UU 32 TAHUN 2002 TENTANG PENYIARAN dan REALITA

Click here to load reader

  • date post

    01-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    74
  • download

    0

Embed Size (px)

description

UU 32 TAHUN 2002 TENTANG PENYIARAN dan REALITA. Dibuat oleh: Natalia Eka Jiwanggi03453 Maria Novena03457 Cecilia Cati R.03471 Jonathan03485 Martya Dewati K.03651. Pasal 8 ayat 3a - PowerPoint PPT Presentation

Transcript of UU 32 TAHUN 2002 TENTANG PENYIARAN dan REALITA

  • Dibuat oleh:Natalia Eka Jiwanggi03453Maria Novena03457Cecilia Cati R.03471Jonathan03485Martya Dewati K.03651

    UU 32 TAHUN 2002 TENTANG PENYIARAN dan REALITA

  • Pasal 8 ayat 3aKPI mempunyai tugas dan kewajiban menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia;KPID DIY yang tidak menjalankan tugasnya dengan semaksimal mungkin. Dimana anggota KPID DIY tidak memberikan informasi yang update mengenai keberadaan stasiun radio lokal. Contoh: Radio RasialimaPasal 8 ayat 3eKPI mempunyai tugas dan kewajiban menjamin masyarakat untuk menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sang-gahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penye-lenggaraan penyiaran;KPID DIY tidak menerima keluhan mengenai ketidakjelasan keberadaan radio Rasialima.

  • Pasal 18 ayat 3Pengaturan jumlah dan cakupan wilayah siaran lokal, regional, dan nasional, baik untuk jasa penyiaran radio maupun jasa penyiaran televisi, disusun oleh KPI bersama Pemerintah.Jumlah dan cakupan wilayah untuk Lembaga Penyiaran Swasta harus benar-benar dibatasi. Karena jika tidak, Lembaga Penyiaran Publik akan semakin menurun dan tidak dapat menandingi kemajuan dari LPS.Pasal 19 butir bSumber pembiayaan Lembaga Penyiaran Swasta diperoleh dari usaha lain yang sah yang terkait dengan penyelenggaraan penyiaran.Mengenai pembiayaan Lembaga Penyiaran Swasta, harus lebih dijelaskan maksud dari usaha lain yang sah. Karena kini di Indonesia, terdapat LPS yang dibiayai oleh sang owner sendiri dan dapat mempengaruhi isi tayangan.

  • Pasal 21 ayat 1Lembaga Penyiaran Komunitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) huruf c merupakan lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen, dan tidak komersial, dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayah terbatas, serta untuk melayani kepentingan komunitasnya.Kenyataannya, ada beberapa Radio Komunitas yang kemudian beralih ke Radio Swasta, seperti Swaragama FM atau Radio UTY. Perubahan ini membuat komunitas yang seharusnya berhak atas fasilitas radio tersebut menjadi tidak mendapat pelayanan atas kepentingan komunitasnya.

  • Pasal 23 ayat 1Lembaga Penyiaran Komunitas dilarang menerima bantuan dana awal mendirikan dan dana operasional dari pihak asing.Kelompok mengandaikan LPK bisa mendapat bantuan dari pihak asing tetapi mereka tidak dapat mempengaruhi isi tayanganPasal 26 ayat 2bDalam menyelenggarakan siarannya, Lembaga Penyiaran Ber-langganan harus melakukan sensor internal terhadap semua isi siaran yang akan disiarkan dan/atau disalurkan.Beberapa tidak lulus sensor, seperti pornografi

  • Pasal 27 butir aLembaga Penyiaran Berlangganan melalui satelit, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut memiliki stasiun pengendali siaran yang berlokasi di IndonesiaApakah jangkauan siaran berlangganan ini sudah dapat diterima di seluruh wilayah Indonesia? Bagaimana dengan pelosok desa?Pasal 31 ayat 3Lembaga Penyiaran Swasta dapat menyelenggarakan siaran melalui sistem stasiun jaringan dengan jangkauan wilayah terbatas.Saat ini LPS dapat menyelenggarakan siaran dengan jangkauan wilayah seluruh nusantara.

  • Pasal 31 ayat 5Stasiun penyiaran lokal dapat didirikan di lokasi tertentu dalam wilayah negara Republik Indonesia dengan wilayah jangkauan siaran terbatas pada lokasi tersebut.Mengenai stasiun penyiaran lokal, seharusnya diwajibkan agar budaya lokal tetap terjagaPasal 32 ayat 2Ketentuan lebih lanjut mengenai rencana dasar teknik penyiaran dan persyaratan teknis perangkat penyiaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disusun lebih lanjut oleh KPI bersama Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Tidak ada penjelasan terperinci atas teknik penyiaran dan persyaratan teknis perangkat penyiaran dalam UU ini.

  • Pasal 33 ayat 1Sebelum menyelenggarakan kegiatannya lembaga penyiaran wajib memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran.Buktinya adalah surat izin penyelenggaraan penyiaran dapat dipindahtangankan ke manajemen radio baru.Pasal 34 ayat 4Sebelum memperoleh izin tetap penyelenggaraan penyiaran, lembaga penyiaran radio wajib melalui masa uji coba siaran paling lama 6 (enam) bulan dan untuk lembaga penyiaran televisi wajib melalui masa uji coba siaran paling lama 1 (satu) tahun.Karena surat izin penyelenggaraan dapat berpindah tangan, UU ini seolah tidak usah digubris.

  • Pasal 33 ayat 4Izin penyelenggaraan penyiaran dilarang dipindahtangankan kepada pihak lain.Pelanggaran sering terjadi dalam pasal ini.Pasal 33 ayat 5 dIzin penyelenggaraan penyiaran dicabut karena dipindahtangankan kepada pihak lainPelanggaran sering terjadi dalam pasal ini dan KPI tidak menindaknya.Pasal 36 ayat 1Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.Konten siaran didominasi oleh hiburan karena adanya industrialisasi media

  • Pasal 36 ayat 3Isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran.Sering terjadi pelanggaran dalam pasal iniPasal 36 ayat 5 & bIsi siaran dilarang bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau bohong; menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika dan obat terlarangSering terjadi pelanggaran dalam pasal ini, terutama dalam sinetron-sinetron kejar tayang

  • Pasal 41Antar lembaga penyiaran dapat bekerja sama melakukan siaran bersama sepanjang siaran dimaksud tidak mengarah pada monopoli informasi dan monopoli pembentukan opini.Adanya konvergensi media (merger media) saat ini malah mengakibatkan pada monopoli informasi & monopoli pembentukan opini.Pasal 46 ayat 3 cSiaran iklan niaga dilarang melakukan eksploitasi anak di bawah umur 18 (delapan belas) tahun.Sekarang ini banyak dijumpai iklan produk tertentu yang menggunakan talent anak kecil, misalnya saja iklan mie instan atau provider handphone

  • Pasal 46 ayat 6Siaran iklan niaga yang disiarkan pada mata acara siaran untuk anak-anak wajib mengikuti standar siaran untuk anak-anak.Untuk sekarang ini sedikit susah mengatur waktu untuk acara anak-anak, sebaiknya peraturan ini disertai waktu yang ditentukan (waktu ini ditentukan berdasarkan riset yang dilakukan)Pasal 46 ayat 11Materi siaran iklan wajib menggunakan sumber daya dalam negeri.Saat ini tidak sedikit iklan yang menggunakan sumber daya baik manusia, alam dari luar negeri. (misal: iklan sabun PONDS)

  • Pasal 48 ayat 3KPI wajib menerbitkan dan mensosialisasikan pedoman perilaku penyiaran kepada Lembaga Penyiaran dan masyarakat umum.Pada saat ini sosialisasi masih kurang, tidak sedikit masyarakat yang tidak mengetahui pedoman tersebutPasal 53 ayat 1KPI Pusat dalam menjalankan fungsi, wewenang, tugas, dan kewajibannya bertanggung jawab kepada Presiden dan menyampaikan laporan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.KPI pusat sudah menjalankan fungsi, wewenang, tugas dan kewajibannya dengan baik akan tetapi KPI kurang peka, kalau masalah sudah ada barulah bertindak. Kontrol KPI kurang dalam melakukan tugasnya. Contoh kasus, tayangan di RCTI (presenter SILET salah menyebut kota Yogya sebagai kota malapetaka) menimbulkan kepanikan massa.

  • Pasal 53 ayat 2KPI Daerah dalam menjalankan fungsi, wewenang, tugas, dan kewajibannya bertanggung jawab kepada Gubernur dan menyampaikan laporan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi.KPI menjalankan tugas dan tujuan ketika masalah muncul, tindakan KPI hanya merespon tapi tidak menindak lanjut kasus-kasus yang sudah terjadi. (Contoh: Empat Mata jadi Bukan Empat Mata)Pasal 53 ayat 1Pimpinan badan hukum lembaga penyiaran bertanggung jawab secara umum atas penyelenggaraan penyiaran dan wajib menunjuk penanggung jawab atas tiap-tiap program yang dilaksanakan.Masih ada pelanggaran dalam pasal ini, contohnya berita Noordin mati oleh Ecep S. Yasa dan radius tidak aman Merapi yang sampai 30 km