Benigna Prostat Hiperplasia

of 22 /22
Benign Prostate Hiperplasia (BPH) Anesty Claresta 102011223 [email protected] Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510 Pendahuluan Pembesaran Prostat Jinak (BPH, Benign Prostatic Hyperplasia) adalah pertumbuhan jinak pada kelenjar prostat, yang menyebabkan prostat membesar. Pembesaran prostat sering terjadi pada pria di atas 50 tahun. Prostat adalah kelenjar sebesar buah kenari yang letaknya tepat di bawah kandung kemih dan hanya ada pada kaum pria. 1 Prostat adalah penghasil sebagian besar cairan di dalam air mani (semen) yang menjaga sperma agar tetap hidup. Kelenjar prostat mulai berkembang sebelum bayi lahir dan akan terus berkembang hingga mencapai usia dewasa. Perkembangan prostat dipengaruhi oleh hormon seks pria, yaitu androgen. Hormon androgen yang utama adalah testosteron. Pembesaran prostat jinak (PPJ) atau benigna prostate hyperplasia (BPH) merupakan salah satu penyakit yang tidak ditularkan dan insidensinya sangat berhubungan dengan usia. Artinya, semakin panjang usianya semakin besar kemungkinan mendapatkan penyakit PPJ ini. 1

description

pembesaran prostat jinak, diagnosis dan penatalaksanaannya

Transcript of Benigna Prostat Hiperplasia

Page 1: Benigna Prostat Hiperplasia

Benign Prostate Hiperplasia (BPH)

Anesty Claresta

102011223

[email protected]

Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510

Pendahuluan

Pembesaran Prostat Jinak (BPH, Benign Prostatic Hyperplasia) adalah pertumbuhan

jinak pada kelenjar prostat, yang menyebabkan prostat membesar. Pembesaran prostat sering

terjadi pada pria di atas 50 tahun. Prostat adalah kelenjar sebesar buah kenari yang letaknya

tepat di bawah kandung kemih dan hanya ada pada kaum pria.1

Prostat adalah penghasil sebagian besar cairan di dalam air mani (semen) yang

menjaga sperma agar tetap hidup. Kelenjar prostat mulai berkembang sebelum bayi lahir dan

akan terus berkembang hingga mencapai usia dewasa. Perkembangan prostat dipengaruhi oleh

hormon seks pria, yaitu androgen. Hormon androgen yang utama adalah testosteron.

Pembesaran prostat jinak (PPJ) atau benigna prostate hyperplasia (BPH) merupakan

salah satu penyakit yang tidak ditularkan dan insidensinya sangat berhubungan dengan usia.

Artinya, semakin panjang usianya semakin besar kemungkinan mendapatkan penyakit PPJ

ini.

Skenario

Seorang laki-laki berusia 60 tahun datang ke Poliklinik dengan keluhan sering BAK, terutama

pada malam hari. Setiap setelah selesai BAK, pasien selalu merasa tidak lampias dan

pancaran urinnya lemah. Keluhan ini sudah dirasakan selama 6 bulan terakhir dan dirasa

semakin memberat.

1

Page 2: Benigna Prostat Hiperplasia

Anamnesis

Menanyakan identitas pasien (Nama, usia, alamat, dan pekerjaan)

Keluhan utama

o Apa keluhan utama nya?

o Sudah berapa lama mengalami keluhan tersebut?

Riwayat penyakit sekarang

o Adakah kesulitan berkemih?

o Berapa kali berkemih dalam satu hari?

o Adakah rasa nyeri waktu berkemih?

o Apakah berkemih tidak puas dan urin menetes?

o Apakah ada nyeri suprapubik?

o Apakah urin berwarna merah (gross hematuria)?

o Apakah disertai kolik?

o Apakah ada keluhan lain seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, dll?

Riwayat penyakit dahulu

Riwayat trauma pada abdomen dan alat genital.

Riwayat hipertensi.

Riwayat minum jamu atau obat

Riwayat penyakit keluarga.1

Jika ada kecurigaan PBH ditanyakan pertanyaan untuk mengisi quesioner skor internasional

gejala prostat. Untuk menentukan keparahan dari sindrom BPH yang diderita oleh pasien.1

2

Page 3: Benigna Prostat Hiperplasia

Gambar 1. Tabel I-PSS (International Prostate Syndrome Score)

Sumber: www.willowbanksurgery.org

3

Page 4: Benigna Prostat Hiperplasia

Pemeriksaan

Pemeriksaan fisik

Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Tekanan darah meningkat

Suhu normal

Frekuensi nadi cepat/meningkat

Pernapasan meningkat

Inspeksi :

o Ada benjolan supra pubik

Palpasi :

o Nyeri tekan supra pubik

o Teraba benjolan

o Konsistensi benjolan : kenyal (berfluktuasi) di supra pubik

o Balotemen (negative)

o Rectal toucher :

Pemeriksaan rectal toucher dapat memberikan gambaran tonus

sfingter ani mukosa rectum, adanya kelainan lain sepeerti benjolan

di dalam rectum dan tentu saja meraba prostat. Pada perabaan

prostat harus diperhatikan konsistensi yang pada pembesaran

prostat jinak konsistensinya kenyal, adakah asimetri, adakah nodul

pada prostat, apakah batas atas dapat diraba dan apabila batas atas

masih dapat diraba biasanya berat prostat diperkirakan kurang dari

60 gram. Pada adeno carcinoma prostat pada pemeriksaan rectal

toucher akan teraba prostat dengan konsistensi keras atau adanya

asimetri dengan bagian yang lebih keras. Dengan rectal toucher

dapat diketahui adanya batu prostat yaitu apabila dapat diraba

adanya krepitasi.2

Perkusi :

o Nyeri ketok CVA (negative).

4

Page 5: Benigna Prostat Hiperplasia

Pemeriksaan penunjang

A. Laboratorium

1. Sedimen Urin

Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran

kemih.3

2. Kultur Urin

Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan

sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.4

B. Pencitraan

1). Foto polos abdomen

Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan kadang

menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari retensi

urin.4

2. IVP ( Intra Vena Pielografi)

Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau

hidronefrosis,memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli.4

3. Ultrasonografi ( trans abdominal  dan trans rektal )

Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan

keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor.4

4. Systocopy

Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan

melihat penonjolan prostat ke dalam rektum

Working diagnosis dan Differential diagnosis

Working diagnosis : Benigna Prostate Hiperplasia

Differential diagnosis : Prostatitis dan CA Prostat

Prostatitis

5

Page 6: Benigna Prostat Hiperplasia

Prostatitis akut adalah infeksi bakteri yang serius pada kelenjar prostat. Infeksi

ini tergolong keadaan darurat medis. Ini harus dibedakan dari bentuk-bentuk lain

seperti prostatitis bakterial kronis dan sindrom nyeri panggul kronis.3

Tanda dan gejala

Pria dengan penyakit ini sering sering menggigil, demam, sakit di punggung

bawah dan daerah kelamin, frekuensi kencing dan urgensinya sering di malam hari,

buang air kecil serasa terbakar atau nyeri, nyeri tubuh, dan dibuktikan dengan adanya

infeksi saluran kemih (sebagaimana dibuktikan oleh keberadaan sel-sel darah putih

dan bakteri dalam urin). Prostatitis akut mungkin merupakan komplikasi dari biopsi

prostat.3

Diagnosis

Prostatitis akut relatif mudah untuk didiagnosis karena gejalanya yang

menunjukkan adanya infeksi. Organisme ini dapat ditemukan dalam darah atau air

seni. Penyebab umumnya adalah bakteri Escherichia coli, Klebsiella, Proteus,

Pseudomonas, Enterobacter, Enterococcus, Serratia, and Staphylococcus aureus. Ini

bisa menjadi darurat medis pada beberapa pasien dan rawat inap dengan antibiotik

intravena mungkin diperlukan. Hitung darah lengkap menunjukkan peningkatan sel

darah putih. Sepsis dari prostatitis sangat jarang, tetapi mungkin terjadi pada pasien

immunocompromised.3

CA Prostat

Kanker prostat adalah keganasan pada laki-laki yang paling sering kedua di

Amerika Serikat dan kanker penyebab kematian paling sering ketiga setelah kanker

paru dan kolorektal pada laki-laki yang berusia di atas 55 tahun. Jarang pada orang

Asia, lebih sering pada orang kulit hitam daripada orang kulit putih ( keturunan

Afrika-Amerika). Penyebab kanker prostat tidak diketahui.4

Etiologi

Penyebab hiperplasia prostat belum diketahui dengan pasti, ada beberapa pendapat dan

fakta yang menunjukan, ini berasal dan proses yang rumit dari androgen dan estrogen.

Dehidrotestosteron yang berasal dan testosteron dengan bantuan enzim 5α-reduktase

diperkirakan sebagai mediator utama pertumbuhan prostat. Dalam sitoplasma sel prostat

6

Page 7: Benigna Prostat Hiperplasia

ditemukan reseptor untuk dehidrotestosteron (DHT). Reseptor ini jumlahnya akan meningkat

dengan bantuan estrogen. DHT yang dibentuk kemudian akan berikatan dengan reseptor

membentuk DHT-Reseptor komplek. Kemudian masuk ke inti sel dan mempengaruhi RNA

untuk menyebabkan sintesis protein sehingga terjadi protiferasi sel. Adanya anggapan bahwa

sebagai dasar adanya gangguan keseimbangan hormon androgen dan estrogen, dengan

bertambahnya umur diketahui bahwa jumlah androgen berkurang sehingga terjadi peninggian

estrogen secara retatif. Diketahui estrogen mempengaruhi prostat bagian dalam (bagian

tengah, lobus lateralis dan lobus medius) hingga pada hiperestrinisme, bagian inilah yang

mengalami hiperplasia.4

Hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab prostat hiperplasi,

tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat kaitannya dengan

peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Beberapa hipotesis yang

diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah :

1. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut 

2. Peranan dari growth factor  (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu pertumbuhan stroma

kelenjar prostat

3. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati

4. Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga

menyebabkan produksi selstroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.4

Epidemiologi

BPH merupakan masalah umum yang mempengaruhi kualitas hidup di sekitar

sepertiga pria yang lebih tua dari 50 tahun. BPH sangat jelas terjadi secara histologi hinga

90% pria dengan usia 85 tahun. Sebanyak 14 juta pria di Amerika Serikat memiliki gejala

BPH. Seluruh dunia, sekitar 30 juta pria memiliki gejala yang berhubungan dengan BPH.

Prevalensi BPH pada orang kulit putih dan Afrika-Amerika mirip. Namun, BPH cenderung

lebih parah dan progresif di Afrika-Amerika. Mungkin karena tingkat testosteron tinggi,

aktivitas 5-alpha-reductase, ekspresi reseptor androgen dan aktivitas faktor pertumbuhan pada

populasi ini. Aktivitas meningkat menyebabkan tingkat peningkatan hiperplasia prostat dan

pembesaran prostat.3

Patofisiologi

7

Page 8: Benigna Prostat Hiperplasia

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-

buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal

pada orang dewasa ± 20gram. Menurut Mc Neal (1976) membagi kelenjar prostat

dalam beberapa zona, antara lain zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona

fibromuskuler anterior dan periuretra. Pada usia lanjut akan terjadi perubahan keseimbangan

testosteron estrogen karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi tertosteron

menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer. Pertumbuhan kelenjar prostat sangat

tergantung pada hormon tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan

dirubahmenjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase.4,5

Dehidrotestosteron inilah yang secaralangsung memacu m-RNA di dalam sel-sel kelenjar

prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar prostat.

Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya perubahan pada

traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan patofisiologi yang disebabkan

pembesaran prostat sebenarnyadisebabkan oleh kombinasi resistensi uretra daerah prostat,

tonus trigonum dan leher vesika dan kekuatankontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor

dipersarafi oleh sistem parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem

simpatis. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadiresistensi yang

bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan mencoba mengatasi

keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan

serat detrusor kedalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang

disebut trahekulasi (buli-buli balok). Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat detrusor.

Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut

divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih.

Apabila keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami

dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Pada

hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi

disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga kontraksi

terputus-putus (mengganggu permulaan miksi), miksi terputus, menetes pada akhir miksi,

pancaran lemah, rasa belum puas setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan

yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga

sering berkontraksiwalaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot

detrusor (frekuensi miksi meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency, disuria).5

8

Page 9: Benigna Prostat Hiperplasia

Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak mampu lagi

menampung urin,sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari tekanan sfingter dan obstruksi

sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence). Retensi kronik menyebabkan

refluks vesiko ureter dan dilatasi. ureter danginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal

ginjal. Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan

penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen

yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan

membentuk  batu endapan yang menambal. Keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis

urin dalam vesika urinariamenjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat

menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis.3

Gejala Klinis

Gejala hiperplasia prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan di

luar saluran kemih.

1. Gejala pada saluran kemih bagian bawah

Keluhan pada saluran kemih sebelah bawah (LUTS) terdiri atas gejala obstruktif

dan gejala iritatif. Gejala obstruktif disebabkan oleh karena penyempitan uretara pars

prostatika karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk

berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus.4

Gejalanya ialah :

Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistancy)

Pancaran miksi yang lemah (weak stream)

Miksi terputus (Intermittency)

Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling)

Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying).

Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga

faktor, yaitu :

Volume kelenjar periuretral

Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat

Kekuatan kontraksi otot detrusor

Tidak semua prostat yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi, sehingga

meskipun volume kelenjar periurethral sudah membesar dan elastisitas leher vesika, otot

9

Page 10: Benigna Prostat Hiperplasia

polos prostat dan kapsul prostat menurun, tetapi apabila masih dikompensasi dengan kenaikan

daya kontraksi otot detrusor maka gejala obstruksi belum dirasakan.3,4

Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaria yang tidak

sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh hipersensitifitas otot detrusor karena

pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering

berkontraksi meskipun belum penuh.

Gejalanya ialah :

Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)

Nokturia

Miksi sulit ditahan (Urgency)

Disuria (Nyeri pada waktu miksi)

Gejala-gejala tersebut diatas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis derajat berat

gejala prostatismus itu dibagi menjadi :

- Grade I : Gejala prostatismus + sisa kencing tidak ada

- Grade II : Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 ml

- Grade III: Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas + sisa

urin > 150 ml.

Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah,

WHO menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut Skor

Internasional Gejala Prostat atau I-PSS (International Prostatic Symptom Score). Sistem

skoring I-PSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi (LUTS)

dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. Setiap pertanyaan yang

berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0 sampai dengan 5, sedangkan keluhan yang

menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai dari 1 hingga 7.4

Dari skor I-PSS itu dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu:

- Ringan : skor 0-7

- Sedang : skor 8-19

- Berat : skor 20-35

10

Page 11: Benigna Prostat Hiperplasia

Timbulnya gejala LUTS merupakan menifestasi kompensasi otot vesica urinaria untuk

mengeluarkan urin. Pada suatu saat otot-otot vesica urinaria akan mengalami kepayahan

(fatique) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi

urin akut.

Timbulnya dekompensasi vesica urinaria biasanya didahului oleh beberapa faktor pencetus,

antara lain:

Volume vesica urinaria tiba-tiba terisi penuh yaitu pada cuaca dingin, menahan

kencing terlalu lama, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang mengandung

diuretikum (alkohol, kopi) dan minum air dalam jumlah yang berlebihan

Massa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau

mengalami infeksi prostat akut

Setelah mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor

atau yang dapat mempersempit leher vesica urinaria, antara lain: golongan

antikolinergik atau alfa adrenergik.

2. Gejala pada saluran kemih bagian atas

Keluhan akibat penyulit hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas berupa

gejala obstruksi antara lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang (yang merupakan tanda

dari hidronefrosis)., atau demam yang merupakan tanda dari infeksi atau urosepsis.4

3. Gejala di luar saluran kemih

Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis

atau hemoroid. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi

sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal.4

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada BPH dapat dilakukan dengan:

1. Observasi

Kurangi minum setelah makan malam, hindari obat dekongestan, kurangi kopi, hindari

alkohol,tiap 3 bulan kontrol keluhan, sisa kencing dan colok dubur. 

2. Medikamentosa

A. Penghambat alfa (alpha blocker)

11

Page 12: Benigna Prostat Hiperplasia

Prostat dan dasar buli-buli manusia mengandung adrenoreseptor-α1, dan

prostat memperlihatkan respon mengecil terhadap agonis. Komponen yang berperan

dalam mengecilnya prostat dan leher buli- buli secara primer diperantarai oleh reseptor

alpha blocker. Penghambatan terhadap alfa telah memperlihatkan hasil berupa

perbaikan subjektif dan objektif terhadap gejala dan tanda BPH pada beberapa pasien.

Penghambat alfa dapat diklasifikasikan berdasarkan selektifitas reseptor dan

waktu paruhnya.4

B. Penghambat α5-Reduktase (5α-Reductase inhibitors)

Finasteride adalah penghambat 5α-Reduktase yang menghambat perubahan

testosteron menjadi dihydratestosteron. Obat ini mempengaruhi komponen epitel

prostat, yang menghasilkan pengurangan ukuran kelenjar dan memperbaiki gejala.

Dianjurkan pemberian terapi ini selama 6 bulan, guna melihat efek maksimal terhadap

ukuran prostat (reduksi 20%) dan perbaikan gejala-gejala

C. Terapi Kombinasi

Terapi kombinasi antara penghambat alfa dan penghambat 5α-Reduktase

memperlihatkan bahwa penurunan symptom score dan peningkatan aliran urin hanya

ditemukan pada pasien yang mendapatkan hanya Terazosin. Penelitian terapi

kombinasi tambahan sedang berlangsung.3

D. Fitoterapi

Fitoterapi adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan dan ekstrak tumbuh-

tumbuhan untuk tujuan medis. Penggunaan fitoterapi pada BPH telah popular di Eropa

selama beberapa tahun. Mekanisme kerjafitoterapi tidak diketahui, efektifitas dan

keamanan fitoterapi belum banyak diuji.

3. Terapi Bedah

Indikasinya adalah bila retensi urin berulang, hematuria, penurunan fungsi ginjal, infeksi

salurankemih berulang, divertikel batu saluran kemih, hidroureter, hidronefrosis jenis

pembedahan:

TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy)

o Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat melalui

sitoskopi atau resektoskop yang dimasukkan malalui uretra.6

12

Page 13: Benigna Prostat Hiperplasia

Prostatektomi Suprapubis

o Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada kandung

kemih.6

Prostatektomi Retropubis

o Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen bagian

bawah melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung kemih.6

Prostatektomi Peritoneal

o Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi diantara

skrotum dan rektum.6

Prostatektomi retropubis radikal

o Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula, vesikula seminalis dan

jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada abdomen bagian bawah,

uretra dianastomosiskan keleher kandung kemih pada kanker prostat.

4. Terapi Invasif Minimal

Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)

Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan ke

kelenjar prostatmelalui antena yang dipasang melalui/pada ujung kateter.

Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy (TULIP)

Trans Uretral Ballon Dilatation(TUBD).6

Komplikasi

Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan semakin

beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak mampu melewati

prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan apabila tidak diobati, dapat

mengakibatkan gagal ginjal.

Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan

penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen

yang akan menimbulkan herniadan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan

membentuk batu endapan yang menambah keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis

13

Page 14: Benigna Prostat Hiperplasia

urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat

menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis.3 

Prognosis

Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu

walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki

prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker prostat.4

Pencegahan

Kini, sudah beredar suplemen makanan yang dapat membantu mengatasi pembesaran

kelenjar prostat. Salah satunya adalah suplemen yang kandungan utamanya saw palmetto.

Berdasarkan hasil penelitian, saw palmetto menghasilkan sejenis minyak, yang bersama-sama

dengan hormon androgen dapat menghambat kerja enzim 5-alpha reduktase, yang berperan

dalam proses pengubahan hormon testosteron menjadi dehidrotestosteron (penyebab BPH).

Hasilnya, kelenjar prostat tidak bertambah besar.

Berikut ini beberapa cara untuk mengurangi risiko masalah prostat, antara lain:

- Mengurangi makanan kaya lemak hewan

- Meningkatkan makanan kaya lycopene (dalam tomat), selenium (dalam makanan

laut), isoflavonoid (dalam produk kedelai)

- Mengkonsumsi vitamin A, E, dan C sebagai antioksidan yang berperan penting

dalam mencegah pertumbuhan sel kanker, karena menurut penelitian, 5-10%

kasus BPH dapat berkembang menjadi kanker prostat. Vitamin B1, B2, dan B6,

yang dibutuhkan dalam proses metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein,

sehingga kerja ginjal dan organ tubuh lain tidak terlalu berat.

- Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari

- Berolahraga secara rutin

- Pertahankan berat badan ideal.4

Kesimpulan

14

Page 15: Benigna Prostat Hiperplasia

Pria ini menderita perbesaran jinak pada kelenjar prostatnya. Pembersaran prostat ini menjepit

saluran urethranya sehingga ditemukan adanya gangguan berkemih. Penyebab dari hiperplasia

prostat ini belum diketahui dengan jelas, diduga adanya perubahan sistem hormon akibat

proses penuaan yang menyebabkan kelainan ini.

Daftar Pustaka

1. Aeronson PI, Ward JPT. At a glance system urogenitalis: Anamnesis dan pemeriksaan

fisik urogenitalis. Ed ke-3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2010. h.68.

2. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani W I, Setiowulan W. Kapita selekta kedokteran. Ed.

Ke-3, jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius; 2000.h.332.

3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, K Marcellus S, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit

dalam . Ed ke-5, jilid 2. Jakarta: Interna publishing;2009. h. 1008-12.

4. Purnomo B. Urologi klinik. Ed ke-2. Jakarta : CV Sagung seto; 2005. h.125-44.

5. Price S A, Wilson L M. Patofisiologi : konsep klinis dan proses-proses penyakit. Ed ke-6,

Vol. 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005.h1323.

6. Sjamsuhidajat R, Jong W D. Buku ajar ilmu bedah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran

EGC; 2005.h.783.

7. Martono H. BPH : Buku ajar geriatric. Ed. 3. Jakarta: FKUI; 2004.h.411.

15