Beam House Operation

download Beam House Operation

of 26

  • date post

    28-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    298
  • download

    93

Embed Size (px)

description

Proses BHO Penyamakan Kulit

Transcript of Beam House Operation

Beam House Operation(B.H.O)

Oleh

Eddy Purnomo

Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta

2008

PengantarIndustri Penyamakan Kulit pada dasarnya adalah industri yang mempunyai struktur proses operasi yang bersifat continues yang tidak dapat dihentilkan setiap saat karena basis operasinya adalah aksi kimia terhadap bahan organic yang rentan terhadap prilaku kimiawi yang digunakan. Namun demikian ada beberapa tahapan proses yang dapat digunakan sebagai waktu sela untuk menyimpan kulit dalam keadaan status belum tersamak, yaitu dalam kondisi pickled atau diasam.Secara umum tahapan proses penyamakan dapat dikelompokan dalam empat tahapan, dan dalam setiap tahapan proses tsb dapat dihentikan dalam kurun waktu tertentu karena proses belum berachir. Tahap pertama yaitu BHO atau Beam House Operation dalam bahasa Indonesia disebut Proses Rumah Basah, yang meliputi proses Soaking, Liming & Unhairing, Fleshing, Deliming, Bating, Pickling. Hasil dari tahap satu disebut pickled skin/hide atau kulit pikel.Tahap kedua Taning atau penyamakan, hasilnya merupakan kulit samak wet-blue. Tahap ketiga Pasca taning atau pasca penyamakan yang meliputi Shaving, Neutralizing, Retaning, Dyeing, Fatliquoring, Fixing. Out put proses tahap ini disebut kulit crust . Tahap keempat Finishing atau Coating. Hasil achir disubut leather atau kulit jadi.Demikian secara singkat dapat digambarkan tahapan proses penyamakan secara keseluruhan. Sedangkan proses BHO sendiri merupakan proses awal yang sangat menentukan hasil akhir kuaitas leather-nya karena banyak cacat dan defek yang dapat ditimbulkan saat proses apabila tidak dilakukan dengan cermat dan hati-hati.

Daftar IsiKata PengantarDaftar Isi

1.BHO

2.Struktur dan Komponen Kimia Kulit Mentah

3.Kualifikasi Kulit Mentah

4.Soaking

Tujuan

Bahan Kimia Yang digunakan

Prosesing5.Liming & Unhairing

Tujuan

Bahan Kimia Yang digunakan

Prosesing

6.Buang daging & Scudding & Spliting

7.Deliming & Bating

Tujuan

Bahan Kimia Yang digunakan

Prosesing

8.Pickling

Tujuan

Bahan Kimia Yang digunakan

Prosesing

1. BHO.

BHO singkatan dari Beam House Operation atau proses rumah basah yang mempunyai tujuan umum menghilangkan komponen yang tidak terpakai seperti bulu, lemak, protein tak pakai, kotoran, darah dll. Secara umum BHO meliputi proses Soaking ( perendaman ), Liming & Unhairing ( pengapuran & buang bulu ), Deliming & Bating ( buang kapur & bating ), Pickling ( pengasaman ). Skema proses BHO dapat dilihat dalam diagram dibawah ini.

Ganbar 1: Diagram Proses BHOYang perlu diperhatikan dalam setiap tahapan proses BHO berlangsung terjadi proses pembuangan komponen kulit yang tidak bermanfaat bagi kulit jadinya, sehingga buangan BHO merupakan campuran dari bahan kimia yang digunakan dan komponen kulit seperti bulu, lemak, daging, darah dll.

2. Struktur dan Komponen Kimia Kulit Mentah.Struktur kulit secara fisik merupakan jaringan ikat yang merupakan komponen mikro fibril, fibril, fibroblast yang membentuk jaringan kolagen dan elastin sebagai masa utama pembentuk kulit yang sangat rapat dan terstruktur seperti ayaman. Secara umum struktur kulit terdiri dari tiga lapisan : 1. Epidermis.

2. Dermis ( Corium )

3. Subcutis ( Hypodermis )

Gambar 2 : Struktur kulit dengan lapisan: 1. Epidermis ; 2 Dermis ; 3 Subcutis ; 4 Hair follicle ; 5 Sebaceous gland ;6 Sweat gland.

Dalam proses lapisan epidermis dan subcutis akan dihilangkan dan tinggal lapisan Dermis atau Corium yang merupakan true skin . Dermis (Corium).

Dermis (derm berarti skin/corium) membentuk batas yang jelas dengan epidermis (scarf skin) dan juga dengan subcutis (subcutaneous fatty tissue) yang lebih lunak dan banyak mengandung air. Gambar dibawah ini menunjukan adanya batas yang jelas antara dermis dan epidermis. Gambar 3: Dermis terdiri dari 1. Stratum papilare ;2. Basal membrane ;3. Basal Cells ;4. Epidermis

Dermis, disusun bahan seperti gel dan elastic, air dan terutama collagen. Melekat pada lapisan ini adalah struktur dan system atau organ seperti lymph channels, blood vessels, nerve fibers, dan muscle cells, tetapi yang uniq adalah terdapat pada dermis hair follicles, sebaceous glands, dan sweat glands. Dermis inilah yang nantinya menjadi leather.Secara kimiawi kulit sapi/kambing/domba mentah tersusun atas komponen sebagai berikut

Air = 65 %

Protein Fiber= 28-30 %

Protein Globular = 2-2,5 %

Keratin = 2-2,5 %

Mineral = 0,5 %

Lemak = 2-4 % (sapi); 2-10 %(kambing); 5-30% (domba) Substansi lain = 0-0,5%.Selama dalam proses semua komponen selain protein fiber, dalam hal ini kolagen, dihilangkan. Protein fiber juga merupakan penyusun utama lapisan dermis.

3.Kualifikasi Kulit Mentah

Pada awalnya kualifikasi kulit mentah berdasarkan pada kondisi kulit awetannya, apakah kering atau garaman, tetapi dalam berkembangannya kualifikasi juga ditambahkan atas dasar berat kulit (untuk sapi) atau ukuran panjang punggung kulit ( kambing domba ) mengingat kulit yang terlalu besar atau tua dengan luas kulit yang melebihi ukuran tidak dapat menghasilkan kualitas baik.a.Kualifikasi Cacat

Gambar 3 : Potongan kulitKualitas I: Cacat 0-5% dibagian kakiKualitas II: Cacat 6-10% dibagian kaki /perut

Kualitas III: Cacat 11-15% dibagian kaki/perut/kepalaKualitas IV:Cacat 16-20% dibagian kaki/perut/kepala/pinggulKualitas V: Cacat 20-25% termasuk punggungKualitas VI: Diatas 25 % merataAfkir/Reject: Tidak bisa dimanfaatkan untuk leather.Dalam situasi yang tertentu, jumlah kulit terbatas atau permintaan eksport tinggi tidak jarang kualitas I-IV menjadi satu harga bahkan terkadang pembelian dengan kualifikasi A, B, C dan afkir saja. Hal ini tergantung kondisi lapangan.

b.Kualifikasi Berat.

Kulifikasi berat umumnya hanya untuk kulit sapi. Di Indonesia kulit sapi terutama berasal dari sapi turunan Onggole atau Zebu berpunuk yang menghasilkan kulit yang sangat berkulitas karena ringa, tipis dan grainnya halus. Ukuran berat kulit 20-25 kg adalah yang mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan dengan kulit berat 26-30 kg. Untuk ukuran diatas 30 kg harga relative lebih rendah karena umumya merupakan peranakan sapi Mental atau Limousine dengan grain yang lebih kasar dan hasil rendemennya juga lebih rendah. Sapi jawa dengaan berat 20-25 kg mempunyai rendemen = 1,8-1,85 sqft/ 1kg. Diatasnya 26-30 kg antara 1,7-1,75 sgft. Untuk kelas 30 kg keatas rendemen 1,5-1,6 sqft. Semakin tinggi rendemennya perusahaan akan membeli dengan harga yang lebih baik.c.Kualifikasi Ukuran.

Kulifikasi ukuran umumnya untuk kulit kecil ( skin ) domba dan kambing. Berkembangan ini disebabkan munculnya permintaan jenis kulit yang bervariasi dari sarun tangan, garmen, suede garmen, atasan sepatu yang umumnya mempunyai prasyarat ukuran dan tebal kulit tertentu untuk mendapatkan hasil kualitas atau efisiensi penggunaan yang lebih baik. Dibawah ini ukuran kulit kambing dan domba diIndonesia yang diadopsi secara International

Sebagai catatan penting untuk diketahui tidak semua kulit domba atau kambing dapat digunakan untuk kulit sarung tangan atau atasan sepatu atau garmen, karena kulit sarung tangan tidak memerlukan ketebalan seperti sepatu atau garmen sehingga dicari bahan baku yang benar memang tipis dari asalnya untuk mendapatkan hasil kulit terbaik. Demikian pula sebaliknya kul;it sepatu tidak mungkin dibuat dari kulit tipis karena memerlukan ketebalan yang lebih dari sarung tangan.1. Ukuran panjang garis punggung kurang dr 70 cm (3-4 sqft) digunakan untuk atasan sepatu

2. Ukuran garis punggung antara 70-79 cm (5-5,5 sqft) digunakan untuk sarung tangan golf.3. Ukuran garis punggung 90-99 cm (6-7 sqft) digunakan untuk bating glove dan garmen.

4. Ukuran garis punggung 90 cm keatas (7,5-9 sqft) biasanya untuk kulit lapis atau suede garmen kualitas rendah.

4.Soaking

Soaking atau perendaman merupakan proses awal dalam penyamakan. Namun demikian tidak jarang sebelum proses perendaman dilakukan pencucian terlebih dahulu untuk sekedar membersihkan kotoran, garam, bahan pengawet atau bahan lain yang digunakan selama masa pengawetan.

a.Tujuan.

Mengembalikan kadar air dalam kulit yang hilang atau berkurang selama masa pengawetan sehingga serat akan kembali longgar dan mencapai kelemasan seperti kulit segar.

b. Bahan kimia yang digunakan.

- Surfaktan atau wetting agent ( bahan pembasah ), bahan ini digunakan agar air lebih cepat masuk kedalam kulit. Bahan pembasah ini satu kelompok dengan jenis sampo atau sabun cair dan umumnya yang digunakan tidak bermutan (non ionic) atau bermutan negativ (anionic). Jumlah penggunaan 0,75%-1,2 % dihitung dari berat kulit awetannya.- Alkali atau bahan yang bersifat alkali / basa. Bahan digunakan untuk mengatur pH larutan perendaman agar mencapai pH 10-11. Biasanya yang digunakan adalah soda api (NaOH) atau soda ash (Na2CO3). Penggunaannya Na(OH) antara 0,2% -0,3% terhitung dari berat kulit awetan.- Biocide atau bakterisida yang digunakan untuk mencegah tumbuhnya bakteri pembusuk selama masa perendaman dalam air. Ini sangat penting mengingat kulit adalah protein yang sangat mudah busuk, dan apabila mengalami pembusukan maka kulit akan rusak bahkan mungkin hancur membusuk. Beberapa biosida yang umum antara lain kaporit CaOCl atau NaOCl digunakan 0,5%-1,0%. Biosida organic antara lain Methylene- bisthiocyanate (MBT); 2-Bromo-2-nitro-propane1,3 diol (Bronopol); Sodium atau Kalium dimethyldithiocarbamate ; Thiadiazine dll. Sedangkan produk paten dapat dijumpai Molescal BW, Molescal S dari BASF dan masih bayak lainnya. Penggunaannya antara 0,01-0,02 %.- Enzym. Pengembangan terakhir adalah penggunaan enzyme untuk