IMPLEMENTASI METODE AL-HIKMAH DAN EVALUASI ...repository.uinbanten.ac.id/3831/1/FIRMANSYAH...

of 229/229
IMPLEMENTASI METODE AL-HIKMAH DAN EVALUASI MUHASABAH PADA RUMPUN PAI DALAM PEMBINAAN AKHLAK SISWA ( STUDI DI MTS NEGERI 1 SERANG ) TESIS Diajukan kepada Program Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan ( M.Pd ) Program Studi Pendidikan Agama Islam Oleh FIRMANSYAH NIM. 172011061 PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN TAHUN 2019
  • date post

    15-Dec-2020
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of IMPLEMENTASI METODE AL-HIKMAH DAN EVALUASI ...repository.uinbanten.ac.id/3831/1/FIRMANSYAH...

  • IMPLEMENTASI METODE AL-HIKMAH

    DAN EVALUASI MUHASABAH PADA RUMPUN PAI

    DALAM PEMBINAAN AKHLAK SISWA ( STUDI DI MTS NEGERI 1 SERANG )

    TESIS

    Diajukan kepada Program Pascasarjana UIN

    Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    Untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan ( M.Pd )

    Program Studi Pendidikan Agama Islam

    Oleh

    FIRMANSYAH

    NIM. 172011061

    PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

    SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN

    TAHUN 2019

  • i

    PERNYATAAN KEASLIAN

    Yang bertanda tangan dibawah ini :

    Nama : FIRMANSYAH

    NIM : 172011061

    Jenjang : Magister

    Program Studi : Pendidikan Agama Islam

    Menyatakan bahwa naskah tesis magister yang berjudul

    “IMPLEMENTASI METODE AL HIKMAH DAN EVALUASI

    MUHASABAH PADA RUMPUN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    DALAM PEMBINAAN AKHLAK SISWA (Studi di MTs Negeri 1

    Kabupaten Serang)” ini secara keseluruhan adalah hasil

    penelitian/karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk

    sumbernya sesuai dengan ketentuan yang berlaku di dunia akademik.

    Apabila dikemudian hari ternyata terbukti secara meyakinkan

    bahwa sebagian maupun keseluruhan dari tesis ini merupakan hasil

    plagiat, saya bersedia menerima sanksi dan konsekuensinya sesuai

    denganperaturan perundangan yang berlaku.

    Serang, 04 Januari 2019

    Saya yang Menyatakan,

    Firmansyah

    NIM: 172011061

  • ii

    PENGESAHAN

    Tesis Berjudul : Implementasi metode Al Hikmah dan

    Evaluasi Muhasabah pada rumpun PAI

    dalam pembinaan akhlak siswa” (Studi di

    MTs Negeri 1 Kab. Serang)

    Nama : Firmansyah

    Nim : 172011061

    Program studi : Pendidikan Agama Islam

    Tanggal ujian : 1 April 2019

    Telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister

    Pendidikan Islam.

    Serang, 04 Januari 2019

    Direktur,

    Prof. Dr. H. B. Syafuri, M.Hum

    NIP: 19590810 199003 1 003

  • iii

    PERSETUJUAN TIM PENGUJI UJIAN TESIS MAGISTER

    Tesis berjudul : “Implementasi metode Al Hikmah dan Evaluasi

    Muhasabah pada rumpun PAI dalam pembinaan akhlak siswa”

    (Studi di MTs Negeri 1 Kab. Serang)

    Nama : Firmansyah

    NIM : 172011061

    Program Studi : Pendidikan Agama Islam

    Telah disetujui tim penguji ujian munaqosah

    Ketua : Dr. Naf’an Tarihoran, M. Hum (......................)

    Sekretaris : Dr. Hj. Hunainah, MM (.......................)

    Pembimbing I Dr. H. Anis Fauzi, M.SI (.......................)

    Pembimbing II : Dr. Ayatullah Khumaeni, MA (.......................)

    Penguji I : Prof. Dr. Darwyansyah, Ph. D (.......................)

    Penguji II : Dr. Agus Gunawan, M.Pd (.......................)

    Diuji di Serang pada tanggal 01 April 2019

    Waktu : 08.00 s/d 09.00 WIB

    Hasil/nilai :

    Predikat : memuaskan/sangat memuaskan/Cumlaud

  • iv

    NOTA DINAS PEMBIMBING

    Kepada Yth

    Direktur Program Pascasarjana

    UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    di Serang

    Assalamu’alaikum Wr. Wb

    Setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi terhadap penulisan

    Tesis Magister yang berjudul :

    IMPLEMENTASI METODE AL HIKMAH DAN EVALUASI

    MUHASABAH PADA RUMPUN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    DALAM PEMBINAAN AKHLAK SISWA ( Studi di MTs Negeri 1

    Kabupaten Serang )

    Yang ditulis oleh :

    Nama : Firmansyah

    NIM : 172011061

    Program : Magister

    Program Studi : Pendidikan Agama Islam

    Kami bersepakat bahwa Tesis Magister tersebut sudah dapat diajukan

    kepada Program Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    untuk diajukan guna mengikuti UJIAN TESIS MAGISTER dalam

    rangka memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd)

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb

    Serang, 04 Januari 2019

    Pembimbing I

    Dr. H. Anis Fauzi,M.SI

    NIP. 19671028 199802 1 001

    Pembimbing II

    Dr. Ayatullah Khumaeni, MA

    NIP. 19780325 200604 1 001

  • v

    Firmansyah, NIM: 172011061, Implementasi Metode Al Hikmah dan

    Evaluasi Muhasabah pada Rumpun Pendidikan Agama Islam dalam Pembinaan Akhlak Siswa (Studi di MTs Negeri Kabupaten Serang), TESIS: Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2018.

    Dalam proses belajar mengajar, ada tiga aspek kemampuan yang menjadi target yakni pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Keseimbangan antara ketiga aspek tersebut menuntut perhatian yang serius dari guru dan seluruh pihak terkait di

    sekolah, atau di lembaga-lembaga pendidikan. Siswa dibina dan dididik tidak hanya sekedar cerdas, tetapi sekaligus memiliki kepekaan sosial, akhlak dan religius yang

    bagus, sehingga siswa lahir sebagai generasi yang religius. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang bernuansa religius tersebut, guru diharapkan dapat menghantarkan siswa memiliki kecerdasan agar memahami tentang akhlak karimah melalui

    pemberian teladan dengan menunjukkan perilaku yang baik sehingga siswa dapat mencontoh dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana penerapan

    metode Al Hikmah pada rumpun Pendidikan Agama Islam di MTsN 1 Kab. Serang ? 2) Bagaimana penerapan evaluasi Muhasabah pada rumpun Pendidikan Agama Islam

    di MTsN 1 Kab. Serang ? 3) Bagaimana pembinaan akhlak siswa pada rumpun Pendidikan Agama Islam di MTsN 1 Kab. Serang ? 4) Bagaimana implementasi penerapan metode Al Hikmah dan evaluasi Muhasabah pada rumpun Pendidikan

    Agama Islam di MTsN 1 Kab. Serang ? Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) untuk mengetahui bagaimana penerapan metode Al Hikmah pada rumpun Pendidikan Agama Islam di MTsN 1 Kab. Serang.

    2) Untuk mengetahui bagaimana penerapan evaluasi Muhasabah pada rumpun Pendidikan Agama Islam di MTsN 1 Kab. Serang. 3) Untuk mengetahui bagaimana pembinaan akhlak siswa pada rumpun Pendidikan Agama Islam di MTsN 1 Kab.

    Serang. 4) Untuk mengetahui bagaimana implementasi penerapan metode Al Hikmah dan Evaluasi Muhasabah pada rumpun Pendidikan Agama Islam di MTsN 1 Kab.

    Serang. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yakni penelitian yang

    berusaha mendeskripsikan suatu, gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat

    sekarang. Data ketiga variabel diperoleh melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan dokumen. Hasil penelitian di MTsN 1 Kab. Serang menunjukkan bahwa: pertama, dalam pelaksanaannya metode Al Hikmah diterapkan melalui

    pemberian motivasi, pemberian hukuman yang mendidik bukan hukuman fisik dan pembiasaan kegiatan positif secara rutin; kedua, evaluasi Muhasabah dilaksanakan

    dengan bermalam dan berlangsung satu hari semalam setiap tahunnya dengan tujuan untuk membekali karakter siswa dengan keimanan agar tidak keluar dari jalur agama; ketiga, pembinaan akhlak siswa dilakukan melalui proses pembiasaan dengan

    keteladanan dari pendidik dan tenaga kependidikan, pembiasaan tersebut misalnya dengan membudayakan 3 S (Salam, senyum, dan sapa) bagi semua warga madrasah; keempat, penerapan metode Al Hikmah dan evaluasi Muhasabah dilaksanakan

    melalui rapat internal madrasah sebagai wujud introspeksi untuk meningkatkan loyalitas dan dedikasi tenaga pendidik dan kependidikan kepada madrasah.

    Kata kunci: Metode Al Hikmah, Evaluasi Muhasabah, Pembinaan Akhlak

    Siswa

    ABSTRAK

  • vi

    ABSTRACT

    Firmansyah, NIM: 172011061, Implementation of Al Hikmah Method and Muhasabah Evaluation on Islamic Religious Education Clusters in Student Moral

    Development (Study at MTs Negeri 1 Serang District), THESIS: Postgraduate Program of State Islamic University Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2019.

    In the teaching and learning process, there are three aspects of the target

    ability, namely knowledge, attitude, and skills. The balance between the three aspects requires serious attention from the teacher and all relevant parties in school, or in

    educational institutions. Students are nurtured and educated not only for being smart, but at the same time have social sensitivity, good moral and religious, so students are born as a religious generation. To achieve the educational objectives that are

    religiously nuanced, the teacher is expected to be able to deliver students to have the intelligence to understand about moral character through modeling by showing good behavior so that students can imitate and apply it in their daily lives.

    The formulation of the problem in this study are: 1) How is the application of the Al Hikmah method in the Islamic Religious Education cluster at MTsN 1 Serang

    district? 2) How is the implementation of Muhasabah evaluation in the Islamic Religious Education cluster at MTsN 1 Serang district? 3) How is the moral development of students in the Islamic Religious Education cluster at MTsN 1 Serang

    district? 4) How is the implementation of the implementation of the Al Hikmah method and the Muhasabah evaluation in the Islamic Religious Education cluster at MTsN 1 Serang district? The objectives to be achieved from this study are as follows:

    1) to find out how the application of the Al Hikmah method to the Islamic Religious Education cluster in MTsN 1 Serang district. 2) To find out how the implementation of Muhasabah evaluation in the Islamic Religious Education cluster at MTsN 1

    Serang district. 3) To find out how the moral development of students in the Islamic Religious Education cluster in MTsN 1 Serang district. 4) To find out how the

    implementation of the Al Hikmah method and the Muhasabah evaluation of the Islamic Religious Education cluster in MTsN 1 Serang district.

    This research method is qualitative descriptive, namely research that seeks to

    describe a symptoms, events, incidents that occur now. Data of the three variables were obtained through interviews, observation, and document checking. The results of research at MTsN 1 Serang district shows that: first, the implementation of the Al

    Hikmah method is applied through giving motivation, giving punishments that educate not physical punishment and through habitual routine positive activities;

    second, Muhasabah evaluation is carried out with overnight and lasts one day every year with the aim of providing students with the character of faith so as not to get out of the path of religion; third, student moral development is carried out through a

    process of habituation with the example of educators and education personnel, such habituation by cultivating 3 S (Salutation, Smile, and Say greetings) for all members of the madrasa; fourth, the implementation of the Al Hikmah method and Muhasabah

    evaluation is carried out through internal madrasa meetings as a form of introspection to increase the loyalty and dedication of educators and education staff to madrasas.

    Keywords: Al Hikmah Method, Muhasabah Evaluation, Student Moral

    Development

  • vii

    ملخص امبحث

    ىل تليميامطريلة احلمكة و تطبيق, موضوع امرساةل: 160211271فريمنشة, رمق امتسجيل : احملاس بة ا

    ال سالمية احلمكية واحد كبوفاتن مدرسةدراسةادلين ال سالم يف تربية الأخالق امطالب ) ػائةلامتؼلمي

    0212هت ن ػام اجلامؼة ال سالمية احلكومية مولان حسن ادلين اب امربانمج: أأطروحةسريجن(,

    س تطاع اذلي هيدف : امؼمل, جاهب, يكون جالث فيؼمليةتدريسامتدريس . ػدةل ب ن امليارات, و موكفا

    امرتبية, امطالب يؤدبون املؤسساتوحول املدرسة أأو املؼملا من اىامتمجالث جاهب يطلب

    , أأخالق و ادلين احلسن, حىت خيرج امطالب حساس يةاجامتغيةلكن ميلكون ذكيةفلط

    هلال امطالب ميلكون ذكية, أأن يفيموا أأخالق وكعىذه, املؼمل ي متحليلالأىدافامتؼلمييةدينية,جيدليين ا

    امكرمية من غطية أأسوة بؼمل حسن حىت يلدلوا و يؼملوا يف احلياة اميوم.

    ىل تليميامطريلة احلمكة و تطبيق( كيف 1ىذا : ) حبثيف بياانملشلكة ادلين ػائةلامتؼلمياحملاس بة ا

    ( كيف 0ال سالمية احلمكية واحد كبوفاتن سريجن؟ )مدرسةال سالم يف تربية الأخالق امطالب

    ىل تليمي تطبيل ال سالمية احلمكية مدرسةادلين ال سالم يف تربية الأخالق امطالب ػائةلامتؼلمياحملاس بة ا

    ىل 3واحد كبوفاتن سريجن) ال سالمية درسةن ال سالممتربية ادلي أأمجة( كيف يؤدبون أأخالق امطالب ا

    ىل تليميامطريلةو تطبيق( كيف 4احلمكية واحد كبوفاتن سريجنكبوفاتن ؟ ) ادلين ػائةلامتؼلمياحملاس بة ا

    ال سالمية احلمكية واحد كبوفاتن سريجن؟مدرسةال سالم يف

    ىل احمل تليميامطريلة احلمكة و تطبيق( ملؼرفة 1من حبث ىذا يؼىن؟ ) ريدحتليلويىدمفافأأما اس بة ا

    ال سالمية احلمكية واحد كبوفاتن مدرسةادلين ال سالم يف تربية الأخالق امطالب ػائةلامتؼلمي

    ىل تليمي تطبيل (ملؼرفة0سريجن) ادلين ال سالم يف تربية الأخالق امطالب ػائةلامتؼلمياحملاس بة ا

    ىل3ال سالمية احلمكية واحد كبوفاتن سريجن)مدرسة تربية ادلين أأمجة ( يؤدبون أأخالق امطالب ا

    ىل تليميامطريلةو تطبيق(ملؼرفة4ال سالمية احلمكية واحد كبوفاتن سريجن)درسةال سالمم احملاس بة ا

    ال سالمية احلمكية واحد كبوفاتن سريجنمدرسةادلين ال سالم يف ػائةلامتؼلمي

    يؤخذ متغري,دحدث الأن بيان جالث حداثا, غرض, وضفيايؼين حبث يكسب هوغيطريلة امبحث يه

    ال سالمية احلمكية واحد كبوفاتن سريجن مدرسة, حاضل امبحث يف حفطاملستنداتو, مالحظةملابةل

    جيايباتؼتادا, حكام تأأديبا ميس حمك امبدن و تؼملحافز كبوفاتن يدل : الأول يف امؼمل طريلةاحلمكة ي ػلىا

    س متر. امثاين ميان زتويدخشطيةام هبدف ماحملاس بة يؼمل بليل و مبارش اميل اميوم لك ػ تليميا امطالب اب

    غتادا مكثل سالم, تبسم و الكم يف املدرسة. امربع لخيرجون ادلين. امثالث تربية الأخالق يؼمل ا

    خالصو ولءاملدرسة بوجود احملاس بة دلرجة داخيلااجامتػامطريلة احلمكة و ال متحان يؼمالن تطبيل ا

    ىل املدرسة. امؼمل امرتبية وا

    املفتاح : امطريلة احلمكة, واحملاس بة, وتربية الأخالق امطالب.لكمة

  • viii

    Motto

    Hendaklah kalian menghisab diri kalian

    sebelum kalian dihisab, dan hendaklah

    kalian menimbang diri kalian sebelum kalian

    ditimbang, dan bersiap-siaplah akan

    datangnya hari besar ditampakkannya amal.

    ( Umar bin Khattab )

  • ix

    KATA PENGANTAR

    بسن هللا الرحوي الرحين

    , اشهد اى ال اله اال هللا واشهد اى هحودا رسىل هللا, الحود هلل رب العا لويي

    والصالة والسالم عال اشرف االًبياء والورسليي هحود وعال اله واصحابه

    اجوعيي, اهابعد.

    Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

    melimpahkan rahmat dan pertolongannya. Sholawat dan salam semoga

    tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah

    menuntun manusia menuju jalan kebahagiaan hidup di dunia dan

    akhirat.

    Selama rentang waktu beberapa bulan lamanya setelah seminar

    proposal tesis, penulis melaksanakan penelitian dan penyusunan tesis

    dengan judul; “Implementasi Metode Al Hikmah dan Evaluasi

    Muhasabah pada rumpun PAI dalam pembinaan akhlak siswa di MTsN

    1 Serang.” Penyusunan tesis ini adalah dalam rangka melengkapi syarat

    untuk menyelesaikan program magister Pendidikan Agama Islam UIN

    Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Banyak pihak yang terlibat demi

    penyelesaian tesis ini. Maka dari itu, penulis mengucapkan terima kasih

    kepada:

    1. Bapak Prof. Dr. H. Fauzul Iman, M.A selaku Rektor UIN Sultan

    Maulana Hasanuddin Banten.

  • x

    2. Bapak Prof. Dr. H.B Syafuri, M.Hum selaku Direktur yang telah

    memberikan kesempatan dan peluang serta bimbingan yang

    berharga kepada penulis selama mengikuti pendidikan pada

    Program Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

    3. Bapak Dr. Muhajir, MA selaku Ka. Prodi Pendidikan Agama

    Islam Program Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanuddin

    Banten.

    4. Bapak Dr. Ayatullah Khumaeni, M.A selaku Pembimbing II, dan

    Bapak Dr. H. Anis Fauzi, M.Si selaku Pembimbing I, yang telah

    mebimbing dari awal sampai akhir penelitian dan penulisan tesis

    ini.

    5. Orang tua, istri dan saudara-saudara tersayang yang selalu

    mendo’akan serta memberikan dukungan sehingga tesis ini

    selesai.

    6. Segenap dosen dan karyawan Pascasarjana UIN Sultan Maulana

    Hasanuddin Banten yang telah berkenan berbagi ilmu

    pengetahuan pengalaman serta memberikan pelayanan dengan

    baik selama menempuh pendidikan.

    7. Ibu Hajiyah, M.Pd, selaku Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri 1

    Kab. Serang

  • xi

    8. semua pihak terkait yang telah memberikan kontribusi demi

    kelancaran penyusunan tesis ini.

    Akhirnya, penulis berharap mudah-mudahan tesis ini bermanfaat.

    Kritik dan saran konstruktif sangat penulis harapkan. Semoga Allah

    SWT meridhoi dan mencatat setiap aktifitas sebagai amal ibadah. Amin

  • xii

    DAFTAR ISI

    PERNYATAAN KEASLIAN ............................................................ i

    PENGESAHAN .................................................................................. ii

    PERSETUJUAN TIM PENGUJI...................................................... iii

    NOTA DINAS PEMBIMBING ......................................................... iv

    ABSTRAK .......................................................................................... . v

    MOTTO ............................................................................................... viii

    KATA PENGANTAR ........................................................................ ix

    DAFTAR ISI ....................................................................................... xii

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ............................................... 1

    B. Identifikasi Masalah ..................................................... 11

    C. Pembatasan Masalah..................................................... 12

    D. Perumusan Masalah ...................................................... 12

    E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .................................. 13

    F. Tinjauan Pustaka........................................................... 14

    G. Kerangka Pemikiran ..................................................... 21

    H. Metode Penelitian ......................................................... 27

    I. Sistematika Pembahasan............................................... 30

    BAB II LANDASAN TEORI

    A. Metode Al Hikmah ....................................................... 32

    1. Konsep Metode Al Hikmah .................................... 32

    2. Konsep Al Hikmah dalam Al Qur’an ..................... 38

    3. Penerapan Metode Al Hikmah dalam Proses

    Belajar Mengajar .................................................... 41

  • xiii

    B. Evaluasi Muhasabah ..................................................... 44

    1. Definisi Muhasabah ................................................ 44

    2. Macam-macam Muhasabah .................................... 54

    3. Manfaat Muhasabah ............................................... 56

    4. Syarat untuk melakukan Muhasabah ...................... 60

    5. Keutamaan Muhasabah........................................... 66

    C. Akhlak .......................................................................... 66

    1. Pengertian Akhlak .................................................. 67

    2. Pembinaan Akhlak .................................................. 69

    3. Upaya Pembinaan Akhlak Siswa dalam konteks

    Pendidikan di Sekolah ........................................... 73

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN

    A. Metode dan Pendekatan Penelitian .............................. 85

    B. Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................ 93

    C. Sumber data .................................................................. 93

    D. Instrumen Pengumpul Data .......................................... 94

    E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ......................... 108

    F. Teknik Penjamin Keabsahan Data ............................... 114

    G. Teknik penulisan .......................................................... 120

    BAB IV HASIL PENELITIAN

    A. DESKRIPSI UMUM ................................................... 121

    1. Latar Belakang Berdirinya ..................................... 121

    2. Prinsip .................................................................... 124

    3. Visi, Misi, dan Tujuan MTs Negeri 1 Kab.

    Serang .................................................................... 124

  • xiv

    B. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ............................. 126

    1. Penerapan metode Al-Hikmah pada Rumpun

    PAI di MTs Negeri 1 Kabupaten Serang ................ 126

    2. Penerapan evaluasi Muhasabah pada Rumpun

    PAI di MTs Negeri 1 Kabupaten Serang ................ 132

    3. Pembinaan Akhlak Siswa Pada rumpun PAI

    di MTs Negeri 1 Kabupaten Serang ...................... 136

    4. Penerapan metode Al-Hikmah dan evaluasi

    Muhasabah pada rumpun PAI di MTs Negeri 1

    kab. Serang ............................................................ 165

    C. DESKRIPSI PENELITIAN ..................................... .... 168

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ................................................................... 197

    B. Implikasi ....................................................................... 199

    C. Saran-saran ................................................................... 200

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Pembinaan akhlak sangat penting ditanamkan sejak dini, baik di

    lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, agar menjadi

    manusia yang berbudi pekerti luhur. Sekolah sebagai salah satu tempat

    pembinaan siswa, didorong untuk mempersiapkan siswa menjadi

    orang-orang yang berakhlak baik. Pembinaan akhlak di sekolah dapat

    dilakukan dengan cara mempersiapkan tempat bergaul anak dengan

    teman sebaya yang steril dari perbuatan-perbuatan tercela. Selain itu,

    pembinaan akhlak dapat juga dilakukan melalui pembelajaran akidah

    akhlak yang memuat materi-materi untuk mengarahkan siswa pada

    sikap terpuji, dan menjauhi sikap tercela.

    Belajar akidah akhlak merupakan suatu kegiatan yang bertujuan

    untuk menjadikan siswa menjadi orang-orang yang mampu

    mengamalkan ajaran Islam. Penanaman nilai-nilai akidah dan akhlak

    bertujuan untuk membentuk manusia yang bertakwa dan berpekerti

    luhur. Misalnya, siswa bergairah melaksanakan ibadah, terbiasa

    berakhlak mulia, dan berpekerti luhur. Hal ini erat kaitannya dengan

  • 2

    tujuan pendidikan nasional, yang secara umum dijelaskan untuk

    membentuk manusia bertakwa. Sebagaimana dijelaskan dalam UU

    Nomor 20 tahun 2003 adalah untuk mengembangkan potensi siswa

    agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang

    Maha Esa dan berakhlak mulia.

    Peningkatan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-

    hari adalah misi pendidikan nasional betujuan mewujudkan kualitas

    keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.1 Untuk

    mencapai tujuan pendidikan yang bernuansa religius tersebut,

    pemerintah menetapkan adanya pendidikan agama, yang meliputi

    akidah akhlak, fiqih, qur‟an hadis pada semua jalur pendidikan formal,

    baik negeri maupun swasta. Adanya pendidikan agama pada semua

    pendidikan formal diharapkan berfungsi membentuk siswa menjadi

    anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan ajaran agama

    dengan benar. Untuk mempersiapkan siswa yang memiliki akhlak

    terpuji, maka dibutuhkan guru yang tidak hanya sekedar mampu

    memberikan dan mengajarkan materi akhlak, tetapi harus menjadi

    teladan bagi siswa di sekolah.

    1 Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No. 20

    tahun 2003) dan Peraturan Pelaksanaannya (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 6

  • 3

    Tujuan pendidikan nasional di atas, juga memiliki kaitan yang

    erat dengan tujuan dan target yang diharapkan dari suatu proses belajar

    mengajar. Bahwa dalam proses belajar mengajar, ada tiga aspek

    kemampuan yang menjadi target yaitu kemampuan aspek pengetahuan,

    ranah ini bertujuan pada orientasi kemampuan berpikir mencakup

    kemampuan intelektual, aspek sikap, dan aspek keterampilan ini adalah

    kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan kegiatan fisik.2

    Keseimbangan antara tiga aspek yang telah disebutkan di atas tentu

    menuntut perhatian yang serius dari guru dan seluruh pihak terkait di

    sekolah, ataupun lembaga-lembaga pendidikan. Siswa dibina dan di

    didik tidak hanya sekedar cerdas, tetapi sekaligus memiliki kepekaan

    sosial, akhlak dan religius yang bagus, sehingga siswa lahir sebagai

    generasi yang religius.

    Pencapaian tujuan pendidikan yang bernuansa religius tersebut,

    pemerintah menetapkan adanya pendidikan agama pada semua jalur

    pendidikan formal, baik negeri maupun swasta. Misalnya pada mata

    pelajaran akidah akhlak, ditinjau dari aspek kognitif para guru

    diharapkan dapat menghantarkan siswa memiliki kecerdasan agar

    memahami tentang akhlak karimah, dan mereka dapat menerapkannya

    2 Mardianto, Psikologi Pendidikan (Medan: Perdana Publishing, 2012),

    h. 93-95

  • 4

    dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan dari aspek afektif, siswa

    diharapkan mampu menjadikan ajaran agama sebagai pilihan yang

    paling benar dalam bertindak, Sedangkan dari aspek psikomotorik

    siswa diharapkan mampu berperilaku dan mengamalkan ajaran agama

    sebagai pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari.

    Peningkatan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-

    hari betujuan mewujudkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada

    Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang

    bernuansa religius tersebut, pemerintah menetapkan adanya pendidikan

    agama pada semua jalur pendidikan formal, baik negeri maupun

    swasta. Adanya pendidikan agama pada semua pendidikan formal

    diharapkan berfungsi membentuk siswa menjadi anggota masyarakat

    yang memahami dan mengamalkan ajaran agama. Untuk

    mempersiapkan siswa yang mampu memahami dan mengamalkan

    ajaran agama, maka diperlukan guru agama mampu mengajarkan

    pendidikan agama dengan baik.3

    Pendidikan agama Islam memiliki peran yang sangat penting

    dalam membentuk siswa yang bertakwa dan beriman kepada Allah swt.

    Melalui pendidikan agama Islam, diharapkan siswa menjadi orang yang

    3 Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan…, h. 6

  • 5

    berakhlak mulia. Dari sini dipahami bahwa pendidikan agama Islam

    merupakan salah satu upaya pengembangan sumber daya manusia

    kearah yang lebih religius. Berkat pendidikan, kehidupan manusia

    dapat berkembang dengan baik.

    Begitu pentingnya pendidikan, sehingga peningkatan kualitas

    pembelajaran terus menerus dilakukan untuk mendapatkan hasil yang

    maksimal.4 Guru harus bisa menjadi teladan bagi para siswanya, tidak

    saja memberikan materi pelajaran, tapi juga menunjukkan perilaku

    yang baik sehingga dapat dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari

    di lingkungan sekolah. Akhlak yang baik adalah kekuatan untuk

    membangun karakteristik sumber daya manusia dalam membangun

    bangsa dan negara menjadi tangguh dan kokoh.

    Upaya guru Pendidikan Agama Islam mendidik siswa adalah

    agar siswa menjadi manusia berakhlakul karimah. Hal ini tentu saja

    tidak lepas dari kepribadian yang dimiliki oleh guru, yaitu sifat teladan

    seorang pendidik untuk dapat menjadi panutan dan contoh bagi siswa

    dalam banyak segi. Hal ini telah sering ditekankan dalam Islam.

    Pendidik adalah spiritual bagi siswanya yang memberikan contoh bagi

    siswanya, memberikan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan

    4 Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, Strategi dan Aplikasi

    (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 221.

  • 6

    perilakunya yang buruk. Oleh karena itu, pendidik memiliki kedudukan

    yang tinggi.

    Akhlak mulia merupakan aspek penting dalam kehidupan

    berbangsa dan bernegara. Pembinaan akhlak mulia dapat melalui jalur

    pendidikan formal non formal maupun informal. Jalur pendidikan

    formal terdiri atas pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi.

    Pembentukan akhlak mulia identik dengan pembinaan akhlak

    seseorang. Tanpa akhlak yang baik seseorang akan dengan mudah

    melakukan apa saja asal dirinya senang walaupun menyakiti orang lain.

    Mengingat pentingnya akhlak bagi seseorang, maka pembinaan akhlak

    harus dilakukan sedini mungkin agar terbentuk sumber daya manusia

    (SDM) yang baik akhlaknya, dengan berbudi luhur dan berhati mulia

    serta berkepribadian yang baik. Untuk dapat menjadikan siswa

    berakhlak mulia dan berilmu, guru harus bisa menciptakan belajar yang

    efektif, karena belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk

    meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang

    ingin dicapai.

    Pembinaan akhlak sangat diperlukan dalam melangsungkan

    kehidupan, berbangsa dan bernegara yang aman, adil, dan sejahtera.

    Oleh karena itu untuk pembinaan akhlak bangsa diperlukan perhatian

  • 7

    dari berbagai pihak, baik oleh pemerintah, masyarakat, keluarga

    maupun sekolah. Pembinaan akhlak dapat diartikan membentuk

    kepribadian yang dalam proses pembinaan dipengaruhi oleh keluarga,

    sekolah dan masyarakat. Sekolah merupakan tempat yang strategis

    dalam membentuk akhlak siswa sehingga siswa akan memiliki

    kepribadian yang mantap. Pada umumnya siswa sangat menginginkan

    gurunya memiliki sifat-sifat yang ideal sebagai sumber keteladanan,

    bersikap ramah, penuh kasih sayang, penyabar, menguasai materi ajar,

    memiliki berbagai macam metode mengajar, dan mampu mengajar

    dengan suasana yang menyenangkan. Salah satu materi pelajaran yang

    diberikan kepada siswa di MTs, dalam rangka membentuk siswa

    menjadi orang-orang yang bertakwa adalah pelajaran akidah akhlak.

    Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah akidah yang baik

    terhadap alam dan kehidupan.

    Penanaman akidah kepada siswa perlu dilakukan sejak dini

    mulai dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, karena akidah

    mempunyai peranan yang cukup besar bagi pembentukan akhlak

    seseorang. Oleh sebab itu di Sekolah Menengah Pertama baik swasta

    maupun negeri, telah diajarkan pendidikan agama yang meliputi akidah

    dan akhlak. Penanaman akidah tersebut bertujuan untuk membentuk

  • 8

    manusia yang bertakwa dan berpekerti luhur. Melihat kondisi objektif

    yang terjadi dikalangan siswa, ternyata harapan cita-cita untuk

    menjadikan para siswa menjadi manusia yang bertakwa dan berpekerti

    luhur belum dapat terwujud sepenuhnya. Dikatakan demikian, karena

    meskipun penanaman akidah di sekolah-sekolah gencar dilaksanakan,

    namun masih sering timbul bolos sekolah, tawuran antar siswa,

    pelanggaran susila, penggunaan rokok, narkoba yang semakin tinggi,

    dan minum-minuman keras dikalangan siswa sekolah.

    Terjadinya kemerosotan moral dan pelanggaran susila pada

    anak sekolah mengindikasikan bahwa pelajaran aqidah dan akhlak yang

    disampaikan di sekolah belum membuahkan hasil yang maksimal.

    Sedangkan pada sisi lain, lingkungan pergaulan para siswa turut

    mempengaruhi kepribadian siswa yang masih tergolong remaja. Dalam

    hal ini, Yunahar Ilyas berpendapat bahwa: “Pada dasarnya manusia

    adalah baik secara fitrah dan berubah karena pengaruh lingkungan

    mereka.”5

    Secara psikologi, faktor yang mengakibatkan siswa melakukan

    hal-hal yang amoral tidak hanya didorong oleh keadaan lingkungan,

    tetapi dipengaruhi juga dengan terjadinya perubahan pada diri remaja.

    5 Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak (Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan

    Pengalaman Islam, 2014), h. 205

  • 9

    Karena siswa yang duduk di SLTP dapat dikategorikan kepada remaja

    awal yang sedang mengalami masa transisi. Masa transisi maksudnya

    adalah masa dimana seseorang mulai merasakan perubahan dari kanak-

    kanak menjadi dewasa. Masa ini dimulai dari umur 13 tahun dan

    batasnya sampai umur 21 tahun.6 Dalam hal ini, mereka perlu

    mendapat pembinaan secara totalitas, baik dari sisi intelektual,

    moralitas dan agama agar mereka memiliki perilaku terpuji. Pada masa

    transisi seperti yang sedang dialami anak setingkat pendidikan lanjutan

    pertama, perlu dilakukan penanaman akidah secara baik, sehingga

    timbul sebuah keyakinan pada diri mereka tentang keesaan Allah swt

    dan peran Nabi Muhammad saw sebagai pembawa risalah yang

    perintahnya untuk dikerjakan dan larangannya untuk ditinggalkan.

    Pembinaan tersebut dapat dilakukan di rumah tangga, di sekolah

    maupun di dalam lingkungan pergaulan setiap hari. Karena ketiga

    komponen tersebut dianggap sebagai sekolah bagi pembentukan

    kepribadian dan akhlak seorang anak.

    Bila uraian di atas dikaitkan dengan kondisi siswa pada MTs

    Negeri 1 Serang, maka dapat dikatakan bahwa pembinaan akhlak yang

    dilakukan pada sekolah dilakukan secara berkesinambungan oleh

    6 Zakiah Darajat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental (Jakarta:

    Bulan Bintang, 1982), h. 10.

  • 10

    dewan guru. Meskipun pembinaan akhlak dilakukan secara terus

    menerus, tetapi dari pengamatan sementara yang dilakukan, masih

    banyak anak-anak yang berkelakuan kurang baik. Dikatakan demikian,

    karena masih ada siswa yang bolos dari sekolah, kemudian dalam

    pergaulan sehari-hari mereka belum memperlihatkan tata kerama dan

    akhlak yang sesuai dengan Islam.7 Sebagai contohnya adalah, masih

    terdapat siswa yang meninggalkan salat dan masih ada siswa yang tidak

    menghargai guru dan melawan kepada orang tua. Fenomena ini tentu

    harus lebih mendapatkan perhatian yang serius dari dewan guru.

    Salah satu cara yang dapat ditempuh dalam membina akhlak

    siswa adalah melalui metode Al-Hikmah yaitu mengajak kepada jalan

    Allah dengan cara keadilan dan kebijaksanaan, selalu

    mempertimbangkan berbagai faktor dalam proses belajar mengajar,

    baik faktor subjek, objek, sarana, media, dan lingkungan pengajaran.

    Mengajak kepada jalan Allah (kebaikan) dengan cara yang adil

    dan bijaksana, maka diharapkan dari objek yang diajak untuk

    senantiasa melakukan hal-hal yang baik dan terpuji selanjutnya adalah

    hal-hal yang baik tersebut agar tetap melekat yakni melalui

    pembiasaan. Pembiasaan merupakan metode yang digunakan untuk

    7 Ali Rohman, M.Pd, guru & mantan Kepala MTs Negeri 1 Serang (

    Observasi Pendahuluan; MTsN 1 Serang, 11 April 2018 )

  • 11

    melatih jiwa agar terbiasa melakukan hal – hal baik yang merujuk pada

    pencapaian terbentuknya akhlak mulia dengan disertai evaluasi.

    Hal itu perlu ditekankan mengingat akhir – akhir ini seringkali

    didapati baik dari media cetak maupun elektronik beberapa siswa

    melakukan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau

    kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara

    individu, maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk

    sosial. Sementara itu, dalam pendidikan formal, tidak sedikit dijumpai

    adanya perlakuan guru yang tidak adil, hukuman/sanksi-sanksi yang

    tidak mendukung dan menunjang tercapainya tujuan pendidikan,

    ancaman yang tidak putus-putusnya disertai disiplin yang terlalu ketat,

    disharmonis antara peserta didik, dan kurangnya kesibukan belajar

    dirumah. Maka menarik untuk dikaji dalam sebuah penelitian

    bertemakan “ Implementasi Metode Al-Hikmah dan Evaluasi

    Muhasabah Pada Rumpun PAI Dalam Pembinaan Akhlak Siswa

    di MTs Negeri 1 Serang “.

    B. Identifikasi Masalah

    Dari uraian latar belakang diatas, maka dapat diidentifikasikan

    beberapa masalah yang muncul dalam penelitian, diantaranya adalah

    sebagai berikut :

  • 12

    1. Beberapa siswa melakukan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-

    nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang

    kemanusiaan (agama) secara individu, maupun pembenarannya

    sebagai bagian daripada makhluk sosial

    2. Perlakuan guru yang kurang adil sehingga memicu siswa

    mengekspresikan kekecewaannya dengan sikap/perilaku yang tidak

    sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan

    3. Hukuman/sanksi-sanksi yang tidak mendukung dan menunjang

    tercapainya tujuan pendidikan.

    C. Pembatasan Masalah

    Berdasarkan uraian identifikasi masalah diatas, maka penulis

    perlu membatasi masalah. Mengingat keterbatasan waktu dan tenaga

    yang ada pada diri penulis, maka variabel yang diambil adalah

    Implementasi metode Al-Hikmah dan evaluasi Muhasabah. Kedua

    variabel yang diambil penulis tersebut dapat membina akhlak siswa

    demi tercapainya siswa yang berakhlakul karimah.

    D. Perumusan Masalah

    Berdasarkan uraian yang diajukan dalam identifikasi dan

    pembatasan masalah tersebut diatas. Maka, masalah yang akan dibahas

    dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  • 13

    1. Bagaimana penerapan metode Al-Hikmah pada rumpun PAI di

    MTs Negeri 1 Serang ?

    2. Bagaimana penerapan evaluasi Muhasabah pada rumpun PAI

    di MTs Negeri 1 Serang ?

    3. Bagaimana pembinaan akhlak siswa pada Rumpun PAI di MTs

    Negeri 1 Serang ?

    4. Bagaimana Implementasi penerapan metode Al-Hikmah dan

    evaluasi Muhasabah pada rumpun PAI di MTs Negeri 1

    Serang?

    E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

    a. Tujuan

    1 Untuk mengetahui bagaimana penerapan metode Al-Hikmah

    pada rumpun PAI di MTs Negeri 1 Serang ?

    2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan metode Al-Hikmah

    dan evaluasi Muhasabah pada rumpun PAI di MTs Negeri 1

    Serang ?

    3. Untuk mengetahui bagaimana pembinaan akhlak siswa pada

    Rumpun PAI di MTs Negeri 1 Serang ?

  • 14

    4. Untuk menjadikan hasil implementasi metode Al-Hikmah dan

    Evaluasi Muhasabah sebagai perbaikan dalam pembinaan

    akhlak siswa.

    b. Kegunaan

    1. Kegunaan Teoritik

    a. Dapat dijadikan rujukan atau sebagai landasan teori

    dalam kajian pelaksanaan metode yang digunakan

    dalam pembinaan akhlak.

    b. Dapat dijadikan rujukan atau sebagai landasan teori

    dalam melakukan evaluasi.

    c. Menambah wawasan keilmuan bagi para pendidik

    dalam upaya pembinaan akhlak siswa.

    2. Kegunaan Praktis

    Sedangkan secara praktis penelitian ini diharapkan dapat

    dijadikan pedoman bagi yang hendak mengadakan penelitian

    lebih lanjut tentang masalah penelitian ini.

    F. Tinjauan Pustaka

    Sudah banyak hasil penelitian yang mengkaji tentang cara

    diatas, diantaranya:

  • 15

    Pertama, hasil penelitian Samsul Irawan berjudul

    “Implementasi Metode Bercerita Dalam menanamkan Akhlak Mulia

    bagi peserta didik”. Menyimpulkan bahwa hasil Penerapan metode

    bercerita sangat membantu peserta didik untuk mengetahui dan

    memahami ajaran agama dalam Islam. Sehingga kondisi peserta didik

    yang mulanya berperangai tidak terkontrol dan cenderung kasar, kurang

    sopan dan rendahnya prilaku sosial secara bertahap dapat terbina

    dengan baik, terbukti setelah metode bercerita dipraktekannya dalam

    kehidupan sehari-hari, dengan adanya perubahan sikap dan prilaku

    peserta didik mengarah kepada hal-hal yang positif. Karena itu tiga

    komponen yang ada pada peserta didik pada aspek kognitif, afektif, dan

    psikomotorik dapat terbina dengan baik sehingga cerdas otaknya,

    bersih hatinya dan mampu melahirkan keterampilan khusus.8

    Persamaannya yakni dari topik kajian tentang pembinaan akhlak

    dengan menggunakan metode tertentu yang dapat merubah sikap dan

    perilaku peserta didik mengarah kepada hal-hal yang bersifat

    positif.Perbedaannya yakni terletak pada metode yang digunakan yakni

    8 Samsul Irawan, Implementasi Metode Bercerita Dalam Menanamkan

    Akhlak Mulia bagi peserta didik di SD Negeri 60 Salubattang Kota Palopo, Tesis

    2012

  • 16

    metode bercerita sebagai upaya yang signifikan dalam menanamkan

    akhlak mulia bagi peserta didik.

    Kedua, tesis karya Nursal Efendi berjudul “Upaya Pembinaan

    Akhlak Siswa di SMA Negeri 3 Kecamatan Bengkalis Kabupaten

    Bengkalis” Upaya pembinaan akhlak sebagai penunjang pembelajaran

    PAI agar tercapainya tujuan PAI itu sendiri, maka dilakukan berbagai

    upaya dalam pembinaan akhlak peserta didik agar menjadi manusia

    yang mengamalkan ajaran agamanya yaitu Islam, yaitu dengan

    menanamkan nilai-nilai agama atau nilai-nilai akhlak. Adapun nilai-

    nilai akhlak yang ditanamkan itu adalah sebagai berikut : Ibadah

    mingguan/membaca surah yasin sebelum masuk belajar selama satu

    kali empat puluh lima menit/tausyah, shalat zuhur berjama‟ah, piket

    mushalla, ditambah dengan ekstrakurikuler seperti : Tuntas baca al-

    qur‟an, seni baca al-qur‟an, syarhil qur‟an, seni Islami seperti : nasyid,

    puisi Islami, bimbingan remaja tentang akhlak, dan peringatan hari

    besar Islam. Yang pada intinya dalam pembinaan akhlak peserta didik

    dengan tiga hal penting sebagai upaya yaitu menanamkan dan

    membangkitkan keyakinan beragama, menanamkan etika pergaulan

    dan menanamkan kebiasaan yang baik. Dalam pelaksanaan upaya

    pembinaan akhlak siswa di SMA Negeri 3 Bengkalis, terdapat faktor

  • 17

    pendukung dan faktor penghambat diantaranya yaitu : Faktor

    Pendukung seperti : Kurikulum, Tenaga guru dan warga sekolah, Peran

    serta orang tua. Faktor Penghambat seperti : Lingkungan Keluarga,

    Lingkungan Masyarakat, Arus globalisasi modern.9

    Persamaannya yakni terletak pada upaya untuk pembinaan

    akhlak yaitu menanamkan dan membangkitkan keyakinan beragama,

    menanamkan etika pergaulan dan menanamkan kebiasaan yang baik.

    Sementara itu, perbedaannya yakni pada penekanan pembinaan akhlak

    tersebut dengan menguraikan beberapa faktor yang yang menjadi

    pendukung dan penghambat dalam upaya pembinaan akhlak siswa.

    Ketiga, tesis karya Rasmuin dengan judul “Implementasi

    Pendidikan Akhlak Mulia terhadap Santri Pondok Pesantren Modern

    Miftahunnajah Trini Trihanggo Gamping Sleman”, dengan hasil

    penelitian bahwa pendidikan akhlak mulia terhadap santri Ponpes

    Modern Miftahunnajah dilakukan melalui dua poin utama yaitu

    pemahaman dan pembiasaan.

    Pemahaman yang dimaksud disini adalah proses menanamkan

    pengetahuan kognitif terhadap santri yang dilakukan melalui semua

    mata pelajaran di MTs Miftahunnajah. Dengan mata pelajaran utama

    9 Nursal Efendi,Upaya Pembinaan Akhlak Siswa di SMA Negeri 3

    Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis, Tesis 2013

  • 18

    akidah akhlak yang didukung oleh semua mata pelajaran lain dengan

    cara memasukkan nilai-nilai akhlak mulia dalam setiap pembelajaran.

    Selain itu juga melalui kajian kitab Ta‟limul Muta‟alim dan kitab

    Minhajul Abidin. Selain itu seminggu sekali juga diadakan kajian

    islami dengan mendatangkan ustadz dari sekitar lokasi pesantren.

    Upaya yang kedua adalah pembiasaan. Kegiatan-kegiatan yang

    mengandung nilai-nilai akhlak mulia dilaksanakan dan diprogramkan

    dengan baik serta dilakukan secara konsisten. Diawali bangun pagi jam

    setengah tiga untuk melaksanakan sholat tahajjud, kemudian sholat

    lima waktu berjamaah, dzikir ma‟surat, tahfizul qur‟an, dan sholat

    dhuha. Pembiasaan akhlak mulia juga dilaksanakan melalui pencak

    silat, outbond, renang, muhadhoroh, rihlah ilmiyah, nasyid,

    penghijauan, menata sandal. Ada berbagai faktor yang menghambat

    pelaksanaan pembinaan akhlak mulia di pesantren Miftahunnajah.

    Penghambat tersebut dikategorikan kedalam faktor internal dan faktor

    eksternal. Faktor internal meliputi pemahaman dari ustadz pembimbing

    yang bervariasi, sebagian besar Musyrif yang masih berstatus sebagai

    mahasiswa sehingga kurang maksimal dalam pengawasan santri, serta

    input santri yang variatif. Sedangkan faktor eksternal meliputi

    kurangnya kerjasama orang tua dalam menjaga dan mengontrol budaya

  • 19

    islami pesantren ketika santri sedang berada di rumah, besarnya efek

    negatif dari kemajuan tekhnologi serta pendanaan yang minim. Adapun

    faktor pendukung antara lain system boarding school yang

    memudahkan pesantren mengontrol aktivitas santri 24 jam, adanya

    kerjasama dan dukungan dari para guru yang mengajar di MTs

    Miftahunnajah untuk selalu menanamkan akhlak mulia dalam setiap

    pembelajaran, adanya perpaduan kurikulum antara Diknas, Kemenag,

    serta kurikulum pesantren dan dukungan penuh dari pihak yayasan.

    Upaya pesantren untuk mengatasi hambatan-hambatan yang

    terjadi adalah dengan selalu mengadakan pertemuan rutin para Musyrif

    seminggu sekali untuk menyatukan Visi dan Misi serta pemberian

    motivasi kepada semua Musyrif, selalu menjalin komunikasi dengan

    wali santri, dan memberlakukan aturan yang ketat untuk memproteksi

    santri dari pengaruh negative dari luar. Dalam mengatasi hambatan

    dalam pendanaan pihak pesantren berusaha mandiri untuk membuka

    minimarket, ternak lele yang bekerjasama dengan tenaga ahli, serta

    berkas abadi yang bergerak dalam penjualan barang-barang bekas hasil

    sumbangan dari para dermawan.10

    10

    Rasmuin, Implementasi Pendidikan Aklhak Mulia Terhadap Santri Pondok

    Pesantren Modern Miftahunnajah Trini Trihanggo Gamping Sleman, Tesis 2015

  • 20

    Persamaannya yakni dalam upaya pembinaan akhlak pada

    peserta didik (santri) diperlukan metode yang diterapkan melalui

    pemahaman dan pembiasaan. Perbedaannya yakni pada kajian kitab

    Ta‟limul Muta‟alim dan kitab Minhajul Abidin sebagai bagian dari

    upaya pembinaan akhlak santri.

    Keempat, artikel Mohammad Muchlis Solichin dan Siti

    Athiyatul Mahfudzah yang berjudul: “Pendidikan Akhlak Perspektif

    Syeikh Musthafa Al Ghalayaini dalam Kitab „Izhah Al Nasyin,

    menjelaskan bahwa materi pendidikan akhlak yang ditawarkan oleh

    Syeikh Musthafa al-Ghalayaini, secara umum memperkenalkan bentuk

    pemikiran yang memperioritaskan ranah praktik dalam kehidupan

    sehari-hari. Pernyataan ini bukan berarti menafikan konsep-konsep

    yang bersifat teori seperti karya para tokoh lain pada umumnya. Tetapi,

    karya Al Ghalayaini ini merupakan gambaran langkah nyata yang harus

    terimplementasikan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Berdasarkan

    hal tersebut, upaya membentuk kepribadian remaja agar menjadi

    pribadi-pribadi yang tangguh, mapan, dan bertanggung jawab terhadap

    diri dan lingkungannya harus dimulai sedini mungkin dengan

    menanamkan akhlak dalam jiwa mereka sehingga meresap dengan

  • 21

    sempurna dan tertanam kuat dalam jiwa mereka. Karena jiwa seorang

    anak bagaikan lilin yang lembek yang dapat

    dengan mudah diukir dalam bentuk apapun, atau bagaikan kamera foto

    yang mampu mencetak gambar yang dijepret melalui lensanya. Akhir

    dari penanaman nilai-nilai tersebut adalah terimplementasikannya nilai-

    nilai tersebut dalam konteks kehidupan sehari-hari.11

    G. Kerangka Pemikiran

    Agama merupakan alat pembinaan yang sangat ampuh bagi

    remaja. Agama yang tertanam dan tumbuh secara wajar dalam jiwa

    akan dapat digunakan untuk mengendalikan keinginan – keinginan dan

    dorongan – dorongan yang kurang baik serta membantunya dalam

    menghadapi berbagai masalah kehidupan pada umumnya. Dengan

    hidup dan segarnya keyakinan agama dalam diri remaja, akhlaknya

    dengan sendirinya akan baik karena kontrolnya berasal dari dalam

    bukan dari luar.

    Namun untuk menanamkan nilai – nilai agama agar dapat

    diaktualisasikan dalam tindakan nyata maka perlu bimbingan / tuntunan

    dari orang dewasa ( orang tua dan guru ), sejatinya orang tua / guru

    tidak hanya menyampaikan secara lisan bahwasanya jujur, amanah,

    11 Mohammad Muchlis Solichin dan Siti Athiyatul Mahfudzah, Pendidikan

    Akhlak Perspektif Syeikh Musthafa Al-Ghalayaini Dalam Kitab „Izhah Al-Nasyin,

    Jurnal STAIN Pamekasan 2012

  • 22

    tanggung jawab, rasa hormat, peduli, santun, lapang dada, toleran,

    tekun dan sabar itu adalah contoh perilaku yang baik dan terpuji yang

    harus terpatri dalam diri seorang anak / peserta didik tetapi nilai – nilai

    yang diharapkan tertanam dan tumbuh mengakar tersebut harus selalu

    dijaga dan dipelihara dalam bentuk tindakan nyata dari para orang tua

    dan guru. Istilah “guru kencing berdiri murid kencing berlari”

    hendaknya diperhatikan oleh setiap pendidik tanpa terkecuali para

    orang tua, sehingga metode yang efektif dalam pembinaan akhlak yaitu

    metode Al-Hikmah melalui pemberian contoh yang baik dari para

    pendidik ( guru dan orang tua ) dimana mereka tentu lebih mengetahui

    akhlak yang baik dan terpuji karena diantara sebagian dari mereka tentu

    mempunyai pemahaman yang lebih tentang ilmu agama

    dibandingkan dengan peserta didik sehingga mereka lebih bijaksana

    dalam mengemban tugas sebagai khalifah dimuka bumi.

    Kata Al-hikmah dalam bahasa Indonesia memiliki padanan

    dengan kata “bijaksana” yang berarti: (1) selalu menggunakan akal

    budinya {pengalaman pengetahuaannya}, arif serta tajam pikirannya,

    (2) cermat dan teliti bila menghadapi masalah atau kesulitan.12

    12

    Pusat bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia (

    Jakarta : Pusat bahasa 2008 ) hal. 199

  • 23

    Sesungguhnya ucapan hikmah itu membuat nyaman

    pendengaran, demikian pula perbuatan hikmah membuat enak

    pandangan mata serta hati, mendidik jiwanya dengan adab-adabnya

    yang pantas dengan kemulyaan serta keutamaan dari pengajaran

    manusia serta adab-adabnya.

    Dalam bahasa Arab, Al-Hikmah artinya ilmu, keadilan,

    falsafah, kebijaksanaan, dan uraian yang benar.13

    Al-Hikmah berarti

    mengajak kepada jalan Allah dengan cara keadilan dan kebijaksanaan,

    selalu mempertimbangkan berbagai faktor dalam proses belajar

    mengajar, baik faktor subjek, objek, sarana, media, dan lingkungan

    pengajaran. Pertimbangan pemilihan metode dengan memperhatikan

    audiens atau peserta didik diperlukan kearifan agar tujuan pembelajaran

    tercapai dengan maksimal.

    Proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan lancar

    manakala ada interaksi yang kondusif antara guru dan peserta didik.

    Komunikasi yang arif dan bijaksana memberikan kesan yang

    mendalam kepada para siswa sehingga “teacher oriented” akan

    berubah menjadi “student oriented”. Guru yang bijaksana akan selalu

    memberikan peluang dan kesempatan kepada siswanya untuk

    13

    Husen Al-Habsy, Kamus Arab Lengkap ( Bangil : YAPPI, 1989 ), hlm. 64

  • 24

    berkembang. Dengan demikian, metode Al-hikmah dapat diartikan

    sebagai cara yang ditempuh oleh seorang guru / pendidik untuk

    mengajak siswa / peserta didik kepada jalan Allah ( kebaikan ) dengan

    adil dan bijaksana dengan selalu mempertimbangkan berbagai faktor

    dalam proses belajar mengajar.

    Metode hikmah dalam proses belajar mengajar, dapat

    diterapkan dalam praktik sebagai berikut:

    a. Melakukan pendekatan yang baik, bersahabat, ramah

    b. Tidak menghakimi pemikiran peserta didik, akan tetapi berusaha

    membuka cakrawala berpikirnya.

    c. Mengajar dengan menggunakan perumpamaan yang baik dan tepat

    d. Memiliki pandangan positif terhadap peserta didik yang lambat

    bahwa mereka bukan bodoh tetapi belum mengetahui dan

    memahami ilmunya.

    e. Memberi motivasi yang berarti bagi peserta didik.14

    Muhasabah ialah introspeksi, mawas, atau meneliti diri, yakni

    menghitung-hitung perbuatan pada tiap tahun, tiap bulan, tiap hari,

    bahkan setiap saat. Oleh karena itu muhasabah tidak harus dilakukan

    pada akhir tahun atau akhir bulan. Namun perlu juga dilakukan setiap

    hari, bahkan setiap saat.15

    Konsep Muhasabah, dalam al-Qur‟an

    terdapat dalam Surat (Al-Hasyr: 18-19).

    14

    Implementasi Metode Al-Hikmah, Al-Mau‟idhah Al-Hasanah, Dan Al-

    Mujadalah Dalam Praktik Pendidikan (Jurnal Ilmiah Mitra Swara Ganesha, ISSN

    2356 – 3443. Vol. 3 No.2 (Juli 2016) 15

    Amin Syukur, Tasawuf bagi Orang Awam (Menjawab Problematika

    Kehidupan), (Yogyakarta: LPK-2, Suara Merdeka), 2006. h. 83

  • 25

    Artinya : “Wahai orang – orang yang beriman, bertakwalah kepada

    Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah

    diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah.

    Sungguh Allah maha teliti terhadap apa yang kemu kerjakan. Dan

    janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu

    Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka

    itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al- Hasyr: 18-19)16

    Muhasabah tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan

    gambaran tentang : 1). Ketenangan dan kedamaian yang hadir dalam

    jiwa. 2). Sugesti yang mendorong ke arah hidup yang bermakna 3).

    Rasa cinta dan dekat kepada Allah. Dengan muhâsabah (mawas diri),

    selain dapat mendorong orang untuk menyadari kekhilafannya, dapat

    pula memotivasi

    orang mendekatkan diri kepada Allah, mendorong kearah hidup

    bermakna dalam dataran kesehatan mental, dan hidup bermanfaat

    sebagaimana perilaku manusia sejati yang ciri-cirinya menurut Marcel

    (tokoh Psikologi Eksistensial) sebagai berikut : (1) memiliki semangat

    16

    Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya (Bandung: PT

    Syaamil Cipta Media, 2004) h.548

  • 26

    partisipasi, (2) semangat kesiap-siagaan, dan (3) memiliki harapan

    kepada yang mutlak.17

    Evaluasi Muhasabah / introspeksi diri berarti introspeksi akan

    dirinya sendiri, menghitung diri dengan amal perbuatan yang telah

    dilakukan dari masa – masa yang telah lalu. Hal ini dimaksudkan agar

    peserta didik dapat menemu kenali ucapan dan perbuatan yang

    terkategori sebagai akhlak yang tidak terpuji dan menyadari ucapan dan

    perbuatan yang tidak terpuji tersebut agar tidak diulang kembali

    dikemudian hari sehingga waktunya semakin produktif dan dapat

    dirasakan manfaatnya baik bagi dirinya sendiri maupun untuk orang

    lain. Orang yang beruntung adalah mereka yang tahu akan dirinya

    sendiri, dan orang yang beruntung akan selalu mempersiapkan dirinya

    untuk kehidupan kelak yang abadi di yaumul akhir di akhirat yang pasti

    adanya. Dengan melaksanaan muhasabah seorang hamba akan selalu

    menggunakan waktu dari detik, menit, jam dan harinya serta

    keseluruhan jatah umur kehidupannya di dunia dengan sebaik –

    baiknya demi meraih keridhoan Allah SWT.

    Berdasarkan ayat tersebut, setiap orang yang beriman

    diperintahkan oleh Allah agar selalu memperhatikan /

    17

    Abdullah Hadziq, Rekonsiliasi Psikologi Sufistik dan Humanistik,

    (Semarang: Rasail, 2005), h. 31-32

  • 27

    memperhitungkan (mengevaluasi) apa yang sudah diperbuat agar dapat

    diketahui untuk dilakukan perbaikan yakni dengan melakukan

    perhitungan dalam hal amal ibadah yang wajib maupun yang sunnah.

    Muhasabah juga dilakukan terhadap amalan sholeh yakni amalan

    kebaikan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat secara sosial

    dan kehidupannya sebagai seorang hamba Allah SWT sang Khalik.

    H. Metode Penelitian

    1. Pendekatan

    Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif

    yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif

    berupa ucapan atau tulisan dan prilaku yang dapat diamati dari orang-

    orang (objek itu sendiri)

    2. Langkah – langkah Penelitian

    a. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah

    Terlebih dahulu penulis harus mengenali masalah yang

    akan dibahas dalam penelitian

    b. Melakukan studi pendahuluan

    Setelah mengenali masalah kemudian melakukan studi

    pendahuluan, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk

    mengumpulkan informasi-informasi yang berkaitan

  • 28

    dengan masalah yang akan diteliti, sehingga dapat

    diketahui keadaan atau kedudukan masalah tersebut baik

    secara teoritis maupun praktis.

    c. Mengidentifikasi variabel dan definisi operasional

    variabel

    Variabel dalam penelitian ini adalah Metode Hikmah

    sebagai Variabel X, dan Evaluasi Muhasabah sebagai

    Variabel Y, Kedua variabel tersebut dapat berkontribusi

    dalam upaya pembinaan akhlak siswa.

    d. Menentukan rancangan dan desain penelitian

    e. Menentukan dan mengembangkan instrumen penelitian

    f. Menentukan subjek penelitian

    g. Melaksanakan penelitian

    h. Melakukan analisis data

    i. Merumuskan hasil penelitian dan pembahasan

    j. Menyusun laporan penelitian dan melakukan desiminasi

    III. Teknik Pengumpulan Data

    1. Data Primer, yakni data yang diperoleh dari lokasi

    penelitian

  • 29

    2. Data Sekunder, yakni data yang diambil untuk

    melengkapi pembahasan yang relevan

    IV. Instrumen Pengumpulan data

    1. Wawancara dengan siswa, guru rumpun PAI, dan tenaga

    kependidikan

    2. Observasi sikap dan interaksi sosial

    3. Dokumentasi berupa arsip sekolah (madrasah)

    V. Teknik Analisis Data

    1. Reduksi Data; menajamkan, menggolongkan,

    mengarahkan, dan membuang yang tidak perlu dan

    mengorganisasi data sedemikian rupa.

    2. Penyajian Data; sekumpulan informasi disusun,

    sehingga memberi kemungkinan akan adanya

    penarikan kesimpulan.

    3. Penarikan Kesimpulan; hasil analisis yang dapat

    digunakan untuk mengambil tindakan.

  • 30

    F. Sistematika Pembahasan

    Sistematika penulisan tesis ini dibagi ke dalam lima bab dan

    beberapa sub bab yang memiliki keterkaitan antara yang satu dengan

    lainnya.

    Bab I pendahuluan yang menjelaskan latar belakang masalah,

    Identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan

    dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka pemikiran, metode

    penelitian dan sistematika pembahasan.

    Bab II membahas tentang landasan teoritis yang dibagi kedalam

    beberapa poin, yaitu: a. konsep metode Al-hikmah, konsep Al-Hikmah

    dalam Al Qur‟an, penerapan metode Al-Hikmah dalam proses belajar

    mengajar, b. definisi Muhasabah, macam-macam Muhasabah, manfaat

    Muhasabah, syarat untuk melakukan Muhasabah, keutamaan

    Muhasabah. c. pengertian akhlak, pembinaan akhlak, Upaya pembinaan

    akhlak siswa dalam konteks pendidikan di sekolah.

    Bab III membahas tentang metodologi penelitian; metode dan

    pendekatan penelitian, lokasi dan waktu penelitian, sumber data,

    instrument pengumpulan data, teknik pengolahan dan analisis data,

    teknik penjaminan keabsahan data dan teknik penulisan.

  • 31

    Bab IV membahas tentang hasil penelitian dan pembahasan

    yang terdiri dari: Deskripsi umum; latar belakang berdirinya MTs

    Negeri 1 Serang, Prinsip MTs Negeri 1 Serang, Visi,misi, dan tujuan

    MTs Negeri 1 Serang. Deskripsi hasil penelitian; pelaksanaan metode

    Al-hikmah di MTs Negeri 1 Serang, pelaksanaan evaluasi Muhasabah

    di MTs Negeri 1 Serang, pembinaan akhlak siswa di MTs Negeri 1

    Serang, pelaksanaan metode Al-Hikmah dan evaluasi Muhasabah

    dalam pembinaan akhlak siswa di MTs Negeri 1 Serang. Deskripsi

    penelitian.

    Bab V penutup, yaitu kesimpulan, implikasi dan saran-saran.

  • 32

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Metode Al - Hikmah

    1. Konsep Metode Al – Hikmah

    Pendidikan lebih dari pada pengajaran, karena pengajaran sebagai

    suatu proses transfer ilmu belaka, sedang pendidikan merupakan

    transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek

    yang dicakupnya. Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada

    penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan

    kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian.

    Inti dari sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah saw. dalam mendidik

    ummatnya adalah keteladan yang ada pada diri beliau. Beliau adalah

    figur keteladanan yang paripurna bagi semua manusia. Di dalam

    kepribadian beliau terkumpul seluruh aspek keutamaan pribadi manusia

    yang agung. Namun demikian, dengan kesempurnaan yang dimiliki,

    bukan berarti beliau hanya sebagai tokoh dalam bayangan yang tidak

    bisa diteladani. Justru beliau merupakan teladan bagi siapa saja. Beliau

    adalah sosok remaja yang berkualitas, suami yang bertanggung jawab,

    bapak yang penuh kasih, pemimpin yang adil, panglima perang yang

  • 33

    tangguh, ahli strategi yang canggih, pedagang yang ulung dan jujur,

    pemikir yang brilian, dan pendidik yang bijak. Allah berfirman :

    ٤ ُلوٍُ َظِيٖ ِإَوٍٍَّك هََعَلى

    “Sesungguhnya engkau Muhammad berada di puncak akhlak yang

    agung”. (QS. Al-Qalam: 4)18

    ِ ََكَن هَُكى ِِف رَُشِْل هٍَّقد ْ ٱّللٍّ ْا ٌ ََكَن يَر ُج ًَ ِ ّ ََثٞ ل ٌَْة َحَص ش َُ أ ْ مَ وَ ٱّللٍّ َ ٱٓأۡلِلرَ ٱۡل

    َ َوَذَلَر ١٫َلثرِٗيا ٱّللٍّ

    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan

    yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah

    dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-

    Ahzab: 21)19

    Untuk mencapai tujuan dalam pendidikan diperlukan

    mekanisme serta metode yang efektif sehingga muatan pendidikan

    dapat sampai secara efektif dan efesien. Mengenai mekanisme dalam

    menjalankan pendidikan Islam Imam Ibnu Miskawaih mengatakan

    bahwa syariat agama memiliki peran penting dalam meluruskan akhlak

    18

    Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya (Bandung: PT

    Syaamil Cipta Media, 2004) h.564 19

    Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya…., h. 420

  • 34

    remaja, yang membiasakan mereka untuk melakukan perbuatan yang

    baik, sekaligus mempersiapkan diri mereka untuk menerima kearifan,

    mengupayakan kebajikan dan mencapai kebahagiaan melalui berpikir

    dan penalaran yang akurat.20

    Hal ini dapat dijalankan melalui al-

    mau‟izhah (nasehat), al- dharb (dipukul) kalau perlu, al-taubikh

    (dihardik), diberi janji yang menyenangkan atau tahdzir (diancam)

    dengan al-„uqubah (hukuman).

    Sedangkan metode merupakan unsur serapan yang berasal dari

    bahasa yunani, secara etimologi metode berasal dari meta dan hodos.

    Meta berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara. Dalam Kamus

    Besar Bahasa Indonesia metode di artikan sebagai cara yang teratur

    yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan agar tercapai sesuai

    dengan yang di kehendaki; cara kerja yang bersistem untuk

    memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang di

    tentukan.21

    Dalam bahasa Arab metode disebut “thariqat” yang berasal

    dari akar kata طزق yang berarti memalu, mengetuk, menempa,

    menempuh. Menurut kamus bahasa Indonesia, “metode” adalah cara

    yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud. Kemudian

    20

    Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam: Paradigma Baru

    Pendidikan Hadhari Berbasis Integrative, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 7 21

    Pusat bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia

    (Jakarta : Pusat bahasa 2008 ) h. 652

  • 35

    memakai pola pewazanan dengan tsulatsil mazid bab kedua menjadi

    yang menjadikannya memiliki objek yang mengandung arti طزق

    “menjadikan jalan”. Asy-Syarif Al-Jurjany(1421) mendefinisikannya

    kata thoriqoh sebagai berikut,

    انطزٚمخ ْٙ انسٛزح انًخزصخ ثبانسب نكٍٛ انٗ هللا رعبنٗ يٍ لطع انًُب سل

    ٔانززلٙ فٗ انًمبيبد

    Thoriqoh (methode) adalah jalan yang khusus yang ditempuh orang-

    orang kepada Alloh ta‟ala dari terputusnya kedudukan serta kemajuan

    pada tempatnya.22

    Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa metode berarti

    suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar

    tercapai tujuan pembelajaran.

    Sementara itu kata al-hikmah dalam bahasa arab dapat berarti

    besi kekang atau besi pengekang hewan yang dalam bahasa sunda

    disebut kadali, yaitu pengendali. Hikmah dalam arti kadali ini

    memungkinkan si penunggang hewan atau si gembala

    mengendalikannya sesuai dengan kehendaknya. Hikmah dalam

    pengertian bahasa ini kemudian digunakan sehingga hikmah diartikan

    sebagai sesuatu yang dapat mengendalikan manusia agar tidak

    22

    Encep Ismail, Landasan Qur‟ani tentang zikir dalam ajaran tarekat

    (Jurnal: Syifa al-Qulub, vol,1 No.2, Januari 2017)

  • 36

    bertindak dan melakukan perbuatan, perilaku, dan budi pekerti yang

    rendah, tercela, dan tidak terpuji. Hikmah memungkinkan manusia

    yang memilikinya berbudi pekerti luhur serta melakukan perbuatan

    terpuji.23

    Kata Al-hikmah dalam bahasa Indonesia memiliki padanan

    dengan kata “bijaksana” yang berarti: (1) selalu menggunakan akal

    budinya {pengalaman pengetahuannya}, arif serta tajam pikirannya, (2)

    cermat dan teliti bila menghadapi masalah atau kesulitan.24

    Al-Hikmatu berasal dari kata Ihkam yang artinya hati-hati

    dalam perkataan dan perbuatan. Hikmah menurut bahasa juga berarti,

    انعهى يع انعًم

    Ilmu yang di sertai amal.

    Al-Hikmah bisa berarti tepat menempati kebenaran yang didapat

    melalui ilmu dan akal. Hikmah Allah yaitu ma‟rifat terhadap segala

    sesuatu dan mewujudkannya dengan sebagus-bagus aturan, dan hikmah

    manusia berupa ma‟rifat terhadap maujud dan melakukan segala

    kebaikan. Hikmah inilah yang diberikan kepada Luqmannul Hakim.

    23

    Juhaya S Praja, Tafsir Hikmah Seputar Ibadah, Muamalah, Jin, dan

    Manusia (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 35 24

    Pusat bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia (

    Jakarta : Pusat bahasa 2008 ), hal. 199

  • 37

    ٌَ َوهََقد َمى ََا هُق ثَ َءاحَي ًَ ِم ِن ٱۡل َُمر أ ُمُر ٱش ا يَش ًَ ُمر فَإِنٍّ ِِۚ َوَيٌ يَش ِصُِّلِلٍّ َوَيٌ ۦ ِِلَف

    َ َكَفَر فَإِنٍّ ١٢َػِِنٌّ ََحِٖٞد ٱّللٍّ

    Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman,

    yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur

    (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri;

    dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah

    Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. Luqman: 12)25

    Menurut para ahli sebagaimana dikutip oleh Ipah Latipah dalam Jurnal

    Ilmiah Mitra Swara Ganesha makna hikmah itu diantaranya:

    a) Suatu ilmu yang membahas hakikat segala sesuatu yang

    berkaitan dengan kemampuan manusia dalam meneliti makna

    serta faidahnya.

    b) Hukum atau kebijaksanaan sebagai hasil penelitian aqliyyah dan

    ilmiyyah.

    c) Perkataan atau ungkapan yang dapat dianggap baik oleh akal

    atau rasio, dianggap indah oleh perasaan atau estetika, dan

    dianggap benar oleh iman.

    25

    Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya,…., h. 412

  • 38

    d) Segala perkataan atau ungkapan yang mengandung kebenaran

    adalah termasuk hikmah.26

    Hikmah adalah kata yang mempunyai banyak arti diantaranya

    Ilmu sebagaimana yang dikatakan Muhhamad Abduh; ”Hikmah adalah

    Ilmu yang shohih (valid) yang menggerakan kemauan untuk melakukan

    sesuatu perbuatan yang berguna”. Bahkan hikmah bukan semata ilmu,

    tetapi juga ilmu yang sehat yang mudah dicernakan, berpadu dengan

    rasa, sehingga menjadi penggerak untuk melakukan sesuatu yang

    bermanfaat, yaitu sesuatu tindakan yang efektif.

    Musthafa Al-Maraghiy menjelaskan sebagai berikut,

    احلكمة العلم النافع الذي يكون له االثرىف النفس فيوجه االرادة اىل العمل مبا هتوى مما يوصل به اىل السعادة ىف الدنيا واالخرة

    Al-Hikmah adalah ilmu yang bermanfaat yang keadaannya

    membekas pada diri, lalu ia mengarahkan kehendaknya untuk beramal

    dengan apa yang sesuai dengan kecenderung (hati) yang dapat

    mengantarkan pada kebahagian dunia dan akhirat.

    2. Konsep Al-Hikmah dalam Al-Qur’an

    26

    Ipah Latipah, Implementasi Metode Al-Hikmah, Al-Mau‟idhah Al-

    Hasanah, Dan Al-Mujadalah

    Dalam Praktik Pendidikan Jurnal Ilmiah Mitra Swara Ganesha, ISSN 2356 –

    3443. Vol. 3 No.2 (Juli 2016)

  • 39

    Allah menerangkan bahwa akan memberikan Hikmah kepada

    siapa saja yang dikehendakinya,

    ِت ثَ يُؤ ًَ ِم َت ٱۡل ِۚ َوَيٌ يُؤ ثَ َيٌ يََشآُء ًَ ِم ْاْ ٱۡل ُ ْول

    ُٓ أ ُر إَِّلٍّ لٍّ ا َلثرِٗياۗ َوَيا يَذٍّ ٗ وِتَ َلري

    َُػَقد أ

    ه َبىبِ َ ٢٦٩ ٱۡل

    Allah menganugerahkan Al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang

    Al-Qur‟an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan

    barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah

    dianugerahi karunia yang banyak…(QS. Al-Baqarah: 269)27

    Al-Hikmah juga dapat mengandung arti pengetahuan tentang

    yang halal dan yang haram sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas

    dan Ibnu Mas‟ud ketika menafsirkan makna hikmah dalam surat ke-16

    ayat 125,28

    ِ ٱد عُ ثِإََِلى َشبِِٖن َرّبَِك ة ًَ ِم ْ ِظَيثِوَ ٱۡل ًَ ََثِ ٱل ََص ِ ٱۡل ى ة ُّ

    ِۚ إِنٍّ َربٍَّك ِت ٱهٍّ َوَجىِدل ٌُ َص ح َِِهَ أ

    ًٌَ َضنٍّ َظٌ َشبِٖوُِِ ِ وَُى ة ظ ََْ أ ِ ۦُِ وَُى ة ظ

    ََْ أ ُِ ٌَ َو َخِدي ّ ًُ ١٢٥ ٱل

    27

    Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya……, h. 45 28

    Juhaya S Praja, Tafsir Hikmah Seputar Ibadah…., hlm.36

  • 40

    Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan

    pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.29

    Hikmah dalam ayat diatas bermakna simbol kebenaran dan

    kebaikan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan dan tindakan.

    Ulama lain, seperti Al-Syafi‟i dan Al-Thabari sebagaimana dikutip oleh

    Juhaya S Praja, mengartikan hikmah sebagai sunnah Rasulullah30

    .

    Hikmah dalam pengertian ini antara lain dapat dijumpai dalam surat

    Al-Ahzab ayat 34

    نَ ٌ َءاَيىِج َوٱذ ُلر ٌٍّ ِي ُْٖحُِك َلى ِِف ُب ِ َيا ُيخ ثِِۚوَ ٱّللٍّ ًَ ِم َ إِنٍّ ٱۡل ٣٤ََكَن هَِطًٖفا َلترًِيا ٱّللٍّ

    Dan ingatlah apa yang dibacakan dirumahmu dari ayat-ayat

    Allah dan hikmah (sunah Rasulullah)31

    ٍَا ُُ َوَشَدد ُُ ۥُمو َم َنى ٖ ثَ َوَءاَت ًَ ِم َن ٱۡل َِطاِب َوَفص ٪١ ٱۡل

    Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya

    hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (Qs.

    Shaad: 20)32

    29

    Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya…, h. 281 30

    Juhaya S Praja, Tafsir Hikmah Seputar Ibadah, Muamalah, Jin, dan

    Manusia…., h.36-37 31

    Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya…, h. 422 32

    Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya…., h.454

  • 41

    Orang yang telah diberi Al Hikmah, sungguh ia telah diberi satu

    pemberian yang lebih utama dari seluruh ilmu pada kitab-kitab

    terdahulu, berupa shuhuf dan yang lainnya. Karena Allah berfirman;

    ٌِ وٍََُْك َٔ َويَس وِح َظ ِن ٱلرَّوحُ قُ ٌَ ٱلرَّ وحِيُخى ّيِ

    ُِر َرّّبِ َوَيآ أ م

    ٌَ أ ٨٥إَِّلٍّ قَوِٖٗٗل ه عِو ىِ ٱِي

    Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh.

    Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu

    diberi pengetahuan hanya sedikit”. ( Al-Isra: 85 )33

    Dan Al-Hikmah ini disebut sebagai kebaikan yang banyak,

    karena dia itu merupakan Jawai‟ul kalam (kata yang ringkas yang

    memiliki makna yang sangat dalam).

    اٌ كالو انحكًخ َٕٚك اال سًبع فكذ نك عًم انحًخ ٚزٔق انعٌٕٛ ٔانمهٕة

    ٔيعهى َفسّ ٔيؤدثٓب احك ثبالجالل ٔانزفضٛم يٍ يعهى انُبص ٔيؤدثٓى

    Sesungguhnya ucapan hikmah itu membuat nyaman

    pendengaran, demikian pula perbuatan hikmah membuat enak

    pandangan mata serta hati, mendidik jiwanya dengan adab-adabnya

    yang pantas dengan kemulyaan serta keutamaan dari pengajaran

    manusia serta adab-adabnya.

    33

    Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya…., h. 290

  • 42

    Dari beberapa uraian diatas dapat dirumuskan bahwa metode

    Al-hikmah adalah mengajak kepada jalan Allah (kebaikan) dengan cara

    keadilan dan kebijaksanaan dengan selalu mempertimbangkan berbagai

    faktor dalam proses belajar mengajar, baik faktor subjek, objek, sarana,

    media, dan lingkungan pengajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat

    tercapai dengan maksimal.

    3. Penerapan Metode Al-Hikmah dalam proses belajar mengajar

    Adapun penerapan metode pengajaran dengan cara hikmah

    sebagaimana terilustrasikan dalam riwayat berikut,

    عًز اٌ ايزاح ارذ انُجٙ صهٗ هللا عهّٛ ٔسهى فمب نذ اٌ عٍ عجذ هللا ثٍ

    رٔجٙ يسكٍٛ الٚمذر عهٗ شٛئ فمبل انُجٙ صم هللا عهّٛ ٔسهى نشٔجٓب ارمزا

    انمزاٌ شٛئب لبل الزا سٕرح كذا ٔسٕرح كذا فمبل رسٕل هللا صم هللا عهّٛ ٔسهى

    ُجٙ صم هللا عهّٛ ثخ ثخ سٔجك غُٙ فبنشيٛخ فهشيذ انًزاح سٔجٓب ثى ارذ ان

    ٔسهى فمب نذ ٚبَجٙ هللا لذ ثسظ هللا عهُٛب ٔرسلُب

    Dari Abdullah bin Amr r.a. ia berkata: Ada seorang wanita

    datang kepada Nabi saw., lalu berkata; “Sesungguhnya suamiku ini

    miskin tidak bisa apa-apa‟. Nabi saw. bertanya kepada suami itu;

    „Apakah engkau membaca Alquran?‟ Orang itu menjawab; „Saya

    membaca surat anu‟. Maka Nabi saw. bersabda (kepada wanita

  • 43

    tersebut). „Bagus! Ternyata suamimu ini orang kaya‟. Kemudian si

    wanita itu membiasakan suaminya demikian (membaca Alquran).

    Kemudian ia datang lagi kepada Rasulullah saw. dan berkata; „Ya Nabi

    Allah, sungguh Allah telah meluaskan rizki atas kami”.

    Keterangan di atas, menunjukkan kepada kita bagaimana Al-

    Hikmah mampu merubah pola fikir seseorang. Yang asalnya selalu

    dihantui oleh rasa kekurangan, walau sebesar apapun rizki yang Allah

    berikan, karena tidak ada rasa penerimaan dalam hatinya. Setelah

    mendapat Al-Hikmah, sekecil apapun rizki yang Allah berikan sikap

    menerima sebagai satu kecukupan.

    Metode Al hikmah dalam proses belajar mengajar, dapat

    diterapkan dalam praktik sebagai berikut:

    a. Melakukan pendekatan yang baik, bersahabat, ramah

    b. Tidak menghakimi pemikiran peserta didik, akan tetapi

    berusaha membuka cakrawala berpikirnya

    c. Mengajar dengan menggunakan perumpamaan yang

    baik dan tepat

    d. Memiliki pandangan positif terhadap peserta didik yang

    lambat bahwa mereka bukan bodoh tetapi belum

    mengetahui dan memahami ilmu nya.

  • 44

    e. Memberi motivasi yang berarti bagi peserta didik.34

    B. Evaluasi Muhasabah

    1. Definisi Muhasabah

    Secara etimologis muhasabah adalah bentuk mashdar (bentuk

    dasar) dari kata hasaba-yuhasibu yang kata dasarnya hasaba-yahsibu

    atau yahsubu yang berarti menghitung.35

    Sedangkan dalam kamus Arab

    Indonesia muhasabah ialah perhitungan, atau introspeksi.36

    Kata-kata

    Arab Muhasabah (ّيحب سج) berasal dari satu akar yang menyangkut

    konsep-konsep seperti menata perhitungan, mengundang (seseorang)

    untuk melakukan perhitungan, menggenapkan (dengan seseorang) dan

    menetapkan (seseorang untuk) bertanggung jawab.37

    Muhasabah ialah

    introspeksi, mawas, atau meneliti diri. Yakni menghitung-hitung

    perbuatan pada tiap tahun, tiap bulan, tiap hari, bahkan setiap saat. Oleh

    karena itu muhasabah tidak harus dilakukan pada akhir tahun atau akhir

    bulan. Namun perlu juga dilakukan setiap hari, bahkan setiap saat.38

    34

    Ipah Latipah, Implementasi Metode Al-Hikmah…, h. 31 35

    Asad M. Al kali, Kamus Indonesia-Arab, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989),

    h. 183. 36

    Ahmad Warson Munawir, Al- Munawir Kamus Arab-Indonesia,

    (Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawir, 1984), h. 283 37

    Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, (London: Allen dan

    Unwin, 1966). h. 175 38

    Amin Syukur, Tasawuf Bagi Orang Awam (Menjawab Problematika

    Kehidupan), (Yogyakarta: LPK-2, Suara Merdeka), 2006. h. 83

  • 45

    Konsep Muhasabah, dalam al-Qur‟an terdapat dalam Surat (Al-

    Hasyr: 18-19)

    ا َّ يََّأ ٌَ َيَٰٓ ِي ْاْ ٱَّلٍّ َُ ْ َءاَي ْا ُق َ ٱتٍّ َيج هَِؼد وَ ٱّللٍّ ا َقدٍّ ٞس يٍّ ََُير َنف ْ َوۡل ْا ُق ِۚ ٱتٍّ َ َ إِنٍّ ٱّللٍّ ُۢ ٱّللٍّ َلترُِي

    ا َتع ًَ ِ وَُْن ة لَ َوََّل ١٨ًَْ ْا ٌَ حَُكٍُْ ِي َ نَُصْاْ ٱَّلٍّ ُى ٱّللٍّ ُِ ئَِك ْوَلَٰٓ

    ُِۚ أ ى ُّ ٍُفَص

    َى أ ُّ ى نَصى

    َفَأ

    ١٩ ٱه َفىِصُقْنَ

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan

    hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya

    untuk esok (hari akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya

    Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah

    kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah

    menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah

    orang-orang yang fasik. (QS. AlHasyr: 18-19).39

    Ini adalah isyarat dari al-muhâsabah kepada segala amal

    perbuatan yang telah berlalu. Karena itulah Umar r.a. berkata:

    ”adakanlah almuhâsabah kepada dirimu sendiri, sebelum kamu

    diadakan orang akan almuhâsabah dan timbangkanlah akan dirimu itu

    39

    Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya Ibid, h. 548

  • 46

    sebelum kamu ditimbangkan orang lain”. Muhasabah juga disebutkan

    dalam banyak hadist, salah satu sabda Rasulullah yaitu :

    ٔٚزٖٔ عٍ عًز ثٍ انخطت لبل حبسجٕا اَفسكى لجم اٌ رحب سجٕا ٔرشُٕٚا

    عهٙ يٍ حبست َفسّ فٗ انذَٛب نهعزض اال كجز ٔاًَب ٚخف انحسبة ٕٚو انمٛب يخ

    )رٔاِ انزز يذ٘(

    Artinya: “Diriwayatkan dari Umar bin Khattab, Nabi bersabda:

    Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan hiasilah dirimu sekalian

    (dengan amal shaleh), karena adanya sesuatu yang lebih luas dan besar,

    dan sesuatu yang meringankan hisab di hari kiamat yaitu orang-orang

    yang bermuhasabah atas dirinya ketika didunia. (H.R. Tirmidzi).”40

    Menurut Imam Al-Ghozali yang dikutip dalam buku yang

    berjudul “Rekonsiliasi Psikologi Sufistik dan Humanistik” karya

    Abdullah Hadziq, muhasabah merupakan upaya i‟tisham dan

    istiqomah. I‟tisham merupakan pemeliharaan diri dengan berpegang

    teguh pada aturan-aturan syariat. Sedangkan istiqomah adalah

    keteguhan diri dalam menangkal berbagai kecenderungan negatif.41

    Menurut Toto Tasmoro, muhâsabah adalah melakukan perhitungan

    hubungan antara orang-orang di dunia dan akhirat atau di

    40

    Imam Al-Ghozali, Ringkasan Ihya‟ Ulumuddin, (Jakarta Timur : Akbar

    Cet I, 2008), h. 426 41

    Abdullah Hadziq, Rekonsiliasi Psikologi Sufistik dan Humanistik,

    (Semarang: Rasail, 2005), h. 31

  • 47

    lingkungannya dan tindakan mereka sebagai manusia. karena manusia

    selalu berinteraksi dengan lingkungan di kehidupannya. Isa Waley

    mengartikan istilah Muhasabah itu sebagai pemeriksaan (atau ujian)

    terhadap diri sendiri dan mengemukakan kaitannya yang sangat penting

    dengan Haris

    bin Asad al-Muhasibi (781-857 M) dari Bagdad. Dia juga

    mengingatkan seseorang tentang ucapan sufi yang sering dikutip, yang

    sudah diterapkan kepada khalifah ke empat yaitu Ali bin Abi Thalib,

    yang menyatakan bahwa orang harus memanggil dirinya untuk

    memperhitungkan sebelum Allah mengundang orang untuk

    memperhitungkan.42

    Al-Muhasibi percaya bahwa motivasi-motivasi

    manusia untuk melakukan pemeriksaan terhadap diri sendiri merupakan

    harapan-harapan dan kecemasan dan pemeriksaan semacam itu

    merupakan landasan perilaku yang baik dan ketakwaan (taqwa).43

    Menurut Nurbaksh yang dikutip dari buku yang berjudul

    “Dunia Spiritual Kaum Sufi” karya Netton dan Ian Richard, pengertian

    Muhasabah pada awalnya adalah suatu pertimbangan terhadap

    perhitungan antara tindakan-tindakan negatif dan positif. Pada

    42

    Sudirman Tebba, Meditasi Sufistik, (Jakarta: Pustaka Hidayah Cet. I,

    2004), h. 27 43

    Ian Richard, Dunia Spiritual Kaum Sufi, (harmonisasi antara dunia Mikro

    dan Makro), (Jakarta: PT. Raja Grafind