BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.pdfMenurut Anthony dan Govindarajan (2005) dalam...

download BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.pdfMenurut Anthony dan Govindarajan (2005) dalam Budiasih

of 26

  • date post

    14-Aug-2019
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.pdfMenurut Anthony dan Govindarajan (2005) dalam...

  • 13

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS

    Bab ini menguraikan mengenai kajian pustaka dan pengembangan

    hipotesis. Bab ini terdiri atas dua bagian utama, yaitu sub bab 2.1 menguraikan

    mengenai landasan teori dan sub bab 2.2 menguraikan mengenai pengembangan

    hipotesis.

    2.1 Landasan Teori

    Secara terperinci sub bab 2.1 menguraikan mengenai teori keagenan, teori

    akuntansi positif, asimetri informasi, laba, manajemen laba, income smoothing,

    cash holding, bonus plan, reputasi auditor, profitabilitas, dan leverage.

    2.1.1 Agency theory

    Teori agensi merupakan teori yang sangat berkaitan dengan tindakan

    manajemen laba atau praktik perataan laba yang dilakukan oleh perusahaan.

    Menurut Anthony dan Govindarajan (2005) dalam Budiasih (2009), teori agensi

    adalah hubungan atau kontrak antara principal dan agent. Agency theory tidak

    dapat dilepaskan dari kedua belah pihak, baik prinsipal maupun agen merupakan

    pelaku utama dan keduanya mempunyai bargaining position masing-masing

    dalam menempatkan posisi, peran dan kedudukannya. Prinsipal sebagai pemilik

    modal memiliki akses pada informasi internal perusahaan sedangkan agen sebagai

    pelaku dalam praktik operasional perusahaan mempunyai informasi tentang

    operasi dan kinerja perusahaan secara riil dan menyeluruh.

  • 14

    Eisenhardt (1989) dalam Ujiyantho dan Pramuka (2007) menyatakan

    bahwa teori agensi menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu: (1) manusia

    pada umumya mementingkan diri sendiri (self interest), (2) manusia memiliki

    daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan

    (3) manusia selalu menghindari risiko (risk averse). Dari asumsi sifat dasar

    manusia tersebut dapat dilihat bahwa konflik agensi yang sering terjadi antara

    manajer dengan pemegang saham dipicu adanya sifat dasar tersebut.

    Teori keagenan menjelaskan hubungan antara dua pihak yang terlibat

    dalam suatu kontrak yang terdiri atas agen sebagai pihak yang diberikan tanggung

    jawab untuk suatu tugas dan prinsipal sebagai pihak yang memberi tugas. Kondisi

    ini mengandung konsekuensi bahwa kedua belah pihak, baik agen maupun

    prinsipal, akan berusaha untuk memaksimalkan utilitasnya masing-masing (Jensen

    & Meckling, 1976).

    Dalam kaitannya dengan keagenan, manajemen memiliki lebih banyak

    informasi internal perusahaan dibandingkan dengan prinsipal, sehingga

    memungkinkan agen untuk memaksimalkan pemenuhan kepentingan pribadinya

    dengan cara ilegal yaitu moral hazard dan adverse selection (Hendrikson dan

    Breda, 2000 dalam Prasetya, 2013). Moral hazard dapat disebut juga sebagai

    perilaku menyimpang dari kontrak kerja, sedangkan adverse selection dapat

    disebut juga sebagai penyimpangan dari penggunaan informasi sesuai yang

    dikehendaki prinsipal. Informasi akuntansi yang digunakan prinsipal sebagai

    acuan untuk mengukur kinerja manajer dan juga sebagai dasar pemberian reward

    membuat timbulnya disfunctional behavior dikalangan manajer dan cenderung

  • 15

    melakukan perataan laba dengan memanipulasi informasi sedemikian rupa agar

    kinerja manajer terlihat bagus.

    Konsep teori keagenan menyatakan bahwa praktik manajemen laba

    dipengaruhi oleh konflik kepentingan antara manajemen dan pemilik yang timbul

    ketika setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat

    kemakmuran yang dikehendakinya. Dalam hubungan keagenan, manajer memiliki

    asimetri informasi terhadap pihak eksternal perusahaan, seperti kreditor dan

    investor. Dengan adanya asimetri informasi antara manajemen (agent) dengan

    pemilik (principal) akan memberi kesempatan kepada manajer untuk melakukan

    manajemen laba (earnings management) sehingga akan menyesatkan pemilik

    (pemegang saham) mengenai kinerja ekonomi perusahaan (Sulistiani, 2013).

    Dalam kondisi demikian, manajer dapat menggunakan informasi yang

    diketahuinya untuk memanipulasi pelaporan keuangan dalam usaha

    memaksimalkan kemakmurannya (Salno dan Baridwan, 2000).

    Pembahasan konsep perataan laba dapat dilakukan dengan menggunakan

    pendekatan teori keagenan (Salno dan Baridwan, 2000). Lambert (1984:165)

    dalam Dewi (2014) juga menggunakan teori keagenan untuk memperlihatkan

    adanya perjanjian kompensasi optimal yang ditawarkan prinsipal sehingga

    menimbulkan motivasi untuk melakukan income smoothing.

  • 16

    2.1.2 Teori akuntansi positif

    Teori akuntansi positif adalah teori yang memprediksi tindakan pemilihan

    kebijakan akuntansi oleh manajer dan bagaimana manajer akan merespon

    kebijakan akuntansi baru yang diusulkan (Scott, 2006). Watts dan Zimmerman

    (1986) merumuskan pemahaman tentang perataan laba (income smoothing) yang

    dirumuskan dalam Positive Accounting Theory (PAT), yaitu anggapan bahwa

    tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelaskan praktik-praktik akuntansi,

    diantaranya:

    1) The bonus plan hypothesis

    Pada perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus, manajer

    perusahaan akan lebih memilih metode akuntansi yang dapat menggeser

    laba dari masa depan ke masa kini sehingga dapat menaikkan laba masa

    kini.

    2) Debt convenant hypothesis

    Pada perusahan yang mempunyai debt to equity ratio tinggi, manajer

    perusahaan cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat

    meningkatkan pendapatan atau laba. Hal ini karena perusahaan dengan

    debt to equity ratio yang tinggi akan mengalami kesulitan dalam

    memperoleh dana tambahan dari pihak kreditur bahkan perusahaan

    terancam melanggar perjanjian utang.

    3) Political cost hypothesis

    Ketika perusahaan mengeluarkan biaya untuk kepentingan politik dengan

    jumlah yang besar, maka perusahaan tersebut akan cenderung

  • 17

    menggunakan metode akuntansi yang dapat membuat pelaporan laba pada

    periode berjalan lebih rendah daripada pelaporan laba sesungguhnya.

    Semakin besar perusahaan, maka biaya politik yang terjadi akan

    cenderung semakin besar pula.

    2.1.3 Asimetri informasi

    Para pengguna internal (para manajemen) mengetahui peristiwa-peristiwa

    yang terjadi pada perusahaan, sedangkan pihak eksternal yang tidak berada di

    perusahaan secara langsung, tidak mengetahui informasi tersebut sehingga tingkat

    ketergantungan manajemen terhadap informasi akuntansi tidak sebesar para

    pengguna eksternal. Salah satu kendala yang akan muncul antara agent dan

    principal adalah adanya asimetri informasi.

    Asimetri informasi adalah suatu keadaan dimana agent mempunyai

    informasi yang lebih banyak tentang perusahaan dan prospek dimasa yang akan

    datang dibandingkan dengan principal. Kondisi ini memberikan kesempatan

    kepada agent untuk menggunakan informasi yang diketahuinya dalam

    memanipulasi pelaporan keuangan.

    Astika (2011:4) menyatakan terdapat dua bentuk asimetri informasi, yaitu:

    1) Adverse selection, yaitu jenis asimetri informasi dimana salah satu pihak

    mempunyai informasi lebih dibanding dengan yang lainnya dalam suatu

    transaksi bisnis atau potensial transaksi.

    2) Moral hazard, yaitu tipe asimetri informasi yang menggambarkan satu atau

    lebih kelompok melakukan transaksi bisnis, serta pihak atau kelompok

  • 18

    tersebut dapat mengendalikan tindakan-tindakannya secara menyeluruh atas

    transaksi bisnis yang dilakukan, sedangkan kelompok lain tidak memiliki

    potensi tersebut.

    Schift dan Lewin (1970) dalam Ujiyanto dan Bambang (2007),

    menyatakan bahwa agent berada pada posisi yang memiliki lebih banyak

    informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja dan perusahaan secara

    keseluruhan dibandingkan dengan principal. Dengan asumsi bahwa individu-

    individu bertindak untuk memaksimalkan kepentingan diri sendiri, maka dengan

    informasi asimetri yang dimilikinya akan mendorong agent untuk

    menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui principal. Dengan

    adanya kondisi yang asimetri, maka agent dapat mempengaruhi angka-angka

    akuntansi yang disajikan dalam laporan keuangan dengan cara melakukan

    manajemen laba. Sehingga dalam kondisi semacam ini principal seringkali pada

    posisi yang tidak diuntungkan.

    2.1.4 Laba

    Laba sangat penting bagi suatu perusahaan, karena berhasil atau tidak

    suatu perusahaan pada umumnya diukur dengan laba yang diperoleh. Menurut

    Suwardjono (2008:464), laba dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan

    menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan

    diatas biaya. Menurut Soemarso (2004:245), laba adalah selisih lebih pendapatan

    atas beban sehubungan dengan usaha untuk memperoleh pendapatan tersebut

    selama periode tertentu. Dapat disimpulkan bahwa laba berasal dari semua

  • 19

    transaksi yang terjadi di perusahaan dan akan mempengaruhi kegiatan perusahaan

    pada suatu periode dan laba didapat dari selisih antara pendapatan dengan beban.

    Laba akuntansi (accounting income) didefinisikan sebagai perbedaan

    antara pendapatan yang direalisasi dari transaks