matematika

18
1 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PEMBERIAN ASI SAJA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOKAP 1 KABUPATEN KULON PROGO PROPINSI YOGYAKARTA Maria Elisabeth Robiwala 1 , Dwi Ciptorini 2 , Karina Dwi Handini 3 INTISARI Latar Belakang : ASI merupakan nutrisi terbaik pada awal usia kehidupan bayi. Pemberian ASI yang baik adalah apabila ASI diberikan secara eksklusif. Pada saat ini angka pemberian ASI cenderung menurun karena ASI sudah banyak diganti dengan susu botol. Hal tersebut tidak perlu terjadi bila ibu cukup mengetahui keunggulan ASI sebagai makanan terbaik bayi dan bahaya yang dapat timbul akibat mengganti ASI dengan makanan tambahan lainnya. Data pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Kokap I tahun 2010 dari ketiga desa adalah di Hargorejo bayi yang diberi ASI Eksklusif sebesar (41,60%), Hargomulyo sebesar (29,90%), dan Kalirejo sebesar (51,47%). Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI saja di wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah bayi yang usia 0-6 bulan di Wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta tahun 2011 yaitu 99 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 49 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Penelitian dilaksanakan bulan Januari 2012. Analisis data menggunakan analisis Chi-Square. Hasil : Tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif sebagian besar dalam kategori baik sebesar 87,8%. Praktik pemberian ASI saja sebagian besar memberikan ASI saja sebesar 61,2%. Hasil analisis Chi-Square diperoleh nilai χ 2 sebesar 10,796 dengan p value sebesar 0,005 (p<0,05). Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI saja di wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Kata Kunci: Tingkat pengetahuan, pemberian ASI saja, ibu 1 Mahasiswi S I Ilmu Gizi Universitas Respati Yogyakarta 2 Dosen Universitas Respati Yogyakarta 3 Dosen Universitas Respati Yogyakarta

description

pembuat

Transcript of matematika

Page 1: matematika

1

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF

DENGAN PEMBERIAN ASI SAJA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

KOKAP 1 KABUPATEN KULON PROGO

PROPINSI YOGYAKARTA

Maria Elisabeth Robiwala

1, Dwi Ciptorini

2, Karina Dwi Handini

3

INTISARI

Latar Belakang : ASI merupakan nutrisi terbaik pada awal usia kehidupan bayi. Pemberian ASI yang baik adalah

apabila ASI diberikan secara eksklusif. Pada saat ini angka pemberian ASI cenderung menurun karena ASI sudah

banyak diganti dengan susu botol. Hal tersebut tidak perlu terjadi bila ibu cukup mengetahui keunggulan ASI

sebagai makanan terbaik bayi dan bahaya yang dapat timbul akibat mengganti ASI dengan makanan tambahan

lainnya. Data pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Kokap I tahun 2010 dari ketiga desa adalah di Hargorejo bayi

yang diberi ASI Eksklusif sebesar (41,60%), Hargomulyo sebesar (29,90%), dan Kalirejo sebesar (51,47%).

Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI

saja di wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo.

Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional.

Populasi penelitian ini adalah bayi yang usia 0-6 bulan di Wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap,

Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta tahun 2011 yaitu 99 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified

random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 49 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Penelitian

dilaksanakan bulan Januari 2012. Analisis data menggunakan analisis Chi-Square.

Hasil : Tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif sebagian besar dalam kategori baik sebesar 87,8%. Praktik

pemberian ASI saja sebagian besar memberikan ASI saja sebesar 61,2%. Hasil analisis Chi-Square diperoleh nilai χ2

sebesar 10,796 dengan p value sebesar 0,005 (p<0,05).

Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI

saja di wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo.

Kata Kunci: Tingkat pengetahuan, pemberian ASI saja, ibu

1 Mahasiswi S I Ilmu Gizi Universitas Respati Yogyakarta

2 Dosen Universitas Respati Yogyakarta

3 Dosen Universitas Respati Yogyakarta

Page 2: matematika

2

THE RELATION OF MOTHER’S LEVEL OF KNOWLEDGE ON

EXCLUSIVE BREASTFEEDING WITH ONLY BREASTFEEDING IN THE

WORKING AREA OF COMMUNITY HEALTH CENTER (PUSKESMAS)

KOKAP I KULONPROGO PROVINCE OF YOGYAKARTA

Maria Elisabeth Robiwala4, Dwi Ciptorini

5, Karina Dwi Handini

6

ABSTRACT

Background: Breast milk is the best nutrition at the early age of baby's life. A Good sign of breastfeeding is if the

milk is given exclusively. At this time breast feeding tends to decrease because breast milk has been replaced with

bottled milk. This need not happen if the mother knew enough of the breast milk superiority as the best food for the

baby and the dangers that can arise due to replacing breast milk with other food. The data of Exclusive

breastfeeding at the community health center (Puskesmas) Kokap I in 2010 from three villages are in Hargorejo

Exclusive breast-fed infants amounted to (41.60%), Hargomulyo (29.90%), and Kalirejo (51.47%).

Research objectives: Knowing the relation of mother’s level of knowledge on exclusive breastfeeding with only

breastfeeding in the working area of Puskesmas Kokap I Kulonprogo Province of Yogyakarta.

Research Methods: The research is a descriptive analytical research with cross sectional design. The research

population was infants aged 0-6 months in the working area of Puskesmas Kokap I, district Kokap, Kulonprogo

Regency, Yogyakarta in 2011, that is 99 infants. Sampling technique used was stratified random sampling with a

sample of as many as 49 people. Data collection using questionnaires. The Research was conducted in January 2012.

Data analysis using Chi-Square analysis.

Results: The level of knowledge about exclusive breastfeeding mothers are mostly in good category of 87.8%. The

only Breastfeeding practices are mostly giving only breast milk amounted to 61.2%. The result of Chi-Square

analysis obtained χ2 value of 10.796 with a p value of 0.005 (p <0.05).

Conclusion: There is a significant relation between mother’s level of knowledge on exclusive breastfeeding mothers

with only breastfeeding in the working area of Puskesmas Kokap I Kulonprogo Province of Yogyakarta.

Keywords: level of knowledge, only breastfeeding, mothers

4 An undergraduate student on Nutrition Science of the Respati University Yogyakarta

5 Lecturer at Respati University Yogyakarta

6 Lecturer at Respati University Yogyakarta

Page 3: matematika

3

PENDAHULUAN

ASI merupakan nutrisi terbaik pada awal usia kehidupan bayi. ASI ibarat emas yang diberikan gratis oleh

Tuhan karena ASI adalah cairan hidup yang dapat menyesuaikan kandungan zatnya yang dapat memenuhi

kebutuhan gizi bayi.1

Pada Pekan ASI sedunia Agustus 2008, The World Alliance For Breast Feeding Action (WABA) memilih

tema Mother Support: Going For the Gold. Makna tema tersebut adalah suatu gerakan untuk mengajak semua orang

meningkatkan dukungan kepada ibu untuk memberikan bayi-bayi mereka makanan yang berstandar emas yaitu ASI

yang diberikan eksklusif selama enam bulan pertama dan melanjutkan ASI bersama makanan pendamping ASI

lainnya yang sesuai sampai bayi berusia dua tahun atau lebih.2

Keuntungan pemberian ASI diantaranya adalah ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi yaitu merupakan

cairan hidup yang mengandung zat kekebalan yang akan melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri,

virus, parasit dan jamur. Zat kekebalan yang terdapat pada ASI akan melindungi bayi dari penyakit menceret (diare),

juga akan menurunkan kemungkinan bayi terkena infeksi telinga, batuk, pilek dan penyakit alergi lainnya. 1

Melihat manfaat ASI yang sedemikian besar sangat disayangkan jika bayi tidak mendapat ASI eksklusif

dengan optimal. Berbagai penelitian menyebutkan akibat atau kerugian dari ketidak optimalan tersebut sangat besar.

Apabila bayi di bawah enam bulan telah diberi makanan tambahan maka bayi akan sulit tidur di malam hari. Selain

itu bayi akan mengalami gangguan-gangguan lain seperti sakit perut, mencret, sembelit, infeksi, kurang darah, dan

alergi. 3

Pengetahuan ibu tentang keunggulan ASI dan cara pemberian ASI yang benar dapat menunjang keberhasilan

ibu dalam menyusui. Hal ini karena ketidaktahuan ibu tentang keunggulan ASI dan resiko pemberian makanan

tambahan lebih awal dapat memberi pengaruh buruk pada bayi yaitu bayi rentan terhadap penyakit infeksi dan diare.

Pada saat ini angka pemberian ASI cenderung menurun karena ASI sudah banyak diganti dengan susu botol. Hal

tersebut tidak perlu terjadi bila ibu cukup mengetahui keunggulan ASI sebagai makanan terbaik bayi dan bahaya

yang dapat timbul akibat mengganti ASI dengan makanan tambahan lainnya.3

Data Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukan angka pemberian ASI secara

eksklusif selama enam bulan merupakan indikator perilaku sehat yang diharapkan. Dari 23.515 bayi baru lahir yang

dipantau mendapatkaan ASI eksklusif di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2010 sebesar 7.994

(34%), meningkat 11.800 (49%) di banding tahun-tahun sebelumnya, angka ini belum mencapai target SPM (standar

pelayanan minimal), sebesar 80%, sehingga perlu sosialisasi ASI pada ibu baru melahirkan untuk memberikan ASI

secara eksklusif sampai bayi berumur enam bulan. 4

Tabel 1. Data Cakupan ASI Eksklusif di Kabupaten Kulonprogo

No Tahun Persentase (%)

1 2008 38,42

2 2009 34,23

3 2010 34,71

Page 4: matematika

4

Data pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Kokap I tahun 2010 dari ketiga desa adalah : Hargorejo jumlah

125 bayi, yang diberi ASI Eksklusif 52 bayi, persentasi (41,60%), Hargomulyo jumlah 97 bayi, yang diberi ASI

Eksklusif 29 bayi, persentasi (29,90%), Kalirejo jumlah 68 bayi, yang diberi ASI Eksklusif 35 bayi, persentase

(51,47%) (Laporan Program Gizi 2010).

Pemberian ASI adalah salah satu intervensi yang paling handal untuk meningkatkan kelangsungan hidup,

pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan setelah melahirkan serta pemberian

makanan pengganti ASI yang tepat mulai usia 6 bulan sampai 2 tahun dapat menurunkan angka kematian balita

sebesar 20 %. ASI juga dapat mencegah kekurangan gizi, yang menjadi penyebab lebih dari separuh kematian balita

di dunia. Masalah kekurangan gizi anak-anak menjadi salah satu masalah kesehatan utama di indonesia, yang

penyebab utamanya adalah praktek pemberian makanan pada bayi dan balita yang kurang benar.

Setelah diteliti lebih mendalam ternyata faktor penyebab utama terjadinya kematian pada bayi baru lahir dan

balita adalah penurunan angka pemberian inisiasi menyusui dini (IMD) dan ASI eksklusif. Di Jakarta, durasi rata-

rata pemberian ASI eksklusif hanya berlangsung selama 18 hari. Di Jakarta Utara dari 9.897 bayi hanya sekitar 17%

atau sekitar 1.682 bayi baru lahir yang diberi IMD dalam 1 jam pertama persalinan dan hanya sekitar 28% atau

sekitar 2771 bayi dibawah 6 bulan yang diberi ASI eksklusif.6

Penelitian juga membuktikan bahwa bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif memiliki peluang 14,3 kali

lebih besar untuk meninggal karena serangan berbagai penyakit 3. Sedangkan menurut.

7 bayi yang diberi MP ASI /

PASI akan mempunyai resiko 17 kali lebih besar kemungkinan terkena ISPA.

Berdasarkan latar belakang diatas bahwa penyebab utama terjadinya kematian pada bayi baru lahir dan balita

adalah penurunan angka pemberian inisiasi menyusui dini (IMD) dan ASI eksklusif. Dari hasil persentasi ketiga

Desa di Kecamatan Kokap I, cakupan pemberian ASI Eksklusif masih sangat rendah. Belum semua ibu memberikan

ASI eksklusif pada bayi yang berusia kurang dari 6 bulan. Oleh karena itu peneliti merasa tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai “ Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI eksklusif dengan Pemberian ASI Saja di

Wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo”.

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan

utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif, kemudian melakukan

analisis dinamika korelasi antara kedua variabel. Pada penelitian ini dilakukan analisis hubungan tingkat

pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI Saja di puskesmas Kokap I, Kecamatan Kokap,

Kabupaten Kulon Progo tahun 2011.

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan cross Sectional yaitu pengumpulan data tingkat

pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dan pengumpulan data pemberian ASI Saja dilakukan secara bersama-

sama.

Page 5: matematika

5

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon

Progo pada bulan Januari Tahun 2012.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Dalam penelitian ini populasinya yaitu bayi yang usia 0-6 bulan di Wilayah kerja Puskesmas Kokap 1,

Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta tahun 2011 yaitu 99 orang

2. Sampel Penelitian

Untuk kepentingan pengambilan sampel, peneliti menentukan kriteria inklusi sebagai berikut: ibu

yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan yang tinggal di wilayah Kokap 1; bersedia menjadi responden dengan

mengisi surat persetujuan.

Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah 49 responden

D. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah :

1. Variabel Bebas (independent) : Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif

2. Variabel terikat (dependent) : Pemberian ASI Saja

E. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data Primer adalah data yang dikumpulkan pada saat penelitian. Data primer meliputi data

pengetahuan ibu dan data pemberian ASI Saja .

Cara pengumpulan data primer :

a. Identitas responden diperoleh dengan wawancara.

b. Data pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif dan pemberian ASI Saja, diperoleh dengan melakukan

test dengan alat bantu kuesioner.

c. Pengumpulan data pada saat penelitian peneliti dibantu oleh ketua kader posyandu.

2. Data Sekunder

Dalam penelitian ini yang menjadi data sekunder adalah data jumlah ibu yang memiliki bayi yang

berumur 0 bulan sampai 6 bulan di Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon progo,

Yogyakarta.

Data sekunder diperoleh dari buku catatan administrasi KIA Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap,

Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian yakni menggunakan dua buah kusioner yaitu :

1. Instrumen untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif.

Instrumen yang digunakan untuk mengukur hubungan tingkat pengetahuan responden tentang ASI

Eksklusif adalah kuesioner tertutup sebanyak 20 butir pertanyaan dengan alternative jawaban “Benar” dan

Page 6: matematika

6

“Salah”. Cara penilaian pada pertayaan favorable, jawaban benar diberi nilai satu dan jawaban salah di beri

nilai nol. Sedangkan pada unfarorable, nilai satu di berikan pada jawaban salah dan nilai nol di berikan

pada jawaban benar. Instrumen untuk mengukur tingkat pemberian ASI Saja kepada bayi.

2. Instrumen untuk mengukur pemberian ASI Instrumen ini digunakan untuk mengukur sikap responden

tentang pemberian ASI Saja dengan menggunakan kuesioner tertutup dengan 10 butir pertayaan.

G. Definisi Operasional

1. Pengetahuan ibu dalam pemberian Asi Eksklusif

Pengetahuan ibu adalah kemampuan ibu untuk mengingat dan mengenal tentang Asi Esklusif (ASI) yang

diperoleh dari beberapa sumber.

Parameter : nilai 0 - 100

Baik : 75-100%

Sedang : 56-74%

Kurang : <55%

Di hitung dengan rumus: Jumlah skor benar x 100%

Jumlah item

Skala : Ordinal

2. Praktik Pemberian ASI Saja

Adalah bayi yang diberikan ASI saja tanpa ada tambahan cairan atau makanan padat selain obat-obatan

dan vitamin sejak lahir sampai dengan bayi usia sekarang.

Ya : Jika dari lahir sampai usia bayi sekarang pada saat pengambilan data hanya diberikan ASI

saja tanpa ada tambahan cairan atau makanan padat selain obat-obatan dan vitamin.

Tidak : Jika dari bayi lahir sampai usia bayi sekarang pada saat pengambilan data pernah diberikan

tambahan cairan atau makanan padat selain obat-obatan dan vitamin.

Skala : Ordinal

H. Jalannya Penelitian

1. Tahap persiapan

a. Mengurus izin penelitian ke Kabupaten Kulon Progo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon progo,

Yogyakarta.

b. Melakukan koordinasi dengan Puskesmas Kokap1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon progo,

Yogyakarta tentang rencana penelitian, penentuan waktu penelitian dan persyaratan pelaksanaan

penelitian.

c. Melaksanakan pertemuan dengan kader posyandu untuk meminta kesediaan kader waktu penelitian.

2. Tahap penelitian

a. Mendatangi tempat posyandu balita usia 0-6 bulan yang dijadikan sampel penelitian.

b. Membagikan kuesioner kepada setiap ibu balita yang menjadi sampel.

Page 7: matematika

7

c. Penelitian di posyandu selanjutnya dilakukan pada waktu yang berbeda sampai memperoleh jumlah

responden yang diinginkan.

3. Pengolahan dan Analisa Data

a. Pengolahan Data

Pengolahan data dalam penelitian ini adalah menggunakan beberapa langkah sebagai berikut :

1) Editing yaitu memeriksa data yang telah dikumpulkan yaitu berupa daftar pertanyaan.

2) Coding yaitu memberikan kode pada variabel bebas dan variabel terikat untuk mempermudah

pengolahan data.

3) Tabulasi adalah menyusun data ke dalam master data

4) Entry adalah memasukan data ke dalam computer

b. Analisis Data

1) Analisis univariate

Analisis univariate dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Dalam penelitian

ini disajikan dalam bentuk distribusi responden menurut kelompok umur, distribusi kelompok

menurut tingkat pendidikan, distribusi responden menurut tingkat pengetahuan ibu tentang ASI

eksklusif dan distribusi responden pemberian ASI Saja di Wilayah kerja Puskesmas Kokap 1,

Kecamatan Kulon progo, Kabupaten Kokap, Yogyakarta tahun 2011.

2) Analisis bivariate

Menentukan bivariate dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau

berkorelasi. Dalam penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif

dengan pemberian ASI Saja di Wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten

Kulon progo, Yogyakarta tahun 2011.

3) Menurut Ho dan Ha

Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif

dengan pemberian ASI Saja di Wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten

Kulionprogo, Yogyakarta tahun 2011.

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan

pemberian ASI Saja di Wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon

progo, Yogyakarta tahun 2011.

c. Uji statistik

Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan

pemberian ASI Saja di Wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo,

Yogyakarta tahun 2011, maka uji statistiknya menggunakan rumus Uji Chi-Square sebagai berikut:

X2 = ∑ (ƒ0 − ƒn)

2

ƒ0

Page 8: matematika

8

Dimana :

X2 = Chi-Square

f0 = Frekuensi yang diobservasi

fn = Frekuensi yang diharapkan

Selanjutnya dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka X2 hitung dibandingkan dengan X2

tabel. Jika X2 hitung > X2

tabel maka H0 ditolak dan Ha diterima (Arikunto, 2006).

Disamping itu dilihat pula pada nilai signifikan (ρ). Jika nilai ρ < 0,01 (pada taraf signifikansi

5%) berarti ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif

dengan pemberian ASI Saja di Wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten

Kulonprogo, Yogyakarta tahun 2011.

d. Uji koefisien kontingensi

Untuk mengetahui kekuatan hubungan antar variabel, digunakan perhitungan koefisien

kontingensi yang dapat dicari setelah harga kritik Chi-Square diperoleh. Rumus koefisien kontingensi

menurut Arikunto, (2006) adalah sebagai berikut:

C = koefisien kontingensi

x2 = nilai chi-square hitung

n = jumlah sampel

Interpretasi koefisien kontingensi

0,00 – 1.99 = Sangat rendah

0,20 – 0,399 = Rendah

0,40 – 0,599 = Cukup berarti / sedang

0,60 – 0,799 = Kuat

0,80 – 1,00 = Sangat kuat

Page 9: matematika

9

I. Etika Penelitian

Responden atau subjek penelitian diberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian sebelum

penelitian dilakukan. Semua informasi dan data yang diperoleh dari subjek penelitian hanya dipergunakan untuk

keperluan penelitian dan dijaga kerahasiaannya. Sebagai bukti kesediaan responden mengikuti penelitian,

responden diminta untuk menandatangani lembar persetujuan penelitian (informed consent.)

HASIL

1. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon

Progo. Puskesmas Kokap I merupakan salah satu Puskesmas yang ada di wilayah Kecamatan Kokap. Batas-

batas wilayah Puskesmas Kokap I meliputi sebelah utara Kecamatan GIri Mulyo, sebelah barat Kabupaten

Purworejo, sebelah selatan wilayah Puskesmas Temon I dan sebelah timur Kecamatan Pengasih.

Puskesmas Kokap I memiliki wilayah kerja di tiga desa yaitu Hargomulyo, Hargorejo, dan Kalirejo yang

terdiri dari Sembilan puluh lima dusun dengan luas wilayah 4537,15 Ha. Desa Hargorejo luasnya 1543,45 Ha,

Desa Kalirejo luasnya 1471,73 Ha dan Desa Hargomulyo luasnya 1521,97 Ha. Puskesmas Kokap I sendiri

berada dalam wilayah Kecamatan Kokap dengan luas wilayah daerah 5490,42 Ha.

Tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas I Kokap terdiri dari 1 Kepala Puskesmas, 2 dokter umum, 1

dokter gigi, 6 perawat, 1 perawat gigi, 4 bidan Puskesmas, 3 bidan desa, 1 imunisasi, 1 sanitarian, 1 administrasi

obat, 1 asisten apotaker, 2 SP2TP, 1 petugas pendaftaran, 1 rekam medis, 1 nutrision, 2 laboratorium, 1 penjaga

malam, 1 sopir, 8 JMD dan 4 tenaga administrasi.

Berkaitan dengan pendidikan kesehatan, Puskesmas Kokap I mempunyai program penyuluhan kesehatan

masyarakat. Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat

untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan yang dilakukan meliputi penyeberluasan informasi

kesehatan, pembinaan dan pengembangan peran aktif masyarakat serta pembinaa masyarakat untuk berperilaku

hidup bersih dan sehat.

Cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan di wilayah kerja Puskesmas I Kokap pada tahun 2010 sebesar

40% masih lebih rendah dibandingkan dengan jumlah target sasaran yaitu sebesar 80%. Cakupan pemberian

Vitamin A pada Balita sebesar 100%. Status gizi baik pada Balita mencapai 84,60% sedangkan kejadian gizi

kurang sebesar 13,60%. 8

Page 10: matematika

10

2. Karakteristik Responden

Karakteristik responden merupakan identitas demografi yang melekat pada diri responden. Karakteristik

responden dalam penelitian ini diamati berdasarkan umur, pendidikan, dan pekerjaan. Hasil analisis deskriptif

karakteristik responden penelitian ini padat dilihat pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Distribusi Karakteristik Responden

Karakteristik Respoden Jumlah Persentase (%)

Umur

< 20 tahun 4 8,2

20-35 tahun 40 81,6

> 35 tahun 5 10,2

Pendidikan

SD 8 16,3

SMP 20 40,8

SMA 17 34,7

Perguruan Tinggi 4 8,2

Pekerjaan

Bekerja 9 18,4

Tidak bekerja 40 81,6

Usia anak

1 bulan 7 14,3

2 bulan 7 14,3

3 bulan 8 16,3

4 bulan 7 14,3

5 bulan 8 16,3

6 bulan 12 24,5

Jumlah 49 100,0

Page 11: matematika

11

Berdasarkan Tabel 2, diketahui karakteristik responden dengan penjelasan sebagai berikut:

a. Umur

Berdasarkan umur responden menunjukkan sebagian besar responden berumur 20-35 tahun sebanyak

40 orang (81,6%). Secara psikologis masuk dalam usia dewasa awal.

b. Pendidikan

Sebagian besar responden berpendidikan SMA yaitu sebanyak 20 orang (40,8%). Tingkat pendidikan

SMA merupakan tingkat pendidikan menengah. Tingkat pendidikan menengah yang ditempuh ibu akan

mempengaruhi pola pikir dan kemampuan mengambil keputusan berkaitan dengan perilaku kesehatan.

c. Pekerjaan

Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan diketahui sebagian besar responden tidak bekerja

sebanyak 40 orang (81,6%). Responden tidak bekerja menunjukkan bahwa responden merupakan ibu rumah

tangga. Responden yang berstatus sebagai ibu rumah tangga mempunyai kesempatan untuk mengasuh dan

merawat secara lebih intensif karena tidak terikat pada aktivitas pekerjaan.

d. Usia Anak

Berdasarkan umur anak diketahui anak yang berusia 1 bulan sebanyak 7 orang (14,3%), anak yang

berusia 2 bulan sebanyak 7 orang (14,3%), anak yang berusia 3 bulan sebanyak 8 orang (16,3%), anak yang

berusia 4 bulan sebanyak 7 orang (14,3%), anak yang berusia 5 bulan sebanyak 8 orang (16,3%) dan anak

yang berusia 6 bulan sebanyak 12 orang (24,5%). Dapat disimpulkan sebagian besar anak berusia 6 bulan.

3. Tingkat Pengetahuan tentang ASI Eksklusif

Data pengetahuan tentang ASI eksklusif diperoleh dari jawaban kuesioner responden. Data tingkat

pengetahuan dikategorikan menjadi baik, sedang dan kurang. Hasil analisis univariat data tingkat pengetahuan

tentang ASI eksklusif dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Distribusi Tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif

Tingkat Pengetahuan Jumlah Persentase

Baik 43 87,8

Sedang 5 10,2

Kurang 1 2,0

Jumlah 49 100,0

Sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan kategori baik sebanyak 43 orang (87,8%).

Sebagian kecil ibu mempunyai tingkat pengetahuan kategori kurang sebanyak 1 orang (2%).

Page 12: matematika

12

4. Praktik Pemberian ASI Saja

Data praktik pemberian dikategorikan menjadi dua kategori yaitu ya dan tidak. Hasil analisis univariat

data praktik pemberian ASI saja dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Distribusi Praktik Pemberian ASI Saja

Pemberian ASI saja Jumlah Persentase

Ya 30 61,2

Tidak 19 38,8

Jumlah 49 100,0

Sebagian besar responden memberikan ASI saja pada anaknya sebanyak 30 orang (61,2%). Responden

yang tidak memberikan ASI saja sebanyak 19 orang (38,8%).

Jenis minuman yang diberikan oleh responden yang tidak memberikan ASI saja diantaranya adalah susu

yang diberikan oleh 9 orang responden an air putih yang diberikan oleh 6 orang responden. Jenis makanan yang

diberikan oleh responden yaitu bubur bayi yang diberikan oleh 5 orang responden dan pisang yang diberikan oleh

1 orang responden.

5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang ASI Eksklusif dengan Pemberian ASI

Saja

Analisis bivariat dilakukan untuk menganalisis dua variabel sekaligus membuktikan hipotesis penelitian

ini yaitu membuktikan ada tidaknya hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian

ASI saja di wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Hasil analisis

bivariat penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang ASI Eksklusif dengan Pemberian ASI Saja

Pengetahuan

Pemberian ASI saja

Total χ2

p Ya Tidak

f % f % f %

Baik 30 61,2 13 26,5 43 87,8

10,796 0,005 Sedang 0 0,0 5 10,2 5 10,2

Kurang 0 0,0 1 2,0 1 2,0

Total 30 61,2 19 38,8 49 100,0

Berdasarkan tabulasi silang pada Tabel 5, diketahui sebagian besar responden yang berpengetahuan baik,

memberikan ASI saja kepada bayinya sebanyak 30 orang (61,2%). Responden yang berpengetahuan sedang,

sebagian besar tidak memberikan ASI saja sebanyak 5 orang (10,2%). Sebagian responden yang berpengetahuan

kurang tidak memberikan ASI saja pada bayinya.

Page 13: matematika

13

Pembuktian hipotesis penelitian dilakukan dengan analisis statistik Chi-Square dengan hasil diperoleh

nilai χ2 hitung sebesar 10,796 dengan p value sebesar 0,005. Nilai χ

2 tabel pada db=2 adalah sebesar 5,991. Oleh

karena nilai χ2 hitung> χ

2 tabel (10,796>5,991) dan nilai p value kurang dari 0,05 (p<0,05), hal ini dapat diartikan

ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI saja.

Nilai koefisien kontingensi sebesar 0,425 menunjukkan keeratan hubungan kategori sedang. Artinya

hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI saja di wilayah kerja

Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo adalah sedang.

PEMBAHASAN

1. Tingkat Pengetahuan tentang ASI Eksklusif

Hasil análisis diketahui tingkat pengetahuan tentang ASI eksklusif sebagian besar responden dalam

kategori baik sebesar 87,8%. Hasil ini dapat diartikan bahwa ibu mengetahui dengan baik materi yang berkaitan

dengan ASI eksklusif. Ditunjukkan dengan kemampuan ibu menjawab dengan benar pertanyaan tentang ASI

eksklusif.

Pengetahuan diartikan sebagai hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan

terhadap suatu obyek tertentu yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan ibu

tentang ASI eksklusif diartikan sebagai kesan dan pemahaman yang dimiliki oleh ibu setelah melakukan

penginderaan terhadap subjek maupun objek berkaitan dengan ASI eksklusif.

Pengetahuan mempunyai peran yang penting dalam perilaku ibu. Pengetahuan ibu tentang ASI

eksklusif akan membawa pemahaman yang mendalam pada ibu tentang dampak baik atau buruknya

memberikan ASI secara eksklusif. Pemahaman ini akan menjadi dasar bagi ibu untuk berperilaku memberikan

ASI secara eksklusif kepada bayinya.

Tingkat pengetahuan ibu terbentuk karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhi terbentuknya

perilaku. Menurut teori yang dikemukakan oleh 9, disebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi pengetahuan

meliputi pendidikan, informasi, budaya, dan pengalaman. Faktor tersebut, berdasarkan hasil penelitian ini

berkaitan dengan karakteristik responden.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui karakteristik responden berdasarkan umur menunjukkan sebagian

besar responden berumur 20-35 tahun sebesar (81,6%). Berkaitan dengan pengetahuan, ibu dengan rentang usia

ini dapat dikatakan telah mempunyai kemampuan untuk mencernakan berbagai informasi yang diperolehnya

sehingga akan meningkatkan pengetahuannya tentang ASI eksklusif. Selain itu dengan kematangan usia ibu

juga mampu untuk mengambil pelajaran dari pengalaman hidup yang dialaminya secara lansung. Sesuai dengan

yang dikemukakan oleh

Terbentuknya pengetahuan ibu juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Hasil analisis karakteristik

responden penelitian diketahui sebagian besar responden berpendidikan SMA yaitu sebesar (40,8%). Tingkat

pendidikan ibu berpengaruh terhadap terbentuknya pola pikir yang terbuka terhadap hal baru. Adanya berbagai

informasi, wawasan dan konsep baru yang diperoleh ibu akan meningkatkan pengetahuan ibu.

Page 14: matematika

14

Dilihat dari pekerjaan ibu diketahui sebagian besar responden tidak bekerja sebesar (81,6%). Ibu yang

tidak bekerja berarti mempunyai waktu luang yang lebih banyak untuk mencari berbagai sumber informasi

sehingga dapat terbentuk pengetahuan yang baik. Semakin banyak informasi yang diperoleh ibu maka akan

semakin baik tingkat pengetahuannya. Seseorang yang mempunyai informasi yang lebih banyak akan

mempunyai pengetahuan yang lebih banyak pula.

Pengetahuan yang baik mempengaruhi perilaku dalam pola asuh anak untuk memberikan ASI saja

sampai usia 6 bulan pada bayinya. Pengetahuan tentang ASI eksklusif menjadi dasar diperlukan agar ibu

mampu berperilaku yang baik berkaitan dengan pemberian ASI. Ibu dengan tingkat pengetahuan yang baik

menunjukkan bahwa ibu tahu dan paham tentang tindakan yang benar dalam memberikan ASI secara eksklusif

sehingga akan mewujudkan perilaku yang baik sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

2. Praktik Pemberian ASI Saja

Berdasarkan data Puskesmas Kokap I diketahui cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan di wilayah

kerja Puskesmas I Kokap pada tahun 2010 sebesar 40% masih lebih rendah dibandingkan dengan jumlah target

sasaran yaitu sebesar 80%. Hasil penelitian menunjukkan praktik pemberian ASI saja di wilayah kerja

Puskesmas Kokap I sebesar 61,2%. Hasil ini dapat diartikan bahwa sebagian besar responden telah memberikan

ASI saja kepada bayinya. Pemberian ASI saja dilakukan dengan hanya memberikan ASI kepada bayi dan tidak

diberi minuman atau makanan lain.

Hasil penelitian diketahui responden yang tidak memberikan ASI saja sebesar (38,8%). Jenis minuman

tambahan yang diberikan diantaranya adalah susu formula dan air putih. Jenis makanan tambahan yang

diberikan diantaranya adalah bubur bayi dan pisang.

Bayi rata-rata sudah diberikan minuman tambahan dari usia 1 bulan. Makanan tambahan rata-rata sudah

diberikan pada bayi sejak usia 5 bulan. pada bayi usia 6 bulan yang tidak diberi ASI saja sebanyak 6 orang.

ASI merupakan sumber makanan utama bagi bayi. Selama 6 bulan pertama, bayi tidak membutuhkan

makanan tambahan lain karena segala kebutuhan nutrisi telah dapat terpenuhi dari ASI. Selain itu pemberian

ASI saja pada 6 bulan pertama berkaitan dengan kondisi bayi sendiri seperti belum sempurnanya sistem

pencernaan. Seperti yang dikemukakan oleh 7 disebutkan bahwa bayi yang umur nol sampai enam bulan hanya

diberikan ASI saja karena ASI mengandung zat gizi yang ideal dan untuk menjamin tumbuh kembang sampai

umur enam bulan. Bayi di bawah usia enam bulan juga belum mempunyai enzim pencernaan yang sempurna,

sehingga belum mampu mencerna makanan dengan baik.

Pemberian ASI saja merupakan salah satu bentuk perilaku kesehatan yang dilakukan oleh ibu. Perilaku

tersebut termasuk dalam perilaku dalam menjaga kesehatan yang diwujudkan dalam pola pemberian dan

pemenuhan kebutuhan gizi bayi di bawah 6 bulan dengan memberikan ASI secara eksklusif. Salah satu bentuk

perilaku pemeliharaan kesehatan adalah perilaku dalam memenuhi kebutuhan gizi melalui makanan dan

minuman.

Praktik pemberian ASI saja yang dilakukan oleh ibu terbentuk karena adanya faktor pembentuk

perilaku.10

menyebutkan faktor ibu yang mempengaruhi pemberian ASI meliputi pendidikan, pengetahuan,

Page 15: matematika

15

pekerjaan, psikologis dan penyakit yang diderita ibu. Selain itu dipengaruhi juga oleh faktor bayi serta faktor

eksternal lain seperti faktor budaya, kondisi sosial ekonomi, serta dukungan petugas kesehatan.

Dilihat dari tingkat pendidikan responden diketahui sebagian besar berpendidikan SMA sebesar 40,8%.

Tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan yang lebih baik. Ibu dengan

pendidikan SMA telah mempunyai pola pikir yang baik yang terbentuk dari proses pendidikan formal yang

dijalaninya sehingga mempengaruhi perilaku yang salah satunya diwujudkan dalam pemberikan ASI saja.

Sesuai dengan 10

disebutkan bahwa bahwa ibu yang mendapat pendidikan formal yang tinggi dapat lebih lama

menyusui bayinya.

Pemberian ASI saja mempunyai manfaat yang sangat baik bayi. Pemberian ASI secara eksklusif dapat

memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, meningkatkan kekebalan tubuh bayi sehingga mendukung pertumbuhan

maupun perkembangan bayi. Sesuai dengan pendapat dari 1, menyebutkan manfaat pemberian ASI bagi bayi

yaitu ASI sebagai nutrisi yaitu merupakan sumber gizi yang sangat ideal untuk pertumbuhan bayi, ASI

meningkatkan daya tahan tubuh bayi, ASI eksklusif meningkatkan kecerdasan dan meningkatkan jalinan kasi

sayang antara ibu dan bayi.

Hal ini berimplikasi bahwa cakupan pemberian ASI saja di wilayah kerja Puskesmas Kokap I perlu

untuk ditingkatkan. Upaya yang dapat dilakukan diantaranya dengan meningkatkan pengetahuan dan

pemahaman ibu tentang pentingnya pemberian ASI saja pada bayi. Selain itu diperlukan juga adanya dukungan

dari keluarga terutama suami pada ibu untuk menyusui bayinya. Dukungan tenaga kesehatan juga sangat

penting untuk memberikan motivasi dan dorongan pada ibu untuk memberikan ASI saja melalui penyuluhan

maupun konseling.

3. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang ASI Eksklusif dengan Pemberian ASI

Saja

Hasil analisis penelitian diketahui ada hubungan yang signifikan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI

eksklusif dengan pemberian ASI saja di wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten

Kulon Progo. Hal ini dibuktikan dengan hasil nilai χ2 hitung sebesar 10,796 dengan p value sebesar 0,005

(p<0,05). Hasil ini dapat diartikan bahwa pengetahuan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap

terbentuknya praktik pemberian ASI saja.

Pengetahuan merupakan dasar bagi terbentuknya perilaku kesehatan. Sesuai dengan teori Green dalam11

yang menyebutkan pengetahuan merupakan faktor predisposisi pembentuk perilaku kesehatan. Dapat diartikan

bahwa untuk dapat melakukan perilaku yang benar memerlukan adanya pengetahuan yang baik.

Pengetahuan tentang ASI eksklusif berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif karena pengetahuan

yang dimiliki ibu mempengaruhi pola pikir yang akan membentuk sikap positif yang selanjutnya diaplikasikan

dalam perilaku nyata. Hal ini sesuai dengan pendapat dari 12

yang menyatakan pengetahuan sangat berpengaruh

terhadap perilaku dan pola pikir seseorang.

Pemberikan ASI saja pada bayi usia < 6 bulan merupakan bentuk perilaku pemberian ASI saja tanpa

ada tambahan cairan atau makanan padat, selain obat-obatan dan vitamin. Adanya berbagai alasan dan faktor

Page 16: matematika

16

budaya yang melekat pada masyarakat sering kali bayi diberi makanan tambahan pada usia < 6 bulan. Perilaku

ibu memberikan ASI secara eksklusif hanya dapat terbentuk apabila ibu mempunyai pengetahuan yang benar

tenang ASI eksklusif mencakup pengertian, alasan pemberian ASI eksklusif, manfaat dan dampak yang dapat

ditimbulkan apabila tidak memberikan ASI secara eksklusif. Sesuai dengan 3 yang menyebutkan pengetahuan

ibu tentang keunggulan ASI dan cara pemberian ASI yang benar dapat menunjang keberhasilan ibu dalam

menyusui.

Hasil penelitian ini menunjukkan semakin baik tingkat pengetahuan maka semakin baik perilaku

pemberian ASI saja. Didukung hasil tabulasi silang diketahui diketahui sebagian besar responden yang

berpengetahuan baik, memberikan ASI saja kepada bayinya sebesar (61,2%), sedangkan responden yang

berpengetahuan kurang seluruhnya tidak memberikan ASI saja sebesar (2%). Hal ini menunjukkan bahwa

pengetahuan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perilaku pemberian ASI saja dengan keeratan

kategori sedang. Dapat diartikan, selain pengetahuan terdapat faktor lain yang memberikan kontribusi

terbentuknya perilaku pemberian ASI saja seperti dukungan keluarga, kondisi fisik ibu, pendidikan, dan

pekerjaan.

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh 13

dengan hasil penelitian

terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif dengan Pemberian ASI eksklusif di

Desa Trirenggo Wilayah kerja Puskemas Bantul I (p<0,05). Hasil yang sama juga ditunjukkan dari penelitian

14 dengan hasil Ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif denga praktek pemberian

ASI eksklusif di Wilayah kerja Puskesmas Sonokidul (p<0,05).

Kesamaan hasil penelitian ini dengan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengetahuan

merupakan faktor penting bagi terbentuknya praktik pemberian ASI eksklusif. Hal ini berimplikasi bahwa

sangat penting bagi ibu mempunyai pengetahuan tentang ASI esklusif dan mengaplikasikan pengetahuannya

tersebut dalam praktik pemberian ASI secara eksklusif. Hasil ini didukung oleh teori Green dalam Notoatmodjo

(2003) disebutkan bahwa pengetahuan merupakan faktor presdisposisi dan merupakan domain yang sangat

penting untuk terbentuknya perilaku.

KETERBATASAN

Keterbatasan penelitian ini yaitu adalah baru meneliti satu variabel yang mempengaruhi pembarian ASI

saja dan belum melakukan pengendalian terhadap variabel penganggu seperti dukungan, kondisi fisik, budaya dan

sosial ekonomi.

Page 17: matematika

17

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa:

1. Tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif sebagian besar dalam kategori baik sebesar 87,8%.

2. Praktik pemberian ASI saja di wilayah kerja Puskesmas Kokap I sebesar 61,2%.

3. Ada hubungan yang signifikan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI saja

di wilayah kerja Puskesmas Kokap 1, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Hasil analisis Chi-

Square diperoleh nilai χ2 sebesar 10,796 dengan p value sebesar 0,005(p<0,05).

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, maka dapat diberikan saran sebagai berikut:

1. Bagi Puskesmas Kokap I

Meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif dengan memotivasi ibu untuk menerapkan

pengetahuan yang dimiliki tentang ASI eksklusif dalam bentuk perilaku nyata yaitu memberikan ASI

secara eksklusif kepada bayinya.

2. Bagi Institusi Pendidikan UNRIYO

Menambah bahan referensi kepustakaan tentang tingkat pengetahuan dan praktik pemberian ASI

eksklusif, yang dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk mengembangkan penelitian dan kajian ilmiah

mahasiswa pada materi yang sejenis.

3. Penelitian Selanjutnya

Mengembangkan penelitian ini dengan meneliti variabel lain yang mempengaruhi praktik

pemberian ASI eksklusif seperti status sosial ekonomi, dukungan suami, pengaruh orang lain, tradisi dan

sikap perilaku petugas kesehatan sehingga dapat melengkapi hasil penelitian.

Page 18: matematika

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Suradi, R. 2008. Manfaat ASI dan Menyusui. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia.

2. Saleha, S. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa nifas. Jakarta: Salemba Medika.

3. Purwanti, H. S. 2004. Konsep Penerapan ASI Eksklusif Buku Saku Bidan. Jakarta: EGC.

4. Dinas Kesehatan Propinsi DIY. 2008. Profil Kesehatan Propinsi DIY Tahun 2008. Yogyakarta: Dinkes DIY.

5. Depkes RI. 2008. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta

6. Depkes RI.2001. Manajemen Laktasi.Depkes RI. Jakarta

7. Nadesul. 2004. Makanan Sehat Untuk Bayi. Jakarta: Puspa Swara.

8. Puskesmas Kokap 1 Kabupaten Kulon Progo DIY. 2011. Profil Puskesmas Kokap 1 2011. Yogyakarta

9. Soekanto, 1994. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Yogyakarta.

10. Rosita, 2008. ASI Untuk Kecerdasan Bayi, Yogyakarta: Ayyana.

11. Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

12. Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

13. Yuanita, 2007. Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang ASI Eksklusif dengan Pemberian ASI Eksklusif di Desa

Trirenggo Wilayah kerja Puskesmas Bantul I Yogyakarta. (Tidak dipublikasikan).

14. Wahyuni, S. 2001. Hubungan Penolong Persalinan, Dukungan keluarga dan Tingkat Pendidikan ibu dengan

Pemberian Kolostrum dan ASI Eksklusif. SKRIPSI Universitas Diponegoro Semarang. (Tidak dipublikasikan).