BAB I , II,III

download BAB I , II,III

of 35

  • date post

    27-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    48
  • download

    0

Embed Size (px)

description

PHBS di Instansi Kesehatan

Transcript of BAB I , II,III

24``

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangPembangunan dibidang kesehatan merupakan unsur yang sangat penting dalam pembangunan nasional karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia sehat, yaitu suatu keadaan dimana setiap orang hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Dinkes, 2009).Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran atas hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dilakukan melalui pendekatan tatanan yaitu: di rumah tangga, di sekolah, di tempat kerja, di institusi kesehatandan di tempat umum (Dinkes, 2009).Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Institusi kesehatanadalah upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan berperan aktif dalam mewujudkan institusi kesehatansehat dan mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan. Sedangkan institusi kesehatanadalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah, swasta, atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat seperti rumah sakit (Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI,2007).Data di seluruh dunia 10% (1,4 juta) pasien rawat inap di rumah sakit mengalami infeksi nosokomial setiap tahun, sedangkan di Amerika Serikat terdapat 20.000 kematian setiap tahun. Meski di Indonesia, data akurat tentang angka kejadian infeksi nosokomial di Rumah Sakit belum ada tetapi, kasus ini menjadi masalah serius. Berdasarkan data tahun 2004 Departemen Kesehatan, ternyata infeksi nosokomial merupakan salah satu penyumbang penyakit tertinggi. Persentase tingkat risiko terjangkitnya infeksi nosokomial pada Rumah Sakit Umum mencapai 93,4%, sedangkan Rumah Sakit Khusus hanya 6,6%. 1,6-80,8 % merupakan infeksi nosokomial pada penyakit saluran pencernaan.Infeksi nosokomial banyak terjadi di Rumah Sakit Pemerintah dengan jumlah 1527 pasien dari jumlah pasien beresiko 160.417 (55,1%). Sedangkan pada Rumah Sakit swasta jumlah infeksi nosokomial adalah 991 Pasien dari jumlah pasien beresiko 130.047 (35,8%) dan pada Rumah Sakit ABRI jumlah infeksi nosokomial 254 pasien dari jumlah pasien beresiko 1.672 (9,1%). Infeksi nosokomial persoalan serius yang bisa menyebabkan langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Kasus infeksi ini terjadi karena masih rendahnya standar pelayanan Rumah Sakit atau puskesmas (Kemenkes, 2011). Data survei Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Instansi Kesehatan setiap provinsi tahun 2004 menunjukkan masih di bawah 50% dari instansi kesehatan di provinsi yang sudah baik pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)(DepKes, 2004). Perlunya pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Sakit sangat diperlukan sebagai salah satu upaya untuk mencegah penularan penyakit dan mewujudkan instansi kesehatan sehat. Pengetahuan atau pemahaman perawat mengenai infeksi nosokomial berpengaruh terhadap reaksi respon dari perawat yang ditunjukan melalui perbuatan atau aktivitas nyata dari perawat di rumah sakit. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Saragih & Rumapea (2012) tentang Rumah Sakit Umum Daerah Badung Tahun 2013 menunjukkan adanya hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan melakukan cuci tangan petugas kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah Badung Tahun 2013 (p =0,02).Perawat merupakan tenaga yang berhubungan langsung dengan pasien selama 24 jam, sehinga diharapkan dapat mengaktualisasikan diri secara fisik, emosional, dan spiritual untuk merawat orang yang mengalami penyakit kritis. Apabila mutu pelayanan keperawatan yangdiberikan kepada pelanggan dibawah standar, akan mempengaruhi citra rumah sakit. Sehubungan dengan hal tersebut, sehingga praktikum ini dilakukan untuk mengetahui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada perawat di Rumah Sakit Margono Geriatri, Purwokerto. B. Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada praktikum ini adalahBagaimana gambaranPerilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Perawat di RS. Margono Geriatri, Puwokerto?.

C. Tujuan1. Tujuan UmumMengetahui Gambaran Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Perawat di RS. Margono Geriatri, Puwokerto.2. Tujuan Khususa. Mendeskripsikan karakteristik responden meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, penghasilan, jumlah anggota keluarga tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada perawat di RS. Margono Geriatri, Puwokerto.b. Mendeskripsikan pengetahuan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada perawat di RS. Margono Geriatri, Puwokerto.c. Mendeskripsikan sikaptentang PerilakuHidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada perawat di RS. Margono Geriatri, Puwokerto.d. Mendeskripsikan perilaku tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada perawat di RS. Margono Geriatri, Puwokerto.e. Mendeskripsikan ketersediaan fasilitastentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada perawat di RS. Margono Geriatri, Puwokerto.f. Mendeskripsikan mediatentang PerilakuHidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada perawat di RS. Margono Geriatri, Puwokerto.g. Mendeskripsikan persepsi kebijakan Rumah Sakittentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada perawat di RS. Margono Geriatri, Puwokerto.

D. Manfaat 1. Bagi Tenaga KesehatanSebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan untuk membiasakan PerilakuHidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan institusi kesehatan.2. Bagi Instisusi Kesehatan(RS. Margono Geriyatri, Purwokerto)Sebagai bahan masukan bagi RS. Margono Geriyatri, Purwokerto dalam melakukan evaluasi dan perbaikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan institusi kesehatan.3. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten BanyumasSebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas dalam pembuatan program-program untuk peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan institusi kesehatan.4. Bagi Jurusan Kesehatan MasyarakatSebagai tambahan referensi dan memperkaya pustaka terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan institusi kesehatan.5. Bagi PenelitiSebagai pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan institusi kesehatan.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Tatanan Institusi Kesehatan1. Definisi PHBS di Institusi KesehatanInstitusi kesehatanadalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/ swasta, atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik swasta. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di institusi kesehatanadalah upaya memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat sera berperan aktif dalam mewujudkan institusi kesehatansehat (Depkes RI, 2007).Menurut Farida (2008) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di institusi kesehatanadalah untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) bagi petugas kesehatan agar dapat melakukan pembinaan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di masyarakat, mampu membina masyarakat agar dapat menerapkan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS), termasuk mampu melakukan deteksi dini terhadap berbagai masalah kesehatan, mampu mengatasi, memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatan di wilyah kerjanya. Sedangkan menurut Kemenkes (2011) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di institusi kesehatanadalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan semua orang yang berada di institusi kesehatantermasuk pasien, petugas kesehatanserta siapapun yang berada dan memiliki kepentingan didalamnya mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Dengan demikian, Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) mencakup beratus-ratus bahkan mungkin beribu-ribu perilaku yang harus dipraktikkan dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.Pencegahan dan penanggulangan penyakit serta penyehatan lingkungan harus dipraktekkan dengan perilaku mencuci tangan dengan sabun, pengelolaan air minum dan makanan yang memenuhi syarat, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, pengelolaan jamban sehat, pengelolaan limbah cair yang memenuhi syarat, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di dalam ruangan dan lain-lain.Pemeliharaan kesehatan harus dipraktekkan melalui perilaku ikut serta dalam jaminan pemeliharaan kesehatan, aktif mengurus dan atau memanfaatkan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM), memanfaatkan puskesmas dan fasilitas pelayanan Kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan (klinik, puskesmas, rumah sakit dan lain-lain), sasaran primer harus mempraktekkan perilaku yang dapat menciptakan fasilitas pelayanan kesehatan yang menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yang mencakup mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat, membuang sampah di tempat sampah, tidak merokok, tidak mengonsumsi NAPZA, tidak meludah di sembarangan tempat, memberantas jentik nyamuk dan lain-lain (Kemenkes,2011).Mencuci tangan dengan sabun merupakan indikator yang harus dipenuhi oleh tenaga kesehatan pada institusi kesehatanseperti rumah sakit. Berdasarkan penelitian Rikayanti (2014), mencuci tangan dengan baik dan benar merupakan upaya pencegahan terinfeksinya petugas kesehatan dari penyakit nosokomial.Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang terjadi di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan setelah dirawat 2x24 jam. Pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan penunggu p