Laporan Tugas Kuliah PDK Edit

download Laporan Tugas Kuliah PDK Edit

of 23

  • date post

    07-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    318
  • download

    12

Embed Size (px)

Transcript of Laporan Tugas Kuliah PDK Edit

TUGAS MATA KULIAH

PERENCANAAN DIBANTU KOMPUTERHSKB 830

Dosen: Husnul Khatimi, MT.

Oleh:

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SIPIL BANJARMASIN 2011

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program SAP2000 adalah program yang dapat membantu seseorang untuk merancang dan mengontrol keamanan suatu struktur bangunan. Program ini dapat mengefisienkan waktu dalam proses perancangan khususnya untuk bangunan bertingkat banyak. Hal ini dikarenakan option-option yang membantu dan proses perhitungan yang otomatis. Tugas perancangan bangunan ini merupakan aplikasi dari materi kuliah yang telah diberikan pada mata kuliah Perencanaan Dibantu Komputer. Dalam tugas ini terdapat analisa struktur dan rangka bangunan sehingga digunakan program SAP 2000 versi 11. 1.2 Tujuan Tugas Perancangan Bangunan bertingkat dibantu program ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Dibantu Komputer dan menganalisa keamanan struktur bangunan. 1.3 Metodologi Langkah pengerjaan perancangan ini adalah: 1. Membentuk geometrik 2. Menentukan bahan/ material3. Menentukan kondisi penampang yang digunakan

4. Menentukan kondisi pembebanan 5. Menetukan kondisi nodal 1.4 Data Umum Proyek Tugas ini menggunakan contoh Pembangunan ------------------------------------------------------------ yang berlokasi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

BAB II PERMODELAN/ BENTUK GEOMETRIK STRUKTUR Model struktur dibuat tiga lantai. Pondasi pada bangunan ini adalah pondasi tiang pancang karena kondisi tanahnya yang lunak. Oleh karena itu, digunakan pondasi tiang dengan kedalaman 26 meter. Ukuran-ukuran yang digunakan pada permodelan sesuai dengan ukuran pada gambar rencana. Ukuran permodelan diambil dari as ke as kolom dan balok. Sedangkan perletakan dimodelkan sebagai jepit. Membuat model struktur dari gambar rencana dimodelkan dalam bentuk 2D. Struktur bangunan terdiri dari portal tinjauan arah memanjang dan tinjauan arah melintang. Permodelan portal bangunan arah memanjang ada 6 portal dan permodelan untuk melintang ada 6 portal. Penganalisisan pada tugas ini hanya digunakan salah satu permodelan portal, yaitu permodelan arah melintang. Yaitu pada portal bagian tengah. Portal melintang Portal melintang dibagi menjadi 3 buah portal yaitu: Portal Tengah Melintang Kolom: Portal tengah permodelan kolomnya diambil dari gambar denah kolom yang dapat dilihat pada lampiran. Dimodelkan demikian sesuai dengan perletakkan kolomnya yaitu Kolom pada tingkat I, II dan III. Dimana dimensi kolom yang digunakan adalah: Kolom = 50/50 Balok: Untuk permodelan balok diambil dari denah balok dan pelat lantai yaitu Balok pada lantai 1, 2, dan 3. B2= 30/50

BAB III PEMBEBANAN Faktor beban dan kombinasi beban Menurut peraturan beton Indonesia, SNI 03-2847-2002 mengenai kombinasi pembebanan, disyaratkan bahwa dalam Perencanaan suatu struktur baja harus memeperhatikan jenis-jenis kombinasi pembebanan berikut ini: 1) Kuat perlu U untuk menahan beban mati D paling tidak harus sama dengan U = 1,4 D..(4) Kuat perlu U untuk menahan beban mati D, beban hidup L, dan juga beban atap A atau beban hujan R, paling tidak harus sama dengan U = 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R).(5) 2) Bila ketahanan struktur terhadap beban angin W harus diperhitungkan dalam perencanaan, maka pengaruh kombinasi beban D, L, dan W berikut harus ditinjau untuk menentukan nilai U yang terbesar, yaitu: U = 1,2 D + 1,0 L 1,6 W + 0,5 (A atau R)(6) Kombinasi beban juga harus memperhitungkan kemungkinan beban hidup L yang penuh dan kosong untuk mendapatkan kondisi yang paling berbahaya, yaitu: U = 0,9 D 1,6 W ....(7) Perlu dicatat bahwa untuk setiap kombinasi beban D, L, dan W, kuat perlu U tidak boleh kurang dari persamaan 5. 3) Bila ketahanan struktur terhadap beban gempa E harus diperhitungkan dalam perencanaan, maka nilai kuat perlu U harus diambil sebagai:2) U = 1,2 D + 1,0 L 1,0 E ...(8) Atau U = 0,9 D 1,0 E ...(9) dalam hal ini nilai E ditetapkan berdasarkan ketentuan SNI 03-1726-1989-F, Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk rumah dan gedung, atau penggantinya. 4) Bila ketahanan terhadap tekanan tanah H diperhitungkan dalam perencanaan, maka pada persamaan 5, 7 dan 9 ditambahkan 1,6H, kecuali bahwa pada keadaan

dimana aksi struktur akibat H mengurangi pengaruh W atau E, maka beban H tidak perlu ditambahkan pada persamaan 7 dan 9. 5) Bila ketahanan terhadap pembebanan akibat berat dan tekanan fluida, F, yang berat jenisnya dapat ditentukan dengan baik, dan ketinggian maksimumnya terkontrol, diperhitungkan dalam perencanaan, maka beban tersebut harus dikalikan dengan faktor beban 1,4, dan ditambahkan pada persamaan 4, yaitu: U = 1,4 (D + F) ..(10) Untuk kombinasi beban lainnya, beban F tersebut harus dikalikan dengan faktor beban 1,2 dan ditambahkan pada persamaan 5. 6) Bila ketahanan terhadap pengaruh kejut diperhitungkan dalam perencanaan maka pengaruh tersebut harus disertakan pada perhitungan beban hidup L. 7) Bila pengaruh struktural T dari perbedaan penurunan fondasi, rangkak, susut, ekspansi beton, atau perubahan suhu sangat menentukan dalam perencanaan, maka kuat perlu U minimum harus sama dengan: U = 1,2(D +T ) + 1,6L + 0,5(A atau R)(11) Perkiraan atas perbedaan penurunan fondasi, rangkak, susut, ekspansi beton, atau perubahan suhu harus didasarkan pada pengkajian yang realistis dari pengaruh tersebut selama masa pakai. 8) Untuk perencanaan daerah pengangkuran pasca tarik harus digunakan faktor beban 1,2 terhadap gaya penarikan tendon maksimum. 9) Jika pada bangunan terjadi benturan yang besarnya P, maka pengaruh beban tersebut dikalikan dengan faktor 1,2. Menurut peraturan baja Indonesia, SNI 03-1729-2002 pasal 6.2.2 mengenai kombinasi pembebanan, disyaratkan bahwa dalam Perencanaan suatu struktur baja harus memeperhatikan jenis-jenis kombinasi pembebanan berikut ini: a. 1,4D b. 1,2D + 1,6L + 0,5 (La atau H)c. 1,2D +1,6(La atau H) + ( d. 1,2D + 1,3W + e. 1,2D 1,0E + L L

.L atau 0,8W)

.L + 0,5 (La atau H)

L

.L

f. 0,9D (1,3W atau 1,0E)

Dengan: D adalah beban mati yang diakibatkan oleh berat konstruksi permanen, termasuk dinding, lantai atap, plafon, partisi tetap, tangga, dan peralatan layan tetap. L adalah beban hidup yang ditimbulkan oleh penggunaan gedung, termasuk kejut, tetapi tidak termasuk beban lingkungan seperti angin, hujan dan lain-lain. La adalah beban hidup di atap yang ditimbulkan selama peralatan oleh pekerja, peralatan, dan material atau selama penggunaan biasa oleh orang dan benda bergerak H adalah beban hujan, tidak termasuk yang diakibatkan genangan air. W adalah beban angin E adalah beban gempa yang ditentukan dari peraturan gempa Kpa dan L L

= 0,5 bila L < 5

= 1 bila L 5 Kpa. Faktor beban untuk L harus sama dengan 1,0 untuk

garasi parkir, daerah yang digunakan untuk pertemuan umum dan semua daerah yang memikul beban hidup lebih besar dari 5 Kpa. Dalam perhitungan laporan ini, kami menggunakan kombinasi beban: Untuk beton : 1,4D + 1,6L

A. Pembebanan Portal Perhitungan pembebanan portal menggunakan metode konvensional karena metode ini dianggap lebih mudah daripada metode lainnya. Beban yang bekerja pada portal yaitu beban dari pelat lantai, beban dari dinding, dan beban dari balok induk. 1. Beban Dari Pelat Lantai Pemindahan beban dari pelat lantai ke balok pemikul berdasarkan penyederhanaan teori bidang retak. Beban yang terdapat pada pemindahan beban pelat berupa beban segitiga dan beban trapesium. Beban segitiga pada sisi terpendek (Lx) dan beban trapesium pada sisi terpanjang (Ly). Intensitas Beban Segitiga = * qplat * Lx (kg/m) Intensitas Beban Trapesium = * qplat * Ly (kg/m)

q = * qplat * Lx

45

45

Lx45 45 45

Ly

q = * qplat * Lx

1. Beban dari dinding Beban merata, q = b * b * (h-tp) 2. Beban sendiri dinding Beban merata, q = qd * ht BAB IV PEMBAHASAN

Setelah dilakukan permodelan struktur dan digambar model struktur tersebut pada program SAP 2000, maka yang dilakukan selanjutnya adalah memasukkan data-data baik data balok, kolom, dan pembebanan. Input Data Struktur: Kuat rencana Berdasarkan SNI 03-2847-2002: 1) Kuat rencana suatu komponen struktur, sambungannya dengan komponen struktur lain, dan penampangnya, sehubungan dengan perilaku lentur, beban normal, geser, dan torsi, harus diambil sebagai hasil kali kuat nominal, yang dihitung berdasarkan ketentuan dan asumsi dari tata cara ini, dengan suatu faktor reduksi kekuatan dalam 11.3(2). 2) Faktor reduksi kekuatan ditentukan sebagai berikut: (1) Lentur, tanpa beban aksial ............................................................ 0,80 (2) Beban aksial, dan beban aksial dengan lentur. (Untuk beban aksial dengan lentur, kedua nilai kuat nominal dari beban aksial dan momen harus dikalikan dengan nilai tunggal yang sesuai): (a) Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur ..................................... 0,80 (b) Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur:

Komponen struktur dengan tulangan 12.9.3.0,70

spiral yang sesuai dengan

Komponen struktur lainnya................................................................... 0,65 Kecuali untuk nilai aksial tekan yang rendah, nilai boleh ditingkatkan berdasarkan aturan berikut: Untuk komponen struktur dimana fy tidak melampaui 400 MPa, dengan tulangan simetris, dan dengan (h- d- ds ) / h tidak kurang dari 0,70, maka nilai boleh ditingkatkan secara linear menjadi 0,80 seiring dengan berkurangnya nilai Pn dari 0,10fc Ag ke nol. Untuk komponen struktur beton bertulang yang lain, nilai boleh ditingkatkan secara linear menjadi 0,80 seiring dengan berkurangnya nilai Pn dari nilai terkecil antara 0,10fc Ag dan Pb ke nilai nol. (3) Geser dan torsi .............................................................................. 0,75 Kecuali pada struktur yang bergantung pada sistem rangka pemikul momen khus