Preskes Dr Anang

download Preskes Dr Anang

If you can't read please download the document

  • date post

    09-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    112
  • download

    5

Embed Size (px)

description

cushing syndrome

Transcript of Preskes Dr Anang

Presentasi Kasus

CUSHING SYNDROME DENGAN HYPERTENSION STAGE I DAN OBESITAS PADA PASIEN USIA 5 TAHUN 6 BULAN

Oleh : Darween Rozehan Shah Bin Iskandar Shah Tito Pradipta Pembimbing : Anang Giri M., dr., Sp. A G0006501 G0007231

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2012

PENDAHULUAN Nama penyakit ini diambil dari Harvey Cushing seorang ahli bedah yang pertama kali mengidentifikasi penyakit ini pada tahun 1912. Penyakit ini disebabkan ketika kelenjar adrenal pada tubuh tarlalu banyak memproduksi hormon kortisol, komplikasi yang menyebabkan kecacatan pada penderita, yang akan mengakibatkan keterbatasan aktivitas, citra diri yang kurang bahkan kematian. Maraknya penyakit ini semakin menambah tantangan bagi tenaga kesehatan dan semakin meresahkan masyarakat. Masyarakat merupakan sasaran utama bagi tim kesehatan, keresahan masyarakat adalah keresahan tim kesehatan. Berdasarkan penelitian dan survey terhadap rumah sakit di Indonesia tentang penyakit Cushings Sindrom pada tahun 2000-2001, hasil menyebutkan bahwa kejadian Cushings Sindrom terjadi pada 200 orang dewasa berusia antara 20-30 tahun. Pada kelompok usia 20-30 tahun, risiko terkena Cushings Sindrom mencapai 10 persen. Dalam penelitian secara global didapat hasil sedikitnya 1 dari tiap 5 orang populasi dunia berkemungkinan terkena kelainan ini tanpa membedakan jenis kelamin. Namun sumber lain mengatakan rasio kejadian antara wanita dan pria untuk sindrom cushing adalah sekitar 5:1 berhubungan dengan tumor adrenal atau pituitary. Disini peran perawat terhadap pasien dengan Cushings Sindrom meliputi beberapa upaya yang terdiri dari: Upaya Promotif yaitu upaya peningkatan pengetahuan tentang pencegahan dan cara pengobatan penyakit Cushings Sindrom melalui pendidikan dan pelatihan petugas pelayanan kesehatan mengenai cara pengobatan, penyuluhan, penyebarluasan informasi, peningkatan kebugaran jasmani, peningkatan gaya hidup sehat dan peningkatan gizi. Upaya Preventif adalah upaya untuk mencegah timbulnya penyakit atau kondisi yang memperberat penyakit Cushings Sindrom yang meliputi Pencegahan Primer dan Pencegahan Sekunder. Pencegahan Primer merupakan upaya yang dilaksanakan untuk mencegah timbulnya penyakit pada individu-individu yang sehat. Pencegahan

2

Primer dll.

adalah

pengendalian

melalui

medical

control,

antara

lain

:

1. Pendidikan kesehatan : gaya hidup, gizi , faktor lingkungan, cara pengobatan 2. Pemeriksaan kesehatan awal, berkala & khusus (anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium rutin). 3.Penelitian kesehatan Sedangkan pencegahan sekunder merupakan upaya perawat untuk menemukan tanda dan gejala penyakit Cushings Sindrom sedini mungkin, mencegah meluasnya penyakit, dan mengurangi bertambah beratnya penyakit, diantaranya : a. Pengawasan dan penyuluhan untuk klien Cushings Sindrom, agar klien tersebut benar-benar mengetahui cara pengobatan dan cara mengurangi gejala yang bisa dimunculkan dari penyakit Cushings Sindrom ini. b. Pengamatan langsung mengenai perawatan klien Cushings Sindrom. c. Case-finding secara aktif, mencakup indentifikasi Cushings Sindrom pada yang dicurigai dan rujukan pemeriksaan kadar kortisol yang tinggi dalam plasma darah. Upaya kuratif dan rehabilitatif adalah upaya pengobatan penyakit Cushings Sindrom yang bertujuan untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, dan menurunkan tingkat kejadian penyakit Cushings Sindrom. Pengobatan Cushings Sindrom tergantung pada ACTH tidak seragam dan bergantung pada apakah sumber ACTH adalah hipofisis atau ektopik. Beberapa pendekatan terapi digunakan pada kasus dengan hipersekresi ACTH hipofisis. Jika dijumpai tumor hipofisis sebaiknya diusahakan reseksi tumor transfenoidal. Tetapi jika terdapat bukti hiperfungsi hipofisis namun tumor tidak dapat ditemukan maka sebagai gantinya dapat dilakukan radiasi kobalt pada kelenjar hipofise. Kelebihan kortisol juga dapat ditanggulangi dengan adrenalektomi total dan diikuti pemberian kortisol dosis fisiologik atau dengan kimia yang mampu mrnghambat atau merusal sel-sel korteks adrenal yang mensekresi kortisol. Berdasarkan angka kejadian yang ada dan kegawatan yang dimunculkan oleh penyakit Cushings Sindrom, perawat disini dituntut terutama untuk dapat

3

melakukan tindakan keperawatan dalam pencegahan, penanggulangan maupun perawatan dalam proses penyembuhan penyakit Cushings Sindrom.

STATUS PASIENI. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Nama Ayah Pekerjaan Ayah Nama Ibu Pekerjaan Ibu Agama Alamat Tanggal masuk No. RM II. ANAMNESIS Alloanamnesis diperoleh dari ibu penderita tanggal 29 Juni 2012. A. Keluhan Utama : Sakit di pundak B. Riwayat Penyakit Sekarang : Kurang lebih 6 bulan SMRS pasien mulai mengeluh bengkak pada leher dan dibawa ke dokter umum dan tidak mendapatkan terapi untuk keluhan tersebut. Sejak saat itu pasien mulai Nampak bertambah gemuk, nafsu makan meningkat, mudah haus (-), frekuensi kencing tidak meningkat, mual dan muntah (-), nyeri perut (-) dan BAB tidak ada kelainan. Kurang lebih 2 bulan SMRS pasien disuruh oleh dokter spesialis anak untuk memeriksa urin dan hasilnya tidak ada kelainan. 4 : An. R : 5 tahun 6 bulan : Laki - laki : Bp. T. :: Ibu J. : Suri Rumah Tangga : Islam : Karang Gayam 2/7 Kedungsono Bulu, SKH : 28 Juni 2012 pukul 11.00 WIB : 01130316

Tanggal Pemeriksaan : 29 Juni 2012

Kurang lebih 1 bulan SMRS pasien mengeluhkan keluhan masih ada dan muncul nyeri dada dan mengalami sesak nafas. Oleh keluarga dibawa ke RSUD dan diberitahu bahawa ada pembengkakan ginjal dan cairan di paru. HMRS pasien datang ke RSDM karena keluhan masih ada, muka pasien bengkak (+), jerawat (+), badan berbulu (+), mudah marah (+), BAK dan BAB tidak ada keluhan. C. Riwayat Penyakit Dahulu : 1. Riwayat hipertensi sebelumnya 2. Riwayat sakit jantung bawaan 3. Riwayat asma 4. Riwayat alergi D. Riwayat Penyakit Keluarga 1. Riwayat sakit ginjal pada orang tua 2. Riwayat hipertensi pada orang tua E. Riwayat Kesehatan Keluarga Ayah Ibu Saudara Pemeriksaan di Frekuensi : baik : baik : baik : Bidan : Trimester I Trimester II Trimester III : 1x/ 1 bulan : 2x/ 1 bulan : 3x/ 1 bulan : (-) : (-) : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

F. Pemeliharaan Kehamilan dan Prenatal

Keluhan selama kehamilan : pusing-pusing (-), mual (-). Obat-obatan yang diminum selama kehamilan (-) G. Riwayat Kelahiran : Pasien lahir di Rumah Sakit, ditolong dokter dengan berat badan lahir 3800 gram dan panjang 60 cm, lahir spontan, langsung menangis, menangis kuat, usia kehamilan 9 bulan.

5

H. Riwayat Postnatal Rutin ke puskesmas untuk menimbang badan dan mendapat imunisasi. I. Status Imunisasi 1. 2. 3. 4. 5. Jenis BCG DPT Polio Campak Hepatiti sB I 2 bulan II III 6 bulan 4 bulan 3 bulan IV 6 bulan -

2 bulan 4 bulan 0 bulan 2 bulan 9 bulan Lahir 1 bulan

J. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuh kembang pasien sesuai dengan anak-anak seusianya sehingga pasien umur 5 tahun dimana tumbuh kembang pasien mengalami peningkatan berat badan dikarenakan nafsu makannya meningkat secara drastis. tumbuh kembang pasien disaat umur 5 tahun mengalami gangguan dimana pasien pertumbuhan sex secondary yang lebih cepat dibandingkan dengan anak seumurnya. K. Riwayat Makan Minum Anak Sehari-hari pasien makan sebanyak 3 kali yaitu pagi, siang dan malam hari sebelum tidur. Dengan porsi setiap makan 1 piring penuh. Nafsu makan pasien baik dan meningkat, sehingga setiap makan selalu habis. Makanan pasien sehari-harinya terdiri atas nasi dan laukpauk. Lauk-pauk yang sering digunakan adalah tempe, tahu dan telur goreng. Pasien suka mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan.

6

Pasien jarang mengkonsumsi daging, baik daging ayam maupun sapi. Dalam satu bulan rata-rata hanya 2 kali saja. Konsumsi air putih pasien kurang lebih 5 gelas dalam satu hari. Kesan : kualitas dan kuantitas baik L. Riwayat Keluarga Berencana : Ibu penderita tidak mengikuti KB

M. Pohon Keluarga

An Rahmat 5 Tahun 6 Bulan Penderita merupakan anak tunggal dalam keluarga. Riwayat anak lahir meninggal tidak ada, riwayat keguguran satu kali. Ayah dan ibu menikah satu kali. III. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan Umum Keadaan umum Status gizi B. Tanda vital Nadi Pernafasan : 92 x/menit, reguler, isi tegangan cukup : 26 x/menit,reguler, dalam, tipe abdominothorakal : Lemah : kesan gizi lebih Derajat kesadaran : compos mentis

7

Suhu Tekanan darah BB TB C. Kulit

: 36,8 C (per axiler) : 150/110 mmHg : 31,5 kg : 122,5 cm

Warna sawo matang, kelembaban baik, ujud kelainan kulit (-) D. Kepala Moon face (+), pipi bulat (+), acne vulgaris (+) E. Mata Edema palpebra (-/-), konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), cowong (-/-), air mata (+/+), pupil isokor (2mm/2mm), refleks cahaya (+/+). F. Hidung Bentuk normal, nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), darah (-/-) G. Mulut Bibir sianosis (-), mukosa basah (+), dagu rangkap (+), kumis (+) H. Telinga Bentuk normal, tragus pain (-), mastoid pain (-), sekret (-) I. Tenggorok Tonsil T3-T3, tonsil hiperemis (-), kripte melebar (-), detritus (-), mukosa faring hiperemis (-) J. Leher Bentuk normocolli, trakea di tengah, Buffalo hump (+), rambut di leher belakang (+), kelenjar getah bening tidak membesar, JVP tidak meningkat. K. Lymphonodi Preaurikuler Retroaurikular Submental Submandibular : tidak membesar : tidak membesar : tidak membesar : tidak membesar

Jugularis superior : tidak membesar

8

Jugularis media Supraklavikula L. Thorax

: tidak membesar : tidak membesar

Jugularis inferior : tidak membesar Cervical posterior : tidak membesar Bentuk : normochest, retraksi (-), gerakan simetris kanan kiri Pulmo : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Cor : Inspeksi Palpasi Perkusi : Pengembangan dada kanan = kiri : Fremitus ra