Muluk 2007 Menggugat Partisipasi Publik dalam Pemerintahan

download Muluk 2007 Menggugat Partisipasi Publik dalam Pemerintahan

of 361

  • date post

    10-Apr-2016
  • Category

    Documents

  • view

    164
  • download

    42

Embed Size (px)

Transcript of Muluk 2007 Menggugat Partisipasi Publik dalam Pemerintahan

  • Dr. Mujibur Rahman KhairulMuluk, M.Si.

    Menggu gat Partisipasi Publikdalam Pemerintahan Daerah

    Sebuah Kajian Administrasi Publik denganPendekatan Berpikir Sistem

    Diterbitkan atas kerjasama antara

    .------ ffi naffi fffi ---.----I Frr'mtsmw II oensan IrHl

    Bayumedia Publishing

  • Menggugat Partisipasi Publik dalam Pemerintahan DaerahSebuah Kajian Administrasi Publik dengan Pendekatan Berpikir Sistem

    PenulisDr. Mujibur Rahman Khairul Muluk, M.Si.

    EditorSetiyono Wahyudi, Yuyut Setyorini,

    dan lndro Basuki

    LayoutDian Triyani

    CoverHeru Sugihartoyo

    Edisi PertamaCetakan Pertama, November 2007

    Diterbitkan oleh

    ecntmeAr PublbhhgAnggota IKAPI latimJalan Puncak Yamin No. 20, MalangTelp/Facs : (0341 ) 580538E-Mail : Bayumedia@telkom.net

    t[il8[0[[ffiffifl[,ummw

    ISBN: 97&979-3323-1 4-5

    Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagianatau seluruh isi buku ini ke dalam bentuk apapun, secaraelektronis maupun mekanis, termasukfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.Undang-Undang Nomor 1 9 Tahun 2000 tentang Hak Cipta, Bab Xll Ketentuan Pidana, Pasal72, Ayat(J.|,(a, dan (6).

  • Menggu gat Partisipasi Publik- dalam Pemerintahan DaerahSebuah Kajian Administrasi Publik dengan

    Pendekatan Berpikir Sistem

  • SAMBUTAN 1

    Prof. Dr. Bhenyamin HoesseinCuru Besar Pemerintahan Daerah Universitas lndonesia

    Sudah lama Moh. Hatta berpendapat bahwa desentralisasi padahakikatnya merupakan otonomisasi suafut masyarakat. Dengandiselenggarakannya desentralisasi oleh pemerintah, masyarakat yangsebelumnya tidak memiliki otonomi menjadi berotonomi. Masya-rakat dapat membuat kebijakan dan melaksanakannya sendiri ber-dasarkan prakarsa sendiri sesuai aspirasi, kondisi, dan potensinya.

    Pendapat tersebut menggiring kita untuk melihat bahwa masya-rakat sebagai pemilik otonomi daerah. Otonomisasi masyarakat akanmemungkinkan terjadinya pemerintahan daerah yang berbasis padalocaluoice danlocal choice. Olehl

  • Partisipasi otonom tidak mudah dicapai karena terdapat banyakpersoalan yang menghambat. Misalnya, desentralisasi yang seha-rusnya mendorong partisipasi masyarakat justru dipahami sebagaipenyerahan wewenang pemerintahan oleh elit nasional kepada elitlokal. Akibatny4 keberadaan masyarakat yang berotonomi bersifatpinegiran. Masyarakat bukan lagi sebagai subjek teapi objek dariotonomi daerah. Secara keseluruhan, implemenasi kebijakan desen-tralisasi mengarah pada meamorfosis dari otonomi daerah menjadiq,asi nuereignty d^ndari pemerintahan daerah menjadi local state.

    Dalam situasi dibutuhkannya partisipasi masyarakat yang oto-nom dan realia terjadinya partisipasi masyarakat yang masih lemahdalam menghadapi kekuatan elit maka kajian M.R. Khairul Mulukini membawa ansin segar dalam upaya penguatan partisipasi masya-rakat. Kekuatan kaiian ini terletak pada upaya memusatkan perhatianpada partisipasi masyarakat di tingkat pemerintahan daerah yangmencakup rentang kewenangan mengatur (policy making) danmengruus tpoh"y implemmtation). Kaiiandari segi administasi pu-blik ini mengungkapkan kondisi partisipasi masyarakat sekarangdengan baik sekaligus menawarkan alternatif solusi yang dapat men-dorong teriadinya partisipasi masyarakat dalam pemerinahan daerah.Hasil kajian ini akan memudahkan para pengambil kebijakan, baikdi tingkat lokal maupun di tingkatpusat untuk mendorong parrisipasimasyarakat dalom penyelengg:uaan otonomi daerah sesuai perannyamasing-masing. Dengan demikian, otonomi daerah yang berlangsungdapat membuahkan hasil bagi masyarakat secara keseluruhan.

    Jakana, November 2007

    Prof. Dr. Bhenyamin Hoessein

    vt

  • SAMBUTAN 2Prof. Dr. Eko Prasoio

    Curu Besar Administrasi Publik Universitas lndonesia

    Paradigma penyelenggaraan pemerintahan kini telah bergeserdati gouernment menuju gouernAnce. Paradigma baru ini bercirikanadanya multiaktor dalam penyelenggaraan pemerintahan. Aktor-aktor tersebut meliputi state, ciuil soci.ety, dan priu6te. Keterlibatanpara aktor ini mengakhiri era monopoli state dalampenyelenggaraanpemerintahan. Dengan demikian, pemerintahan tidak lagi berdasarpada otoritas negara semata dan dijalankan dengan menganddkansanksi pemerintah. Pemerintahan dijalankan berdasarkan self orga-nizrng dan stable networks antarberbagai institusi dan aktor darinegara. Paradigma baru ini telah mengubah mode interaksi dari keku-asaan dan kontrol menuju pertukaran informasi, komunikasi, danpersuasi. Kepemerintahan yang bark (good gouernance) diperlukanagar paradigma baru tersebut dapat berjalan dengan baik untuk men-capai tujuannya, yakni kesejahteraan'dan keadilan. Kepemerintahanyang baik dapat dipahami sebagai "the complex mechanisms, pro-cess, relationships and i.nsti.tution through which ci.tizens and groupsdrticulate thei.r interest, exercise their rights and obligati.ons and me-di.ate tbeir differences" (UNDB 1997).

    Pemahaman tentang kepemerintahan yang baik tersebut me-nunjukkan betapa pentingkemitraan antara pemerintah dengan unsurmasyarakat. Kemitraan tersebut memiliki mekanisme, proses, hu-bungan, dan institusi yang kompleks. Esensi dari kepemerintahanyang baik pada dasarnya adalah legitimasi, akuntabilitas, efektiviasmanajemen, dan ketersediaan informasi tentang peraturan' prosedur,

    vtl

  • dan hasil. Legitimasi berarti adanya derajat akseptansi masyarakatterhadap pemerintah. Akuntabilitas menuntut adanya jaminanlegitimasi melalui kinerja yang dapat dipertanggungjawabkan kepadapublik. Efekivitas manajemen mengandung orientasi kineria danprosedur yang transparan. Esensi kepemerintahan yang baik ini di-maksudkan untuk mencapai tujuan pemerintahan yang berbasis padahubungan yang baik anara pemerinah dan masyarakat. Tirjuan peng-uatan hubungan baik tersebut adalah untuk mencapai kebijakan pu-blik yang lebih baik, kepercayaan masyarakat yang lebih besar kepadapemerintah dan untuk menjamin proses demokrasi yang lebih kuat.

    Proses demokrasi dalam pemerinahan berbasis pada kualitasdan kuantitas keterlibatan masyarakat dalam penyelenggiuaan urusanpemerintahan. Keterlibatan masyarakat dalam pemerintahan menjadisuatu keharusan karena beberapa sebab. Masyarakat adalah pemilikkedaulatan apalag. untuk sebuah negara yang dengan tegas menya-takan berdasarkan pada kedaulaan rakyat. Masyarakat adalah pem-bayar pajak yang hasilnya digunakan untuk membiayai operasionalpemerintahan. Masyarakat adalah subjek pembangunan dan bukan-nya obiek pembangunan. Sebagai subjek pembangunan maka masya-rakat seharusnya terlibat mulai dari perencanann, pelaksanaan, eva-luasi, dan penerimaan manlaat pembangunan.

    Dalam paradigma baru kepemerintahan yang bai\ tidak dira-gukan lagi akan arti penting kemitraan antara pemerintah dan masya-rakat. Konsekuensinya adalah adanya kebutuhan akan partisipasimasyarakat untuk mencapai tuiuan-tuiuan negara. Pada dasarnya,desentralisasi di Indonesia menghendaki adarrya partisipasi masya-rakat yang lebih besar dalam pemerintahan daerah. Dalam berbagikajian, tampaknya belum menunjukkan pertanda telah tercapaikondisi ideal. Banyak hambatan yang menghalang sehingga partisipasi

    vill

  • nyata masyarakat belum terwujud. Kajian yang dilakukan oleh M.R.Khairul Muluk ini memberikan sumbangsih yang sangat berhargabagi upaya mewujudkan partisipasi masyarakat dalam penyelengga-raan otonomi daerah. Kajian ini dengan baik telah menunjukkangambaran yang mencerminkan kondisi nyata partisipasi masyarakatdalam pemerintahan daerah di Indonesia. Kondisi tersebut menun-jukkan adanya ragam mekanisme partisipasi, rendahnya kesadaranberpartisipasi, dominasi peran elit lokal dalam pembuatan kebijakandaerah, serta peran pemerintah daerah dan DPRD.

    Selain itu, buku yang merupakan hasil disertasi penulis ini jugamenampilkan beberapa kebaruan penting dalam khazanah partisipasimasyarakat dalam pemerintahan daerah. Susunan tang1a baru par-tisipasi masyarakat merupakan hasil sintesis penulis antara t^nggarealitas dan tangga teoretis. Tangga baru ini diyakini oleh penulissebagai tangga partisipasi yang lebih cocok bagi Indonesia. Selainitu, kajian ini berhasil menampilkan model sistem partisipasi masya-rakat yang begitu kompleks sekaligus berhasil menyederhanakannyadalamarchetype (model baku) sistem partisipasi masyarakat. Denganmodel baku tersebut kita semua menjadi sadar tentang perilaku sistempartisipasi masyarakat sekaligus telah membantu banyak pihak untukmerumuskan jalan menuju pengembangan partisipasi masyarakat.Tentu banyak pelajaran berharga yang dapat disimak dari kajian inidan semoga mampu membantu pencapaian tujuan pemerintahansecara efektif.

    Jakarta, November 2007

    Prof. Dr. Eko Prasoio

    tx

  • ,':

    ' :f','

    x

  • KATA PENGANTAR

    Era reformasi membawa angin perubahan yang besar dalampemerintahan daerah di Indonesia. Perubahan dari structural ffi-ciency model (sebagaimana tecermin dalam kebijakan UU No. 5Thhun L974) menjadt local d.emoaacy model (sesuai W No. 22Thhun L999) telah membawa semangat pemerintahan daerah yangmengedepankan partisipasi masyarakat. Akan teapi, partisipasi ma-syarakat yangnyata dalam pemerintahan daerah tak kunjung tere-alisasi hingga munculnya UU No. 32 Thhun 2004 sebagai penyem-purnaan daii UU No. 22Tahun L999. Hinggakini partisipasinyatadari masyarakat sebagai unsur utama daerah otonom dalam otonomidaerah tetap belum menampakkan tanda-tanda peningkatan. Untukitu, diperlukan kajian yang memadai tentang partisipasi masyarakatdalam pemerintahan daerah sehingga dapat diperoleh alternatif pe-nyelesaian masalah yang mampu mendorong terjadinya percepatanpartisipasi masyarakat. Dengan berbekal pendekatan berpikir sistemkajian tersebut dilakukan dalam kajian ini. Harapannya ini adalahditemukan suatu pengungkit yang mampu mencapai percepatan par-