Makalah Teknik Gempa

of 31 /31
MAKALAH TEKNIK GEMPA “STUDI MEKANIK GEMPA BUMI DENGAN MENGUNAKAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)” i

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Teknik Gempa

MAKALAH TEKNIK GEMPA

STUDI MEKANIK GEMPA BUMI DENGAN MENGUNAKAN

GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)

i

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.i

DAFTAR ISI iii

BAB 1 Pendahuluan

1.1 Fenomena Gempa Bumi.1

BAB 2 Studi Mengenai Gempa Bumi

2.1 Klasifikasi Gempa Bumi....2

2.2 Parameter Gempa Bumi.5

2.3 Zonasi Wilayah Gempa Bumi Indonesia...6

2.4 Pengukuran Gempa Bumi..6

2.5 Studi Mekanik Gempa Bumi dengan Menggunakan GLOBAL

POSITIONING SYSTEM ( GPS )....7

2.6 Prediksi Gempa Bumi...11

2.7 Alat Pendeyteksi Gempa Bumi.....11

BAB 3 Penutup

3.1 Kesimpulan..14

Daftar Pustaka.iv

ii

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Fenomena Gempa Bumi

Gempa bumi merupakan fenomena alam yang sudah tidak asing lagi bagi kita

semua, karena seringkali diberitakan adanya suatu wilayah dilanda gempa bumi,

baik yang ringan maupun yang sangat dahsyat, menelan banyak korban jiwa dan

harta, meruntuhkan bangunan2 dan fasilitas umum lainnya. Gempa bumi

disebabkan oleh adanya pelepasan energi regangan elastis batuan pada litosfir.

Semakin besar energi yang dilepas semakin kuat gempa yang terjadi. Terdapat dua

teori yang menyatakan proses terjadinya atau asal mula gempa yaitu pergeseran

sesar dan teori kekenyalan elastis. Gerak tiba2 sepanjang sesar merupakan

penyebab yang sering terjadi. Klasifikasi gempa bumi secara umum berdasarkan

sumber kejadian gempa (R.Hoernes, 1878). Setiap bencana alam selalu

mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat, korban jiwa dan harta benda kerap

melanda masyarakat yang berada di sekitar lokasi bencana.

Gempa bumi didefinisikan sebagai getaran yang bersifat alamiah, yang

terjadi pada lokasi tertentu, dan sifatnya tidak berkelanjutan. Getaran pada bumi

terjadi akibat dari adanya proses pergeseran secara tiba-tiba (sudden slip) pada

kerak bumi. Pergeseran secara tiba-tiba terjadi karena adanya sumber gaya (force)

sebagai penyebabnya, baik bersumber dari alam maupun dari bantuan manusia

(artificial earthquakes). Selain disebabkan oleh sudden slip, getaran pada bumi

juga bisa disebabkan oleh gejala lain yang sifatnya lebih halus atau berupa getaran

kecil-kecil yang sulit dirasakan manusia. Getaran tersebut misalnya yang

disebabkan oleh lalu-lintas, mobil, kereta api, tiupan angin pada pohon dan lain-

lain. Getaran seperti ini dikelompokan sebagai mikroseismisitas (getaran sangat

kecil). Dimana tempat biasa terjadinya gempa bumi alamiah yang cukup besar,

berdasarkan hasil penelitian, para peneliti kebumian menyimpulkan bahwa hampir

95 persen lebih gempa bumi terjadi di daerah batas pertemuan antar lempeng yang

menyusun kerak bumi dan di daerah sesar atau fault.

1

Para peneliti kebumian berkesimpulan bahwa penyebab utama terjadinya

gempa bumi berawal dari adanya gaya pergerakan di dalam interior bumi (gaya

konveksi mantel) yang menekan kerak bumi (outer layer) yang bersifat rapuh,

sehingga ketika kerak bumi tidak lagi kuat dalam merespon gaya gerak dari dalam

bumi tersebut maka akan membuat sesar dan menghasilkan gempa bumi. Akibat

gaya gerak dari dalam bumi ini maka kerak bumi telah terbagi-bagi menjadi

beberapa fragmen yang di sebut lempeng (Plate). Gaya gerak penyebab gempa

bumi ini selanjutnya disebut gaya sumber tektonik (tectonic source).

Selain sumber tektonik yang menjadi faktor penyebab terjadinya gempa bumi,

terdapat beberapa sumber lainnya yang dikategorikan sebagai penyebab terjadinya

gempa bumi, yaitu sumber non-tektonik (non-tectonic source) dan gempa buatan

(artificial earthquake).

BAB 2

STUDI MENGENAI GEMPA BUMI

2.1 Klasifikasi Gempa Bumi

Kejadian bencana alam tidak dapat dicegah dan ditentukan kapan dan

dimana lokasinya, akan tetapi pencegahan jatuhnya korban akibat bencana ini

dapat dilakukan bila terdapat cukup pengetahuan mengenai sifat-sifat bencana

tersebut.

Klasifikasi gempa, antara lain:

Berdasarkan penyebabnya :

Gempa tektonik, yaitu gempa yang disebabkan oleh pergeseran lapisan

batuan pada daerah patahan.

Gempa vulkanik,yaitu gempa yang diakibatkan oleh aktivitas

vulkanisme.

Gempa guguran (gempa runtuhan), yaitu disebabkan oleh runtuhnya

bagian gua.

Gempa tumbukan, yaitu gempa yang disebabkan oleh meteor besar

yang jatuh ke bumi.

Berdasarkan bentuk episentrum :

Gempa sentral, yaitu gempa yang episentrumnya titik

Gempa linier, yaitu gempa yang episentrumnya garis.

Berdasarkan kedalaman hiposentrum

Gempa dalam, yaitu lebih dari 300 km

Gempa menengah, yaitu antara 100-300 km

Gempa dangkal, yaitu kurang dari 100 km

Berdasarkan jarak episentrum

Gempa lokal, yaitu episentrumnya kurang dari 10000 km.

Gempa jauh, yaitu episentrumnya sekitar 10000 km.

Gempa sangat jauh, yaitu episentrumnya lebih dari 10000 km.

Data dalam ilmu kebumian selalu berkaitan dengan kedalaman dan

ketebalan. Oleh karena itu, seorang ahli ilmu kebumian harus mempunyai

kemampuan untuk menentukan kedalaman dan ketebalan. Kedalaman sendiri

sebebarnya adalah lokasi sebuah titik, yang diukur secara vertikal terhadap

ketinggian titik acuan. Dalam ilmu Geofisika misalnya. Dikenal klasifikasi

gempa berdasarkan kedalaman. Menurut Fowler, 1990, klasifikasi gempa

berdasarkan kedalaman fokus adalah :

1.Gempa dangkal : kedalaman fokus gempa kurang dari 70 km

2.Gempa sedang : kedalamanan fokus gempa kurang dari 300 km

3.Gempa dalam : kedalaman fokus gempa lebih dari 300 km (kadang-kadang

lebih dari 450 km)

Seperti halnya kedalaman, kemampuan untuk menentukan ketebalan juga

sangat diperlukan dalam ilmu kebumian. Dengan mengetahui cara

menghitung ketebalan, ahli kebumian bisa menyelidiki ketebalan lapisan-

lapisan penyusun bumi sehingga kita bisa mengetahui bahwa ketebalan kerak

bumi mencapai 100 km, ketebalan matel adalah sekitar 2900 km, liquid outer

core sekitar 2200 km, dan solid inner core sekitar 1250 km

picture by wikipedia

Analisis geometri akifer (aquifer : lapisan yang dapat menyimpan dan

mengalirkan air dalam jumlah yang ekonomis. Contoh : pasir, kerikil,

batupasir, batugamping rekahan.) juga melibatkan analisis kedalaman dan

ketebalan.

Selain klasifikasi gempa di atas dikenal juga gempa laut, yaitu gempa

yang episentrumnya terdapat di bawah permukan laut. Gempa ini

menyebabkan terjadinya gelombang pasang yang dahsyat, disebut tsunami.

Seismograf adalah alat pencatat gempa, sedang seismogram adalah rekaman

atau hasil catatan seismograf.

2.2 Parameter - Parameter Gempa Bumi

a. Gelombang Gempa bumi Secara sederhana dapat diartikan sebagai merambatnya energi dari pusat gempa atau hiposentrum (fokus) ke tempat lain di bumi. Gelombang ini terdiri dari gelombang badan dan gelombang permukaan. Gelombang badan adalah gelombang gempa yang dapat merambat di lapisan bumi, sedangkan gelombang permukaan adalah gelombang gempa yang merambat dipermukaanbumi.

b. Ukuran besar Gempa bumi Magnitudo gempa merupakan karakteristik gempa yang berhubungan dengan jumlah energi total seismic yang dilepaskan sumber gempa. Magnitude ialah skala besaran gempa pada sumbernya. Jenis- magnitude/ besaran gempa bumi. Magnitude gelombang badan, mb, ditentukan berdasarkan jumlah total energi gelombang elastis yang ditransfer dalam bentuk gelombang P dan S Magnitude gelombang permukaan: Ms ditentukan berdasarkan berdasarkan jumlah total energi gelombang love (L) dan gelombang Rayleigh (R) dengan asumsi hyposenter dangkal (30 km) dan amplitude maksimum terjadi pada periode 20 detik. Moment gempa seismic moment : Mo merupakan skala yang menentukan magnitude suatu gempa bumi menurut momen gempa, sehingga dapat merupakan gambaran deformasi yang disebabkan oleh suatu gempa.

c. Intensitas Intensitas adalah besaran yang dipakai untuk mengukur suatu gempa selain dengan magnitude. Intensitas dapat didefenisikan sebagai suatu besarnya kerusakan disuatu tempat akibat gempa bumi yang diukur berdasarkan kerusakan yang terjadi. Harga intensitas merupakan fungsi dari magnitude.jarak ke episenter, lama getaran, kedalaman gempa, kondisi tanah dan keadaan bangunan. Skala Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI)

merupakan skala intensitas yang lebih umum dipakai. Dibawah ini akan

diuraikan pembagian intensitas serta efek yang diakibatkan oleh besarnya

intensitas tersebut dan nilai intensitas dalam satuan skala richter.

2.3

2.4

Zonasi Wilayah Gempa Bumi Indonesia Berdasarkan sejarah kekuatan sumber gempa, aktifitas gempa bumi di Indonesia bisa dibagi dalam 6 daerah aktifitas : Daerah sangat aktif, magnitude lebih dari 8 mungkin terjadi di daerah ini yaitu di Halmahera, pantai utara Irian. 1. Daerah aktif, magnitude 8 mungkin terjadi dan magnitude 7 sering terjadi yaitu di lepas pantai barat Sumatra, kepulauan Sunda dan Sulawesi tengah. 2. Daerah Lipatan dengan atau tanpa retakan, magnitude kurang dari tujuh bisa terjadi yaitu di Sumatra, kepulauan Sunda, Sulawesi tengah. 3. Daerah lipatan dengan atau tanpa retakan, magnitude kurang dari 7 mungkin terjadi, yaitu di pantai barat Sumatra, jawa bagian utara, Kalimantan bagian timur. 4. Daerah gempa kecil, magnitude kurang dari 5 jarang terjadi, yaitu di daerah pantai timur Sumatra, Kalimantan tengah 5. Daerah stabil, tak ada catatan sejarah gempa, yaitu daerah pantai selatan Irian,Kalimantanbagianbarat.

Pengukuran Gempa Bumi

Aktifitas kerak bumi dapat diukur dengan berbagai cara yaitu * Seismometer, pendeteksi getaran bumi * Scintilation Counter, pengukur gas radon yg aktif * Tiltmeter, pengukur pengangkatan atau penurunan permukaan bumi * Magnetometer, pengukur perubahan local medan magnit bumi * Pengukuran geodesi, baik dengan penggunaan GPS maupun Theodolit yg digunakan untuk mengukur perubahan titik-titik triangulasi suatu patahan * Alat-alat laser, pengukur round trip travel time * Resistivity gauge, digunakan untuk mengungkapkan variasi konduktivitas

6

batuan

* Creep meter, alat untuk mengukur gerak horizontal semua patahan

* Gravimeter, pengukur gaya berat bumi

* St raimeter, pengukur ekspansi dan konstraksi kerak bumi.

2.5 Studi Mekanik Gempa Bumi Dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) Dengan adanya fakta, maka langkah pemantauan potensi dan usaha mitigasi bencana jelas penting sekali untuk dilakukan, sehingga diharapkan efek negatif yang dapat ditinggalkan oleh bencana tersebut dapat direduksi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pemantauan potensi dan mitigasi bencana alam gempa bumi yaitu melalui penelitian serta analisis mekanisme siklus dan tahapan gempa bumi. Siklus gempa bumi (earthquake cycle) didefinisikan sebagai perulangan gempa. Satu siklus dari gempa bumi ini biasanya berlangsung dalam kurun waktu puluhan sampai ratusan tahun. Dalam satu siklus gempa bumi terdapat beberapa mekanisme tahapan terjadinya gempa bumi, diantaranya yaitu tahapan interseismic, pre-seismic, co-seismic, dan post-seismic [Mori (2004), Vigny (2004), Ando (2005), Natawidjaja (2004)] Bentuk analisis siklus gempa bumi dilakukan dengan cara meneliti dokumen sejarah kejadian gempa bumi, dan penelitian-penelitian geologi, geofisika seperti stratigrafi batuan, terumbu karang (coral microattols), paleo- tsunami, paleo-likuifaksi, dan lain-lain. Sementara itu bentuk analisis tahapan gempa bumi dilakukan dengan cara melihat dan meneliti fenomena-fenomena yang menyertai tahapan gempa bumi seperti deformasi, seismisitas, informasi pengukuran geofisika (reseistivitas elektik, pengamatan muka dan temperatur air tanah), dan lain-lain. [Mori (2004), Vigny (2004; 2005), Ando (2005), Natawidjaja (2004)].

7

Studi Mekanisme Gempa Bumi Aceh 2004 dengan GPS.

Untuk melihat mekanisme dari gempa bumi Aceh 2004 dapat

dilakukan salah satunya dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning

System (GPS). Data GPS dapat dengan baik melihat deformasi yang

mengiringi tahapan mekanisme terjadinya Gempa Bumi. Studi mengenai

tahapan mekanisme gempa ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi

potensi Bencana Alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi

dimasadatang.

Data GPS yang digunakan dalam penelitian mekanisme gempa Aceh

ini diantaranya yaitu data GPS hasil dari program SEAMERGES yang telah

mengumpulkan data-data GPS dari lebih 60 stasiun titik pengamatan yang

berkaitan dengan pergerakan lempeng di Asia Tenggara dan data-data GPS

yang berkaitan dengan gempa Aceh 2004 dan Gempa Nias 2005. Sebagian

data berupa data kontinyu, dan sebagian lagi berupa data campaign.

Kemudian pada bulan Februari dan Maret 2005, ITB bekerjasama dengan

Nagoya Univerisity, BPPT, LIPI, dan Universitas Syiah Kuala mengadakan

kerjasama penelitian Near field co-seismic dan post-seismic gempa yang

terjadi di Aceh, dan Near Field co-sesimic gempa Nias dengan menggunakan

teknologi GPS. Pekerjaan survai dilakukan masing-masing selama kurang

lebih 10 hari dengan memantau titik-titik benchmark yang dulu di bangun

oleh BPN dan BAKOSURTANAL. Selain itu pada survei lapangan juga di

pasang titik-titik baru guna pemantauan pergerakan tanah di sekitar Aceh

pasca gempa bumi 2004. Di bawah ini diberikan foto-foto yang diambil dari

kegiatan survey lapangan di daerah Lok Nga di Pantai Barat Aceh, dan Sigli

di pantai Utara Aceh.

8

Analisis tahapan Interseismic

Dari hasil pengolahan data interseismic dapat disimpulkan bahwa

akumulasi deformasi pada tahapan interseismic di sekitar wilayah Aceh

ternyata cukup besar sebelum terjadinya gempa bumi di akhir tahun 2004, dan

apabila kita sebelumnya menyadari akan hal tersebut maka bukan tidak

mungkin kita dapat melakukan bentuk mitigasi bencana yang lebih baik lagi.

Kemudian apabila kita tengok hasil pemodelan block rotation (solusi

geodessya 1999 dalam vigny 2005) di daerah Sumatera, kita bisa melihat

indikasi deformasi yang cukup besar di daerah Sumatera bagian utara apabila

Indikasi high deformasi

dimungkinkan karena terdapatnya area wide coupling di sekitar zona subduksi

tersebut. Area wide coupling ini dimungkinkan oleh pola sudut kemiringan

dangkal yang menyusun zona subduksi Sumatera bagian utara. Sementara itu

makin ke selatan sudut kemiringan-nya membesar.

Analisis tahapan Pre-seismic

Pengolahan data pre-seismic signal, dilakukan dengan menggunakan data

GPS kontinyu yang terletak di daerah paling dekat dengan episenter gempa,

yaitu GPS di stasiun Sampali Sumatera Utara, dan stasiun Phuket Thailand.

Sinyal yang dicoba dilihat adalah sinyal pre-seismic deformasi, dan

karakteristik ionosfer pada gempa Aceh 2004. Berdasarkan hasil penelitian

pre-seismic signal deformasi dari gempa Aceh- 2004 ternyata tidak ditemukan

adanya bentuk anomali deformasi berupa akselerasi deformasi. Hasil

pengolahan data GPS daily solution di stasiun Sampali selama 15 hari

sebelum terjadinya gempa di Aceh tidak menunjukkan adanya akselerasi

deformasi. Kumpulan nilai koordinat daily solution hanya berubah dalam

fraksi mili saja. Sementara itu hasil pengolahan data GPS daily solution di

stasiun Phuket selama 15 hari sebelum terjadinya gempa di Aceh juga tidak

menunjukkan adanya akselerasi deformasi. Kumpulan nilai koordinat daily

solution di titik Phuket juga hanya berubah dalam fraksi mili saja. Berbeda

halnya kalau kita lihat hasil pengolahan data 15 hari setelah gempa di titik

9

Sampali dan Phuket, masing-masing dengan jelas menunjukkan sinyal

deformasi post-seismic.

Analisis tahapan Coseismic

Berdasarkan hasil perhitungan, besarnya co-seismic deformation akibat

gempa Aceh 2004 di beberapa titik pantau near field adalah sebagai berikut:

titik Banda Aceh terdeformasi 2.4 meter, titik pulau Sabang telah terdeformasi

1.8 meter, Sigli mengalami deformasi 70 centimeter, titik Meulaboh

terdeformasi 1.9 meter dan Lok Nga terdeformasi sebesar 2.7 meter.

Sementara itu co-seismic deformation di beberapa titik pantau far field adalah

sebagai berikut: titik Phuket Thailand terdeformasi sebesar 27 sentimeter, titik

Langkawi Malaysia terdeformasi sebesar 17 sentimeter, dan titik Sampali

Sumatera Utara terdeformasi 15 sentimeter.

Dari hasil co-seismic deformation gempa Aceh 2004, kita kemudian membuat

model co-seismic slip (pergeseran pada bidang sesar) dengan menggunakan

formula elastic half space modeling (Okada 1999). Input parameter utama

yaitu vektor co-seismic deformation, parameter sekundernya diantaranya

konstanta rigiditas, kemudian beberapa parameter untuk pendekatan model

(apriori model) yaitu geometri bidang sesar (panjang dan lebar bidang sesar),

serta informasi sudut kemiringan bidang sesar. Pendekatan nilai sudut

kemiringan diperoleh dari plotting vertikal gempa susulan (aftershock).

Informasi co-seismic slip gempa Aceh yang dibuat, dapat digunakan dalam

melihat mekanisme release energi, kemudian perhitungan besar energi, serta

mekanisme transfer energy (stress transfer) yang berguna dalam hal evaluasi

potensi gempa.

Analisis Post-Seismic

Post-seismic pada gempa Aceh 2004 dimulai tepat setelah berakhirnya

deformasi elastis pada tahapan co-seismic. Nilai deformasi bertambah sebesar

4 sentimeter dalam kurun waktu 15 hari di stasiun PHKT (Phuket Thailand).

Rekaman sinyal post-seismic menunjukan pola eksponensial sesuai dengan

hukum omori mengenai tahapan ini. Nilai deformasi di stasiun PHKT (Phuket

10

Thailand) setelah 50 hari dari waktu kejadian gempa mencapai 34 cm, dan

nilai ini cukup signifikan, mencapai 1.25 kali nilai deformasi yang diberikan

tahapan co-seismic. Sementara itu stasiun GPS yang dipasang kontinyu di

Universitas Syah Kuala Banda Aceh menunjukkan nilai deformasi post-

seismic sebesar 15 sentimeter setelah 90 hari pengamatan. Deformasi post-

seismic ini dapat terjadi bertahun-tahun lamanya.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa studi mengenai tahapan mekanisme

gempa ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi potensi Bencana

Alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi di masa datang.

Setelah melihat mekanisme fase gempa bumi di Aceh 26 Desember 2004

ditambah dengan informasi penelitian siklus gempa bumi, dan penelitian

lainnya, maka kita dapat melakukan evaluasi potensi gempa bumi di masa

yang akan datang di sekitar zona subduksi Sumatera pasca terjadinya gempa

besar tersebut.

2.6 Prediksi Gempa Bumi

Prediksi dengan peralatan dan metode ilmiah

* Pengetahuan tentang zona seismic dan daerah beresiko yang dipelajari

lewat studi dampak

historis dan lempeng tektonik

* Memonitor aktifitas seismikdengan menggunakan seismogram dan

instrument lain

* Menggunakan observasi ilmiah

* Memonitor tingkat seismic global.

2.7 Alat pendeteksi gempa Bumi 1. Earth Queke Alarm

Alarm ini merupakan alat peringatan/penanda adanya getaran (gempa) bumi dengan cara mendeteksi kedatangan gelombang seismik P-Wave sebelum kedatangan S-Wave dan Surface Wave (Q-wave

11

dan R-wave) yang berbahaya dan bersifat merusak, kemudian memicu alarm

sebagai peringatan tanda bahaya.

Dengan auto-reset speaker alarm yang sangat nyaring, mampu

membangunkan orang yang sedang tidur sehingga mendapatkan

kesadarannya untuk cepat tanggap/bereaksi dan segera berlindung ke tempat

yang aman sebelum gelombang seismik yang merusak datang.

Alat ini mendeteksi P-wave menggunakan Tabung Sensor SMST. Ini

sangat compact dan portable. Casing-nya sangat kokoh dengan permukaan

casing belakang yang simetris, menjamin kesimetrisan posisi pada dinding

bagi kesempurnaan dan keakuratan penerimaan resonansi gelombang

seismik.

Tempat pemasangan dapat dipindah-pindahkan sesuai keinginan.

Cocok dipasang pada semua jenis gedung (bertingkat maupun tidak), baik

untuk fasilitas umum atau rumah pribadi. Alat ini bersifat maintenance-free,

bebas perawatan. Baterainya mampu bertahan hingga 12 bulan dan mudah

untuk diganti, dilengkapi tombol battery-check.

Alarm ini menggunakan sensor part teknologi berstandar

internasional yang berkualitas tinggi yang support untuk mendeteksi semua

jenis gempa.

2. Jam Pendeteksi Gempa

Bagi negara yang posisinya di antara lempeng bumi, seperti Jepang,

gempa bumi merupakan suatu gangguan yang hampir setiap hari terjadi.

Untuk itu, diperlukan sistem peringatan dini yang bisa diakses semua orang

sebelum gempa terjadi. Citizen, produsen jam asal Jepang, menangkap

peluang ini dengan menciptakan Seismic Watch.

peranti tersebut merupakan alat deteksi gempa bumi

berbentuk jam tangan dan jam dinding analog. Di

dalamnya, terdapat receiver EEW (early earthquake

warning). EEW merupakan sinyal early warning

system gempa bumi yang telah lama diterapkan di

Jepang. Sistem sinyal itu dikelola Lembaga

12

Meteorologi Nasional. Sinyal tersebut dipancarkan oleh lebih dari seratus

stasiun pemantau gempa yang tersebar di seluruh negara tersebut. Dalam

keadaan normal, Seismic Watch berfungsi layaknya jam tangan biasa.

Namun, ketika tiba-tiba menangkap sinyal EEW, ia akan langsung

menghitung besarnya gempa dan interval waktu hingga gempa datang.

Perhitungan ini berdasar data lokasi di mana jam sedang dipakai pemiliknya.

Setelah menghitung, jam langsung memperingatkan pemiliknya lewat bunyi

alarm dan getaran. Putaran jarum jamnya akan makin cepat sesuai dengan

intensitas perkiraan gempa. Sementara itu, jarum menit dan jarum detiknya

akan memulai countdown hingga gempa benar-benar tiba.

13

BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Gempa Bumi merupakan fenomena alam yang sudah tidak asing lagi, tidak dapat dicegah dan ditentukan dimana lokasinya. Untuk melihat mekanisme dari gempa bumi dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning System ( GPS ). Data GPS dapat dengan baik melihat deformasi yang mengiringi tahapan mekanisme terjadinya gempa bumi. Studi mengenai tahapan mekanisme gempa bumi ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi potensi bencana alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi dimasa depan.

14

DAFTAR PUSTAKA

http://http://www.pirba.ristek.go.id/det.php?id=4

http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1030986000&34

http://http://72.14.235.104/search?q=cache:B5UgCE2vrygJ:jurnalsipil

ukm.tripod.com/v2n2_2theo_ari.pdf+ketebalan+inner+core&hl=id&ct=clnk&cd=

1&gl=id

www.appliedgeology.itb.ac.id/static/lab/hg/modul1.pdf

15