Tugas Kelompok Filsafat Hukum Dari Pak Anang

download Tugas Kelompok Filsafat Hukum Dari Pak Anang

of 23

  • date post

    14-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    543
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Tugas Kelompok Filsafat Hukum Dari Pak Anang

MAKALAH KEBANGKITAN KEMBALI TEORI-TEORI HUKUM ALAM

Oleh : KELOMPOK III 1. IDA MADE SANTIADNA (29) 2. ILIAS (30) 3. I KETUT PURWATA (31) 4. I KETUT SURYA BAWANA (32) 5. I MADE BADUARSA (33) 6. I MADE DHANUARDANA (34) 7. IRAWAN (35)

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS MATARAM 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Filsafat Hukum ini dengan judul Kebangkitan Kembali Teori-Teori Hukum Alam sehingga dapat kami presentasikan di hadapan teman-teman mahasiswa dan dosen. Pembuatan makalah ini dibentuk dengan kerjasama anggota kelompok III dengan fokus bahasan tentang Bagaimana Bangkitnya Hukum Alam dan Kritik-Kritik Terhadap Nilai-Nilai Hukum Alam. Tugas makalah ini merupakan bagian dari proses pembelajaran pada Magister Ilmu Hukum agar mahasiswa lebih memahami secara mendalam dan konfrehensif tentang teoriteori hukum. Pendekatan belajar secara kelompok tentu sangat baik karena memberi ruang lebih besar terhadap interaksi pembelajaran diskusi untuk mencapai tingkat pemahaman lebih mendalam. Dari diskusi-diskusi di antara anggota kelompok dalam kelompok kecil ini, kemudian dikembangkan lagi pada diskusi-diskusi antar kelompok dan diskusi kelas. Dengan demikian diharapkan dapat digali lebih jauh masalah-masalah pada teori hukum alam dan bagaimana kritik-kritik terhadap hukum alam sehingga akan didapat pemahaman yang mendalam terhadap hukum alam. Tulisan ini pada dasarnya secara utuh bersumber dari literatur atau buku hukum yang berkenaan dengan bahasan makalah. Mudah-mudahan tulisan ini akan mampu memberikan sumbangan pemahaman bersama mengenai hukum alam, khususnya bagi kelompok III terhadap materi pembelajaran teori hukum yang diberikan.

DAFTAR ISI Halaman Judul .................................................................................................................... i Kata Pengantar ................................................................................................................... ii Daftar Isi .............................................................................................................................. iii BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang .......................................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................................................... 4 BAB II. PEMBAHASAN A. Faktor yang mendorong bangkitnya hukum alam..................................................... 5 B. Pengaruh bangkitnya hukum alam terhadap perkembangan hukum positif ............. 10 C. Kritik-kritik atas hukum alam dalam mencari nilai keadilan.................................... 13 BAB III. PENUTUP A. Simpulan ................................................................................................................... 19 B. Saran.......................................................................................................................... 20 DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Salah satu kelebihan manusia yang tidak bisa dimiliki oleh mahlukmahluk Tuhan lainnya adalah keingintahuannya yang sangat dalam terhadap segala sesuatu di alam semesta ini. Sesuatu yang diketahui oleh manusia disebut pengetahuan. Pengetahuan manusia, terlepas darimana sumber perolehannya

sesungguhnya merupakan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan manusia. Melalui indera, eksperimen, perenungan, dan agama, manusia berusaha mendekati kebenaran atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Adapun istilah pengetahuan tidaklah sama dengan ilmu, yang seringkali juga disebut ilmu Pengetahuan. Menurut Poedjawijatna (1986 : 4-5), kebanyakan pengetahuan diperoleh dari pengalaman inderawi manusia. Pengetahuan seorang manusia dapat berasal dari pengalamannya sendiri atau seringkali juga dari orang lain, yang biasanya digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari atau sekedar tahu. Adapun yang disebut dengan Ilmu, lebih jauh daripada itu. Ilmu adalah pengetahuan yang memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu. Unsur lain lagi yang dapat ditambahkan disini, bahwa ilmu juga bersifat universal.

Sayangnya, sebanyak dan semaju apapun ilmu yang dimiliki manusia, tetap saja ada pertanyaan-pertanyaan yang belum berhasil dijawab. Bahkan, sebagian besar pertanyaan-pertanyaan tersebut telah diajukan sejak berabad-abad lampau, yang sampai sekarang tetap aktual untuk dibahas. Pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat manusia, tujuan hidup dan kematiannya, adalah sebagian contoh pertanyaan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh ilmu itulah yang menjadi porsi pekerjaan filsafat. Berangkat dari pemikiran tersebut sepatutnyalah Hukum perlu kita pertanyakan bersama. Adapun yang menjadi persoalan yang dihadapi manusia dari zaman ke zaman, dari abad ke abad, yang memang tidak ada kata akhirnya, adalah bagaimanakah wajah hukum yang bagus. Bagus dalam arti dapat memenuhi berbagai tujuan hukum, yaitu yang dapat mencapai keadilan, kepastian hukum, ketertiban, keselarasan, saling menghormati satu sama lain, tanpa ada penindasan, peperangan, pelicikan, dan penjajahan (model lama atau model baru). Disadari bahwa hukum seperti ini tidak boleh hanya menjadi mitos belaka, tetapi mesti diwujudkan ke dalam kenyataan hidup manusia. Karena itu, sudah sangat banyak pikiran dicurahkan, cukup banyak buku ditulis, cukup banyak riset dilakukan, dan cukup banyak teori dan aliran dalam hukum dan filsafat hukum yang bagus tersebut. Dan usaha ini telah terjadi dalam kurun ribuan tahun yang lalu dan akan terjadi dalam ribuan tahun ke depan, tidak akan habis-habisnya.

Tentunya hukum yang bagus tidak akan mentolerir adanya perbudakan, zaman dahulu hal ini sesuatu yang wajar dan sesuai dengan martabat manusia, kemudian terjadinya Perang Dunia I dan Perang Dunia II pada abad ke-20 ini yang telah menimbulkan kehancuran yang sangat fatal. namun kita harus akui bahwa pandangan tersebut keliru. Berbeda dengan pandangan para pemikir zaman dahulu umumnya

menerima suatu hukum, yaitu hukum alam atau hukum kodrat. Berbeda dengan hukum positif sebagaimana diterima orang dewasa ini, hukum alam yang diterima sebagai hukum tersebut bersifat tidak tertulis, hukum alam ditanggapi tiap-tiap orang sebagai hukum oleh sebab menyatakan apa yang termasuk alam manusia sendiri (Huijbers, 1995:82). Mazhab hukum alam adalah mazhab tertua dalam sejarah pemikiran manusia tentang hukum. Menurut mazhab ini, selain hukum positif (hukum yang berlaku di masyarakat) yang merupakan buatan manusia, masih ada hukum yang lain yaitu, hukum yang berasal dari tuhan , yang disebut hukum alam. Hukum alam berintikan pada usaha manusia untuk mencari keadilan yang mutlak. Kelsen menguraikan ajaran hukum alam tentang keadilan menjadi dua tipe dasar yaitu, rasionalistis dan metafisis, tokoh dari tipe rasionalistis adalah aristoteles dan tokoh dari metafisis adalah plato. Namun para pemikir hukum modern memberikan kritikan terhadap hukum alam dalam mencari nilai-nilai keadilan mutlak walaupun mereka menolak berlakunya hukum alam, tetapi mereka menerima berlakunya asas-asas

hukum alam yang menjadi dasar berlakunya hukum positif dan yang menentukan sifat kaidah-kaidah yang terdapat dalam hukum positif itu.

B. Rumusan Masalah Dari uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Faktor apakah yang mendorong kebangkitan kembali hukum alam ?

2. Apakah pengaruh dari bangkitnya hukum alam terhadap perkembangan hukum positif? 3. Bagaimanakah kritik-kritik terhadap hukum alam dalam mencari keadilan?

BAB II PEMBAHASAN A. Faktor yang Mendorong Kebangkitan Hukum Alam Tidak lama sebelum masyarakat barat hancur karena perang dunia pertama dan akibatnya, reaksi timbul, yaitu ketidakpuasan dengan materi yang dimiliki, dengan jaminan diri sendiri dengan golongan borjuis yang berlagak menang perang dan banyak lagi hal-hal lain. Sekali lagi pikiran manusia tidak tenang, berontak terhadap patokan-patokan hidup yang diterima dan halnya generasi-generasi terdahulu, mencari keadilan yang ideal. Situasi zaman abad ke-19 ini ditandai oleh beberapa kecenderungan utama. Pertama, terjadinya revolusi sosial ekonomi, terutama akibat revolusi industri. Revolusi ini selain membawa perkembangan ekonomi yang luar biasa, tetapi juga menimbulkan masalah baru di bidang sosial ekonomi. Ini ditandai munculnya kelas-kelas baru yang berbeda menurut kemampuan ekonominya, yakni kaum buruh dan kaum industrialis. Kaum industrialis berkuasa secara penuh atas kaum buruh dan sering kali memerasnya. Situasi ini menjadi landasan Kritis Marx dengan mengajukan pedoman untuk mengubah situasi masyarakat yang timpang ini menuju tatanan egalitarian. Kedua, munculnya penolakan terhadap rasionalisme universal abad sebelumnya (yang masih dilanjutkan Hegel di abad ke-19) yang dianggap cenderung mengabaikan ciri khas suatu masyarakat atau bangsa. Padahal latar belakang kehidupan suatu bangsa merupakan sejarah di mana orang-orang seperti

membangun suatu kehidupan bersama bagi meraka sendiri. Mewakili kecenderungan ini, muncul historisme dengan tokoh utamanya yaitu Savigny Tertib Hidup manusia yang ditawarkan Savigny adalah setia pada hukum sejati yang berbasis volksgeist. Bagi Savigny, hukum sejati bukanlah yang dibuat secara artifisial oleh Negara dan ahli hukum. Hukum sejati adalah hukum yang tumbuh dan berkembang dari rahim kehidupan rakyat. Tapi ada juga sanggahan terhadap Savigny, yakni Jhering lewat teori akomodasi dan manfaat. Karena itu menurut Jhering, Savigny keliru besar kalau menyangka, hukum nasional sebuah bangsa seutuhnya timbul secara spontan begitu saja dari jiwa bangsa. Akantetapi hukum merupakan tatanan hidup bersama yang dianggap sesuai dengan kepentingan nasional. Ini fenomena umum untuk semua bangsa. Hanya apa yang dianggap berguna saja bagi b