Memahami kaidah kebahasaan teks pantun

download Memahami kaidah kebahasaan teks pantun

of 13

  • date post

    13-Apr-2017
  • Category

    Education

  • view

    728
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of Memahami kaidah kebahasaan teks pantun

MEMAHAMI KAIDAH KEBAHASAAN TEKS PANTUN

MEMAHAMI KAIDAH KEBAHASAAN TEKS PANTUNKelompok 1

Nama Anggota Kelompok 1Adhit Hari SandhiDewanata Sri BudiartoMita Ayu WulandariPutri Anggraeni

Pengertian Teks PantunPantun adalah bentuk puisi lama yang terdiri atas empat larik, berima silang (a-b-a-b). Larik pertama dan kedua disebut sampiran. Larik ketiga dan keempat dinamakan isi. Menurut KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ), semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian yaitu sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya) dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima atau sajak. Dua baris terakhir merupakan isi yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Kaidah Teks PantunPantun isinya berupa nasihat, sindiran, curahan hati, perumpamaan, pepatah, peribahasa, dan lain-lain.Pantun fungsinya antara lain untuk pendidikan, penghargaan atau terimakasih, kecerdasan berbahasa, kasih sayang, cinta, dan lain-lain.Pantun bahasanya halus, tidak langsung pada isi, menggunakan pengantar yang berupa sampiran.

Kaidah Kebahasaan Teks PantunSebuah pantun menggunakan bahasa sebagai media untuk mengungkapkan makna yang ingin disampaikan. Struktur kebahasaan pada sebuah pantun sering juga disebut dengan struktur fisik. Struktur fisik tersebut mencakup diksi, bahasa kiasan, imaji dan bunyi yang terdiri atas rima dan irama.

DiksiDiksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan.

Akan tetapi, diksi yang digunakan berbeda dengan pantun yang lahir pada zaman modern. Kata yang digunakan seringkali dihubungkan dengan berbagai sarana dan prasarana mutakhir. Berikut salah satu contohnya:Jalan-jalan ke pasar unik,Membeli baju dan handphone baru.Siapa gerangan wanita cantik,Yang tersenyum di hadapanku.

Bahasa KiasanBahasa Kiasan yaitu bahasa yang digunakan pelantun untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yang secara tidak langsung mengungkapkan makna. Bahasa kiasan di sini bisa berupa peribahasa atau ungkapan tertentu dalam menyampaikan maksud berpantun.

ImajiImaji atau citraan yang dihasilkan dari diksi dan bahasa kiasan dalam pembuatan teks pantun. Pengimajian akan menghasilkan gambaran yang diciptakan secara tidak langsung oleh pelantun pantun. Oleh sebab itu, apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif), atau dirasa (imaji taktil). Salah satu contohnya:

Kalau pedada tidak berdaunTandanya ulat memakan akarKalau tak ada tukang pantunDuduk musyawarah terasa hambarImaji yang dilukiskan pada pantun tersebut adalah imaji visual (melihat) dan imaji taktil (merasakan). Imaji visual dapat dilihat pada baris pertama /Kalau pedada tidak berdaun//Tandanya ulat memakan akar/, seolah-olah pendengar melihat ulat memakan akar karena sudak tidak ada daun yang bisa dimakan pada tumbuhan pedada. Sementara itu, imaji taktil tergambar pada bagian isi /Kalau tak ada tukang pantun//Duduk musyawarah terasa hambar/. Hal ini membuat pendengar seolah-olah merasakan kehambaran dalam musyawarah tersebut karena tidak ada tukang pantun yang berpantun.

Bunyi (Rima dan Irama)Rima merupakan unsur pengulangan bunyi pada pantun, sedangkan irama adalah turun naiknya suara secara teratur. Selain untuk memperindah bunyi pantun, bebunyian diciptakan juga agar penutur (pelantun) dan pendengar lebih mudah mengingat serta mengaplikasikan pesan mloral dan spiritual yang terdapat dalam teks pantun jenis apapun.

Pemilihan dan susunan katanya ditempatkan sedemikian rupa, sehingga kata dalam pantun tidak dapat dipertukarkan letaknya atau diganti dengan kata lain yang memiliki makna yang sama. Selanjutnya adalah menyusun larik-larik yang sengaja diacak dan menentukan sampiran dan juga isi.

KESIMPULANPantun merupakan bentuk puisi lama yang digunakan sebagai media berkomunikasi dan memiliki peranan penting dalam menyampaikan nilai luhur agama, budaya, dan norma yang dianut masyarakat.Secara ideal, teks pantun bersifat mengingatkan, memberi pelajaran, dan memberi nasihat.Kaidah kebahasaan mencakup struktur fisiknya. Yakni: diksi, bahasa kiasan, imaji,dan bunyi yang terdiri atas rima dan irama.