Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis

download Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis

of 27

  • date post

    11-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    485
  • download

    98

Embed Size (px)

description

Resume Ilmu Bahasa Indonesia SintaksisProf. Drs. M. Ramlan

Transcript of Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis

RESUME ILMU BAHASA INDONESIA

SINTAKSISPROF.DRS.M.RAMLAN

Tugas ini disusun untuk tugas mata kuliah sintaksis

OLEH : Ratih Nurhayati K1210041 III B

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan kaidah kombinasi kata menjadi satuan gramatik yang lebih besar yang berupa frase, klausa, dan kalimat, serta penempatan morfem-morfem supra sekmental (intonasi) sesuai dengan struktur sematik yang diinginkan oleh pembicara sebagai dasarnya. Pembahasan sintaksis mencakup frase, klausa, kalimat, dan morfem-morfem suprasegmental (intonasi). Tetapi, dalam sintaksis, pembicaraan mengenai jenis kata mutlak diperlukan, karena (1) struktur frase dan kalimat hanya dapat dijelaskan melalui penggolongan (penjenisan) kata (Ramlan, 1976:27), dan (2) Studi tentang kalimat suatu bahasa yang merupakan rangkaian yang berstruktur dari kata-kata, tidak akan banyak artinya tanpa mempelajari yang unsur-unsur itu sendiri (Samsuri, 1985:74). Memang, kelas (jenis) kata tau kategori kata adalah bagian dari sintaksis (Kridalaksana, 1986:31). Dengan demikian, aspek-aspek ketatabahasaan yang tercakup dalam sintaksis adalah jenis kata, frase, klausa, kalimat, dan morfem-morfem. Oleh karena itu penulis tertarik untuk membuat resume buku sintaksis ini.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas dapat dirumusakan beberapa masalah yaitu, sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan frasa, klausa, dan kalimat? 2. Sebutkan macam frasa, klausa, dan kalimat!

C. Tujuan Penulisan Tujuan dari pembuatan resume ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengampu dalam mata kuliah sintaksis dan untuk membantu pembaca untuk lebih memahami materi sintaksis.

RESUME SINTAKIS1. SINTAKSIS Istilah sintaksis secara langsusng terambil dari bahasa Belanda syntaxis. Dalam bahasa Inggris digunakan istialah syntax. Sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, atau frase.Dalam wacana terdiri dari unsur-unsur yang berupa kalimat, satuan kalimat terdiri unsur-unsur berupa klausa, satuan klausa terdiri dari-unsur-unsur berupa frase, sedangkan satuan frase terdiri dari unusr-unsur berupa kata. 2. KALIMAT 2.1 Penentuan Kalimat Kalimat ada yang terdiri dari satu kata, misalnya kemarin. Ada yang terdiri dari dua kata, misalnya itu toko. Sesungguhnya yang menentukan suatu kalimat bukan banyaknya kata yang menjadi unsurnya melainkan intonasinya. Jadi kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda yang disertai nada akhir turun atau naik. 2.2 Kalimat Berklausa dan Kalimat Tak Berklausa Kalimat yang berklausa adalah kalimat yang terdiri dari satuan yang berupa klausa. Klausa merupakan satuan gramatik yang terdiri dari subjek dan predikat disertai objek, pelengkap, dan keterangan atau tidak. Misalnya, Perasaan ini timbul dengan tiba-tiba tatkala kereta api mulai memasuki daerah perbatasan. Klausa pertama, Perasaan ini timbul dengan tiba-tiba; klausa kedua, kereta api mulai memasuki daerah perbatasan. Kalimat tak berklausa adalah kalimat yang tidak terdiri dari klausa. Misalnya Astaga! 2.3 Kalimat Berita, Kalimat Tanya, dan Kalimat Suruh Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah. 2.3.1 Kalimat Berita

Kalimat berita berfungsi memberitahukan sesuatu kepada orang lain. Pola intonasi di akhir kalimat turun. Dalam kalimat berita tidk terdapat kata-kata tanya ajakan, persilahan ataupun larangan. Misalnya Jalan itu sangat gelap. 2.3.2 Kalimat Tanya Kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan sesuatu. Pola intonasi di akhir kalimat naik dan digambarkan dengan tanda tanya. Misalnya apa kau sudah makan? 2.3.2.1 Apa Kata tanya apa digunakan untu menyatakan benda, hewan, dan tumbuhan. Misal, Petani itu membawa apa? 2.3.2.2 Siapa Kata tanya siapa digunakan untuk menyatakan Tuhan, malaikat, dan manusia. Misal, Nama anak itu siapa? 2.3.2.3 Mengapa Kata tanya mengapa digunakan untuk menyatakan perbuatan dan sebab. Misal, Mengapa kepala kantor itu marah? 2.3.2.4 Kenapa Kata tanya kenapa digunakan untuk menyatakan sebab seperti kata tanya mengapa. Misal, Kenapa Ahmad tidak pergi ke sekolah? 2.3.2.5 Bagaimana Kata tanya bagaimana digunakan untuk menyatakan keadaan. Misal, Bagaimana nasib anak itu? 2.3.2.6 Mana Kata tanya mana digunakan untuk menyatakan tempat. Misal, Nenek itu pergi kemana?

2.3.2.7 Bilamana, Bila, dan Kapan Ketiga kata tanya itu digunakan untuk menyatakan waktu. Misal, Kapan ayah pulang? 2.3.3 Kalimat Suruh Kalimat suruh berfungsi dalam hubungan situasi, kaliamt suruh mengharapkan tanggapan yang berupa tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak berbicara. Berdasarkan strukturnya kalimat suruh dapat digolongkan menjadi empat golongan yaitu : 2.3.3.1Kalimat suruh yang sebenarnya, contoh : Duduk ! Beristirahatlah ! 2.3.3.2 Kalimat Persilahan Selain ditandai oleh pola intonasi suruh. Kalimat persilahan ditandai juga dengan penambahan kata silahkan yang diletakkan diawal kalimat. Unsur S pada kalimat boleh dibuang atau tidak, contoh kalimat persilahan sebagai berikut : Silahkan Bapak duduk disini ! 2.3.3..3 Kalimat Ajakan Sama halnya dengan kalimat persilahan dan kalimat suruh, kalimat ajakan ini berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi juga mengharapkan suatu tanggapan yang berupa tindakan oleh orang yang diajak berbicara atau penuturnya. Di samping ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat ini ditandai oleh kata-kata ajakan yaitu mari dan ayo yang diletakkan di awal kalimat. Partikel lah juga dapat ditambahkan pada kata tersebut, contoh kalimat ajakan: Marilah belajar bersama-sama. 2.3.3.4 Kalimat Larangan

Disamping ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat larangan juga ditandai oleh kata jangan di awal kalimat. Partikel lah dapat ditambahkan pada kata tersebut untuk memperluas larangan. Unsur S pada kalimat dapat dihilangkan atau tidak dihilangkan, contoh kalimat larangan yaitu : Jangan buang air di situ ! 2.4 Kalimat Sederhana dan Kalimat Luas Kalimat sedehana hanya terdiri dari satu klausa. Misal, Pengusaha itu berusia 61 tahun. Sedangkan kalimat luas terdiri dari dua klausa. Misal, Ia mengakui bahwa ia jatuh cinta padaku. 2.4.1 Hubungan Gramatik antara Klausa yang Satu dengan Klausa yang Lain dalam Kalimat Luas Ia mengakui bahwa ia jatuh cinta padaku. Kalimat tersebut terdiri dari dua klausa, yaitu Ia mengakui dan ia jatuh cinta padaku. Klausa kedua sebenarnya merupakan bagian dari klausa ke 1 yaitu merupakan objek klausa. 2.4.1.1 Kalimat Luas yang Setara Dalam kalimat luas yang setara, klausa yang satu tidak merupakan bagian dari yang lainnya. Masing-masing berdiri sendiri sebagai klausa setara, yaitu sebagai klausa inti semua. Penghubung yang setara antara lain: dan, danlagi, pula,serta lalu, kemudian, atau, tetapi, tapi, akan tetapi, sedang, sedangkan, namun, melainkan, sebaliknya, malah, dan malahan. Misal, Badannya kurus dan mukanya sangat pucat. 2.4.1.2 Kalimat Luas yang Tidak Setara Dalam klausa luas tidak setara, klausa yang satu merupakan gabungan dari klausa yang lainnya yang terdirir dari klausa inti danklausa bawahan.Misal, Aku mulai mengerti bahwa Saputro benar-benar menaruh perhatian padaku. Kalimat tersebut terdiri dari dua klausa yaitu Aku mulai mengerti sebagai klausa inti dan Saputro benar-benar menaruh perhatian padaku sebagai klausa bawahan.

2.4.2 Hubungan Makna antara Klausa yang Satu dengan Klausa yang Lainnya dalam Kalimat Luas Dari penelitian yang dilakukan diperoleh 17 hubungan makna yang sudah tentu masih mungkin bertambah lagi. Ketujuhbelas hubungan makna itu antara lain, 1. Penjumlahan 2. Perurutan 3. Pemilihan 4. Perlawanan 5. Lebih 6. Waktu 7. Perbandingan 8. Sebab 9. Akibat 2.4.2.1 Hubungan Makna Penjumlahan Hubungan makna penjumlahan yaitu hubungan makna yang bersifat 10. Syarat 11. Pengandaian 12. Harapan 13. Penerang 14. Isi 15. Cara 16. Perkecualian 17. Kegunaan

menjumlahkan, menambahkan, atau menggabungkan.Kata penghubung yang sering digunakan dalam hubungan makana ini yaitu dan. Misalnya, Ia membuka tali rambutnya dan mulai bersisir. 2.4.2.2 Hubungan Makna Perurutan Hubungan makna perurutan adalah hubungan makna yang menyatakan bahwa peristiwa, keadaan, atau perbuatan yang dinyatakan dalam klausa itu berturut-turut terjadi atau dilakukan. Biasanya menggunakan penghubung lalu, kemudian, dan lantas. Misal, Ia menyalami mereka, lalu keluar. 2.4.2.3 Hubungan Makna Pemilihan Hubungan makan pemilihan yaitu hubungan yang menyatakan bahwa hanya salah satu dari yang disebut pada klausa-klausa yang menyatakan kenyataan. Misal, Engkau bernyanyi atau bermain piano. 2.4.2.4 Hubungan Makna Perlawanan

Hubungan makna perlawanan adalah hubungan makna yang menyatakan bahwa apa yang diakatakan dalam klausa yang satu berlawanan dengan apa yang dikatakan dengan klausa yang lain. Secara jelas hubungan dengan kata-kata ini dinyatakan dengan kata-kata penghubung tetapi, tapi, akan tetapi, namun, hanya, melainkan, sedang, sedangkan, padahal, dan sebaliknya. Misal, Mahasiswa itu pandai tetapi malas. 2.4.2.5 Hubungan Makna Lebih Hubungan makna ini secara jelas dinyatakan dengan kata bahkan. Misal, Ia pandai bahkan terpandai dalam kelasnya. 2.4.2.6 Hubungan Makna Waktu Hubungan makna waktu ialah hubungan makna yang menyatakan waktu. Kata penghubung yang biasanya digunakan untuk menyatakan hubungan makna ini adalah: ketika, tatkala, tengah, sedang, waktu, sewaktu, selagi, semasa, sementara, sertaa, demi, begitu, selama, dalam, setiap, setiap kali, tiap kali, sebelum, setelah, sesudah, sehabis, sejak, sedari, semenjak, hingga, sehingga, sempat. Misal, Sedang ia minum-minum, datang seorang pemuda berpakaian bagus. 2.4.2.7 Hubungan Makna Perbandingan Hubungan makna perbandingan menyatakan su