atas distribusi harga ekstrim (extreme value distribution). Jika T adalah periode ulang, n adalah jumlah data hujan, m adalah rangking data dari terbesar ke terkecil, maka :

......(6.1)

dimana :XT = curah hujan untuk perioda ulang T (mm)

= curah hujan rata-rata dari (mm)S = Standar DeviasiYT = reduksi variatYm = ym (reduced mean ) rata-rataSm = Standar Deviasi dari ym (reduced mean )

Adapun langkah-langkah sebagai berikut:1. Mencari rata-rata nilai data, dengan rumus:

..............(6.2)

dimana :

= nilai rata-rata hitung variatfi= frekuensi xi= nilai variat

2. Mencari standar deviasi (S), dengan rumus :

a. Untuk data tunggal- Bila jumlah data lebih besar dari 30

......(6.3)

- Bila jumlah data lebih kecil sama dengan 30

......(6.4)

b. Untuk data kelompok- Bila jumlah data lebih besar dari 30

......(6.5)

- Bila jumlah data lebih kecil sama dengan 30

......(6.6)

dimana :S= standar deviasi

= nilai rata-rata hitung variat fi= frekuensixi= nilai variatn= jumlah data

3. Mencari reduksi variat

......(6.7)

dimana :YT= reduksi variatT= periode ulang hujan

4. Mencari koreksi rata-rata (reduced mean) dihitung dengan menggunakan rumus :

........(6.8)

dimana :ym= Koreksi rata-rata (reduced mean)n= Jumlah data m= Urutan data

5. Mencari nilai rata-rata reduced mean dapat dihitung dengan rumus :

......(6.9)

dimana :YM= Nilai rata-rata ymym= Koreksi rata-rata (reduced mean)n= Jumlah data

6. Mencari standar deviasi dari ym dengan menggunakan rumus :

....(6.10)

dimana :Sm= standar deviasi dari ymym= koreksi rata-rata (reduced mean)YM= nilai rata-rata ymn= jumlah data

6.2 Daerah Tangkapan Hujan (Catchment area)

Catchment area atau daerah tangkapan hujan ditentukan berdasarkan kondisi topografi daerah yang akan diteliti. Daerah tangkapan hujan ini biasanya dibatasi oleh pegunungan dan bukit-bukit yang diperkirakan akan mengumpulkan air hujan. Luas daerah tangkapan hujan diukur pada peta kontur, yaitu dengan menarik hubungan dari titik-titik yang tertinggi di sekeliling tambang dan membentuk poligon tertutup, dengan melihat kemungkinan arah mengalirnya air, maka luas dihitung berdasarkan batas poligon tersebut. Semua air yang mengalir di permukaa