inkontinensia urin

Click here to load reader

  • date post

    28-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    2.006
  • download

    15

Embed Size (px)

description

book reading : williams gynecology 2008 bab 23

Transcript of inkontinensia urin

BOOK READING

INKONTINENSIA URIN

Oleh :

B. Zanuar Ichsan

G0005068

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2010

INKONTINENSIA URIN

Definisi Inkontinensia urin didefinisikan sebagai kebocoran urin involunter. Sumber kebocoran urin bukan hanya dari uretra, namun juga bisa dari ekstra-uretra seperti fistula atau malformasi kongenital traktus urinarius bagian bawah. Di sini hanya akan dibahas eval asi u dan manajemen stress incontinence dan urge incontinence. Berdasarkan International Continence Society guidelines, inkontinensia urin merupakan simptom, sign, dan juga merupakan suatu kondisi. Misal, seseorang dengan stress urinary incontinence (SUI), akan mengeluhkan kebocoran urin involunter karena suatu upaya keras seperti batuk atau bersin. Bersamaan dengan itu, kebocoran urin dari uretra yang sinkron dengan kejadian tersebut mungkin perlu diperhatikan. Sebagai suatu kondisi, inkontinensia secara obyektif terlihat selama evaluasi urodinamik jika kebocoran urin involunter muncul dengan adanya peningkatan tekanan intraabdominal dan ketiadaan kontraksi detrusor. Suatu keadaan dengan simptom maupun sign SUI disertai dengan tes obyektif, dikenal dengan istilah urodynamic stress incontinence (USI), sebelumnya disebut dengan istilah genuine stress incontinence. Wanita dengan urge urinary incontinence (UUI) akan mengalami kesulitan dalam menunda urinasi yang mendesak (urgent), dan umumnya harus tepat mengosongkan kandung kemihnya pada saat itu juga, tanpa ditunda. Jika UUI secara obyektif nampak dengan evaluasi sistometrik, kondisi ini disebut overaktivitas detrusor, sebelumnya dikenal sebagai instabilitas detrusor. Keadaan dimana urinary incontinence (MUI). Inkontinensia fungsional merupakan keadaan dimana seorang wanita tak dapat mencapai toilet pada waktunya karena keterbatasan fisik, psikologis atau mentasi. Sebagian besar contoh yang ada menunjukkan bahwa kelompok penderita inkontinensia fungsional akan memiliki kontinensia yang baik, jika permasalahan tersebut di atas diatasi. SUI dan UUI muncul bersamaan disebut mixed

Epidemiologi Di masyarakat barat, sebagian besar studi epidemiologis mengindikasikan prevalensi sebesar 25-55%. Kisaran yang luas ini diatribusikan ke varietas luas yang sama dengan metodologi investigasinya, karakteristik populasinya, dan definisi inkontinensia sendiri. Terlebih lagi data yang ada sekarang jauh lebih terbatasi oleh fakta bahwa sebagian besar wanita tidak memperhatikan kondisi tersebut (Hunskaar, 2000). Diperkirakan hanya 1 dari 4

wanita yang mencari bantuan medis mengenai inkontinensia yang mereka alami karena : malu, akses yang terbatas ke pelayanan kesehatan, atau skrining yang kurang oleh penyedia layanan kesehatan (Hagstad, 1985). Kondisi yang paling sering ditemukan adalah SUI, yaitu sekitar 29-75% kasus. Overaktivitas detrusor mencapai 33% kasus inkontinensia, sedangkan sisanya berupa bentuk campuran (MUI) (Hunskaar, 2000). Inkontinensia urin signifikan menurunkan kualitas hidup penderitanya, yang mengarah pada terganggunya hubungan sosial, distres psikologis karena malu dan frustasi, rawat inap karena gangguan kulit dan infeksi traktus urinarius, serta perawatan di rumah (nursing home admission). Wanita tua penderita inkontinensia 2,5 kali lebih mungkin menjalani nursing home daripada yang kontinensia (Langa, 2002).

Faktor Resiko Inkontinensia Urin 1. Usia Prevalensi inkontinensia meningkat bertahap selama masa dewasa muda. Puncak yang lebar tampak pada usia pertengahan dan kemudian menetap setelah usia 65 tahun (Hannestad, 2000).

Prevalence of any (n = 6,170) and significant (n = 1,832) incontinence by age group (From

Hannestad, 2000, with permission.) 2. Ras Dulunya wanita kaukasia diyakini lebih beresiko mengalami inkontinensisa urin daripada ras lain. Namun sebaliknya, wanita Afrika-Amerika dipercaya berprevalensi lebih tinggi pada urge incontinence. Namun laporan tersebut tidak berdasar populasi, dan dengan demikian perbedaan ras sejatinya bukan merupakan perkiraan yang terbaik. Sebagian besar studi epidemiologis mengenai inkontinensia urin dilaksanakan dalam populasi Kaukasian. Data yang ada menyangkut perbedaan ras sangat didasarkan pada ukuran sampel yang kecil (Bump, 1993). Dari catatan terkini, belum jelas apakah perbedaan ini biologis, berkaitan dengan penilaian pelayanan kesehatan, atau dipengaruhi oleh ekspektasi kultural dan ambang toleransi simptom. Dengan demikian, masih diperlukan studi lebih mendalam mengenai studi non-Kaukasian.

3. Obesitas Beberapa studi epidemiologis menunjukkan bahwa peningkatan body mass index (BMI) merupakan faktor resiko independen dan signiffikan untuk semua jenis inkontinensia urin (Table 23-1). Bukti menunjukkan bahwa prevalensi urge incontinence dan stress incontinence meningkat berbanding lurus dengan

meningkatnya BMI (Hannestad, 2003). Secara teoritis peningkatan tekanan intraabdominal yang bersamaan dengan pemingkatan BMI menghasilkan tekanan intravesikal yang secara proporsional lebih tinggi. Tekanan yang lebih tinggi ini menimbulkan urethral closing pressure dan menjurus pada inkontinensia (Bai, 2002). Deitel and co-workers (1988) melaporkan adanya penurunan yang signifikan pada prevalensi stress urinary incontinence, dari 61 menjadi 11%, pada wanita obese seiring dengan penurunan berat bdan setelah pembedahan bariatrik. Sesuai dengan itu, jika proporsi populasi yang overweight dan obese lebih besar, diharapkan kita dapat melihat peningkatan prevalensi inkontinensia urin di Amerika Serikat (Flegal, 2002). Table 23-1 Faktor Resiko Inkontinensia Uriny y y

Usia Kehamilan Kelahiran

y y y y y y y y y y y

Menopause Histerektomi Obesitas Simptom urinari Gangguan fungsional Gangguan kognitif Tekanan abdominal tinggi yang kronis Batuk kronis Konstipasi Resiko okupasional Merokok

4. Menopause Studi-studi yang ada belum konsisten menunjukkan adanya peningkatan disfungsi urin setelah seorang wanita memasuki tahun-tahun postmenopausal (Bump, 1998). Sukar untuk memisahkan efek hipoestrogenisme dari efek penuaan. Reseptor estrogen afinitas tinggi telah diidentifikasi di uretra, muskulus pubokoksigeal, dan trigonum bladder, namun jarang ditemukan di bladder (Iosif, 1981). Dipercaya bahwa perubahan kolagen yang berkaitan dengan hipoestrogen dan reduksi vaskularisasi serta volume muskulus skeletal secara kolektif berperan pada gangguan fungsi uretra melalui penurunan resting urethral pressure (Carlile, 1988). Lebih jauh lagi, defisiensi estrogen yang menimbulkan atrofi urogenital diperkirakan berperan dalam simptom sensoris urinari yang menyertai menopause (Raz, 1993). Estrogen memang berperan penting dalam fungsi urinari normal, namun masih kurang jelas apakah estrogen berguna dalam terapi atau pencegahan inkontinensia (Estrogen Replacement) (Fantl, 1994, 1996). 5. Kelahiran dan kehamilan Banyak studi menemukan bahwa wanita para memiliki prevalensi

inkontinensia urin lebih besar dibandingkan dengan yang nullipara. Pengaruh dari melahirkan anak terhadap kejadian inkontinensia dapat timbul dari luka langsung pada otot-otot pelvis dan perlekatan jaringan ikat. Sebagai tambahan, kerusakan syaraf dari trauma atau ketegangan yang ada dapat berdampak pada disfungsi otot pelvis (Snooks, 1986). Secara spesifik, level yang lebih tinggi dari latensi motorik

nervus pudendal yang lama setelah melahirkan nampak pada wanita dengan inkontinensia dibanding dengan wanita yang asimtomatis. 6. Kebiasaan merokok dan penyakit paru kronis Ada 2 studi epidemiologis yang menunjukkan peningkatan resiko

inkontinensia urin yang signifikan pada wanita usia lebih dari 60 tahun dengan penyakit pulmoner obstruktif kronis (Brown, 1996; Diokno, 1990). Sama pula pada kebiasaan merokok yang diidentifikasi sebagai faktor resiko independen inkontinensia urin pada beberapa studi. Salah satu dari studi tersebut, menyebutkan bahwa baik yang perokok maupun mantan perokok tercatat memiliki resiko 2-3 kali lipat dibanding dengan yang bukan perokok (Bump, 1992). Secara teoritis, kenaikan persisten tekanan intraabdominal yang timbul karena batuk kronis perokok dan sintesis kolagen, dapat diturunkan dengan efek antiestrogenik merokok. 7. Histerektomi Studi belum menunjukkan hasil yang konsisten bahwa histerektomi merupakan faktor resiko berkembangnya inkontnensia urin. Studi yang menunjukkan hubungan tersebut adalah studi retrospektif, kurangnya grup kontrol yang sesuai, dan sering semata-mata berdasarkan data subyektif (Bump, 1998). Sebaliknya, Studi yang meliputi tes pre dan post operatif urodinamik mengungkapkan perubahan fungsi bladder yang secara klinis tidak signifikan. Lebih jauh lagi, bukti tidak mendukung bahwa menghindari histerektomi yang telah diindikasikan secara klinis ataupun menghindari pelaksanaan histerektomi supracervical menjadi ukuran untuk mencegah inkontinensia urin (Vervest, 1998; Wake, 1980).

Patofisiologi 1. Kontinensia Vesika urinaria merupakan organ penyimpan urin dengan kapasitasnya mengakomodasi penambahan volume urin dengan tekanan intravesikal minimal maupun tidak. Kemampuan menjaga penyimpanan urin dan pengosongan volunter tetap baik disebut kontinensia. Kontinensia memerlukan koordinasi komplek banyak komponen yang meliputi kontraksi dan relaksasi otot, dukungan jaringan pengikat yang baik, inervasi terintegrasi serta komunikasi antar struktur tersebut. Ringkasnya, selama pengisian, kontraksi uretra dikoordinasikan dengan relaksasi vesika urinaria sehingga urin tersimpan. Kemudian selama miksi, uretra relaksasi dan vesika urinaria berkontraksi. Mekanisme ini dapat dilawan oleh kontraksi detrusor yang tak

terinhibisi, sehingga tekanan intraabdominal meningkat, dan mengubah berbagai komponen anatomis dari mekanisme kontinensia tersebut di atas. 2. Pengisian vesika urinaria/bladder a) Anatomi Vesika Urinaria Dinding