Proposal Ayu Azhar - Penurunan Kadar BOD COD

download Proposal Ayu Azhar - Penurunan Kadar BOD COD

of 30

  • date post

    19-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.275
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of Proposal Ayu Azhar - Penurunan Kadar BOD COD

BAB I PENDAHULUAN

1. 1.

Latar Belakang Air yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup sehat harus memenuhi

syarat kualitas. Disamping itu harus pula dapat memenuhi secara kuantitas (jumlahnya). Sumber air yang digunakan sehari-hari haruslah memenuhi syaratsyarat kesehatan serta syarat kualitas kuantitas. Air di bumi selalu mengalami siklus hidrologi sehingga dikenal 4 (empat) sumber air di bumi yaitu air laut; air tanah; air atmosfir, air meteorologik; air permukaan. Air permukaan terbagi 2 macam, yakni air sungai dan air rawa/danau Sungai dapat berfungsi sebagai sumber mata pencaharian, sumber air untuk kegiatan pertanian dan budidaya perikanan serta menunjang berbagai jenis kegiatan industri. Salah satu sungai yang memiliki peran dalam menunjang beragam aktivitas tersebut adalah Sungai Riam Kanan. Sungai Riam Kanan merupakan salah satu dari sungai di Kalimantan Selatan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk melakukan aktivitas seharihari. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2011 tercatat jumlah penduduk yang tinggal di sekitar kawasan Sungai Riam Kanan berjumlah 38.925 jiwa yang terbagi dalam 2 kecamatan : 30.679 penduduk di Kecamatan Karang Intan dan 8.246 penduduk di Kecamatan Aranio. Selain aktivitas rumah tangga, di Sungai Riam Kanan juga terdapat aktivitas budidaya ikan dengan sistem keramba dan jaring apung yang merupakan sumber mata pencaharian masyarakat yang hidup disekitar kawasan sungai ini. Jumlah keramba dan jaring apung yang terdapat di sepanjang DAS Riam Kanan Berdasarkan Data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Banjar pada tahun 2011 adalah 3105 unit yang terbagi dalam 2 kecamatan : 951 unit terdapat Kecamatan Aranio dan Kecamatan Karang Intan dengan jumlah 2.154 unit. Dari gambaran aktivitas yang telah dipaparkan diatas, aktivitas-aktivitas tersebut memiliki potensi dalam menyumbang masuknya bahan organik ke badan air. Oleh karena itu sungai ini memiliki potensi tercemar bahan pencemar organik. Diantara bahan pencemar organik yang ada, BOD dan

1

COD memiliki potensi keberadaan yang tinggi di kawasan ini. Uji pendahuluan yang telah dilakukan diketahui bahwa kadar BOD sebesar 5,14 mg/l yang artinya nilai BOD tersebut melebihi baku mutu air kelas 1 yang mensyaratkan kandungan BOD maksimal 2 mg/l. Sedangkan kadar COD yang dilihat dari data sekunder dari BLHD tahun 2009 dan 2010 cenderung berubah-ubah, tidak selalu dalam kadar yang tinggi. BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan hampir semua bahan organik yang terlarut dan sebagai zat-zat organis yang tersuspensi dalam air. COD menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi di dalam air, baik yang dapat didegradasi secara maupun yang sukar di degradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O guna menguraikan unsur pencemar yang ada. Masuknya zat organik kedalam badan sungai dapat disebabkan oleh aktivitas manusia yang menbuang air buangan dalam air sungai. Selain itu, adanya keramba dan jaring apung juga ikut menyumbangkan bahan organik ke badan air karena adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari pakan ikan yang tidak habis termakan terakumulasi di perairan dan kotoran ikan dari hasil metabolisme pakan yang terbuang ke dalam perairan. BOD dan COD digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran dalam suatu perairan. Bila nilai BOD dan COD suatu perairan tinggi menunjukkan bahwa perairan tersebut sudah tercemar. Pencemaran yang pada badan air dapat ditanggulangi dengan cara pemanfaatan tanaman air untuk mengikat bahan pencemar yang disebut dengan fitoremidiasi. Fitoremidiasi yaitu penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan , menstabilkan, atau menghancurkan bahan pencemar baik senyawa organik maupun senyawa anorganik. Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan dalam fitoremidiasi adalah eceng gondok (Eichornia crassipes). Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Oleh karena itu, eceng gondok banyak dibersihkan di sungai oleh penduduk karena dianggap gulma.

2

Berdasarkan studi literatur, eceng gondok memiliki kemampuan untuk menurunkan BOD, COD, TSS, Pb dan Cd dalam air lindi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas penutupan Eceng gondok 75% optimal dalam menurunkan kadar BOD, TSS dan Pb yaitu berturut-turut sebesar 53,812%; 62,843% dan 34,919% dan luas penutupan Eceng gondok 100% optimal menurunkan COD dan Cd masing-masing sebesar 29,215% dan 29,279%. Waktu tinggal 6 hari optimal dalam menurunkan kadar BOD, COD, TSS, Pb, dan Cd berturut-turut sebesar 49,441%; 29,939%; 47,215%; 19,252% dan 27,211%. Kombinasi luas penutupan Eceng gondok 75% dengan lama waktu tinggal 6 hari optimal dalam menurunkan BOD, TSS, Pb dan Cd berturut-turut sebesar 59,193%; 65,142%; 24,981% dan 39,770% sedangkan kombinasi luas penutupan Eceng gondok 100% dengan waktu tinggal 5 hari optimal dalam menurunkan kadar COD yaitu sebesar 30,658%. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pemanfaatan tanaman eceng gondok untuk menurunkan BOD dan COD dengan menggunakan reaktor kontinyu yang dilihat dari persentase tutupan tanaman dan lama waktu tinggalnya dengan skala laboratorium. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat berapa banyak jumlah kadar BOD dan COD yang tersisa di air sampel setelah dilakukan fitoremidiasi oleh eceng gondok tanpa membuat oksigen terlarut (DO) menjadi turun. Kadar BOD dan COD diduga tinggi di Sungai Riam Kanan karena aktivitas penduduk dan kegiatan keramba serta jaring apung. Hal ini dikarenakan ada sekitar lebih dari 38.000 penduduk sekitar Sungai Riam Kanan yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas penangkapan dan budidaya yang ada di sekitar sungai Riam Kanan selain aktivitas lainnya seperti industri rumah tangga dan pertambangan. Jika memang benar terdapat banyaknya kandungan nitrat dan fosfat maka akan menimbulkan pencemaran air sedangkan di Sungai Riam Kanan dipergunakan pula untuk intake PDAM untuk kebutuhan air seharihari 520.721 penduduk.

3

1. 2.

PERUMUSAN MASALAH Dari latar belakang masalah tersebut, dapat dirumuskan masalah yang

akan dibahas dalam penelitian ini. Perumusan masalah yang didapatkan adalah sebagai berikut : a) Berapakah lama waktu tinggal Eceng Gondok (Eichornia crassipes) yang dibutuhkan untuk penurunan kadar BOD dan COD secara maksimal? b) Bagaimana pengaturan persentase tutupan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) untuk penurunan kadar BOD dan COD tanpa mengurangi kadar oksigen terlarut (DO) ?

1.3.

RUANG LINGKUP PENELITIAN

a) Tanaman yang digunakan adalah tanaman Eceng Gondok (Eichornia crassipes). b) Eceng Gondok (Eichornia crassipes) yang digunakan akan dianggap homogen dari segi tinggi tanaman. c) Variabel yang digunakan adalah waktu detensi (1 hari, 3 hari dan 5 hari) dan tutupan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) sebesar 0%, 25 %, 50%, 75% dan 100%. d) Sumber air berasal dari air sungai Riam Kanan di Kecamatan Karang Intan, Kab Banjar dengan teknik pengambilan sampel berdasarkan SNI

6989.57.2008.

1.4.

BATASAN PENELITIAN

a) Penelitian ini hanya terbatas untuk mengetahui penurunan BOD dan COD pada air sampel sungai setelah melalui proses fitoremidiasi tanpa mengurangi kadar oksigen terlarut (DO). b) Penelitian hanya memperhatikan 2 parameter utama yaitu BOD dan COD serta parameter pendukung yaitu DO. c) Penelitian ini hanya pada skala laboratorium bukan skala lapangan.

4

1.5.

TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah :

a) Menentukan lama waktu tinggal yang dibutuhkan oleh Eceng Gondok (Eichornia crassipes) untuk penurunan kadar BOD dan COD secara maksimal. b) Menentukan persentase tutupan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) untuk penurunan BOD dan COD tanpa menurunkan kadar oksigen terlarut (DO).

1. 3.

MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan menjadi alternatif untuk menanggulangi

pencemaran bahan organik di sungai dengan memanfaatkan

Eceng gondok

(Eichornia crassipes) yang banyak terdapat disungai sehingga Eceng gondok (Eichornia crassipes) yang dikenal sebagai gulma dapat memberikan manfaat dalam menanggulangi pencemaran bahan organik di lingkungan perairan.

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 2.1.1

Eceng Gondok (Eichornia crassipes) Klasifikasi Eceng Gondok Divisi Sub Divisi Kelas Suku Marga Jenis : Spermatophhyta : Angiospermae : Monocotyledoneae : Pontederiaceae : Eichhornia : Eichhornia crassies Solms

Gambar 2.1 Eceng Gondok (sumber: satudunia.net). Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon, Brasil. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan (Triyanto, 2010). Orang lebih banyak mengenal tanaman ini tumbuhan pengganggu (gulma) diperairan karena pertumbuhannya sangat cepat. Awalnya didatangkan ke Indonesia pada tahun 1894 dari Brasil untuk koleksi Kebun Raya Bogor. Ternyata dengan cepat menyebar ke beberapa perairan di Pulau Jawa. Dalam perkembangannya, tanaman keluarga Pontederiaceae ini justru mendatangkan

6

manfaat lain, yaitu sebagai biofilter cemaran logam berat, sebagai bahan kerajinan dan campuran pakan ternak (Mukti, 2008). Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam lumpur. Tingginya sekitar 0,4 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan membentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing. Pangkal, tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hij