PEMIKIRAN SEYYED HOSSEIN NASR TENTANG nbsp; studi filsafat Islam, ... filsafat aliran peripatetik...

download PEMIKIRAN SEYYED HOSSEIN NASR TENTANG nbsp; studi filsafat Islam, ... filsafat aliran peripatetik dan illuminasi terus di ajarkan dan merupakan tradisi yang hidup sepanjang zaman

of 25

  • date post

    31-Jan-2018
  • Category

    Documents

  • view

    217
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of PEMIKIRAN SEYYED HOSSEIN NASR TENTANG nbsp; studi filsafat Islam, ... filsafat aliran peripatetik...

  • PEMIKIRAN SEYYED HOSSEIN NASR

    TENTANG EPISTEMOLOGI

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Epistemologi merupakan cabang filsafat yang secara khusus diminati

    semenjak abad ke 17, namun semenjak pertengahan abad ke 20 ini, ia mengalami

    perkembangan yang sedemikian pesat dan begitu beragam ke arah berbagai

    jurusan. Sebab utamanya adalah tumbuhnya cabang-cabang ilmu pengetahuan

    secara terus menerus, tanpa henti.1

    Sebagian ciri yang patut mendapat perhatian dalam perkembangan

    epistemologi pada masa modern adalah munculnya pandangan baru mengenai

    ilmu pengetahuan. Pandangan ini merupakan kritik terhadap pandangan

    Aristoteles yaitu bahwa ilmu pengetahuan sempurna tak boleh mencari untung,

    namun harus bersipat kontemplatif, diganti dengan pandangan bahwa ilmu

    pengetahuan justru harus mencari untung, artinya dipakai untuk memperkuat

    kemampuan manusia di bumi ini. Pandangan itu dikemukakan oleh Francis Bacon

    de Verulam (1561-1626) yang berdiri pada ambang pintu masuk zaman modern.

    Menurutnya, dalam rangka itulah ilmu-ilmu pengetahuan betul-betul berkembang

    menjadi nyata dalam sejarah Barat sejak abad ke-15. Menurut Bacon pula, ilmu

    pengetahuan manusia hanya berarti jika tampak dalam kekuasaan manusia,

    "human knowledge adalah human power2 . Pada abad-abad berikutnya, di dunia

    Barat dan mau tak mau juga di dunia luar Barat dijumpai keyakinan dan

    kepercayaan bahwa kemajuan yang dicapai oleh pengetahuan manusia, khususnya

    ilmu-ilmu alam, akan membawa perkembangan manusia pada masa depan yang

    semakin gemilang dan makmur.

    Sebagai akibatnya, ilmu-ilmu pengetahuan selama masa modern sangat

    mempengaruhi dan mengubah manusia dan dunia-nya. Terjadilah revolusi industri

    1 . C. Verhaak, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Gramedia, 1991, h. ix

  • 1

    pertama (mulai sekitar tahun 1800 dengan pemakaian mesin-mesin mekanis), lalu

    revolusi industri kedua (mulai sekitar tahun 1900 dengan pemakian listrik dan

    titik awal pemakaian sinar-sinar), dan kemudian revolusi industri ketiga yang

    ditandai dengan penggunaan kekuatan atom, dan penggunaan komputer yang

    sedang kita saksikan dewasa ini. Dengan demikian, adanya perubahan pandangan

    tentang ilmu pengetahuan mempunyai peran penting dalam membentxik

    peradaban dan kebudayaan manusia, dan dengan itu pula, tampaknya, muncul

    semacam kecenderungan yang ter-jalin pada jantung setiap ilmu pengetahuan

    dan juga para ilmuwan untuk maju dan maju terujs tanpa henti dan tanpa batas.

    Penemuan dan perumusan mutakhir menjadi langkah awal untuk penemuan dan

    perumusan berikutnya. Setiap langkah merupakan suatu tantangan baru lagi

    dengan tahap: pengamatan-hipotesa-hukum-teori yang tak ada hentinya, disusul

    oleh perbaikan dan pembaharuan serta pengetatan tahap-tahap yang sudah

    ditempuh3.

    Kecenderungan kedua ialah hasrat untuk selalu menerap-kan apa yang

    dihasilkan ilmu pengetahuan, balk dalam dunia teknik mikro maupun makro.

    Dengan demikian, tampaklah bahwa semakin pengetahuan maju, semakin

    keinginan itu meningkat sampai memaksa, merajalela, dan bahkan membabi buta.

    Aki-batnya, ilmu pengetahuan dan hasilnya menjadi tidak manu-siawi lagi,

    bahkan justru memperbudak manusia sendiri yang telah merencanakan dan

    menghasilkannya. Kecendrungan yang kedua ini lebih mengerikan dari yang

    pertama, namun tak dapat dilepaskan dari kecenderungan pertama.

    Beberapa ciri dari epistemologi modern, yang dianggap menjadi penyebab

    timbulnya kr.isis di atas, dapat ditelusuri dari unsur-unsurnya. Pertama, tujuan

    ilmu pengetahuan ada-lah hanya untuk diterapkan. Ini, terutama adalah akibat dari

    pengaruh pemikiran Francis Bacon yang menegaskan bahwa ilmu pengetahuan

    dapat dikatakan bermakna bila ia dapat meningkatkan kekuasaan manusia, baik

    atas alam maupun sesama4. Dengan demikian, ilmu pengetahuan harus bernilai

    praktis bagi manusia, di antaranya dalam bentuk teknologi. Akibat-nya,

    2 Ibid., hal. 139 3 Ibid., hal. 181-182

  • 2

    menaklukkan alam dan mengeksploitasinya habis-habisan tidaklah dapat dianggap

    sebagai kesalahan. Kedua, metode yang digunakan adalah deduksi-induksi

    (logico-hypotetico-verifikasi)5, sebagai pengaruh dari pemikiran positivisme.

    Selain Bateson, tokoh ilmuwan lainnya yang mengajukan kritik terhadap

    epistemologi modern, dapat disebutkan di si-ni, seperti Max Horkheimer (1895-

    1973), Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969), dan Erich Fromm (1900-

    1980). Kritik mereka terarah kepada masyarakat yang merupakan hasil per-

    kembangan ilmu-ilmu alam yang salah satu akibatnya ialah manusia diasingkan

    (is alienated) dari dirinya sendiri. Alienasi di sini diartikan dari sudut sosio

    budaya dan psikologi. Menurut mereka, keadaan keterasingan itu kurang dilihat

    oleh para ahli ilmu yang masih condong ke positivisme6.

    Tokoh lainnya yang banyak memberikan perhatian pada masalah manusia

    modern ialah Seyyed Hossein Nasr, seorang di antara sedikit pemikir Muslim

    kontemporer paling terkemu-ka pada tingkat internasional, yang banyak

    memberikan perhatian pada masalah-masalah manuaia modern. Kritiknya

    terhadap manusia modern cukup tajam, seperti terlihat dalam dua karyanya yang

    menyangkut topik ini: Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man

    (1968), dan Islam and the Plight of Modern Man (1975). Nasr mendasarkan

    pembahasannya tentang problem manusia modern dengan melihat manusia Barat

    modern, yang selanjutnya mempunyai banyak pengikut dan peniru, termasuk di

    wilayah dunia Muslim.

    Selanjutnya mengenai pandangan Nasr tentang kedudukan ilmu

    pengetahuan, khususnya dalam Islam, dan bidang inilah yang semula menjadi

    keahlian profesionalnya, bahwa ilmu pengetahuan dan seni dalam Islam

    berdasarkan atas gagasan tentang tawhid yang menjadi inti dari wahyu Islam.

    Dengan demikian, menurut Nasr, seluruh seni Islam apakah dalam ben-tuk Al-

    Hambra atau Masjid Paris, dalam berbagai keragamannya tidak terlepas dari

    "keesaan Tuhan" (Divine unity). Dalam kerangka ini, ilmu pengetahuan yang

    dapat disebut Islami adalah ilmu pengetahuan yang mengungkapkan "ketauhidan

    4 Ibid 5 Yuyun S.Suryasumantri, Fisafat Ilmu, Jakarta, Sinar Harapan, 1990, hal. 120.

  • 3

    alam".

    Lebih lanjut, Nasr mengeritik ilmu pengetahuan modern Barat, bahwa ilmu

    pengetahuan modern mereduksi seluruh kualitas kepada kuantitas, mereduksi

    seluruh yang esensial dalam pengertian metafisik kepada material dan sub-

    stansial. Dengan demikian, pandangan dunia metafisis nyaris sirna dalam ilmu

    pengetahuan modern. Kalaupun ada, meta-fisika direduksi menjadi filsafat

    rasional yang selanoutnya sekedar pelengkap Ilmu pengetahuan alam dan

    matematika. Bahkan, kosmologi diturunkan derajatnya dengan memandangnya

    hanya semacam superstisi. Dengan pandangannya itu, ilmu pengetahuan modern

    menyingkirkan pengetahuan kosmologi dari wacananya. Padahal menurut Nasr,

    kosmologi adalah "ilmu sakral" (scientia sacra.) yang menjelaskan kaitan materi

    dengan wahyu dan doktrin metafisis7.

    Di kalangan Barat, khususnya Amerika Serikat, Seyyed Hossein Nasr

    adalah ilmuwan muslim yang amat disegani saat ini, terutama sepeninggal Ismail

    Raj i Al-Farouqi dan Fazlurrahman, dalam kajian-kajian keislaman8. Dalam

    mengo-mentari pemikiran Seyyed Hossein Nasr, Azyumardi Azra mengemukakan

    bahwa pemikiran Seyyed Hossein Nasr sangat kompleks dan multidimensi. Hal

    itu tercermin dari karya-karya tulisnya yang membahas berbagai topik meliputi

    persoalan manusia modern, ilmu pengetahuan, seni, hingga sufisme. Namun

    demikian, menurut Azyumardi, pemikirannya tentang ilmu pengetahuan

    merupakan keahlian profesionalnya, karena semua gelar yang diperolehnya di

    M.I.T (Massachusetts Institute of Technology ) dan Universitas Harvard

    berkenaan dengan sejarah ilmu pengetahuan (Islam). Selanjutnya, dikemukakan

    bahwa gagasan tentang "kesatuan" ( tawhid) tidak hanya merupakan anggapan

    dasar ilmu pengetahuan dan seni Islam, tawhid juga mendominasi ekspresinya9.

    B. Perumusan Masalah

    6 Ibid. , hal. 92. 7 Ibid., hal. 22 8 16.Nur A. Fadil Lubis, "Kecenderungan Kajian Keislaman di Amerika", dalam Ulumul

    Quran, Vol. IV, No. 4, 1993, h. 81. 9 Azyumardi Azra, "Memperkenalkan pemikiran Hossein Nasr", dalam Seminar Sehari

    Spiritualitas, Krisis Dunia Modern, dan Agama Masa Depan, Jakarta: Yayasan Paramadina, h. 35.

  • 4

    Perumusan masalah tersebut diperinci menjadi lima pertanyaan penelitian,

    yaitu:

    1. Bagaimana sejarah epistemologi menurut Seyyed Hussein Nasr?

    2. Bagaimana pemikiran Seyyed Hussein Nasr tentang obyek pengetahuan?

    3. Bagaimana pemikiran Seyyed Hussein Nasr tentang Sifat pengetahuan?

    4. Bagaimana pemikiran Seyyed Hussein Nasr tentang jalan memperoleh

    pengetahuan?

    5. Bagaimana Seyyed Hussein Nasr tentang epistemologi tradisional sebagai

    alternatif?

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    Secara lebih terinci penelitian ini diarahkan untuk mengetahui tentang hal-

    hal sebagai berikut:

    1. sejarah epistemologi menurut Seyyed Hussein Nasr

    2. pemikiran Seyyed Hussein Nasr tent