PENGARUH EFEKTIVITAS BUMDES TERHADAP ...repo.apmd.ac.id/1059/1/PENGARUH EFEKTIFITAS BUMDES... BUMDes

download PENGARUH EFEKTIVITAS BUMDES TERHADAP ...repo.apmd.ac.id/1059/1/PENGARUH EFEKTIFITAS BUMDES... BUMDes

If you can't read please download the document

  • date post

    14-Nov-2020
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENGARUH EFEKTIVITAS BUMDES TERHADAP ...repo.apmd.ac.id/1059/1/PENGARUH EFEKTIFITAS BUMDES... BUMDes

  • PENGARUH EFEKTIVITAS BUMDES TERHADAP KESEJAHTERAAN

    PETANI DI DESA BENO HARAPAN KUTAI TIMUR

    RINGKSASAN TESIS

    Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat

    Magister pada Program Studi Ilmu Pemerintahan

    Konsentrasi: Kepemerintahan Desa

    Disusun Oleh:

    Vincentius Fransiskus

    (16610054)

    PROGRAM PASCASARJANA (S-2)

    SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA “APMD”

    YOGYAKARTA

    201

  • vii

    DAFTAR ISI A. Latar Belakang ................................................................................................... 1 B. Kerangka Teori................................................................................................... 5

    1. BUMDes........................................................................................................5 2. Desa Mandiri .................................................................................................6 3. Efektivitas BUMDes .................................................................................... 8 4. Nawa Cita dan Kompelentari Catur Sakti dan Tri Sakti ............................ 11 5. Resource Based View..................................................................................12 6. Undang-Undang Terkait BUMDes............................................................. 13 7. Pertanian ..................................................................................................... 14 8. Kesejahteraan Masyarakat.......................................................................... 15 9. Undang-Undang No 6 Tahun 2014 Tentang Desa ......................................19 10. Undang-Undang No 6 Tahun 2014 Tentang Desa

    dan Kesejahteraan Masyarakat ....................................................................21 C. Metode Penelitian............................................................................................. 22

    1. Jenis Penelitian.......................................................................................... 22 2. Populasi dan Sampel ................................................................................. 22 3. Teknik Pengumpulan Data........................................................................ 23 4. Teknik Analisis Data................................................................................. 23

    D. Analisis Data .................................................................................................... 24 E. Pembahasan ...................................................................................................... 25 F. Kesimpulan dan Saran ...................................................................................... 27

    1. Kesimpulan................................................................................................. 27 2. Saran ........................................................................................................... 28

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Pembangunan ekonomi menjadi salah satu hal penting yang harus

    dipertimbangkan dalam pembangunan ekonomi nasional. Pembangunan ekonomi

    merupakan sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup perubahan

    struktur, sikap hidup dan kelembagaan, peningkatan pertumbuhan ekonomi,

    pengurangan ketidakmerataan distribusi pendapatan dan pemberantasan kemiskinan

    (Todaro, dalam Irawan dan Suparmoko 1999). Secara garis besar, Pembangunan

    ekonomi adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang

    seringkali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riil perkapita (Irawan, 2002).

    Hal teserbut serupa dengan pendapat yang dikemukakan Prof. Meier (dalam

    Adisasmita, 2005) yang mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai proses

    kenaikan pendapatan riil perkapita dalam suatu jangka waktu yang panjang. Jadi,

    dapat disimpulkan bahwa pembangunan ekonomi sebagai suatu proses yang

    menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu masyarakat meningkat dalam

    jangka panjang. Definisi tersebut mengandung pengertian bahwa pembangunan

    ekonomi merupakan suatu perubahan yang terjadi secara terus-menerus melalui

    serangkaian kombinasi proses demi mencapai sesuatu yang lebih baik yaitu adanya

    peningkatan pendapatan perkapita yang terus menerus berlangsung dalam jangka

    panjang (Sadono Sukirno, 1985). Menurut Todaro & Smith (2003) dalam Lincolin

  • 2

    Arsyad (2010:11) menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi suatu

    Negara ditunjukkan oleh tiga nilai pokok yaitu:

    (1) berkembangnya kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan

    pokoknya (sustenance),

    (2) meningkatnya rasa harga diri (self-esteem) masyarakat sebagai manusia,

    dan

    (3) meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memilih (freedom from

    servitude) yang merupakan salah satu dari hak asasi manusia

    Akhirnya disadari bahwa definisi pembangunan ekonomi (Lincolin Arsyad,

    2010) itu sangat luas bukan hanya sekadar bagaimana meningkatkan GNP per tahun

    saja. Pembangunan dilakukan tidak hanya ditingkat nasional tetapi juga dilakukan

    pada tingkat yang lebih kecil, yaitu daerah provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa.

    Seringkali pembangunan diwilayah yang lebih kecil mampu memberikan hasil yang

    mendukung pembangunan diwilayah yang lebih besar. Pada tingkat yang lebih kecil,

    pembangunan dilakukan ditingkat daerah setingkat provinsi maupun setingkat

    kabupaten atau kota (Widodo, 2006). Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu

    proses pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan

    membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta

    untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan

    kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah (Lincolin Arsyad ,2010).

  • 3

    Menurut Lincolin Arsyad (2010:379) Perencanaan pembangunan ekonomi

    daerah bisa dianggap sebagai perencanaan untuk memperbaiki penggunaan sumber

    daya publik yang tersedia didaerah tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor

    swasta dalam menciptakan nilai sumber daya swasta secara tanggung jawab.

    Pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan perencanaan secara

    seimbang yang teliti mengenai penggunaan sumber data publik dan sektor swasta,

    petani, pengusaha kecil, koperasi, pengusaha besar dan organisasi-organisasi sosial

    harus mempunyai peran dalam proses perencanaan. Melalui perencanaan

    pembangunan ekonomi daerah, suatu daerah dilihat secara keseluruhan sebagai suatu

    unit ekonomi (economic entity) yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang

    berinteraksi satu sama lain, (Arsyad 1999).

    Ada tiga implikasi pokok dari perencanaan pembangunan ekonomi daerah

    antara lain sebagai berikut (Lincolin Arsyad, 2010:383):

    1. Perencanan pembangunan ekonomi daerah yang realistik memerlukan

    pemahaman tentang hubungan antara daerah dengan lingkungan nasional,

    daerah tersebut merupakan bagain darinya, keterkaitan secara mendasar

    antara keduanya, dan konsekuensi akhir dari interaksi tersebut.

    2. Sesuatu yang tampaknya baik secara nasional belum tentu baik untuk daerah

    dan sebaliknya yang baik didaerah belum tentu baik secara nasional.

  • 4

    3. Perangkat kelembagaan yang tersedia untuk pembangunan daerah, misalnya

    administrasi, proses pengambilan keputusan, otoritas biasanya sangat

    berbeda pada tingkat daerah dengan yang tersedia pada tingkat pusat.

    Dari penejelasan-penjelasan diatas dapat diketahui bahwa Pertumbuhan

    ekonomi menyokong pembangunan nasional yang tentu dipengaruhi oleh

    pembangunan daerah-daerah di Indonesia. Untuk meningkatkan pembangunan ditiap

    provinsi, maka pemerintah pusat mendorong pembangunan secara mandiri.

    Pemerintah daerah tentu memahami berbagai keterbatasan dalam proses

    pembangunan tiap wilayah kabupaten/kota, oleh sebab itu tiap-tiap kabupaten/kota

    diperbolehkan untuk melakukan pembangunan secara mandiri.

    Hal ini juga berlaku pada tingkat desa. Desa merupakan salah satu bentuk

    penyelenggaraan pemerintahan yang berada dibawah pemerintah daerah. Desa

    sekarang telah menjadi arus pemerintahan yang beralih dari paradigma sentralisasi ke

    desentralisiasi menjadikan desa sebagai pemerintahan yang diharapkan dapat berdiri

    secara mandiri tanpa bergantung oleh pemerintah daerah secara keseluruhan.

    Salah satu bentuk otoritas desa terbukti dengan kehadiran BUMDes. Sebagai

    unit terkecil dari negara, desa secara riil langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

    Indonesia memiliki 74.093 desa (BPS, 2013), dimana lebih dari 32 ribu desa masuk

    dalam kategori desa tertinggal (Susetiawan, 2011). Salah satu strategi untuk

    menanggulangi hal ini adalah mewujudkan kewirausahaan desa dimana sumber daya

    dan fasilitas yang disediakan secara spontan oleh komunitas masyarakat desa untuk

  • 5

    merubah kondisi sosisal pedesaan (Ansari, 2013). Terbitnya UU Nomor 6 Tahun

    2014 dan terbitnya PP Nomor 47 Tahun 2015 menghendaki adanya desa yang

    mandiri dan otonom dalam pengelolaan sumber daya yang dimilikinya dimana

    BUMDes diharapkan berperan dalam peningkatan perekonomian pedesaan (Prabowo,

    2014). Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) adalah usaha desa yang dibentuk atau

    didirikan oleh pemerintah desa yang kepemilikan modal dan pengelolaannya

    dilakukan oleh pemerintah desa dan masyara