Kejang Neo PONEK

download Kejang Neo PONEK

of 81

  • date post

    08-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    40
  • download

    1

Embed Size (px)

description

bhasghsgdg

Transcript of Kejang Neo PONEK

  • Kejang Pada NeonatusTim PONEK Nasional & regional

  • Gambaran Umum Modul: TujuanTujuan modul ini adalah untuk menginformasikan metodologi pelatihan berbasis kompetensi bagi fasilitator, yang jika diimplementasikan sesuai rancangannya, akan mendorong dokter menguasai pengetahuan, kompetensi dan keterampilan yang diperlukan untuk mendiagnosis dan melakukan tatalaksana kejang pada neonatus

  • Gambaran Umum Modul: Latar BelakangKejang pada neonatus merupakan kedaruratan medis Mortalitas dan morbditas tinggiPerlu diagnosis dan tatalaksana yang cepat.Dokter harus mampu mengenali kejang, menentukan kemungkinan penyebabnya dan melakukan tatalaksana yang tepat. Tentukan prognosis berdasarkan jenis dan manifestasi kejang dan orang tua diberi informasi dengan cara bijaksana.

  • Analisis Tugas: TugasMelengkapi penilaian neonatus dan mengimplementasikan kebijakan serta prosedur neonatus yang masuk untuk dirawat/keluar sesuai dengan standar dan protokol pelayananan, termasuk mencegah, mendiagnosis dan melakukan tatalaksana kejang pada neonatus

  • Analisis Tugas: Kompetensi 1

    Kompetensi: Mendefinisikan kejang, Mengidentifikasi kejadiannya, dan Menjelaskan berbagai jenis, gambaran klinis, serta etiologinya

  • Analisis Tugas: Kompetensi 1

    Keterampilan:

    1.1 Mendefinisikan kejang dan membedakan kejang epileptik dan non-epileptik.1.2 Mengetahui insidens kejang pada neonatus.1.3 Menjelaskan empat jenis kejang dan gambaran klinisnya.1.4 Mengidentifikasi gerakan biasa yang bukan kejang.1.5 Mengidentifikasi etiologi kejang paling sering pada neonatus.1.6 Mengidentifikasi etiologi kejang pada neonatus yang jarang ditemui

  • Analisis Tugas: Kompetensi 2Kompetensi:Mendiagnosis kejang pada neonatus

    Keterampilan2.1 Melengkapi riwayat ibu dan riwayat obstetrinya.2.2 Melakukan pemeriksaan fisis yang seksama termasuk: - Pemeriksaan umum. - Pemeriksaan neurologis. 2.3 Menginstruksikan pemeriksaan laboratorium yang sesuai.

  • Analisis Tugas: Kompetensi 3Kompetensi: Melakukan tatalaksana kejang pada neonatus

    Keterampilan:3.1Mencapai homeostasis sistemik (Jalan napas, pernapasan dan sirkulasi).3.2Mengoreksi penyebab utamanya, jika mungkin.3.3Menghentikan kejang dengan obat anti kejang.

  • Analisis Tugas: Kompetensi 4Kompetensi: Menentukan prognosis dan menginformasikan prognosis kepada orang tua

    Keterampilan4.1. Menentukan prognosis.4.2. Mengomunikasikan prognosis kepada orang tua dengan cara yang tepat.

  • Sesi 1: Tujuan Tujuan sesi ini Adalah untuk memperkenalkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang diperlukan untuk mengidentifikasi, mendiagnosis, mengklasifikasi dan merawat kejang pada neonatus dengan tepat.

  • Tujuan PembelajaranMendefinisikan kejang dan membedakan kejang epileptik dan non-epileptik.Mengetahui insidens kejang pada neonatus.Menjelaskan empat jenis kejang dan gambaran klinisnya.Mengidentifikasi gerakan biasa yang bukan kejang.

  • Tujuan Pembelajaran (lanjutan)5. Mengidentifikasi penyebab kejang pada neonatus, baik etiologi yang sering maupun yang jarang.6. Mendiagnosis kejang pada neonatus.7. Merawat kejang pada neonatus.8. Menginformasikan prognosis bayi kepada orang tuanya.

  • Definisi Kejang pada NeonatusKejang merupakan gangguan sepintas fungsi otak yang bermanifestasi sebagai cedera episodik pada kesadaran yang berkaitan dengan kegiatan motorik atau otonom.

  • Kejang Epileptik dan Non-EpileptikMenurut asal patologi dan neuronal, kejang dibagi 2 kejang epileptik dan non epileptik.Kejang epileptik berasal dari saraf kortikal dan berkaitan dengan perubahan EEG.Kejang non-epileptik berawal dari subkortikal dan biasanya tidak terdapat kelainan pada EEG. - dirangsang oleh stimuli dan dipengaruhi oleh kekangan dan perubahan posisi tubuh.

  • Kejadian Kejang Pada neonatusKejadiannya meliputi 0,5% dari semua neonatus baik cukup bulan maupun kurang bulan.Kejadiannya lebih tinggi pada bayi kurang bulan (3,9%) pada bayi dengan usia kehamilan < 30 minggu). Bentuk kejang pada neonatus tidak khas sehingga banyak yang tidak teridentifikasi

  • Jenis dan Presentasi Klinis Kejang Pada neonatusEmpat jenis kejang yang sering ditemui pada neonatus:Kejang Tonik

    Kejang Klonik

    Kejang Mioklonik

    Kejang subtle

  • Kejang TonikKejang tonik dapat berbentuk umum atau fokal.Tertama pada bayi preterm (< 37 minggu)Ekstensi pada ekstremitas atas dan bawah (postur deserebrasi)Fleksi pada ekstremitas atas dan ekstensi pada ekstremitas bawahMerupakan tanda ICH berat pd bayi prematur

  • Kejang Tonik Focal Terlihat dari postur asimetris dari salah satuekstremitas atau batang tubuh atau deviasi tonik kepala atau mata.

    Sebagian besar kejang tonik terjadi bersamaandengan penyakit sistem syaraf pusat yang difusdan perdarahan intraventrikular.

  • Kejang KlonikBiasanya >>>terjadi pada neonatus cukup bulan (>37 minggu) />2500 gram.Fokal atau multifokalTerdiri dari gerakan kejut pada ekstremitas yang perlahan dan berirama (1-3 /menit). Setiap gerakan terdiri dari satu fase gerakan yang cepat dan diikuti oleh fase yang lambat.Perubahan posisi atau memegang ekstremitas yang bergerak tidak akan menghambat gerakan tersebut.

  • Kejang Klonik (lanjutan)Tidak terjadi hilang kesadaran.Berkaitan dengan trauma fokal, infarks atau gangguan metabolik.

  • Kejang Mioklonik Kejang mioklonik fokal, multi-fokal atau umum.

    Kejang mioklonik fokal biasanya melibatkan otot fleksor pada ekstremitas.Kejang mioklonik multi-fokal terlihat sebagai gerakan kejutan yang tidak sinkron pada beberapa bagian tubuh.Kejang mioklonik umum terlihat sangat jelas berupa fleksi masif pada kepala dan batang tubuh dengan ekstensi atau fleksi pada ekstremitas. Kejang ini berkaitan dengan patologi SSP yang difus.

  • Kejang subtle>>> preterm dibanding aterm Gerakan stereotip ekstremitas seperti gerakan mengayuh sepeda atau berenang.Deviasi atau gerakan kejut pada mata dan mengedip berulang.Ngiler, gerakan menghisap atau mengunyah.Apnea atau perubahan tiba-tiba pada pola pernapasan.Fluktuasi yang berirama pada tanda vital.

  • Gerakan ringan yang bukan kejangJitterinessApnea pada saat tidurGerakan menghisap yang terisolasiMioklonik ringan saat tidur

  • JitterinessJitteriness seringkali salah didiagnosis sebagai kejang klonik. Secara klinis jitteriness berbeda dari kejang klonik menurut aspek berikut ini:

  • Jitteriness (lanjutan)Amplitudo fase fleksi dan ekstensi sama.Neonatus umumnya sadar, tidak ada gerakan atau kerlingan mata yang abnormal.Fleksi pasif atau memindahkan posisi ekstremitas bisa menghilangkan tremor. Tremor timbul karena rangsangan taktil meskipun mungkin spontan.Tidak ada abnormalitas EEG.

  • Jitteriness (lanjutan)Seringkali terlihat pada neonatus dengan hipoglikemi, penghentian obat, hipokalsemia, hipotermia dan pada neonatus kecil untuk masa kehamilan (KMK).Secara spontan menghilang dalam waktu beberapa minggu. Pemeriksaan nerologis normal pada masa anak selanjutnya. Karena itu anti kejang pada umumnya tidak diperlukan.

  • Apnea pada saat tidurTidak berkaitan dengan gerakan abnormal dan biasanya berkaitan dengan bradikardi. Pada kejang yang disertai apnea, gerakan abnormal, takikardia dan peningkatan tekanan darah juga ditemui.

  • Gerakan Menghisap Yang TerisolasiGerakan menghisap yang tidak beraturan, tidak sering dan tidak berlangsung lama bukanlah kejang.

  • Gerakan Mioklonik Ringan Saat TidurUmumnya pada bayi kurang bulan selama tidur, bisa fokal, multi-fokal, atau umum. Tidak akan berhenti meskipun bayi dikekang. Menghilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa menit dan tidak memerlukan pengobatan.

  • Gerakan Mioklonik Ringan Saat Tidur (lanjutan)Gerakan tersebut berbeda dengan kejang mioklonik berikut ini: Dapat dipicu oleh bunyi atau gerakan. Dapat berkurang jika bangun. Tidak berkaitan dengan perubahan otonom apapun.

  • GAMBARAN KLINIK

  • GAMBARAN KLINIK Myelinisasi belum sempurna

  • GAMBARAN KLINIK Myelinisasi belum sempurnalobus temporalis :Sinaptogenesis & mielinisasi lebih pesat

  • GAMBARAN KLINIK Myelinisasi belum sempurnalobus temporalis :Sinaptogenesis & mielinisasi lebih pesatRangsang : menetap pada hemisfer / menyeberang ke hemisfer, kontra lateral tetapi tidak berlangsung sekaligus bersama-sarna

  • GAMBARAN KLINIK Myelinisasi belum sempurnalobus temporalis :Sinaptogenesis & mielinisasi lebih pesatRangsang : menetap pada hemisfer / menyeberang ke hemisfer, kontra lateral tetapi tidak berlangsung sekaligus bersama-sarnaSinkronisasi bilateral rangsang tidak terjadi

  • GAMBARAN KLINIK Myelinisasi belum sempurnalobus temporalis :Sinaptogenesis & mielinisasi lebih pesatRangsang : menetap pada hemisfer / menyeberang ke hemisfer, kontra lateral tetapi tidak berlangsung sekaligus bersama-sarnaSinkronisasi bilateral rangsang tidak terjadiAktivitas epileptik : daerah temporal & sub kortikal

  • GAMBARAN KLINIK Myelinisasi belum sempurnalobus temporalis :Sinaptogenesis & mielinisasi lebih pesatRangsang : menetap pada hemisfer / menyeberang ke hemisfer, kontra lateral tetapi tidak berlangsung sekaligus bersama-sarnaSinkronisasi bilateral rangsang tidak terjadiAktivitas epileptik : daerah temporal & sub kortikalmenyeringaimengunyah

  • GAMBARAN KLINIK Myelinisasi belum sempurnalobus temporalis :Sinaptogenesis & mielinisasi lebih pesatRangsang : menetap pada hemisfer / menyeberang ke hemisfer, kontra lateral tetapi tidak berlangsung sekaligus bersama-sarnaSinkronisasi bilateral rangsang tidak terjadiAktivitas epileptik : daerah temporal &amp