KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM...

of 151 /151
KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN ISLAM DI BOGOR (1968-1992) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum) Oleh : Sri Hesti Damayanti NIM. 11140220000064 PROGRAM STUDI SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1440 H/2018 M

Embed Size (px)

Transcript of KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM...

Page 1: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR

DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN ISLAM

DI BOGOR (1968-1992)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum)

Oleh :

Sri Hesti Damayanti

NIM. 11140220000064

PROGRAM STUDI SEJARAH DAN

PERADABAN ISLAM

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF

HIDAYATULLAH JAKARTA

1440 H/2018 M

Page 2: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan
Page 3: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan
Page 4: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan
Page 5: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul Kontribusi KH. Sholeh Iskandar dalam

Memajukan Pendidikan Islam di Bogor (1968-1992),

dimaksudkan untuk membahas bagaimana kontribusi KH. Sholeh

Iskandar dalam memajukan pendidikan Islam di Bogor dengan

mendirikan sebuah Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun yang

sekaligus membina Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Metode yang penulis gunakan adalah kajian deskriptif kualitatif,

sementara data diperoleh melalui penelusuran literatur. Penelitian

ini menggunakan teori peranan sosial yang dikemukakan oleh

Levinson.

Hasil dari penelitian ini bahwa Universitas Ibn Khadun Bogor

merupakan universitas Islam pertama di Bogor. Dalam proses

pembentukannya pada tahun 1974 KH. Sholeh Iskandar berhasil

memisahkan Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor

untuk berdiri sendiri tanpa ada relasi dengan Yayasan Universitas

Ibnu Chaldun Jakarta. Dari kebijakan tersebut baik yayasan

maupun universitas mulai memiliki bangunannya sendiri di Jl.

R.E Martadinata. Kemajuannya pada saat ini Universitas Ibn

Khaldun Bogor berkembang dengan baik serta memiliki

bangunan megah tepatnya di Jl. KH. Sholeh Iskandar. Dan

menjadi kampus Islami yang dipercaya oleh masyarakat Bogor.

Kata Kunci: KH. Sholeh Iskandar, Peran, Universitas Ibn

Khaldun Bogor.

Page 6: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

i

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kehadirat

Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat serta salam senantiasa penulis limpahkan kepada

baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga serta para

sahabatnya.

Karya tulis ilmiah dalam bentuk skripsi ini merupakan

salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana strata satu

(S-1) Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulisan skripsi ini mengalami

sedikit kesulitan, hambatan yang penulis hadapi dan rasakan,

baik yang menyangkut masalah manajemen waktu, teknis

pengumpulan data dan lain-lain sebagainya. Akan tetapi,

dengan semangat, kerja keras dan do’a serta dorongan dari

berbagai pihak, kesulitan dan hambatan tersebut sedikit demi

sedikit dapat teratasi.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis menyadari

bahwa banyak pihak yang telah berpartisipasi dalam

penyelesaian skripsi ini, baik yang bersifat moril maupun

materil. Oleh karena itu, sepatutnya penulis menyampaikan

banyak terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Sukron Kamil, M.Ag, Dekan Fakultas

Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta, beserta para Wakil Dekan, I, II dan III dan

Page 7: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

ii

seluruh staf serta pegawai Fakultas Adab dan

Humaniora.

2. Bapak Nurhasan, M.A, Ketua Jurusan Sejarah dan

Peradaban Islam dan Ibu Shalikatus Sa’diyah, M.Pd,

Sekretaris Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam yang

telah memberikan motivasi kepada penulis mulai awal

perkuliahan hingga dapat menyesuaikan kuliah pada

jenjang stara satu (S-1) penulis.

3. Bapak Prof. Dr. Didin Saepudin, M.A, Pembimbing

Skripsi yang dengan ikhlas memberikan ilmu dan

waktunya untuk membimbing penulis hingga

selesainya skripsi ini.

4. Bapak Imam Subchi, M.A, Penasihat Akademik yang

telah membimbing penulis dari awal masuk sampai

akhir perkuliahan.

5. Ibu Dr. Hj. Tati Hartimah, M.A, dan Bapak Drs.

Tarmizi Idris, M.A, selaku Dosen Penguji pertama dan

kedua pada sidang munaqasyah yang telah

memberikan kritik dan saran sehingga skripsi ini layak

untuk dibaca.

6. Para Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Adab dan

Humaniora, terutama dosen Jurusan Sejarah dan

Peradaban Islam yang telah banyak memberikan

ilmunya selama penulis mengikuti kuliah.

Page 8: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

iii

7. Bapak H. Lukman Hakiem selaku narasumber yang

bersedia dengan senang hati menerima penulis untuk

mewawancarai beliau secara pribadi di kediamannya.

8. Kepada Bapak H. Didi Hilman, S.H, M.H, M.Pdi,

serta Bapak Haruna Sarasa Bugis, S.H, M.H, dan

Bapak Zainal Muttaqin, S.E selaku ketua dan pengurus

Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor. Tak

lupa kepada Alm. KH. Sholeh Iskandar beserta

keluarga.

9. Kepada Bapak Dr. H. Ending Bahruddin, M.Ag,

selaku rektor dan Adrin Sefta B, S.T selaku humas

Universitas Ibn Khladun Bogor terimakasih telah

mengizinkan penulis untuk penelitian di lembaga

tersebut.

10. Pimpinan serta seluruh staf Perpustakaan Utama dan

Staf Perpustakaan Adab dan Humaniora, yang telah

menyediakan fasilitas dalam rangka penulisan skripsi

ini.

11. Kedua orang tua tercinta terkasih terutama Ibu yang

selalu mendukung secara moril dan materil tanpa ada

duanya mendidik penulis dengan segala keringat dan

semangatnya, tanpa beliau mungkin penulis belum

tentu bisa sampai pada titik ini. Segala

pengorbanannya tak bisa terbalaskan dengan apapun

selain do’a, untuk Bapak terimakasih karena selalu

Page 9: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

iv

mendo’akan penulis, semoga Ibu dan Bapak selalu

dilindungi oleh Allah. Aamiin.

12. Kakak dan keluarga semoga selalu dilindungi Allah,

terimakasih telah menjadi saudara bagi penulis.

13. Untuk teman-teman seperjuangan SPI-B 2014,

terimakasih telah menghiasi kelas dengan canda, tawa,

dan kekompakan yang begitu luar biasa, terutama

Julid Squads yaitu Aulia Fauziah, Hardiyanti, Indana

Zulfa, Nida Auliah, Putri Hasanah, Sarah Fadhilah,

Siti Hajar, Toatun, Yuliana Nurhayu Rahmawati, dan

Vida Melati Al-Haq yang selalu ada dalam setiap

moment yang tak akan pernah terlupakan, selalu

memberi saran dan masukan bagi penulis.

14. Terimakasih pula kepada boyband BTS yang secara

tidak langsung memotivasi penulis melalui lagu-

lagunya yang selalu mengiringi disetiap penulisan

skripsi ini.

15. Kepada teman-teman MAN 4 Bogor angkatan 2014

Jurusan Keagamaan dan para guru yang selalu saya

hormati dan saya cintai begitu pula guru penulis Ibu

Leni Nurul Mufidah dan Bapak KH. Abdul Aziz di

ponpes Bidayatul Huda.

Ciputat, 5 Desember 2018

Penulis

Page 10: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

v

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING

ABSTRAK

KATA PENGANTAR ..................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................. v

DAFTAR TABEL ......................................................... vii

DAFTAR BAGAN ........................................................viii

BAB I PENDAHULUAN .............................................. 1

A. Latar Belakang ..................................................... 1

B. Identifikasi Masalah ............................................. 6

C. Batasan Masalah ................................................... 7

D. Rumusan Masalah ............................................... 8

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................... 9

F. Metode Penelitian ............................................... 10

G. Sistematika Penulisan ........................................ 16

BAB II KAJIAN PUSTAKA ........................................ 19

A. Sekilas Mengenai Pendidikan Islam ................... 19

B. Landasan Teori .................................................... 23

C. Kajian Pustaka .................................................... 26

D. Kerangka Berpikir .............................................. 29

BAB III MENGENAL SOSOK KH. SHOLEH ISKANDAR

........................................................................................ 33

A. Riwayat Hidup KH. Sholeh Iskandar ................. 33

B. Pendidikan KH. Sholeh Iskandar ....................... 41

C. Kiprah KH. Sholeh Iskandar di Kalangan Umat

Islam .................................................................... 43

1. Kiprah di Dunia Militer ................................ 43

2. Kiprah sebagai Seorang Ulama ..................... 50

BAB IV KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM

MEMAJUKAN PENDIDIKAN ISLAM DI BOGOR 57

1. Mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun

........................................................................ 57

Page 11: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

vi

2. Latar Belakang Berdirinya Yayasan dan Universitas

...................................................................... 58

3. Nama Yayasan dan Universitas ................... 62

4. Letak Yayasan dan Universitas ..................... 63

A. Visi, Misi dan Tujuan .......................................... 67

B. Struktur Organisasi ............................................. 69

C. Perkembangan .................................................... 79

BAB V PENGARUH DAN DAMPAK KEGIATAN KH.

SHOLEH ISKANDAR TERHADAP MASYARAKAT

BOGOR ......................................................................... 87

A. Kondisi Masyarakat Bogor ................................. 88

1. Letak Geografis ............................................ 88

2. Sistem Pemerintahan ..................................... 90

3. Keadaan Sosial .............................................. 92

B. Peran dan Pengaruh KH. Sholeh Iskandar pada

Masyarakat Bogor .............................................. 97

1. Dalam Bidang Dakwah ................................ 97

2. Tokoh Pendidikan Islam ............................ 101

C. Respon Masyarakat Bogor Terhadap Dakwah KH.

Sholeh Iskandar ................................................ 109

D. Pencapaian dan Peninggalan KH. Sholeh Iskandar

............................................................................ 111

BAB VI PENUTUP ..................................................... 115

A. Kesimpulan ........................................................ 115

B. Saran ................................................................... 117

DAFTAR PUSTAKA ................................................. 119

LAMPIRAN ................................................................. 125

Page 12: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 : Periode kepemimpinan yayasan oleh KH. Sholeh

Iskandar tahun 1974-1983 ................................ 73

Tabel 4.2 : Periode kepemimpinan yayasan oleh KH. Sholeh

Iskandar tahun 1983-1985 ................................ 73

Tabel 4.3 : Periode kepemimpinan yayasan oleh KH. Sholeh

Iskandar tahun 1985-1986 ................................ 74

Tabel 4.4 : Periode kepemimpinan yayasan oleh KH. Sholeh

Iskandar tahun 1986-1987 ................................ 75

Tabel 4.5 : Periode kepemimpinan yayasan oleh KH. Sholeh

Iskandar tahun 1988-1989 ................................ 76

Tabel 4.6 : Periode kepemimpinan yayasan oleh KH. Sholeh

Iskandar tahun 1990 ......................................... 77

Tabel 4.7: Periode kepemimpinan universitas oleh Ir. H.

Prijono Hardjosentoso tahun 1970-1983 .......... 78

Tabel 4.8: Periode kepemimpinan universitas oleh Dr. Ir.

A.M Saefuddin tahun 1990 ............................. 78

Tabel 4.9: Periode kepemimpinan universitas oleh M. Rais

Ahmad, S.H tahun 1985-1987 .......................... 78

Tabel 4.10: Periode kepemimpinan universitas oleh Drs.

Didin Hafidhuddin, MS tahun 1987-1991 ....... 79

Page 13: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

viii

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 : Kontribusi KH. Sholeh Iskandar dalam

Memajukan Pendidikan Islam di Bogor ...... 31

Bagan 4.1 : Kelulusan Mahasiswa Universitas Ibn Khaldun

Bogor ............................................................ 80

Page 14: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam sebagaimana dijumpai dalam sejarah telah

memainkan peranan yang amat penting dalam gerakan

pengembangan intelektual dan berbagai institusi pendidikan.

Islam tidak hanya melahirkan para ulama dibidang ilmu

agama melainkan juga ilmuwan di bidang umum lainnya.1

Seperti tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia di masa

lalu tepatnya banyak ulama di berbagai daerah terbukti

berkontribusi dalam mendirikan dan mengembangkan

lembaga pendidikan Islam. Salah satunya yaitu tokoh pejuang

yang mungkin masyarakat luas Indonesia tidak begitu

mengenal karena ia hanya dikenal oleh masyarakat daerah

Bogor dan sekitarnya yaitu KH. Sholeh Iskandar, atau orang

Bogor lebih mengenal tokoh ini sebagai nama jalan protokol

KH. Sholeh Iskandar. Ia merupakan tokoh pejuang Bogor

yang berasal dari Desa Situ Udik, Cibungbulang Bogor, lahir

pada tanggal 22 Juni 1922.2

1 Abuddin Nata, Sejarah Sosial Intelektual Islam dan Institusi

Pendidikannya, cet ke 1, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012), h.

29.

2 Fitra Yunita, Mengenal KH. Sholeh Iskandar: Ulama Pejuang

Revolusi dari Bogor. (Liputan 6, 2017), dok. 16, http://m.liputan6.com,

diunduh pada tanggal 16 Agustus 2018 pukul 9: 26 WIB.

Page 15: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

2

Sejak muda ia aktif dalam memperjuangkan

kemerdekaan di daerah Bogor dari penjajahan Belanda dan

masuk dalam kelompok Hizbullah untuk daerah Leuwiliang–

Jasinga kemudian menjadi komandan tertinggi Batalyon O

Siliwangi (Hizbullah) untuk wilayah Bogor Barat.3 Dalam

keaktifannya di dunia kemiliteran membuat nama KH. Sholeh

Iskandar menjadi amat dikenal, karena kepiawaiannya dalam

memimpin pasukan yang menyebabkan Belanda merasa harus

waspada terhadap pimpinan seribu pasukan Batalyon O

Siliwangi ini. Pada masa agresi militer Belanda yang kedua

kalinya Mayor Sholeh Iskandar memimpin seribu pasukannya

melawan front Leuwiliang mencakup Jalan Raya Bogor

hingga Rangkasbitung.4 KH. Sholeh Iskandar juga merupakan

salah seorang yang aktif dalam bidang politik, terbukti dengan

menjadi salah satu pengurus partai Masyumi bersama

rekannya yaitu M. Natsir, KH. Noer Ali dan para tokoh

lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik

Masyumi berseberangan dengan gagasan Nasakomnya

3 KH. Sholeh Iskandar sebagai komandan laskar, yang kemudian

mematuhi Dekrit Presiden 20 Mei 1947 untuk menggabungkan laskarnya

ke dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Laskar ini di gabung ke dalam TNI dengan formasi sebagai Batalyon O

(dibaca O bukan nol), Brigade Tirtayasa, Divisi Siliwangi. Pada masa

revolusi, KH. Sholeh Iskandar di anugerahi pangkat Kapten, kemudian

naik menjadi Mayor. Setelah kemerdekaan RI diakui Belanda, KH. Sholeh

Iskandar mengundurkan diri dari ketentaraannya. Lihat: Pengantar Edi

Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan Batalyon

O, (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. vii.

4 A.H Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 10:

Perang Gerilya Semesta II, Cet ke-1, (Bandung: Disjarah AD dan Penerbit

Angkasa Bandung, 1979), h. 192.

Page 16: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

3

Soekarno. Perbedaan paham dan politik dengan Soekarno

itulah pada akhirnya pentolan Masyumi seperti M. Natsir dan

KH. Sholeh Iskandar harus meringkuk dalam penjara selama

beberapa tahun di Jakarta. Selepas dari penjara, KH. Sholeh

Iskandar akhirnya lebih banyak bergerak di bidang sosial dan

pendidikan.5 Selain pendidikan yang menjadi tujuan

utamanya, kesehatan dan keuangan pun memiliki andil yang

besar bagi masyarakat Bogor, karena ini merupakan cita-cita

KH. Sholeh Iskandar dalam melakukan dakwahnya sebagai

seorang ulama selain pesantren pusat pendidikan untuk

mencerdaskan masyarakat dibantu dengan tiga pilar lainnya

yaitu berdirinya perguruan tinggi, berdirinya rumah sakit serta

berdirinya lembaga perbankan.

Terbukti dalam kontribusinya bersama rekan-rekan

seperjuangannya tepatnya di tahun 1960 ia naik gunung dan

membangun sebuah pesantren yang diberi nama Darul Fallah.

Lembaga pendidikan agama ini dibangun KH. Sholeh

Iskandar sekaligus keterampilan hidup yang merupakan

pertama di dunia Islam internasional, yaitu Pondok Pesantren

5 Pesantren Pertanian Darul Fallah ini Lembaga Pendidikan Islam

pertama yang didirikan oleh KH. Sholeh Iskandar sebagai awal titik balik

dari seorang pejuang yang kemudian mengabdikan dirinya kepada

masyarakat sebagai seorang ulama. Lihat: Desastian, “KH. Sholeh

Iskandar: Tokoh Masyumi dan Komandan Hizbullah itu di Usulkan jadi

Pahlawan Nasional”. Panjimas (2017), 07. Inform databese

http://www.panjimas.com, di unduh pada tanggal 16 Agustus 2018 pukul

9:28 WIB.

Page 17: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

4

Pertanian Darul Fallah di Ciampea Bogor.6 Tepatnya tahun

1968 KH. Sholeh Iskandar setelah bebas dari kurungan

penjara di tahun tersebut ia memulai aktivitasnya kembali

dengan memimpin Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun

(UIKA), hingga tahun 1970-an KH. Sholeh Iskandar masih

melakukan konsolidasi pada dua yayasan pendidikan yang

dipimpinnya itu.7 Hingga saat ini kedua lembaga pendidikan

Islam yang didirikan oleh KH. Sholeh Iskandar masih berdiri

kokoh dan menjadi satu contoh perguruan tinggi Islam terbaik

di Bogor yaitu Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Namun dengan seiring berjalannya waktu ingatan

tentang Mayor Sholeh Iskandar, Batalyon O Siliwangi,

Masyumi dan para pejuang Islam lainnya memang hampir

tidak dikenal oleh masyarakat Indonesia, terbukti menurut Edi

Sudarjat dalam pengantarnya mengatakan bahwa dalam buku

Aan Ratmanto, Pasukan Siliwangi, Loyalitas dan Patriotisme

dan Heroisme (Yogyakarta: Mata Padi Pressindo, 2012) tidak

ada keterangan membahas tentang perjuangan Batalyon O

6 Sebelumnya di tahun 1950 KH. Sholeh Iskandar juga membangun

perumahan modern di Desa Pasarean, Pamijahan, Bogor yang diakui

badan dunia UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and

Cultural Organization/ Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan

Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai perumahan modern

pertama di dunia ketiga, yakni negara-negara yang baru merdeka setelah

Perang Dunia II usai. Lihat Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-

1950: Sholeh Iskandar dan Batalyon O, (Depok: Komunitas Bambu,

2015), h. 6.

7 Alhikmah, KH. Sholeh Iskandar Ulama Pejuang dari Kampung

Pasarean, (Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah, 2015), dok. 03.

http://darulfallah.org, di unduh pada tanggal 16 Agustus 2018 pukul 9:29

WIB.

Page 18: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

5

Siliwangi, ini menandakan tulisan-tulisan tentang KH. Sholeh

Iskandar memang benar-benar jarang dan kebanyakan orang

tidak mengenal KH. Sholeh Iskandar, berbeda dengan teman

seperjuangannya sama-sama pejuang dalam revolusi seperti

KH. Noer Ali, KH. Choer Affandi ataupun tokoh politik

seperti M. Natsir dan banyak lainnya yang seangkatan

berjuang bersama KH. Sholeh Iskandar sudah banyak tulisan-

tulisan yang memuat para ulama tersebut. Sosok KH. Sholeh

Iskandar yang benar-benar patut di kagumi karena kerendahan

hatinya telah membangun banyak dan memajukan pendidikan

Islam di Bogor, selain kedua lembaga yang telah disebutkan

di atas masih ada banyak lagi lembaga-lembaga pendidikan

yang ia dirikan seperti mendirikan Yayasan Pendidikan Darul

Hijrah yang mengelola Madrasah Ibtidaiyah, kemudian

Tsanawiyah Ibnu Hajar di Desa Pasarean, Pamijahan, Bogor

(1950), mendirikan Pesantren Ulil Albab di kompleks kampus

UIKA Bogor (1987), mendirikan Pesantren Tarbiyatun Nisaa

di Ranca Bungur, Bogor (1988), mendirikan Pesantren Darul

Muttaqien di Parung, Bogor (1988), kemudian masih di tahun

yang sama ia mendirikan Pesantren Tahfizul Qur’an Manba’ul

Furqan di Karehkel, Leuwiliang, Bogor (1988).8 Ini mungkin

hanya sebagian dari kontribusi KH. Sholeh Iskandar dalam

memajukan masyarakat Bogor yaitu dalam pendidikan belum

lagi di bidang-bidang lainnya yang kesemuanya berdasarkan

8 Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. 7.

Page 19: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

6

syariat Islam, begitulah seorang ulama dalam

mengembangkan masyarakatnya pantas saja masyarakat

Bogor memberinya gelar (Kiyai Haji) di masa lalu karena

memang ia bukan sekedar pejuang kemerdekaan Indonesia

tetapi juga seorang ulama yang pemikirannya tanpa batas

memikirkan umat, dengan banyak membangun lembaga

pendidikan di wilayahnya sendiri. Namun khusus dalam

skripsi ini, banyak sebelumnya di atas telah disebutkan

berbagai Lembaga Pendidikan Islam yang telah KH. Sholeh

Iskandar dirikan tetapi penulis hanya terfokus dalam satu

Lembaga Pendidikan Islam yang didirikan oleh KH. Sholeh

Iskandar yaitu Lembaga Yayasan Pendidikan Islam Ibn

Khaldun (YPIKA) Bogor, sebagai salah satu lembaga

pendidikan Islam yang termasuk dalam tiga pilar dakwah KH.

Sholeh Iskandar.

B. Identifikasi Masalah

Mengenai latar belakang di atas dapat diketahui bahwa

KH. Sholeh Iskandar merupakan pejuang sekaligus ulama

yang amat berkontribusi dalam melawan penjajahan Belanda

di wilayah Bogor, selain aktif dalam kemiliteran ia juga

merupakan seorang pengurus dalam partai Masyumi bersama

rekan-rekan lainnya. Namun setelah ia keluar dari penjara

akibat konflik politik yang terjadi bersama Nasakomnya

Presiden Soekarno. KH. Sholeh Iskandar lebih aktif dalam

bidang sosial dan pendidikan, dan melepaskan pangkat

Page 20: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

7

kemiliteran dan kepolitikannya. Mulai membangun umat

khususnya masyarakat Bogor dengan mengisi dakwah dan

mengabdikan dirinya kepada kemajuan pendidikan Islam di

Bogor.

Ia merupakan pejuang yang berpangkat Mayor TNI

AD namun memiliki sifat yang rendah hati. Selain itu

sosoknya merupakan orang yang serba bisa karena merupakan

salah seorang yang bergerak dalam segala bidang khususnya

dalam skripsi ini ingin memaparkan kontribusinya dalam satu

bidang yaitu pendidikan yang begitu berpengaruh di wilayah

Bogor tepatnya tahun 1968 di mana menjadi awal tahun ia

setelah bebas dari penjara akibat aktivitas politiknya bersama

Masyumi, dengan memimpin langsung Yayasan Pendidikan

Islam Ibn Khaldun Bogor yang langsung menaungi

Universitas Ibn Khaldun Bogor.9 Ini mungkin hanya menjadi

salah satu sebagian kontribusinya dalam mendirikan lembaga

pendidikan karena masih banyak lagi pesantren maupun

lembaga pendidikan yang ia bangun.

C. Batasan Masalah

Sesuai dengan tema dan studi yang akan ditulis,

pembatasan masalah akan disesuaikan dengan waktu yang

telah dicantumkan dalam tema. Tepatnya dari tahun 1968, di

9 Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. 6.

Page 21: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

8

mana KH. Sholeh Iskandar telah memutuskan untuk lebih

memfokuskan dirinya terhadap kemajuan masyarakat Bogor

khususnya dalam bidang pendidikan, dengan mulai dipercaya

memimpin Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor

yang menjadi salah satu cita-cita KH. Sholeh Iskandar.

Hingga akhir hayatnya tahun 1992, KH. Shleh Iskandar masih

menjadi pengurus yayasan, kepercayaan dari masyarakat dan

rekan-rekan seperjuangannya menjadikan sosoknya yang

mampu membangun Universitas Ibn Khaldun yang berdiri

kokoh saat ini merupakan universitas Islam swasta pertama di

wilayah Bogor.

D. Rumusan Masalah

Oleh sebab itu, penelitian tentang kontribusi KH.

Sholeh Iskandar dalam memajukan pendidikan Islam di Bogor

lebih di arahkan kepada permasalahan, sebagai berikut:

1. Bagaimana mengenal sosok KH. Sholeh Iskandar ?

2. Bagaimana kontribusi KH. Sholeh Iskandar dalam

memajukan pendidikan Islam di Bogor ?

3. Bagaimana pengaruh dan dampak kegiatan KH.

Sholeh Iskandar terhadap masyarakat Bogor ?

Page 22: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

9

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tokoh atau peran seorang ulama merupakan aktor

utama dalam suatu peristiwa sejarah, terutama dalam

membahas sejarah lokal apalagi menyangkut sejarah

perjuangan Indonesia, pasti tidak terlepas dari seorang tokoh

ulama yang menjadi pejuang ataupun pejuang yang menjadi

ulama satu hal yang menjadi keterikatan tersendiri. Apalagi

KH. Sholeh Iskandar merupakan pejuang yang luar biasa

dalam membangun wilayah Bogor, tidak hanya mati-matian

melawan penjajah Belanda, tapi ia juga memikirkan aspek

lainnya seperti bagaimana masyarakat Bogor akan

berkembang dan maju dengan banyak membangun fasilitas

terutama dalam bidang pendidikan. Kontribusinya terlalu

banyak untuk di hitung sebagai seorang pejuang, sayangnya

statusnya masih belum di abadikan sebagai pahlawan nasional

karena minimnya tulisan-tulisan tentang KH. Sholeh Iskandar

dan Edi Sudarjat dalam bukunya seperti yang tertera dalam

kajian terdahulu menuliskan bahwa dia sedang menulis

tentang biografi KH. Sholeh Iskandar, semoga apa yang

sedang direalisasikan bisa mengangkatnya menjadi pahlawan

nasional Indonesia seperti kebanyakan teman-teman

seperjuangannya di masalalu.

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :

1. Mengenal sosok KH. Sholeh Iskandar.

Page 23: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

10

2. Kontribusi KH. Sholeh Iskandar dalam memajukan

pendidikan Islam di Bogor.

3. Pengaruh dan dampak kegiatan KH. Sholeh Iskandar

terhadap masyarakat Bogor.

Manfaat menulis sejarah lokal terutama mengenal

sosok seorang ulama dan pejuang seperti KH. Sholeh Iskandar

dengan kontribusinya dalam pendidikan Islam menarik untuk

di tulis, mengingat tulisan mengenai KH. Sholeh Iskandar

amat minim. Meskipun tokoh yang akan ditulis sudah tiada,

tapi banyak peninggalan yang ia tinggalkan ada berdiri kokoh

hingga saat ini dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi

masyarakat asli Bogor. Memang banyak masyarakat

Indonesia yang tidak tahu, karena ia hanya pejuang daerah

tetapi kontribusinya begitu banyak dalam berbagai bidang

yang amat dibanggakan sosoknya oleh masyarakat Bogor

hingga namanya pun di abadikan sebagai nama jalan di

wilayah Bogor yaitu Jalan KH. Sholeh Iskandar semua orang

mengenalnya hanya nama jalan, tanpa tahu bagaimana sejarah

sosok tokoh ini muncul dan saya sebagai penulis (skripsi) ini

ingin memperkenalkan KH. Sholeh Iskandar dengan

kontribusinya dalam memajukan pendidikan Islam di Bogor.

Page 24: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

11

F. Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian untuk karya ilmiah ini,

penulis mencari data dengan menggunakan beberapa metode

penelitian yang biasa digunakan dalam penelitian sejarah:

1. Pendekatan

Penulisan ini menggunakan pendekatan lokosentrik.

Pendekatan lokosentris yang mengenal dengan dekat lokasi

sejarah yang diteliti dan lokal sekitarnya.10

Dengan meneliti di

daerah lokal dan sekitarnya akan mendapatkan gambaran

mengenai latar belakang geografis suatu pusat historis.

Metode analisis data adalah cara yang dipergunakan untuk

mengolah data. Metode analisis data yang digunakan penulis

adalah deskriptif kualitatif, yaitu berupa kata-kata tertulis atau

lisan terhadap orang-orang dan perilaku yang diamati.11

2. Sumber Data

Untuk mencapai penulisan sejarah sendiri, maka upaya

merekonstruksi masa lampau dari obyek yang diteliti itu

ditempuh melalui metode sejarah.12

10 Sugeng Priyadi, Sejarah Lokal, Konsep, Metode dan Tantangannya,

(Yogyakarta: Ombak, 2015), h. 65.

11 Lexy J. Moloeng, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT.

Remaja Rosda Karya, 2000), h.3

12

Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Bentang, 1995),

h. 94-97.

Page 25: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

12

Dalam proses heuristik13

, pengumpulan data atau

sumber sebagai langkah pertama kali, dilangsungkan dengan

metode observasi, wawancara, dan yang terakhir

dokumentasi. Data atau sumber penelitian dapat dikategorikan

menjadi dua: data primer dan data sekunder. Data primer

adalah beberapa data yang merupakan data rujukan utama

yang menjadi rujukan keilmiahan, bentuknya bisa lisan

maupun tulisan. Untuk tulisan bisa berbentuk buku atau

dokumen yang ditulis oleh pelaku sejarah sendiri. Penulis

menggunakan data primer tertulis yaitu dokumen biodata

pribadi sang tokoh yang ditulis oleh pelaku sejarah sendiri

yang terdapat dalam lampiran. Sedangkan data lisan berupa

hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis bersama H.

Lukman Hakiem selaku murid sang tokoh kemudian dengan

keluarganya Bapak H. Didi Hilman selaku anak. Adapun data

sekunder bentuknya sama seperti data primer, namun yang

membedakannya yaitu bahwa data sekunder ditulis oleh orang

lain yang tidak berhubungan dengan tokoh yang diteliti.

Penulis menggunakan literatur buku yang ditulis oleh Edi

Sudarjat, kemudian wawancara bersama Bapak Zainal

Muttaqin dan Haruna Sarasa Bugis selaku pengurus yayasan

serta staf universitas.

3. Teknik Pengumpulan Data

13 Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah, cet ke-3, (Yogyakarta:

Ombak, 2016), h. 56.

Page 26: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

13

Pertama, menggunakan metode observasi

(pengamatan), pengamatan yang penulis lakukan dengan

cara terjun langsung ke tempat-tempat yang dianggap menjadi

obyek penelitian, seperti ke kantor Yayasan Pendidikan Islam

Ibn Khaldun, Universitas Ibn Khaldun Bogor. Tujuan penulis

observasi untuk lebih menggambarkan segala sesuatu yang

berhubungan dengan objek yang penulis kaji, dan mengambil

sebuah kesimpulan yang penulis susun menjadi sebuah

laporan.

Kedua, menggunakan metode wawancara. Wawancara

sendiri merupakan suatu proses tanya jawab antara dua orang

atau lebih secara langsung, pewawancara disebut sebagai

interviewer dan orang yang diwawancara disebut interviewee.

Wawancara merupakan salah satu bentuk pengumpulan data

yang paling sering digunakan dalam proses kualitatif, di sini

penulis melakukan tahap wawancara agar mendapatkan

informasi yang lebih jelas dan lengkap.

Ketiga, dokumentasi atau pengumpulan data sendiri

penulis lakukan dengan cara studi kepustakaan (library

research) dengan mengumpulkan data buku maupun dokumen

dengan mengunjungi beberapa perpustakaan yang dirasa

penulis banyak sumber yang diperlukan bagi penelitian

penulisan karya ilmiah ini. Beberapa perpustakaan yang

pernah penulis kunjungi untuk mengumpulkan data antara

lain: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jalan Medan

Page 27: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

14

Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat. Perpustakaan Terpadu

Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan

Kebudayaan Republik Indonesia, gedung E, lantai 6, Jalan

Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta. Perpustakaan Utama

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Jalan Ir.

H. Djuanda No. 95 Ciputat, Tangerang Selatan. Perpustakaan

Arsip Nasional Republik Indonesia, Jalan Ampera Raya No.

7, Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Perpustakaan Adab dan

Humaniora, Jalan Tarumanegara, Pisangan, Ciputat dan

koleksi pribadi penulis.

Ada beberapa intansi dan perpustakaan lagi yang

sudah penulis kunjungi antara lain: Dinas Perpustakaan dan

Kearsipan Kabupaten Bogor, Jalan Bersih Komplek Pemda,

Bogor. Perpustakaan Utama Universitas Ibn Khaldun Bogor,

Jalan KH. Sholeh Iskandar, Kedung Badak, Kota Bogor.

Perpustakaan Utama Universitas Negeri Jakarta di Jalan

Rawamangun Muka, Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta

Timur. Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Jalan Nyaman,

Cibinong, Bogor. BPS Kabupaten Bogor, Jalan Bersih,

Cibinong, Bogor.

Sedangkan observasi, awal mula penulis

melakukannya dengan mendatangi Pondok Pesantren Darul

Fallah di Ciampea Bogor, yang merupakan salah satu lembaga

pendidikan yang didirikan oleh KH. Sholeh Iskandar. Namun

lama waktu berlalu, belum ada respon dari pihak pengurus

Page 28: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

15

pesantren, jadi penelitian atau data-data belum penulis terima

sampai saat ini. Maka dari itu, sebagai gantinya penulis

memilih opsi lain dengan berharap di lembaga satunya ini

penulis bisa melakukan penelitian dan data-data mengenai

sang tokoh dapat diperoleh yaitu Yayasan Pendidikan Islam

Ibn Khaldun di Kota Bogor. Pada akhirnya penulis

menetapkan Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun ini

sebagai lembaga pendidikan yang akan ditulis, dengan

mengacu kepada salah satu pilar dakwah KH. Sholeh

Iskandar.

4. Analisa Data

Setelah data-data terkumpul, kemudian harus di

analisa, untuk mendapatkan sumber yang otentik dan

otoritatif. Data tulisan diklasifikasikan untuk menentukan

waktu penulisan dan isi dari dokumentasi tersebut. Tahapan

selanjutnya selain proses analisis juga data-data diuji melalui

kritik yang bersifat internal dan eksternal. Untuk kritik

internal peneliti harus dapat menilai kelayakan dan keaslian

sumber atau menguji seberapa jauh dapat dipercaya

kebenarannya dan informasi yang diberikan. Dalam kritik

intern ditujukkan untuk dapat memahami sebuah teks. Tahap

selanjutnya kritik eksternal dilakukan untuk mengetahui atau

menguji keaslian suatu sumber.

Page 29: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

16

Tahap selanjutnya ketika data-data telah terkumpul

kemudian masuk dalam tahap interpretasi atau penafsiran

terhadap sumber-sumber yang telah penulis himpun untuk

memperoleh fakta-fakta terkait permasalahan yang menjadi

fokus kajian penulis. Sumber-sumber yang telah terkumpul

dianalisa melalui pendekatan sejarah, dengan mengambil satu

teori atau konsep sosiologi (Teori Peranan Sosial) yang di

kemukakan oleh Levinson, kemudian untuk dapat mengkaji

peristiwa-peristiwa sejarah yang berkenaan dengan kontribusi

KH. Sholeh Iskandar dalam memajukan pendidikan Islam di

Bogor, meskipun awalnya ia merupakan seorang pejuang

revolusi dan aktif dalam TNI AD tetapi dilihat dari sudut

pandang lain bahwa KH. Sholeh Iskandar merupakan seorang

ulama yang menggeluti dan memajukan pendidikan di

wilayah Bogor terbukti dengan beberapa lembaga pendidikan

yang ia dirikan.

Kemudian tahapan terakhir yaitu historiografi, dalam

tahap ini penulis menguraikan fakta-fakta yang sudah didapat

ke dalam penulisan sejarah, dan kemudian menarik

kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan

pokok yang menjadi kajian utama dalam penelitian ini dan

tidak lupa memperhatikan aspek secara kronologis.

G. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Page 30: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

17

Bab pendahuluan ini berisikan tentang latar belakang,

identifikasi masalah, batasan dan rumusan masalah,

tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka,

metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Bab kedua ini memaparkan sedikit tentang apa itu

pendidikan Islam secara umum dan tokoh pelaku

sebagai subjeknya kemudian kajian teori secara

deskriptif dan kajian pustaka terdahulu sebagai

bandingan untuk skripsi yang akan saya tulis serta

kerangka berpikir.

BAB III MENGENAL SOSOK KH. SHOLEH ISKANDAR

Dari bab ketiga ini menjelaskan seorang tokoh pejuang

yang juga seorang ulama yang begitu di segani di

wilayah Bogor, meskipun tidak semua orang banyak

yang tahu tetapi kontribusinya dalam membangun

wilayah Bogor cukup aktif seperti salah satunya dalam

bidang pendidikan.

BAB IV KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR

DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN ISLAM DI

BOGOR

Dalam bab ini penulis pastinya memaparkan bagaimana

sosok KH. Sholeh Iskandar yang merupakan seorang

Page 31: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

18

pejuang revolusi berubah menjadi seorang ulama yang

memperhatikan pendidikan dengan kontribusinya

mendirikan Universitas Ibn Khaldun Bogor yang

menjadi universitas Islam pertama di wilayah Bogor.

BAB V PENGARUH DAN DAMPAK KEGIATAN KH.

SHOLEH ISKANDAR TERHADAP MASYARAKAT

BOGOR

Bab kelima menjelaskan bagaimana pengaruh dan

dampak kegiatan yang dilakukan KH. Sholeh Iskandar

terhadap masyarakat Bogor, baik itu dalam dakwah

serta lembaga pendidikan yang ia dirikan.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Bab keenam ini merupakan kesimpulan dari bahasan

keseluruhan pada bab-bab sebelumnya, yang

menyatukan hubungan antara bab-bab sebelumnya dan

menjadikan satu kaitan yang bermakna.

Page 32: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

19

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Sekilas Mengenai Pendidikan Islam

Pendidikan Islam merupakan upaya terstruktur yang

dijalankan umat dalam rangka mewujudkan misi keislaman

melalui transmisi ilmu pengetahuan keislaman di lembaga-

lembaga pendidikan.1 Dalam sejarah pendidikan Islam di

Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda maupun Jepang

dan hingga saat ini masyarakat umat Islam di Indonesia untuk

memenuhi kebutuhan dan aspirasi umat Islam itu sendiri

dengan mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan

masyarakat biasanya melalui politik, namun ditempuh pula

jalan lain seperti melalui pendidikan dan dakwah.2 Untuk

pendidikan dan dakwah sendiri di setiap daerah tentunya

memiliki salah satu tokoh ulama yang andil dalam berdakwah

dan mendirikan satu lembaga pendidikan Islam. Seperti KH.

Sholeh Iskandar ia merupakan seorang yang bergerak dalam

mendirikan berbagai lembaga pendidikan Islam di Bogor.

Meskipun sosoknya bukan menjadi satu-satunya tokoh

di wilayah Bogor tetapi kontribusinya dalam memajukan

pendidikan Islam itu nyata. Seperti yang diketahui bahwa

1 Nurhayati Djamas, Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia

Pascakemerdekaan, (Jakarta: Rajawali Pres, 2009), h. vi.

2 Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan

Nasional di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2004), h. 3.

Page 33: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

20

sistem pendidikan dan pengajaran untuk wilayah Bogor

sendiri diakhir pemerintahan Jepang tidak ada kemajuan sama

sekali, itu dari segi pendidikan umum apalagi pendidikan

Islam (pesantren), karena menurut kabar berita dari “Thahaja

Bandung 1945” di Bogor karena wilayahnya cocok untuk

pertanian, jadi pemerintah pada saat itu memfokuskan

terhadap sekolah pertanian dan sekolah kedokteran hewan

bagi sekolah tinggi.3 Keadaan ini menggambarkan bahwa

pendidikan pada saat itu kurang diperhatikan terlebih untuk

wilayah Bogor sendiri, meskipun Sekolah Rakyat pada tahun

1945-an mulai dibuka di daerah-daerah tanah partikelir di

Bogor Ken.4 Hal ini kemungkinan disebabkan karena

Indonesia dari tahun 1945 sampai tahun 1950 masih

menghadapi revolusi fisik. Sehingga perhatian pemerintah dan

rakyat lebih tertuju pada masalah-masalah politk dan

bagaimana mempertahankan negara dari ancaman musuh.5

Begitu pula KH. Sholeh Iskandar yang termasuk ke dalam

pejuang untuk wilayah Bogor Barat, dengan terlibat ke dalam

Hizbullah yang melebur menjadi pasukan TNI AD Batalyon

O Siliwangi, aktivitas ini ia lakukan hingga akhir tahun 1950-

an setelahnya ia pun pensiun dan kembali kepada masyarakat.

3 Tanpa nama, “Sekolah Kehutanan Menengah Tinggi Bogor”,

Bandung: Thahaja. No. 41 (1945), h. 64.

4 Tanpa nama, “Pengajaran di Tanah Partikelir diperbaiki”, Bandung:

Thahaja. No. 182 (1945), h. 329.

5 I. Djumhur, Sejarah Pendidikan, (Bandung: CV. Ilmu, 1979), h. 3.

Page 34: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

21

Periode 1950-1966 masa revolusi pendidikan nasional

mulai meletakkan dasar-dasarnya. Pada masa revolusi sangat

serba terbatas, tetapi bangsa kita dapat melaksanakan

pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam

UUD 1945. Kita dapat merumuskan Undang-Undang

Pendidikan No. 4/1950 junto no. 12/ 1954. Kita dapat

membangun sistem pendidikan yang tidak kalah mutunya.6

Pada masa ini (Orde Lama), jumlah sekolah belum begitu

banyak, baik guru maupun siswa dituntut disiplin tinggi.

Kebijakan yang diambil pada masa ini ada pada dalam bidang

pendidikan tinggi yaitu mendirikan universitas di setiap

provinsi, namun kebanyakan yang dibangun universitas tinggi

umum, juga terbatas di setiap daerah. Pada era ini sebagai

wujud interpretasi pasca kemerdekaan di bawah kendali

kekuasaan Soekarno cukup memberikan ruang bebas terhadap

pendidikan.7

Namun perhatian terhadap pendidikan Islam masih

jarang, terutama sekolah tinggi Islam8 di Bogor masih belum

ada pada saat itu, dari sinilah sosok KH. Sholeh Iskandar

mengambil tindakan untuk mendirikan universitas Islam

pertama di wilayah Bogor, sebagai identitas kemajuan umat

Islam pada saat itu.

6 Sugiyono dkk, Peta Jalan Pendidikan Indonesia, (Yogyakarta:

Universitas Negeri Yogyakarta, tanpa tahun), h. 90.

7 Sugiyono dkk, Peta Jalan Pendidikan Indonesia, (Yogyakarta:

Universitas Negeri Yogyakarta, tanpa tahun), h. 91.

Page 35: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

22

Oleh sebab itu dalam penulisan suatu karya ilmiah

dibutuhkan kajian pustaka sebagai satu komponen

pelengkapnya, terutama dalam hal teori yang menjadi dasar

acuan si penulis untuk menyelaraskan antara subyek dan

obyeknya dengan mengambil penelitian kualitatif

sebagaimana mestinya penulisan sejarah, komponennya yaitu:

B. Landasan Teori

Teori yang mendukung penelitian ini yaitu teori

peranan sosial yang dikemukakan oleh Levinson9 sebagai

landasan kerangka teori untuk menjawab permasalahan dalam

skripsi ini. Peranan sosial bisa di definisikan dalam pengertian

pola-pola atau norma-norma perilaku yang diharapkan dari

orang yang menduduki suatu posisi tertentu dalam struktur

sosial.10

Teori peranan sosial menekankan sifat individual

sebagai pelaku sosial yang mempelajari perilaku sesuai

dengan posisi yang di tempatinya di lingkungan masyarakat.

Teori peranan sosial mencoba untuk menjelaskan interaksi

antar individu dalam organisasi, berfokus pada peran yang

mereka mainkan. Setiap peran sosial adalah seperangkat hak,

kewajiban, harapan, norma dan perilaku seseorang untuk

menghadapi dan memenuhi perannya. Model ini didasarkan

pada pengamatan bahwa orang berperilaku dengan cara yang

9 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, cet ke-47, (Jakarta:

Rajawali Pers, 2015), h. 211.

10

Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, (Jakarta: Yayasan Obor

Indonesia, 2011), h. 68.

Page 36: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

23

dapat di prediksi, dan bahwa perilaku individu adalah konteks

tertentu, berdasarkan posisi sosial dan faktor lainnya. Mereka

menyatakan bahwa sebuah lingkungan organisasi dapat

mempengaruhi harapan setiap individu mengenai perilaku

peran mereka.

Bisa dikatakan bahwa seorang tokoh menjadi aktor

peran utama dalam sebuah masyarakat, seperti halnya KH.

Sholeh Iskandar. Ia merupakan tokoh masyarakat yang

dikenal sebagai pejuang kemerdekaan melawan Belanda,

belum lagi kontribusi ia dalam aspek lainnya contohnya saja

lembaga pendidikan yang ia dirikan itu menjadi pertanda

bahwa seorang aktor perannya amat dihormati terlebih KH.

Sholeh Iskandar juga seorang ulama yang memang

berpengaruh di Bogor. Sehingga apapun yang menjadi

kegiatannya itu amat diperhatikan oleh masyarakatnya dan

menjadi role model dalam setiap tindakannya.

Biasanya dalam kehidupan sosial, seseorang memiliki

lebih dari satu peran yang diperankan.11

Misalnya, seperti KH.

Sholeh Iskandar ini, sebelumnya kedudukan ia adalah seorang

kapten dari pasukannya ketika masa revolusi, namun ketika

terjun dalam masyarakat, ia juga memiliki kedudukan sendiri

sebagai tokoh ulama yang dipercaya oleh masyarakat.

11 Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiolgi: Pemahaman

Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan

Pemecahannya, cet ke-3, (Jakarta: Kencana, 2013), h. 435.

Page 37: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

24

Kedudukan ini akan mempengaruhi peranannya, yaitu apa

yang harus dilakukan ketika menempati kedudukan sebagai

kapten, dan sebagai tokoh ulama. Tidak lupa juga ia

merupakan pemimpin dalam keluarganya, atau kepala rumah

tangga. Sebagai kapten ia memimpin jalannya proses

bergerilya dengan memimpin pasukannya dengan taktik

aturannya sendiri di medan perang. Ketika berada di rumah,

sebagai kepala rumah tangga, dia mengatur perjalanan rumah

tangganya. Dan ketika berkedudukan sebagai ulama, tentunya

lebih banyak menempatkan dirinya sebagai rohaniawan yang

selalu menggeluti bidang-bidang keagamaan.

Masing-masing kedudukan dan peranan akan

ditentukan oleh norma-norma sosial setelah ia berhubugan

dengan orang lain. Karena peranan dan kedudukan seseorang

akan sangat erat hubungannya dengan orang lain. Dengan

demikian, jika salah seorang telah menjalankan hak dan

kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia telah

menjalankan suatu peranan sosial. Sebab, peran merupakan

faktor penentu apa yang seharusnya diperbuat oleh salah

seorang dan pemberi kesempatan bagi pemerannya.12

12 Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiolgi: Pemahaman

Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan

Pemecahannya, cet ke-3, (Jakarta: Kencana, 2013), h. 436.

Page 38: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

25

C. Kajian Pustaka

Kajian mengenai seorang tokoh legendaris di wilayah

Bogor ini sebenarnya tidak banyak, malah mungkin bisa

dikatakan jarang sekali apalagi menyangkut sejarah di

wilayah Bogor. Adapun buku pertama kali yang saya baca

mengenai peristiwa bersejarah di wilayah Bogor yaitu

bukunya Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950:

Sholeh Iskandar dan Batalyon O Siliwangi. Dalam buku ini

Edi Sudarjat menuliskan bagaimana kondisi Bogor masa

revolusi dengan tokoh yang sangat central yaitu KH. Sholeh

Iskandar dan Batalyon O Siliwangi yang begitu berperan

penting dalam peristiwa bersejarah ini. Pastinya dalam buku

ini Edi Sudarjat menuliskan sosok KH. Sholeh Iskandar

dengan bernuansa perjuangan dan kemerdekaan di mana

beliau masih aktif sebagai ketua Batalyon O Siliwangi di

wilayah Kabupaten Bogor tepatnya Leuwiliang-Jasinga. Di

sisi lain saya sebagai penduduk wilayah Bogor pastinya ingin

mengetahui sosok lain dari KH. Sholeh Iskandar dalam versi

yang berbeda, saya ingin mengetahui bagaimana beliau bisa

begitu banyak membangun lembaga-lembaga meskipun tidak

hanya sebatas dalam pendidikan dan mulai berhijrah menjadi

seorang yang berfikir untuk membangun dan memajukan

masyarakat Bogor terutama dalam bidang pendidikan Islam.

Adapula buku H. Lukman Hakiem yaitu Jejak

Perjuangan Ulama-Patriot KH. Sholeh Iskandar. Dalam buku

Page 39: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

26

ini Lukman Hakiem menuliskan sosok KH. Sholeh Iskandar

sebagai ulama dan perjalanan KH. Sholeh Iskandar dari muda

hingga dewasa sesuai dengan versi si penulis buku, karena

penulis pernah hidup sejaman dengan beliau dan tahu persis

bagaimana perjalanan hidup KH. Sholeh Iskandar, ini menjadi

referensi rujukan bagi saya untuk menulis karena kita sama-

sama membahas KH. Sholeh Iskandar yang telah menjadi

seorang ulama dengan versi kami yang berbeda.

Kemudian yang menjadi rujukan penulis yaitu

skripsinya Rani Anggraeni mahasisiwi jurusan Sejarah

Universitas Indonesia Depok tahun 2010 dengan judul

“Bogor pada Masa Bersiap 1945-1946”. Skripsi ini menjadi

rujukan di karenakan memang jarang mahasiswa yang

menulis tentang Bogor terutama pada masa kemerdekaan,

meskipun lebih mengarah kepada keadaan Bogor pada saat

itu, namun sosok KH. Sholeh Iskandar juga tidak terlepas dari

masa revolusi di Bogor, jadi informasi mengenai beliau ada

sedikit bisa diketahui dalam skripsi ini.

Skripsi lainnya yang menjadi rujukan penulis dan

sebagai alat ukur perbedaan dengan apa yang dibahas dan

penulis jadikan sumber yang amat terkait yaitu skripsinya

Lisda Dona Lisdiana mahasiswi Jurusan Pendidikan Sejarah

Universitas Negeri Jakarta tahun 2007 dengan judul “Biografi

KH. Sholeh Iskandar Ulama-Pejuang yang Terlupakan (1922-

Page 40: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

27

1992)”, ini merupakan sumber rujukan utama penulis karena

bahasannya mengenai riwayat hidup KH. Sholeh Iskandar.

Desertasinya Halimi Abdusyukur mahasiswa Pasca

Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dengan judul “Konsep

Kaderisasi Ulama Kiai Haji Sholeh Iskandar” tahun 2011,

seperti temanya ini pembahasannya lebih kepada bagaimana

melahirkan ulama-ulama yang bermutu dengan aktivitas KH.

Sholeh Iskandar di BKSPP Jawa Barat, dan menjadi rujukan

utama lainnya.

Adapula buku Susanto Zuhdi “Bogor Zaman Jepang

1942-1945” dalam buku ini mengisahkan keadaan Bogor di

jaman Jepang, di mana pemerintahan Bogor Shu yang

dikendalikan Jepang menjadi acuan bagaimana pemerintahan

Bogor saat itu. Memang dalam buku ini tertulis bahwasanya

pada masa akhir pemerintah Jepang di Bogor, bidang

pendidikan dan pengajaran tampak tidak ada kemajuan. Oleh

sebab itu mungkin KH. Sholeh Iskandar ingin membenahi

pendidikan yang ada di Bogor dengan membangun lembaga

pendidikan Islam yang sampai saat ini masih berdiri kokoh.

D. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir merupakan kerangka si penulis

dalam menyusun suatu penelitian di mana kerangka

berpikirnya terletak pada kasus yang selama ini dilihat atau

Page 41: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

28

diamati secara langsung oleh penulis. Hanya dengan kerangka

berpikir yang tajam dapat digunakan untuk menurunkan

hipotesis. Kerangka berpikir biasanya menerangkan:

1. Mengapa penelitian dilakukan ?

Dalam kasus penulisan karya ilmiah misalnya seperti

skripsi penelitian merupakan komponen utama dalam

membuat sumber penulisan. Seperti halnya apa yang akan

saya tulis dalam karya ilmiah ini yaitu “Kontribusi KH.

Sholeh Iskandar dalam Memajukan Pendidikan Islam di

Bogor 1968-1992”, jelas bahwa di kajian terdahulu seperti

yang tertulis diatas pernah adapula yang menulis tentang

kajian ini, namun pastinya setiap orang kerangka berfikirnya

pasti berbeda, meskipun sama-sama menulis kajian yang sama

tetapi dalam rumusan masalahnya berbeda, dari segi kajian

tahun yang saya cantumkan dari tahun 1968-1992 dimana

tahun 1968 awal mula KH. Sholeh Iskandar masuk sebagai

pengurus yayasan hingga akhir hayatnya 1992 beliau masih

ikut serta dalam kepengurusan yayasan dan universitas

maupun menemukan kajian baru, tetapi pasti membenarkan

kajian sebelumnya, istilahnya anggaplah kajian ini sebagai

penambah dari kajian sebelumnya.

2. Bagaimana proses penelitian dilakukan ?

Page 42: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

29

Penelitian dilakukan dengan berbagai cara, dengan

terjun langsung ke tempat di mana penelitian ini akan di kaji

dengan menggunakan pendekatan lokosentrik, mengeanl

dengan dekat lokasi sejarah yang diteliti dan lokal

sekitarnya13

yaitu tempatnya di lembaga-lembaga pendidikan

yang telah KH. Sholeh Iskandar dirikan dan itu ada beberapa

tepatnya di Bogor. Di mana si penulis mengamati,

mewawancarai dan mendokumentasikan hasil dari penelitian

yang kemudian di olah menjadi sebuah tulisan yang akan

diajukan sebagai skripsi, dengan model penelitian kualitatif

kebanyakan penelitian sejarah dilakukan dengan penulisan

yang begitu deskriptif.

3. Apa yang akan diperoleh dari penelitian tersebut ?

Jelas dari apa yang diteliti banyak informasi dan

pengetahuan baru tentang ulama maupun pendidikan Islam di

Bogor, ulama dan pejuang merupakan satu tokoh yang amat

kita hormati perannya. Kontribusinya dalam memajukan dan

mengembangkan pendidikan Islam di Bogor sangat

disayangkan apabila tidak diangkat menjadi sebuah tulisan

yang nantinya berguna bagi generasi kita selanjutnya. Di

mana seorang KH. Sholeh Iskandar yang amat berkontribusi

dalam mendirikan berbagai lembaga pendidikan Islam di

13 Sugeng Priyadi, Sejarah Lokal Konsep, Metode, dan Tantangannya,

(Yogyakarta: Ombak, 2015), h.65.

Page 43: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

30

Bogor menjadi sosok yang perjuangannya patut kita kagumi

dan hargai.

4. Untuk apa hasil penelitian diperoleh ?

Selain sebagai tugas akhir si penulis sebagai

mahasiswa, ini juga merupakan kajian penelitian tentang

seorang tokoh pejuang dan ulama yang berkontribusi

mendirikan pendidikan Islam di Indonesia tepatnya di wilayah

Bogor, di mana jawaban ini bisa dilihat kembali di point

pertama, sebagai penambah kajian baru dan membenarkan

kajian lama maupun membantah kajian lama.

Page 44: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

31

KH. Sholeh Iskandar

Masalah

Metodologi

Temuan

Bagaimana kontribusi KH. Sholeh

Iskandar dalam memajukan

pendidikan Islam di Bogor?

Pendekatan

Teori

Lokosentrik

Peranan Sosial

(Levinson)

Peranan KH.

Sholeh Iskandar

sebagai inisiator

pembangunan

lembaga

pendidikan Islam

bagi masyarakat

di Bogor

UIKA merupakan universitas Islam pertama

di Bogor, didirikan pada tahun 1961

Pada tahun 1974 KH. Sholeh

Iskandar berhasil memisahkan

YPIKA Bogor dengan UIC Jakarta

agar bisa berdiri sendiri tanpa ada

relasi dengan UIC Jakarta.

di tahun yang sama baik yayasan dan

universitas mulai memiliki bangunan

sendiri di Jl. R.E Martadinata. Melalui

KH. Sholeh Iskandar banyak diperoleh

hibahan tanah beserta modal pribadi

dari para pendiri

UIKA merupakan salah satu

cita-cita KH. Sholeh Iskandar

selain pesantren sebagai

tempat kaderisasi ulama

Maka dari itu ia dipercaya

memimpin yayasan baik

menjadi pembina maupun

penasihat hingga akhir

hayatnya

Page 45: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

32

Page 46: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

33

BAB III

MENGENAL SOSOK

KH. SHOLEH ISKANDAR

A. Riwayat Hidup KH. Sholeh Iskandar

Sholeh Iskandar atau sekarang masyarakat Bogor

mengenalnya sebagai nama jalan protokol KH. Sholeh

Iskandar yang terbentang dari Jalan Raya Kedung Halang,

Kecamatan Bogor Utara dan Jalan Raya Semplak, Kecamatan

Bogor Barat adalah seorang tokoh pejuang sekaligus ulama

yang lahir di Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang,

Kabupaten Bogor, 22 Juni 1922. Ia adalah anak kedua dari

lima bersaudara, terlahir dari pasangan H. Muhammad Arif

Marsa1 dan Hj. Atun Halimah.

2 Ia lahir dari keluarga yang

agamis dan taat terhadap agama karena masih keturunan

seorang ulama besar Banten yaitu H. Tubagus Arfin yang

1 Arif Marsa merupakan seorang tokoh pemuda Desa Pasarean,

namanya sudah dikenal banyak orang sehingga TB Arfin menikahkan

putrinya Halimah dengan pemuda tersebut. Lihat: Halimi Abdusyukur

“Konsep Kaderisasi Ulama Kiai Haji Sholeh Iskandar”, (Disertasi

mahasiswa Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Bogor, 2011), h.

94.

2 Sumardi, “Majalah Suara Ulama”. Biografi: KH. Sholeh Iskandar

(alm) Sang Panglima Militer yang Berbelot menjadi Pendakwah Ulung,

Edisi 4, (2017): h. 17.

Page 47: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

34

merupakan kakek KH. Sholeh Iskandar dari pihak ibunya

yaitu Hj. Atun Halimah.3

Sekilas tentang Desa Situ Udik yang merupakan

tempat kelahiran KH. Sholeh Iskandar adalah sebuah desa

yang terletak di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Desa Situ Udik sendiri di sebelah utara berbatasan dengan

Desa Situ Ilir Kecamatan Cibungbulang, di sebelah timur

berbatasan dengan Desa Cimayang dan Desa Gunung Menyan

Kecamatan Pamijahan, di sebelah selatan berbatasan dengan

Desa Pasarean Kecamatan Pamijahan, dan kemudian di

sebelah Barat berbatasan dengan Desa Karacak dan Desa

Karya Sari Kecamatan Leuwiliang. Adapula sebagian sumber

menyebutkan bahwa KH. Sholeh Iskandar dilahirkan di Desa

Pasarean yang masuk ke dalam wilayah Pamijahan, namun

menurut dokumen bidata pribadi KH. Sholeh Iskandar

menuliskan bahwa KH. Sholeh Iskandar dilahirkan di Gunung

Handeuleum, tepatnya Desa Situ Udik, Kecamatan

Cibungbulang, Kabupaten Bogor,4 karena berdekatan di

sebelah selatan dengan Desa Pasarean yang merupakan desa

basis perjuangan kemerdekaan untuk wilayah Bogor tepatnya

3 Ini berdasarkan wawancara Lisda Dona Lisdiana bersama Soleh Fajar

(salah satu kerabat KH. Sholeh Iskandar). Lihat: Lisda Dona Lisdiana,

“Biografi KH. Sholeh Iskandar: Seorang Ulama Pejuang yang

Terlupakan (1922-1992)”, (Skripsi Jurusan Pendidikan Sejarah,

Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, 2007), h. 8.

4 Ini berdasarkan biodata singkat yang ditulis oleh KH. Sholeh Iskandar

sendiri. Lihat: Dokumen biodata pribadi KH. Sholeh Iskandar pada

lampiran, h. 126.

Page 48: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

35

Leuwiliang, jadi ada kemungkinan bahwa sosok KH. Sholeh

Iskandar dilahirkan di Pasarean, namun aslinya ia lahir di

Desa Situ Udik meskipun memang banyak kegiatan aktifitas

KH. Sholeh Iskandar di Desa Pasarean.5 Tidak banyak sumber

yang menceritakan tentang masa kecilnya, rata-rata sumber

yang didapatkan menceritakan KH. Sholeh Iskandar yang

beranjak ramaja, karena diusia 16 tahun6 ia sudah aktif dalam

kegiatan kepemudaan di kampung halamannya.

Sebelumnya ia pernah mendirikan organisasi pemuda

Muslim yang diberi nama Subbanul Muslimin (Pemuda

Muslimin) di daerah kelahirannya yaitu Cibungbulang Bogor.

Terbukti bahwasanya sejak muda juga ia sangat aktif dalam

bermasyarakat terutama dalam lingkungan kepemudaan di

lingkungan daerahnya sendiri. Sejak muda KH. Sholeh

Iskandar juga sudah tampil dan memimpin Barisan Islam

Indonesia (BII), dan Pemuda Gerakan Indonesia (Perindo).7

5 Desa Pasarean selain jadi basis perjuangan KH. Sholeh Iskandar juga

beliau memang bertempat tinggal disana. Ini berdasarkan wawancara

penulis bersama salah satu pengurus Yayasan (YPIKA) Bapak Zainal

Muttaqien di Kantor YPIKA, Kota Bogor pada Kamis 18 Oktober 2018.

6 Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama Patriot KH. Sholeh

Iskandar, (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 16. 7 BII adalah organisasi kepanduan yang berada di bawah naungan Al-

Ittihadiyatul Islamiyah (Persatuan Ummat Islam) yang pembentukannya

diprakarsai oleh murid-murid KH. Ahmad Sanusi (1306/1888-1368/1950)

di Pesantren Babakan, Cicurug, Sukabumi, pimpinan KH. Muhammad

Hasan Basri pada bulan November 1931. Sedangkan Pemuda Gerindo

adalah organisasi kepemudaan yang berafiliasi kepada partai nasional kiri,

Gerindo, yang di bentuk pada 24 Mei 1937 untuk menggantikan Partai

Indonesia (Partindo) yang Sukarnois dan menjadi lawan Partai Indonesia

Raya (Parindra) yang konservatif. Pemimpin partai ini antara lain A.K

Gani, Amir Sjarifuddin dan Muhammad Yamin, namun partai ini dibatasi

Page 49: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

36

Berkat keaktifannya dalam memimpin pasukan kepemudaan

seperti itu membuatnya dipercaya dan banyak memiliki

jaringan luas dalam masyarakat terutama berperan dalam

gerakan kemerdekaan Indonesia seperti Hizbullah tepatnya

untuk wilayah Leuwiliang-Jasinga, KH. Sholeh Iskandar di

percaya memimpin Hizbullah karena pengalamannya yang

banyak memimpin organisasi kepemudaan.

Masa mudanya banyak dihabiskan dengan

berorganisasi meskipun memiliki rasa nasionalisme tinggi

namun tetap saja latar belakang seorang KH. Sholeh Iskandar

adalah santri yang berpendidikan pesantren, jadi selain peduli

terhadap negara dan kemerdekaan masyarakatnya ia juga

sangat rendah hati dan taat dalam beragama.

Terlahir dengan lima bersaudara, ia merupakan anak

kedua dengan empat saudaranya yaitu H. Anwar Arief,

Achmad Chotib, Hj. Siti Chodidjah, dan Hj. Siti Djumraeni.

KH. Sholeh Iskandar sebenarnya terlahir dari keluarga yang

aktif dalam kegiatan perjuangan kemerdekaan di zaman

revolusi, bisa dilihat dari kakaknya H. Anwar Arief

merupakan salah seorang yang menjabat sebagai Komandan

Seksi II Kompi IV, sedangkan KH. Sholeh Iskandar

merupakan seorang Kapten jelas lebih tinggi empat tingkat

dari kakak kandungnya. Bisa dilihat bahwa urutan

dalam aktivitasnya hingga tahun 1940 hilang keberadaannnya. Lihat:

Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama Patriot KH. Sholeh Iskandar,

(Bogor: UIKA Press, 2017), h. xix-xx.

Page 50: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

37

kepangkatan militer adalah Sersan Mayor, kemudian Letnan

Muda, Letnan II, Letnan I, Kapten lalu Mayor. Adapula adik

KH. Sholeh Iskandar yaitu H. Achmad Chotib dia menjabat

sebagai Kepala Bagian Persenjataan Batalyon O dengan

pangkat Letnan Muda, dan lebih tinggi satu tingkat dengan

kakak pertamanya yaitu H. Anwar Arief. Begitupula dari

keluarga ayah maupun ibu KH. Sholeh Iskandar juga banyak

terlibat dalam tubuh perjuangan di Desa Pasarean seperti Hj.

Aisjah binti Salen yang merupakan ketua dapur umum dari

kegiatan Laskar Rakyat Leuwiliang hingga Batalyon O

merupakan bibi KH. Sholeh Iskandar dari ayahnya (H.M. Arif

bin H. Salen). Sedangkan H. Mohammad Sholeh bin H.

Naikin terhitung paman KH. Sholeh Iskandar, begitupula

Kapten Dasuki Bakri, Komandan Batalyon TKR Batalyon III

Resimen Bogor, adalah paman KH. Sholeh Iskandar karena

istri Kapten Dasuki yaitu Hj. Sadiyah binti KH. Tb. Arfin adik

dari ibunda KH. Sholeh Iskandar, Hj. Atun Halimah binti KH.

Tb. Arfin. 8

Dilihat dari latar belakang keluarganya, bahwa

keikutsertaan KH. Sholeh Iskandar di dunia kemiliteran juga

banyak dipengaruhi oleh keluarganya, kakak dan adiknya juga

ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,

namun diantara saudara-saudaranya memang KH. Sholeh

Iskandar lah yang paling dikenal oleh masyarakat, sedangkan

8 Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. 132.

Page 51: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

38

di sisi lain saudara perempuan ikut bergabung dalam

menyiapkan makanan bagi para pasukan yang berjuang. Maka

dari itu wajar saja jika sosok KH. Sholeh Iskandar tumbuh

sebagai orang yang aktif dalam memperjuangkan

kemerdekaan Indonesia khususnya untuk wilayah Bogor

Barat dengan melawan penjajah Belanda yang banyak

menindas rakyat Indonesia, padahal pada saat itu menjadi

pejuang kemerdekaan dan bergabung dengan ketentaraan

seperti Batalyon itu tidak di gaji, namun semangat

nasionalismenya sudah tumbuh di usia muda dengan banyak

ikut serta melawan penjajah dengan mengangkat senjata.

Setelah dewasa ketika ia menjadi santri di Cantayan

kemudian diangkat jadi menantu oleh gurunya yaitu KH.

Ahmad Sanusi dengan di nikahkannya kepada anaknya Siti

Maryam9 dengan dikaruniai enam orang anak, yaitu: Deden

Fatimah (alm), Ida Farida, Dudi Iskandar (alm), Dedi Zaenal

Abidin, Dade Hilmah dan Didi Hilman. KH. Sholeh Iskandar

tidak hanya memiliki satu istri, ia menikah lagi dengan istri

kedua yaitu Siti Maemunah yang merupakan orang Jakarta

dengan dikaruniai dua orang anak, yaitu: Dida Djamilah dan

9 Siti Maryam merupakan anak KH. Ahmad Sanusi seorang ulama

besar Jawa Barat yang berasal dari Sukabumi atau yang dikenal dengan

julukannya „guru dari ulama-ulama besar Jawa Barat‟. Siti Maryam

merupakan anak tunggal dari istri ketiga KH. Ahmad Sanusi yaitu dari istri

ibu Edah, karena KH. Ahmad Sanusi memiliki tujuh orang istri. Lihat:

Dede Udas, “Majalah Suara Ulama”, Biografi: Mengenal Sosok KH.

Ahmad Sanusi Guru dari para Ulama Besar Jawa Barat, Edisi 2, (2016).

15.

Page 52: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

39

Dadang Hizbullah, sedangkan dari istri yang ketiga yaitu Siti

Rohani yang berasal dari Bogor tidak karuniai anak, jadi

semua istri KH. Sholeh Iskandar ada tiga orang istri dan

delapan orang anak baik dari istri pertama maupun dari istri

kedua.10

Ini membuktikan sosok KH. Sholeh Iskandar sepak

terjang yang menjadi perannya sebagai Ulama, Organisatoris,

Teknokrat11

dan juga sebagai Pahlawan Nasional. Ketika KH.

Sholeh Iskandar membentuk Laskar Rakyat Markas

Perjuangan Rakyat Leuwiliang dan Laskar Hizbullah,12

kedua

laskar ini merupakan basis laskar pejuang rakyat yang

beroprasi di wilayah Bogor Barat dan Banten. KH. Sholeh

Iskandar disini berperan sebagai komandan laskar, yang

kemudian setelah menjadi TNI berubah pangkat menjadi

Kapten lalu berakhir menjadi seorang Mayor. Namun setelah

dekrit kemerdekaan Indonesia KH. Sholeh Iskandar

mengundurkan diri dari ketentaraannya dan lebih aktif dalam

10 Sumardi, “Majalah Suara Ulama”. Biografi: KH. Sholeh Iskandar

(alm) Sang Panglima Militer yang Berbelot menjadi Pendakwah Ulung,

Edisi 4, (2017): 17.

11

Adalah cendekiawan yang berkiprah dalam pemerintahan, lihat:

https://kbbi.web.id

12

Kedua kelompok ini termasuk kepada kelompok besar, Laskar

Rakyat Markas Perjuangan Rakyat Leuwiliang sendiri bermarkas di

Pasarean, Cibungbulang, dengan komandan Sholeh Iskandar, untuk

anggota laskar biasanya berasal dari berbagai desa yang dipimpin tokoh di

desa itu masing-masing. Laskar Hizbullah untuk wilayah Leuwiliang

sendiri dipimpin oleh E. Affandi. Lihat: Edi Sudarjat, Bogor Masa

Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan Batalyon O Siliwangi, (Depok:

Komunitas Bambu, 2015), h. 103.

Page 53: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

40

tubuh politik Masyumi khususnya untuk wilayah Bogor. KH.

Sholeh Iskandar menjadi salah satu pengurus dalam Partai

Masyumi terbukti dengan dekatnya KH. Sholeh Iskandar

dengan KH. Noer Ali dari Bekasi dan M. Natsir seorang

tokoh politik Masyumi yang begitu terkenal yang merupakan

senior baginya.13

Setelah berhenti di dunia politik KH. Sholeh

Iskandar lebih berfokus pada masyarakat, ia mengabdikan

dirinya untuk masyarakat Bogor dengan banyak membangun

lembaga pendidikan salah satunya yaitu lembaga Pendidikan

Islam tertinggi yaitu Universitas Ibn Khaldun yang akan

dibahas tersendiri dalam bab iv sebagai salah satu bukti dari

contoh lembaga pendidikan Islam yang masih berdiri hingga

saat ini.

Riwayat hidup KH. Sholeh Iskandar banyak di hiasi

oleh perjuangan baik sebagai pejuang negara maupun pejuang

agama, KH. Sholeh Iskandar wafat pada tanggal 22 April

1992/ 19 Syawwal 1412 H, seperti yang dikisahkan

bahwasanya ia wafat ketika sedang memberikan tausiyah di

kantor BKSPP (Badan Kerja Sama Pondok Pesantren) Jawa

Barat, seperti biasa dalam acara pengajian rutin bulanan ia

sholat dzuhur kemudian makan siang dan istirahat untuk

13 Namun karena garis politik Masyumi bersebrangan dengan

Nasakomnya Soekarno kemudian para anggota Masyumi di penjara

beberapa tahun di Jakarta. Lihat: Desastian, “KH. Sholeh Iskandar: Tokoh

Masyumi dan Komandan Hizbullah itu di Usulkan jadi Pahlawan

Nasional”. Panjimas (2017), 07. Inform databese

http://www.panjimas.com, di unduh pada tanggal 16 Agustus 2018 pukul

11:26 WIB.

Page 54: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

41

tidur, namun dalam tidurnya ini KH. Sholeh Iskandar tidak

bangun kembali dan setelah ashar ditemukan wafat, ini

menurut penuturan Ustadz Bunzamin Wibisono.14

Karena

manusia hanya bisa berencana tanpa tahu seperti apa

takdirnya disetiap pergantian menit dan jam, begitupula apa

yang akan dilakukan oleh KH. Sholeh Iskandar, ia seorang

yang berencana untuk memanfaatkan ilmunya dengan akan

mengisi tausiyah, tetapi Allah berkehendak lain lebih memilih

mengambil salah seorang yang baik dan saleh sebagai

pengikut setianya.

B. Pendidikan KH. Sholeh Iskandar

Seorang ulama baik itu pejuang maupun pendakwah

ulung pasti latar belakang pendidikannya yaitu pesantren,

tidak beda halnya dengan KH. Sholeh Iskandar yang dari

kecil lebih berminat terhadap ilmu agama. Meskipun terlahir

dari keluarga biasa namun kedua orang tuanya mendukung

keinginannya untuk menempuh pendidikan pesantren dengan

lebih mendalami ilmu agama yang menjadi ketertarikannya,15

karena pendidikan agama merupakan pendidikan yang paling

penting yang harus ditanamkan sejak dini.

14 Sumardi, “Majalah Suara Ulama”. Biografi: KH. Sholeh Iskandar

(alm) Sang Panglima Militer yang Berbelot menjadi Pendakwah Ulung,

Edisi 4, (2017): 21.

15 Lisda Dona Lisdiana, “Biografi KH. Sholeh Iskandar: Seorang

Ulama Pejuang yang Terlupakan (1922-1992)”, (Skripsi Jurusan

Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, 2007), h. 11.

Page 55: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

42

KH. Sholeh Iskandar dari kecil menuntut ilmu di

berbagai pesantren, baik di daerah sekitar rumahnya maupun

di wilayah lain, adapun pendidikan formalnya hanya sampai

kelas 3 Sekolah Rakyat tepatnya Sekolah Rakyat Warung

Saptu, Cibungbulang. Sekolah Rakyat Warung Saptu pada

saat itu merupakan Sekolah Rakyat yang berada di wilayah

Kecamatan Cibungbulang. Selebihnya pendidikan KH. Sholeh

Iskandar hanya dari pesantren ke pesantren, dan tidak pernah

mengikuti pendidikan formal lainnya. Awalnya di tahun

1934-1936 pernah mengenyam pendidikan di Pondok

Pesantren Cangkudu, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang di

bawah pimpinan KH. Syukur.16

KH. Sholeh Iskandar kenapa

bisa belajar hingga ke Cangkudu karena mengikuti gurunya

KH. Siddiq dari Bakom Ciawi, ia mengenyam pendidikan di

sini hanya sekitar dua bulan karena mengikuti KH. Shiddiq

pergi belajar ke Cangkudu.

Namun diketahui bahwa ia terakhir lama belajar

menjadi santri di Sukabumi tepatnya di Pondok Pesantren

Cantayan dan menjadi murid KH. Ahmad Sanusi. Sebelum

belajar ke Cantayan KH. Sholeh Iskandar di tahun 1937-1940

16 Lisda Dona Lisdiana, “Biografi KH. Sholeh Iskandar: Seorang

Ulama Pejuang yang Terlupakan (1922-1992)”, (Skripsi Jurusan

Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, 2007), h. 12.

Page 56: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

43

ia belajar di Cantayan dengan di bawah bimbingan KH.

Ahmad Sanusi, KH. Nachrowi, dan H. Damanhuri.17

Memang sebagai seorang ulama ia banyak

menghabiskan waktunya kepada masyarakat, salah seorang

yang lebih sering bertindak daripada hanya mencetuskan ide

saja. Meskipun riwayat pendidikan formalnya hanya sampai

kelas 3 Sekolah Rakyat, karena waktu masa mudanya ia

banyak habiskan di medan perang mengangkat senjata

melawan para penjajah, berbeda dengan para ulama biasanya

yang menuangkan keilmuannya dengan sebuah pena. KH.

Sholeh Iskandar lebih senang bertindak secara fisik

membangun sarana dan prasana khususnya untuk kalangan

umat Islam di Bogor.

C. Kiprah KH. Sholeh Iskandar di Kalangan Umat Islam

1. Kiprah di Dunia Militer

Sepak terjang KH. Sholeh Iskandar dalam dunia

militer berawal dari keaktifannya dalam organisasi

kepemudaan di kampung kelahirannya Cibungbulang, KH.

Sholeh Iskandar mendirikan organisasi Subbanul Muslimin

(Pemuda Muslim), tak sebatas menjadi salah seorang yang

aktif hanya dalam berorganisasi, KH. Sholeh Iskandar juga

merupakan pejuang yang tergabung dalam Hizbullah yang

17 Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama Patriot KH. Sholeh

Iskandar, (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 4.

Page 57: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

44

sebelumnya Laskar Rakyat Leuwiliang. Namun jauh sebelum

melebur dengan Hizbullah, KH. Sholeh Iskandar sebelum itu

merupakan ketua Barisan Islam Indonesia (BII) yang di

bawahi oleh Al-Ittihadiyatul Islamiyah yang dipimpin oleh

gurunya yaitu KH. Ahmad Sanusi. Barisan Islam Indonesia

yang diketuai oleh KH. Sholeh Iskandar ini bermarkas di

Gunung Handeuleum, di sini KH. Sholeh Iskandar

mengajarkan kepada anggota BII dengan dilatih seperti baris

berbaris, pengetahuan dasar kemiliteran, ilmu politik dan

kemasyarakatan, bahasa Indonesia, dan menyanyikan lagu

kebangsaan Indonesia Raya.18

Diketahui bahwa ketika

aktifitas BII di Gunung Handeuleum ini banyak para tokoh

yang berkunjung ke sana salah satunya Adam Malik, dari sini

lah seorang Adam Malik selain berkunjung untuk memotivasi

dan menyemangati juga meyakinkan masyarakat di sana

untuk membentuk Gerindo, kemudian dipilihlah salah seorang

yang berpengaruh di Gunung Handeuleum dengan

ditunjuknya H. Dimyati19

sebagai Ketua Gerindo Cabang

18 Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama Patriot KH. Sholeh

Iskandar, (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 17.

19

Selain orang kaya, aktivitas pergerakan nasional dan tokoh

pendidikan lokal, H. Dimyati juga dikenal sebagai tokoh spiritual yang

sering dimintai nasihatnya oleh banyak orang, termasuk oleh tokoh politik

nasional. Kediaman H. Dimyati pun di Gunung Handeuleum pada saat itu

biasa di gunakan oleh Adam Malik maupun tokoh politik nasional lainnya

sebagai tempat persembunyian apabila di Jakarta dalam keadaan tidak

aman bagi mereka. Lihat: Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950:

Sholeh Iskandar dan Batalyon O Siliwangi, (Bogor: Komunitas Bambu,

2015), h. 91-92

Page 58: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

45

Bogor dan Sholeh Iskandar sebagai Wakil Ketua Barisan

Pemuda Gerindo Cabang Bogor.20

Tidak diragukan lagi bahwa sosok KH. Sholeh

Iskandar sebelum memasuki dunia kemiliteran juga sudah

aktif dalam bermasyarakat dan membentuk suatu organisasi.

Ketika itu proklmasi kemerdekaan Indonesia di umumkan

pada 17 Agustus 1945, namun meskipun Indonesia sudah

merdeka tetapi keadaannya tidak seperti itu, nyatanya

Indonesia masih di bawah kekuasaan para tentara Jepang.

Kemudian pada September 1945 KH. Sholeh Iskandar ingin

membentuk Markas Perjuangan Rakyat dengan

mengumpulkan masyarakat dan memberitahu maksudnya

tersebut di Desa Pasarean, kemudian terbentuklah dan

menjadi dua bidang militer yaitu BKR21

yang dipimpin oleh

Kapten Haji Dasuki dan Mayor Tamat, kemudian Hizbullah

yang dipimpin oleh KH. Sholeh Iskandar. Laskar Hizbullahh

ini menginduk kepada Partai Masyumi karena kondisi Negara

Indonesia pada saat itu baru berdiri dan tidak memiiki apa-apa

apalagi dalam kemiliteran dan persenjataan, karena laskar

merupakan bentukan dari masyarakat bukan negara jadi

20 Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama Patriot KH. Sholeh

Iskandar, (Bogor: UIKA Press, 2017), h.18.

21

BKR (Badan Keamanan Rakyat) semacam relawan atau hansip yang

tugasnya adalah memelihara keamanan bersama-sama rakyat dan badan

negara yang bersangkutan.

Page 59: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

46

fasilitas finansial pun di cari sendiri tidak di pasok oleh

negara.22

KH. Sholeh Iskandar yang pada saat itu merupakan

komandan laskar, lalu merorganisasi diri menjadi Batalyon I,

Resimen Singadaru Biro Perjuangan Daerah XXXV (35)

Banten, dimana dalam bidang persenjataan sudah lebih dari

yang dipersyaratkan untuk membentuk suatu Batalyon, saat

itu persenjataan yang dimiliki adalah 1:2, artinya setiap dua

orang pasukan mempunyai satu senjata. Sementara syarat

pembentukan satu Batalyon TNI adalah memiliki senjata 1:5.

Dengan begitu, kemudian mematuhi Dekrit Presiden 20 Mei

1947 untuk menggabungkan laskarnya ke dalam tubuh

Tentara Negara Indonesia, laskar ini digabung dengan formasi

utuh Batalyon I Singadaru, dan ditambah satu perwira

penghubung yaitu Letnan I Hasan Slamet. Kemudian satuan

ini dinamai Batalyon VI Brigade Tirtyasa, Divisi Siliwangi.23

Persenjataan yang dimiliki Batalyon di bawah

pimpinan KH. Sholeh Iskandar sangat mencukupi, hal itu bisa

didapat dengan cara yang tidak mudah. Pertama para pejuang

membeli senjata bekas tentara Jepang yang telah dirusak

dibakar, dilindas mesin giling dan dibuang di danau (danau

Lido Sukabumi, tempat pembuangan senjata Jepang). Kedua

22 Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Bogor: Komunitas Bambu, 2015), h. 9.

23

Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Bogor: Komunitas Bambu, 2015), h. vii.

Page 60: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

47

bekerja sama dengan tokoh masyarakat yang berunding

dengan tentara Jepang untuk menyerahkan persenjataan

beserta pelurunya untuk diserahkan kepada Indonesia. Ketiga,

mencuri senjata pasukan Inggris (termasuk Inggris – India)

serta senjata pasukan Jepang. Senjata yang saat itu banyak

beredar adalah Lee Enfeeld buatan Inggris serta buatan

Jepang yaitu Garand, Mauser, Arisaka. Dalam masa

perjuangan menghadapi Belanda, tepatnya menjelang Agresi

Militer Belanda II, jumlah total persenjataan Divisi Siliwangi

sendiri memprihatinkan, rata-rata 1:10.24

Jauh dibawah

persenjataan Batalyon VI yang dipimpin KH. Sholeh

Iskandar. Kemudian wajar saja apabila Batalyon VI yang

kemudian di reorganisasi menjadi Batalyon O disegani kawan

dan lawan, bukan hanya karena jumlah senjatanya, tetapi juga

karena semangat, daya juang, disiplin dan

pengorganisasiannya cukup rapi.25

Sebenarnya tidak banyak orang atau masyarakat

Indonesia mengetahui tentang Batalyon O Siliwangi ini,

namun A.H Nasution menuliskan dalam bukunya yang

berjilid-jilid Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, bahwa

keberadaan Batalyon ini benar adanya.26

Pangkat terakhir

24 A. H Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1: Kenangan Masa

Muda (Jakarta: CV Haji Masagung, 1989) h. 344.

25

Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Bogor: Komunitas Bambu, 2015), h. 27.

26

Dituliskan bahwa ketika penyerbuan tentara Belanda ke Banten pada

23 Desember 1948, pasukan tentara kita telah membentuk pertahanan

Page 61: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

48

yang dianugerahi kepada KH. Sholeh Iskandar adalah

Mayor.27

Namun setelah kemerdekaan Republik Indonesia

diakui Belanda pada Desember 1949 dalam konferensi Meja

Bundar, kemudian barulah TNI bisa mengorganisasi dirinya

sendiri sedangkan laskar membubarkan diri dan kembali

menjadi masyarakat tak terkecuali KH. Sholeh Iskandar

bersama rekannya saat menjabat sebagai Komandan KDM di

Rangkasbitung pada 1950.28

Kiprahnya tidak sebatas dalam memperjuangkan

kemerdekaan saja, di tahun 1950 setelah ia berhenti dari dunia

kemiliteran ia kembali mengabdi kepada masyarakat dengan

terjun ke dunia politik. Ia pun bergabung ke Partai Masyumi

bersama rekan-rekan seperjuangannya seperti Muhammad

Natsir, KH. Noer Ali dan tokoh lainnya sebagai pengurus

dalam partai Islam tersebut. Aktifitas KH. Sholeh Iskandar

dalam berpolitik khususnya bergabung dengan Partai

dengan menyerahkan perintah kepada para Komandan Batalyon untuk

posisi gerilya, dan Batalyon KH. Sholeh Iskandar memegang kendali

penting dengan menghadapi front Leuwiliang, dan khusus Jalan Raya

Bogor - Rangkasbitung. Satu kompi menghadapi sektor Cikotok - Bayah.

Lihat : A.H Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 10:

Perang Gerilya Semesta II , Cet ke-1 (Bandung: Disjarah AD dan Penerbit

Angkasa Bandung, 1979), h. 192.

27

Terbukti bahwa A.H Nasution menyebutnya Mayor Sholeh Iskandar.

28

Ini tertera pada maklumat pemerintah yang ditulis oleh Soekarno

pada 7 Oktober 1945 untuk menjaga keamanan rakyat maka di perintahkan

pembentukan Tentara Keamanan Rakyat yang sekarang dikenal menjadi

TNI. Namun KH. Sholeh Iskandar lebih memilih kembali kepada

masyarakat bersama rekan-rekannya dan tidak melanjutkan jabatan

kemiliterannya. Lihat: A. H Nasution Sekitar Perang Kemerdekaan

Indonesia Jilid 2: Diplomasi Atau Bertempur, Cet ke-1 (Bandung:

Disjarah AD dan Penerbit Angkasa Bandung, 1979), h. 211.

Page 62: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

49

Masyumi tidak banyak diceritakan, KH. Sholeh Iskandar lebih

aktif berpolitik di daerahnya sendiri yaitu Masyumi cabang

Bogor, sebelumnya H. Lukman Hakiem menuturkan bahwa

KH. Sholeh Iskandar pernah ditawarkan untuk bergabung

sebagai pejabat poitik di Mayumi pusat, namun beliau dengan

lantang menolaknya, ini terlihat bahwa sifat rendah hati beliau

patut kita contoh karena beliau lebih senang membangun

masyarakat daerahnya sendiri dibanding mengambil satu

jabatan tinggi.29

Sebelumnya ketika beliau belum bergabung

dengan partai Masyumi juga pernah terlibat dalam politik

dengan mendampingi Bupati I Bogor selama pemerintahan

darurat di Jasinga-Malasari, pada saat itu beliau masih

seorang Kapten KH. Sholeh Iskandar Komandan Batalyon

02.30

29 Hasil wawancara pribadi penulis dengan Bapak H. Lukman Hakiem

(salah satu murid KH. Sholeh Iskandar juga penulis buku jejak perjuangan

ulama-patriot KH. Sholeh Iskandar, di Desa Benda, Kecamatan Cicurug,

Kabupaten Sukabumi), yang dilakukan pada Senin, 03 September 2018

pukul 14.00 WIB.

30

Masih di masa revolusi, Indonesia setelah memproklamirkan

kemerdekaannya masih dalam keaadaan membenahi diri, di wilayah

daerah sendiri tepatnya di Kabupaten Bogor pemerintahannya dengan

dipimpin Bupati Ipik Gandamana mencari tempat yang aman dari serbuan

Belanda, untuk mendirikan pemerintahan daerah, terpilihlah Desa

Malasari sebagai markas pemerintahan Sipil Kabupaten Bogor RI selama

kurang lebih 5 bulan yang kemudian pindah ke Nanggung. Lihat: La Musa

Penelusuran Arsip Sejarah Kabupaten Bogor (Bogor: Kantor Arsip dan

Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor, 2014), h. 181.

Page 63: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

50

2. Kiprah sebagai Seorang Ulama

Diketahui bahwa KH. Sholeh Iskandar dikenal sebagai

ulama kharismatik di wilayah Bogor, selain dikenal sebagai

pejuang yang menentang kolonialisme Belanda di Indonesia

yang menjajah selama kurang lebih tiga setengah abad.

Prestasinya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia

dianggap berhasil dalam memimpin pasukannya.

Sebenarnya seseorang bisa dikatakan sebagai seorang

ulama itu dilihat dari bagaimana keilmuannya, gelar kiyai haji

pada seseorang juga diberikan oleh masyarakat itu sendiri,

seperti gelar haji dalam tradisi masyarakat Indonesia, gelar ini

diberikan kepada orang-orang yang telah menyempurnakan

rukun Islamnya yang kelima dengan menunaikan ibadah haji.

Gelar kiyai juga biasa disematkan kepada para tokoh

masyarakat atau biasanya turun-temurun memang dalam

keluarganya meneruskan apa yang telah dilakukan orang tua

dari nenek moyangnya.

KH. Sholeh Iskandar terjun ke masyarakat, karena

masyarakat pada saat itu membutuhkan seseorang sebagai

tokoh penggerak. Setelah meninggalkan pangkat

kemiliterannya, beliau karena kesalehannya lebih memilih

berjuang dalam agama. Padahal ketika itu pangkat beliau

sudah mayor, apabila di lanjutkan menjadi tentara bisa naik

menjadi jendral. Namun pemikiran beliau tidak sesederhana

Page 64: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

51

itu, karena tugas sebagai abdi negara telah usai, dan negara

Indonesia telah merdeka dan bisa berdiri sendiri. Dalam

pengabdiannya terhadap masyarakat dibuktikan dengan

kembalinya beliau kepada masyarakat dan banyak

membangun lembaga pendidikan Islam, beliau tidak sendiri

dalam hal melakukan itu, dengan banyak mengajak rekan–

rekan seperjuangannya untuk membangun fasilitas yang

menjadi kebutuhan masyarakat pada saat itu, menjadikan

beliau seorang ulama yang dihormati oleh murid–muridnya

dan masyarakatnya.

Sosok KH. Sholeh Iskandar adalah seorang yang

bergerak dalam banyak bidang baik itu dalam militer, sosial,

ekonomi maupun pendidikan. Ini termasuk kepada tiga pilar

dakwahnya yang menjadi pelengkap dimana pesantren

sebagai kaderisasi ulama yaitu pertama, mendirikan

universitas Islam, pilar kedua, mendirikan rumah sakit Islam

dan yang ketiga, mendirikan lembaga keuangan, terbukti dari

kesemuanya KH. Sholeh Iskandar berhasil mendirikannya dan

masih berdiri kokoh hingga saat ini, seperti UIKA, rumah

sakit Islam Bogor, dan bank amanah ummah. Semua didirikan

oleh KH. Sholeh Iskandar merupakan berbasis syari‟ah

mengapa, karena dalam melihat realitas kehidupan

masyarakat yang serba tertinggal pada saat itu, baik dari segi

sisi ekonomi, pendidikan maupun kesehatan tidak

mencerminkan nilai syari‟ah dan didasarkan pada suatu

Page 65: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

52

keyakinan umat yang kuat bahwa ajaran Islam adalah ajaran

yang tidak hanya mengatur masalah aqidah dan akhlak juga

mengatur ibadah dan muamalah dalam berbagai aspek

kehidupan.

Pasca kemerdekaan ia ingin membangun kembali

masyarakat Bogor dan melengkapi fasilitas di Bogor apa saja

yang masih belum ada di Bogor.31

Namun titik baliknya dari

seorang pejuang dan menjadi seorang ulama yang kembali

kepada masyarakat di tahun 1960 dengan mendirikan Pondok

Pesantren Pertanian Darul Fallah di Ciampea Bogor. Namun

terhambat pengurusannya karena ia ditangkap dan dipenjara

di era orde lama oleh pemimpin pada saat itu karena dituduh

yang tidak-tidak. Setelah kebebasannya ia langsung

memimpin Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor

sebagai salah satu lembaga pendidikan yang ia dirikan.

Sebagaimana yang akan lebih di jelaskan dalam bab iv dalam

skripsi ini. Selain aktif mengajar dan mengurus lembaga-

lembaga pendidikan Islam yang beliau dirikan juga aktif

berdakwah mengisi pengajian di kantor BKSPP.

31 Di akhir masa pemerintahan Jepang April 1945 memang kondisi

sosial budaya masyarakat Indonesia khususnya di wilayah Bogor Shu

terjadi fase kemunduruan, dari segi ekonomi seperti kemiskinan dalam

masyarakat, tetapi untungnya dalam hal keagamaan para ulama di daerah

bangkit dan membentuk suatu perkumpulan dimana umat Islam harus

bergerak memajukan masyarakat, dalam hal pendidikan dan pengajaran

mengalami kekhawatiran karena memang tidak ada kemajuan sama sekali.

Pada saat itu di daerah tanah partikelir saja sekolah rakyat baru akan di

buka. Lihat: Susanto Zuhdi, Bogor Zaman Jepang 1942-1945 (Depok:

Komunitas Bambu, 2017), h. 138-139.

Page 66: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

53

BKSPP ini merupakan Badan Kerjasama Pondok

Pesantren khususnya di wilayah Jawa Barat, karena yang

mendirikannya juga merupakan ulama-ulama dari berbagai

pesantren Jawa Barat. Ia bersama rekan-rekannya mendirikan

BKSPP sekitar tahun 1970-an, tujuannya dalam rangka

mengaderisasi keberadaan pesantren. KH. Sholeh Iskandar

mendirikan sekaligus memimpin BKSPP Jawa Barat, telah

banyak berhasil mengatasi persoalan yang dihadapi pondok

pesantren khususnya di pelosok desa yang mana aksesnya

masih keterbelakang, jadi dalam BKSPP ini pondok pesantren

saling melengkapi, menjadi contoh satu sama lain. Seperti

pengadaan air bersih, kenyamanan dan kesehatan dalam

membangun pondok pesantren, juga kurikulum dalam

pesantren. Semua awal pencetusan ide untuk membangun

BKSPP adalah KH. Sholeh Iskandar dengan mengajak semua

rekan-rekan seperjuangan alim ulama yang ada di wilayah

Jawa Barat. Bersama KH. Noer Ali sebagai pimpinan umum

BKSPP dan KH. Sholeh Iskandar sebagai ketua badan

pelaksana, menjadikan BKSPP terus maju dan berkembang ke

berbagai wilayah di Jawa Barat.32

Perjuangan KH. Sholeh

Iskandar sebenarnya lebih banyak di masyarakat, karena

keikutsertaannya dalam revolusi fisiknya hanya sekitar lima

32 Bersama rekan-rekan seperjuangannya sejak zaman revolusi saat itu

termasuk KH. Abdullah bin Nuh, KH. Sholeh Iskandar, KH. Noer Alie,

KH. Choer Affandi, KH. Abdullah Syafi‟i dkk lainnya mendirikan Badan

Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat. Edi Sudarjat, Bogor

Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan Batalyon O Siliwangi,

(Bogor: Komunitas Bambu, 2015), h. 59.

Page 67: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

54

tahun dari 1945-1950. Hingga akhir hayatnya tetap berjuang

dalam masyarakat, berbagi keilmuannya, membangun dan

memajukan masyarakat Bogor.

Untuk aktifitas dakwah atau mengajarnya sendiri

biasanya beliau menyampaikan pesan-pesan dan nasehat-

nasehat yang membawa nilai-nilai positif kepada jama‟ah

(muridnya), guna untuk membawa para muridnya menjadi

manusia yang bermanfaat dan berguna bagi masyarakat dan

agamanya. Biasanya Kiyai Haji Sholeh Iskandar melakukan

ceramah pengajian di kantor BKSPP, karena setiap bulannya

selalu ada pengajian rutin dan KH. Sholeh Iskandar salah satu

pendiri sekaligus guru yang mengajar, atau mengisi ceramah

pengajian di beberapa tempat lainnya salah satunya di Masjid

Al-Hijri, didekat air mancur Bogor. Pada masanya ia juga

mengajar di lembaga-lembaga yang ia dirikan, selain menjadi

pengurus ia juga mengisi kelas seperti di Universitas Ibn

Khaldun dan Pondok Pesantren Darul Fallah Bogor.

Dalam berceramah, KH. Sholeh Iskandar tampak

begitu tenang dan sabar dalam menjelaskan materi dakwah

yang disampaikan kepada para muridnya, sehingga para

muridnya begitu antusias dalam mendengarnya. Dalam

berceramah KH. Sholeh Iskandar mengambil rujukan dari Al-

Qur‟an dan hadist, sehingga jama‟ah atau muridnya lebih

Page 68: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

55

paham dan percaya tentang materi yang dijelaskan olehnya.33

Bagi yang mengenal KH. Sholeh Iskandar adalah sosok

penggerak, ulama yang selalu terjun dalam masyarakatnya

sendiri, ia selalu mengamalkan kata terus berbuat terus

memotivasi, karena menurutnya bagi seorang pejuang baik

pejuang negara maupun agama tidak ada kata istirahat.

Apalagi KH. Sholeh Iskandar merupakan sesorang

yang bergerak di berbagai bidang, tidak hanya melulu

menggeluti satu bidang, bisa dibuktikan bahwa sebelumnya

dalam tiga pilar dakwah yang ia cita-citakan kesemuanya

sekarang ada dan masih berdiri kokoh, kontribusinya bagi

masyarakat tidak ternilai, dibandingkan dengan apa yang ia

korbankan, semuanya ikhlas di jalan Allah. Karena keimanan

dan kepercayaannya terhadap agama menjadikan pribadi yang

amat diteladani dari seorang ulama seperti KH. Sholeh

Iskandar.

33 Hasil wawancara pribadi penulis dengan Bapak H. Lukman Hakiem

(salah satu murid KH. Sholeh Iskandar juga penulis buku jejak perjuangan

ulama-patriot KH. Sholeh Iskandar, di Desa Benda, Kecamatan Cicurug,

Kabupaten Sukabumi), yang dilakukan pada Senin, 03 September 2018

pukul 14.00 WIB.

Page 69: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

56

Page 70: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

57

BAB IV

KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM

MEMAJUKAN PENDIDIKAN ISLAM DI BOGOR

Dalam bab ini sebagaimana telah disebutkan bahwa

sesuai dengan rumusan masalah bagaimana kontribusi KH.

Sholeh Iskandar dalam memajukan pendidikan Islam di

Bogor? saya jawab dengan mengambil salah satu tiga pilar

dakwah KH. Sholeh Iskandar yang kesemuanya mencakup

pendidikan, kesehatan, dan keuangan, namun khusus dalam

pembahasan ini saya ambil hanya salah satu pilar dakwahnya

yaitu di bidang pendidikan, karena ia memiliki andil yang

cukup besar dalam mendirikan lembaga pendidikan ini.1

Sesuai dengan kajian saya mengenai pendidikan Islam

sebagai salah satu pilar dakwahnya maka dari itu,

penjelasannya akan saya jelaskan secara rinci di bawah ini.

A. Mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun

1. Latar Belakang Berdirinya Yayasan dan

Universitas

1 Selain berdirinya pesantren sebagai pusat kaderisasi maka harus di

dukung pula oleh tiga pilar dakwahnya. Sebelumnya, di tahun 1960 beliau

KH. Sholeh Iskandar mendirikan Pondok Pesantren Pertanian Darul Fallah

di Ciampea Bogor sebagai bukti titik balik beliau dari seorang pejuang

menjadi seorang Ulama. Lihat: Sumardi, “Majalah Suara Ulama”.

Biografi: KH. Sholeh Iskandar (alm) Sang Panglima Militer yang Berbelot

menjadi Pendakwah Ulung, Edisi 4, (2017): 19.

Page 71: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

58

Sebelum adanya Yayasan Pendidikan Islam Ibn

Khaldun di Bogor, yayasan ini merupakan salah satu yayasan

yang berada di Jakarta namanya juga sama yaitu Yayasan

Ibnu Chaldun, karena Yayasan Ibn Khaldun yang berada di

Bogor merupakan cabang dari yayasan ini. Yayasan Ibnu

Chaldun di Jakarta inilah yang memelopori pendirian

Universitas Ibnu Chaldun (UIC) di Jakarta.2 Namun, jauh

sebelum UIC yang berada di Jakarta di buka, di Bogor sejak

tahun 1960 sudah berdiri Universitas Djakarta Indonesia

(UDI) dengan mengoperasikan empat fakultas yaitu: Fakultas

Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan juga Fakultas Sastra (Bahasa Inggris). Maka dari

itu, dengan dibukanya UIC (Universitas Ibnu Chaldun) di

Jakarta, empat fakultas UDI (Universitas Djakarta Indonesia)

ini menggabungkan diri ke UIC (Universitas Ibnu Chaldun)

yang berada di Jakarta.3

UDI (Universitas Djakarta Indonesia) mendesentralisasi

pengelolaan empat fakultas yang beroperasi di Bogor kepada

Yayasan Ibnu Chaldun Jakarta, kemudian Dewan Para

Pembentuk Yayasan Ibnu Chaldun Jakarta menerbitkan Surat

2 Yayasan Ibnu Chaldun Jakarta sendiri didirkan oleh salah satu tokoh

Masyumi yang saat itu menjadi anggota parlemen H. Zainal Abidin

Ahmad (1912-1983) dan H. Ali Akbar (1915-1994) serta seorang

mahasiswa Ali Imran Kadir. Lihat: Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan

Ulama-Patriot KH. Sholeh Iskandar (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 57.

3 Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor Melintas

Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas Ibn

Khaldun, 2011), h. 151-159.

Page 72: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

59

Keputusan No. 31/DPP/61 tanggal 23 April 1961 yang

menetapkan:

Memberikan status otonomi penuh kepada Perguruan

(Tinggi) Yayasan Ibnu Chaldun di Bogor.

Mengangkat Badan Pengurus Yayasan Ibnu Chaldun

di Bogor terhitung sejak tanggal keputusan diterbitkan.

Maka dari itu, secara resmi berdirilah Universitas Ibnu

Chaldun Bogor yang kemudian menjadi Universitas Ibn

Khaldun (UIKA) Bogor. Semenjak saat itu, Universitas

Djakarta Indonesia berubah menjadi Universitas Ibn Khaldun

karena desentralisasi yang dilakukan terhadap ke empat

fakultas kepada Yayasan Ibnu Chaldun Jakarta. Tanggal 23

April pun seperti yang diketahui kemudian disepakati sebagai

hari jadi UIKA Bogor.4

Dalam mendirikan suatu lembaga kita tidak bisa

mendirikannya seorang diri, begitu pula KH. Sholeh Iskandar.

Ia berjuang bersama rekan-rekannya dalam mendirikan

Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor. Di masa

kepemimpinannya pula KH. Sholeh Iskandar berhasil

membujuk pihak Yayasan Ibnu Chaldun Jakarta agar Yayasan

Ibn Khaldun yang berada di Bogor bisa memisahkan diri

tanpa terkait dengan yayasan yang ada di Jakarta. KH. Sholeh

4 Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor Melintas

Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas Ibn

Khaldun, 2011), h. 146-147.

Page 73: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

60

Iskandar meminta secara baik-baik dan akhirnya berhasil,

Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor menjadi

yayasan yang berdiri sendiri.5 Dengan menaungi langsung

Universitas Ibn Khaldun Bogor hingga saat ini merupakan

universitas Islam pertama di wilayah Bogor.

Universitas Ibn Khaldun Bogor lahir di tahun di mana

kondisi politik Indonesia sedang bergejolak.6 Karena

merupakan perguruan tinggi Islam jadi agak sulit dalam

mengembangkannya kerena pada saat itu kondisi politik tidak

mendukung dan perhatian terhadap perguruan tinggi agak

kurang. Oleh sebab itu, keberadaannya harus lebih hati-hati

agar tetap bertahan. Dengan berjalannya waktu keterbukaan

dan perbaikan perguruan tinggi mulai tercanangkan sekitar

tahun 1970-1975 mulai terealisasikan pembangunannya dan

memiliki gedung sendiri.

UIKA pada awalnya hanya memiliki beberapa

fakultas, seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

berdiri pada tahun 1961, kemudian Fakultas Ekonomi berdiri

di tahun 1961 juga, adapula Fakultas Hukum yang masih

seangkatan berdiri di tahun 1961, dan UIKA berhasil pula

mengembangkan Fakultas Agama Islam di tahun 1994 (hasil

5 Hasil wawancara pribadi penulis bersama H. Lukman Hakiem pada

Senin 03 September 2018 pukul 14.00 WIB di Desa Benda, Kecamatan

Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

6 Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor

Melintas Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas

Ibn Khaldun, 2011), h. 48.

Page 74: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

61

gabungan Fakultas Syari’ah, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas

Ushuluddin). Fakultas Teknik yang juga berdiri pada tahun

1978, hingga di tahun 2000-an UIKA mendirikan Pasca

Sarjana, lalu Fakultas Kesehatan yang paling bungsu dan baru

pada tahun 2011.7

Bisa dibilang pencapaian UIKA Bogor pada saat ini,

tentu saja merupakan hasil dari kerja keras para pendiri,

pemimpin, dan pengasuh YPIKA dan UIKA yang dari dulu

terus berikhtiar dijalannya. KH. Sholeh Iskandar merupakan

sosok tokoh utama dibalik kesuksesan dalam membangun

dan mengembangkan UIKA, dalam mewujudkan cita-citanya

yang luhur KH. Sholeh Iskandar sampai melepaskan harta

milik pribadinya, dengan menjual rumahnya di Jalan Jendral

Sudirman Bogor, sampai-sampai ia rela mengontrak beberapa

tahun di Jalan Rimba, Ciomas. Menurut keterangan yang di

tulis oleh Bapak Lukman Hakiem, ada salah satu narasumber

bercerita yang identitasnya tak mau disebutkan bahwa pada

saat itu prihatin melihat keadaan tersebut, sehingga pimpinan

UIKA menawari KH. Sholeh Iskandar untuk menukar tanah

seluas 200.651 meter persegi (20,651 hektar) di Cibeber

Leuwiliang8 dengan gedung milik UIKA di Jalan Kasintu.

7 Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor Melintas

Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas Ibn

Khaldun, 2011), h. 55-92.

8 Sertifikat tanah tersebut atas nama Hardi M. Arifin, Ir. Abubakar

Burniat, Drs. Syamsu Yusuf, Drs. A.A Leurima, dan H. Sofyan Suhendar.

Wawancara yang dilakukan oleh Bapak Lukman Hakiem bersama Hardi

Page 75: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

62

Mulanya KH. Sholeh Iskandar menolak, karena takut

menimbulkan pandangan yang tidak-tidak terhadapnya,

namun setelah diyakinkan barulah ia menerimanya. Dan lagi,

rumah ini tetap saja dijadikan markas perjuangan dan kantor

BKSPP, bukan malah menjadi rumah pribadi yang seharusnya

di tempati ia bersama keluarganya.9

Bisa dilihat sekarang, berkat para pejuang yang tak

pernah lelah memikirkan umat dan ikhlas demi kemajuan

Pendidikan Islam sekarang Universitas Ibn Khaldun berdiri

kokoh menjadikannya universitas Islam pertama di Bogor dan

di percaya oleh masyarakat sebagai universitas yang bermutu

sesuai dengan namanya dan mengkhususkan konsentrasi di

bidang Pendidikan Islam serta dibidang umum lainnya.

2. Nama Yayasan dan Universitas

Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor, untuk

penamaan Ibn Khaldun sendiri diambil dari nama seorang

ilmuwan muslim bernama Ibn Khaldun10

yang hidup pada

abad ke 14 Masehi, tepatnya ia dilahirkan di Tunis 1

Ramadhan 732 Hijriyah (27 Mei 1332 Masehi) dan wafat di

Kairo pada tanggal 25 Ramadhan 808 Hijriyah (19 Maret

M. Arifin, 25 September 2016. Lihat: Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan

Ulama-Patriot KH. Sholeh Iskandar (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 62.

9 Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama-Patriot KH. Sholeh

Iskandar (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 63.

10 Yayasan Pendidikan Islam Ibnu Khaldun Bogor (2018), Inform

databese http://uika-bogor.ac.id, di unduh pada tanggal 19 Oktober 2018

pukul 21.30 WIB.

Page 76: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

63

1406 Masehi). Ibn Khaldun mempunyai nama lengkap Abu

Zaid Abdurrahman Ibn Khaldun.11

Ibn Khaldun juga seorang

Sosiolog dan Sejarawan terkenal dengan bukunya

Mukaddimah. Ia merupakan perintis filsafat sejarah dan

sosiologi yang tidak ada tandingan pada zamannya.

Mengingat ia seorang ilmuwan besar muslim dan juga karena

kebesaran jiwanya, maka para pendiri Yayasan Ibn Khaldun

(Ibn Chaldun Foundation) mengabadikan namanya sebagai

nama yayasan maupun nama universitas.

3. Letak Yayasan dan Universitas

Untuk kedudukan tempatnya sendiri, yayasan pada

saat itu masih berpindah-pindah tempat. Ketika

kepemimpinan yayasan masih dibawah dokter Marzuki

Mahdi, bersama-sama KH. Sholeh Iskandar, Abdullah Siddik,

Prijono Hardjosentono dan rekan-rekan seperjuangan lainnya

baik dari yayasan dan universitas dimulai dengan menyewa

gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) Papandayan di Jl.

Papandayan No. 25 Bogor, dan tahun-tahun setelahnya terus

berpindah-pindah tempat kuliah hingga di usia 50 tahun

memiliki lahan 1200 meter persegi di Jl. R.E Martadinata dan

Kampus di Jl. KH. Sholeh Iskandar seluas 4,2 hektar.12

11 Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, Masturi

Irham dkk (penerjemah), Mukaddimah Ibnu Khaldun, cet ke-1, (Jakarta:

Pustaka Al-Kautsar, 2011), h. 3.

12

Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama-Patriot KH. Sholeh

Iskandar (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 60.

Page 77: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

64

Awalnya letak kampus Universitas Ibn Khaldun itu

ada di Jl. R.E Martadinata 4, tempat ini diperoleh dengan

membeli harga murah, uangnya dikumpulkan dari beberapa

orang yaitu KH. Sholeh Iskandar, H. Prijono Hardjosentono,

Chaeruddin Nawawi, dan Yunus Alwi, pada tahun 1973 dari

seseorang yang bernama Djamar Adam, seorang pengurus

Pucuk Pimpinan gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII)

saat dibentuk pada 02 Oktober 1945, dengan lahan seluas

1.169 meter persegi dan atasnya terdapat bangunan rumah.13

Pada tahun 1980, melalui KH. Sholeh Iskandar pula seorang

dosen dari Universitas King Abdul Aziz Jeddah, yaitu Dr.

Omar Zubair, membeli rumah beserta lahan di Jl. R.E

Martadinata No. 2 seluas 202 meter persegi. Dr. Omar Zubair

ini kemudian mewakafkan rumahnya itu kepada Yayasan

Pendidikan Islam Ibn Khaldun (YPIKA).14

Jadi proses dalam memiliki tempat yang tetap itu

panjang, para pendiri dan pengurus baik yayasan maupun

universitas seperti dokter Marzuki Mahdi, KH. Sholeh

Iskandar, R.S.A Kartadjumena, H. Prijono Hardjosentono, Ir.

R.S.A Suwignyo, Ir. Iman Rahardjo, yang didukung dan

dipelopori oleh para mahasiswanya antara lain Yunus Dali,

Abdul Aziz Sani, Hamidin Kulubana, Amir Son dan

13 Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama-Patriot KH. Sholeh

Iskandar (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 61.

14

Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor

Melintas Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas

Ibn Khaldun, 2011), h. 39-40.

Page 78: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

65

Djamiruddin AS. Semuanya berjuang demi membangun satu

Lembaga Pendidikan Islam di Bogor, melalui mereka sedikit

demi sedikit membeli tanah, juga wakaf rumah maupun tanah

dari orang-orang dermawan yang membantu, kemajuan pun

terus berlanjut ketika kepemimpinan KH. Sholeh Iskandar

nama yayasan yang tadinya Badan Pengurus Yayasan Ibn

Khaldun Bogor diubah dan ditingkatkan menjadi Yayasan

Pembina Universitas Ibn Khladun Bogor.15

Pembangunan universitas banyak dibantu oleh para

dermawan yang lagi-lagi melalui kebaikan KH. Sholeh

Iskandar seorang Nyonya yang bernama Tan Pek Nio yang

bertempat tinggal di Jl. Salabintana No. 34 Sukabumi

menghibahkan tanahnya kepada Yayasan Pembina

Universitas Ibn Khaldun Bogor. Penghibahan ini secara resmi

tertulis dalam surat pernyataan yang ditanda tangani di

Sukabumi pada bulan Oktober 1977, Nyonya Tan Pek Nio

menyatakan bahwa dirinya beserta keluarga (ahli waris) tidak

berkebaratan dan tidak akan melakukan gugatan apabila persil

tanah perponding No: 1131/Seb seluas 590 meter persegi,

surat ukur No: 12/1956 terletak di Jl. RE. Martadinata, Desa

Pabaton, Kota Bogor, di izinkan oleh Walikota Bogor untuk

15 Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor (2018), Inform

databese http://uika-bogor.ac.id, di unduh pada tanggal 22 Oktober 2018

pukul 09.52 WIB.

Page 79: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

66

dipergunakan oleh Yayasan Pembina Univarsitas Ibn Khaldun

Bogor.16

Alasan dibalik Nyonya Tan Pek Nio ini menghibahkan

tanahnya kepada Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun

Bogor yaitu sebagai ucapan terimakasih kepada sosok KH.

Sholeh Iskandar yang pada saat itu di masa perang

kemerdekaan, telah menyelamatkan nyawa diri dan

keluarganya dari ancaman pihak-pihak yang tidak

bertanggung jawab.17

Koneksi luas yang dimiliki oleh KH.

Sholeh Iskandar menjadikan cita-citanya membangun sebuah

universitas Islam dengan sedikit demi sedikit mulai terwujud,

dan diwujudkan oleh para dermawan yang berbaik hati

melalui KH. Sholeh Iskandar yang lebih baik lagi dalam

membantu masyarakatnya.

Meskipun awalnya letak yayasan maupun universitas

Ibn Khaldun tidak menetap, artinya selalu berpindah-pindah

tempat dengan menyewa gedung satu dan gedung lainnya.

Namun berkat para pejuang pendiri maupun pengasuh

yayasan dan universitas juga orang-orang baik yang

16 Pernyataan tidak keberatan ini, menurut Nyonya Tan Pek Nio, sesuai

dengan Akta Pelepasan Hak No: 6, dibuat dihadapan Wakil Notaris Ali

Harsoyo, Bogor, yang telah disampaikan dengan surat pengantar Nyonya

Tan Pek Nio tertanggal 9 Januari 1965. Di atas hibah dari Nyonya Tan Pek

Nio kini sekarang berdiri megah Masjid Al-Hijri I, yang tepatnya

disebelah Air Mancur. Lihat: Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama-

Patriot KH. Sholeh Iskandar (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 61.

17 Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama-Patriot KH. Sholeh

Iskandar (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 60.

Page 80: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

67

dermawan menghibahkan hartanya, sekarang bisa dililat

Pertama, bangunan kantor Yayasan Pendidikan Islam Ibn

Khaldun Bogor berada di Jl. RE. Martadinata No. 2-4, Desa

Pabaton, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota

Bogor tepat di sebelahnya ada Masjid Al-Hijri I. Kedua,

Universitas Ibn Khaldun Bogor yang dinaungi oleh YPIKA

bangunannya sekarang berdiri megah di Jl. KH. Sholeh

Iskandar Km. 2, Kedung Badak, Tanah Sareal, Kota Bogor.

B. Visi, Misi dan Tujuan

Pada dasarnya, sebuah lembaga pendidikan Islam baik

seperti perguruan tinggi Islam yaitu Universitas Ibn Khaldun

Bogor memiliki suatu tujuan yang didasari dari pendiriannya.

Tujuannya itu selain ingin mencerdaskan anak bangsa juga

menyelamatkan dan membahagiakan setiap umat manusia

khususnya orang-orang di sekitar wilayah perguruan tinggi

agar sukses dunia dan akhirat, karena selain belajar ilmu

tentang dunia juga belajar ilmu-ilmu agama agar menjadi

bekal setelah dunia berakhir kelak. Meskipun berbeda dengan

universitas umum yang hanya memiliki bobot pengetahuan

sains saja, sebenarnnya universitas Islam lebih unggul karena

meskipun memiliki pelajaran lebih banyak tetapi seimbang

untuk pengetahuan hidup dan agama bagi manusia. Seperti

pada Visi, Misi, dan Tujuannya di bawah ini:

Page 81: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

68

Visi

Menjadi Universitas Unggul Berbasis Keislaman dan

Teknologi pada tahun 2025

Misi

Menyelenggarakan program pendidikan tinggi yang

unggul berbasis nilai-nilai keislaman dan penerapan

teknologi.

Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan

seni untuk kesejahteraan masyarakat sebagai

perwujudan keagungan ajaran Islam.

Mengembangkan kerjasama dalam lingkungan

nasional, regional, dan internasional dalam

pelaksanaan program tridharma perguruan tinggi.

Tujuan

Menjadi Universitas Islam yang memiliki keunggulan

dalam proses pembelajaran, penelitian dan pengabdian

kepada masyarakat yang berbasis nilai-nilai keislaman

dan penerapan teknologi.

Menghasilkan insan akademik yang berakhlak mulia,

kreatif, inovatif, dan relevan dengan dinamika

kebutuhan masyarakat.

Page 82: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

69

Menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

yang dapat meningkatkan kualitas kesejahteraan

masyarakat sesuai dengan ajaran Islam.

Terjalinnya kerjasama dalam lingkup nasional,

regional, dan internasional dalam pelaksaan program

tridharma perguruan tinggi.18

C. Struktur Organisasi

Adapun kepengurusan Yayasan Ibnu Chaldun Bogor

(YICB) periode pertama yaitu tahun 1961-1966 terdiri dari:

Ketua : Dokter Marzuki Mahdi

Wakil Ketua : R.S.A Kartadjumena

Wakil Ketua : Ir. Prijono Hardjosentono

Seretaris I : Ir. Iman Rahardjo

Sekretaris II : Junus Dali

Bendahara I : R.A Soewignjo

Bendahara II : M. Djunaidi 19

18 Visi, Misi, dan Tujuan Universitas Ibn Khaldun Bogor dalam Inform

databese http://uika-bogor.ac.id, di unduh pada tanggal 17 November 2018

pukul 18.30 WIB.

19

Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor

Melintas Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas

Ibn Khaldun, 2011), h. 31.

Page 83: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

70

Untuk susunan Universitas Ibnu Chaldun Bogor (UIC)

dengan masa jabatan 1961-1969 ditetapkan sebagai berikut:

Rektor : Mr. Abdullah Siddik20

Pembantu Rektor I : Mr. BMH. Pinayungan.

Pembantu Rektor II : Moh. Nazir

Pembantu Rektor II : Drs. Ibin M. Syatibi

Dekan Fakultas Hukum : Mr. MBH. Pinayungan

Dekan Fakultas Ekonomi : Ahmad Sutoyo

Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan: Dra. Magdalena

Dekan Fakultas Hukum Islam : H. Munir Jakub

Dekan Fakultas Sosial Politik : Drs. Anwarsito

Dekan Fakultas Sastra : Tjie Eng Hoat, H.A21

Perlu di ketahui bahwa pada era rezim Soekarno KH.

Sholeh Iskandar pernah di penjara bersama rekan-rekannya di

Masyumi yaitu KH. Noer Ali juga beserta seniornya yaitu M.

20 Mr. Abdullah Siddik merupakan mantan Duta Besar Republik

Indonesia di Bangkok, Thailand. Lihat: M. Rais Ahmad dalam Budi

Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor Melintas Zaman

Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas Ibn Khaldun,

2011), h. 147.

21

Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor

Melintas Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas

Ibn Khaldun, 2011), h. 152.

Page 84: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

71

Natsir. 22

Baru setelah KH. Sholeh Iskandar bebas dari penjara

ia bergabung dengan Yayasan Ibnu Chaldun Bogor. Pada

kepengurusan periode kedua tahun 1967-1971, KH. Sholeh

Iskandar menjadi Ketua II, Ketua Umum YICB (Yayasan

Ibnu Chaldun Bogor) masih di ketuai oleh dr. Marzuki Mahdi.

Namun, kepengerusan dalam periode kedua ini dokter

Marzuki Mahdi tidak bertahan lama, sebab ia wafat pada

tahun 1968, sedangkan Ketua I yang awalnya oleh R.S.A

Kartadjumen di gantikan oleh Ir. Prijono Hardjosentono

merangkap pula sebagai Rektor Universitas Ibnu Chaldun

(UIC) Bogor, oleh sebab itu setelah kepergian dr. Marzuki

Mahdi, KH. Sholeh Iskandarlah yang di daulat untuk

memimpin Yayasan Ibnu Chaldun Bogor (YICB).23

Sejak tahun 1968 hingga wafat KH. Sholeh Iskandar

banyak terlibat dalam kepengurusan Yayasan Ibnu Chaldun

22 Di masa akhir pemerintahan Presiden Soekarno, KH. Sholeh

Iskandar dipenjara lebih dari tiga tahun (1962-1966), penyebabnya karena

dituduh kontra revolusi, sebuah tuduhan yang biasa diarahkan kepada

orang yang menentang kesewenang-wenangan pemerintah Orde Lama,

seperti para tokoh Partai Masyumi. KH. Sholeh Iskandar memang sempat

ditunjuk sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Serikat Tani Islam

Indonesia (1952-1970) dan anggota Pimpinan Pusat (PP) Masyumi (1959-

1960), namun dalam keterangan penulis ketika mewawancarai narasumber

H. Lukman Hakiem: bahwa KH. Sholeh Iskandar menolak menjadi

anggota Pimpinan Pusat Masyumi pada saat itu. Tak heran jika beliau

difitnah terlibat dalam komplotan yang berencana membunuh Presiden

Soekarno. Tuduhan ini dilontarkan oleh para pendukung Partai Komunis

Indonesia (PKI) yang waktu itu bersekutu erat dengan Presiden Soekarno.

Lihat: Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar

dan Batalyon O Siliwang (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. vii-ix.

23

Lukman Hakiem, Jejak Perjuangan Ulama-Patriot KH. Sholeh

Iskandar (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 60.

Page 85: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

72

Bogor (YICB), di masa kepemimpinannya yayasan kemudian

berubah nama menjadi Yayasan Pembina Universitas Ibn

Khaldun (YPUIKA) Bogor pada tahun 1974, dan mulai

berkedudukan tempat di Jl. R.E Martadinata Nomor 2-4

Bogor,24

kemudian berubah nama lagi menjadi Yayasan

Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor pada tahun 1987 hingga

saat ini. Meskipun ia menjabat sebagai ketua pengurus

yayasan selama dua periode dari sepeninggal dokter Marzuki

Mahdi tahun 1967 hingga tahun 198325

kemudian menjadi

Ketua Umum II Badan Pengurus pada 1968-1974, menjadi

Ketua Badan Pengurus pada 1974-1983, menjadi Ketua

Badan Pengawas dan Penasihat pada 1983-1985, menjadi

Ketua Badan Pembina pada 1986-1987, menjadi ketua Badan

Pembina pada 1988-1989, dan menjadi Ketua Badan Pembina

pada 1990-1995. Namun, karena ia wafat di tahun 1992,

posisinya sebagai Ketua Badan Pembina YPIKA Bogor

digantikan oleh KH. Tb. Hasan Basri.26

Bahwa di alenia

pertama di sebutkan KH. Sholeh Iskandar terus terlibat dalam

kepengurusan yayasan hingga akhir hayatnya itu benar, dilihat

betapa seringnya ia dipilih sebagai ketua kepengurusan dalam

24 Hasil wawancara Pribadi Penulis bersama salah satu pengurus

Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor Periode 2015-2020 yaitu

Bapak Zainal Muttaqin pada Kamis 18 Oktober 2018 pukul: 11.00 WIB di

Jl. R.E Martadinata, Pabaton, Kota Bogor Tengah.

25

Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor (2018), Inform

databese http://uika-bogor.ac.id, di unduh pada tanggal 21 Oktober 2018

pukul 19.00 WIB.

26

Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor

Melintas Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas

Ibn Khaldun, 2011), h. 31-36.

Page 86: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

73

Yayasan telah menjadi kepercayaan sendiri hingga di tahun ia

wafat masih memegang peranan sebagai pengurus.

Seperti di bawah ini susunan kepengurusan baik yayasan

maupun universitas:

Tabel 4.1

Periode Tahun 1974-1983

Jabatan Nama

Ketua KH. Sholeh Iskandar

Wakil Ketua I R.M Oentoro Koesmardjo

Wakil Ketua II M.E Kahfie

Sekretaris I Junus Dali, Bc, Hk

Sekretaris II Drs. Abdul Qoyyum

Sekretaris III Yasin Prawira

Anggota Abdul Chaer Shaleh, BA

Ali Audah

Hamim Penna

Drs. Syamsu Yusuf

R.H. Idid Junaedi

Sumber: Budi Susetyo (ed)

Tabel 4.2

Periode Tahun 1983-1985

Jabatan Nama

Badan Pengurus:

Ketua Ir. Prijono Hardjosentono

Wakil Ketua KH. TB. Hasan Basri

Sekretaris Junus Dali, Bc. Hk

Wakil Sekretaris M. Rais Ahmad, S.H

Bendahara Ir. Zain Rachman

Wakil Bendahara Drs. Mas Suryanata

Anggota Ir. R. Soenaryo Hardjodarsono

Page 87: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

74

Sumber: Budi Susetyo (ed)

Tabel 4.3

Periode Tahun 1985-1986

Jabatan Nama

Badan Pembina:

Ketua KH. Sholeh Iskandar

Anggota M.E Kahfie

R.M Oentoro Koesmardjo

Badan Pengurus:

Ketua KH. TB. Hasan Basri

Wakil Ketua -

Sekretaris Junus Dali Bc. HK

Wakil Sekretaris M. Rais Ahmad, S.H

Bendahara Ir. Zain Rahman

Wakil Bendahara Drs. Mas Surjanata

Anggota Ir. H. Sunarjo Hardjodarsono,

MSc

Drs. Chaeruddin A. Nawawi

Hardi M. Arifin

Drs. Sjamsu Yusuf

Sumber: Budi Susetyo (ed)

Dr. A.M Saefuddin

Hardi M. Arifin

Chaeruddin A. Nawawi, S.E

Drs. Syamsu Yusuf

Badan Pengawas

dan Penasehat:

Ketua KH. Sholeh Iskandar

Anggota M.E Kahfie R.M Oentoro Koesmardjo

Page 88: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

75

Tabel 4.4

Periode Tahun 1986-1987

Jabatan Nama

Badan Pembina:

Ketua KH. Sholeh Iskandar

Wakil Ketua KH. TB. Hasan Basri

Sekretaris Ali Audah

Anggota M.E Kahfie

Mr. H. Abdullah Siddik

Ir. R. Soenaryo Hardjodarsono

Hj. Siti Soedaryati Prijono

Hj. Dorom Harahap Hasan

Basyaryddin

HRM. Oentoro Koesmardjo

Drs. H. Yusuf Iskandar

Badan Pengurus:

Ketua Dr. Ir. H. A.M. Saefuddin

Wakil Ketua Junus Dali, Bc. Hk

Sekretaris A.A Leurima, S.E

Wakil Sekretaris H. Sofyan Suhendar, Lc

Bendahara Ir. Zain Rahman, MSc

Wakil Bendahara Drs. Mas Suryanata

Anggota Hardi M. Arifin

Drs. H. Syamsu Yusuf

Chaeruddin A. Nawawi, S.E

Drs. H. Ibin M. Syatibi

Takmir Masjid Al-Hijri:

Ketua/ Kiai Kampus Sunmanjaya Rukmandis Bc. Hk

Wakil Ketua M. Abbas Aula. Lc

Sekretaris M.S, Ka’ban, S.E

Sumber: Budi Susetyo (ed)

Page 89: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

76

Tabel 4.5

Periode Tahun 1988-1989

Jabatan Nama

Badan Pembina:

Ketua KH. Sholeh Isakndar

Wakil Ketua KH. Tb. Hasan Basri

Sekretaris R.M Oentoro Koesmardjo

Anggota KH. Dadun Abdul Kohar

Drs. KH. Yusuf Iskandar

Badan Pengurus:

Ketua Ir. Abubakar Burniat

Wakil Ketua I Junus Dali, Bc. Hk

Wakil Ketua II Drs. Syamsu Yusuf

Sekretaris Hardi M. Arifin

Wakil Sekretaris Sofyan Suhendar, Lc

Bendahara H. Wadi Masturi, SE

Wakil Bendahara A.A Leurima, SE

Anggota Ir. Zain Rahman

Drs. Ibin M. Syatibi

Kamaluddin Isakandar, Lc

Drs. Chaeruddin A. Nawawi

Takmir Masjid Al-Hijri:

Ketua/ Kiai Kampus Sunmanjaya Bc. Hk

Wakil Ketua M. Abbas Aula, Lc.

Sekretaris M.S Ka’ban, S.E

Lembaga Ulil Albab:

Ketua Prof. Dr. H. A.M. Saefuddin

Sumber: Budi Susetyo (ed)

Page 90: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

77

Tabel 4.6

Periode Tahun 1990 (Transisi)

Jabatan Nama

Badan Pembina:

Ketua KH. Sholeh Iskandar

Anggota M.E Kahfie

R.M Oentoro Koesmardjo

Badan Pengurus:

Ketua KH. Tb. Hasan Basri

Wakil Ketua I H. Junus Dali, Bc. Hk

Wakil Ketua II H. Chaeruddin A. Nawawi

Sekretaris Sofyan Suhendar, Lc.

Wakil Sekretaris Sunmanjaya Rukmandis

Bendahara H. Syamsu Yusuf, S.E

Wakil Bendahara H. A.A. Leurima, S.E

Anggota Drs. Ibin M. Syatibi

Hardi M. Arifin

Ir. Zain Rahman

H. Ir. Abubakar Burniat

H. Wadi Masturi, S.E

Sumber: Budi Susetyo (ed)

Tabel diatas merupakan kepengurusan yayasan pada

masa KH. Sholeh Iskandar masih hidup, namun di tahun

1990-an terjadi transisi kepengurusan, sehingga posisi ketua

di gantikan oleh KH. Tb. Hasan Basri sebagaimana telah di

jelaskan sebelumnya. Bahwa hingga akhir hayatnya KH.

Sholeh Iskandar tetap aktif sebagai pengurus yayasan.

Page 91: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

78

Tabel 4.7

Rektor Tahun 1970-1983

Jabatan Nama

Rektor Ir. H. Prijono Hardjosentoso

Pembantu Rektor I Prof. Dr. Ir. Affendi Anwar

Pembantu Rektor II Ali Audah

Pembantu Rektor III Dr. Pallawarukka

Sekretaris Junus Dali, Bc, Hk

Sumber: Budi Susetyo (ed)

Tabel 4.8

Rektor Tahun 1983-1985

Jabatan Nama

Rektor Dr. Ir. A.M Saefuddin

Pembantu Rektor I Ali Audah

Pembantu Rektor II Drs. M. Soerjanata

Pembantu Rektor III Junus Dali, Bc, Hk

Pembantu Rektor IV M. Rais Ahmad, S.H

Dewan Penyantun KH. Abdullah Bin Nuh

KH. Istichori

KH. Dadun Abdul Qohhar

Dr. Zakiah Daradjat

H. Palar

Drs. H. Mashud

Drs. Anton Timur Djaelani, M.A

Achmad Adnawijaya

Sumber: Budi Susetyo (ed)

Page 92: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

79

Tabel 4.9

Tahun 1985-1987

Jabatan Nama

Rektor M. Rais Ahmad, S.H

Pembantu Rektor I Ir. M.A. Mujahid

Pembantu Rektor II H. Wadi Masturi. S.E

Pembantu Rektor III Ir. Heru Supriyanto, MS

Sumber: Budi Susetyo (ed)

Tabel 4.10

Tahun 1987-1991

Jabatan Nama

Rektor Drs. Didin Hafidhuddin, MS

Pembantu Rektor I M. Rais Ahmad, S.H

Pembantu Rektor II KH. A. Karim Halim, M,A

Pembantu Rektor III Drs. Ruhenda

Pembantu Rektor IV Ir. M.A. Mudjahid

Sumber: Budi Susetyo (ed)27

D. Perkembangan Yayasan dan Universitas

Dilihat dari realita penulis ke lapangan pada saat ini,

menunjukkan perkembangan serta kemajuan Universitas Ibn

Khaldun semakin pesat karena mulai banyaknya gedung-

gedung baru di bangun untuk setiap fakultas. Ini menandakan

bahwa eksistensi kampus Islami seperti UIKA memang

dipercaya oleh masyarakat, apalagi para pendiri baik Yayasan

27 Sumber Tabel kepengurusan yayasan dan universitas dari:

Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor

Melintas Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor:

Universitas Ibn Khaldun, 2011), h.. 32-36 & 52-53.

Page 93: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

80

dan Universitas merupakan orang-orang hebat dan banyak

tokoh yang berpengaruh di masyarakat. Belum lagi jumlah

mahasiswa pertahunnya terus meningkat. Bisa dilihat model

grafik28

dibawah ini yang menandakan kelulusan mahasiswa

disetiap tahunnya meningkat:

Sumber: Data Humas UIKA Bogor

Data terakhir yang saya dapat di lapangan bahwa

perkembnagan mahasiswa Universitas Ibn Khladun Bogor

tahun 2017 peningkatannya yaitu 13,5 hampir mencapai 14%,

jadi untuk dibilang berkembang mahasiswa UIKA setiap

tahunnya berkembang,29

berarti kepercayaan masyarakat

terhadap kampus Islami ini semakin besar, juga didukung oleh

28 Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor

Melintas Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas

Ibn Khaldun, 2011), h. 55

29 Hasil wawancara pribadi penulis bersama Humas UIKA yaitu Adrin

Sefta B, S.T pada hari Kamis 23 November 2018, pukul 13.30 WIB di

gedung rektorat UIKA Bogor, Jl. Sholeh Iskandar, Kedung Badak, Kota

Bogor.

0

100

200

300

400

500

600

19

84

19

85

19

86

19

87

19

88

19

89

19

90

19

91

19

92

19

94

19

95

19

96

19

97

19

98

19

99

20

00

Lulusan

Lulusan

Page 94: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

81

kemajuan dan fasilitas kampus tentunya. Bahkan dikalangan

mahasiswanya, meskipun dibilang Universitas Islam swasta

tetapi untuk namanya sudah dikenal tidak hanya di wilayah

Bogor saja, mahasiswanya pun banyak dari luar kota bahkan

menurut keterangan sampai luar negeri tepatnya negara-

negara Asia Tenggara. Ini tandanya kemajuan kampus yang

didirikan oleh KH. Sholeh Iskandar dkk berkembang dan

maju sesuai dengan prinsipnya.

Ketika masa transisi bisa dilhat tabel di atas struktur

organisasi tahun 1990-an di mana terakhir KH. Sholeh

Iskandar menjabat sebagai ketua pembina, namun

keikutsertaannya mengurus yayasan beserta mengembangkan

kampus masih beliau lakukan hingga akhir hayatnya.

Berawal dari rektor Dr. Ir. A.M Saefuddin yang

mencanangkan gagasan Islamisasi Sains dan Kampus dengan

motto: Iman, Ilmu, dan Amal.30

Memantapkan peran UIKA

dengan gagasan Islamisasi Sains dan Kampus dimaksudkan

agar mahasiswa dapat mengaitkan antara ilmu pengetahuan

dan ilmu agama Islam, atau dikatakan pula penggabungan

antara Fakultas Fikir dengan Zikir atau mengaitkan ayat-ayat

Kauniah dengan ayat-ayat Tanziliyah. Salah satu contoh

dalam Islamisasi Sains dan Kampus yang menjadi tujuan

30 “Majalah Suara Ulama”, Dari Ummatan Wahidah Menuju Khairu

Ummah: Bangkitnya Peradaban Islam dengan Islamisasi Sains dan

Kampus, Edisi 2, (2016). 56.

Page 95: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

82

kampus UIKA yaitu dari beberapa mata kuliah seperti

Biologi, Fisika, Pancasila dan lainnya sudah di Islamisasi di

kampus yang memiliki motto Iman, Ilmu dan Amal itu untuk

menopang program tersebut, seluruh dosen, karyawan, dan

mahasiswa laki-laki UIKA harus shalat berjama’ah di masjid.

Lalu wanita muslimahnya memakai hijab yang baik, itu

semua sebagai dasar kekuatan ruhiyah dan semangat

menjalankan Islam.31

Islamisasi imu pengetahuan (sains) pada dasarnya

adalah menjadikan imu pengetahuan (sains) tidak netral atau

bebas nilai, bertujuan yang sama, berpegang kepada prinsip

metafisik, ontologi, epistimologi dan aksiologi Islam yang

berdasarkan kepada konsep Tauhid. Islamisasi ilmu

pengetahuan (sains) mutlak diperlukan, karena selain untuk

mengejar ketertinggalan umat Islam, juga sebagai jawaban

terhadap kritik terhadap ilmu pengetahuan modern yang

selama ini telah bebas nilai dan terlepas dari akar

transendental. Selain dengan program Islamisasi, untuk

menghadapi masa depan ada beberapa hal yang perlu

disiapkan UIKA dalam menatapkan kesatuan Iman, Ilmu, dan

Amal diantaranya pengetahuan jati diri dan pemantapan

kurikulum.

31 Dr. H. E. Bahruddin, M.Ag selaku Rektor UIKA Bogor dalam

wawancaranya bersama “Majalah Suara Ulama”, Dari Ummatan Wahidah

Menuju Khairu Ummah: Bangkitnya Peradaban Islam dengan Islamisasi

Sains dan Kampus, Edisi 2, (2016). 57.

Page 96: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

83

Untuk alumni sendiri, banyak lulusan UIKA yang

menjadi tokoh yang berpengaruh di masyarakat, sebagai

contoh misalkan salah satu alumni UIKA dari Fakultas

Hukum ada yang terpilih menjadi Bupati Kabupaten Bogor,

sebagai lingkup kecilnya dan akan dilantik. Lulusan lainnya

seperti di wilayah kota juga ada sekretaris daerah yang lulusan

UIKA. Di lingkup nasional pun banyak, karena

kecenderungan kampus UIKA merupakan kampus aktivis jadi

para lulusan kebanyakan bergeraknya dibidang aktivis,

lembaga sosial seperti yang dikenalnya M.S Ka’ban, yang

menjadi menteri dan banyak lainnya lulusan UIKA yang

bergelut di partai politik. 32

Selain tokoh politik, Ulamanya sendiri lulusan UIKA

sebenarnya banyak, terutama dari lulusan Fakultas Agama

Islam (FAI) sendiri. Terutama lulusan pesantren Ulil Albaab

yang merupakan pesantren mahasiswa. Dulu menjadi ikon

kampus karena satu-satunya kampus Islam yang memiliki

pondok pesantrennya di Indonesia yaitu UIKA, dan menjadi

pesantren rujukan bahkan mahasiswa luar kampus pun banyak

mondok di sini. Yang menariknya lulusan pesantren itu

memiliki afiliasi yang beragam, contoh yang kontroversi yaitu

juru bicaranya HTI selain itu adapula lulusan yang ke

Muhammadiyah, NU jadi beragam, pemikirannya beragam

32 Hasil wawancara pribadi penulis bersama Humas UIKA yaitu

Adrin Sefta B, S.T pada hari Kamis 23 November 2018, pukul 13.30 WIB

di gedung rektorat UIKA Bogor, Jl. KH. Sholeh Iskandar, Kedung Badak,

Kota Bogor.

Page 97: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

84

tidak di patok dalam satu bidang saja. Jadi unsur yang harus

ada dalam lingkup universitas itu kampus, masjid, dan

pesantren. Selain ada pondok pesantren, masjid, dan kampus

walaupun itu ada dalam satu lingkungan tetapi memiliki

pemimpin-pemimpin sendiri.33

Ini wujud sebagai pencapaian

sebuah kampus Islam dengan tiga elemen dalam lingkungan

kampusnya menjadikan tujuan Islamisasi Sains dan Kampus

sebagai cita-cita di masa depan mulai tercapai.

Kesimpulannya bahwa UIKA dilahirkan oleh para

ulama dan cendekiawan yang berimtaq dan beriptek serta

visioner, UIKA dalam kegiatan akademiknya berusaha

melahirkan ulama dan cendekiawan yang mewarisi nilai-nilai

luhur para pendahulunya, UIKA senantiasa berpihak dan

berorientasi pada ummat Islam, perjalanan UIKA kedepan

tetap mengutamakan keseimbangan kekuatan imtaq dan

iptek.

Keikhlasan berjuang, banyak memberi dan sedikit

meminta serta menghindarkan diri dari keterikatan pada

materi adalah watak yang menonjol dari pribadi pendahulu

UIKA yang telah mewariskan UIKA sampai hari ini. pewaris

kedepan diharapkan tetap teguh mempertahankan karakter

33 Hasil wawancara pribadi penulis bersama Humas UIKA yaitu Adrin

Sefta B, S.T pada hari Kamis 23 November 2018, pukul 13.30 WIB di

gedung rektorat UIKA Bogor, Jl. KH. Sholeh Iskandar, Kedung Badak,

Kota Bogor.

Page 98: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

85

yang kuat seperti ini dengan tetap mengutamakan landasan

Iman, Ilmu, dan Amal.34

34 Didin Hafidhuddin dalam wawancara bersama “Majalah Suara

Ulama”, Dari Ummatan Wahidah Menuju Khairu Ummah: Bangkitnya

Peradaban Islam dengan Islamisasi Sains dan Kampus, Edisi 2, (2016). 57.

Page 99: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

86

Page 100: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

87

BAB V

PENGARUH DAN DAMPAK KEGIATAN

KH.SHOLEH ISKANDAR TERHADAP

MASYARAKAT BOGOR

Dalam bab lima ini, penulis akan memaparkan isi

sesuai dengan pertanyaan dalam rumusan masalah bagaimana

pengaruh dan dampak kegiatan KH. Sholeh Iskandar terhadap

masyarakat Bogor? sosoknya amat di hormati sehingga

begitupun namanya diabadikan menjadi sebuah nama Jalan

KH. Sholeh Iskandar.

Tentu saja jawaban dari saya sebagai penulis adalah

ditinjau dari pemaparan dalam bab-bab sebelumnya baik bab

tiga dan bab empat, bahwa KH. Sholeh Iskandar adalah ulama

yang gigih dan bijaksana, sedikit berbicara tapi banyak

berbuat itulah kesimpulan yang saya jadikan sebagai jawaban.

Dan nyatanya bisa dilihat dari berbagai peninggalan

kontribusi yang KH. Sholeh Iskandar dirikan terhadap

masyarakat Bogor sekarang, meskipun sosoknya sudah tiada,

tetapi kontribusinya tetap berdiri tegak seperti salah satunya

yang menjadi contoh yaitu yayasan dan Universitas Ibn

Khaldun Bogor. Merupakan salah satu cita-citanya dalam

memajukan pendidikan Islam di Bogor, sebagai kota yang

menjadi tempat ia lahir, belajar, tumbuh, berjuang,

memajukan segala bidang khususnya dalam Pendidikan Islam

Page 101: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

88

hingga ia wafat pun Bogor menjadi saksi bahwa dulu ada

seorang pejuang dan ulama asli kelahiran Bogor yang

memajukan wilayahnya dalam banyak aspek bidang dengan

terus memikirkan masyarakatnya khususnya umat Islam.

Berawal menjadi seorang pejung di wilayah Bogor Barat

hingga menjadi seorang ulama yang banyak membangun

lembaga pendidikan Islam di Bogor. Maka dari itu penulis

lebih memfokuskan wilayah sesuai dengan kajian penulis.

Seperti mendirikan Universitas Ibn Khaldun Bogor yang

langsung dinaungi oleh Yayasan Pendidikan Islam Ibn

Khaldun Bogor memiliki lokasi yang berbeda namun sama-

sama masih di Kota Bogor, sebagaimana akan lebih dijelaskan

bagaimana geografis dan keadaan masyarakat Bogor di bawah

ini:

A. Kondisi Masyarakat Bogor

1. Letak Geografis

Secara geografis Kota Bogor terletak di antara 106’

48’ BT dan 6’ 26’ LS, kedudukan geografis Kota Bogor di

tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya

sangat dekat dengan Ibukota Negara, merupakan potensi yang

sangat strategis bagi perkembangan dan pertumbuhan

Page 102: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

89

ekonomi dan jasa, pusat kegiatan nasional untuk industri,

perdagangan, transfortasi, komunikasi, dan pariwisata.1

Wilayah Kota Bogor memiliki rata-rata ketinggian

minimum 190 m dan maksimum 330 m dari permukaan laut.

Sedangkan kondisi iklim di Kota Bogor suhu rata-rata tiap

bulan 26’ C dengan suhu terendah 21,8’ C dengan suhu

tertinggi 30,4’ C. Kelembaban udara 70%, curah hujan rata-

rata setiap tahun sekitar 3.500-4000 mm dengan curah hujan

terbesar pada bulan Desember hingga Februari.2

Luas wilayah Kota Bogor sendiri sebesar 11.850 Ha

terdiri dari 6 kecamatan dan 68 kelurahan. Kemudian secara

administratif Kota Bogor terdiri dari 6 wilayah kecamatan, 31

kelurahan dan 37 desa (lima diantaranya termasuk desa

tertinggal yaitu desa Pamoyanan, Genteng, Balungbangjaya,

Mekarwangi dan Sindangsara), 210 dusun, 623 RW, 2.712 RT

dan dikelilingi oleh Wilayah Kabupaten Bogor yaitu sebagai

berikut: di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan

Kemang, Bojong Gede, dan Kecamatan Sukaraja Kabupaten

Bogor. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan

Sukaraja dan Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Sebelah

Barat berbatasan dengan Kecamatan Darmaga dan Kecamatan

1 ---------------, Sekilas Kota Bogor, Website Resmi Pemerintahan Kota

Bogor, 2016, Inform databese http://kotabogor.go.id , di unduh pada

tanggal 30 Oktober 2018 pukul 15.00 WIB.

2 ---------------, Kecamatan Tanah Sareal Dalam Angka, Kota Bogor:

Badan Pusat Statistik Kota Bogor, 2018, h. 10.

Page 103: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

90

Ciomas, Kabupaten Bogor. Sebelah Selatan berbatasan

dengan Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin,

Kabupaten Bogor.3

Untuk jumlah penduduk sendiri, menurut data terakhir

di tahun 2017 penduduk Kota Bogor diperkirakan sebanyak

1.081.009 jiwa, terdiri atas laki-laki sebanyak 548.196 jiwa

dan perempuan sebanyak 532.813 jiwa sehingga angka

populasi di Kota Bogor sebesar 102,89 yang artinya terdapat

103 penduduk laki-laki dalam setiap 100 penduduk

perempuan. Seluruh kecamatan memiliki populasi lebih dari

100 jumlah penduduk laki-laki masih lebih mendominasi.4

2. Sistem Pemerintahan

Bogor merupakan wilayah yang terletak diantara

Gunung Salak dan Gunung Pangrango dan memiliki iklim

dengan curah hujan tinggi sekitar 70%, sehingga dijuluki

“Kota Hujan”. Dahulu Kota Bogor menjadi salah satu kota

penting bagi pertanian yang dikembangkan oleh pemerintahan

Belanda di Indonesia. Memiliki sistem pemerintahan Otonom

Gemeente.5 Gemeente ini dipimpin seorang Burgemeenter

3 -------------, Kota Bogor Dalam Angka, Kota Bogor: Badan Pusat

Statistik Kota Bogor, 2018, h. 4.

4 -------------, Kota Bogor Dalam Angka, Kota Bogor: Badan Pusat

Statistik Kota Bogor, 2018, h. 6.

5 ---------------, Sekilas Kota Bogor, Website Resmi Pemerintahan Kota

Bogor, 2016, Inform databese http://kotabogor.go.id , di unduh pada

tanggal 30 Oktober 2018 pukul 15.00 WIB.

Page 104: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

91

dan corak pemerintahan ini berlangsung sampai dengan masa

pemerintahan Jepang. Reformasi istilah-istilah mulai di

bidang pemerintahan mulai dilakukan. Istilah Si (Gemeente),

Sya (keresidenan), Ken (kabupaten), Gun (kewedanaan), Son

(kecamatan), dan Ku (desa/kelurahan).6 Di masa ini pula

perubahan nama Buitenzorg diganti menjadi Bogor. Di masa

kemerdekaan sistem pemerintahannya masih menggunakan

sistem sebelumnya. Namun Bogor dikuasai kembali oleh

Belanda sehingga diangkatlah Burgemeenter yaitu JJ. Penoch

(1948-1950). Setelah itu barulah status menjadi Kota Praja di

pimpin R. Djoekardi selama dua tahun dan statusnya dirubah

lagi menjadi Kota Besar dan kemudian menjadi Kota Madya

dipimpin oleh Kartadjumena (1952-1956), Pramono

Notosudiro (1956-1959), Abdul Rachman (1960-1961) dan

Ahmad Adnawijaya (1961-1965). Masa Orde Baru dipimpin

oleh Ahmad Syam (1965-1979), Ahmad Sobana (1979-1984),

Ir. Muhammad (1984-1989), Suratman (1989-1994), Edi

Gunardi (1994-1999), Iswana Natanegara (1999-2004), Diani

Budiarto (2004-200..).7

6 Penyebutan pemimpin masing-masing satuan pemerintahan ini

dilakukan dengan menambahkan Co saja. Misalkan Syuco untuk menyebut

residen, Kenco untuk bupati dan sebagainya. Lihat: Susanto Zuhdi, Bogor

Zaman Jepang 1942-1945, (Depok: Komunitas Bambu, 2017), h. 125-131.

7 --------------, Bogor Zaman Pra-Kolonial, Kolonial, sampai dengan

Pasca Kemerdekaan, (Kantor Arsip dan dan Perpustakaan Kabupaten

Bogor, 2014). h. 30.

Page 105: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

92

3. Keadaan Sosial

Sejak zaman kolonial sampai saat ini, masyarakat

Kota Bogor telah mengalami perkembangan yang cukup

signifikan. Hal ini tentu saja membawa pengaruh, khususnya

di dalam kehidupan kemasyarakatan. Namun, harus dipahami

bahwa Kota Bogor terletak di perbatasan antara Provinsi Jawa

Barat dan DKI Jakarta. Hal ini menyebabkan pengaruh

terhadap kehidupan masyarakatnya, selain bidang lain salah

satunya dalam sosial budaya masyarakatnya.

Perkembangannya, masyarakat Kota Bogor memiliki

kehidupan yang sangat beragam, namun secara umum dapat

dilihat dua corak utama kehidupan masyarakat Kota Bogor

yang dapat dikelompokkan sebagai masyarakat tradisional

yang masih menggantungkan hidupnnya dari pertanian dan

biasanya berdomisili di wilayah pedalaman Kota Bogor serta

masih kuat dalam menjalankan budayanya. Sedangkan

masyarakat pendatang yang di klasifikasikan sebagai

masyarakat modern bertempat tinggal di pusat Kota Bogor.

Mereka biasanya mengkonsentrasikan bidang pekerjaannya di

institusi pemerintahan dan swasta, baik sebagai pegawai,

pedagang, penyedia jasa dan sebagainya. Sedangkan dalam

bidang sosial kebudayaan mereka terseret oleh budaya

modern kota sehingga budaya lokal yang mereka bawa

semakin terkikis.

Page 106: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

93

Pendidikan

Pasca kemerdekaan Indonesia, keadaan pendidikan di

Indonesia perlu di benahi, begitu pula di setiap daerah tak

terkecuali di wilayah Bogor. Apalagi pada masa akhir era

pemerintahan Jepang di Bogor, dalam bidang pendidikan dan

pengajaran tidak ada kemajuan sama sekali.8 Belum lagi

setelahnya era masa revolusi, dimana pemerintah dan rakyat

masih bergelut memerangi musuh dan salah satunya KH.

Sholeh Iskandar juga ikut serta dalam masa revolusi fisik

hingga tahun 1950-an. Jadi belum ada yang memperhatikan

pembangunan pendidikan, terutama dalam Pendidikan Islam

sampai sepuluh tahun kemudian di tahun 1960 sosok yang

tadinya selalu mengangkat senjata berubah menjadi seseorang

yang berjuang dalam masyarakat. Memikirkan kemajuan umat

Islam di wilayah Bogor, mulai dari mendirikan pesantren

hingga lembaga yang tertinggi mendirikan universitas.

Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan

masyarakat dalam pendidikan semakin tinggi, ini dilihat dari

semakin sadarnya masyarakat akan pendidikan tinggi.

Terlebih tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang

berkualitas merupakan salah satu faktor utama keberhasilan

pembangunan di suatu daerah. Peningkatan SDM sekarang ini

lebih di fokuskan pada pemberian kesempatan seluas-luasnya

8 Susanto Zuhdi, Bogor Zaman Jepang 1942-1945, (Depok: Komunitas

Bambu, 2017), h. 138.

Page 107: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

94

kepada penduduk untuk mengecap pendidikan. Oleh sebab

itu pemerintah berusaha secara konsisten berupaya

meningkatkan SDM penduduk melalui jalur pendidikan. Pada

tahun 2017, APM dan APK Kota Bogor untuk tingkat SD

sebesar 95, 44 dan 107,76, untuk tingkat SMP sebesar 74, 75

dan 86,82, dan untuk SMA sebesar 61, 21 dan 87, 79.9

Keagamaan

Di Indonesia masyarakatnya mayoritas beragama

Islam, otomatis di setiap kota masyarakatnya rata-rata

memeluk agama Islam. Tak terkecuali di kota hujan Bogor,

bisa dilihat dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Bogor yang

sangat religius, mulai dari tata kehidupan pribadi mereka

sampai tata cara bermasyarakat, dalam kegiatan keagamaan.

Kehidupan beragama di tengah masyarakat sangat penting

karena agama merupakan salah satu unsur dalam mencapai

keadaan masyarakat yang aman, tentram dan juga nyaman

dalam membina masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan beragama yang diatur dalam UUD 1945 Pasal 29

dan Sila Pertama Falsafah Negara, yaitu kehidupan beragama

dikembangkan dan diarahkan untuk peningkatan akhlak demi

9 -------------, Kota Bogor Dalam Angka, Kota Bogor: Badan Pusat

Statistik Kota Bogor, 2018, h. 105.

Page 108: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

95

kepentingan bersama untuk membangun masyarakat adil dan

makmur.10

Mayoritas masyarakat Bogor penduduknya beragama

Islam dan beraqidah Asy’ariyah wal maturidiyah yaitu aqidah

yang dikenal dengan sebutan Ahlusunnah Wal-jama’ah, yang

bermazhab Syafi’i karena lebih cocok dengan adat istiadat

dan kultur masyarakat Indonesia sendiri.11

Untuk penganut

agama Islam di Kota Bogor pada tahun 2016 sebanyak

994.616 orang atau sekitar 93,24 %. Sementara itu, haji yang

diberangkatkan dari Kota Bogor pada tahun 2016 sebanyak

681 orang.12

Jumlah penganut agama lainnya di Kota Bogor

sebagai salah satu kota dengan berbagai keragaman yaitu

penganut Katolik 21.585, Kristen 38. 761, Hindu 1.063,

Buddha 8.220, Konghucu 349, dan lainnya 93 jumlah semua

penganut agama di Kota Bogor yaitu 1.064.687.13

Kerukunan

umat beragama di upayakan agar senantiasa terbina dengan

baik demi terlaksananya pembanguan dan kokohnya

persatuan dan kesatuan bangsa, dibantu oleh pemimpin yang

melakukan kebijakan-kebijakan tersebut. Hal ini merupakan

10 -------------, Kota Bogor Dalam Angka, Kota Bogor: Badan Pusat

Statistik Kota Bogor, 2018, h. 107.

11

Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-Kota

Muslim di Indonesia, (Jakarta: Menara Kudus, 2000), h.1-2.

12

-------------, Kota Bogor Dalam Angka, Kota Bogor: Badan Pusat

Statistik Kota Bogor, 2018, h. 107.

13

-------------, Kota Bogor Dalam Angka, Kota Bogor: Badan Pusat

Statistik Kota Bogor, 2018, h. 144.

Page 109: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

96

salah satu usaha yang membentengi diri terhadap dampak

negatif atas modernisasi dan globalisasi.

Salah satu pertahanan masyarakat terhadap keagamaan

selain sosialisasi dan tradisi keislaman dalam masyarakat juga

mendidik keturunan yang menjadi penerus masa depan

dengan menanamkan pendidikan Islam sedari kecil, hingga

menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Islam dari dasar

hingga ke perguruan tinggi, sebagian masyarakat

melakukannya agar keislaman keturunan mereka semakin

kuat untuk membangun umat di masa depan, khususnya

masyarakat Islam.

Ini di wujudkan oleh salah satu tokoh asli kelahiran

Bogor yaitu KH. Sholeh Iskandar. Beliau mendirikan

Universitas Islam yang menjadikan lembaga pendidikan Islam

yang di percaya oleh masyarakat Bogor sekarang ini sebagai

universitas Islam terbaik di wilayah Bogor. Karena lembaga

pendidikan tinggi yang berbasis Islam di wilayah Bogor

sendiri tidak banyak, dan bisa terhitung.14

KH. Sholeh

Iskandar menciptakan atau membangun sesuatu berbasis

syari’ah Islam bagi masyarakatnya.

14 Yayasan Pendidikan Islam Ibnu Khaldun Bogor (2018), Inform

databese http://uika-bogor.ac.id, di unduh pada tanggal 04 November

2018 pukul 19.20 WIB.

Page 110: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

97

B. Peran dan Pengaruh KH. Sholeh Iskandar pada

Masyarakat Bogor

Seperti yang telah di jelaskan di bab tiga bahwa sosok

KH. Sholeh Iskandar merupakan tokoh yang penting dalam

masyarakat khususnya masyarakat Bogor, namanya begitu

dikenal di berbagai kalangan. Di mana perannya sebagai

pemimpin pasukan ketika di masa perjuangan berhasil

menjadi salah satu kapten yang di segani oleh Belanda. Begitu

pula ia praktekan kembali dalam memimpin dan

menggerakkan masyarakat, seperti:

1. Dalam Bidang Dakwah

Tujuan dakwah seseorang tidak lain adalah untuk

menjadikan orang yang jauh dari Allah SWT menjadi dekat

dengan Allah SWT, orang bermaksiat berubah menjadi orang

yang taat kepada Allah SWT. Pada dasarnya mengajak itu

tidaklah mudah, apalagi kepada masyarakat yang jumlahnya

tidak hanya satu orang tetapi banyak, karena mengajak itu

untuk menyadarkan, mengarahkan dan membimbing manusia

agar berbuat sesuai dengan tuntunan ajaran Islam tanpa

adanya paksaan.

Bentuk dakwah yang merupakan suatu aktivitas

mengajak kepada orang lain dalam bentuk lisan, tulisan,

maupun tingkah laku untuk mengamalkan ajaran Islam, yang

dilakukan secara sadar dengan berbagai metode sebagai upaya

Page 111: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

98

mengubah manusia, baik individu maupun masyarakat dari

kondisi yang tidak baik kepada yang lebih baik, sehingga

dapat meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.15

Akan tetapi dakwah sendiri memang ditujukkan kepada

manusia, sementara manusia bukan hanya telinga dan mata

tetapi makhluk yang berjiwa, yang berfikir dan merasa, yang

bisa menerima dan bisa menolak sesuai dengan persepsinya

terhadap dakwah yang diterima.16

Karena sebagai peristiwa

komunikasi, aktivitas dakwah dapat menimbulkan berbagai

peristiwa yang harmoni, yang menegangkan, yang

kontroversial, bisa juga melahirkan berbagai pemikiran, baik

pemikiran yang moderat maupun yang ekstrem, dari yang

sederhana sampai yang rumit, tergantung bagaimana

seseorang menyampaikannya.

Setiap ulama punya ciri khas tersendiri dalam

berdakwah, begitu pula KH. Sholeh Iskandar merupakan guru

yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, dan juga

menggerakkan pula masyarakat. Menurut penuturan H.

Lukman Hakiem bahwasanya KH. Sholeh Iskandar itu banyak

membangun dan salah satunya membangun Yayasan

Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor. Oleh ia di bangun, tapi

tidak dikuasai sendiri baik keturunan anak-anaknya tapi

dikembalikan lagi kepada masyarakat dan juga rekan-rekan

15 Rubiyanah dan Ade Masturi, Pengantar Ilmu Dakwah, (Ciputat:

Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010), h. 3.

16

Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, cet ke-2

(Jakarta: Kencana, 2015), h. vii.

Page 112: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

99

seperjuangannya. Karena KH. Sholeh Iskandar lebih kepada

seorang inisiator pemerkarsa.17

Ia adalah seorang yang

membuka jalan bagi masyarakatnya, menjadikan sosoknya di

depan dan menjadi teladan.

Di lihat dari kontribusinya, bisa dikategorikan bahwa

dakwah yang dilakukan oleh KH. Sholeh Iskandar termasuk

dakwah bil al-Hal (keadaan), menunjukkan realitas yang

terwujud dalam perbuatan nyata. Bisa diartikan pula

mengajak atau menyeru ke jalan Allah untuk kebahagiaan

dunia dan akhirat melalui perbuatan nyata yang sesuai dengan

keadaan manusia. Bisa pula dengan arti lain yaitu dakwah

dengan perbuatan nyata dengan lebih mengarah kepada

tindakan atau aksi menggerakkan obyek dakwah (mad’u),

sehingga dakwah tersebut lebih berorientasi pada

pengembangan masyarakat.18

Sebagai upaya untuk

memberikan solusi Islam terhadap berbagai masalah dalam

kehidupan yang mencakup seluruh aspek misalnya ekonomi,

sosial, budaya, hukum, politik, sains dan juga pendidikan.

Persis yang dilakukan KH. Sholeh Iskandar, membangun

memang yang belum ada di mayarakat seperti universitas

menjadi salah satu kebutuhan sebagai lembaga pendidikan

17 Hasil wawancara pribadi penulis bersama salah satu narasumber

Bapak H. Lukman Hakiem (selaku murid KH. Sholeh Iskandar dan penulis

buku jejak perjuangan ulama-patriot KH. Sholeh Iskandar) pada Senin, 03

September 2018 pukul 14.00 WIB di kediamannya Desa Benda,

Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

18

Rubiyanah dan Ade Masturi, Pengantar Ilmu Dakwah, (Ciputat:

Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010), h. 60.

Page 113: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

100

tinggi bagi masyarakat, dan terbukti hingga saat ini

Universitas Ibn Khaldun menjadi salah satu Universitas Islam

yang dipercaya oleh masyarakat Bogor.19

Oleh sebab itu,

dakwah harus tampil secara aktual, faktual, dan kontekstual.

Aktual dalam arti memecahkan masalah kekinian dan hangat

di tengah masyarakat. Faktual berarti kongkrit dan nyata,

sedangkan konstektual yaitu relevan menyangkut problem

yang sedang dihadapi masyarakat.20

Terbukti apa yang di bangun oleh KH. Sholeh

Iskandar mewakili apa yang menjadi keinginan masyarakat

Islam, sesuai dengan apa yang di dakwahkan dan kesemuanya

berbasis Islam. Lahir dari buah-buah pemikirannya yang

strategis dan visioner. KH. Sholeh Iskandar telah berhasil

meletakkan dasar-dasar pembangun Universitas Ibn Khaldun

dan lembaga-lembaga lainnya yakni merupakan lembaga

yang strategis dan relevan dalam membangun kehidupan

sosial dan pendidikan bagi umat. Dalam kehidupan sehari-hari

ia adalah seorang yang memiliki multi dimensi pandangan.

Sulit untuk mengatakan apakah KH. Sholeh Iskandar kental

kehidupannya sebagai seorang kyai, aktivis pergerakkan,

politikus, tokoh pembangunan dan sebagai seorang intelektual

19 Hasil wawancara pribadi penulis bersama salah satu narasumber

Bapak H. Lukman Hakiem (selaku murid KH. Sholeh Iskandar dan penulis

buku jejak perjuangan ulama-patriot KH. Sholeh Iskandar) pada Senin, 03

September 2018 pukul 14.00 WIB di kediamannya Desa Benda,

Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

20

Rubiyanah dan Ade Masturi, Pengantar Ilmu Dakwah, (Ciputat:

Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010), h. 60.

Page 114: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

101

yang tidak mengalami proses pendidikan tinggi. Kehidupan

sehari-harinya sederhana sedikit berbicara banyak berbuat,

tidak membeda-bedakan seseorang dan sangat intens

bersilaturahmi. Ia sangat konsern terhadap kaum dhuafa wal

masakin serta kehidupan petani di daerah pedesaan. Ia

istiqomah sehingga tidak ada kompromi dalam menjalankan

tugas amar ma’ruf nahi munkar sehingga sangat

diperhitungkan oleh pihak penguasa di saat itu. Seorang

pejuang di bidang pembangunan dengan bukti-bukti nyata

sampai saat ini seperti berkembang dan majunya Universitas

Ibn Khaldun. Dan seorang ulama, tokoh masyarakat yang

dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat Bogor dan nasional.21

2. Tokoh Pendidikan Islam

Pengalaman KH. Sholeh Iskandar pada saat muda,

mengenyam pendidikan pesantren sebagai salah satu santri

Pondok Pesantren Cantayan Sukabumi dan beberapa pondok

pesantren lainnya di Jawa Barat, telah memberikan pengaruh

besar kepada diri KH. Sholeh Iskandar. Terutama

perhatiannya lebih tinggi kepada dunia pesantren dan

pendidikan Islam. Bahwa menurutnya, pondok pesantren

bukanlah semata-mata lembaga ta’lim yang mengajarkan

21 Abdul Aziz Darwis (selaku rekan seperjuangan KH. Sholeh Iskandar,

juga pernah memimpin Pondok Pesantren Pertanian Darul Fallah) dalam

wawancara: Sumardi, “Majalah Suara Ulama”. Biografi: KH. Sholeh

Iskandar (alm) Sang Panglima Militer yang Berbelot menjadi Pendakwah

Ulung, Edisi 4, (2017): h. 22.

Page 115: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

102

pengetahuan keislaman kepada para santri, akan tetapi

lembaga dakwah, lembaga perjuangan, dan lembaga kader

yang melahirkan mujahid-mujahid dakwah yang bersedia

membimbing umat, menyuruh kepada yang makruf,

mencegah dari yang munkar, dan membebaskan mereka dari

belenggu kemusyrikan, kekufuran, kemunafikan, kebodohan

dan kemiskinan.22

Menurutnya bahwa pondok pesantren diharapkan lahir

kader-kader pembangunan masyarakat yang bukan sekedar

memiliki pengetahuan dan teori, kemudian duduk di belakang

meja, tetapi yang sanggup dan mau terjun langsung ke tengah-

tengah kehidupan masyarakat. Ini bisa dikenal sebagai konsep

kaderisasi ulama yang di cetuskan oleh KH. Sholeh Iskandar

yang terkenal dikalangan ulama Badan Kerja Sama Pondok

Pesantren (BKSPP).23

Konsep ini dikembangkan menjadi

enam konsep pokok yaitu, 1. Tujuan, 2. Kriteria, 3. Proses, 4.

Kompetensi, 5. Kurikulum dan 6. Pembiayaan Pendidikan.24

22 Didin Hafidhuddin dalam Lukman Hakiem, “Perjuangan Ulama-

Patriot KH. Sholeh Iskandar”, (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 281-282.

23

BKSPP Jawa Barat yaitu Badan Kerja Sama Pondok Pesantren atau

sekarang berubah menjadi BKSPPI Badan Kerja Sama Pondok Pesantren

Indonesia, nama KH. Sholeh Iskandar tidak bisa dipisahkan dari BKSPP

dari semenjak berdiri hingga beliau wafat karena merupakan salah satu

penggagas pendiri dan di daulat sebagai Ketua Badan Pelaksana Majelis

Pimpinan mendapingi KH. Noer Ali sebagai Ketua Umum Majelis

Pimpinan. Lihat: Lukman Hakiem, Perjuangan Ulama-Patriot KH. Sholeh

Iskandar, (Bogor: UIKA Press, 2017), h. 93.

24

Untuk lebih jelasnya mengenai Kaderisasi Ulama yang di cetuskann

oleh KH. Sholeh Iskandar silahkan lihat: Halimi Abdusyukur, Konsep

Kaderisasi Ulama Kiai Haji Sholeh Iskandar, (Disertasi Mahasiswa

Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Bogor, 2011), h. 125.

Page 116: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

103

Dengan konsep ini menurutnya akan banyak lahir kader-kader

ulama yang tangguh dan biasanya kembali atau banyak di

tugaskan di pelosok-pelosok daerah desa yang dimana

tantangannya lebih besar.

Sebagai pencetus pengkaderan ulama, KH. Sholeh

Iskandar mengategorikan bahwa ulama pemimpin pondok

pesantren dilahirkan dari Lembaga Pendidikan Islam Pondok

Pesantren, sedangkan ulama pelayan masyarakat dilahirkan

dari Lembaga Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah terus ke

jenjang berikutnya hingga ke perguruan tinggi yang

kesemuanya berdasar pada sekolah Islam.25

Inilah yang

menjadi latar belakang cita-cita besarnya, selain melahirkan

ulama penerus bagi masyarakat juga mendirikan lembaga

pendidikan yang menjadi tempat proses calon ulama itu

dilahirkan.

Di setiap kesempatan berbicara, ia sering merujuk

kepada firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat At-

Taubah ayat 122 yang artinya:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu

pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari

tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk

memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk

25 Sholeh Iskandar, Pokok-Pokok Pikiran Mengenai Masalah

Pengkaderan Ulama, (Bogor: Kelompok Kepesantrenan Pimpinan BKSPP

Jawa Barat, 1974), h. 10.

Page 117: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

104

memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah

kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga

dirinya.”

Bisa ditarik kesimpulan bahwa setiap orang punya fase

masing-masing di mana ada waktunya seseorang terjun

langsung mengahadapi musuh demi membela negara, tetapi

tidak selamanya bergelut dengan fisik seperti halnya KH.

Sholeh Iskandar, ia tadinya seorang pejuang karena tugas dan

kewajibannya sebagai warga negara telah usai setelah

Indonesia memiliki kemerdekaan seutuhnya, lantas ia lebih

memilih terjun ke dalam masyarakat dan berjuang memajukan

pendidikan Islam bagi masyarakat. Memiliki pola fikir yang

luar biasa, tidak bisa hanya berdiam diri di belakang tetapi

yang selalu maju di depan apapun halangannya ia selalu

hadapi.

Kiprah KH. Sholeh Iskandar tidak hanya sebagai

seorang ulama saja, tetapi dalam dunia pendidikan yang lebih

luas. Menjadi salah satu unsur tiga pilar dakwah yang dicita-

citakannya untuk masyarakat Bogor yaitu: Pendidikan,

Kesehatan, dan Keuangan. Seperti yang dibahas sebelumnya

di bab empat bahwa Pendidikan Islam perlu di perhatikan

hingga tingkat yang lebih tinggi maka dari itu terbentuklah

Universitas Ibn Khaldun Bogor26

yang dinaungi langsung oleh

26 Dari sumber yang banyak ditulis dan keterangan lainnya, bahwa

semua kegiatan beliau berawal di Bogor Barat, karena memang basis

Page 118: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

105

Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor. Jadi apa yang

ia rancang untuk masyarakat benar adanya dan terwujud, tidak

hanya angan-angan semata. Berarti, dari adanya lembaga

maupun bangunan yang berdiri kokoh dan berkembang saat

ini peran dan pengaruh dari KH. Sholeh Iskandar ini sangat

besar bagi masyarakat Bogor.

Kepemimpinannya dalam memimpin lembaga

pendidikan sudah tidak di ragukan lagi, itu merupakan bakat

yang ia miliki dari semenjak remaja memimpin kelompok

kepemudaan hingga bertambahnya usia pun ia masih tetap

dipercaya sebagai pemimpin, dan membawa pengaruh baik

bagi yang dipimpin. Selain bakat, sifat kepemimpinan juga

bisa lahir dari pendidikan, latihan dan pengalaman seseorang

memimpin. Sebagian berpendapat bahwa pemimpin tidak

dibuat akan tetapi lahir sebagai pemimpin oleh bakat-bakat

alami dan seseorang ditakdirkan lahir menjadi pemimpin

dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga. Pendapat

lainnya menyatakan bahwa pemimpin harus disiapkan, dididik

dan dibentuk, tidak dilahirkan begitu saja. Setiap orang bisa

menjadi pemimpin melalui usaha pendidikan serta didorong

perjuangan adanya di Bogor Barat, sehingga lembaga pendidikan pertama

pun yaitu Pesantren Darul Fallah letaknya di Bogor Barat tepatnya di

Ciampea, jadi memang saling keterkaitan hingga berhasil mendirikan

Universitas Ibn Khaldun yang berdiri kokoh hingga sekarang. Wawancara

pribadi penulis bersama narasumber Bapak Zainal Muttaqin (salah satu

pengurus Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor), Kamis, 18

Oktober 2018 di Kantor YPIKA, Jl. R.E Martadinata, Kota Bogor.

Page 119: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

106

oleh kemauan sendiri.27

Dari kesemuanya nilai lebih yang

dimiliki KH. Sholeh Iskandar ialah ia terlahir dengan bakat

kepemimpinan, dan bakatnya itu dikembangkan melalui

pengalaman dan usaha pendidikan sesuai tuntutan

lingkungannya.

Nyatanya, kesuksesan Universitas Ibn Khaldun

sekarang merupakan buah hasil dari orang-orang terdahulu

seperti salah satunya KH. Sholeh Iskandar, melalui kerja

kerasnya dalam memimpin Yayasan Pendidikan Islam Ibn

Khaldun banyak pencapaian yang akhirnya terwujud. Yayasan

Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor yang awalnya

merupakan cabang dari Yayasan Ibnu Chaldun yang ada di

Jakarta di kepemimpinan KH. Sholeh Iskandar akhirnya bisa

memisahkan diri dan berdiri sendiri hingga kemajuannya

terasa sampai saat ini. Meskipun di era kepemimpinan KH.

Sholeh Iskandar nama yayasan sempat berganti yang awalnya

Yayasan Ibnu Chaldun Bogor (YICB) sama seperti yang ada

di Jakarta lalu ia rubah menjadi Yayasan Pembina Universitas

Ibn Khaldun (YPUIKA) Bogor di tahun 1974, nama sekarang

yang tercantum merupakan perubahan nama yayasan yang di

ganti era kepemimpinan KH. Tb Hasan Basri tahun 1987

hingga saat ini nama masih di gunakan yaitu Yayasan

Pendidikan Islam Ibn Khaldun (YPIKA) Bogor. Kemudian

bangunan-bangunan kantor yayasan maupun kampus

27 Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: Raja

Grafindo Persada, 2001), h. 29.

Page 120: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

107

Universitas Ibn Khaldun Bogor yang ada di Jalan R.E

Martadinata kesemuanya merupakan hasil kerja kerasnya

bersama rekan-rekannya, dari mengumpulkan uang pribadi,

hingga menjual harta pribadi kesemuanya ia lakukan demi

berdirinya universitas yang bia cita-citakan. Melalui tangan

KH. Sholeh Iskandar pula banyak para dermawan yang

menghibahkan tanahnya untuk kemajuan universitas.

Merupakan sosok tokoh Pendidikan Islam yang sejati, sampai

akhir hayatnya pun masih tetap menjadi pengurus yayasan

yang setia, demi kemajuan Pendidikan Islam bagi masyarakat

Bogor. Kemajuan lainnya yang dirasa pada era kepemimpinan

KH. Sholeh Iskandar di Yayasan Pendidikan Islam Ibn

Khladun dalam bidang kejuruan yaitu berdirinya Fakultas

Teknik pada tahun 1978,28

ini melengkapi fakultas

sebelumnya yang mendasari pendirian Universitas Ibn

Khaldun tahun 1961 yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Hukum. Jadi,

selain berbasis Islam pendidikan di Universitas Ibn Khadun

juga dikembangkan ilmu umum lainnya, dan sekarang sudah

banyak cabang ilmu yang berkembang.

Universitas Ibn Khaldun Bogor merupakan kampus

Islami yang di bangun secara syari’at Islam oleh orang-orang

terdahulu, meskipun dahulunya tidak memiliki apa-apa tetapi

28 Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor

Melintas Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas

Ibn Khaldun, 2011), h. 55.

Page 121: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

108

berkat usaha KH. Sholeh Iskandar beserta rekan-rekan

seperjuangannya menjadi maju hingga saat ini. Inilah yang

patut di segani dari para pendiri Universitas Ibn Khaldun

Bogor, karena UIKA meskipun kampus swasta saat ini

menjadi megah memiliki gedung di Jalan KH. Sholeh

Iskandar bukan dari uang pinjaman bank, tetapi dari usaha

para pendirinya baik dari harta pribadi maupun khibahan dari

para dermawan, berbeda dengan kampus lain yang megah

karena meminjam uang dari bank.29

Faktanya, kampus Islam yang pertama di bangun di

wilayah Bogor ini menjadi kampus Islam yang di percaya

oleh masyarakat Bogor sebagai salah satu lembaga pendidikan

Islam yang banyak melahirkan orang-orang sukses.

Pencapaian dari para pendirinya terdahulu pun dilanjutkan

kembali oleh para penerusnya, begitupula perjuangan KH.

Sholeh Iskandar beserta rekan-rekannya di masa lalu merubah

status yayasan beserta univeritas untuk berdiri sendiri

merupakan hal yang benar. Nyatanya, Universitas Ibn

Khladun di Bogor lebih berkembang dibanding Universitas

Ibnu Chaldun di Jakarta,30

padahal dulunya merupakan

cabang dari UIC Jakarta, tetapi kesuksesannya terlihat

sekarang UIKA lebih banyak memiliki program studi dan

29 Didin Saefuddin Buchori dalam Budi Susetyo (ed), 50 Tahun

Universitas Ibn Khaldun Bogor Melintas Zaman Meretas Jalan

Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas Ibn Khaldun, 2011), h. 169.

30

Kopertais Wilayah 1 DKI Jakarta, Profil Perguruan Tinggi Agama

Islam Swasta: Laporan Tahun 2010, (Jakarta: Kopertais), h. 10-11.

Page 122: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

109

beberapa fakultas, belum lagi rencana pembukaan program

studi baru dan fakultas lainnya. Yayasan sendiri juga

berencana membangun kampus baru yang tanahnya berada di

wilayah Leuwiliang Kabupaten Bogor.31

C. Respon Masyarakat Bogor Terhadap Dakwah KH.

Sholeh Iskandar

Baik dakwah maupun kegiatan KH. Sholeh Iskandar

di Bogor di respon dengan bagus oleh masyarakatnya, baik

kalangan awam, tokoh mayarakat, habaib maupun para kyai

bahkan para pejabat pemerintahan. Semua golongan

masyarakat di Bogor pada masanya semua kenal siapa KH.

Sholeh Iskandar, ia punya nama hampir di sebagian wilayah

Bogor, mungkin hanya segelintir orang saja yang tidak

menyukai dakwah dan kegiatannya. Wajar saja, setiap orang

mau itu ulama ataupun orang biasa pasti ada saja respon yang

berbeda ada yang positif adapula negatif tergantung

penerimaannya di masyarakat bagaimana. Tetapi bagi

seseorang yang berilmu seperti KH. Sholeh Iskandar,

membalas ketidaksukaan dari golongan tertentu bukan jalan

terbaik, malah ia menerima dengan lapang dada, seperti apa

yang terjadi di era orde lama bahwa kegiatan yang ia lakukan

31 Hasil wawancara pribadi penulis bersama Adrin Sefta B, S.T (Humas

UIKA) pada hari Kamis 23 November 2018, pukul 13.30 WIB di gedung

rektorat UIKA Bogor.

Page 123: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

110

di pesantrennya Darul Fallah di curigai sebagai proyek

berbahaya.32

Jalan yang di tempuh oleh seorang ulama tidaklah

mudah, apalagi dalam membangun masyarakat seperti yang

dilakukan oleh KH. Sholeh Iskandar. Ia begitu banyak

mendapat kepercayaan dari masyarakat kenapa? Karena

semua gagasan yang ia cetuskan selalu benar dan dilakukan

sehingga masyarakat pun percaya. Hubungan saling percaya

antara keduanya, sosoknya menjadi peran penting dalam

masyarakat, karena apapun yang dilakukannya tidak pernah

untuk sendiri tetapi untuk masyarakat juga. Menghadirkan

sesuatu yang belum ada menjadi ada, mendirikan Lembaga

Pendidikan Islam. Merupakan kebutuhan dan cita-cita

masyarakat di masa lalu memiliki kampus religi yang

menopang pengetahuan yang seimbang antara dunia dan

akhirat. Apapun yang menjadi kegiatannya, ia pasti mengajak

rekan-rekan seperjuangannya, bergotong royong bersama

membangun bersama masyarakat.33

32 Sumardi, “Majalah Suara Ulama”. Biografi: KH. Sholeh Iskandar

(alm) Sang Panglima Militer yang Berbelot menjadi Pendakwah Ulung,

Edisi 4, (2017): h. 19.

33

Hasil wawancara pribadi penulis bersama salah satu narasumber

Bapak H. Lukman Hakiem (selaku murid KH. Sholeh Iskandardan penulis

buku jejak perjuangan ulama-patriot KH. Sholeh Iskandar) pada Senin, 03

September 2018 pukul 14.00 WIB di kediamannya Desa Benda,

Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Page 124: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

111

D. Pencapaian dan Peninggalan KH. Sholeh Iskandar

KH. Sholeh Iskandar yang terakhir berpangkat Mayor

TNI AD,34

adalah seseorang yang sangat rendah hati. Ia

merupakan orang yang jauh dari kata-kata membanggakan

diri apalagi sombong dan pamrih, atau ingin dilihat riya oleh

orang lain, tentu tidak.

Tidak banyak orang yang tau bahwa KH. Sholeh

Iskandar bersama rekan-rekan seperjuangannya banyak

menorehkan pencapaian yang luar biasa, tidak hanya dalam

bidang pendidikan tetapi juga di banyak bidang lainnya.

Tahun 1947, membentuk Laskar Rakyat

Markas Perjuangan Rakyat Leuwiliang (LR

MPRL) yang di gabungkan dengan Laskar

Hizbullah Leuwiliang,35

yang kemudian

ditetapkan sebagai Batalyon VI lalu berubah

menjadi Batalyon O, Tirtayasa Siliwangi.36

34 Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. 2.

35 Neni Hafsah, Sejarah Pembentukan dan Peranan Hizbullah di

Bogor: dalam Mepertahankan Kemerdekaan Repuublik Indonesia 1945-

1947, (Skripsi Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Institut Keguruan

Ilmu Pendidikan, Jakarta, 1994), h. 30.

36

Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. vii.

Page 125: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

112

Tahun 1950, membangun perumahan modern

di Desa Pasarean, Pamijahan, Bogor.37

Karyanya ini diakui oleh UNESCO sebagai

perumahan modern pertama di dunia ketiga,

yakni negara-negara yang baru merdeka

setelah Perang Dunia II usai.38

Tahun 1950, mendirikan Yayasan Darul Hijrah

yang mengelola Madrasah Ibtidiyah, kemudian

Tsanawiyah Ibnu Hajar di Desa Pasarean,

Pamijahan, Bogor.39

Tahun 1951, mendirikan organisasi eks

pejuang Perbata (Persatuan Bekas Tentara).40

Tahun 1952, karena beliau selalu

memperhatikan pertanian di pedesaan,

kemudin di percaya sebagai ketua umum

Pengurus Besar Serikat Tani Islam Indoenesia

(PB STTI).41

Tahun 1957, ikut mendirikan Legiun Veteran

Republik Indoenesia (LVRI), sempat diangkat

37 Lisda Dona Lisdiana, Biografi KH. Sholeh Iskandar: Ulama Pejuang

yang Terlupakan 1922-1992, (Skripsi Mahasiswa Jurusan Pendidikan

Sejarah Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, 2007), h. 39.

38

Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. 6.

39

Edi Sudarjat, KH. Sholeh Iskandar: Sang Pejuang dan Pelopor,

(Bogor, 2015), h.

40

Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. 6.

41

Hardi M. Arifin menurut keterangannya KH. Sholeh Iskandar pernah

terpilih berkali-kali menjadi Ketua Umum PB STII sampai tahun 1960,

dalam Lisda Dona Lisdiana, Biografi KH. Sholeh Iskandar... h. 38.

Page 126: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

113

menajdi sekretaris jenderal serta Ketua II

Badan Pekerja LVRI.

Tahun 1959, mendirikan perusahaan karoseri

pertama di Indoenesia.42

Tahun 1960, mendirikan lembaga pendidikan

agama sekaligus keterampilan hidup Pondok

Pesantren Darul Fallah di Ciampea Bogor.43

Tahun 1961, mendirikan Universitas Ibnu

Chaldun Bogor, dan yang sekarang menjadi

Universitas Ibn Khaldun Bogor (UIKA).44

Tahun 1982, mendirikan Yayasan Rumah Sakit

Islam Bogor (YARSIB), sekarang dikenal

sebagai Rumah Sakit Islam Bogor.45

Tahun 1987, mendirikan pesantren mahasiswa

Ulil Albab di kompleks kampus UIKA.

Tahun 1988, memprakarsai berdirinya

Lembaga Pengkajian Obat-obatan dan

42 Halimi Abdusyukur, Konsep Kaderisasi Ulama Kiai Haji Sholeh

Iskandar, (Disertasi Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun

Bogor, Bogor, 2011), h. 111.

43

KH. Sholeh Iskandar tertulis sebagai pendiri Pondok Pesantren

Darul Fallah bersama KH. Ghofar Ismail dalam: Direktori Pesantren Jilid

1, (Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat

Jenderal Pendidikan Agama Islam Departemen Agama Republik

Indonesia, 2007), h. 200.

44

Budi Susetyo (ed), 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor

Melintas Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat, (Bogor: Universitas

Ibn Khaldun, 2011), h. 151.

45

Ini sesuai dengan akte pendirian Yayasan Rumah Sakit Islam Bogor

tanggal 2 Juni 1982 Nomor 3, dalam: Halimi Abdusyukur, Konsep

Kaderisasi Ulama Kiai Haji Sholeh Iskandar, (Disertasi Mahasiswa

Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Bogor, 2011), h. 119.

Page 127: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

114

Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM

MUI).

Tahun 1988, mendirikan Pesantren Tarbiyatun

Nisaa di Ranca Bungur, Bogor.46

Tahun 1988, mendirikan Pesantren Darul

Muttaqien di Parung, Bogor.47

Tahun 1988, mendirikan Pondok Pesantren

Tahfizul Qur’an Manbaul Furqon di Karehkel,

Leuwiliang Bogor.

1992, memprakarsai pendirian Bank

Perkreditan Rakyat Syariah yang sekarang di

kenal BPRS Amanah Ummah, di Leuwiliang

Bogor.48

46 Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. 6.

47

KH. Sholeh Iskandar bersama-sama dengan HM Nahar, KH. Abdul

Manaf Mukhayar, dan KH. Mahrus Amin tertulis sebagai pendiri

Pesantren Darul Muttaqien Parung Bogor, dalam: Direktori Pesantren

Jilid 1, (Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat

Jenderal Pendidikan Agama Islam Departemen Agama Republik

Indonesia, 2007), h. 203.

48

Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan

Batalyon O Siliwangi, (Depok: Komunitas Bambu, 2015), h. 6.

Page 128: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

115

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat penulis berikan di antaranya

ialah:

1. KH. Sholeh Iskandar merupakan seorang pejuang dan

ulama asli kelahiran Bogor, ia adalah salah satu pendiri

Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor yang

menaungi Universitas Ibn Khaldun Bogor. KH. Sholeh

Iskandar lahir di Desa Situ Udik, Cibungbulang, Bogor,

22 Juni 1922.

2. Pada tahun 1945-1950 KH. Sholeh Iskandar mengikuti

revolusi fisik untuk memperjuangan kemerdekaan

Indonesia di wilayah Bogor Barat dengan memimpin

Batalyon O Siliwangi yang sebelumnya merupakan

Hizbullah basis Leuwiliang.

3. Di tahun 1955 KH. Sholeh Iskandar pensiun dari

ketentaraannya dan lebih memilih untuk kembali kepada

masyarakat dan di tahun 1960 mulai mendirikan lembaga

pendidikan Islam di Bogor.

4. Pada tahun 1968 ia bergabung dengan Yayasan

Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor dan di tahun 1974

mulai memimpin yayasan menggantikan dr. Marzuki

Mahdi yang tutup usia.

Page 129: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

116

5. Universitas Ibn Khaldun Bogor merupakan universitas

Islam pertama yang ada di Bogor.

6. Kemajuan Universitas Ibn Khaldun Bogor yang dirasa

berkat kontribusi KH. Sholeh Iskandar yaitu:

diberikannya hak otonomi pada tahun 1974 atau berdiri

sendiri tanpa harus menginduk kepada Yayasan

Universitas Ibnu Chaldun yang berada di Jakarta,

hasilnya Universitas Ibn Khaldun Bogor lebih maju dan

berkembang sekarang dibanding Universitas Ibnu

Chaldun Jakarta, mulai memiliki tempat dan bangunan

sendiri di Jl. R.E Martadinata baik kantor yayasan

maupun proses perkuliahan sebelum memiliki kampus

sendiri seperti sekarang di Jl. KH. Sholeh Iskandar

Kedung Badak. Berkat koneksi dan jaringan luas KH.

Sholeh Iskandar.

7. KH. Sholeh Iskandar di percaya oleh rekan maupun

masyarakat memimpin yayasan dari awal bergabung

hingga akhir hayatnya.

8. Namun apa yang ia bangun selalu ia kembalikan kepada

masyarakat dan rekan-rekan seperjuangannya tanpa ia

kuasai sendiri. Hasilnya bisa dirasakan sekarang dengan

banyaknya lembaga yang ia dirikan juga perkembangan

kampus Universitas Ibn Khaldun Bogor sendiri yang

semakin eksis sebagai kampus Islam dan mahasiswanya

yang tersebar di berbagai daerah tidak hanya di Bogor

saja.

Page 130: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

117

9. KH. Sholeh Iskandar adalah seorang inisiator

pembangunan terutama dalam Pendidikan Islam di Bogor,

apa yang menjadi kebutuhan masyarakat pada saat itu ia

yang menggagas dan bangun, sehingga ia dipercaya oleh

masyarakat pada saat itu. Seorang yang tidak banyak

bicara tapi banyak berbuat, sehingga masyarakat pada

saat itu begitu menghormatinya, namanya begitu dikenal

luas oleh masyarakat Bogor. Ulama yang tidak merasakan

pendidikan tinggi, namun dengan bakat kepemimpinannya

dan jaringan luasnya sampai saat ini banyak peninggalann

yang ia tinggalkan.

B. Saran

Penulis sendiri masih memiliki kekurangan dalam

melakukan penelitian, maka dari itu kritik dan saran dari

pembaca sangatlah berarti bagi penulis. Semoga kelak

makin banyak orang yang melakukan penelitian mengenai

ulama-ulama di Bogor ataupun mengenai sejarah lokal

lainnya lebih diangkat ke dalam penulisan sejarah di

Indonesia. Penulis pun akan memberikan beberapa saran

untuk Universitas Ibn Khaldun Bogor. Penulis

mengharapkan agar saran ini dapat bermanfaat bagi

Universitas Ibn Khaldun dan sekitarnya, di antaranya

ialah:

1. Diharapkan agar Universitas Ibn Khaldun tetap

mempertahankan kampus Islami yang menjadi identitas

Page 131: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

118

kampus Islam sesuai dengan cita-cita para pendirinya

terdahulu.

2. Sesuai dengan identitas kampus Islami semoga mulai

membuka jurusan dengan konsentrasi Islam lebih banyak

lagi yang dibutuhkan dalam masyarakat agar lebih

berkembang dan maju.

Page 132: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

119

DAFTAR PUSTAKA

A. Dokumen

Bio data KH. Sholeh Iskandar. Bogor: 1992.

B. Wawancara

Adrin Septa B,. S.T, Humas Universitas Ibn Khaldun Bogor,

Bogor, 23 November 2018.

H. Didi Hilman, S.H, M.H, M.Pdi, Anak KH. Sholeh Iskandar

dan Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Islam Ibn

Khaldun Bogor, Bogor, 08 November 2018.

H. Lukman Hakiem, Murid KH. Sholeh Iskandar dan Penulis

Buku Jejak Perjuangan Ulama-Patriot KH. Sholeh

Iskandar, Wawancara Pribadi, Sukabumi, 03 September

2018.

Haruna Sarasa Bugis., S.H, M.H, Sekretaris Yayasan Pendidikan

Islam Ibn Khaldun Bogor, Bogor, 18 Oktober 2018.

Zainal Muttaqin., S.E, Salah Satu Pengurus Yayasan Pendidikan

Islam Ibn Khaldun Bogor, Bogor, 18 Oktober 2018.

C. Buku

Abdurrahman, Al-Allamah, Masturi Irham dkk (ter).

Mukaddimah. Cet ke-1. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011.

Burke, Peter. Sejarah dan Teori Sosial. Edisi ke-3. Jakarta:

Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011.

Danasasmita, Saleh. Sejarah Bogor. Bogor: Panitia Penyusun dan

Penerbitan Sejarah Bogor dan Paguyuban Pasundan, 1983.

Daulay, Putra Haidar. Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan

Nasional di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2004.

Page 133: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

120

Djamas, Nurhayati. Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia

Pascakemerdekaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,

2009.

Djumhur, I. Sejarah Pendidikan. Bandung: CV. Ilmu, 1979.

Faizah dan Lalu Muchsin Effendi. Psikologi Dakwah. Cet ke-2

Jakarta: Kencana, 2015.

Gottschalk, Louis (Terj. Nugroho Notosusanto). Mengerti

Sejarah. Depok: UI Press, 2008.

Hakiem, Lukman. Jejak Perjuangan Ulama-Patriot KH. Sholeh

Iskandar. Bogor: UIKA Press, 2017.

Iskandar, Sholeh. Pokok-Pokok Pikiran Mengenai Masalah

Pengkaderan Ulama. Bogor: Kelompok Kepesantrenan

Pimpinan BKSPP Jawa Barat, 1974.

Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Raja

Grafindo Persada, 2001.

Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang,

1995.

Moloeng, Lexy J. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.

Remaja Rosda Karya. 2000.

Nasution, A. H, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1: Kenangan

Masa Muda. Jakarta: CV Haji Masagung, 1989.

Nasution, A. H, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 10:

Perang Gerilya Semesta II. Cet. Ke-1. Bandung: Disjarah

AD dan Penerbit Angkasa Bandung, 1979.

Nasution, A. H, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 2:

Diplomasi Atau Bertempur. Cet. Ke-1. Bandung: Disjarah

AD dan Penerbit Angkasa Bandung, 1979.

Page 134: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

121

Nasution, A. H, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 4:

Periode Linggarjati. Cet. Ke-1. Bandung: Disjarah AD dan

Penerbit Angkasa Bandung, 1979.

Nata, Abuddin. Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia.

Jakarta: UIN Jakarta Press.

Nata, Abuddin. Sejarah Sosial Intelektual Islam dan Institusi

Pendidikannya. Cet. Ke-1. Jakarta: PT. Raja Grafindo,

2012.

Priyadi, Sugeng. Sejarah Lokal: Konsep Metode dan

Tantangannya. Yogyakarta: Ombak, 2015.

Rubiyanah dan Ade Masturi. “Pengantar Ilmu Dakwah”.

Ciputat: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta, 2010.

Setiadi, Elly M dan Usman Kolip. Pengantar Sosiolgi:

Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori,

Aplikasi, dan Pemecahannya, cet ke-3. Jakarta: Kencana,

2013.

Sjamsuddin, Helius. Metodologi Sejarah. Cet ke-3. Yogyakarta:

Ombak, 2016.

Sudarjat, Edi. Bogor Masa Revolusi 1945–1946: Sholeh Iskandar

dan Batalyon O Siliwangi. Depok: Komunitas Bambu,

2015.

Sugiyono dkk. Peta Jalan Pendidikan Indonesia, (Yogyakarta:

Universitas Negeri Yogyakarta, tanpa tahun.

Susetyo, Budi (ed). 50 Tahun Universitas Ibn Khaldun Bogor

Melintas Zaman Meretas Jalan Kebangkitan Umat. Bogor:

Universitas Ibn Khaldun, 2011.

Tjandrasasmita, Uka. “Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-

Kota Muslim di Indonesia”. Jakarta: Menara Kudus, 2000.

Page 135: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

122

Zuhdi, Susanto. Bogor Zaman Jepang 1942–1945. Depok:

Komunitas Bambu, 2017.

--------------, Bogor Zaman Pra-Kolonial, Kolonial, sampai

dengan Pasca Kemerdekaan. Kantor Arsip dan dan

Perpustakaan Kabupaten Bogor, 2014.

--------------, Direktori Pesantren Jilid 1. Direktorat Pendidikan

Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal

Pendidikan Agama Islam Departemen Agama Republik

Indonesia, 2007.

-------------, Profil Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta.

Kopertais Wilayah 1 DKI Jakarta, 2010.

D. Skripsi, Tesis, dan Disertasi

Abdusyukur, Halimi. “Konsep Kaderisasi Ulama Kiai Haji

Sholeh Iskandar”. Disertasi Pasca Sarjana, Universitas Ibn

Khaldun Bogor, 2011.

Anggraeni, Riani. “Bogor pada Masa Bersiap 1945-1946”.

Skripsi Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas

Indonesia, 2010.

Hafsah, Neni. “Sejarah Pembentukan dan Peranan Hizbullah di

Bogor: dalam Mepertahankan Kemerdekaan Repuublik

Indonesia 1945-1947”. Skripsi Mahasiswa Jurusan

Pendidikan Sejarah Institut Keguruan Ilmu Pendidikan,

Jakarta, 1994.

Lisdiana, Dona Lisda. “Biografi KH. Sholeh Isakandar Ulama

Pejuang yang Terlupakan (1922-1992)”. Skripsi Jurusan

Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, 2007.

Page 136: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

123

E. Majalah dan Koran

Sumardi. “KH. Sholeh Iskandar, Sang Panglima Militer yang

berbelot menjadi Pendakwah Ulung”. Majalah: Suara

Ulama Edisi 4, (2017): 16-22.

Tanpa ama, “Sekolah Kehutanan Menengah Tinggi Bogor”, Bandung:

Thahaja. No. 41 (1945), h. 64

Tanpa nama, “Pengajaran di Tanah Partikelir diperbaiki”,

Bandung: Thahaja. No. 182 (1945), h. 329.

Udas, Dede. “Mengenal Sosok KH. Ahmad Sanusi „Guru dari

Para Ulama Besar Jawa Barat”. Majalah: Suara Ulama

Edisi 2, (2016): 14-18.

F. Internet

Alhikmah. “KH. Sholeh Iskandar Ulama Pejuang dari Kampung

Pasarean”, Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah

(2015), 03. Inform databese http://darulfallah.org

Desastian. “KH. Sholeh Iskandar: Tokoh Masyumi dan

Komandan Hizbullah itu di Usulkan jadi Pahlawan

Nasional”. Panjimas (2017), 07. Inform databese

http://www.panjimas.com

Nashrullah, Nashih. “KH. Sholeh Iskandar Sang Alim Pejuang

Kemerdekaan”. Republika.co.id (2018), 18. Inform

databese http://m.republika.co.id

Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor (2018), Inform

databese http://uika-bogor.ac.id, di unduh pada tanggal 22

Oktober 2018 pukul 09.52 WIB.

Yunita, Fitri. ”Mengenal KH. Sholeh Iskandar: Ulama Pejuang

Revolusi dari Bogor”. Liputan 6 (2017): 16. Inform

databese http://m.liputan6.com

Page 137: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

124

---------------, Sekilas Kota Bogor, Website Resmi Pemerintahan

Kota Bogor, 2016, Inform databese http://kotabogor.go.id ,

di unduh pada tanggal 30 Oktober 2018 pukul 15.00 WIB.

---------------, Kecamatan Tanah Sareal Dalam Angka, Kota

Bogor: Badan Pusat Statistik Kota Bogor, 2018.

Page 138: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

125

LAMPIRAN

KH. Sholeh Iskandar ketika masih muda lengkap dengan seragam

tentara Batalyon O Siliwangi

Sumber : Koleksi Pribadi

Batalyon O, Tirtayasa, Siliwangi, di Banjarsari 1950. Mayor KH.

Sholeh Iskandar (di tengah mobil bagian kanan), Letnan I Hasan

Slamet ( di tengah memegang map), Letnan Idrus (di samping kiri

Hasan Slamet).

Sumber: Edi Sudarjat

Page 139: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

126

KH. Sholeh Iskandar di masa tua

Sumber:

Sebelah kiri KH. Noer Ali, tengah KH. Sholeh Iskandar dan sebelah

kanan Moh. Natsir.

Sumber: H. Lukman Hakiem

Page 140: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

127

Kantor Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor di Jl. R.E

Martadinata yang bersebelahan dengan Bank Amanah Ummah dan

Masjid Al-Hijri I

Sumber: Koleksi Pribadi

Kampus UIKA di Jl. KH. Sholeh Iskandar

Sumber: Koleksi Pribadi

Page 141: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

128

Wawancara penulis bersama H. Lukman Hakiem di kediamannya di

Benda, Sukabumi

Sumber: Pribadi

Page 142: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

129

1. Dokumen Biodata yang ditulis oleh KH. Sholeh

Iskandar (Sumber: yayasan)

Page 143: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

130

Page 144: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

131

Page 145: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

132

Page 146: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

133

Page 147: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

134

Page 148: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

135

Page 149: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

136

Page 150: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

137

Page 151: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43375...lainnya. Namun dalam perjalanan selanjutnya, garis politik Masyumi berseberangan

138