Kompilasi Makalah Loknas 23012012 jam 00 .PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN KEILMUAN...

download Kompilasi Makalah Loknas 23012012 jam 00 .PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN KEILMUAN SOSIOLOGI

If you can't read please download the document

  • date post

    11-Apr-2019
  • Category

    Documents

  • view

    276
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Kompilasi Makalah Loknas 23012012 jam 00 .PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN KEILMUAN...

PEDOMAN PENGGUNAAN

Makalah Lokakarya ini dipublikasikan dan terbuka untuk umum dengan ketentuan

bahwa hak cipta ada pada pengarang dengan mengikuti aturan HaKI yang berlaku di

Indonesia. Referensi kepustakaan harus dicatat, termasuk pengutipan atau peringkasan

mengikuti kaidah ilmiah untuk menyebutkan sumbernya.

Memperbanyak atau menerbitkan sebagian atau seluruh dari Makalah Lokakarya ini

diizinkan oleh Laboratorium Sosiologi dan Penyuluhan Pertanian, Universitas Padjadjaran

selama mengikuti kebiasaan dan kaidah ilmiah untuk menyebutkan sumber penulis dan

penerbit Makalah Lokakarya yang dalam hal ini diterbitkan oleh Laboratorium Sosiologi

dan Penyuluhan Pertanian, Universitas Padjadjaran tahun 2012.

Makalah Lokakarya Nasional ini bukan merupakan Prosiding Pertemuan Nasional

Sosiologi dan Penyuluhan Pertanian Indonesia. Prosiding Pertemuan Nasional Sosiologi

dan Penyuluhan Pertanian Indonesia akan dicetak kemudian beserta hasil rumusan

Lokakarya nasional yang dilaksanakan tanggal 25-26 Januari 2012.

3

PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN KEILMUAN SOSIOLOGI DAN PENYULUHAN PERTANIAN YANG SESUAI DENGAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN

Sumardjo

(Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB, assoka252@yahoo.com)

Abstrak Potret Masyarakat setidaknya merupakan produk empat dimensi yang saling berinteraksi antara : (1) Dinamika internal masyarakat, (2) Kebijakan pemerintah, (3) Warisan atau dimensi sejarah, dan (4) Intervensi asing. Peran Pengembangan Ilmu penyuluhan dan Sosiologi Perdesaan setidaknya dapat bertitik tolak dari kinerja interaksi ke empat dimensi tersebut. Ilmu penyuluhan terutama bagaimana mendalami dinamika interaksi keempatnya dan terutama dampaknya bagi pengembangan martabat manusia (human Capital) untuk mengembangkan dinamika internal masyarakat (social capital) menuju kesejateraan yang adil dan berkelanjutan. Sosiologi pedesaan mendalami keempatnya terutama untuk pengembangan dinamika internal masyarakat perdesaan/ pertanian. Keduanya dalam pengembangan tersebut setidaknya perlu memperhatikan dinamika perubahan yang terjadi dalam berbagai aspek berikut: dinamika perubahan lingkungan; dinamika pengelolaan sumberdaya alam, masalah agraria dan nafkah; potensi konflik sosial, harmoni dan perdamian; dinamika sistem sosial dan kelembagaan; dinamika sistem bisnis dan kewirausahaan; dinamika politik pembangunan, dinamika kedaulatan bangsa dan kesejahteraan; serta dinamika multi kultural dan gender. Keadaan tersebut terkait dengan jepitan tiga arah (tripple squeeze) yang mendera negara berkembang pada umunya, yaitu dari atas desakan globalisasi ekonomi, dari samping desakan privatisasi, dan dari bawah desakan untuk otonomi daerah. Ketiganya mempunyai sumber kekuatan yang sama yaitu neoliberalisme sebagai sumber penggerak dinamika perubahan yang terjadi. Di sini, pentingnya pemberdayaan masyarakat sehingga secara personal maupun sosial masyarakat mampu bermitra sinergis dan berkolaborasi dalam pengelolaan sumberdaya alam yang seimbang antara aspek bisnis, kesejahteraan komunitas dan kelestarian lingkungan.

Pendahuluan

Di Era globalisasi, dunia pertanian di Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan dan perguruan tinggi merupakan salah satu pilar utama kemajuan suatu bangsa, mesti merespon secara tepat sesuai dengan tridharma yang diembannya. Melalui implementasi tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, perguruan tinggi khususnya yang membidangi sektor pertanian dalam arti luas, dituntut untuk berkiprah mendukung pembangunan pertanian dengan segala tantangan dan permasalahan yang dihadapinya. Dalam hal ini, peran utama pendidikan tinggi pertanian adalah (1) berpartisipasi dalam mengembangkan aspek kesiapan manusia melalui pendidikan formal, (2) mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS) serta mengembangkan konsep alternatif kebijakan pembangunan melalui aktivitas penelitian, maupun (3) mengembangkan pemberdayaan masyarakat melalui diseminasi inovasi, pendidikan nonformal dan bentuk pengabdian pada masyarakat lainnya menuju masyarakat yang sejahtera, mandiri dan bermartabat (berkeadilan dan berperadaban).

4

Terkait dengan hal itu, setidaknya ada tiga tantangan mendesak di dunia pertanian, yaitu pertama, era globalisasi ini telah berimplikasi pada penghapusan berbagai kemudahan-kemudahan dalam implementasi pembangunan pertanian, seperti subsidi, proteksi dan sejenisnya. Meskipun faktanya, di kebanyakan negara maju implikasi semacam ini kurang tampak terjadi, khususnya di sektor pertanian. Sebaliknya di Indonesia kini telah semakin gencar dan terbuka informasi, serta mudahnya membuka kran impor, telah menyebabkan membanjirnya produk impor cenderung tidak terkendali, yang mendesak produk lokal. Sejalan dengan itu peningkatan pendidikan dasar yang antara lain difasilitasi oleh dana pinjaman dari luar, telah terjadi peningkatan selera konsumen, yang semakin menghimpit dunia pertanian domestik. Tampak ada ketidak-adilan dalam menyikapi konsekuensi era globalisasi antara negara maju dengan negara berkembang. Pemerintah tidak kuasa mengimbangi sikap protektif negara maju terhadap produk dari sektor pertanian. Di sisi lain, terjadi ketidak-siapan serius masyarakat dan pemerintah menghadapi persaingan yang dapat dinilai tidak sehat di era globalisasi ini. Salah satu faktor penentunya adalah lemahnya perhatian pemerintah daerah memperhatikan dan memanfaatkan kelembagaan penyuluhan sebagai media pemberdayaan masyarakat pertanian, sejalan dengan penerapan otonomi daerah yang disertai dengan melemahnya komitmen kebanyakan pimpinan daerah terhadap penyelenggaraan penyuluhan.

Kedua, menguatannya asimetri dalam sistem agribisnis yang didukung budaya instan dalam meraih keuntungan oleh para pelaku hilir dan lemahnya komitmen pemerintah untuk peduli secara konsisten mengembangkan sektor pertanian. Sejalan dengan itu, telah mendorong tumbuhnya persaingan agribisnis yang semakin ketat dan tidak sehat sejalan dengan kesenjangan dalam perkembangan IPTEK yang semakin nyata di masyarakat dan diperparah peningkatan prasarana yang lebih kondusif bagi para importir. Hal ini semestinya dapat mendorong pelaku usaha pertanian untuk mampu meraih dan menyaring derasnya arus informasi/ inovasi bagi pelaku-pelaku bisnis pertanian, dan tuntutan pengembangan IPTEKS dan pemberdayaan masyarakat yang sejalan dengan kesadaran atas perlunya kemampuan untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan. Pelaku bisnis pertanian baik tingkat hulu maupun hilir kurang atau bahkan tidak mampu menjawab dengan tepat tuntutan ini, sehingga ada pihakpihak yang tertindas, terutama petani dan menjadi korban perkembangan sistem agribisnis yang sudah mendunia tersebut.

Kedua tantangan tersebut, telah mendorong semakin beratnya tantangan ketiga, yaitu lemahnya kemandirian petani dalam memenuhi kebutuhan keluarga pelaku-pelaku usahatani (petani) berupa : tuntutan nafkah yang semakin meningkat, tuntutan kemampuan mengembangkan manajeman usaha pertanian (agribisnis) dan berbagai tuntutan lainnya seperti kemampuan meraih peluang dan mengelola permodalan usahatani yang makin modern, efisien dan berdaya saing tinggi. Kemampuan petani untuk mengelola keuangan keluarga sangat lemah, kurang mampu menabung, apalagi untuk berinvestasi di bidang produksi.

Ketiga tantangan tersebut telah semakin mendorong berkembangnya tuntutan usahatani modern bagi petani khususnya sebagai pelaku sistem agribisnis hulu, yaitu usahatani yang berwawasan agribisnis. Usahatani atau usaha pertanian yang modern tersebut dinilai merupakan bentuk usaha pertanian yang dimaksud dengan pertanian berkelanjutan, yaitu dengan ciri-ciri petani berperilaku modern, efisien dan berdaya saing tinggi dalam mengelola sumberdaya lokal secara optimal dan berkelanjutan. Tuntutan pengembangan usahatani atau usaha pertanian yang modern inilah yang harus dipersiapkan sebagai jawaban atas tuntutan era globalisasi ekonomi tersebut, yaitu pertanian berkelanjutan.

5

Mengantisipasi tantangan tersebut, penghapusan berbagai bentuk implementasi pembangunan selama ini berupa subsidi, proteksi dan sejenisnya perlu diubah dengan bentuk intervensi lain yang lebih kondusif bagi pengembangan kemampuan petani. Petani harus menjadi mandiri untuk meraih berbagai peluang dan mengatasi ancaman yang ada, dengan meningkatkan potensi yang dimilikinya dan menghilangkan kelemahan yang ada. Artinya mengembangkan kesiapan petani disini tidak lain adalah mengembangkan kemandirian petani. Proses komunikasi pembangunan yang tepat adalah proses yang kondusif bagi kemandirian petani memalui terwujudnya proses penyadaran kritis yang terus-menerus terhadap peningkatan kemampuan meraih setiap peluang yang ada pada setiap perubahan lingkungan fisik dan sosial yang terjadi, baik pada tataran lokal, domestik maupun global.

Secara spesifik ada tiga masalah besar pada saat ini, yang harus disikapi oleh perguruan tinggi dalam berperan mengembangkan keilmuan terkait dengan pembangunan di sektor pertanian yang dihadapi oleh dunia ke tiga pada umumnya dan Indonesia khususnya, yaitu : (1) Bagaimanamengembangkan kesiapan petani (kemandirian petani) dan penyuluhan pertanian

menghadapituntutandantantanganyangberkembangdieraglobalisasiekonomitersebut?(2) Faktorfaktormanakahyangberperanpentingdalamprosespengembangankesiapanpetanidan

penyuluhanpertanianmenghadapituntutandieraglobalisasiekonomitersebut,sehinggadapatdijadikandasarpertimbanganbagiperumusanintervensipembangunanpertanian?

(3) Kearahmanaparadigmakomunikasidanpenyuluhanpembangunanpertaniankedepansehinggakondusif bagi upaya pengembangan kemandirian petani menuju masyarakat madani di eraglobalisasitersebut?

Kecenderungan Perubahan dan Perkemba