Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

40
HUKUM ADMINISTRASI NEGARA MAKALAH PRO Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU/KPUDDisusun Oleh: RAKA TRI PORTUNA 02011281419245 JURUSAN ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2015

Transcript of Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Page 1: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

MAKALAH PRO

“Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh

KPU/KPUD”

Disusun Oleh:

RAKA TRI PORTUNA

02011281419245

JURUSAN ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA

2015

Page 2: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. i

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang

Maha Esa karena atas berkatrahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang

berjudul “Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh

KPU/KPUD” tepat pada waktunya.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, masih

banyak kekurangan dan banyak kelemahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan

kritik dari pembaca yang sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat

memberikan manfaat bukan hanya bagi penulis melainkan juga para pembaca.

Indralaya, 28 Oktober 2015

Penulis

Page 3: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Rumusan Masalahan 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4

A. Teori Kewenangan 4

B. Konsep Negara Hukum 4

C. Pemilu dan Kedaulatan Rakyat 12

D. Peradilan Tata Usaha Negara 19

BAB III POKOK PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN 25

A. Sengketa Administrasi Pemilu 25

B. Kekosongan Hukum Sengketa Administrasi Pemilu 26

BAB IV PENUTUP 34

A. Resensi Pembahasan 34

B. Kesimpulan 36

DAFTAR PUSTAKA 37

Page 4: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 1 Pendahuluan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Proses panjang sistem ketatanegaraan dan politik di Indonesia yang mengalami suatu

pergeseran atau transformasi ditandai dengan berakhirnya pemerintahan Orde Baru ke Orde

Reformasi pada tahun 1998. Proses tersebut mengarah pada tatanan politik yang bersifat lebih

demokratis, hal ini ditandai dengan perkembangan ketatanegaraan Republik Indonesia

melalui Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang telah meletakkan dasar-

dasar kehidupan berbangsa dan bernegara dengan meletakkan kedaulatan berada di tangan

rakyat yang diwujudkan melalui pengembangan format politik dalam negeri dan

pengembangan sistem pemerintahan termasuk sistem penyelenggaraan pemerintahan dan

juga sistem pemilihan umum guna menunjang pelaksanaan pemerintahan berjalan lebih

demokratis.

Dalam melakukan pemilihan umum dalam hal ini Kepala Negara dan Kepala Daerah,

setiap negara dipengaruhi oleh sistem politik yang dianut, sistem Pemilu, kondisi politik

masyarakat, pola pemilihan, prosedur-prosedur dan mekanisme politik. Dalam sistem politik

yang demokratis, pencalonan dan pemilihan pejabat pemerintahan lebih didasarkan pada

aspirasi politik masyarakat, apakah itu melalui lembaga perwakilan rakyat atau rakyat sendiri

yang langsung memilih siapa yang layak memimpin. Demikian halnya dalam pemilihan atau

merekrut Kepala daerah dan Wakil Kepala daerah. Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil

Kepala Daerah biasanya dilakukan oleh DPRD namun setelah berlakunya Undang-Undang

Nomor 32 Tahun 2004, maka mekanisme pemilihan Kepala Daerah mengalami perubahan

signifikan di mana pemilihan Kepala Daerah langsung dilakukan oleh seluruh masyarakat.

Page 5: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 2 Pendahuluan

Negara Republik Indonesia, menyelenggaraan Pemerintahan menggunakan asas

desentralisasi dan tugas pembantuan, kedudukan Kepala Negara dan Kepala Daerah

memegang peran penting dalam menentukan suatu keputusan publik. Pemerintahan yang

kuat adalah pemerintahan yang memiliki tingkat legitimasi tinggi. Legitimasi tersebut

diperoleh karena keberhasilannya dalam mewujudkan darinya dalam masyarakat sehingga

masyarakat menghormati dan mempercayainya.

Pemilihan Kepala Neagara dan Kepala Daerah Secara Langsung (Pilpres/Pilkada)

merupakan suatu perwujudan demokrasi dalam kehidupan kenegaraan. Karena Pemilhan

umum tidak hanya merupakan pesta demokrasi yang diselenggarakan dalam lima tahun sekali

yang mana dalam penyelenggaraannya membutuhkan dan atau menghabiskan anggaran

negara/daerah dalam jumlah yang sangat besar, akan tetapi Pemilihan umum lebih merupakan

sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam setiap pemerintahan negara Republik

Indonesia.

Tingkat pluralitas yang sangat tinggi dan pemilahan sosial yang saling berkonsolidasi

antara agama, etnisitas, dan kelas sosial masyarakat Indonesia akan sangat sulit membentuk

sebuah pemerintahan yang stabil yang mampu mewujudkan dirinya untuk memberikan

pelayanan dan perlindungan masyarakat.1 Hal yang sama juga sangat berpengaruh terhadap

perkembangan demokrasi yang ada di Indonesia. Sengketa terkait dengan pemilu sudah

menjadi konsumsi public dalam pemberitaan berbagai media. Sengketa pada hakikatnya

terjadi terjadi karena adanya benturan kepentingan. Oleh karena itu seiring dengan

perkembangan masyarakat muncul hukum yang berusaha untuk meminimalisir berbagai

benturan kepentingan dalam masyarakat. Beberapa abad yang lalu seorang ahli filsafat yang

bernama Cicero mengatakan, “Ubi Societas Ibi Ius” artinya, dimana ada masyarakat maka di

situ ada hukum. Pernyataan ini sangat tepat sekali karena adanya hukum itu adalah berfungsi

1 Afan Gaffar, Politik Indonesia, Transisi Menuju Demokrasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Hal. 353

Page 6: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 3 Pendahuluan

sebagai kaidah atau norma dalam masyarakat. Kaidah atau norma itu adalah patokan-patokan

mengenai perilaku yang dianggap pantas.

Penyelesaian sengketa Tata Usaha Negara sebagai akibat terjadinya benturan

kepentingan antara pemerintah (Badan/Pejabat TUN) dengan seseorang/ Badan Hukum

Perdata tersebut, ada kalanya dapat diselesaikan secara damai melalui musyawarah dan

mufakat, akan tetapi ada kalanya pula berkembang menjadi sengketa hukum yang

memerlukan penyelsaian lewat pengadilan. Benturan kepentingan yang terjadi, merupakan

dampak dari dikeluarkannya suatu keputusan tata usaha Negara yang bertentangan dengan

hak yang sifatnya individual.

Dengan pelaksanaan demokrasi yang masih banyak menuai sengketa, lembaga

Peradilan Tata Usaha Negara diharapkan menjadi salah satu pranata yang mampu

menyelesaikan permasalahan terkait dengan sengketa pemilu. Namun demikian, pelaksanaan

putusan terkait dengan penyelesaian sengketa pemilhan umum yang sulit dilakukan

mengingat bahwa Peradilan Tata Usaha Negara bukanlah merupakan satu-satunya lembaga

yang memiliki kewenangan dalam hal ini. Sehingga sangat membuka peluang hadirnya

keputusan yang berbeda pada sengketa dengan objek permasalahan yang sama.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis mengambil rumusan masalah

sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pelaksanaan wewenang Peradilan Tata Usaha Negara dalam penyelesaian

sengketa Pemilihan Umum?

2. Apakah Implikasi Kewenangan Peradilan Tata usaha Negara dalam Penyelesaian

Sengketa Pemilihan Umum?

Page 7: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 4 Tinjauan Pustaka

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Kewenangan

Kewenangan memiliki kedudukan penting dalam kajian hukum tata negara dan

hukum administrasi. Begitu pentingnya kedudukan kewenangan ini sehingga F.A.M

Sroink J.G Steenbeek menyebutkan sebagai konsep inti dalam kedudukan tata negara

dan hukum administrasi.

Menurut Bagir Manan wewenang dalam bahasan hukum tidak sama dengan

kekuasaaan (macht). Kekuasaan hanya menggambarkan hak untuk berbuat sesuatu atau

tidak berbuat sesuatu. Dalam hukum, kewenangan sekaligus berarti hak dan

kewajiban (rechteen en plichten). Dalam kaitan otonomi daerah hak mengandung

pengertian kekuasaan untuk menyelenggarakan pemerintahan sebagaimana mestinya.2

B. Konsep Negara Hukum

Teori negara berdasarkan hukum secara esensi bermakna bahwa hukum adalah

“Supreme” dan kewajiban bagi setiap penyelenggara negara atau pemerintahan untuk tunduk

pada hukum (subject to the law). Tidak ada kekuasaan di atas hukum (above the law),

semuanya ada di bawah hukum (under the rule of law). Dengan kedudukan ini tidak boleh

ada kekuasaan yang sewenang-wenang (arbitrary power) atau penyalahgunaan kekuasaan

(misuse of power).3 Jika dirunut ke atas, pemikiran tentang negara hukum merupakan sebuah

proses dan evolusi sejarah yang sangat panjang, sehingga untuk mengetahui lebih dalam

perlu dikemukakan terlebih dahulu bagaimana proses dan evolusi itu terjadi.

2 Ridwan HR,Hukum Administrasi Negara.UII Press,Yogyakarta: 2002 3 Sumali, 2002, Reduksi Kekuasaan Eksekutif di Bidang Peraturan Pengganti Undang-Undang (PERPU), UMM Press, Malang. Hal. 11.

Page 8: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 5 Tinjauan Pustaka

Pada awalnya cita negara hukum dikembangkan dari hasil pemikiran Plato yang

diteruskan oleh Aristoteles.4 Plato yang prihatin terhadap negaranya yang saat itu di pimpin

oleh orang-orang dengan kesewenang-wenangan, mendorongnya untuk menulis sebuah buku

yang berjudul “Politea”. Menurut Plato, agar negara menjadi baik, maka pemimpin negara

harus diserahkan kepada filosof, sebab filosof biasanya manusia bijaksana, menghargai

kesusilaan dan berpengetahuan tinggi. Namun hal ini tidak pernah dapat dilaksanakan, karena

hampir tidak mungkin mencari manusia yang sempurna, bebas dari hawa nafsu dan

kepentingan pribadi. Atas dasar itu, Plato menulis buku keduanya yang berjudul “Politicos”.

Dalam buku ini plato menganggap perlu adanya hukum untuk mengatur warga negara,

termasuk di dalamnya adalah penguasa. Selanjutnya dalam bukunya yang ketiga, “Nomoi”

(the law) yang dihasilkan ketika usianya sudah lanjut dan sudah banyak pengalaman, Plato

mengemukakan idenya bahwa “penyelenggaraan pemerintah yang baik ialah yang diatur oleh

hukum.”5

Aristoteles kemudian melanjutkan ide ini. Menurutnya, suatu negara yang baik ialah

negara yang diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. Hal ini termuat dalam

karyanya yang berjudul “Politica”. Ia juga mengemukakan bahwa ada tiga unsur dari

pemerintahan berkonstitusi, yaitu, Pertama, pemerintahan dilaksanakan untuk kepentingan

umum; kedua, pemerintahan dlaksanakan menurut hukum yang berdasar ketentuan-ketentuan

umum, bukan hukum yang dibuat secara sewenang-wenang yang mengenyampingkan

konvensi dan konstitusi; ketiga, pemerintahan berkonstitusi berarti pemerintahan yang

dilaksanakan atas kehendak rakyat, bukan berupa paksaan-tekanan seperti yang dilaksanakan

4 Azhary, 1995, Negara Hukum Indonesia-Analisis Yuridis Normatif tentang Unsur-unsurnya, UI-PRESS, Jakarta. Hal. 19. 5 Ellydar Chaidir, 2001, Hubungan Tata Kerja Presiden dan Wakil Presiden, Prespektif Konstitusi, UII Press, Yogyakarta, 2001. Hal. 21.

Page 9: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 6 Tinjauan Pustaka

pemerintahan despotis. Ketiga unsur dikemukaka oleh Aristoteles ini, dapat ditemukan di

semua negara hukum. Dalam bukunya “Politica”, Aristoteles mengatakan: 6

“Konstitusi merupakan penyusunan jabatan dalam suatu negara, dan menentukan apa

yang dimaksudkan dengan badan pemerintahan, dan apa akhir dari setiap masyarakat,

konstitusi merupakan aturan-aturan, dan penguasa harus mengatur negara menurut

aturan-aturan tersebut.”

Dalam Kepustakaan berbahasa Indonesia sudah sangat populer dengan menggunakan

istilah negara hukum, namun seringkali menjadi permasalahan, apakah sebenarnya konsep

negara hukum itu. Apakah konsep negara hukum itu sama dengan konsep Rechstaat dan

apakah negara hukum itu sama dengan konsep The Rule of Law. 7 Hal tersebut perlu dibahas

terlebih dahulu, sehingga dapat memberikan dasar dalam mengklasifikasikan bentuk negara

hukum Indonesia.

“Dalam Ensiklopedia Indonesia, istilah “negara hukum” dirumuskan sebagai berikut:8

Negara hukum (bahasa belanda:rechstaat) adalah negara yang bertujuan untuk

menyelenggarakan ketertiban hukum, yakni tata tertib yang umumnya berdasarkan

hukum yang terdapat pada rakyat. Negara hukum menjaga ketertiban hukum supaya

jangan terganggu dan agar semuanya berjalan menurut hukum.”

Dalam kepustakaan Indonesia, istilah negara hukum merupakan terjemahan langsung

dari istilah rechstaat.9 Istilah Rechsstaat mulai populer di Eropa sejak tahun 1885 oleh A.V.

6 Romi Librayanto, 2008, Trias Politica “Dalam Struktur Ketatanegaraan Indonesia” , Pusat Kajian Politik, Demokrasi dan Perubahan Sosial (PuKAP) Makassar. Hal. 11. 7 Achmad Ruslan, 2011, Teori dan Panduan Praktik Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia, Rangkang Education, Yogyakarta. Hal. 19. 8 Ensiklopedia Indonesia N.V.W. Van Hoeve, dalam Donna Okthalia Setia Beudi, 2010, “Disertasi: Hakikat, Parameter, dan Peran Nilai Lokal Pembentukan Peraturan Daerah Dalam Rangka Tata Kelola Perundang-undangan yang Baik,” Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar, Hal. 99.

Page 10: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 7 Tinjauan Pustaka

Dicey. Konsep Rechsstaat lahir dari suatu perjuangan menentang absolutisme sehingga

sifatnya revolusioner. Konsep Rechsstaat bertumpu pada atas sistem hukum continental yang

disebut civil law atau Modern Roman Law. Karakteristik Civil law adalah administratif, hal

ini dlatarbelakangi oleh sejarah perkembangan ketatanegaraan, tepatnya pada zaman

Romawi, dimana kekuasaan yang menonjol dari raja adalah membuat peraturan melalui

dekrit. Kekuasaan itu kemudian didelegasikan kepada pejabat-pejabat administratif yang

membuat pengarahan-pengarahan tertulis bagi hakim tentang bagaimana memutus suatu

sengketa. Begitu besarnya peranan administrasi negara sehingga tidaklah mengherankan jika

dalam sistem kontinental muncul cabang hukum baru yang disebut “droit administrative”,

yang intinya membahas hubungan antara administrasi negara dengan rakyat. 10

Konsep negara rechsstaat menurut Immanuel Kant yaitu fungsi negara sebagai

penjaga kemanan baik preventif, maupun represif (negara liberale rechsstaat), yaitu yang

melarang negara untuk mencapuri usaha kemakmuran rakyat, karena rakyat harus bebas

dalam mengusahakan kemakmurannya. Friedrich Julius Stahl dengan menolak absolute

monarki mengemukakan bahwa konsep rechsstaat memiliki empat unsur, yaitu:11

a. Mengakui dan melindungi hak-hak asasi manusia;

b. Untuk melindungi hak asasi manusia tersebut maka penyelenggaraan negara harus

berdasarkan pada trias politica;

c. Dalam menjalankan tugasnya, pemerintah berdasar atas undang-undang;

d. Apabila dalam menjalankan tugasnya berdasarkan undang-undang pemerintah

masih melanggar hak asasi (campur tangan pemerintah dalam kehidupan pribadi

seseorang), maka ada pengadilan administrasi yang akan menyelesaikannya.

9 Azhary, 1995, Negara Hukum Indonesia-Analisis Yuridis Normatif tentang Unsur-unsurnya, UI-PRESS, Jakarta. Hal. 30. 10 Achmad Ruslan. Op. Cit. Hal. 20. 11 Azhary, Op. cit. Hal. 46.

Page 11: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 8 Tinjauan Pustaka

Lebih lanjut C.W. Van der Port menjelaskan bahwa atas dasar demokratis,

“rechsstaat” dikatakan sebagai “Negara Kepercayaan Timbal Balik” (de staat van het

wederzijds vertrowen) yaitu kepercayaan dari pendukungnya, bahwa kekuasaan yang

diberikan tidak akan disalahgunakan, dia mengharapkan kepatuhan dari rakyat

pendukungnya. S.W. Cowenberg menjelaskan bahwa asas-asas demokratis yang melandasi

rechsstaat meliputi lima asas, yakni:

a. Asas hak-hak politik (het beginsel van de politieke grondrechten);

b. Asas mayoritas;

c. Asas perwakilan;

d. Asas pertanggungjawaban; dan

e. Asas publik (openbaarheids beginsel).

Konsep Negara hukum rule of law dikembangkan pada abad XIX, oleh Albert Venn

Dicey dengan karyanya yang berjudul “Introduction to Study of The Law of The

Constitution” pada tahun 1985 yang mengemukakan 3 (tiga) unsur utama rule of law yakni,

supremacy of law, equality before the law, constitution based on individual rights.

Sedangkan konsep Negara hukum rechtsstaat yang ditulis oleh Immanuel Kant dalam

karyanya yang berjudul Methaphysiche Ansfangsgrunde Der Rechtslehre yang dikenal

dengan nama negara hukum liberal (nachwachter staat) yakni pembebasan penyelenggaraan

perekonomian atau kemakmuran diserahkan pada rakyat dan negara tidak campur tangan

dalam hal tersebut. Konsep tersebut kemudian diperbaiki oleh Frederich Julius Stahl yang

dinamakan negara hukum formal yang unsur utamanya adalah mengakui hak asasi manusia.

Melindungi hak asasi tersebut maka penyelenggaraan Negara harus berdasarkan teori trias

politika, dalam menjalankan tugasnya pemerintah berdasarkan atas undang-undang dan

apabila dalam menjalankan tugasnya berdasarkan undang-undang pemerintah masih

Page 12: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 9 Tinjauan Pustaka

melanggar hak asasi (campur tangan pemerintah dalam kehidupan pribadi seseorang), maka

ada pengadilan administrasi yang akan menyelesaikan.

Memasuki abad 20 perkembangan konsep Negara hukum rule of law mengalami

perubahan, penelitian Wade dan Philips yang dimuat dalam karya yang berjudul

“Constitusional Law” pada tahun 1955 berpendapat bahwa rule of law sudah berbeda

dibandingkan pada waktu awalnya. Begitu juga dengan konsep negara hukum rechsstaat,

dikemukakan oleh Paul Scholten dalam karya ilmiahnya yang berjudul “Verzamelde

Geschriften” tahun 1935 dinyatakan bahwa dalam membahas unsur-unsur negara hukum

dibedakan tingkatan unsur-unsur negara hukum, unsur yang dianggap penting dinamakan

sebagai asas, dan unsur yang merupakan perwujudan asas dinamakan sebagai aspek. Berikut

ini adalah gambaran atas asas-asas (unsur utama) dan aspek dari negara hukum Scholten,

yakni unsur utamanya adalah adanya hak warga negara terhadap negara/raja. Unsur ini

mencakup 2 (dua) aspek; pertama, hak individu pada prinsipnya berada di luar wewenang

negara. Kedua, pembatasan hak individu hanyalah dengan ketentuan undang-undang yang

berupa peraturan yang berlaku umum. Unsur kedua, “adanya pemisahan kekuasaan” yakni

dengan mengikuti Montesquieu dimana rakyat diikut sertakan di dalamnya.

Perubahan konsep negara hukum ini disebabkan konsep negara hukum formal telah

menimbulkan kesenjangan sosial dan ekonomi di tengah-tengah masyarakat. Menghadapi hal

seperti itu pemerintah pada waktu itu tidak dapat berbuat apa-apa karena menurut prinsip

negara hukum formal pemerintah hanya bertugas sebagai pelaksana undang-undang. Hal ini

menyebabkan terjadinya perubahan pengertian asas legalitas dalam prakteknya, yang semula

diartikan pemerintahan berdasarkan atas undang-undang (wetmatigheit van het bestuur)

keadaan inilah yang menumbulkan gagasan negara hukum material (welfare state). Tindakan

pemerintah atau penguasa sepanjang untuk kepentingan umum agar kemakmuran benar-benar

terwujud secara nyata jadi bukan kemakmuran maya, maka hal ini dianggap diperkenankan

Page 13: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 10 Tinjauan Pustaka

oleh rakyat dalam negara hukum yang baru, yaitu negara hukum kemakmuran (welvaarts

staat) dan negara adalah alat bagi suatu bangsa untuk mencapai tujuannya.

Perumusan ciri negara hukum dari konsep “rechtstaat” dan “rule of law”

sebagaimana dikemukakan oleh A.V Dicey dan F.J Stahl kemudian diinteregasikan pada

perincian baru yang lebih memungkinkan pemerintah bersikap aktif dalam melaksanakan

tugas-tugasnya.

Demikian pendapat yang dikemukakan oleh Sunaryani Hartono yang menyamakan

istilah negara hukum dengan konsep the rule of law sebgaimana nampak dalam tulisannya

"...supaya tercipta suatu negara hukum yang membawa keadilan bagi seluruh rakyat yang

bersangkutan, penegakan rule of law itu harus dalam arti materiil".

Menurut Sckeltema bahwa terdapat empat unsur utama dalam negara hukum

Rechtsstaat dan masing-masing unsur utama mempunyai turunannya, yaitu sebagaimana

dikemukaan oleh Azhary, yaitu :

1. Adanya kepastian hukum, yakni mencakup :

a. Asas legalitas;

b. Undang-undang yang mengatur tindakan yang berwenang sedemikian rupa,

hingga warga dapat mengetahui apa yang dapat diharapkan;

c. Undang-undang tidak boleh berlaku surut;

d. Hak asasi dijamin oleh undang-undang; dan

e. Pengadilan yang bebas dari pengaruh kekuasaan.

2. Asas persamaan, yakni mencakup :

a. Tindakan yang berwenang diatur di dalam undang-undang dalam arti materiil;

dan

b. Adanya pemisahan kekuasaan.

3. Asas demokrasi :

Page 14: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 11 Tinjauan Pustaka

a. Hak untuk memilih dan dipilih bagi warga negara;

b. Peraturan untuk badan yang berwenang ditetapkan oleh parlemen;dan

c. Parlemen mengawasi tindakan pemerintah.

4. Asas pemerintah untuk rakyat :

a. Hak asasi dengan undang-undang dasar; dan

b. Pemerintahan secara efektif dan efesien.

Sedangkan Konsep The Rule of Law awalnya dikembangkan oleh Albert Venn Dicey

(Inggris). Dia mengemukakan tiga unsur utama The Rule of Law, yaitu)12 :

1. Supremacy of law (supremasi hukum), yaitu bahwa negara diatur oleh hukum,

seseorang hanya dapat dihukum karena mlanggar hukum.

2. Equality before the law (persamaan dihadapan hukum), yaitu semua warga Negara

dalam kapasitas sebagai pribadi maupun pejabat Negara tunduk kepada hukum

yang sama dan diadili oleh pengadilan yang sama.

3. Constitution based on individual right (Konstitusi yang didasarkan pada hak-hak

perorangan), yaitu bahwa konstitusi bukanlah sumber tetapi merupakan

konsekwensi dari hak-hak individual yang dirumuskan dan ditegaskan oleh

pengadilan dan parlemen hingga membatasi posisi Crown dan aparaturnya.

Lebih lanjut Achmad Ruslan mengemukakan bahwa baik latar belakang yang

menopang konsep rechstaat maupun konsep the rule of law berbeda dengan latar belakang

Negara RI. Dengan demikian, isi Konsep Negara hukum Indonesia tidaklah begitu saja

dengan mengalihkan konsep rechstaat maupun the rule of law, meskipun tidak dapat

dipungkiri bahwa ada pengaruh kehadiran konsep rechstaat maupun the rule of law tersebut.

Sama halnya dengan istilah demokrasi yang dalam istilah bangsa kita tidak dikenal, namun

12 Ibid., Hal. 120

Page 15: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 12 Tinjauan Pustaka

hadir berkat pengaruh pemikiran barat. Praktik yang sudah ada dalam masyarakat kita beri

nama demokrasi dengan atribut tambahan sejak tahun 1967 (Tap MPRS No.XXXVII

/MPRS/1967) resmi disebut demokrasi Pancasila.13 Menurut Philipus Hadjon, dalam

perbandingan istilah Negara hukum dengan istilah demokrasi yang diberi atribut Pancasila

adalah tepat, istilah Negara hukum diberi atribut Pancasila juga, sehingga menjadi Negara

hukum pancasila.14

Dari pembahasan terkait konsep-konsep Negara hukum di atas, jika dibandingkan

antara konsep rechstaat maupun the rule of law dengan konsep Negara hukum yang dimiliki

Indonesia, ketiganya memiliki kesamaan yang mendasar, yakni sama-sama mengakui dan

memberikan perlindungan terhadap keberadaan Hak Asasi Manusia. Hanya saja dalam hal

konsep perlindungan Hak Asasi Manusia tersebut, ketiganya memiliki perbedaan, yakni jika

rechstaat mengedepankan konsep Wetmatigheid yang kemudian direduksi ke dalam

rechtmatigheid, maka The rule of law lebih mengedepankan prinsip equality before the law.

Sementara itu untuk konsep Negara hukum Indonesia lebih mengedepankan keserasian

hubungan antara pemerintah dan rakyat yang berdasar pada asas kekeluargaan.

C. Pemilu dan Kedaulatan Rakyat

1. Pemilu Berkala

Pentingnya Pemilihan umum diselengarakan secara berkala dikarernakan oleh

beberapa sebab:

1. Pendapat atau aspirasi rakyat mengenai berbagai aspek kehidupan bersama dalam

masyarakat bersifat dinamis, dan berkembang dari waktu kewaktu. Dalam jangka

waktu tertentu, dapat saja terjadi bahwa sebagian besar rakyat berubah

pendapatnya mengenai suatu kebijakan negara.

13 Achmad Ruslan, Op.Cit. Hal. 26-27. 14 Ibid. Hal. 29

Page 16: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 13 Tinjauan Pustaka

2. Disamping pendapat rakyat dapat berubah dari waktu kewaktu, kondisi bersama

kehidupan masyarakat dapat pula berubah, baik karena dinamika dunia

internasional ataupun karena faktor dalam negeri sendiri, baik karena faktor

internasional manusia maupun karena faktor eksternal manusia.

3. Perubahan-perubahan aspirasi dan pendapat rakyat juga mungkin dapat terjadi

karena pertambahan jumlah penduduk dan rakyat yang dewasa. Pada pemilihan

baru (new voters) atau pemilihan pemula, belum tentu mempunyai sikap yang

sama dengan orang tua mereka sendiri.

4. Pemilihan umum perlu diadakan secara teratur untuk maksud menjamin terjadinya

penggantian kepemimpinan negara baik dicabang kekuasaan eksekutif maupun

legislatif.

Untuk menjamin siklus kekuasaan yang bersifat teratur itu diperlukaan mekanisme

pemilihan umum yang diselenggarakan secara berkala sehingga demokrasi dapat terjamin,

dan pemerintahan yang sungguh-sungguh mengabdi kepada kepentingan seluruh rakyat dapat

benar-benar bekerja secara efektif dan efesien. Dengan adananya jaminan sistem demokrasi

yang beraturan demikian itulah kesehjahtraan dan keadlian dapat terwujud dengan sebaik-

baiknya.15

2. Tujuan pemilihan umum

Ada beberapa 4 hal tujuan pemilihan umum, yaitu:16

1. Untuk memungkinkan terjadinya peralihan kepemimpinan pemerintahan secara

tertib dan damai;

2. Untuk memungkinkan terjadinya penggantian pejabat yang akan mewakili

kepentingan rakyat dilembaga perwakilan;

3. Untuk melaksanakan prinsip kedaulatan rakyat; dan

15 Asshiddiqie, jimly, 2009, Pengantar ilmu hukum tata negara, Konstitusi Press, jakarta, Hal. 417 16 Ibid. Hal 418

Page 17: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 14 Tinjauan Pustaka

4. Untuk melaksanakan prinsip hak-hak asasi warga negara.

Seperti dimaklumi, kemampuan seseorang bersifat terbatas. Disamping itu, jabatan

pada dasarnya merupakan amanah yang berisi beban dan tanggung jawab, bukan hak yang

harus dinikmati. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh duduk disuatu jabatan tanpa ada

kepastian batasnya untuk dilakuakan penggantian. Tanpa siklus kekuasaan yang dinamis,

kekuasaan itu dapat mengeras menjadi sumber malapetaka sebab, dalam setiap jabatan, dalam

dirinya selalu ada kekuasaan yang cendrung berkembang menjadi sumber kesewenang-

wenangan bagi siapa saja yang memegangnya. Untuk itu penggantian kepemimpian harus

dipandang sebagai sesuatu yang niscaya untuk memelihara amanahyang terdapat dalam setiap

kekuasaan itu sendiri.17

3. Sistem Pemilihan Umum

Sistem pemilihan umum berbeda satu sama lain, tergantung dari sudut pandang oleh

rakyat. Kepentingan rakyat sebagai individu yang bebas untuk menentukan pilihanya dan

sekaligus mencalonkan dirinya sebagai wakil rakyat .

Sistem pemilihan umum dapat dibedakan dalam dua macam yaitu:

a. Sistem pemilihan mekanis;

1 Sistem distrik;

2 Sistem proporsional;

b. Sistem pemilihan organis

Sistem pemilihan mekanis yang melihat rakyat sebagai masa individu yang sama.

Sistem pemilihan organis menempatkan rakyat sebagai sejumlah individu-individu yang

hidup bersama dalam berbagai macam persekutuan hidup berdasarkan geneologis (rumah

tangga, keluarga), fungsi tertentu (ekonomi, industrial), lapisan-lapisan sosial (buruh, tani,

cendikiawan) dan Lembaga-lembaga sosial (universitas). Masyarakat mempunyai fungsi dan

17 Ibid. Hal. 419

Page 18: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 15 Tinjauan Pustaka

tujuan tertentu sebgai suatu organisme dalam totalitasnya, seperti komunitas atau persekutuan

hidup.18

4. Penyelenggaraan dan Sengketa Hasil Pemilu

a. Lembaga penyelengaraan

Siapakah yang seharusnya menjadi penyelenggaraan pemilihan umum?

Pasal 22E ayat(1) UUD 1945 telah menetukan bahwa: “Pemilihan umum dilaksanakan

secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali”. Dalam

Pasal 22E ayat 5 ditentukan pula bahwa ”Pemilihan umum diselenggarakan oleh suatu

komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri”. Oleh sebab itu, menurut

UUD 1945 penyelenggara pemilihan umum itu haruslah suatu komisi yang bersifat nasional,

tetap, dan mandiri atau independen.

Mengapa harus independen? Jawabnya jelas, karena penyelenggara pemilu itu harus

bersifat netral dan tidak boleh memihak. Komisi pemilihan umum itu tidak boleh

dikendalikan oleh partai politikataupun oleh pejabat negara yang mencerminkan kepentingan

partai politik atau peserta atau calon peserta pemilihan umum. Peserta pemilu itu sendiri

dapat terdiri atas (i) partai politik, beserta para anggotanya yang dapat menjadi calon dalam

rangka pemilihan umum, (ii) calon atau anggota Dewan Perwakilan Rakyat, (iii) calon

atau anggota Dewan Perwakilan Daerah, (iv) calon atau anggota DPRD, (v) calon atau

Presiden atau Wakil Presiden, (vi) calon atau Gubernur atau Wakil Gubernur, (vii) calon

atau Bupati atau Wakil Bupati, (viii) calon atau Walikota atau Wakil Walikota. Kedelapan

pihak yang terdaftar di atas mempunyai kepentingan langsung atau tidak langsung

dengan keputusan-keputusan yang akan diambil oleh Komisi Pemilihan Umum sebagai

18 Ibid. Hal 421-422

Page 19: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 16 Tinjauan Pustaka

penyelenggara pemilu, sehingga oleh karenanya KPU harus terbebas dari kemungkinan

pengaruh mereka itu.19

b. Pengadilan Sengketa Hasil Pemilu

Hasil pemilihan umum berupa penetapan final hasil penghitungan suara yang

diikuti oleh pembagian kursi yang diperebutkan,yang diumumkan secara resmi oleh

lembaga penyelenggara pemilihan umum seringkali tidak memuaskan peserta pemilihan

umum, yang tidak berhasil tampil sebagai pemenang. Kadang-kadang terjadi perbedaan

pendapat dalam hasil perhitungan itu antara peserta pemilihan umum dan penyelenggara

pemilihan umum, baik karena kesengajaan maupun karena kelalaian, baik karena kesalahan

teknis atau kelemahan yang bersifat administratif dalam perhitungan ataupun disebabkan

oleh faktor human error. Jika perbedaan pendapat yang demikian itu menyebabkan

terjadinya kerugian bagi peserta pemilihan umum, maka peserta pemilihan yang

dirugikan itu dapat menempuh upaya hukum dengan mengajukan permohonan perkara

perselisihan hasil pemilihan umum ke Mahkamah Konstitusi.

Jenis perselisihan atau sengketa mengenai hasil pemilihan umum ini tentu harus

dibedakan dari sengketa yang timbul dalam kegiatan kampanye, ataupun teknis pelaksanaan

pemungutan suara. Jenis perselisihan hasil pemilihan umum ini juga harus pula dibedakan

dari perkara-perkara pidana yang terkait dengan subjeksubjek hukum dalam penyelenggaraan

pemilihan umum. Siapa saja yang terbukti bersalah melanggar hukum pidana, diancam

dengan pidana dan harus dipertanggungjawabkan secara pidana pula me nurut ketentuan

yang berlaku di bidang peradilan pidana. Misalnya, A mencuri surat suara, maka hal itu

tergolong pelanggaran hukum pidana yang diadili menurut prosedur pidana. Sedangkan B

melanggar jadwal kampanye yang menjadi hak calon lain, maka pelanggaran semacam ini

19 Ibid. Hal. 427

Page 20: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 17 Tinjauan Pustaka

harus diselesaikan secara administratif oleh lembaga penyelenggara pemilihan umum

yang bertanggung jawab di bidang itu.

Demikian pula jika C mengajukan permohonan perkara perselisihan hasil pemilu

ke Mahkamah Konstitusi. Namun di dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, C

berkolusi dengan pejabat Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dengan memalsukan

bukti-bukti di persidangan yang tidak dapat dibantah oleh pejabat Komisi Pemilihan

Umum (KPU) Pusat dalam persidangan. Di kemudian hari, terbukti bahwa data-data

yang diajukan oleh KPU Daerah itu palsu, maka hal tersebut sepenuhnya merupakan

perkara pidana pemalsuan yang merugikan semua pihak dan harus dipertanggung

jawabkan secara pidana. Akan tetapi, sepanjang menyangkut hasil pemilihan umum

yang sudah diputus final dan mengikat oleh Mahkamah Konstitusi dalam persidangan

yang terbuka untuk umum, persoalan tindakpidana dimaksud tidak lagi ada kaitannya

dengan hasil pemilihan umum. Dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, semua

pihak, termasuk apalagi kepada pihak KPU selaku lembaga penyelenggara pemilu dan pihak-

pihak yang kepentingannya terkait lainnya, sudah diberi kesempatan yang cukup dan

leluasa untuk membantah atau menolak bukti-bukti yang diajukan oleh pihak pemohon

perkara, tetapi karena ternyata buktibukti dimaksud tidak terbantahkan, maka perkara

perselisihan hasilpemilu itu sudah diputus final dan mengikat oleh Mahkamah Konstitusi.

Biasanya, hal-hal yang berkenaan dengan kualitas bukti yang dianggap tidak benar

itu justru datang belakangan oleh pihak penyelenggara pemilihan umum. Akan tetapi,

roda penyelenggaraan negara dan pemerintahan tidak boleh digantungkan kepada kealpaan

atau kelalaian penyelenggara pemilu sebagai satu kesatuan institusi penyelenggara pemilihan

umum di seluruh Indonesia. KPU adalah satu institusi. Perkara perselisihan hasil pemilu

adalah perkara formal yang membutuhkan teknik-teknik pembuktian yang juga bersifat

formal dan dengan jadwal yang pasti. Kepastian hukum sangat diutamakan dalam hal ini.

Page 21: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 18 Tinjauan Pustaka

Sikap mengutamakan keadilan bagi satu orang tidak mungkin dibenarkan, apabila hal

itu justru akan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtszekerheid). Sebab, dalam jenis

perkara perselisihan hasil pemilihan umum, tanpa adanya kepastian hukum

(rechtszekerheid) yang tegas, niscaya dapat timbul ketidakadilan dalam seluruh

mekanisme penyelenggaraan negara dan karena itu dapat menimbulkan ketidakadilan bagi

semua warga negara.

Tentu tidak semua negara memiliki Mahkamah Konstitusi ataupun mekanisme

penyelesaian perselisihan hasil pemilihan umum melalui Mahkamah Konstitusi. Di negara-

negara yang tidak memiliki lembaga seperti ini, biasanya perkara-perkara pemilu itu

langsung ditangani oleh Mahkamah Agung. Di Amerika Serikat, perkara seperti ini juga

ditangani oleh Mahkamah Agung negara bagian, dan baru setelah itu ditangani oleh

Mahkamah Agung Federal. Tetapi, di Brazil, peradilan pemilu ini dilembagakan secara

tersendiri, yaitu untuk menangani semua aspek perkara hukum yang terkait dengan

pemilihan umum.

Dengan ada mekanisme peradilan terhadap sengketa hasil pemilihan umum ini,

maka setiap perbedaan pendapat mengenai hasil pemilihan umum tidak boleh

dikembangkan menjadi sumber konflik politik atau bahkan menjadi konflik sosial yang

diselesaikan di jalanan. Penyelesaian perbedaan mengenai hasil perhitungan suara pemilihan

umum menyangkut pertarungan kepentingan politik antar kelompok warga negara sudah

seharusnya diselesaikan melalui jalan hukum dan konstitusi. Dengan kewenangannya

untuk mengadili dan menyelesaikan perkara perselisihan hasil pemilu ini, dapat dikatakan

bahwa Mahkamah Konstitusi diberi tanggung jawab untuk menyediakan jalan konstitusi

bagi para pihak yang ber sengketa, yaitu antara pihak penyelenggara pemilihan umum dan

pihak peserta pemilihan umum.20

20 Ibid. Hal 429-432

Page 22: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 19 Tinjauan Pustaka

D. Peradilan Tata Usaha Negara

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) disebut juga pengadilan administrasi negara.

PTUN lahir dan mulai bekerja melayani masyarakat pencari keadilan sejak 14 Januari Tahun

1991. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) adalah pengadilan yang termuda di antara 4

(empat) lingkungan peradilan (Pengadilan Negeri; Pengadilan Militer; Pengadilan Agama

dan Pengadilan Tata Usaha Negara). Indonesia sebagai negara hukum sudah lama mencita-

citakan untuk membentuk pengadilan administrasi negara atau Pengadilan Tata Usaha

Negara.

Sebagai suatu pengadilan khusus (lihat Pasal 1 ayat (5) Undang-undang Nomor 51

Tahun 2009), kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara dibatasi hanya memeriksa, memutus

dan menyelesaikan Sengketa Tata Usaha Negara. Berdasarkan Pasal 1 ayat (10) Undang-

undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, disebutkan:

“Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha

Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Jabatan Tata

Usaha Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya

Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Batasan Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) sebagai obyek gugatan Tata Usaha

Negara berdasarkan Pasal 1 ayat (9) Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang

Peradilan Tata Usaha Negara adalah:

“Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) adalah suatu penetapan tertulis yang

dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum

Tata usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,

Page 23: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 20 Tinjauan Pustaka

yang bersifat konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi

seseorang atau badan hukum perdata.”

a. Penetapan tertulis.

Dalam penjelasan Pasal 1 ayat (9) Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang

Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata

Usaha Negara disebutkan bahwa suatu penetapan tertulis adalah terutama menunjuk

kepada isi bukan bentuk (form). Persyaratan tertulis adalah semata untuk kemudahan segi

pembuktian. Oleh karenanya sebuah memo atau nota dapat memenuhi syarat tertulis,

yang penting apabila sudah jelas:

1) Badan atau pejabat Tata Usaha Negara mana yang mengeluarkannya,

2) Maksud serta mengenai hal apa isi tulisan itu,

3) Kepada siapa tulisan itu ditujukan dan apa yang ditetapkan di dalamnya.

b. Dikeluarkan oleh badan atau pejabat Tata Usaha Negara.

Badan atau pejabat Tata Usaha Negara adalah badan atau pejabat Tata Usaha

Negara yang melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-

undangan yang berlaku (Pasal 1 ayat (8) Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009).

c. Tindakan hukum Tata Usaha Negara.

Tindakan hukum Tata Usaha Negara adalah perbuatan hukum badan atau pejabat

Tata Usaha Negara yang bersumber pada suatu ketentuan hukum Tata Usaha Negara yang

dapat menimbulkan hak atau kewajiban pada orang lain.

d. Bersifat konkret, individual, final.

Bersifat konkret adalah obyek yang diputuskan dalam Keputusan Tata Usaha

Negara tidak abstrak, tetapi berwujud, tertentu atau dapat ditentukan. Bersifat individual

Page 24: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 21 Tinjauan Pustaka

adalah Keputusan Tata Usaha Negara itu tidak ditujukan untuk umum, tetapi tertentu baik

alamat maupun hal yang dituju. Kalau yang dituju itu lebih dari seorang, tiap-tiap nama

orang yang terkena keputusan itu disebutkan. Bersifat final adalah Keputusan Tata Usaha

Negara yang dikeluarkan itu sudah definitif dan karenanya dapat menimbulkan akibat

hukum.Keputusan Tata Usaha Negara yang masih memerlukan persetujuan instansi

atasan atau instansi lain belum bersifat final.

e. Memiliki akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.

Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dalam Pasal 2 juga

menentukan beberapa pengecualian untuk sejumlah Keputusan Tata Usaha Negara

(KTUN) yang tidak termasuk Obyek Sengketa Tata Usaha Negara, yaitu:

1. Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum perdata;

2. Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat

umum;

3. Keputusan Tata Usaha Negara yang masih memerlukan persetujuan;

4. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan Kitab

Undang-undang Hukum Pidana atau Kitab Undang-undang Hukum Acara

Pidana atau peraturan perundangundangan lain yang bersifat hukum pidana;

5. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan atas dasar hasil pemeriksaan

badan peradilan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang

berlaku;

6. Keputusan Tata Usaha Negara mengenai tata usaha Tentara Nasional

Indonesia;

Page 25: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 22 Tinjauan Pustaka

7. Keputusan Komisi Pemilihan Umum baik di pusat maupun di daerah

mengenai hasil pemilihan umum.

Selain dari itu, Pasal 49 mengatur beberapa Keputusan Tata Usaha Negara tertentu

juga dinyatakan bukan wewenang badan peradilan dalam lingkungan Peradilan Tata Usaha

Negara, yaitu keputusan yang dikeluarkan dalam waktu perang, keadaan bencana alam atau

keadaan luar biasa yang keadaan mendesak untuk kepentingan umum yang berdasarkan

peraturanperaturan perundang-undangan yang berlaku.

Pembagian kompetensi antara empat lingkungan peradilan, menurut Philipus M.

Hadjon berpegang pada prinsip-prinsip yang sudah digariskan oleh Undang-undang Nomor 4

Tahun 2004 (sekarang Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009) tentang Kekuasaan

Kehakiman.

Prinsip-prinsip pembagian kompetensi tersebut dijabarkan secara jelas dalam undang-

undang yang mengatur empat lingkungan peradilan. Kompetensi Badan Peradilan Tata Usaha

Negara diatur dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-

undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Pasal 4 berbunyi:

Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaksanaan kekuasaan kehakiman

bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara.

Pasal 5 ayat (1) berbunyi:

Kekuasaan kehakiman di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dilaksanakan oleh:

a. Pengadilan Tata Usaha Negara,

b. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.

Pasal 47 berbunyi:

Pengadilan bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan

sengketa Tata Usaha Negara.

Page 26: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 23 Tinjauan Pustaka

Peradilan Tata Usaha Negara bersifat membela kepentingan umum, kepentingan

Negara, atau kepentingan pemerintahan. Dengan adanya Peradilan Tata Usaha Negara, makin

lama makin aktif bekerja, maka sudah banyak ketimpangan dalam administratif yang digugat

oleh warga masyarakat dan mendapat tindakan korektif sebagaimana diharapkan.21 Beberapa

asas-asas hukum administrasi yang menjadi karakteristik hukum acara Peradilan Tata Usaha

Negara di antaranya sebagai berikut:

a. Asas Praduga Rechtmatig (vermoeden van rechtmatigheid, praesumptio iustae

causa).

b. Asas Pembuktian Bebas;

c. Asas Keaktifan Hakim (Dominus Litis);

d. Asas Putusan Peradilan mempunyai kekuatan mengikat Erga Omnes.

Dengan berlandaskan pada fungsi asas-asas hukum tersebut, terhadap asas-asas

hukum administrasi yang merupakan tempat bertumpunya norma-norma hukum administrasi,

dapatlah dikatakan bahwa:

a. Asas-asas hukum administrasi akan memberikan arah dalam “positiveringsarbeid”

oleh pembentukan undang-undang (wetgever) maupun organ pemerintahan

(bestuursorganen).

b. Asas hukum administrasi akan memberikan pedoman bagi “administrastrative

rechter” dalam melakukan interprestasi hukum guna menjamin ketepatan menentukan

putusan hakim.

c. Asas hukum administrasi memberikan tuntutan pada warga masyarakat khususnya

akademisi hukum administrasi melalui pemikiran-pemikiran dan pembuatan peraturan

21 Prajudi Atmosudirdjo, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1981. Hal. 144.

Page 27: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 24 Tinjauan Pustaka

perundangundangan maupun hakim administrasi dalam melakukan koreksi terhadap

peraturan perundang-undangan.

Tujuan Peradilan Tata Usaha Negara (PERATUN) adalah untuk mengembangkan

dan memelihara administrasi negara yang tepat menurut hukum (rechtmatig).22 Tujuan

Peradilan Tata Usaha Negara adalah untuk memberikan pengayoman hukum dan kepastian

hukum, baik bagi masyarakat maupun bagi administrasi negara dalam arti terjaganya

keseimbangan kepentingan masyarakat dengan kepentingan individu. Untuk administrasi

negara akan terjaga ketertiban, ketenteraman dan keamanan dalam melaksanakan tugas-

tugasnya, demi mewujudkannya pemerintahan yang bersih dan beribawa dalam kaitan

Negara berdasarkan Pancasila khususnya di peradilan.23

22 Ibid. Hal. 74. 23 Sjachran Basah, Menelaah Liku-liku Rancangan Undang-undang No. -Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Alumni, Bandung, 1992. Hal. 154.

Page 28: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 25 Pokok Permasalahan dan Pembahasan

BAB III

POKOK PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN

A. Sengketa Administrasi Pemilu

Mekanisme penyelesaian sengketa dalam pemilihan umum penting untuk

mengamankan integritas atas pemilu itu sendiri. Karena itu, setiap penyusunan desain

penyelenggaraan pemilu mesti disertakan mekanisme penyelesaian sengketa atas setiap

tahapan yang mungkin akan muncul. Dengan demikian, setiap keberatan yang muncul dalam

proses bisa terselesaikan. Harapannya semua pihak bisa menerima keputusan penyelenggara

dan hasil dalam pemilu diterima dengan baik.24

Salah satu permasalahan hukum pemilu yang belum menemukan pengaturannya

dalam undang-undang pemilu adalah sengketa administrasi pemilu. Tanpa harus memaksakan

diri mengacu pada perundang-undangan tentang pemilu, bisa disimpulkan bahwa sengketa

administrasi muncul karena benturan kepentingan antara kPU sebagai penyelenggara dengan

peserta pemilu atau pihak lain,akibat dikeluarkannya suatu Peraturan dan Keputusan KPU.

Dengan kata lain, sengketa administrasi adalah sengketa yang ditimbulkan oleh keputusan

atau tindakan penyelenggara pemilu yang dianggap merugikan pihak tertentu, baik warga

negara (yang mempunyai hak pilih dan hak memilih) maupun peserta pemilu (bakal

calon/calon) yang terjadi disetiap tahapan pemilu.

Meskipun jenis sengketa administrasi tidak dikenal dalam UU No. 10 Tahun 2008 tentang

Pemilu Legislatif, faktanya sengketa itu muncul. Terbukti di awal tahapan, KPU menerima

gugatan dari 5 partai politik yang tidak lolos verifikasi sebagai peserta pemilu. Kelima partai

24 Chad Vickery, 2011. Pedoman untuk Memahami, Menangani, dan Menyelesaikan sengketa Pemilu. international Foundation

for electoral sistems (iFes): amerika serikat. Diterjemahkan oleh a san Harjono. Hal 13.

Page 29: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 26 Pokok Permasalahan dan Pembahasan

tersebut adalah Partai Republiku ,PartaiBuruh ,Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia

(PPNUI), Partai Merdeka, dan Partai Syarikat Indonesia (PSI). Kelima Partai tersebut

menggugat keputusan KPU tentang hasil verifikasi faktual yang tidak meloloskan kelima

partai tersebut sebagai peserta pemilu.

sengketa itu muncul mengingat UU Pemilu tidak menegaskan sifat dari keputusan

pemilu yang bersifat final dan mengikat. Akibatnya setiap keputusan yang dikeluarkan KPU

(kecuali hasil pemilu) sangat mungkin dipersengketakan oleh peserta pemilu. Berbeda

dengan UU 12/2003 tentang Pemilu anggota DPR, DPD, DPRD (UU12/2003) yang

menegaskan bahwa Keputusan KPU bersifat final dan mengikat. Oleh karena itu, setiap

keputusan kPU berpeluang untuk digugat oleh para pihak.6 Meskipun dalam Pemilu 2004

keputusan KPU bersifat final dan mengikat, namun dalam praktik juga muncul sengketa

administrasi.25

B. Kekosongan Hukum Sengketa Administrasi Pemilu

Problem penyelesaian sengketa administrasi pemilu baik dalam Pemilu 2004 dan

2009, tidak adanya pengaturan khusus tentang mekanisme penyelesaian sengketa administrasi

pemilu. Tidak adanya pengaturan bukan berarti tidak ada sengketa administrasi. Baik Pemilu

2004 dan 2009 menunjukkan sejumlah masalah terhadap keputusan penyelenggara pemilu

terhadap tahapan penyelenggaraan. Akibatnya, keadilan pemilubagi para pihak sulit

diwujudkan. sejumlah persoalan tidak bisa terselesaikan mengingat kekosongan

pengaturannya.

Tidak terselesaikannya sengketa administrasi pemilu antara peserta pemilu dengan

penyelenggara juga diakibatkan simpang siurnya pengaturan. Mekanisme penyelesaian

sengketa administrasi dalam penyelenggaraan pemilu pada dasarnya sama dengan mekanisme

25 Perubahan sifat putusan tersebut dilakukan untuk menghindari munculnya kesewenang-wenangan dan potensi penyimpangan yang dilakukan oleh kPu. selain itu membuka ruang bagi peserta pemilu dan para pihak untuk melakukan peninjauan ulang terhadap setiap keputusan yang dikeluarkan kPu. Tujuannya tentu untuk memberikan keadilan bagi semua pihak, khususnya peserta pemilu

Page 30: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 27 Pokok Permasalahan dan Pembahasan

yang berlaku pada sengketa administrasi umum. sengketa ini bisa diselesaikan melalui

peradilan administrasi pemilu. Peradilan administrasi yang dimaksudkan adalah suatu

peradilan yang menyelesaikan perselisihan/ sengketa yang terjadi antara pihak-pihak yang

salah satunya adalah aparat pemerintah dan warga masyarakat di pihak lain.26 sengketa ini

kemudian dalam hukum administrasi disebut sebagai sengketa ekstern. Dalam rangka

penyelesaian sengketa administrasi, terdapat beberapa lembaga penyelesaian sengketa yang

digunakan, yakni sebagai berikut:27

1. Pengaduan (administratief beroep), yakni penyelesaian sengketa yang dilakukan dalam

lingkungan administrasi sendiri. Pengajuan sengketa ditujukan kepada atasan atau instansi

yang lebih tinggi.

2. Badan peradilan semu (Quasi), yakni penyelesaian sengketa dalam lingkungan

administrasi dengan menggunakan tata cara seperti badan peradilan. Kegiatan

peradilannya dilakukan oleh badan, dewan, komisi atau panitia. Cara kerjanya hampir

sama dengan peradilan umum tetapi keputusannya masih bisa dibatalkan oleh menteri

yang bersangkutan.

3. Badan peradilan administrasi,yakni penyelesaian sengketa melalui badan peradilan

dengan anggota badan berkedudukan sebagai hakim. Putusan pengadilan tidak bisa

dipatalkan atau dipengaruhi oleh menteri atau kelembagaan lain. Peradilan administrasi

ini bisa dibentuk dan melekat di badan/kelembagaan terkait atau terpisah sebagai

peradilan administrasi seperti Pengadilan Tata Usaha Negara.

2. Badan peradilan umum. Sengketa ini di putus oleh peradilan umum termasuk gugatan

ganti rugi berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata yakni mengenai perbuatan melawan

hukum oleh pejabat pemerintah/penguasa (onrechtmatige overheid daad).

3. Badan arbitrasi seperti Badan Arbitrase Nasional indonesia (BANI)

26

lutfi effendi,2004. Pokok-Pokok Hukum administrasi negara.bayu Media: Malang – Jatim. Hal 95. 27

Ibid, hal 97-98

Page 31: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 28 Pokok Permasalahan dan Pembahasan

4. Badan teknis atau panitia teknis atau panitia ad hoc atau panitia khusus yang dibentuk

departemen atau instansi lain.

Pengalaman Pemilu 2009, saluran alternatif penyelesaian sengketa di atas tidak diatur,

apalagi di jalankan.Satu-satunya mekanisme penyelesaian sengketa yang digunakan oleh

Partai Republiku, Partai Buruh, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI),

Partai Merdeka, dan Partai Syarikat Indonesia (PSI) adalah melalui Peradilan Tata Usaha

Negara (Peradilan TUN). Peradilan TUN disini merupakan badan yang diharapkan menjadi

tempat warga negara mencari keadilan dan harapan memperolehkeadilan.Warga negara bisa

menggugat aparatur negara dalam menyelenggarakan pemerintahan, membuat keputusan

yang melampau batas wewenangnya atau adanya kekeliruan dalam menerapkan aturan

hukumnya saat menyelesaikan suatu masalah tertentu yang konkrit.28

kelima partai diatas menggunakan saluran ini karena PTUN dianggap memiliki

kewenangan yudikatif dalam menyelesaikan sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha

Negara, antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat TUN baik pusat

maupun daerah. Pemohon menganggap keputusan kPU yang tidak meloloskan kelima partai

tersebut sebagai peserta pemilu sebagai keputusan Tata Usaha Negara dan kPU sebagai

pejabat TUN. Pasal 1 Ayat (9) UU No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas UU

No. 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyebutkan bahwa Keputusan Tata Usaha

Negara (Keputusan TUN) adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau

Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual, dan final

yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan usaha perdata.

Memang kemudian UU No. 9 Tahun 2004 membuat pengecualian terhadap

pengertian keputusan TUN. Pasal 2 UU No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 5

28 bachsan Mustafa, sistem Hukum administrasi negara indonesia, (bandung : Citra aditya bakti, 2001), hlm. 109.

Page 32: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 29 Pokok Permasalahan dan Pembahasan

Tahun 1986 tentang Peradilan TUN menyebutkan bahwa tidak termasuk dalam pengertian

keputusan Tata Usaha Negara adalah:

1. keputusan Tata Usaha Negara merupakan perbuatan hukum perdata;

2. keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat umum;

3. keputusan Tata Usaha Negara yang masih memerlukan persetujuan;

4. keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan Kitab Undang-

Undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau peraturan

perundang-undangan lain yang bersifat hukum pidana;

5. keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan atas dasar hasil pemeriksaan badan

peradilan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

6. keputusan Tata Usaha Negara mengenai tata usaha Tentara Nasional indonesia;

7. keputusan komisi Pemilihan Umum baik di pusat maupun di daerah mengenai hasil

pemilihan umum.”

Berdasarkan pengecualian tersebut muncul penafsiran yang berbeda khususnya

terjemahan tentang keputusan kPU terkait hasil pemilu. surat Edaran Mahkamah Agung No.

8/ 2005 tentang Petunjuk Teknis Sengketa Pemilukada telah menghilangkan kewenangan

Pengadilan Tata Usaha Negara untuk memeriksa dan mengadili sengketa administrasi

pemilu.29 seMA itu telah memperluas pengertian hasil pemilu sebagaimana dimaksud Pasal 2

huruf g UU 9/2004 tentang PTUN, bahwa keputusan kPU terkait hasil pemilu bukan

merupakan objek sengketa TUN. keputusan kPU dimaksud meliputi semua produk hukum

kPU terkait hasil penyelenggaraan pemilu.karena keputusan kPU dianggap sebagai produk

politik yang tidak dapat diuji melalui mekanisme hukum administrasi. Akibatnya, SEMA itu

telah menendang keluar kewenangan PTUN untuk mengadili sengketa administrasi. Selain

itu dalam berbagai yurisprudensi MA,telah digariskan bahwa keputusan yang berkaitan dan

29 Veri Junaidi, kekosongan hukum sengketa administrasi pemilu, Suara Karya, 30 Januari 2009.

Page 33: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 30 Pokok Permasalahan dan Pembahasan

termasuk dalam ruang lingkup politik dalam kasus pemilihan tidak menjadi kewenangan

PTUN untuk memeriksa dan mengadilinya. Akibatnya permasalahan sengketa administrasi

pemilu tidak memiliki mekanisme penyelesaian yang jelas.

Simpang-siurnya pengaturan mekanisme penyelesaian sengketa administrasi pemilu

memunculkan saluran-saluran yang berbeda dalam penyelesaian kasus yang sama. Akhir

penyelesaian terhadap Partai Republiku berbeda dengan nasib empat partai lainya yang

dinilai lebih beruntung. Meskipun PTUN pada tanggal 18 Agustus 2009 mengeluarkan

Putusan No. 110/G/2008 PTUN Jakarta yang memerintahkan KPU untuk membatalkan SK

Nomor 2446/15/VII/08 tanggal 28 Juni 2008 tentang hasil verifikasi faktual yang menolak

Partai Republik sebagai partai peserta Pemilu 2009, KPU tidak lantas melaksanakan putusan

itu. Bahkan KPU mengajukan Banding ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. karena

KPU kalah dua kali baik di PTUN dan PTTUN, sehingga KPU mengajukan kasasi ke

Mahkamah Agung.

Proses kasasi di Mahkamah Agung memperlihatkan dampak tidak adanya pengaturan

yang tegas mekanisme sengketa administrasi. Akibatnya, tidak menimbulkannya kepastian

hukum dan keadilan bagi para pihak, baik Partai Republiku maupun KPU. Mahkamah Agung

justru mengeluarkan Putusan yang diluar dugaan. MA menilai bahwa keputusan kPU bukan

merupakan keputusan Tata Usaha Negara sebagaimana dalam ranah sengketa administrasi

negara. keputusan kPU dalam penyelenggaraan pemilu dinilai sebagai keputusan dalam ranah

politik sehingga Pengadilan Tata Usaha Negara maupun Pengadilan Tinggi Tata Usaha

Negara tidak memiliki kompetensi absolut dalam penyelesaian kasus ini. Oleh karena itu,

Mahkamah Agung memerintahkan para pihak untuk menyelesaikan permasalahan itu dalam

ranah hukum perdata. karena MA memutuskan PTUN dan PTTUN tidak memiliki

kompetensi absolut maka Partai Republiku pun membawa kasus ini dalam ranah privat, yakni

gugatan perdata melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus). Dalam gugatan ini

Page 34: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 31 Pokok Permasalahan dan Pembahasan

lagi-lagi KPU kalah dan PN Jakpus mengeluarkan Putusan No.408/PDT.G/2008/PN.

JKT.PST tertanggal 24 Desember 2008. Melalui Putusan itu, pengadilan membatalkan Surat

Keputusan Ketua KPU No. 2446/15/VII/2008 Tanggal 28 Juli 2008 tentang hasil verifikasi

peserta Pemilu Tahun 2009 yang tidak meloloskan Partai Republiku sebagai peserta Pemilu

2009.

Putusan itu menunjukkan tidak adanya mekanisme yang adil dalam penyelesaian

sengketa administrasi pemilu. Meskipun PN Jakarta Pusat telah memenangkan Partai

Republiku pada tanggal 28 Desember 2008, Putusan itu tidak dapat dilaksanakan oleh kPU.

Mengingat tahapan penyelenggaraan Pemilu legislatif 2009 telah berjalan. kPUpun

mengalami dilema untuk melaksanakan putusan tersebut, karena dinilai justru akan

mengacaukan tahapan pemilu yang sudah berjalan. Akibatnya, Putusan Pengadilan justru

tidak memberikan keadilan bahkan memunculkan permasalahan baru.

Melihat kasus di atas, persoalan bukan hanya karena UU Pemilu tidak mengatur

tentang sengketa administrasi pemilu. Persoalan juga muncul ditingkat peradilan dan aturan

tentang mekanisme tersebut. Putusan Mahkamah Agung yang menyatakan sengketa

Administrasi Pemilu bukan sebagai kompetensi absolut pengadilan didasarkan pada surat

edaran Mahkamah Agung (SEMA) No 8/2005 tentang Petunjuk Teknis Sengketa Pemilihan

Umum kepala Daerah telah menghilangkan kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara

(PTUN) untuk memeriksa dan mengadili sengketa administrasi pemilu. sengketa itu terkait

dengan mekanisme koreksi atas setiap keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang

penyelenggaraan pemilu/pemilukada.

SEMA No 8/2005 telah memperluas pengertian tentang hasil pemilu sebagaimana

dimaksud Pasal 2 huruf g UU 9/2004 tentang PTUN. Ketentuan pasal itu menyebutkan

bahwa Keputusan KPU, KPU provinsi, dan KPU kabupaten/kota terkait dengan hasil pemilu

bukanlah merupakan objek sengketa TUN. Akibatnya, SEMA tersebut telah menendang

Page 35: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 32 Pokok Permasalahan dan Pembahasan

keluar kewenangan PTUN untuk mengadili sengketa administrasi pemilu. Sebab, menurut

SEMA No 8/2005, yang dimaksud dengan keputusan KPU tentang sengketa hasil pemilu

adalah semua produk hukum kPU terkait penyelenggaraan pemilu. Artinya, keputusan KPU

dianggap sebagai produk politik yang tidak dapat diuji melalui mekanisme administratif.

Padadasarnya, setiap kebijakan berpotensi memunculkan permasalahan karena tidak

selamanya keputusan pejabat publik sesuai dengan kehendak seseorang yang terkena dampak

dari kebijakan itu. Apalagi, konteks Pemilu 2009 memberikan peluang besar bagi munculnya

sengketa administrasi pemilu. Ketentuan perundang-undangan dalam pemilu, baik UU No

10/2008 tentang Pemilu Legislatif maupun UU No 22/2007 tentang Penyelenggara Pemilu,

tidak menegaskan bahwa keputusan KPU bersifat final dan mengikat. Berbeda dengan

UUNo12/2003 sebagai dasar penyelenggaraan Pemilu 2004, yang menegaskan bahwa

keputusan KPU bersifat final dan mengikat. Dengan demikian, jelas bahwa keputusan kPU

tidak dapat digugat dan tertutup kemungkinan adanya sengketa administrasi pemilu.

Kekosongan hukum ini memunculkan berbagai masalah. Pertama, tidak adanya

kepastian hukum atas sengketa administrasi pemilu. Para pihak yang merasa dirugikan atas

keputusan KPU kecuali tentang hasil, akan menempuh mekanisme yang berbeda-beda.

Seperti empat partai politik yang tak lolos electoral threshold yaitu Partai Buruh, Partai

Sarikat Islam (PSI), Partai Merdeka, dan Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia

(PNUI). Kemudian menyusul Partai Republiku mengajukan gugatan melalui PTUN. Namun,

untuk Partai Republiku, MA menyatakan PTUN tidak berwenang memeriksa dan

mengadilinya, sehingga harus mengajukannya ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Mekanisme yang berbeda ini berpotensi memunculkan ketimpangan keadilan dan disparitas

putusan.

Kedua, terabaikannya ketidakpuasan peserta pemilu atas keputusan KPU. Sebab,UU

Pemilu tidak mengenal mekanisme sengketa administrasi pemilu. UU No 10/2008 hanya

Page 36: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 33 Pokok Permasalahan dan Pembahasan

mengenal adanya pelanggaran pidana pemilu, pelanggaran administrasi pemilu, dan sengketa

hasil pemilu. Pelanggaran administrasi dimaksud adalah pelanggaran atas ketentuan syarat-

syarat administrasi pemilu dan bukan mekanisme komplain atas keputusan KPU dalam

pengertian pejabat TUN. Oleh karena itu, sengketa bukan merupakan tugas dan wewenang

kPU untuk menyelesaikannya.30

30 Veri Junaidi, kekosongan hukum sengketa administrasi pemilu, Suara Karya, 30 Januari 2009.

Page 37: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 34 Penutup

BAB IV

PENUTUP

A. Resensi Pembahasan

HAK pilih warga negara merupakan bagian dari hak asasi manusia. Hak tersebut

hadir sebagai konsekuensi atas kesepakatan dalam sejarah pembentukan negara. Hak yang

melekat dalam diri individu menjadi dasar dalam kesepakatan kolektif (kesepakatan umum)

untuk membentuk negara. Oleh karena itu, pengingkaran terhadap hak pilih berarti telah

mencederai legitimasi pembentukan negara.

kehadiran hak pilih juga bukan hal yang sepele sehingga dapat dengan mudah

diabaikan. Keberadaannya dijamin dalam konstitusi, bahwa setiap warga negara memiliki hak

yang sama dalam pemerintahan. Hak pilih bahkan dalam konteks internasional diakui sebagai

hak sipil dan politik warga negara. Pengaturan dunia internasional mengakui itu, bahkan telah

diratifikasi dalam perundang-undangan di Indonesia. Berdasarkan hal itu, maka bahasan

tentang keadilan pemilu dan prinsip-prinsip penyelesaian sengketa pemilu menjadi satu

paradigma dan instrumen untuk menegakkan hak pilih.

Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan Negara Hukum ialah negara yang

berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya. Keadilan merupakan

syarat bagi terciptanya kebahagiaan hidup untuk warga negaranya, dan sebagai dasar dari

pada keadilan itu perlu diajarkan rasa susila kepada setiap manusia agar ia menjadi warga

negara yang baik. Demikian pula peraturan hukum yang sebenarnya hanya ada jika peraturan

hukum itu mencerminkan keadilan bagi pergaulan hidup antar warga negaranya.

Sedangkan yang dimaksud dengan due process of law yang substansif adalah suatu

persyaratan yuridis yang menyatakan bahwa pembuatan suatu peraturan hukum tidak boleh

berisikan hal-hal yang dapat mengakibatkan perlakuan manusia secara tidak adil, tidak logis

Page 38: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 35 Penutup

dan sewenang-wenang. Kewenangan Pengadilan untuk menerima, memeriksa, memutus

menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya yang dikenal dengan kompetensi atau

kewenangan mengadili.

Kompetensi (kewenangan) suatu badan pengadilan untuk mengadili suatu perkara

dapat dibedakan atas kompetensi relatif dan kompetensi absolut. Kompetensi relatif

berhubungan dengan kewenangan pengadilan untuk mengadili suatu perkara sesuai dengan

wilayah hukumnya. Sedangkan kompetensi absolut adalah kewenangan pengadilan untuk

mengadili suatu perkara menurut obyek, materi atau pokok sengketa.

a. Kompetensi Relatif

Kompetensi relatif suatu badan pengadilan ditentukan oleh batas daerah hukum yang

menjadi kewenangannya. Suatu badan pengadilan dinyatakan berwenang untuk

memeriksa suatu sengketa apabila salah satu pihak sedang bersengketa

(Penggugat/Tergugat) berkediaman di salah satu daerah hukum yang menjadi wilayah

hukum pengadilan itu.

b. Kompetensi Absolut

Kompetensi absolut berkaitan dengan kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara untuk

mengadili suatu perkara menurut obyek, materi atau pokok sengketa. Adapun yang

menjadi obyek sengketa Tata Usaha Negara adalah Keputusan tata usaha negara

sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 3 UU No. 5 Tahun 1986 UU No. 9 Tahun 2004.

PTUN mempunyai kompetensi menyelesaikan sengketa tata usaha negara di

tingkat pertama. Sedangkan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT.TUN) untuk tingkat

banding. Akan tetapi untuk sengketa-sengketa tata usaha negara yang harus diselesaikan

terlebih dahulu melalui upaya administrasi berdasarkan Pasal 48 UU No. 5 tahun1986 jo UU

No. 9 tahun 2004 maka PT.TUN merupakan badan peradilan tingkat pertama. Terhadap

putusan PT.TUN tersebut tidak ada upaya hukum banding melainkan kasasi.

Page 39: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 36 Penutup

B. Kesimpulan

Dari penulisan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Penyelesaian sengketa dalam Pemilihan Umum dapat dilakukan di Peradilan Tata

Usaha Negara karena MA pada tahun 2010 telah merubah keputusan terkait Pasal

2 hurup g UU PTUN. Tentang materi SEMA No. 7 Tahun 2010 bahwa keputusan-

keputusan yang belum atau tidak merupakan ”hasil pemilihan umum” dapat

digolongkan sebagai keputusan dibidang urusan pemerintahaan. Sepanjang

keputusan tersebut memenuhi Undang-Undang No. 51 Tahun 2009 tentang

perubahan kedua dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata

Usaha Negara Pasal 1 ayat 9 tentang kewenangan PTUN dalam memeriksa dan

mengadili permaslahan yang terkait dengan Pemilihan Umum.

2. Dalam penyelesaian sengketa TUN dalam pemilu putusan PTUN tidak

memberikan implikasi terhadap tahapan dalam pemilu dan hasil pemilu yang

ditetapkan oleh KPU.

Page 40: Kewenangan PTUN Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Yang Dibuat Oleh KPU dan KPUD.pdf

Hal. 37

DAFTAR PUSTAKA

Afan Gaffar, Politik Indonesia, Transisi Menuju Demokrasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara.UII Press,Yogyakarta: 2002. Sumali, 2002, Reduksi Kekuasaan Eksekutif di Bidang Peraturan Pengganti Undang-Undang

(PERPU), UMM Press, Malang.

Azhary, 1995, Negara Hukum Indonesia-Analisis Yuridis Normatif tentang Unsur-unsurnya,

UI-PRESS, Jakarta.

Ellydar Chaidir, 2001, Hubungan Tata Kerja Presiden dan Wakil Presiden, Prespektif

Konstitusi, UII Press, Yogyakarta.

Romi Librayanto, 2008, Trias Politica “Dalam Struktur Ketatanegaraan Indonesia” , Pusat

Kajian Politik, Demokrasi dan Perubahan Sosial (PuKAP) Makassar.

Achmad Ruslan, 2011, Teori dan Panduan Praktik Pembentukan Peraturan Perundang-

Undangan di Indonesia, Rangkang Education, Yogyakarta.

Asshiddiqie, jimly, 2009, Pengantar ilmu hukum tata negara, Konstitusin Press Jakarta.

Prajudi Atmosudirdjo, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Sjachran Basah, Menelaah Liku-liku Rancangan Undang-undang No. -Tahun 1986 tentang

Peradilan Tata Usaha Negara, Alumni, Bandung.

lutfi effendi,2004. Pokok-Pokok Hukum administrasi negara.bayu Media: Malang – Jatim

Bachsan Mustafa, Sistem Hukum administrasi negara indonesia, (bandung : Citra aditya

bakti, 2001).

Veri Junaidi, kekosongan hukum sengketa administrasi pemilu, Suara Karya, 30 Januari

2009.