Referat Switch Therapy

Click here to load reader

download Referat Switch Therapy

of 31

  • date post

    09-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    137
  • download

    8

Embed Size (px)

description

antibiotik intravena oral

Transcript of Referat Switch Therapy

Refrat Switch Theraphy Yudhy Nugraha FK UPN Veteran Jakarta

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Peralihan terapi dari intravena (IV) ke oral (PO) dilakukan sesegera mungkin setelah pasien secara klinis stabil dapat mengurangi masa rawat inap dan biaya perawatan. Sementara obat intravena mungkin lebih bioavailable dan memiliki efek yang lebih besar, beberapa obat oral memerlukan beberapa waktu untuk menghasilkan tingkat serum dibandingkan dengan bentuk parenteral. Obat yang terlibat dalam terapi beralih termasuk antibiotik, analgesik, antipsikotik, dan antivirus. Apoteker juga memiliki inisiatif untuk mengurus penggunaan antibiotic dan juga dapat membantu peralihan terapi dari parenteral menjadi terapi oral.2 1

Peralihan terapi dari intravena

menjadi oral dapat dilakukan, dan hasil positif telah dilaporkan dari penelitian di bangsal medis. Selain itu, tahun 2008 meta-analisis menemukan bahwa beralihnya

terapi intravena lebih awal terhadap antibiotik oral mungkin dalam sedang sampai parah ditemukan terbanyak pada pasien komunitas-pneumonia (CAP)3, kuinolon dapat diaktifkan secara efektif dan cepat dari infus untuk formulasi oral ketika pasien dapat mentolerir obat oral.4 Banyak dokter tidak menyadari pedoman lisan untuk intravena untuk lisan, pemikiran mereka rumit oleh pasien dengan masalah yang kompleks.5 Meskipun demikian pedoman tersebut dapat membantu dokter membuat keputusan yang tepat untuk melakukan peralihan pada pasien yang tepat.

B. Tujuan Pembuatan Refrat Penulisan referat berjudul Switch Therapy ini bertujuan untuk menjelaskan definisi, jenis-jenis antibiotik, indikasi penggunaan antibiotik, alur pelaksanaan peralihan terapi intravena menjadi oral, serta persyaratan dalam melakukan Switch Therapy sehingga mendapatkan prognosis yang baik dan keselamatan pasien terjamin. Diharapkan dalam penulisan referat ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca terutama yang memiliki interaksi secara langsung dalam penanganan terhadap pasien dengan Switch Therapy agar bisa m endapatkan penanganan yang baik dan tepat.

Page 1 of 31

Refrat Switch Theraphy Yudhy Nugraha FK UPN Veteran Jakarta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Penggunaan Antibiotik Di Rumah Sakit Karena biasanya antibiotika bekerja sangat spesifik pada suatu proses, mutasi yang mungkin terjadi pada bakteri memungkinkan munculnya strain bakteri yang kebal terhadap antibiotika. Itulah sebabnya, pemberian antibiotika biasanya diberikan dalam dosis yang menyebabkan bakteri segera mati dan dalam jangka waktu yang agak panjang agar mutasi tidak terjadi. Penggunaan antibiotika yang tanggung hanya membuka peluang munculnya tipe bakteri yang kebal. Pemakaian antibiotika di bidang pertanian sebagai antibakteri umumnya terbatas karena dianggap mahal, namun dalam bioteknologi pemakaiannya cukup luas untuk menyeleksi sel-sel yang mengandung gen baru. Praktik penggunaan antibiotika ini dikritik tajam oleh para aktivis lingkungan karena kekhawatiran akan munculnya hama yang tahan antibiotika.1,3 Indikasi pemakaian antibiotika :

Indikasi yang tepat dan benar dalam pemberian antibiotika pada anak adalah bila penyebab infeksi tersebut adalah bakteri. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention) indikasi pemberian antibiotika adalah bila batuk dan pilek yang berkelanjutan selama lebih 10 14 hari.yang terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi hari). Batuk malam dan pagi hari biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi dan tidak perlu antibiotika

Indikasi lain bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti panas > 39 C dengan cairan hidung purulen, nyeri, pembengkakan sekitar mata dan wajah. Pilihan pertama pengobatan antibiotika untuk kasus ini cukup dengan pemberian Amoxicillin, Amoxicillinm atau Clavulanate. Bila dalam 2 3 hari membaik pengobatan dapat dilanjutkan selama 7 hari setelah keluhan membaik atau biasanya selama 10 14 hari.

Indikasi lainnya adalah radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus. Penyakit ini pada umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih. Pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini. Penyakit yang lain yang harus mendapatkan antibiotika adalahPage 2 of 31

Refrat Switch Theraphy Yudhy Nugraha FK UPN Veteran Jakarta

infeksi saluran kemih dan penyakit tifus Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur darah atau urine. Apabila dicurigai adanya infeksi saluran kemih, dilakukan pemeriksaan kultur urine. Setelah beberapa hari akan diketahui bila ada infeksi bakteri berikut jenis dan sensitivitas terhadap antibiotika. Untuk mengetahui penyakit tifus harus dilakukan pemeriksaan darah Widal dan kultur darah gal. Anak usia di bawah 5 tahun yang mengalami infeksi virus sering mengalami overdiagnosis penyakit Tifus. Sering terjadi kesalahan persepsi dalam pembacaan hasil laboratorium. Infeksi virus dengan peningkatan sedikit pemeriksaan nilai widal sudah divonis gejala tifus dan dihantam dengan antibiotika.

Sebagian besar kasus penyakit pada anak yang berobat jalan penyebabnya adalah virus. Dengan kata lain seharusnya kemungkinan penggunaan antibiotika yang benar tidak besar atau mungkin hanya sekitar 10 15% penderita anak. Penyakit virus adalah penyakit yang termasuk self limiting disease atau penyakit yang sembuh sendiri dalam waktu 5 7 hari. Sebagian besar penyakit infeksi diare, batuk, pilek dan panas penyebabnya adalah virus. Secara umum setiap anak akan mengalami 2 hingga 9 kali penyakit saluran napas karena virus. Sebaiknya jangan terlalu mudah mendiagnosis (overdiagnosis) sinusitis pada anak. Bila tidak terdapat komplikasi lainnya secara alamiah pilek, batuk dan pengeluaran cairan hidung akan menetap paling lama sampai 14 hari setelah gejala lainnya membaik

Sebuah penelitian terhadap gejala pada 139 penderita pilek(flu) karena virus didapatkan bahwa pemberian antibiotik pada kelompok kontrol tidak memperbaiki cairan mucopurulent dari hidung. Antibiotika tidak efektif mengobati Infeksi saluran napas Atas dan tidak mencegah infeksi bakteri tumpangan. Sebagian besar infeksi Saluran napas Atas termasuk sinus paranasalis sangat jarang sekali terjadi komplikasi bakteri.

Di Amerika Serikat, karena upaya kampanye dan pendidikan terus menerus terhadap masyarakat dan dokter ternyata dapat menurunkan penggunaan antibiotika secara drastis. Proporsi anak usia 0 4 tahun yang mendapatkan antibiotika menuirun dari 47,9% tahun 1996 menjadi 38,1% tahun 2000. Jumlah rata-rata antibiotika yang diresepkan menurun, dari 47.9 1.42 peresepan per anak tahun 1996 menjadi 0.78Page 3 of 31

Refrat Switch Theraphy Yudhy Nugraha FK UPN Veteran Jakarta

peresepan per anak tahun 2000. Rata-rata pengeluaran biaya juga dapat ditekan cukup banyak, padfa tahun 1996 sebesar $31.45 US menjadi $21.04 per anak tahun 2000. Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter di Amerika Serikat yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Kampanye ini sudah dilakukan di Amerika Serikat sepuluh tahun yang lalu, pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Saluran Pernapasan Atas yang disebabkan virus :3

Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupakan indikasi antibiotika.

Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri.

Upaya ini seharusnya menjadi contoh yang baik terhadap intitusi yang berwenang di Indonesia dalam mengatasi permasalahan pemberian antibiotika ini. Melihat rumitnya permasalahan pemberian antibiotika yang irasional di Indonesia tampaknya sangat sulit dipecahkan. Tetapi kita harus yakin dengan kemauan keras, niat yang tulus dan keterlibatan semua pihak maka permasalahan ini dapat diatasi. Jangan sampai terjadi, kita baru tersadar saat masalah sudah dalam keadaan yang sangat serius.3 Kuantitas penggunaan antibiotic adalah jumlah penggunaan antibiotic di rumah sakit yang diukur secara retrospektif dan prospektif dan melalui studi validasi. Studi validasi adalah studi yang dilakukan secara prospektif untuk mengetahui perbedaan antara jumlah antibiotic yang benar-benar digunakan pasien dibandingkan dengan yang tertulis direkam medik. Persentase pasien yang mendapat terapi antibiotic selama rawat inap dirumah sakit. Jumlah penggunaan antibiotic dinyatakan sebagai dosis harian ditetapkan dengan Defined Daily Doses (DDD) / 100patientdays. DDD adalah asumsi dosis rata-rata perhari penggunaan antibiotic untuk indikasi tertentu pada orang dewasa. Untuk memperoleh data baku dan supaya dapat dibandingkan data ditempat lain maka WHO merekomendasikan klasifikasi penggunaan antibiotic secara Antomical Therapeutic Chemical (ATC) Classification (GouldIM,2005).1Page 4 of 31

Refrat Switch Theraphy Yudhy Nugraha FK UPN Veteran Jakarta

Kualitas penggunaan antibiotic dapat dinilai dengan melihat rekam pemberian antibiotic dan rekam medic pasien. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian diagnosis (gejala klinis dan hasil laboratorium), indikasi, regimendosis, keamanan dan harga. Alur penilaian menggunakan kategori / klasifikasi Gyssens. Kategori hasil penilaian kualitatif penggunaan antibiotic sebagai berikut (Gyssens IC, 2005):1 Kategori 0 = Penggunaan antibiotic tepat/bijak Kategori I = Penggunaan antibiotic tidak tepat waktu Kategori II A = Penggunaan antibiotic tidak tepat dosis Kategori II B = Penggunaan antibiotic tidak tepat interval pemberian Kategori II C = Penggunaan antibiotic tidak tepat cara / rute pemberian Kategori III A = Penggunaan antibiotic