BAB III PERUMUSAN OBJEK PENELITIAN 3.1 Struktur …thesis.binus.ac.id/doc/bab3/2011-2-00409-mc...

of 26/26
42 BAB III PERUMUSAN OBJEK PENELITIAN 3.1 Struktur Organisasi Perusahaan 3.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan Agung Sedayu berawal dari sebuah perusahaan kontraktor rumah pertokoan sederhana yang didirikan pada pertengahan tahun 1970. Selama 10 tahun pertama. Agung Sedayu bekerja keras untuk membangun kepercayaan investor maupun customer dan meningkatkan kerja sama dengan partner terkemuka di Indonesia. Pada tahun 1991, Agung Sedayu memulai langkah besar dengan membangun Harco Mangga Dua yang merupakan sebuah mal yang telah dirancang khusus menyediakan barang-barang elektronik pertama di Jakarta. Harco Mangga Dua yang masih menjadi pusat perbelanjaan elektronik teramai hingga saat ini membuktikan kepiawaian langkah yang diambil Agung Sedayu meskipun perusahaan ini pada saat itu bukan sebuah perusahaan properti dengan nama yang tenar. Tingginya peminat terhadap pembangunan Harco Mangga Dua membuat Agung Sedayu terpicu untuk bertindak lagi dalam membangun hunian-hunian kompleks komersil serperti Taman Palem yang dibangun di atas tanah seluas 1500 hektar. Proyek Taman Palem ini adalah salah satu proyek mega yang dirancang Agung Sedayu.
  • date post

    30-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    212
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB III PERUMUSAN OBJEK PENELITIAN 3.1 Struktur …thesis.binus.ac.id/doc/bab3/2011-2-00409-mc...

42

BAB III

PERUMUSAN OBJEK PENELITIAN

3.1 Struktur Organisasi Perusahaan

3.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan

Agung Sedayu berawal dari sebuah perusahaan kontraktor rumah pertokoan

sederhana yang didirikan pada pertengahan tahun 1970. Selama 10 tahun pertama.

Agung Sedayu bekerja keras untuk membangun kepercayaan investor maupun

customer dan meningkatkan kerja sama dengan partner terkemuka di Indonesia. Pada

tahun 1991, Agung Sedayu memulai langkah besar dengan membangun Harco

Mangga Dua yang merupakan sebuah mal yang telah dirancang khusus menyediakan

barang-barang elektronik pertama di Jakarta.

Harco Mangga Dua yang masih menjadi pusat perbelanjaan elektronik teramai

hingga saat ini membuktikan kepiawaian langkah yang diambil Agung Sedayu

meskipun perusahaan ini pada saat itu bukan sebuah perusahaan properti dengan

nama yang tenar.

Tingginya peminat terhadap pembangunan Harco Mangga Dua membuat

Agung Sedayu terpicu untuk bertindak lagi dalam membangun hunian-hunian

kompleks komersil serperti Taman Palem yang dibangun di atas tanah seluas 1500

hektar. Proyek Taman Palem ini adalah salah satu proyek mega yang dirancang

Agung Sedayu.

43

Dalam proyek Taman Palem, untuk kedua kalinya Agung Sedayu terlihat

berhasil meramaikan suatu tempat hunian yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh

orang-orang sekitar akan menjadi pusat ekonomi dan bisnis nantinya. Hadirnya

Taman Palem di wilayah Jakarta Barat membuat nama pengusaha properti Agung

Sedayu mulai dikenal masyarakat luas secara umum hingga ketika berhasil melewati

masa krisis moneter di Asia termasuk Indonesia di awal tahun 2000, Agung Sedayu

kemudian kembali membangun beberapa mega proyek lainnya di Jakarta seperti

Mangga Dua Square dan Kelapa Gading Square.

Hingga saat ini sudah lebih dari 30 proyek perumahan yang menjadi hasil karya

Agung Sedayu dan tercatat tidak satupun proyek tersebut yang gagal di pasaran atau

terdengar komplain yang berarti tentang kekecewaan customer Agung Sedayu akan

produk yang telah mereka beli dari Agung Sedayu.

3.1.2 Visi dan Misi Perusahaan

Bisnis properti yang sempat mengalami kemunduran pada tahun 1998

menyebabkan banyaknya perusahaan properti yang runtuh, mereka tidak dapat

survive karena rendahnya minat masyarakat dalam kepemilikan rumah akibat

kekisruhan dalam negeri dan ekonomi yang terus menerus tidak stabil pada masa orde

lama.

Setelah berhasil bertahan dalam krisis, Agung Sedayu mendapat kesempatan

emas untuk memenuhi kebutuhan perumahan di masyarakat yang terus meningkat

sejak awal 2002 hingga sekarang. Keberhasilan lolos dari krisis inilah yang membuat

Agung Sedayu menetapkan visi dan misi baru dalam perusahaannya.

44

Visi dari Agung Sedayu adalah untuk menjadi market leader dalam bisnis

properti saat ini dan di masa mendatang. Dengan misi menjadi properti developer

yang menyediakan produk berkualitas terbaik, menjunjung tinggi ketepatan waktu

dengan memberikan biaya yang efektif.

3.1.3 Logo Perusahaan

Logo perusahaan Agung Sedayu Group berbentuk lingkaran dengan dasar

berwarna biru dan terdapat garis-garis yang membentuk lingkaran serta tulisan ASG

berwarna putih. Dengan tulisan yang berjajar disamping lingkaran yakni Agung

Sedayu Group berwarna biru tua.

Gambar 3.1 Logo Perusahaan Agung Sedayu Group

Lingkaran yang digunakan sebagai logo Agung Sedayu menggambarkan dunia

yang berbentuk menyerupai bola (lingkaran) dengan harapan Agung Sedayu dapat

memberi kontribusi yang besar dalam hal pembangunan untuk dunia khususnya

Indonesia dan individu yang ada didalamnya.

Warna biru tua yang digunakan sebagai warna perusahaan dan warna dasar dari

logo Agung Sedayu menggambarkan langit biru tempat di mana Agung Sedayu selalu

mengembangkan proyek hunian yang dibangun tepat di bawah kaki langit. Warna

biru tua yang dipilih di atas biru muda menggambarkan pengalaman Agung Sedayu

LingkarandangarisputihASG

Namaperusahaanberwarnabirutua

Warnadasarlingkaranbirutua

45

yang tidak lagi sedikit atau muda, biru tua mencerminkan pengalaman Agung Sedayu

dalam bisnis properti yang sudah mendalam dan dipercaya dalam berbagai lapisan

masyarakat.

Tulisan ASG berwarna putih memperlihatkan huruf AS dibentuk lebih kecil

(masing-masing mendapat seperempat bagian) dan huruf G(Group) yang berwujud

lebih besar (menduduki setengah bagian) menggambarkan Agung Sedayu adalah

perusahaan yang menjunjung tinggi kerja sama tim dalam berbagai kegiatannya.

Mulai dari pembangunan, perekrutan karyawan hingga proses penjualan, semua

dilakukan bersama-sama dengan tim, dan kegiatan dalam tim-lah yang akan

membentuk kreativitas masing-masing individu di dalamnya.

Tulisan Agung Sedayu Group berwarna biru yang terdapat di samping logo

Agung Sedayu bermakna mengingatkan publik bahwa logo berwarna biru tua dengan

garis putih adalah milik Agung Sedayu Group dan sekaligus mengingatkan publik

tentang keberadaan perusahaan sebagai pengembang properti terpercaya yang dapat

mereka temukan reklame dengan lambang Agung Sedayu diruas-ruas jalan besar di

ibukota.

46

3.1.4 Puri Mansion

Gambar 3.2 Logo Puri Mansion

Puri Mansion adalah salah satu proyek Agung Sedayu yang berlokasi di Jakarta

Barat tepatnya di Jalan Outer Ring Road Cengkareng. Proyek ini dibangun diatas

lahan seluas 25 hektar dengan jumlah bangunan sebanyak kurang lebih 1000 unit.

Proyek Puri Mansion telah dibuka selama 3 tahun dan penjualannya telah mencapai

lebih dari 80% atau tersisa hanya sebanyak 180 unit dan dengan jumlah rukan

(rumah kantor) sebanyak 115 unit yang telah terjual habis.

Gambar 3.3 Denah Puri Mansion

47

Akses menuju Puri Mansion terbagi menjadi 5 akses utama yaitu dari tol dari

dan menuju arah Pondok Indah, tol dari dan menuju arah Tangerang, tol dari dan

menuju arah Sudirman (Kota), Akses Jakarta Outer Ring Road, dan terakhir adalah

akses dari dan menuju Arah Bandara.

Pintu masuk menuju komplek Puri Mansion dibagi menjadi dua yaitu pintu

gerbang timur yang menghadap Jalan Kembangan Selatan dan gerbang selatan yang

menghadap Jalan Puri Kembangan.

Gambar 3.4 Lokasi Menuju Puri Mansion

Proyek pembangunan hunian di Puri Mansion dibagi dalam empat tahap,

dimana tahap pertama adalah pembangunan di Jalan Buckingham Raya dan Jalan

Edinburgh yang terbagi menjadi tiga belas tipe rumah yaitu :

1. Tipe Vegas (10x20) dengan luas tanah 200 m

2. Tipe Florida (8x20) dengan luas tanah 160 m

3. Tipe New Bougenville (8x15) dengan luas tanah 120 m

48

4. Tipe New Amarylis (10x20) dengan luas tanah 200 m

5. Tipe Bloomingdale (8x15) dengan luas tanah 120 m

6. Tipe Baltimore (10x20) dengan luas tanah 200 m

7. Tipe California (6x15) dengan luas tanah 90 m

8. Tipe Philadelphia (8x15) dengan luas tanah 120 m

9. Tipe Chrysant (6x15) dengan laus tanah 90 m

10. Tipe Bougenville (8x15) dengan luas tanah 120 m

11. Tipe Jasmine (8x15) dengan luas tanah 120 m

12. Tipe Bloomingdale (8x15) dengan luas tanah 120 m

13. Tipe Catalya (6x15) dengan luas tanah 90 m

Tahap kedua pembangunan dilaksanakan di Jalan Hawaii yang terbagi menjadi

enam tipe rumah yaitu:

1. Tipe Vegas (10x20) dengan luas tanah 200 m

2. Tipe Catalya (6x15) dengan luas tanah 90 m

3. Tipe Topaz (4x15) dengan luas tanah 60 m

4. Tipe Hawaii (10x15) dengan luas tanah 150 m

5. Tipe New Hawaii (10x15) dengan luas tanah 150 m

6. Tipe Miami (8x17) dengan luas tanah 136 m

Tahap ketiga pembangunan dilaksanakan di Jalan Atlanta 1-3 yang terbagi

menjadi enam sampai tujuh tipe rumah yaitu:

1. Tipe Celtic (6x15) dengan luas tanah 90 m

2. Tipe Vienna (6x15) dengan luas tanah 90 m

49

3. Tipe Everton (8x15) dengan luas tanah 120 m

4. Type New Everton (8x15) dengan luas tanah 120 m

5. Beberapa tipe Hoek.

Gambar 3.5 Denah Rumah Tipe Celtic (3x15)

Cluster terakhir yaitu cluster Atlanta yang dibangung di Jalan Atlanta 3 hingga

Jalan Atlanta 6 masih merupakan future development yang akan diselesaikan pada

tahun 2012 dan serah terima berkas serta kunci pada akhir tahun 2012 dan paling

terlambat awal tahun 2013.

Hunian di Puri Mansion menggunakan konsep hijau dengan pengadaan super

fasilitas seluas 3 hektar yang meliputi 7 zona rekreasi dan jogging track sepanjang

dua kilometer tanpa terputus. 7 zona rekreasi Puri Mansion meliputi:

50

1. The Splash

The Splash merupakan zona rekreasi pertama yang ditawarkan Agung Sedayu

melalui proyek Puri Mansion, fasilitas yang disediakan dalam zona rekreasi

The Splash antara lain: Taman bermain anak, kolam renang ukuran anak,

paviliun, multifunction plaza, dan lintasan jogging.

2. The Lagoon

The Lagoon merupakan zona rekreasi yang proses pembangunannya dilakukan

setelah The Splash, hiburan yang terdapat dalam zona rekreasi kedua ini antara

lain: Tempat bersantai di pinggir danau, sebuah danau buatan, area bermain

putting golf, dan lintasan jogging.

3. The Court

The Court merupakan pusat kebugaran bagi mereka yang menyukai olahraga,

fasilitas yang ditawarkan di tempat ini antara lain: Lapangan basket, lapangan

tennis, lapangan futsal, dan lintasan jogging.

4. The Club

The Club merupakan pusat kebugaran sekaligus kesehatan, fasilitas yang

disediakan di The Club antara lain: Taman bermain anak, pusat gimnastik,

kolam renang ukuran semi olimpiade dan lintasan jogging.

5. The Healthy and Fresh

The Healthy and Fresh menawarkan kolam pancing, jalur refleksi, paviliun

dan lintasan Jogging.

51

6. Garden Walk

Garden Walk merupakan zona rekreasi yang terletak paling dekat dengan

hunian keluarga, letaknya tepat berada di Jalan Edinburgh III, fasilitas yang

ada pada zona rekreasi mini ini antara lain: Kolam renang anak dan paviliun.

7. The Forest

The Forest merupakan zona rekreasi yang tidak terlalu besar namun cukup

untuk menampung lebih dari 60 orang di dalamnya, fasilitas yang ditawarkan

dalam zona ini antara lain: Reflexiology, mini outbond, barbeque area, dan

lintasan jogging.

52

3.1.5 Struktur Organisasi Proyek Puri Mansion

Gambar 3.6 Struktur Organisasi Puri Mansion

Suatu organisasi pada umumnya harus mempunyai struktur organisasi yang

berisikan sumber daya manusia yang tepat di dalam jabatannya sehingga dapat

memberikan kemaksimalan dalam setiap pekerjaan yang dilakukan struktur tersebut

dalam menunjang tujuan utama perusahaan.

Saat ini struktur perusahaan Agung Sedayu pada proyek Puri Mansion

dipimpin langsung oleh seorang General Manager Marketing yaitu Arifin yang

sekaligus adalah GM marketing proyek Agung Sedayu yang lainnya yang berdekatan

dengan Puri Mansion yakni Green Lake City. Di bawah GM marketing Arifin

GM MarketingArifin

Sales ManagerJimmy Hermanto

Sales Supervisor

- Vacant -

Sales Admin SupervisorFerry Susilo

Sales ExecutiveBurhan

Chandra Wijaya-

Charles HambaliDeddy SugiantoDeni Sopiana M

Edry Rizqie AdamEdy SusantoElliot LenardoElton HerlowEvi SusantiFera Yulinar

Friska Tarida M HutabaratIndra Prio Hartono

JacksonJocelyn VeronicaMarina Mariana

Novi Olivia

-

SuryadiiWawan Hermanto

Sales AdminHelmi Affandi

Lia Minata

OperatorKori Pelawi

Marketing SupportGracia Stefani

Office Boy-

Faturrahman-Andri Purnomo

DriverDino

Admin StaffMia Mayasari

53

terdapat Sales Manager yaitu Jimmy Hermanto yang turun langsung ke lapangan

untuk memantau pekerjaan anak buah dan memberi motivasi atau dukungan bagi

marketing-marketing di bawahnya untuk mengajak mereka bekerja sebagai satu tim.

3.2 Prosedur yang Berlaku

Dalam pengadaan event gathering yang diselenggarakan setiap hari Minggu di

kantor pemasaran Puri Mansion yang berlokasi di Jalan Lingkar Luar Barat

Kembangan Selatan. Event gathering dilakukan dengan persiapan pengundangan

konsumen yang dimulai dari hari Senin hingga Sabtu. Model pengundangan

dilakukan melalui telepon, ajakan, iklan, maupun undangan melalui brosur.

Setiap awal pekan, kantor pusat Agung Sedayu Group akan mencetak sebanyak

500 brosur untuk tiap marketing executive Puri Mansion yang berjumlah 18 orang.

Brosur yang tercetak harus disebar/dibagikan paling lambat hari Jumat atau 4 hari

setelah pencetakan. Penyebaran Brosur dilakukan secara acak, tergantung di mana

lokasi yang menjadi target masing-masing marketing executive Puri Mansion.

Pengunjung yang hadir dalam event gathering bukan hanya orang-orang yang

sebelumnya belum pernah datang, tetapi banyak juga pengunjung yang merupakan

customer langganan yang sudah datang berkali-kali dan mereka datang kembali untuk

sekedar beramah-tamah dengan marketing executive yang pernah melayani mereka

dalam pembelian produk Agung Sedayu sebelumnya.

Kerja sama katering, setiap minggunya sudah diatur oleh kantor pusat Agung

Sedayu. Setiap minggunya Agung Sedayu menggandeng katering yang berbeda

54

berturut-turut selama 2 bulan pelaksanaan. Beberapa katering yang digandeng Agung

Sedayu contohnya : Bread talk, Beard papa, Haggen Dazs, Apollo, Shinlin, J.co

Donuts, Dim Sum, dan sebagainya.

Gambar 3.7 Brosur undangan event gathering

3.3 Metode Penelitian dan Pengumpulan Data

3.3.1 Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek dan subjek yang

mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik suatu kesimpulannya (Ruslan, 2003:133). Populasi

juga berarti jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh customer yang Agung Sedayu dari

berbagai wilayah yang menghadiri event yang berlangsung pada hari minggu.

55

Jumlah populasi customer Agung Sedayu proyek Puri Mansion yang

menghadiri event gathering setiap minggunya kurang lebih 5-10 orang selama dua

bulan penelitian yakni Maret-April 2011 (delapan minggu), jumlah populasi yang

terhitung adalah 45 orang.

Sampel menurut Joko Sulistyo (2010:23) adalah sebagian angota populasi yang

diambil menurut prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya. Pengertian

dasar dari penarikan sampel adalah kita dapat memperoleh informasi yang mendalam,

terperinci, dan efisien dari suatu agregat atau kumpulan orang, rumah tangga atau

lembaga-lembaga, atau satuan-satuan lain yang sangat besar jumlahnya daripada

hanya sebagian contoh atau sampel yang dikumpulkan secara hati-hati dan terperinci.

3.3.2 Teknik Penarikan Sampel

Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

probability sampling. Menurut Joko Sulistyo (2010:23) teknik probability sampling

adalah teknik pernarikan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap

unsur (sampling element) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.

Pada penelitian ini, sampel diambil dengan menggunakan teknik stratified

random sampling. Untuk dapat menggambarkan secara tepat mengenai sifat-sifat

populasi yang heterogen, maka populasi yang bersangkutan harus dibagi-bagi dalam

lapisan-lapisan (strata) yang seragam, dan dari setiap lapisan dapat diambil sampel

secara acak. Dalam sampel berlapis, peluang untuk terpilih antara satu strata dengan

yang lain mungkin sama, mungkin pula berbeda.

Populasi yang distratifikasikan bisa berdasarkan geografi, usia, pekerjaan,

pendidikan, dan lain-lain. Hal penting dan diingat adalah unsur-unsur sampel dalam

stratum ditentukan secara random. Jadi, setelah populasi dibagi ke dalam subpopulasi,

56

maka dibuatlah kerangka sampling untuk masing-masing subpopulasi. Kemudian

sampel diambil secara acak. Dengan menggunakan teknik ini, berarti semua lapisan

dapat terwakili.

Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah pria dan wanita yang berusia 21-70

tahun yang menjadi customer Agung Sedayu. Kriteria usia tersebut sesuai dengan

target market Agung Sedayu yang merupakan usia produktif yang juga dianggap

dapat memahami pernyataan-pernyataan yang diajukan peneliti dan mampu

memberikan jawaban berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang memadai

terkait Agung Sedayu. Jumlah sampel yang diambil oleh peneliti adalah sebanyak 40

responden. Penarikan sampel sebanyak 40 didasarkan pada buku SPSS 17 karangan

Joko Sulistyo (2010).

3.3.3 Metode Analisis Data

a. Analisis Bivariat

Analisis data bivariat akan menggunakan Pearsons Correlation. Korelasi

Pearson digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel

event gathering pada variabel citra perusahaan. Jika hasil penelitian

menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara dampak variabel event

gathering dengan variabel citra perusahaan, maka akan terlihat pula bagaimana

kekuatan hubungan antara variabel-variabel tersebut.

Nilai koefisien korelasi merupakan nilai yang digunakan untuk mengukur

kekuatan suatu hubungan antar variabel. Koefisien korelasi (r) digunakan untuk

menentukan arah hubungan dan kuat tidaknya hubungan antara variabel event

gathering dengan variabel citra perusahaan. Nilai koefeisien korelasi berkisar

57

antara -1 sampai +1, yang kriteria pemanfaatannya dijelaskan sebagai berikut

(Joko Sulistyo, 2010:102):

1. Jika, nilai r > 0, artinya telah terjadi hubungan linear positif, yaitu semakin

besar nilai variabel X (independen), semakin besar pula nilai Y (dependen)

atau sebaliknya, semakin kecil nilai variabel X, maka semakin kecil pula nilai

variabel Y.

2. Jika, nilai r < 0, artinya telah terjadi hubungan linear negatif, yaitu semakin

kecil nilai variabel X (independen), maka semakin besar nilai variabel Y

(dependen) atau sebaliknya, Semakin besar nilai variabel X, maka semakin

kecil pula nilai variabel Y.

3. Jika, nilai r = 0, artinya tidak ada hubungan sama sekali antara variabel X

(independen) dengan variabel Y (dependen).

4. Jika, nilai r = 1 atau r = -1 telah terjadi hubungan linear sempurna, sedangkan

untuk nilai r yang semakin mengarah ke 0 maka hubungan semakin melemah.

Untuk menilai r yang terletak antara -1 sampai +1, Guilford memberikan

batasan dalam menentukan kuat atau tidaknya korelasi antar variabel (Joko

Sulistyo, 2010:142). Batasan tersebut adalah:

58

Tabel 3.1 Batasan Korelasi Antar Variabel

Nilai Koefisien Korelasi (r) Kekuatan Hubungan

< 0,20 Hubungan rendah sekali

0,20 0,40 Hubungan rendah tapi pasti

0,40 0,70 Hubungan yang cukup berarti

0,70 0,90 Hubungan yang tinggi; kuat

< 0,90 Hubungan sangat tinggi; kuat sekali

b. Analisis Multivariat

Setelah dilakukan uji bivariat yang melihat hubungan dan pengaruh, urutan

pengujian atas penelitian ini dilanjutkan pada uji multivariat. Uji multivariat ini

berguna untuk melihat seberapa besar variabel independen mempengaruhi

variabel dependen.

Uji multivariat dilakukan dengan menggunakan metode regrasi sederhana,

yang mana memiliki tujuan sebagai berikut (Joko Sulistyo, 2010:146) :

1. Memprediksi besarnya variabel respons berdasarkan variabel prediktor

2. Menentukan bentuk hubungan antara kedua variabel

3. Menentukan korelasi antara keduanya

Melalui teknik regresi sederhana, nilai sebuah variabel dependen dapat

diprediksi berdasarkan nilai sebuah variabel independen. Peneliti dapat melihat

kekuatan hubungan antara variabel dependen dan independen.

Dalam penelitian ini, analisis regresi sederhana dilakukan terhadap variabel

event gathering hal ini bertujuan agar peneliti dapat melihat apakah ini memang

59

berpengaruh secara signifikan (nyata) terhadap variabel dependen citra

perusahaan. Selain itu, dari uji regresi sederhana akan terlihat pula seberapa besar

skor pengaruh sebuah variabel independen.

Hal pertama yang dilakukan adalah menghitung tiap indikator untuk

memperoleh nilai rata-ratanya. Kemudian dilakukan uji regresi sederhana. Proses

ini dilakukan untuk mengukur hubungan-hubungan antara sejumlah variabel di

dalam model hubungan penelitian. Agar hubungan tersebut dapat diukur, yang

harus diperhatikan adalah variabel tersebut haruslah berskala interval (likert).

Setelah dilakukan uji regresi sederhana, akan muncul tabel-tabel yang

memuat nilai-nilai yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel

independen dan dependen. Nilai-nilai tersebut meliputi:

1. Nilai R Square yang terdapat pada tabel Model Summary menunjukkan

persentase keragaman (variansi) yang dimiliki oleh variabel independen

terhadap variabel dependennya.

2. Nilai Beta () yang menunjukkan kontribusi pengaruh masing-masing

variabel independen terhadap variabel dependen.

3. Tanda (+) atau (-) yang menunjukkan arah korelasi kedua variabel tersebut.

Tanda (+) berarti positif atau berbanding lurus, sementara itu (-) berarti

negatif atau berbanding terbalik.

60

3.4 Permasalahan yang Ada

Event gathering merupakan salah satu bentuk promosi yang akan diadakan

secara terus menerus oleh Agung Sedayu Group dalam berbagai proyek

perusahaannya. Tujuan pengadaan event ini tidak semata-mata untuk meningkatkan

angka penjualan perusahaan namun juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk

meningkatkan citra perusahaan Agung Sedayu Group.

Biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan event ini juga tidak sedikit jumlahnya.

Setiap minggu perusahaan harus mencetak satu (1) rim paket brosur berisikan 2

lembar setiap brosur dengan 4 halaman penuh warna (full color) untuk masing-masing

marketing executive yang berjumlah 18 orang dengan banyak brosur kurang lebih

9000 lembar, apabila dirupiahkan, jumlah 9000 lembar brosur kurang lebih setara

dengan Rp 5.500.000,00/minggu. Selain itu perusahaan harus menyediaan makanan

melalui kerja sama dengan berbagai perusahaan makanan terkemuka seperti

breadtalk, j.co, sushine dan sebagainya, adapun budget untuk event setiap minggunya

adalah Rp 5.000.000,00. Serta biaya penyewaan stand yang berlokasi di Taman

Anggrek disetiap minggu ke empat setiap bulannya menelan biaya Rp 50.000.000,00.

Ditambah lagi dengan biaya percetakan spanduk acara sebanyak 5 spanduk setiap

minggu untuk masing-masing proyek yang benilai sekitar Rp 800.000,00

Dilihat dari keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan Agung Sedayu Group

untuk tiap proyek, khususnya Puri Mansion dalam penelitian ini, event yang diadakan

setiap minggu menelan biaya kurang lebih Rp 145.200.000,00/bulan. Biaya tersebut

61

bukanlah jumlah yang sedikit apabila perusahaan tidak mendapatkan sesuatu sebagai

imbalan bagi event yang telah diselenggarakannya ini.

Untuk itu, penelitian ini diadakan untuk menguji bagaimana dampak event

gathering mingguan ini terhadap citra perusahaan. Penelitian ini mengukur dampak

event tidak dari tingkat penjualan yang berhasil dilakukan marketing executive proyek

Puri Mansion tapi lebih menitikberatkan pada pembentukan citra perusahaan selama

event gathering berlangsung.

3.5 Alternatif Pemecahan Masalah

Melalui penelitian yang bertujuan mencari dampak pengadaan event gathering

pada citra perusahaan ini. Peneliti membuat kuesioner yang kemudian dibagikan

kepada 40 orang responden secara acak. Responden merupakan orang-

orang/konsumen yang menghadiri event gathering di kantor pemasaran Puri Mansion

selama masa penelitian yaitu periode Maret-April 2011.

Kuesioner yang dibuat per-indikator berdasarkan dimensi-dimensi dalam tiap

variabel sesuai dengan teorinya masing-masing merupakan pernyataan-pernyataan

yang diharapkan peneliti dapat berfungsi untuk mengukur kaitan atau hubungan

variabel dependen dengan variabel independen secara tepat.

62

Dimensi dalam tiap indikator dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.2 Indikator Dalam Variabel

Variabel Dimensi Indikator Skala

Event

gathering

Who 1. Mengetahui nama perusahaan yaitu PT AGUNG SEDAYU

GROUP

2. Mengetahui proyek Agung Sedayu Group selain Puri Mansion

3. Mengetahui katering/hidangan yang disajikan dalam

pelaksanaan event gathering

4. Mengetahui peserta dalam event adalah karyawan Agung

Sedayu proyek Puri Mansion

5. Mengetahui bahwa pengunjung event adalah customer Agung

Sedayu

Likert

What 6. Mengatahui adanya pelaksanaan event dari brosur/undangan

7. Pelaksanaan event memberi kemudahan bagi customer dalam

melakukan negosiasi

8. Pelaksanaan event gathering berlangsung santai dan menarik

63

9. Fasilitas yang mendukung pelaksanaan event cukup lengkap

When 10. Pelaksanaan event gathering sangat tepat dilakukan pada hari

Minggu

11. Waktu pelaksanaan mulai pukul 08.00 hingga 20.00 sangat

fleksibel

12. Customer dapat menghadiri event yang dilaksanakan pada hari

Minggu tanpa mengganggu pekerjaan mereka

Why 13. Agung Sedayu merupakan perusahaan yang dapat dipercaya

karena pengalamannya

14. Dalam mempromosikan produknya, Agung Sedayu memiliki

media yang beragam

15. Agung Sedayu selalu menghadirkan sebuah hunian yang

berkelas

16. Agung Sedayu selalu bekerja sama dengan katering yang

menarik

64

Where 17. U-turn yang baru dibangun tepat di depan perumahan Agung

Sedayu memudahkan akses menuju Puri Mansion

18. Kantor marketing Puri Mansion mudah dijangkau

19. Letak kantor marketing Puri Mansion strategis

20. Parkiran di kantor marketing dan rukan Puri Mansion sangat

luas

21. Disain interior kantor marketing sekaligus tempat pengadaan

event terasa nyaman

Citra

perusahaan

Dinamis 1. Agung Sedayu selalu menjadi pelopor dalam mengembangkan

hunian yang modern

2. Agung Sedayu dapat menarik khalayak dengan produk yang

dibawakannya

3. Agung Sedayu memiliki perencanaan yang baik dalam

mengembangkan suatu produk

Likert

Bekerja

sama

4. Agung Sedayu selalu memberi perlakuan yang baik kepada tiap

konsumennya

65

5. Agung Sedayu selalu menjaga hubungan baik perusahaan

dengan kustomer melalui karyawannya

6. Agung Sedayu akan cepat tanggap dalam menghadapi komplain

yang datang dari konsumennya

7. Agung Sedayu selalu mencarikan solusi terbaik perihal

pengkreditan rumah

Bisnis 8. Agung Sedayu selalu mendatangkan konsep hunian yang

istimewa

9. Agung Sedayu pandai dalam memilih lokasi pembangunan

perumahan komersil

10. Produk Agung Sedayu selalu laku dalam pasaran

11. Agung Sedayu merupakan salah satu developer yang dapat

menjawab kebutuhan perumahan di Jakarta dan sekirarnya

12. Proyek Agung Sedayu tidak perlu diragukan pengembangannya

di masa mendatang

Karakter 13. Agung Sedayu Group merupakan perusahaan dengan reputasi

66

yang baik

14. Produk Agung Sedayu tergolong produk yang mahal di

kelasnya

15. Agung Sedayu tidak pernah terlambat dalam memenuhi

janjinya

16. Agung Sedayu merupakan developer terdepan, terkemuka dan

terpercaya

67