Tinjauan-Pustaka-Referat paradigma sehat

download Tinjauan-Pustaka-Referat paradigma sehat

of 24

  • date post

    10-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    107
  • download

    2

Embed Size (px)

description

healthy paradigm

Transcript of Tinjauan-Pustaka-Referat paradigma sehat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Profesionalisme

Pemahaman akan profesionalisme masih belum jelas dan belum ada standar penilaiannya. Sebutan profesionalisme berasal dari kata profesi, profesionalisme mengacu pada pengertian profesi, sebagai suatu bidang pekerjaan. Satu pendapat menyatakan profesionalisme yaitu suatu status, cara, karakteristik, standar yang terkait dengan suatu profesi. Pendapat lain menyatakan profesionalisme sebagai ajektif yang memiliki arti kualifikasi. Namun bila ditilik dari asal katanya, profesional berasal dari kata profession dari Bahasa Latin yang berarti a public declaration with the force of a promise, atau dalam Bahasa Indonesia yang artinya sebuah deklarasi umum

dengan kekuatan sebuah janji.

Dalam hal profesi, Mc Cully (1969) (dalam Rusyan, 1990:4) mengatakan sebagai:Vocation an which professional knowledge of some department a learning science is used in its application to the other or in the practice of an art found it. Pengertian tersebut dapat disarikan bahwa dalam suatu pekerjaan yang bersifat profesional dipergunakan teknik serta prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual, yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian secara langsung dapat diabadikan bagi kemaslahatan orang lain. Faktor penting dalam hal ini adalah intelektualitas yang di dalamnya tercakup satu atau beberapa keahlian kerja yang dianggap mampu menjamin proses pekerjaan dan hasil kerja

yang profesional, atau tercapainya nilai-nilai tertentu yang dianggap ideal menurut pihak yang menikmatinya. Soedijarto (1990:57) mendefinisikan profesionalisme sebagai perangkat atribut-atribut yang diperlukan guna menunjang suatu tugas agar sesuai dengan standar kerja yang diinginkan. Dari pendapat ini, sebutan standar kerja merupakan faktor pengukuran atas bekerjanya seorang atau kelompok orang dalam melaksanakan tugas. Sementara itu Philips (1991:43) memberikan definisi profesionalisme sebagai individu yang bekerja sesuai dengan standar moral dan etika yang ditentukan oleh pekerjaan tersebut. Wignjosoebroto mendefinisikan profesional adalah suatu sikap seseorang yang mempunyai profesi atau keahlian yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan maupun pelatihan khusus dan adanya unsur semangat pengabdian (panggilan profesi) dalam melaksanakan tugas. Dan profesionalisme adalah faham yang mencitakan kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat berbekal keahlian yang tinggi dan berdasar rasa keterpanggilan- -serta ikrar (fateri/profiteri) untuk menerima panggilan dengan semangat pengabdian siap menolong orang dalam kesulitan (Wignjosoebroto, 1993)

2.2 Karakteristik Profesi, Profesional dan Profesionalisme

2.2.1 Karakteristik Profesi

Menurut Artikel dalam International Encyclopedia of Education, ada 10 ciri khas suatu profesi, yaitu:

1. Suatu bidang pekerjaan yang terorganisir dari jenis intelektual yang terus berkembang dan diperluas 2. Suatu teknik intelektual 3. Penerapan praktis dari teknik intelektual pada urusan praktis 4. Suatu periode panjang untuk pelatihan dan sertifikasi 5. Beberapa standar dan pernyataan tentang etika yang dapat diselenggarakan 6. Kemampuan untuk kepemimpinan pada profesi sendiri 7. Asosiasi dari anggota profesi yang menjadi suatu kelompok yang erat dengan kualitas komunikasi yang tinggi antar anggotanya 8. Pengakuan sebagai profesi 9. Perhatian yang profesional terhadap penggunaan yang bertanggung jawab dari pekerjaan profesi 10. Hubungan yang erat dengan profesi lain

2.2.2 Karakteristik Profesional

Karakteristik seorang profesioanal adalah:

1. Mempunyai kompetensi dalam bidang pengetahuan dan keterampilan tertentu. 2. Mempunyai tugas dan tanggung jawab tertentu baik terhadap individu dan masyarakat. 3. The right to train, admit, discipline and dismiss its members for failure to sustain competences or observe the duties and responsibilities.

2.2.3 Karakteristik Seorang Profesionalisme

Biasanya dipahami sebagai suatu kualitas yang wajib dimiliki oleh setiap eksekutif yang baik. Karakteristik profesionalisme antara lain:

1. Mempunyai ketrampilan yang tinggi dalam suatu bidang serta kemahiran dalam menggunakan peralatan tertentu diperlukan dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan sesuai bidangnya 2. Mempunyai ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah dan peka di dalam membaca situasi cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan 3. Mempunyai sikap berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terbentang di hadapannya. 4. Mempunyai sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan pribadinya.

Sebagai seorang dokter yang profesional, maka harus:

1. Fiducity/ trust/ confident 2. Berdasarkan etik.

Berdasarkan The American Board of Internal Medicine (1995), profesionalisme sebagai seorang dokter haruslah diajarkan dan dibentuk oleh seorang dosen atau tutor dan telah menjadi bagian dari sikap, perilaku dan keahlian dokter dalam menangani pasiennya yaitu:

1. Altruism: Seorang dokter wajib mendahulukan kebutuhan/urusan klien daripada urusannya sendiri, serta senantiasa memberi yang terbaik. 2. Accountability: Dokter bertanggung jawab kepada pasien, kepada masyarakat di kesehatan masyarakat dan pada profesi mereka. 3. Excellence: seorang dokter wajib berkomitmen pada pembelajaran jangka panjang. 4. Duty: seorang dokter harus bersedia dan cepat tanggap bila dipanggil untuk melakukan pelayanan atau tindakan medis yang diperlukan. 5. Honor and integrity: Seorang dokter wajib berkomitmen untuk jujur, berterus terang dan adil dalam interaksinya dengan pasien dan profesi mereka. 6. Respect to others: seorang dokter harus menunjukkan rasa hormat (respect) pada pasien dan keluarganya, anggota timya dan dokter lain, mahasiswa kedokteran, residentnya dan pemagangnya.

2.3 Etik Profesi Kedokteran 2.3.1 Definisi Etika dan Etik Profesi Kata etik (atau etika) berasal dari kata ehos (Bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Definisi etik adalah kumpulan asa atau nilai yang berkenaan dengan akhlak. Etik juga dapat diartikan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatugolongan atau masyarkat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2010). Sedangkan menurut Martin (1993), etik didefinisikan sebagai the discipline which can act as the performance index or reference for our control system. Drs. O.P Simorangkir mendefinisikan etik atau etika sebagai pandangan

manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. Drs. Sidi Gajalba dalam Sistematika Filsafat mendefinisikan etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Drs. H. Burhanuddin Salam mendefinisikan bahwa etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dalam hidupnya. Dalam pengertian khusus dikaitkan dengans eni pergaulan manusia, etika inikemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematis sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsio moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan self control, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri. Selanjutnya, karena kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat built in mechanism berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalahgunaan keahlian (Wignjosoebroto, 1999)

2.3.2 Definisi Kode Etik Kode etik profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan lanjtan dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas dan merinci norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna walaupun sebenarnya norma-norma tersebut sudah tersirat dalam etika profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa yang dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional. Menurut UU No. 8 Pokok-Pokok Kepegawaian, kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari. 2.3.3 Kode Etika Profesi Kedokteran Etik profesi kedokteran mulai dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi dalam bentuk Code of Hammurabi dan Code of Hittites, yang penegakannya dilaksanakan oleh penguasa pada waktu itu. Selanjutnya etik kedokteran muncul dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk sumpah dokter yang bunyinya bermacammacam, tetapi yang paling banyak dikenal adalah sumpah Hippocrates yang hidup sekitar 460-370 tahun SM. Sumpah tersebut berisikan kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap, atau semacam code of conduct bagi dokter. World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 menghasilkan sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional.

Kode Etik Kedokteran Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewa