Skripsi Ice

Click here to load reader

  • date post

    29-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    167
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Skripsi Ice

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Untuk menjaga kelangsungan hidup sebuah perusahaan atau lembaga usaha milik pemerintah , maka diperlukan suatu penanganan dan pengelolaan sumber daya yang dilakukan oleh pihak manajemen dengan baik. Bagi pihak manajemen, selain dituntut untuk dapat

mengkoordinasikan penggunaan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan secara efisien dan efektif, juga dituntut untuk dapat

menghasilkan keputusan -keputusan yang menunjang terhadap pencapaian tujuan perusahaan di masa yang akan datang. Sebuah perusahaan

ataupun lembaga usaha baik milik pemerintah maupun swasta dituntut untuk lebih memaksimalkan kinerjanya dalam berbagai kegiatan. Dalam melakukan kegiatan tersebut di dalam sebuah perusahaan atau lembaga usaha diperlukan manajemen yang baik, yang bisa mengelola keuangan dengan maksimal. Selain itu manajemen juga perlu melakukan penilaian atas kinerja keuangannya per periode sehingga berdasarkan hasil kinerja tersebut tim manajemen dapat mengetahui maju mundurnya perusahaan tersebut, y ang nantinya akan berguna bagi peru sahaan di masa yang akan datang, khususnya kemampuan perusahaan secara likuiditas. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) merupakan salah satu unit usaha milik daerah, yang bergerak dalam distribusi air bersih bagi masyarakat. Sebuah perusahaan yang didirikan oleh pemerintah daerah yang dapat meningkatkan pendapatan daerah . Perusahaan Air Minum 1

Daerah (PDAM) yang pada awalnya menguasai penyediaan air bersih diseluruh Indonesia termasuk di Kota Bima, akhir akhir ini mengalami tantangan baik dengan kehadiran perusahaan air minum kemasan isi ulang yang harganya relatif terjangkau s erta kecendrungan masyarakat di Kota Bima yang memanfaatkan sumur bor, sehingga menyebabkan jumlah pelanggan pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang mengalami penurunan. Dengan adanya penurunan pelanggan tersebut, akan Bima

memberikan dampak pada pengelolaan keuangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima, karena dengan menurunnya jumlah pelanggan tersebut akan menurunkan pula pendapatan yang diperoleh oleh PDAM Cabang Bima, sementara biaya operasional termasuk biaya pemeliharaan jaringan p ipa air bersih yang dibutuhkan tidaklah sedikit . Fenomena ini akan mempengaruhi terhadap tingkat likuiditas pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima. Tingkat Likuiditas pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima mengalami fluktuasi yang disebabkan oleh menurunnya pendapatan yang diakibatkan menurunnya jumlah pelanggan, serta adanya kewajiban jangka pendek yang harus segera dipenuhi seperti biaya pemeliharaan jaringan pipa air bersih. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam penyusunan skripsi dengan judul: Analisa Tingkat Likuiditas pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima.

2

1.2

Identifikasi Masalah Sebagaimana telah diuraikan di atas, maka dalam penelitian ini penulis dapat mengidentifikasikan masalah sebagai berikut : 1. Menurunnya jumlah pelanggan sehingga menyebabkan pendapatan yang diperoleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima ikut menurun sehingga mempengaruhi tingkat likuiditas. 2. Biaya operasional yang diperlukan cukup besar sehingga

mempengaruhi tingkat likuiditas pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima 1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka dapat

dirumuskan masalah yang hendak diteliti sebagai berikut : Seberapa baikkah tingkat likuiditas pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima. 1.4 Tujuan dan Kegunaan Penelitian. Adapun yang menjadi tujuan dan kegunaan dalam penelitian ini adalah: 1.4.1 Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat likuiditas pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima. 1.4.2 Kegunaan Penelitian Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Secara Akademik Sebagai salah syarat untuk mendapatkan kebulatan studi jenjang Sarjana (S1) pada program studi Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bima. 3

2. Secara Praktis Sebagai bahan masukan untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima dalam mengambil kebijakan untuk mempertahankan tingkat likuiditas yang baik. 1.5 Asumsi Penelitian Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel mandiri yaitu variabel yang tidak terikat dengan variabel lain dengan anggapan bahwa faktor lain tetap ( Ceteris Paribus ). Adapun variabel mandiri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat likuiditas pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima. 1.6 Definisi Operasional Variabel Definisi operasional variabel perlu diberikan dengan maksud mempermudah pemahaman terhadap variabel penelitian yang dimaksud. Maka yang dimaksud dengan Tingkat Likuiditas adalah kemampuan untuk memenuhi atau memba yar kewajiban keuangan jangka pendek yang harus segera dipenuhi . Dalam hal ini tingkat kemampuan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cabang Bima dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek yang harus segera dipenuhi.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Laporan Keuangan Laporan Keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, suatu ringkasan dari transaksi keuangan yang terjadi selama satu tahun buku yang bersangkutan (Baridwan, 2000: 17) . Sedangkan definisi yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) dalam laporan

bukunya Standart Akuntansi Keuangan 1994 dikatakan bahwa

keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan, laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi: neraca, laba rugi, laporan keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai bentuk seperti laporan arus kas, dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan). Laporan yang dibuat oleh manajemen merupakan alat untuk mempertanggungjawab kan kepada pemilik perusahaan atas kepercayaan yang telah diberikan (Munawir, 1995: 2) . Pertanggungjawaban pimpinan perusahaan itu dituangkan dalam bentu k laporan keuangan hanyalah sampai pada penyajian secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha dalam suatu periode sesuai dengan prinsip -prinsip akuntansi yang dilaksanakan secara konsisten. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan Laporan keuangan adalah ringkas an dari suatu proses pencatatan suatu ringkasan dari transaksi - transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan yang biasanya meliputi:neraca, laporan laba rugi, dan laporan perubahan modal.

5

S. Munawir (2002 : 13), sebelum menganalisa dan menafsirkan suatu laporan keuangan, seorang penganalisa harus mempunyai

pengertian yang mendalam tentang bentuk - bentuk maupun prinsip prinsip penyusunan laporan keuangan serta masalah masalah yang mungkin timbul dalam penyusunan laporan. Berikut ini a kan dibahas tentang bentuk dan prinsipnya tiap tiap macam laporan keuangan. 1. Neraca Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Jadi tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi k euangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu dimana buku buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender, sehingga neraca sering disebut dengan Balance Sheet . Dengan demikian neraca terdiri dari tiga bagian utama yaitu S. Munawir (2002 : 14),: a. Aktiva Dalam pengertian aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahan yang berwujud saja, tetapi juga termasuk pengeluaran yang belum dialokasikan atau biaya yang masih harus dialokasikan pada penghasilan yang akan datang, serta aktiva yang tidak berwujud lainnya. Dimana pada dasarnya aktiva dapat

diklasifikasikan menjadi dua : 1) Aktiva lancar, yaitu uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau dit ukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumer dalam periode berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal). 6

2) Aktiva tidak lancar, yaitu aktiva yang mempunyai umur kegunaan relatif permanen. Aktiva ini meliput i : Investasi jangka panjang, aktiva tetap, aktiva tetap tidak berwujud, beban yang ditangguhkan. b. Hutang Hutang adalah semua kewajiban keuangan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang merupakan sumber dana atau modal perusahaan dari kreditur S Munawir (2002 :18). Hutang pada umumnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu : 1) Hutang lancar Merupakan kewajiban keuangan perusahaan yang

pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan.. Hutang lancar meliputi: hutang dagang, hutang wesel, hutang pajak, biaya yang masih harus dibayar, hutang jangka panjang yang segera jatuh tempo, penghasilan yang diterima di muka. 2) Hutang Jangka Panjang Merupakan kewajiban keuangan yang jangka waktu

pembayarannya akan dilakukan dalam jangka panjang (lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca). Hutang jangka panjang meliputi : hutang obligasi, hutang hipotik, pinjaman jangka panjang yang lainnya. c. Modal Menurut S. munawir (2002 : 19), modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam modal saham, surplus dan laba yang ditahan. 7

Bambang Riyanto (2001:227), modal pada umumnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu : 1) Modal sendiri adalah modal yang berasal dari pemilik

perusahaan yang ditanam dalam perusahaan untuk waktu tidak tentu lamanya. 2) Modal asing adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang sifatnya sementara bekerja dalam perusahaan dan bagi perusahaan yang bersangku tan modal tersebut merupakan

hutang yang pada saatnya harus dibayar kembali. Dalam pembuatan suatu neraca perusahaan, maka bentuk susunan neraca tidak ada keseragaman di antara perusahaan tergantung pada tujua