Kim (2) LEMAK

of 27 /27
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lemak dan minyak termasuk dalam salah satu golongan lipid, yaitu lipid netral. Lemak dan minyak dapat di komsumsi (edible fat) dan sumbernya dapat berasal dari hewani dan nabati. Lemak dan minyak nabati merupakan lemak dan minyak yang bersal dari tumbuh-tumbuhan sedangkan lemak dan minyak hewani berasal dari hewan. Lemak dalam tubuh berfungsi sebagai sumber energi dan cadangan makanan. Lemak merupakan bahan makanan yang kaya energi. Lemak yang pada suhu kamar berupa cairan, lazim disebut minyak. Minyak biasanya berasal dari tumbuhan seperti minyak kelapa, minayak jagung dan minyak zaitun. Wujud lemak berkaitan dengan asam lemak pembentukannya. Lemak yang berbentutk cair (minyak) banyak mengandung asam lemak tak jenuh. Sedangkan lemak yang berbentuk padat lebih banyak mengandung asam lemak jenuh. Asam lemak jenuh mempunyai titik cair yang lebih tinggi dari pada asam lemak tak jenuh. Lemak dan minyak memiliki sifat kelarutan yang sama, yaitu nonpolar. Namun untuk mengetahuinya serta mengetahui beberapa reaksi lainnya seperti asam lemak bebas dan reaksi penyabunan, maka harus dilakukan satu percobaan, oleh karena itu mengapa dilakukan percobaan ini. 1.2 Tujuan Percobaan Mengetahui kelarutan atau daya larut dari minyak maupun lemak

Transcript of Kim (2) LEMAK

Page 1: Kim (2) LEMAK

BAB 1

PENDAHULUAN1.1  Latar Belakang

Lemak dan minyak termasuk dalam salah satu golongan lipid, yaitu lipid netral. Lemak

dan minyak dapat di komsumsi (edible fat) dan sumbernya dapat berasal dari hewani dan

nabati. Lemak dan minyak nabati merupakan lemak dan minyak yang bersal dari tumbuh-

tumbuhan sedangkan lemak dan minyak hewani berasal dari hewan.

Lemak dalam tubuh berfungsi sebagai sumber energi dan cadangan makanan. Lemak

merupakan bahan makanan yang kaya energi. Lemak yang pada suhu kamar berupa cairan,

lazim disebut minyak. Minyak biasanya berasal dari tumbuhan seperti minyak kelapa,

minayak jagung dan minyak zaitun.

Wujud lemak berkaitan dengan asam lemak pembentukannya. Lemak yang berbentutk

cair (minyak) banyak mengandung asam lemak tak jenuh. Sedangkan lemak yang berbentuk

padat lebih banyak mengandung asam lemak jenuh. Asam lemak jenuh mempunyai titik cair

yang lebih tinggi dari pada asam lemak tak jenuh. Lemak dan minyak memiliki sifat

kelarutan yang sama, yaitu nonpolar. Namun untuk mengetahuinya serta mengetahui

beberapa reaksi lainnya seperti asam lemak bebas dan reaksi penyabunan, maka harus

dilakukan satu percobaan, oleh karena itu mengapa dilakukan percobaan ini.

1.2  Tujuan Percobaan

        Mengetahui kelarutan atau daya larut dari minyak maupun lemak

        Mengetahui adanya asam lemak bebas

        Mengetahui reaksi penyabunan dari lemak dan minyak

1.3  Prinsip Percobaan

1.3.1        Uji kelarutan

Prinsip percobaan ini menggunakan prinsip ”like dissolve like”, dimana minyak dan

lemak yang bersifat nonpolar akan larut dengan sempurna pada larutan nonpolar pelarut

organik, misalnya dietil eter dan tidak larut pada pelarut polar, misalnya air. Sedangkan pada

etanol, minyak dan lemak dapat menyatu atau larut walaupun tidak secara sempurna. Karena

etanol bersifat semipolar, sehingga dapat larut pada larutan yang bersifat nonpolar dan polar.

Page 2: Kim (2) LEMAK

1.3.2        Uji Penentuan  Asam lemak bebas

Prinsip dari percobaan pada penentuan asam lemak bebas adalah menentukan jumlah ml

NaOH yang diperlukan untuk menetralkan lemak  dalam 8,2 gr minyak goreng dengan

melakukan titrasi dengan sampel minyak goreng pelrut, etanol, n – heksan, indikator pp, dan

titrasi NaOH

1.3.3        Penyabunan

Lemak dan minyak dapat terhidrolisis, lalu menghasilkan asam lemak dan gliserol.

Proses hidrolisis yang disengaja dilakukan dengan penambahan basa kuat, seperti NaOH

molekul pemanasan dan menghasilkan gliserol dan sabun. Proses hidrolisis minyak oleh

alkali disebut reaksi penyabunan atau saponitikasi.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKALemak dan minyak terdapat pada hampir semua bahan dengan kandungan yang

berbeda-beda. Tetapi lemak dan minyak sering kali ditambahkan dengan sengaja ke bahan

makanan dengan berbagi tujuan. Dalam pengolahan tahan pangan, minyaka dan lemak

berfungsi sebagai media penghatar panas, sepeti minyak goreng, shortening (mentega putih),

lemak (gajih), mentega dan magarin. Disamping itu penambahan lemak juga dimaksudkan

untuk menembah kalori serta memperbaiki tekstur dan cita rasa pangan.

Lemak hewani mengandung banyak steral yang disebut kolestrol, sedangkan lemak

nabati mengandung fitosterol dan mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh sehingga

umumnya berbentuk cair. Lemak nabati yang berbentuk cair dapat dibedakan atas tiga

Page 3: Kim (2) LEMAK

golongan yaitu: (a) drying oil yang akan membentuk lapisan keras bila mengering diudara,

misalnya minyak yang digunakan untuk cat dan pernis; (b) semi drying oil seperti minyak

jagung, minyak biji kapas, dan minyak bunga matahari ; dan (c) non drying oil, misalnya

minyak kelapa dan minyak kacang tanah. Lemak nabati yang berbentuk padat adalah minyak

coklat dan bagian ”steanin” dari minyak kelapa sawit.

Pembentukan Lemak secara alami

Hampir semua bahan banyak mengandung lemak dan minyak, terutama bahan yang

berasal dari hewan. Proses pembentukan lemak dalam tanaman dapat dibagi menjadi tiga

tahap, yaitu pembentukan gliserol, pembentukan molekul asam lemak, kemudian kondensasi

asam lemak dengan gliserol membentuk lemak.

Sintesis Gliserol

Dalam tanaman terjadi serangkaian reaksi biokimia, pada reaksi ini fruktosa difosfat

diuraikan oleh enzim aldosa menjadi dihidroksi aseton fosfat, kemudian direduksi menjadi x

– gliserolfosfat. Gugus fosfat dihilangkan melalui proses fosfosilasi sehingga akan menjadi

atau terebntuk molekul gliserol

Sintesis Asam Lemak

Asam lemak dapat dibentuk dari senyawa-senyawa yang mengandung karbon seperti

asam asetat, asetatdehida, dan etanol yang merupakan hasil respirasi tanaman. Sintesis asam

lemak dilakukan dalam kondisi anaerob dengan bantuan sejenis bakteri.

                               Clostridyum klyuveriC2H5OH + CH3COOH                                        CH3(CH2)2COOH + 

H2O

Kondensasi Asam Lemak

Pada tahap pembentukan molekul lemak ini terjadi reaksi esterifikasi gliserol dengan

asam lemak yang dikatalisis oleh enzim lipase. Minyak pangan dalam bahan pangan biasanya

diekstraksi dalam keadaan tidak murni dan bercampur dengan komonen-komponen lain yang

disebut fraksi lipida. Fraksi lipida terdiri minyak / lemak (edible fat / oil), makan (wax),

fosfolipida sterol, hidrokarbon dan pigmen.  Dengan cara ekstraksi yang menggunakan

pelarut lemak seperti petroleum, eter, etil eter, benzena dan klorofrom komponen-komponen

fraksi lipida dapat dipisahkan. Lemak kasar (crude fat) tersebut disebut fraksi larut eter.

Untuk membedakan komponen-komponen fraksi lipida dipergunakan NaOH. Minayak /

lemak makan, malam dan fosfolipida dapat disabunkan dengan NaOH, sedangkan sterol,

hidrokarbon dan pigmen adalah fraksi yang tidak tersabunkan.

Pigmen

Page 4: Kim (2) LEMAK

Adanya pigmen menyebabkan lemak berwarna. Warna lemak tergantung dari macam

pigmennya. Adanya karoteroid menyebabkan warna kuning kemerahan. Keroteroid sangat

larut dalam minyak dan merupakan hidrokarbon, dengan banyak ikatan tak jenuh. Bila

minyak di hidrogensi maka akan terjadi hidrogenasi karoteroid dan warna merah akan

berkurang. Selain itu, perlakuan pemanasan juga akan mengurangi warna pigmen, karena

karoteroid tidak stabil pada suhu tinggi. Pigmen ini mudah terosidasi sehingga minyak akan

mudah tengik. Cara menghilangkan pigmen biasanya dilakukan dengan adsorben seperti

arang aktif dan beching earth.

Asam Lemak

Asam- asam lemak yang ditemukan dialam, biasanya merupakan asam-asam

monokarboksilat dengan rantai yang tidak bercabang dan mempunyai jumlah atom karbon

genap. Asam-asam lemak yang ditemukan di alam dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu

asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam-asam lemak tidak jenuh berbeda dalam

jumlah dan posisi ikatan rangkapnya, dan berbeda dengan asam lemak jenuh dalam bentuk

molekul keseluruhannya. Asam lemak tak jenuh biasanya terdapat dalam bentuk cis. Karena

itu molekul akan bengkok pada ikatan rangkap, walaupun ada juga asam lemak tidak jenuh

dalam bentuk trans.

Komposisi dan Sifat

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, lemak dan minyak termasuk dalam sekelompok

senyawa yang disebut lipida, yang pada umumnya mempunyai sifat sama yaitu tidak larut

dalam air. Dalam penanganan dan pengolahan bahan pangan, perhatian lebih banyak

ditujukan pada suatu bagian dari lipida, yaitu trigliserida dan natural fat. Pada umunya untuk

pengertian sehari-hari lemak merupakan bahan padat dalam suhu kamar, tetapi keduanya

terdiri dari molekul-molekul trigliserida.

Lemak merupakan bahan padat pada suhu kamar, diantaranya disebabkan kandunganya

yang tinggi akan asam lemak jenuh yang secara kimia tidak mengandung ikatan rangkap,

sehingga mempunyai titik lebur yang lebih tinggi. Contoh asam lemak jenuh yang banyak

terdapat dialam adalah asam palmitat dan asam stearat. Minyak merupakan bahan cair

diantaranya disebabkan rendahnya kandungan asam lemak jenuh dan tingginya kandungan

asam lemak yang tidak jenuh, yang memiliki satu atau lebih ikatan rangkap diantara atom-

atom karbonnya, sehingga mempunyai titik lebur yang rendah. (Winarno, 2002)

Asam lemak dan triasilgliserol

Struktur

Page 5: Kim (2) LEMAK

Asam lemak terdiri dari gugus asam karboksilat yang terikat pada rantai hidrokarbon

panjang. Bila rantai ini tidak mengandung ikatan rangkap, ikatan tersebut dinyatakan jenuh,

sedangkan bila rantai tersebut mempunyai ikatan rangkap, struktur tersebut dikatakan tidak

jenuh. Triasilgliserol, yang merupakan ester asam lemak dan gliserol, adalah suatu bentuk

tempat energi diubah untuk penyimpanan waktu lama dalam sel lemak.dengan demikian,

lemak tidak jenuh (minyak tumbuhan) adalah triasilgliserol yang mempunyai rantai

hidrokarbon asam lemak tidak jenuh. Semua ikatan rangkap duanya berbentuk cis dan

umumnya tidak berikanjugasi. Lemak jenuh atau lemak binatang dihubungkan dengan

timbulnya penyakit jantung. Lemak digunakan sebagai tempat penyimpanan karena tiap

gramnya membebaskan energi lebih dari dua kali lipat dibandingkan karbonhidrat. Perbedaan

ini terjadi karena besarnya jumlah ikatan C – H dalam lemak setiap molekulnya (dan karena

hidrasi yang lebih sedikit per gramnya) . Pada suhu ruang, lemak jenuh biasanya berbentuk

padat (misalnya mentega), sedangkan lemak tak jenuh biasanya cair (misalnya minyak

jagung)

Saponifikasi

Saponifikasi melibatkan hidrolisis ikatan ester gliserida, yang menghasilkan

pembebasan asam lemak dalam bentuk garam dan gliserol. Garam dari asam lemak berantai

panjang adalah sabun. Asam lemak berantai panjang mempunyai gugus hidrofobik (tidak

menyukai air) berantai panjang. Pada konsentrasi tertentu dalam pelarut air, asam lemak ini

membentuk misel. Misel merupakan struktur bulat yang terdiri dari ratusan molekul garam

asam lemak. Misel tersusun dengan gugus polar dari garam asam lemak disebelah luar dan

rantai hidrofobik yang tertanam disebelah dalam, jauh dari air. Struktur misel menjelaskan

bagaimana sabun bekerja. Misel memerangkap kotoran dan lemak (yang hidrofobik) dipusat

misel. Misel dapat larut dalam air karena permukaan misel mengandung gugus kaboksilat

yang polar. Jadi, misel dapat terbasuh oleh air sambil membawa kotoran dan lemak. (Hanold,

1983)

Sifat-sifat fisikokimia lemak dan minyak berbeda satu sama lain, tegantung pada

sumbernya. Secara umum, bentuk triasilgliseridalemak dan minyak sama, tetapi wujudnya

berbeda. Dalam pengeritan pengertian sehari-hari, disebut lemak jika berbentuk padat pada

suhu kamar dan minyak berbentuk cair pada suhu kamar. Trigliseral dapat berbentuk padat

atau cair berhubungan dengan asam lemak penyusunnya. Minyak nabati sebagian besar

berbentuk cair, karena mengandung sejumlah asam lemak tidak jenuh seperti asam oleat

(C17H33COOH), asam linoleat (C17H31COOH) dan asam linolenat (C17H29COOH). Asam-asam

lemak termasuk asam lemak esensial yang dapat mencegah timbulnya gejala asterios clerosis

Page 6: Kim (2) LEMAK

karena penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan kolestrol. Sebaliknya asam lemak

hewani umumnya pada suhu kamar berbentuk padat karena banyak mengandung asam lemak

jenuh seperti asam stearat (C17H35COOH) dan asam palmitat (C15H31COOH).

Asam lemak jenuh memilki titik lebur lebih tinggi dibandingkan asam lemak tidak

jenuh. Lemak dan minyak dapat mengalami ketengikan (racidity), karena dapat terhidrolisis

dan teroksidasi bila dibiarkan terlalu lama kontak dengan udara. Pada proses hidrolisis, lemak

atau minyak akan diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisis dapat

mengakibatkan kerusakan pada lemak atau minyak karena terdapat sejumlah air didalamnya,

sehingga menimbulkan bau tengik. Reaksi demikian dikatalis oleh asam, basa atau enzim

tertentu seperti enzim lipase.

Lemak dan minyak yang teroksidasi akan membentuk peroksida dan hidroperoksida

yang dapat terurai menjadi aldehida, keton dan asam-asam lemak bebas. Hasil oksidasi tidak

hanya mengakibatkan rasa dan bau yang tak enak, tetapi dapat pula menurunkan nilai gizi

karena kerusakan vitamin dan asam-asam lemak esensial dalam bentuk lemak. Rrreaksi

oksidasi dipercepat dengan adanya cahaya, pemansan, atau katalis logam seperti Cu, Fe, Co

dan Mn. Lemak dan minyak yang sangat tengik mempunyai keasaman yang rendah. Proses

ketengikan dapat dihambat salah satunya dengan penambahan zat antioksidan seperti vitamin

E, vitamin C, politenol, dan hidroquinon. (Yasid, 2006)

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

        Panci

        Tiang statif

        Tabung reaksi

        Corona kaca

        Gelas ukur

        Labu alas bulat

        Neraca analitik

        Erlenmeyer

Page 7: Kim (2) LEMAK

        Beaker glass

        Rak tabung reaksi

        Ember

        Selang

        Sendok

        Sumbat gabus

        Pipet tetes

        Gelas kimia

        Alat titrasi

        Kondensor

        Hot plate

        Labu stahl

        Batang pengaduk

        Magnetic steller

        Neraca ohaus

3.1.2 Bahan

        Minyak goreng

        Aquadest

        Etanol 95%

        Dietil eter

        N – heksan

        Indikator pp

        NaOH 0,02 M

        Mentega

        Garam H2SO4 6 tetes

        Garam dapur

        Es batu

        Alkohol

3.2 Prosedur Percobaan

            Uji Kelarutan / Daya Larut

        Dimasukkan minyak sebanyak 10 ml ditambah dengan 10 ml aquadest ke dalam gelas kimia

        Diaduk atau digoyang gelas kimia tadi

        Diamati reaksi yang terjadi

Page 8: Kim (2) LEMAK

        Dicatat

        Dimasukkan minyak sebanyak 10 ml kedalam beaker glass

        Ditambahkan 5 ml dietil eter

        Dihomogenkan atau diaduk

        Diamati reaksi yang terjadi

        Dicatat

        Dimasukkan 10 ml minyak ke dalam beaker glass

        Ditambahkan 10 ml etanol kedalam beaker glass tadi

        Dicampurkan dan diaduk

         Diamati reaksinya

        Dicatat

Uji Lemak Bebas

        Dipanaskan 10 ml minyak diatas hot plate

        Ditambahkan 15 ml n – heksan

        Diamati

        Ditambah 50 ml etanol

        Diamati perubahan reaksinya

        Ditambahkan 3 tetes indikator pp

        Diamati

        Dititrasi dengan NaOH 0,02 M sebanyak 2,7 ml

Uji Penyabunan

        Diambil 1 gr mentega

        Ditambahkan 20 ml NaOH, dimasukkan ke dalam labu alas bulat yang berisi magnetil steller

        Dipanaskan diatas hot plate dengan metode ekstraksi dan menggunakan kondensor.

        Diambil 1 ml larutan

        Ditambahkan 5 ml aquadest

        Diaduk

        Ditambah 6 tetes H2SO4 setetes demi setetes

        Larutan sisa dimasukkan ke dalam beaker glass

Page 9: Kim (2) LEMAK

        Ditambah 100 ml aquadest

        Diaduk

        Dicampurkan 1 sendok garam dapur (NaCl) ke dalam larutan

        Diaduk sampai ada perubahan

3.3  Flowsheet

1. Uji Kelarutan / Daya larut

10 ml minyak

10 ml aquadest

 

                                    Larutan tidak menyatu / tidak

                                    Larut, berwarna kuning

 

10 ml minyak                                                              10 ml etanol

 

                        Terbentuk 2 fase, minyak berada dibawah

                        Etanol diatas berwarna putih

 

10 ml minyak

10 ml dietil eter

Page 10: Kim (2) LEMAK

                                   

Menyatu 1 fase berwarna

                                            Kuning bening

2. Uji  Asam lemak bebas

                                    10 ml minyak

                                                            Dipanaskan

                                    Jadi lebih cair

                                                            Ditambahkan 15 ml n - heksan

 

                       Muncul gelembung uap cepat hilang

                        Terbentuk1 fase / bercampur

                                                            Ditambah 50 ml etanol 95%

                        Terbentuk 2 fase, minyak

dibawah,

                        Etanol diatas / permukaan berwarna

                        Kuning bening

                                                            Ditambah 3 tetes indikator pp

                        Tidak tejadi perubahan

Page 11: Kim (2) LEMAK

 

                                                           Dititrasi NaOH 0,02 M 2,7 ml

                        Terjadi muncul warna merah

                        Jambu pada V. NaOH 2,7 ml

3. Uji Penyabunan

1 gr mentega                                                              

NaOH 20 ml

 

                                                            Dimasukkan kedalam labu alas bulat

                                                            Dimasukkan magnetic steller

                                                            Disambung pada kondensor

Direftuk selama 1/2 jam

Diamati

Magne

tic steller bergerak berputar-putar secara otomatis sehingga mentega bercampur dengan

NaOH menjadi 1 fase dan berwarna kuning muda

 

Page 12: Kim (2) LEMAK

Aquadest 5 ml                                                                         aquadest 100 ml

                        Diamati                                                                       diamati

Larutan menjadi

larutan sedikit berbusa

Keruh                                                                                      homogen antara larutan                                                                                   

dan aquadest

                        Ditambahkan                                                               ditambahkan 6

                        H2SO4 5 tetes                                                              tetes H2SO4

                        Diamati

diamati

Larutan mengendap                                                             

endapan warna putih

Berwarna putih                                                                    

menandakan adanya sabun

Page 13: Kim (2) LEMAK

BAB 4

HASIL DAN PENGAMATAN4.1 Hasil Pengamatan

                      Perlakuan                      Pengamatan

Uji kelarutan / daya larut

      Minyak sebanyak 10 ml  +  10 ml

aquadest

      Diamati

      10 ml minyak  +  10 ml etanol

      Minyak 10 ml +  5 ml dietil eter

      Diamati

Uji asam lemak bebas

      Dipanaskan 10 ml minyak  + 15 ml n –

heksan

      Diamati

      Ditambah 50 ml ml etanol

      Ditambahkan 3 tetes indikator pp

      Larutan tidak menyatu / tidak larut,

berwarna kuning muda dan

bergelembung

      Terbentuk dua fase (minyak berada di

bawah dan etanol berada diatas), fase

diatas atau etanol berwarna putih

      Keduanya menyatu dan berwarna

kuning bening

      Jadi lebih cair. Muncul gelembung

namun cepat hilang. Menjadi 1 fase /

bercampur.

      Terbentuk 2 fase. Minyak dibawah,

etanol dilapisan atas. Berwarna kuning

bening

      Tidak menjadi perubahan

Page 14: Kim (2) LEMAK

      Diamati

      Dititrasi dengan 2,7 ml NaOH 0,02 M

Uji Penyabunan

      1 gr mentega + 20 ml NaOH

      Dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan

dimasukkan magnitic steller

      Dipanaskan dengan hot plate

menggunakan metode ekstraksi

      1 ml larutan +  5 ml aquadest

      Diaduk

      Ditambah 6 tetes H2SO4 setetes demi

setetes

      Diaduk

      Larutan  + 1 sendok garam dapur (NaCl)

      Diaduk

      Muncul warna merah jambu. Dibagian

tertentu. Tetap terjadi pada minyak

tetapi pada etanol dekat minyak. Bila

dikocok, minyak dan etanol menyatu

warna merah jambuh hilang. Bila

didiamkan warna merah jambu hilang

etanol terpisah.

      Mentega masih padat tidak bercampur

dengan NaOH

      Magnetic steller berputar sehingga

NaOH dan mentega homogen

      Larutan dan aquadest homogen

      Muncul endapan berwarna putih yang

menandakan adanya sabun homogen

antara larutan dan aquadest

      Larutan berubah warna menjadi warna

putih susu berbusa permanen. Garam

yang tidak dapat larut mengendap.

Busa menadakan adanyasabun

4.2 Reaksi

4.2.1 Reaksi Penyabunan

                  O

Page 15: Kim (2) LEMAK

H2C – O – C – C17H35

                O                                           H2C – OH

HC – O – C – C17H35  +  3NaOH         HC – OH + 3Na C17H35COO

                                                              H2C – OH

                  O                                         gliserol

H2C – O – C – C17H35

Glisoril tristearat

4.2.2 Indikator pp dengan NaOH

           

OH                             OH                       

ONa                             O Na - stearat

 

                                                                                      

                              C               + 2NaOH                                C         + 2H2O

 

                                               O

Page 16: Kim (2) LEMAK

                    C                                                                C – ONa

                   O                                                                 O

       H

H – C – O – C – R                               

                     O                                                H2 – C – OH                  O

H – C – O – C – R  +  3NaOH           HC – C – OH  +  NaO – C – R

                     O                                                     H2C – OH

H – C – O – C – R                              gliserol                   sabun

       H 

4.3 Perhitungan

Massa jenis minyak = 0,82  

Massa jenis  = gr/ ml

            0,82 = gr

                       10

            gr  =  8,2

Dik : S = 5,7 ml

         N = 0,02 N

         F = minyak kelapa sawit 25,6

Dit : % ALB

Jawab :

% ALB = S x N x F         x 100%                  Berat contoh

              =  5,7 x 0,02 x 25,6 x 100%                                    8,2

                  = 35, 590%

4.4 Pembahasan

Dari percobaan yang telah dilakukan yaitu dengan melakukan pengujian uji kelarutan /

daya larut, uji asam lemak bebas dan uji penyabunan dapat diketahui bagaimana kelarutan

dari pada lemak didalam dan minyak serta untuk apakah lemak dan minyak dapat

menghasilkan sabun sebelah direaksikan dengan beberapa larutan dan dilakukan dengan

beberapa perlakuan.

Page 17: Kim (2) LEMAK

Pada percobaan uji kelarutan / daya larut, disini digunakan minyak atau lemak cair

sebagai sampel. Pengujian pertama minyak diuji dengan aquadest yang dimasukkan ke dalam

tabung reaksi. Hasilnya minyak dan aquadest tadi tidak bisa menyatu, sehingga dapat

disimpulkan bahwa minyak bersifat nonpolar atau tidak menyatu dengan larutan polar atau

air. Selanjutnya dilakukan pengujian minyak dengan larutan etanol atau alkohol, disini etanol

bersifat semipolar, yaitu dapat bereaksi dengan larutan polar maupun nonpolar. Setelah

minyak direaksikan dengan etanol dapat dilihat reaksinya yaitu terbentuk 2 fase dimana

etanol berada dilapisan atas. Etanol hanya dapat bereaksi / larut sebagian dengan minyak

karena sifat semipolarnya. Reaksi selanjutnya yaitu mereaksikan minyak dengan larutan dietil

eter. Dimana dietil eter bersifat nonpolar, sehingga ketika minyak direaksikan dengan dietil

eter keduanya dapat menyatu atau terbentuk 1 fase, karena sifatnya sama nonpolar sehingga

keduanya dapat bereaksi dengan baik.

Pada percobaan uji asam lemak bebas, masih digunakan minyak sebagai sampel dan

diuji dengan larutan n – heksan, sebelumnya minyak dipanaskan terlebih dahulu sehingga

lebih cair, setelah itu ditambahkan dengan larutan n – heksan. Hasilnya muncul gelembung

namun cepat hilang dan terbentuk 1 fase / bercampur. Selanjutnya ditambahkan 50 ml etanol

dan terbentuk 2 fase, etanol berada dilapisan atas dan berwarna kuning bening. Ditambahkan

indikator pp dan tidak terjadi perubahan lalu campuran tadi dititrasi dengan NaOH 0,02 M

sebanyak 2,7 ml. Hasil dari titrasi ini terbentuk warna merah jambu pada campuran antara

etanol dan minyak.  Pengujian ini bersifat kuantitatif. Karena penentuan asam lemak bebas

dapat diketahui melalui perhitungan persentase. Dengan menggunakan rumus:

                           % AlB =   S x N x F

                                             Berat contoh (gr) 

Pada percobaan uji penyabunan sampel yang digunakan adalah mentega yang kemudian

ditimbang sebanyak 1 gr, selanjutnya digunakan pelarut NaOH yang dimasukkan kedalam

labu steller. Kemudian didalamnya ditambahkan magnetic steleer yang berfungsi sebagai

pengaduk untuk mencampurkan antara NaOH dengan mentega. Kemudian dipanaskan diatas

hot plate dengan menggunakan kondensor hingga larutan bercampur. Kemudian diambil 1 ml

larutan ditambahkan 5 ml aquadest hasilnya kedua larutan menjadi homogen. Ditambahkan 6

tetes H2SO4 setetes demi setetes, terbentuk endapan berupa putih yang menadakan adanya

sabun. Larutan sisa yang sebanyak 20 ml tadi dimasukkan ke dalam beaker glass

ditambahkan 100 ml aquadest, dan diaduk hasilnya larutan menjadi homogen. Larutan tadi

ditambahkan lagi garam dapur (NaCl) sebanyak satu sendok, lalu diaduk sampai terjadi

Page 18: Kim (2) LEMAK

perubahan warna, yaitu warna putih susu dan memiliki busa permanen. Garam yang tidak

dapat larut mengendap busa tadi menandakan adanya sabun.

BAB 5

PENUTUP5.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang telah diklakukan maka dapat disimpulkan bahwa:

        Minyak atau lemak memiliki daya larut yang sama, yaitu tidak dapat larut dalam pelarut

polar, namun bereaksi atau larut dalam pelarut nonpolar. Jadi dapat disimpulkan lemak dan

minyak merupakan larutan nonpolar.

        Minyak dan lemak memiliki asam lemak yaitu asam organik yang terdapat sebagai trigliseda

atau lemak, baik yang berasal dari hewan maupun tumbuhan. Setelah dilakukan pengujian /

percobaan, ternyata positif bahwa lemak dan minyak memiliki suatu asam lemak. Hal ini

dibuktikan dengan dilakukannya percobaan pengujian asam lemak bebas. Setelah dilakukan

perhitungan asam lemak bebas ternyata terdapat sekitar 0,356% asam lemak bebas.

        Reaksi penyabunan dilakukan dengan melarutkan lemak / minyak kedalam pelarut NaOH,

kemudian direaksikan dengan larutan asam dan garam dapur. Saat direaksikan dengan garam

dapur lemak berubah warna menjadi putih susu dan memiliki busa permanen. Busa inilah

yang menandakan adanya sabun.

Page 19: Kim (2) LEMAK

5.2 Saran

Praktikum selanjutnya dilakukan pengujian-pengujian lain terhadap lemak dan minyak,

misalnya reaksi / pengujian terbentuknya lilin dari ester asam lemak sehingga dapat diketahui

kandungan atau reaksi yang lain dari pada lemak dan minyak ini.

DAFTAR PUSTAKA

Hart, Hanold. 1983. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat Edisi Keenam. Jakarta : Erlangga

Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT. Gramedia

Yasid, Estien. 2006. Penentuan Praktikum Biokimia. Yogyakarta : C.V ANDI OFFSET

oleh Restu Triawan pada 03.18