Bing Smp Ni Made Ratminingsih

download Bing Smp Ni Made Ratminingsih

of 25

  • date post

    05-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    8
  • download

    2

Embed Size (px)

description

bing smp made in jateng

Transcript of Bing Smp Ni Made Ratminingsih

TEKNIK MISTAKE BUSTER DALAM PEMBELAJARAN GRAMATIKA: UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN GRAMATIKA DAN PARTISIPASI SISWA KELAS I SMP NEGERI 1 SUKASADA DALAM PEMBELAJARAN DENGAN ORIENTASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

146ISSN 0215 - 8250

TEKNIK MISTAKE BUSTER DALAM PEMBELAJARAN GRAMATIKA : UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN GRAMATIKA DAN PARTISIPASI SISWA KELAS I SMP NEGERI 1 SUKASADA DALAM PEMBELAJARAN DENGAN ORIENTASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

oleh Ni Made RatminingsihJurusan Pendidikan Bahasa InggrisFakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk (1) meningkatkan penguasaan gramatika siswa Kelas I SMP Negeri 1 Sukasada, dan (2) meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Dengan prosedur penelitian tindakan kelas, hasil penelitian membuktikan bahwa pemanfaatan teknik Mistake Buster dapat meningkatkan penguasaan gramatika siswa dan partisipasi mereka. Penguasaan Gramatika siswa terkategori bagus dan partisipasi mereka terkategori cukup aktif.

Kata kunci : Mistake Buster, penguasaan gramatika, partisipasi

ABSTRACT

This research aimed at (1) improving grammar mastery of the first year students of SMP Negeri 1 Sukasada, and (2) improving their participation in learning. By applying the action research procedure, the results of the study show that the implementation of Mistake Buster technique could improve students grammar mastery and their participation. Their grammar mastery was categorized good while their participation was categorized fairly active.

Key words : Mistake Buster, grammar mastery, participation

1. PendahuluanPembelajaran Bahasa Inggris dengan kurikulum berbasis kompetensi menghendaki pembelajar agar dapat menggunakan bahasa target yang dipelajari dalam berkomunikasi secara nyata dalam konteks berbahasa aktual. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah dalam hal ini Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2002) memperkenalkan pembelajaran yang berpendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau CTL). CTL adalah suatu konsep pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Guru hendaknya mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran bahasa dengan demikian harus mengutamakan keterampilan berbahasa yang meliputi listening, speaking, reading dan writing. Dengan menguasai keempat keterampilan utama berbahasa tersebut, siswa dapat menjadi pembelajar yang memiliki kompetensi komunikatif.Di samping keempat keterampilan tersebut di atas, perangkat pendukungnya seperti kosakata, gramatika, dan lafal memegang peranan yang sangat penting. Tanpa penyertaan aspek-aspek kebahasaan ini dalam pembelajaran, keterampilan berbahasa yang menjadi penekanan pembelajaran tidak akan dapat tercapai.Aspek gramatika yang menjadi salah satu aspek penting dalam pembelajaran harus dikuasai dengan baik oleh pembelajar karena tanpa penguasaan aspek ini niscaya mereka mampu mengkonstruksi kalimat-kalimat dengan benar baik secara tertulis maupun secara oral.Temuan peneliti di lapangan mengindikasikan bahwa pembelajaran gramatika bahasa Inggris yang begitu kompleks belum mendapat penanganan yang serius. Hasil observasi peneliti membuktikan bahwa guru bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Sukasada lebih banyak menangani pembelajaran keterampilan reading dengan penekanan pada pemahaman kosakata yang berhubungan dengan teks bacaan dan pemahaman isi bacaan. Dalam melaksanakan pembelajaran guru lebih banyak menggunakan teknik question and answer dalam mengarahkan pemahaman siswa terhadap bacaan dan teknik translation dalam membantu pemahaman siswa terhadap kosakata. Kegiatan selanjutnya diarahkan pada penyelesaian tugas-tugas (tasks) yang menyertai reading text. Setelah mengerjakan tugas-tugas tersebut, siswa kemudian menuliskan jawaban-jawabannya di papan tulis. Apabila siswa melakukan kesalahan dalam menjawab tugas-tugas yang dikerjakan khususnya yang berhubungan dengan kesalahan gramatika, maka yang dilakukan guru biasanya adalah memperbaiki kesalahan tersebut (teacher correction) dan dilanjutkan dengan penjelasan terhadap kesalahan tersebut. Teknik yang dipakai dalam menjelaskan kesalahan siswa lebih cenderung menggunakan teknik Deductive, yaitu dengan memberikan aturan gramatika disertai dengan contoh penggunaannya dalam kalimat. Temuan peneliti di atas diakui oleh guru pengajar bahasa Inggris di sekolah tersebut bahwa memang demikian yang terjadi di lapangan, guru selalu menjadi source corrector untuk kesalahan siswa baik itu kesalahan gramatika maupun kesalahan dalam lafal dalam kegiatan membaca. Walaupun sudah dibantu mengoreksi kesalahan gramatika yang dibuat dan diberi penjelasan secara deduktif, kesalahan-kesalahan gramatika masih terus muncul, dan bahkan ini berpengaruh terhadap hasil tes, dimana kemampuan pemahaman gramatika mereka dinyatakan masih lemah. Fenomena tersebut di atas terjadi karena (1) guru tidak berusaha memvariasikan pembelajaran khususnya pembelajaran gramatika yang lebih menantang mereka untuk belajar mengoreksi pekerjaan sendiri atau pekerjaan orang lain, (2) siswa tidak mempunyai pengetahuan atau pemahaman yang cukup tentang aturan-aturan gramatika untuk melakukan koreksi, dan (3) guru merasa bahwa dengan koreksi dari guru maka permasalahan lebih cepat teratasi.Mengacu pada permasalahan di atas, peneliti ingin membantu memecahkan masalah yang dihadapi guru, yaitu dengan menggunakan teknik "Mistake Buster" yang lebih memfokuskan pada partisipasi aktif siswa untuk mengevaluasi sendiri kesalahan-kesalahan gramatika yang sengaja dibuat oleh guru atau dipersiapkan oleh guru. Huynh (2003:1) menyatakan bahwa teknik ini sangat efektif untuk mengarahkan siswa untuk terlibat aktif dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran dengan berlatih mengkoreksi kalimat-kalimat yang salah sendiri. Banyak keuntungan yang didapatkan melalui pemanfaatan teknik ini, antara lain: (1) Dengan mengubah peran dari "Mistake corrector" Huynh menemukan bahwa pembelajar lebih bergembira dalam belajar. (2) Tingkat kesenangan mereka bahkan dapat ditingkatkan ketika kelas dibagi menjadi dua tim untuk berkompetisi menemukan dan memperbaiki kesalahan. (3) Pembelajar mempunyai kesempatan untuk mengidentifikasi kesalahan yang mungkin mereka buat dibandingkan dengan guru yang memberitahu kesalahan-kesalahan mereka. Dengan demikian mereka dapat merasakan kepuasan ketika bisa memperbaiki kesalahannya sendiri. (4) Teknik ini juga dapat membantu guru mengecek tingkat pemahaman mereka terhadap aturan-aturan gramatika atau pemahaman mereka terhadap tugas reading. (5) Teknik ini dapat dipakai untuk memberikan pengayaan dan meningkatkan keterampilan produksi bahasa mereka (production skills) seperti writing dan pronunciation. (6) Teknik ini tidak menakutkan dan penuh dengan canda yang menjadi salah satu dasar pengondisian pembelajaran terbaik agar proses pembelajaran dapat terlaksana (Huynh, 2003:1). Todd (2002:16) menambahkan, bahwa self-assessment sangat bermanfaat baik dalam proses pembelajaran maupun evaluasi. Dengan self-assessment pembelajar dapat lebih mengarahkan pembelajaran sendiri (self directed learning) dan lebih independen dalam menggunakan bahasa.Teknik "Mistake Buster" yang diperkenalkan oleh Huynh (2003) didasarkan pada suatu keinginan untuk membantu pembelajar bahasa untuk dapat belajar lebih baik dengan cara menciptakan berbagai kesempatan pada mereka untuk dapat merefleksikan segala sesuatu yang telah dipelajari dan dapat melihat kembali dari sisi yang berbeda. Satu cara yang telah diujicobakan oleh Huynh dan ditemukan efektif adalah dengan mempersiapkan aktivitas dimana pembelajar mengambil alih peranan dalam mengoreksi kesalahan, yang biasanya dilakukan oleh guru. Sementara itu guru berperan dengan sengaja menjadi pembuat kesalahan (Mistake maker).Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan teknik "Mistake Buster adalah sebagai berikut.a. Persiapan:1. Pemilihan Kategori KesalahanPilih kategori kesalahan yang memang bermasalah yang menjadi fokus dari pelajaran yang sedang diajarkan. 2. Menyiapkan kesalahan-kesalahanKata-kata kerja yang salah (wrong verbs) yang perlu ditemukan dan dikoreksi siswa dapat dipersiapkan dalam bentuk daftar kata kerja (verb list), kalimat-kalimat pendek (short sentences), kalimat-kalimat panjang (long sentences) atau dalam bentuk narasi (narrative).Di bawah ini diberikan contoh dalam pembelajaran 'past tense': Sample verb list: want, need, work, visit, repair, take, eat, bring, think, wash, change, enjoy, study, use, make, clean, finish. Sample short sentences: I go to bed at 10.00 last night or My mother call me this morning. Sample long sentences: I don't go to school last week because I have a motorbike accident, but fortunately I don't broke a bone or anything. Sample narrative: I have really good day yesterday. First my sister calls me from California in the morning and we talk for nearly an hour. She tells me many exciting things about life in california and promise to call me again soon. Then I go to school and taken a rest. It were quite easy because I study ver hard last week to prepare for it (Huynh, 2003:2).

b. Pelaksanaan:Di bawah ini diberikan contoh oleh Huynh bagaimana mengimplementasikan "Mistake Buster" untuk mengecek kemampuan siswa dalam menggunakan regular dan irregular verbs dalam Simple Past Tense"Langkah1: Pemanasan (Warm Up): (dengan menggunakan verb list) Memberitahu siswa bahwa mereka akan beraktivitas mereview Simple Past Tense. Membagi kelas menjadi 2 tim dan memberitahu bahwa mereka akan berkompetisi. Membuat 2 kolom di papan dan menyuruh siswa mengisi kolom kiri dengan kata-kata kerja (verb) dalam bentuk Present Tense sebanyak-banyaknya. Menyuruh mereka menemukan bentuk past tense dari semua kata kerja (verbs) tersebut. Mereka harus mengangkat tangan secepatnya untuk