Kinetika Reaksi Saponifikasi Pada Reaktor CSTR

of 38 /38
Laporan Praktikum Dosen Pembimbing Teknik Reaksi Kimia Prof. Dr. Syaiful Bahri, M.Si KINETIKA REAKSI SAPONIFIKASI PADA REAKTOR CSTR (Continues Stired Tank Reactor) Kelompok : II (Dua) Nama Kelompok : 1. Rita P. Mendrova (1107035609) 2. Ryan Tito (1107021186) 3. Yakub J. Silaen (1107036648)

Embed Size (px)

description

Laporan Praktikum Teknik Reaksi Kimia, D3 Teknik Kimia Universitas Riau

Transcript of Kinetika Reaksi Saponifikasi Pada Reaktor CSTR

Laporan Praktikum Dosen PembimbingTeknik Reaksi Kimia Prof. Dr. Syaiful Bahri, M.Si

KINETIKA REAKSI SAPONIFIKASI PADA REAKTOR CSTR(Continues Stired Tank Reactor)

Kelompok : II (Dua)Nama Kelompok: 1. Rita P. Mendrova (1107035609)2. Ryan Tito(1107021186)3. Yakub J. Silaen(1107036648)

LABORATORIUM TEKNIK I DAN II PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIAUNIVERSITAS RIAU2013ABSTRAK

Reaksi saponifikasi Etil asetat dengan Natrium hidroksida dilakukan pada reaktor CSTR (Continued Stired Tank Reactor) hingga kondisi steady state yang ditandai dengan konduktivitasnya konstan. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan konstanta kecepatan reaksi saponifikasi pada reaktor CSTR. Percobaan dilakukan dengan memvariasikan laju alir dari produk yang keluar. Proses yang dilakukan yaitu kalibrasi pompa 1 dan pompa 2 untuk memperoleh persamaan. Dari persamaan tersebut, diperoleh speed setting yang digunakan untuk variasi laju alir 20 dan 40 ml/menit dengan konsentrasi umpan 0,03 M. Untuk mengetahui konsentrasi produk yang keluar, maka produk ditirasi dengan HCl 0,03 N. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, semakin besar speed pompa, maka laju alir yang diperoleh juga akan semakin besar. Semakin besar laju alir, maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi steady state. Pada flow pompa 20 ml/menit, kondisi steady state didapat pada menit ke-38 dengan konduktivitas sebesar 2,28 mS, sedangkan pada flow pompa 40 ml/menit, kondisi steady state didapat pada menit ke-26 dengan konduktivitas sebesar 2,69 mS. Semakin besar laju alir, konstanta kecepatan reaksi yang diperoleh juga akan semakin besar. Pada flow pompa 20 ml/menit, konstanta kecepatan reaksi didapat sebesar 0,272 L/det.mol, sedangkan pada flow pompa 40 ml/menit, konstanta kecepatan reaksi didapat sebesar 0,307 L/det.mol.

Kata kunci : saponifikasi; CSTR; steady state; konduktivitas; konstanta kecepatan reaksi.

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Tujuan PercobaanTujuan percobaan yaitu untuk menentukan konstanta kecepatan reaksi saponifikasi pada reaktor CSTR (Continues Stired Tank Reactor).

1.2 Dasar Teori

1.2.1 KalibrasiKalibrasi merupakan perbandingan kinerja instrumen dengan suatu standar akurat telah spakati. Kalibrasi menjamin bahwa pengukuran yang akurat dan dalam batas spesifikasi yang disyaratkan dari instrumen proses. Kalibrasi secara singkat dapat digambarkan sebagai suatu aktivitas pengujian instrumen dengan cara membandingkan hasil penunjukkan instrument tersebut dengan nilai/referensi yang telah diketahui. Referensi merupakan nilai acuan /nilai pembanding yang standarnya sudah ditetapkan. Alasan utama untuk kalibrasi adalah bahwa instrumen yang paling baik pun juga mengalami drift serta akan kehilangan kemampuan untuk memberikan pengukuran yang akurat.Sumber-sumber yang mempengaruhi hasil kalibrasi: ProsedurKalibrasi harus dilakukan sesuai dengan prosedur standar yang telah diakui. Kesalahan pemahaman prosedur akan membuahkan hasil yang kurang benar dan tidak dapat dipercaya. Pengesetan sistem harus teliti sesuai dengan aturan pemakaian alat, agar kesalahan dapat dihindari. Kalibrator Kalibrator harus mampu telusur ke standar Nasional dan atau Internasional. Tanpa memiliki ketelusuran, hasil kalibrasi tidak akan diakui oleh pihak lain. Demikian pula ketelitian, kecermatan dan kestabilan kalibrator harus setingkat lebih baik dari pada alat yang dikalibrasi. Tenaga pengkalibrasiTenaga pengkalibrasi harus memiliki keahlian dan keterampilan yang memadai, karena hasil kalibrasi sangat tergantung kepadanya. Kemampuan mengoperasikan alat dan kemampuan visualnya, umumnya sangat diperlukan, terutama untuk menghindari kesalahan yang disebabkan oleh penalaran posisi skala. Periode kalibrasiPeriode kalibrasi adalah selang waktu antara satu kalibrasi suatu alat ukur dengan kalibrasi berikutnya. Periode kalibrasi tergantung pada beberapa faktor antara lain pada kualitas metrologis alat ukur tersebut, frekuensi pemakaian, pemeliharaan atau penyimpanan dan tiingkat ketelitiannya. Periode kalibrasi dapat ditetapkan berdasarkan lamanya pemakaian alat, waktu kalender atau gabungan dari keduanya. Lingkungan Lingkungan dapat menyebabkan pengaruh yang sangat besar terhadap kalibrasi terutama untuk mengkalibrasi kalibrator. Misalnya kondisi suhu, kelembaban, getaran mekanik medan listrik, medan magnetik, medan elektromagnetik, tingkat penerangan dan sebagainya. Alat yang dikalibrasiAlat yang dikalibrasi harus dalam keadaan maksimal, artinya dalam kondisi jalan dengan baik, stabil dan tidak terdapat kerusakan yang mengganggu.

1.2.2 Pengertian KonversiKonversi memiliki pengertian bahwa untuk mengetahui sejauh mana reaksi telah berlangsung atau untuk mengetahui jumlah mol hasil untuk setiap penggunaan mol salah satu pereaksi atau basis.Secara rumus dinyatakan:

Xa =

1.2.3 Dasar Definisi Kecepatan ReaksiUntuk menyatakan cepat lambatnya suatu reaksi kimia perlu adanya suatu konsep kecepatan reaksi. Kecepatan reaksi dapat didefenisikan sebagai banyaknya mol zat per liter (gas maupun larutan) yang berubah menjadi zat lain dalam satuan waktu.

1.2.4 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan ReaksiKecepatan reaksi kimia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :1. KonsentrasiReaksi kimia akan berlangsung lebih cepat jika konsentrasi yang bereaksi lebih besar. Semakin besar konsentrasi, maka semakin banyak partikel zat sehingga semakin banyak terjadi tumbukan.2. Luas permukaanSemakin luas permukaan sentuhan zat bereaksi, maka semakin besar frekuensi tumbukan yang terjadi sehingga reaksi semakin cepat.3. SuhuDengan kenaikan suhu, energi kinetik molekul zat yang bereaksi bertambah sehingga reaksi akan semakin cepat.1.2.5 Bentuk-Bentuk Persamaan Kecepatan ReaksiReaksi yang dilakukan pada reaktor CSTR dilakukan hingga kondisi steady state. Kondisi steady state ini ditandai dengan tidak berubahnya nilai konduktivitas dan suhu yang ada pada reaktor. Kondisi steady state tergantung pada konsentrasi reagen, laju alir, volume reaktor dan suhu reaksi.Kecepatan reaksi dinyatakan dengan persamaan :r = k.a.b ....................... ( 1 )Jika konsentrasi awal A (ao) sama dengan konsentrasi awal B (bo), maka persamaan (1) tersebut dapat disederhanakan menjadi :r = k.a2 ....................... ( 2 )secara umum untuk reaksi order n dapat dituliskan dengan :r = k.an ....................... ( 3 )reaksi order dua pada persamaan (2) dapat dinyatakan dengan hubungan konversi A (Xa) dengan waktu reaksi (t) sebagai berikut :

k.a.t....................... ( 4 )

Pada persamaan (4) dapat diplotkan pada grafik versus t, sehingga diperoleh slope k.a0. Dengan diketahui konsentrasi awal A (a0), maka nilai konstanta kecepatan (k) dapat dihitung.

1.2.6 Menentukan Konsentrasi awal NaOH dan CH3COOC2H5 Masuk ReaktorKonsentrasi NaOH mula-mula dalam reaktor (a0) :a0 = ................................................. ( 5 )konsentrasi Etil asetat mula-mula dalam reaktor (b0) :b0 = ..................................................( 6 )Dengan ; Fa= laju alir volum NaOH (ml/menit) Fb= laju alir volum Etil asetat (ml/menit) = konsentrasi NaOH dalam tangki umpan (mol/L) = konsentrasi Etil asetat dalam tangki umpan (mol/L)

1.2.7Perhitungan konversi reaksiPerhitungan konversi reaksi dari NaOH (Xa) menggunakan persamaan berikut ini:................................................. ( 7 )Dengan a0 = konsentrasi awal NaOH masuk reaktor (mol/liter)a1 = konsentrasi NaOH keluar reaktor (mol/liter)Konsentrasi NaOH keluar reaktor dapat ditentukan dengan metode titrasi asam-basa.

1.2.8 Perhitungan Konstanta Laju SpesifikKonstanta laju spesifik (k), dapat dihitung dari neraca massa Natrium hidroksida. Persamaan umum neraca massa untuk reaktor dapat ditulis sebagai berikut :Input Output yang bereaksi = Akumulasi ................................................. ( 8 )Karena reaksinya orde dua dan prosesnya steady state maka persamaan yang berlaku pada reaktor CSTR adalah sebagai berikut: ................................................. ( 9 )Dari persamaan (9) setelah diintegralkan dapat dibentuk persamaan berikut: ......................................... ..... ( 10 )Dari persamaan (10) dapat digunakan untuk menghitung konstanta kecepatan reaksi saponifikasi pada reaktor CSTR, dengan F adalah laju alir volum total (Fa + Fb) dan V adalah volume reaktor.

BAB IIMETODOLOGI PERCOBAAN

2.1. Alat dan Bahana. Alat:1. Reaktor CSTR dengan kelengkapan2. Stopwatch3. Gelas ukur4. Labu ukur5. Beaker glass6. Corong7. Neraca digital8. Buret + statif9. Erlenmeyer10. Batang pengaduk11. Pipet tetes

b. Bahan:1. Etil asetat2. NaOH 3. Aquadest4. HCL 0,03 N5. Indikator PP

2.2. Prosedur Percobaan2.2.1 Persiapan Percobaan1. Kalibrasi Pompa Feeda) Mengisi kedua tangki feed reagen dengan air hingga penuhb) Menghidupkan pompa 1 dengan set kontrol kecepatan 8c) Menampung air yang terpompa keluar dengan gelas ukur pada periode waktu 1 menit.d) Mengukur volume air yang keluare) Mengulang kembali percobaan di atas dengan set kontrol kecepatan 9, 10 dan 11f) Membuat grafik hubungan antara flowrate vs speed settingg) Melakukan kalibrasi pada pompa 2 dengan menggunakan set kontrol kecepatan yang sama seperti pada pompa 1.

2. Pembuatan Larutan UmpanPembuatan larutan NaOH dan etil asetat masing-masing dibuat sebanyak 5 liter dengan konsentrasi 0,05 M. Untuk larutan NaOH ini dititrasi dengan larutan HCl 0,01 N.

2.2.2 Pelaksanaan Percobaana. Larutan NaOH dan Etil asetat yang telah dibuat dimasukkan ke dalam tangki reaktan sampai kira-kira 5 cm dari batas atas tutup tangki reaktan.b. Kecepatan pompa disetting yang besarnya kecepatan didapatkan dari persamaan yang diperoleh dari kalibrasi masing-masing pompa untuk menghasilkan laju alir 20 ml/menitc. Pengatur suhu diatur pada suhu 30oCd. Konduktivitas hasil reaksi dicatat setiap 2 menit hingga diperoleh nilai konduktivitasnya stabil (steady state).e. Setelah konduktivitas stabil, produk diambil sebanyak 20 ml.f. Tiap 10 ml larutan produk ditambah dengan indikator pp sebanyak 3 tetes hingga diperoleh warna larutan ungu muda.g. Larutan dititrasi dengan HCl 0,03 N hingga larutan berubah warna seperti semula.h. Percobaan diulangi dengan setting laju alir pompa 40 ml/meniti. Jika percobaan telah selesai, alat dibersihkan.

2.3 Gambar dan Keterangan Alat (Reaktor CSTR dan Kelengkapannya)

Gambar 2.1. Reaktor CSTR dan kelengkapannya

Alat ini terdiri dari beberapa bagian : Tangki Reaktan (2)Tangki reaktan ini terdiri dari dua buah dengan kapasitas volume masing-masing 5 liter. Pada bagian bawah tangki dilengkapi dengan drain valve yang berfungsi untuk mengosongkan tangki. Pompa UmpanTipe pompa paristaltik dengan kemampuan pada range 0-95 ml per menit. Operasi normal dilakukan dengan switch toggle (16) pada posisi manual. Untuk pengaturan kecepatan pompa dapat diatur dengan memutar potensiometer. Sirkulator Air PanasSirkulator air panas ini digunakan, jika reaktor dioperasikan di atas temperatur kamar. Air dipanaskan dengan elemen pemanas dalam sirkulator, dipompa dengan pompa sirkulasi yang terletak dalam sirkulator. Air dikembalikan ke priming vessel (21) setelah dipanaskan. Sistem sirkulasi dioperasikan pada tekanan sub-atmosfherik untuk meningkatkan keamanan. Priming vessel ini digunakan untuk mengisi awal sirkulator dan reactor serta untuk menghembuskan udara. Kontrol Temperatur AutomatisKontrol temperatur dijalankan dengan sirkulasi pemanas atau pendingin air melalui coil yang terletak dalam reaktor CSTR. Sensor temperatur (13) dirancang dalam reaktor yang berhubungan dengan pengontrol temperatur otomatis. Temperatur proses diset dengan menekan tombol (23) bersamaan dengan tombol (24), jika untuk menaikkan temperatur. Sedangkan untuk menurunkan temperatur dengan menekan tombol (23) bersamaan dengan tombol (25). Untuk menghidupkan sirkulator dengan cara menekan switch toggle (26) pada posisi 1. Pengukur KonduktivitasKonduktivitas ditunjukkan pada monitor (27) dalam satuan milliSiemen. Selama bereaksi, konduktivitas dari larutan berubah. Dari data ini dapat digunakan untuk menentukan tingkat konversi dan kecepatan konversi.

2.4 Perhitungan/Analisis2.4.1 Data-data yang dicatat1. Laju alir NaOH (Fa), L/s2. Laju alir CH3COOC2H5 (Fb), L/s3. Konsentrasi NaOH dalam tangki (a), mol/L4. Konsentrasi CH3COOC2H5 dalam tangki (b), mol/L5. Temperatur reaktor (T), K6. Volume reaktor (V) : 0,4 L2.4.2 Data-data yang dihitung1. Konsentrasi NaOH dalam umpan campuran (ao), mol/L2. Konsentrasi CH3COOC2H5 dalam umpan campuran (bo), mol/L3. Konversi NaOH (Xa)4. Konstanta laju spesifik (k)2.5

BAB IIIHASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Kalibrasi Pompa

Percobaan kalibrasi pompa dilakukan dengan mengalirkan air menggunakan speed pompa 8, 9, 10 dan 11 (untuk masing-masing pompa 1 dan 2), kemudian menampung air yang keluar dari reaktor CSTR dengan gelas ukur selama 1 menit. Hasil pengukuran laju alir air pada masing-masing pompa dapat dilihat pada Tabel 3.11, sedangkan grafik hubungan antara speed pompa terhadap laju alir air pada masing-masing pompa disajikan pada Gambar 3.1.

Tabel 3.1. Data hubungan antara speed pompa dengan laju alir air pada pompa 1 dan pompa 2Speed pompaLaju alir air pada pompa 1( ml/menit )Laju alir air pada pompa 2( ml/menit )

8910113146527022385062

Gambar 3.1. Hubungan antara speed pompa dengan laju alir air pada pompa 1 dan 2.Berdasarkan Tabel 3.1 dan Gambar 3.1 dapat dilihat bahwa semakin besar speed setting pompa yang digunakan, baik pada pompa 1 maupun pompa 2, maka laju alir yang diperoleh akan semakin besar pula. Hal ini disebabkan oleh volume air yang ditampung pada gelas ukur semakin banyak dalam jangka waktu yang sama, yaitu 1 menit. Dengan bertambahnya volume air dalam jangka waktu yang sama berarti laju alirnya semakin cepat. Gambar 3.1 menunjukkan bahwa untuk speed pompa yang sama, laju alir air pada pompa 1 lebih besar dibandingkan laju alir air pada pompa 2. Perbedaan ini bisa jadi dikarenakan spesifikasi pompa yang digunakan berbeda, sehingga mempengaruhi kinerja dari pompa tersebut.Berdasarkan hasil kalibrasi pompa tersebut, diperoleh persamaan pada pompa 1 yaitu y = 12,3x 67,1; R = 0,968 dan pompa 2 yaitu y = 13,2x 82,4 ; R2 = 0,994. Berdasarkan persamaan yang diperoleh, maka dapat ditentukan speed setting yang akan digunakan untuk memperoleh variasi laju alir yang diinginkan yaitu 20 dan 40 ml/menit.

3.2. Menentukan kondisi steady statePercobaan ini dilakukan dengan mengalirkan NaOH menggunakan pompa 1 dan etil asetat menggunakan pompa 2 ke dalam reaktor CSTR hingga didapat kondisi steady state. Kondisi steady state ditandai dengan konstannya konduktivitas reaksi yang terbaca pada alat. Penghitungan konduktivitas dilakukan setiap selang waktu 2 menit. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi steady state dan konduktivitas reaksi selama mencapai kondisi steady state dicatat. Konduktivitas reaksi pada saat steady state untuk flow pompa 20 dan 40 ml/menit disajikan pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2. Konduktivitas reaksi pada saat steady state untuk flow pompa 20 dan 40 ml/menit.

Konduktivitas merupakan kemampuan suatu bahan (larutan, gas atau logam) untuk menghantarkan listrik. Dalam suatu larutan, arus listrik timbul karena adanya pergerakan kation-kation dan anion-anion. Semakin besar konsentrasi suatu larutan, maka semakin banyak ion-ion yang terkandung di dalamnya, sehingga konduktivitas larutan semakin meningkat.Berdasarkan Gambar 3.2 dapat dilihat bahwa semakin besar laju alir, maka semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh konduktivitas pada kondisi steady state. Hal ini disebabkan karena semakin besar laju alir, maka kecepatan putar pompa untuk pereaksian larutan semakin cepat dan berlangsung sempurna sehingga lebih cepat untuk memperoleh kondisi steady state. Pada laju alir 20 ml/menit waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi steady state yaitu selama 38 menit, sedangkan pada laju alir 40 ml/menit waktu yang dibutuhkan yaitu hanya 26 menit.

3.3. Konstanta Kecepatan ReaksiPercobaan reaksi saponifikasi NaOH dengan CH3COOC2H5 ini dilakukan dengan memvariasikan laju alir. Konsentrasi NaOH yang keluar reaktor diperoleh dari hasil titrasi dengan HCl 0,03 N. Perbandingan antara laju alir dengan konstanta kecepatan reaksi dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3 Hubungan antara laju alir dengan konstanta kecepatan reaksi

Berdasarkan Gambar 3.3 dapat dilihat bahwa semakin besar laju alir maka konstanta kecepatan reaksi yang diperoleh mengalami peningkatan, dimana pada laju alir 20 ml/menit harga k yang didapat sebesar 0,272 L/det.mol, sedangkan pada laju alir 40 ml/menit harga k yang didapat sebesar 0,307 L/det.mol. Peningkatan laju alir mengakibatkan terjadinya peningkatan frekuensi tumbukan antarpartikel dalam larutan, hal ini tentu saja akan mempercepat terjadinya reaksi sehingga kecepatan reaksinyapin semakin meningkat.

BAB IVKESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan1. Semakin besar speed pompa, maka laju alir yang diperoleh juga akan semakin besar.2. Semakin besar laju alir, maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi steady state. Pada flow pompa 20 ml/menit, kondisi steady state didapat pada menit ke-38 dengan konduktivitas sebesar 2,28 mS, sedangkan pada flow pompa 40 ml/menit, kondisi steady state didapat pada menit ke-26 dengan konduktivitas sebesar 2,69 mS.3. Semakin besar laju alir, konstanta kecepatan reaksi yang diperoleh juga akan semakin besar. Pada flow pompa 20 ml/menit, konstanta kecepatan reaksi didapat sebesar 0,272 L/det.mol, sedangkan pada flow pompa 40 ml/menit, konstanta kecepatan reaksi didapat sebesar 0,307 L/det.mol.

4.2 Saran1. Praktikan harus teliti dalam membuat larutan umpan, kesalahan dalam pembuatan larutan akan berpengaruh terhadap hasil titrasi dan pengukuran konduktivitas.2. Pastikan bahwa alat yang digunakan berada dalam kondisi operasi yang baik, jika ada kebocoran selang segera laporkan kepada teknisi untuk ditindaklanjuti.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Teknik Reaksi Kimia. Pekanbaru : Program Studi D-III Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau.

LAMPIRAN APERHITUNGAN

A. Pembuatan Larutan Umpan1. NaOH 0,03 M sebanyak 5 Liter.

Massa= 6 gramSebanyak 6 gram NaOH dilarutkan kedalam 5 Liter aquadest.

2. Etil asetat 0,03 M sebanyak 5 Liter. M = 0,03 M = Vacetat = 14,7 mlSebanyak 14,7 ml Etil asetat dicampurkan ke dalam 5 Liter aquadest.

3. HCL 0,03 N sebanyak 500 mlV1. N1 = V2 . N2

Jadi HCl sebanyak 1,5 ml diencerkan kedalam 500 ml aquadest.

B. Konversi NaOH berdasarkan pengukuran titrasi Flow pompa = 20 ml/menitLaju alir NaOH (Fa) = 0,000333 L/s (speed pompa = 7,1) dan laju alir Etil asetat (Fb) = 0,000333 L/s (speed pompa = 7,8), maka nilai konversinya :

Ft = Fa + Fb= (0,000333 + 0,000333) L/s= 0,000666 L/sKonsentrasi awal NaOH dalam reaktor (a0) :a0= x a = x 0,03 mol/L= 0,015 mol/LKarena Fa = Fb, maka a0 = b0

a1 = konsentrasi NaOH keluar reaktor (diperoleh setelah dititrasi dengan HCl 0,03 N)

V1 N1 = V2 N2 x 0,03 N = 10 ml x N2 N2= 0,00435 N

a1 = 0,00435 mol/L xa = = = 0,71

Konstanta laju spesifik (k) :k= = = 0,272 L/det.mol Flow pompa = 40 ml/menitLaju alir NaOH (Fa) = 0,000667 L/s (speed pompa = 8,7) dan laju alir Etil asetat (Fb) = 0,000667 L/s (speed pompa = 9,3), maka nilai konversinya : Ft = Fa + Fb= (0,000667 + 0,000667) L/s= 0,001334 L/sKonsentrasi awal NaOH dalam reaktor (a0) :a0= x a = x 0,03 mol/L= 0,015 mol/LKarena Fa = Fb, maka a0 = b0

a1 = konsentrasi NaOH keluar reaktor (diperoleh setelah dititrasi dengan HCl 0,03 N)

V1 N1 = V2 N2 x 0,03 N = 10 ml x N2 N2= 0,0063 N

a1 = 0,0063 mol/L xa = = = 0,58Konstanta laju spesifik (k) :k= = = 0,307 L/det.mol

LAMPIRAN BLAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum: Kinetika Reaksi Safonifikasi pada Reaktor CSTRHari/Tanggal Praktikum: Senin/7 Oktober 2013Pembimbing: Prof. Dr. Syaiful Bahri., M.SiAsisten Laboratorium: Deslia Prima SNama Kelompok II: Rita Puriani Mendrova (1107035609) Ryan Tito (1107021186) Yakub Jeffery Silaen (1107036648)Hasil Percobaan:

B.1 Kalibrasi Pompa Feed

Tabel B.1 Data hasil percobaan kalibrasi pompa 1 dan 2Speed pompaLaju alir air pada pompa 1( ml/menit )Laju alir air pada pompa 2( ml/menit )

8910113146527022385062

B.2 Pembuatan Larutan Umpan

1. NaOH 0,03 M sebanyak 5 Liter.

Massa= 6 gramSebanyak 6 gram NaOH dilarutkan ke dalam 5 Liter aquadest.

2. Etil asetat 0,03 M sebanyak 5 Liter. M = 0,03 M = Vacetat = 14,7 mlSebanyak 14,7 ml Etil asetat dicampurkan ke dalam 5 Liter aquadest.

Untuk menentukan konsentrasi NaOH yang keluar dari reaktor, dapat dilakukan dengan titrasi menggunakan HCl. HCl yang tersedia yaitu 10 N, maka untuk membuat larutan HCl 0,03 N dilakukan proses pengenceran :V1. N1 = V2 . N2

Jadi HCl sebanyak 1,5 ml diencerkan kedalam 500 ml aquadest.

B.3 Penentuan kondisi steady state (konduktivitas dan titrasi)1. Flow pompa = 20 ml/menit Kecepatan alir dari NaOH (Fa)= 20 ml/menit = 0,000333 L/s Kecepatan alir CH3COOC2H5 (Fb)= 20 ml/menit = 0,000333 L/s Konsentrasi NaOH dalam tangki (a)= 0,03 mol/L Konsentrasi CH3COOC2H5 dalam tangki (b)= 0,03 mol/L Speed pompa NaOH= 7,1 Speed pompa CH3COOC2H5= 7,8 Temperatur pada saat steady state = 31,2 oC

Tabel B.2 Data hasil pengukuran konduktivitas pada keadaan steady-state untuk flow pompa 20 ml/menit.Waktu (menit)Konduktivitas (mS)

02,50

22,50

42,48

62,47

82,45

102,43

122,42

142,40

162,38

182,36

202,35

222,34

242,32

262,32

282,30

302,29

322,29

342,28

362,28

382,28

Kondisi steady state percobaan didapat pada menit ke-38 dengan konduktivitas sebesar 2,28 mS.

Tabel B.3 Produk diambil 20 ml lalu dititrasi tiap 10 ml dengan HCl 0,03 N.Volume Produk (ml)Volume HCl 0,03 Nyang terpakai (ml)

10101,51,4

2. Flow pompa = 40 ml/menit Kecepatan alir dari NaOH (Fa)= 40 ml/menit = 0,000667 L/s Kecepatan alir CH3COOC2H5 (Fb)= 40 ml/menit = 0,000667 L/s Konsentrasi NaOH dalam tangki (a)= 0,03 mol/L Konsentrasi CH3COOC2H5 dalam tangki (b)= 0,03 mol/L Speed pompa NaOH= 8,7 Speed pompa CH3COOC2H5= 9,3 Temperatur pada saat steady state = 31,6 oC

Tabel B.4 Data hasil pengukuran konduktivitas pada keadaan steady-state untuk flow pompa 40 ml/menit.Waktu (menit)Konduktivitas (mS)

02,70

22,81

42,85

62,84

82,83

102,81

122,78

142,76

162,73

182,71

202,70

222,69

242,69

262,69

Kondisi steady state percobaan didapat pada menit ke-26 dengan konduktivitas sebesar 2,69 mS.

Tabel B.5 Produk diambil 20 ml lalu dititrasi tiap 10 ml dengan HCl 0,03 N.Volume Produk (ml)Volume HCl 0,03 N yang terpakai(ml)

10102,12,1

Pekanbaru, 7 Oktober 2013 Asisten Laboratorium,

Deslia Prima S