PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE ...eprints.ums.ac.id/31963/9/Naskah Publikasi.pdfperiode penemuan...

Click here to load reader

  • date post

    22-Feb-2020
  • Category

    Documents

  • view

    7
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE ...eprints.ums.ac.id/31963/9/Naskah Publikasi.pdfperiode penemuan...

  • PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP

    KINERJA KEUANGAN BANK SYARIAH

    NASKAH PUBLIKASI

    Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh

    Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan

    Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta

    Disusun Oleh :

    VIOLITA FRIDA ARUMSARI

    NIM. B 100 100 076

    FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

    2014

  • PENGESAHAN

    Yang bertanda tangan di bawah ini telah membaca naskah publikasi dengan judul:

    ”PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP

    KINERJA KEUANGAN BANK SYARIAH”

    Yang ditulis oleh :

    Nama : Violita Frida Arumsari

    NIM : B. 100 100 076

    Pendandatangan berpendapat bahwa naskah publikasi tersebut telah memenuhi

    syarat untuk diterima.

  • ABSTRAKSI

    Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui pengaruh ukuran dewan

    komisaris terhadap kinerja keuangan perbankan syariah. 2) Untuk mengetahui pengaruh

    komite audit terhadap kinerja keuangan perbankan syariah. 3) Untuk mengetahui

    pengaruh kepemilikan institusional terhadap kinerja keuangan perbankan syariah. 4)

    Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kinerja keuangan

    perbankan syariah.

    Sampel yang dipilih sebagai sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan

    perbankan syariah yang mempublikasikan laporan keuangan per 31 Desember 2010

    sampai 31 Desember tahun 2013. Pemilihan sampel pada perusahaan perbankan syariah

    yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

    Berdasarkan hasil analisis t diketahui variabel ukuran dewan komisari tidak

    mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan. Variabel komite audit mempunyai

    pengaruh negatif terhadap kinerja keuangan. Variabel kepemilikan institusi tidak

    mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan. Variabel kepemilikan manajerial

    mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan. Hasil uji F diketahui Fhitung > Ftabel

    (4,468 > 2,99), maka Ho ditolak, Berarti secara bersama-sama variabel ukuran dewan

    komisaris, komite audit, kepemilikan institusi, kepemilikan manajerial secara bersama-

    sama terhadap kinerja (Y). Sehingga model yang digunakan adalah fit. Sedangkan hasil

    analisis koefisien determinasi diperoleh Adjusted R square (R2) sebesar 0,316, hal ini

    menunjukkan bahwa variasi dari laba dapat dijelaskan oleh variabel kinerja keuangan

    yang terdiri Ukuran Dewan Komisaris, Komite Audit, Kepemilikan Institusi,

    Kepemilikan Manajerial sebesar 31,6%, sedangkan sisanya di jelaskan 68,4%

    dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar variabel yang diteliti.

    Kata Kunci : Ukuran Dewan Komisaris, Komite Audit, Kepemilikan Institusional,

    Kepemilikan Manajerial, Kinerja Keuangan.

    A. Latar Belakang

    Badan Usaha yang memiliki status

    Badan Hukum, maka tentu lebih tepat jika

    menggunakan istilah Korporat. Meski

    demikian, tidak salah juga jika kita

    memilih untuk tetap menggunakan istilah

    perusahaan. Sebagai suatu Badan Usaha,

    maka Korporat menjalankan aktifitas

    usaha baik secara internal Korporat

    maupun berhubungan dengan pihak-pihak

    eksternal.

    Aktifitas korporat ini dijalankan

    dan dikendalikan oleh 3 unsur yang secara

    UU/40 2008 disebut 3 Organ Perseroan

    yaitu Rapat Umum Pemegang Saham,

    Dewan Komisaris, dan Direksi. Aktifitas

    ketiga Organ Perseroan inilah (dalam

    menjalankan dan mengendalikan korporat)

    yang dikenal dengan istilah Governance.

    Meski pada awalnya terdapat kesimpang-

    siuran padanan kata bahasa Indonesia

    untuk istilah ini, namun sejak 2007,

    Komite Nasional Kebijakan Governance

    (KNKG) resmi menggunakan istilah “Tata

    kelola” sebagai padanan kata resmi untuk

    istilah Governance ini.

  • Dari uraian di atas, nampak bahwa

    istilah Tatakelola ini memiliki perbedaan

    yang mendasar dengan istilah

    management, atau diindonesiakan menjadi

    “manajemen”. Istilah manajemen

    digunakan untuk menggambarkan aktifitas

    Direksi dan jajarannya sebagai badan

    eksekutif yang menjalankan operasi

    korporat sehari-hari. Sementara istilah Tata

    kelola lebih ditujukan pada aktifitas yang

    menggambarkan tata hubungan antara

    ketiga Organ Perseroan dan juga

    belakangan oleh KNKG diarahkan juga

    untuk menggambarkan tata hubungan

    antara korporat selaku badan hukum

    dengan para pemangku kepentingan, atau

    yang lebih dikenal dengan istilah,

    Stakeholders.

    Dengan demikian, menjadi jelas

    bagi kita, pengertian Corporate

    Governance dapat dipahami sebagai

    aktifitas Organ Perseroan dalam

    menjalankan aktifitas Korporasi sebagai

    badan hukum, baik secara intern maupun

    dalam hubungannya dengan para

    pemangku kepentingan yang berada di luar

    korporat.

    Sejak Asia dilanda krisis moneter

    di paruh kedua 1997 yang kemudian di

    Indonesia berkembang menjadi krisis

    multidimensi, banyak pihak berkesimpulan

    bahwa hal tersebut dapat terjadi karena

    lemahnya Tata kelola Perusahaan (untuk

    selanjutnya saya cenderung menggunakan

    istilah “perusahaan” untuk maksud ini).

    Bahkan dalam Penjelasan UU/19

    2003 tentang BUMN, secara eksplisit hal

    ini diakui oleh Pemerintah maupun DPR

    yang mengesahkan undang-undang ini. Hal

    ini menunjukkan bahwa praktek tatakelola

    perusahaan yang baik (Good Corporate

    Governance) merupakan kebutuhan

    absolute bagi perbaikan perekonomian

    negara kita ini. Akan tetapi banyak pihak

    hingga saat ini masih kesulitan untuk

    memahami apa itu Good Corporate

    Governance (GCG). Kedangkalan

    pemahaman GCG berakibat pada

    kekeliruan praktek GCG. Kekeliruan

    praktek GCG berdampak pada penggunaan

    istilah GCG sekedar jargon, bahkan

    sampai kadar tertentu dapat merusak

    reputasi perusahaan maupun individu

    Pengelolanya, karena dianggap sebagai

    bagian dari praktek kebohongan publik.

    Penelitian Andriyan dan Supatmi,

    2010 tentang “Pengaruh Mekanisme

    Corporate Governance Terhadap Kinerja

    Keuangan Bank Perkreditan Rakyat. Hasil

    penelitian menemukan bahwa mekansime

    CG secara simultan berpengaruh terhadap

    rasio NPL, KPMM, dan ROA. Secara

    parsial, kepemilikan manajerial dan

    proporsi outside directors menunjukkan

  • pengaruh negatif terhadap rasio NPL dan

    ROA, sedangkan jumlah BOD

    berpengaruh negatif terhadap rasio LDR.

    Dewayanto, 2010 tentang

    “Pengaruh Mekanisme Good Corporate

    Governance Terhadap Kinerja Perbankan

    Nasional Studi pada Perusahaan Perbankan

    yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

    Periode 2006-2008. Berdasarkan hasil

    penelitian ini model regresi berganda yang

    digunakan dalam penelitian ini cukup

    layak, karena lolos dari empat pengujian

    terhadap asumsi klasik, yaitu uji

    multikolineritas, uji autokolerasi, uji

    heterokedasitas dan uji normalitas.

    Mekanisme Pemantauan Kepemilikan

    menujukan hubungan yang tidak signifikan

    terhadap kinerja perbankan artinya tidak

    berpengaruh terhadap kinerja perbankan.

    Mekanisme Pemantauan Pengendalian

    Internal menujukan hubungan yang

    negative signifikan terhadap kinerja

    perbankan kecuali hanya satu ukuran

    dewan direksi yang menujukan hubungan

    yang positif namun tidak signifikan.

    Mekanisme Pemantauan Regulator melalui

    persyaratan cadangan atau Rasio

    Kecukupan Modal (CAR) menunjukan

    hubungan yang positif signifikan terhadap

    kinerja perbankan.dengan variabel kontrol

    ukuran bank yang diproksikan oleh total

    assets. Mekanisme Pemantauan

    Pengungkapan melalui auditor eksternal

    (BIG 4) menunjukan hubungan yang

    positif signifikan terhadap kinerja

    perbankan. Mekanisme Pemantauan Tata

    Kelola Yang Baik masih menjadi masalah

    dalam rangka meningkatkan tujuan yang

    ingin dicapai oleh shareholders,

    stakeholders juga tujuan perusahaan pada

    periode penemuan diadopsinya Good

    Corporate Governance di Indonesia pada

    tahun 2006-2008. Hal ini dibuktikan dari

    tingkat pengaruhnya antara tata kelola

    perusahaan dengan kinerja perusahaan

    masih dikatakan kecil yaitu 44,6%

    B. Perumusan Masalah

    1. Apakah ukuran dewan komisaris

    berpengaruh terhadap kinerja keuangan

    perbankan syariah?

    2. Apakah komite audit berpengaruh

    terhadap kinerja keuangan perbankan

    syariah?

    3. Apakah kepemilikan institusional

    berpengaruh terhadap kinerja keuangan

    perbankan syariah?

    4. Apakah kepemilikan manajerial

    berpengaruh terhadap kinerja keuangan

    perbankan syariah?

  • C. Tujuan Penelitian

    1. Untuk mengetahui pengaruh ukuran

    dewan komisaris terhadap kinerja

    keuangan perbankan syariah

    2. Untuk mengetahui pengaruh komite

    audit terhadap kinerja keuangan

    perbankan syariah

    3. Untuk mengetahui pengaruh

    kepemilikan institusional terhadap

    kinerja keuangan perbankan syariah

    4. Untuk mengetahui pengaruh

    kepemilikan manajerial terhadap

    kinerja keuangan perbankan syariah

    D. Corporate Governance

    1. Pengertian Corporate Governance

    Corporate Governance

    menurut Komite Cadbury adalah

    system yang mengarahkan dan

    mengendalikan perusahaan dengan

    tujuan, agar mencapai keseimbangan

    antara kekuatan kewenangan yang

    diperlukan oleh perusahaan untuk

    menjamin kelangsungan eksistensinya

    dan pertanggungjawaban kepada

    stakeholders. Hal ini berkaitan dengan

    peraturan kewenangan pemilik,

    direktur, manajer, pemegang saham,

    dan sebagainya. Cadbury Commite

    adalah seperangkat aturan yang

    merumuskan hubungan antara para

    pemegang saham, manajer, kreditor,

    pemerintah, karyawan, dan pihak-pihak

    yang berkepentinagn lainnya baik

    internal maupun eksternal sehubungan

    dengan hak-hak dan tanggung jawab

    mereka (Surya dan Ivan Yustiavandana

    2006, h.24).

    OECD mendefinisikan

    Corporate Governance sebagai

    sekumpulan hubungan antar pihak

    manajemen perusahaan, board,

    pemegang saham, dan pihak lain yang

    mempunyai kepentinagan dengan

    perusahaan. Corporate Governance

    juga mensyaratkan adanya struktur

    perangkat untuk mencapai tujuan dan

    pengawasan atas kinerja. Corporate

    Governance yang baik dapat

    memberikan rangsangan bagi board

    dan manajemen untuk mencapai tujuan

    yang merupakan kepentingan

    perusahaan dan pemegang saham harus

    memfasilitasi pengawasan yang efektif

    sehingga mendorong perusahaan

    menggunakan sumber daya dengan

    lebih efisien (Surya dan Ivan

    Yustiavandana 2006, h.25).

    Menurut Keputusan Menteri

    Badan Usaha Milik Negara Nomor

    KEP-117/M-MBU/2002, Corporate

    Governance adalah suatu proses dari

    struktur yang digunakan oleh organ

    BUMN untuk meningkatkan

  • keberhasilan usaha dan akuntabilitas

    perusahaan guna mewujudkan nilai

    pemegang saham dalam jangka

    panjang dengan tetap memerhatikan

    kepentingan stakeholder lainnya,

    berlandaskan peraturan perundangan

    dan nilai-nilai etika. Adapun tujuan

    akhir dengan pengambilan keputusan

    yang efektif. Dibangun melalui kultur

    organisaasi, nilai-nilai, system,

    berbagai proses, kebijakan-kebijakan

    dan struktur organisasi, yang bertujuan

    untuk mencapai bisnis yang

    menguntungkan, efisien, dan efektif

    dalam mengelola risiko dan

    bertanggung jawab dengan

    memerhatikan kepentingan

    stakeholders (Surya dan Ivan

    Yustiavandana 2006, h.26).

    2. Pengertian Kinerja Perusahaan

    Perusahaan sebagai suatu

    organisasi mempunyai tujuan tertentu

    yang menunjukan apa yang ingin

    dilakukan untuk memenuhi keinginan

    anggotanya. Untuk menilai apakah

    tujuan yang telah ditetapkan sudah

    dicapai, tidaklah mudah dilakukan

    karena menyangkut aspek-aspek

    manajemen yang harus

    dipertimbangkan. Salah satu cara untuk

    mengetahui apakah suatu perusahaan

    dalam menjalankan opersinya telah

    sesuai dengan rencana yang telah

    ditetapkan dan sesuai dengan

    tujuannya adalah dengan mengetahui

    dari kinerja perusahaan tersebut.

    Apakah kinerjanya sudah menjalankan

    tugasnya dengan baik dan sesuai

    dengan peraturan perusahaan atau

    belum (Perwirasari, 2009). Kinerja

    adalah tingkat pencapaian hasil atas

    pelaksanaan tugas tertentu, dalam

    mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan

    visi suatu organisasi. Kinerja

    perusahaan adalah tingkat pencapaian

    hasil dalam rangka mewujudkan tujuan

    perusahaan. Pelaopran kinerja

    merupakan refleksi kewajiban untuk

    mempresentasikan dan melaporkan

    kinerja semua aktivitas dan sumber

    daya yang perlu

    dipertanggungjawabkan. Kinerja

    perusahaan dapat dilihat dari laporan

    keuangan sering dijadikan dasar untuk

    penilaian kinerja perusahaan. Salah

    satu jenis laporan keuangan yang

    mengukur keberhasilan operasi

    perusahaan untuk suatu periode

    tertentu adalah laporan laba rugi

    (Simanjuntak 2005, h.1).

  • E. Analisis Data

    1. Pengujian Regresi Berganda

    Analisis ini digunakan untuk

    menguji pengaruh variabel bebas

    Ukuran Dewan Komisaris, Komite

    Audit, Kepemilikan Institusi,

    Kepemilikan Manajerial terhadap

    variabel terikat yaitu Kinerja

    Keuangan. Hasil pengujian regeresi

    linier berganda dengan SPSS for

    windows versi 17 didapatkan sebagai

    berikut :

    Y = 1,451 + 0,136X1 – 0,664X2 +

    0,001X3 + 0,001X4 + e

    Interprestasi sebagai berikut :

    a = 1,451, adalah konstanta

    yang artinya apabila ukuran dewan

    komisaris, komite audit, kepemilikan

    institusi, kepemilikan manajerial sama

    dengan 0 (nol) maka kinerja keuangan

    mengalami peningkatan sebesar 1,534

    satuan.

    Koefisien regresi variabel

    ukuran dewan komisaris memiliki nilai

    positif yaitu sebesar 0,136 satuan. Hal

    ini berarti apabila terjadi kenaikan

    ukuran dewan komisaris sebesar satu

    satuan maka kinerja keuangan akan

    mengalami peningkatan sebesar 0,136

    satuan.

    Koefisien regresi variabel

    komite audit memiliki nilai negatif

    yaitu sebesar -0,664 satuan. Hal ini

    berarti apabila terjadi kenaikan komite

    audit sebesar satu satuan maka kinerja

    keuangan akan mengalami penurunan

    sebesar -0,664 satuan.

    Koefisien regresi variabel

    kepemilikan institusi memiliki nilai

    negatif yaitu sebesar 0,001 satuan. Hal

    ini berarti apabila terjadi kenaikan

    kepemilikan institusi sebesar satu

    satuan maka kinerja keuangan akan

    mengalami peningkatan sebesar 0,001

    satuan.

    Koefisien regresi variabel

    kepemilikan manajerial memiliki nilai

    negatif yaitu sebesar 0,001 satuan. Hal

    ini berarti apabila terjadi kenaikan

    kepemilikan manajerial sebesar satu

    satuan maka kinerja keuangan akan

    mengalami peningkatan sebesar 0,001

    satuan.

    2. Pengujian Asumsi Klasik

    Model regresi dalam penelitian

    ini dapat digunakan untuk estimasi

    dengan signifikan dan representatif jika

    model regresi tersebut tidak

    menyimpang dari asumsi-asumsi dasar

    klasik regresi berupa normalitas,

    multikolinearitas, heteroskedastisitas

    dan autokorelasi.

  • a. Uji Normalitas

    Uji normalitas data yang

    digunakan dalam penelitian ini

    menggunakan uji Kolmogorov

    Smirnov. Hasil uji normalitas

    diketahui bahwa nilai probabilitas

    > 0,05, maka data dalam penelitian

    ini bisa disimpulkan berdistribusi

    normal karena nilai probabilitas

    lebih besar dari (0,05).

    b. Uji Multikolinearitas

    Dalam penelitian ini uji

    adanya multikolinearitas dilihat

    berdasarkan Tolerance value dan

    variance inflation factor (VIF).

    Hasil uji multikolinearitas

    diketahui bahwa tidak terjadi

    masalah multikolinearitas dari

    persamaan penelitian ini. Hal ini

    ditunjukkan dengan nilai Tolerance

    Value lebih besar dari 0,1 dan nilai

    VIF lebih kecil dari 10.

    c. Uji Heteroskedastisitas

    Hasil uji heteroskedastisitas

    diketahui bahwa besarnya nilai

    thitung untuk masing-masing variabel

    ukuran dewan komisaris, komite

    audit, kepemilikan institusi,

    kepemilikan manajerial nilai

    signifikansi lebih besar dari 0,05

    (). Dengan demikian dapat

    disimpulkan dalam penelitian ini

    bahwa tidak ditemukan masalah

    heteroskedastisitas.

    d. Autokorelasi

    Berdasarkan pengujian yang

    dilakukan, diketahui dengan

    menggunakan derajat kesalahan (α)

    =5%, dengan prediktor sebanyak 2

    maka batas atas (U) adalah sebesar

    1,54 sedang batas bawah (L) adalah

    sebesar 1,735 Karena nilai DW

    hasil regresi adalah sebesar 1,885

    yang berarti lebih besar dari nilai

    batas bawah, maka koefisien

    autokorelasi lebih besar dari nol.

    Dengan demikian dapat

    disimpulkan bahwa hasil regresi

    tersebut terbebas dari masalah

    autokorelasi. Dengan kata lain,

    hipotesis yang menyatakan tidak

    terdapat masalah autokorelasi dapat

    diterima, sedangkan hipotesis nol

    yang menyatakan terdapat

    autokorelasi dapat ditolak.

    F. Uji Hipotesis

    1. Uji t

    Pengujian ini bertujuan untuk

    mengetahui pengaruh yang signifikan

    antara masing-masing variabel bebas

    terhadap variabel tidak bebas.

    Adapun perhitungannya adalah sebagai

    berikut :

  • 1) Uji pengaruh variabel Ukuran

    Dewan Komisaris (X1) terhadap

    kinerja (Y) adalah diketahui thitung <

    ttabel (0,584 < 2,473) dan

    signifikansi lebih dari 5% (0,564 <

    0,05) maka variabel ukuran dewan

    komisaris tidak mempunyai

    pengaruh terhadap kinerja

    keuangan.

    2) Uji pengaruh variabel komite audit

    (X2) terhadap kinerja (Y) diketahui

    thitung > ttabel (-2,486 > 2,473) dan

    signifikansi kurang dari 5% (0,020

    < 0,05) maka variabel komite audit

    mempunyai pengaruh negatif

    terhadap kinerja keuangan.

    3) Uji pengaruh variabel kepemilikan

    institusi (X3) terhadap kinerja (Y)

    diketahui thitung < ttabel (1,468 >

    2,473) dan signifikansi lebih dari

    5% (0,154 > 0,05) maka variabel

    kepemilikan institusi tidak

    mempunyai pengaruh terhadap

    kinerja keuangan.

    4) Uji pengaruh variabel kepemilikan

    managerial (X4) terhadap kinerja

    (Y) dikethaui thitung > ttabel (3,173 >

    2,473) dan signifikansi kurang dari

    5% (0,004 < 0,05) maka variabel

    kepemilikan manajerial

    mempunyai pengaruh terhadap

    kinerja keuangan.

    2. Uji F

    Uji F digunakan untuk

    mengetahui besarnya pengaruh dari

    variabel independen secara bersama-

    sama terhadap variabel dependen.

    Diketahui Fhitung > Ftabel (4,468 > 2,99),

    maka Ho ditolak, Berarti secara

    bersama-sama variabel ukuran dewan

    komisaris, komite audit, kepemilikan

    institusi, kepemilikan manajerial secara

    bersama-sama terhadap kinerja (Y).

    Sehingga model yang digunakan

    adalah fit.

    3. Koefisien Determinasi (R2)

    Metode ini digunakan untuk

    mengetahui seberapa besar variasi Y

    yang dapat dijelaskan oleh variasi X,

    yaitu untuk mengetahui seberapa besar

    varians ukuran dewan komisaris,

    komite audit, kepemilikan institusi,

    kepemilikan manajerial secara

    bersama-sama terhadap kinerja

    keuangan (Y).

    Berdasarkan hasil analisis data

    yang menggunakan bantuan komputer

    program SPSS for windows maka

    diperoleh Adjusted R square (R2)

    sebesar 0,316, hal ini menunjukkan

    bahwa variasi dari laba dapat

    dijelaskan oleh variabel kinerja

    keuangan yang terdiri Ukuran Dewan

  • Komisaris, Komite Audit, Kepemilikan

    Institusi, Kepemilikan Manajerial

    sebesar 31,6%, sedangkan sisanya di

    jelaskan 68,4% dipengaruhi oleh

    faktor-faktor lain diluar variabel yang

    diteliti.

    G. Kesimpulan

    Berdasarkan hasil analisis dapat diambil

    kesimpulan sebagai berikut :

    1. Regresi Linear Berganda

    Y = 1,451 + 0,136X1 – 0,664X2 +

    0,001X3 + 0,001X4 + e

    Interprestasinya sebagai berikut :

    a = 1,451, adalah konstanta yang

    artinya apabila ukuran dewan

    komisaris, komite audit, kepemilikan

    institusi, kepemilikan manajerial sama

    dengan 0 (nol) maka kinerja keuangan

    mengalami peningkatan sebesar 1,534

    satuan.

    Koefisien regresi variabel

    ukuran dewan komisaris memiliki nilai

    positif yaitu sebesar 0,136 satuan. Hal

    ini berarti apabila terjadi kenaikan

    ukuran dewan komisaris sebesar satu

    satuan maka kinerja keuangan akan

    mengalami peningkatan sebesar 0,136

    satuan.

    Koefisien regresi variabel

    komite audit memiliki nilai negatif

    yaitu sebesar -0,664 satuan. Hal ini

    berarti apabila terjadi kenaikan komite

    audit sebesar satu satuan maka kinerja

    keuangan akan mengalami penurunan

    sebesar -0,664 satuan.

    Koefisien regresi variabel

    kepemilikan institusi memiliki nilai

    negatif yaitu sebesar 0,001 satuan. Hal

    ini berarti apabila terjadi kenaikan

    kepemilikan institusi sebesar satu

    satuan maka kinerja keuangan akan

    mengalami peningkatan sebesar 0,001

    satuan.

    Koefisien regresi variabel

    kepemilikan manajerial memiliki nilai

    negatif yaitu sebesar 0,001 satuan. Hal

    ini berarti apabila terjadi kenaikan

    kepemilikan manajerial sebesar satu

    satuan maka kinerja keuangan akan

    mengalami peningkatan sebesar 0,001

    satuan.

    2. Hasil analisis uji t diketahui :

    a. Variabel ukuran dewan komisari

    tidak mempunyai pengaruh

    terhadap kinerja keuangan karena

    thitung < ttabel (0,584 < 2,473) dan

    signifikansi lebih dari 5% (0,564 <

    0,05).

    b. Variabel komite audit mempunyai

    pengaruh negatif terhadap kinerja

    keuangan karena thitung > ttabel (-

    2,486 > 2,473) dan signifikansi

    kurang dari 5% (0,020 < 0,05)

  • c. Variabel kepemilikan institusi tidak

    mempunyai pengaruh terhadap

    kinerja keuangan karena thitung <

    ttabel (1,468 > 2,473) dan

    signifikansi lebih dari 5% (0,154 >

    0,05)

    d. Variabel kepemilikan manajerial

    mempunyai pengaruh terhadap

    kinerja keuangan karena thitung >

    ttabel (3,173 > 2,473) dan

    signifikansi kurang dari 5% (0,004

    < 0,05).

    3. Hasil uji F diketahui Fhitung > Ftabel

    (4,468 > 2,99), maka Ho ditolak,

    Berarti secara bersama-sama variabel

    ukuran dewan komisaris, komite audit,

    kepemilikan institusi, kepemilikan

    manajerial secara bersama-sama

    terhadap kinerja (Y). Sehingga model

    yang digunakan adalah fit.

    4. Hasil analisis koefisien determinasi

    diperoleh Adjusted R square (R2)

    sebesar 0,316, hal ini menunjukkan

    bahwa variasi dari laba dapat

    dijelaskan oleh variabel kinerja

    keuangan yang terdiri Ukuran Dewan

    Komisaris, Komite Audit, Kepemilikan

    Institusi, Kepemilikan Manajerial

    sebesar 31,6%, sedangkan sisanya di

    jelaskan 68,4% dipengaruhi oleh

    faktor-faktor lain diluar variabel yang

    diteliti.

    H. Keterbatasan Penelitian

    1. Keterbatasan dalam penelitian ini

    jumlah sampel yang digunakan hanya

    12 bank syariah yang terdaftar di BEI,

    mungkin jika jumlah sampel lebih

    besar akan lebih memperkuat hasil

    analisis data.

    2. Dalam penilaian variabel good

    corporate governance hanya

    berdasarkan variabel ukuran dewan

    komisaris, komite audit, kepemilikan

    institusional dan kepemilikan

    manajerial.

    I. Saran

    1. Bagi penelitian mendatang sebaiknya

    menambah jumlah sampel yang diteliti

    dan tidak hanya perusahaan perbankan

    saja melainkan semua perusahaan yang

    ada di BEI

    2. Bagi penelitian yang akan datang

    sebaiknya variabel yang diteliti tidak

    hanya good corporate governance saja

    melainkan meliputi beberapa variabel

    yang mempengaruhi kinerja keuangan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Andriyan dan Supatmi. 2010 tentang

    “Pengaruh Mekanisme Corporate

    Governance Terhadap Kinerja Keuangan

    Bank Perkreditan Rakyat.

    Dewayanto, 2010 tentang “Pengaruh

    Mekanisme Good Corporate Governance

    Terhadap Kinerja Perbankan Nasional

  • Studi pada Perusahaan Perbankan yang

    Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

    Periode 2006-2008.

    Surya I dan Yustiavandana, I. 2006. Penerapan

    Good Corporate Governance

    (Mengesampingkan Hak-Hak Istimewa

    Demi Kelangsungan Usaha), Jakarta:

    Kendana. Ed. 1.

    Gunarsih, Tri. 2003. “Struktur Kepemilikan

    Sebagai Salah Satu Mekanisme

    Corporate Governance.” Kompak

    Nomor 8.

    Sugiyono, 2003. Metode Penelitian Bisnis,

    Bandung : Alfabeta.

    Sulaiman dan Ana Handi. 2004. Pengaruh

    Kinerja Keuangan Terhadap Return

    Saham Pada Perusahaan Manufaktur di

    Bursa Efek (BEJ). Journal Penelitian

    dan Pengembangan Akuntansi (Juli),

    Vol. 2, No.2.

    Sukaredi, 2011. Pengaruh Corporate

    Governance Terhadap Kinerja Keuangan

    Perusahaan (Studi Pada Perusahaan

    Yang Terdaftar di LQ45 Tahun 2005-

    2009). Skripsi. Dipublikasikan.

    Sam’ani. 2008. Pengaruh Good Corporate

    Governance dan Leverage Terhadap

    Kinerja Keuangan Pada Perbankan Yang

    Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)

    tahun 2004 – 2007. Tesis Magister

    Manajemen Universitas Diponegoro.

    Ali, Wakhid Sulistyo, 2002. Pengaruh

    Mekanisme Corporate Governance

    Terhadap Agency Cost pada Perusahaan

    Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa

    Efek Indonesia. Skripsi S. Tidak

    Dipublikasikan.