Ca Colorektal

33
BAB I PENDAHULUAN Karsinoma kolorektal adalah salah satu jenis keganasan yang cukup sering dijumpai. Karsinoma ini merupakan penyebab kematian yang paling sering setelah karsinoma paru pada laki laki dan karsinoma serviks serta karsinoma mammae pada wanita. 1 Di Indonesia sendiri angka kejadian keganasan ini cenderung meningkat akhir-akhir ini. Karsinoma ini dapat tumbuh di tiap bagian kolon dan mungkin juga tumbuh bersamaan di beberapa tempat. Prevalensi terjadinya karsinoma kolorektal di rektum sebesar 22%, sigmoid 25%, rektosigmoid 10%, kolon desenden 6%, kolon transversum 13%, kolon asenden 8%, dan sekum 15%. 2 Dari angka tersebut prevalensi terbesar karsinoma kolon terletak di sekum. Resiko untuk terjadinya karsinoma kolorektal umumnya meningkat setelah berusia 40 tahun. Karsinoma kolon, terutama di kolon bagian proksimal lebih banyak ditemukan pada wanita. Sedangkan karsinoma rektum lebih banyak ditemukan pada pria dengan perbandingan 2:1. 3 Diagnosis dini pada pasien karsinoma kolon sulit ditegakkan karena pada stadium dini, karsinoma kolon tidak memberikan gejala yang nyata. Gejala biasanya muncul saat perjalanan penyakit sudah lanjut, sehingga biasanya pasien datang dalam kondisi yang jelek seperti sudah terjadi perforasi, perdarahan, ataupun obstruksi. Untuk itu penting 1

Transcript of Ca Colorektal

Page 1: Ca Colorektal

BAB I

PENDAHULUAN

Karsinoma kolorektal adalah salah satu jenis keganasan yang cukup sering

dijumpai. Karsinoma ini merupakan penyebab kematian yang paling sering setelah

karsinoma paru pada laki laki dan karsinoma serviks serta karsinoma mammae pada

wanita.1 Di Indonesia sendiri angka kejadian keganasan ini cenderung meningkat akhir-

akhir ini.

Karsinoma ini dapat tumbuh di tiap bagian kolon dan mungkin juga tumbuh

bersamaan di beberapa tempat. Prevalensi terjadinya karsinoma kolorektal di rektum

sebesar 22%, sigmoid 25%, rektosigmoid 10%, kolon desenden 6%, kolon transversum

13%, kolon asenden 8%, dan sekum 15%.2 Dari angka tersebut prevalensi terbesar

karsinoma kolon terletak di sekum. Resiko untuk terjadinya karsinoma kolorektal

umumnya meningkat setelah berusia 40 tahun. Karsinoma kolon, terutama di kolon

bagian proksimal lebih banyak ditemukan pada wanita. Sedangkan karsinoma rektum

lebih banyak ditemukan pada pria dengan perbandingan 2:1.3

Diagnosis dini pada pasien karsinoma kolon sulit ditegakkan karena pada

stadium dini, karsinoma kolon tidak memberikan gejala yang nyata. Gejala biasanya

muncul saat perjalanan penyakit sudah lanjut, sehingga biasanya pasien datang dalam

kondisi yang jelek seperti sudah terjadi perforasi, perdarahan, ataupun obstruksi. Untuk

itu penting mengetahui karsinoma mendiagnosis karsinoma kolorektal baik secara klinis

maupun dengan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologis.

1

Page 2: Ca Colorektal

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI KOLON4,5,6

Kolon terdiri atas beberapa bagian yaitu sekum, kolon asenden, kolon transversum,

kolon desenden, dan kolon sigmoid.

Kolon asenden melintasi krista iliaka naik sampai permukaan bawah hati, kolon

asenden membuat lengkung tegak lurus yakni fleksura koli dekstra (fleksura hepatika),

dan kemudian menjadi kolon transversum.

Kolon transversum dilekatkan pada kurvatura mayor lambung oleh ligamentum

gastroiliakum, dilekatkan pada pankreas oleh mesokolon transversum. Yang melintas

diatas kolon transversum adalah hati, vesika felea, dan lambung. Kolon transversum

melintas dan melekat pada bagian depan ginjal kanan, bagian kedua duodenum, dan

kaput pankreas. Sisanya tergantung kearah bawah dan naik kembali di depan kolon

desenden yang membuat lengkung tajam pada fleksura koli sinistra ( fleksura lienalis).

Fleksura koli sinistra dilekatkan pada diafragma dibawah limpa oleh ligamentum

frenikokolikum.

Kolon desenden yang melintas turun menyilang krista iliaka dan melintasi fossa

iliaka sampai tepi atas pintu panggul kemudian menjadi kolon sigmoid. Kolon sigmoid

mempunyai mesenterium yaitu mesokolon sigmoideum. Kolon sigmoid melanjut ke

dalam panggul untuk mencapai garis tengah di depan sakrum, di mana kolon berubah

menjadi rektum.4

Kolon asenden dan kolon desenden serta fleksura lienalis dan fleksura hepatika

tidak memiliki mesenterika dan bergerak bebas karena terletak retroperitoneal. Kolon

transversum dan kolon sigmoid memiliki mesenterikum yang komplit dan bergerak

bebas. Sedangkan sekum tidak memiliki mesenterium sebenarnya tetapi bergerak bebas

sebab memiliki lipatan peritoneum yang kadang ada kadang tidak.5

Kolon memiliki otot-otot sirkuler dan otot-otot longitudinal. Lapisan otot

longitudinal kolon membentuk pita yang disebut taenia, yang lebih pendek dari kolon itu

sendiri sehingga kolon berlipat- lipat berbentuk sakulus yang disebut haustra.4

2

Page 3: Ca Colorektal

Aliran limfe kolon mengikuti pembuluh mesenterika inferior untuk kolon sebelah

kiri dan mesenterika superior untuk kolon sisi kanan.5

Aliran darah untuk usus besar dari arteri mesenterika superior dan mesenterika

inferior. Vena pada kolon berjalan bersama arterinya, aliran vena disalurkan melalui vena

mesenterika superior yang bermuara vena porta dan vena mesenterika inferior menuju

vena lienalis.4

Fungsi kolon adalah absorbsi air, vitamin, dan elektrolit dari chime, penimbunan

bahan feses sampai dikeluarkan, melanjutkan pencernaan dan mensekresi lendir. Dari

700- 1000 ml cairan usus halus yang diterima oleh kolon, 150- 200 ml sehari dikeluarkan

sebagai feses.6

B. ETIOLOGI, KALSIFIKASI, DAN GEJALA KLINIS KARSINOMA

KOLOREKTAL 1,2,3,7

Etiologi

Dasar penting dari keganasan kolorektal ini adalah proses perubahan secara

genetik pada sel-sel epitel di mukosa kolon yang timbul akibat beberapa hal. Adapun

beberapa hal yang menjadi predesposisinya antara lain: 2

1. Dietik

Pola konsumsi makanan diduga berkaitan erat dengan munculnya keganasan ini.

Konsumsi makanan yang tinggi kandungan seratnya, seperti sayuran dan buah-

buahan akan menurunkan waktu transit bolus di sepanjang perjalanannya di usus,

sehingga kontak dengan zat karsinogenik pada mukosa lebih singkat. Sebaliknya,

makanan dengan kadar lemak dan protein hewani yang tinggi berperan memacu

perubahan sel-sel mukosa kolon. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kejadian

karsinoma ini di negara-negara barat dibandingkan di Indonesia. Alkohol dan rokok

juga diduga memacu timbulnya keganasan ini.

2. Adanya kelainan di kolon sebelumnya

Adanya kelainan dikolon seperti adenoma (terutama yang berbentuk villi), polip,

dan kolitis ulseratif dapat menjadi resiko berkembangnya karsinoma kolon di

kemudian hari.

3. Herediter

3

Page 4: Ca Colorektal

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang mempunyai orang tua yang

menderita karsinoma kolorektal mempunyai frekuensi 1,3x lebih banyak menderita

karsinoma kolorektal dibanding mereka yang orang tuanya sehat.

Klasifikasi

Secara makroskopik Karsinoma kolon dibedakan atas 4 tipe yaitu2 :

1. Nodular

Keganasan ini berupa suatu massa yang keras dan menonjol ke lumen kolon,

dengan permukaan yang bernodul-nodul. Biasanya tak bertangkai dan meluas ke

dinding kolon. Sering juga terjadi ulserasi, dimana dasar ulkus menjadi nekrotik, tepi

ulkus naik, dan mengalami indurasi. Di daerah sekum bentuk tumor mungkin tumbuh

menjadi suatu massa yang besar, tumbuh menjadi fungoid dengan permukaan ulkus

mengeluarkan pus dan darah.

2. Koloid/ mukoid

Bentuk ini tumbuhnya mengalami degenarasi mukoid sehingga menghasilkan

banyak mukus.

3. Scirrhous/ infiltratif

Bentuk ini mempunyai reaksi fibrous yang sangat banyak, sehingga terjadi

pertumbuhan yang keras dan melingkari dinding kolon sehingga terjadi konstriksi

kolon dan membentuk napkin ring.

4. Papillari /polipoid/ cauli flower

Tipe ini merupakan pertumbuhan yang sering berasal dari papiloma simpel atau

adenoma.

Dikenal pula klasifikasi dari DUKES yang dimodifikasi, yang akhir-akhir ini

sering dipakai, yaitu1:

A1 : tumor tidak melebihi tunika muskularis kolon

A2 : tumor tidak melebihi submukosa kolon

B1 : Pertumbuhan tumor ke dalam dinding otot, tetapi tidak sampai menembus

dinding otot

B2 : Tumor menembus semua lapisan otot, sampai ke jaringan sekitar

C1 : Metastasis kelenjar limfe sekitar tumor, tumor primer tidak menembus dinding

usus

4

Page 5: Ca Colorektal

C2 : Metastasis ke kelenjar limfe , tumor primer menembus dinding usus

D : tumor telah mengalami metastasis ke organ lain

Secara mikroskopis, bentuk adenokarsinoma merupakan jenis terbanyak yang

berasal dari epitel kolon. Bentuk yang berdiferensiasi sempurna mempunyai struktur

terdiri dari kelenjar, di mana terdapat pembengkakan sel-sel skuamosa dengan inti yang

hipokromasi. Sel-sel tumor ini mengalami mitosis yang cepat. Bentuk yang kurang

berdiferensiasi , sel-sel tumor terlihat dalam suatu massa.2

Berdasarkan diferensiasi sel, dibuat klasifikasi dalam 4 tingkat2:

Grade I : Sel-sel anaplastik < 25%

Grade II : Sel-sel anaplastik 25-50%

Grade III : Sel-sel anaplastik 50-75%

Grade IV : Sel-sel anaplastik > 75%

Gambaran klinis.

Pasien dengan karsinoma kolorektal umumnya memberikan keluhan berupa

gangguan proses defekasi (Change of bowel habit), berupa konstipasi atau diare,

perdarahan segar lewat anus (rectal bleeding), perasaan tidak puas setelah buang air besar

( tenesmus), buang air besar berlendir( mucoid diarrhea), anemia tanpa sebab yang jelas,

dan penurunan berat badan.2,3 Adanya suatu massa yang dapat teraba dalam perut juga

dapat menjadi keluhan yang dikemukakan.3

Manifestasi klinik karsinoma kolon tergantung dari bentuk makroskopis dan letak

tumor. Bentuk polipoid (cauli flower) dan koloid (mukoid) menghasilkan banyak mukus,

bentuk anuler menimbulkan obstruksi dan kolik, sedangkan bentuk infiltratif (schirrhus)

tumbuh longitudinal sesuai sumbu panjang dinding rektal dan bentuk ulseratif

menyebabkan ulkus ke dalam dinding lumen.

Karsinoma yang terletak di kolon asenden menimbulkan gejala perdarahan samar

sedangkan tumor yang terletak di rektum memanifestasikan perdarahan yang masih segar

dan muncul gejala diare palsu. Di kolon desenden, karsinoma ini menyebabkan kolik

yang nyata karena lumennya lebih kecil dan feses sudah berbentuk solid.5

C. DIAGNOSIS KARSINOMA KOLON 2,5,7

5

Page 6: Ca Colorektal

Diagnosis karsinoma kolon ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratoris, radiologis, kolonoskopi, dan

histopatologis.

1. Anamnesis

Pada stadium dini, karsinoma kolon tidak memberikan gejala. Gejala biasanya

muncul saat perjalanan penyakit sudah lanjut. Pasien dengan karsinoma kolon

biasanya mengeluh rasa tidak enak, kembung, tidak bisa flatus, sampai rasa nyeri di

perut. Didapatkan juga perubahan kebiasaan buang air besar berupa diare atau

sebaliknya, obstipasi, kadang disertai darah dan lendir.2,7 Buang air besar yang disertai

dengan darah dan lendir biasanya dikeluhkan oleh pasien dengan karsinoma kolon

bagian proksimal. Hal ini disebabkan karena darah yang dikeluarkan oleh kanker

tersebut sudah bercampur dengan feses. Gejala umum lain yang dikeluhkan oleh

pasien berupa kelemahan, kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan.2

2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik mungkin tidak banyak menolong dalam menegakkan diagnosis.

Tumor kecil pada tahap dini tidak teraba pada palpasi abdomen, bila teraba

menunjukkan keadaan yang sudah lanjut. Bila tumor sudah metastasis ke hepar akan

teraba hepar yang noduler dengan bagian yang keras dan yang kenyal.2 Asites biasa

didapatkan jika tumor sudah metastasis ke peritoneal. Perabaan limfonodi inguinal ,

iliaka, dan supraklavikular penting untuk mengetahui ada atau tidaknya metastasis ke

limfonodi tersebut.5 Pada pasien yang diduga menderita karsinoma kolorektal harus

dilakukan rectal toucher. Bila letak tumor ada di rektum atau rektosigmoid, akan

teraba massa maligna (keras dan berbenjol-benjol dengan striktura) di rektum atau

rektosigmoid teraba keras dan kenyal. Biasanya pada sarung tangan akan terdapat

lendir dan darah.2

3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium tidak dapat menentukan diagnosis. Walau demikian,

setiap pasien yang mengalami perdarahan perlu diperiksa kadar hemoglobin.2,7

Pemeriksaan radiologis yang dapat dikerjakan berupa foto polos abdomen, colon in

loop dengan single contrast maupun double contrast dan foto thoraks.7

6

Page 7: Ca Colorektal

Foto polos abdomen sedapat mungkin dibuat pada posisi tegak dengan sinar

horizontal. Posisi supine perlu untuk melihat distribusi gas, sedangkan di sikap tegak

untuk melihat batas udara-air dan letak obstruksi karena massa.7 Colon in loop

menggunakan barium enema sebagai kontras positif. Dengan pemeriksaan ini dapat

dilihat adanya deformitas kolon yang diakibatkan neoplasma atau abnormalitas lainnya

akan ditunjukkan dengan terisinya defek tersebut yang diperlihatkan oleh kolom

barium yang radioopak.2,7 Tentang colon in loop selanjutnya akan dibahas dalam bab

tersendiri.

Pemeriksaan foto thoraks berguna selain untuk melihat ada/tidaknya metastasis ke

paru juga bisa untuk persiapan tindakan pembedahan.2

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah kolonoskopi. Pada kolonoskopi

dipakai fiberskop lentur untuk melihat dinding kolon dari dalam lumen sampai ileum

terminalis. Dengan alat ini dapat terlihat seluruh kolon termasuk yang tidak terlihat

pada foto kolon. Fiberskop juga dapat dipakai untuk biopsi setiap jaringan yang

mencurigakan, evaluasi dan tindakan terapi misalnya polipektomi.7 Pada akhirnya

diagnosis pasti karsinoma kolon adalah dengan pemeriksaan histopatologis.2

D. PEMERIKSAAN RADIOLOGIS COLON IN LOOP 8,9,10,11

Ada beberapa pemeriksaan radiologis untuk melihat adanya kelainan di daerah

kolon dan rektum. Salah satunya adalah tehnik pemeriksaan colon in loop. Pemeriksaan

ini menggunakan kontras, dimana kontras yang sering dipakai adalah barium sulfat

sebagai enema, yaitu suntikan suspensi barium ke dalam rektum.8 Bagian- bagian yang

dapat dievaluasi diantaranya adalah: sekum, kolon asenden, kolon transversum, kolon

desenden, kolon sigmoid, dan rektum.9

Barium yang digunakan memiliki konsentrasi yang berkisar antara 70-80 W/V %

( weight/volume). Banyaknya (ml) larutan ini sangat bergantung pada panjang pendeknya

kolon. Umumnya 600-800 ml.10

Ada 2 metode pemeriksaan colon in loop9,10:

1. Double contrast

7

Page 8: Ca Colorektal

Tehnik ini untuk menilai pola mukosa kolon. Dimana dapat diperoleh hasil yang lebih

jelas, mendetail, teliti mengenai kelainan patologis yang memberikan gambaran

perubahan bentuk permukaan mukosa kolon.

2. Single contrast

Tehnik ini dipakai untuk menentukan lokasi lesi dan adanya massa di kolon.

Indikasi pemeriksaan colon in loop9:

- Perubahan pola defekasi (changes in bowel habits)

- Nyeri pada abdomen

- Massa pada abdomen

- Obstruksi

- Melena/ anemia

Kontra indikasi colon in loop9:

a. Absolut

- Toksik megakolon

- Kolitis pseudomembran

- Biopsi rektal

* Minimal 5 hari sebelum pemeriksaan, menggunakan rigid endoscopy

* Minimal 24 jam sebelum pemeriksaan, menggunakan flexible

endoscopy

b. Relatif

- persiapan yang kurang baik

- konsumsi barium meal dalam kurun waktu 7- 10 hari terakhir.

- pasien alergi dengan medium kontras

Persiapan pasien sebelum pemeriksaan 9,10:

a. Makanan konsistensi lunak, rendah serat, rendah lemak minimal 24 jam

sebelum pemeriksaan. Tujuannya untuk menghindari bongkahan-bongkahan tinja

yang keras.

b. Minum yang banyak. Tujuannya untuk menjaga tinja agar tetap lembek.

Minuman yang dianjurkan berupa juice, teh, kopi, cola, dan kaldu. Susu sebaiknya

dihindari.

8

Page 9: Ca Colorektal

c. Pemberian pencahar. Tujuannya untuk meningkatkan peristaltik dan

melembekkan tinja.

Tehnik pemeriksaan colon in loop10:

a. Tahap pengisian

Pengisian larutan barium ke lumen kolon. Pengisian di anggap cukup bila sudah

mencapai fleksura lienalis atau pertengahan kolon transversum. Bagian kolon yang

belum terisi dapat terisi dengan mengubah posisi penderita dari terlentang menjadi

miring ke kanan.

b. Tahap pelapisan

Ditunggu 1-2 menit sehingga larutan barium dapat melapisi (coating) mukosa kolon.

c. Tahap pengosongan

Setelah mukosa terlapisi, sisa larutan barium dalam kolon perlu dibuang sebanyak

yang dapat dikeluarkan. Caranya adalah dengan memiringkan penderita ke kiri dan

menegakkan meja pemeriksaan.

d. Tahap pengembangan

Dilakukan pemompaan udara ke dalam lumen kolon. Usahakan jangan sampai

distensi berlebih.

e. Tahap pemotretan

Setelah seluruh kolon mengembang,dilakukan pemotretan / exposure radiografik.

Posisi pasien tergantung bentuk kolon dan atau kelainan yang ditemukan. Umumnya

dilakukan pemotretan dengan metode lapangan terbatas (spot view) terhadap bagian-

bagian tertentu dari kolon, dan lapangan menyeluruh (overall view) dari kolon.

E. DIAGNOSIS RADIOLOGIS KARSINOMA KOLON 2,10

Pada kasus karsinoma kolon pemeriksaan radiografi abdomen yang sering

digunakan adalah Foto polos abdomen yang dilanjutkan dengan pemeriksaan colon in

loop.

Pada foto polos abdomen kadang kelainan sukar ditemukan, seringnya berupa

dilatasi usus yang terletak lebih proksimal dari tempat tumor akibat adanya massa di

bagian distalnya. Oleh karenanya, lebih sering dilanjutkan dengan pemeriksaan colon in

loop. Foto dapat terlihat sebagai suatu filling defect.2

Karsinoma kolon secara radiologik memberikan penampilan sebagai berikut10:

9

Page 10: Ca Colorektal

a. Penonjolan ke dalam lumen (Protruded lesion)

Bentuk klasik ini adalah polip. Polip dapat bertangkai (pedunculated) atau tak

bertangkai (sessile) dinding kolon seringkali masih baik.

b. Kerancuan dinding kolon (colonic wall deformity)

Dapat bersifat simetris (napkin ring) atau asimetris (apple core). Lumen kolon sempit

dan ireguler. Kerapkali hal ini sukar dibedakan dengan kolitis Crohn.

c. Kekakuan dinding kolon (Rigidity colonic wall)

Bersifat segmental, terkadang mukosa masih baik, lumen kolon dapat / tidak

menyempit. Berikut ini sukar dibedakan dengan kolitis ulseratif.

F. PENANGANAN DAN PROGNOSIS KARSINOMA KOLON 1,2,3,5

Pembedahan merupakan pilihan utama terapi kanker kolon. Sedangkan terapi

adjuvannya berupa radioterapi dan kemoterapi.1,2,3

Pembedahan dilakukan secara radikal. Untuk kanker di sekum dan kolon asenden

biasanya dilakukan hemikolektomi dekstra dan dibuat anastomose kolostomi

ileotransversal. Untuk karsinoma di kolon transversum dan di fleksura lienalis, dilakukan

kolektomi subtotal dan dibuat anastomose ileosigmoidostomi. Pada karsinoma di kolon

desenden dan sigmoid dilakukan hemikolektomi kiri dan dibuat anastomose kolorektal

transversal. Untuk karsinoma di rektosigmoid dan rektum atas dilakukan

rektosigmoidektomi dan dibuat anastomose desending kolorektal. Pada karsinoma di

rektum bawah dilakukan proktokolektomi dan dibuat anastomose koloanal. Reseksi

dilakukan + 5 cm kearah proksimal dan distal kolon yang terkena.2,3

Dosis radioterapi sebagai terapi adjuvan adalah 4500-5500 cGy dengan fraksinasi

180 -200 cGy setiap kalinya.5

Kemoterapi yang biasa diberikan adalah 5-fluoro urasil (5FU). Untuk

meningkatkan efektivitas terapinya, dapat juga diberikan kombinasi 5FU dan

levamisole.1,2

Prognosis dari kanker kolon ini tergantung stadium dari Duke, dimana

menggunakan pedoman 5 years survival rate. Untuk Duke A + 90%, Duke B + 70%,

Duke C 35-60%, dan Duke D 0-5%. Semuanya berlaku bila telah dilakukan tindakan

bedah.1

10

Page 11: Ca Colorektal

BAB III

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA

Nama : Tn Sinwan

Umur : 74 tahun

Jenis kelamin : laki - laki

Alamat : Wonosari RT 1 RW 2 Patebon, Kendal

Agama : Islam

Pekerjaan : petani

No. CM : 5016479

Tangal Masuk : 12 Januari 2005

B. ANAMNESIS

Autoanamnesis dengan penderita pada tanggal 12 Januari 2005 dan catatan medik

penderita.

a. Keluhan Utama : Tidak bisa buang air besar ( Rujukan RSU Soewondo, Kendal)

b. Riwayat Penyakit Sekarang

+ 2 minggu SMRS, penderita mengeluh tidak dapat BAB, BAK, ataupun kentut.

Perut kanan bawah terasa melilit. Penderita tidak mengeluh panas, mual, maupun

muntah.

+ 1 minggu SMRS, karena keluhan terus berlangsung, penderita masuk RSU

Kendal kemudian dipasang selang untuk BAK, BAB disedot. Juga dilakukan

pemeriksaan penunjang berupa USG dimana dikatakan ada sebagian usus yang

masuk ke bagian usus yang lain.

+ 1 hari SMRS, BAB menjadi cair, berwarna kuning kehijauan, tidak ada lendir

maupun darah, perut tidak sakit. Penderita kemudian dirujuk ke RSDK.

c. Riwayat Penyakit Dahulu

Penderita tidak pernah sakit seperti ini.

11

Page 12: Ca Colorektal

d. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga yang sakit seperti ini.

e. Riwayat.Sosial Ekonomi

Penderita seorang petani, tinggal bersama istri dan tiga orang anaknya yang

sudah mandiri. Biaya pengobatan ditanggung keluarga (anak).

Kesan sosial ekonomi : cukup.

C. PEMERIKSAAN FISIK

Tanggal 12 Januari 2005 pukul 11.00 WIB (berdasarkan catatan medik)

Keadaan umum : Kesadaran composmentis

Tanda vital : Tensi: 150/90 mmHg; Nadi : 84 x/mnt; RR: 28 x/mnt;

Suhu: 37,2°C; BB: 50 kg; TB:165 cm.

Kepala : turgor dahi cukup

Mata : Konjungtiva palpebra pucat (-)

Mulut : Bibir sianosis (-)

Leher : Trakhea ditengah, pembesaran nnll (-/-)

Dada

Inspeksi : Simetris statis dinamis

Palpasi : S t e m f r e m i t u s k a n a n = k i r i

Perkusi : Sonor seluruh lapangan paru

Auskultasi : Suara dasar vesikuler, suara tambahan : ronkhi (-)/ (-),

wheezing (-)/(-)

Jantung

Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak

Palpasi : Iktus kordis teraba di spatium intercosta V, linea

midclavicula sinistra, tidak melebar, tidak kuat angkat

Perkusi : Konfigurasi jantung dalam batas normal.

Auskultasi : Suara jantung I-II murni bising(-), gallop(-)

Abdomen

Inspeksi : datar, gambaran gerak usus (-), venektasi (-)

Auskultasi : bising usus (+) normal, metallic sound (-)

Perkusi : Timpani(+), pekak sisi (+) normal, pekak alih (-).

12

Page 13: Ca Colorektal

Palpasi : Supel, nyeri tekan (-),hepar dan lien tak teraba, teraba

massa di regio lumbalis dekstra dengan ukuran 10 cm x 4

cm, konsistensi padat, mobile, fluktuasi (-), carnettt test (-)

menghilang

RT : Tonus spinghter ani cukup, ampula rekti tidak kolaps, nyeri

tekan (-), mukosa licin, massa (-), nodul (-)

Prostat : diameter latero-lateral 2,5 cm, sulkus medianus

datar, polus kranialis teraba, nyeri tekan (-), nodul (-).

Sarung tangan : feses (+), lendir (-), darah (-)

Genitalia : laki - laki, dalam batas normal.

Ekstremitas :

Superior Inferior

- Akral dingin -/- -/-

- Sianosis -/- -/-

- Edema -/- -/-

- Capillary refill < 2 “ < 2”

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan darah (12 januari 2005)

Hb : 9,0 g / dl

Ht : 28,5 %

Eritrosit : 4,3 juta/mm3

Leukosit : 7.400 /mm3

Trombosit : 525 000 /mm3

MCV : 66,2 fl

MCH : 20,8 pg

MCHC : 31,5 g/dl

Colon in loop (Barium Enema Double Kontras)

Tanggal 18 Januari 2005

־ Tak tampak kalsifikasi abnormal pada cavum abdomen dan cavum pelvis

־ Tampak marker terpasang pada iliaka dekstra

13

Page 14: Ca Colorektal

־ Tampak kontras masuk mengisi rektum, kolon sigmoid, kolon desenden,

kolon transversum, kemudian dimasukkan kontras udara, pasase kontras

lancar.

־ Pada kolon asenden bagian proksimal tampak gambaran dinding mukosa

ireguler, tampak filling defect, tak tampak indentasi.

KESAN : Massa intraluminer pada kolon asenden bagian proksimal.

X Foto thoraks AP

Tanggal 17 Januari 2005

Cor :

־ CTR tidak dinilai

־ Batas kanan dan kiri jantung tidak bergeser ke lateral

Pulmo :

־ Corakan vaskuler meningkat

־ Tak tampak bercak kesuraman pada kedua paru

־ Tak tampak coin lession pada kedua paru

־ Apeks tenang

Diafragma:

־ Diafragma kanan setinggi costa 9 posterior

־ Kedua sinus costophrenicus lancip, tak tampak destruksi tulang

KESAN: tampak gambaran bronkhitis, tidak tampak gambaran metastasis

intrapulmoner.

Echocardiografi (tanggal 17 Januari 2005)

Dimensi ruang-ruang jantung dalam batas normal

Trombus(-), PE (-)

LVH (+)

Kontraktilitas LV relatif baik, LVEF+ 67 %

Katub-katub jantung struktur relatif baik

Color doppler: E/A = 0,6

AR mild

KESAN : Suspek HHD

DD: Hipertrofik kardiomiopati non obstruksi

14

Page 15: Ca Colorektal

E. DIAGNOSIS SEMENTARA

Suspek tumor sekum

DD : Intraluminer

Ekstraluminer

F. INITIAL PLAN

Pre Operatif

Puasa 6 jam

Pasang NGT

Diet biasa rendah serat

Infus NaCl 0,9%

Injeksi amikasin 2 x 1000 mg 1 jam pre-op

Injeksi ketorolac 3 x 30 mg

Laparotomi

Post Operatif

Pengawasan bekas operatif

Puasa 24 jam

Infus RL 30 tetes/menit

Infus metronidazol 3 x 300 mg

Injeksi amikasin 2 x 1000 mg

Injeksi kalnex 3 x 500 mg

Injeksi forgesic 3 x 1 amp

Awasi KU, TV

Cek Hb post-op, bila< 10 → transfusi

G. LAPORAN OPERASI

Tanggal 26 Januari 2005

Mulai jam 10.00, Selesai 13.00, La : 180 menit

Operator operasi : dr. Mulyono, SpBD

Jenis operasi : laparotomi eksplorasi + reseksi usus + anastomosis end to end

Diagnosa preoperative : tumor intra abdomen

Diagnosa postoperative : tumor sekum

Penderita tidur terlentang dalam keadaan GA

15

Page 16: Ca Colorektal

Desinfeksi lapangan operasi,persempit dengan duk steril

Insisi median sampai tampak peritoneal

Buka peritoneum , identifikasi organ intra abdomen

Tampak massa pada sekum, warna kebiruan, keras, batas tegas, ukuran 10

cm x 6 cm, massa ditemukan pada mesenterium sekum.

Diputuskan reseksi usus pada pertengahan kolon transversum dan + 20 cm

oral dari tepi tumor yang proksimal→ materi dikirim untuk PA

Dilakukan anastomose end to end

Kavum abdomen dicuci dengan NaCl hangat

Tutup luka insisi

Operasi selesai

BAB IV

16

Page 17: Ca Colorektal

PEMBAHASAN

Karsinoma kolon merupakan keganasan yang mengenai sel-sel epitel di mukosa

kolon. Dasar penting dari keganasan kolon ini adalah proses perubahan secara genetik

pada sel-sel epitel di mukosa kolon yang timbul akibat beberapa hal, antara lain dietetik,

kelainan di kolon sebelumnya dan faktor herediter. Manifestasi klinis yang timbul pada

pasien dengan karsinoma kolon tergantung dari lokasi, bentuk makroskopis dari tumor.

Pada kasus ini, pasien datang dengan keluhan utama tidak dapat BAB. Sejak 2

minggu SMRS, mengeluh tidak dapat buang air besar (BAB) maupun kentut. Hal ini

dimungkinkan akibat pertumbuhan tumor yang mendesak ke lumen usus sehingga

menimbulkan gangguan pasase. Selain itu pasien mengeluh perut kanan bawah terasa

melilit, yang kemungkinan disebabkan karena hiperperistaltik otot polos kolon untuk

mendorong isi usus ke arah distal. Sejak 1 hari SMRS BAB menjadi cair, berwarna

kuning kehijauan, tidak ada lendir maupun darah, perut tidak sakit, penderita kemudian

dirujuk ke RSDK.

Dari pemeriksaan fisik (diambil dari CM tanggal 12 Januari 2005) didapatkan

adanya massa di perut kanan bawah dengan ukuran 10x4 cm, konsistensi padat,

mobile, tidak terdapat fluktuasi. Carnett tes negatif menunjukkan bahwa massa

terletak di intraabdominal. Terabanya massa di daerah tersebut menunjukkan lokasi

tumor di sekitar kolon asenden bagian proksimal (sekum), dan dilihat dari

ukurannya, diperkirakan proses telah berjalan lama. Pada pasien ini tidak ditemukan

tanda-tanda proses akut, sehingga dicurigai keganasan.

Pada pemeriksaan radiologis colon in loop, ditemukan adanya filling defect

dengan gambaran dinding mukosa yang irreguler pada kolon asenden bagian

proksimal. Terdapatnya filling defect menunjukkan bahwa terdapat massa intra

luminer. Hal ini sesuai dengan gejala klinis yang ditemukan, berupa gangguan buang

air besar akibat adanya massa yang menghalangi pasase usus.

Pada tanggal 26 Januari 2005 dilakukan laparotomi eksplorasi, ditemukan

adanya massa pada sekum, warna kebiruan, keras, batas tegas, ukuran 10 cm x 6 cm,

massa ditemukan pada mesenterium sekum. Kemudian dilakukan reseksi usus pada

pertengahan kolon transversum dan + 20 cm oral dari tepi tumor yang proksimal

17

Page 18: Ca Colorektal

(hemikolektomi dekstra), lalu dilakukan anastomose end to end. Diagnosa post-operatif

berupa tumor sekum. Pada pasien ini belum dapat ditentukan stadium menurut Dukes,

karena harus menunggu hasil pemeriksaan histopatologi.

BAB V

18

Page 19: Ca Colorektal

KESIMPULAN

Diagnosis karsinoma kolon ditegakkan dari anamnesis berupa adanya gangguan

pola defekasi, pemeriksaan fisik di mana teraba massa di abdomen, dan untuk

mengetahui letak dari tumor dilakukan pemeriksaan radiologis berupa colon in loop

dengan barium enema double contrast yang dapat menunjukkan gambaran filling

defect, berupa penonjolan kedalam lumen, kerancuan dinding kolon, ataupun kekakuan

dinding kolon .

Penanganan pada kasus ini berupa pembedahan, dilanjutkan dengan penentuan

stadium karsinoma setelah jaringan diangkat. Diagnosis pasti karsinoma ini diperoleh

berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Terapi adjuvant berupa radioterapi dan

kemoterapi diberikan berdasarkan stadium yang ditunjukkan .

BAB VI

19

Page 20: Ca Colorektal

DAFTAR PUSTAKA

1. Velde, C.J.H., F.T. Bosman, D.J. Wagener. Onkologi. Cetakan kelima.

Yogyakarta: Panitia Kanker RSUP Dr. Sardjito, 1999: 394-407

2. Suyono S, Waspadji S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi ketiga. Jakarta:

Balai Penerbit FKUI, 2001: 205-212

3. Miller, Walter. Textbook of Radiotherapy. Radiation Physics, Therapy &

Oncology, fifth edition. London: Churchill Livingstonen, 1995: 367-371

4. Basmajian, JV., CE.Slonecker. Grant Metode Anatomi Berorientasi Pada Klinik.

Jakarta: Binarupa Aksara, 1995:158-159

5. Perez, Karsinomarlos A., Luther W. Brady. Principles & Practice of Radiaton

Oncology. Philadelphia: JB Lippincott Company, 1987: 813-821.

6. Guyton, Arthur C. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi ketujuh. Editor:

Harjanto Effendi. Jakarta: Penerbit Buku EGC, 1994: 106-116

7. De Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit Buku EGC, 1997: 877-

878, 892-900.

8. Harjono, Rima, et al. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: Penerbit Buku EGC,

1996: 624

9. Anonim. Radiography-Lower GI Tract (Barium Enema ”BE”).

http://www.radiologyinfo.org/content/lower_gi.htm

10. Sutarto, Ade S, et al. Radiologi Diagnostik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2000:

244-255

11. Chapman,S., Richard Nakielny. A Guide to Radiological Procedures, fourth

edition. London: W.B. Saunders, 2001: 67-73

20

Page 21: Ca Colorektal

LAPORAN KASUS RADIOLOGI

KARSINOMA KOLON

Disusun untuk melengkapi tugas

Kepaniteraan Senior Bagian Radiologi

Disusun oleh :

Angelina Monintja

Aulia Rusyda

Nani Maharani

Teddy Wahyu N.

BAGIAN RADIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

2004

21

Page 22: Ca Colorektal

HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Karsinoma Kolon

Pembimbing : dr. Ch. Nawangsih, Sp. Rad

dr. Murti

Diajukan : 31 Januari 2005

Semarang, 31 Januari 2005

Dosen Pembimbing

dr. Ch. Nawangsih, Sp. Rad

22

Page 23: Ca Colorektal

23