Isi HPLC Edit

of 30 /30
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kromatografi merupakan teknik pemisahan fisik campuran komponen dalam sampel yang berdasar pada perbedaan migrasi komponen-komponen tersebut dan fase diam dipengaruhi oleh fase gerak. Kromatografi cair kinerja tinggi ( HPLC ) merupakan salah satu kromatografi yang memerlukan ketelitian dan kehati- hatian yang tinggi, karena sensitivitas instrumen yang lebih tinggi. Komponen-komponen HPLC antara lain : 1. Tempat solvent/ pelarut 2. Pompa untuk menarik/mendorong solvent dari tempatnya menuju kolom dari HPLC 3. Kolom HPLC adalah tempat fase dalam dan tempat terjadinya peristiwa penahanan 4. Senyawa yang lebih lipofilik 5. Injektor autosampel yaitu tempat menyuntikkan sampel dengan micro syringe 1 | HPLC

description

HPLC "Kimia Farmasi Analisis 2011"

Transcript of Isi HPLC Edit

Page 1: Isi HPLC Edit

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kromatografi merupakan teknik pemisahan fisik campuran komponen

dalam sampel yang berdasar pada perbedaan migrasi komponen-komponen

tersebut dan fase diam dipengaruhi oleh fase gerak. Kromatografi cair kinerja

tinggi ( HPLC ) merupakan salah satu kromatografi yang memerlukan ketelitian

dan kehati-hatian yang tinggi, karena sensitivitas instrumen yang lebih tinggi.

Komponen-komponen HPLC antara lain :

1. Tempat solvent/ pelarut

2. Pompa untuk menarik/mendorong solvent dari tempatnya menuju kolom

dari HPLC

3. Kolom HPLC adalah tempat fase dalam dan tempat terjadinya peristiwa

penahanan

4. Senyawa yang lebih lipofilik

5. Injektor autosampel yaitu tempat menyuntikkan sampel dengan micro

syringe

6. Detektor berfungsi sebagai pendeteksi suatu senyawa obat yang telah

diinjeksikan

7. Komputer yaitu sebagai read out/pembaca (recorder) data

8. Waste yaitu tempat pembuangan eluen

9. Ultrasonik yaitu alat untuk menghilangkan gelembung udara pada eluen

yang telah disaring

1 | H P L C

Page 2: Isi HPLC Edit

1.2. Tujuan

Tujuan dari praktikum HPLC ini adalah mahasiswa dapat melakukan dan

menjelaskan :

1. Metode Kromatografi Cairan Kinerja Tinggi ( HPLC )

2. Mengetahui komponen-komponen HPLC

3. Tahapan pengukuran analisis

4. Fungsi masing-masing komponen HPLC

5. Penetapan kadar obat dalam sediaan tablet dengan metode HPLC

6. Pengolahan data dan menyimpulkan hasil percobaan

1.3. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pengertian HPLC dan Sistem Kerjanya?

2. Alat dan Bahan apa yang digunakan?

3. Bagaimana prosedur kerjanya?

4. Bagaimana melakukan perhitungan dengan hasil pengamatan yang

didapat?

2 | H P L C

Page 3: Isi HPLC Edit

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian HPLC dan Sistem Kerjanya

A. Prinsip Dasar HPLC

Prinsip kerja HPLC adalah dengan bantuan pompa fasa gerak cair

dialirkan melalui kolom ke detector. Cuplikan dimasukkan ke dalam aliran fasa

gerak dengan cara penyuntikan. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen-

komponen campuran. Karena perbedaan kekuatan interaksi antara solute-solut

terhadap fasa diam. 

Solut-solut yang kurang kuat interaksinya dengan fasa diam akan keluar

dari kolom lebih dulu. Sebaliknya, solut-solut yang kuat berinteraksi dengan fasa

diam maka solute-solut tersebut akan keluar kolom dideteksi oleh detector

kemudian direkam dalam bentuk kromatogram kromatografi gas. Seperti pada

kromatografi gas, jumlah peak menyatakan konsentrasi komponen dalam

campuran. Computer dapat digunakan untuk mengontrol kerja sistem HPLC dan

mengumpulkan serta mengolah data hasil pengukuran HPLC.

3 | H P L C

Page 4: Isi HPLC Edit

B. Instrumentasi Kromatografi Cairan Kinerja Tinggi

1. Fasa Gerak

Fasa gerak dalam HPLC adalah berupa zat cair dan disebut juga eluen atau

pelariut. Berbeda dengan kromatografi gas, HPLC mempunyai lebih banyak

pilihan fasa gerak, dibandingkan dengan fasa gerak untuk kromatografi gas.

Dalam kromatografi gas, fasa gerak hanya sebagai pembawa solute melewati

kolom menuju detektor. Sebaliknya dalam HPLC, fasa gerak selain berfungsi

membawa komponen-komponen campuran menuju detector, fasa gerak dapat

berinteraksi dengan solute-solut. Oleh karena itu, fasa gerak dalam HPLC

merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses pemisahan. 

Persyaratan fasa gerak HPLC 

Zat cair yang akan digunakan sebagai fasa gerak HPLC harus memenuhi beberapa

persyaratan berikut :

1. zat cair harus bertindak sebagai pelarut yang baik untuk cuplikan

yang akan di analisis.

2. zat cair harus murni sekali untuk menghindarkan masuknya kotoran

yang dapat menganggu interpretasi kromatogram.

3. zat cair harus jernih sekali untuk menghindarkan penyumbatan pada

kolom.

4. zat cair harus mudah diperoleh, murah, tidak mudah terbakar, dan

tidak beracun.

5. zat cair tidak kental. 

6. sesuai dengan detektor.

Jenis fasa gerak.

Fasa gerak untuk kromatografi partisi, adsorpsi, dan penukar ion bersifat

interaktif dalam arti fasa gerak berinteraksi dengan komponen-komponen

cuplikan. Akibatnya, waktu retensi sangat dipengaruhi oleh jenis pelarut.

Sebaliknya fasa gerak untuk kromatografi eksklusi bersifat non interaktif. Oleh

karena itu, waktu retensi dengan kromatografi ini tidak bergantung pada

komposisi fasa gerak.

4 | H P L C

Page 5: Isi HPLC Edit

2. Pompa.

Pompa dalam HPLC dapat dianalogikan dengan jantung pada manusia

yang berfungsi untuk mengalirkan fasa gerak cair melalui kolom yang berisi

serbuk halus. Pompa yang dapat digunakan dalam HPLC harus memenuhi

persyaratan :

1. Menghasilkan tekanan sampai 600 psi (pons/in2)

2. Keluaran bebas pulsa

3. Kecepatan alir berkisar antara 0,1-10 mL/menit

4. Bahan tahan korosi

Dikenal tiga jenis pompa yang masing-masing memiliki keuntungan dan

kekurangannya yaitu pompa reciprocating, displacement dan pneumatic. 

Pompa reciprocating

Jenis pompa ini sekarang banyak dipakai. Pompa ini terdiri dari ruangan

kecil tempat pelarut yang dipompa dengan cara gerakan piston mundur-maju yang

dijalankan oleh motor. Piston berupa batang gelas dan berkontak langsung dengan

pelarut.

Pompa displacement

Pompa ini menyerupai syringe (alat suntik) terdiri dari tabung yang

dilengkapi pendorong yang digerakan oleh motor. Pompa ini juga menghasilkan

aliran yang cenderung tidak bergantung tekanan baik kolom dan viskositas

pelarut. Selain itu, keluaran pompa ini bebas pulsa. Akan tetapi pompa ini

keterbatasan kapasitas pelarut (~250 mL) dan tidak mudah untuk melakukan

pergantian pelarut

Pompa pneumatic

Dalam pompa ini pelarut di dorong oleh gas bertekanan tinggi. Pompa jenis

ini murah dan bebas pulsa. Akan tetapi mempunyai keterbatasan kapasitas dan

tekanan yang dihasilkan (<2000 psi) serta kecepatan alir bergantung pada

viskositas pelarut dan tekanan balik kolom.

5 | H P L C

Page 6: Isi HPLC Edit

3. Unit Sistem Penyuntikan atau Penginjeksian Sampel

Kadang kala, faktor ketidaktepatan pengukuran HPLC terletak pada

keterulangan pemasukan cuplikan ke dalam peking kolom. Masalahnya,

kebanyakan memasukan cuplikan ke dalam kolom dapat menyebabkan band

broadening. Oleh karena itu, cuplikan yang dimasukkan harus sekecil mungkin,

beberapa puluh mikroliter. Selain itu, perlu diusahakan tekanan tidak menurun

ketika memasukkan cuplikan ke dalam aliran fasa gerak. Berikut beberapa teknik

pemasukan cuplikan ke dalam sistem HPLC :

1. Injeksi Syringe

Alat yang paling dulu dan paling mudah untuk memasukkan cuplikan adalah

syringe. Syringe disuntikkan melalui septum (seal karet) dan untuk ini dirancang

syringe yang tahan tekanan sampai 1500 psi. akan tetapi keterulangan injeksi

syringe ini sedikit lebih baik dari 2-3 % dan sering lebih jelek. 

Injeksi ‘stop-flow’

2. Injeksi stop-floe adalah jenis injeksi syringe kedua tapi di sini aliran pelarut

dihentikan sementara, sambungan pada ujung kolom dibuka dan cuplikan

disuntikan langsung ke dalam ujung kolom. Setelah menyambungkan kembali

kolom maka pelarut dialirkan kembali

.

1. Kran Cuplikan

Jenis pemasukan cuplikan ini disebut juga loop dan paling banyak

digunakan. Untuk memasukkan cuplikan ke dalam aliran fasa gerak perlu dua

langkah: (a) sejumlah volume cuplikan disuntikkan ke dalam loop dalam posisi

‘load’, cuplikan masih berada dalam loop, (b) kran diputar untuk mengubah posisi

‘load’ menjadi posisi ‘injeksi’ dan fasa gerak membawa cuplikan ke dalam kolom.

Loop dapat diganti-ganti dan tersedia berbagai ukuran volume dari 5 hingga

500μL. Dengan sistem pemasukan cuplikan ini memungkinkan memasukkan

cuplikan pada tekanan 7000 psi dengan ketelitian tinggi. Juga loop mikro tersedia

dengan volume 0,5 hingga 5 μL.

6 | H P L C

Page 7: Isi HPLC Edit

2. Kolom

Kolom HPLC biasanya terbuat dari stainless steel walaupun ada juga yang

terbuat dari gelas berdinding tebal. Kolom utama berisi fas diam, tempat

terjadinya pemisahan campuran menjadi komponen-komponennya.

3. Detector

Berbagai detector untuk HPLC telah tersedia, walaupun demikian detector

harus memenuhi persyaratan berikut: (1) cukup sensitive; (2)stabilitas dan

keterulangan tinggi;(3) respon linear terhadap solute; (4) waktu respon pendek

sehinggatidak bergantung kecepatan alir ;(5)realibilitas tinggi dan mudah

digunakan; (6) tidak merusak cuplikan. Detector HPLC dikelompokan ke dalam

tiga jenis, yaitu: detector umum memberi respon terhadap fasa gerak yang

dimodulasi dengan adanaya solute. Sebaliknya, detector sepesifik memberi respon

terhadap beberapa sifat solute yang tidak dimiliki oleh fasa gerak. Terakhir,

detector yang bersifat umum terhadap solute setelah fasa gerak dihilangkan

dengan penguapan. Detector berdasarkan absorpsi UV merupakan detector HPLC

yang paling banyak di pakai. Detector elektrokimia paling banyak dipakai

terutama dalam HPLC penukar ion.

C. Cara Kerja HPLC

Mula-mula solven diambil melalui pompa. Solven ini dikemudian masuk ke

dalam katup injeksi berbutar, yang dipasang tepat pada sampel loop. Dengan

pertolongan mikrosiring, sampel dimasukan ke dalam sampel loop yang kemudian

bersama-sama dengan solven masuk ke dalam kolom. Hasil pemisahan dideteksi

oleh detector, yang penampakannya ditunjukan oleh perekam (pencatat =

recorder). Tekanan solven di atur dengan pengatur dan pengukur tekanan. Pompa

pemasuk solven pada tekanan konstan hingga tekanan kurang lebih 4500 psi

dengan laju alir rendah, yakni beberapa milliliter per menit. 

Rekorder menghasilkan kromatogram zat-zat yang dipisahkan dari suatu

sampel. Tahap pemekatan dengan ekstraksi solven dan penguapan untuk

memperkecil volum sering kali diperlukan sebelum pengerjaan sampel dengan

7 | H P L C

Page 8: Isi HPLC Edit

HPLC. Hal ini terutama sering dilakukan untuk analisis senyawa-senyawa

hidrokarbon aromatic polisiklik (PAH) atau residu pestisida dalam makanan.

Sebagai alternative lain, sampel air dapat di absorpsi oleh suatu adsorben

padat (C8 atau C18 yang terikat pada silica gel), diikuti dengan desorpsi dalam

suatu solven yang kemudian langsung dimasukan kedalam kolom. Suatu solven

dengan polaritas rendah, misalnya CH3 berair yang secara bertingkat mengalami

perubahan menjadi CH3OH murni, menjamin pemisahan yang baik pada C-18

yang mana hal ini terikat pada suatu silica gel.

D. Kelebihan HPLC

Dibandingkan dengan kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi

HPLC = High Performance Liquid Chromatography) mempunyai beberapa

kelebihan. Beberapa kelebihan KCKT diantaranya ialah :

1. dapat dilaksanakan pada suhu kamar.

2. cepat dan mudah melaksanakannya.

3. peka, detektor HPLC dapat divariasi dan unik.

4. pelarut pengembang bisa dipakai berulang kali demikian juga dengan

kolomnya.

5. ideal untuk molekul besar dan ion.

6. mudah memperoleh cuplikan.

7. daya pisahnya baik.

8. dapat dihindari terjadinya dekomposisi/kerusakan bahan yang di analisis.

9. HPLC juga dapat menganalisis senyawa yang tidak mudah menguap dan

termolabil.

E. Aplikasi HPLC Dalam Kehidupan

HPLC juga cocok digunakan untuk memisahkan minyak atsiri. Minyak atsiri

terdiri atas campuran yang sangat rumit dan oleh karena itu HPLC berguna untuk

memisahkan campuran rumit menjadi golongan-golongan senyawa atau

memisahkan golongan senyawa menjadi komponen-komponennya. 

HPLC digunakan untuk memisahkan golongan minyak, misalnya terpenoid

tinggi, segala senyawa jenis fenol, alkaloid, lipid dan gula. HPLC baik digunakan

8 | H P L C

Page 9: Isi HPLC Edit

untuk senyawa yang dapat dideteksi di daerah spekrum UV atau spectrum sinar

tampak.

Kolom yang tersedia mempunyai banyak sekali pelat teori (lebih dari

100.000 untuk kolom 100 cm), dan kromatografi dilakukan dalam kondisi

mendekati kondisi ideal demikian rupa sehingga dapat diperoleh dalam beberapa

menit dan ditafsirkan secara kuantitatif dengan ketepatan yang lumayan. Cuplikan

dapat dipisahkan secara preparatif.

2.2. Alat-alat Praktikum

Analitical balance

Alumuium foil

Labu ukur 10.0 ml; 25.0 ml; 50.0 ml

Instrument HPLC

Beaker glass

Batang pengaduk

Botol timbang

Mycrosyringe

Kertas saring Whatman

Sampel filter

Corong kaca

Pipet tetes

Pipet volume

Baki/nampan plastic

2.3. Bahan-bahan Praktikum

Sulfametoxazole

Trimetoprim

Tablet Contrimoxazole

Methanol pro HPLC

Methanol pro analisis

Aquadest

Eluen (Methanol : Air = 85 : 15)

9 | H P L C

Page 10: Isi HPLC Edit

2.4. Prosedur Kerja

Prosedur kerja untuk HPLC ini terdapat beberapa tahap, diantaranya sebagai

berikut :

1. Pembuatan Larutan Baku Induk Sulfametoksazol dan Trimetroprim

a Ditimbang saksama lebih kurang 100mg sulfametoksazol, kemudian

dimasukkan kedalam labu takar 10,0ml. Ditambahkan metanol pro HPLC ad

garis tanda, dan dikocok homogen disebut larutan baku induk 1

sulfametoksazol dengan kadar 10000ppm ( BI S-1). Kemudian dipipet BI S-

1 sebanyak 3 ml dimasukkan kedalam labu takar 25ml dan ditambah

metanol pro HPLC ad garis tanda, kemudian kocok homogen disebut larutan

Baku induk 2 sulfametoksazol dengan kadar 1200ppm ( BI S-2 ).

b Ditimbang saksama lebih kurang 100mg Trimetroprim, dimasukkan

kedalam labu takar 25,0ml, ditambahkan Metanol pro HPLC ad garis tanda,

dan dikocok homogen disebut larutan baku induk 1 Trimetroprim dengan

kadar 4000ppm ( BI T-1 ). Kemudian dipipet BI T-1 sebanyak 3 ml

dimasukkan kedalam labu takar 50,0ml dan ditambah metanol pro HPLC ad

garis tanda, kemudian dikocok homogen. Disebut larutan baku induk 2

Trimetroprim dengan kadar 240ppm ( BI T-2 )

2. Pembuatan Larutan Baku Kerja

BK-1 : BI S-2 dan BI T-2 masing-masing dipipet 0.5 ml kemudian

dimasukkan kedalam labu takar 10.0 ml dan ditambah

dengan metanol pro HPLC ad garis tanda dan kocok

homogen.(60 ppm sulfametoksazol dan 12 ppm

trimetoprim)

BK-2 : BI S-2 dan BI T-2 masing-masing dipipet 2 ml kemudian

dimasukkan kedalam labu takar 25.0 ml dan ditambah

metanol pro HPLC ad garis tanda dan kocok homogen. (96

ppm sulfametoksazol dan 19.2 ppm trimetoprim)

BK-3 : BI S-2 dan BI T-2 masing-masing dipipet 1 ml kemudian

dimasukkan kedalam labu takar 10.0ml dan ditambah

10 | H P L C

Page 11: Isi HPLC Edit

metanol pro HPLC ad garis tanda dan kocok homogen.

(120 ppm sulfametoksazol dan 24 ppm trimetoprim)

BK-4 : BI S-2 dan BI T-2 masing-masing dipipet 4 ml kemudian

dimasukkan kedalam labu takar 25.0 ml dan ditambah

metanol pro HPLC ad garis tanda dan kocok homogen.

(192 ppm sulfametoksazol dan 38.4 trimetoprim)

BK-5 : BI S-2 dan BI T-2 masing-masing dipipet 2 ml kemudian

dimasukkan kedalam labu takar 10.0 ml dan ditambah

metanol pro HPLC ad garis tanda dan kocok homogen .

( 240 ppm sulfametoksazol dan 48 ppm trimetoprim)

3. Penyiapan Sampel

1. Lakukan keseragaman bobot untuk tablet

2. Ditimbang saksama lebih kurang 74,9mg kotrimoksazol yang telah

memenuhi aturan keseragaman bobot dan telah digerus kemudian

dimasukkan kedalam labu takar 25.0 ml dan ditambah metanol pro

HPLC ad garis tanda.Dikocok ad tercampur homogen. Saring sampel

dengan kertas saring whatman 40. Didapatkan larutan sampel 1 dengan

kadar 2.000 ppm Sulfametoksazol dan 400 ppm Trimetoprim(C-1).

Kemudian larutan C-1 dipipet 0.5 ml dan dimasukkan kedalam labu

takar 10.0 ml dan ditambah dengan metanol pro HPLC ad garis tanda.

Kocok homogen dan didapatkan larutan sampel 2 dengan kadar 100

ppm Sulfametoksazol dan 20 ppm Trimetoprim (C-2). Larutan

disaring dengan kertas saring kecil (filtrat pertama dibuang). Tampung

filtrat berikutnya.

4. Pembacaan Baku Kerja dan Sampel

Saring aliquot larutan baku dan filtrate sampel dengan sample filter 0.2 m,

kemudian masing-masing disuntikkan ke HPLC.

2.5. Hasil Pengamatan

1. Keseragaman Bobot

11 | H P L C

Page 12: Isi HPLC Edit

N

O

Bobot Tablet % Penyimpangan

1. 0,5760 g 0,24% (-)

2. 0,5830 g 0,97%

3. 0,5690 g 1,45% (-)

4. 0,5730 g O,76% (-)

5. 0,5830 g 0,97%

6. 0,5780 g 0,10%

7. 0,5730 g 0,76% (-)

8. 0,5820 g 0,80%

9. 0,5740 g 0,59% (-)

10. 0,5820 g 0,80%

Rata-Rata : 0,577 g

Rentang : 0,5197g – 0,5832 g

2. Penimbangan Baku Induk dan Sampel

a) Penimbangan Baku Induk Sulfametoksazol

- Botol timbang + zat = 16,0437 g

- Botol timbang + sisa zat = 15,9416 g

- Berat zat = 0,1021 g ~ 102,1 mg

b) Penimbangan Baku Induk Trimetroprim

- Botol timbang + zat = 13,0937 g

- Botol timbang + sisa zat = 12,9864 g

- Berat zat = 0,1073 g ~ 107.3 mg

c) Penimbangan Sampel

- Botol timbang + zat = 13,0640 g

12 | H P L C

Page 13: Isi HPLC Edit

- Botol timbang + sisa zat = 12,9891 g

- Berat zat = 0,0749 g ~ 74.9 mg

3. Kurva Baku Induk 1

4. Kurva Baku Induk 2

5. Kurva Baku Induk 3

13 | H P L C

Page 14: Isi HPLC Edit

6. Kurva Baku Induk 4

7. Kurva Baku Induk 5

14 | H P L C

Page 15: Isi HPLC Edit

8. Kurva Sampel

2.6. Perhitungan

Baku Induk 1

• Sulfametoksazol

102.1mg10.0 ml

x 1000 ml = 10.210 ppm

• Trimetoprim

107.3mg25.0ml

x 1000 ml = 4292 ppm

15 | H P L C

Page 16: Isi HPLC Edit

Baku Induk 2

• Sulfametoksazol ( V1 x N1 = V2 x N2 )

3ml x 10.210 ppm = 25ml x N2

N2 = 1225.2 ppm

Trimetroprim ( V1 x N1 = V2 x N2 )

3ml x 4292 ppm = 50 ml x N2

N2 = 257.52 ppm

Larutan Baku Campuran ( Sulfametoksazol & Trimetroprim )

Sulfametoksazol

BK I- S = 0.5 ml

10.0 ml x 1225.2 ppm = 4292 ppm

BK II-S = 2.0 ml

25.0 ml x 1225.2 ppm = 98.02 ppm

BK III-S = 1.0 ml

10.0 ml x 1225.2 ppm = 122.52 ppm

BK IV-S = 4.0 ml

25.0 ml x 1225.2 ppm = 196.03 ppm

BK V-S = 2.0 ml

10.0 ml x 1225.2 ppm = 245.04 ppm

Trimetroprim

BK I- T = 0.5 ml

10.0 ml x 257.52 ppm = 12.88 ppm

BK II- T = 2.0 ml

25.0 ml x 257.52 ppm = 20.60 ppm

BK III- T = 1.0 ml

10.0 ml x 257.52 ppm = 25.75 ppm

BK IV- T = 4.0 ml

25.0 ml x 257.52 ppm = 41.20 ppm

BK V – T = 2.0 ml

10.0 ml x 257.52 ppm = 51.50 ppm

16 | H P L C

Page 17: Isi HPLC Edit

Tabel Baku Kerja Sulfametoksazol

No Larutan Konsentrasi ( ppm) Area (y) Rt

1 BK 1 61,26 3093283 2,794

2 BK 2 98,02 4930065 2,786

3 BK 3 122,52 6129661 2,791

4 BK 4 196,03 9860279 2,787

5 BK 5 245,04 12442378 2,799

A = - 55332,26

B = 50814,57

R = 0,9999

Y= A+ BX

5142031 = - 55332,26 + 50814,57 X

X = 5142031+55332.26

50814.57 = 102.28 ppm

10 ml0.5 ml

x 102.28 ppm = 2045.60 ppm

Dalam 25 ml à 25 ml

1000 ml x 2045.60 ppm = 51.14 mg

Dalam 1 tablet à 577.4 mg74.9 mg x 51.14 mg = 394.2355mg

% kadar = 394.2355 mg

400 mg x 100 % = 98.56 %

Tabel Baku Kerja Trimetoprim

No Larutan Konsentrasi (ppm) Area (y) Rt

1 BK 1 12,88 375757 1,885

17 | H P L C

Page 18: Isi HPLC Edit

2 BK 2 20,60 509792 1,877

3 BK 3 25,75 736275 1,886

4 BK 4 41,20 1195749 1,898

5 BK 5 51,50 1509497 1,929

A = - 53198.15

B = 30231.43

R = 0,9976

Y = A+ BX

585986= -53198,15 + 30231,43 X

X = 585986+53198.15

30231.43 = 21.14ppm

10 ml0.5 ml

x 21.14 ppm = 422.80 ppm

Dalam 25 ml à 25 ml

1000 ml x 422.80 ppm = 10.57 mg

Dalam 1 tablet à 577.4 mg74.9 mg x 10.57 mg = 81.4836mg

% kadar = 81.4836 mg

80 mg x 100 % = 101.85 %

2.7. Pembahasan

Kromatografi merupakan teknik pemisahan fisik campuran komponen

bahan obat dalam sampel berdasarkan perbedaan migrasi komponen. Komponen

tersebut dari fase diam oleh pengaruh fase gerak. HPLC merupakan salah satu

macam kromatografi yang memerlukan ketelitian yang tinggi dikarenakan HPLC

memiliki selektivitas /akurasi yang sangat tinggi. Komponen-komponen yang

terdapat pada HPLC yaitu Kolom HPLC, Injektor, Pompa, Detektor, yang

masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Dalam praktikum yang kami lakukan,

18 | H P L C

Page 19: Isi HPLC Edit

Mula-mula diukur area dan Rt baku induk tunggal sulfametoksazol dan

trimetoprim. Kemudian baku kerja dan sampel pengukuran dilakukan pada tahap

ke dua.

Berikut ini adalah hasil yang didapat dari praktikum HPLC ini :

1. Kadar Sulfametoksazol dalam sampel sebesar 394.2355mg (98.56 %)

2. Kadar Trimetoprim dalam sampel sebesar 81.4836mg (101.85%)

3. Rt Sulfametoksazol dalam sampel sebesar 2798 dengan nilai area sebesar

5142031

4. Rt Trimetoprim dalam sampel sebesar 1877 dengan nilai area sebesar

585986

Dalam praktikum ini hasil yang didapat sedikit melenceng atau tidak

sesuai dengan kadar aslinya, hal ini karena beberapa kesalaha, diantaranya sebgai

berikut :

1. Kurang teliti ketika mengadkan

2. Kurang teliti ketika memipet

3. Sampel kurang homogen

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

a. Komponen utama dari HPLC yaitu, pompa, injector, elusi gradient, kolom,

detector, pengolahan data.

19 | H P L C

Page 20: Isi HPLC Edit

b. Prinsip dasar HPLC (High Performance Liquid Chromatografi) adalah

pemisahan senyawa-senyawa berdasarkan kepolaran, dimana terdapat fase mobile

(gerak) dan fase stasioner (diam). HPLC sering digunakan antara lain untuk

menetapkan kadar senyawa aktif pada obat, produk hasil samping proses sintesis,

atau produk- produk degradasi dalam sediaan farmasi. Contohnya adalah

menganalisis parasetamol dan kafein dalam suatu campuran.

c. HPLC sebagai suatu metode pemisahan memiliki beberapa keuntungan

yaitu menghasilkan pemisahan yang sangat cepat, dapat memisahkan zat-zat yang

tidak mudah menguap ataupun tak tahan panas, banyak pilihan fasa geraknya,

mudah untuk mendapatkan kembali cuplikan, karena detector pada KCKT tidak

merusak komponen zat yang dianalisis, dan dapat dirangkai dengan instrumen lain

untuk meningkatkan efisiensi pemisahan. Sedangkan kekurangannya adalah

larutan harus dicari fase diamnya terlebih dahulu, hanya bisa digunakan untuk

asam organic, harus mengetahui kombinasi yang optimum antara pelarut, analit,

dan gradient elusi, harganya mahal sehingga penggunaannya dalam lingkup

penelitian yang terbatas.

d. Dari hasil pengamatan yang dilakukan diadapatkan hasil sebagai berikut

Kadar Sulfametoksazol dalam sampel sebesar 394.2355mg (98.56 %)

Kadar Trimetoprim dalam sampel sebesar 81.4836mg (101.85%)

Rt Sulfametoksazol dalam sampel sebesar 2798 dengan nilai area sebesar

5142031

Rt Trimetoprim dalam sampel sebesar 1877 dengan nilai area sebesar

585986

3.2. Saran

Berikut ini merupakan saran dari kami, diantaranya sebagai berikut :

Penulis berharap kromatografi gas yang telah disajikan dalam bab isi dapat

dijadikan referensi ataupun tambahan wawasan bagi pembaca sehingga

dapat membedakannya dan dapat menerapkannya secara tepat

Harus teliti saat memipet larutan karena hal itu berpengaruh pada hasil

yang didapat nantinya (kadar)

20 | H P L C

Page 21: Isi HPLC Edit

Hati-hati saat memasukkan suntikan ke dalam kolom karena tidak boleh

bengkok saat memasukkannya. Posisi harus tegak lurus

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, M., dan Suherman 1995. Analisis Instrumental. Airlangga

University Press. Surabaya.

21 | H P L C

Page 22: Isi HPLC Edit

Ahmad, M., dan Suherman. 1991. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi.

Airlangga University Press. Surabaya.

Bahti. 1998. Teknik Pemisahan Kimia dan Fisika. Universitas Padjajaran.

Bandung.

Drs. Soebagio dkk, 2002, KIMIA ANALITIK II, Malang: JICA FMIPA

UNM

Sumar Hendrayana, 2006, KIMIA PEMISAHAN, Bandung : Rosdakarya

Hostettmann, K dkk, 1995, Cara Kromatografi Preparatif, Bandung: ITB

22 | H P L C