Artikel Bumdes Cetak

download Artikel Bumdes Cetak

of 22

  • date post

    05-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    37
  • download

    13

Embed Size (px)

description

artikel bumdes top

Transcript of Artikel Bumdes Cetak

  • Policy Paper Membangun BUMDes yang Mandiri, Kokoh dan Berkelanjutan 2 Des - 2013

    1

    POLICY PAPER Membangun BUMDes yang Mandiri, Kokoh dan Berkelanjutan Sutoro Eko bersama Tim FPPD Latar Belakang BUMDes, atau nama lain, sebenarnya bukan makhluk baru meskipun nomenklatur itu baru diperkenalkan oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Dulu kita mengenal berbagai institusi sosial dan institusi keuangan mikro yang dibentuk pemerintah: BKD, BINMAS, KUPEDES, KIK, KCK, BUUD, KUD, UEDSP, LPD di Bali sejak 1985. Belakangan juga hadir berbagai nama dana bergulir yang dikelola kelompok-kelompok masyarakat yang dibentuk oleh proyek-proyek sektoral kementerian seperti UPK dan Simpan Pinjam untuk Perempuan (SPP) dalam PNPM Mandiri Perdesaan. Semua ini adalah LKM korporatis, atau Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang dibentuk oleh pemerintah. Berbagai LKM ini dibentuk oleh pemerintah karena komitmen pemerintah menolong rakyat desa (termasuk kaum miskin) dari jeratan rentenir dan sekaligus membuka akses kredit bagi rakyat desa mengingat bank-bank komersial (baik BUMN maupun swasta) tidak pro poor. Desa-desa di Jawa juga sudah lama menjalankan usaha desa sebelum mengenal BUMDes. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), misalnya, banyak desa telah mengembangkan usaha desa baik yang berorientasi bisnis sosial maupun ekonomi kreatif. Hampir semua desa di perkotaan (urban village) di empat kabupaten (Sleman, Bantul, Kulon Progro, dan Gunung Kidul) umumnya memiliki ruko yang disewakan kepada pelaku ekonomi. Hasil persewaan ini sangat signifikan sebagai PADes, yang tentu jumlahnya jauh lebih besar dari alokasi dana pemerintah, yang mereka gunakan untuk menopang kesejahteraan perangkat desa, membangun fasilitas publik maupun mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat. Desa-desa di Bantul mengembangkan holding desa kerajinan, yang mempersatukan dan memperkuat usaha-usaha kerajinan yang dilakukan oleh warga masyarakat. Desa-desa di Sleman, terutama di kaki Gunung Merapi, rata-rata mengembangkan usaha wisata desa. Di Gunungkidul, karena air menjadi problem serius, banyak desa yang mengembangkan Perusahaan Air Minum Desa (PAMDes), sebagai bentuk bisnis sosial untuk melayani kebutuhan air minum warga. Di Kulon Progo, pemkab mengalokasikan dana rata-rata Rp 500 juta kepada setiap desa sebagai modal bagi BUMDes Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Dalam beberapa tahun terakhir, BUMDes telah hadir sebagai ikon baru ketiga bagi desa, menyusul dua ikon desa sebelumnya, yakni Alokasi Dana Desa (ADD) dan Rencana

  • Policy Paper Membangun BUMDes yang Mandiri, Kokoh dan Berkelanjutan 2 Des - 2013

    2

    Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). Ketiga ikon itu telah tertuang dalam PP No. 72/2005, dan secara khusus BUMDes dipayungi dan digerakkan oleh Permendagri No. 39/2010. Kebijakan pemerintah itu mempunyai kehendak dan semangat yang agung. BUMDes dimaksudkan sebagai wadah usaha desa, dengan spirit kemandirian, kebersamaan dan kegotongroyongan antara pemerintah desa dan masyarakat, yang mengembangkan aset lokal untuk memberikan pelayanan kepada warga masyarakat dan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dan desa. BUMDes tentu juga bermaksud untuk memberikan sumbangan terhadap penanggulangan kemiskinan dan pencapaian kesejahteraan rakyat. Sebelum hadir Permendagri, sebagian daerah telah melahirkan BUMDes, dan pasca Permendagri, semakin banyak BUMDes yang dilahirkan oleh daerah maupun BUMDes yang dilahirkan secara mandiri oleh desa. BUMDes yang menjalankan bisnis simpan pinjam (keuangan mikro) merupakan BUMDes paling populer yang dibangun oleh pemerintah daerah. Hampir semua kabupaten di Riau maupun Nusa Tenggara Barat membikin BUMDes LKM di desa. Belakangan muncul perusahaan air minum milik desa di sebagian desa sebagai bentuk pelayanan desa untuk mengatasi kelangkaan dan kesulitan akses warga desa terhadap air bersih. Saat ini BUMDes tengah menjadi isu penting bagi monitoring, penelitian, evaluasi dan pembelajaran di kalangan pemerintah, para pegiat desa maupun perusahaan. Berdasarkan pengamatan lapangan maupun sharing pembelajaran di berbagai forum selama ini, upaya-upaya pengembangan BUMDes masih menghadapi berbagai macam kelemahan, ancaman dan rendahnya kapasitas. Pertama, penataan kelembagaan desa belum berjalan secara maksimal sehingga BUMDes pun belum diinstitusionalisasikan dalam format kepemerintahan dan perekonomian desa. Kedua, keterbatasan kapasitas sumberdaya manusia di desa untuk mengelola dan mengembangkan BUMDes yang akuntabel dan berkinerja baik. Ketiga, rendahnya inisiatif lokal untuk menggerakkan potensi ekonomi lokal bagi peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi warga desa. Keempat, belum berkembangnya proses konsolidasi dan kerjasama antar stakeholders untuk mewujudkan BUMDes sebagai patron ekonomi yang berperan memajukan ekonomi kerakyatan. Kelima, kurangnya responsivitas Pemda untuk menjadikan BUMDes sebagai program unggulan untuk memberdayakan desa dan kesejahteraan masyarakat. Ada optimisme tetapi juga ada skeptisisme dalam menyambut kehadiran BUMDes. Pandangan yang skeptis sungguh risau melihat BUMDes. Kerisauan utama yang mengemuka adalah ketidakjelasan status hukum (legal standing) BUMDes. Ketika BUMDes tidak memiliki legal standing yang jelas, maka usaha desa ini tidak bisa menjadi subyek yang melakukan perbuatan hukum (misalnya meminjam uang di bank maupun kerjasama bisnis) untuk mengakumulasi modal. Menurut pandangan ini, jika tidak berstatus hukum, maka BUMDes selamanya akan kerdil dan hanya bergerak di ranah lokal desa.

  • Policy Paper Membangun BUMDes yang Mandiri, Kokoh dan Berkelanjutan 2 Des - 2013

    3

    Melampaui argumen-argumen hukum itu, kerisauan yang lain tertuju pada keberlanjutan BUMDes secara sosial dan ekonomi. LPD di Bali misalnya, merupakan teladan baik bagi keberlanjutan sosial ekonomi usaha desa. LPD telah hadir sebagai ikon terkemuka bagi desa adat yang menyumbangkan kamakmuran untuk krama desa. Karena itu LPD bukan menjadi sumber kerisauan tentang keberlanjutan sosial ekonomi meskipun LPD tidak memiliki legal standing yang jelas. Kerisauan sekarang terletak pada keberlanjutan sosial ekonomi BUMDes yang saat ini tengah menjamur di berbagai daerah dan desa. Ada kerisauan: jangan-jangan BUMDes akan mati suri pada tahun-tahun mendatang seperti halnya BUUD maupun KUD yang dibangun secara seragam oleh Orde Baru. Keberlanjutan LPD Bali di satu sisi dan kegagalan BUUD dan KUD di sisi lain tentu merupakan pelajaran berharga bagi BUMDes saat ini. Tantangan BUMDes menghindari kegagalan di satu sisi dan mencapai keberlanjutan di sisi lain merupakan persoalan utama, yang menjadi titik berangkat policy paper ini. Tujuan dan Relevansi Policy paper ini merupakan prakarsa FPPD yang didukung oleh ACCESS Indonesia Phase II untuk menjawab tantangan BUMDes di atas. Secara khusus policy paper ini mempunyai dua tujuan. Pertama, melakukan tinjauan ulang terhadap kebijakan dan gerakan membangun BUMDes. Dalam hal ini kami akan menemukan Policy paper ini memiliki relevansi dengan Undang-undang tentang Desa yang akan hadir dan RPJMN kedepan. RUU Desa saat ini pada dasarnya mempunyai visi dan proyeksi rekayasa yang membuat desa sebagai subyek pembangunan secara emansipatoris, yang mampu memberikan pelayanan dasar kepada warga dan menggerakkan aset-aset ekonomi lokal. BUMDes menjadi salah satu institusi desa yang mewarnai desa sebagai subyek pembangunan. Namun undang-undang yang baik pada tataran makro tidak serta merta membawa perubahan jika tidak diikuti dengan kebijakan dan gerakan yang konkret dan tepat. Undang-undang tentu akan memberikan inspirasi bagi gerakan di bawah dan di luar pemerintah, termasuk gerakan menjawab tantangan BUMDes. Policy paper ini dimaksudkan untuk memberikan inspirasi terhadap gerakan untuk menjalankan visi undang-undang, sekaligus untuk menjawab tantangan BUMDes. RPJMN beserta rencana strategis Kementerian Dalam Negeri beserta Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa yang terkait dengan BUMDes merupakan ranah kebijakan pemerintah yang perlu memperoleh perhatian serius, agar memiliki koherensi dengan visi undang-undang tentang desa dan gerakan lokal. Melalui policy paper ini, FPPD hendak memberikan kontribusi gagasan terhadap kebijakan nasional guna membangun BUMDes yang mandiri, kokoh dan berkelanjutan di masa depan.

  • Policy Paper Membangun BUMDes yang Mandiri, Kokoh dan Berkelanjutan 2 Des - 2013

    4

    Kerangka Kerja Pembicaraan tentang BUMDes selalu menghadirkan banyak pertanyaan yang menantang. Mengapa harus BUMDes? Apakah usaha-usaha yang dilakukan masyarakat maupun borjuis lokal desa tidak cukup? Apa nilai tambah BUMDes bila dibandingkan dengan bisnis pribadi maupun bisnis kelompok masyarakat? Siapa dan bagaimana mengembangkan BUMDes? Bilamana dan dalam kondisi apa BUMDes bisa hadir secara kokoh dan berkelanjutan? Mengapa ada BUMDes yang sehat dan berkelanjutan, sementara ada BUMDes lain mati suri atau gulung tikar? Antara BUMDes dengan usaha pribadi dan usaha kelompok masyarakat sebenarnya tidak bertentangan satu sama lain. Ketiganya bahkan saling melengkapi untuk menggairahkan kegiatan ekonomi desa. Tetapi BUMDes adalah instititusi bisnis yang unik dan khas, sepadan dengan keunikan desa. Desa bukan organisasi birokrasi negara seperti pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten, meskipun desa juga menjalankan pemerintahan. Desa bukan juga hanya sebagai komunitas lokal. Keunikan BUMDes memiliki beberapa cirikhas. Pertama, BUMDes merupakan sebuah usaha desa milik kolektif yang digerakkan oleh aksi kolektif antara pemerintah desa dan masyarakat. Jika dalam teori ekonomi maupun administrasi publik dikenal dengan public and private partnership (kemitraan antara sektor publik dengan sektor swasta), maka BUMDes merupakan bentuk public and community partnership, yakni kemitraan antara pemerintah desa sebagai sektor publik dengan masy