tugas akad

download tugas akad

of 33

  • date post

    10-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    238
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Sistem Informasi Akuntansi

Transcript of tugas akad

AKAD QARDHUL HASAN AL-HIWALAHAL-RAHN JU'ALAH

DISUSUN OLEH:

ARDIKA SURANTA BINTANG

1525100253

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCABUDI

MEDAN

2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas dan berkat rahmat-Nya yang masih bisa saya rasakan sampai saat ini, sehingga saya di mudahkan dalam setiap langkah terutama dalam penyusunan tugas mengenai akad Qardhul Hasan, Al-Hiwalah,Al-Rahn,Ju'alah, Charge Card dan Syariah Card

Dalam tulisan ini, saya berusaha untuk menguraikan segala aspek utama dan aspek pendukung dalam penulisan dan penjelasan mengenai akad Qardhul Hasan, Al-Hiwalah,Al-Rahn,Ju'alah, Charge Card dan Syariah Card. Segala hal mulai dari pengertian dan beberapa penjelasan mengenai tulisan ini sudah di sampaikan secara rinci, dan hal tersebut akan terlampir dalam tulisan ini. Semoga laporan ini juga nantinya akan berguna bagi pembacanya.

Terimakasih atas perhatiannya, semoga dapat bermanfaat dan dapat di jadikan inspirasi bagi pembaca.

Medan, Maret 2016

Penulis BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam Hukum Islam diperintahkan untuk bekerja sekuat tenaga untuk mencari rizki yang halal. Dalam menjalankan usahanya dilarang melakukan transaksi riba dan dianjurkan untuk memanifestasikan sejumlah nilai-nilaiakhlaqul karimahseperti tolong-menolong. PrinsipAt Ta'wunadalah salah satu prinsip dalam Hukum Islam. Prinsip tolong-menolong dalam ketakwaan merupakan salah satu faktor penegak agama karena dengan tolong menolong akan menciptakan rasa saling memiliki di antara umat sehingga akan lebih mengikat persaudaraan. Selain itu secara lahiriah manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian karena manusia butuh berinteraksi dengan sesamanya. Dengan tolong-menolonglah seorang muslim dapat dikatakan sebagai seorang muslim. Tolong-menolong yang dilakukan tidak hanya dalam lingkup yang kecil seperti antara dua orang tapi juga dalam sebuah perkumpulan yang besar termasuk dalam bisnis yang di dalamnya ada transaksi pembiayaan.

Salah satu bentuk aplikasi prinsip tolong menolong adalah dalam akadqardh, yakniQardhul Hasan. AkadQardhmerupakan salah satu perwujudan prinsip tolong menolong dalam praktek bank syariah. Perjanjian gardh adalah perjanjian pinjaman. Perjanjianqardh, pemberi pinjaman (kreditor) memberikan pinjaman kepada pihak lain dengan ketentuan penerima pinjaman akan mengembalikan pinjaman tersebut pada waktu yang telah diperjanjikan dengan jumlah yang sama ketika pinjaman itu diberikan.Qardh ul-hasanmerupakan perjanjianqardhuntuk tujuan sosial. Adalah tidak mustahil bagi suatu bank syariah yang terpanggil untuk memberikan pinjaman-pinjaman kepada mereka yang tergolong lemah ekonominya untuk memberikan fasilitasgardh ul-hasan.1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Qardhul Hasan?

2. Apa yang dimaksud dengan Al-Hiwalah/Hawalah ( pengalihan )?

3. Apa yang dimaksud dengan Al-Rahn ( Pinjaman dengan jaminan )?

4. Apa yang dimaksud dengan Akad Jualah?

5. Apa yang dimaksud dengan Charge Card dan Syariah Card?

6. Apa saja rukun dan syarat akad-akad tersebut?

7. Apa saja jenis-jenis akad tersebut?

8. Akad-akad tersebut jika dikaitkan dengan sistem perbankan?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui penjelasan tentang Qardhul Hasan dan unsur-unsurnya.2. Untuk mengetahui penjelasan tentang Al-Hiwalah/Hawalah ( pengalihan ).3. Untuk mengetahui tentang Jualah, Charge Card, dan Syariah Card.4. Untuk mengetahui hubungan akad-akad tersebut dengan system perbankan. BAB II

PEMBAHASAN

2.1 QARDHUL HASAN2.1.1 Pengertian Qardhul HasanQardhul Hasan adalah pinjaman tanpa dikenakan biaya ( hanya wajib membayar sebesar pokok utangnya).

Pinjaman uang seperti inilah yang sesuai dengan ketentuan syariah (tidak ada riba). Pinjaman qardh bertujuan untuk diberikan pada orang yang membutuhkan atau tidak memiliki kemampuan finansial,untuk tujuan sosial atau untuk kemanusiaan.

Cara pelunasan dan waktu pelunasan pinjaman ditetapkan bersama antara pemberi dan penerima pinjaman. Walaupun sifat utang ini sangat lunak tidak berarti pihak yang berhutang dapat semaunya sendiri, karena dalam Islam, utang yang tidak dibayar akan menjadi penghalang dia di hari akhir nanti walaupun ia gugur dalam jihad di medan perang yang pahalanya sudah dijamin bahkan rasul tidak bersedia menshalatkan jenazah yang masih memiliki utang.2.1.2 Rukun dan Ketentuan SyariahRukun Qhardhul Hasan ada 3 yaitu :

1. Pelaku yang terdiri dari pemberi dan penerima pinjaman

2. Objek akad, berupa uang yang dipinjamkan

3. Ijab Kabul/serah terima

Ketentuan syariah, yaitu :

1. Pelaku, harus cakap hukum dan baliqh

2. Objek akad

a. Jelas nilai pinjamannya dan waktu pelunasannya.

b. Peminjam diwajibkan membayar pokok pinjaman pada waktu yang telah disepakati, tidak boleh diperjanjikan akan ada penambahan atas pokok pinjamannya. Namun peminjam dibolehkan memberikan sumbangan secara sukarela.

c. Apabila memang peminjam mengalami kesulitan keuangan maka waktu peminjaman dapat diperpanjang atau menghapuskan sebagian atau seluruh kewajibannya. Namun jika peminjam lalai maka dapat dikenakan denda.

3. Ijab Kabul/serah terima adalah pernyataan dan ekspresi saling rida/rela di antara pihak-pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal,tertulis,melalui korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi modern.2.1.3 Perlakuan Akutansi Qardhul HasanPelaporan qardhul hasan disajikan tersendiri dalam laporan sumber dan penggunaan dana qardhul hasan karena dana tersebut bukan aset perusahaan. Oleh sebab itu, seluruhnya dicatat dengan akun dana kebajikan dan dibuat buku besar pembantu atas dana kebajikan berdasarkan jenis dana kebajikan yang diterima atau yang dikeluarkan.

a. Bagi Pemberi Pinjaman

1. Saat menerima dana sumbangan dari pihak eksternal, jurnal :

Dr. Dana Kebajikan-kas

xxx

Kr. Dana Kebajikan-Infak/sedekah/hasil wakaf

xxx

2. Untuk penerimaan dana yang berasal dari denda dan pendapatan non halal,jurnal :

Dr. Dana Kebajikan-kas

xxx

Kr. Dana Kebajikan-denda/pendapatan Non-halal

xxx

3. Untuk pengeluaran dalam rangka pengalokasian dana qardh hasan,jurnal :Dr. Dana Kebajikan-Dana Kebajikan Produkstif

xxx

Kr. Dana Kebajikan-Kas

xxx4. Untuk penerimaan saat pengembalian dari pinjaman untuk qardhul hasan,jurnal :

Dr. Dana Kebajikan-kas

xxx

Kr. Dana Kebajikan-Dana Kebajikan Produktif

xxxb. Bagi Pihak yan Meminjam1. Saat menerima uang pinjaman, jurnal :Dr. Kas

xxx

Kr.Utang

xxx

2. Saat pelunasan, jurnal :

Dr. Utang

xxx

Kr.Kas

xxx2.2 AKAD AL-HIWALAH/HAWALAH ( PENGALIHAN )

2.2.1 Pengertian Al-Hiwalah/Hawalah ( Pengalihan )Hawalah secara harfiah artinya pengalihan, pemindahan,perubahan warna kulit atau memikul sesuatu di atas pundak.

Objek yang dialihkan dapat berupa utang atau piutang. Jenis akad ini pada dasarnya adalah akad tabaruu yang bertujuan untuk saling tolong menolong untuk menggapai ridho Allah.

Jika yang dialihkan utang maka akad hawalah merupakan akad pengalihan utang dari satu pihak yang berutang kepada pihak lain yang wajib menanggung (membayar ) utangnya.

Secara teknis, pihak yang berutang ( muhil ) meminta pihak lain (muhalalaih) untuk membayarkan terlebih dahulu utangnya pada pihak lain (muhal). Setelah akad hawalah dilakukan pihak yang berutang (muhil) akan membayar kepada pihak yang telah menanggung utangnya (muhalalaih) atau hak penagihan berpindah menjadi hak muhalalaih. Dalam hal ini pihak yang mengambil alih utang harus yakin pihak yang diambil alih utangnya dapat memenuhi kewajibannya di kemudian hari.

Jika yang dialihkan piutang maka akad hawalah merupakan akad pengalihan piutang dari satu pihak yang berpiutang kepada pihak lain yang berkewajiban menagih piutangnya.

Secara teknis, pihak yang berpiutang ( muhil ) meminta pihak lain untuk mengambil alih (muhalalaih) piutang yang dimilikinya,dengan pengambil alihan ini pihak yang berpiutang akan menerima uang dari yang mengambil alih piutang, sementara pihak yang berhutang (muhal) akan membayar pada pihak yang telah mengambil alih piutang.A. Landasan Hukum HawalahImam bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw,bersabda, Artinya : Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman. Yang mampu atau kaya, terimalah hawalah itu.

Sedangkan di dalam riwayat Imam At-Thabrani, redaksi haditsnya adalah sebagai berikut: Sedangkan di dalam riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah, Redaksinya adalah: .Adapula yang meriwayatkan dengan redaksi Pada hadits tersebut, Rasulullah memberitahukan kepada orang yang mengutangkan, jika orang yang berutang menghawalahkan kepada orang kaya atau mampu, hendaklah ia menerima hawalah terseebut dan hendaklah ia menagih kepada orang yang dihawalahkan (muhal alaih). Dengan demikian haknya dapat terpenuhi.

Sebagian ulama berpendapat bahwa perintah untuk menerima hawalah dalam hadits terseebut menunjukkan wajib. Oleh sebab itu, wajib bagi yang mengutangkan (muhal) menerima hawalah. Adapun mayoritas ulama brpendapat bahwa perintah itu menunjukkan sunnah. Jadi, sunnah hukumnya menerima hawalah bagi muhal.

B.Rukun dan Syarat HawalahDalam pelaksanaan, hawalah harus memenuhi rukun dan syarat sebagai berikut

a.Orang yang memindahkan tanggungan utang (muhil).

b.Orang yang memberikan utang yang dipindahkan pelunasannya dari orang yang berutang padanya secara langsung (muhal).

c. Orang yang dipindahkan tanggungan utang padanya (muhal alaih)..

d.Harta yang diutang yang dialihkan(