LapOran tataniaga, Rio JBS YES

download LapOran tataniaga, Rio JBS YES

of 66

  • date post

    30-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    682
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of LapOran tataniaga, Rio JBS YES

ANALISIS PEMASARAN BUNCIS DI KELURAHAN SUMBER AGUNG KECAMATAN KEMILING BANDAR LAMPUNG ( Laporan Praktikum Tataniaga Pertanian ) DISUSUN OLEH Anda Laksmana (0814023053) Muhammad Yusup (0814023091) Rio JBS (0814023109) 1URUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2010 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiakzamandulu,tepatnyaiauhsebelumkaumtanidariPulauJawa ditransmigrasikanPemerintahBelandakeLampung,memangpendudukpribumi asli(orangLampung)mayoritasadalahpetaniyanggigihdanterampil.Bertani sawah dengan pengairan secara "alamiah", memanIaatkan air sungai kecil, sumber mataair(ulutulung)yangadadansawahtadahhuian,belumbanyakberbentuk pertanian sawah dengan teknis irigasi seperti di daerah transmigrasi sekarang ini. Merekapunberladangpadi,diselipitanamanpalawiio,cabai,buncis,bumbu dapurlain,kacangsayuriugaiagungsekadarsaiauntukdimakan(konsumsi) sendiri. Pribumi pantangan meniual dari hasil usaha ladang sendiri. ProvinsiLampungmemilikibanyakbenihunggulyangperlumendapat pengakuanpemerintahdalamhaliniDepartemenPertanian.Lampungmemiliki beragambenihhortikulturadanpangan.Misalnyatomat,buncisdanbenihpadi Sertani. Pembudidayaan tanaman buncis di Indonesia telah meluas ke berbagai daerah. Tahun 1961-1967 luas areal penanaman buncis di Indonesia sekitar 3.200 hektar, tahun 1969-1970 seluas 20.000 hektar dan tahun 1991 mencapai 79.254 hektar dengan produksi 168.829 ton. Saat ini kacang buncis sudah ditanam di 26 propinsi di Indonesia (kecuali Timor Timur). Daerah sentra pertanaman yang termasuk enam besar secara berurut adalah: Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Utara dan Bali. Sedangkan sentra kacang iogo terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan NTT, Bengkulu dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah yang seiak lama meniadi sentra pertanaman buncis antara lain Kotabatu (Bogor), Pengalengan dan Lembang (Bandung) dan Cipanas (Cianiur). Sedangkan pusat terbesar pertanaman kacang iio anatara lain daerah Garut (Jawa Barat). Hampir semua kalangan masyarakat memanIaatkan buncis, mulai dari ibu rumah tangga yang membutuhkan dalam iumlah sedikit sampai ke industri pengolahan yang membutuhkan dalam iumlah besar dan continue. Selain dikonsumsi di dalam negeri ternyata buncis iuga telah diekspor. Negara-negara yang sering mengimpor buncis dari Indonesia antara lain Singapura, Hongkong, Australia, Malaysia, dan Inggris. Bentuk-bentuk yang diekspor bermacam-macam, ada yang berbentuk polong segar, didinginkan atau dibekukan, dan adapula yang berbentuk biii kering. Mengingat buncis sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia dan masyarakat luar negeri maka bisa dibayangkan banyaknya produksi buncis yang dibutuhkan. Oleh karena itu, buncis dapat dikatakan merupakan komoditi yang mempunyai masa depan cerah. Menurut inIormasi yang diperoleh dari LIPI diperkirakan bahwa orang Indonesia membutuhkan kacang-kacangan 40 gr am/hari. Untuk tetap mempertahankan eksistensinya maka buncis harus mempunyai kualitas yang baik. Untuk mendapatkan kualitas yang baik maka proses pembudidayaan sangat menentukan sekali. Cara yang dilakukan antara lain melalui intensiIikasi, yaitu dengan penerapan sapta usaha tani sedangkan dengan ekstensiIikasi yaitu dengan penambahan luas areal panen. Pilihan lain untuk menaikkan produktivitas buncis adalah dengan ialan diversiIikasi. Selain itu pula, peningkatan semangat petani untuk bertanam buncis perlu dilakukan, dengan ialan meningkatkan tataniaga buncis itu sendiri. B. Tujuan Adapun tuiuan dari adanya makalah mengenai penelitian ' Tataniaga Tanaman Buncis di Kelurahan Sumber Agung Kecamatan Kemiling Bandar Lampung 'ini, yaitu : 1. Mengetahui seiarah, budidaya, morIologi, deskripsi, manIaat serta kandungan gizi tanaman buncis secara umum. 2. Mengetahui rantai tataniaga tanaman buncis khususnya di daerah penelitian yaitu di Kelurahan Sumber Agung Kecamatan Kemiling Bandar Lampung. 3. Mengetahui analisis margin pemasaran tanaman buncis di Kelurahan Sumber Agung 4. Mengetahui eIisien atau tidaknya saluran tataniaga yang ada di Kelurahan Sumber Agung BAB II TIN1AUAN PUSTAKA A. Sejarah Budidaya Tanaman Buncis Kacang buncis (Phaseolus vulgaris .L.) berasal dari Amerika, sedangkan kacang buncis tipe tegak (kidney-bean) atau kacang iago adalah tanaman asli lembah Tahuaacan-Meksiko. Penyebarluasan tanaman buncis dari Amerika ke Eropa dilakukan seiak abad 16. Dearah pusat penyebaran dimulai di Inggris (1594), menyebar ke negara-negara Eropa, AIrika, sampai ke Indonesia. Pembudidayaan tanaman buncis di Indonesia telah meluas ke berbagai daerah. Tahun 1961-1967 luas areal penanaman buncis di Indonesia sekitar 3.200 hektar, tahun 1969-1970 seluas 20.000 hektar dan tahun 1991 mencapai 79.254 hektar dengan produksi 168.829 ton

Daerah yang seiak lama meniadi sentra pertanaman buncis antara lain Kotabatu (Bogor), Pengalengan dan Lembang (Bandung) dan Cipanas (Cianiur). Sedangkan pusat terbesar pertanaman kacang iio anatara lain daerah Garut (Jawa Barat).

Taksonomi tanaman buncis diklasiIikasikan sebagai berikut: Kingdom: Plant Kingdom Divisio: Spermatophyta Sub divisio: Angiosspermae Kelas: Dicotyledonae Sub kelas: CalyciIlorae Ordo: Rosales (Leguminales) Famili: Leguminosae (Papilionaceae) Sub Iamili: Papilionoideae Genus: Phaseolus Spesies: Phaseolus vulgaris L. Kacang buncis dan kacang iogo mempunyai nama ilmiah sama yaitu Phaseolus vulgaris L., yang berbeda adalah tipe pertumbuhan dan kebiasaan panennya. Kacang buncis tumbuh merambat (pole beans) dan dipanen polong mudanya, sedangkan kacang iogo (kacang merah) merupakan kacang buncis ienis tegak (tidak merambat) umumnya dipanen polong tua atau biiinya saia, sehingga disebut Bush bean.Nama umum kacang buncis di pasaran internasional disebut Snap beans atau French beans, kacang iogo dinamakan Kidney beans. Buncis sendiri mempunyai dua ienis yaitu buncis ienis tegak dan buncis ienis melilit. Jenis buncis tegak batangnya tidak menialar misalnya kacang merah (kacang iago) yang biiinya berbintik-bintik merah dan kacang galing, biiinya berwarna hitam kuning atau cokelat tua. Sedangkan buncis dengan ienis melilit biiinya berwarna putih, hitam dan kuning. Buncis ienis ini banyak ditanan oleh petani.

Peningkatan produksi buncis mempunyai arti penting dalam menuniang peningkatan gizi masyarakat, sekaligus berdaya guna bagi usaha mempertahankan kesuburan dan produktivitas tanah. Kacang buncis merupakan salah satu sumber protein nabati yang murah dan mudah dikembangkan. Kacang iogo/kacang merah yang dikonsumsi biiinya, mengandung protein 21-27, sehingga menu makanan yang terdiri atas campuran nasi dan kacang iogo (9010) merupakan komposisi makanan yang mencukupi karbohidrat dan protein tubuh. B. Tata Laksana. Morfologi dan Deskripsi Umum Tanaman Buncis Pada umumnya sistem budidaya buncis di sentra-sentra produksi buncis masih menggunakan benih lokal dan populasi tanaman per hektarnya tinggi. Populasi yang sangat rapat ini dapat mengakibatkan penangkapan sinar matahari setiap tanaman berkurang dan kelembaban udara di sekitar kebun meniadi tinggi. Kelembaban yang tinggi seringkali dapat meningkatkan serangan hama dan penyakit. Perbaikan kultur teknik budidaya buncis secara intensiI untuk meningkatkan produksi maupun kualitas hasil, diantaranya adalah penggunaan benih unggul dari varietas hibrida yang bermutu tinggi, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, serta cara-cara lain yang khas seperti pemasangan turus dan perempelan tunas ataupun daun. Tanah yang cocok bagi tanaman buncis ternyata banyak terdapat di daerah yang mempunyai iklim basah sampai kering dengan ketinggian yang bervariasi. Pada umumnya tanaman buncis tidak membutuhkan curah huian yang khusus, hanya ditanam di daerah dengan curah huian 1.500-2.500 mm/tahun. Umumnya tanaman buncis memerlukan cahaya matahari yang banyak atau sekitar 400-800 Ieetcandles. Dengan diperlukan cahaya dalam iumlah banyak, berarti tanaman buncis tidak memerlukan naungan. Suhu udara ideal bagi pertumbuhan buncis adalah 20-25 deraiat C. Pada suhu 20 deraiat C, proses Iotosintesis terganggu, sehingga pertumbuhan terhambat, iumlah polong meniadi sedikit. Pada suhu 25 deraiat C banyak polong hampa (sebab proses pernaIasan lebih besar dari pada proses Iotosintesis), sehingga energi yang dihasilkan lebih banyak untuk pernapasan dari pada untuk pengisian polong. Kelembaban udara yang diperlukan tanaman buncis55 (sedang). Perkiraan dari kondisi tersebut dapat dilihat bila pertanaman sangat rimbun, dapat dipastikan kelembapannya cukup tinggi.Jika dilhat dari sisi media tanamnya, ienis tanah yang cocok untuk tanaman buncis adalah andosol dan regosol karena mempunyai drainase yang baik. Tanah andosol hanya terdapat di daerah pegunungan yang mempunyai iklim sedang dengan curah huian diatas 2500 mm/tahun, berwarna hitam, bahan organiknya tinggi, berstektur lempung hingga debu, remah, gembur dan permeabilitasnya sedang. Tanah regosol berwarna kelabu, coklat dan kuning, berstektur pasir sampai berbutir tunggal dan permeabel. SiIat-siIat tanah yang baik untuk buncis: gembur, remah, subur dan keasaman (pH) 5,5-6. Sedangkan yang ditanam pada tanah pH 5,5 akan terganggu pertumbuhannya (pada pH rendah teriadi gangguan penyerapan unsur hara). Beberapa unsur hara yang dapat meniadi racun bagi tanaman antara lain: aluminium, besi dan mangan. Tanaman buncis tumbuh baik di dataran tinggi, pada ketinggian 1000-1500 m dpl. Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk ditanam pada daerah dengan ketinggian antara 300-600 meter. Dewasa ini banyak dilakukan penelitian mengenai penanaman buncis tegak di dataran rendah ketinggian: 200-300 m dpl., dan ternyata hasilnya memuaskan. Beberapa varietas buncis tipe tegak seperti Monel, Richgreen, Spurt, FLO, Strike dan Farmers Early dapat ditanam di dataran rendah pada ketinggian antara 200-300 m dpl. C. Manfaat dan Kandungan Gizi Pada Buncis Peningkatan produksi buncis mempunyai arti