Solubility Solvent Selection

of 11 /11
PARAMETER KELARUTAN (solubility parameter) HILDEBRAND Total gaya van der Waals yang dinyatakan sebagai parameter kelarutan yang menunjukkan sifat kesanggupan relatif (relative solvency behavior) dari suatu solven tertentu Diturunkan dari COHESIVE ENERGY DENSITY dari solven COHESIVE ENERGY DENSITY : Harga numerik yang menunjukkan besarnya energy penguapan (dlm Calori / cm3) yang merupakan refleksi dari besarnya gaya van der Waals yang mengikat molekul2 dalam cairan

description

sollubility solvent selection

Transcript of Solubility Solvent Selection

Page 1: Solubility Solvent Selection

PARAMETER KELARUTAN (solubility parameter) HILDEBRAND

Total gaya van der Waals yang dinyatakan sebagai parameter kelarutan yang menunjukkan sifat kesanggupan relatif (relative solvency behavior) dari suatu solven tertentu

Diturunkan dari COHESIVE ENERGY DENSITY dari solven

COHESIVE ENERGY DENSITY : Harga numerik yang menunjukkan besarnya energy penguapan (dlm Calori / cm3) yang merupakan refleksi dari besarnya gaya van der Waals yang mengikat molekul2 dalam cairan

Page 2: Solubility Solvent Selection

mV

RTHc

COHESIVE ENERGY DENSITY

c = cohesive energy density

H = panas penguapan

R = konstanta gas

T = temperatur

Vm = volume molar

Page 3: Solubility Solvent Selection

2/1

mV

RTHc

2 zat yang mempunyai COHESIVE ENERGY DENSITY sama akan saling melarut

SOLUBILITY PARAMETER

Page 4: Solubility Solvent Selection

Mak

in p

olar x 2,0455

Page 5: Solubility Solvent Selection
Page 6: Solubility Solvent Selection

Harga parameter kelarutan Hildebrand solven campuran

n

iiicampuran f

1

campuran Harga rata2 parameter kelarutan Hildebrand solven campuran

if Fraksi volum solven i

i Harga parameter kelarutan Hildebrand solven i

Page 7: Solubility Solvent Selection

Campuran : Toluen dan aceton dengan perbandingan volum 2 : 1, sifat kelarutannya sama dengan chloroform yang mempunyai parameter kelarutan Hildebrand 18,7

campuran = (2/3 x 18,3 + 1/3 x 19,7) = 18,7

Solut (resin) yang larut dalam chloroform, maka juga dapat larut pada solven campuran toluen dan aceton dengan perbandingan volum 2 : 1

Page 8: Solubility Solvent Selection

Koefisien distribusi

• , adalah koefisien aktifitas rafinat dan ekstrak• Koefisien aktifitas ( ) didefinisikan sebagai

kecenderungan suatu komponen untuk menyimpang dari keadaan idealnya yang ditunjukkan oleh penyimpangan relatif terhadap Hukum Raoult dalam kese-

timbangan uap-cair.

e

ro

oo

x

yK

iiii PxPy

= 1 IDEAL penyimpangan nol > 1 tak ideal penyimpangan positif < 1 tak ideal penyimpangan negatif

OPERASI EKSTRAKSI PENYIMPANGAN NEGATIF SUPAYA HARGA KOEFISIEN DISTRIBUSI BESAR

r

Ke

e

Page 9: Solubility Solvent Selection

(Robbin, 1980) ikatan hidrogen dan interaksi perpindahan elektron ( donor-acceptor electron)

900 macam sistem campuran biner dari berbagai gugus zat organik

12 kelompok solute dan 12 kelompok solven, yang menghasilkan 3 kemungkinan penyimpangan thd Hk Raoult : penyimpangan positif, penyimpangan negatif, dan nol

Page 10: Solubility Solvent Selection

Kelas SoluteKelas Solven

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kelompok Hydrogen Donor 1. Phenol 2. Acid, thiol 3. Alcohol, water 4. Hidrogen aktif pd multihalogen paraffin

 00-0 

 00-0

 --0+

 00+0

 --+-

 --0-

 -0--

 -0--

 -0+-

 -0+-

 +++0

 ++++

Kelompok Hydrogen Acceptor 5. Ketone, amide, sulfone, phosphine oxide 6. Tertiary amine 7. Secondary amine 8. Primary amine, amonia, amide dg 2 H pd N 9. Ether, oxide, sulfoxide.10. Ester, aldehyd, carbonat, fosfat, nitrat, nitrit, nitril, intramol. bonding, e.g. o-nitrophenol. 11. Aromatic, olefin, halogen aromatic, paraffin without active H, monohalogen paraffin.

 ------ +  

 --0000 +

 +0--++ +

 ------ 0

 0+++++ +

 +0++0+ 0

 ++0000 0

 ++00++ -

 +00+0+ 0

 ++0++0 +

 +00+0+ 0

 +0++++ 0

Kelompok non-Hydrogen Bonding 12. Paraffin, carbondisulfide

 + 

 +

 +

 +

 +

 0

 +

 +

 +

 +

 0

 +

+

e

Page 11: Solubility Solvent Selection

• Asam karboksilat sebagai solute (merupakan hidrogen donor), yang didalam Diagram Robbin ada pada posisi kelas 2 yang dapat diektrak dari fase air oleh solven-solvent (yang merupakan hydrogen acceptor) kelas 3 (kelompok alcohol), kelas 5 (kelompok keton) dan kelas 6 (kelompok amine tertier) karena interaksinya menghasilkan penyimpangan negatif terhadap Hukum Raoult.

• Penyimpangan negatif tersebut menunjukkan bahwa harga koefisien distribusinya besar.

• Interaksi antara kelompok solute kelas 2 dan kelompok-kelompok solven kelas 1, 2, 4, 7, 8, 9, 10 menunjukkan penyimpangan (mendekati) nol terhadap Hukum Raoult (artinya koefisien aktifitas = 1), cenderung tidak membentuk campuran azeotrop tetapi koefisien distribusinya tidak besar.

• Sebaliknya interaksi solute kelas 2 dengan solven-solvent kelas 11 dan 12 menghasilkan interaksi positif dimana cenderung membentuk campuran azeotrop dengan minimum boiling point.

PEMILIHAN SOLVEN UNTUK EKSTRAKSI ASAM KARBOKSILAT-AIR