Potensi Daur Ulang serta Alur Perjalanan Material Daur ...

of 12 /12
Potensi Daur Ulang serta Alur Perjalanan Material Daur Ulang (Studi Kasus: TPST Ancol, Jakarta Utara) Defiana Darmastuti 1 , Djoko M Hartono 2 1. Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia 2. Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia E-mail:[email protected] Abstrak Timbulan sampah di Tempat Rekreasi terus meningkat akibat pertambahan jumlah pengunjung wisata yang semakin meningkat setiap tahunnya. Ancol merupakan tempat rekreasi yang telah memiliki Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) sebagai upaya mengurangi timbulan sampah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi daur ulang serta alur perjalanan material sampah daur ulang di TPST Ancol. Untuk pemerolehan data dapat dilakukan dengan pemilahan sampah sesuai SNI 19-3964-1994, wawancara serta survey lapangan. Dari pelaksaan penelitian diperoleh recovery rate berdasarkan literatur US EPA, 1994 adalah 89,94 %, dan untuk nilai recycling rate berdasarkan literatur US EPA, 1994 adalah 20,17% walaupun nilai recycling rate dari penjualan material daur ulang mencapai 5,89%. Keuntungan ekonomi yang diperoleh setiap harinya adalah Rp 131.900,- namun tidak termasuk keuntungan kompos. Perjalanan material daur ulang sampah, dimulai dari TPST Ancol, lapak besar, dan indsutri daur ulang. Residu sampah yang diperoleh di TPST Ancol, terdiri dari popok bayi, pembalut, tekstil, sterefoam, plastik kemasan, tisu, debu, kayu, serta ayakan kompos. Sedangkan upaya peningkatan daur ulang adalah dari segi kinerja TPST Ancol, pelaku daur ulang dan kualitas sampah yang dijual. Melalui nilai recycling rate eksisting menunjukkan TPST Ancol belum optimum mencapai nilai recycling rate yang seharusnya bisa diperoleh, sehingga pencapaiaan nilai ekonomi belum maksimum. Recycling Rate with Flow of Material Recycling Waste (Case Study: Material Recovery Facility Ancol, Jakarta) Abstract Solid waste generation amusement park continues to increase due to the increasing number of visitors are increasing every year. Ancol is a recreation place that has owned Material Recovery Facility (MRF) as an effort to reduce solid waste generation. This research was conducted to find out recycling rate with recycling of recycle waste material at Ancol’s MRF. To obtain data can be done by sorting waste according to SNI 19-3964- 1994, interview and observation. From the research, the recovery rate based on US EPA literature, 1994 was 89,94%, and for the recycling rate based on US EPA literature, 1994 was 20,17% although the recycling rate of recycled material sales reached 5,89%. Economic profit earned per day is Rp 131.900, - but excludes compost benefits. Flow of waste recycling materials, starting from Ancol’s MRF, large stalls, and recycling industries. The waste residue obtained at the Ancol’s MRF, consisting of baby diapers, bandages, textiles, sterefoam, plastic packaging, tissue, dust, wood, and compost sieve. While efforts to increase recycling is from the aspect of performance of Ancol TPST, recycling agents and quality of waste sold. Through the existing recycling rate, the Ancol TPST is not yet optimum to reach the recycling rate that should be obtained, so that the economic value is also not maximized. Keywords: MRF, amusement park, material flow, recycling waste, economy value Potensi daur ..., Defiana Darmastuti, FT UI, 2017

Embed Size (px)

Transcript of Potensi Daur Ulang serta Alur Perjalanan Material Daur ...

Microsoft Word - defiana_darmastuti-skripsi-fakultas_teknik-naskah_ringkas-2017_2-1.docxPotensi Daur Ulang serta Alur Perjalanan Material Daur Ulang (Studi Kasus: TPST Ancol, Jakarta Utara)
Defiana Darmastuti1, Djoko M Hartono2
1. Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia 2. Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
E-mail:[email protected]
Abstrak
Timbulan sampah di Tempat Rekreasi terus meningkat akibat pertambahan jumlah pengunjung wisata yang semakin meningkat setiap tahunnya. Ancol merupakan tempat rekreasi yang telah memiliki Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) sebagai upaya mengurangi timbulan sampah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi daur ulang serta alur perjalanan material sampah daur ulang di TPST Ancol. Untuk pemerolehan data dapat dilakukan dengan pemilahan sampah sesuai SNI 19-3964-1994, wawancara serta survey lapangan. Dari pelaksaan penelitian diperoleh recovery rate berdasarkan literatur US EPA, 1994 adalah 89,94 %, dan untuk nilai recycling rate berdasarkan literatur US EPA, 1994 adalah 20,17% walaupun nilai recycling rate dari penjualan material daur ulang mencapai 5,89%. Keuntungan ekonomi yang diperoleh setiap harinya adalah Rp 131.900,- namun tidak termasuk keuntungan kompos. Perjalanan material daur ulang sampah, dimulai dari TPST Ancol, lapak besar, dan indsutri daur ulang. Residu sampah yang diperoleh di TPST Ancol, terdiri dari popok bayi, pembalut, tekstil, sterefoam, plastik kemasan, tisu, debu, kayu, serta ayakan kompos. Sedangkan upaya peningkatan daur ulang adalah dari segi kinerja TPST Ancol, pelaku daur ulang dan kualitas sampah yang dijual. Melalui nilai recycling rate eksisting menunjukkan TPST Ancol belum optimum mencapai nilai recycling rate yang seharusnya bisa diperoleh, sehingga pencapaiaan nilai ekonomi belum maksimum.
Recycling Rate with Flow of Material Recycling Waste (Case Study: Material Recovery Facility Ancol, Jakarta)
Abstract
Solid waste generation amusement park continues to increase due to the increasing number of visitors are increasing every year. Ancol is a recreation place that has owned Material Recovery Facility (MRF) as an effort to reduce solid waste generation. This research was conducted to find out recycling rate with recycling of recycle waste material at Ancol’s MRF. To obtain data can be done by sorting waste according to SNI 19-3964- 1994, interview and observation. From the research, the recovery rate based on US EPA literature, 1994 was 89,94%, and for the recycling rate based on US EPA literature, 1994 was 20,17% although the recycling rate of recycled material sales reached 5,89%. Economic profit earned per day is Rp 131.900, - but excludes compost benefits. Flow of waste recycling materials, starting from Ancol’s MRF, large stalls, and recycling industries. The waste residue obtained at the Ancol’s MRF, consisting of baby diapers, bandages, textiles, sterefoam, plastic packaging, tissue, dust, wood, and compost sieve. While efforts to increase recycling is from the aspect of performance of Ancol TPST, recycling agents and quality of waste sold. Through the existing recycling rate, the Ancol TPST is not yet optimum to reach the recycling rate that should be obtained, so that the economic value is also not maximized. Keywords: MRF, amusement park, material flow, recycling waste, economy value
Potensi daur ..., Defiana Darmastuti, FT UI, 2017
Pendahuluan
Pertumbuhan penduduk telah meningkat sangat cepat dan dalam beberapa dekade terakhir,
lebih dari setengah populasi di dunia sekarang tinggal di pusat perkotaan (Tacoli, 2012;
UNPD, 2012a). Pada tahun 2050 penduduk yang tinggal di kota mungkin akan mencapai 86
% untuk di negara-negara maju dan 64% untuk negara berkembang (UNPD, 2012a).
Pertumbuhan penduduk di perkotaan yang cepat menyebabkan penggunaan lahan dan
pembangunan infrastruktur, serta menjadi tantangan untuk pengelolaan limbah padat.
Kepemerintahan dan institusi pengelolaan limbah padat memiliki dana untuk memenuhi
meningkatnya permintaan untuk pelayanan manajemen pengelolaan limbah padat (Tacoli,
2012). Pengelolaan limbah padat merupakan salah satu yang memerlukan biaya tinggi untuk
beberapa kota (World Bank, 2012; UN-HABITAT, 2010).
Hirarki sampah yang digunaan secara global adalah sebagai penunjang komunikasi untuk
mengingatkan orang-orang yang menghasilkan sampah dan orang-orang yang mengelola
sampah tersebut, bahwa mencegah limbah melalui penggunaan yang efisien dari sumber dan
dan bahan bakunya adalah pilihan langkah yang terbaik (UNEP, 2011). Peningkatan
kelangkaan sumber daya alam dan konsekuensi meningkatnya kenaikan harga komoditas
telah mempengaruhi permintaan produk-produk daur ulang. Nilai penggunaan sumber yang
digunakan kembali seperti limbah telah menjadi faktor pendorong penting di banyak negara
berkembang dan menyediakan mata pencaharian masyarakat di perkotaan yang
berpendapatan rendah (UN-HABITAT, 2010). Daur ulang sampah dari kertas, gelas dan
plastik memiliki keuntungan dan sama baiknya seperti proses pengomposan dan pengolahan
limbah seperti digestion of bio-waste (World Bank, 2012). Pada pasar dunia untuk
pengelolaan limbah, dari pengumpulan untuk daur ulang, memiliki keuntungan yang
diestimasikan sekitar US $410 billion pertiap tahunnya (Chalmin and Gaillochet, 2009).
Tempat wisata adalah salah satu kegiatan yang menghasilkan limbah padat. Tempat wisata di
Indonesia merupakan keunggulan yang ditawarkan oleh Indonesia untuk meningkatkan
pendapatan. Sektor parawisata bahkan tahun 2015 menunjukan kontribusi meningkat
terhadap PDB nasional sebesar 4.23 % atau senilai Rp 461,36 triliun. Pada kondisi mikro,
ditandai peningkatan jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 10,4 juta dan wisatawan
nusantara sebanyak 255, 20 juta perjalanan. Berdasarkan penilaiaan WEF (World Economic
Forum) tahun 2015 posisi Indonesia untuk aspek daya saing kepariwisataan meningkat
signifikan dari rangking 70 dunia menjadi rangking 50 di tahun 2015.
Potensi daur ..., Defiana Darmastuti, FT UI, 2017
Berdasarkan laporan tahunan PT. Pembangunan Jaya Ancol tahun 2016, adanya kenaikan
jumlah pengunjung di Taman Impian Jaya Ancol meningkat dari 2.005.328 di tahun 2014
menjadi 2.133.587 pengunjung di tahun 2015. Kepadatan yang terjadi di kawasan Pantai
Ancol, diikuti dengan meningkatnya sampah yang dihasilkan. Peningkatan jumlah
pengunjung setiap tahunnya, akan disertai kenaikan jumlah volume sampah.
Pada penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja program daur ulang sampah dan potensi
recovery di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Ancol (TPST Ancol), Jakarta Utara. TPST
Ancol dipilih sebagai studi kasus kali ini, karena jumlah pengunjung semakin meningkat
setiap tahunya dan menghasilkan volume limbah yang sangat tinggi. Selain itu Ancol sejak
tahun 2002 memiliki visi “melakukan pemanfaatan sampah tanpa sisa (zero waste system)
untuk mewujudkan lingkungan bersih. Akan tetapi dari kondisi lapangan menunjukkan masih
menghasilkan reduksi sampah yang dikirim ke TPA Bantar Gebang. Melalui penelitian ini,
faktor-faktor nilai dan pemulihan ekonomi akan dihitung, dan beberapa tantangan dan
peluang yang dibahas sebagai saran penelitian, kemudian juga meninjau perjalanan material
daur ulang sampah.
Tinjauan Teoritis Daur ulang merupakan kegiatan pengumpulan dan pemilahan barang yang tidak digunakan
dan kemudian mengkonversinya menjadi suatu bahan baku produksi yang memiliki nilai
ekonomi dan bisa untuk menghasilkan produk baru (EPA,1994). Potensi daur ulang
(Recycling Rate) adalah seberapa besar sampah yang bisa di daur ulang kemudian dibagi
dengan total timbulan sampah yang dihasilkan (EPA, 1994). Jumlah ini sering digunakan
oleh masyarakat, negara bagian yang ingin mengetahui potensi daur ulang suatu wilayah.
Namun kekurangan dari daur ulang tidak benar-benar memberi tahu seberapa baik kita
melakukannya.
Sampah yang di-recovery merupakan total timbulan sampah yang bisa di daur ulang dengan
sampah yang bisa dikomposkan, serta sampah yang bisa menjadi bahan baku untuk sumber
energi (EPA,1994). Masyarakat kebanyakan tidak menggunakan perhitungan recovery rate
karena mereka tidak memiliki data jenis komposisi sampah yang dibuang. Recovery rate
lebih baik pengukurannya dibandingkan dengan recycling rate dari masyarakat. Dengan nilai
recovery rate dapat memberi tahu seberapa banyak material yang telah dialihkan dari,
sedangkan recycling rate tidak (Delaware Solid Waste Authority, 2016).
Potensi daur ..., Defiana Darmastuti, FT UI, 2017
Hirarki pengelolaan sampah bisa berfungsi untuk peringkat aksi implementasi program dalam
komuntas. Hirarki pengelolaan sampah menurut EPA (2015) adalah dengan mengutamakan
kegiatan menghindari dan mengurangi timbulan sampah (avoiding and reducing waste),
memulihkan sumber daya (recovering resources), pembuangan (disposal).
Kegiatan menghindari dan mengurangi Timbulan Sampah (avoiding and reducing waste).
Menghindari menjadi prioritas tertinggi, menghindari dan mengurangi pembentukan limbah
padat, serta juga mendorong masyarakat, industri dan pemerintah untuk mengurangi jumlah
material yang diperoleh dengan mebuat yang baru dan digunakan. Tujuan untuk menghindari
dan mengurangi timbulan sampah adalah untuk memaksimalkan efisiensi dan menghindari
konsumsi yang tidak perlu melalui perilaku seperti memilih item dengan kemasan yang
sedikit atau yang kemasan yang hanya membutuhkan sumber daya paling sedikit untuk
dijadikan kemasan, menghindari barang sekali pakai atau bahan lainnya yang hanya bisa
digunakan sekali pakai dan contoh lainnya.
Prioritas kedua dalam pengelolaan sampah adalah pemulihan sumber daya (Recovering
Resources), hal ini dapat dilakukan dengan cara memaksimalkan pilihan untuk menggunakan
kembali (reuse), daur ulang (recycle), pengolahan dan pemulihan energy (recovery energy).
Proses tersebut dilakukan dimana saat proses menghindari dan mengurangi timbulan sampah
(avoiding and reducing) tidak mungkin dilakukan. Pilihan menggunakan kembali (reuse),
daur ulang (recycle), pengolahan dan pemulihan energy (recovery energy) dilakukan untuk:
menggunakan kembali bahan tanpa pengolahan lebih lanjut, menghindari biaya energi dan
sumber daya lainnya yang diperlukan untuk daur ulang. Sebagai contoh, banyak peralatan
rumah tangga dan industri dapat diperbaiki, digunakan kembali, menjual atau disumbangkan
untuk amal danmenggunakan kembali (tanpa diproses lebih lanjut) dan daur ulang
(pengolahan limbah bahan untuk membuat produk yang sama atau berbeda) membuat bahan
dalam ekonomi produktif dan manfaat lingkungan dengan mengurangi kebutuhan bahan-
bahan baru dan penyerapan sampah. Disaat proses daur ulang sudah tidak layak,
dimungkinkan untuk memulihkan energi dari material sampahyang digunakan sebagai
feedstock yang kembali menjadi keuntungan ke dalam perekonomian di mana hal ini diterima
oleh masyarakat. Akan tetapi terdapat beberapa jenis sampah yang mungkin tidak sesuai
untuk di reuse , recycle atau recovery energy dan kemudian diperlukan perawatan untuk
menstabilkan timbulan sampah dan meminimalkan mereka lingkungan atau dampak
kesehatan.
Langkah ke-tiga Disposal (Pembuangan) sampah, seperti bahan kimia berbahaya atau asbes,
tidak dapat dengan aman didaur ulang atau melakukan pembuangan pilihan manajemen yang
paling sesuai. Sampah yang dibuang ke landfill adalah sampah yang tidak bisa dicegah
menuju ke bagian disposal karena tidak bisa dimanfaatkan kembali setelah melalui proses
reduce, reuse, recyling dan recovery energy.
Metode Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di TPST Ancol, Jakarta Utara yang telah menerapkan program
3R-P (Laporan Tahunan PT. Pembangunan Jaya Ancol 2015). Timbulan sampah di TPST
Ancol setiap hari yang bersumber dari Dunia Fantasi, Gelanggang Samudra, Seaworld,
Atlantis, Echo Park, dan Ecovention dalam kurun waktu yang tidak tentu.
Pada penelitian ini akan menggunakan 2 macam pendekatan, yakni pendekatan kuantitatif
dan kualitatif. Pada penelitian ini, terdiri dari 6 tujuan, yang ditentukan penulis, yaitu:1.
Menghitung timbulan sampah di TPST Ancol; 2. Menghitung komposisi sampah di TPST
Ancol; 3. Menghitung recycling rate dan potensi daur ulang sampah di TPST Ancol.; 4.
Menghitung recovery rate sampah di TPST Ancol; 5. Menghitung keuntungan ekonomi dari
penjualan material daur ulang, sampah TPST Ancol dan 6. Mengetahui alur material daur
ulang sampah TPST Ancol. Untuk tujuan pertama, kedua, dan ketiga bisa menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan menggunakan SNI 19-3964-1994. Sedangkan untuk tujuan
penelitian keempat, kelima dan keenam bisa memperoleh data dengan melakukan pendekatan
secara kualitatif, baik dengan melakukan observasi atau wawancara dan pendekatan kuantitif
untuk mencapai tujuan.
Pada penelitian, memiliki banyak variabel yang digunakan sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai, yaitu timbulan sampah di TPST Ancol setiap hari yang bersumber dari Dunia
Fantasi, Gelanggang Samudra, Seaworld, Atlantis, Echo Park, dan Ecovention dalam kurun
waktu yang tidak tentu, komposisi sampah di TPST Ancol dan sumber sampah setiap hari,
residu sampah di TPST Ancol dan sumber sampah setiap hari, recovery rate sampah yang
masuk di TPST Ancol, jumlah sampah yang bisa didaur ulang dalam waktu setiap hari di
TPST Ancol dan sumber sampah, alur perjalanan material sampah daur ulang di TPST Ancol
dan sumber sampah, pelaku daur ulang sampah di TPST Ancol dan sumber sampah dan
jumlah truk sampah yang ada dan waktu pengangkutan sampah.
Potensi daur ..., Defiana Darmastuti, FT UI, 2017
Populasi pada penelitian adalah sampah di TPST Ancol dan pelaku daur ulang sampah.
Sampah yang ada di TPST Ancol, diukur dengan menggunakan total timbulan sampah,
komposisi, jumlah daur ulang, serta residu. Dengan mengetahui pelaku daur ulang sampah
yang membeli sampah dari TPST Ancol, bisa mengetahui potensi dan alur perjalanan daur
ulang sampah.
Sedangkan sampel pada penelitian adalah timbulan sampah yang diukur dengan SNI 19-
3964-1994 selama 8 hari berturut-turut dan 1 hair peak pada saat libur, pelaku daur ulang
yang membeli sampah di TPST Ancol, dan persentasi jenis komposisi sampah yang
dihasilkan pada TPST Ancol dari setiap sumber sampah.
Pengolahan data dilakukan setelah memperoleh data, kemudian diolah, lalu akan dianalisis
untuk komposisi sampah, untuk pengolahan datanya adalah sebagai berikut:
a. Menghitung volume timbulan sampah
Timbulan sampah yang masuk TPS akan dihitung dengan metode load count analysis,
dengan menghitung jumlah angkutan sampah tiap harinya. Berikut adalah persamaan
yang digunakan.
b. Menghitung berat jenis sampah
Rumus perhitungan berat jenis sampah:
= !"#$% !"#$"! !" !!"#$% !"#$! (!") !"#$%& (!!)
Berat sampah diperoleh dengan menimbang sampel, dan volume dengan mengukur
kotak kayu.
Timbulan sampah dapat dicari dengan cara:
= ! !" !! (3)
d. Menghitung komponen komposisi sampah
Dapat dilakukan dengan menimbang berat sampel timbulan sampah kemudian
memilah sampah tersebut berdasarkan komponen yang telah ditetapkan. Kemudian
setiap komponen sampah ditimbang.
persentase komponen komposisi sampah dengan menggunakan rumus berikut:
% = !"#$% !"#$"%&% !"#$% !"!#$ !"#$"!
f. Menghitung nilai ekonomi sampah
Perhitungan nilai ekonomi sampah menggunakan rumus ssebagai berikut:
= × (5)
Sumber: Oswari, Teddy, 2006
g. Menghitung recycling rate
Terdapat dua cara yang digunakan untuk menghitung recycling rate, berikut
rumusnya:
digunakan untuk menghitung potensi recycling rate yang seharusnya bisa dilakukan
= !"#$%! !"#$"! !"#$ !"#$%& !" !"#$%! !"#$"! !"!#$
×100 % (7)
Rumus tersebut digunakan untuk menghitung potensi recycling rate yang terdapat di
lapangan atau keadaan sebenarnya.
= !"#$%&"' !"#$ !"#"$ !"#$ !"#$% !"!#$ !"#$%&'( !"#$%&"' !"#$ !"!!"#$%
i. Menghitung recovery rate
b : jumlah sampah yang di komposkan
c : jumlah sampah yang bisa dibuat bahan baku untuk sumber energi
Hasil Penelitian
Untuk memperoleh timbulan sampah diperlukan data densitas sampah. Densitas sampah
dapat diperoleh dengan memasukkan sampah ke dalam kotak sampling sesuai standar SNI
19-3964-1994. Ukuran box sampling adalah 50 cm x 50 cm x 50 cm, pengambilan sampah
diambil 6-8 kali hingga berat sampah mencapai 91-136 kg sesuai dengan standar ASTM-D
Potensi daur ..., Defiana Darmastuti, FT UI, 2017
5231-92 untuk menghitung komposisi sampah., karena sampel dengan berat 91-136 kg
merupakan perwakilan yang baik untuk merepresentasikan karakteristik timbulan sampah.
(ASTM, 2001). Kemudian volume yang digunakan, diperoleh dari berapa kali box digunakan
hingga mencapai 91-136 kg dengan volume box. Setelah itu dapat diperoleh densitas sampah
(kg/m3), dengan membagi data berat sampah dengan volume.
Untuk memperoleh data timbulan sampah dalam satuan berat didapatkan dengan
menggunakan nilai rata-rata volume timbulan dan densitas dari sampah untuk per-tiap hari.
Rumus yang digunakan untuk memperoleh data satuan berat terdapat pada persamaan 3. Dari
perhitungan diperoleh timbulan sampah yang masuk ke TPST Ancol setiap harinya adalah
1181.55 kg.
Densitas (kg/m3)
Timbulan (kg)
1 Ecopark 103,20 1,00 103,20 6,25 645,00 Dufan 94,10 0,875 107,54 6,50 699,03
2 Atlantis 91,90 0,75 122,53 6,00 735,20 Ecopark 100,20 1,00 100,20 6,25 626,25
3 Atlantis 106,20 1,00 106,20 5,90 626,58 Ecopark 99,20 1,00 99,20 7,00 694,40
4 Ecopark 99,20 1,00 99,20 6,25 620,00 Atlantis 106,20 1,00 106,20 6,75 716,85
5 Atlantis 97,10 0,875 110,97 5,50 610,34 Ecopark 99,20 1,00 99,20 7,75 768,80
6 Atlantis 92,20 1,00 92,20 9,00 829,80
7 Gelanggang Samudra 98,20 1,00 98,20 9,75 957,45
8 Atlantis 103,99 0,875 118,85 8,10 962,65 9 Atlantis 110,99 0,875 126,85 9,00 1141,61
Total Timbulan selama sampling 9 hari 10633,96 Rata-rata timbulan per hari 1181,55
Perhitungan komposisi sampah pertiap komponen dihitung dengan menggunakan persamaan
4. Setelah memperoleh berat per tiap komposisi sampah, diperoleh diagram yang menunjukan
persen sampah organik, anorganik dan residu. Dari gambar grafik dibawah menunjukkan
bahwa persentasi sampah yang dapat di daur ulang maupun jenis organik dan anorganik
adalah sebesar 90 %, sedangkan residu atau sampah yang tidak memiliki nilai daur ulang
Potensi daur ..., Defiana Darmastuti, FT UI, 2017
Organik 70%
Anorganik 20%
Residu 10%
adalah 10 %. Residu yang terdapat di TPST Ancol terdiri atas pembalut, popok bayi,
styrofoam, plastik kemasan (plastik bening bekas atau makanan ringan atau roti, snack,
detergen), plastik kaca (plastik makanan yang berbentuk kotak), tekstil, kayu (ranting pohon,
atau bekas rumah tangga berukuran kecil), tisu basah, debu, sisa ayakan dari kompos.
Selain itu untuk memperoleh nilai recovery rate dan recycling rate, harus mengetahui rata-
rata jumlah sampah yang dijual ke lapak tiap bulannya. Untuk mengetahui jumlah timbulan
sampah pertiap komposisi setiap bulannya adalah dengan mengkalikan rata-rata timbulan
sampah per-hari (kg) dengan 20, karena TPST Ancol tidak yang setiap hari beroperasi.
Sehingga diperoleh nilai material recovery rate.
Tabel 2. Material Recovery Rate
Jenis Sampah Berat (kg)
Organik 14250 16487,47 86,43 Botol Plastik Bening 382 459,55 83,13
Botol Plastik Biru Muda 180 325,56 55,29 Botol Plastik Warna 120 279,53 42,93
Cup Aqua 97 239,36 40,53 Emberan 111 279,53 39,71
Plastik Kresek 74 330,58 22,38 Cup Pop Mie 100,00 107,12 93,35
Dupleks 64 287,48 22,26 Putihan 10 101,43 9,86 Kardus 97 160,69 60,37 Majalah 2 62,77 3,19 Koran 10 43,52 22,98
Tutup Botol 65 178,26 36,46 Kaleng 80 141,02 56,73 Total 15642 19483,86
Grafik 1. Komposisi Sampah
Potensi daur ..., Defiana Darmastuti, FT UI, 2017
Dari tabel diketahui jika nilai material recovery rate terbesar adalah organik. Hal ini
dikarenakan sampah yang masuk ke TPST Ancol, di pilih sampah organik yang lebih
maksimum dibandingkan dengan anorganik, untuk dilakukan proses komposting dan hasil
dari komposting adalah pupuk kompos yang di distribusikan kembali ke sumber-sumber
kegiatan di Ancol yang turut menyumbang sampah di TPST Ancol. Nilai material recovery
rate untuk organik adalah 86,43%, pencapaian tidak mencapai maksimum 100%
dikarenakan tidak semua sampah organik, berupa ranting daun, atau patahan dari pohon yang
berukuran besar bisa di cacah menggunakan mesin cacah, agar tidak merusak dari fungsi
mesin pencacah, sedangkan faktor lainnya adalah sampah yang sudah dikeringkan kemudian
diayak, masih terdapat sisa sampah besar yang tidak lolos ayakan sehingga dijadikan residu.
Sedangkan untuk nilai lainnya yang lebih besar adalah botol plastik bening dan botol plastik
biru muda yang masing-masing memiliki nilai material recovery rate sebesar 83,13 % dan
55,29 %. Untuk pemilahan botol plastik bening dan warna juga sudah cukup baik, dipilah
untuk tutup botol dan kemasan plastik. Hal yang memungkinkan meningkatnya timbulan
sampah botol plastik, karena biasanya para pengunjung banyak yang membeli air minum
dalam bentuk botol kemasan. Kemudian cup kemasan pop mie mencapai angka material
recovery rate terbesar dibanding limbah organik yaitu 93,35 %, hal ini mungkin dipengaruhi
bentuk yang mudah ditemukan, sehingga jarang luput dari pemilahan. Dan sampah kaleng
yang berwujud kaleng minuman juga salah satu komposisi sampah yang cukup dominan
setelah sampah botol plastik.
Secara keseluruhan nilai recovery rate dari sampah di TPST Ancol bisa dilihat dengan
membandingkan total timbulan sampah yang dapat di daur ulang, baik organik dan
anorganik, dan jumlah sampah termasuk residu menggunakan persamaan 9.
= +
×100 %
= 21254,43 kg 23630. 80 kg ×100 % = 89.94 %
Sementara itu, nilai recycling rate yang dhitung berdasarkan metode USA EPA, tahun 1994,
dengan menggunakan persamaan 6.
×100 %
= 4766,96 kg 23630,80 kg ×100 % = 20,17 %
Sedangkan untuk nilai recycling rate menggunakan metode perhitungan persamaan 7.
=
×100 %
Rumus tersebut digunakan untuk menghitung potensi recycling rate yang terdapat di
lapangan atau keadaan sebenarnya.
23630,80 ×100 % = 5,89 %
Nilai 1392 kg adalah berat sampah yang dijual tanpa berat kompos. Sehingga diperoleh jauh
lebih kecil, hanya mencapai 5,89 %. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak sampah yang
sebenarnya bisa di daur ulang, akan tetapi luput dari pemilahan dan pengamatan. Hal ini
disebabkan oleh keterbatasan pekerja, teknologi, pengarahan, dan jam kerja. Hal itu sangat
disayangkan, mengingat dapat menambah jumlah residu sampah yang dihasilkan. Faktor lain
yang sangat mempengaruhi ialah data penjualan sampah ke lapak dari TPST. Sampah dijual
kelapak tidak tentu dalam sebulan dapat diambil. Sehingga data tersebut, bisa saja berasal
dari sampah bulan sebelumnya atau sampah yang tidak diambil pada saat itu.
Untuk alur perjalanan material daur ulang untuk sampah organik diolah menjadi kompos dan
kompos tersebut di distribusikan kembali ke beberapa lokasi rekreasi atau kawasan yang ada
di Ancol, untuk kegiatan landscaping. Sedangkan sampah anorganik yang bisa di daur ulang
akan dipilah kemudian di jual ke lapak yang telah disetujui. Pada umumnya, sampah dijual ke
tempat yang membeli dengan harga jauh lebih tinggi. Material daur ulang yang dijual dari
TPST Ancol langsung menuju beberapa lapak besar yang membeli material daur ulang di
TPST Ancol dengan keuntungan yang lebih besar dari segi harga, jarak, atau waktu.
TPST Ancol mencari lapak yang mau membeli dengan harga yang lebih tinggi. Oleh karena
itu, dari satu sumber dapat dijual ke berbagai lokasi. Misalnya, di TPST Ancol menjual
sampahnya ke 2 Lapak. Penjualan sampah dikordinir dengan 1 orang untuk mencari lapak
yang membeli sampah dari Ancol dengan harga yang tinggi. Ke 2 lapak yang merupakan
lokasi tempat penjualan sampah di TPST Ancol merupakan lapak besar, karena keduanya
telah memiliki lokasi besar agar transportasi besar dapat mengangkut dan menjual barangnya
langsung ke pabrik. Pada lapak besar yang menjadi pewadah penjualan material daur ulang
Potensi daur ..., Defiana Darmastuti, FT UI, 2017
sampah ancol, salah satunya adalah sampah khusus yang membeli sampah botol plastik
bening (PET) dan sampah botol plastik berwarna, sedangkan lapak lainnya adalah lapak
besar, yakni khusus menjual sampah anorganik selain sampah botol plastik. Pada lapak besar
sampah dipilah menjadi lebih detail berdasarkan jenisnya, kemudian dijual menuju pabrik
atau lapak lain. Untuk Industri daur ulang, dari hasil pengamatan yang diperoleh sebagian
terletak di daerah Jakarta, Tanggerang, dan Cirebon. Plastik dan emberan diproses menjadi
bijih terlebih dauhulu kemudian dijadikan barang daur ulang. Untuk kertas, koran, duplek,
dan kardus, langsung diproses menjadi bubur kertas dan di daur ulang, dan terdapat beberapa
yang dijual ke pabrik.
Dari hasil observasi lapangan yang telah dilakukan pelaku daur ulang atau lapak yang
membeli sampah di TPST Ancol, masih dalam jarak yang dekat, yakni di daerah Jakarta
Utara dan Tanggerang Selatan. Lapak yang membeli material daur ulang TPST Ancol,
merupakan lapak besar yang langsung menjual sampah ke Pabrik, untuk lapak yang menjual
botol plastik, hanya berjarak 1-2 km dari kawasan Ancol. Sedangkan lapak yang menjual
selain botol plastik berlokasi di Penjaringan dan masih dalam wilayah Jakarta Utara. Ini
menunjukkan jika pembeli material daur ulang dari TPST Ancol cenderung pada kawasan
yang sama atau dekat. lapak besar yang langsung membeli sampah di Ancol, memiliki
transportasi sendiri untuk membawa barang dari sumber, kemudian juga dengan pelaku daur
ulang selanjutnya. Lebih lanjut lapak yang membeli material daur ulang dari lapak yang besar
merupakan pabrik atau industri yang langsung mengolah sampah menjadi suatu material yang
terbuat dari bahan daur ulang. Pabrik atau industri yang membeli material daur ulang dari
lapak besar tersebut berasal dari Tanggerang hingga Cibitung.
Dari gambar 1 menunjukan tingkatan pelaku daur ulang sampah, melalui gambar tersebut
menunjukan seberapa besar nilai persenan, per tiap komposisi material yang dijual ke tiap
lapak dan industri. Beberapa jenis sampah yang langsung di jual ke pabrik dan wilayah
pabriknya adalah untuk komposisi botol plastik di jual ke lapak pak Taufik dan pabrik MBC,
pabrik MBC menerima material gelas plastik, PT. Fajar Papper, Cibitung menerima material
daur ulang kertas seperti koran, putihan, dupleks, majalah, boncos, PT. CBS Cikande
menerima sampah besi, CV. Jawa Bangkit Plastik menerima sampah emberan, sampah
plastik adalah lapak di Lodan Raya, dan PT Citra Sarana Kreasindo menerima kardus.
Sedangkan lapak logam dan elektronik tidak mau memberikan informasi penjualan material.
Potensi daur ..., Defiana Darmastuti, FT UI, 2017